ABADI SANG PENJAGA Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta Pasal 2: 1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memper-banyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Ketentuan Pidana: Pasal 72 1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagai dimaksud pada Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Maureen Child ABADI Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2008 SANG PENJAGA MR. Collection's eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. a nurulkariem@yahoo.com mjbookmaker by: http://jowo.jw.lt NEVERMORE by Maureen Child © 2004 Maureen Child © 2007 PT Gramedia Pustaka Utama All rights reserved including the right of reproduction in whole or in part of any form. This edition is published by arrangement with Harlequin Enterprises II B.V./S.a.r.l. This is a work of fiction. Names, characters, places, and incidents are either the product of the author's imagination or are used fictitiously, and any resemblance to actual persons, living or dead, business establishments, events, or locates is entirely coincidental. Trademarks appearing on Edition are trademarks owned by Harlequin Enterprises Limited or its corporate affiliates and used by others under licence. All rights reserved. SANG PENJAGA ABADI Alih bahasa: Amalia Yunus GM 406 08.014 Sampul dikerjakan oleh Marcel A.W. Hak cipta terjemahan Indonesia: PT Gramedia Pustaka Utama Jl. Palmerah Barat 33-37, Jakarta 10270 Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI, Jakarta, April 2008 288 hlm; 18 cm ISBN-10: 979 - 22 - 3625 - 2 ISBN-13: 978 - 979 - 22 - 3625 - 5 Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta Isi di luar tanggung jawab percetakan Untuk Diana Ventimiglia, Asisten Editor Luar Biasa! Terima kasih Diana untuk mengingatkanku selalu pada pekerjaan dan jadwal deadline-ku! a 1 PENGUNTITNYA muncul lagi. Dengan jantung berdegup dan napas tercekik, Erin Brady melesat di antara kerumunan wisatawan di dermaga Shadow Cove, Maine. la dapat merasakan kehadirannya. "Ke mana?" bisiknya melalui gigi yang terkatup rapat. Tatapannya menyapu wajah-wajah yang tampak mengabur sambil terus berlari. Penguntitnya bisa siapa saja. Remaja yang bersandar di pagar. Pria tua yang menyipitkan mata ke arah matahari. Ibu rumah tangga yang terburu-buru dan sedang berusaha menyeret seorang anak kecil. "Tuhan, ke mana aku harus pergi?" gumam Erin, tanpa mengharapkan jawaban. Yang dapat dilakukannya hanyalah berlari. Udara musim gugur terasa dingin menggigit. Matahari yang akan terbenam memancarkan sinar emas kemerahan di atas permukaan laut yang membentang 7 a eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. MR. Collection's nurulkariem@yahoo.com di belakang Erin. Air memukul tiang penyangga kayu. Papan-papan yang pudar warnanya karena terpaan sinar matahari itu berbunyi keras dan berderit-derit seiring hempasan gelombang laut, dan suaranya bagaikan hantu yang memberi peringatan. Aku tak perlu diperingati, pikir Erin kalut. Hak sepatu botnya mengetuk-ngetuk papan kayu saat ia berlari. Erin tahu ia sedang dikuntit. Lagi-lagi. Erin merasakan tatapan seseorang menusuk punggungnya, bahkan di saat sedang berlari mencari perlindungan yang ia tahu takkan ia temukan. Seorang nelayan yang tengah mundur sambil memegang galahnya bertabrakan dengan Erin yang sedang berlari. Nelayan itu mengumpat, namun Erin hanya sanggup mengangkat tangan dan berseru, "Maafkan aku! Maaf." Tak ada waktu. Tak ada waktu untuk bersikap sopan. Tak ada waktu untuk merasa khawatir karena telah membuat penduduk setempat kesal. Tak ada waktu untuk apa pun selain mencari tempat bersembunyi. Untuk berada di luar jangkauan pandang. Perkampungan tradisional nelayan itu dipadati wisatawan yang ingin menikmati suasana musim semi. Bagian depan toko-toko yang didesain secara antik diusahaakan agar tampak sebagaimana penampilan mereka dua ratus tahun lalu. Batu-batu bulat digunakan untuk melapisi jalan utama, dan setiap pintu diganjal agar terus terbuka sehingga memperbesar kemungkinan menarik orang-orang berbelanja secara spontan. Erin sudah di kota tersebut selama satu minggu; mencari tempat pelarian dari jalan-jalan New York yang 8 padat dan mendadak menjadi menakutkan. Dibesarkan di California, Erin sudah tinggal di Manhattan selama bertahun-tahun. Sebenarnya ia lebih merasa kerasan dengan suasana kota besar, tapi beberapa minggu terakhir banyak yang sudah berubah. Harus kuakui, pikir Erin, banyak yang sudah berubah sejak lima tahun lalu. Pada ulang tahunnya yang ke-25, ia menerima sepucuk surat dari ibu kandung yang tak pernah dikenalnya. Beliau memberi peringatan bahwa pada hari ulang tahun yang ketiga puluh, ayah kandung Erin akan datang menemuinya, mencuri kemampuan paranormalnya, kemudian membunuhnya. Kini dengan hanya tiga minggu tersisa sebelum umurnya menginjak tiga puluh, hidup Erin menjadi semakin mengerikan. Terutama sejak seseorang mendorongnya dari trotoar ke jalan raya di Brooklyn, tepat saat sebuah bus tengah melaju. Erin berhasil menghindar, berkat kecepatan gerak Samaritan-nya. Namun sejak hari itu, ia merasakan mata-mata mengawasinya. Mengikuti setiap gerakannya. Erin kira ia akan aman jika bersembunyi di perkampungan kecil yang hanya berjarak setengah jam dari perbatasan Kanada ini. Ternyata, ia salah. Erin meraih tiang lampu dengan tangan kanan, dan menggunakannya untuk berayun memutari sudut jalan. Begitu tangan Erin menyentuh logam hitam dingin tersebut, kepalanya dipenuhi gambaran orangorang yang telah menyentuh tiang itu sebelumnya. Penglihatan-penglihatan dengan cepat bergantian 9 melintasi kepalanya, sampai ia hampir tak bisa membedakan satu sama lain. Laki-laki tua, wanita-wanita muda, anak-anak lelaki, mengukir inisial-inisial mereka ke cat hitam itu. Para pemabuk yang bersandar di tiang, sepasang muda-mudi yang bersandar, bibir mereka terkunci dalam ciuman panas—Erin melihat mereka semua dalam kilasan cepat walaupun ia sudah berusaha menghalaunya. Jangan sekarang, pikir Erin liar, berusaha sekuat tenaga mengusir bayangan-bayangan paranormal yang membanjiri kepalanya. Biasanya, Erin dapat mengatasi banjir penglihatan yang memenuhi kepalanya setiap kali ia menyentuh sebuah benda sekilas. Ia belajar untuk berhenti, membiarkan gambar-gambar muncul dan hilang sesuai waktunya sendiri. Hari ini, ia tak bisa diganggu. Bahkan tidak sedetik pun. Erin menggeleng-geleng, tersandung, mengayunkan lengannya untuk menyeimbangkan tubuh, kemudian bergegas melintasi jalanan berbatu tersebut. Melesat masuk dan keluar dari kerumunan selagi melewati toko demi toko. Yang mana? Ke mana ia harus pergi? Di mana ia akan aman? Kemudian satu toko tampak menonjol dibanding yang lain. Cat biru lembut, tirai abu-abu, dan jendela depan yang berpijar dengan lukisan keemasan bertuliskan The Ancient Sea. Sepatu botnya tergelincir, kemudian menjejak di jalan berbatu tersebut selagi ia bergegas masuk. Firasat mendorongnya memilih toko ini di antara yang lain, dan ia sedang tidak ingin berdebat. Di samping itu, yang terpenting ia keluar dari jalanan, dari jangkauan pandang, sebelum 10 siapa pun yang mengawasi di dermaga tadi bisa menemukannya lagi. Lonceng di atas pintu berbunyi ketika Erin menginjak keset "selamat datang". Wanita tua di belakang konter memandangnya dengan tatapan curiga sembari mengangguk sekilas. Erin tidak dapat menyalahkan wanita itu yang menampakkan wajah tidak senang saat melihatnya. la pasti terlihat setengah sinting saat ini. Tuhan tahu seperti itulah perasaannya sekarang. Kehabisan napas, ketakutan, bingung. Demi Tuhan, ke mana ia bisa pergi? Apa yang harus ia lakukan? "Selamat datang," wanita itu berkata, meskipun intonasi suaranya sama sekali tak hangat. "Jika aku dapat membantumu mencari sesuatu, silakan bertanya." Tentu, pikir Erin frustrasi. Ia memandang ke belakang melalui bahunya ke arah jendela besar yang menghadap jalan. Bantu aku mencari tahu alasan kenapa seseorang berusaha mengejarku. Sambil menelan ludah dengan susah payah, Erin berjalan tanpa arah menyusuri lorong yang disesaki barang-barang, dan membiarkan tatapannya menyapu rak-rak dan kotak-kotak pajangan berisi benda-benda antik. Ada tema laut pada setiap benda di toko tersebut— dari sanalah nama toko itu diambil, pikir Erin. Ia berhati-hati untuk tidak menyentuh apa pun, kalau tidak ia akan terbenam lagi dalam rentetan lain penglihatan paranormal. Erin lalu berjalan ke belakang toko sambil menjaga kepala tetap menunduk dan bahu membungkuk, dengan harapan bisa menghilang meskipun sia-sia saja. 11 Biasanya, Erin cenderung menghindari toko-toko antik. Dengan "bakat" yang dimilikinya, benda-benda antik terlalu melelahkan baginya. Terlalu banyak kenangan. Terlalu banyak jejak energi yang ditinggalkan pemilik dari generasi-generasi sebelumnya. Tapi hari ini, entah mengapa, ia telah memilih toko ini di antara toko-toko yang lain untuk bersembunyi. Udara di dalam toko berbau lavendel dan sup ayam. Kombinasi yang ganjil, namun entah mengapa, terasa menenangkan. Guna menstabilkan detak jantungnya, Erin membutuhkan satu-dua menit untuk berkonsentrasi. Memaksakan diri untuk mengambil napas dalam-dalam, perlahan-lahan. Perasaan panik yang menjadi teman dekatnya belakangan ini, melingkari relung perutnya dan menggeram mengancam, tapi Erin tidak akan menyerah. Tidak akan jatuh hancur. Tidak di sini. Tidak sekarang. Erin tidak punya waktu. Ia harus berpikir. Harus mencari cara untuk mengatasi perubahan mendadak yang telah menjadi bagian hidupnya. Baru tiga minggu yang lalu, Erin bekerja sebagai kepala koki di DelVeccio's, restoran kecil nan trendi di Village. Ia telah membangun reputasinya dalam kreativitas dan kesempurnaan, dan restoran itu baru saja naik daun. Lalu suatu hari, semua itu berantakan. Lonceng di atas pintu toko kembali berbunyi, Erin pun berhenti dan membeku; setengah tersembunyi di balik kotak pajangan penuh ukiran scrimshaw dan bola gelas warna-warni yang pernah menghiasi jaring nelayan. Erin mengintip dari balik patung dada 12 Ancient Mariner yang diukir dari kayu apung dan dipelitur mengilap, kemudian mengembuskan napas lega ketika melihat dua wanita berumur bincang riang sambil memasuki toko tersebut. Baiklah. Siapa pun penguntitnya tadi, Erin yakin pasti bukan kedua wanita itu. Tak mungkin mereka bisa mengimbangi kecepatannya. Tidak secepat Erin sewaktu berlari menyusuri Main Street tadi. Karena tak seorang pun memasuki toko setelah wanita-wanita itu, mungkin ia sudah berhasil melarikan diri dari penguntitnya. Tapi jika memang betul, itu tak akan lama. Ukuran kota ini tidak begitu besar. "Bodoh," gumam Erin, memutar badan menghadap rak terjauh di belakang toko. "Jika tidak bisa melarikan diri di Manhattan, apa yang membuatmu berpikir bisa melakukannya di sini?" "Maaf," penjaga toko tadi muncul di sampingnya dan bertanya, "apakah Anda berbicara dengan saya?" "Tidak, maaf," jawab Erin dan memaksakan diri tersenyum, meskipun ia yakin senyum itu terlihat sama menakutkannya dengan perasaannya. "Saya hanya menyuarakan pikiran saya." "Baiklah." Wanita yang berumur sekitar tujuh puluhan itu, mengenakan kaftan merah panjang yang melayang-layang di atas celana panjang hitam. Rambutnya yang seputih salju dengan rapi digelung model Prancis. di belakang kepala. Mata birunya mengamati Erin untuk waktu lama, sebelum akhirnya bertanya, "Saya perhatikan Anda sedang melihat-lihat scrimshaw. Apakah ada yang dapat saya tunjukkan?" "Emm, tidak, terima kasih. Saya benar-benar sedang 13 melihat-lihat saja." Dan bersembunyi dari siapa pun yang sedang berada di luar pintu itu. Mungkin berada terlalu lama di satu tempat juga tidak aman. Tapi sepertinya Erin tidak sanggup memerintahkan dirinya sendiri untuk berjalan keluar melalui pintu itu. la harus tetap di sini. Tapi untuk berapa lama? "Baiklah. Tapi tolong berhati-hatilah di antara barang- barang antik ini," kata penjaga toko itu, dan dengan tenang bergerak menjauh untuk menawarkan bantuan pada kedua wanita berumur tadi yang sedang memperdebatkan peti penyimpan teh dari kayu jati. Erin menarik napas dan memandangi rak-rak di sekelilingnya yang dipenuhi barang-barang. la bertanya- tanya apakah wanita penjaga toko akan keberatan jika ia menetap di tokonya, bersembunyi selama satu atau dua bulan. Tapi segera setelah memikirkan hal itu, Erin sadar bahwa bersembunyi bukan jalan keluarnya. Siapa pun penguntitnya, dia pasti akan menemukan Erin lagi. Dan jika tetap tinggal di toko itu, Erin akan terperangkap. Tapi bukankah ia sudah terperangkap? Ia tidak aman di rumah, dan melarikan diri sama sekali tidak membantu memperbaiki situasi. Yang dibutuhkannya adalah jawaban-jawaban. Jawaban-jawaban yang masuk akal. Jawaban-jawaban mengenai ibu kandung yang menghubunginya entah dari mana untuk memperingatkan bahaya yang Erin sendiri tidak tahu bagaimana harus hadapi. Erin menjauh dari jendela depan yang lebar dan bergerak semakin jauh ke belakang toko yang agak gelap. Di dekat meja kasir, ketiga wanita itu tengah 14 berbincang, suara mereka merupakan dengung stabil yang menenangkan sekaligus menjengkelkan. Sambil menghindari jangkauan sinar matahari, Erin melangkah ke sudut gelap tempat barang-barang antik yang kurang mengesankan disusun di rak dengan asal-asalan. Kantong-kantong tembakau kulit yang sudah mengelupas dijejalkan berdampingan dengan alu dan lumpang. Cangkir-cangkir dan mangkukmangkuk kayu disatukan dalam tumpukan tak beraturan, dan piring lebar dari timah kusam tergeletak di bawah lampu remang-remang. Tak satu pun benda di situ yang sanggup menarik minat siapa pun. Tak satu pun dapat memicu imajinasi atau menyulut keingintahuan. Namun entah mengapa, Erin merasa ditarik ke rak belakang. Tatapannya terpaku pada ujung gagang pisau gading yang setengah tersembunyi piring timah. Jari-jarinya gatal ingin menyentuh pisau itu bahkan di saat pikirannya berusaha mencegah. Satu sentuhan dan ia tahu kenangan- kenangan yang terkunci di senjata itu akan terlihat. Ia akan melihat orang yang telah menggenggamnya, menggunakan, dan mengenakan senjata itu. Walaupun begitu... Erin tetap bergerak mendekat, napasnya tertahan selagi tatapannya terpaku pada benda itu. Ada sesuatu mengenai pisau itu. Sesuatu yang memanggil Erin. Gagang gading pisau itu diukir rumit, walaupun sudut-sudutnya telah dimakan waktu. Erin membungkuk ke depan, jantungnya berpacu. Ia meneliti desain di benda kekuningan itu dan mengenalinya sebagai ukiran lumba-lumba yang berada di atas ombak. 15 "Pelaut, kalau begitu," bisik Erin, suaranya tak lebih dari sekadar bisikan. Ketika diperhatikan pinggiran pisau itu bersinar, seakan-akan selama ini tergeletak di keremangan toko, menunggu Erin datang dan menemukannya. Pikiran itu membuatnya terpaku selama beberapa detik. Inikah alasannya memilih toko itu sebagai tempat persembunyian? Apakah kemampuan paranormalnya menguat? Apakah ia telah mengembangkan kemampuan paranormalnya lebih dalam lagi? Apakah itu hanya kepingan lain dari teka-teki yang mengelilinginya selama beberapa minggu terakhir? "Ya Tuhan. Aku tidak tahu berapa banyak lagi yang dapat kutanggung." Erin sanggup menangani bakat "sentuh dan lihat" yang dimilikinya. Tapi ia tidak menginginkan tambahan kemampuan. Meskipun demikian, Erin tetap tidak mampu mengabaikan dorongan untuk menyentuh pisau itu. Entah karena takdir atau kebetulan semata yang membuatnya terdampar di sana, pisau itu jelas menyimpan sesuatu. Ia menarik napas gemetar sekali lagi dan tangannya mengelilingi gagang gading itu, menarik pisau itu keluar dari kegelapan menuju cahaya. Tulang gading yang dingin dan berukir itu menghangat di tangannya. Erin mempererat genggaman, menghela napas dalam-dalam dan menunggu, mencoba bersiap-siap menghadapi apa pun yang akan terjadi. Tapi tidak ada yang dapat mempersiapkannya. Tiba-tiba, dunia Erin bergerak, hancur, dan kembali utuh. Setelah mengalami penglihatan-penglihatan 16 yang begitu nyata sepanjang hidup, ia sudah mulai terbiasa dengan hal itu. Namun kali ini, pikir Erin selagi merasakan angin meniup rambut dan air laut menciprati wajah, pengalamannya terasa berbeda. Lebih nyata. Lebih langsung. Toko antik yang sesak itu menguap menjadi kabut, dan Erin terkesiap saat terjungkal ke dalam penglihatannya. Orang-orang berteriak di sekelilingnya, suara mereka melengking menyaingi deru angin dan hempasan ombak yang memukul lambung kayu kapal. Malam tanpa bulan sehitam bagian dalam tas. Namun, ada percik-percik sinar. Lentera-lentera yang bersinar liar karena angin, bayangannya berpindah-pindah di kapal serta di wajah para awak kapal yang dengan kalut berusaha menyelamatkan kapal itu dari badai. Erin memutar tubuhnya perlahan. Ia merupakan bagian sekaligus terpisah dari adegan tersebut. Di salah satu sisi kapal, ada kapal lain yang tengah bertarung melawan amukan badai yang sama dan teriakanteriakan awak kapal mengambang bagaikan hantu di atas angin. Erin mengalami lonjakan emosi liar saat rasa takut dari masa lalu itu memenuhi dirinya. Secara logis, ia tahu dunia ini dan semua pria yang sedang berteriak-teriak dan bertarung melawan badai demi keberlangsungan hidup mereka itu telah menguap menjadi kabut dalam pusaran waktu, beratusratus tahun yang lalu. Tapi kini, Erin berdiri di geladak kapal yang sedang 17 berguncang dan tersiram semburan air laut yang sedingin es. Terperangkap dalam kenangan yang tersimpan di pisau bergagang gading tersebut, Erin merasakan angin mengacak-acak rambutnya dengan jari-jari yang dingin dan kuat. la merasakan pusaran teror mencengkeram para awak yang sudah mati sejak lama itu. Ketidakberdayaan mengguncang Erin saat terpaksa mengakui bahwa tak ada lagi yang dapat ia lakukan untuk mengubah penglihatan yang membanjirinya. Tidak ada jalan baginya untuk menolong orang-orang itu dan mengurangi rasa takut mereka. Erin menghirup napas dalam-dalam, dan mendongak melihat orang-orang yang sedang memanjat tiang serta bergegas menggulung layarnya sebelum robek. Erin melihat orang-orang tergelincir dan terjatuh di geladak kapal yang basah, berteriak-teriak meminta pertolongan dan memohon-mohon kepada Tuhan. Kemudian pria itu melangkah ke dalam jarak pandang Erin. Tinggi, dengan bahu yang cukup lebar untuk dilandasi pesawat terbang. Pria itu mengenakan celana panjang kulit warna cokelat, kaus putih berlengan panjang, dan sepatu bot setinggi lutut. Rambut cokelat gelapnya diikat di tengkuk dan tergerai hingga ke tengah punggung. Mata hitamnya menyapu ke penjuru geladak dan dia meneriakkan perintah-perintah sambil berjalan dengan langkah mantap menuju pinggiran kapal. Pria itu membungkuk melawan angin, matanya menyipit ke arah badai yang mengamuk, seakan-akan berusaha mengukur bahaya yang sedang mereka hadapi. Tidak ada rasa takut dalam ekspresi wajahnya, yang 18 ada hanya ketenangan. Erin tidak perlu melihat pisau bergagang gading yang terselip di pinggang pria itu untuk memastikan bahwa dialah pemilik pisau yang masih digenggam Erin dengan sangat erat itu, sehingga membuat jari-jarinya kesakitan. Bagaimanapun di sanalah pisau itu kini berada, bersinar dengan terangnya dalam kegelapan. Hadir baik di masa lalu maupun di masa kini, tempat Erin kini berada di toko antik di Maine. "Manolo!" teriak pria itu sambil menyambar tali panjang dari pinggir kapal dan membelalakkan matanya ke arah pria lebih kecil yang tergelincir di geladak, "venido aqui!"1 Manolo bergegas menghampiri pria itu. "Lleve la cuerda el arco de la nave. '2 "Si, si, Senor Santos,"3 seru pria pendek itu. la kemudian mengambil tali dari Santos dan membawanya sambil berlari menyusuri kapal. Santos. Nama pria itu Santos, pikir Erin. Erin sepenuhnya terperangkap di dalam pria itu dan dunianya di tengah-tengah pertarungan melawan kematian. Energi Santos membekas begitu kuat pada pisau tersebut, seolah-olah jiwanya memenuhi benda itu, memberi Erin kilasan masa lalu yang jauh lebih nyata dibanding apa pun yang pernah ia alami sebelumnya. Erin mendadak berharap ia bisa berbicara bahasa Spanyol. Dapat mengerti apa yang dikatakan semua orang—baiklah, terutama apa yang dikatakan Santos. 1 Kemarilah! 2 Tarik tali itu. 3 Ya, ya, Senor Santos. 19 Tapi sementara penglihatan memutari Erin dan para awak kapal berlutut memohon kepada Tuhan, Erin tahu bahwa itu sia-sia saja. Apa pun yang Santos alami—masanya telah berlalu. Dan saat ia sadar bahwa pria dengan penampilan yang sangat mengagumkan itu tak lebih dari sekadar kenangan, hatinya seperti terkoyak. Erin merasa berduka—walaupun pria itu berdiri tak jauh darinya. Begitu hidup, kuat, dan mengagumkan. Pria itu berbalik dan menatap langsung ke mata Erin. Mata gelapnya melebar terkejut dan ia melangkah mendekat. "Que?"4 "Tidak," Erin berbisik dan menelan ludah susah payah. "Ini tak mungkin. Kau tidak mungkin bisa melihatku. Penglihatan-penglihatan ini hanya berlaku satu arah." "Cuales son usted?"5 tanyanya, masih memandang Erin seakan-akan wanita itu jatuh dari surga dan mungkin seperti itulah yang tampak di mata Santos. Tapi bagaimana mungkin itu terjadi? Bagaimana mungkin pria itu bisa melihatnya? Bagaimana mungkin ada kontak yang bisa terjembatani melintasi berabad-abad kehidupan? Dan apa yang sebenarnya dikatakan pria itu? "Ini tidak mungkin terjadi," kata Erin lalu melangkah mundur sambil menggeleng seakan-akan tindakan itu dapat meyakinkannya bahwa semua itu tidak pernah terjadi. 4 Apa? 5 Siapa kau? 20 "Como usted consiguo aqui?"6 tuntut pria itu, kekuatan suaranya mengalahkan amukan badai. Sepertinya ia pria yang terbiasa memberikan perintah dan melihat perintah-perintahnya dipatuhi. Erin tidak bisa memberikan apa yang dimintanya. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan pria itu. Dan untuk sesaat, Erin merasakan tohokan kekecewaan dan rasa duka mendalam mengguncang jiwanya. Pria itu begitu nyata. Hidup. Lebih hidup dari penglihatan apa pun yang pernah dialaminya. Namun, di masa Erin, tulang-tulang pria itu telah berubah menjadi debu, jauh sebelum Erin lahir. Dan kesadaran itu memenuhi diri Erin dengan perasaan kosong yang mengancam akan menelannya, sepasti samudera yang sedang berusaha menelan kapal masa lalu tersebut. "Kau benar-benar bisa melihatku." Mata hitamnya menyipit saat memandang Erin. "Esta usted un angel?"7 Tuhan, kenapa ia belajar bahasa Prancis dan bukannya bahasa Spanyol waktu di SMA dulu? Kapal itu dihempas dan digulung ombak yang menabrak lambung kapal, menyipratkan air sedingin es ke atas geladak. "Que usted desean?"8 Aneh. Dan mengejutkan. Sama mengejutkannya ketika melihat pria lain datang dari belakang Santos dan menarik pisau bergagang gading dari ikat pinggang lelaki itu. 6 Bagaimana kau bisa ada di sini? 7 Apakah kau malaikat? 8 Apa maumu? 21 "Santos, awas!" seru Erin, tapi sudah terlambat. Dengan perhatian yang teralihkan, Santos tidak sempat mencegah si penyerang menikamkan pisau bergagang gading itu ke punggungnya. Santos membungkuk dengan perasaan marah dan pedih—menatap Erin seakan-akan semua itu kesalahannya. Erin tidak dapat melakukan apa pun untuk pria itu, bahkan ketika penyerang yang menggenggam pisau penuh darah tersebut pergi menjauh sambil berteriak, "Para el honor de mi reina!"9 Erin menghampiri Santos, meskipun ia tahu itu sia-sia belaka. Selagi ia berdiri sebagai pengamat tanpa daya yang terperangkap di masa lalu, ombak yang sangat keras menyapu pinggir kapal dan menarik Santos dari geladak sebelum akhirnya menelan pria itu ke balik permukaan air yang hitam dan bergejolak. Erin menghirup udara dalam-dalam dan melawan keinginan untuk menumpahkan air mata akibat perasaan kehilangan yang sangat mengguncangnya. Tapi sebelum Erin sempat menjatuhkan pisau, penglihatan lain membanjiri kepalanya, membawanya dalam perjalanan roller coaster berisi warna-warni buram, suara-suara memekakkan telinga, dan emosi-emosi mengguncang. Ia melihat Santos lagi. Rambut pria itu lebih pendek, walaupun masih terikat di belakang leher, kucir rambutnya hanya mencapai bahu sekarang. Dia mengenakan celana panjang hitam, sepatu bot hitam usang, dan mantel hitam panjang yang berkibar di 22 9 Demi kehormatan ratuku! sekitar kaki panjangnya selagi bergerak anggun bak macan hitam yang sedang berburu. Erin terkejut melihat adegan di hadapannya. Pria yang dilihatnya meninggal beberapa saat lalu, kini tengah bertarung dengan lawannya bagaikan ahli pedang. Pedangnya yang panjang menyerang pria dengan kobaran api di matanya yang lebih kecil dan lebih lincah itu. Santos tertawa sambil mengedikkan kepala, menikmati pertarungan tersebut, bergairah menghadapi tantangan, bahaya itu. Erin dapat merasakan kegembiraan Santos saat menghadapi pertarungan tersebut. Kepercayaan diri luar biasa pria itu pada kemampuannya sendiri, dan Erin ingin ikut tertawa bersamanya. Tapi apa yang sedang terjadi? Apa yang ingin ditunjukkan penglihatan- penglihatan itu? Penglihatan-penglihatannya tak pernah terputus-putus seperti ini sebelumnya. Tidak pernah menampakkan pria yang sudah meninggal hanya untuk menunjukkan bahwa pria tersebut masih hidup dan baik-baik saja, kemudian... Erin melihat ke sekeliling dan matanya menangkap papan jalan kecil berwarna hijau dan putih... San Diego? Erin berdiri di jalanan kota modern, berusaha mencari penjelasan logis mengenai penglihatannya. Ini tak mungkin nyata. Pria itu telah meninggal berabad-abad lalu. Namun disinilah dia sekarang, pada masa kini. Masa Erin. Sehat. Hidup. Mata hitam pria itu masih sama. Sosoknya lebih keras dan tegap, tapi itu memang Santos. Pria yang dilihatnya di kapal waktu itu. Pria yang telah berhasil 23 melintasi jarak ratusan tahun untuk melakukan kontak dengan Erin sesaat sebelum kematiannya. Pria yang dilihat Erin telah tertusuk dan tenggelam. "Lain waktu lagi, Penjaga!" seru pria kecil itu kesal. Pertarungan pedang tersebut kemudian berakhir dengan pergantian warna dan cahaya yang mengabur. Santos pun kembali sendirian di bawah pijar kuning lampu jalanan yang redup. "Iblis pengecut," gumam Santos sambil menaruh kembali pedangnya ke dalam sarung di balik mantel hitam panjang. "Melarikan diri dari pertarungan. Apa sudah tidak ada lagi yang memiliki kehormatan?" "Iblis?" Erin berbisik, bertanya-tanya apa yang sedang dibicarakan pria itu. Santos memutar badan, lalu menuruti firasatnya ia menarik sebilah pisau dari sabuk sambil membungkuk sementara mantel hitamnya yang panjang berkibar. Ia mengumpat, menyipitkan mata, dan menatap langsung ke mata Erin sebagaimana yang pernah dilakukannya di kapal dulu saat badai. Sungguh mustahil, tapi pria itu lagi-lagi seperti langsung menatapnya. "Kau?" Kali ini ia berbicara dalam bahasa Inggris. Sambil bangkit perlahan, Santos tetap memegang erat pisaunya dan mengambil satu langkah mendekati Erin. "Siapa kau sebenarnya? Dari mana kau datang?" "Ini tidak mungkin terjadi," bisik Erin. Seketika Erin menjatuhkan pisau bergagang gading itu, dan berakhir pulalah penglihatan tersebut. Sedetik kemudian ia mendapati dirinya kembali berada di 24 toko antik di Maine. Ia terbaring di lantai ubin yang dingin, mendongak ke arah pemilik toko yang tidak tampak terlalu senang melihatnya. "Apakah Anda terserang penyakit atau apa?" tuntut pemilik toko itu. Erin mengembuskan napas dan berusaha memusatkan perhatian. Keluar dari penglihatannya selalu sedikit melelahkan, dan kali ini ia merasa seakan-akan baru lari maraton. "Ha? Apa? Serangan penyakit?" "Anda kenapa? Amnesia?" "Tidak," jawab Erin dan mengangkat tubuhnya dengan siku. "Kenapa saya ada di atas lantai?" "Karena Anda terjatuh lemas seperti pingsan," wanita itu menjelaskan, dan kedua pelanggan berumur yang dilihat Erin sebelumnya mengangguk setuju. "Itu benar sekali, Sayang," ujar salah satu wanita itu sambil mengangguk cepat, "Anda terjatuh. Membuat aku dan saudara perempuanku ketakutan setengah mati." "Jadi," si pemilik toko berkata keras-keras, "jika Anda berpikir untuk menuntut saya mengenai hal ini, pikirkanlah lagi," wanita itu memperingatkan. "Saya punya kamera pengamat, Nona. Dan saksi-saksi. Anda tidak terpeleset karena apa pun. Anda hanya tiba-tiba terjungkal tanpa sebab." Oh, demi Tuhan. "Aku tidak akan menuntut," Erin meyakinkannya, dan duduk perlahan-lahan karena perutnya terasa sedikit mual. Penglihatan-penglihatan selalu membuat perutnya terganggu. 25 "Ini sudah jam tutup toko," tukas wanita tua itu. la jelas bukan wanita yang ramah ketika berkata, "jadi menurut saya sebaiknya Anda pergi." "Yeah." Erin memungut pisau dari lantai dengan hati-hati. Setengah berharap penglihatan-penglihatan tadi muncul lagi. Tapi kini, pisau itu diam saja, seakan-akan benda itu telah menunjukkan semua yang dapat ditunjukkannya, dan sekarang Erin sendirian. Baiklah, tidak apa-apa. Setidaknya ia tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Ke mana ia harus pergi. Erin berdiri dan berkata, "Saya ingin membeli pisau ini sebelum pergi. Berapa harganya?" "Saya periksa dulu," jawab wanita tua pemarah itu sementara matanya bersinar-sinar. Ia mendahului menuju meja kasir, dan Erin tahu kartu VISA-nya akan mengeluarkan uang yang sangat besar. Tapi itu tak jadi masalah. Erin telah menemukan pria yang dapat menolongnya. Ia langsung tahu melalui firasatnya. Seperti halnya ia tahu bahwa meskipun telah meninggal berabad-abad yang lalu, Santos masih hidup sekarang. Dan Erin tahu ke mana harus mencari. San Diego, California. 26 2 SANTOS menguntit sepanjang malam sambil menjaga konsentrasi legendarisnya terfokus pada target, iblis yang melarikan diri dari pertarungan mereka tadi pagi. Lebih baik begitu, daripada berusaha memahami bagaimana wanita misterius tadi tiba-tiba muncul di hadapannya. Lagi. Santos tidak pernah melihat wanita itu lagi selama lebih dari lima ratus tahun. Belum pernah ia mengalami saat-saat seperti sekarang. Melihat mata hijaunya saja membuat Santos kehilangan arah—persis seperti detik-detik menjelang kematian Santos berabad-abad lalu. Siapakah wanita itu? Apa yang dia inginkan? Dan ke mana dia pergi? "Tidak penting," ujar Santos, berharap dapat memercayai kata-kata itu. Wanita itu tak berarti apa-apa baginya. Tak lebih dari sekadar pengalih perhatian, 27 a eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com MR. Collection's mungkin direncanakan iblis yang tengah ia lawan sekarang. Sebagai Penjaga Abadi, Santos dan teman-teman sesama prajurit mempunyai kekuatan yang diberikan Zat Pencipta mereka. Setiap Penjaga bertugas melindungi gerbang-gerbang yang menuju dimensi iblis, dan menangkap serta mengirim iblis-iblis yang berhasil masuk ke dunia kembali ke neraka. Dan sebagaimana para Penjaga, iblis juga berbedabeda. Masing-masing memiliki kekuatan yang tidak dimiliki iblis lain. Makhluk-makhluk itu ingin terbebas dari dimensi mereka agar bisa membunuh, menyebar konflik, mencemarkan kemanusiaan, dan menciptakan kekacauan. Para Penjaga merupakan satu-satunya makhluk yang berdiri di antara iblis dan dunia fana. Perhatian Santos tidak boleh teralihkan dari tugas yang dibebankan kepadanya. Iblis kecil itu berhasil kabur sebelumnya—setelah Santos menangkap si majikan. Dan meskipun iblis kecil itu bukan ancaman serius bagi kemanusiaan, keberadaannya di dunia tidak dapat diterima. "Bajingan kecil," gumam Santos sambil memasuki sebuah gang. Ia hampir tak mencium bau busuk sampah yang berserakan dari tong sampah besar dekat dinding batu bata. "Kebanggaan macam apa yang didapat dengan melarikan diri dari pertarungan?" Tapi bahkan saat memikirkannya, Santos harus mengakui keironisan pernyataan tersebut. Iblis? Kebanggaan? Kedua kata tersebut sama sekali tak berkaitan. Namun, selama lebih dari lima ratus tahun mela- 28 wan dunia kegelapan, ia baru sadar bahwa ternyata iblis yang paling jahat pun memiliki "aturan" sendiri. Memang Santos atau teman-teman Penjaganya tidak akan mematuhi aturan tersebut, tapi bagaimanapun itu tetap aturan. Berabad-abad menjalani kehidupan dan menghadapi arus pertarungan yang konstan telah mengajari Santos agar jangan pernah menyepelekan lawan. Jadi di sinilah ia sekarang, di tengah-tengah gang di San Diego, mengikuti jejak energi iblis yang telah melarikan diri. Santos tak pernah gagal menangkap target, dan sekarang pun tidak. Suara langkahnya yang tenang dan hati-hati lenyap ditelan kebisingan kota. Seekor tikus melesat menjauhinya. Lalu lintas berdengung di jalan-jalan besar. Para wisatawan hilir-mudik di sepanjang trotoar, tertawa dan berbincang. Tak satu pun dari mereka yang diterangi sinar lampu bisa menduga apa yang sedang terjadi di balik bayang-bayang. Tapi keadaannya selalu seperti itu. Mereka yang hidup aman dan nyaman jarang menyisihkan waktu untuk memerhatikan mereka yang berada dalam kegelapan. Dan itu biasanya membuat tugas Santos lebih mudah. Mendadak Santos berhenti di mulut gang dan mendongak menatap langit malam. Bulan tertutup awan sebagian, masih menyisakan secercah cahaya keperakan yang bersinar bak berlian. Bintang-bintang hampir tak terlihat, dikalahkan cahaya terang lampu kota. Tapi apa itu penting? Manusia jarang melihat ke luar diri mereka sendiri. Ia ragu ada yang mau bersusah payah 29 menatap langit. Santos menggeleng dan menatap jalanan lagi, memerhatikan kerumunan, mencari jejak iblis. Namun Santos tidak bisa melihat apa-apa dari tempatnya berdiri, ia pun bergerak memasuki kerumunan. Tapi sebelum itu, Santos melambaikan sebelah tangan, menciptakan dinding energi di sekelilingnya yang dapat membuat ia tak terlihat. Sekarang ia dapat bergerak melewati orang-orang, tanpa ada yang memerhatikan. Tak seorang pun yang akan pernah tahu bahwa Penjaga Abadi telah berjalan di antara mereka, menyusuri jejak iblis yang menimbulkan masalah dan menangkapnya. Tak seorang pun akan menyadari bahwa kehidupan ini lebih dari sekadar biasa. Santos menggeleng dan menghirup udara laut dalam-dalam. Ia mulai muak dengan kota ini. Udara lembap dan dingin menusuk tulangnya. Kerumunan wisatawan yang tanpa akhir membuatnya tercekik. Deretan rumah dan mobil membuatnya kesal. Ia merindukan rumahnya di Barcelona. Walaupun rumahnya di sana berada di puncak bukit yang menghadap laut, udaranya sejuk tanpa sensasi lembap yang menggerahkan seperti di sini. Darahnya tercipta untuk Spanyol. Hawa panas, terik matahari, dan rasa keterbukaan di Spanyol membuatnya tidak kerasan di sini. Santos mengalihkan pandangan dari pria tunawisma yang terhuyung-huyung di belakang kereta belanja, dan berganti mengawasi malam. San Diego mungkin dianggap menyenangkan untuk jadi tempat tinggal. Tapi bagi Santos, San Diego sama saja seperti 30 kota-kota lain, kota dengan daerah-daerah kumuhnya yang gelap dan berbahaya. Segera setelah memungkinkan, Santos akan menaiki pesawat jetnya dan balik ke rumah. Tadinya ia berencana untuk tinggal di San Diego sebentar saja, setelah membuntuti iblis itu dari Meksiko. Ia berharap dapat pergi langsung ke bandara setelah berhasil menangkap iblis tersebut. Ternyata, Michael, pengatur para Penjaga, meminta Santos untuk tetap tinggal. Penjaga sebelumnya yang melindungi San Diego untuk waktu lama, akhirnya memutuskan untuk mengakhiri keberadaannya. Rasa perih menyentak Santos bagaikan cambuk, kemudian perasaan itu lenyap lagi. Penjaga itu, Stewart Marsh, merupakan temannya. Petarung tangguh. Penjaga yang telah menyingkirkan iblis-iblis dari daerah itu selama tiga ratus tahun. Santos mengerutkan dahi atas kehilangan tersebut, kemudian melupakannya. Tak ada waktu untuk rasa sakit. Untuk mengenang. Yang ada hanya pertarungan. Sampai Michael menunjuk Penjaga yang lain, daerah itu tak terlindung. Jadi Santos-lah yang harus berjaga di antara kota itu dan kegelapan. "Pertama-tama aku harus membereskan iblis itu terlebih dulu." Mata hitamnya bersinar selagi mengawasi kerumunan dekat halte tengah kota. Mencari detak lembut energi berwarna yang akan menggiringnya ke mangsa. Akhirnya, Santos melihat kilatan pucat kemerahan membentang di pepohonan yang membatasi taman 31 kecil di tengah kota. Sebetulnya tempat itu tidak tepat disebut taman karena tak ada cukup lahan di sana. Tempat itu lebih berupa daerah terbuka yang belum ditelan bangunan-bangunan rusak yang mengerumuni jalur tersebut. Bagi yang tinggal di sini, lahan kosong dengan semak belukar dan pohon ramping tidak berarti apa-apa. Tapi iblis itu jelas berusaha bersembunyi di sana. Santos berjalan keluar dari gang dan bergegas ke jalanan, tidak memperlambat langkahnya sedikitpun meskipun kendaraan lalu-lalang. la malah melompati atap kendaraan yang bergerak, tanpa disadari para pengemudi. Darah Santos mengalir lebih deras, detak jantungnya bergemuruh mengantisipasi pertarungan yang akan terjadi. Inilah yang membuat keabadian layak dijalani. Mengabdikan kekuatannya melawan dunia iblis, satu demi satu. Inilah yang membuatnya terus menjalani kehidupan yang dilepas kebanyakan pria karena merasa hampa berabad-abad yang lalu. Sebagaimana yang telah dilakukan temannya, Marsh. Bagi Santos, tak ada dunia lain selain dunia para petarung. la telah hidup dan mati dalam pertarungan, dan akan terus melakukannya sepanjang masa. Santos bergerak di bawah semburat kuning pucat lampu jalanan. la menyelinap di antara jajaran pepohonan yang sangat sempit. Inilah yang terjadi pada daerah pinggiran kota. Di lahan sempit ini, tempat pohon-pohon berjuang mempertahankan hidup, dan rumput-rumput mengering dan menguning. Tempat 32 semak-semak belukar tumbuh miring akibat tiupan angin yang membekukan, Santos tersenyum mencemooh dan sekali lagi membiarkan diri mengenang rumahnya sesaat. Bukit-bukit kecokelatan, gunung-gunung terjal pencakar langit, jalur-jalur berliku yang dapat dijelajahi seorang pria untuk merasakan kebebasan. Matahari memancarkan sinar terang di langit. Dataran luas dan terbuka mengelilingi rumahnya yang berada di puncak gunung. Hempasan ombak menerjang bebatuan di bawah. Lahan yang cukup bagi seorang pria untuk bernapas. Santos merindukannya dengan amat sangat dalam. Suara berdesir halus menarik perhatiannya, Santos pun berhenti. Kepalanya diangkat mengendus angin, dan tersenyum. Ia membelok ke kanan, merundukkan badan selagi menyusuri semak-semak tak beraturan hingga tiba di ujung semak hibiscus. Bunga-bunga merah muda cemerlang bermekaran di antara daundaun hijau yang berdebu, tapi ia tidak tertarik pada semua itu. Ia hanya tertarik pada apa yang ada di balik tanaman-tanaman tersebut. "Kau menguji kesabaranku, Makhluk Kecil." "Aku tidak akan pulang, Penjaga." Semak-semak kembali bergoyang, seakan-akan iblis itu berusaha membenamkan diri lebih dalam lagi di bawah dedaunan. Seakan-akan tindakan itu dapat melindunginya. "Aku tidak melakukan apa pun yang membuatmu perlu mengejarku seperti ini." Santos mengedikkan bahu. Ia sudah berkali-kali mendengar permohonan ampun dari mangsa-mangsa- 33 nya sebelum ini, dan tak pernah sekali pun tergerak untuk memaafkan. Kali ini takkan ada bedanya. "Kau masuk ke dunia ini, iblis. Tak seharusnya kau berada di sini. Itu sudah cukup beralasan." Semak-semak hibiscus itu bergoyang dengan gerakan liar, dan tiba-tiba iblis kecil yang berkulit gelap itu berdiri di hadapan Santos. Sebagaimana manusia, setiap iblis berbeda. Ada iblis-iblis menakutkan seperti di mimpi buruk—dan ada iblis-iblis seperti yang satu ini. Mengesalkan, tapi sulit dikatakan jahat. "Majikanmu sudah dikembalikan ke neraka." Itu pertarungan yang pantas dikenang, pikir Santos. Darahnya menggelegak saat mengingat pertarungan tersebut. Iblis itu bertarung sekuat tenaga, hingga putus asa. Makhluk yang berada dihadapannya kali ini tak akan memberikan kesenangan serupa. "Kau harus menyusulnya." "Lupakan bahwa kau telah melihatku," iblis itu berbisik frustrasi, "dan aku akan menghilang. Aku akan menjauhi daerah kekuasaanmu." Santos tertawa dan, sial, rasanya begitu menyenangkan. Jarang sekali ia mengakhiri perburuan dengan gurauan. "Iblis, dunia ini daerah kekuasaanku," jawabnya, walaupun kebenaran itu tidak terlalu tepat. "Dan kau bukan bagian dari duniaku." "Aku akan melawan." "Bagus," kata Santos sambil meraih pedang dari sarung. "Aku sempat mengira kau tak punya kehormatan sewaktu melarikan diri pagi ini. Aku senang melihat bahwa ternyata aku salah." Iblis itu tiga puluh senti lebih pendek dari Santos, 34 dan rambutnya yang hitam panjang terjuntai hampir ke tanah. Kaki iblis itu pendek dan bengkok, sedangkan lengannya berotot. Mata merahnya yang gelap terkunci pada Santos selagi menggumam, "Aku bisa melarikan diri lagi. Kau takkan bisa menemukanku. Kenapa tidak membiarkanku pergi saja, tidak usah membuat diri kita repot?" Santos mendesah. "Kau membuatku lelah. Kukira kau akan bertarung seperti—" Santos berhenti dan membiarkan kalimatnya menggantung. "Seperti seorang pria?" jelas tersinggung, iblis itu melangkah mundur, satu langkah pelan setiap kalinya. "Kau menghinaku." "Dan kau membuang-buang waktuku." Santos mengayunkan pedangnya lebar-lebar dan iblis kecil itu berusaha kabur lagi. Namun, kali ini Santos sudah siap menghadangnya. la mengaitkan jaring yang terbuat dari pintalan benang perak di ujung pedang dan menjatuhkannya di atas iblis itu sebelum dia sempat bergerak. Setelah terperangkap jaring Penjaga, iblis sudah tak berdaya dan tidak punya kekuatan lagi untuk melarikan diri. "Seharusnya kau tadi bertarung melawanku," kata Santos sambil menyarungkan kembali pedangnya dan merundukkan tubuh untuk mengencangkan jaring di sekeliling tangkapannya. "Itu akan menjadi tindakan terhormat." Iblis itu menggeliat, menendang-nendang dan menggeram, tapi tidak mampu melakukan apa pun selain melontarkan makian dan ancaman pada pria yang telah menangkapnya itu. 35 "Aku akan kabur lagi," janji iblis itu. Suaranya merobek udara malam seperti gelas pecah. "Dan jika itu terjadi, aku akan mencarimu dan membunuhmu. "Itu sudah kaucoba sebelumnya." Santos mengayunkan jaring berisi iblis itu ke belakang punggung dan keluar dari taman kota. Bergerak di antara bayangbayang, Santos menuju mobilnya. Tak akan butuh banyak waktu untuk mengemudi menuju gerbang dimensi iblis terdekat. Ada banyak gerbang iblis di dunia—masing-masing menuju berbagai jenis neraka. Tapi jejak energi yang melingkupi setiap iblis berlaku sebagai penanda—mencegah iblis-iblis itu berpindah dari satu neraka ke neraka lain. Setelah kembali ke gerbang, iblis tak punya pilihan lain selain kembali ke dunia asalnya. "Seandainya Tuhan memilih untuk mengunci gerbang- gerbang menuju dunia ini," gumam Santos keras- keras, kemudian mempertimbangkannya lagi. Jika itu dilakukan, apa yang harus dikerjakan para petarung? "Aku akan membunuhmu, Penjaga. Aku bersumpah. Aku akan menemukanmu dan menarik jantungmu. Aku akan mengenakan bola matamu di topiku. Aku akan—" "Diamlah, iblis!" geram Santos keras. "Ancamanancamanmu tak ada artinya. Tapi seandainya kau berhasil melarikan diri lagi—kalau mau mencariku," katanya, "datanglah ke Spanyol. Di sana kita akan bertarung seumur hidup, Makhluk Kecil." 36 * * * Pria itu sudah dekat. Erin dapat merasakan keberadaan pria itu. la menghabiskan satu jam terakhir menyusuri jalanan San Diego, membiarkan pisau bergagang gading itu menuntunnya. Tak ada penglihatan lagi, tapi gagang berukir itu masih terasa hangat saat disentuh, dan masih mendesak Erin dengan dorongan yang tak mampu dihalaunya. Pisau itu juga berfungsi seperti radar. Setiap kali ia salah jalan, Erin mengalami perasaan kehilangan. Tapi jika berjalan ke arah yang tepat, perasaan bahwa ia telah mengambil langkah yang benar membuncah di dalam dirinya. Seakan-akan pisau itu mengarahkan Erin ke pemilik asiinya. Mata Erin pedih dan setiap tulang tubuhnya terasa pegal. Erin tidak pernah berdiam diri sejak meninggalkan Maine sehari sebelum ke New York. Ia menegak red eye di La Guardia, mendarat di LAX, dan menyewa mobil. Dua jam kemudian ia tiba di San Diego. Hari sangat indah. Awan tebal bergerak melintasi langit yang sangat biru. Erin memandangi wisatawan yang menuju kebun binatang atau Sea World dengan perasaan iri. Ia berharap sedang dalam misi bersenangsenang. Ia berharap bisa menikmati hidupnya lagi. Sial. Ia hanya berharap bisa berbaring di suatu tempat dan tidur selama satu-dua hari. Usahanya untuk tetap terjaga selama 24 jam benar-benar tindakan gila. Tapi ia tidak bisa tidur. Tidak bisa lengah sekejap pun. Tidak sampai ia mendapat jawaban atas per- 37 tanyaan-pertanyaannya. Tidak sampai ia yakin tak seorang pun akan menyerangnya saat tidur. Dengan pisau antik di pangkuan, Erin menyetir mobil sewaannya di sepanjang jalan menuju Coast Highway. Rasa panas pisau itu membakar paha dan menembus jinsnya. Berarti, ia berada di jalan yang benar. Pohon-pohon besar tua mendoyong ke jalan membentuk lengkung dedaunan yang menghalangi sinar matahari. Pria itu sudah lebih dekat lagi sekarang. Erin bisa merasakan kehadirannya. Erin menyetir mobilnya di turunan dan tiba di jalan kecil pribadi. Ia menyetir perlahan di jalanan yang dibatasi pepohonan, meraih pisau dan menggenggamnya erat di tangan kiri. Kehangatan gagang gading pisau itu membuatnya merasa nyaman. Aneh, tapi nyata. Jalan yang agak gelap dan berliku itu mengarahkannya menuruni bukit yang curam. Orang-orang keluar membawa anjing-anjing mereka jalan-jalan, mencuci mobil, menikmati sore itu. Rumah-rumah yang dilaluinya sangat menakjubkan. Beberapa di antaranya berupa cottage, mungkin sudah di sana sejak lima puluh tahun yang lalu. Tapi rumah- rumah lain telah berkembang menjadi berbagai bentuk mansion. Ada rumah bergaya Tudor yang berdiri di samping rumah bergaya Spanyol. Ada rumah batu bata dan clapboard—papan berlapis. Bahkan ada satu rumah dengan menara kerucut yang membuat Erin sedih karena teringat kisah dongeng. Erin menyusuri jalan berliku, memperlambat lajunya, sadar bahwa ia sudah dekat. Ia begitu bersemangat untuk segera tiba di tempai ini, sehingga tak 38 sempat merencanakan kata-kata yang akan ia ucapkan seandainya bertemu pria misterius itu. Perut Erin melilit dan telapak tangannya lembap. Jika pria itu tak dapat menolongnya, ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Dengan tekad yang mendadak muncul, Erin memarkir mobil sewaannya di seberang rumah yang ia yakini milik Santos. Nomor dua belas. "Dia akan menolongku," ujar Erin pada diri sendiri sambil menoleh sekilas ke spion. Ia mencubit pipinya yang pucat, mengibaskan rambut sebahunya yang merah gelap, lalu menghela napas. Erin tidak tidur dan terus menyetir selama 24 jam. Cubitan di pipi dan kibasan rambut tidak akan membuatnya tampil lebih baik. "Jadi berhentilah mengulur waktu." Erin mengangguk. "Ya, betul." Erin melirik sasarannya sekilas. Rumah nomor dua belas tersebut letaknya jauh dari jalan dan terhalang pepohonan. Ada beberapa rumah lain di sini, dan banyak mobil diparkir di tepi jalan. Jadi semestinya ia cukup aman. Bahkan jika si penguntit telah merabuntuti, orang itu tak akan bisa menyusul dirinya. "Lakukan saja, Erin. Datangi dan temui pria itu. Ceritakan padanya apa yang telah terjadi. Yakinkan dia untuk membantumu." Erin menyambar tas dari jok penumpang, melempar pisau ke dalamnya, dan keluar dari mobil. Dengan tatapan terpaku pada rumah di hadapannya, Erin menutup pintu mobil dan menyeberangi jalan. Dari kejauhan, Erin mendengar mesin mobil me- 39 nyala dan berdecit saat pengemudinya menancap gas kuat-kuat. Dengan jantung berdebar keras, Erin terkesiap, menoleh ke arah suara tersebut dan membeku. Mobil merah ceper bergerak ke arahnya. Dengan ban berdecit dan mesin mengaum, mobil itu mengebut ke arahnya. Erin berusaha bergerak. Ia benar-benar berusaha. Tapi ia seakan-akan terhipnotis. Tidak hanya karena mobil itu. Tapi juga karena rentetan serangan yang terus dialaminya. Sampai kapan ia akan terus selamat? Sampai kapan ia harus waspada? Dan bagaimana ia bisa melindungi diri dari musuh tak dikenal? "Awas!" Suara pria. Sangat dekat. Erin hampir tidak menyadari keberadaan pria itu sebelum dia mendorongnya. Dorongan pria itu membuat mereka berdua terlempar dari jalur mobil. Pria itu merangkul tubuh Erin dan mendorongnya agar aman. Erin menabrak aspal dengan keras. Panggulnya terasa nyeri, tapi bahunya juga kesakitan. Mobil itu melewati mereka, tidak sedetik pun memperlambat lajunya, tidak sedetik pun berhenti. "Terima kasih," kepala Erin menoleh untuk memandang penyelamatnya. Tapi dia sudah menghilang. Erin memutar tubuhnya yang kesakitan dan menangkap bayangan pria itu sekilas—tinggi dengan rambut pirang—berlari menyusuri jalan dan menghilang di tikungan. "Apa yang sedang terjadi di sini?" "Itu, Madam," suara berat lainnya yang terdengar jauh dari atas, "adalah yang ingin kuketahui." 40 Dapatkan koleksi ebook-ebook lain yang tak kalah menariknya di EBOOK CENTER http://jowo.jw.lt