SEBATAS KABUT Matahari turun dari singgasana siang. Sesaat kemudian lenyap ditelan perbukitan diujung pantai. Namun semburat cahayanya masih memedar mengurai mega-mega yang menghadirkan nuansa jingga di layar cakrawala. Sekejap kemudian lenyap di pelukan malam menghadirkan perasaan kehilangan. Sosok gadis tengah memejamkan mata menikmati damainya duduk sendiri di atas bongkahan batu di bibir pantai. Angin yang berhembus mencoba mengacak-acak rambutnya yang tertata rapi. " Jane,..." sapa Arya yang selama ini menjadi orang yang begitu berarti dalam kehidupannya. " Hei…" Gadis itu menjawab lirih, nyaris tak didengarnya. Mereka beradu pandang sejenak, sebelum Jane buru-buru menundukkan kepalanya, menyembunyikan bendungan air mata yang nyaris tumpah. Arya bukannya tidak tahu. Ditatapnya lekat-lekat gadis di depannya itu. Ada yang bergejolak di hatinya. Perasaan haru, bersalah, dan rasa rindu bergelut di hatinya. Kulitnya yang putih kelihatan pucat tanpa polesan sedikitpun. Sorot matanya cekung. Sementara bulu matanya yang lentik mengerja-ngerjap menahan air matanya agar jangan sampai tumpah. Rambutnya yang dulu panjang hitam terurai telah dibabatnya habis. Mungkin untuk menghilangkan sedikit kenangan. Tiba-tiba Jane mengangkat mukanya. Mereka beradu pandang. Arya meringis menahan nyeri di dadanya saat gadis itu tersenyum begitu ayunya. Terasa berat baginya untuk bisa meninggalkannya. Satu hal yang tak pernah berubah dalam diri gadis itu, dia selalu tersenyum penuh ketabahan dalam keadaan sesusah apapun. " kapan balik ke rumah, Jane?" Arya mengalihkan pandangannya menatap jauh ke depan. " Baru kemarin. Begitu selesai ujian langsung pulang. Sudah kangen dengan masakan mama. Hampir satu tahun tidak merasakannya." Suara Jane mengalun pelan. Nafasnya begitu dalam seperti ada yang mengganjal di dadanya. " Bagaimana kabar keluarga di rumah?" Arya berusaha mengeluarkan kata-kata meskipun terasa berat. " Baik! Tapi kamu tahu, setelah ini rasanya aku tidak ingin pulang." Arya menatap penuh tanya. " Bukankah kamu masih kangen dengan keluarga?" " Bukan itu masalahnya. Tapi paling tidak di sini aku tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi jika ingin berteriak atau marah, bahkan menangis. Aku harus selalu senyum untuk menjaga perasaan papa dan mama agar mereka yakin kalau aku bahagia dengan keputusan yang mereka buat." " Owh..." Arya mendesah sambil membuang pandang ke langit lepas. " Di rumah aku harus berpura-pura tegar untuk padahal dadaku sesak sekali. Itu sebabnya aku bersikeras untuk menemuimu di sini dengan harapan aku bisa merasa lebih baik." ucap Jane serak. " Iya,... Aku berharap kita bisa mengambil keputusan dengan bijak tanpa harus menyakiti satu sama lain." ucap Arya datar. " Tanpa menyakiti? Itu tidak mungkin!" " Ya, aku tahu itu. Tapi setidaknya kita bisa menerima kenyataan yang telah digariskan untuk kita." tegas Arya. Mereka terperangkap dalam diam. Hembusan angin yang menerpa kencang, menghadirkan suara-suara yang menimbulkan sebentuk ngilu di sudut hati. Arya mengamati wajah pucat letih di sampingnya. Betapa dia ingin merengkuh gadis itu dalam pelukannya. Menyalurkan segenap kasih sayang yang ia punyai dan tidak melepaskan lagi meskipun kutub utara pindah ke Indonesia atau planet-planet berhenti mengelilingi matahari. Tapi jika itu dilakukannya, pasti akan menyakiti mereka berdua sedalam-dalamnya. Dia tidak mau menambah luka baru pada luka lama yang belum sembuh. " Jane!" Gadis itu menoleh dengan tatapan tanpa ekspresi. " Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?" " Apa itu suatu keharusan?" " Kamu begitu tertekan dan sakit, tapi tidak mau membagi kesedihanmu seperti dulu. Lari dari masalah Cuma membuatmu aman sementara. Kelak jika mencapai titik klimaksnya, kamu bisa jatuh kejurang yang paling dalam." " Kamu ingin aku cerita tentang apa?" tanya Jane. " Perasaanmu setelah….keputusan itu." Jane membuang pandang. Harusnya dia sangat bahagia saat ini, berada dekat dengan orang yang dia cintai dan mencintainya. Tapi ternyata takdir bicara lain. Tiga tahun yang lalu saat pertama kali mereka bertemu di Jogja pada awal semester. Arya seorang mahasiswa sastra UGM, sementara Janelyn mahasiswi kedokteran. Pertemuan yang tidak disengaja. Sore itu Arya bertemu Jane di sebuah angkot saat pulang. Kebetulan saat itu Jane tidak dijemput seperti biasa karena mobil jemputanya mogok. Pertemuan yang singkat, namun akhirnya menyisakan benih-benih cinta. Beberapa bulan setelah itu, mereka sering bertemu. Akhirnya mereka berani mengikat janji untuk saling mencintai, mengarungi suka duka bersama. Mereka saling mengasihi, saling memiliki, semuanya penuh warna, penuh bunga, dan penuh cinta. Arya dan Jane sepakat menyembunyikan hubungan ini sampai mereka lulus kuliah. Manusia boleh saja berencana, tapi Tuhanlah penentu segalanya. Satu tahun setelah hubungan mereka berjalan, Arya mendapat surat dari ibunya di kampung. Ayahnya meninggal karena karena terkena serangan jantung. Itulah awal dari takdir hitam mereka. Arya yang merasa punya tanggung jawab sebagai anak tertua memilih untuk putus kuliah dan kerja disebuah restoran sebagai pelayan. Ini dilakukan semata-mata untuk membantu adik-adiknya yang masih duduk di bangku sekolah. Jane yang mengetahui hal ini justru semakin kokoh menancapkan pilar cintanya. Baginya Arya adalah sosok lelaki yang teguh menghadapi badai kehidupan dan berjiwa besar. Jane bertekad untuk tetap mencintai Arya bagaimanapun keadaannya. Ternyata dunia tak hanya menyimpan cerita putih seperti masa-masa bahagia yang telah mereka lewati beberapa tahun ini, tapi juga hitam seperti saat hubungan mereka diketahui oleh orang tua Jane. Suatu hari Ayah Jane datang ke Jogja untuk meyakinkan informasi yang didapat dari teman satu kos Jane sendiri. Bahwa anaknya telah menjalin hubungan dengan pelayan restoran. Hal ini jelas saja akan merusak citra keluarga yang nota bene adalah keturunan bangsawan. Akhirnya ayah Jane menemukan kebenaran info tersebut. Beberapa minggu setelah itu, Jane diminta untuk menerima keputusan orang tuanya. Orang tua Jane rupanya telah menjodohkannya dengan seorang pengusaha muda. Dibanding Arya yang jelas-jelas tidak memiliki masa depan itu. Arya dan Jane sangat terpukul. Lebih-lebih Jane yang harus menerima keputusan orang tuanya untuk hidup dengan orang yang tidak dia cintai demi kebahagiaan mereka tapi harus mengorbankan cintanya. Namun gadis ini tidak marah, tidak menangis bahkan tidak bicara apa-apa. Saat ini sikap Jane keseharian tidak beda dengan dulu. Tapi justru itu yang membuat Arya khawatir. Jane tidak menyinggung secuilpun tentang kejadian itu sampai detik ini. Padahal Arya ingin tahu bagaimana perasaannya. " Jane,.. Terus terang, kamu membuatku takut sekali. Berteriaklah jika memang batinmu terasa sesak. Menangislah Jane! Menangislah untukku. Jangan sok kuat. Saat ini kamu butuh aku". Dada Arya terasa sesak. Jane menoleh dengan tatapan tanpa ekspresi. " Ku mohon Jane!" Arya meraih pipi gadis itu. Terasa sangat dingin. " Setiap kali kamu tersenyum, batinku teriris. Karena aku tidak tahu sedalam apa lukamu. Biarkan aku membantumu untuk menyembuhkannya." Gumam Arya lirih. " Aku tak bisa." geleng Jane. " Kalau aku menangis, itu berarti aku menerima kenyataan ini. Tidak, Arya! Aku tak bisa menerimanya. Aku tak ingin berpisah. Harusnya kita bisa bahagia. Mereka telah merampas cinta kita. Aku tidak rela!" Tetes-tetes air meluncur dari sudut mata Jane. Isaknya terdengar amat pilu. Dengan bating perih, dipeluknya gadis itu. Perasaan itu tak mampu lagi ditahannya. " Kenapa tidak menyerah saja, Jane? Aku juga merasakan sakit yang luar biasa. Tapi,..." " Maafkan aku Arya, a...aku..." Jane terdiam. Arya menyentuh lembut bibirnya dengan jarinya. Cuma sekilas. " Jangan melawan takdir, Jane!" Gadis didepannya tampak terguncang. Sedetik, dua detik,...pekikan Jane membelah malam. Berbaur dengan desiran angin malam. Lantas tangisnya yang histeris pecah dipelukan Arya. Begitu pilu, begitu menyayat, sehingga Arya pun tak mampu membendung air matanya. " Menangislah, Jane! Dan relakan semuanya." bisik Arya dengan suara yang parau. " Kamu sudah terlalu lelah. Luapkan semuanya padaku, lalu tidurlah. Dan esok pagi, kamu harus bangun sebagai Janelynku yang dulu. Yang selembut air namun sedahsyat banjir. Kau harus menjadi Jane yang tegar tanpa harus aku ada disisimu. Jadilah dirimu seperti dulu sebelum aku datang dalam kehidupanmu. Aku yakin kamu bisa melakukan semua itu, Jane! Ingatlah, hidup masih berjalan. Sambutlah hari esok dengan senyuman." Arya mempererat pelukannya membasahi leher Jane dengan air mata yang turun seolah-olah tak mau berhenti. " Apakah setelah ini kau tidak lagi mencintaiku?" Tanya Jane dengan suara yang hampir tak terdengar. " Jane,... Justru aku tidak yakin setelah ini bisa mencintai orang lain. Tapi bagaimanapun juga cinta itu tidak buta. Cinta itu memahami. Cinta menginginkan orang yang dicintainya bahagia." Betapa hatinya berharap bumi segera berhenti berputar. Biar semuanya tetap seperti ini. Dia sebenarnya tidak mampu melepaskan gadis yang sangat dicintainya itu. Tapi ia sadar, kerelaannya akan membuat masa depan gadis itu lebih baik. Dia sangat menyadari siapa dirinya. Hidup telah memilihkan jalan bagi mereka. Dan mereka tidak boleh melawannya. Mereka harus pasrah membiarkan semuanya berjalan seiring dengan takdir yang telah ada. By : Maulana