lain, tak banyak yang dipahami Barat tentang pemikiran dan disiplin yang penting bagi spiritualitas ini. Namun demikian, terdapat tanda-tanda bahwa arus itu akan segera berbalik. Sejak 1960-an, orang Barat mulai mengambil manfaat dari beberapa bentuk Yoga. Agama semacam Buddhisme—yang punya daya tarik karena belum tersentuh teisme—mulai berkembang pesat di Eropa dan Amerika Serikat. Karya tentang mitologi yang disusun oleh pemikir Amerika kontemporer, Joseph Campbell, mendapat sambutan luas. Antusiasme terhadap psikoanalisis di Barat pada masa ini bisa dilihat sebagai hasrat terhadap sejenis mistisisme, karena ada kemiripan luar biasa antara kedua disiplin itu. Mitologi sering merupakan upaya untuk menjelaskan alam psikis, dan Freud maupun Jung secara instingtif berpaling kepada mitologi kuno, seperti legenda Yunani tentang Oedipus, untuk menjelaskan ilmu baru yang mereka kembangkan. Mungkin orang-orang di Barat tengah merasakan kebutuhan akan alternatif bagi cara pandang ilmiah murni terhadap alam semesta. Agama mistik lebih dekat dan cenderung lebih membantu pada saat-saat sulit daripada keimanan yang didominasi oleh otak. Latihanlatihan ruhani dalam mistisisme membantu seorang yang tekun menjalaninya untuk kembali kepada Yang Esa, asal mula primordial, dan menumbuhkan rasa kehadiran terus-menerus. Akan tetapi, mistisisme awal Yahudi yang berkembang selama abad kedua dan ketiga, 284 Tuhan Kaum Mistik yang sangat sulit dipahami oleh orang-orang Yahudi sendiri, tampaknya justru menekankan keterpisahan antara Tuhan dan manusia. Orang Yahudi ingin menjauh dari dunia yang di dalamnya mereka dikucilkan dan disingkirkan ini, untuk menuju ke dunia ilahi yang lebih kukuh. Mereka membayangkan Tuhan sebagai raja perkasa yang hanya bisa didekati melalui perjalanan penuh bahaya menembus tujuh lapis langit. Alih-alih mengungkapkan diri dalam gaya langsung dan sederhana seperti para rabi, kaum mistik menggunakan bahasa yang tinggi. Para rabi membenci spiritualitas ini, dan kaum mistik berusaha untuk tidak menentang mereka. Sungguhpun demikian, "Mistisisme Mahkota" ini, demikian sebutannya, tentunya telah memenuhi suatu kebutuhan penting di masa itu, terbukti dari perkembangannya yang pesat seiring pertumbuhan perguruan-perguruan besar para rabi hingga ia akhirnya bergabung ke dalam Kabbalah, mistisisme Yahudi baru, pada abad kedua belas dan ketiga belas. Naskah-naskah klasik Mistisisme Mahkota yang disusun di Babilonia pada abad kelima dan keenam, menyiratkan bahwa kaum mistik, yang menutup mulut tentang pengalaman mereka, merasakan keterikatan kuat dengan tradisi rabinik, karena mereka menjadikan para tannaim besar semacam Rabi Akiva, Rabi Ishmael, dan Rabi Yohannan sebagai teladan dalam spiritualitas ini. Mereka menampakkan ekstremitas baru dalam semangat Yahudi, karena mereka meretas jalan baru menuju Tuhan atas nama masyarakat Yahudi. Para rabi juga memiliki beberapa pengalaman keagamaan yang hebat, seperti yang pernah kita bahas sebelumnya. Pada suatu kesempatan ketika Roh Kudus turun kepada Rabi Yohannan dan muridmuridnya dalam bentuk api yang memancar dari langit, mereka rupanya sedang mendiskusikan makna penampakan aneh yang dialami Yehezkiel ketika melihat kencana Tuhan. Kencana dan sosok misterius yang terlihat oleh Yehezkiel tengah duduk di atas singgasananya itu tampaknya telah menjadi bahan spekulasi esoterik sejak lama. Studi tentang kencana (Ma'aseh Merkavah) sering dikaitkan dengan spekulasi tentang makna kisah penciptaan (Ma'aseh Bereshit). Catatan paling awal yang kita miliki tentang pendakian mistik ke singgasana Tuhan di langit tertinggi menekankan tentang saratnya bahaya dalam perjalanan spiritual ini: Rabi-rabi kami menceritakan: Empat orang masuk ke dalam taman dan mereka adalah: Ben Azzai, Ben Zoma, Aher, dan Rabi Akiva. Rabi 285 Akiva berkata kepada mereka: "Ketika engkau tiba di batu pualam murni, jangan katakan 'Air! Air!' karena difirmankan: 'Orang yang berbicara dusta tidak akan tegak di depan mataku.'" Ben Azzai menatap lalu mati. Tentang dirinya, Kitab Suci bertutur: "Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihinya." Ben Zoma menatap lalu lumpuh. Tentang dirinya, Kitab Suci berkata: "Kalau engkau mendapat madu, makanlah secukupnya, jangan sampai engkau terlalu kenyang dengan itu, lalu memuntahkannya" Aher memotong cabang-cabang [karena itu, dia menjadi pembid'ah]. Rabi Akiva berangkat dalam damai.2 Hanya Rabi Akiva yang cukup matang untuk dapat berhasil menempuh jalan mistik dengan selamat. Perjalanan ke kedalaman pikiran melibatkan risiko pribadi karena kita mungkin tidak akan mampu memikul apa yang kita temukan di sana. Itulah sebabnya mengapa semua agama mengajarkan bahwa perjalanan mistik hanya bisa dilakukan di bawah bimbingan seorang ahli, yang bisa memantau pengalaman, membimbing seorang murid baru melewati tempattempat berbahaya dan memastikan bahwa dia tidak melampaui batas kemampuannya, seperti Ben Azzai, yang mati, dan Ben Azoma, yang menjadi lumpuh. Semua mistikus menekankan kebutuhan akan kecerdasan dan stabilitas mental. Para guru Zen menyatakan bahwa tak ada faedahnya seorang neurotik mencari kesembuhan di dalam meditasi, karena hal itu justru akan membuatnya bertambah parah. Perilaku aneh dan ganjil sebagian pendeta Katolik Eropa yang dihormati sebagai mistikus tentu dianggap sebagai penyimpangan. Kisah yang tidak jelas asal usulnya tentang para ahli Talmud ini menunjukkan bahwa orang Yahudi sedari awal telah menyadari adanya bahayabahaya semacam itu: belakangan, mereka tak mengizinkan anak muda untuk mengikuti disiplin Kabbalah kecuali jika mereka telah betul-betul cukup matang. Seorang mistik juga harus menikah untuk menjamin bahwa dia memiliki kesehatan seksual yang baik. Kaum mistik mesti mengembara menuju Singgasana Tuhan melalui alam mitologis tujuh langit. Namun ini hanyalah pengembaraan imajiner yang tak pernah dipahami secara harfiah, namun selalu dipandang sebagai pendakian simbolik melalui kawasan-kawasan misterius pikiran. Peringatan aneh Rabi Akiva mengenai "batu pualam murni" mungkin merujuk pada kata sandi yang harus diucapkan seorang mistikus pada berbagai titik penting dalam perjalanan imajinernya. Imajinasi ini divisualisasikan sebagai bagian dari disiplin yang ketat. Pada masa sekarang, kita tahu bahwa ketidaksadaran mempakan 286 Sejarah Tuhan Tuhan Kaum Mistik kumpulan imajinasi yang mencuat di dalam mimpi, halusinasi, dan dalam kondisi psikis atau neurologis yang menyimpang, seperti penyakit ayan atau skizofrenia. Kaum mistik Yahudi tidak membayangkan bahwa mereka "sungguh-sungguh" terbang menembus langit atau memasuki istana Tuhan, tetapi menjajarkan citra-citra yang memenuhi pikiran mereka secara tertata dan terkendali. Ini menuntut keterampilan yang besar dan latihan serta suasana hati tertentu. Dibutuhkan pula sejenis konsentrasi pikiran seperti dalam latihan Zen atau Yoga, yang juga membantu seorang penempuh untuk menemukan jalannya melalui labirin jiwa. Guru Babilonia, Hai Gaon (939- 1038) menjelaskan kisah di atas dengan menggunakan praktik mistikal kontemporer. "Taman" merujuk kepada kenaikan mistik jiwa ke "Ruang Surgawi" (bekhalot) dari istana Tuhan. Seseorang yang bermaksud menempuh pengembaraan imajiner di dalam batin ini haruslah merupakan orang yang "layak" dan "diberkati sifat-sifat tertentu" jika dia berharap bisa "memandang kencana langit dan ruangan para malaikat di atas sana." Ini takkan terjadi secara spontan. Dia mesti melakukan beberapa latihan yang serupa dengan yang dilakukan seorang Yogi dan para pertapa di seantero penjuru dunia: Dia harus berpuasa sejumlah hari tertentu, dia harus meletakkan kepalanya di antara kedua lutut sambil membisikkan lembut doa kepada Tuhan dengan wajah menunduk ke tanah. Sebagai hasilnya, dia akan melihat dasar kedalaman hatinya dan akan terasa seolah-olah dia melihat tujuh ruangan itu dengan matanya sendiri, berpindah dari satu ruang ke ruang lain untuk menyaksikan apa saja yang bisa ditemukan di dalamnya.3 Meskipun naskah-naskah paling awal Mistisisme Mahkota ini baru ditulis pada abad kedua atau ketiga, tetapi bentuk kontemplasi semacam ini mungkin sudah lebih tua. Paulus memberitakan tentang seorang Kristen "yang tergolong seorang Mesiah" yang terangkat hingga ke langit ketiga sekitar empat belas tahun yang lampau. Paulus tidak yakin bagaimana menafsirkan penglihatan ini tetapi yakin bahwa orang itu "tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan dia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia."4 Visi-visi itu bukan merupakan tujuan dalam dirinya sendiri, tetapi mengarah kepada pengalaman keagamaan yang berada di luar konsep-konsep biasa. Visi-visi itu dikondisikan oleh tradisi keagamaan 287 Sejarah Tuhan khas mistikus itu. Seorang Yahudi visioner akan memperoleh penampakan tentang tujuh langit karena imajinasi keagamaannya secara partikular dipenuhi oleh simbol-simbol ini. Seorang Buddha akan menyaksikan berbagai citra tentang Buddha atau bodhisatva. Umat Kristen memvisualisasikan Perawan Maria. Adalah keliru jika sang visioner memandang bayangan-bayangan mental ini sebagai gambaran objektif atau sesuatu yang lebih dari sekadar simbol transendensi. Karena halusinasi sering merupakan keadaan patologis, dibutuhkan keterampilan dan keseimbangan mental yang cukup tinggi untuk menghadapi dan menafsirkan simbol-simbol yang muncul selama berlangsungnya meditasi dan refleksi batin. Salah satu visi paling aneh dan kontroversial dalam Yahudi awal dikisahkan dalam Shiur Qomah (Ukuran-Ukuran Ketinggian), sebuah naskah abad kelima yang menggambarkan sosok yang pernah dilihat Yehezkiel di singgasana Tuhan. Shiur Qomah menyebut wujud ini Yotzrenu, "Pencipta Kita". Penjelasan ganjil tentang penampakan Tuhan ini kemungkinan didasarkan pada sebuah ayat dalam Kidung Agung, yang merupakan naskah biblikal paling digemari oleh Rabi Akiva. Mempelai perempuan mendeskripsikan kekasihnya: Putih bersih dan merah cerah kekasihku, menyolok mata di antara selaksa orang. Bagaikan emas, emas murni, kepalanya, rambutnya mengombak, hitam seperti gagak. Matanya bagaikan merpati pada batang air, bermandi dalam susu, duduk pada kolam yang penuh. Pipinya bagaikan bedeng rempah-rempah, petak-petak rempah-rempah akar. Bunga-bunga bakung bibirnya, bertetesan cairan mur. Tangannya bundaran emas, berhiaskan permata Tarsis, tubuhnya likiran dari gading, bertabur batu nilam. Kakinya adalah tiang-tiang marmer putih, bertumpu pada alas emas murni.5 Sebagian orang memandang ini sebagai penggambaran tentang Tuhan: yang mengejutkan bagi generasi-generasi Yahudi, Shiur 288 Tuhan Kaum Mistik Qamah melanjutkan dengan ukuran masing-masing anggota tubuh Tuhan yang tercantum di dalamnya. Dalam naskah aneh ini, ukuran Tuhan disebutkan secara sangat mencengangkan. Tak dapat dijangkau pikiran. "Parasang"—satuan dasarnya—setara dengan 180 triliun "jari" dan setiap "jari" membentang dari satu ujung bumi ke ujung lain. Dimensi masif ini mengejutkan pikiran, yang menyerah untuk memahaminya atau bahkan untuk membayangkan sosok berukuran seperti itu. Inilah pokok persoalannya. Shiur mencoba mengatakan kepada kita bahwa tidaklah mungkin untuk mengukur Tuhan atau memuatnya ke dalam terma-terma manusia. Upaya untuk melakukannya memperlihatkan kemustahilan proyek itu dan memberi kita pengalaman baru tentang transendensi Tuhan. Tidak mengherankan jika banyak orang Yahudi memandang upaya aneh untuk mengukur Tuhan yang sepenuhnya bersifat spiritual ini sebagai penghujatan. Itulah sebabnya naskah esoterik semacam Shiur disembunyikan dari orang-orang yang tidak waspada. Dilihat dari segi konteksnya, Shiur Qomah akan memberikan kepada orang-orang yang dipersiapkan untuknya dengan cara yang benar, di bawah bimbingan pengarah spiritual, sebuah pandangan baru tentang transendensi Tuhan yang berada di luar semua kategori manusia. Ini tidak dimaksudkan untuk dipahami secara harfiah; ia sesungguhnya tidak menyampaikan suatu informasi rahasia. la merupakan upaya penggugah hati yang menciptakan rasa takjub dan kagum. Shiur memperkenalkan kita pada dua unsur penting dalam gambaran mistik tentang Tuhan yang sama-sama ditemukan dalam ketiga agama besar itu. Pertama, gambaran itu secara esensial bersifat imajinatif; kedua, tak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Sosok yang digambarkan dalam Shiur adalah Tuhan yang dilihat oleh kaum mistik sedang duduk bermahkota di ujung pendakian mereka. Sama sekali tak ada kelembutan, cinta, dan sesuatu yang bersifat personal pada Tuhan ini: bahkan keilahiannya seolah menimbulkan rasa keterasingan. Namun ketika mereka melihatnya, para pahlawan mistik itu menyenandungkan lagu yang sangat sedikit menginformasikan tentang Tuhan tetapi meninggalkan kesan yang mendalam: Kudus, kuasa, menakutkan, menciutkan, menakjubkan, melemahkan, mencekam— Begitulah pakaian Sang Pencipta, Adonai, Tuhan Israel yang, bermahkota, mendatangi singgasana kemuliaannya; 289 Sejarah Tuhan Pakaiannya terukir di dalam dan di luar, dan sepenuhnya bertuliskan YHWH,YHWH. Tak ada mata yang mampu menatapnya, tak pula mata manusia, mata para hambanya.6 Jika kita tidak bisa membayangkan bagaimana gerangan bentuk jubah Yahweh, bagaimana kita bisa berpikir untuk melihat Tuhan itu sendiri? Mungkin naskah mistik Yahudi kuno yang paling terkenal adalah naskah abad kelima, Sefer Yezirah (Kitab Penciptaan). Bukan merupakan upaya untuk melukiskan proses penciptaan secara realistik, kisah yang termuat di dalamnya jelas-jelas bersifat simbolik dan menggambarkan Tuhan menciptakan alam dengan menggunakan bahasa, seakan-akan dia sedang menulis sebuah buku. Namun, bahasa telah berubah sama sekali dan pesan penciptaan tak lagi jelas. Setiap huruf dalam abjad Ibrani diberi sebuah nilai numerik; lewat pengombinasian huruf-huruf itu dengan angka-angka sakral, lalu menyusunnya kembali dalam konfigurasi tanpa akhir, seorang mistik menghindarkan pikirannya dari konotasi normal kata-kata tersebut. Tujuannya adalah melampaui akal dan mengingatkan orang Yahudi bahwa tidak ada kata maupun konsep yang mampu menampilkan realitas yang dirujuk oleh Nama itu. Pengalaman mendesakkan bahasa hingga ke batasbatasnya dan memaksanya mengeluarkan makna yang non-linguistik ini juga telah menciptakan rasa tentang keberbedaan Tuhan. Kaum mistik tidak menghendaki sebuah dialog langsung dengan Tuhan yang mereka alami sebagai kesucian yang berlimpah, bukan sahabat atau bapak yang simpatik. Mistisisme Mahkota tidak sendiri. Nabi Muhammad Saw. diriwayatkan pernah mendapat pengalaman yang sangat mirip ketika beliau melakukan perjalanan malamnya dari Arab ke Masjidil Aqsha di Yerusalem. Di dalam lelap tidurnya, dia dibawa oleh Jibril dengan berkendaraan seekor kuda langit. Setibanya di sana, dia disambut oleh Ibrahim, Musa, Isa dan serombongan nabi-nabi lain, yang meneguhkan misi kenabian Muhammad sendiri. Setelah itu, Jibril dan Muhammad mulai melakukan pendakian (mi'raj) melewati tujuh lapis langit yang masing-masingnya dihuni oleh seorang nabi. Akhirnya, Muhammad berhasil mencapai wilayah ilahi. Sumber-sumber awal secara khidmat tidak menyebutkan apa-apa tentang penglihatan terakhir itu, yang diyakini dirujuk oleh ayat-ayat Al-Quran berikut: 290 Tuhan Kaum Mistik Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanyayang asli pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar? Muhammad tidak melihat Tuhan secara langsung, tetapi hanya simbol-simbol yang mengarah kepada realitas ilahi: di dalam Hinduisme "sidratil muntaha" adalah "pohon bayan" yang menandai batas pemikiran rasional. Penampakan Tuhan tak mungkin diungkapkan dalam pengalaman yang normal bagi pikiran atau bahasa. Pendakian ke langit adalah simbol jangkauan terjauh ruh manusia, yang menandai gerbang makna tertinggi. Tamsil pendakian merupakan hal yang lazim. Agustinus juga pernah mengalami pendakian menuju Tuhan bersama ibunya di Ostia, yang dituturkannya dalam bahasa Plotinus: Pikiran kami diangkat oleh cinta yang besar kepada wujud abadi itu sendiri. Selangkah demi selangkah kami naik melampaui semua objek material dan bahkan langit itu sendiri, tempat matahari, bulan, dan bintang-bintang memantulkan cahaya ke bumi. Kami naik lebih jauh lagi melalui refleksi batin, dialog, dan kekaguman terhadap karyakaryamu dan masuk ke dalam pikiran kami sendiri.8 Pikiran Agustinus diisi oleh gambaran Yunani tentang mata rantai besar wujud, bukan citra-citra Semitik tentang tujuh langit. Ini bukanlah pengembaraan harfiah melewati ruang angkasa menuju Tuhan "di luar sana", tetapi pendakian jiwa menuju realitas di dalamnya. Perjalanan menggetarkan ini tampaknya merupakan suatu anugerah dari luar, ketika dikatakannya bahwa "pikiran kami diangkat" seolaholah dia dan Monica adalah dua penerima karunia yang pasif, namun demikian ada upaya sengaja dalam pendakian ke arah "wujud abadi". Tamsil kenaikan yang serupa juga telah tercatat dalam pengalaman memabukkan kaum Shaman "dari Siberia ke Tierra del Fuego," seperti yang dikemukakan oleh Joseph Campbell.9 Simbol kenaikan spiritual menunjukkan bahwa persepsi duniawi telah jauh ditinggalkan. Pengalaman tentang Tuhan yang akhirnya diperoleh benar-benar tak dapat diceritakan, karena bahasa biasa 291 Sejarah Tuhan memang tak lagi berlaku. Kaum mistik Yahudi tidak menguraikan apa-apa tentang Tuhan! Mereka menceritakan kepada kita tentang jubahnya, istananya, singgasana langitnya, dan tabir yang melindunginya dari tatapan manusia, yang menampilkan arketipe abadi. Kaum Muslim yang berspekulasi tentang kenaikan Muhammad ke langit menekankan watak paradoks penampakan Tuhan yang dialaminya di akhir perjalanan itu: dia melihat sekaligus tidak melihat kehadiran Tuhan.10 Begitu seorang mistikus telah melewati alam tamsil dalam pikirannya, dia akan mencapai suatu titik di mana konsep maupun imajinasi sudah tidak bisa membawanya lebih jauh lagi. Agustinus dan Monica sama-sama bungkam tentang puncak perjalanan mereka, menekankan betapa perjalanan itu betul-betul transenden terhadap ruang, waktu, dan pengetahuan biasa. Mereka "berbicara dan bernapas" demi Tuhan, dan "menyentuhnya sekilas melalui konsentrasi hati yang menyeluruh."11 Kemudian mereka hams kembali ke percakapan biasa, di mana sebuah kalimat memiliki awal, pertengahan, dan akhir: Oleh karena itu, kami berkata: Jika bagi setiap orang derita tubuh telah mereda, jika citra tentang bumi, air, dan udara menjadi mati, jika langit pun tertutup dan semua jiwa tak lagi bersuara, serta melampaui dirinya dengan tak lagi berpikir tentang dirinya, jika semua mimpi dan visi dalam imajinasi disingkirkan, jika semua bahasa dan segala yang sementara menjadi diam—karena jika ada orang yang mampu mendengar maka inilah yang akan dikatakan oleh mereka semua: "Kami tidak menciptakan diri kami sendiri, kami diciptakan oleh dia yang abadi" ... Begitulah keadaannya pada saat kami menjulurkan tangan kami dan dalam kilasan energi mental meraih hikmat abadi yang menampung segala sesuatu.12 Ini bukanlah visi naturalistik tentang Tuhan personal: mereka bisa dikatakan tak pernah "mendengar suaranya" lewat cara komunikasi naturalistik yang normal: melalui percakapan biasa, melalui malaikat, melalui alam atau simbolisme mimpi. Kelihatannya mereka telah "menyentuh" Realitas yang berada di luar semua ini.13 Meskipun jelas terkondisikan oleh budaya, jenis "kenaikan" ini tampaknya merupakan fakta kehidupan yang tidak bisa dibantah. Bagaimanapun cara yang kita pilih untuk menafsirkannya, manusia di seluruh penjuru dunia dan dalam seluruh fase sejarah telah pernah merasakan bentuk pengalaman kontemplatif semacam ini. Kaum 292 Tuhan Kaum Mistik monoteis menyebut pemandangan klimaks ini "penampakan Tuhan"; Plotinus menganggapnya sebagai pengalaman tentang Yang Esa; orang Buddha menyebutnya kedekatan dengan nirvana. Masalahnya, ini adalah sesuatu yang senantiasa diinginkan oleh orang-orang dengan bakat spiritual tertentu. Pengalaman mistik tentang Tuhan memiliki beberapa karakteristik yang sama bagi semua agama. Pengalaman itu subjektif, melibatkan perjalanan batin, bukan persepsi tentang suatu fakta objektif di luar diri; dialami melalui bagian pikiran yang mencipta-citra—sering disebut imajinasi—daripada melalui fakultas yang lebih bernalar dan logis. Akhirnya, pengalaman ini adalah sesuatu yang secara sengaja diciptakan oleh seorang mistikus di dalam dirinya sendiri: latihan fisik dan mental tertentu akan menghasilkan penampakan akhir itu dan tidak selalu hadir ke hadapan mereka tanpa disadari. Agustinus tampaknya membayangkan bahwa manusia-manusia pilihan kadang mampu melihat Tuhan di dalam kehidupan ini: dia mengutip Musa dan Paulus sebagai contoh. Paus Gregory yang Agung (540-604), tokoh terkemuka dalam kehidupan spiritual maupun dalam jabatannya yang kuat, tidak sependapat. Dia bukanlah seorang intelektual dan, seperti kebanyakan orang Roma umumnya, memiliki pandangan spiritualitas yang pragmatis. Dia menggunakan metafora awan, kabut, atau kegelapan untuk melukiskan kesamaran semua pengetahuan manusia tentang yang ilahi. Tuhan yang dikonsepsikannya tetap tersembunyi dari manusia dalam kegelapan tak tertembus yang jauh lebih menyakitkan daripada kabut ketidaktahuan yang dirasakan orang Kristen Yunani semacam Gregory dari Nyssa dan Denys. Tuhan merupakan pengalaman yang menegangkan bagi Gregory. Dia merasakan bahwa Tuhan sangat sulit untuk dijangkau. Sudah pasti tak ada jalan untuk membincangkan tentang dia secara akrab, seperti ketika kita memiliki kesamaan pendapat. Kita tidak tahu apa-apa tentang Tuhan. Kita tidak bisa meramal perilakunya berdasarkan pengetahuan kita tentang manusia: "Maka satu-satunya kebenaran dalam pengetahuan kita tentang Tuhan, adalah ketika kita menyadari bahwa kita tidak bisa sepenuhnya mengetahui apa pun tentang dia."14 Gregory sering bergumul dengan upaya keras mendekati Tuhan. Kebahagiaan dan kedamaian kontemplasi hanya dapat diperoleh untuk sekejap setelah melewati perjuangan yang begitu sengit. Sebelum merasakan manisnya Tuhan, jiwa mesti bertarung mencari jalan keluar dari kegelapan yang merupakan unsur alamiahnya: Jiwa 293 Sejarah Tuhan tidak dapat menancapkan tatapannya pada hal-hal yang secara sekilas terlihat ada di dalam dirinya sendiri, karena ia terdorong oleh kebiasaannya sendiri untuk menyelam ke dalam. Sementara itu, ia tersengalsengal, berjuang dan berupaya melampaui dirinya tetapi kembali jatuh, tercengkeram oleh ketakutannya, ke dalam kegelapan dirinya sendiri.15 Tuhan hanya bisa dicapai setelah "kerja keras pikiran", yang mesti bergulat dengannya, seperti Yakub bergulat dengan malaikat. Jalan menuju Tuhan sarat dengan rasa bersalah, air mata, dan keletihan; ketika jiwa mendekatinya, "ia tak bisa berbuat apa-apa kecuali menangis." "Disiksa" oleh hasratnya akan Tuhan, jiwa hanya bisa "menemukan ketenangan dalam air mata, karena keletihan."16 Gregory tetap merupakan pembimbing spiritual yang penting hingga abad kedua belas; jelaslah bahwa Barat masih merasa bahwa Tuhan adalah sebuah beban. Di Timur, pengalaman orang Kristen tentang Tuhan lebih dicirikan oleh cahaya daripada kegelapan. Orang Yunani mengembangkan sebuah bentuk mistisisme berbeda, yang juga ditemukan di seluruh dunia. Mistisisme ini tidak bergantung pada gambaran dan penampakan, tetapi bersandar pada pengalaman apofatik atau sunyi sebagaimana diuraikan oleh Denys Aeropagite. Mereka secara alamiah mengesampingkan semua konsepsi rasionalistik tentang Tuhan. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Gregory dari Nyssa dalam Commentary on the Song of Songs, "setiap konsep yang dicerap akal menjadi rintangan dalam perjalanan seorang pencari." Tujuan perenungan ini adalah untuk melangkah melampaui gagasan dan juga melampaui gambaran apa pun, sebab semua itu hanya merupakan gangguan. Baru kemudian dia akan memperoleh "rasa tentang kehadiran" yang tak dapat didefinisikan dan sungguh-sungguh berada di atas semua pengalaman manusia tentang hubungan dengan sesamanya.17 Sikap ini disebut hesychia, "ketenteraman" atau "keheningan batin". Karena kata-kata, ide, dan bayangan hanya akan mengikat kita pada alam duniawi, di sini dan pada saat ini, pikiran harus secara sadar ditenangkan melalui teknik-teknik konsentrasi sehingga ia bisa menumbuhkan keheningan penantian. Hanya setelah itulah pikiran diharapkan mampu memahami suatu Realitas yang melampaui segala sesuatu yang bisa dikonsepsikannya. Bagaimana mungkin kita mengetahui Tuhan yang tak bisa dipahami? Orang Yunani menyukai paradoks semacam ini, dan kaum 294 Tuhan Kaum Mistik hesychast menggunakan pembedaan kuno antara esensi Tuhan (ousia) dengan "energi" (energeiai) atau aktivitasnya di alam, yang membuat kita mampu mengalami sesuatu tentang yang ilahi. Karena kita tidak pernah mengetahui Tuhan dalam dirinya sendiri, maka adalah "energi" bukan "esensi" yang kita alami ketika berdoa. Energi ini dapat dideskripsikan sebagai "cahaya" keilahian, menyinari dunia dan memancar dari yang ilahi, tetapi berbeda dari Tuhan itu sendiri seperti halnya cahaya matahari berbeda dari matahari. Energi ini memanifestasikan Tuhan yang sama sekali diam dan tak dapat diketahui. Seperti pernah dikatakan oleh Basil: "Melalui energinyalah kita mengenal Tuhan; kita tak bisa mengatakan bahwa kita bisa mendekati esensinya, karena energi ini turun kepada kita sedangkan esensinya tetap tidak bisa didekati."18Di dalam Perjanjian Lama, energi ilahi ini disebut dengan "kemuliaan" (kavod) Tuhan. Di dalam Perjanjian Baru, energi itu menyinari pribadi Kristus di Gunung Tabor, ketika kemanusiaannya telah diubah oleh cahaya ilahiah. Kini energi itu menerobos seluruh tatanan makhluk dan mendeifikasi orang-orang yang telah diselamatkan. Seperti yang disiratkan oleh kata energeiai, konsep ini merupakan konsep yang aktif dan dinamis tentang Tuhan. Jika Barat berpandangan bahwa Tuhan membuat dirinya dikenal melalui sifat-sifatnya yang abadi—kebaikan, keadilan, cinta, dan keperkasaan—orang Yunani berpandangan bahwa Tuhan membuat dirinya terjangkau melalui aktivitas tanpa henti yang menandai kehadirannya. Oleh karena itu, ketika kita merasakan "energi" di dalam doa, dalam pengertian tertentu kita tengah berkomunikasi langsung dengan Tuhan, meskipun realitas yang tak bisa diketahui itu sendiri tetap berada dalam ketersembunyian. Tokoh hesychast terkemuka, Evagrius Pontus (w. 399), mengajarkan bahwa "pengetahuan" yang kita miliki tentang Tuhan di dalam doa tak ada kaitannya sama sekali dengan konsep atau citra, tetapi merupakan pengalaman langsung tentang yang ilahi yang mentransendensi semua konsep dan citra itu. Oleh karena itu, adalah penting bagi para hesychast untuk mengosongkan jiwanya: "Ketika berdoa," dia berkata kepada para rahibnya, "janganlah kau bentuk di dalam dirimu citra apa pun tentang tuhan dan jangan biarkan pikiranmu dibentuk oleh kesan apa pun." Sebaliknya, mereka harus "mendekati yang Imaterial dengan sikap imaterial pula."19 Evagrius tengah mengajukan sebentuk Yoga Kristen. Ini bukanlah sebuah proses refleksi—bukankah "doa berarti penghapusan pikiran"20—melainkan lebih merupakan pemahaman intuitif 295 Sejarah Tuhan tentang Tuhan. Hasilnya berupa rasa kesatuan dengan segala sesuatu, kebebasan dari gangguan dan kemajemukan, dan hilangnya ego— sebuah pengalaman yang sangat mirip dengan apa yang diperoleh oleh para perenung dalam agama non-teistik, seperti Buddhisme. Dengan secara sistematik menjauhkan pikiran mereka dari "gairah"— seperti bangga, tamak, sedih, atau marah yang mengikat mereka kepada ego—kaum hesychast mengangkat diri mereka dan menjadi terilahikan, seperti Yesus di Gunung Tabor yang diubah oleh "energienergi" ilahi. Diodochus, uskup Photice abad kelima, mengajarkan bahwa deifikasi ini tak akan ditunda hingga ke alam baka nanti, tetapi dapat dialami secara sadar di dunia ini. Dia mengajarkan suatu metode konsentrasi yang melibatkan pengaturan napas: ketika mereka menarik napas, kaum hesychast mesti mengucapkan doa: "Yesus Kristus, Putra Allah"; ketika mengeluarkan napas mereka mengucapkan: "Kasihilah kami." Belakangan kaum hesychast memperhalus latihan ini: sang perenung harus duduk dengan kepala dan bahu merunduk, menatap dada atau pusar mereka. Mereka harus bernapas lebih perlahan lagi untuk mengarahkan perhatian mereka ke dalam batin, ke fokus psikologis tertentu, seperti hati. Ini merupakan latihan ketat yang mesti digunakan dengan hati-hati: latihan ini hanya dapat dilakukan dengan aman di bawah bimbingan seorang pengarah yang ahli. Secara perlahan, seperti halnya seorang rahib Buddha, hesychast akan menemukan bahwa dirinya dapat meletakkan pikiran rasional ke satu sisi, bayangan-bayangan yang menjejali pikiran akan memudar dan hesychast akan merasa sepenuhnya bersatu dengan doa itu. Orang Kristen Yunani telah menemukan sendiri teknik-teknik yang telah dipraktikkan selama berabad-abad di kalangan agama Timur. Mereka memandang doa sebagai aktivitas psikosomatik, sedangkan orang Barat semacam Agustinus dan Gregory berpikir bahwa doa harus membebaskan jiwa dari raga. Maximus the Confessor pernah mengatakan: "Semua manusia mesti menjadi Tuhan, dituhankan melalui kemuliaan Tuhan-yang-menjadi-manusia, menjadi manusia sepenuhnya, jiwa dan raga."21 Hesychast akan merasakan ini sebagai gelombang energi dan cahaya yang begitu kuat dan memesona yang hanya mungkin berasal dari Tuhan. Sebagaimana telah kita saksikan, orang Yunani memandang "proses penuhanan" ini sebagai suatu pencerahan yang bersifat alamiah bagi manusia. Mereka menemukan ilham di dalam Yesus yang telah diubah di Gunung 296 Tuhan Kaum Mistik Tabor, seperti halnya orang Buddha diilhami oleh citra Buddha, yang telah meraih perwujudan kemanusiaan yang paling utuh. Upacara Transfigurasi sangatlah penting di Gereja-gereja Ortodoks Timur; transfigurasi ini disebut "epifani", manifestasi Tuhan. Berbeda dari saudara-saudara mereka di Barat, orang Yunani tidak memandang ketegangan, kekeringan, dan keterasingan sebagai pendahuluan yang tak terelakkan dalam pengalaman tentang Tuhan: semua itu hanyalah gangguan yang mesti diatasi. Orang Yunani tidak memiliki kultus tentang kegelapan jiwa. Motif yang lebih dominan adalah Tabor, bukan Getsemani dan Calvary. Memang tidak setiap orang bisa mencapai keadaan yang lebih tinggi ini, tetapi orang Kristen lainnya dapat memperoleh kilasan tentang sebagian dari pengalaman mistik ini lewat ikon, patungpatung suci. Di Barat, seni keagamaan menjadi sangat representasional: ia melukiskan peristiwa-peristiwa historis dalam kehidupan Yesus atau orang-orang suci. Namun di Byzantium, patung suci tidak dimaksudkan untuk mewakili apa pun di dunia ini, melainkan merupakan upaya menggambarkan secara visual pengalaman mistik para hesychast yang tak terucapkan untuk memberi ilham kepada orangorang non-mistikus. Sebagaimana dijelaskan seorang sejarahwan Inggris, Peter Brown, "Di seluruh dunia Kristen Timur, ikon dan visi saling memperkuat satu sama lain. Sebagiannya berkumpul pada satu titik fokus imajinasi kolektif ... memastikan bahwa pada abad keenam, yang adialami telah mengambil ciri yang tegas, di dalam mimpi dan di dalam imajinasi setiap orang, sebagaimana lazimnya tergambar dalam seni. Ikon itu memiliki keabsahan mimpi yang mewujud." 22 Ikon-ikon tersebut tidak dimaksudkan untuk menegakkan keimanan atau menyampaikan informasi, ide, atau doktrin, melainkan hanya sebagai fokus kontemplasi (theoria) yang memberi seorang beriman semacam jendela ke dunia ilahi. Namun demikian, patung-patung suci itu ternyata menjadi begitu sentral bagi pengalaman Byzantium tentang Tuhan sehingga pada abad kedelapan, patung-patung itu menjadi titik perselisihan di kalangan gereja Yunani. Orang mulai mempertanyakan apa yang sebenarnya digambarkan oleh seorang seniman ketika mereka melukis Yesus. Mustahil untuk menggambarkan keilahiannya, tetapi jika si seniman mengklaim bahwa dia hanya menggambarkan kemanusiaan Yesus, apakah dia berarti telah melakukan kesalahan Nestorianisme, kepercayaan bid'ah yang menyatakan bahwa kemanusiaan dan 297 Sejarah Tuhan keilahian Yesus merupakan dua hal yang berbeda? Kaum ikonoklastik ingin mengenyahkan sama sekali patung-patung keramat itu, tetapi gagasan ini ditolak oleh dua rahib terkemuka: John dari Damaskus (656-747) yang berasal dari biara Mar Sabbas di dekat Betlehem, dan Theodore (759-826) dari biara Studius di dekat Konstantinopel. Mereka berpendapat bahwa kaum ikonoklastik itu keliru jika melarang penggambaran Kristus. Sejak Inkarnasi, baik alam material maupun raga manusia telah diberi dimensi ilahiah, dan seorang seniman boleh melukis jenis kemanusiaan baru yang ilahiah ini. Seniman itu juga melukis gambaran tentang Tuhan, karena Kristus sang Logos merupakan ikon Tuhan par excellence. Tuhan tidak dapat tertampung dalam kata-kata atau diringkas dalam konsep-konsep manusia, tetapi bisa "dideskripsikan" oleh pena seniman atau dalam gerak simbolik liturgi. Peribadatan orang Yunani sangat tergantung pada ikon-ikon ini sehingga pada tahun 820 kaum ikonoklastik terkalahkan oleh arus populer. Akan tetapi, keyakinan bahwa Tuhan hingga tingkat tertentu dapat dideskripsikan bukan berarti teologi apofatik Denys tercampakkan. Dalam karyanya Greater Apology for the Holy Images, pendeta Nicephoras mengklaim bahwa ikon-ikon itu "mengekspresikan keheningan Tuhan, memperlihatkan melalui diri mereka betapa misteri yang mentransendensi wujud itu tak bisa diceritakan. Tanpa henti dan tanpa kata-kata, patung-patung suci itu memuji kebaikan Tuhan dalam melodi teologi yang luhur dan dicahayai tiga kali itu."23 Alihalih membangkitkan kesetiaan pada dogma-dogma Gereja dan membantu mereka membentuk gagasan yang jelas tentang iman mereka, ikon-ikon itu melingkupi mereka dengan rasa misteri. Ketika menjelaskan tentang pengaruh lukisan-lukisan religius ini, Nicephoras hanya bisa membandingkannya dengan pengaruh musik, seni yang paling tak terucapkan dan mungkin yang paling langsung. Emosi dan pengalaman disampaikan oleh musik dalam cara yang melampaui kata-kata maupun konsep. Pada abad kesembilan belas, Walter Pater menegaskan bahwa semua seni ingin meraih kondisi yang ada dalam musik; pada abad kesembilan di Byzantium, orang Kristen Yunani memandang teologi ingin meraih kondisi ikonografi. Mereka berpandangan bahwa Tuhan lebih baik diekspresikan dalam karya seni daripada dalam wacana rasionalistik. Setelah perdebatan Kristologis yang sengit pada abad keempat dan kelima, mereka mengembangkan gambaran tentang Tuhan yang bergantung pada pengalaman imajinatif orang-orang Kristen. 298 Ini secara definitif diungkapkan oleh Symeon (949-1022), kepala biara kecil St. Macras di Konstantinopel, yang dikenal sebagai "Teolog Baru". Jenis teologi baru ini tidak berupaya untuk mendefinisikan Tuhan. Upaya tersebut, menurut Symeon, terlalu angkuh; karena, berbicara tentang Tuhan dalam cara apa pun menyiratkan bahwa "yang tidak dapat dipahami berubah menjadi bisa dipahami."24 Alihalih berargumentasi secara rasional tentang hakikat Tuhan, teologi "baru" ini bersandar pada pengalaman religius personal yang langsung. Adalah mustahil untuk mengenal Tuhan dalam terma konseptual, seakan-akan dia adalah sekadar wujud lain yang bisa kita bentuk gagasan mengenainya. Tuhan adalah sebuah misteri. Seorang Kristen sejati adalah orang yang memiliki pengalaman sadar tentang Tuhan yang mengungkapkan dirinya dalam kemanusiaan Kristus yang telah diubah. Symeon sendiri memilih untuk meninggalkan kehidupan duniawi menuju kontemplasi akibat sebuah pengalaman yang tampaknya datang kepadanya secara tiba-tiba. Pada mulanya dia tidak tahu tentang apa yang terjadi, tetapi lambat laun dia menyadari bahwa dirinya tengah diubah dan, seakan-akan, terserap ke dalam cahaya yang adalah Tuhan itu sendiri. Ini bukanlah cahaya yang biasa kita kenal, tentu saja; karena ia berada di luar "bentuk, citra, atau representasi dan hanya bisa dialami secara intuitif melalui doa."25 Namun ini bukan pengalaman bagi elit tertentu atau para rahib saja; kerajaan yang dikumandangkan oleh Kristus di dalam Injil merupakan kesatuan dengan Tuhan yang bisa dialami setiap orang di sini dan pada saat ini, tanpa harus menunggu sampai datangnya kehidupan yang akan datang. Oleh karena itu, bagi Symeon, Tuhan diketahui sekaligus tidak diketahui, dekat namun jauh. Daripada mengupayakan tugas mustahil menggambarkan "persoalan yang tak bisa diucapkan oleh kata-kata saja,"26 Symeon menganjurkan para rahibnya untuk berkonsentrasi kepada apa yang bisa dirasakan sebagai realitas yang berubah di dalam jiwa mereka sendiri. Seperti yang pernah disabdakan Tuhan kepada Symeon dalam salah satu penampakannya: "Ya, akulah Tuhan, yang menjadi manusia demi kalian. Dan camkanlah, aku telah menciptakanmu, seperti engkau ketahui, dan aku pula yang akan menjadikanmu tuhan."27 Tuhan bukanlah fakta objektif yang eksternal melainkan pencerahan yang secara esensial bersifat personal dan subjektif. Sungguhpun demikian, penolakan Symeon untuk berbicara mengenai Tuhan tidak membuatnya terputus dari pandangan teologis 299 Tuhan Kaum Mistik Sejarah Tuhan masa silam. Teologi "baru" itu didasarkan secara kukuh pada ajaran para Bapa Gereja. Dalam karyanya, Hymns of Divine Love, Symeon mengemukakan doktrin Yunani kuno tentang penuhanan manusia, seperti yang pernah diuraikan oleh Athanasius dan Maximus: Wahai Cahaya yang tak seorang pun bisa menamainya, karena memang tak bernama. Wahai Cahaya yang bernama banyak, karena memang melingkupi segala sesuatu. Bagaimana engkau menyatukan diri dengan rumput? Bagaimana engkau, yang tak berubah sekaligus tak teraih, membiarkan hakikat sejati rumput tetap utuh?28 Tak ada gunanya mendefinisikan Tuhan yang mengadakan perubahan ini, karena dia berada di luar kata-kata dan deskripsi. Namun demikian, sebagai sebuah pengalaman yang memenuhi dan mengubah kemanusiaan tanpa merusak integritasnya, "Tuhan" merupakan realitas yang tak terbantahkan. Orang Yunani telah mengembangkan gagasan tentang Tuhan—seperti Trinitas dan Inkarnasi—yang memisahkan mereka dari monoteis lainnya, namun pengalaman mistik aktual mereka memiliki banyak kesamaan dengan pengalaman kaum Muslim maupun Yahudi. Meskipun perhatian utama Nabi Muhammad adalah pada penegakan suatu masyarakat yang adil, beliau dan beberapa sahabat terdekatnya juga memiliki kecenderungan mistik, dan kaum Muslim dengan cepat mengembangkan tradisi mistik khas mereka sendiri. Selama abad kedelapan dan kesembilan bentuk Islam asketik berkembang bersamaan dengan perkembangan sekte-sekte lain. Kaum asketik itu, sebagaimana kaum Mu'tazilah dan Syiah, juga memprihatinkan gaya hidup mewah kelompok penguasa dan menipisnya kehidupan keagamaan ummah. Mereka berupaya untuk kembali kepada kehidupan sederhana yang dijalani kaum Muslim awal di Madinah, mengenakan pakaian bersahaja yang terbuat dari wol kasar (dalam bahasa Arab disebut shuf) yang diduga merupakan pakaian kegemaran Nabi. Berdasarkan itulah mereka memperoleh sebutan sebagai "sufi". Keadilan sosial tetap merupakan hal penting dalam ajaran mereka, seperti yang dijelaskan oleh Louis Massignon, seorang sarjana Prancis: Seruan kaum mistik merupakan hasil dari pemberontakan batin nurani untuk menentang ketidakadilan sosial, bukan hanya yang dilakukan 300 Tuhan Kaum Mistik oleh orang lain, melainkan terutama kesalahan diri sendiri, dengan hasrat yang makin ditingkatkan oleh penyucian batin untuk bertemu Tuhan dengan pengurbanan apa pun.29 Pada mulanya kaum sufi memiliki banyak kesamaan dengan sekte-sekte lain. Rasionalis utama Mu'tazilah, Wasil ibn Atha' (w. 748), pernah menjadi murid Hasan Al-Bashri (w. 728), seorang zahid Madinah yang kemudian dihormati sebagai salah seorang pendiri sufisme. Kaum ulama mulai membedakan Islam secara tajam dari agamaagama yang lain, memandangnya sebagai satu-satunya iman yang sejati, tetapi kaum sufi kurang lebih tetap berpegang pada visi Al- Quran tentang ketunggalan agama wahyu. Yesus, misalnya, dihormati oleh banyak sufi sebagai nabi dalam kehidupan kebatinan. Beberapa di antara mereka bahkan bersedia mengubah syahadat dengan katakata: "Tak ada tuhan selain Allah dan Yesus adalah utusan Allah," yang bisa dibenarkan secara teknis, namun secara niat bersifat provokatif. Jika Al-Quran berbicara tentang Tuhan keadilan yang mengilhami rasa takut dan kagum, seorang asketik perempuan, Rabiah (w. 801), berbicara tentang cinta, dalam cara yang diakrabi oleh kaum Kristen: Aku cinta kepadamu dengan dua cinta, Cinta karena diriku dan cinta karena engkau memang layak dicinta Cinta karena diriku Adalah keadaanku senantiasa mengingatmu Cinta karena dirimu Adalah keadaanmu mengungkapkan tabir hingga engkau kulihat Baik untuk ini maupun untuk itu pujian bukanlah bagiku Bagimulah pujian untuk kesemuanya.30 Hal ini erat kaitannya dengan doanya yang terkenal: "Ya Allah! Jika aku menyembahmu karena takut api neraka, bakarlah aku di dalam neraka; dan jika aku menyembahmu karena mengharapkan surga, maka usirlah aku dari surga. Namun aku menyembahmu karena dirimu, jangan sembunyikan keindahanmu yang abadi!"31 Cinta kepada Tuhan menjadi ciri khas sufisme. Kaum sufi mungkin dipengaruhi oleh kaum asketik Kristen di Timur Dekat, namun Muhammad tetaplah merupakan pengaruh terpenting. Mereka berharap bisa merasakan pengalaman tentang Tuhan yang sama dengan yang pernah dialami Muhammad ketika menerima wahyu. Dengan sendirinya mereka 301 Sejarah Tuhan juga terpengaruh oleh peristiwa pendakian mistikal Nabi ke langit, yang dijadikan paradigma pengalaman mereka tentang Tuhan. Mereka juga mengembangkan berbagai teknik dan disiplin yang membantu para sufi di seluruh dunia untuk mencapai keadaan kesadaran yang berubah. Kaum sufi menambahkan praktik berpuasa, bangun malam, dan membaca Nama Tuhan sebagai zikir ke dalam dasar hukum Islam. Pengaruh dari praktik-praktik ini kadang menghasilkan perilaku yang tampak aneh dan tak terkendalikan, dan mistikus yang berperilaku demikian disebut sebagai sufi yang "mabuk". Salah satu di antaranya adalah Abu Yazid Bistami (w. 874) yang, seperti halnya Rabiah, mendekati Tuhan sebagai kekasih. Dia meyakini bahwa dia harus berupaya menyenangkan Allah sebagaimana yang dilakukannya terhadap seorang perempuan dalam hubungan percintaan manusia, mengurbankan kebutuhan dan hasratnya sendiri demi kesatuan dengan sang Kekasih. Sungguhpun demikian, latihan-latihan introspektif yang diadopsinya untuk mencapai ini membawanya melampaui konsepsi ketuhanan yang tepersonalisasikan ini. Ketika dia mendekati inti identitasnya, dia merasa tak ada sesuatu pun yang menabiri antara Tuhan dan dirinya; segala sesuatu yang pernah dipahaminya sebagai "diri" seolah runtuh: Aku memandang [Allah] dengan mata kebenaran dan berkata kepada- Nya: "Siapa ini?" Dia berkata, "Ini bukan Aku, bukan pula yang selain Aku. Tak ada Tuhan selain Aku." Lalu dia mengubah jati diriku menjadi Jati Diri-Nya ... kemudian aku bersama Dia dengan lidah Wajah-Nya, berkata: "Berapa jauhnya aku dengan Engkau?" Dia berkata, "Aku di dalam diri-Mu; tak ada tuhan selain Engkau."32 Lagi-lagi, tak ada ilah yang berada "di luar sana", terasing dari manusia: Tuhan secara misterius ternyata identik dengan bagian jiwa paling dalam. Penghancuran sistematik terhadap ego akan membawa pada rasa terserap ke dalam realitas yang lebih agung dan tak terlukiskan. Keadaan peniadaan diri (fana') ini menjadi sesuatu yang sentral bagi cita-cita sufi. Bistami telah dengan sepenuhnya menafsirkan ulang syahadat dalam cara yang mungkin bisa dianggap sebagai penghujatan, seandainya itu tidak diakui oleh banyak Muslim sebagai pengalaman autentik islam seperti yang diperintahkan Al-Quran. Kaum mistik lain, sufi-sufi yang "tidak mabuk", lebih menyukai spiritualitas yang tidak terlalu menyolok. Al-Junaid dari Bagdad (w. 302 910), yang memetakan landasan bagi seluruh mistisisme Islam masa depan, berkeyakinan bahwa ekstremisme Bistami bisa menimbulkan bahaya. Dia mengajarkan bahwa fana' (peniadaan diri) harus digantikan oleh baqa' (kekekalan diri), langkah kembali ke diri yang telah meningkat. Persatuan dengan Tuhan tidak boleh menghancurkan kemampuan alamiah kita, tetapi justru menyempurnakannya: seorang sufi yang telah menghilangkan egoisme yang bodoh dan menemukan kehadiran ilahi di dalam inti wujudnya sendiri akan mengalami kesadaran diri dan pengendalian diri yang lebih besar. Dia akan menjadi manusia yang lebih utuh. Oleh karena itu, tatkala mereka mengalami fana' dan baqa', kaum sufi telah mencapai keadaan yang oleh Yunani Kristen disebut "penuhanan". Al-Junaid memandang seluruh pencarian yang dilakukan oleh seorang sufi sebagai usaha kembali ke fitrah asal manusia pada saat penciptaan: dia kembali kepada kemanusiaan ideal yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Dia juga kembali kepada Sumber eksistensinya. Pengalaman pemisahan dan pengasingan diri menempati posisi penting bagi kaum sufi seperti halnya bagi ajaran Platonis dan Gnostis; mungkin ini tidak berbeda dengan "pemisahan diri" yang dibicarakan oleh aliran psikologi Freudian dan Kleinian masa kini, meskipun kaum psikoanalis menisbahkan ini kepada sebuah sumber non-teistik. Melalui latihan dan upaya saksama di bawah bimbingan seorang guru sufi (pir) seperti dirinya, Al-Junaid mengajarkan bahwa seorang Muslim bisa menyatu kembali dengan Penciptanya dan mencapai rasa kehadiran Tuhan yang pernah dialaminya ketika dia diciptakan dari tulang rusuk Adam. Ini merupakan akhir dari keterpisahan dan kesedihan, penyatuan kembali dengan jiwa paling dalam yang juga merupakan jiwanya yang sejati. Tuhan bukanlah realitas dan hakim yang terpisah di luar diri, tetapi dalam beberapa hal menyatu dengan latar wujud seseorang: Kini aku telah mengerti, wahai Tuhan, Apa yang bersemayam dalam sanubariku; Dalam rahasia, dari dunia seberang, Lidahku telah bercengkerama dengan Yang Kukagumi. Maka dalam satu cara kita Bersatu, dan tunggal; Namun tetap terpisah tempat kita bersemayam untuk selamanya. Meskipun dari tatapanku Kekaguman yang dalam telah menyembunyikan Wajah-Mu, 303 Tuhan Kaum Mistik Sejarah Tuhan Dalam Kemuliaan yang menakjubkan, kurasakan sentuhan-Mu di dalam batinku.33 Penekanan pada penyatuan dengan Tuhan berakar dari cita-cita tauhid di dalam Al-Quran: dengan cara mengumpulkan dirinya yang menghilang, seorang mistikus akan mengalami kehadiran Tuhan di dalam keutuhan pribadi. Al-Junaid sepenuhnya sadar akan bahaya mistisisme. Orang-orang tak terlatih, yang tidak memiliki bekal nasihat seorang pir dan kerasnya latihan sufi, akan mudah menyalahpahami ekstasi seorang mistik dan mengambil gagasan yang sangat simplistik tentang apa yang dimaksudkannya ketika dia berkata bahwa dirinya telah bersatu dengan Tuhan. Klaim-klaim besar seperti yang dikemukakan oleh Bistami pasti akan membangkitkan amarah masyarakat. Pada tahap awal ini, sufisme hanya merupakan gerakan minoritas, dan kaum ulama sering memandangnya sebagai bid'ah yang tidak autentik. Akan tetapi, murid Al-Junaid yang terkemuka, Husain ibn Manshur (biasa dikenal dengan sebutan Al-Hallaj) telah melempar api, dan menjadi martir karena keyakinan mistiknya. Karena berkeliling Irak untuk mengampanyekan penggulingan khalifah dan penegakan suatu tatanan sosial baru, dia dipenjara oleh penguasa dan disalib seperti pahlawan idamannya, Yesus. Dalam keadaan ekstasinya, Al-Hallaj berseru: "Akulah Sang Kebenaran!" Menurut Injil, Yesus pernah membuat pernyataan yang sama ketika menyatakan bahwa dirinya adalah Jalan, Kebenaran, dan Kehidupan. Al-Quran sering mengutuk keyakinan Kristen tentang Inkarnasi Tuhan di dalam Kristus sehingga tidaklah mengherankan jika kaum Muslim dibuat kaget oleh seruan ekstatik Al-Hallaj. Al-Haqq (Kebenaran) adalah salah satu nama Tuhan, dan adalah musyrik bagi seorang manusia untuk menyandang titel ini. Al-Hallaj sebenarnya mengungkapkan perasaannya tentang penyatuan diri dengan Tuhan yang begitu dekat sehingga dia merasa seakan-akan berada dalam satu identitas dengan Tuhan. Seperti dikatakannya dalam salah satu syairnya: Aku adalah Dia yang kucintai dan Dia yang kucintai adalah aku. Kami adalah dua jiwa dalam satu tubuh. Jika engkau lihat aku, engkau lihat Dia. Dan jika engkau lihat Dia, engkau lihat kami.34 304 Tuhan Kaum Mistik Ini adalah sebuah ungkapan yang berani tentang peniadaan din dan penyatuan dengan Tuhan, yang disebut oleh gurunya, Al-Junaid, sebagai fana'. Al-Hallaj menolak untuk menarik kembali pernyataan itu ketika dia dituduh menghujat dan lebih memilih mati. Ketika dibawa ke tiang salib dan melihat kayu melintang beserta pakupakunya, dia menoleh ke arah orang-orang dan mengucapkan doa yang diakhiri dengan kata-kata berikut: "Dan hamba-hamba-Mu ini berkumpul untuk membunuhku, dalam semangat membela agama- Mu dan ingin mencapai keridaan-Mu, ampunilah mereka, ya Allah, dan kasihilah mereka; sebab jika sekiranya Engkau telah menampakkan kepada mereka apa yang telah Engkau tampakkan kepadaku, mereka tak akan melakukan apa yang telah mereka lakukan; dan sekiranya Engkau telah bersembunyi dariku seperti Engkau telah bersembunyi dari mereka, tentu aku tidak akan merasakan penderitaan ini. Kemuliaan ada pada-Mu dalam apa pun yang Engkau lakukan, dan kemuliaan ada pada-Mu dalam apa pun yang Engkau kehendaki."35 Seruan Al-Hallaj "Ana Al-Haqq!" memperlihatkan bahwa Tuhan kaum mistik bukanlah sebuah realitas objektif, melainkan sangat subjektif. Belakangan Al-Ghazali berpendapat bahwa Al-Hallaj bukan menghujat, tetapi hanya kurang bijaksana dalam mengemukakan sebuah kebenaran esoterik yang bisa disalahpahami kaum awam. Karena tidak ada realitas selain Allah—seperti dinyatakan dalam syahadat—maka semua manusia pada hakikatnya ilahiah. Al-Quran mengajarkan bahwa Adam telah diciptakan dalam citra Tuhan untuk memungkinkan Tuhan berkontemplasi dalam diri Adam seperti dalam sebuah cermin.36 Itulah sebabnya Tuhan memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada manusia pertama itu. Kaum sufi berpendapat, kekeliruan orang Kristen adalah karena mengasumsikan bahwa satu orang manusia mampu menyerap keseluruhan inkarnasi Tuhan. Seorang mistik yang berhasil memperoleh kembali visi fitrahnya tentang Tuhan berarti telah menemukan kembali citra ketuhanan di dalam dirinya sendiri sebagaimana adanya pada hari penciptaan. Hadis qudsi yang paling disukai oleh kaum sufi telah memperlihatkan bahwa Tuhan menarik kaum Muslim begitu dekat kepadanya sehingga seolah Tuhan telah berinkarnasi di dalam setiap hambanya: "Jika aku mencintainya, aku akan menjadi telinganya yang bisa dia pergunakan untuk mendengar, matanya yang dia pergunakan untuk melihat, tangannya yang dia pakai untuk menggenggam, dan kakinya yang dia pergunakan untuk berjalan." 305 Sejarah Tuhan Kisah Al-Hallaj memperlihatkan antagonisme mendalam yang mungkin timbul antara kaum mistik dengan kebanyakan ulama yang memiliki pandangan berbeda tentang Tuhan dan wahyu. Bagi seorang mistik, wahyu adalah peristiwa yang terjadi di dalam jiwanya sendiri, sementara bagi kaum yang lebih konvensional seperti sebagian ulama, wahyu merupakan peristiwa yang sudah terjadi di masa lalu. Akan tetapi, kita telah melihat bahwa selama abad kesebelas, para filosof Muslim semacam Ibn Sina dan Al-Ghazali sendiri telah menyadari bahwa penjelasan objektif tentang Tuhan sungguh tidak memuaskan dan mereka pun beralih kepada mistisisme. Al-Ghazali telah berhasil membuat mistisisme dapat diterima di kalangan mayoritas umat dan memperlihatkan bahwa sufisme merupakan bentuk spiritualitas Muslim yang paling autentik. Selama abad kedua belas, filosof Iran Yahya Suhrawardi dan filosof kelahiran Spanyol Muhyiddin Ibn Al-Arabi menggabungkan secara sangat erat filsafat dengan mistisisme dan membuat pengalaman kaum sufi tentang Tuhan menjadi biasa di berbagai wilayah Islam. Namun, sebagaimana Al-Hallaj, Suhrawadi dijatuhi hukuman mati oleh kaum ulama di Aleppo pada tahun 1191, untuk sebab yang hingga kini tak diketahui. Sepanjang hidupnya dia berupaya menggabungkan apa yang disebutnya sebagai agama "Timur" dengan Islam, yang berarti melengkapi usaha yang telah dirintis oleh Ibn Sina. Dia berpendapat bahwa semua tokoh agama dunia kuno telah menyebarkan satu doktrin yang sama. Pada mulanya doktrin itu diwahyukan kepada Hermes (yang oleh Suhrawardi diidentifikasi sebagai nabi yang bernama Idris di dalam Al-Quran atau Enok di dalam Alkitab); di kalangan Yunani doktrin itu disampaikan melalui Plato dan Pythagoras, sedangkan di Timur Tengah melalui kaum Zoroaster Magi. Namun sejak Aristoteles, doktrin itu telah disamarkan oleh filsafat yang secara sempit lebih bersifat intelektual, tetapi diamdiam terwariskan dari satu tokoh ke tokoh lain hingga akhirnya sampai kepada Suhrawardi sendiri melalui Al-Bistami dan Al-Hallaj. Filsafat perenial ini bersifat mistikal dan imajinatif, tetapi tidak mengesampingkan akal. Suhrawardi tak kalah kukuh secara intelektual dibanding Al-Farabi, namun dia juga mengajarkan pentingnya intuisi dalam mendekati kebenaran. Sebagaimana diajarkan oleh Al-Quran, semua kebenaran berasal dari Tuhan dan harus dicari di mana saja ia dapat ditemukan. Kebenaran bisa saja ditemukan dalam paganisme dan Zoroasterianisme sebagaimana dalam tradisi monoteistik. Tidak 306 Tuhan Kaum Mistik seperti agama dogmatik yang telah terjerumus ke dalam perselisihan sektarian, mistisisme acap mengklaim bahwa jalan menuju Tuhan adalah sebanyak jumlah manusia itu sendiri. Sufisme secara khusus telah mengembangkan apresiasi besar terhadap keyakinan orang lain. Suhrawardi sering dijuluki Syaikh Al-Isyraq atau Guru Iluminasi. Seperti orang Yunani, dia mempersepsikan kehadiran Tuhan melalui cahaya. Dalam bahasa Arab, kata isyraq merujuk pada cahaya pertama fajar yang muncul dari Timur dan pada pencerahan: oleh karena itu, Timur bukanlah sebuah lokasi geografis melainkan sebuah sumber cahaya dan energi. Dalam kepercayaan Oriental Suhrawardi, manusia secara samar-samar teringat pada asal mereka, merasa tidak nyaman berada di dunia bayang-bayang ini, dan rindu untuk kembali ke tempat mereka yang pertama. Suhrawardi mengklaim bahwa filsafatnya akan membantu kaum Muslim untuk menemukan orientasi sejati mereka, mensucikan kearifan sejati yang ada di dalam diri dengan menggunakan imajinasi. Sistem Suhrawardi yang sangat kompleks ini merupakan upaya untuk menggabungkan seluruh pandangan keagamaan dunia ke dalam satu agama spiritual. Kebenaran harus dicari di mana saja ia bisa ditemukan. Sebagai akibatnya, filsafat Suhrawardi menghubungkan kosmologi Iran pra-Islam dengan sistem planeter Ptolemis dan skema emanasi Neoplatonis. Sungguhpun demikian, tak ada faylasuf lain yang begitu sering mengutip Al-Quran. Ketika mendiskusikan kosmologi, Suhrawardi tidak semata-mata menaruh perhatian pada penelaahan asal usul alam secara fisikal. Dalam karyanya yang utama, Hikmah Al-Isyraq, Suhrawardi memulai dengan membahas persoalanpersoalan ilmu alam dan fisika, tetapi ini hanya merupakan pengantar menuju bagian mistik dari karya itu. Sebagaimana halnya Ibn Sina, dia tidak puas terhadap falsafah yang seluruhnya berorientasi rasional dan objektif, meski dia juga percaya bahwa spekulasi rasional dan metafisikal mendapat tempat dalam persepsi tentang keseluruhan realitas. Orang arif yang sejati, dalam pandangannya, menguasai dengan baik filsafat maupun mistisisme. Tokoh seperti itu selalu ada di dunia. Dalam teori yang agak mirip dengan Imamologi Syiah, Suhrawardi yakin bahwa pemimpin spiritual ini adalah tiang penyangga utama (quthb) yang tanpa kehadirannya dunia tidak akan bisa terus bereksistensi, meski keberadaannya tidak terasakan secara nyata. Mistisisme Isyraqi Suhrawardi masih dipraktikkan di Iran. Mazhab Isyraqi menjadi sistem esoterik bukan karena sifatnya yang eksklusif, 307 Sejarah Tuhan melainkan karena mensyaratkan latihan spiritual dan imajinatif, seperti yang ada dalam Ismaili dan sufisme. Orang Yunani barangkali akan mengatakan bahwa sistem Suhrawardi lebih bersifat dogmatik daripada kerigmatik. Suhrawardi berupaya menemukan inti imajinatif yang terdapat dalam inti semua agama dan filsafat dan, meskipun berkeyakinan bahwa rasio semata tidaklah memadai, dia tak pernah mengabaikan hak akal untuk ikut menyelidiki misteri-misteri terdalam. Kebenaran mesti dicari di dalam rasionalisme ilmiah maupun mistisisme esoterik. Kepekaan rasa harus dididik dan dibimbing oleh akal kritis. Seperti yang diindikasikan oleh namanya, inti filsafat Isyraqi adalah simbol cahaya, yang dipandang sebagai sinonim sempurna bagi Tuhan. Cahaya (setidaknya pada abad kedua belas!) bersifat imaterial dan tak terdefinisikan, namun juga merupakan fakta yang paling nyata dalam kehidupan dunia: terbukti dengan sendirinya, tidak membutuhkan definisi tetapi dipersepsi oleh semua orang sebagai unsur yang membuat kehidupan menjadi mungkin. Cahaya melingkupi segalanya: setiap tingkat kecerahan yang ada pada mated berasal secara langsung dari cahaya, sebuah sumber yang berada di luar dirinya. Dalam kosmologi emanasionis Suhrawardi, Cahaya Tertinggi bersesuaian dengan Wujud Wajib para faylasuf, yang sangat sederhana dalam zatnya. Darinya terpancar cahaya-cahaya yang lebih lemah dalam hierarki menurun; setiap cahaya, karena menyadari kebergantungannya terhadap Cahaya Tertinggi, mengembangkan diribayangan yang menjadi sumber dari alam material, dan bersesuaian dengan salah satu bidang Ptolemis. Ini merupakan metafora keadaan manusia. Terdapat kombinasi serupa antara cahaya dan kegelapan dalam setiap diri kita: cahaya atau jiwa dikumpulkan di dalam embrio oleh Ruh Suci (yang dalam skema Ibn Sina dikenal sebagai Malaikat Jibril, cahaya dunia kita). Jiwa merindukan penyatuan dengan Cahaya yang lebih tinggi dan, jika mendapat bimbingan yang tepat dari seorang quthb di zamannya atau oleh salah seorang muridnya, jiwa dapat menangkap kilasan Cahaya itu di dunia ini. Suhrawardi menggambarkan pengalaman pencerahannya sendiri di dalam Hikmah. Dia terusik oleh persoalan epistemologis pengetahuan tetapi tidak menemukan jalan keluar: penelaahannya atas buku-buku tidak memberikan petunjuk apa pun kepadanya. Kemudian dia memperoleh penampakan seorang Imam, quthb, penyembuh jiwa: 308 Tuhan Kaum Mistik Tiba-tiba aku terselimuti kelembutan; ada kilatan cahaya sangat menyilaukan, yang membentuk sosok seperti seorang manusia. Aku mengamatinya dengan saksama dan tampaklah dia ... datang menghampiriku, memberi salam dengan begitu ramah sehingga kebingunganku lenyap dan ketakutanku berganti dengan perasaan akrab. Dan aku pun mulai mengeluhkan kepadanya tentang persoalan pengetahuan yang tengah kuhadapi. "Bangunkan dirimu," dia berkata kepadaku, "dan persoalanmu akan terpecahkan."37 Proses penyadaran atau iluminasi sangat berbeda dengan inspirasi kenabian yang berat dan menegangkan. Proses ini lebih mirip dengan pencerahan Buddha yang damai. Dengan demikian, mistisisme telah memperkenalkan sebuah spiritualitas yang lebih tenang ke dalam agama-agama Tuhan. Alih-alih berupa perbenturan dengan Realitas dari luar, iluminasi berasal dari dalam diri sang mistikus sendiri. Tak ada pemilahan fakta-fakta. Sebaliknya, penggunaan daya imajinasi yang mengantarkan ke dalam alam al-mitsal, alam citra-citra murni, telah memampukan manusia untuk kembali kepada Tuhan. Suhrawardi juga mengambil dari kepercayaan Iran kuno tentang dunia arketipal yang meyakini bahwa setiap orang dan objek di alam getik (dunia material, fisik) memiliki padanannya yang persis di alam menok (wilayah langit). Mistisisme membangkitkan lagi mitologi lama yang tampaknya telah ditinggalkan agama-agama teistik. Menok, yang dalam skema Suhrawardi menjadi alam al-mitsal, kini merupakan alam penengah yang ada antara Tuhan dan dunia kita. Alam ini tidak mungkin dipersepsikan oleh akal atau indra. Fakultas imajinasi kreatiflah yang membuat kita mampu menyingkapkan arketipe yang tersembunyi, seperti halnya penafsiran simbolik Al- Quran menyingkapkan makna spiritualnya yang hakiki. Alam almitsal mirip dengan persepsi kaum Ismaili tentang sejarah spiritual Islam yang merupakan makna sejati peristiwa-peristiwa duniawi atau angelologi Ibn Sina, yang telah kita diskusikan pada bab yang lalu. Ini akan menjadi krusial bagi seluruh mistikus Islam masa depan sebagai cara untuk menafsirkan pengalaman dan penampakan mereka. Suhrawardi mencermati visi-visi yang sangat mirip, baik yang dialami kaum Shaman, mistikus, atau kaum ekstatik lain dalam berbagai kebudayaan. Pada masa sekarang banyak orang tertarik pada fenomena semacam ini. Konsepsi Jung tentang ketidaksadaran kolektif merupakan suatu upaya ilmiah untuk menguji pengalaman imajinatif 309 Sejarah Tuhan yang lazim dialami manusia ini. Beberapa sarjana lain, seperti ahli filsafat agama Rumania-Amerika, Mircea Eliade, telah berupaya membuktikan bagaimana epik-epik para penyair kuno dan beberapa bentuk kisah dongeng diturunkan dari perjalanan ekstatik dan pengembaraan mistik.38 Suhrawardi berkeyakinan bahwa visi kaum mistik dan simbolsimbol kitab suci—seperti langit, neraka, dan Hari Kiamat—sama nyatanya dengan fenomena yang kita alami di dunia ini, tetapi dengan cara yang tidak sama. Visi dan simbol itu tidak bisa dibuktikan secara empiris, tetapi hanya dapat dicermati oleh fakultas imajinasi yang terlatih, yang membuat kaum visioner mampu melihat dimensi spiritual fenomena duniawi. Pengalaman ini tidak bisa dicerap oleh indra orang-orang yang tidak mengikuti latihan yang disyaratkan, seperti halnya pengalaman pencerahan Buddhis hanya bisa dirasakan ketika latihan moral dan mental yang dibutuhkan telah dilakukan. Semua pikiran, gagasan, keinginan, mimpi, dan visi kita bersesuaian dengan realitas-realitas yang ada di alam al-mitsal. Nabi Muhammad Saw., misalnya, telah menyadari adanya dunia perantara ini lewat peristiwa Isra' dan Mi'raj, yang membawanya ke gerbang alam ilahiah. Suhrawardi juga mengklaim bahwa visi-visi Mistisisme Mahkota Yahudi terjadi ketika mereka telah memasuki alam al-mitsal selama latihan konsentrasi spiritual. Oleh karena itu, jalan menuju Tuhan tidak hanya melalui akal, seperti yang dibayangkan oleh para faylasuf, melainkan juga melalui imajinasi kreatif, alam kaum mistik. Pada masa sekarang banyak orang di Barat akan kecewa jika seorang teolog terkemuka menyatakan bahwa Tuhan dalam pengertian tertentu merupakan produk imajinasi. Sungguhpun demikian, haruslah dinyatakan bahwa imajinasi merupakan daya utama dalam beragama. Daya ini didefinisikan oleh Jean Paul Sartre sebagai kemampuan untuk memikirkan apayang tidak ada.39 Manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki kapasitas untuk mempertimbangkan sesuatu yang tidak ada atau belum ada, yang semata-mata baru bersifat mungkin. Imajinasi dengan demikian merupakan sebab utama dari kemajuan besar yang dicapai manusia dalam sains dan teknologi maupun dalam seni dan agama. Gagasan tentang Tuhan, bagaimanapun definisinya, mungkin merupakan contoh utama dari realitas yang tidak ada yang, meski dengan berbagai masalah yang melekat di dalamnya, terus mengilhami umat manusia selama ribuan tahun. Satu-satunya cara untuk mengonsepsikan Tuhan, yang tetap tidak bisa dipersepsikan 310 Tuhan Kaum Mistik oleh indra dan bukti-bukti logis, adalah melalui simbol-simbol, yang penafsirannya merupakan fungsi utama akal imajinatif. Suhrawardi telah mengupayakan tafsiran imajinatif terhadap simbol-simbol yang berpengaruh besar bagi kehidupan manusia, sekalipun realitas yang dirujuk oleh simbol-simbol itu tetap tak tertangkap. Sebuah simbol dapat didefinisikan sebagai objek atau gagasan yang dapat dipersepsi oleh indra atau ditangkap oleh pikiran, tetapi di dalamnya kita tidak melihat apa pun selain dirinya sendiri. Akal saja tidak akan membuat kita mampu mempersepsikan yang khusus, universal, atau abadi di dalam yang partikular dan temporal. Itulah tugas imajinasi kreatif, yang kepadanya kaum mistik dan para seniman menisbahkan wawasan mereka. Sebagaimana di dalam seni, simbol religius yang paling efektif adalah yang dibimbing oleh pengetahuan dan pemahaman rasional tentang kondisi manusia. Suhrawardi, yang mampu menulis dalam bahasa Arab yang sangat indah dan ahli metafisika yang sangat terampil, adalah seorang mistikus sekaligus seniman yang kreatif. Dengan menyatukan apa-apa yang tampaknya tak terkait—sains dan mistisisme, filsafat pagan dengan agama monoteistik—dia mampu membantu kaum Muslim menciptakan simbol-simbol mereka sendiri dan menemukan makna dan posisi penting baru dalam kehidupan. Tokoh yang lebih berpengaruh daripada Suhrawardi adalah Muhyiddin Ibn Al-Arabi (1165-1240), yang kehidupannya mungkin dapat kita pandang sebagai simbol keterpisahan cara pandang Timur dan Barat. Ayahnya adalah sahabat Ibn Rusyd, yang sangat terkesan akan kesalehan anak muda itu pada suatu kesempatan ketika keduanya bertemu muka. Ketika tertimpa penyakit keras, Ibn Arabi beralih kepada sufisme, dan pada usia tiga puluh tahun, meninggalkan Eropa menuju Timur Tengah. Dia menunaikan ibadah haji dan menghabiskan waktu selama dua tahun untuk berdoa dan bermeditasi di Ka'bah, dan akhirnya menetap di Malatya, di sekitar Sungai Efrat. Ibn Al-Arabi dijuluki Syaikh Al-Akbar. Pengaruhnya terhadap konsepsi ketuhanan kaum Muslim sangat besar, tetapi pemikirannya tidak banyak berpengaruh di Barat, yang mengira bahwa filsafat Islam telah berakhir dengan wafatnya Ibn Rusyd. Kekristenan Barat kemudian merangkul konsepsi ketuhanan Ibn Rusyd yang bercorak Aristotelian, sedangkan kebanyakan aliran dalam Islam, secara relatif hingga masa sekarang ini, lebih memilih Tuhan kaum mistik yang bersifat imajinatif. Pada tahun 1201, ketika sedang melaksanakan thawaf di Ka'bah, Ibn Al-Arabi mengalami sebuah visi yang meninggalkan pengaruh eBook oleh : 311 MR. Collection's Nurul Huda Kariem MR. Sejarah Tuhan kuat dan lama terhadap dirinya: dia melihat seorang perempuan muda, yang bernama Nizam, dikelilingi oleh cahaya surgawi dan dia sadar bahwa perempuan itu adalah titisan Sophia, Hikmat ilahi. Epifani ini membuat dirinya sadar bahwa adalah mustahil bagi kita untuk mencintai Tuhan jika kita hanya bersandar pada argumen-argumen filosofis yang rasional. Falsafah menekankan transendensi mutlak Tuhan dan mengingatkan kita bahwa tak ada sesuatu pun yang bisa menyamainya. Bagaimana kita bisa mencintai sebuah Wujud yang begitu asing? Namun, kita bisa mencintai Tuhan yang hadir di tengahtengah makhluknya: "Jika engkau mencintai suatu wujud karena keindahannya, engkau tak lain kecuali mencintai Allah, karena dia adalah satu-satunya Wujud yang Indah," demikian dijelaskannya dalam Futuhat Al-Makkiyah. "Dengan demikian dalam semua aspeknya, objek cinta hanyalah Tuhan."40 Sesungguhnya Kalimat Syahadat mengingatkan kita bahwa tidak ada tuhan dan tidak ada realitas absolut selain Allah. Akibatnya, tidak ada keindahan yang selain Dia. Kita tidak bisa melihat Tuhan itu sendiri, namun kita bisa melihatnya ketika dia memilih untuk mewahyukan diri melalui makhluk-makhluk semacam Nizam, yang mengilhami rasa cinta di hati kita. Seorang mistikus bahkan berkewajiban untuk menciptakan epifani buat dirinya sendiri dengan tujuan bertemu dengan seorang gadis, seperti Nizam secara apa adanya. Cinta pada dasarnya merupakan rasa rindu kepada sesuatu yang tidak ada, itulah sebabnya begitu banyak cinta kemanusiaan kita yang berujung pada kekecewaan. Nizam telah menjadi "objek pencarianku dan harapanku, Perawan yang Paling Murni." Seperti yang dijelaskannya pada bagian pendahuluan Diwan, kumpulan syair-syair tentang cinta: Di dalam syair-syair yang telah kugubah untuk buku ini, aku tak hentihentinya merujuk pada inspirasi ketuhanan, anugerah spiritual, kesesuaian [dunia kita] dengan dunia Akal-akal Malakut. Dalam hal ini, aku mesti menyesuaikan dengan kebiasaanku berpikir dalam simbolsimbol, karena banyak hal dari alam batin yang lebih memesonaku daripada segala yang ada di dalam kehidupan aktual dan karena gadis belia ini mengetahui persis apa yang kumaksudkan.41 Imajinasi kreatif telah mengubah Nizam menjadi sebuah avatar Tuhan. Sekitar delapan tahun kemudian, pemuda Dante Alighieri memperoleh pengalaman yang serupa di Florence ketika bertemu dengan 312 Tuhan Kaum Mistik Beatrice Portinari. Begitu dia menatap gadis itu, jiwanya bergetar kuat dan seolah mendengar seruan: "Lihatlah tuhan yang lebih kuat daripadaku yang datang untuk menaklukkan diriku." Sejak saat itu, Dante ditaklukkan oleh cintanya kepada Beatrice, yang mendapatkan penguasaan "berkat kekuatan yang diberikan oleh imajinasiku kepadanya." 42 Beatrice tetap menjadi citra cinta ilahi bagi Dante, dan di dalam The Divine Comedy, dia memperlihatkan bagaimana hal ini membawanya melalui sebuah perjalanan imajiner melewati Neraka, Purgatorio, dan Surga, hingga penampakan Tuhan. Syair Dante diilhami oleh kisah kaum Muslim tentang kenaikan Muhammad ke langit; tentu saja pandangannya tentang imajinasi kreatif serupa dengan pandangan Ibn Al-Arabi. Dante berpendapat, adalah keliru menyatakan bahwa imaginativa hanya menggabungkan citra-citra yang diturunkan dari persepsi tentang dunia material, seperti yang dikemukakan oleh Aristoteles, tetapi sebagiannya merupakan ilham dari Tuhan: Wahai fantasi (imaginativa), yang sering menggiring kita jauh dari diri sendiri sehingga meninggalkan kita dalam gelisah Tuli karena ribuan terompet yang memekik di sekeliling kita. Apa yang menggerakkanmu ketika indra memperlihatkan kejelekanmu? Cahaya yang menggerakkanmu, terbentuk di surga, mungkin atas kehendak Dia yang mengutusnya turun, atau karena kecenderungan sendiri.43 Dalam seluruh syair itu, Dante perlahan-lahan menyingkirkan narasi tentang citra indriawi dan visual. Penggambaran yang sangat bersifat fisik terhadap Neraka dilanjutkan dengan pendakian berat dan emosional menaiki Bukit Purgatorio menuju surga duniawi, di mana Beatrice memarahinya karena memandang wujud fisiknya sebagai tujuan akhir: sebaliknya, dia harus memandang Beatrice sebagai simbol atau avatar yang mengantarkannya keluar dari dunia menuju Tuhan. Nyaris tidak ada deskripsi fisik tentang Surga; bahkan jiwa-jiwa yang dirahmati juga tak terdeskripsikan, mengingatkan kita bahwa tak ada pribadi manusia yang bisa menjadi objek final kerinduan manusia. Akhirnya, tamsil intelektual yang sejuk mengungkapkan transendensi mutlak Tuhan, yang berada di luar semua imajinasi. Dante telah dituduh melukiskan potret yang kejam tentang Tuhan di dalam Paradiso, namun abstraksi itu mengingatkan bahwa sesungguhnya kita tidak mengetahui apa-apa tentang Tuhan. 313 Sejarah Tuhan Ibn Al-Arabi juga yakin bahwa imajinasi merupakan fakultas yang dikaruniakan oleh Tuhan. Ketika seorang mistikus menciptakan epifani untuk dirinya sendiri, dia berarti tengah membawa ke dunia ini sebuah realitas yang bereksistensi dengan lebih sempurna di alam arketipe. Ketika kita menemukan yang ilahi di dalam diri orang lain, kita tengah melakukan upaya imajinatif untuk menyibak realitas sejati: "Tuhan menciptakan makhluk-makhluk bagaikan tabir," jelasnya, "Barang siapa yang mengenal mereka sebagai tabir akan tiba pada pengenalan akan Dia; tetapi barang siapa yang menganggap makhlukmakhluk itu nyata akan terhalang dari kehadiran-Nya."44 Dengan demikian—sebagaimana halnya jalan sufisme—apa yang bermula sebagai spiritualitas yang sangat pribadi, berpusat pada seorang manusia, telah membawa Ibn Al-Arabi kepada suatu konsepsi transpersonal tentang Tuhan. Citra feminin tetap penting baginya; dia percaya bahwa kaum wanita merupakan inkarnasi terkuat bagi Sophia, Hikmat ilahi, karena mereka mengilhami cinta dalam diri kaum pria yang pada akhirnya mengarah kepada Tuhan. Tak dapat disangkal, ini adalah pandangan yang sangat bercorak kelelakian, tetapi merupakan upaya untuk memasukkan dimensi kewanitaan ke dalam agama Tuhan yang sering dikonsepsikan sebagai maskulin sepenuhnya. Ibn Al-Arabi tidak percaya bahwa Tuhan yang dikenalnya memiliki eksistensi objektif. Meskipun dia seorang ahli metafisika, dia tidak percaya bahwa eksistensi Tuhan bisa dibuktikan dengan logika. Dia suka menyebut dirinya murid Khidir, nama yang diberikan kepada figur misterius yang dikatakan di dalam Al-Quran sebagai pembimbing spiritual Musa, yang membawakan Hukum lahiriah bagi orang Israel. Khidir telah dianugerahi ilmu istimewa tentang Tuhan sehingga Musa meminta bimbingannya, tetapi Khidir menyatakan bahwa Musa takkan mampu menanggungnya karena ilmu itu berada di luar jangkauan pengalaman keagamaannya.45 Tak ada gunanya mencoba untuk memahami "informasi" keagamaan yang belum pernah kita alami sendiri. Nama Khidir tampaknya mengandung arti "Yang Hijau", mengindikasikan bahwa filsafatnya selalu segar dan dapat terus-menerus diperbarui. Bahkan seorang nabi setinggi Musa tidak mampu memahami bentukbentuk esoterik agama, sebab, di dalam Al-Quran, dia mengakui bahwa dirinya tak mampu menjalankan metode yang dianjurkan oleh Khidir. Makna dari episode asing ini kelihatannya mengisyaratkan bahwa penampilan lahiriah suatu agama tidak selalu berhubungan 314 Tuhan Kaum Mistik dengan unsur spiritual atau mistikalnya. Orang-orang seperti kaum ulama mungkin takkan mampu memahami Islam seorang sufi semacam Ibn Al-Arabi. Tradisi Muslim telah menjadikan Khidir sebagai guru bagi semua pencari kebenaran mistik, yang secara inheren lebih unggul daripada, dan sangat berbeda dari, bentuk-bentuk harfiah dan lahiriah. Dia tidak mengarahkan muridnya untuk sampai pada persepsi tentang Tuhan yang sama bagi semua orang, melainkan kepada Tuhan yang subjektif dalam pengertian paling dalam dari kata tersebut. Khidir juga memiliki kedudukan penting di kalangan kaum Ismaili. Meski pada kenyataannya Ibn Al-Arabi adalah seorang Sunni, ajaranajarannya sangat dekat kepada Ismailiyah dan bahkan setelah itu dimasukkan ke dalam teologi mereka—contoh lain tentang kemampuan agama mistik untuk melampaui sekat-sekat sektarian. Seperti halnya kaum Ismaili, Ibn Al-Arabi juga menekankan derita Tuhan, sebuah konsep yang sangat berbeda dengan apatheis Tuhan para filosof. Tuhan kaum mistik rindu untuk dikenal oleh makhlukmakhluknya. Kaum Ismaili percaya bahwa kata ilah (Tuhan) berasal dari akar kata dalam bahasa Arab walaha yang artinya bersedih atau mengeluh.46 Seperti dalam hadis qudsiyzng menyatakan bahwa Allah berfirman: "Aku adalah perhendaharaan tersembunyi dan aku ingin dikenal. Kemudian aku ciptakan makhluk-makhluk agar aku dikenal oleh mereka." Tak ada bukti rasional tentang kesedihan Tuhan; kita mengetahuinya hanya melalui kerinduan kita sendiri akan sesuatu yang bisa memenuhi hasrat-hasrat kita yang paling dalam dan untuk menjelaskan tragedi dan nestapa kehidupan. Karena kita diciptakan dalam citra Tuhan, kita harus merefleksikan Tuhan sebagai arketipe tertinggi. Kerinduan kita terhadap realitas yang kita sebut "Tuhan", oleh karena itu, pastilah mencerminkan simpati terhadap derita Tuhan. Ibn Al-Arabi membayangkan Tuhan yang sendiri itu mendesahkan kerinduan. Namun, desahan (nafas rahmani) ini bukanlah ungkapan rasa iba diri, melainkan sebuah kekuatan aktif kreatif yang membuat kosmos kita menjadi ada; kekuatan itu juga meniupkan wujud manusia, yang menjadi logoi, kata-kata yang mengungkapkan Tuhan bagi dirinya sendiri. Dengan demikian, setiap manusia merupakan epifani unik dari Tuhan Gaib, memanifestasikan dirinya dalam cara khusus dan tak dapat diulang. Setiap logoi ilahi merupakan nama-nama yang dengannya Tuhan memanggil dirinya sendiri, membuat dirinya hadir secara total dalam 315 Sejarah Tuhan setiap epifaninya. Tuhan tidak bisa diringkas dalam satu ekspresi manusiawi karena realitas suci itu tidak terbatas. Ini berarti bahwa wahyu yang diciptakan Tuhan pada setiap kita adalah unik dan berbeda dari Tuhan yang dikenal oleh tak terhingga manusia yang juga merupakan logoi-nya. Kita hanya bisa mengenal "Tuhan" kita sendiri karena kita tidak bisa mengalaminya secara objektif; mustahil untuk mengenalnya dengan cara yang sama seperti orang lain. Sebagaimana dikatakan oleh Ibn Al-Arabi: "Setiap wujud memiliki Tuhannya sendiri-sendiri. Dia tidak mungkin memiliki keseluruhannya." Ibn Al-Arabi suka mengutip hadis: "Berpikirlah tentang ciptaan Tuhan dan janganlah berpikir tentang esensinya (Al-Dzat)."47 Keseluruhan realitas Tuhan tidak bisa dikenal, oleh karena itu kita harus memusatkan perhatian pada Firman partikular yang disampaikan kepada wujud kita sendiri. Ibn Al-Arabi juga suka untuk menyebut Tuhan sebagai Al-Ama, "Kabut" atau "Kegelapan"48 untuk menekankan ketakterjangkauannya. Akan tetapi, logoi manusia ini juga menyingkapkan Tuhan Yang Maha Tersembunyi itu kepada dirinya sendiri. Hal itu terjadi melalui proses dua-arah: Tuhan ingin untuk dikenal dan dibebaskan dari kesendiriannya oleh orang-orang yang di dalam diri mereka dia mewahyukan diri. Penderitaan Tuhan yang Tak Dikenal dilipur oleh Tuhan yang Diwahyukan di dalam setiap wujud manusia yang membuatnya mengenal dirinya sendiri; juga benar bahwa Tuhan yang Diwahyukan dalam setiap individu rindu untuk kembali kepada sumbernya dengan nostalgia ilahi yang menyalakan kerinduan kita sendiri. Ketuhanan dan kemanusiaan, dengan demikian merupakan dua aspek kehidupan ilahiah yang menggerakkan seluruh kosmos. Pandangan ini tidak berbeda dengan pemahaman orang Yunani tentang Inkarnasi Tuhan di dalam Yesus, tetapi Ibn Al-Arabi tidak bisa menerima gagasan bahwa satu orang manusia saja, betapapun sucinya, bisa menampung ketidakterbatasan realitas Tuhan. Sebaliknya, dia percaya bahwa masing-masing pribadi manusia merupakan avatar unik bagi yang ilahi. Sungguhpun demikian, dia juga mengembangkan simbol Manusia Sempurna (insan al-kamil) yang menubuhkan misteri Tuhan yang Diwahyukan di setiap generasi demi kepentingan generasi sezamannya, meskipun, tentu saja, tidak merupakan inkarnasi dari seluruh realitas ketuhanan atau esensinya yang tersembunyi. Nabi Muhammad Saw. adalah Manusia Sempurna bagi generasinya dan merupakan simbol ketuhanan yang paling efektif. 316 Tuhan Kaum Mistik Mistisisme introspektif dan imajinatif ini merupakan pencarian terhadap asal usul wujud di kedalaman din sendiri. Ini membuat mistisisme terlepas dari berbagai kepastian yang menjadi ciri bentukbentuk agama yang lebih dogmatis. Karena setiap manusia memiliki pengalaman unik tentang Tuhan, maka tak ada satu agama pun yang bisa mengungkapkan keseluruhan misteri ketuhanan. Tak ada kebenaran objektif tentang Tuhan yang mesti dianut oleh semua orang, karena Tuhan ini transenden terhadap semua kategori pribadi, segala prediksi tentang perilaku dan kecenderungannya adalah mustahil. Setiap bentuk chauvinisme tentang agama sendiri dengan mengurbankan agama orang lain jelas tidak bisa diterima, sebab tak satu agama pun memiliki seluruh kebenaran tentang Tuhan. Ibn Al-Arabi mengembangkan sikap yang positif terhadap agama-agama lain, seperti yang ditemukan di dalam Al-Quran, dan membawanya ke arah toleransi baru yang ekstrem: Hatiku mampu menerima berbagai bentuk, Biara bagi sang rahib, kuil bagi area-area, Padang rumput bagi rusa-rusa, peziarah bagi Ka'bah, Lembaran Taurat, Al-Quran. Cinta adalah iman yang kujunjung: ke mana pun menuju Unta-untanya, iman yang benar adalah imanku.49 Hamba Tuhan merasakan ketenteraman yang sama di dalam sinagoga, kuil, gereja, atau masjid, karena semuanya menyediakan pemahaman yang sah tentang Tuhan. Ibn Al-Arabi sering menggunakan frase "Tuhan diciptakan oleh keimanan" (khuliqa Al-Haqq fi ali'tiqad); frase ini bisa bermakna pejoratif jika merujuk pada "tuhan" yang diciptakan manusia dalam agama tertentu dan dianggap identik dengan Tuhan itu sendiri. Ini hanya akan melahirkan intoleransi dan fanatisme. Alih-alih bentuk keberhalaan seperti itu, Ibn Al-Arabi mengemukakan saran berikut: Jangan ikat dirimu pada sebuah keyakinan secara eksklusif sehingga engkau mungkin mengingkari yang lain; karena dengan demikian engkau akan kehilangan banyak kebaikan, tidak, engkau akan gagal mengenali kebenaran yang sejati. Tuhan, yang Mahaberada dan Maha Berkuasa, tidak bisa dibatasi oleh keyakinan apa pun, sebab, dia berfirman, "Ke mana pun engkau memalingkan pandanganmu, maka di sanalah ada wajah Allah" (QS Al-Baqarah [2]: 109). Semua orang 317 Sejarah Tuhan akan mengagungkan apa yang dipercayainya. Tuhannya adalah apa yang diciptakannya sendiri, dan memujanya berarti memuja dirinya sendiri. Akibatnya, dia akan menyalahkan keyakinan orang lain, yang tak akan dilakukannya jika seandainya dia adil, tetapi kebenciannya didasarkan pada kebodohan.50 Kita tidak pernah melihat Tuhan kecuali Nama personal yang telah diwahyukan dan diberi eksistensi konkret dalam setiap diri kita; tak terhindarkan lagi bahwa pemahaman kita tentang Tuhan pribadi kita sendiri diwarnai oleh tradisi keagamaan tempat kita dilahirkan. Namun, seorang mistik (arif) mengetahui bahwa "Tuhan" kita ini sebenarnya adalah "malaikat" atau simbol ilahi yang partikular, yang tidak semestinya disamakan dengan Realitas Gaib itu sendiri. Akibatnya, dia memandang semua agama yang berbeda-beda sebagai teofani-teofani yang sah. Jika Tuhan agama yang lebih dogmatik memilah umat manusia ke dalam kubu-kubu yang saling bermusuhan, Tuhan kaum mistik justru menjadi kekuatan pemersatu. Benar bahwa ajaran Ibn Al-Arabi terlalu rumit bagi mayoritas umat Muslim, namun tetap menyebar ke kalangan yang lebih awam. Selama abad kedua belas dan ketiga belas, sufisme tidak lagi menjadi gerakan minoritas tetapi mendominasi warna Islam di banyak bagian wilayah Muslim. Inilah periode ketika berbagai aliran sufi atau thariqah didirikan, masing-masing dengan tafsiran khasnya tentang kepercayaan mistikal. Syaikh sufi memiliki pengaruh yang besar di kalangan publik dan dihormati sebagai orang suci dalam cara yang hampir sama seperti imam kaum Syiah. Saat itu merupakan periode pergolakan politik: kekhalifahan Bagdad sedang mengalami disintegrasi, dan gerombolan orang Mongol menaklukkan satu per satu kota-kota Muslim. Orang-orang menginginkan Tuhan lebih dekat dan simpatik daripada Tuhan kaum filosof yang jauh atau Tuhan para ulama yang legalistik. Praktik dzikir kaum sufi, pengucapan nama-nama Tuhan sebagai mantra untuk mencapai ekstasi, menyebar ke luar lingkaran tarekat. Latihan konsentrasi kaum sufi, dengan teknik pernapasan dan postur yang diatur secara cermat, membantu orang untuk mengalami rasa kehadiran yang transenden di dalam batin. Tidak semua orang mampu mencapai keadaan mistikal yang lebih tinggi, namun latihan-latihan spiritual ini sungguh-sungguh telah membantu banyak orang untuk menepiskan ajaran yang simplistik dan antropomorfis tentang Tuhan dan merasakan kehadirannya di dalam diri. Beberapa 318 Tuhan Kaum Mistik tarekat menggunakan musik dan tarian untuk meningkatkan konsentrasi, dan para pir (guru) sufi menjadi pahlawan bagi orang banyak. Tarekat sufi yang paling terkenal adalah Maulawiyah, yang anggotaanggotanya di Barat dikenal sebagai "darwis-darwis yang berputar" (whirling dervishes). Tarian mereka yang berwibawa merupakan sebuah metode konsentrasi. Ketika seorang sufi mengambil gerakan berputar, dia merasakan batas-batas dirinya larut bersamaan dengan larutnya dia ke dalam tarian itu, mengantarkannya ke ambang peniadaan diri (fana'). Pendiri tarekat ini adalah Jalaluddin Rumi (kl. 1207-73), yang oleh murid-muridnya disebut sebagai Maulana, Guru kami. Rumi dilahirkan di Khurasan, Asia Tengah, tetapi pindah ke Konya, di kawasan Turki modern, sebelum kedatangan tentara Mongol. Mistisismenya bisa dipandang sebagai respons Muslim terhadap bencana ini, yang mungkin telah membuat banyak orang kehilangan keimanan kepada Allah. Gagasan Rumi mirip dengan gagasan Ibn Al-Arabi, tetapi karyanya, Masnawi, yang sering disebut Injil kaum sufi, memiliki daya tarik yang lebih populer dan membantu menyebarkan konsepsi ketuhanan kaum mistik di kalangan kaum Muslim awam yang bukan sufi. Pada tahun 1244, Rumi jatuh kagum pada seorang darwis bernama Syamsuddin, yang dipandangnya sebagai Manusia Sempurna pada generasi itu. Syamsuddin memang dipercaya sebagai inkarnasi Nabi dan minta dipanggil dengan nama "Muhammad". Reputasinya diragukan dan konon dia menolak untuk menjalankan syariat, memandang dirinya telah melewati tahapan lahiriah semacam itu. Dapat dimaklumi jika murid-murid Rumi khawatir akan kekaguman gurunya kepada tokoh itu. Ketika Syams terbunuh dalam sebuah huru-hara, duka Rumi tak terlipur dan dia menghabiskan semakin banyak waktu untuk musik dan tarian mistikal. Dia mampu secara imajinatif mentransformasikan kesedihannya ke dalam simbol tentang cinta Ilahiah—tentang kerinduan Allah kepada manusia dan kerinduan manusia kepada Allah. Disadari atau tidak, setiap orang berusaha mencari Tuhan yang tak pernah ditemukan, secara samar-samar sadar bahwa dia terpisah dari Sumber wujudnya: Dengarkan suara buluh, bagaimana ia mengisahkan sebuah cerita, yang mengeluhkan keterpisahan. Sejak aku terpisah dari rumpun bambu, ratapanku telah membuat setiap orang merasa sendu. Kuingin dadaku terbelah oleh derita, agar aku bisa menyingkapkan [kepada orang itu] kekuatan hasrat-cinta: setiap orang yang terpisah jauh dari sumbernya pasti mendambakan saat-saat ketika ia bersatu dengannya.51 319 Sejarah Tuhan Manusia Sempurna diyakini bisa mengilhami manusia biasa untuk mencari Tuhan: Syamsuddin telah mengilhami Rumi melahirkan syairsyair Masnawi, yang mengisahkan derita perpisahan ini. Seperti sufi-sufi lain, Rumi memandang alam sebagai teofani dari sekian banyak Nama Tuhan. Sebagian di antaranya mengungkapkan kemarahan atau kekerasan Tuhan, sebagian lainnya mengungkapkan sifat kasih yang melekat dalam hakikat ilahi. Kaum mistik terlibat dalam perjuangan tanpa akhir untuk mengenali kasih sayang, cinta, dan keindahan Tuhan di dalam segala sesuatu dan membuang yang lainnya. Masnawi menantang seorang Muslim untuk menemukan dimensi transenden di dalam kehidupan manusia dan menemukan realitas tersembunyi di balik penampakan lahiriah. Ego adalah yang membutakan mata kita dari misteri batin yang ada dalam segala sesuatu, tetapi begitu kita bisa melampauinya maka kita tak lagi merupakan wujud yang terpisah tetapi satu dengan Dasar semua yang ada. Di sini Rumi juga menekankan bahwa Tuhan tak lain merupakan pengalaman subjektif. Dia menceritakan kisah tentang Musa dan Penggembala untuk melukiskan rasa hormat yang harus kita perlihatkan kepada konsepsi orang lain tentang Tuhan. Suatu hari Musa mendengar seorang penggembala berbicara akrab dengan Tuhan; dia ingin membantu Tuhan, di mana pun dia berada—mencuci pakaiannya, mencium tangan dan kakinya menjelang tidur. "Yang dapat kukatakan ketika mengingatmu," demikian simpul si pendoa itu, "hanyalah ayyyy dan ahhhhhhhh." Musa sangat terkejut. Siapa gerangan teman bicara yang dibayangkan si penggembala ini? Pencipta langit dan bumi? Dia seakan-akan tengah berbicara dengan pamannya! Penggembala itu bertobat dan mengembara membawa kegelisahannya ke padang pasir, namun Tuhan menegur Musa. Tuhan tidak menghendaki kata-kata ortodoks, tetapi cinta yang membakar dan kerendahan hati. Tak ada satu cara yang benar untuk berbicara tentang Tuhan: Apa yang tampak salah bagimu, benar baginya Apa yang racun bagi seseorang, menjadi madu bagi orang lain. Kemurnian dan kecemaran, kemalasan dan ketekunan dalam beribadah, Tak ada artinya bagi-Ku. Aku jauh dari semua itu Cara-cara beribadah tidaklah untuk diurutkan sebagai lebih baik atau lebih buruk dari yang lain. Orang Hindu mengamalkan Hindu 320 Tuhan Kaum Mistik Muslim Dravida di India melakukan apa yang ingin mereka lakukan Semuanya adalah pemujaan, dan semuanya benar. Bukanlah Aku yang dimuliakan dalam peribadatan itu. Tetapi mereka jualah! Aku tak mendengar kata-kata yang mereka ucapkan. Aku menatap ke dalam sikap yang rendah hati. Yang membuka kerendahan itu adalah Realitas, bukan bahasa! Lupakan pengucapan. Aku ingin yang membakar, yang membakar. Jadilah Sahabat-sahabat dengan apimu. Bakarlah pikiranmu dan semua bentuk ekspresimu!52 Setiap pembicaraan tentang Tuhan sama absurdnya dengan yang diucapkan oleh penggembala itu, tetapi jika seorang Mukmin menerawang menembus tabir untuk melihat keadaan apa adanya, dia akan menyadari bahwa keadaan itu berbeda dengan semua prasangka manusia. Pada masa itu berbagai tragedi juga telah membantu orang Yahudi Eropa membentuk konsepsi baru tentang Tuhan. Perang anti-Semitisme Barat kemudian membuat hidup menjadi tidak nyaman bagi masyarakat Yahudi, dan banyak di antara mereka menghendaki Tuhan yang lebih dekat dan personal daripada Tuhan yang jauh sebagaimana dalam Mistisisme Mahkota. Selama abad kesembilan, keluarga Kalonymos beremigrasi dari Italia Selatan menuju Jerman dan membawa bersama mereka beberapa literatur mistik. Namun pada abad kedua belas, pengejaran atas diri mereka telah memasukkan iklim pesimisme baru ke dalam keyakinan Ashkenazi. Hal ini terungkap di dalam tulisan tiga anggota klan Kalonymos: Rabi Samuel the Elder, penulis risalah pendek Sefer ha-Yirah (Kitab tentang Ketakutan kepada Tuhan) sekitar tahun 1150; Rabijudah the Pietist, penulis Sefer Hasidim (Kitab Orang-orang Saleh), dan sepupunya Rabi Eliezar ben Judah dari Worms (w. 1230), yang menyunting sejumlah risalah dan teks mistik. Mereka bukanlah para filosof atau pemikir sistematis, dan karya mereka memperlihatkan bahwa mereka telah meminjam gagasan dari sejumlah sumber yang tampaknya tidak saling sesuai. Mereka sangat terkesan pada faylasuf kering Saadia bin Yoseph, yang bukubukunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani, dan pada tokohtokoh mistik Kristen, seperti Francis dari Assisi. Dari sumber-sumber yang beraneka ragam ini, mereka berhasil menciptakan spiritualitas 321 Sejarah Tuhan yang penting bagi kaum Yahudi Prancis dan Jerman hingga abad ketujuh belas. Para rabi, dapat diingat kembali, menyatakan bahwa menolak kenikmatan yang telah diciptakan Tuhan adalah dosa. Tetapi, kaum Pietist Jerman mengajarkan pengingkaran yang menyerupai asketisisme Kristen. Seorang Yahudi hanya akan melihat Shekinah di alam akhirat nanti jika dia memalingkan diri dari kesenangan dan meninggalkan hobi perintang waktu, seperti memelihara binatang atau bermain dengan anak-anak. Orang Yahudi mesti menumbuhkan apatheia, seperti sikap Tuhan, tak bergeming terhadap cercaan dan hinaan. Namun, tidaklah mustahil untuk memandang Tuhan sebagai Sahabat. Mistisisme Mahkota takkan pernah mengimpikan memanggil Tuhan dengan sebutan "Engkau", seperti yang dilakukan Eliezar. Keakraban ini merayap ke dalam liturgi, menggambarkan Tuhan yang imanen dan hadir dengan dekat sembari tetap transenden: Segalanya ada di dalam Engkau dan Engkau ada di dalam segala sesuatu; Engkau mengisi segala sesuatu dan melingkupinya; ketika segalanya diciptakan, Engkau ada di dalam segalanya; sebelum segalanya diciptakan, Engkau adalah segalanya.53 Mereka meninggikan imanensi ini dengan menunjukkan bahwa tak seorang pun bisa mendekati Tuhan dalam dirinya sendiri kecuali Tuhan yang memanifestasi kepada manusia melalui "kemuliaan"- nya atau dalam "cahaya agung yang disebut Shekinah." Kaum Pietist tidak merisaukan inkonsistensi yang nyata ini. Mereka lebih memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan praktis daripada kesenangankesenangan teologis, mengajarkan kepada sesama Yahudi tentang metode konsentrasi (kawwanah) dan sikap yang bisa meningkatkan rasa tentang kehadiran Tuhan. Sikap diam adalah penting; seorang Pietist harus memejamkan matanya rapat-rapat, menutup kepalanya dengan syal sembahyang untuk menghindari gangguan, mengencangkan perutnya, dan mengertakkan giginya. Mereka merancang cara khusus untuk "mengeluarkan doa," yang dirasakan mendorong tumbuhnya rasa Kehadiran ini. Alih-alih sekadar mengulang kata-kata liturgi, seorang Pietist harus menghitung huruf-huruf dalam setiap kata, menjumlahkan nilai numeriknya dan meninggalkan makna bahasa yang harfiah. Dia mesti mengarahkan perhatiannya ke atas, untuk mendorong timbulnya rasa tentang realitas yang lebih tinggi. 322 Tuhan Kaum Mistik Situasi kaum Yahudi di wilayah Islam, yang tak memiliki permusuhan anti-Semitik, jauh lebih menggembirakan sehingga mereka tidak membutuhkan ajaran Ashkenazi ini. Mereka mengembangkan bentuk Yudaisme baru sebagai respons terhadap perkembangan kaum Muslim. Sebagaimana para faylasuf Yahudi telah berupaya menjelaskan Tuhan Alkitab secara filosofis, orang Yahudi lainnya mencoba memberikan tafsiran mistik dan simbolik tentang Tuhan mereka. Pada mulanya kaum mistik ini hanya berjumlah sangat sedikit. Mereka mengajarkan disiplin esoterik yang diwariskan dari seorang guru kepada muridnya: mereka menyebutnya Kabbalah, atau "tradisi yang diwariskan." Akan tetapi, pada akhirnya Tuhan yang dikonsepsikan oleh Kabbalah menarik perhatian mayoritas umat dan menancap dalam imajinasi kaum Yahudi dengan cara yang tidak pernah dicapai oleh Tuhan para filosof. Filsafat mengancam untuk mengubah Tuhan menjadi abstraksi yang jauh, tetapi Tuhan kaum mistik mampu menyentuh ketakutan dan kecemasan yang terletak lebih dalam daripada nalar. Jika Mistisisme Mahkota telah puas dengan melihat kemuliaan Tuhan dari luar, Kabbalis berupaya menembus kehidupan batin Tuhan dan kesadaran manusia. Alih-alih berspekulasi secara rasional tentang hakikat Tuhan dan persoalan metafisika hubungan Tuhan dengan alam, kaum Kabbalis beralih kepada imajinasi. Seperti halnya kaum sufi, kaum Kabbalis menggunakan pembedaan yang dibuat kaum Gnostik dan Neoplatonis antara esensi Tuhan dan Tuhan yang terungkap dalam wahyu maupun ciptaan. Tuhan dalam dirinya sendiri secara esensial tidak bisa diketahui, tidak bisa dikonsepsikan, dan impersonal. Mereka menyebut Tuhan yang tersembunyi itu En Sof (secara harfiah berarti "tanpa akhir"). Kita tidak mengetahui apa-apa tentang En Sof: dia tidak pernah disebutkan di dalam Alkitab ataupun Talmud. Penulis anonim abad ketiga belas menulis bahwa En Sof tidak bisa menjadi subjek sebuah wahyu bagi manusia.54 Berbeda dengan YHWH, En Sof tidak memiliki nama yang terdokumentasikan; "dia" bukan suatu oknum, bukan berjenis laki-laki atau perempuan. Ini merupakan pandangan yang berbeda secara radikal dari Tuhan yang sangat personal dalam Alkitab dan Talmud. Kaum Kabbalis mengembangkan mitologi tersendiri untuk membantu mereka menjelajahi alam kesadaran keagamaan baru. Untuk menjelaskan hubungan antara En Sof dan YHWH, tanpa terjerumus ke dalam bid'ah Gnostik dengan menyatakan bahwa keduanya merupakan dua wujud yang berbeda, kaum Kabbalis mengembangkan 323 metode simbolik dalam membaca kitab suci. Seperti halnya kaum sufi, mereka membayangkan sebuah proses di mana Tuhan yang tersembunyi membuat dirinya dikenal oleh manusia. En Sof telah memanifestasikan dirinya kepada kaum mistik Yahudi dalam sepuluh aspek atau sefiroth ("bilangan") realitas ilahiah. Kesepuluh aspek ini beremanasi dari Tuhan yang gaib di kedalaman yang tak terhingga. Setiap sefirah mewakili satu tahap dalam pengungkapan wahyu En Sof dan memiliki nama simboliknya sendiri, tetapi masing-masingnya mengandung keseluruhan misteri tentang Tuhan dari sudut pandang tertentu. Metode tafsir Kabbalistik membuat setiap kata yang ada di dalam Alkitab merujuk pada satu di antara sepuluh sefiroth itu: setiap ayat menggambarkan suatu peristiwa atau fenomena yang ada pasangannya di dalam kehidupan batin Tuhan sendiri. Ibn Al-Arabi memandang kesedihan Tuhan, yang membuat dirinya terungkap bagi manusia, sebagai Firman yang telah menciptakan alam. Dalam cara yang hampir sama, sefiroth merupakan nama yang diberi Tuhan untuk dirinya sendiri sekaligus sarana yang dengannya dia menciptakan alam. Secara bersamaan kesepuluh nama ini membentuk satu Namanya yang agung, yang tidak bisa diketahui oleh manusia. Nama-nama itu mewakili tahap-tahap turunnya En Sof dari kesendirian yang tak tertembus menuju alam materi. Nama-nama itu biasanya disusun secara urut sebagai berikut: 1. Kether Elyon: "Mahkota Tertinggi" 2. Hokhmah: "Kebijaksanaan" 3. Binah: "Akal" 4. Hesed: "Cinta" atau "Pengampunan" 5. Din: "Kekuasaan" (biasanya terwujud dalam keadilan yang tegas) 6. Rakhamim: "Kasih Sayang"; kadang-kadang disebut Tifereth: "Keindahan" 7. Netsakh: "Keabadian" 8. Hod: "Keagungan" 9. Yesod: "Fondasi" 10. Malkuth: "Kerajaan"; juga disebut Shekinah Kadangkala, sefiroth digambarkan sebagai sebuah pohon yang tumbuh terbalik; akarnya di kedalaman En Sof yang tak terduga dan puncaknya di Shekinah, di dunia. Gambaran organik ini mengungkapkan kesatuan simbol Kabbalistik. En Sof adalah getah yang mengalir 324 Sejarah Tuhan Pohon Sefiroth 325 Sejarah Tuhan melalui dahan-dahan pohon dan membuatnya hidup, menyatukan dahan-dahan itu dalam realitas yang rumit dan misterius. Meskipun ada perbedaan antara En Sof dengan nama-namanya, keduanya adalah satu dengan cara yang hampir sama seperti batu bara dengan nyala api. Sefiroth mewakili alam-alam cahaya yang menerangi kegelapan En Sof, yang tetap berada dalam rahasia tak tertembus. Ini merupakan cara lain untuk menunjukkan bahwa pandangan kita tentang "Tuhan" tidak bisa sepenuhnya mengungkapkan realitas yang dirujuknya. Namun, alam sefiroth bukanlah realitas alternatif yang berada "di luar sana", antara Tuhan dan alam. Sefiroth bukanlah anak tangga yang menghubungkan langit dan bumi tetapi melandasi alam yang dicerap oleh indra. Karena Tuhan adalah segalanya di dalam segalanya, sefiroth hadir dan aktif di dalam segala sesuatu yang ada. Mereka juga mewakili tahap-tahap kesadaran manusia yang dilalui seorang mistik untuk naik menuju Tuhan dengan cara turun ke dalam pikirannya sendiri. Di sini Tuhan dan manusia kembali digambarkan sebagai tak terpisahkan. Sebagian Kabbalis melihat sefiroth sebagai anggota tubuh manusia primordial sebagaimana yang dimaksud Tuhan pada awalnya. Inilah yang dimaksudkan oleh Alkitab ketika dinyatakannya bahwa manusia telah diciptakan dalam citra Tuhan: realitas duniawi yang ada di sini bersesuaian dengan realitas arketipal yang ada di dalam alam akhirat. Citra Tuhan sebagai pohon atau seorang manusia merupakan cetusan imajinatif tentang sebuah realitas yang mengelak formulasi rasional. Kaum Kabbalis tidak bersikap antagonistik terhadap falsafah—banyak di antara mereka menghormati tokoh-tokoh, seperti Saadia Gaon dan Maimonides—tetapi mereka merasa simbolisme dan mitologi lebih memuaskan daripada metafisika dalam menyingkap misteri Tuhan. Naskah Kabbalistik yang paling berpengaruh adalah Zohar, yang mungkin ditulis sekitar tahun 1275 oleh ahli mistik Spanyol, Musa dari Leon. Ketika masih muda, dia telah mempelajari pemikiran Maimonides, namun lambat laun merasakan daya tarik mistisisme dan tradisi esoterik Kabbalah. Zohar (Kitab Kemegahan) merupakan sejenis novel mistikal, yang berkisah tentang pengembaraan ahli Talmud abad ketiga, Simeon ben Yohai, bersama putranya Eliezar mengelilingi Palestina, berbicara kepada murid-muridnya tentang Tuhan, alam, dan kehidupan manusia. Tak terdapat struktur yang jelas dan tidak ada perkembangan tema atau gagasan yang sistematik di dalam kitab ini. Pendekatan seperti itu asing bagi Zohar, yang 326 Tuhan Kaum Mistik konsepsi ketuhanannya menolak sebarang bentuk pemikiran yang runtut. Seperti Ibn Al-Arabi, Musa dari Leon percaya bahwa Tuhan menganugerahkan kepada setiap mistikus sebuah wahyu yang unik dan personal sehingga tak ada batasan cara untuk menafsirkan Taurat: seiring perkembangan si Kabbalis, lapis demi lapis makna pun terungkap. Zohar menampilkan emanasi misterius dari kesepuluh sefiroth sebagai proses yang dengannya En Sof yang impersonal menjadi personal. Dalam tiga sefiroth tertinggi—Kether, Hokhmah, dan Binah—ketika En Sof "memutuskan" untuk mengungkapkan diri, barulah realitas ketuhanan itu dapat dirujuk sebagai satu oknum. Ketika "dia" turun melalui sefiroth tengah—Hesed, Din, Tifereth, Netsakh, Hod dan Yesod—"dia" menjadi "engkau". Akhirnya, ketika Tuhan hadir di dunia Shekinah, "dia" menyebut dirinya "aku". Pada tahap inilah, yakni ketika Tuhan menjadi suatu individu dan ekspresi dirinya terlengkapi, manusia bisa memulai perjalanan mistiknya. Begitu seorang mistikus telah memperoleh pemahaman tentang jiwanya yang terdalam, dia menjadi sadar akan Kehadiran Tuhan di dalam dirinya dan kemudian mampu naik ke tataran impersonal yang lebih tinggi, meninggalkan keterbatasan personalitas dan egotisme. Ini adalah kepulangan kembali ke Sumber asal wujud kita dan alam realitas non-makhluk yang tersembunyi. Dalam perspektif mistikal ini, dunia indriawi kita tak lebih dari bagian akhir dan kulit paling luar dari realitas ilahiah. Di dalam Kabbalah, seperti halnya di dalam sufisme, doktrin penciptaan tidak sungguh-sungguh dikaitkan dengan asal usul alam secara fisik. Zohar memandang Kitab Kejadian sebagai versi simbolik dari krisis yang dialami En Sof, yang menyebabkan Tuhan memecahkan keheningannya yang dalam dan mewahyukan dirinya sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Zohar. Pada mulanya, ketika kehendak Sang Raja mulai berlaku, dia menorehkan tanda-tanda pada aura ilahi. Nyala kegelapan memancar dari bagian paling dalam En Sof, bagaikan kabut yang terbentuk dari ketiadaan bentuk, melingkupi lingkaran aura ini, tidak hitam dan tidak putih, tidak merah dan tidak hijau, dan sama sekali tak berwama.55 Dalam Kitab Kejadian, firman kreatif pertama dari Tuhan adalah: "Jadilah terang." Dalam komentar Zohar atas Kejadian (disebut Bereshit dalam bahasa Ibrani, berdasarkan kata pembukaannya: "Pada mulanya") 327 "nyala gelap" ini merupakan sefirah pertama: Kether Elyon, Mahkota Agung Tuhan. la tidak berwarna atau berbentuk: Kabbalis lain lebih suka menyebutnya Tiada (ayin). Bentuk ketuhanan tertinggi yang bisa dikonsepsikan oleh manusia disamakan dengan ketiadaan karena ia tak bisa diperbandingkan dengan sesuatu yang ada. Oleh karena itu, semua sefiroth lahir dari rahim Ketiadaan. Inilah tafsiran mistikal terhadap doktrin tradisional tentang penciptaan ex nihilo. Proses ekspresi diri Tuhan terus berlanjut seperti pancaran cahaya, yang menyebar ke wilayah yang semakin meluas. Zohar menyatakan lagi: Namun, ketika nyala ini mulai memiliki ukuran dan keluasan, ia menghasilkan warna-warna yang cerah. Sebab pada inti terdalamnya muncul sumber yang melimpahkan nyala ke segala yang ada di bawahnya, tersembunyi dalam rahasia misterius En Sof. Sumber itu menembus, namun tidak seluruhnya tertembus, aura abadi yang mengelilinginya. Semuanya bisa diketahui sepenuhnya hingga di bawah pengaruh terobosan itu, sebuah titik di langit bersinar terang. Di luar titik ini tak lagi yang bisa diketahui atau dipahami, dan ia disebut Bereshit, Permulaan; firman pertama dari penciptaan.56 Yang dimaksud dengan "titik" di sini adalah Hokhmah (Kebijaksanaan), yaitu sefirah kedua yang mengandung bentuk ideal dari semua yang tercipta. Titik itu berkembang menjadi sebuah istana atau bangunan, yang kemudian menjadi Binah (Akal), sefirah ketiga. Ketiga sefiroth tertinggi ini mewakili keterbatasan pemahaman manusia. Kaum Kabbalis mengatakan bahwa Tuhan ada di dalam Binah sebagai "Siapa?" (Mi) yang agung, yang menjadi awal setiap pertanyaan. Namun, tak mungkin mendapatkan sebuah jawaban. Meskipun En Sof secara perlahan menyesuaikan Dirinya ke dalam keterbatasan manusia, kita tetap saja tidak bisa mengetahui "Siapa" itu: semakin tinggi kita naik, "dia" pun semakin diselimuti kegelapan dan misteri. Ketujuh sefiroth berikutnya dianggap berhubungan dengan tujuh hari penciptaan di dalam Kitab Kejadian. Selama periode biblikal, YHWH akhirnya menang atas dewi-dewi Kanaan kuno dan kultus erotik mereka. Akan tetapi, ketika kaum Kabbalis berjuang untuk mengungkapkan misteri Tuhan, mitologi kuno justru kembali menegaskan diri, meskipun dalam bentuk yang samar. Zohar menggambarkan Binah sebagai Ibu Langit, yang rahimnya ditembus oleh "nyala gelap" untuk melahirkan tujuh sefiroth yang lebih rendah. Kemudian Yesod, sefirah kesembilan, mengilhami beberapa spekulasi yang 328 Sejarah Tuhan Tuhan Kaum Mistik menyerupai penis: ia digambarkan sebagai saluran yang melaluinya kehidupan ilahiah menyembur ke alam semesta lewat tindakan prokreasi mistikal. Akan tetapi, justru di dalam Shekinah, sefirah kesepuluh, simbolisme seksual kuno tentang penciptaan dan teogoni tampil dengan jelas. Di dalam Talmud, Shekinah dipandang sebagai figur netral: tidak memiliki jenis kelamin maupun gender. Namun, dalam Kabbalah, Shekinah menjadi aspek kewanitaan Tuhan. Bahir (kl. 1200), salah satu naskah Kabbalistik paling kuno, mengidentifikasi Shekinah dengan figur Gnostik Sophia, emanasi ketuhanan terakhir yang jatuh dari Pleroma dan kini mengembara, sesat, dan terasing dari Tuhan, di dunia. Zohar mengaitkan "pengusiran Shekinah" ini dengan kejatuhan Adam, seperti dikisahkan dalam kitab Kejadian. Dikatakan bahwa kepada Adam telah diperlihatkan "sefiroth tengah" dalam Pohon Kehidupan dan Shekinah dalam Pohon Pengetahuan. Alih-alih menyembah ketujuh sefiroth sekaligus, Adam memilih untuk memuliakan Shekinah saja, memisahkan kehidupan dari pengetahuan dan memutuskan kesatuan sefiroth. Kehidupan ilahiah tidak lagi mengalir ke dunia tanpa gangguan karena telah terpisah dari Sumber ilahiahnya. Tetapi dengan menaati Taurat, komunitas Israel bisa memulihkan keterasingan Shekinah dan menyatukan kembali alam dengan Tuhan. Tidak mengherankan jika banyak penafsir Talmud yang kolot menganggap ini sebagai gagasan yang menyesatkan, tetapi pengusiran Shekinah yang menggemakan mitos-mitos kuno tentang dewi-dewi yang mengembara jauh dari alam suci, menjadi salah satu unsur Kabbalah yang paling populer. Shekinah yang perempuan membawa keseimbangan seksual ke dalam pandangan tentang Tuhan, yang cenderung menjadi sangat maskulin, dan ini jelas meraenuhi sebuah kebutuhan keagamaan yang penting. Pandangan tentang pengusiran ilahiah ini juga menunjukkan rasa keterpisahan yang merupakan sebab dari begitu banyak kegalauan manusia. Zohar selalu menyatakan bahwa kejahatan merupakan sesuatu yang terpisah atau telah memasuki hubungan yang tidak sesuai baginya. Salah satu persoalan etika monoteisme adalah bahwa ia telah mengisolasi kejahatan. Karena kita tidak dapat menerima gagasan bahwa ada kejahatan di dalam Zat Tuhan, timbul bahaya bahwa kita pun tidak akan mampu memikulnya dalam diri kita sendiri. Kejahatan kemudian dicampakkan dan dipandang sebagai monster yang tidak manusiawi. Citra Setan yang menyeramkan di dalam Kristen Barat merupakan bentuk proyeksi yang terbelokkan seperti itu. Zohar 329 Sejarah Tuhan menggambarkan akar kejahatan ada pada Tuhan itu sendiri: di dalam Din atau Keadilan yang Tegas, sefirah kelima. Din disebut sebagai tangan kiri Tuhan, Hesed (Pengampunan) sebagai tangan kanannya. Selama Din bekerja harmonis dengan Pengampunan Tuhan, ia merupakan hal yang positif dan berguna. Namun jika ia menjauh dan terpisah dari sefiroth yang lain, ia menjadi kejahatan dan destruktif. Zohar tidak menceritakan kepada kita tentang bagaimana perpisahan ini bisa terjadi. Pada bab mendatang, kita akan menyaksikan bahwa kaum Kabbalis generasi selanjutnya merenungkan problem kejahatan, yang mereka pandang sebagai akibat dari sejenis "kecelakaan" primordial yang terjadi pada tahap paling awal dari proses pengungkapan diri Tuhan. Kabbalah menjadi kurang masuk akal jika ditafsirkan secara harfiah, tetapi mitologinya telah terbukti memuaskan secara psikologis. Ketika bencana dan tragedi menyelimuti kaum Yahudi Spanyol selama abad kelima belas, Tuhan Kabbalistiklah yang membantu mereka memaknai penderitaan yang menimpa mereka. Kita bisa menyaksikan ketajaman psikologis Kabbalah dalam karya-karya seorang mistikus Spanyol, Abraham Abulafia (1240-1291). Sebagian besar karya itu disusun pada waktu yang kira-kira bersamaan dengan Zohar, tetapi Abulafia lebih memusatkan perhatian pada metode praktis mencapai rasa tentang Tuhan daripada tentang hakikat Tuhan itu sendiri. Metode-metode ini mirip dengan yang digunakan para psikoanalis masa kini dalam pencarian sekular mereka akan pencerahan. Seperti kaum sufi yang menginginkan pengalaman bersama Tuhan seperti yang dialami Muhammad, Abulafia mengaku telah menemukan cara untuk mencapai ilham kenabian. Dia mengembangkan sebentuk Yoga Yahudi, menggunakan latihan konsentrasi biasa, seperti bernapas, membaca mantra, dan mengambil posisi tubuh tertentu untuk mencapai keadaan kesadaran yang berubah. Abulafia adalah seorang Kabbalis yang tidak biasa. Dia adalah seorang yang sangat terpelajar, yang telah melakukan studi atas Taurat, Talmud, dan Falsafah sebelum beralih kepada mistisisme karena sebuah pengalaman religius luar biasa yang dialaminya pada usia tiga puluh satu tahun. Tampaknya dia berkeyakinan bahwa dirinya adalah seorang Mesiah, bukan hanya untuk orang Yahudi melainkan juga untuk orang Kristen. Dia melakukan banyak perjalanan di seluruh Spanyol untuk mencari pengikut dan bahkan berlayar hingga ke Timur Dekat. Pada tahun 1280, dia mengunjungi Paus sebagai duta Yahudi. Meskipun Abulafia sering melancarkan kritik keras terhadap Kristen, dia 330 Tuhan Kaum Mistik tampaknya menghargai kemiripan antara Tuhan Kabbalistik dengan teologi Trinitas. Tiga sefiroth tertinggi mengingatkan orang pada Logos dan Ruh, Akal dan Hikmat Tuhan, yang berasal dari Bapa, Ketiadaan yang hilang dalam cahaya yang tak terjangkau. Abulafia sendiri senang berbicara tentang Tuhan dalam cara Trinitarian. Untuk menemukan Tuhan ini, Abulafia mengajarkan tentang perlunya "membebaskan jiwa dan melepaskan ikatan yang membelenggunya." Frase "melepaskan ikatan" juga ditemukan dalam Buddhisme Tibet, indikasi lain tentang kesamaan universal para mistikus. Proses yang digambarkan mungkin dapat dibandingkan dengan upaya psikoanalitis untuk membuka kompleksitas yang mengganggu kesehatan mental pasien. Sebagai seorang Kabbalis, Abulafia lebih memperhatikan energi ilahi yang menggerakkan seluruh ciptaan tetapi tidak bisa dipersepsi oleh jiwa. Selama kita menyumbat pikiran dengan ide-ide yang didasarkan pada persepsi indriawi, akan sulitlah untuk menangkap unsur transenden kehidupan. Melalui latihan-latihan yoganya, Abulafia mengajarkan murid-muridnya untuk melampaui kesadaran normal demi menemukan suatu alam yang sama sekali baru. Salah satu metodenya adalah Hokhmah ha-Tseruf (Ilmu tentang Kombinasi Huruf), berupa meditasi tentang Nama Tuhan. Seorang Kabbalis diminta untuk menggabungkan huruf-huruf dari Nama ilahi dalam kombinasi berbeda. Tujuannya adalah untuk memisahkan pikirannya dari yang konkret menuju persepsi yang lebih abstrak. Pengaruh dari latihan semacam ini—yang terkesan sangat tidak menjanjikan menurut pandangan orang luar—ternyata sangat hebat. Abulafia sendiri membandingkannya dengan sensasi mendengarkan harmoni musik, huruf-huruf abjad itu menjadi not-not dalam lagu. Dia juga menggunakan metode asosiasi ide, yang disebutnya dillug (melompat) dan kefitsah (meloncat), dan yang sangat mirip dengan praktik asosiasi bebas analitik modern. Metode ini juga memberikan hasil yang menakjubkan. Seperti yang dijelaskan oleh Abulafia, ia menerangi proses mental yang tersembunyi dan membebaskan seorang Kabbalis dari "penjara wilayah duniawi dan membawanya menuju batas wilayah ilahi."57 Dalam cara ini, "belenggu-belenggu" jiwa dibuka dan seorang murid dapat menemukan sumber kekuatan psikis yang mencerahkan pikirannya dan mengobati penderitaan hatinya. Sebagaimana pasien psikoanalitis membutuhkan bimbingan terapisnya, Abulafia mengajarkan bahwa pengembaraan mistikal ke dalam pikiran hanya mungkin dilakukan di bawah bimbingan seorang 331 Sejarah Tuhan guru Kabbalah. Dia sangat sadar akan bahayanya karena pernah menderita krisis pengalaman keagamaan yang nyaris membuatnya putus asa. Pasien pada masa sekarang sering menginternalisasi pribadi seorang analis untuk memperoleh kekuatan dan kesehatan yang dimilikinya. Demikian pula Abulafia menulis bahwa seorang Kabbalis akan sering "melihat" dan "mendengar" pribadi pembimbing spiritualnya, yang menjadi "penggerak dari dalam, yang membuka pintupintu tertutup di dalam dirinya." Dia merasakan desakan kekuatan baru dan perubahan batin yang begitu kuat sehingga seolah-olah berasal dari sebuah sumber ilahi. Seorang murid Abulafia memberikan tafsiran lain tentang ekstasi: seorang mistikus, katanya, menjadi Mesiah bagi dirinya sendiri. Di dalam ekstasi dia berhadapan dengan visi tentang dirinya sendiri yang telah dibebaskan dan dicerahkan: Ketahuilah bahwa run kenabian yang sempuma disediakan bagi nabi sehingga dia tiba-tiba melihat bentuk dirinya tegak di hadapannya, dan dia lupa akan dirinya sendiri dan diri itu terpisah darinya ... dan mengenai rahasia ini, guru kami berkata [di dalam Talmud]: "Betapa besar kekuatan para nabi, yang membandingkan bentuk dari Dia yang membentuknya" [artinya, "yang membandingkan manusia dengan Tuhan"].58 Kaum mistik Yahudi selalu enggan untuk mengakui penyatuan diri dengan Tuhan. Abulafia dan murid-muridnya hanya akan mengatakan bahwa melalui pengalaman bersatu dengan pembimbing spiritual atau dengan mencapai pembebasan pribadi seorang Kabbalis telah disentuh oleh Tuhan secara tidak langsung. Ada perbedaan jelas antara mistisisme abad pertengahan dengan psikoterapi modern, namun kedua disiplin itu telah mengembangkan teknik-teknik yang sama untuk mencapai penyembuhan dan keutuhan pribadi. Di Barat, orang Kristen lebih lambat mengembangkan suatu tradisi mistikal. Mereka tertinggal di belakang kaum monoteis di Byzantium maupun di imperium Islam dan mungkin tidak siap untuk perkembangan baru ini. Namun, selama abad keempat belas terjadi ledakan dahsyat agama mistikal, khususnya di Eropa Utara. Jerman secara khusus menghasilkan sekelompok mistikus: Meister Eckhart (1260- 1327), Johannes Tauler (1300-61), Gertrude yang Agung (1256-1302), dan Henry Suso (kl. 1295-1306). Inggris juga memberi kontribusi signifikan terhadap perkembangan Barat ini dan melahirkan empat mistikus besar yang segera menarik sejumlah pengikut di Benua 332 Tuhan Kaum Mistik dan di negeri mereka sendiri: Richard Rolle dari Hampole (1290- 1349), pengarang The Cloud of Unknowing yang tak dikenal, Walter Hilton (w. 1346), dan Dame Julian dari Norwich (kl. 1342-1416). Sebagian mistikus ini lebih maju daripada yang lain. Richard Rolle, misalnya, tampaknya terjebak dalam penumbuhan sensasi eksotik, dan spiritualitasnya kadang dicirikan oleh sejenis egoisme. Akan tetapi, sebagian besar di antara mereka menemukan banyak pandangan yang sama dengan yang telah dicapai oleh orang Yunani, kaum sufi, dan para Kabbalis. Meister Eckhart, misalnya, yang sangat berpengaruh terhadap Tauler dan Suso, dipengaruhi oleh Denys the Aeropagite dan Maimonides. Dia adalah seorang frater Dominikan yang brilian dan mengajarkan filsafat Aristoteles di Universitas Paris. Akan tetapi, pada tahun 1325, ajaran mistiknya memicu konflik dengan Uskup Besar Cologne, yang menuduhnya bid'ah: dia dituduh mengingkari kebaikan Tuhan, karena berkeyakinan bahwa Tuhan dilahirkan di dalam jiwa dan menyebarkan paham tentang keabadian alam. Namun demikian, beberapa kritikus terberatnya justru berpandangan bahwa Eckhart adalah seorang ortodoks: kekeliruan terletak pada penafsiran beberapa karyanya secara harfiah, bukan secara simbolik, seperti yang dimaksudkannya. Eckhart adalah seorang penyair, yang sangat menyenangi paradoks dan metafora. Meski percaya bahwa kepercayaan kepada Tuhan adalah sesuatu yang rasional, pada saat yang sama dia menyangkal bahwa akal semata bisa membentuk konsepsi yang memadai tentang hakikat ilahi: "Dalil tentang sesuatu yang bisa diketahui hanya bisa dibuat berdasarkan indra atau akal," demikian argumentasinya, "pengetahuan tentang Tuhan tidak bisa dibuktikan oleh persepsi indriawi sebab Dia bukanlah mated, atau oleh akal, sebab Dia tidak memiliki bentuk apa pun yang bisa diketahui."59 Tuhan bukan sekadar wujud lain yang eksistensinya bisa dibuktikan seperti layaknya objek pikiran normal lainnya. Tuhan, demikian Eckhart menyatakan, adalah Tiada.60 Ini bukan berarti bahwa Tuhan adalah sebuah ilusi, melainkan bahwa dia memiliki bentuk eksistensi yang lebih kaya dan lebih utuh dibandingkan dengan yang bisa kita ketahui. Eckhart juga menyebut Tuhan sebagai "kegelapan", bukan untuk menyatakan ketiadaan cahaya melainkan untuk menunjukkan kehadiran sesuatu yang lebih cerah. Eckhart juga membedakan antara "Tuhan Tertinggi" yang paling cocok digambarkan lewat terma negatif, seperti "kekacauan", "keliaran", 333 Sejarah Tuhan "kegelapan", dan "ketiadaan", dengan Tuhan yang dikenal sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus.61 Sebagai orang Barat, Eckhart senang menggunakan analogi Agustinus tentang Trinitas dalam pikiran manusia dan menyiratkan bahwa meski doktrin Trinitas tidak bisa diketahui oleh akal, namun hanya akallah yang mempersepsikan Tuhan sebagai Tiga Oknum: begitu seorang mistikus telah mencapai penyatuan diri dengan Tuhan, dia akan melihatnya sebagai Yang Esa. Orang Yunani tidak akan menyukai gagasan semacam ini, namun Eckhart sepakat dengan mereka bahwa Trinitas sebenarnya merupakan sebuah doktrin mistikal. Dia senang membicarakan Tuhan Bapa yang, menurutnya, telah menghadirkan Putra di dalam jiwa, persis seperti Perawan Maria yang telah mengandung Kristus di dalam rahim. Rumi juga telah melihat kelahiran Nabi Isa dari seorang perawan sebagai simbol kelahiran jiwa di hati seorang mistikus. Menurut Eckhart, ini adalah penafsiran alegoris tentang keterkaitan jiwa dengan Tuhan. Tuhan hanya mungkin diketahui melalui pengalaman mistikal. Oleh karena itu, lebih baik berbicara tentang dia dengan menggunakan terminologi negatif, seperti yang pernah dianjurkan oleh Maimonides. Kita mesti memurnikan konsepsi tentang Tuhan, membuang prakonsepsi konyol dan tamsil yang antropomorfis. Kita bahkan mesti menghindar dari menggunakan kata "Tuhan" itu sendiri. Inilah yang dimaksudkan Eckhart ketika berkata: "Keterpisahan terakhir dan tertinggi manusia adalah ketika, demi Tuhan, dia meninggalkan Tuhan."62 Ini tentu merupakan proses yang menyakitkan. Karena Tuhan itu Tiada, maka kita harus siap untuk menjadi tiada pula agar mencapai penyatuan dengannya. Dalam suatu proses yang mirip dengan fana' kaum sufi, Eckhart bicara tentang "pelepasan" atau, lebih tepatnya, "keterpisahan" (abgescbiedenheit).65 Dalam cara yang sangat mirip dengan ketika seorang Muslim memandang tindakan menyembah kepada selain Allah sebagai musyrik, Eckhart mengajarkan bahwa seorang mistik harus menolak terbelenggu pada ide terbatas apa pun tentang Tuhan. Hanya dengan cara itu dia akan mencapai kesamaan dengan Tuhan, "eksistensi Tuhan tentunya adalah eksistensiku dan Keberadaan (Istigkeit) Tuhan menjadi keberadaanku sendiri."64 Karena Tuhan adalah landasan bagi wujud, tak perlu lagi mencarinya "di luar sana" atau membayangkan pendakian menuju sesuatu yang berada di luar dunia yang kita kenal ini. Jika Al-Hallaj mengejutkan para ulama dengan seruannya "ana Al-Haqq," Eckhart mengejutkan uskup-uskup Jerman dengan doktrin 334 Tuhan Kaum Mistik mistikalnya: apa arti pernyataan bahwa seorang manusia biasa dapat mencapai kesamaan dengan Tuhan? Selama abad keempat belas, para teolog Yunani memperdebatkan persoalan ini mati-matian. Karena Tuhan tidak bisa dijangkau, bagaimana dia bisa mengomunikasikan dirinya kepada manusia? Jika terdapat perbedaan antara esensi Tuhan dan "aktivitas" atau "energi"-nya, seperti yang diajarkan oleh para Bapa Gereja, tentu merupakan penghujatan untuk membandingkan "Tuhan" yang ditemui oleh orang Kristen dalam doa dengan Tuhan itu sendiri? Gregory Palamas, Uskup Besar Saloniki, mengajarkan bahwa, meski tampaknya paradoks, setiap orang Kristen dapat memperoleh pengetahuan langsung tentang Tuhan itu sendiri. Benar, esensi Tuhan memang selalu berada di luar pemahaman kita, tetapi "energi"-nya tidak berbeda dari Tuhan dan tidak boleh dipahami sebagai sisa-sisa cahaya Tuhan semata. Seorang mistikus Yahudi pasti akan setuju: Tuhan En Sof akan tetap diselimuti kegelapan yang tak tertembus, namun sefiroth-nya (yang bersesuaian dengan konsepsi orang Yunani tentang "energi") dengan sendirinya suci, bertiup secara abadi dari inti Tuhan Tertinggi. Terkadang manusia dapat melihat atau mengalami "energi-energi" ini secara langsung, seperti yang dikatakan di dalam Alkitab bahwa "kemuliaan" Tuhan telah tiba. Tak seorang pun pernah melihat esensi Tuhan, tetapi itu tidak berarti bahwa sebuah pengalaman langsung tentang Tuhan adalah mustahil. Kenyataan bahwa penegasan ini bersifat paradoks tidaklah memusingkan Palamas sama sekali. Telah sejak lama disepakati oleh orang Yunani bahwa setiap pernyataan tentang Tuhan pasti bersifat paradoks. Hanya dengan demikian orang bisa mempertahankan rasa tentang misteri dan ketakterjangkauannya. Palamas menuliskannya sebagai berikut: Kita dapat berpartisipasi dalam hakikat ilahi, namun pada saat yang sama dia secara keseluruhan tetap tak terjangkau. Kita perlu menegaskan keduanya pada waktu yang bersamaan dan mempertahankan antimoni sebagai kriteria bagi doktrin yang benar,65 Tak ada yang baru dalam doktrin Palamas karena semua itu pernah dirumuskan oleh Symeon sang Teolog Baru pada abad kesebelas. Namun, Palamas ditentang oleh Barlaam the Calabrian, yang pernah belajar di Italia dan sangat kuat dipengaruhi oleh Aristotelianisme rasionalistik Thomas Aquinas. Dia menentang pembedaan tradisional Yunani antara esensi Tuhan dengan energinya dan menuduh Palamas 335 Sejarah Tuhan memecah Tuhan ke dalam dua bagian yang terpisah. Barlaam mengajukan definisi tentang Tuhan yang merujuk kembali kepada kaum rasionalis Yunani kuno dan menekankan simplisitas mutlaknya. Para filosof Yunani, seperti Aristoteles yang, menurut Barlaam, secara istimewa telah dicerahkan oleh Tuhan, mengajarkan bahwa Tuhan tidak bisa diketahui dan jauh dari alam. Tidaklah mungkin, oleh karena itu, bagi manusia untuk "melihat" Tuhan: manusia hanya bisa merasakan pengaruhnya secara tidak langsung di dalam kitab suci atau kehebatan penciptaan. Barlaam dikecam oleh Konsili Gereja Ortodoks pada tahun 1341, tetapi mendapat dukungan dari para pendeta lain yang juga telah terpengaruh oleh Aquinas. Pada dasarnya ini merupakan konflik antara Tuhan kaum mistik dan Tuhan para filosof. Barlaam dan para pendukungnya, Gregory Akindynos (yang senang mengutip Summa Theologiae versi Yunani), Nicephoras Gregoras, dan Thomist Prochoros Cydone, tak mengenal teologi apofatik Byzantium yang menekankan keheningan, paradoks, dan misteri. Mereka lebih menyukai teologi Eropa Barat yang lebih positif, yang mendefinisikan Tuhan sebagai Wujud, bukannya Tiada. Bertentangan dengan ketuhanan misterius dari Denys, Symeon, dan Palamas, mereka merancang konsepsi Tuhan yang mungkin untuk dinyatakan. Orang Yunani senantiasa tak percaya pada kecenderungan seperti ini dalam pemikiran Barat dan, dalam menghadapi rasukan ide-ide Latin yang rasionalistik ini, Palamas menegaskan kembali teologi paradoks Ortodoksi Timur. Tuhan tidak boleh direduksi ke dalam sebuah konsep yang dapat diekspresikan oleh perkataan manusia. Dia sependapat dengan Barlaam bahwa Tuhan tidak bisa diketahui, namun demikian berkeyakinan bahwa manusia dapat mengalami kehadiran Tuhan. Cahaya yang telah mengubah kemanusiaan Yesus di Gunung Tabor, bukanlah esensi Tuhan, yang memang tak pernah dilihat oleh manusia, tetapi dengan cara yang misterius merupakan Tuhan itu sendiri. Liturgi yang, menurut teologi Yunani, mengabadikan kesucian ajaran ortodoks, menyatakan bahwa di Gunung Tabor: "Kita telah melihat Bapa sebagai cahaya dan Roh Kudus sebagai cahaya." Itulah wahyu tentang "kita yang dahulu dan kita yang akan datang" ketika, seperti Kristus, kita dituhankan.66 Apa yang kita "lihat" ketika berkontemplasi tentang Tuhan di dalam kehidupan ini bukanlah wakil Tuhan, melainkan Tuhan itu sendiri. Tentu saja, ini merupakan sebuah kontradiksi, namun Tuhan Kristen memang sebuah paradoks: antimoni dan keheningan mewakili satu-satunya sikap yang tepat di hadapan 336 Tuhan Kaum Mistik misteri yang kita sebut "Tuhan"—bukan sebuah hiruk-pikuk filosofis yang mencoba menjernihkan segala kesulitan. Barlaam telah berupaya membuat konsep ketuhanan terlalu konsisten: dalam pandangannya, Tuhan itu harus identik dengan esensinya atau tidak sama sekali. Dia telah mencoba untuk membatasi Tuhan pada esensinya dan menyatakan adalah mustahil baginya untuk hadir di luar itu melalui "energi"-nya. Namun, itu sama artinya dengan berpikir tentang Tuhan seakan-akan dia sekadar fenomena lain dan didasarkan pada pandangan kemanusiaan semata tentang apa yang mungkin atau yang mustahil. Palamas berkeyakinan bahwa visi tentang Tuhan merupakan ekstasi bersama: manusia bertransendensi terhadap diri sendiri namun Tuhan juga mengalami ekstasi transendensi dengan cara keluar dari "dirinya" agar dapat dikenal oleh makhluk: "Tuhan juga keluar dari dirinya sendiri dan turun untuk menjadi satu dengan pikiran kita."67 Kemenangan Palamas, yang teologinya tetap laku di kalangan Kristen Ortodoks, atas kaum rasionalis Yunani abad keempat belas mewakili kemenangan yang lebih luas bagi mistisisme di dalam ketiga agama monoteistik. Sejak abad kesebelas, para filosof Muslim telah tiba pada kesimpulan bahwa akal—yang tak tergantikan fungsinya dalam studi-studi semacam kedokteran dan sains—sama sekali tidak memadai ketika dihadapkan kepada studi tentang Tuhan. Bersandar pada akal semata sama seperti berusaha makan sup dengan menggunakan garpu. Tuhan kaum sufi telah meraih keunggulan atas Tuhan para filosof di kebanyakan bagian wilayah kerajaan Islam. Pada bab mendatang akan kita saksikan bahwa Tuhan kaum Kabbalis pun menjadi dominan di dalam spiritualitas Yahudi selama abad keenam belas. Mistisisme mampu menerobos lebih jauh ke dalam pikiran daripada bentukbentuk agama yang lebih rasionalistik dan legalistik. Tuhan kaum mistik mampu menjawab kebutuhan, ketakutan, dan kecemasan primitif—hal yang tak mampu dilakukan oleh Tuhan para filosof yang jauh. Pada abad keempat belas, Barat telah melahirkan agama mistiknya sendiri dan mengambil langkah awal yang sangat menjanjikan. Namun, mistisisme di Barat tak pernah menyebar seluas di dalam tradisi-tradisi lain. Di Inggris, Jerman, dan Skotlandia, yang telah menghasilkan ahli-ahli mistik ternama, kaum Pembaru Protestan abad keenam belas mengecam spiritualitas yang tidak alkitabiah ini. Di Gereja Katolik Roma, tokoh-tokoh mistik terkemuka, seperti St. 337 Sejarah Tuhan Teresa dari Avila sering diancam oleh Inkuisisi Kontra Reformasi. Sebagai akibat dari Reformasi, Eropa mulai melihat Tuhan dalam cara yang semakin rasionalistik.[] 338 Tuhan bagi Para Reformis Abad kelima belas dan keenam belas adalah abad paling menentukan bagi semua umat beragama. Periode itu merupakan periode paling krusial, khususnya bagi Kristen Barat, yang bukan hanya berhasil mengejar ketertinggalannya dari kebudayaan-kebudayaan lain dalam Oikumene tetapi bahkan nyaris menaklukkannya. Dua abad ini telah menjadi saksi bagi Renaisans Italia yang dengan cepat menyebar ke Eropa Utara, serta penemuan Dunia Baru dan awal revolusi ilmiah yang akan menimbulkan pengaruh sangat menentukan bagi perjalanan nasib seluruh dunia. Pada akhir abad keenam belas, Barat mulai menciptakan bentuk peradaban yang sangat berbeda. Periode ini merupakan sebuah masa transisi dan, karenanya, ditandai oleh kecemasan dan berbagai prestasi. Hal ini terlihat dengan jelas dalam konsepsi Barat tentang Tuhan pada periode tersebut. Di tengah keberhasilan sekular mereka, orang Barat semakin menaruh perhatian pada iman melebihi masa-masa sebelumnya. Kaum awam merasa tidak puas terhadap bentuk agama abad pertengahan yang tak mampu lagi memenuhi kebutuhan mereka di dunia yang baru. Para Reformis menyuarakan kegelisahan ini dan menemukan cara baru dalam memandang Tuhan dan penyelamatan. Akibatnya Eropa terpecah ke dalam dua kubu yang saling bertikai— Katolik dan Protestan—yang hingga kini tak pernah benar-benar bebas dari kebencian dan saling curiga satu sama lain. Selama masa 339 eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com MR. Collection's a Sejarah Tuhan Reformasi, kaum pembaru Katolik dan Protestan mengimbau para penganutnya untuk meninggalkan kesetiaan lahiriah kepada orangorang suci dan para malaikat, dan memusatkan perhatian kepada Tuhan semata. Eropa tampaknya sedang terobsesi oleh Tuhan. Namun demikian, pada awal abad ketujuh belas, beberapa di antara mereka berfantasi tentang "ateisme". Apakah ini berarti mereka siap untuk menyingkirkan Tuhan? Periode ini juga merupakan periode krisis bagi orang Yunani, Yahudi, dan Muslim. Pada tahun 1453, Turki Usmani menaklukkan ibu kota Kristen Konstantinopel dan menghancurkan kekaisaran Byzantium. Setelah itu, orang Kristen Rusia melanjutkan tradisi dan spiritualitas yang dikembangkan Yunani. Pada Januari 1492, ketika Christopher Columbus menemukan Dunia Baru, Ferdinand dan Isabella menaklukkan Grenada di Spanyol, daerah kekuasaan Muslim terakhir di Eropa: kaum Muslim kemudian diusir dari semenanjung Iberia, yang telah menjadi tanah air mereka selama 800 tahun. Penghancuran Muslim Spanyol menimbulkan akibat yang fatal bagi orang Yahudi. Pada Maret 1492, beberapa minggu setelah kejatuhan Grenada, monarki Kristen menawarkan pilihan dibaptis atau diusir bagi Yahudi Spanyol. Banyak orang Yahudi Spanyol yang begitu terikat pada negeri mereka sehingga memilih untuk menganut Kristen, meskipun sebagian tetap menjalankan praktik agama mereka secara sembunyisembunyi: seperti orang Moriscos, para mualaf Kristen yang berpindah dari Islam, orang-orang Yahudi ini kemudian dikejar oleh Inkuisisi karena dicurigai sebagai pembid'ah. Akan tetapi, sekitar 150.000 orang Yahudi menolak dibaptis dan terpaksa meninggalkan Spanyol. Mereka mencari perlindungan ke Turki, Balkan, dan Afrika Utara. Kaum Muslim Spanyol telah memberikan tanah air terbaik bagi orang Yahudi dibanding di tempat mana pun di seluruh diaspora sehingga pemusnahan Yahudi Spanyol disesali oleh kaum Yahudi seluruh dunia sebagai bencana terbesar yang pernah menimpa mereka sejak penghancuran Kuil pada 70 M. Pengalaman diusir menancap kuat di lubuk kesadaran keagamaan Yahudi melebihi masa-masa sebelumnya. Pengalaman tragis itu membawa pada pertumbuhan bentuk baru Kabbalah dan perkembangan konsepsi baru tentang Tuhan. Periode ini juga merupakan tahun-tahun yang sulit bagi umat Muslim di berbagai bagian dunia yang lain. Abad-abad yang menandai keberhasilan invasi kaum Mongol telah mengakibatkan—mungkin secara tak terhindarkan—timbulnya konservatisme baru, karena orang- 340 Tuhan bagi Para Reformis orang berupaya untuk menemukan kembali apa yang telah hilang. Pada abad kelima belas, kaum ulama dan madrasah-madrasah Sunni menyatakan bahwa "pintu ijtihad telah tertutup." Sejak saat itu, kaum Muslim harus tunduk (taqlid) pada pemikiran para mujtahid masa lalu, khususnya yang menyangkut syariat, hukum Islam. Tampaknya tak akan ada lagi gagasan-gagasan inovatif tentang Tuhan, atau tentang apa pun, dalam iklim konservatif ini. Namun demikian, adalah keliru untuk mencatat periode ini sebagai periode kemunduran dalam Islam, sebagaimana yang sering dikemukakan oleh orang-orang Eropa Barat. Marshall G. S. Hodgson dalam The Venture of Islam, Conscience and History in a World Civilisation, mengatakan bahwa kita tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang periode ini untuk membuat generalisasi yang begitu meluas. Adalah keliru, misalnya, untuk berasumsi bahwa terjadi kemerosotan dalam sains Muslim pada periode ini, karena kita tidak memiliki bukti yang memadai. Kecenderungan konservatif telah muncul ke permukaan selama abad keempat belas dalam diri para ahli syariat, seperti Ahmad ibn Taymiyah dari Damaskus (w. 1328) dan muridnya Ibn Al-Qayim Al- Jawziyah. Ibn Taymiyah, yang sangat dicintai oleh masyarakat, ingin memperluas syariat hingga dapat berlaku pada seluruh keadaan yang mungkin dihadapi oleh kaum Muslim. Syariat tidak dimaksudkan untuk menjadi disiplin yang mengekang. Ibn Taymiyah ingin membuang hukum-hukum yang sudah usang untuk menjadikan syariat lebih relevan dan mengurangi kecemasan kaum Muslim dalam menghadapi masa-masa sulit ini. Syariat harus memberi mereka sebuah jawaban yang jelas dan logis terhadap persoalan-persoalan keagamaan praktis mereka. Akan tetapi, semangat Ibn Taymiyah terhadap syariat ini dihadang oleh kalam, falsafah, dan bahkan Asy'ariah. Seperti halnya setiap pembaru, dia ingin kembali kepada sumber-sumber asasi—Al-Quran dan hadis (yang menjadi prinsip dasar syariat)— dan membuang semua tambahan yang datang belakang: "Aku telah mencermati metode teologis dan filosofis, namun ternyata semuanya tak mampu menyembuhkan luka atau memuaskan dahaga. Bagiku, metode yang paling baik adalah metode Al-Quran."1 Muridnya, Al- Jawziyah, menambahkan sufisme ke dalam daftar bid'ah ini, dan mengajukan tafsiran harfiah atas kitab suci serta mencela kultus guruguru sufi dalam semangat yang tidak banyak berbeda dengan para Reformis Protestan di Eropa. Seperti Luther dan Calvin, langkah Ibn Taymiyah dan Al-Jawziyah tidak dipandang oleh orang sezaman 341 mereka sebagai langkah mundur: mereka dianggap kaum progresif yang bermaksud meringankan beban umat. Hodgson memperingatkan kita untuk tidak memandang apa yang disebut konservatisme pada periode ini sebagai "kemandekan". Dia mengemukakan bahwa tak ada masyarakat sebelum era kita ini yang dapat mengupayakan atau membayangkan kemajuan dalam skala yang sekarang kita rasakan.2 Para pakar Barat sering menyebut kaum Muslim abad kelima belas dan keenam belas telah gagal mengambil manfaat dari Renaisans Italia. Benar bahwa peristiwa itu merupakan perkembangan budaya yang besar di dalam sejarah, tetapi tidak melebihi atau tidak banyak berbeda dari kebangkitan Dinasti Sung di Cina, misalnya, yang telah mengilhami kaum Muslim selama abad kedua belas. Renaisans itu penting bagi Barat, tapi tak seorang pun di saat itu bisa meramalkan kelahiran era teknologi modern yang, baru belakangan disadari, ternyata telah diindikasikannya. Jika kaum Muslim tidak terkesan pada Renaisans Barat ini, tidak secara mutlak berarti adanya kesenjangan kultural yang parah. Kaum Muslim, tidak mengherankan, lebih memusatkan perhatian pada prestasi mereka sendiri yang tak kalah besarnya selama abad kelima belas. Kenyataannya, Islam tetap merupakan kekuatan dunia terbesar pada periode ini, dan Barat dengan takut-takut menyadari bahwa Islam kini berada di pintu gerbang Eropa. Selama abad kelima belas dan keenam belas berrdiri tiga kekaisaran baru Islam: kekaisaran Turki Usmani di Asia Kecil dan Eropa Timur, kekaisaran Shafawi di Iran, dan kekaisaran Moghul di India. Perkembangan baru ini memperlihatkan bahwa ruh Islam tidak mati, tetapi masih memberikan inspirasi bagi kaum Muslim untuk kembali bangkit meraih keberhasilan baru setelah terjadinya bencana dan perpecahan. Masing-masing kekaisaran ini mencapai kemajuan budaya yang luar biasa: kebangkitan Syafawi di Iran dan Asia Tengah secara menarik mirip dengan Renaisans Italia, keduanya mengekspresikan diri secara luas melalui seni lukis dan secara kreatif kembali ke akar-akar pagan kebudayaan mereka. Namun, di tengah kekuatan dan kebesaran ketiga kekaisaran ini, apa yang disebut sebagai semangat konservatif masih tetap menyala. Jika kaum mistik dan filosof terdahulu, semacam Al-Farabi dan Ibn Al-Arabi, secara sadar membukakan bidang pemikian baru, periode ini justru menghidupkan dan menegaskan kembali tema-tema lama. Ini sulit untuk diapresiasi oleh Barat, karena para peneliti telah lama mengabaikan fenomena Islam yang lebih modern ini, dan juga karena 342 Sejarah Tuhan Tuhan bagi Para Reformis para filosof dan penyair berharap pikiran para pembacanya dipenuhi oleh citra dan ide-ide masa lalu. Namun dalam hal ini terdapat beberapa kesejajaran dengan perkembangan di Barat pada masa itu. Bentuk baru Syiah Dua belas telah menjadi sekte resmi di Iran di bawah pemerintahan Dinasti Syafawi, dan menandai awal permusuhan antara Syiah dan Sunni yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hingga saat itu Syiah memiliki banyak kesamaan dengan Sunni yang lebih intelektual atau mistikal. Akan tetapi, selama abad keenam belas, keduanya membentuk kubu berlawanan yang secara amat menyedihkan mirip dengan peperangan sektarian yang terjadi di Eropa pada masa yang sama. Syah Ismail, pendiri Dinasti Syafawi, naik ke tampuk pemerintahan di Azerbaijan pada tahun 1503 dan berhasil meluaskan wilayah kekuasaannya hingga ke Iran dan Irak di sebelah barat. Dia bertekad untuk menghapuskan Sunni dan memaksakan Syiah dengan kekerasan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Dia memandang dirinya sebagai imam bagi generasinya. Gerakan ini memiliki beberapa kemiripan dengan Reformasi Protestan di Eropa: keduanya sama-sama berakar pada tradisi protes, menentang aristokrasi, dan terkait dengan penegakan pemerintahan kerajaan. Syiah hasil reformasi menghapuskan tarekat-tarekat sufi yang ada di wilayah kekuasaan mereka dengan cara yang mengingatkan kita pada pembubaran biara-biara oleh Protestan. Tidak mengherankan jika mereka mengilhami kekerasan yang sama di kalangan kaum Sunni kerajaan Usmani, yang menindas Syiah di wilayah kekuasaan mereka. Karena merasa berada di garis depan perlawanan terhadap pasukan Salib Barat, orang-orang Usmani juga mengembangkan sikap keras terhadap warga Kristen. Namun demikian, adalah keliru untuk melihat seluruh pemerintahan Iran sebagai fanatik. Ulama Syiah Iran meragukan Syiah reformis ini: berbeda dengan kaum Sunni, mereka menolak untuk "menutup pintu ijtihad" dan menekankan hak mereka untuk menafsirkan Islam secara mandiri, lepas dari pengaruh para Syah. Mereka menolak Dinasti Syafawi—dan setelah itu Qajar—sebagai pengganti para imam. Sebaliknya, mereka menggabungkan diri dengan rakyat guna menentang penguasa dan menjadi pembela ummah melawan tekanan kerajaan di Isfahan dan, kemudian, di Teheran. Mereka mengembangkan tradisi yang melindungi hak para pedagang dan fakir miskin dari gangguan para Syah. Mereka pula yang berhasil memobilisasi rakyat menentang rezim korup Syah Muhammad Reza Pahlavi pada tahun 1979. 343 Syiah Iran juga mengembangkan falsafah mereka sendiri, yang melanjutkan tradisi mistik Suhrawardi. Mir Damad (w. 1631), pendiri falsafah Syiah ini, adalah seorang ilmuwan sekaligus teolog. Dia mengidentifikasikan Cahaya ilahi dengan pencerahan figur-figur simbolik semacam Nabi Muhammad Saw. dan para imam. Seperti Suhrawardi, dia juga menekankan unsur psikologis pengalaman keagamaan. Namun, eksponen terkemuka dari mazhab Iran ini adalah murid Mir Damad, Shadr Al-Din Syirazi, yang biasa dikenal dengan sebutan Mulla Shadra (kl. 1571-1640). Banyak Muslim masa sekarang memandangnya sebagai tokoh terbesar di antara semua pemikir Islam, dan menyebut karyanya sebagai penggabungan metafisika dan spiritualitas yang telah menjadi ciri filsafat Islam. Akan tetapi, dia baru dikenal di Barat beberapa waktu belakangan ini dan, ketika tulisan ini dibuat, baru satu dari sekian banyak karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Seperti Suhrawardi, Mulla Shadra berkeyakinan bahwa pengetahuan bukanlah sekadar soal pemerolehan informasi, melainkan sebuah proses transformasi. Alam al-mitsal yang dideskripsikan oleh Suhrawardi merupakan hal penting dalam pemikirannya: dia juga memandang mimpi dan visi sebagai bentuk kebenaran tertinggi. Oleh karena itu, Syiah Iran masih tetap memandang mistisisme sebagai jalan paling memadai untuk menemukan Tuhan melebihi sains murni dan metafisika. Mulla Shadra mengajarkan bahwa imitatio dei, meniru Tuhan, merupakan tujuan filsafat dan tidak bisa dibatasi pada satu kredo atau iman saja. Sebagaimana telah ditunjukkan oleh Ibn Sina, hanya Tuhan, sang realitas tertinggi, yang mempunyai eksistensi (wujud) sejati, dan realitas tunggal inilah yang membimbing seluruh mata rantai wujud dari alam suci hingga tingkat debu yang paling bawah. Mulla Shadra bukanlah seorang panteis. Dia memandang Tuhan sebagai sumber dari segala sesuatu yang ada: wujud-wujud yang kita lihat dan alami hanyalah wadah-wadah yang menampung Cahaya ilahi dalam bentuk yang terbatas. Akan tetapi, Tuhan juga transenden terhadap realitas duniawi. Kesatuan semua wujud tidak berarti bahwa hanya Tuhanlah yang ada, namun serupa dengan kesatuan antara matahari dan cahaya yang memancar darinya. Seperti Ibn Al-Arabi, Mulla Shadra membedakan antara esensi Tuhan dan manifestasinya yang beragam. Pandangannya tidak berbeda dengan para hesychast Yunani dan Kabbalis. Dia memandang seluruh kosmos memancar dari esensi Tuhan untuk membentuk "satu mutiara" dengan 344 Sejarah Tuhan Tuhan bagi Para Reformis banyak lapisan, yang bisa juga dikatakan bersesuaian dengan tingkat pengungkapan diri Tuhan melalui sifat-sifat atau tanda-tandanya (ayat). Lapisan-lapisan itu juga mewakili tahap-tahap upaya manusia untuk kembali kepada Sumber wujud. Penyatuan dengan Tuhan tidak harus terjadi di alam akhirat. Seperti sebagian hesychast, Mulla Shadra berkeyakinan bahwa penyatuan itu bisa diraih di dunia ini melalui pengetahuan. Tak perlu dikatakan bahwa yang dimaksudkannya tentulah bukan pengetahuan rasional saja: dalam pendakiannya menuju Tuhan, seorang mistikus harus berjalan melewati alam al-mitsal, alam visi dan imajinasi. Tuhan bukanlah suatu realitas yang bisa diketahui secara objektif, namun bisa ditemukan di dalam daya pembuat-citra yang ada dalam diri setiap Muslim. Ketika Al-Quran dan hadis berbicara tentang surga, neraka, atau singgasana Tuhan, pembicaraan itu tidak merujuk pada realitas yang berada di dalam lokasi tersendiri, melainkan pada dunia yang ada di dalam batin, tersembunyi di bawah tabir fenomena indriawi: Segala yang dicita-citakan manusia, segala yang diinginkannya, seketika itu juga hadir baginya, atau dengan kata lain: menggambarkan keinginan itu dengan sendirinya merupakan pengalaman kehadiran real objekobjeknya. Tetapi, senang dan suka adalah ungkapan surga dan neraka, baik dan jahat, semua balasan yang dapat dicapai manusia di akhirat, bersumber dari "Aku" sejati dirinya sendiri, yang terbentuk sesuai dengan niat dan rencana-rencananya, keyakinan terdalamnya, dan perilakunya.3 Sebagaimana Ibn Al-Arabi, tokoh panutannya, Mulla Shadra tak membayangkan Tuhan bersinggasana di alam lain, di langit eksternal dan objektif yang akan didatangi semua orang beriman setelah mati. Surga dan kawasan ketuhanan dapat ditemukan di dalam diri sendiri atau di alam al-mitsal pribadi yang sebenarnya merupakan milik tak terpisahkan dari setiap manusia. Tak ada dua orang manusia yang memiliki surga atau Tuhan yang persis sama. Mulla Shadra, tokoh yang mengagumi Sunni, sufi, dan filosoffilosof Yunani maupun imam-imam Syiah, mengingatkan kita bahwa Syiah Iran tidak selamanya bersifat eksklusif dan fanatik. Di India, banyak umat Muslim yang menanamkan toleransi terhadap tradisi lain. Sekalipun Islam secara kultural dominan di India Moghul, namun Hinduisme tetap hidup dan berkembang, orang-orang Muslim dan Hindu bekerja sama di bidang seni maupun proyek-proyek intelektual. 345 Kawasan anak benua itu telah sejak lama terbebas dari intoleransi agama, dan selama abad keempat belas dan kelima belas bentuk Hinduisme yang paling kreatif menekankan tentang kesatuan aspirasi agama: semua jalan adalah sah, selama masing-masing mengutamakan cinta batin kepada Tuhan Yang Esa. Ini jelas selaras dengan sufisme maupun falsafah, yang merupakan paham Islam paling dominan di India. Beberapa orang Muslim dan Hindu membentuk kelompok masyarakat antariman, yang paling penting di antaranya menjadi Sikhisme, didirikan oleh Guru Namak pada abad kelima belas. Bentuk baru monoteisme ini berkeyakinan bahwa Allah identik dengan Tuhan Hinduisme. Dari pihak Muslim, pakar Iran Mir Abu Al-Qasim Findiriski (w. 1641), tokoh yang sezaman dengan Mir Damad dan Mulla Shadra, mengajarkan karya-karya Ibn Sina di Isfahan dan juga menghabiskan cukup banyak waktu untuk mempelajari Hinduisme dan Yoga. Sulit untuk membayangkan ada seorang Katolik Roma yang menguasai pemikiran Thomas Aquinas pada masa tersebut akan memperlihatkan antusiasme yang sama untuk mengkaji suatu agama yang bukan dari tradisi Abrahamik. Semangat toleransi dan kerja sama ini paling jelas dibuktikan dalam berbagai kebijakan Akbar, kaisar Moghul ketiga, yang berkuasa dari tahun 1560 hingga 1605 dan menghormati semua agama. Karena kepekaannya terhadap orang Hindu, dia menjadi seorang vegetarian, meninggalkan kegiatan berburu binatang—olahraga yang sangat digemarinya—dan melarang penyembelihan hewan kurban di hari ulang tahunnya atau di tempat-tempat suci orang Hindu. Pada 1575, Akbar mendirikan Rumah Ibadah, tempat para ahli dari semua agama berkumpul mendiskusikan masalah ketuhanan. Di sana tampak secara nyata bahwa kelompok misionaris Jesuit dari Eropa adalah yang paling agresif. Akbar mendirikan tarikat sufinya sendiri, yang mendedikasikan diri pada "monoteisme ketuhanan" (tawhid-e-ilahi) dengan menyatakan kepercayaan radikal akan keesaan Tuhan yang mewahyukan dirinya di dalam setiap agama samawi. Kehidupan pribadi Akbar diabadikan oleh Abulfazl Allami (1551-1602) di dalam bukunya Akbar Namah (Kitab tentang Akbar). Selama hidupnya Akbar berupaya menerapkan prinsip-prinsip sufisme ke dalam sejarah peradaban. Allami memandang Akbar sebagai penguasa ideal menurut falsafah dan Manusia Sempurna pada masanya. Peradaban dapat membawa pada perdamaian universal jika masyarakat yang baik dan liberal berhasil diciptakan oleh penguasa semacam Akbar yang telah membuat Sejarah Tuhan 346 Tuhan bagi Para Reformis fanatisme menjadi mustahil. Islam dalam pengertian asalnya, yakni "sikap tunduk" kepada Tuhan, bisa dicapai oleh agama apa pun: yang sering disebut dengan "agama Muhammad" tidak memiliki raonopoli atas Tuhan. Namun, tidak semua Muslim sependapat dengan Akbar dan banyak di antara mereka memandang kepercayaan semacam itu berbahaya bagi keimanan. Kebijakan toleransi Akbar hanya bisa bertahan ketika orang Moghul berada dalam posisi kuat. Ketika kekuatan mereka mulai melemah dan berbagai sekte mulai memberontak terhadap penguasa Moghul, konflik agama pun meningkat di kalangan kaum Muslim, Hindu, dan Sikh. Kaisar Aurengzebe (1618- 1707) mungkin menduga bahwa persatuan bisa dipulihkan dengan memperkuat disiplin di kalangan kaum Muslim: dia memberlakukan undang-undang untuk menghentikan berbagai perbuatan yang tidak berfaedah seperti mengonsumsi minuman keras, menghapus peluang kerja sama dengan orang Hindu, mengurangi jumlah upacara keagamaan Hindu, dan menggandakan jumlah pajak atas para pedagang Hindu. Ungkapan paling spektakuler dari kebijakan komunalisnya adalah penghancuran menyeluruh terhadap kuil-kuil Hindu. Kebijakan- kebijakan ini, yang sangat bertentangan dengan pendekatan toleran Akbar, ditinggalkan setelah Aurengzebe mangkat, namun kerajaan Moghul tidak pernah sembuh dari fanatisme destruktif yang telah disebarkan dan diberlakukannya atas nama Tuhan. Salah seorang penentang utama Akbar selama masa hidupnya adalah ulama dan sufi besar Syaikh Ahmad Sirhindi (1564-1624). Sebagaimana Akbar, dia dianggap sebagai Manusia Sempurna oleh murid-muridnya. Sirhindi menentang tradisi mistik Ibn Al-Arabi yang mengajarkan murid-muridnya untuk memandang Tuhan sebagai satusatunya realitas. Seperti yang telah kita saksikan, Mulla Shadra telah memperkuat persepsi tentang Kesatuan Wujud (wahdatul wujud) ini. Ajaran ini merupakan pernyataan mistikal syahadat: tidak ada realitas kecuali Allah. Seperti halnya kaum mistik dalam agamaagama lain, kaum sufi telah mengalami kesatuan dan merasa satu dengan seluruh eksistensi. Namun, Sirhindi menolak persepsi ini sebagai terlalu subjektif. Ketika seorang sufi sedang berkonsentrasi kepada Tuhan saja, segala sesuatu yang lain cenderung memudar dari kesadarannya, tetapi ini tidak bersesuaian dengan realitas objektif. Sesungguhnya, berbicara tentang kesatuan atau kesamaan antara Tuhan dan dunia merupakan kesalahpahaman yang parah. Kenyataannya, kita tak mungkin mendapatkan pengalaman langsung tentang 347 Sejarah Tuhan Tuhan, yang secara mutlak berada di luar jangkauan manusia: "Dia adalah Yang Mahasuci, Yang Mahatinggi, lagi Yang Mahatinggi, lagi Yang Mahatinggi."4 Hubungan antara Tuhan dan dunia hanya mungkin bersifat tak langsung, yakni melalui kontemplasi tentang "tanda-tanda" alam. Sirhindi mengklaim dirinya telah melampaui keadaan ekstatik kaum mistik, seperti Ibn Al-Arabi dan masuk ke keadaan kesadaran yang lebih tinggi dan lebih jernih. Dia menggunakan mistisisme dan pengalaman keagamaan untuk meneguhkan kembali keyakinannya kepada Tuhan transenden yang dikonsepsikan oleh para filosof, yang merupakan realitas objektif namun tak dapat dijangkau. Pandangan- pandangannya dianut kuat oleh para pengikutnya, tetapi ditolak oleh mayoritas Muslim yang masih tetap berpegang pada konsepsi ketuhanan kaum mistik yang bersifat imanen dan subjektif. Jika orang-orang Muslim semacam Findiriski dan Akbar berusaha memahami kepercayaan orang lain, pada tahun 1492 Kristen Barat justru terbukti tidak bisa bertoleransi terhadap kedua agama Ibrahim yang lain. Selama abad kelima belas, anti-Semitisme telah meningkat di seluruh kawasan Eropa dan orang-orang Yahudi terusir dari satu kota ke kota lain: dari Linz dan Wina pada 1421, Cologne pada 1424, Augsburg pada 1439, Bavaria pada 1442 (dan juga pada 1450), dan Moravia pada 1454. Mereka diusir dari Perugia pada 1485, Vicenza pada 1486, Parma pada 1488, Lucca dan Milan pada 1489, dan Tuscany pada 1494. Pengusiran Yahudi Sephardik Spanyol harus dilihat dalam konteks trend Eropa yang lebih luas ini. Orang-orang Yahudi Spanyol yang pernah bermukim di wilayah kekaisaran Usmani terus mengalami rasa tercerabut yang diperberat oleh rasa bersalah yang tak rasional karena masih bisa bertahan hidup. Ini barangkali tidak berbeda dengan rasa bersalah yang dipikul oleh orang-orang yang berhasil lolos dari Holocaust Nazi dan karena itu, adalah signifikan bahwa pada masa sekarang sebagian Yahudi merasa tertarik pada spiritualitas yang dikembangkan oleh kaum Yahudi Sephardik abad keenam belas untuk membantu mereka menghadapi situasi keterusiran mereka. Bentuk Kabbalisme baru ini kemungkinan berasal dari Provinsi Balkan di kekaisaran Usmani, tempat kaum Sephardim mendirikan berbagai kelompok sosial. Tragedi 1492 tampaknya telah menimbulkan kerinduan meluas akan pembebasan Israel yang pernah diramalkan nabi-nabi. Sebagian Yahudi di bawah pimpinan Joseph Karo dan Solomon Alkabaz bermigrasi dari Yunani ke Palestina. Spiritualitas mereka berupaya menyembuhkan rasa terhina yang telah mewabah 348 Tuhan bagi Para Reformis di kalangan Yahudi dan Tuhan mereka akibat pengusiran itu. Mereka mengatakan ingin "membangkitkan Shekinah keluar dari debu." Namun, mereka tidak mencari sebuah solusi politik atau membayangkan kepulangan besar-besaran orang Yahudi ke Tanah yang Dijanjikan. Mereka bermukim di Safed, Galilea, dan memprakarsai kebangkitan mistikal yang menyediakan makna bagi pengalaman keterusiran mereka. Hingga saat itu, Kabbalah hanya memikat bagi sekelompok elit saja, namun setelah malapetaka itu orang Yahudi di seluruh penjuru dunia beralih dengan penuh semangat kepada spiritualitas yang lebih mistikal. Ketenteraman dari filsafat kini tampak hampa: Aristoteles terasa gersang, Tuhannya jauh dan tak bisa dijangkau. Bahkan banyak yang menyalahkan filsafat atas bencana yang datang menimpa mereka dan menuduh filsafat telah melemahkan Yudaisme serta melunturkan rasa keistimewaan Israel. Ajarannya yang universal dan sikap terbuka terhadap filsafat non-Yahudi telah menarik banyak orang Yahudi untuk menerima baptisme. Filsafat tidak pernah lagi menjadi spiritualitas yang penting di dalam Yudaisme. Orang-orang ternyata merindukan sebuah pengalaman ketuhanan yang lebih langsung. Di Safed, kerinduan ini memperoleh intensitas yang nyaris bersifat erotik. Kaum Kabbalis biasa mengembara di bukit-bukit Palestina dan berbaring di makam-makam para Talmudis terkemuka agar bisa, seolah-olah, menyerap visi para tokoh itu ke dalam kehidupan mereka yang galau. Mereka sering bangun sepanjang malam, tidak tidur seperti seorang pencinta yang frustrasi, menyenandungkan lagu-lagu cinta kepada Tuhan, dan memanggilmanggil nama kesenangannya. Mereka merasa bahwa mitologi dan latihan-latihan Kabbalah telah menyingkap rahasia mereka dan menyentuh duka di dalam jiwa-jiwa mereka melalui cara yang tak mampu dilakukan oleh metafisika dan kajian atas Talmud. Namun karena keadaan mereka sangat berbeda dengan yang dihadapi Musa dari Leon, penulis Zohar, para pengungsi Spanyol itu perlu menyesuaikan visinya agar bisa menyuarakan kondisi khas mereka. Mereka menemukan solusi imajinatif luar biasa yang menyamakan keterusiran mutlak dengan Ketuhanan mutlak. Keterusiran orang Yahudi menyimbolkan dislokasi radikal di jantung semua eksistensi. Bukan hanya seluruh tatanan ciptaan tidak lagi berada di tempatnya yang semestinya, bahkan Tuhan pun telah terusir dari dirinya sendiri. Kabbalah baru dari Safed segera meraih popularitas dan menjadi gerakan massa yang tidak saja mengilhami kaum Sephardim, tetapi juga memberikan 349 harapan baru bagi kaum Askhenazim Eropa yang tak lagi mendapatkan tempat tinggal yang aman di wilayah Kristen. Keberhasilan luar biasa ini menunjukkan bahwa mitos-mitos Safed yang asing dan— bagi orang luar—membingungkan itu ternyata memiliki kekuatan untuk menyuarakan kondisi orang Yahudi. Ini merupakan gerakan Yahudi terakhir yang mendapat penerimaan dari hampir semua kalangan dan menorehkan perubahan besar dalam kesadaran religius dunia Yahudi. Latihan-latihan khusus dalam Kabbalah hanya diperuntukkan bagi sedikit orang yang telah dipersiapkan untuk itu, tetapi ide-idenya—dan konsepsi ketuhanannya—menjadi ungkapan standar ajaran Yahudi. Untuk memberi apresiasi yang layak bagi visi baru tentang Tuhan ini, kita harus memahami bahwa mitos-mitos tersebut tidak untuk dipahami secara harfiah. Kaum Kabbalis Safed menyadari bahwa tamsil yang mereka pakai memang sangat berani dan mereka selalu memagarinya dengan ungkapan-ungkapan semacam "seolah-olah" atau "anggaplah demikian". Akan tetapi, setiap pembicaraan tentang Tuhan senantiasa bersifat problematik, tak terkecuali doktrin biblikal tentang penciptaan alam. Kaum Kabbalis menemukan kesulitan yang sama seperti yang juga pernah dirasakan oleh para faylasuf. Keduanya menerima metafora emanasi Platonis, yang melibatkan Tuhan dengan alam yang secara abadi mengalir darinya. Para nabi telah menekankan kesucian dan keterpisahan Tuhan dari alam, tetapi Zohar menyatakan bahwa alam sefiroth Tuhan mencakup seluruh realitas. Bagaimana mungkin dia terpisah dari alam jika dia adalah semua di dalam semua? Moses ben Jacob Cordovero dari Safed (1522-1570) melihat paradoks ini dengan jelas dan berupaya membahasnya. Di dalam teologinya, Tuhan En Sof tidak lagi merupakan Tuhan Tertinggi yang tidak bisa dipahami, melainkan merupakan pemikiran tentang dunia: dia menyatu dengan semua makhluk dalam keadaan Platonis ideal mereka tetapi terpisah dari wujud material mereka di dunia yang cacat: "Karena semua yang ada terkandung di dalam eksistensinya, [Tuhan] meliputi semua eksistensi," demikian dia menjelaskan, "substansinya hadir di dalam sefiroth-nya dan Dia Sendiri adalah segala sesuatu, tak ada sesuatu pun yang ada di luar dirinya."5 Pandangan ini sangat dekat dengan monisme Ibn Al-Arabi dan Mulla Shadra. Akan tetapi, Isaac Luria (1534-1572), pahlawan dan orang suci Kabbalisme Safed, mencoba menjelaskan paradoks transendensi dan imanensi ilahi secara lebih lengkap dengan salah satu ide paling 350 Sejarah Tuhan Tuhan bagi Para Reformis mencengangkan yang pernah diformulasikan tentang Tuhan. Kebanyakan mistikus Yahudi enggan untuk membicarakan pengalaman mereka tentang Tuhan. Salah satu kontradiksi dari spiritualitas jenis ini adalah bahwa para mistikus menyatakan pengalaman mereka tak terucapkan, tetapi banyak yang bersedia untuk menuliskannya. Namun para Kabbalis sangat waspada tentang ini. Luria merupakan Zaddikim, atau orang suci, pertama yang berhasil memikat pengikut ke aliran mistisisme yang dikembangkannya dengan menggunakan karisma pribadinya. Dia bukanlah seorang penulis, dan pengetahuan kita mengenai sistem Kabbalistiknya didasarkan pada percakapan yang direkam oleh muridnya Hayyim Vital (1542-1620), dalam risalah Etz Hayim (Pohon Kehidupan), dan Joseph ibn Tabul, yang karya manuskripnya baru diterbitkan pada tahun 1921. Luria menghadapi pertanyaan yang telah mengusik kaum monoteis selama berabad-abad: bagaimana mungkin Tuhan yang sempurna dan tak terbatas telah menciptakan sebuah dunia yang terbatas dan sarat dengan kejahatan? Dari mana kejahatan itu berasal? Luria menemukan jawabannya dengan cara membayangkan apa yang terjadi sebelum emanasi sefiroth, ketika En Sof telah mengalihkan dirinya sendiri ke dalam introspeksi yang sublim. Demi menyediakan ruang bagi dunia, demikian Luria menduga, En Sof, seolah-olah, mengosongkan sebuah kawasan di dalam dirinya sendiri. Dalam tindakan "pengerutan" atau "penarikan diri" (tsimtsum) ini, Tuhan telah menciptakan sebuah tempat yang dia tidak berada di dalamnya, sebuah ruang kosong yang dapat diisinya melalui proses pewahyuan diri dan penciptaan yang terjadi secara serempak. Ini merupakan upaya yang sangat berani dalam mengilustrasikan doktrin penciptaan ex nihilo yang sulit: tindakan paling awal dari En Sof adalah "pengucilan sebagian dirinya atas kehendaknya sendiri". Dia telah, seolah-olah, turun lebih jauh ke dalam wujudnya sendiri dan menetapkan suatu batasan pada dirinya sendiri. Ini adalah sebuah ide yang tidak berbeda dengan kenosis primordial yang pernah dibayangkan oleh orang Kristen di dalam Trinitas, yakni ketika Tuhan mengosongkan diri ke dalam Putranya melalui tindakan ekspresi diri. Bagi kaum Kabbalis abad keenam belas, tsimtsum pada dasarnya merupakan simbol keterusiran, yang mendasari struktur seluruh eksistensi tercipta dan telah dialami oleh En Sof sendiri. "Ruang kosong" yang diciptakan oleh penarikan diri Tuhan dikonsepsikan sebagai sebuah lingkaran yang dikelilingi oleh En Sof 351 Sejarah Tuhan di semua sisinya. Ini adalah tohu u-bobu, yakni bumi tak berbentuk yang disebutkan di dalam kitab Kejadian. Sebelum pengerutan tsimtsum, berbagai "kuasa" Tuhan (yang kemudian menjadi sefiroth) berpadu secara harmonis, tak terbedakan satu sama lain. Ampunan (Hesed) Tuhan dan Pengadilannya yang tegas (Din) hadir di dalam Tuhan dengan keselarasan sempurna. Namun selama proses tsimtsum, En Sof memisahkan Din dari sifat-sifatnya yang lain dan memasukkannya ke ruang yang telah dikosongkannya. Dengan demikian, tsimtsum bukan sekadar tindakan pengosongan diri karena cinta, tetapi bisa dipandang sebagai semacam pembasuhan ilahi: Tuhan telah menghilangkan Kemurkaan (yang dipandang Zohar sebagai akar kejahatan) dari wujud terdalamnya. Tindakan pertamanya, dengan demikian, memperlihatkan kekerasan dan ketegasan kepada dirinya sendiri. Kini, setelah terpisah dari Hesed dan sifat-sifat Tuhan yang lain, Din berpotensi untuk menjadi destruktif. Namun, En Sof tidak sepenuhnya meninggalkan ruang kosong itu. Suatu "garis tipis" cahaya ilahi menembus lingkaran ini, dengan mengambil bentuk berupa apa yang disebut Zohar sebagai Adam Kadmon, Manusia Pertama. Kemudian muncul emanasi dari sefiroth, walaupun ini tidak persis seperti yang dituturkan di dalam Zohar. Luria mengajarkan bahwa sefiroth telah terbentuk di dalam Adam Kadmon: ketiga sefiroth tertinggi—Kether (Mahkota), Hokhmah (Kebijaksanaan), dan Binah (Kecerdasan)—memancar dari "hidung", "telinga", dan "mulut"-nya. Namun kemudian terjadi bencana, yang oleh Luria disebut "pemecahan tabung" (Shevirath Ha-Kelim). Sefiroth perlu disimpan dalam bungkus atau "tabung" khusus untuk membedakan dan memisahkan mereka satu sama lain dan mencegah mereka untuk bergabung kembali ke dalam kesatuan asalnya. "Tabung" atau "pipapipa" ini bukanlah sesuatu yang bersifat material, tentu saja, tetapi terbuat dari sejenis cahaya tebal yang berfungsi sebagai "pelindung" (kelipoth) bagi cahaya sefiroth yang lebih murni. Tatkala ketiga sefiroth tertinggi memancar dari Adam Kadmon, tabung-tabung itu telah berfungsi secara sempurna. Akan tetapi, tatkala enam sefiroth berikutnya memancar dari "mata"-nya, tabung-tabung tersebut tak cukup kuat untuk menampung cahaya ilahi dan akhirnya bobol. Akibatnya, cahaya menghambur keluar. Beberapa di antaranya naik ke atas dan kembali kepada Tuhan Tertinggi, namun sebagian "percikan api" ilahi jatuh ke bumi yang kosong dan terperangkap di dalam kekacauan. Sejak saat itu, tak ada lagi yang berada pada tempatnya semula. Bahkan, 352 Tuhan bagi Para Reformis ketiga sefiroth tertinggi jatuh ke tataran yang lebih rendah sebagai akibat dari bencana tersebut. Harmoni asal telah runtuh dan percikan api Tuhan melesap ke bumi tak berbentuk, tohu u-bohu, terasing dari Tuhan Tertinggi. Mitos aneh ini mengingatkan kembali pada mitos-mitos Gnostis terdahulu tentang dislokasi primordial. Mitos ini juga mengungkapkan ketegangan yang terdapat dalam seluruh proses penciptaan, yang lebih dekat dengan konsep Ledakan Besar para ilmuwan modern daripada dengan urutan tertib yang digambarkan Kitab Kejadian. Tidak mudah bagi En Sof untuk muncul dari keadaan tersembunyinya: itu hanya bisa dilakukannya secara coba-coba. Dalam Talmud, para rabi menemukan gagasan yang sama. Mereka mengatakan bahwa Tuhan telah menciptakan dunia-dunia lain dan menghancurkannya sebelum menciptakan dunia yang ini. Namun, tidak semuanya hilang. Sebagian Kabbalis membandingkan "pemecahan" (Shevirath) ini dengan retaknya telur yang akan menetas atau merekahnya benih yang akan tumbuh. Kehancuran ini merupakan pendahuluan bagi sebuah ciptaan baru. Meskipun segalanya tampak tidak teratur, En Sof akan menghadirkan kehidupan baru dari kekacauan yang nyata ini melalui proses Tikkun atau reintegrasi. Setelah bencana, arus cahaya baru memancar dari En Sof dan menembus "kening" Adam Kadmon. Kali ini, sefiroth disusun kembali ke dalam konfigurasi baru, tidak lagi sebagai aspek-aspek umum tentang Tuhan. Masing-masingnya menjadi "Wajah" (parzuf) yang mengungkapkan seluruh personalitas Tuhan, dengan ciri-ciri yang khas, hampir seperti tiga personae Trinitas. Luria berupaya menemukan cara baru untuk mengungkapkan ide Kabbalistik lama tentang Tuhan yang tak terjangkau melahirkan dirinya sendiri sebagai sesosok manusia. Dalam proses Tikkun, Luria memakai simbolisme kehamilan, kelahiran, dan pertumbuhan seorang manusia untuk menggambarkan evolusi serupa yang terjadi di dalam Tuhan. Evolusi ini sangat rumit dan barangkali jalan terbaik untuk menjelaskannya adalah secara diagramatik. Dalam reintegrasi Tikkun, Tuhan memulihkan ketertiban dengan mengelompokkan kembali kesepuluh sefiroth menjadi lima "Wajah" (parzufim) dalam urutan berikut: 1. Kether (Mahkota), sefirah tertinggi, yang disebut Zohar sebagai "Tiada", menjadi parzuf pertama, dinamakan "Arik" Anpin: Yang Melahirkan. 353 Sejarah Tuhan 2. Hokhmah (Kebijaksanaan) menjadi parzuf kedua, disebut Abba: Bapak. 3. Binah (Kecerdasan) menjadi parzuf ketiga, disebut Ima: Ibu. 4. Din (Keputusan); Hesed (Ampunan); Rakhamim (Kasih Sayang); Netsakh (Kesabaran); Hod (Keperkasaan); Yesod (Pendirian); semua menjadi parzuf keempat, disebut Zeir Anpin: Yang Tak Sabar. Pasangannya adalah: 5. Sefiroth terakhir, disebut Malkuth (Kerajaan) atau Shekinah: menjadi parzuf kelima, yang disebut Nuqrah de Zeir: Wanita Zeir. Simbolisme seksual merupakan upaya berani untuk menggambarkan penyatuan kembali sefiroth, yang akan memulihkan keterputusan yang terjadi ketika tabung-tabung bobol dan mengembalikan harmoni asal. Kedua "pasangan"—Abba dan Ima, Zeir dan Nuqrah—berpadu dalam ziwwug (pembuahan), dan perkawinan antara unsur lelaki dan perempuan di dalam Tuhan menyimbolkan ketertiban yang telah dipulihkan. Kaum Kabbalis tak henti-hentinya memperingatkan para pembacanya untuk tidak memahami hal ini secara harfiah. Ini merupakan fiksi yang dirancang untuk merujuk pada proses integrasi yang tidak bisa digambarkan dalam terma yang jelas dan rasional dan untuk menetralkan tamsil yang terlalu maskulin tentang Tuhan. Penyelamatan yang dibayangkan kaum mistik tidak bergantung pada peristiwa-peristiwa historis seperti kedatangan Mesiah tetapi merupakan proses yang harus dijalani Tuhan sendiri. Rencana awal Tuhan adalah menjadikan manusia sebagai penolongnya dalam proses penebusan percikan ilahi yang terserak dan terperangkap di dalam kekacauan pada saat Pemecahan Tabung. Namun, Adam telah melakukan dosa ketika berada di Taman Firdaus. Seandainya itu tidak terjadi, harmoni asal akan kembali pulih dan keterasingan ilahi akan berakhir pada hari Sabtu pertama. Akan tetapi, kejatuhan Adam mengulangi bencana primal Pemecahan Tabung. Tatanan makhluk tercampak, cahaya ilahi di dalam jiwanya terserak keluar dan terpenjara di dalam materi. Sebagai akibatnya, Tuhan mengembangkan rencana yang lain. Dia memilih Israel untuk menjadi penolongnya dalam perjuangan demi meraih kedaulatan dan kendali. Meskipun Israel, sebagaimana percikan api ilahi itu sendiri, terserak di berbagai diaspora yang kejam dan tak bertuhan, orang Yahudi memiliki misi istimewa. Selama percikan ilahi terpisah dan tersesat di dalam materi, Tuhan menjadi tidak sempurna. Dengan menaati Taurat secara saksama dan tekun 354 Tuhan bagi Para Reformis dalam berdoa, setiap orang Yahudi dapat membantu mengembalikan percikan itu ke sumber ilahinya dan dengan demikian menyelamatkan dunia. Dalam visi penyelamatan ini, Tuhan tidak turun kepada manusia namun, sebagaimana selalu diyakini oleh orang Yahudi, Tuhan sebenarnya bergantung pada umat manusia. Orang Yahudi memiliki hak istimewa untuk membantu membentuk kembali Tuhan dan memperbaruinya. Luria memberi makna baru pada gambaran awal tentang keterasingan Shekinah. Dapat diingat kembali bahwa di dalam Talmud, para rabi melihat Shekinah secara sukarela pergi ke pengasingan bersama kaum Yahudi setelah peristiwa penghancuran Kuil. Zohar telah mengidentifikasi Shekinah sebagai sefirah terakhir dan menjadikannya sebagai aspek feminin Tuhan. Di dalam mitos Luria, Shekinah jatuh bersama sefiroth lain ketika Tabung-tabung terpecah. Dalam tahap pertama Tikkun, Shekinah menjadi Nuqrah dan melalui perkawinan dengan Zeir (enam sefiroth "Tengah"), dia nyaris berhasil dipadukan kembali ke alam ilahi. Namun ketika Adam melakukan dosa, Shekinah jatuh sekali lagi dan terasing dari Tuhan Tertinggi. Luria hampir pasti tidak pernah bersentuhan dengan tulisantulisan kaum Kristen Gnostik yang telah mengembangkan mitologi yang sangat mirip. Dia secara spontan menggunakan mitos kuno tentang keterasingan dan kejatuhan untuk menjawab kebutuhan kondisi tragis abad keenam belas. Kisah tentang kopulasi ilahi dan dewi-dewi yang terusir telah ditolak oleh kaum Yahudi periode biblikal, ketika mereka mengembangkan doktrin tentang Tuhan yang Esa. Keterkaitannya dengan paganisme dan keberhalaan tentu secara logis tak disenangi orang-orang Sephardim. Akan tetapi, mitologi Luria disambut hangat oleh kaum Yahudi di Persia hingga Inggris, Jerman hingga Polandia, Italia hingga Afrika Utara, Belanda hingga Yaman; jika diungkapkan dalam terma Yahudi, mitologi itu mampu menyentuh sebuah perasaan yang terpendam dan memberi harapan baru di tengah keputusasaan. Mitologi itu membuat orang-orang Yahudi bisa mempercayai bahwa di tengah keadaan mengenaskan yang menimpa sebagian besar mereka, masih dapat ditemukan sebuah arti dan tujuan akhir. Orang Yahudi dapat mengakhiri keterasingan Shekinah. Dengan cara menunaikan mitzvot, mereka dapat membangun kembali Tuhan mereka. Adalah menarik untuk membandingkan mitos ini dengan teologi Protestan yang diciptakan Luther dan Calvin di Eropa pada 355 Sejarah Tuhan masa yang sama. Kedua pembaru Protestan ini mengajarkan tentang kedaulatan mutlak Tuhan: dalam teologi mereka, seperti yang akan kita saksikan, manusia sama sekali tak bisa berkontribusi terhadap penyelamatan diri mereka sendiri. Akan tetapi, Luria menyebarkan doktrin tentang kerja: Tuhan membutuhkan manusia dan akan menjadi kurang sempurna tanpa doa dan amal baik mereka. Di tengah tragedi yang menimpa kaum Yahudi di Eropa, mereka mampu untuk bersikap lebih optimis tentang kemanusiaan dibanding orang Protestan. Luria memandang misi Tikkun dalam cara yang kontemplatif. Ketika Kristen Eropa—Katolik maupun Protestan—merumuskan semakin banyak dogma, Luria justru membangkitkan teknik-teknik mistikal Abraham Abulafia untuk membantu kaum Yahudi melampaui bentuk aktivitas intelektual ini dan menanamkan kesadaran yang lebih intuitif. Penyusunan ulang huruf-huruf dari Nama Tuhan, dalam spiritualitas Abulafia, telah mengingatkan kaum Kabbalis bahwa arti kata "Tuhan" tidak bisa secara memadai disampaikan oleh bahasa manusia. Dalam mitologi Luria, ini juga melambangkan restrukturisasi dan perumusan ulang konsep ketuhanan. Hayyim Vital menggambarkan pengaruh emosional yang sangat besar dalam disiplin-disiplin yang dianjurkan Luria: melalui pemisahan diri dari pengalaman normal keseharian—dengan tetap terjaga ketika orang lain tidur lelap, berpuasa di saat orang lain makan, mengasingkan diri untuk sementara—seorang Kabbalis dapat memusatkan pikirannya pada "kata-kata" aneh yang tidak ada kaitannya dengan bahasa biasa. Dia akan merasa berada di sebuah dunia yang lain, gemetar dan berguncang seakan-akan ditaklukkan oleh kekuatan yang berasal dari luar dirinya. Namun, di sini tidak terdapat ancaman yang mencemaskan. Luria mengajarkan bahwa seorang Kabbalis harus menenangkan pikiran sebelum memulai latihan-latihan spiritualnya. Kebahagiaan dan kegembiraan itu penting: tak boleh ada rasa tercekam atau penyesalan, rasa bersalah atau cemas dalam pelaksanaannya. Vital mengajarkan bahwa Shekinah tidak dapat tinggal di sebuah tempat yang berisi kesedihan dan penderitaan—suatu gagasan telah yang kita lihat berakar di dalam Talmud. Kesedihan terbit dari kekuatan jahat di dalam dunia, sedangkan kegembiraan mampu membuat seorang Kabbalis mencintai Tuhan dan melingkupinya. Di dalam hati seorang Kabbalis tak boleh ada kemarahan terhadap siapa pun—bahkan terhadap goyim. Luria menyamakan kemarahan dengan keberhalaan, sebab seorang yang marah berarti ditaklukkan oleh suatu "dewa asing". 356 Tuhan bagi Para Reformis Memang mudah untuk melontarkan kritik terhadap mistisisme Lurianis. Seperti yang dikemukakan oleh Gershom Scholem, misteri Tuhan En Sof, yang digambarkan sangat kuat di dalam Zohar, bisa terhapus di dalam drama tsimtsum, Pemecahan Tabung, dan Tikkun.6 Pada bab berikut, akan kita saksikan bahwa mistisisme ini berkontribusi terhadap episode yang membawa bencana dan memalukan dalam sejarah Yahudi. Sekalipun demikian, konsepsi ketuhanan Luria telah mampu menolong orang-orang Yahudi menanamkan semangat kegembiraan dan kebaikan, serta pandangan positif tentang kemanusiaan pada saat rasa bersalah dan kemarahan kaum Yahudi telah membuat banyak di antara mereka berputus asa dan kehilangan kepercayaan untuk tetap hidup. Orang Kristen Eropa tidak mampu menghasilkan spiritualitas positif semacam itu. Mereka juga telah mengalami bencana historis yang tidak bisa dilipur oleh agama filosofis kaum skolastik. Wabah Hitam tahun 1348, kejatuhan Konstantinopel pada 1453, skandal eklesiastikal Avignon Captivity (1334-42), dan Perpecahan Besar (1378-1417) telah menampakkan dengan jelas ketakberdayaan kondisi manusia dan menjatuhkan reputasi Gereja. Manusia tampaknya tidak mampu melepaskan dirinya sendiri dari nasib yang menakutkan tanpa pertolongan Tuhan. Oleh karena itu, selama abad keempat belas dan kelima belas, para teolog semacam Duns Scotus dari Oxford (1265-1308)—jangan disamakan dengan Duns Scotus Erigena—dan teolog Prancis Jean de Gerson (1363-1429) menekankan kedaulatan Tuhan, yang mengendalikan urusan manusia sekeras seorang penguasa absolut. Manusia tak bisa berkontribusi apa pun bagi penyelamatan diri mereka sendiri; perbuatan baik tidak memiliki nilai kebaikan dalam dirinya sendiri tetapi hanya karena Tuhan telah secara murah hati telah menetapkannya sebagai kebaikan. Namun demikian, selama beberapa abad ini juga terjadi pergeseran penekanan. Gerson sendiri adalah seorang mistiskus yang percaya bahwa lebih baik "berpegang teguh kepada cinta Tuhan tanpa banyak bertanya" daripada "berusaha memahami hakikat Tuhan melalui nalar yang didasarkan pada iman sejati."7 Mistisisme sedang naik daun di Eropa selama abad keempat belas, seperti yang telah kita saksikan, dan orang-orang mulai mengapresiasi bahwa akal tidak mampu menjelaskan misteri yang mereka sebut "Tuhan". Seperti yang dikatakan oleh Thomas a Kempis di dalam The Imitation of Christ: 357 Apa manfaatnya memperdalam pembahasan tentang Trinitas, jika engkau tak punya kerendahan hati dan karena itu menyusahkan Trinitas ... aku lebih baik bertobat daripada mampu mendefinisikannya. Seandainya hatimu telah menguasai seluruh isi Alkitab, dan semua ajaran para filosof, bisakah semua itu menolongmu tanpa rahmat dan cinta Tuhan?8 The Imitation of Christ, dengan religiusitasnya yang agak muram, menjadi salah satu buku klasik spiritual terpopuler di Barat. Selama abad-abad ini, peribadatan semakin berpusat pada Yesus sebagai manusia. Praktik perenungan tahap-tahap penyaliban terkonsentrasi pada perincian partikular derita dan sengsara fisik Yesus. Beberapa meditasi abad keempat belas yang ditulis oleh pengarang anonim mengajarkan kepada pembaca bahwa ketika bangun di pagi hari, setelah semalam suntuk merenungi Jamuan Terakhir, matanya harus masih merah karena menangis. Segera setelah itu dia harus mulai merenungkan pengadilan Yesus dan mengikuti langkahnya hingga ke Kalvari, jam demi jam. Pembaca diajak untuk membayangkan dirinya memohon kepada pihak berwenang untuk menyelamatkan nyawa Yesus, duduk bersamanya di dalam penjara, dan mencium tangan dan kakinya yang dirantai.9 Dalam kegiatan yang suram ini, tak banyak penekanan pada soal Kebangkitan, tetapi lebih pada kemanusiaan Yesus yang rentan. Emosi yang kuat dan apa yang mengejutkan pembaca modern sebagai keingintahuan yang tidak wajar menjadi ciri sebagian besar deskripsi ini. Bahkan mistikus besar Bridget dari Swedia atau Julian dari Norwich berspekulasi dengan perincian dramatis tentang keadaan fisik Yesus: Kulihat wajahnya yang halus, kering, tanpa darah, dan pucat karena kematian. Dia menjadi semakin pucat, mati, dan tak bemyawa. Lalu, jasad itu berubah membiru, dan lambat laun berubah menjadi biru pucat seperti daging yang berada di ambang kebusukan. Bagiku, kebahagiaannya terpancar terutama melalui wajahnya yang diberkati, dan lebih khusus lagi melalui bibimya. Di sana juga aku melihat empat warna yang sama, walaupun sebelumnya, seperti kusaksikan sendiri, dia tampak segar, merekah, dan indah. Sungguh menyedihkan melihatnya berubah seiring kematiannya. Cuping hidungnya juga layu dan mengering di depan mataku, dan tubuhnya yang terkasih menjadi hitam dan cokelat karena mengering di dalam kematian.10 358 Sejarah Tuhan Tuhan bagi Para Reformis Perincian ini mengingatkan kita pada patung-patung salib Jerman abad keempat belas dengan bentuk badan meliuk lemah dan berlumur darah yang mencapai puncaknya, tentu saja, pada karya Matthias Grunewald (1480-1528). Julian mampu menatap jauh ke dalam hakikat Tuhan: dia menggambarkan Trinitas hidup di dalam jiwa dan bukan sebagai realitas yang berada "di luar sana", bagaikan seorang mistikus sejati. Akan tetapi, daya konsentrasi Barat terhadap manusia Yesus tampaknya terlalu kuat untuk dibendung. Selama abad keempat belas dan kelima belas, orang Eropa malah menjadikan manusia lain, bukannya Tuhan, sebagai pusat kehidupan spiritual mereka. Kultus abad pertengahan terhadap Maria dan orang-orang suci meningkat seiring dengan tumbuhnya kesetiaan terhadap manusia Yesus. Antusiasme terhadap benda-benda keramat dan tempat-tempat suci juga telah mengalihkan perhatian orang Kristen Barat dari sesuatu yang lebih penting. Mereka justru semakin menjauhkan perhatian mereka dari Tuhan. Sisi gelap spirit Barat semakin jelas selama era Renaisans. Para filosof dan humanis era Renaisans sangat kritis terhadap banyak aspek keberagamaan abad pertengahan. Mereka sangat tidak menyukai spekulasi musykil kaum skolastik yang, menurut mereka, telah membuat Tuhan menjadi asing dan membosankan. Sebagai gantinya, mereka ingin kembali kepada sumber-sumber keimanan, khususnya kepada St. Agustinus. Orang abad pertengahan menghormati Agustinus sebagai teolog. Akan tetapi, ketika kaum humanis membaca Confessions, mereka mendapati Agustinus sebagai seorang manusia biasa yang tengah berada dalam pencarian pribadi. Menurut mereka, Kristen bukanlah sekumpulan doktrin tetapi sebuah pengalaman. Lorenzo Valla (1407-57) menekankan kesia-siaan pencampuran dogma suci dengan "liku-liku dialektika" dan "perdebatan metafisik:"11 "kesiasiaan" ini telah dicela oleh St. Paulus sendiri. Francesco Petrarch (1304-74) mengemukakan bahwa "teologi adalah puisi aktual, puisi tentang Tuhan," yang menjadi efektif bukan karena "telah membuktikan" sesuatu melainkan karena langsung menembus hati.12 Kaum humanis telah menemukan kembali martabat manusia, tetapi ini tidak membuat mereka mengingkari Tuhan: alih-alih, sebagai manusia sejati di masanya, mereka menekankan kemanusiaan Tuhan yang telah menjadi manusia. Namun demikian, bahaya klasik itu ternyata masih tetap ada. Orang-orang di zaman Renaisans amat menyadari kerapuhan pengetahuan kita dan juga menaruh simpati terhadap rasa berdosa Agustinus yang akut. Seperti yang dikatakan oleh Petrarch: 359 Sejarah Tuhan Telah berkali-kali aku merenungkan kesengsaraan dan kematianku sendiri; dengan linangan air mata, aku berusaha mencuci semua dosaku agar aku bisa membicarakannya tanpa menangis, namun hingga kini semuanya sia-sia. Sesungguhnya Tuhan adalah yang terbaik: aku adalah terburuk.13 Dengan demikian, terdapat jurang yang jauh antara manusia dengan Tuhan: Coluccio Salutati (1331-1406) dan Leonardo Bruni (1369-1444) pun memandang Tuhan sebagai sangat transenden dan tak terjangkau oleh pikiran manusia. Sungguhpun demikian, filosof dan pastor Jerman, Nicholas dari Cusa (1401-64), lebih yakin akan kemampuan kita untuk memahami Tuhan. Dia sangat tertarik pada sains baru, yang menurutnya, akan membantu kita memahami misteri Trinitas. Matematika, misalnya, yang hanya berurusan dengan abstraksi-abstraksi murni, bisa memberikan kepastian yang mustahil dalam disiplin ilmu yang lain. Gagasan matematis tentang "yang maksimum" dan "yang minimum" jelas saling bertentangan, namun pada kenyataannya dapat secara logis dipandang identik. "Perpaduan dua kutub yang berlawanan" ini mengandung gagasan tentang Tuhan: gagasan tentang "yang maksimum" mencakup segala sesuatu; ia mengimplikasikan pandangan tentang kesatuan dan kepastian yang secara langsung mengarah kepada Tuhan. Kemudian, garis maksimum bukanlah segitiga, lingkaran, atau bidang, tetapi gabungan ketiganya: kesatuan dari hal-hal yang berlawanan juga merupakan sebuah Trinitas. Akan tetapi, pembuktian cerdas dari Nicholas ini tidak memiliki banyak nilai religius. Pembuktian ini mereduksi ide tentang Tuhan menjadi sebuah teka-teki logika. Akan tetapi, keyakinannya bahwa "Tuhan mencakup segala sesuatu, bahkan yang kontradiksi"14 mirip dengan persepsi Ortodoks Yunani bahwa semua teologi yang benar mestilah bersifat paradoks. Ketika menulis sebagai seorang guru spiritual, bukan sebagai filosof dan matematikawan, Nicholas menyadari bahwa seorang Kristen harus "mencampakkan segala sesuatu" jika dia bermaksud mendekati Tuhan, dan bahkan "meninggalkan akal" untuk melampaui semua indra dan nalar. Wajah Tuhan tetap tersembunyi dalam "rahasia dan keheningan mistik."15 Pandangan-pandangan baru era Renaisans tidak bisa menjawab ketakutan lebih mendalam yang, sebagaimana Tuhan, berada di luar jangkauan akal. Tak lama berselang setelah kematian Nicholas, tersebar ketakutan yang mencekam di negeri asalnya, Jerman, dan di seluruh Eropa. Pada 1484, Paus Innocent VIII menerbitkan Summa 360 Tuhan bagi Para Reformis Desiderantes, yang menandai awal dari kegilaan terhadap sihir yang merebak secara sporadis di seluruh Eropa selama abad keenam belas dan ketujuh belas di kalangan komunitas Protestan maupun Katolik. Peristiwa ini kembali menyingkapkan sisi gelap spirit Barat. Selama penyiksaan terselubung ini, ribuan pria dan wanita disiksa dengan kejam hingga mereka mengaku telah melakukan kejahatan yang mencengangkan. Mereka dikatakan telah berhubungan kelamin dengan setan-setan, terbang ribuan mil di angkasa untuk ikut serta dalam pesta-pesta orgi yang menyembah setan, bukannya Tuhan, di dalam Misa yang cabul. Kini kita mengetahui bahwa sihir itu tidak ada, tetapi kegilaan itu mewakili fantasi kolektif yang sama-sama diyakini oleh para Inkuisitor yang terpelajar maupun para korbannya yang malang. Mereka mengimpikan hal-hal semacam itu dan dengan mudah terbujuk untuk meyakini bahwa hal itu memang betul-betul ada. Fantasi itu terkait dengan anti-Semitisme dan kecemasan seksual yang mendalam. Setan muncul sebagai bayangan Tuhan yang baik dan berkuasa namun mustahil untuk didekati. Ini tidak terjadi di dalam agama-agama ketuhanan lainnya. Al-Quran, misalnya, telah menyatakan dengan jelas bahwa setan akan diampuni di Hari Kiamat. Beberapa di antara kaum sufi mengklaim bahwa setan terusir dari surga karena mencintai Tuhan melebihi malaikat-malaikat yang lain. Tuhan telah memerintahkan setan untuk bersujud kepada Adam pada hari penciptaan, tetapi setan menolak karena berkeyakinan bahwa ketundukan seperti itu hanya wajib dilakukan kepada Tuhan semata. Namun di Barat, setan menjadi figur kejahatan yang tak terkendalikan. Dia sering digambarkan sebagai binatang raksasa dengan nafsu seksual tak terbendung dan alat kelamin yang besar. Seperti dikemukakan oleh Norman Cohn dalam bukunya Europe's Inner Demons, potret setan seperti ini bukan hanya merupakan proyeksi ketakutan dan kecemasan terpendam. Kegilaan terhadap sihir ini juga menandai desakan pemberontakan bawah sadar terhadap agama yang represif dan Tuhan yang keras. Dalam ruang penyiksaan mereka, para Inkuisitor dan "tukang sihir" sama-sama menciptakan suatu fantasi yang merupakan pembalikan dari agama Kristen. Misa Hitam menjadi sebuah upacara menakutkan tetapi sangat memuaskan untuk menyembah setan sebagai pengganti Tuhan yang kini tampak kejam dan terlalu menakutkan untuk didekati.16 Martin Luther (1483-1546) adalah seorang yang sangat percaya pada sihir dan memandang kehidupan Kristen sebagai peperangan 361 Sejarah Tuhan melawan setan. Reformasi dapat dipandang sebagai usaha untuk menjawab kecemasan ini meskipun kebanyakan Reformis tidak mengajukan satu konsepsi yang baru tentang Tuhan. Tentu saja terlalu menyederhanakan jika siklus besar perubahan keagamaan yang terjadi di Eropa selama abad keenam belas itu disebut sebagai "Reformasi". Istilah itu mengesankan gerakan yang lebih serius dan terpadu dibandingkan dengan yang sebenarnya terjadi. Banyak Reformis— Katolik maupun Protestan—yang berusaha mengartikulasikan kesadaran keagamaan baru yang mereka rasakan dengan kuat, tetapi belum dikonseptualisasi atau dipikirkan secara sadar. Kita tidak mengetahui secara persis mengapa "Reformasi" itu terjadi: para pakar zaman sekarang memperingatkan kita untuk tidak menerima begitu saja penjelasan dalam buku teks lama. Perubahan-perubahan itu tidak sepenuhnya disebabkan oleh kebobrokan Gereja, seperti yang sering diduga orang, atau karena kemerosotan semangat keagamaan. Sebaliknya, justru terdapat antusiasme keagamaan di Eropa yang mendorong orang untuk mengkritik berbagai pelanggaran yang sebelumnya dibiarkan terjadi. Semua ide aktual kaum Reformis berpangkal dari teologi Katolik abad pertengahan. Kebangkitan nasionalisme dan kota-kota di Jerman dan Swiss juga ikut berperan, demikian pula kesalehan dan kesadaran teologis baru di kalangan awam selama abad keenam belas. Di Eropa juga terjadi kebangkitan individualisme yang terkait dengan perubahan radikal perilaku keagamaan saat itu. Mereka tak lagi mengungkapkan keimanan mereka secara kolektif dan lahiriah, tetapi mulai menjelajahi konsekuensi batiniah agama. Semua faktor ini berpengaruh terhadap perubahan berat dan besar yang mendorong Barat ke arah modernitas. Sebelum konversinya, Luther nyaris berputus asa akan kemungkinan untuk menyenangkan Tuhan yang lambat laun mulai dibencinya: Meski aku menjalani kehidupan tanpa dosa sebagai seorang biarawan, aku tetap merasa sebagai pendosa dengan kesadaran yang gelisah di hadapan Tuhan. Aku pun tak bisa percaya bahwa aku telah menyenangkannya dengan amal-amalku. Bukannya mencintai Tuhan yang akan menghukum pelaku dosa, aku justru menentangnya. Aku seorang biarawan yang baik, dan berpegang pada ordo begitu teguh sehingga jika seorang biarawan bisa naik ke surga melalui disiplin monastik, akulah sang biarawan itu. Semua rekanku di biara menjadi saksi atas hal ini... Namun demikian, nuraniku tak mau memberi kata pasti, aku selalu ragu-ragu dan berkata, "Engkau tidak mengerjakannya dengan benar. Pertobatanmu belum cukup. Engkau sendiri mengakuinya."17 362 Nurul Huda Kariem MR. eBook oleh : MR. Collection's Tuhan bagi Para Reformis Banyak orang Kristen—Katolik maupun Protestan—pada masa sekarang masih merasakan gejala seperti ini, yang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya oleh Reformasi. Tuhan dalam konsepsi Luther dicirikan oleh kemurkaan. Tak ada pendeta, nabi, atau pemazmur yang mampu menanggung kemurkaan Tuhan. Tak ada gunanya mencoba "mengusahakan yang terbaik." Karena Tuhan itu abadi dan mahakuasa, maka "kemurkaan dan kemarahannya terhadap pendosa yang memperturutkan hawa nafsunya juga tak terukur dan tak terbatas."18 Kehendaknya sudah menjadi takdir. Kepatuhan pada Hukum Tuhan atau aturan-aturan ordo keagamaan tidak bisa menyelamatkan kita. Bahkan, Hukum itu hanya dapat menimbulkan rasa bersalah dan teror, karena memperlihatkan ketidaklayakan kita. Alih-alih membawa pesan tentang harapan, Hukum itu mengungkapkan "kemurkaan Tuhan, dosa, kematian, kutukan dalam tatapan Tuhan."19 Terobosan pribadi Luther muncul ketika dia merumuskan doktrinnya tentang justifikasi. Manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Tuhanlah yang menyediakan segala yang dibutuhkan untuk "justifikasi"—pemulihan hubungan antara si pendosa dan Tuhan. Tuhan aktif sedangkan manusia pasif. "Amal baik" dan ketaatan kita pada Hukum bukanlah penyebab dari justifikasi kita tetapi hanya merupakan hasilnya. Kita mampu menunaikan ajaran agama hanya karena Tuhan telah menolong kita. Inilah apa yang dimaksud Paulus dengan frasa "justifikasi oleh keimanan". Tidak ada yang baru dalam teori Luther: ini telah menjadi pandangan umum di Eropa sejak permulaan abad keempat belas. Namun begitu Luther memahaminya dan menjadikannya sebagai pandangannya sendiri, dia merasa kecemasannya berhasil dihilangkan. Penyingkapan yang terjadi "membuatku merasa seperti terlahir kembali, dan seakan-akan aku telah memasuki gerbang terbuka menuju surga."20 Sungguhpun demikian, dia tetap sangat pesimistik terhadap watak manusia. Pada tahun 1520, dia mengembangkan apa yang disebutnya sebagai Teologi Salib. Dia mengambil frasa itu dari Paulus, yang berkata kepada jemaat di Korintus bahwa salib Kristus telah membuktikan "yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia."21 Tuhan menjustifikasi "pendosa" yang, menurut standar kemanusiaan murni, hanya layak untuk dihukum. Kekuatan Tuhan terungkap dalam apa yang dianggap sebagai kelemahan dalam pandangan manusia. Jika Luria mengajarkan para Kabbalisnya bahwa Tuhan hanya bisa 363 ditemukan di dalam kebahagiaan dan ketenteraman, Luther mengatakan bahwa "Tuhan hanya bisa ditemukan di dalam penderitaan dan Salib."22 Dari pendapat ini, dia mengembangkan polemik menentang skolastisisme. Dia membedakan antara teolog palsu, yang memamerkan kecerdasan manusia dan "memandang apa-apa yang gaib dari Tuhan seakan-akan bisa dipersepsikan dengan jelas", dari teolog sejati yang "memahami apa-apa yang terlihat dan berwujud dari Tuhan melalui penderitaan dan Salib. "23 Doktrin Trinitas dan Inkarnasi tampaknya meragukan jika dilihat dari cara perumusannya oleh para Bapa Gereja; kompleksitasnya menyiratkan "teologi kemuliaan" yang palsu.24 Namun, Luther tetap setia pada ortodoksi Nicaea, Efesus, dan Chalcedon. Bahkan, teorinya tentang justifikasi bersandar kepada keilahian Kristus dan status Trinitariannya. Doktrin-doktrin tradisional tentang Tuhan ini sudah mengakar terlalu kuat di dalam pengalaman Kristen sehingga sulit bagi Luther maupun Calvin untuk mengutakatiknya. Akan tetapi, Luther menolak formulasi rumit para teolog palsu. "Apa masalahnya buat saya?" tanyanya, ketika dia berhadapan dengan doktrin-doktrin Kristologis yang kompleks, yang perlu diketahuinya hanyalah apakah Kristus betul-betul merupakan Penyelamat bagi dirinya.25 Luther bahkan meragukan kemungkinan untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Satu-satunya "Tuhan" yang mungkin dideduksikan melalui argumen-argumen logis, seperti yang digunakan Thomas Aquinas, adalah Tuhan para filosof pagan. Ketika Luther mengklaim bahwa kita dijustifikasi oleh "iman", dia sama sekali tidak memaksudkan pengadopsian gagasan yang benar tentang Tuhan. "Iman tidak membutuhkan informasi, pengetahuan, dan kepastian," demikian dikemukakannya dalam salah satu khotbahnya, "tetapi ketundukan dan pertaruhan sukarela atas kebaikannya yang belum pernah dirasakan, diuji, dan diketahui."26 Luther telah mendahului solusi Pascal dan Kierkegaard atas persoalan keimanan. Iman bukan berarti penegasan atas proposisi sebuah kredo dan juga bukan merupakan "kepercayaan" dalam pandangan ortodoks. Sebaliknya, iman adalah lompatan di dalam kegelapan menuju realitas yang harus diyakini. Iman adalah "sejenis pengetahuan dan kegelapan yang tak bisa melihat apaapa." 27 Tuhan, menurut Luther, secara tegas melarang diskusi spekulatif tentang hakikatnya. Upaya untuk mencapai Tuhan dengan menggunakan akal saja bisa berbahaya dan menimbulkan keputusasaan, sebab yang akan kita temukan adalah kekuasaan, kebijaksanaan, dan 364 Sejarah Tuhan keadilan Tuhan yang hanya akan mengintimidasi si pendosa. Daripada melibatkan diri dalam diskusi rasionalistik tentang Tuhan, seorang Kristen lebih baik meraup kebenaran-kebenaran yang diwahyukan dalam kitab suci dan menjadikan kebenaran itu bicara bagi dirinya sendiri. Luther memperlihatkan bagaimana cara melakukan hal ini di dalam kredo yang disusunnya dalam bukunya Small Catechism: Aku beriman kepada Yesus Kristus, anak Tuhan Bapa sejak semula dan juga manusia yang dilahirkan dari Perawan Maria, adalah Tuhanku; yang telah menebus aku, makhluk yang sesat dan terkutuk, dan membebaskan aku dari semua dosa, dari kematian, dan dari kekuatan setan, bukan dengan emas dan perak tetapi dengan darahnya yang suci dan berharga dan dengan penderitaan maupun kematiannya yang tulus, agar aku menjadi miliknya, hidup di bawah bimbingannya dan di dalam Kerajaannya serta mengabdi kepadanya dalam kebenaran dan berkat abadi, bahkan ketika dia dibangkitkan dari kematian dan berkuasa hingga segenap keabadian.28 Luther dididik dalam teologi skolastik, namun kembali ke bentuk keimanan yang sederhana dan memberontak terhadap teologi abad keempat belas yang kering dan tidak bisa melakukan apa-apa untuk menenangkan ketakutannya. Namun, Luther sendiri agak tak jelas ketika, misalnya, berusaha menjelaskan setepatnya bagaimana kita bisa dijustifikasi. Agustinus, pahlawan bagi Luther, telah mengajarkan bahwa kebajikan yang dilimpahkan kepada seorang pendosa bukanlah berasal dari dirinya sendiri tetapi dari Tuhan. Luther sedikit membelokkan ini. Agustinus menyatakan bahwa kebajikan ilahi ini menjadi bagian dari diri kita; Luther berkeyakinan bahwa kebajikan itu tetap berada di luar diri si pendosa, tetapi Tuhan menganggapnya seolaholah merupakan bagian dari diri kita. Secara ironis, Reformasi justru membawa pada kekacauan doktrinal yang lebih besar dan penyebaran doktrin baru sebagai panji-panji berbagai sekte yang sama membingungkan dan lemahnya dengan doktrin yang ingin digantikannya. Luther mengklaim bahwa dia telah dilahirkan kembali ketika merumuskan doktrinnya tentang justifikasi, namun pada kenyataannya kecemasannya belum sepenuhnya terhapus. Dia masih merupakan seorang yang terusik, pemarah, dan kasar. Semua tradisi agama besar memandang bahwa batu ujian setiap spiritualitas adalah pada sejauh mana ajarannya bisa dipadukan dengan kehidupan sehari-hari. Seperti yang dikatakan oleh Buddha, setelah mengalami pencerahan, orang 365 Tuhan bagi Para Reformis Sejarah Tuhan harus "kembali ke tempat perdagangan" dan mengamalkan kasih sayang bagi semua makhluk hidup. Rasa damai, tenteram, dan cinta kebaikan merupakan ciri semua pandangan keagamaan yang sejati. Akan tetapi, Luther adalah seorang anti-Semit yang picik, misogonis, penuh kebencian dan ketakutan terhadap seksualitas, dan berkeyakinan bahwa seluruh petani pemberontak harus ditumpas. Visinya tentang Tuhan yang pemarah telah memenuhi dirinya dengan kemarahan pribadi, dan ada pendapat yang mengatakan bahwa karakternya yang agresif itu sangat berbahaya bagi Reformasi. Di awal kariernya sebagai seorang pembaru, banyak gagasannya yang diterima di kalangan kaum Katolik ortodoks, dan mereka mengakui bahwa gagasan itu akan memberikan vitalitas baru kepada Gereja, tetapi perilaku agresif Luther telah menyebabkan gagasannya dijangkiti prasangka yang tidak perlu.29 Dalam rentang waktu yang panjang, Luther menjadi kurang penting dibandingkan John Calvin (1509-64). Reformasi Swiss dari Calvin, yang didasarkan pada ideal-ideal Renaisans dalam kadar yang lebih tinggi daripada Reformasi Luther, berpengaruh besar terhadap etos Barat yang sedang bangkit. Pada akhir abad keenam belas, "Calvinisme" telah ditetapkan sebagai sebuah agama internasional yang, dengan baik buruknya, mampu mengubah masyarakat dan mengilhami masyarakat untuk percaya bahwa mereka bisa meraih apa pun yang mereka inginkan. Ide-ide Calvinis mengilhami revolusi Puritan di Inggris di bawah Oliver Cromwell pada 1645 dan kolonialisasi Inggris Baru pada 1620-an. Pengaruh ide-ide Luther terbatas di Jerman setelah kematiannya, tetapi pandangan Calvin tampak lebih progresif. Murid-muridnya mengembangkan ajarannya dan mempengaruhi gelombang kedua Reformasi. Seperti dicatat oleh ahli sejarah Hugh Trevor Roper, Calvinisme lebih mudah ditinggalkan oleh para pengikutnya daripada Katolik Romawi—dari sinilah asal adagium "sekali Katolik tetap Katolik." Namun, Calvinisme membuat kesan khasnya sendiri: begitu dibuang, ia dapat diungkapkan dalam cara-cara sekular.30 Ini khususnya berlaku di Amerika Serikat. Banyak orang Amerika yang tak lagi beriman kepada Tuhan beralih menganut etos kerja Puritan dan ajaran Calvinistik tentang keterpilihan, memandang diri mereka sebagai "bangsa terpilih" yang bendera dan idealidealnya memiliki tujuan semi-ilahiah. Telah kita saksikan bahwa semua agama besar dalam pengertian tertentu merupakan produk peradaban dan, lebih khusus lagi, produk kehidupan perkotaan. 366 Tuhan bagi Para Reformis Agama-agama itu berkembang pada masa ketika kelas para pedagang kaya meraih kedudukan yang lebih tinggi daripada para penguasa pagan kuno dan ingin memegang kendali atas nasib mereka sendiri. Kristen versi Calvin menjadi menarik terutama bagi kalangan borjuis di kota-kota Eropa yang baru berkembang, yang para penghuninya ingin menepiskan belenggu hierarki yang represif. Seperti halnya teolog Swiss terdahulu, Huldrych Zwingli (1484- 1531), Calvin tidak begitu tertarik pada dogma: perhatian utamanya adalah pada aspek-aspek sosial, politik, dan ekonomi dari agama. Dia ingin kembali kepada keberagamaan yang sederhana dan skriptural, tetapi menganut doktrin Trinitas meski dengan asal usul terminologisnya yang tidak biblikal. Seperti yang ditulisnya di dalam The Institutes of the Christian Religion, Tuhan telah menyatakan bahwa dia itu Satu tetapi "dengan jelas menempatkan ini di hadapan kita dalam wujud tiga pribadi."31 Pada tahun 1553, Calvin telah mengakibatkan teolog Spanyol Michael Servetus dihukum mati karena penolakannya terhadap Trinitas. Servetus lari dari Spanyol yang Katolik dan mencari perlindungan di Jenewa, kotanya Calvin. Dia mengklaim telah kembali kepada keimanan para rasul dan Bapa Gereja perdana yang tak pernah mendengar doktrin Trinitas yang asing ini. Servetus berpendapat bahwa tak ada sesuatu pun dalam Perjanjian Baru yang bertentangan dengan monoteisme murni dari kitab-kitab suci Yahudi. Doktrin Trinitas adalah buatan manusia yang telah "mengasingkan pikiran manusia dari pengetahuan tentang Kristus yang sejati dan menghadirkan kepada kita konsep ketritunggalan Tuhan."32 Keyakinan ini juga dianut oleh dua Reformis Italia—Giorgio Blandrata (1515- 1588) dan Faustus Socinus (1539-1604)—yang pindah ke Jenewa tetapi mendapatkan bahwa teologi mereka terlalu radikal bagi Reformasi Swiss. Mereka bahkan tidak menganut pandangan Barat tradisional tentang penebusan dosa. Mereka tidak percaya bahwa manusia diselamatkan oleh kematian Kristus tetapi hanya oleh "keimanan" atau kepercayaan mereka kepada Tuhan. Dalam bukunya Christ the Savior, Socinus menolak apa yang disebut dengan ortodoksi Nicaea: istilah "Anak Tuhan" bukan merupakan pernyataan tentang keilahian Yesus tetapi sekadar memaksudkan bahwa dia dicintai secara khusus oleh Tuhan. Dia tidak mati demi menebus dosa-dosa kita tetapi hanyalah seorang guru yang "menunjukkan dan mengajarkan jalan keselamatan." Doktrin Trinitas itu sendiri, menurut Socinus, hanya merupakan "penyimpangan", sebuah fiksi imajiner yang "tak dapat diterima 367 Sejarah Tuhan akal" dan sebenarnya mendorong orang beriman untuk percaya pada tiga tuhan yang terpisah.33 Setelah peristiwa eksekusi Servetus, Blandrata dan Socinus melarikan diri ke Polandia dan Transylvania sambil membawa agama "Unitarian" mereka. Zwingli dan Calvin lebih bersandar pada gagasan-gagasan konvensional tentang Tuhan dan, seperti halnya Luther, menekankan kedaulatan mutlak Tuhan. Ini bukan sekadar pengakuan intelektual, tetapi merupakan hasil pengalaman pribadi yang mendalam. Pada Agustus 1519, tak lama setelah memulai kependetaannya di Zurich, Zwingli terkena wabah penyakit yang akhirnya membinasakan dua puluh lima persen penduduk kota itu. Dia merasa sangat tidak berdaya, menyadari bahwa sama sekali tak ada lagi yang bisa dia kerjakan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Tak terpikir olehnya untuk berdoa meminta pertolongan kepada orang-orang suci atau memohon Gereja untuk memperantarai dirinya. Dia memasrahkan harapannya kepada ampunan Tuhan. Dia menulis doa singkat ini: Lakukanlah apa yang engkau inginkan, Karena aku tidak kehilangan apa-apa. Aku adalah wahanamu untuk dipulihkan atau dibinasakan.34 Kepasrahannya mirip dengan cita-cita islam: seperti halnya orang Yahudi dan Muslim pada tahap perkembangan yang sebanding, orang Kristen Barat tidak lagi bersedia menerima perantara. Mereka kini mengembangkan rasa tanggung jawab di hadapan Tuhan. Calvin juga mendasari agamanya yang telah direformasi pada kekuasaan mutlak Tuhan. Sayangnya, dia tidak mewariskan kepada kita uraian lengkap tentang pengalaman yang telah mengubah keyakinannya. Dalam karyanya Commentary on the Psalms, dia hanya menyatakan bahwa pengalaman itu sepenuhnya merupakan pekerjaan Tuhan. Dia benar-benar dipesonakan oleh lembaga Gereja dan "takhayul kepausan". Dia tidak mampu dan tidak berkeinginan untuk membebaskan diri, dan dibutuhkan suatu tindakan dari Tuhan untuk menggerakkannya: "Akhirnya Tuhan membelokkan jalanku ke arah lain melalui kendalinya yang tersembunyi .... Pikiranku tiba-tiba berubah menjadi tunduk; dia menjinakkan pikiranku yang terlalu keras untuk usianya."35 Hanya Tuhanlah yang memegang kendali sementara Calvin sama sekali tidak berdaya, namun dia merasa dipilih untuk menjalankan misi khusus justru melalui rasa gagal dan ketakberdayaannya yang akut. 368 Tuhan bagi Para Reformis Konversi radikal telah menjadi karakteristik Kristen Barat sejak era Agustinus. Protestan akan melanjutkan tradisi pemutusan yang tiba-tiba dan keras dengan masa lalu dalam apa yang disebut oleh filosof Amerika William James sebagai agama "dilahirkan-dua kali" untuk "jiwa-jiwa yang sakit."36 Orang Kristen merasa "dilahirkan kembali" dalam keimanan baru pada Tuhan dan penolakan terhadap kelompok perantara yang menjadi penghalang antara mereka dengan Tuhan di Gereja abad pertengahan. Calvin menyatakan bahwa pengagungan terhadap orang-orang suci tumbuh dari rasa cemas; mereka ingin menenangkan Tuhan yang pemarah dengan cara mendekati orang-orang yang paling dekat dengannya. Akan tetapi, di dalam penolakan mereka terhadap kultus orang suci, kaum Protestan sering menyembunyikan kecemasan yang sama. Tatkala mendengar bahwa orang-orang suci itu tidak efektif, maka tumpukan rasa takut dan kengerian yang mereka rasakan terhadap Tuhan yang keras ini seakan meledak dalam reaksi yang berlebihan. Seorang humanis berkebangsaan Inggris, Thomas More, mendeteksi adanya kebencian pribadi dalam kritikan terhadap "keberhalaan" penyembahan orang-orang suci.37 Ini terlihat dalam kerasnya serangan mereka terhadap penggambaran orang suci. Banyak orang Protestan maupun Puritan yang memandang serius kutukan Perjanjian Lama terhadap berhala sembahan sehingga mereka menghancurkan patung-patung orang suci dan Perawan Maria serta menyiramkan kapur ke atas lukisan-lukisan di dalam gereja-gereja dan katedral. Semangat mereka yang luar biasa itu menunjukkan bahwa sebenarnya mereka takut mengecewakan Tuhan yang pemarah dan pencemburu ini sebagaimana ketakutan mereka untuk berdoa memohon perantaraan orangorang suci itu. Ini juga menunjukkan bahwa semangat untuk menyembah kepada Tuhan semata tidak tumbuh dari sebuah keyakinan yang tenteram, tetapi dari penyangkalan penuh ketakutan yang pernah menyebabkan orang Israel kuno meruntuhkan tugu-tugu Asyera dan menghancurkan dewa-dewa tetangga mereka. Calvin biasanya dikenang karena keyakinannya pada predestinasi, tetapi sebenarnya ini tidak merupakan sesuatu yang penting dalam pemikirannya: konsep ini baru menjadi krusial bagi "Calvinisme" setelah kematiannya. Persoalan mendamaikan kekuasaan mutlak Tuhan dengan kehendak bebas manusia akan selalu muncul dari konsepsi ketuhanan yang antropomorfis. Telah kita saksikan bahwa kaum Muslim juga menghadapi persoalan ini pada abad kesembilan 369 Sejarah Tuhan dan tidak berhasil menemukan pemecahan yang logis dan rasional; alih-alih, mereka justru menekankan misted dan kemustahilan memahami Tuhan. Persoalan tersebut tidak pernah mengusik Kristen Ortodoks Yunani, yang menikmati paradoks dan menganggapnya sebagai sumber cahaya dan inspirasi. Akan tetapi, ini justru merupakan perdebatan utama di Barat yang memegang konsep ketuhanan yang lebih personalistik. Orang-orang mencoba berbicara tentang "kehendak Tuhan" seakan-akan Tuhan adalah manusia biasa yang menghadapi berbagai kendala yang sama seperti kita dan secara harfiah mengatur dunia sebagaimana seorang penguasa duniawi. Namun, Gereja Katolik mengutuk gagasan yang menyatakan bahwa Tuhan telah sejak semula menetapkan bahwa orang-orang tertentu akan masuk neraka. Agustinus, misalnya, menerapkan istilah "predestinasi" pada keputusan Tuhan untuk menyelamatkan orang-orang pilihan tetapi menolak bahwa ada orang-orang merugi yang telah ditakdirkan Tuhan untuk masuk neraka, meskipun ini merupakan akibat wajar dari garis pemikiran seperti itu. Calvin memberi sangat sedikit ruang bagi topik predestinasi di dalam Institutes. Jika kita perhatikan, katanya, akan tampak bahwa sesungguhnya Tuhan memang telah melebihkan pertolongannya kepada beberapa orang dibanding yang lain. Mengapa sebagian orang menerima Injil sementara sebagian lainnya tidak? Apakah Tuhan bertindak arbitrer atau tidak adil? Calvin membantah ini: penerimaan sebagian orang dan penolakan sebagian yang lain merupakan pertanda misteri Tuhan.38 Tak ada pemecahan rasional terhadap masalah ini, yang kelihatannya menyiratkan bahwa kasih sayang Tuhan dan keadilannya merupakan dua hal yang tidak bisa didamaikan. Hal ini tidak sangat merisaukan Calvin karena dia memang tidak terlalu tertarik pada dogma. Akan tetapi, setelah kematiannya "kaum Calvinis" merasa perlu membedakan diri mereka dari pengikut Luther di satu pihak dan dari Katolik Romawi di pihak lain. Untuk itu Theodorus Boza (1519- 1605), yang pernah menjadi tangan kanan Calvin di Jenewa dan mengambil alih kepemimpinan setelah kematiannya, menjadikan predestinasi sebagai tanda pembeda Calvinisme dari aliran-aliran lain. Dia melicinkan paradoks itu dengan logika yang tak kenal ampun. Karena Tuhan Mahakuasa maka manusia tidak punya andil apa pun terhadap keselamatan dirinya sendiri. Tuhan tidak bisa berubah dan ketetapannya adalah adil dan abadi: sejak semula Tuhan telah memutuskan untuk menyelamatkan sebagian manusia dan 370 Tuhan bagi Para Reformis menakdirkan sisanya masuk neraka. Sebagian pengikut Calvin merasa ngeri terhadap doktrin yang menyeramkan ini. Jacob Arminius dan negara-negara selatan berpendapat bahwa ini merupakan contoh teologi yang buruk, karena membicarakan Tuhan seakan-akan dia seorang manusia biasa. Namun, kaum Calvinis percaya bahwa Tuhan bisa didiskusikan secara objektif seperti ketika kita mendiskusikan fenomena lain. Sebagaimana orang Protestan maupun Katolik, mereka juga mengembangkan Aristotelianisme baru yang menekankan pentingnya logika dan metafisika. Ini berbeda dengan corak Aristotelianisme Thomas Aquinas, karena para teolog baru itu tidak begitu tertarik pada kandungan pemikiran Aristoteles dibandingkan pada metode rasionalnya. Mereka ingin menghadirkan Kristen sebagai sebuah sistem koheren dan rasional yang bisa diturunkan dari deduksi silogistik berdasarkan aksioma-aksioma yang diketahui. Tentu saja ini menjadi sangat ironis karena semua Reformis telah menolak bentuk diskusi rasionalistik apa pun tentang Tuhan. Teologi predestinasi Calvinis mutakhir memperlihatkan apa yang bisa terjadi jika paradoks dan misteri Tuhan tidak lagi dipandang sebagai puisi, tetapi ditafsirkan dengan logika yang koheren. Begitu Alkitab mulai ditafsirkan secara harfiah, bukannya simbolik, konsepi ketuhanannya akan menjadi sesuatu yang mustahil. Membayangkan Tuhan yang secara harfiah bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi di bumi akan menimbulkan kontradiksi-kontradiksi yang musykil. "Tuhan" Alkitab tidak lagi merupakan simbol suatu realitas yang transenden, tetapi menjadi tiran yang kejam dan lalim. Doktrin predestinasi memperlihatkan berbagai keterbatasan Tuhan yang telah sangat dipersonalisasikan itu. Kaum Puritan mendasarkan pengalaman keagamaan mereka pada ajaran Calvin dan dengan jelas merasakan Tuhan sebagai sebuah pertarungan. Tuhan tampaknya tidak mengisi diri mereka dengan kebahagiaan atau kasih sayang. Jurnal dan autobiografi kaum Puritan menunjukkan bahwa mereka terobsesi oleh predestinasi dan ketakutan bahwa mereka takkan diselamatkan. Peristiwa konversi menjadi beban pikiran, sebuah drama yang berat dan menyiksa di rhana si "pendosa" dan pengarah spiritualnya "bergulat" demi jiwanya. Tak jarang seorang yang bertobat harus mengalami penghinaan berat atau keputusasaan nyata terhadap rahmat Tuhan sampai dia mengakui kebergantungan mutlaknya pada Tuhan. Konversi ini sering pula merupakan reaksi psikologis yang tidak disadari, lompatan yang tak sehat dari kecewa ke bahagia. Penekanan keras terhadap neraka dan murka Tuhan, 371 Sejarah Tuhan dipadukan dengan pengekangan diri yang berlebihan, telah menjerumuskan banyak orang ke dalam depresi klinis: bunuh diri pun tampaknya jadi biasa. Kaum Puritan menisbahkan hal ini kepada setan, yang kehadirannya dalam kehidupan mereka dirasakan sama kuatnya dengan kehadiran Tuhan.39 Puritanisme masih memiliki dimensi positif: membuat orang-orang merasa bangga terhadap pekerjaan mereka, yang tak lagi dipandang sebagai perbudakan melainkan sebagai sebuah "panggilan". Spiritualitas apokaliptiknya yang menyesakkan telah mengilhami sebagian penganut Puritanisme untuk melakukan kolonialisasi atas Dunia Baru. Namun pada sisi buruknya, Tuhan kaum Puritan menimbulkan kecemasan dan sikap tidak toleran yang kaku terhadap orang-orang yang tidak termasuk kalangan terpilih. Katolik dan Protestan kini memandang diri saling bermusuhan satu sama lain, meski sebenarnya konsepsi dan pengalaman ketuhanan mereka sangat mirip. Setelah Konsili Trent (1545-63), para teolog Katolik juga berpegang teguh pada teologi neo-Aristotelianisme yang mereduksi kajian tentang Tuhan menjadi ilmu tentang alam. Reformis seperti Ignatius Loyola (1491-1556), pendiri Society of Jesus, menyetujui penekanan Protestan terhadap pengalaman langsung tentang Tuhan dan kebutuhan untuk menyerap makna wahyu secara pribadi. Karya yang disusunnya untuk angkatan pertama kelompok Jesuitnya, Spiritual Exercises, bermaksud untuk memicu konversi yang bisa menjadi pengalaman menyakitkan sekaligus sangat membahagiakan. Retret tiga puluh hari ini, yang memberi penekanan pada pengkajian diri dan peneguhan tekad pribadi, dilakukan di bawah arahan seorang pembimbing secara satu per satu. Ini tidak berbeda dengan spiritualitas Puritan. Exercises menampilkan latihan singkat yang sistematik dan sangat efisien bagi mistisisme. Banyak kaum mistik telah mengembangkan disiplin yang serupa dengan yang digunakan oleh para psikoanalis dewasa ini. Oleh karena itu, adalah menarik bahwa Exercises juga masih dipakai oleh orang Katolik dan Anglikan masa kini untuk memberi jenis terapi alternatif. Akan tetapi, Ignatius sadar akan bahaya mistisisme palsu. Seperti Luria, dia juga menekankan pentingnya ketenteraman dan kegembiraan. Dalam bukunya Rules for the Discernment of Spirits, Ignatius memperingatkan murid-muridnya akan titik-titik ekstrem emosi yang telah menjebak kaum Puritan. Dia memilah berbagai emosi yang mungkin dialami oleh penempuh jalan mistik selama melakukan retret ke dalam dua kelompok: emosi yang mungkin berasal dari Tuhan 372 Tuhan bagi Para Reformis dan yang dari setan. Tuhan harus dialami sebagai kedamaian, harapan, kegembiraan, dan "penggugah pikiran". Sedangkan kegelisahan, kesedihan, kejemuan, dan gangguan bersumber dari "ruh jahat". Kepekaan Ignatius sendiri terhadap Tuhan sangatlah tajam: perasaan itu pernah membuatnya menangis karena bahagia, dan konon suatu ketika dia pernah menyatakan bahwa tanpa perasaan itu, dia takkan mampu bertahan hidup. Akan tetapi, dia tidak mempercayai pergantian emosi yang cepat dan menekankan perlunya disiplin dalam perjalanan menuju diri yang baru. Seperti halnya Calvin, dia memandang Kristen sebagai perjumpaan dengan Kristus. Digambarkannya di dalam Exercises: titik puncak Kristen adalah "Kontemplasi untuk Mendapatkan Cinta," yang memandang "segala sesuatu sebagai ciptaan kebaikan Tuhan dan memantulkannya."40 Bagi Ignatius, alam sarat akan Tuhan. Selama proses kanonisasi itu, murid-muridnya mengenang: Kami sering menyaksikan bahwa bahkan sesuatu yang sangat kecil dapat melejitkan jiwanya menuju Tuhan, yang dalam hal-hal yang terkecil sekalipun merupakan Yang Teragung. Memandang tanaman yang kecil, sehelai daun, buah-buahan atau bunga, seekor cacing yang tak berarti atau hewan kecil, mampu membuat jiwa Ignatius melayang ke langit dan menyelami segala hal yang berada di luar jangkauan indra.41 Sebagaimana kaum Puritan, para Jesuit merasakan Tuhan sebagai kekuatan dinamis yang dengan sempurna mampu memenuhi diri mereka dengan keyakinan dan energi. Jika kaum Puritan menaklukkan Atlantik untuk menetap di New England, para misionaris Jesuit berkeliling dunia; Francis Xavier (1506-1552) menyebarkan Injil ke India dan Jepang, Matteo Ricci (1552-1610) membawa Injil ke Cina, dan Robert de Nobili (1577-1656) ke India. Lagi-lagi seperti kaum Puritan, banyak di antara para Jesuit adalah ilmuwan yang antusias, dan sering diduga bahwa perkumpulan ilmiah pertama bukanlah Royal Society dari London atau Accademia del Cimento, melainkan Society of Jesus. Sungguhpun demikian, orang Katolik tampaknya punya masalah yang sama dengan kaum Puritan. Ignatius, misalnya, memandang dirinya sangat berlumur dosa sehingga memohon agar setelah kematiannya, jasadnya diletakkan di atas timbunan sampah untuk menjadi santapan burung-burung dan anjing. Dokternya menasihati bahwa jika dia terus-menerus menangis begitu hebat selama Misa, dia akan 373 Sejarah Tuhan kehilangan penglihatannya. Teresa Avila, yang mereformasi kehidupan biarawati ordo Karmel, pernah memperoleh penampakan yang menakutkan tentang tempat yang telah dicadangkan baginya di neraka. Orang-orang suci pada periode itu tampaknya memandang dunia dan Tuhan sebagai dua hal yang saling bertentangan: agar bisa diselamatkan, seseorang harus menjauhi dunia dan seluruh kesenangan duniawi. Vincent de Paul, yang menjalani hidup sebagai dermawan dan orang saleh, berdoa agar Tuhan menghapuskan cintanya kepada orangtuanya; Jane Francis de Chantal, yang mendirikan ordo Visitasi, melangkahi mayat anak lelakinya ketika dia bermaksud bergabung dengan biara: anak itu gantung diri di depan pintu untuk mencegah keberangkatan ibunya. Jika Renaisans berupaya mendamaikan langit dan bumi, Reformasi Katolik malah berusaha untuk memisahkannya. Tuhan mungkin telah menjadikan Kristen yang direformasi efisien dan kuat, tetapi tidak membuat mereka bahagia. Periode Reformasi adalah masa-masa yang menakutkan bagi kedua pihak: ada penolakan keras terhadap masa lalu, cacian dan kutukan yang keji, teror bid'ah dan penyimpangan doktrinal, kesadaran yang hiperaktif akan dosa dan obsesi tentang neraka. Pada tahun 1640 terbit sebuah buku kontroversial yang disusun oleh seorang Katolik Belanda, Cornelis Jansen. Sebagaimana halnya Calvinisme Baru, buku itu mengemukakan gambaran menakutkan tentang Tuhan, yang sejak semula telah menakdirkan semua manusia, kecuali beberapa gelintir orang pilihan, untuk masuk neraka untuk selamanya. Tentu saja para Calvinis memuji buku itu, karena "mengajarkan doktrin tentang kekuasaan Tuhan yang tak tertahankan; doktrin yang benar dan sejalan dengan Reformasi."42 Bagaimana menjelaskan ketakutan dan kekecewaan yang menyebar luas di Eropa ini? Periode itu merupakan masa-masa yang mencemaskan: bentuk masyarakat baru, yang berdasarkan pada sains dan teknologi, mulai muncul dan berhasil menaklukkan dunia dalam waktu singkat. Namun, Tuhan seakan tak mampu meredakan ketakutan ini dan menghadirkan pelipur lara seperti yang pernah ditemukan kaum Yahudi Sephardik, misalnya, dalam mitos-mitos Isaac Luria. Orang Kristen Barat tampaknya selalu menemukan bahwa Tuhan merupakan sesuatu yang menakutkan, dan kaum Reformis, yang berusaha menghilangkan kecemasan religius seperti ini, justru membuat keadaan semakin memburuk. Tuhan menurut konsepsi Barat, yang diyakini telah menakdirkan keterkutukan abadi bagi jutaan manusia, menjadi lebih menakutkan daripada ilah kejam yang 374 Tuhan bagi Para Reformis dibayangkan oleh Tertullian atau Agustinus pada masa-masa sulitnya. Mungkinkah konsepsi imajinatif tentang Tuhan, yang didasarkan pada mitologi dan mistisisme, lebih efektif dalam membangkitkan semangat manusia untuk bertahan menghadapi tragedi dan kesengsaraan daripada Tuhan yang mitos-mitosnya ditafsirkan secara harfiah? Sesungguhnya, sejak akhir abad keenam belas, banyak orang di Eropa merasa bahwa agama telah sedemikian didiskreditkan. Mereka dibuat muak oleh tindakan orang-orang Protestan yang membunuhi orang-orang Katolik dan sebaliknya. Ratusan orang mati sebagai martir karena memegang pandangan yang mustahil bisa dibuktikan dengan cara apa pun. Sekte-sekte yang menyebarkan berbagai doktrin membingungkan namun dianggap esensial untuk pensucian diri, berkembang dengan pesat. Kini tersedia sangat banyak pilihan teologis: banyak orang yang merasa dilumpuhkan dan tertekan oleh berbagai interpretasi religius yang ditawarkan. Sebagian mungkin merasa bahwa iman telah semakin sulit diraih dibanding sebelumnya. Oleh karena itu, menjadi signifikan bahwa pada masa ini, di dalam sejarah ketuhanan Barat, mulai ditemukan "orang ateis", yang jumlahnya sepertinya telah menjadi sebanyak "tukang sihir", musuh lama Tuhan dan sekutu setan. Dinyatakan bahwa "orang ateis" yang mengingkari eksistensi Tuhan ini telah memperoleh banyak pengikut ke sekte mereka dan menggoyahkan struktur masyarakat. Namun kenyataannya, ateisme sepenuhnya dalam pengertian yang kita terapkan pada kata itu saat ini adalah mustahil. Seperti yang ditunjukkan oleh Lucien Febvre dalam buku klasiknya The Problem of Unbelief in the Sixteenth Century, penolakan sepenuhnya terhadap eksistensi Tuhan pada masa itu melibatkan kesulitan konseptual yang teramat besar sehingga tak mungkin terwujudkan. Agama mendominasi kehidupan semua orang, sejak kelahiran hingga kematian. Setiap aktivitas keseharian diselingi oleh panggilan kepada kaum beriman untuk berdoa, diwarnai oleh keyakinan dan institusi keagamaan, baik dalam kehidupan publik maupun profesional—bahkan serikat kerja dan universitas-universitas merupakan organisasi keagamaan. Sebagaii ana yang dikemukakan oleh Febvre, Tuhan dan agama ada di mana-mana sehingga tak seorang pun pada abad itu akan berkata: "Jadi hidup kita, seluruh hidup kita, didominasi oleh Kristen! Betapa sedikitnya wilayah kehidupan kita yang telah disekularisasikan, dibandingkan apa-apa yang masih diatur dan dibentuk oleh agama!"43 Meskipun seandainya ada seorang manusia luar biasa yang bisa mencapai objektivitas yang 375 diperlukan untuk mempertanyakan hakikat agama dan eksistensi Tuhan, dia tidak akan mendapatkan dukungan dan filsafat ataupun sains pada masanya. Selama belum terumuskan sekumpulan alasan koheren, yang masing-masingnya didasarkan pada bukti-bukti ilmiah, tak seorang pun bisa menolak eksistensi Tuhan yang agamanya telah membentuk dan mendominasi kehidupan moral, estetika, dan politik di Eropa. Tanpa dukungan ini, penyangkalan terhadap Tuhan hanya akan menjadi sebuah sikap pribadi atau dorongan sesaat yang tak layak dipertimbangkan secara serius. Febvre memperlihatkan bahwa bahasa sehari-hari, misalnya bahasa Prancis, tidak memiliki kosakata maupun sintaksis bagi skeptisisme. Kata-kata seperti "mutlak", "relatif", "kausalitas", "konsep", dan "institusi" masih belum dipergunakan.44 Harus kita ingat pula bahwa belum ada satu masyarakat pun di dunia yang berhasil menghapuskan agama, yang telah dianggap sebagai sebuah fakta kehidupan. Baru pada penghujung akhir abad kedelapan belas sekelompok orang Eropa menemukan kemungkinan untuk mengingkari eksistensi Tuhan. Lantas, apa yang dimaksud oleh sementara orang ketika mereka saling menuduhkan "ateisme" satu sama lain? Ilmuwan Prancis, Marin Mersenne (1588-1648), yang juga pengikut fanatik ordo Fransiscan, menyatakan bahwa di Paris saja terdapat sekitar 50.000 orang ateis, namun kebanyakan dari yang disebutnya "ateis" itu masih beriman kepada Tuhan. Pierre Carvin, sahabat Michel Montaigne, pernah membela Katolik dalam risalahnya Les Trots Verites (1589), tetapi di dalam karya utamanya, De La Sagesse, dia menekankan kelemahan akal dan mengakui bahwa manusia hanya bisa mencapai Tuhan melalui iman. Mersenne menolak gagasan ini dan memandangnya sama dengan "ateisme". Tuduhan kafir juga dialamatkannya kepada tokoh rasionalis Italia Giordano Bruno (1548-1600), meskipun Bruno percaya kepada Tuhan dalam konsepsi mazhab Stoa, yaitu Tuhan sebagai jiwa, asal usul, dan akhir alam semesta. Mersenne menyebut kedua orang ini "ateis" karena dia tidak sependapat dengan konsepsi ketuhanan mereka, bukan karena keduanya mengingkari eksistensi sang Wujud Tertinggi. Dalam cara yang hampir sama, kaum pagan kerajaan Romawi menyebut orang Yahudi dan Kristen "ateis" karena pandangan ketuhanan mereka yang berbeda. Selama abad keenam belas dan ketujuh belas, kata "ateis" masih digunakan secara terbatas dalam berpolemik semata, walaupun mungkin saja untuk menyebut lawan Anda "ateis", dalam cara yang sama seperti menjuluki orang 376 Sejarah Tuhan Tuhan bagi Para Reformis sebagai "anarkis" atau "komunis" pada akhir abaci kesembilan belas dan awal abad kedua puluh. Setelah Reformasi, orang-orang menjadi penasaran terhadap Kristen yang baru. Seperti halnya "sihir" (atau, bahkan, "anarkis" maupun "komunis"), "ateis" merupakan proyeksi kecemasan yang terpendam. Sebutan itu merefleksikan sebuah kekhawatiran tersembunyi tentang iman dan bisa dipakai sebagai taktik kejutan untuk menakut-nakuti orang beragama dan meningkatkan kesalehan. Dalam Laws of Ecclesiastical Polity, teolog Anglikan Richard Hooker (1554- 1600) menyebutkan dua jenis kelompok ateis: kelompok kecil yang tidak beriman kepada Tuhan dan kelompok lain dengan jumlah lebih besar yang berpura-pura seakan-akan Tuhan tidak ada. Orang cenderung tidak bisa melihat perbedaan ini dan hanya memusatkan perhatian pada ateisme praktis yang disebut belakangan. Dalam The Theatre of God's Judgement (1597), tokoh "ateis" imajiner rekaan Thomas Beard mengingkari ketentuan Tuhan, keabadian jiwa, dan kehidupan sesudah mati, tetapi tidak mengingkari eksistensi Tuhan. Dalam risalahnya Atheism Closed and Open Anatomized (1634), John Wingfield menyatakan, "orang munafik itu Ateis; manusia yang licik dan jahat adalah Ateis terbuka; pelaku pelanggaran yang merasa aman, berani, dan bangga adalah Ateis: siapa pun yang tidak bisa dididik dan direformasi adalah Ateis."45 Bagi penyair Welsh, William Vaughan (1577-1641), yang mendukung kolonialisasi Newfoundland, orang-orang yang menaikkan sewa atau menutup desa-desa adalah ateis nyata. Dramawan Inggris Thomas Nashe (1567-1601) menyatakan bahwa semua orang yang ambisius, tamak, rakus, sombong dan pezina adalah ateis. Istilah "ateis" merupakan sebuah penghinaan. Tak seorang pun ingin menyebut dirinya ateis. Istilah itu belum merupakan lencana yang bisa dikenakan dengan bangga. Namun, pada abad ketujuh belas dan kedelapan belas, orang-orang di Barat mengembangkan sikap yang membuat pengingkaran eksistensi Tuhan menjadi sesuatu yang bukan hanya mungkin, tetapi juga disenangi. Mereka menemukan dukungan terhadap pandangan mereka di dalam sains. Akan tetapi, Tuhan para Reformis pun dapat dipandang selaras dengan sains baru. Karena percaya pada kekuasaan mutlak Tuhan, Luther dan Calvin menolak pandangan Aristoteles bahwa alam memiliki kekuatan yang intrinsik di dalam dirinya sendiri. Mereka berkeyakinan bahwa alam sama pasifnya dengan seorang Kristen, yang hanya bisa 377 Sejarah Tuhan menjadi penerima berkah penyelamatan dari Tuhan dan tidak bisa melakukan apa-apa untuk dirinya sendiri. Secara eksplisit, Calvin memuji kajian ilmiah tentang alam yang melaluinya Tuhan yang gaib membuat dirinya dapat dikenal. Tidak ada pertentangan antara sains dan kitab suci: Tuhan telah menyesuaikan dirinya dengan keterbatasan kita di dalam Alkitab, seperti layaknya seorang orator yang menyesuaikan pemikiran dan pidatonya dengan daya cerna pendengarnya. Kisah tentang penciptaan, menurut Calvin, merupakan sebuah contoh balbutive (cara berbicara kepada bayi), yang mengakomodasi proses-proses misterius dan kompleks dengan mentalitas orang awam sehingga setiap orang mampu beriman kepada Tuhan.46 Kisah itu bukan untuk dipahami secara harfiah. Akan tetapi, Gereja Katolik Romawi tidak selalu berpikiranterbuka. Pada 1530, ahli astronomi Polandia, Nicolaus Copernicus, menyelesaikan risalahnya De Revolutionibus, yang menyatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya. Risalah itu diterbitkan beberapa saat menjelang kematiannya pada 1543 dan dimasukkan oleh gereja ke dalam Daftar Buku-buku Terlarang. Pada 1613, Galileo Galilei mengklaim bahwa teleskop hasil temuannya telah membuktikan kebenaran sistem Copernicus. Penemuannya menjadi sebuah cause celebre. Galileo dipanggil menghadap Inkuisisi, diperintahkan untuk menarik kembali keyakinan ilmiahnya, dan dijatuhi hukuman penjara sampai waktu yang tak ditentukan. Tidak semua orang Katolik menyetujui keputusan ini, tetapi Gereja Katolik Roma secara instingtif menentang setiap perubahan sebagaimana semua institusi lain pada periode ketika pandangan-pandangan konservatif sedang berjaya. Yang membuat Gereja agak berbeda adalah kekuatannya untuk raendesakkan perlawanannya dan merupakan mesin yang bekerja secara sangat efisien dalam memaksakan keseragaman intelektual. Tak pelak lagi, hukuman atas Galileo mematikan kajian ilmiah di negara-negara Katolik, meskipun banyak ilmuwan ternama periode awal, seperti Marin Mersenne, Rene Descartes, dan Blaise Pascal tetap setia pada keyakinan Katolik. Kasus Galileo adalah kasus yang rumit dan saya tidak bermaksud menelaah seluruh aspek politiknya. Namun ada satu fakta yang penting bagi pembahasan kita: Gereja Katolik Roma mengutuk teori heliosentrisme bukan karena teori itu berbahaya bagi keimanan kepada Tuhan Sang Pencipta, tetapi karena bertentangan dengan firman Tuhan di dalam kitab suci. 378 Tuhan bagi Para Reformis Hal ini juga mengusik banyak penganut Protestan pada masa pengadilan Galileo. Baik Luther maupun Calvin tidak mengutuk Copernicus namun rekan Luther, Philipp Melanchthon (1497-1560) menolak gagasan tentang gerak bumi mengelilingi matahari karena bertentangan dengan sejumlah ayat di dalam Alkitab. Ini bukan hanya menjadi keprihatinan kaum Protestan. Setelah Konsili Trent, orang Katolik mengembangkan antusiasme baru terhadap kitab suci mereka sendiri: Vulgate, terjemahan Alkitab berbahasa Latin dari St. Jerome. Dalam kata-kata Inkuisitor Spanyol, Leon Castro, pada 1576: "Tak ada perubahan sedikit pun di dalam Vulgate edisi Latin, entah itu berupa sebuah titik, sebuah kesimpulan kecil atau anak kalimat, satu ungkapan, satu suku kata, atau sekecil apa pun."47 Di masa lalu, seperti yang telah kita saksikan, sebagian kaum rasionalis dan mistik telah mengambil langkah meninggalkan pembacaan harfiah terhadap Alkitab dan Al-Quran dan beralih ke tafsiran simbolik yang dipikirkan dengan matang. Kini, kaum Protestan maupun Katolik mulai melandaskan keimanan mereka pada pemahaman kitab suci yang sepenuhnya bersifat harfiah. Kaum Ismaili, Sufi, Kabbalis, atau hesychasts mungkin takkan terusik oleh penemuan ilmiah Galileo dan Copernicus, tetapi hal itu menjadi persoalan bagi kaum Katolik dan Protestan yang telah menganut literalisme baru. Bagaimana mendamaikan teori bahwa bumi beredar mengelilingi matahari dengan ayat-ayat biblikal: "Sungguh telah tegak dunia, tidak bergoyang"; "Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali"; "Engkau yang telah membuat bulan menjadi penentu waktu, matahari yang tahu akan saat terbenamnya."48 Orang-orang Gereja sangat terganggu oleh sebagian pernyataan Galileo. Jika, seperti dikatakannya, ada kehidupan di atas bulan, bagaimana mungkin mereka itu bisa merupakan keturunan Adam dan bagaimana cara mereka meninggalkan Bahtera Nuh? Bagaimana mungkin teori tentang pergerakan bumi dapat disesuaikan dengan kenaikan Kristus ke langit? Kitab suci menyatakan bahwa langit dan bumi diciptakan demi kepentingan manusia; bagaimana mungkin menjadi demikian jika, seperti yang dikatakan Galileo, bumi hanyalah salah satu planet yang mengitari matahari? Surga dan neraka dipandang sebagai tempat yang nyata, namun sulit untuk menentukan lokasinya di dalam sistem Kopernikan. Neraka, misalnya, pada umumnya diyakini berada di perut bumi, tempat yang telah ditetapkan baginya oleh Dante. Kardinal Robert Bellarmine, seorang Jesuit yang dimintakan pendapatnya tentang 379 Sejarah Tuhan persoalan Galileo oleh Jemaat untuk Penyebaran Iman yang baru saja dibentuk, berpihak kepada tradisi: "Neraka adalah sebuah tempat di bawah tanah yang tidak sama dengan makam-makam." Dia menyimpulkan kemungkinan bahwa tempat itu pasti terletak di pusat bumi, dengan mendasarkan argumennya kepada "nalar alamiah": Yang terakhir adalah nalar alamiah. Tak diragukan lagi bahwa sangatlah masuk akal jika tempat setan-setan dan orang-orang jahat pasti berada di titik yang paling jauh dari tempat para malaikat dan orang-orang baik akan tinggal untuk selamanya. Kediaman orang-orang yang diberkati (sebagaimana yang diyakini lawan-lawan kita) adalah surga, dan tak ada tempat yang lebih jauh dari surga kecuali titik pusat bumi.49 Argumen Bellarmine terdengar tak masuk akal bagi kita di zaman sekarang. Bahkan orang Kristen yang paling literalis sekalipun tak lagi membayangkan bahwa neraka sungguh-sungguh berada di pusat bumi. Namun, banyak orang yang dikejutkan oleh teori-teori ilmiah lainnya yang menyatakan "tak ada ruang bagi Tuhan" dalam kosmologi yang lebih maju. Pada masa ketika Mulla Shadra mengajarkan umat Muslim bahwa surga dan neraka terletak di alam imajiner dalam setiap individu, tokoh-tokoh gereja semacam Bellarmine masih dengan teguh berpendirian bahwa surga dan neraka memiliki lokasi geografis. Ketika para Kabbalis menafsir ulang kisah biblikal tentang penciptaan secara sangat simbolik dan mengingatkan para murid mereka untuk tidak memahami mitologinya secara harfiah, orang-orang Katolik dan Protestan justru mengajarkan bahwa Alkitab adalah benar secara faktual dalam setiap perinciannya. Ini akan membuat mitologi religius tradisional rentan terhadap sains baru dan akhirnya menutup kemungkinan bagi banyak orang untuk beriman kepada Tuhan. Para teolog itu ternyata tidak mempersiapkan umat mereka dengan baik untuk menghadapi tantangan yang mendekat ini. Sejak era Reformasi dan munculnya antusiasme baru terhadap Aristotelianisme di kalangan kaum Prot-gstan dan Katolik, mereka mulai mendiskusikan Tuhan seakan-akan dia merupakan sebuah fakta objektif. Hal ini pada akhirnya membuat kaum "ateis" baru akhir abad kedelapan belas dan awal abad kesembilan belas bisa mengenyahkan Tuhan sama sekali. Leonard Lessius (1554-1623), teolog Jesuit dari Louvain yang sangat berpengaruh, tampaknya membela konsepsi ketuhanan para filosof dalam risalahnya The Divine Providence. Eksistensi Tuhan ini 380 Tuhan bagi Para Reformis bisa dibuktikan secara ilmiah seperti semua fakta kehidupan lainnya. Rancangan alam, yang tidak mungkin terjadi secara kebetulan, menunjuk kepada eksistensi Penggerak Pertama. Tak ada sesuatu yang spesifik Kristen dalam konsepsi ketuhanan Lessius: Tuhan hanyalah sebuah fakta ilmiah yang bisa ditemukan oleh setiap manusia yang berakal. Lessius jarang sekali menyebut Yesus. Dia memberi kesan bahwa eksistensi Tuhan sesungguhnya bisa dideduksi dari pengamatan biasa, filsafat, studi perbandingan agama, dan akal sehat. Tuhan menjadi sekadar wujud biasa, seperti sekumpulan fakta lain yang mulai diteliti oleh para ilmuwan dan ahli filsafat di Barat. Para faylasuf tidak pernah meragukan keabsahan bukti-bukti mereka tentang eksistensi Tuhan, namun rekan-rekan mereka yang ahli agama akhirnya memutuskan bahwa Tuhan para filosof ini tidak banyak memiliki nilai religius. Thomas Aquinas mungkin menyiratkan bahwa Tuhan sekadar simpul lain dalam mata rantai wujud—meskipun yang tertinggi—namun secara pribadi meyakini bahwa argumen-argumen filosofis ini tidak ada sangkut-pautnya dengan Tuhan mistikal yang pernah dia rasakan kehadirannya di dalam doa. Namun pada awal abad ketujuh belas, para teolog dan pendeta terkemuka terus berargumentasi tentang keberadaan Tuhan dengan alasan-alasan yang sepenuhnya rasional. Banyak di antara mereka masih melanjutkan cara itu hingga kini. Ketika argumen-argumen mereka ditolak oleh sains baru, eksistensi Tuhan itu sendiri menjadi terancam. Alih-alih memandang ide tentang Tuhan sebagai simbol realitas yang tak bereksistensi dalam pengertian biasa dan yang hanya bisa ditemukan melalui doa dan kontemplasi imajinatif, Tuhan justru semakin dipandang sekadar sebagai sebuah fakta sebagaimana fakta-fakta lainnya. Dalam diri seorang teolog semacam Lessius dapat kita saksikan bahwa ketika Eropa menghampiri modernitas, para teolog justru membekali kaum ateis masa depan dengan sejumlah amunisi pengingkaran terhadap Tuhan, yang tak banyak memiliki nilai religius dan yang mengisi hati manusia dengan ketakutan bukannya harapan dan keyakinan. Seperti halnya para filosof dan ilmuwan, kaum Kristen Pasca-Reformasi secara efektif telah mengabaikan Tuhan imajinatif kaum mistik dan berusaha mencari pencerahan dari Tuhan yang ditemukan oleh akal.[] 381 Dapatkan koleksi ebook-ebook lain yang tak kalah menariknya di EBOOK CENTER - AQUASIMSITE - http://jowo.jw.lt