Sang Kyai 1-2-3 Rogo Sukmo Karya : Febrian, Tuban Ebook Oleh: http://jowo.jw.lt Pagi belumlah terang, lereng gunung putri masih diselimuti kabut tebal,dingin masih menusuk tulang, di lereng gunung sebelah selatan, nampak berjejer kobong pondokan santri tak teratur. sayup terdengar suara wirid para santri di bagian tengah pondokan, rumah bambu yang tak sederhana, dinding yang dianyam dari bambu dengan rapi, juga alas hamparan dari bambu yang di pukul hingga pecah, kemudian di hamparkan dg rapi, sehingga kalau di injak kaki akan terdengar bunyi derit bambu yang khas, nampak para santri yang jumlahnya 15 orang duduk melingkar khusuk dalam wiridnya, Sang Kyai yang juga ada dalam lingkaran juga duduk bersila, orang tak akan menyangka mana Kyai mana murid, sebab semua sama, hanya ketika Sang Kyai mengangkat tangannya dan wirid semuanya berhenti, kemudian Sang Kyai menyuruh wirid yang lain, santri pun melanjutkan, orang tak akan menyangka yang di sebut Kyai ini seorang remaja, kira-kira umurnya 12 tahun, kulitnya putih bersih, dengan wajah biasa,n amun memancarkan wibawa yang tiada taranya. presiden sekalipun akan dibuat tunduk bila berdiri di hadapannya, di sebelah rumah Sang Kyai ada rumah bambu lagi yang lumayan besar, dindingnya dari kerai, yaitu bambu yang di sisik halus kecil-kecil kemudian di susun rapi dengan tambang, sehingga bisa di buka tutup dg di gulung, dalamnya juga beralaskan bambu seperti di rumah Kyai, nampak banyak orang lelaki tiduran dg nyenyak, mereka ada sekitar 20 orang, kesemuanya lelaki, karena tempat para tamu perempuan ada tempatnya sendiri, para tamu ini bukanlah orang yang biasa-biasa, seperti pak Udin, yang seorang tentara yang punya kedudukan di angkatan udara, Pak Yusup yang seorang jaksa dari Jakarta, juga ada para pemilik perusahaan raksasa di indonesia, ada lagi yang aku tidak tahu, kata temanku dua orang menteri, seorang dutabesar, juga ada artis, tukang cukur rambut, tukang es keliling dan lain-lain, semua tidur sama kedudukanya, siapakah sebenarnya Sang Kyai, akupun tak tau pasti, yang ku tau lelaki muda usia itu, sering di panggil Kyai Lentik, dari ayahnya nasabnya sampai sunan gunung jati, dari ibunya sampai ke Raja pajajaran, Prabu Siliwangi, Kyai yangg tuturnya lembut berkasih sayang kepada siapa saja, pagi itu seperti biasa, mbok Titing, janda tua penjual sarapan pagi nasi uduk lewat di depan rumah Kyai, umur tua dan tubuh yang mulai bongkok di tambah rinjing di punggungnya yang penuh dengan nasi uduk bungkus diikat dengan selendang, tangan kanannya menjinjing tas krawangan berisi lauk pauk, seperti biasa pula, nenek tua itu berhenti di depan pintu Kyai sambil menawarkan dagangannya, sekalipun dia tau bahwa Kyai Lentik tiap hari puasa, nenek itu hanya menunggu Kyai menjawab teriakannya menawarkan dagangannya, meser Kyai? ndak bogah duwit mbok.dan cuma itu jawapan Kyai, sudah membuat girang bukan main, dan segera berlalu, tersenyum bahagia dan tak sampai setengah jam dagangannya sudah habis ludes di beli orang, nenek itu Sangat murung, apabila dia menawarkan dagangannya di depan pintu Kyai, tapi Kyai ternyata pergi, itu baginya berarti perjuangan seharian menawarkan dagangan, dan itupun belum tentu habis, itulah tiap pagi yang terjadi di pondok Pacung, lereng gunung putri. Masih banyak kejadian yang kadang tak masuk di akal dibalik kesederhanaan Sang Kyai. waktu magrib itu, santri yang menjalankan puasa, telah selesai berbuka dengan singkong rebus dan air putih, seperti biasa juga Kyai ikut berbuka dengan kami dengan beralaskan daun piSang singkong yang sudah masak dituang diatas daun pisang dan dinikmati bersama-sama sambil jongkok, tak ada yang istimewa, tak ada pecel lele lamongan, rendang padang, soto madura, soto babat bahkan nasi pun tak ada, tapi tak pernah kami perduli, itu hanya makan, lebih baik makan apa adanya tapi untuk beribadah, daripada makan yang enak-enak ujung-ujungnya untuk berbuat maksiat, setelah makan kami mengelilingi toples yang berisi tembakau, itu barang berharga kami, tembakau oleh-oleh dari lukman yang pulang dari ngejalani ngedan, kami semua mengalami, yaitu pergi tanpa bekal, menyerahkan diri di kehendak Allah, pakaian compang-camping, sambil terus di hati mengingat Allah, berjalan kemanapun kaki melangkah, tanpa tujuan kecuali Allah, kalau lapar tak boleh meminta pada siapapun kecuali Allah, kadang mencari makan dari mengorek sampah, tidur kadang di hutan, sawah juga kuburan, nah pada waktu itu setiap ada yang ngejalani santri pada memesan uthis yaitu puntung rokok, di jalan, dikumpulkan sampai satu kresek nanti di bawa pulang, sampai di pondok di buka satu-satu di pisahkan tembakau dan kertas rokoknya. Aku mengambil kertas koran lalu membuat lintingan, dari korek kapuk kunyalakan kuhisap dalam dan asap pun bergumpal-gumpal keluar dari hidung dan mulutku, kadang kutiupkan asap sambil asap mengepul dari tembakau dan bau kertas koran yang terbakar, aku menengadah, sambil meresapi asap keluar dari mulutku, seakan suatu kenikmatan tiada tara, santri yang laen juga sepertiku, sa'at aku menengadahkan wajah entah untuk yang keberapa kali, kulihat melayang bayangan hitam diantara pohon kelapa yang banyak bertebaran, aku kaget sekali, jelas bayangan itu manusia yang melayang tak terlalu cepat, karena sa'at petang maka, bayangan itu kelihatan hitam,b ayangan itu melintasi pohon jengkol di dekat dapur sebelah kanan rumah Kyai, lalu melayang dengan indah turun di depan rumah Kyai, kami segera memburu ke arah orang itu, yang sejak tadi kami ribut menebak-nebak apa sebenarnya deg-degan kami menghampiri, ternyata bayangan yang terbang itu seorang wanita tua, rambutnya semua memutih, dia terbang menggunakan sajadah, jelas bahwa ilmu meringankan tubuhnya teramat tinggi, yang mungkin kalau sekarang kami tidak melihat dengan mata kepala kami sendiri, tentu kami akan menyangka ilmu seperti itu hanya ada di cerita silat, atau film di televisi, arahan imajinasi, kami semua melongo melihat perempuan itu melipat sajadah yang tadi di gunakan untuk terbang,aku teringat kisah aladin, tapi ini nyata, perempuan tua tinggi kurus, berpakaian putih kusam ringkas membentak, dimana Kyai Lentik, aku ingin mengadu ilmu. Nyai siapa kataku menguasai keterkejutan. ah mana Kyai Lentik? Hai Kyai keluar!! katanya karena menantang-nantang dan sama sekali tak memperdulikan kata-kataku, aku pun segera bergegas menghadap Kyai, yang aku yakini tengah berada di musolla menunggu sholat berjama'ah, aku kawatir perempuan tua itu ilmunya teramat tinggi,bagaimana nanti Kyai menghadapinya, setahuku Kyai tak punya ilmu kanuragan, juga tak pernah mengajarkan kanuragan, tapi memang kalau di pikir-pikir aneh juga, kami para santri, tak pernah di latih kanuragan, ilmu silat apapun kami tak tahu, karena memang di pesantren Pacung ini kami hanya di ajar bagaimana mendekatkan diri pada Allah, bukan lewat teori tapi praktek, bagaimana bertawakal, syukur, houf, rojak, dan bagaimana membersihkan hati dari segala sifat yang menjadi penyakit hati, tapi para penduduk sekitar juga para tamu yang datang, selalu berkeyakinan kalau pesantren ini adalah pesantren kanuragan, yang muridnya sakti-sakti kebal senjata, bisa terbang dan cerita-cerita yang dilebih-lebihkan, aku masih takut bagaimana jadinya kalau Kyai bertarung dengan nenek sakti ini? selama ini yang aku tahu Kyai Sangat menguasai ilmu pengobatan, sakit apapun, dari sakit gila sakit luar, penyakit dalam, sampai penyakit kena santet, kena guna-guna kena jin, kena narkoba, semua bisa disembuhkan, orang pengen jadi lurah, camat, bupati, gubernur, sampai mau jadi presiden larinya ke Kyai, dan Kyai hanya mendo'akan saja, tapi kalau ilmu kanuragan, aji kesaktian, aku tak tau, aku jadi ingat ada seorang tentara mau di kirim menjadi pasukan. Pasukan penjaga perdamaian di Kuwait namanya Iqbal, dia datang dengan tamu yang lain mau meminta sareat ilmu kekebalan, dia ngantri dg tamu yang lalu menghadap Kyai, pas giliran si Iqbal, Kyai bicara sebelum Iqbal ngomong, begitulah Kyai selalu tahu maksud kedatangan orang sebelum orang itu menyampaikan maksudnya. bahkan tau hari tanggal tahun kelahiran serta siapa bapak ibunya. bahkan orang itu habis melakukan maksiat apa Kyai pun tahu, dan kadang diucapkan Kyai tanpa tedeng aling-aling. begitu saja mengalir, aku jadi ingat waktu aku pertama kali, datang ketempat Kyai. Kyai mengupas aku habis-habisan tentang pacar-pacarku. Apa yang kulakukan dengan si Hani, dengan Umi, dg si Dyah dg si Faty, Dina semua di sebutkan satu-satu oleh Kyai plus nama orang tua gadis itu. jelas membuatku jengah, malu dan aku yang sebelumnya datang ke pesantren ini karena bekerja yaitu membuat kaligrafi dari semen, akhir nya memutuskan untuk mondok dan belajar ilmu dari Kyai. (sudah) kata Kyai (saya mau...mau) saut Iqbal gugup. (iya sudah saya isi, mau ilmu kebal senjata kan? Iqbal manggut, aku yang waktu itu membereskan gelas minuman. juga ikut heran, apalagi Iqbal, karena memang Kyai belum menyentuh iqbal sama sekali melihat iqbal ragu. Kyai segera memanggil Kunto, santri dari Sumatra yang tubuhnya gempal, setelah kunto menghadap (Kunto, ambil golok!, kau tes si Iqbal ini) kata Kyai tenang. Iqbal pucat, kulihat keringat dingin membasahi jidatnya, tubuhnya gemetar, aku tak berani membayangkan apa yang di pikirkan Iqbal, mungkin dia menyesali telah datang kesini, atau mungkin membayangkan kulitnya sobek sampai ke tulanya kelihatan memutih lalu darah mengucur dari lukanya, lalu tubuhnya ambruk mati. Kunto telah datang membawa golok, semua santri memiliki golok, senjata khas yang dipakai santri untuk mengambil kayu bakar digunung putri, di pondok ini para santri makannya di tanggung Kyai, kalau Kyai ngasih beras, maka nasi yang dimakan, tapi bila adanya ubi maka ubi yang dimakan, bahkan tak jarang berhari-hari kami makan daun singkong yang direbus saja, tapi alat perebus yaitu kayu bakar, kami harus mencari di hutan. Kedatangan Kunto dengan goloknya yang berkilat-kilat membuat Iqbal makin gemetaran, tamu2 yang lain telah minggir, sebelum Kunto datang mungkin takut kecipratan darah, apalagi tamu2 wanita makin jauh, tinggal Iqbal yang duduk sendirian di depan Kyai, keringatnya membanjir, apalagi Kunto datang tanpa kata-kata lagi meloncat menebaskan goloknya berkel ebat ke arah leher Iqbal yang duduk menunduk di depan Kyai, para tamu perempuan menjerit. kontan iqbal menoleh. bias, wajahnya seputih kapas, golok Kunto mendesing ke arah leher nya memejamkan mata saja Iqbal tak sempat apalagi menghindar, nyawanya rasanya sudah lepas ketika suara ngek!, terdengar di lehernya, tapi segera aliran darah merah mengaliri seluruh permukaan kulitnya yang memutih, menyegarkan kembali urat-uratnya, dan kelegaan menggantikan keterkejutan, ketika mendapati kepalanya tidak menggelundung lepas. bahkan ia tak merasakan sakit sama sekali ketika ketajaman golok menyentuh kulitnya, seperti bantal kapuk yang empuk saja. Semua mata yang menatap lega, dan suasana segera di cairkan dengan ketawa Kyai, yang menyuruh Iqbal melanjutkan ujicoba kekebalannya diluar, karena Kyai mau menerima tamu yang lain. (oh engkau rupanya nyai bundo)kata Kyai,diiringi senyum(maaf nyai aku tak bisa menyambutmu yang me ndadak ini,).(ah banyak ba cot amat,!)bentak nyai bundo.(terima serangan ku!). Seketika perempuan tua itu mengangkat tangan kanannya setinggi pundah, sedang tangan ki rinya di arahkan ke pusar.. Dengan hitungan detik ta pak tangannya menyala dari menyala merah biru kemudian putih keperakan,terdengar ole hku suara Kyai mendesis (pukulan saripati bagaspati). Tangn Kyai mendorong lututku sehingga tubuhku melun cur seperti beroda dan me ntok di tembok. Kulihat ta ngan nyai bundo di pukul kan ke depan.terdengar suara bersiutan seperti suara mobil yang jalan kencan g lalu di rem mendadak, ketika cahaya itu lepas dan menghantam dada ky ai,semua orang di situ matanya melotot, udara te rasa panas,rasanya seperti dalam oven. Cahaya yang menghantam Kyai begitu mengenai dadanya, cahay a itu langsung amblas. Kyai tetap duduk tersungging senyumnya.seperti tak terjadi apa-apa, bahkan pakai an putih yang dikenakan sa masekali tak berkibar,jel as hal itu membuat nyai bundo makim marah, dan mengulang pukulannya sampai berulang kali, tapi hasilnya sama, Kyai tetap duduk tak bergeming. [bedebah cilik, sihir apa yang kau pakai?] nyai bundo seperti tak percaya, ilmu yang selama ini di bangga kannya seperti tak punya kekuatan apa-apa. Padahal biasanya yang terkena pukulan yang telah dilam bari aji saripatibagaspati jangankan manusia, kerba upun akan hangus terbakar luar dalam, tinggal me ngasih bumbu sudah matang tak perlu di masak lagi. Tapi ini orangnya ma sih hahak hihik, jelas membuat nyai bundo panas hatinya kicat-kicat. [sareh nyai, ayo duduk sini] kata Kyai masih terus ketawa. Walau masih mbesengut nenek itupun akhirnya du duk di depan Kyai, lalu Kyai mengangkat tapak ta ngan kirinya seraya berkata [nyai. Nanti apa yang keluar dari tapak kiriku, dan engkau bisa mengambil nya maka itu menjadi hak mu] nyai bundo penasaran matanya mena tap ke tapak tangan Kyai yang terpentang. nyai bundo memandang tak berkedip kearah tapak tangan Kyai yang perlahan tapi pasti mulai memerah dan semakin merah berca haya,ketika dari dalam tel apak tangan itu keluar batu mirah delima, batu itu terlihat merah menyal a2, sampai lengan baju putih Kyai ikut menyala, segera tangan kiri nyai bundo meraih punggung tapak tangan Kyai, semen tara tangan kanannya me ncoba mengambil mirah delima yang menyala2 itu, tapi alangkah terkejutnya karena batu itu seperti le ngket di telapak tangan Kyai. Lebih lengket daripada lengketnya pere kat raja lem sekalipun. Nyai bundo mencoba men gambil dg segala daya ke kuatannya. Sementara Kyai terkekeh2, keringat nyai bundo membanjir, dan asap putih tipis mengepul dari rambutnya menunjukkan bahwa nyai itu telah menggunakan ke kuatan tenaga dalamnya. malah batu sakti itu tak bergeser sedikitpun, dan lagi ketika batu itu masuk lagi kedalam telapak Kyai tangan nyai bundo ikut terbetot masuk kedalam.sontak nyai bundo membetot tangannya, setelah batu itu lenyap[itu mungkin bukan rizkimu nyai, mungkin yang ini rizki mu, lagi2 dari dalam tapak tangan Kyai yang terb entang, perlahan muncul gagang keris berukir buru ng garuda, keris itu perla han keluar dari tangan Kyai yang sama sekali tak berlubang apalagi berdarah. Separu keris itu masih menancap di tapak tangan Kyai, nyai bundo pun lekas memegang ga gang keris dan mengerah kan semua tenaga dalam nya di salurkan ke tangan nya yang menggenggam ke ris. Dengan mudahnya keris itu di cabut. Sreet, seperti mencabut rambut dari adonan roti. ketika kerit telah tercabut betapa nyai bundo mata nya meloto terkejut, dia benar2 mengenali keris yang sekarang ada di gengg amannya. Segera ia bersu jud mohon ampun dan menyembah2 ke Kyai, Kyai cuma terkekeh2 sambil membelai rambut putih perempuan tua yang sedang bersujud. Lalu Kyai menyu ruh nyai bundo duduk de ngan tenang. Dan Kyai mengajakku dan yang ada di situ sholat berjamaah karena memang waktu magrib tinggal sedikit. Setelah sholat selesai dan dzikir setelah sholat. Kyai segera menemui nyai bundo yang masih duduk sambil tangannya masih memegang keris dan tak ikut menjalankan sholat karena memang nyai bundo bukan orang islam. Ketika Kyai duduk di dep annya, nyai itu segera me raih tangan Kyai menyala minya, membungkuk dan meletakkan tangan Kyai di jidatnya [maafkan aku guru, yang bodoh ini, tak tau tingginya gunung di depan mata, bimbinglah aku guru...]suara nyai bundo mengiba, tak seper ti pada saat kedatangan nya,yang menantang2. [nyai dari mana engkau tau akan diriku] tanya Kyai lalu nyai bundo menceritakan. Nyai bundo adalah orang kalimantan pedalaman, dia murid seo rang sakti bernama wong agung sahlunto, ketika gurunya itu moksa di depannya. Sebelum moksa gurunya itu berpe san, sambil mengacung kan keris yang sekarang ini ada di genggamannya. Lalu katanya[ muridku kal au kau nanti menemukan orang yang memegang keris ini, maka tunduklah pada nya ikuti ajarannya dan masuk agamanya] setelah berkata seperti itu wong agung itu sirna beserta kerisnya. Bertahun2 berla lu namun nyai bundo tak menemukan keris yang di pegang gurunya di tangan orang lain. Dia mencari ke segala penjuru, namun tetap tak menemukan, dalam pencariannya itu nyai bertemu dua orang pertapa sakti dari orang dayak, namanya luh bajul dan luh landak. Dan mereka bertiga mengikat persaudaraan, pada waktu terjadi kerusuhan sampit luh bajul dan luh landak mengamuk, membunuhi orang madura, sepak terj ang dua orang sakti ini be gitu menakutkan, tak jarang seorang bayi yang di gendong ibunya, tanpa ketahuan Sang ibu, telah kehilangan kepalanya. sungguh gerakan dua orang ini tak diketahui,sehingga banyak korban binasa di tangan dingin mereka, di suatu senja luh bajul dan luhlandak tengah mengaso di tepi hutan, setelah selesai me numpas habis dua keluarga, mereka berdua tengah duduk2 santai di bawah pohon randu alas, Tiba-tiba ada suara keras dan berat memanggil nama mereka berdua, mereka segera mendongak ke atas karena suara itu dari atas dan mereka terkejud sekali melihat perwujudan besar tinggi hitam legam, lebih tinggi dari pohon randu alas matanya merah menyala seluruh tubuhnya di tumb uhi bulu, serempak mere ka berdua bersujud meny embah, karena mereka tau itulah Jadsaka, jin yang mereka sembah, yang mem berikan berbagai ilmu sih ir dan ilmu kesaktian. Kata jin itu dengan suaranya yang membuat bumi yang di pijak kedua orang itu bergetar [jebleng..! Jebleng..!,celaka, celaka, Sang raja akan datang kesini, kalian sambutlah dia, dan ikuti apa yang di katakanya, sebelum dia marah dan menghancurkan bangsaku maka aku akan membinas akan kalian berdua] setelah menemui Sang raja itu kedua pertapa dayak itu menceritakan pada nyai bundo, perempuan itu yang tak ada hubungan dengan jadsaka tanpa takut, dengan petunjuk dari luhbajul dan luhlandak segera mencari keberadaan Sang raja. Aku jadi ingat pada satu malam setelah wirid malam aku tertidur pulas dalam tidur aku bermimpi Kyai mengajakku[mas ian ayo temani aku jalan2] begitu kata Kyai, lalu Kyai menggandengku. Tubuh ku terasa ringan seperti ka pas, melayang cepat laksa na kilat, melintasi pohon melewati gunung, melay ang seperti supermen dal am filem, melintasi laut menuju pulau, perjalanan begitu cepat, lalu tubuh kami melayang sebatas pinggang, nampak olehku dua orang duduk bersim puh, menyembah2[ampun raja apa yang paduka inginkan?][aku ha nya ingin kalian hentikan membunuh orang] kata Kyai masih memegang per gelangan tanganku. [baik paduka.. Kalau boleh tau siapa gerangan paduka?][aku Kyai Lentik penguasa gunung putri] setelah ber kata itu maka Kyai pun se gera menarik tanganku kembali, melesat cepat,dan aku terbangun, hari sudah pagi, kejadian malam itu aku mengang gapnya hanya mimpi saja, ternyata kini aku tau bah wa itu nyata, apalagi sete lah menguasai ilmu raga sukma melepas sukma itu adalah hal yang biasa saja, terbang kemana saja seke hendak kita. Malam itu nyai bundo, disuruh mandi oleh Kyai, setelah di beri petunjuk2, setelah mandi nyai bundo di tuntun membaca dua kalimah sahadah, dan nyai bundo pun telah menjadi seorang muslimah, terlihat wajahnya meman carkan kebahagiaan, dan matanya berkaca2 karena bahagia. Malam itu nyai bundo menemani Kyai menemui para tamu2 yang tiada habisnya sampai adz an subuh, nyai bundo ter amat kagum kepada Kyai, yang begitu dengan telaten mendengar keluh kesah para tamu, lalu memberi solusi, berbagai macam keluhan tentang kesempi tan hidup, tentang segala macam penyakit. Kyai de ngan sabar melayani, tan pa meminta imbalan apap un, karena memang Kyai tak membutuhkan apa-apa aku Sangat tau pasti itu, kalau soal rumah mewah, aku Sangat tau Kyai punya di mana2, yang sering aku di ajak menengok rumah mewahnya yang di biarkan kosong, di pondok indah, dikelapa gading, di tangerang, di parung, sem ua rumah-rumah yang mewah, juga mobil Kyai punya banyak, sampai akupun tak tau jumlahnya, yang aku tau pasti ada mobil mercedes, karena aku pernah mengecatnya dg lukisan airbrush, lalu ada mobil land cluser yang di beli dari uang daun. Saat itu Kyai mengajar kami tentang ke mulyaan ilmu, dan banyak nya ilmu Alloh, sehingga ilmu Alloh teramat banyak sampai jika ilmu Alloh itu di gali dari masa nabi Adam as sampai sekarang maka ilmu itu masih lebih banyak lagi, lalu Kyai juga menyinggung tentang kebersihan hati dari penyakit nafsu, serakah, sombong, egois, iri, dengki, berburuk Sangka, tiada bersyukur, menjauh kan sifat2 dan budi peker ti yang tercela, apa yang kau lihat, jika orang lain melakukan maka kau tak suka, maka apabila kau la kukan seperti itu orang lain pun tak suka. Itu harus di jauhi, dan jauhkan diri dari memandang sesuatu itu punya kekuatan melebihi kekuatannya Alloh. Upayakanlah di dalam hati yang ada Allah semata. Maka hatimu nanti mengingin kan, sebenarnya itu keing inan Alloh. Tiba-tiba Kyai menyuruh, para santri mengumpulkan daun kopi sebanyak2, kami segera bertebaran mengambil daun kopi, yang pohonya tumbuh di sekitar pondok setelah di rasa banyak, kamipun segera kembali kedepan Kyai, kemudian Kyai menyuruh mengikat daun2 kopi itu degan tali dari gedebong piSang, di jadikan bundelan2, lalu Kyai menyuruh semua daun di satukan di atas sorban, dan sorban itu di ikat, kemudian Kyai meng ucap,[ini adalah suatu con toh] jika engkau menging inkan daun jadi uang, jika hati telah di liputi hanya Alloh, maka daun pun akan jadi uang]. kami semua menatap dengan pandangan kurang yakin, bagaimana pun itu pengalaman yang belum pernah kami alami. Lalu Kyai menuding pada bungkusan daun. Dan berkata[jadilah uang] lalu Kyai menyuruh kami mem buka ikatan sorban itu, dengan hati berdebar2 kami buka ikatan, dan betapa terkejutnya kami, semua daun kopi yang kami kumpulkan telah menjadi uang semua, masih terikat tali gedebong piSang. Kami semua memandang takjub, termasuk para tamu yang ada,lalu Kyai memanggil salah seorang tamu yang di kenal baik oleh Kyai. Namanya pak wisnu[pak wisnu tolong pak wis nu bawa pergi uang ini dan saya minta dibelikan mobil landcluser ]kata Kyai. Pak wisnu heeh aja kemudian pergi membawa uang itu. Besoknya datang mobil yang masih kinyis2 sesuai permintaan Kyai. pagi itu sebelum matahari keluar dari peraduannya nyonya bundo telah pergi sebelumnya mohon dri kepada Kyai, lalu berjalan kehalaman, membentang kan karpetnya, berdiri di atasnya, membaca mantra, tubuh dan karpet nya pun melayang terbang, nenek itu melam bai kepada Kyai yang meng antarkan sampai pintu rumah gubugnya. Wajah nenek itu demikian berc ahaya penuh kedamaian. Begitulah di pesantren ini tiap hari ada saja orang yang di islamkan, penyakit yang di sembuhkan, pecandu narkoba yang di sadarkan, bromocorah yang di taubat kan, preman yang di sadar kan, dengan kelembutan dan kasih sayang juga ke lebihan2 Kyai. matahari pagi bersinar dengar ceria, wajahnya berbinar sumringah seper ti merahnya para gadis desa yang mau pergi kesungai untuk mandi, embun di atas rerumputan bagai permadani manikam, berkilauan bahagia seakan tak takut sebentar lagi sari indahnya akan hi lang berbarengan siang yang mulai menggarang. Nampak beberapa tamu menunggu Kyai menemui ada yang ngobrol, ada juga yang duduk bermalasan. Nampak sebuah sedan BmW hitam dop. Berhenti di tempat parkir, lalu menempatkan ke parkir jauh dari pohon kelapa yang memang mend omisili tumauhan di seki tar pesantren. Selain kopi pesitan, picung, dan cecek juga ada pohon mlinjo. Setelah mobil berhenti, keluarlah tiga orang, satu pria dan dua wanita, nam paknya tiga orang itu, seorang gadis dan ayah ibunya. Duilah cantiknya, bener2 gadis yang cantik, walau di pondok ini sering kedatangan artis, tapi memang gadis ini benar2 cantik, mata yang indah wajah yang sempurna hidung mancung sekali, bibir yang merekah tapi tipis alis mata yang melengkung seperti pedang orang arab dagu yang lancip, uh kulitnya putih bersih tapi mengeluarkan cahaya, mungkin sering mandi susu dan madu. Tubuh yang tinggi tapi padat berisi. wah jadi membayangkan yang engak2, ternyata bukan aku saja yang terpukau, si jauhari, kholil dan mujaidi, yang sedang menyapu halaman, ter bengong2 sapu di tangan mereka terlepas. Dan air liur menetes dari tepi mu lut mereka, wah bisa malu maluin, aku segera meng hampiri mereka, dan mengingatkan mereka. Mereka bertiga segera menyadari, dan cepat2 melanjutkan menyapu. Aku sebenarnya juga ke luar air liur, tapi dikit, tak sebanyak mereka, keter tarikan wanita dan lelaki juga kekaguman kesem purnaan ciptaan Alloh, adalah wajar, wanita memandang lelaki, juga sebaliknya, kemudian kagum, itu wajar, asal tidak meneruskan panda ngannya kedalam panda ngan perzinahan mata. yang tidak wajar itu kalau lelaki lihat kambing betina, lalu timbul birahi. Inilah hidup kita ini di beri nafsu bina tang, tapi kita juga di beri pikiran, nafsu membuat kita hina, tapi dengan menempatkan pada tempatnya sungguh nafsu tak membuat manusia hina. Gadis cantik dengan kedua orang tuanya itu menghampiri salah meng hampiri salah seorang santri yang sedang menyapu halaman. Kebetulan yang di dekati si kolil, kolil masih pura2 sibuk menyapu, keringat dingin keluar membanjir, gemetar dengkulnya bergemelatukan, Lalu si gadis bertanya[ mas, Kyainya ada?]tanya gadis itu, sebenarnya yang di tanyakan hanyalah pertanyaan yang biasa saja, yaitu pertanyaan bagi tamu yang baru datang dan ingin bertemu Kyai. Tapi karena kolil sudah keder duluan, dan suara gadis itu seperti suara seruling dari alam lain. Maka kolil pung gelagapan, seperti orang tenggelam di danau yang dalam[ nga...ngu.. Uit...nguk...] melihat gelagat yang kurang baik, aku segera menghampiri[mau ketemu Kyai ya?] di jawab anggukan oleh ketiga orang itu[ mari ikut i saya] sayapun berjalan duluan, sambil berpikir, pastilah si kolil nanti malam tak bisa tidur, kalaupun bisa tidur, pasti semalaman akan mengi gau, sampai pagi setelah sampai di tempat, Kyai masih sibuk mengob ati seorang tamu, semen tara tamu yang lain masih mengantri, segera tiga orang itu kuminta mengantri. Yang di tanga ni Kyai bernama Bapak Saipudin, di seorang jaksa daerah banten, karena menangani suatu masalah bpk saipudin di santet orang. Tiba-tiba lelaki tinggi, umur empatpuluhan tahun itu memuntahkan darah kental, dari mulut nya, sementara Kyai mengobati lewat tangan Kyai di tempel di punggu ngnya. Lalu Kyai memang gilku[ suruh si tarsan men gambil kelapa hijau]kata Kyai, yang langsung kufahami maksudnya. Aku segera memanggil tarsan. Nama tarsan adalah nama panggilan kepada seorang santri, karena trampilnya meman jat, tarsan adalah santri dari bojonegoro, umurnya duapuluh taunan, tubuh nya kecil tapi kekar, bero tot, tarsan segera meman jat kelapa, tubuhnya sama sekali tak menempel pada pohon kelapa, kaki tangan nya lincah menepel pada pohon kelapa, seperti tangan dan kaki itu milik spidermen, tak sampai lima menit tiga buah kela pa didapat tanpa di jatuh kan, karena memang kela pa itu perintah Kyai. setelah kelapa itu di isi oleh Kyai, satu kelapa di m inum bapak saipudin, dan yang dua di buat mandi. Setelah tamu2 di layani, sampaila pada giliran gadis itu dan kedua orang tuanya, lelaki itu mulai mengenalkan diri berna ma purnomo, dan istrinya dan gadis cantik itu adalah anak angkat pak pur, yang bernama evo, aslinya ayahnya orang jerman dan ibunya orang indonesia, sejak umur 12 tahun ibunya telah meninggal dunia, dan papanya kembali kenegar anya, sehingga pak purnomo yang mengasuhnya. Pak pur me narik napas, lalu melanjut kan ceritanya. Namun saya ng agamanya kristen, mengikuti agama ibunya. Tampak Kyai merenung se bentar kemudian berkata di tujukan kepada evo, [tidakkah engkau ingin tau keadaan ibumu di sana][bagaimana aku bisa tau, ibuku telah meninggal] jawab gadis itu polos. Kyai lalu menyuruhku memanggil jauhari, santri asal madura, yang wajahnya agak kotak, tinggi sedang yang suka mandi berlama2 tapi kulitnya tetap hitam juga, tapi memang jauha ri orangnya baik, bertemu siapa saja ia akan tersen yum, atau mungkin sengaja tersenyum karena mau menunjukkan pada semua orang bahwa ia punya gigi yang putih, jauha ri segera menghadap Kyai masih dengan senyum khasnya, tapi ia tak berani menatap gadis cantik yang duduk di situ, takut iler nya tak bisa di tahan dan membanjir, tentu akan membuat malu Kyai, [ada apa Kyai?]katanya,masih tersenyum. [hur.! Sini dud uk menghadap kesana] kata Kyai, menyuruh jauhari duduk membela kangi Kyai. yang segera dila kukan Kyai. Perlahan tangan kanan Kyai terangkat tinggi2 telapaknya terbuka, kemudian telapak itu tergenggam. Mata pak pur istrinya, dan evo meman dang tak berkedip, Tiba-tiba tangan Kyai seperti melempar sesuatu ke punggung jauhari. Tiba-tiba secara mengejutkan tubuh jauhari bergulingan di galar bambu, suaranya mengaduh aduh, tapi bukan suara jauhari yang terdengar melainkan suara wanita. [aduh... Tolong, ampun, sakiit..jangan pukul lagi, ampun..huhuu.]suara jauhari yang menjadi suara perempuan itu merintih2 kadang merangkak, tapi seperti ada yang memukulnya dari belakang, punggungnya sampai meliuk, lalu bergulingan, seperti tak kuat menahan derita sakit yang tiada tara. Pak purno mo dan istrinya terkejut, heran, dan berbagai per tanyaan kumpul jadi satu. Tapi yang lebih tekejut lagi adalah evo, wajah gadis cantik itu, putih pucat seperti kapas, tanpa sadar ia menjerit [ mama!] mendengar suara evo, jauhari yang masih bergu lingan itu bangkit lalu me rangkak mendekati evo, masih mengaduh dan me nangis,[kaukah itu evo?] suara perempuan yang ada di tubuh jauhari bertanya[evo yulianti dousand] evo beringsut mundur, wajah jauhari yang hitam makin jelek saja, mungkin itu yang membuat evo mundur, aku jadi berpikir kenapa tadi yang jadi medium bukan aku saja, setidaknya lebih cakep daripada jauhari. [tak mungkin, mama sudah meninggal...,tak mungkin]evo beringsut mundur[anak durhaka, se telah ibumu meninggal, kau tidak mengakui ibumu,aduuh ]tubuh jauhari terjengkang lagi, seperth ada yang menyam buk punggungnya. Kyai terlihat mengangkat tang an seperti menahan sese orang yang tak terlihat supa ya tidak memukul lagi, dan jauhari pun tak mengaduh lagi. [apa bukti nya kau mamaku.]tanya evo masih ragu. Lalu suara perempuan itu nerocos menceritakan evo dari kecil sampai saat mama nya meninggal, tentang evo yang suka bubur kacang hijau, tak pernah mau minum susu, sejak kecil rambutnya suka di kepang belum sampai ceritanya habis, evo menjerit mau menubruk jauhari tapi se gera di tahan oleh ibu angkatnya, [oh mama...]ta ngis evo menyayat[bagai mana keadaan mama di sana.?.huhuu][ oh aku di siksa terus... Di cambuk terus, menyesalpun per cuma, kenapa kau tak per nah mendoakan ibumu ini][aku selalu mendoakan ibu...][tapi do amu tak sampai, kenapa kau tak masuk agama mu hammad, aku tak kuat lagi di siksa...] [mama...huhu..]evo masih menangis[aku pergi anak ku ...masuklah agamanya muhamad..]Tiba-tiba tubuh jauhari melemah, dan ambruk[mama ..mama jangan tinggal evo ma... Mama]evo menjerit lalu tubuhnya gelosor pingsan lama evo pingsan, semen tara jauhari telah lama sadar, tapi masih kelihatan bingung ,kayak orang habis di nyalain petasan tepat di depan hidungnya. Sementara setelah Kyai menyalurkan tenaga prana dari jauh, evo mulai bergerak2 sadar, karena peristiwa itu evo kemudian masuk islam, mempelajari doa anak kepada orang tuanya. setelah sholat ashar, kelua rga evo meninggalkan pesantren, wajah evo sudah tak sedih lagi, nampak jelas ada gurat2 harapan yang kuat di dasar hatinya, sehingga wajah cantiknya berpendaran. Belum sampai setengah jam mobil evo dan keluar ganya pergi, datang lagi dua mobil, satu mobil toyota model lama, satu lagi mobil sedan polisi. Setelah mobil itu parkir. Orang2 yang ada di dalam mobil segera keluar, dari mobil toyota kijang, nampak keluar dua lelaki satu berperawakan sedang bajunya warna coklat susu, umurnya sekitar empat puluhan tahun, orang ini bernama setiono, sering di panggil pak nono, adalah kepala desa pasir sekti. yang keluar dari mobil bersamanya adalah carik sanusi, orangnya berpera wakan tinggi gagah, kumis melintang Sangar. Sementara mobil yang satu lagi adalah mobil polisi, berisi tiga orang polisi. Kel ima orang itu segera menemui Kyai di rumah nya. Aku tak mengerti masalahnya, sampai Kyai memanggilku, karena aku sedang masak di dapur menyiapkan makanan untuk berbuka puas. Mere bus singkong, dan memba kar ikan asin. Bau ikan asin yang terbakar segera memenuhi udara, memanggil cacing dalam perut bergerak2 sehingga menimbulkan suara ber kerutan, rupanya bau ikan asin pun sampai ke rumah cacing2 dalam perut itu. [feb, di panggil Kyai..]suara majid yang wajahnya melongok dari balik ged ek yang sebatas dada, pemi sah dapur dengan dunia luar, yang memanggil feb cuma majid, dia adalah te man sekolahku di SMA. Karena tau aku di pesantren lalu dia menyu sul, majid sama denganku dari Tuban cuma beda kecamatan, dia dari Bangi lan, perawakannya biasa malah agak pendek, tingg inya setelingaku, wajah nya paspasan, ganteng kgak, jelek ia, karena wa jahnya berlubang2 bekas jerawat batu, tapi memang hobynya mencet jerawat, kalau sudah men cet jerawat, maka ia akan berusaha sekuat mungkin supaya jerawat itu kena, kalau sudah kena, senang nya seperti mendapatkan harta karun terpendam. [gantiin di dapur ya?][udah sono, biar aku yang ngurusin] akupun melang kah meninggalkan dapur menuju tempat Kyai me nerima tamu. Nampak di situ juga mujaidi, rupanya di panggil juga, mujaidi adalah santri dari bekasi. Sebenarnya awaknya bukan santri, tapi berobat karena kecanduan narko ba, setelah sembuh, kemu dian memutuskan menja di santri. Mujaidi perawak annya tinggi kurus, aku aja sepundaknya, umurnya masih delapan belasan, bibirnya tebel hitam, sering sariawan, lal u di kelotoki kulitnya, wajahnya agak lonjong, sama dengan majid, wajah mujaidi juga berlub ang2 karena bekas jerawat batu, hobinya sama dg majid, memence ti jerawat, kalau Mujahidi sudah memenceti jerawat maka ia akan lupa waktu, lupa makan, bedanya de ngan majid kalau majid mencet jerawatnya kalau sudah meletus, bekas letusannya di usap2in ke tembok, tapi kalau Mujahidi lebih profesional mencetnya aja dia pake kain, sehingga kalau jerawatnya meletus, letusannya tak kemana2, kainnya juga di basahi ca iran anti septic. Peralatan pencet memencet jerawat milik Mujahidi juga lumayan lengkap. yang aku pernah lihat, ada batu kali, manfaatnya adalah kalau batu di jemur di matahari, dan se telah panas maka di tempelkan, kejerawat yang belom mateng, maka akan segera mateng, adalagi amplas nomer 2000, gunanya untu mengamplas tempat jerawat yang terlalu dalam. Ada juga jarum jahit, untuk ngorek2 jerawat yang sudah terlalu berakar. Aku segera duduk di sebelah Mujahidi, yang melemparkan senyumnya kena mataku,[mas ian]kata Kyai. [iya Kyai.] [entar malem , bareng Mujahidi ikut ronda sama orang paserseketi. Mereka mem butuhkan bantuan kita, untuk menangkap pencuri yang meresahkan warga. [ akupun mengiakan, sambil melirik Pak Lurah dan rombongannya. Maka setelah sholat magrib, dan menjalankan wirid wajib, aku dan muja hidi pun berangkat setelah berpamitan kepada Kyai. Gelap mulai merayap, kampung pasir seketi dari pesantren jaraknya kira-kira empat kiloan, cuma harus melewati hutan kopi yang panjang serta grumb ul2 yang gelap mengerikan, tapi kamu menganggap nya biasa, karena memang kami biasa hidup di alam bebas. Jam delapan lebih kami, tiba di desa pasirseketi . Di hadang pemuda2 desa yang membawa golok garang [siapa?]tanya pemuda gempal memakai topi coklat. Di belakangnya berdiri pemuda yang lain siaga. [aku ian]jawabku keras untuk menghilang kan kecurigaan. Dan rupa nya pemuda itu mengena liku. [ oo mas ian, ayo mas kerumah Pak Lurah, Pak Lurah sudah menunggu, tadi berpesan kalau mas ian datang supaya langsung di bawa ke rumah.] kata pemuda itu seraya menggandengku. Di ikuti oleh anggukan hormat dari sepuluh pemuda, di mata mereka memancarkan kekaguman ketika memandangku,dan Mujahidi, memang kisah pesantren kanuragan Pacung, lereng gunung putri, sudah menjadi buah bibir, tentang Kyai dan santrinya yang sakti2, itu membuatku bangga seka ligus takut, takut satu saat cerita mereka terbukti, dan kami tak sakti, lemah, tentu akan kecewa mereka dan nama pesan tren Pacung hanya isapan jempol belaka. kami bertiga sampai di rumah Pak Lurah, dan me mang di serambi depan pak lurah telah menunggu kedatanganku. Melihatku dan Mujahidi datang, Pak Lurah segera menyongsong, kedatang anku. [ah saya sudah berha rap2 cemas, jangan2 nak mas iyan gak datang, mari2] kami di ajak masuk kedalam rumah dan duduk di kursi. Sementara di terhidang beraneka macam buah, gorengan, dan entah makanan apa lagi, aku yang tiap hari makan singkong rebus. Tentu ingin mencicipi bu ah semangka yang telah di potong2 warnanya ada yang kuning dan merah. Aku melirik Mujahidi, tentu dia juga merasakan apa yang ku rasakan, oh benar sekali, kulihat jakunnya naik turun amat cepat. Karena ludah yang di telannya, dan tanpa sadar dia mengulurkan semang ka kuning, aku menyodok kakinya dengan kakiku. Kebetulan Pak Lurah keda lam sebentar, memanggil istrinya, dan anaknya di minta menyediakan minuman, semangka kuni ng yang telah ditangan Mujahidi, segera cepat di lahap, ketika Pak Lurah keluar, semangka itu telah hilang termakan tak tersisa sampai kulit2nya. Pak Lurah keluar bersama istri dan anak perempuan nya, sambil membawa minuman di nampan. [ini lo bu murid dari pesantren Pacung., anak2 muda yang sakti2]terdengar suara Pak Lurah yang benar membuat aku jengah, ser ba salah, tapi aku berusa ha bersikap wajar. Anak Pak Lurah bernama Anggraini, wajahnya ayu wajah polos anak desa, tapi aku kaget ketika Anggraini meletak kan minuman matanya mengerling, bagaimana pun aku lelaki normal wajarlah kalau berdesir hatiku. Setelah kenal2an istri dan anaknya Pak Lurah ke dalam, tinggal aku, Mujahidi, dan Pak Lurah. Sementara satu pemuda dan dua orang desa yang sebelumnya menemani Pak Lurah telah melanjutkan ronda. Aku melanjutkan pembicaraan sambil sekali2 mencicipi tahu isi dengan cabe kesukaanku[sebenarnya ada pencurian yang bagai mana sih pak, kok sampai meminta bantuan Kyai?][begini lo nak mas febri,]Pak Lurah mulai bercerita, setelah menarik napas panjang. Desa pasir seketi adalah desa yang damai, tak pernah ada pencurian, kehilangan, sampai satu hari... anak perawan desa ini ada yang hilang, namanya nining. Sehari dua hari nining tak muncul, kedua orang tuanya menyangka nining pergi ke kota menyusul abangnya yang bekerja di jakarta, jadi orangtuanya kemudian menghubungi abang ni ning yang ada di jakarta, tapi abangnya mengatakan, nining tidak menyusul ke jakarta, semua orang ber tanya lalu kemana nining, sampai seminggu kemudian tubuh nining di temukan di sungai pinggir desa sudah tak bernyawa. Semua orang geger, siapa yang tega melakukan keke jian seperti itu? Setelah di periksa forensik ternyata nining di perkosa sebelum di bunuh, polisi berusaha menyelidiki tapi hasilnya tak ada. pembunuh nining tak bisa di temukan. Sampai sebulan kemudian, lagi2 melati perempuan desa ini pun menghilang, malah menurut ibunya melati malam itu menghi lang dari kamarnya, karena memang jendelanya terbuka, seluruh desa telah diubeg-ubeg tapi melati tak di temukan,sampai seminggu kemudian mayatnya di temukan di sungai dulu nining di temukan. Ini jelas bahwa penjahat yang menculik adalah penjahat cabul belaka. Tapi kami tak tau bagaimana dia beraksi, Pak Lurah berhenti bercerita, dia mengamb il rokok Dji sam soe dan menyalakannya, aku dan Mujahidi pun ikut2an mengambil rokok dan menyalakannya, selama ini kami ngerokok tingwe alias ngelinteng dewe. Itu pun tembakau puntung, maka rokok Dji sam soe te rasa nikmat sekali, asap mengepul-ngepul bergulung, Pak Lurah melanjutkan ceritanya. Kami tak mau kecolongan lagi, maka pe rondaan di tingkatkan, di bantu para polisi, sampai seminggu yang lalu, kami meronda, salah satu rom bongan peronda melihat bayangan dalam gelap malam, [berhenti.!!] tapi bayangan itu, malah berlari, dan ternyata menggendong karung di pundaknya, tak salah lagi, penculik, sebagian rombongan segera mengejar, yang lain memu kul kentongan memangg il bantuan, semua orang berlarian ke arah suara kentongan, dan setelah tau semua mengejar, saat itu Pak Lurah sendiri dan tiga polisi ikut mengejar. Betapa saktinya orang itu, dengan masih menggendong orang yang diculiknya dia melesat meloncati pagar meloncat ke wuwungan atap rumah, lalu meloncat ke atap yang lain, polisi mau menembak tapi takut mengenai perempuan yang di panggul lalu penculik itu berhenti dan menoleh, seperti mengejek. Lalu melesat cepat, dan hilang di telan gelap malam, tempat sekitar penculik itu menghi lang sudah kami aduk2 tapi kami tak menemukan apa-apa, dan yang hilang kali ini gadis berna ma tunik, seminggu kemu dian kami menemukan nyawa tunik di buang begitu saja di sungai ujung desa. Maka setelah kami adakan rapat, kami memutuskan meminta bantuan Kyai Lentik ...,belo lagi Pak Lurah menyelesai kan ceritanya, Tiba-tiba terde ngar jeritan istri Pak Lurah dari dalam[ anggraini..! Anggraini pak] Pak Lurah segera lari ke dalam, aku dan mujaidi segera mengi kuti, nampak bu lurah menangis, [anggraini hilang pak,][hilang gimana?][ tadi di kamar, sekarang nggak ada..][su dah di cari kemana2][sudah pak tapi kgak ada]Tiba-tiba di tabuh kentongan bertalu2. Aku segera menghambur ke arah suara kentongan.di susul Mujahidi [kejar..!][penculik tangkap...!] Aku berlari cepat, Mujahidi menyusul di be lakangku, orang berserab utan mengejar. Tubuhku terasa ringan, aku dapat menyusul yang lain malah aku tak sadar ada paling depan di antara pengejar,kulihat bayangan meloncati sebuah pagar, di pundakya kelihatan karung, tentunya berisi, ah pasti anggraini, aku makin cepat mengejar, semangat, meloncati pagar, meloncati sungai kecil, menerobos kebon piSang,...aku berhenti membungkuk mengatur napas, mengusap keringat yang membasahi jidatku. aku baru sadar kalau aku sendiri, kemana yang lain, aku tengak tengok tak ada orang, yang lain pada kemana, tapi aku tadi benar2 melihat orang itu lari kesini, dengan sinar bulan yang seperti kuku, ku coba mengenali tempat sekitarku. Perlahan panda nganku mulai jelas. Kuburan. Benar tempat ini kuburan, mungkin pema kaman orang desa pasir seketi, tapi semakin ku perhatikan ini pemakaman tua, terlihat yang tak begitu terurus, dan batu nisannya dari batu yang menyerupai batu candi, semua hitam berlumut. Segala pohon melintang kesana kesini, rumput se tinggi lutut, pohon besar di tengh pemakaman, sungguh tempat yang angker ,mungkin dulu aku kalau tidak di gembleng Kyai mengitari pulau jawa dan tidur di sembarang tempat yang lebih serem dari tempat ini, tentu aku akan takut. aku melangkah berhati2 sambil kaki meraba2, sekali waktu mataku men engok kearah aku datang mengharap ada yang menyu sulku, tapi keadaan teram at sepi, aku mau memutus kan tuk kembali, Tiba-tiba ter dengar, suara daun kering terinjak,[siapa?] kataku, tak yakin . Muncul di depanku bayangan ma nusia, pakaiannya hitam2 dan memakai penutup wajah hitam[heh cuma mas ian ha ha ha] suara orang itu dan bentuk tubuhnya yang tinggi bes ar, aku seperti pernah me ngenalnya. [hah kau penj ahat cabul...]kataku sambil masih tengak tengok, mengharap orang yang datang. Sebab kalau sampai aku berhadapan dengan lelaki ini sendirian bisa berabe. apakah begini rasanya kalau mau berkelahi, tubuh gemetar. Bagaimana aku mengha dapi orang ini, kulihat tubuhnya tinggi besar, berotot, kalau di banding kan denganku tubuh kecil ceking, tangan kecil kurang gizi, jangankan berkelahi salaman aja kalau tanganku di remas nya tentu seperti meremas kobis. Apalagi sampai berantem, aku takut membayangkannya. terus terang selama ini belum pernah aku berke lahi, pernah juga mau berkelahi, waktu aku kelas SD ,kelas dua, kursi yang ku tempati di tempati sama anak lain, lalu ku suruh dia pergi, tapi tak mau malah ngajak berantem, lalu dia meme gang hidungku, akupun menangis sekencangnya. Tanpa sadar ku pegang hidungku yang mancung. Wah bagaimana kalau nanti hidungku di pukul sampai patah, pasti tak bisa ku banggakan lagi, apalagi kalau sampai aku mati, ah aku kan masih punya hutang ama teh ipar, warung yang dekat pondok, apa aku lari aja ya, eh pembaca jangan mengira aku ini pengecut, aku lari cuma mau bayar utang, apa aku jujur aja ya sama orang di depanku. Aku pergi dulu bayar utang, nanti balik kesini, dia bisa nunggu sambil ngrokok2 kuraba sakuku, tadi sebe lum pergi aku sempat menyambar rokok Djisamsoe yang ada di meja pak lurah, tapi alangkah kecewaku, rokokku hilang pasti terjatuh saat kejar-kejaran tadi, ah pupuslah harapanku, tapi kalau di pikir2 kalau untuk bayar hutang saat ini aku sendiri tak punya uang. Eh kamu jangan hiha hihik kalau baca, pasti kamu ngira aku pengecut, bener aku mau bayar utang tak bermaksud lari, ini pilihan sulit tak seperti yang kau kira, aku hanya takut kalau mati masih menang gung utang. dan aku tak takut berkela hi, soal aku di terminal Pulogadung di todong preman kemudian semua uangku di minta lalu ku berikan.itu memang kare na aku tak mau berkelahi dan tak suka berkelahi, kalau mau orang di depan ku ini, daripada berkelahi mending main gaple, atau skak, atau macan2an, atau yang lebih gampang lagi, suit. Yang kalah harus mengakui kalah, jadi gak ada yang terluka, eh pembaca jangan ketawa-ketawa aja, aku tahu kalian menganggapku pengecut, lagian kalau aku mati, kalian kan gak tau kelanjutan cerita ini, oke aku ngalah memang aku pengecut, lalu kalian mau apa? bingung , terjadi pergolakan dalam pikiran ku. Ah aku masih berharap ada pemuda kampung yang datang kesini membantu ku, repotnya kalau menja di orang udah terlanjur di anggap sakti, keringat mengucur, dari semua pori-pori tubuhku, bahkan punggungku basah. Padahal udara sangat dingin sekali. sesaat hatiku lega, ketika kulihat bayangan mende kati. Tempat aku dan orang bertopeng itu berhadapan. Tapi rasa legaku segera sumpek lagi, karena yang datang ternyata Mujahidi, wah sama aja, parah. Bisa tambah runyam ini urusan. Gimana gak runyam, Mujahidi ini lebih pengecut lagi, mungkin embahnya pengecut. Sama ulat aja takut, jangankan ulat, di tubuhnya di rambatin kecoak aja gidrang-gindrannya aja tak henti, merinding terus. [hua ha ha, rupanya pendekar dari pesantren Pacung lagi yang datang, sungguh bangga bisa ber tarung dengan orang gagah]kata orang bertopeng itu dengan nada menghina,mungkin dia sudah tau kalau kepen dekaran kami cuma cerita saja, [heh muja, kenapa kamu kesini..?] tanyaku berbisik, setelah dia ada di dekatku. [aku cuma ngi kuti emas ian, soalnya tadi arah larinya kesini.dia tuh siapa mas?][ya ini orang nya yang suka nyulik gadis][waduh bahaya kal au begitu mas, mending lari aja mas..]Mujahidi beringsung sembunyi di belakangku,itu sudah aku kira, jadi aku tak terkejud melihat tingkah Mujahidi.lalu bisikku[eh apa enggak perlu pake alasan?] [ya enggaklah ya lari, lari aja,] aku baru saja mau menyetujui usul mu jahidi, Tiba-tiba orang bertopeng itu telah bicara[ah jangan banyak bacot, terima serangan] kaki orang itu lurus menen dang keperutku, gerikan nya begitu cepat. ngehg.!perutku kena ten dangan telak. Aku tak sempat lagi mengelak, atau lebih tepatnya tak tau cara mengelak, kare na memang tak tau baga imana bertarung, perutku mulas bukan main, tapi aku masih untung jatuh ku menimpa Mujahidi yang ada di belakangku. Aduh perutku mules banget. Ah mungkin bisa jadi alasan aku beol dulu, tapi setahu ku dalam cerita silat tak ada yang menghentikan pertempuran untuk beol dulu, apa nanti tak malu2in. Tiba-tiba bruuuet...! Angin ke luar tanpa bisa ku cegak lagi, Mujahidi mendorong ku, [ah kentut, buh baunya seperti kentut gen druwo...]Mujahidi memegangi hidungnya seakan2 yang ku kentuti hidungnya. Dia berbangkis 2. Aku segera berdiri, setidaknya mulas di perutku berkurang. Tiba-tiba kudengar bisikan halus di telingaku, jelas aku tau itu suara Kyai. [mas ian, baca Basmalah tiga kali, tahan napas.,] tanpa menunggu, langsung aku praktekkan. Dan kurasakan dari pusarku mengalir suatu hawa rasanya dingin2 panas seperti balsem cap lang, mengalir deras ke setiap urat2ku, mengalir keujung jari kaki tangan dan kakiku. Sehingga tubuhku makin lama makin ringan, dan kakiku serasa tak menapak lagi kebumi, mengalir ke kepala sehingga mataku makin lama makin jelas melihat, tempat inipun menjadi seperti siang di penglihatanku. Bahkan seekor nyamuk yang terbang kian kemari tampak nyata sekali, suara nyamuk yang hinggap pun terdengar kakinya menapak di nisan . Aku tak tau apa yang terjadi denganku, hawa yang mengalir dari pusarku masih terus mengalir. [huahaha...., pendekar, jawara tai ayam, curot, murid pesantren Pacung tak ada isinya..,] suara orang bertopeng itu memecahkan sunyi yang menyelimuti pemakaman tua itu. [mati saja kalian]setelah mengatakan itu tubuh orang itu berkelebat. Kaki di hantamkan lurus kearah ku, kaki satunya menekuk. Tapi di pandanganku serangan itu seperti filem dalam gerakan lambat. Tiba-tiba kurasakan ada tenaga dari dalam tubuh ku. Aku menyamping, kaki yang menderu ke arahku. Ku cengkeram dan ku tarik sehingga lelaki itu terlempar mengikuti ten dangannya. Dan tanganku menelusup menghantam lehernya dengan pergelanganku. hugh!!, tubuhku terseret oleh tubuhnya, kaki kiriku yang terangkat segera memalu belakang kepala nya sementara tanganku menarik lepas kain penu up kepalanya, dan bret..! Aku kaget bukan main, [hah carik sanusi...!] orang yang menjadi maling para gadis itupun kaget , tutup wajahnya lepas. Lebih kaget lagi dia tak menyangka akan seranganku. Cepat berun tun, telak, aku sendiri ka get, dan tak tau apa yang menimpaku sehingga mampu menyerang begitu jurus yang kupakai seperti jurus taici. Mujahidi juga terlongo2 menyaksikan sepak terjangku,[ setan alas. Bajulbuntung, tai kebo, jiampot, rupanya punya simpanan hah.]umpat carik sanusi panjang pendek, lalu segerat mencabut goloknya. Aku pun segera mencabut golokku. Golokku ini di bilang golok biasa ya memang golok biasa.ka rena sering ku pakai memotong kayu bakar. Soal kesaktiannya sudah tak terhitung berapa nyawa ayam termakan ketajamannya. Golok ini pemberian Kyai, karena memang aku tak punya uang untuk membeli golok, golok ini bergagang kayu sawo kecik, di buat oleh orang ciomas. Kampung pembu at golok paling punya nama di tlatah banten. Sebelum membuat golok besi di tancapkan di tanah pada waktu bulan purnama, dan baru di ambil bulan purnama kemudian, sehingga besi nya menjadi besi kuning tahan karat dan tua. Ilmu kekebalan yang bagaimana pun akan terluka tersentuh golok ini, karena di isi oleh Kyai. tapi aku tak mau terbawa oleh cerita mistik tentang golok, makanya golok ini kubuat bekerja di dapur. Suing...!terdengar desingan ketika sanusi menyerangku dengan ilmu goloknya, aku tak me ngerti ilmu golok, tapi yang jelas serangan sanusi tak bisa di anggap remeh, goloknya menderu menjadi beberapa bagian, lagi2 kekuatan dalam tubuhku seperti menggerakkanku aku mengikuti saja. Ketika tubuhku juga berkelebat yang jelas di seluruh tubuh ku seperti ada sentakan2 kecil seperti setrum listrik, yang membuat golokku ber kelebatan kesana kemari, Sangat cepat dan tak terduga. Mengurung sanusi dari segala arah, wut,wut, betbetbet. Begitu suara nya. trang...!golokku berbenturan dengan golok sanusi, tak terasa apa-apa, tapi golok sanusi terlepas dan dia memega ngi tangannya .ada kekua tan yang menarikku mundur badanku pun melayang se perti kapas, kemudian hinggap di tanah dg perlahan melayang. Kulihat sanusi terhuyung, ternyata hasil seranganku sungguh mengerikan, beberapa detik kemudian terlihat di sana sini tubuh sanusi penuh luka sedalam setengah senti. Bahkan pakaiannya terca bik2 tak karuan, sanusi melenguh lalu melempar kan sesuatu kearahku, ku kira itu sebuah tulang kecil2, dan bulz asap mengepul tipis. Tiba-tiba saja telah muncul, empat pocong mengurungku, aku kaget dan ngeri melihat empat pocong yang wajahnya ada yang cuma tengkorak, ada yang biji matanya sudah hilang satu, biji mata yang satu keluar seperti mau jatuh.sementara tempat hidung telah gerowong, juga rahang dan giginya hilang, aku pontang panting karena pocong itu tak mempan di bacok, gol okku membal ketika mengenai kain pocong itu sehingga aku panik, dan hanya bisa menendang tuk menjauh kan pocong itu, tapi keti ka pocong itu terjengkang maka tubuhnya seperti memantul, tegak lagi,[hai Mujahidi bantu aku]aku berteriak panik karena sudah lelah, tapi Mujahidi rupanya pingsan tubuhnya menyender ke pohon sambil berdiri. Ah rupanya aku harus berjuang sendiri , tenaga di dalam tubuhku melontarku ke atas, tubuhku melayang ringan di atas pocong2, lalu bersalto dua kali dan hinggap di dekat Mujahidi ku dekati dia memang benar2 pingsan, mungkin pingsan saat melihat pocong2 itu, uh matanya sampai melotot dan mulutnya terbuka lebar. Tiba-tiba terdengar bisikan Kyai di telingaku. [ mas ian kalau membacok pocong itu baca takbir]. Mendapat pesan seperti itu aku lantas menggenjot tubuh, berkelebat bak anak panah lepas dari gendewa membabat empat pocong sekaligus. Sambil memba ca takbir, dan memang golokku bisa merobek kain ules mereka. Dan blesss.! Begitu saja pocong-pocong itu berhamburan seperti debu yang di taburkan keudara. Hilang. Aku berdiri sejenak memandang berkeliling, carik sanusi telah tak ada dia tadi melempar tulang kearahku langsung kabur. ku dekati Mujahidi, ah enak2an dia pingsan, ku coba membangunkan dengan cara apa saja tapi tetap aja pingsan, aduh nih orang nambah kerjaan aja. Sekarang mungkin jam dua dini hari, embun sudah mulai turun. Aku berpikir pasti Anggraini di sembunyikan di pemaka man tua ini, ku tinggalkan Mujahidi, menuju arah tadi aku pertama kali aku melihat carik sanusi datang, untung penglihatanku terasa terang, sehingga aku dapat melihat jelas sekitar ku. Nampak makam2 yang aneh berbatu nisan batu u kir, mungkin makam zaman hindu kuno, pohon kemboja, randu alas, dan pinggir makam di tumbuhi pohon bambu yang rapat. Aku berhenti di sebuah nisan aneh bentuk nya seperti kepala kuda, tapi patah sampai matanya.juga telinganya yang keatas sudah patah, aku bersandar, tapi ketika aku sandari nisan kepala kuda itu bergeser, aku terkejut, karena tanah yang ku injak terbuka begitu saja dan aku pun jatuh ke sebuah tangga semen, menuju kebawah. Sebentar aku terkejut, rupanya di makam ini ada ruangan rahasia, pantas sanusi selalu dapat meng hilang kalau di kejar orang kampung. rupanya rahasianya di sini, perlahan ku turuni tangga golok ku keluarkan, untuk berjaga2 dari sesuatu yang tidak ku inginkan, dinding bawah tanah ini lumayan rapi, karena di semen walau asal2an dan kasar. Ada lampu minyak menempel di dinding. yang cahayanya bergoyang2 karena tertiup angin yang masuk, wah gila juga si carik sanusi menciptakan tempat seperti ini, ruangan bawah tanah ini ada dua aku masuki ruangan satu, luasnya kira-kira empat kali tiga meter, ada meja kursi, piring, mangkok dan pera latan masak, ruangan ini rupanya dapur dan tempat makan, aku ke ruangan satunya lagi, rupanya yang ini ruangan tidur, ada ranjang kayu berkelambu. Ku dekati ranjang kayu, dan aku terkejut, menemukan Anggraini walau sebelumnya sudah mengira Anggraini ada di situ. Mata gadis itu melotot tubuh Anggraini di geletak kan begitu saja, di kiri kanannya bertaburan bunga aneka warna, pasti di sini juga gadis yang lain menemui ajalnya, aku merinding juga membayangkannya, seperti banyak mata gadis gadis yang mati memandang ku, meminta keadilan, atas kehormatan dan nyawa yang terenggut tanpa sisa. Tiba-tiba hawa yang keluar dari pusarku meng alir, deras menuju jari telunjukku, dan ku ikuti saja ketika tanganku bergerak, membuka totok an yang ada di tubuh anggraini, aku masih tak mengerti apa yang bergerak di tubuhku, sampai di pon dok pesantren nanti aku akan bertanya kepada Kyai. Anggraini setelah bebas dari totokan segera saja menghambur memelukku. Menangis se jadi2nya. aku sempat gelagapan, maklum aku tak pernah di peluk wanita, kringetan juga, gemeter. Apalagi meluknya dengan erat. Aku lelaki normal, bagaimanapun juga, walau imanku kuat, pasti imron kgak bakal kuat, sebelum setan, membisik kan yang enggak-enggak, aku segera melepaskan tubuh anggraini dari tubuhku. [sudahlah, sekarang sudah aman] [tapi aku takut seka li kak.]katanya mengiba, air matanya berderai2 membasahi pipi. [sekarang mari pulang , kuantar ke ayah ibumu, pasti mereka Sangat mencemaskan keselamatanmu] Anggraini mengangguk, kemudian kami keluar, anggraini masih menggenggam lengan kiriku. Mungkin takut, mungkin menyukai ku, ah tak taulah, aku kasihan, gadis muda begini, mengalami pengal aman yang mengerikan, tak terbayangkan bagaimana dia di perkosa dan dibunuh seperti gadis-gadis yang telah mati menjadi korban carik sanusi. kami berjalan pulang ke pasirseketi, di tengah jalan kami bertemu dengan, serombongan para pemuda yang semalam ikut mengejar sanusi. Semua ribut menanyakan bagaimana Anggraini bisa di temukan bagaimana penculiknya, agar tidak bertanya terlalu banyak, maka ku katakan penculik yang selama ini, membuah resah warga desa adalah carik sanusi. Sontak para pemuda itu kaget tak percaya, tapi setelah Anggraini meng iyakan, maka mereka marah, dan berbondong2 mendatangi rumah sanusi Aku dan Mujaidi melanjut kan perjalanan mengantar Anggraini. sampai di rumah Bu lurah yang Sangat kuatir keselamatan anak nya segera menghambur memeluk anak semata wayangnya. Tangis-tangisan ramai terdengar. Sementara istri dan anaknya bertangis-tangisan Pak Lurah mengajakku dan Mujahidi keruang de pan, ku ceritakan dengan singkat sampai para pem uda yang mau mendatangi rumah carik sanusi., ketika tau yang menjadi biang segala pembunuhan adalah sanusi Pak Lurah terkejut dan menggeleng2 kan kepala tapi segera mengajakku untuk mendatangi rumah sanusi sebelum ter jadi sesuatu yang tak di inginkan. Aku dan Mujahidi mengikuti Pak Lurah yang melangkah tergesa, namun di jalan tak henti-henti mengucapkan terimakasihnya [sekali lagi aku dan segenap warga desa, khususnya aku pribadi Sangat berterima kasih dg nak mas ian, kalau tak ada nak mas ian, apa jadinya Anggraini, mungkin kami tinggal menunggu mayatnya di temukan di pinggir kali] Pak Lurah berjalan sambil menangis haru. [sudahlah pak, yang penting semua telah berlalu].aku mencoba bersikap bijak, walau kedengarannya wagu. Yah bagaimana kata bijak keluar dari mulut pemuda seperti aku, rambut panjang sepung gung, walau selalu ku ikat dengan rapi, anting kecil di telinga kananku, wajah hampir mirip perempuan, yah mungkin karena pergaulanku, sebagai pelukis motor airbrush. Sehingga tampang cuek dekil, seenaknya, semua melekat begitu saja da lam diriku, bagaimana mungkin, kata bijak bisa keluar dari mulut ku, kalau ada kata bijak mungkin kata itu akan terbang karena tak punya bobot mati. Sampailah kami di rumah carik sanusi. Teriakan para pemuda ramai terdengar bersahut2an[bakar saja rumahnya, seret saja keluar, lalu bacok rame2. Di rajam saja,terlalu enak kalau mati cepat.]tapi semua pemuda tak ada yang berani maju, melewati pagar rumah sanusi. Karena setiap melewati pagar, paku2 segera beterbangan, malah telah ada dua pemuda yang terluka lengan dan pahanya kena sambitan paku. [bagaimana ini nak mas?] tanya Pak Lurah.aku menggeleng tak tau. [hei sanusi ayo keluar serahkan dirimu.!] Tiba-tiba Pak Lurah berteriak, dan teriakan Pak Lurah di jawab dengan meluncurnya paku kecil hitam kearahnya. Aku segera berkelebat, tring...! Sepuluh paku rontok jatuh ke tanah, tertangkis golokku [Bagaimana ini mas?] tanya pak lurah kawatir, aku menggeleng [tak tau lah pak,] sementara waktu telah beranjak pagi kiau burung mulai terdengar di sana sini, orang2 sudah tak ada yang berteriak-teriak lagi, mungkin sudah lelah, sehingga keadaan hening. Kulihat rumah carik sanusi, rumah yang besar namun biasa saja, dinding rumah bagian depan menggunakan kayu tanpa di cat. Dan dinding rumah bagian belakang menggungkan bambu yang di anyam, sedang lantai rumah geladak setinggi kurang lebih tujupuluh senti dari tanah. Depan pintu utama ada balai2 yang ada tangga kecil dari kayu. Balai2 kayu itu selebar duakali empat meter. Tiba-tiba terdengar suara mobil datang, rupanya mobil polisi. Dua polisi keluar dari mobil, lalu menghampiri Pak Lurah[bagaimana pak keadaanya?] tanya polisi itu setelah ada di dekat Pak Lurah. [wah sulit pak] [sulit bagaimana] [yah setiap orang mau maju langsung di hujani paku, sudah ada korban dua orang][bagaimana kalau kami menyerbu?] [apakah itu tak berbahaya sekali?] aku maju menimpali[ pak polisi, bagaimana kalau saya maju mengajak berunding carik sanusi?][lho anak muda ini siapa?] tanya polisi itu di tujukan pada Pak Lurah. Mungkin dia curiga, karena tampangku, yang lebih mirip kriminal daripada orang baik2. [oh dia murid Kyai Lentik, yang kami mintai bantuan, sebenarnya sanusi sudah terluka parah karena semalam telah bertarung dengan nak mas ian.] [oh maaf saya tak tau] wajah polisi itu menatapku kagum, kemudian menghor matiku dengan sedikit membungkuk, sementara temannya manggut2. [bagaimana menurut nak mas?]tanya polisi itu di tujukan padaku. [yah gimana seandainya aku maju mengajaknya berunding, sementara pak polisi menghadang dari pintu belakang, kalau2 dia lari?] [yah patut di coba] . Dua polisi itu pun kemudian berjalan memutar menuju belakang rumah, sambil mencabut pistolnya, aku mengeluarkan golokku bersama sarungnya kepada Mujahidi [wah apa kgak terlalu berbahaya mas?, nanti kalau mas ian di sambitin paku, aku kgak bawa tang tuk nyabutinnya. ]Mujahidi menerima golok ku dengan ragu. [udahlah berdo'a aja. [kalau menurut saya di kepung aja, yang atu ngepung yang lain makan, gantian gitu, lama2 juga dia pasti kelaparan dan mati.] [ah kamu ini]aku menepuk pundak Mujahidi seraya melangkah maju, semua mata menatap kearahku, orang2 kampung pasir seketi juga sudah mengerumuni tempat itu mungkin juga dari desa2 tetangga, mereka menon ton dari jau, seakan ini tontonan yang gratis. Aku tak perduli, dengan langkah mantap aku melangkah maju. semua mata tegang menatapku, aku berhenti dua meter dari tangga kecil untuk naik ke balai rumah sanusi, sambil menunggu kalau2 ada paku yang menyambar. Lengang aku berkata [ carik sanusi, aku tak bersenjata, aku mau berunding, ] kataku seraya membuka lebar-lebar lenganku, kalau2 dia mengintip dari dalam maka akan melihatku tanpa senjata, lalu aku memutar tubuhku untuk meyakinkan. Suasana masih hening tak ada jawaban. Setelah menunggu beberapa menit aku melanjut kan melangkah maju. Melewati anak tangga satu2, lalu menginjak papan paling tepi dari balai 2 rumah itu, braak!! pintu depan rumah itu lepas, melayang cepat ke arahku yang berdiri dalam posisi yang tak menguntungkan, dibelakang pintu itu sanusi yang dengan goloknya beringas menyerangku. [mampuslah kau, anak setan alas..! Kau telah menggagalkan semua usahaku selama ini.!] aku yang terpelanting karena hantaman daun pintu, tak bisa menghindar lagi ketika sanusi menghantam kepalaku, semua orang yang menonton menjerit, mukaku pun pucat. Ah mati aku ! Tapi prak!! Golok sanusi telak mengenai kepalaku, tapi Aku tak merasakan rasa sakit sama sekali, malah keku atan dalam tubuhku, menggerakkanku dengan cepan, tubuhku begitu ringan berkelit dari timpaan daun pintu tau-tau telah berdiri di belakang sanusi, dan melakukan totokan sana-sini, sehingga sanusi jatuh menimpa daun pintu yang jatuh dahulu. Tubuhnya kaku, karena totokanku yang tak ku sadari telah mencabut semua ilmu yang di miliki, seketika semua orang ber sorak.. Lalu terdengar sua ra berteriak [habisi penjah at cabul...] kontan semua orang menyerbu. Pagar pun roboh di terjang orang-orang kampung yang marah, aku tak bisa menahan ketika tubuh sanusi dihujani golok, batu, pentungan, massa rupanya teramat marah. Pengeroyokan baru ber henti setelah terdengar suara tembakan. semua orang kampung yang mengeroyok mundur, tubuh Sanusi, tak berbentuk lagi, aku yang berdiri di atas balai-balai melihat dengan jelas, betapa mengerikannya, wajahnya telah tak di kenali lagi, terlalu hancur, juga tubuhnya sudah tak karuan, darah seperti di tuang begitu saja, sungguh kengerian yang tiada tara, aku berjalan meninggalkan tempat itu menghampiri Mujahidi yang juga terbengong, aku se- gera menarik tangannya tuk segera meninggalkan tempat itu, Pak Lurah me lihatku, dan menghampiri, [nak ian, mampir dulu ke rumah dan tunggu aku di rumah, biar aku mengurus dulu di sini.] aku manggut aja, lalu menyeret Mujahidi untuk bergegas pergi. Dalam perjalanan, Mujahidi selalu menyanjungku. [ ah bener- bener kgak nyangka saya, kalau mas ian sehebat itu, punya ilmu kebal lagi, uh uh, apa kgak sakit mas tadi dibacok di kepala? Wah saya ampek teriak mas tadi, ngira kepala mas ian pasti belah, ee, ternyata kgak apa-apa] [kamu dah puasa yang tingk at keberapa?]. Tanyaku, karena di tempat Kyai, para santri di nilai tingka tannya dari sebanyak apa puasanya, karena puasa menurut Kyai adalah wadag atau raga, sedang wirid adalah isi. Mujahidi menggeleng [wah sama sekali belum mas.] [wah kalau begitu kapan kamu punya ilmu kalau begitu, tempat untuk menampung ilmu aja kamu tak pernah ada?] [yah kalau besok pulang ke pesantren saya akan mulai puasa, setelah melihat dengan mata kepala sendiri, saya jadi ngiri ama mas ian, mas ian baru dua tahunan punya kelebihan yang begitu hebat, sementara saya yang sudah lima tahunan, belum bisa apa-apa, karena malas tak pernah puasa, kalau dari dulu saya puasa, pasti saya udah sakti ya...] Mujahidi menerawang, aku cuma bisa tersenyum, memang begitulah manusia selalu menyesali waktu yang telah berlalu. Apalah artinya hidup kalau tiap waktu tak ada perkembangan, sementara umur selalu berkurang. tanpa terasa kami telah tiba di depan rumah Pak Lurah. Setelah masuk ke halaman, Bu lurah segera menyambutku, dan mem persilahkan masuk, tapi aku memilih duduk di luar di beranda, rumah Pak Lurah ini tak seperti rumah yang lain, yang selalu ada geladaknya, tapi rumah Pak Lurah ini tetap tinggi dari tanah, sehingga ada undakan dari semen, untuk naik ke atas, semen tara ubinnya dari keramik. Rumah-rumah di daerah ini di jauhkan dari tanah karena tanah di sini kalau hujan beceknya minta ampun, orang yang jalan pakai sendal, pasti sendal nya akan di lengketi tanah sampai sejengkal. Baru beberapa menit kami berdua duduk di kursi beranda, Anggraini telah keluar membawa baki penuh makanan kecil dan minuman, setelah meletak kan makanan dan minuman yang di bawa. Aku tak memperhatikan, tiba-tiba Anggraini berdiri di depanku, lalu bersimpuh di depanku, aku terkejut sekali. [eh, eh apa apaan ini?] aku berusaha mengangkat lengan Anggraini, tapi gadis itu menangis sesenggukan[hu hu,mas ian, kalau tak ada mas iyan apalah, jadinya aku..hu..aku pasti tak Sanggup membalas budi, dan pertolongan mas ian. .hu..aku siap mengabdikan diriku ..hu] [sudah-sudah ayo berdiri, tak baik di lihat orang, ayo berdiri] kataku sambil me nyalurkan tenaga prana lewat lengannya supaya dia tenang. Perlahan gadis itu berdiri, dan tegak di depanku. [jadi mas ian mau menerima pengabdianku?]. Aku yang tak mengerti, mang gut aja. Dari pada masalah yang tak ada ujung pangkal nya berkepanjangan. Sete lah aku manggut, gadis itu wajahnya kelihatan ceria, dan mengusap air mata nya kemudian melangkah ke dalam. Beberapa detik kemudian Bu lurah keluar dan mempersilahkan kami menikmati hidangan, Mujahidi kulihat mulutnya telah penuh makanan, bakwan mendoan, tahu goreng, uh cabe yang di piring yang udah aku incer udah ludes. Mujahidi, enak aja mulutnya manyun kesana kemari, mengunyah makanan yang penuh di mulutnya sambil omong, [hm..., semaleman bertarung, laper mas..,hm hm enak] lalu setelah makan dia mengeluarkan sebatang Djisamsoe yang udah gepeng dan melengkung. Kemudian menyala kannya, asap mengepul dari bibirnya yang hitam kayak habis ditonjok orang, juga asap keluar dari lubang hidungnya yang lebar karena sering di korek-korek di cari kotoran upilnya. Aku makin jengkel aja melihat tingkah Mujahidi, tanpa memandang sebelahnya yang jakunnya naik turun. Sebenarnya aku ngiler pada rokok yang diisepnya, tapi aku tak mau merengek-rengek, minta satu dua isepan, walau kalau di kasih, aku gak bakal menolak. Karena melihat Mujahidi, kelihatannya rokoknya tak akan di bagi, aku segera pamitan kepada Bu lurah untuk pergi ke musholla, sekalian nunggu waktu sholat duhur , sambil selonjoran karena semalaman belom tidur, aku langsung tidur, jam menunjukkan jam sepuluh lewat lima menit. Wah kalau ingat jam jelek yang selalu meling kar di tanganku ini, heran juga, yah walau jam tangan bermerek Casio ini nurut aku jelek, tapi awet banget, juga tahan air, aku malah ngira jam ini tak pakai batre untuk men opang jalan angkanya. Soalnya sampai tiga tahun kgak mati-mati, padahal semenjak ku beli, belum pernah aku melepasnya. Mandi, tidur kemana aja jam ini ku bawa. Sampai bentuknya buduk banget. Kaca mikanya jaret-jaret kesana sini. Penunjuk waktunya yang cuma angka-angka itu memuda hkanku. Apalagi kalau ingat waktu mendapatkan nya, saat itu aku dari serang banten mau pulang ke tuban nyampai terminal pulo gadung. setelah membeli tiket Bus malam jurusan Senori Tuban. Aku segera menca ri tempat duduk, karena terlambat dikit aja aku pasti tak akan dapat kursi, karena siapa cepat dapat. Untung aku masih kebagian kursi di tengah, walau pun Bus yang ku tumpangi jauh dari nyaman, aku berusaha menyamankan diri, Bus masih menunggu penumpang penuh. Dan menunggu jam keberangkatan. Para pe dagang asongan berseli weran, sehingga menambah keadaan makin ribut. Tak jarang para pedagang itu menawarkan dagangannya di sertai paksaan. Terdengar seorang pedagang jam tangan menawar kan dagangannya, sampai di depanku dia menawar kan dagangannya kepadaku, tapi aku menggeleng. [di lihat dulu mas, ngelihat kgak bayar kok] kata pemuda penjual jam nya. Aku pun melihat, walau aku tak tau tentang jam tangan, tapi menurut ku semua jam tangan yang di jualnya tak bagus. Maka ketika dia menawar kan kepadaku untuk membeli satu, aku menolak, lagian aku tak punya uang. Tapi dia maksa malah memakaikan jam tangannya ke pergelangan tanganku, [ayolah mas di bayar, cuma limapuluh ribu aja kok.] aku mau melepaskan jam tangan dari pergelangan tanganku, tapi pemuda itu menahan. [ayo di bayar,] [maaf ,aku tak mau dan tak ingin punya jam tangan] kataku [kamu jangan maksa]. [eh kamu udah ngelihat-lihat udah make jam tanganku tapi kgak mau bayar, kamu ngajak berantem?!] nadanya menantang. Sementara bus sudah jalan. [heh yang makekan kamu , kamu jangan memutar kata-kata ya, aku bilang aku tak punya uang] aku juga mulai emosi. Dia tersenyum mengejek [heh, oke aku akan ambil semua uang di sakumu, sebagai pengganti jam tanganku] aku diam saja ketika dia merogoh uang di sakuku, karena memang aku tak punya uang. Sementara kondektur telah menyuruhnya turun. Dia tak menemukan apa-apa kecuali uang lima ribuan. [ah kere...!] katanya sambil bergegas turun, karena kondektur yang sudah mem bentaknya turun. Dan jam tangan ini sampai sekarang ada di tanganku. Aku berharap pemuda penjual jam itu insaf dan melakukan jual beli dengan wajar, dan aku juga berharap, jam tangan ini setiap ku pakai beribadah maka pemuda itu mendapatkan pahala. Dalam tidur aku merasa ada banyak orang yang duduk berbisik-bisik di bawah kakiku. Aku pun membuka mata dan mengangkat sedikit kepala untuk meyakinkan praSangkaku. Ternyata benar, banyak sekali pemuda kampung pasir seketi. Dan yang aku kenal namanya ada yang namanya jejen, maman, nono, safi, imam dan banyak lagi yang aku tak tau namanya, aku segera bangkit duduk, [eh apa sudah saatnya sholat?] tanyaku karena menyangka, pemuda-pemuda ini mau sholat. [Belum.] jawab mereka serempak. [lho, lalu kenapa kalian duduk di sini?] tanyaku heran, sambil membetulkan ram but panjangku yang ikatannya kendor, sehing ga yang rambut pendek lepas, agak membuatku risih, kulihat Mujahidi tidur mendengkur di sebelah kananku, sekali waktu mulutnya berkriutan, mungkin makan emping atau daging yang agak liat kulihat semua pemuda saling memberi isyarat, untuk mewakili bicara. Akhirnya yang bicara pemuda bernama jejen. [jadi, anu...,]pemuda itu rikuh, sehingga dia susah mengeluarkan kata-kata, jejen , pemuda ini ku tak sir umurnya duapuluh dua tahun, tubuhnya kecil, tapi berotot karena biasa kerja di kebun. Wajahnya juga kecil tapi, kelihatan tua, jejen pernah ke tempat Kyai, tapi di sentil Kyai, supaya jangan sering nonton video porno, lalu malu sekali, sehingga tak berani datang lagi. [anu mas ian, maaf kalau kami mengganggu tidur mas ian, kami semua pemuda desa meminta dengan Sangat supaya mas ian bersedia membim bing kami, menjadi guru silat di desa pasir seketi ini.] seperti telah melepaskan beban di dadanya, jejen menarik napas lega. Aku tak terkejut , biasa saja, sementara kulihat para pemuda ya kebanyakan umurnya di atasku itu, tegang menanti jawabanku. [aku mau-mau saja menjadi guru kalian, tapi apakah kalian Sanggup untuk menjadi muridku?] [Sanggup...!] terdengar suara serentak. [kami Sanggup di suruh apa saja, ]kata jejen menambahi. Karena waktu itu sudah masuk waktu sholat maka aku mengajak mereka semua sholat berjamaah. Setelah selesai menjalankan sholat, para pemuda itu duduk melingkariku, mungkin semua sekitar tigapuluh orang. [saudara ku semuanya, ]aku membuka pembicaraan [perlu kalian ketahui, ilmu yang akan ku turunkan kepada kalian ini, di namakan ilmu laduni, dasar amalannya adalah wirid, Sementara kalian harus menjalani puasa, untuk memiliki ilmu ini, kalian harus membeli ilmu ini dengan puasa, semakin banyak kalian puasa, maka akan semakin banyak ilmu yang kalian dapat....]aku menje laskan panjang lebar tentang ilmu laduni, dan setiap pertanyaan aku jawab sampai mereka puas. Setelah memberikan wirid yang har us jadi amalan, aku segera pamit meninggalkan pemuda2 desa itu, karena Pak Lurah telah datang memanggil untuk menga jakku makan. Kami makan dengan lahap, Mujahidi sampai nambah tiga piring, selesai makan kami duduk di beranda depan, sambil menikmati rokok Djisamsoe, Pak Lurah membuka pembicaraan. [ah si sanusi, kenapa dia bisa melakukan perbuatan sekeji itu?] tanpa tau arah pembicarannya aku menjawab [yah itulah pak, nafsu kalau sudah mengalahkan akal budi, manusia lupa diri, dan perbuatan kejipun di lakukan.] lalu Pak Lurah menceritakan. Sanusi sebenarnya masih ada hubungan saudara de ngan Pak Lurah, meskipun jauh. Sanusi muda adalah orang yang suka ilmu debus dan kanuragan. Dia suka mengembara mencari guru. Bertahun2 sanusi mengembara sampai akhirnya dia pulang dengan berbagai ilmu kesaktian. Dia menu njukkan ilmu kesaktian nya pada pemuda2 sehingga para pemuda desa merasa takut padanya, sanusi sering memperlihatkan ilmu kebalnya, sehingga para pemuda tertarik untuk belajar ilmu silat kepadanya, maka sanusi pun menjadi guru silat. Tapi karena belajar silat di tempat sanusi di pungut iuran yang tinggi, maka banyak pemuda yang mengundurkan diri, karena tak mampu membayar. Akhirnya perkumpulan silatnya pun berhenti. Ketika terjadi pemilihan lurah, sanusi pun mencalonkan diri, dan lawannya adalah Pak Lurah yang sekarang, tapi ternyata sanusi yang kalah dan Pak Lurah pun menduduki jabatan lurah. Tak ada apa-apa setelah itu, tapi suatu hari sanusi yang telah di angkat jadi carik, datang ke rumah Pak Lurah untuk melamar Anggraini, tentu saja di tolak walau secara halus, karena sanusi umurnya lebih tua dari pada Pak Lurah, yang pantasnya menjadi ayah Anggraini. Juga sanusi adalah seorang duda, cerai dengan istrinya, sering cekcok dan kalau sudah cekcok istrinya sering dipukul. Pak Lurah menghela napas berat [tak menyang ka, sanusi yang pendiam mampu melakukan keke jian seperti itu]. Aku hanya manggut2, lalu mau pamitan pulang ke pondok Pacung. Tapi Pak Lurah mencegah, kemudian mengajakku ke dalam, katanya ingin bicara empat mata, dan kami berdua masuk meninggalkan Mujahidi yang masih duduk mengebulkan rokok dji samsoe. Sampai di dalam kami segera duduk di sofa, sebentar kemudian Bu lurah pun menyusul ikut duduk. Aku bertanya-tanya dalam hati sebenarnya ada apa?. Keh eningan sebentar terasa karena Pak Lurah tak segera bicara, nampak bu lurah menjawil suaminya.seakan memberi isyarat supaya lekas bicara. [anu...Nakmas ian, apakah nak mas tidak berkeinginan untuk men jadi orang desa Pasir seketi?] [apa maksud Pak Lurah?] tanyaku, seperti orang bodoh. [maksud kami, kami ingin menjodohkan Anggraini, dengan nak ian.] walau aku telah menyangka sebelumnya, secuek-cueknya aku, tetap terkejud juga. Baga imana tidak menikah adalah, kehidupan suami istri yang berwatak berlainan, kalau bisa sekali untuk se umur hidup, jadi tak bisa asal comot, tanpa memikirkan resikonya, tidak asal pilih kayak memilih jajanan pasar. Atau kalau tidak akan menyesal selamanya. [menurut saya, anggraini itu gadis yang cantik, setiap pemuda yang melihatnya pasti akan tertarik, termasuk saya,] [kalau begitu tunggu apa lagi?] tanya Pak Lurah ber semangat. [tapi Pak Lurah, saya ini masih terlalu muda untuk memikirkan pernikahan, saya masih ingin menuntut ilmu.] kataku dengan nada rendah karena takut kata-kataku menyinggung. [ah pondok Pacung kan dekat dari sini nak mas?, kalau mau mengaji nakmas kan bisa berangkat dari sini kalau sudah jadi istrinya Anggraini,] suara Pak Lurah nyerocos suaranya seperti mengemplangku dari kanan kiri. Bu lurah pun menambahi[iya nak jadilah mantu kami, kami sudah sediakan semua, dari rumah, kebun, pokok nya nak mas tinggal men jalani] [bu, pak, sekali lagi saya tidak menolak, tapi untuk saat ini saya benar2 belum berani menikah, nanti saja kalau Anggraini memang jodoh saya, pasti saya akan menjadikan dia istri saya] kataku panjang lebar tapi masih dengan nada sehalus mungkin, karena takut menyinggung. Setelah membujukku sekian lama tak berhasil, Pak Lurah dan istrinya pun menyerah juga. Wajah mereka tertunduk mengguratkan kekecewaan. Sementara dari dalam kamar Anggraini, terdengar suara tangis gadis itu. Tapi memang itulah hidup, kadang kita harus berani mengambil keputusan awal, terluka pun tak terlalu dalam, dari pada akar telah dalam tertanam lalu baru kita cabut pasti luka akan teramat dalam dan susah disembuhkan. Setelah kurasa cukup aku pun mohon diri, tapi Pak Lurah memaksa mengantar dengan mobil kijangnya. Diluar banyak sekali pemuda kampung mau mengantar kepergianku, bergantian menyalamiku. Dan beraneka macam pemberian kuterima, aku tak menolak sampai mobil Pak Lurah tak muat lagi. Akhirnya aku dan Mujahidi pergi meninggal kan desa Pasir seketi. Kulihat mata2 berlinang dan melambaikan tangan. Orang-orang desa yang baik, gumamku . Setengah jam kemudian aku tiba di pesantren Pacung. Suasana pesantren Sangat sepi, tak ada mobil tamu di tempat parkir, ku lihat kholil berlari-lari kecil mendekatiku. [kenapa sepi sekali lel?,]tanyaku setelah kholil ada di depanku, [Kyai lagi sakit] jawabnya dengan mimik muka serius. Ku suruh kholil menurunkan barang -barang yang ada di mobil,[sakit apa?] [kena santet, dan mutah darah] aku tak begitu kaget, karena memang sudah tak terhitung lagi, Kyai terkena santet yang di kirim seseorang, karena Kyai menolong orang yang di santet, jadi Kyai jadi sasaran. [parah?] tanyaku menyelidik, [sekarang ini parah mas, soalnya tubuh Kyai sampai memerah, dan mengeluh kepanasan.]. karena penjelasan kholil itu, aku segera bergegas ke tempat Kyai berada. Setelah ditunjukkan kholil. Bergegas aku melangkah masuk rumah Kyai, suasana hening, nampak Kyai duduk memejamkan mata, sementara semua santri duduk melingkar., tangan tangan mereka tak henti memutar tasbih di tangan, sedang Kyai duduk kedua tangannya di pangkuan, baju putihnya yang di dada belepotan darah muntahannya sendiri, sementara di depannya nampak bak plastik juga banyak darah di dalamnya [kau mas iyan sudah datang,] kata Kyai datar ,masih dengan mata ter pejam. [sini duduk di sampingku]. Aku segera beranjak melangkah dan duduk bersila di samping kanan Kyai, dari dekat memang benar kata kholil semua tubuh Kyai meme rah di dalam, setelah aku duduk tangan kiri Kyai memegang pergelangan tangan kananku, uh panas sekali, lalu tanganku di angkat ke arah pahanya. [baca haukolah tiga kali, tahan napas]kata Kyai masih dengan mata terpejam, suaranya datar namun tenang, aku pun segera membaca lahaulawalaquata illa billa hil aliyil adhim dalam hati tanpa napas, terasa ada aliran hawa sakti teramat dingin dari pusarku, mengalir bergulung-gulung di barengi sentakan-sentakan seperti setrum listrik, ke arah tanganku yang ada di pangkuan Kyai, sehingga kurasakan dengan pasti, aliran itu masuk ke tubuh Kyai, dan kurasakan perla han tubuh Kyai mulai tak panas lagi, tiba-tiba Kyai, terbatuk-batuk dua kali lalu memuntahkan darah, ke bak plastik, nampak darah yang ada di bak plas tik itu sebentar bergolak, lalu diam, dan ada sesuatu yang bergerak-gerak, ter nyata tiga kelabang sebesar ibu jari tangan, dan seekor kala jengking sebesar ibu jari kaki, yang warnanya hitam kebiru-biruan. Kyai segera memutar jari telunjuknya di atas bak plastik, maka aneh kelabang dan kala jengking itu berjalan-jalan mengitari bak plastik itu tanpa bisa keluar. Terpagar gaib. [ah Kyai kenapa, serangan santetnya tak di tolak aja?] kataku kawatir. [mas, kalau tak merasakan bagaimana sakitnya kena santet, lalu gimana aku akan kasihan pada orang yang di santet, orang kalau tak pernah lapar, tak akan kasihan pada orang yang kelaparan, bagaimana orang yang perutnya selalu di isi dengan makanan-maka nan enak bisa kasihan dengan orang yang kelaparan, salah-salah dia menyangka, kalau kata-kata yang namanya lapar itu tidak ada, karena telah buntu akal pikirannya dengan kekenyangan, juga sama dengan santet, selalu banyak orang bilang tak ada, karena telah mampet pikiran oleh rasa sok modern. Lalu siapa nanti yang akan menolong orang yang terkena sihir jahat seseorang yang bernama santet.] Kyai berkata panjang lebar,sambil membersihkan darah di sekitar bibirnya, kemudian melepas pakai an putihnya lalu memberikan pada santri untuk di cuci. [bagaimana tugasnya selesai?] [Alhamdulillah Kyai, semua karena bantuan Kyai] [oh rupanya ada Pak Lurah juga..., sampai tak memperhatikan.] kata Kyai dengan senyum ramah. Pak Lurah yang sedari tadi bengong menyaksikan, segala yang terjadi, langsung kaget, lalu tergopoh-gopoh menunduk-nunduk berjalan menghampiri Kyai, dan bersalaman dengan Kyai. Sementara aku sendiri pamit ke kamar, dalam hatiku, tak habis-habis mengagumi Kyai, Kyai yang masih begitu muda, dan ilmunya tak bisa diukur, tak pernah sombong tak membeda-bedakan segala macam tetek bengek jabatan, mau menteri mau presiden, jendral, jangan harap melihat Kyai menghormat, apalagi menjilat-jilat seperti para Kyai jaman se karang. Kyai yang tak membedakan antara dirinya dengan santri, tidur dan makan bareng santri, Kyai yang waskita tau semua keadaan orang di depannya, dari hari apa, tanggal berapa, dan dimana orang itu lahir, lalu siapa bapak ibunya? Tahu semua apa yang di lakukan dari semenjak orang itu lahir sampai duduk di depan Kyai, tapi Kyai tak pernah mengaku Kyai. Bahkan sepengetahuanku, Kyai tak pernah mengaku Kyai, panggilan Kyai adalah dari orang-orang yang datang,dan setahuku juga Kyai tak pernah menjadi imam masjid, bahkan sholat di masjid kampung aja jarang, aku pernah satu hari jumah, aku di minta memijit kaki Kyai, lalu kata Kyai, nanti aja jumatan bareng saya, aku pun memijat Kyai sambil duduk, tak terasa aku ter tidur. aku benar-benar pulas tidur sambil tanganku masih memegang kaki Kyai, dan kaget karena mendengar suara adzan keras seperti di tempel di telingaku, kontan aku bangun, mengejap-kejapkan mata, melihat kanan kiri, betapa terkejut nya aku, karena aku ada di dalam suatu masjid, dan banyak orang di sekitarku, ada yang berdiri, ada yang sedang sholat, dan ada yang menatapku aneh. Karena aku tidur sambil memegang kaki Kyaiku, membelakangi kiblat. Ah malunya aku, [mas ian wudhu dulu...] kata Kyai karena melihat kebingunganku, aku segera beranjak, masih tak habis mengerti, lalu pergi ke tempat wudhu, di tempat wudhu aku mencoba mendekati seseorang yang sama-sama mau wudhu.. [paman, ini desa namanya desa apa, daerah mana?] lelaki se tengah baya itu meman dang heran kearahku. [adik ini bukan orang sini ya?] tanyanya menyelidik. [bukan pak] [Oo, ini desa kalianyar kuningan dek] [makasih pak] [sama-sama dek.]. Aku tak habis pikir, kenapa bisa sampai di kuningan. Aku segera wudhu. Dan kembali ke tempat di mana Kyai duduk. Aku selama sholat jumat masih tak habis pikir dengan yang kualami, benar-benar tak masuk akal, bagaimana bisa terjadi, ini jelas-jelas bukan mimpi, kalau dulu aku di ajak ke kampung dayak oleh Kyai tapi dalam mimpi, walau akhirnya aku tau itu adalah nyata, sekarang ini bukan lagi mimpi, semua nyata adanya, wajar sewajar-wajarnya. Selama sholat sampai selesai aku tak berani meninggalkan Kyai, takut kalau di tinggal bagaimana aku pulang nanti, sampai sholat jumat selesai dan semua orang pergi, aku duduk menyanding Kyai. [ini namanya ilmu rogo sukmo, tingkat menengah tingkat di atasnya lagi bisa melipat bumi, sehingga bisa sholat di makkah, diatasnya lagi bisa menjadikan diri menjadi banyak sesuai kehendak hati, sehingga bisa sholat di berbagai tempat, dan tingkatan paling rendah yaitu melepas sukma,meninggalkan raga. Pejamkan matamu mas.] aku segera memejamkan mata, beberapa detik kemudian, terdengar lagi suara Kyai [sudah. Buka mata] aku pun membuka mata dan aku heran karena telah kembali di rumah Kyai. [Bisakah saya mempelajari ilmu itu Kyai?] [semua orang bisa mempelajarinya, harus menjalankan puasa dan laku yang berat, sebenarnya ilmu Alloh itu teramat banyak, jikalau semua air di buat tinta, semua pohon di buat pena, umur kita pan jang dari masa nabi Adam di ciptakan, sampai sekarang, lalu setiap waktu kita menulis ilmu Allah, kemudian mempela jari, dan mengamalkan, niscaya ilmu itu tak akan habis, walau umur kita berlipat lipat lagi, orang islam saja kalau mau sungguh -sungguh ilmu Alloh, maka sebetulnya tak perlu merasa takut kelapa ran, dan tak akan pernah merasa sedih, tak membutuhkan pesawat. Tapi karena telah terjajah oleh kepentingan dan tersihir oleh nikmat dunia, jadi ilmu Alloh tak di perdulikan lagi, iman cuma di ucapkan di lisan tak melewati tenggorokan, jangankan mendapat kan ainul haq, mata telanjang aja menjadi buta.] aku manggut-manggut saja mendengar penjelasan Kyai, saat mengalami itu aku masih menjalankan puasa empat puluh satu hari. memang ilmu dari Kyai ini aneh, jadi tak pernah di ajari, tak pernah ada pengajaran kanuragan, tak pernah ada pengajaran pengobatan, tak pernah ada pengajaran apapun, hanya ada pengamalan, amalan-amalan untuk menjernihkan hati, dan mendekatkan diri pada Allah dengan segala laku, tanpa mengharap balasan dari Alloh, bahkan tanpa menganggap amalan itu ibadah. Di biarkan mengalir begitu saja. Wajar seperti air sungai yang mengalir melewati celah-celah batu kadang membentur karang menikung membalik berpencar berkumpul untuk menuju muara laut makrifat, hikmah, dan kesempurnaan, di antara para santri mungkin aku yang paling getol puasa, aku ingat waktu puasa pertama kujalani dua puluh hari, karena mondok sambil kerja, jadi aku bekerja di Jakarta. Untuk makanku di pondok. Ada tawaran kerja melukis airbrush. Di Cipinang indah. Aku pun berangkat ke jakarta, dan mencari rumah kontrakan. kesana sini aku mencari kontrakan, tapi kebanyakan, harganya di atas isi kantongko, pada hal aku harus ngirit, seharian aku jalan, naik angkot, tanya sana sini, sampailah aku di daerah Duren sawit,jatinegara, karena lewat petunjuk orang ada rumah kontra kan yang murah, tapi hati-hati mas, pada kgak kra san, banyak hantunya. Kata ibu-ibu yang ngasih tau sambil wajahnya dibuat mimik ngeri. akupun segera menemui pemilik kontrakan, lalu aku diajak ke rumah yang mau ku tempati. Rumahnya cukup besar, bertingkat di belakang, ada kamar mandi, wc, dan tiga kamar serta ruang tamu, cuma sayang tak di urus, jadi amat berdebu. [kalau mau nempati di tempati aja mas, kagak usah bayar, gratis] kata pemuda sepan taranku, anak yang punya kontrakan. [lho kok bisa gitu] [yah selama ini kami repot, karena setiap yang ngontrak di sini selalu tak krasan, ya alasannya ada hantunyalah, ada setannya, kemudian uang kontrakan di minta lagi, ya kami yang repot, kare na uangnya terlanjur kepakai] [apa emang bener ada hantunya?] tanyaku sambil jalan melihat kamar-kamar. [wah kalau saya kgak per caya hal kayak gituan mas, cuma takut kalau bener ada trus saya di cekik] aku heran dengan penjelasan pemuda ini, wong tak per caya tapi kok ya takut. Akhirnya aku menyetujui rizqi emang tak kemana, kalau udah di Cap untuk kita, ya untuk kita, aku pun menempati rumah itu gratis, padahal kalau ngontrak rumah segede ini paling enggak empat ratus ribuan per bulan, wah kalau di suruh nempati gratis kayak gini ya jelas enak lah. Aku segera bekerja member sihkan rumah, menguras bak mandi, mengepel, untung juga di ruang tamu ada televisinya , wah bener-bener bisa kerasan. Tapi aku cuma mau nyari tempat tinggal sampai kerjaan di cipinang indah selesai. Besoknya aku mulai kerja membut motif granit di tembok dan tiang rumah, juga membuat lukisan-lukisan di titik tertentu sesuai permintaan, juga aku puasa di siang hari dan wirid di malam hari, wiridnya tak terlalu banyak macamnya, walau hitungannya mencapai puluhan ribu. Karena sambil kerja waktu tak terasa berlalu. Tak terasa duapuluh hari telah berlalu, ini adalah puasa hari ke dua puluh satu, dari ilmu yang di ajarkan Kyai ini hanya lah puasa dasar, setelah ini aku puasa empat puluh satu hari, lalu setelah se-lesai aku puasa tiga bulan, kemudian tuju bulan, kemudian sembilan bulan satu tahun setengah, tiga tahun, lima tahun, tuju tahun, semua harus di lakukan berturut, artinya misal mau puasa empat puluh satu hari, selama empat puluh satu hari harus puasa, nah kalau sudah selesai, baru berhenti, mau satu atau dua tahun lagi baru puasa yang tiga bulan terserah. Selama aku menempati rumah kontrakan ini adem ayem aja, tak terjadi apa-apa, aku lebih memi-lih menempati kamar atas tepat di atas kamar mandi karena lebih dekat ke kamar mandi, walau kadang aku ketiduran di ruang tamu, karena keasyikan nonton tivi. malam ini wirid terakhir ku, setelah sholat isya, aku duduk bersila, tasbih di tangan kananku, dan counter di tangan kiriku. Dudukku ku buat sesantai mungkin, karena wirid ini baru bisa kuselesaikan dalam tiga jam. Napas kutarik panjang dan kusimpan di perut, berbarengan terus aku membaca aurad setelah perutku penuh, dan aku tak kuat menahan napas, napas perlahan lahan kukeluarkan, Sangat perlahan, sampai aku tak mendengar desah tarikan nafasku. Mulutku tertutup rapat, dan mataku terpejam, sementara hati ku terus membaca wirid tanpa henti.setelah napas kukeluarkan semua , diam sejenak , aku mengulang pernapasan seperti awal, begitu terus sampai wirid selesai, dalam mata batinku aku melihat gelap yang pekat, semua gelap tak berujung tak berpang kal, lalu di jauh sekali ku lihat setitik cahaya, aku seperti meluncur kearah cahaya itu, dan masuk ke dalamnya, semua serba cahaya putih menyilaukan mata hatiku silau lalu ada cahaya merah, hijau, kuning , biru, dan banyak lagi berpendaran, lalu aku terseret dalam satu caha ya melesat berputar, sampailah aku di satu ruang yang terang tapi lembut, damai, aku tak tau ruang apa itu, kurasakan, dari pusarku mengalir hawa dingin yang sedang, mendamai kan mengalir kesemua tubuhku, kadang alirannya ku arahkan ke bagian tubuhku yang pe-gal-pegal, seketika hilang rasa pegalku. tiba-tiba angin keras menerpa di sekitarku, aku tetap duduk tenang, angin semakin keras, sampai pakaianku berkibar-kibar, sekejap konsentrasiku buyar, karena sejenak aku berikir, bagaimana mungkin ada angin, yang keras masuk sedang jendela dan pintu terkunci. Tapi aku cepat berkonsentrasi lagi, dan sampai wirid selesai tak terjadi apa-apa, setelah melipat sajadah akupun pergi ke ruang tamu dan nonton tivi sambil tiduran di sofa. Tak terasa aku te-lah lelap, kira -kira jam tiga malam terdengar ledakan di atas genteng, suaranya keras, sampai aku yang lagi tidur terjaga ah mimpi pikirku. [Duar..!,duar...!] terdengar ledakan keras di atas genteng, suaranya seperti petasan, atau seperti suara pespa yang di starter lalu meledak dan copot kenal potnya, aku sempat terbangun karena ada percikan api di atasku, ku kira kons leting listrik, tapi kenapa lampu kamar sebelah tak mati? Memang lampu di ruang tamu tempat aku tidur di sofa, ku matikan, tapi bias cahaya dari kamar sebelah masih , bi-sa membantu mataku mengenali setiap benda di ruang tamu ini, ah perduli amat, besok aku kerja maka malam ini aku harus beristirahat cukup. Aku segera membetulkan letak tubuhku agar nyaman, dan segera memejamkan mataku, tapi baru beberapa menit aku memejamkan mata, kudengar suara dekat di telingaku, walau kata-katanya tak jelas tapi ben-ar-benar membuatku kag-et, aku pun membuka mata, uh! Betapa terkejut nya aku, tepat tiga jengkal dari wajahku, seraut wajah yang menyeramkan melihatku, wajah orang tua jelek sekali, wajahnya keriputan penuh bisul me-nggelambir di sana sini, kepalanya botak, dan rambutnya hanya tumbuh di belakang kepala. Wah ce-laka kalau ini orang gila yang masuk ke kontrakan ku, melihatku membuka mata dan bangkit, orang tua itu mundur, [hei siapa kau?, orang edan dari mana?!] tanyaku memben tak, orang itu mundur dan mengoceh dengan bahasa yang tak ku mengerti. Tanganku terkepal maju mau melayangkan bogem ke wajah orang itu, ku li-hat wajahnya ketakutan dan mundur-mundur, aku segera berlari melayang kan pukulan ke orang itu. Namun dengan cepat ta-npa ku Sangka-Sangka or-ang itu melompat kearah tembok, dan hilang dalam tembok. Aku melangkah maju ketembok di mana orang itu hilang, ku raba tembok semen, ku getok-getok dengan jari, keras, bagaimana mungkin orang tua itu bisa nembus tembok, apa mungkin jin , setan, siluman? Tapi kena-pa kalau memang jin atau sebangsanya kok malah takut kepadaku, padahal kalau melihat mukanya jelek banget, mestinya aku yang takut sama dia, bukannya dia yang takut kepada wajah kerenku. Aku kembali ke sofa, me mbaringkan diri, kulihat jam tanganku menunjuk-kan pukul 3 dini hari, aku sudah tak bisa tidur lagi, mataku sekali waktu me-lihat tembok di mana orang tua jelek itu hilang. Kisahku ini ku ceritakan kepada Kyai, tapi Kyai hanya ketawa, dan menga-takan kalau menjalani pu-asa tingkat pertama mem-ang akan bersentuhan de-ngan dunia gaib, jadi tak masalah. Di puasa yang keempat puluh satu aku juga mendapatkan tawa-ran melukis di sebuah rum ah makan besar di daerah lintas jalan raya Serang-Pandeglang, rumah makan itu besar sekali, panjangnya aja sampai hampir mencapai seratus an meter, di bawah rumah makan itu ada pemancing an, pemilik rumah makan itu memintaku melukisi semua rumah makannya, tapi aku menolak karena mungkin setahun bekerja juga tak akan selesai, padahal aku bekerja hany-a untuk sekedar buat makan di pondok, beli sa-bun dan pasta gigi, apala-gi aku orangnya cepat bo-san, dan melukis juga ka-lau lagi mud ya seneng tapi kalau lagi males, ya males. Jadi ku katakan aja kalau aku nanti mau me-lukis pasti akan datang, tapi kalau lagi tak mau aku pun pulang ke pondok, dan oleh pemilik rumah makan itu pun di setujui. Aku tinggal di musholla yang ada di tengah-tengah rumah ma-kan itu, sebenarnya aku di minta untuk tinggal di rumah pemilik rumah ma-kan itu, tapi aku lebih me-milih tinggal di musholla. Rumah makan itu kalau siang penuh dengan pengunjung, jadi aku me mutuskan melukis di mal-am hari agar tidak meng-ganggu pengunjung rumah makan, juga konse-ntrasiku saat melukis tidak terganggu, dan saat itu aku di minta melukis pakai kuas, jadi tidak luki san airbrush, sehingga tak perlu terdengar suara ribut mesin compresor. Aku mulai kerja jam sem-bilan malam, yaitu setelah rumah makan tutup, dan pelayan telah memberes-kan semua. Di hening malam tanganku segera menuangkan bongkahan beku imajinasi, mencoret sana sini, mengambil satu demi satu gambaran piki ranku, menuang dalam bentuk warna yang lebih nyata, untuk di nikmati siapa saja. Seperti menye ret orang ke dunia hayal-ku, tanpa batas tanpa tepi. Malam bekerja dan siang puasa, Sangat nikmat seka li, dan wirid ku lakukan di siang hari, wirid masih tarapan ringan, kalau di banding tahapan puasa di atasnya, walau menurut orang yang tak pernah me njalankan wirid, wirid ada lah berat. Tapi di banding puasa yang tuju bulan, di samping wirid aku harus menghatamkan Alquran selama seminggu, apalagi yang puasa sembilan bulan, di samping wirid aku harus menghatamkan Alquran selama satu hari, yaitu dari matahari terbit, sampai matahari tengge-lam, pertama aku memba-yangkan bahwa itu tak kan mungkin, tapi setelah Kyai menjelaskan tentang ilmu melipat waktu, dan aku mengalami sendiri, ternyata itu hal biasa, imam syafii aja menghat-am Alquran sehari tuju kali . Sudah tuju hari aku bekerja di rumah makan ini, pak kosasih pemilik rumah makan ini, seorang DPR,MPR, cilegon, orangnya supel, ulet dan pandai bergau, kadang pak kosasih ini meminta- ku berhenti bekerja dan mengajak ngobrol tentang agama. [mas ian, sini-sini ngaso dulu, kita ngobrol]katanya sambil duduk di kursi, memangil ku, aku pun meletakkan kuas besar yang kupakai membuat lukisan rumput. Dan aku menghampirinya. [duduk dulu]katanya lagi. [wah mas ian ini hebat, jadi pelukis juga seorang santri] [ah biasa aja pak] [ah ya enggak biasa lah, apa ada di indonesia ini, atau mungkin di dunia satu sisi, sementara sisi yang lain adalah seorang calon Kyai, tentu sebagai santri ini mas ian ilmu aga manya pinter?] [wah bapak ini, karena saya tak tau ilmu agama inilah saya mondok pak, kalau saya udah pinter mungkin saya jadi tukang ceramah,kalau pekerjaan melukis, ya karena orang tua saya tak kaya, jadi kalau saya mau mesantren harus cari makan sendiri, bisanya nglukis, jadilah kerjaan ngelukis di jalani, [ck..ck..hebat, hebat, mem ang jadi pemuda itu harus mandiri, tak hanya menja-gakan orang tua] [wah ka-lau saya karena kepaksa aja] [wah udah hebat ma-sih bisa membawa diri] [ah jangan terlalu di lebih-lebihkan lah pak, nanti saya gede kepala] [ngom ong- ngomong apa nurut mas ian tentang sholat?] [sama dengan yang ada di Alquran dan hadis, solat itu tiang agama, siapa yang mendirikan sholat maka menegakkan agama dan siapa yang meninggal kan sholat merobohkan agama, karena sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Seperti obat yang menyembuhkan penyakit, tentu efek sem- buh di sini bukan saat mengkonsumsi obat itu, tapi setelah mengkonsum si obat itu, begitu juga pa-da sholat, dikatakan bisa mencegah perbuatan keji tentu adalah setelah orang menjalankan sholat. Kalau sudah sholat ternyata masih korupsi, masih ngomong jelek, masih iri, dengki, sombong dan segala ma-cam perbuatan buruk di lakukan, ya di yakini aja sholatnya tak bener. sholat itu ada syarat, rukunnya, luar dalam harus di penuhi. Seperti orang mandi aja, harus ada kamar mandi, ada air ada sabun, semua semakin baik, akan semakin bagus hasilnya, walau cuma mandi, kalau bisa ada kamar mandi yang baik, tidak mandi di tengah lapangan, ada sabun yang baik, bukan-nya pakai lumpur, airnya juga harus bagus, air yang keruh penuh kuman, atau air got tentu setelah mandi bukannya bersih tapi akan malah kotor, begitu juga mandi tak bisa di bolak balik, habis diguyur air pake sabun di guyur air lagi, kalau sabun kita pakai belakangan, lalu pake baju, tentu di ketawain orang. Jadi tak bisa seenaknya sendiri, juga ada syarat dalam, niat mandi itu mau mejeng atau mau agar ber sih,agar sehat. Dan orang yang mandinya bener tidaknya tentu di lihat setelah orang itu keluar dari kamar mandi, kalau coreng moreng tentu mandinya tak bener, tapi kalau baunya wangi, bersih tentu mandinya benar. [lalu menurut mas ian gim ana kalau ada orang meng atakan, sholat itu yang penting hatinya, lalu orang itu tak mau sholat] [kata-kata orang itu benar tapi dia tak mau sholat itu yang tak benar. Maksud saya kata-kata orang itu benar, kebenarannya sebatas kata-kata, seperti orang mengatakan motor itu yang penting mesinny-a, tentu kata itu benar, karena mesin bagus lari motor jadi kenceng, tapi apa yang sudah nempel di motor itu semua tentu penting, tanpa roda motor tak bisa kemana, roda ada unsur pelek, ger, jeruji, rantai, ban dalem ban luar, semua penting, satu aja tak ada motor tak akan kemana, kecuali di tuntun gitu juga sholat, satu aja rukun tak ada maka sholat itu walau masih di anggap sholat tapi tak sah, jangankan dapat pahala, sholat di angkat ke langit aja kgak. Seperti motor tak bisa kemana-mana, sekalipun mesin motor bagus, tapi tak ada roda, tak ada rem, tak ada onde rdil yang lain, orang tak akan mau menyebut mesin motor itu adalah motor. Begitulah pak kosasih, hampir tiap hari mengajak dialog tentang agama, dan aku selalu berusaha untuk menanggapinya de-ngan memberi contoh ya-ng bisa dinalar dengan ra-sio masuk dalam logika, sampai -sampai orang itu menganggapku sebagai adiknya sendiri, dan mau menghadiahiku rumah ti-ngkat di belakang rumah nya harapannya agar aku bisa di ajaknya selalu membahas agama. Tapi walau aku miskin tapi aku tak mau hidup terjerat budi, seperti kata Kyaiku, yang selalu terngiang sampai kini saat itu aku mau bekerja di rumah or-ang yang masih ada hubu-ngan saudara dengan Kyai aku bertanya, apakah harus minta bayaran pada saudara Kyai itu [mas ian ini gimana, kalau kerja itu tak ada yang ihlas, lha kalau beramal itu harus ihlas. Semua ada tempat dan bagiannya masing-masing. Klau mas ian kerja ya harus minta gaji, nabi sendiri mengatakan: bayarlah gaji pegawaimu sebelum kering keringat-nya, kalau amal kan bany-ak caranya ada sedekah dan lainnya. Jadi jangan di campur-campur. Malam itu aku sendirian melukis, jam menunjuk kan jam dua dini hari, keh eningan malam terasa mencekam betul malam ini, udara dingin menusuk tulang, kopi jahe telah ha-bis ku tenggak, entah rokok Djarum yang keber-apa ini ku nyalakan di mul-utku, untuk mengusir sepi dalam kesendirianku, dari jauh ku dengar gong gong anjing bersahutan meremangkan bulu kuduk ku, aku masih mencoba menyatukan serpihan-ser-pihan imajinasiku, dan me norehkan kuas di tembok. Tiba-tiba deretan kursi bambu di belakang, berja-rak tiga meter berderit, se perti ada orang yang men-duduki, aku menengok tiada siapa-siapa, aku mel anjutkan melukis lagi, me-ngusir pikiran -pikiran tak-ut yang mulai membuyar-kan konsentrasiku. Tapi tak sampai lima menit, ku dengar ketukan-ketukan jari di meja bambu, aku masih tetap melukis, sam-bil menyatukan konsentra siku ketelinga dan setelah yakin dengan yang ku de-ngar, aku cepat menoleh kearah suara. Tiada siapa-siapa, suara ketukan di meja pun ber-henti, mungkin kalau buk-an orang yang di gemble-ng berulang kali telah tid-ur di kuburan, tentu aku a-kan lari lingkang pukang. Tapi ini bukannya membu-atku takut tapi, aku jengk-el bukan main, karena kon sentrasiku di ganggu. Aku melanjutkan meluk-is lagi, setelah sebelum-nya aku mengambil rokok Djarum ku oles-olesi deng an ketek kopi dan kunya-lakan, namun belum sam-pai lima menit terdengar lagi suara ketukan jari di meja, kali ini dengan nada musik tertentu, aku masih terus melukis, sampai de-ngan saat tepat aku mem-balikkan badan dan meng-ira tempat yang tadi di ke-tuk-ketuk, aku mengham-piri dan duduk di kursi de-pan, dan berpura -pura melihatnya, ku pelototi dia, yah aku yang ilmuku masih dangkal tentu tak melihatnya, dan aku ben-ar-benar kecele. Karena tiba-tiba jendela rumah makan bergoyang-bergoyang, sialan dia tel-ah berpindah, aku segera ke jendela, sampai di jen-dela aku berhenti, tapi tiba-tiba pintu gerbang besi di depan bergombre-ngan seperti di tendang orang, aku berlari ke pintu gerbang, tapi tetap tak ada siapa-siapa. Ah perduli amat, aku memu-tuskan untuk berhenti me-lukis dan melangkah ke musholla untuk berangkat tidur. Baru saja aku tidur, aku kaget membuka mata, dan nampak dari pintu musholla berjalan meleng gang gadis cantik sekali, bibir tipisnya merah mere kah, ada lesung pipi keti-ka tersenyum, matanya bening penuh kerlingan dan pakaian dan kerudu-ng yang di pakai dari sutra tipis berwarna biru, sehi-ngga lekuk tubuhnya terli-hat jelas. Ah aku mau ber gerak tapi tubuhku benar-benar kaku. Tak bisa di ge-rakkan sama sekali, seper-ti di lem dengan ubin ke-ramik, ah aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa ketika perempuan cantik itu duduk di sampingku, tangannya mulai memel-ukku, kemudian bibirnya yang lembut mencumbu-ku, ah aku tak berdaya, di cumbuinya dan tak bisa ku tolak, maka terjadilah..... Bangun pagi semua tubuhku rasanya ngilu. Seperti orang yang habis bekerja berat, tak ada pe-rempuan di sampingku. Aku mungkin bermimpi. Untung siang hari aku tak kerja, sehingga aku dapat beristirahat tidur seharian, kalau mimpi ha-das besar kayak gini ini yang repot waktu bangun tidur dan mau mandi sebelum sholat subuh, soalnya tak ada air, aku jadi pontang panting nyari air di kampung-kam pung, sampai ku temu-kan sumur dekat musholla jaraknya dari tempatku kerja mungkin ada sekitar dua ratusan meter, ah tak apalah, aku langsung gebyuran mandi junub. Dan sholat subuhnya ikut berjamaah di mushola, aku masih duduk wirid memutar tasbih, setelah menjalankan sholat subuh Assalamu alaikum, ku de-ngar suara salam di samp-ingku, aku segera menja-wab salam dan menengok ternyata orang tua yang ta-di menjadi imam mushola [mari nak main ke rumah bapak...]suara orang itu halus sekali. Sambil men-jabat tanganku. Aku tak bisa menolak, tanpa kata mengikutinya dari bela-kang. Seperti kerbau di co-cok hidungnya, setelah melewati sekitar lima rumah kami pun sampai di rumah lelaki tua itu, ku taksir umurnya sekitar enampuluhan wajahnya bersih, tenang, tak ada kumis dan jenggot, gurat di wajahnya tak menunjuk kan ketuaan karena tertu-tup kegemukan, tubuhnya gemuk tapi gemuknya sedang tak berlebihan. Rupanya orang tua ini, a-dalah pengasuh pondok pesantren itu ku ketahui, setelah menyaksikan beta-pa banyak bangunan kam-ar-kamar santri berderet-deret, dan beberapa santri sedang beraktifitas. Setelah masuk rumah akupun segera di suruh duduk di kursi, sementara orang tua itu masuk ke da-lam rumah, kemudian du-duk berhadapan dengan-ku. [kalau boleh tau anak ini dari mana?] [dari Tuban jawa timur pak?] jawabku singkat. [kok saya tak pernah melihat anak ini, tinggalnya di mana ya?] [ saya bekerja di rumah makan itu pak, lagi membuat lukisan] [oo,begitu rupanya, oh ya kok kita belum kenalan, nama saya mashuri, orang sering memanggil Kyai mashuri] lelaki itu mengulurkan tangannya, dan segera sa]ya jabat [febrian.]jawabku singkat, karena mataku ngantuk sekali, [anak ian ini dari pesantren ya?] [benar pak, saya dari pesantren Pacung.] [wah pantes muridnya Kyai len-tik, pantas saya lihat beda] [oh Bapak juga kenal de-ngan Kyai saya?] [ah siapa di Banten ini yang tak kenal dengan guru nak mas?] Pembicaraan kami ter-henti, dari pintu muncul dua gadis membawa dua baki makanan dan minu-man, kemudian di taruh di atas meja, ketika dua gadis itu mau kembali ke dalam Kyai Mashuri se-gera mencegahnya dan menyuruh duduk di kursi malah gadis yang satunya di minta memganggil gadis yang satunya lagi, sehingga di depanku kini ada tiga ga-dis cantik. Aku yang tak mengerti akan maksud Kyai Mashuri, duduk cuek-cuek aja. [mari nak ian, sambil di cicipi makanan-nya...] [makasih pak, saya lagi libur] [ah udah saya duga memang murid Kyai Lentik orang gemblengan] Kata Kyai mashuri memuji. [ Ini lho nak ian anak -anak saya, sebenarnya ada lima orang tapi yang dua lelaki, yang ini] telun juk Kyai mashuri menudi-ng ke gadis cantik yang ada di sampingnya. Gadis cantik berkulit sep-utih susu, ku taksir umur -nya sembilan belasan tahun, wajahnya imut-imut terlihat lesung pipi ketika tersenyum, bibirnya mungil, hidung nya mancung kecil mata nya agak sipit seperti mata orang cina, alisnya kecil melengkung, wah kalau di bedaki di kasih pemerah bibir mungkin akan seperti boneka. [namanya juwita, dia baru kelas tiga SMA, dia anakku yang paling bungsu. Lalu yang sebelahnya ] Kyai mashuri menuding gadis di sebelah juwita, gadis ini bertulang besar, namun tubuhnya langsing wajahnya tipe keibuan, dan manis sekali dengan kulit agak sawo matang, bibir tipis dan ada tumbuh kumis halus di bawah hidungnya yang mungil matanya meman-dang sayu, alisnya tebal melengkung indah. [dia bernama anisa, dia kuliah tingkat pertama, dan yang itu anak perempuan saya paling tua] Kyai mashuri menuding gadis yang tadi terakhir keluar. Nampak gadis yang mu-ngkin telah berusia matang, wajahnya sederhana penuh kedewasaan mungkin umurnya lebih tua dariku, postur tubuhnya tinggi semampai, dengan wajah bulat telor, bibirnya mere kah, merah walau tanpa lipstik, janggutnya lancip dengan hidung yang tak terlalu mancung, tapi menambah pas akan kecantikannya. [dia nama nya Aliya, nah nak ian sudah tau akan anak-anak saya, menurut orang banten kuno, orang jawa itu rajanya, dan orang Ban ten itu ratunya, maksudny-a alangkah baiknya kalau orang jawa jadi suaminya dan orang Banten jadi istrinya, makanya saya memperkenalkan anak saya, maksud saya ingin menjodohkan anak saya dengan nak ian.] saya yang siat-siut ngantuk karena semalam di kerjai jin wanita, kontan kaget salah tingkah, serba salah, tak karuan, pokoknya tak mengerti, harus apa dan bagaimana. Bahkan seluruh tubuh yang tadinya gatel, sekarang semua gatel, rambut ku rasanya awut-awutan, pokoknya rasanya semua tak pas, sebenarnya kalau di pikir aku ini termasuk orang yang beruntung, bahkan mungkin terlalu beruntungnya jadinya malah kelihatannya sial, bayangkan saja kalau di depan di jejer bidadari-bidadari, kemudian di tawarkan lagi untuk me-milih, bisa melihat bebas aja sambil ngiler clegak-cleguk aja sebenarnya su-dah untung apalagi malah di suruh milih salah satu, ijenku belum sampai situ. [nak ian bisa memilih sa-lah satu dari ketiga putri saya ini, tak usah buru-buru, di pertimbangkan masak-masak, di istiharohi saya ini kalau melepaskan anak menjadi istri murid dari Kyai Lentik, sudah yakin dan tak ada keraguan, lagian menurut saya ilmu yang nak rian terima akan Sangat bermanfaat di pesantren saya ini] kata Kyai Mashuri panjang lebar, sebenarnya kata sederha-na andai aku bukan pemainnya, tapi karena kata itu di tujukan padaku, maka seperti serangan petinju kepada lawan mainnya. [ah ,..kuk ..ut..ut] ah kenapa mulut jadi kayak habis di suntik obat mati rasa kayak gini. Kelu, teng gorokan kering, keringet membanjir lagi, ah kenapa juga perut jadi mules. melihat kegugupanku, Kyai Mashuri segera bica-ra, [tak usah memberi jawaban sekarang, jadi di per-timbangkan masak-masak dulu ] wah seperti terkena udara ruangan yang berAC dan baru dari terik yang menyengat, keringatku pun perlahan mulai kering, kami pun membicarakan hal yang lain. Setelah kurasa cukup, aku memutuskan untuk mohon diri dengan alasan takut di cari-cari oleh pak kosasih, setelah keluar dari rumah Kyai Mashuri terasa plong, sebenarnya untuk menikah, pemuda seumuranku dua puluh tiga tahun, menurutku juga belum matang, masih banyak yang harus di gapai, sebenarnya alasan itu kubuat-buat sendiri, kalau tak mau membohongi jawaban yang pas, jawabannya adalah aku takut memberi nafkah, akan ku kasih makan apa nanti istriku? Kerjaan tetap tak ada, kalau membanggakan sebagai pelukis ah tak cukuplah, rokok aja aku kadang harus ngelinting dari puntung . Apa jadinya nanti istriku.?. Pikiran seperti itu tentu timbul dan ada sebelum aku menjalani laku nggembel, jadi pengemis dan orang gila untuk melihat dengan ainul haq, bahwa segala rizqi segala mahluq yang bergerak merayap di atas bumi ini adalah di dalam kekuasaan Tuhan. Kalau aku udah mengamal kan ilmu tawakal, tentu aku di tawari nikah he-eh aja. Aku berjalan cepat karena sudah ngantuknya mataku, jam di tanganku sudah menunjukkan jam sepuluh siang, aku berhen ti ketika mau menyebera-ng jalan raya, menunggu mobil yang lewat sepi, tiba-tiba suara kecil mer-du terdengar di belakang-ku. [mas ian.,tunggu ..!] suara juita berlari sambil membawa kresek hijau, menyusulku [ini mas, nanti untuk berbuka puasa] [makasih banyak ] seraya mengulurkan tangan untuk menerima. Tapi gadis itu menarik-nya menjauhi tanganku, [biar aku aja yang bawa-kan ] kata juwita , seraya berlari mendahuluiku, menyeberang, aku pun mengikutinya dari belak-ang, kulihat juwita dari belakang, tak terasa aku menelan ludah, ah dasar setan, sukanya menggoda manusia, tapi tak usah di goda setanpun, ini nyata benar-benar gadis yang sempurna, lincah, periang, ah glek uhuk, wah terlalu banyak ludah ku telah, jadi agak tersedak, [mas ian, aku ingin melihat hasil karyanya, boleh kan?] aku ngangguk aja, gimana mau nolak, senyum yang merekah, gigi yang putih, lesung pipi, mata yang berpijaran, aduh runtuhlah pertahanan, dadaku benar-benar di aduk seperti bergolaknya lahar menggelegak, tapi tak punya jalan keluar dari tebing hatiku karena takut dengan jurang dan tebing bayangan buatanku sendiri, Juwita berjalan di sampingku. Mungkin lima tahun yang lalu, aku ketemu juwita, sebelum aku jadi murid Kyai, ah pasti udah ku pacari, tapi kini keadaannya lain, aku telah jadi murid Kyai, mungkin aku lebih senang kalau orang-orang seperti Juwita tak ada di dekatku, karena teramat susah me-lawan nafsu, teramat berat berperang dengan nafsu sendiri, [mas ian maafkan Abah ya?, memang Abah selalu begitu, kalau punya mau ceplas ceplos aja tanpa di pikir, maen jodoh-jodoh aja emangnya ini jaman apa?]kata gadis itu mbe-sengut. [ah tak papa kok] mungkin Juwita sudah punya pacar di sekolahnya sehingga tak mau di jodo-hkan, aku maklum akan gadis sekarang, apalagi gadis secantik Juwita, aku cemburu? Ya enggak lah, [tapi kalau memang benar mau milih]suara gadis itu terdengar manja[mas ian pilih Juwita ya?!] pletar..! Seperti petasan di nyalakan di telingaku, kaget nginggg, sebebas lepas benar gadis ini. Hampir aja jantungku copot, untung setelah tarik napas kurasakan masih ada. Untung Juwita tak lama, ada di tempat kerjaku dan berkali-kali dia berdecak mengagumi lukisanku, aku senyum nyengir aja, sampai saat mau pulang, gadis itu tiba-tiba memen-cet hidung mancungku,[kamu memang hebaaat] katanya gemes, perbuatannya yang men-dadak itu sungguh menga-getkanku, tapi aku tak bisa menghindar. Ah sudahlah, kulihat ia berlari -lari kecil mening-galkanku, aku segera per-gi tidur mengingat malam nanti aku harus kerja. Malamnya aku hanya kuat kerja sampai jam setengah dua dini hari, karena siang kurang istira-hat, aku pun beranjak tidur, lamu ku matikan ,tapi lampu penerangan di luar masih bisa menerobos Masuk lewat lubang angin belum sampai lima menit aku tertidur, kurasakan tubuhku lengket di keramik tak bisa di gerak kan dan dari pintu musholla nampak gadis-gadis berjalan, sekarang ini mereka ada lima orang. Aku mencoba menggerakkan tubuh, tapi sia-sia. Ah aku benar-benar tiada daya, tak mampu melawan apa-apa, mereka memperkosaku habis-habisan, mereka ini apa? Aku tak mengerti, jika aku menangis, kemu-dian mengatakan aku di perkosa , pasti jadi bahan tertawaan. Maka besoknya aku pun memutuskan pulang ke pesantren, mau meminta solusi kepada Kyai. Setelah pamit pada pak kosasih aku pun pulang. Sampai di pesantren Kyai hanya ter-senyum melihat aku yang loyo, [gak papa cuma jin -jin perempuan yang nakal]kata Kyai, [tapi Kyai..] [udah nanti ajak aja si jauhari, sama si majid, untuk menemani]kata Kyai menghiburku. Besoknya aku berangkat lagi ke tempat pak kosasih Hari itu aku tak langsung kerja, jadi malamnya aku di suruh istirahat dulu, setelah ngobrol dengan pak kosasih sampai jam dua belas malam, kami pun beranjak tidur berdam pingan. Sekarang akan ku lihat apa reaksi perempuan itu. Tentu kejadian yang menimpaku tak ku ceritakan pada ketiga temanku. Rupanya kami bertiga mengalami hal yang ber-beda-beda. Majid kakinya di angkat dan di putar-putar, sementara jauhari dijatuhi anak kecil kira-kira umur sembilan tahun-an di duduki dadanya dan di pukul sampai wajahnya pada lebam, wajahnya yang hitam makin tambah hitam, sementara aku masih tetap di perkosa. Sebenarnya kedua teman ku ini sudah takut, dan ngajak aku kembali kepondok, tapi tanggung lukisanku tinggal sedikit, maka ku bujuk mereka untuk menemaniku semalam lagi, karena pagi nya saling bercerita jadi kami tahu kisah masing-masing [entar malem aku yang tidur di tempat kamu aja mas, biar aku ngerasain bagaimana rasa nya di perkosa, masak aku di bikin lebam kayak gini]jauhari protes, dan ku iyakan aja. Maka setelah kerja, kami pun berangkat tidur, dengan perasaan tegang. Sesuai permintaan jauhari aku pun menempati tempatnya jauhari, dan jauhari menempati tempatku tidur, jam setengah empat kami semua bangun, kulihat muka jauhari makin jontor wajahnya yang jelek makin jelek aja, dan aku lemas sekali karena melayani lima wanita, pinggangku benar-benar sakit, dengkul kayak tak ada olinya lagi, sementara majid ngos-ngosan karena semalaman kakinya di angkat-angkat dan di puter-puter. Tapi aku mengajak mereka berdua untuk neruskan tidur aja karena waktu subuh masih lama, saat itulah aku melihat dari pintu musholla masuk lima belas wanita cantik, beraneka warna bajunya juga anak kecil bersisik ular, di giring seorang kakek bongkok membawa cambuk, nampak kelimabelas wanita dan anak kecil itu takut, tunduk. Ctar..! Suara cambuk di lecutkan, para perempuan itu menjerit. [ayo minta maaf, kalian telah meng-ganggu para santri Kyai Lentik, cepat minta maaf.!]bentak kakek tua itu, dengan takut -takut para perempuan itu minta maaf, kemudian mereka di giring kakaek itu, keluar musholla, aku segera terbangun. Besoknya mencari tempat mandi. Di sumur dekat musholla, lalu ikut sholat shubuh di musholla, dan ketika Kyai Mashuri mengajakku main kerumahnya aku menolak dengan halus. Karena pekerjaan telah selesai maka aku dan teman-temanku pun pamit pulang kepada pak kosasih Aku di pesan kalau membutuhkan pekerjaan harap sudi datang, karena masih banyak yang harus ku lukis. Saat berpamitan inilah pak kosasih bercerita tentang riwayat masa lalu-nya rumah makan ini. Menurut kisahnya dulu sebelum menjadi rumah makan tempat ini adalah jurang yang lumayan dalam, dan sering kali terjadi kecelakaan, kadang rombongan pengantin satu mobil masuk jurang, semuanya meninggal dalam kecelakaan, ada satu keluarga dalam mobil semua meninggal dalam kecelakaan masuk jurang. Ada juga truk rombongan kampanye masuk jurang, walau tak semua mati, tapi akhirnya dari orang yang tak mati dalam kecelakaan inilah, di ketahui, bahwa setiap mobil yang celaka sebetul nya jalannya tetap biasa saja, lurus, tapi entah kenapa tiba-tiba mobil ada di awang-awang dan meluncur ke jurang. Melihat banyaknya kecela kaan itu, pak kosasih pun membeli jurang dan tanah di sekitarnya, lalu di bangunlah Rumah makan yang besar, dengan harapan termanfaatkannya tanah yang kosong dan yang lebih penting tak ada lagi kecelakaan. Tapi harapan pak kosasih, hanya harapan saja, buktinya sampai sekarang kecelakaan di daerah itu tetap saja terjadi. Entah berapa kali tembok pagar Rumah makan itu di ganti, karena ambrol di sruduk mobil yang mengalami kecelakaan. Juga para pelayan rumah makan itu tak ada yang kuat bertahan lebih dari tiga bulan, ada saja masalahnya, karena takut, karena kesurupan. Tapi rumah makan itu tetap berjalan dan ramai pengunjungnya. setelah pulang kepesantr-en Pacung, aku menyele-saikan puasa empatpuluh satu hari, dan setelah sele-sai, aku minta ijin pada Kyai untuk pulang sebentar ke Tuban menengok kampung hala-man, Kyai pun mengijiniku, tanpa menunggu lama aku berangkat pulang, walau telah hampir setahun aku mesantren di tempat Kyai, tapi aku masih tak tau aku ini mendapatkan apa di pesantren. Sebab Kyai tak pernah mengajar ku apa-apa. Puasa juga baru dua puluh satu hari, dan empat puluh satu hari. Sampai di desaku sendang rumahku adalah lingkungan pesantren, ada sekitar tuju pesantren di sekitar rumahku, kalau di hiung dalam satu desaku ada sepuluh pesanren. Semua pengasuhnya masih ada hubungan saudara denganku, ada yang pamanku, ada yang saudara sepupu ayahku. Maka desaku terkenal dengan desa santri. Dan kehidupan masyarakatnya kebanyakan bertani. Ketika teman-temanku tau, aku datang ke rumah semua pada datang berkunjung, ada yang dari teman pesantren dekat rumah, tapi ada juga para gank kampung, maklum aku dulu anak yang paling nakal di desaku, bagiku sebenarnya kenakalan remaja, tapi bagi orang lain kenakalanku melampoi batas. Aku ingat bersama teman-temanku mencuri semangka berkarung-karung, dan penjaganya ku ikat dengan tambang. Ku ingat menguras empang ikan orang yang ada di depan rumah orang sementara yang punya rumah ku pantek semua pintunya hingga tak bisa keluar. Dulu orang mending ngasih upeti kepadaku, daripada di habiskan anak buahku. Siapa sih cewek cantik di desaku dan Desa-desa te-tanggaku yang tak pernah ku pacari.?,yah itulah masa lalu, tapi apa yang telah terjadi di masa lalu memang tak bisa hilang dan akan tetap bagian dari lembaran hidup kita. Habis sholat magrib teman -temanku sudah pada pulang, Ibuku memanggil aku pun segera memenuhi panggilannya, [ada apa bu?] ketika sampai di dekat ibuku yang memasukkan, buah-buahan ke tas plastik, [ayo antarkan ibu ke rumah paman Mursid] [kenapa dengan paman mursid Bu?] [paman mursid sakit, sudah tiga bulan makannya lewat jarum infus, dokter udah tak Sanggup, makanya dua hari yang lalu di bawa pulang] aku cuma manggut-manggut dan mengerutkan kening. Aku segera menuju Motor Jupiter, sebelumnya mengambil kunci kontak yang tergantung di balik pintu kamarku. setelah menyalakan motor untuk memanaskan mesinnya aku kembali ke tempat ibuku duduk. [sakitnya sebenarnya sakit apa to bu? ] [awalnya ya tak tau lah nang]panggilan nang adalah panggilan orang tuban kepada anak lelakinya, kalau masih kecil di panggil cong, kalau dah gede di panggil nang. [paman mursidmu itu di temukan pingsan di pematang sawah dekat dam ratan. Sejak itu di temukan ya sampai sekarang ini tak pernah sadar , kasihan pamanmu,juga istrinya bibi asiah, dia sudah kemana aja untuk mencarikan obat suaminya tapi tak menda-patkan hasil apa-apa.] [apa dulu waktu di temukan tak ada tanda gigitan ular, bekne di gigit ular] tanyaku heran. [tak ada , tak ada tanda sakit apa-apa itulah yang aneh] [trus menurut pemeriksaan dokter sakit apa bu?] [ah banyak kalau nurut dokter, ada komplikasi, ah pokoknya banyak gitu si-si gak mudeng aku, mungkin juga karangan dokter, nyatanya pamanmu tak sembuh.] [kalau dukun gimana?] [udah banyak dukun di datangkan, saratnya aneh-aneh, tapi semua percuma tak ada faedahnya, malah membuang buang uang saja] [trus paman Muhsin udah nyoba? Kyai Kyai udah di mintai sareat?] [udah semua, paman Muhsin juga tak Sanggup,] [wah kalau gitu ya berat] kataku mengakhiri pertanyaan. ku bonceng Ibuku menuju rumah paman Mursid, pelan-pelan aku jalankan motor, melewati jalanan paping blok, di dunia ini yang paling ku sayangi dan ku hormati adalah ibuku, bukan hanya karena hadis Nabi mengatakan derajat ibu lebih mulia daripada Ayah. Tapi karena ibu adalah orang yang sayang dan paling pengertian kepadaku, dulu saat aku masih nakal-nakalnya ibu ku tak pernah menyalahkanku, tak pernah melarangku, malah kalau aku mau pergi nonton konser musik, ibukulah yang me-maSangkan anting di telingaku, yang menyisirkan rambut panjangku, soal cewek ibu selalu memesanku, punya cewek banyak tak masalah, karena memang aku dulu punya pacar tak pernah kurang dari sepuluh, tapi kata ibuku, jangan mencemarkan nama orang tua, jangan sampai kau menghamili wanita, yang bukan istrimu, ibumu juga wanita Ah ibu memang bijaksana. Sampailah motorku di de pan rumah paman Mursid. Setelah mengucap salam, kami segera masuk, nampak di dalam juga ba-nyak orang, dengan para lelaki aku segera bersala-man, ternyata juga banyak tukang suwuk(mungkin di tempat lain di sebut dukun, tapi di daerahku di sebut tukang suwuk, red.) ada kang Nur. Aku sebenarnya lebih me-ngenal orang ini adalah pelatik pencak silat, aku ingat waktu kecil orang ini suka menunjukkan ketrampilannya, berjalan di atas pedang, bergulingan di atas duri salak, makan pecahan kaca dan melengkungkan besi menggunakan lehernya, di saat keramaian tujubelasan Agustus. Lalu yang ku salami yang kedua adalah kang widji, orang ini sering di mintai oleh pemuda desa ilmu-ilmu pukulan, seperti lebur sekti, lembu sekilan dan lain-lain. yang ku salami ketiga adalah pamanku, adik sepupu dari ayahku, namanya muhsin, dia terkenal di daerahku se-bagai orang yang menyembuhkan penyakit karena kerasukan jin, kesurupan, serta suka memagar rumah, mengambil wesi aji, yang lain adalah orang biasa. Aku juga menyalami muhamad anak terbesar dari pamanku Mursid. Setelah menyalami aku pun mencari tempat duduk yang nyaman. Memang setelah melihat keadaan paman mursit, sungguh orang siapa saja melihat pasti akan kasihan karena memang keadaanya Sangat memprihatinkan. Wajahnya kelihatan tua, padahal umurnya tak lebih dari limapuluh tahun tapi wajah paman mursid seperti ketarik ke dalam, pipinya seperti masuk ke dalam, rongga matanya juga menjorok ke dalam, sampai seperti kubangan hitam, lehernya mengecil, seakan akan mengkeret. Semua tulang iganya menonjok keluar, kulihat wajah paman mursid seperti menahan penderitaan yang tak tertahan. Karena tubuh paman mursid tak berbaju mungkin syarat dari dukun, karena banyak kembang aneka warna di sekitar tubuhnya, jadi aku bisa melihat perutnya. Oh ada gumpalan dalam perut sebesar kepalan tangan, aku tak berani bertanya, apa itu? Tiba-tiba tubuh paman mursid mengejang-ngejang, semua orang ribut, bibi Asiah menangis karena melihat suaminya seperti merasa sakit yang amat dasyat, para tukang suwuk pun berupaya menolong dengan segala daya, ada yang mengeluarkan jurus , ada yang meniup-niup, ada yang menyiprat-nyipratkan air, suasana tegang sekali, dan aku tetap duduk di kursi, melihat dari jauh, oh nampak olehku gumpalan di perut paman mursid hidup dan bergerak kesana kemari, paman mursid melenguh-lenguh kakinya menjejak-jejak tapi tubuhnya tetap di tempat. Ah ngeri aku. Namun usaha para tukang suwuk ini sama sekali tak ada manfaatnya. Bibi Asiah menangis menggerung -nggerung melihat keadaan suaminya, juga muhamad anak tertua paman Mursid juga menangis di sebelah kiri paman mursid. Tiba -tiba bibi Asiah menghampiriku, dan mencengkeram lenganku[dek ian, ayolah bantu dek iyan huhuu...jangan melihat saja...siapa tau ke sembuhannya di titipkan kepada dek ian...,huhu..dek ian kan dari banten pasti bisa mengobati...] aku kaget [aku?] seperti orang bego menunjuk hidung dengan jari telunjukku sendiri. [aku tak bisa apa-apa, wong di Banten itu tak di ajari apa-apa...] kataku jujur, tapi mana mau orang panik mendengar. Aku main tarik -tarikan dengan bibi Asiah. Tiba-tiba kudengar suara Ibuku di dekatku [cobalah nang... Tak ada salahnya di coba..]aku tak pernah membantah ibuku maka aku pun maju ke tempat paman Mursid di tidurkan, tubuhnya masih mengejang-ngejang Sungguh aku tak tau, harus berbuat apa? Pura-pura mencak-mencak, ah kayaknya kurang bijak, di tempat orang sakit. Ku ingat-ingat aku sering melihat Kyai mengobati orang, ah salah satu cara aja yang kupakai, setidak nya ada yang kulakukan. Andai tak berhasilpun, aku tak akan di salahkan, wong orang yang telah punya nama sebagai tukang suwuk aja, tak berhasil apalagi aku yang bekas bocah ndugal. Tanpa ragu aku melangkah maju, duduk di samping kanan paman Mursid, sementara di sebelah kirinya paman Mursid adalah anaknya yang bernama Muhamad. Aku segera duduk bersila, Wirid yang selama ini ku baca, satu per satu kubaca tiga kali dengan menahan napas, segala cipta rasa kukerahkan, akal kukonsentrasikan, rasa getaran halus berpen-daran mengalir dari pusarku kearah tapak tanganku, kupikirkan keluar dari tapak tanganku masuk ke tubuh paman Mursid membelit nya, mengikatnya kemudian menarik keluar, kugenggam dalam tanganku, lalu kubuang. Buk...! Suara gedebukan dari tubuh muhamad yang tadi ada di samping kiri paman Mursid, tempat aku membuang apa yang kuambil, aku tak menyangka akan berakibat seperti itu. sekarang pemuda itu terjengkang kebelakang, kemudian berdiri dan tertawa-tawa, suaranya berat menyeramkan, [hua haha..keluarga ini akan ku habiskan, huahaha] Aku tak memperdulikan Muhamad yang kerasukan dan diurusi oleh para tukang suwuk, termasuk pamanku muhsin, ku salurkan energi lagi, menyalur-kan energi? Ah lebih tepatnya aku menghayal seakan-akan menyalurkan energi, hayalan tingkat tinggi.. Tubuh paman Mursid sudah tidak kejang-kejang, gumpalan di perutnya juga sudah tak ada, jangan dikira walau cuma ngayal menyalurkan energi, tapi huh keringatku sebesar kacang polong, luber sampai bajuku basah, tanganku yang kanan, ku arah kan ke atas dada berjarak sepuluh senti, tanpa menyentuh kulit, yang kiri kuarahkan ke kepala juga tanpa menyentuh kepala, terasa energi bergulung-gulung kearah kedua tanganku, perlahan tapi pasti, kedua mata paman Mursid terbuka, lalu melihatqu. [oh dek ian, terimakasih..] suaranya pelan tapi, efeknya semua orang yang ada di situ menangis, bibi Asiah memelukku erat sekali, menangis nggugak guguk, dia tumpahkan syukurnya yang tiada terkira, betapa selama ini ia pontang-panting mencari obat untuk menyembuhkan Paman Mursid yang tak pernah sadar selama tiga bulan, bahkan dokter juga telah tak sanggup, eh tanpa kusentuh bisa begitu saja sembuh [kenapa tak dari kemaren-kemaren dek ian, dek ian, sudah habis air mataku...] kata bik Asiah, masih menangis, dia melepaskan pelukan-nya, kemudian mencium pipi kiri kananku, lalu bersimpuh di tepi ranjang suaminya, memegang erat tangan suaminya yang lemah. Baru sekarang aku tau sebenarnya dalam tubuhku telah mengalir ilmu pengobatan yang aku tak tau bagaimana dan dari mana ilmu itu ada dalam diriku. Aku masih berfikir ketika tiba-tiba paman Muhsin menepuk pundakku, [itu bagai si muhamad, semua orang kualahan!]ku lihat wajah pamanku itu kawatir. memang muhamad yang sedang kerasukan benar benar mengamuk, kursi meja pada patah, kang wiji dan kang nur yang ahli beladiri, serta dua pemuda di mentalkan be-gitu saja, kang nur coba menerjang dengan menotok bagian-bagian tertentu dari tubuh muhamad, tapi segala serangannya seperti mengenai batu, hingga jari-jarinya terasa nyeri. Bahkan kakinya ketika menendang kena di tangkap muhamad, dan dia di putar bagaikan gasing, lalu tubuhnya di lempar, untung kang nur orangnya jago sehingga ketika menghantam tembok ia dahulukan punggungnya, dan ketika mental kembali dia berpu tar miring dan jatuh di tanah tangan dan kakinya menahan hempasan badannya. [hua haha ilmu kroco macam itu di banggakan di depanku ] kata muhamad dengan suara dalam dan berat. Kang wiji pun tak mau kalah, dia maju menyerang dengan bogem yang telah dilamb-ari aji lebur sekti., tangannya yang besar berotot menderu, tapi plep! Pergelangan tangan nya dapat di tangkap muhamad. Dan oleh muhamad kepalan kang Wiji di adu dengan bogemnya . Dugh! Kang wiji menjerit, jari-jarinya seperti patah semua, lalu tangan kang wiji yang masih di genggaman muhamad itu diangsurkan ke mulutnya yang terbuka menganga, [sudah mateng huahaha..] tangan kang wiji digigit, aku sudah sampai di situ [hentikan!!]bentak ku tak sadar. Muhamad kaget, tangan kang wiji di lepaskan, yang segera di peganginya dan wajahnya meringis-ringis, sementara muhamad melihatku, dia mundur-mundur. Takut, aku beranjak maju, dan muhammad mundur-mundur. Untung saja aku mempunyai daya hayal yang tinggi Karena setelah ku pelajari, ilmu dalam tubuhku ini perlu dibangkitkan dengan memerlukan daya hayal yang tinggi, melihat muhamad yang kerasukan mundur-mundur takut padaku, bertambahlah keberanianku, tanganku terangkat dengan jari telunjuk membuat coretan -coretan di udara kearah tubuh muhamad, setelah itu tapak tanganku terbuka, kubayangkan aku menyedot jin yang ada di dalam tubuh muhamad, dengan menggunakan telapak tanganku, hasilnya, tubuh muhamad lemas menggelosor ke bawah, pertanda jin telah keluar. Saat yang menegangkan telah berlalu, Bibi Asiah tak menangis lagi, dan muhamad juga telah sadar, sementara tak hentinya orang-orang memberikan ucapan selamat atas keberhasilan ku mengobati. Para tukang suwuk memuji -muji ilmu yang ku miliki. [mas ian, benar-benar luar biasa, belum pernah saya melihat ilmu sehebat itu, mengeluarkan jin dari seseorang tanpa jurus-jurus ]kata kang nur. [ah jangan di lebih-lebihkan, biasa saja.] jawabku yang memang belum tau pasti akan ilmu dalam tubuhku. [benar sampean kang nur] tandas paman Muhsin, [aku saja kalau mengeluarkan jin harus pakai sarat atau jurus tertentu, setidaknya harus pakai bacaan Ayat tertentu dari Alquran.] kang nur dan kang wiji manggut-manggut. Kang wiji nampak memegangi tangannya yang biru lebam. [kenapa kang tangannya?] [ini mas tadi, beradu jotos dengan muhamad yang kerasukan]jawab kang wiji meringis menahan sakit. [coba lihat] tangan kang wiji yang lebam segera di angsurkan kepadaku. [saya akan coba obati, kalau sembuh ya syukur, kalau tak sembuh ya sabar] kataku, karena seka lian mau mencoba ilmu yang ada di dalam tubuhku. Kusuruh kang wiji meletakkan tangannya yang lebam membiru di atas tapak tangan kiriku yang terbuka, lalu tapak tangan kananku ku taruh di atas tangan kang wiji, berjarak sepuluh sentian, kubayangkan tenaga mengalir dari pusarku hangat bergulung berkumpul di tapak tanganku, menyerbu masuk ke tangan kang wiji mengangkut segala sakit derita, nyeri terangkat seperti udara hitam berkumpul terangkat dan ku tangkap di tapak tanganku, kemudian kubuang. [sudah..!] kataku, sambil melepaskan penahanan napasku, semua mata yang memandang pun ikut bernapas lega, yang saat aku mengobati kang wiji semua menatap tegang. [bagaimana kang rasanya?] tanyaku yang tak yakin akan ilmuku sendiri. Kang wiji menggenggam lalu membentangkan jarinya, di lakukan berulang-ulang, [sudah enak, tak sakit lagi ] kata-nya girang. [ah yang benar kang?]kata kang nur tak percaya[tadi apa yang kau rasakan, saat di obati?] [seperti banyak semut yang masuk ke dalam tubuhku, lalu seperti ada yang terbetot keluar dari tanganku, wah makasih banyak mas febri...!] kata kang wiji haru. Malam itu aku benar-benar tak habis-habisnya di puji. Besoknya jadi pembicaraan di setiap mulut, sekaligus menambah keyakinanku akan ilmu pengobatan dari Kyai. Dan di malam aku mengobati itu , dalam tidurku tiba-tiba aku mendengar ledakan teramat keras membahana. Aku kaget dan terbangun. Betapa terkejutku, karena kamarku penuh asap. Dan ternit kamarku jebol. Yang lebih menakutkanku apa yang ku lihat. Kulihat tubuh yang teramat besar dalam kamarku, aku beringsut mundur, melihat penampakan yang memiriskan hati, tubuh yang tinggi besar sampai kepalanya tembus ke internitku, padahak ternit dalam kamarku tingginya empat meter dari tanah. [kau siapa?] tanyaku gemetar. [ampun tuan, mohon saya di lepaskan dari belenggu ini tuan..!] kata suara Mahluk besar itu memelas, mengiba-iba.baru kuperhatikan tubuh mahluk besar itu terbelit-belit rantai yang hampir membungkus tubuhnya, [hei, siapa yang membelenggumu?] tanyaku keheranan. [oh kenapa tuan lupa?, bukan-kah tuan yang membelengguku? huhu, tolong tuan lepaskan saya, ampuni saya tuan huhu] kata mahluk itu menangis. [hus..,cengeng, masak begitu saja nangis...] aku mulai berani. [tapi tuan, kalau belenggu ini tak di lepas, saya akan sengsara seumur-umur,huhu...bagaimana kalau saya makan? bagaimana saya buang air besar huhu, bagaimana aku pipis? Tak ada yang memegangi, pasti kencingnya kemana-mana? huhu] [nanti dulu, nanti dulu.., aku mau melepaskanmu, tapi kau tunjukan dulu asalmu dan kenapa sampai di tubuh paman mursid, awas jangan bohong!!, udah jangan nangis..! Jadi jin cengeng amat sih...] kataku agak jengkel juga karena jin itu nangis hahahuhu. [tuan, aku ini adalah jin penghuni Telogo Wungu, daerah pati, aku sampai di tubuh Mursid karena aku di kirim orang ] [di kirim lewat pos?, atau paket kilat?,] [ya enggak lah, masak jin dikirim lewat pos hu.hu..hu] lalu jin itu menceritakan tentang siapa yang mengirimkan dan karena masalah apa. Aku pun melepaskan rantai yang membelit tubuh jin, dengan menjulurkan tanganku, dan bilang lepas!, maka rantai yang membelenggu jin itu pun hilang, entah kemana. Setelah belenggunya tak ada, tiba-tiba jin itu , menggelosor bersimpuh di depanku, aku kaget tapi ingin ketawa juga, karena melihat ukuran jin itu duduk aku masih sepinggangnya, kalau berdiri, yang membuat aku pengen ketawa karena wajahnya yang tak menyeramkan dan lucu. Mata jin itu bulat besar, mengerjap-erjap, kepalanya gundul, tapi bekas cukurannya kurang bersih, hidungnya mbengol, dan bibirnya tebal sekali, seperti bibir keledai. [hei kenapa kau belum pergi?] tanyaku heran. [apakah tuan tak ingin menjadikanku pelayan?] [ah pelayan apa? Aku tak biasa dilayani, aku biasa nyuci baju sendiri,] [bukan itu maksudku tuan, tapi kalau tuan mau aku bisa mengambilkan nasi gandul dari pati, enak lo tuan] [ah apa enaknya nasi gandul tak usah promosi, lagian aku tak punya kerjaan tetap, tak kan Sanggup membayarmu, udah sana pergi!] [baiklah tuan, kalau begitu aku mohon diri] [eh tunggu dulu, betulkan dulu ternitku yang kau jebolkan] [baik tuan] lalu jin itu menjentikkan tangan dan ternitku kembali seperti semula. Begitulah, setelah kejadian aku menyembuhkan paman Mursid, aku makin dikenal dan tiap hari ada saja yang datang dari anak yang rewel, orang sakit gigi, sakit kepala. Penyakit dalam penyakit luar, semua datang minta diobati, juga aku sering di ajak lek Muhsin untuk menolong orang yang kerasukan jin. Namun aku sudah janji kepada Kyai bahwa aku hanya di rumah dua bulan, aku sudah kangen pada Kyai dan kedamaian pondok lereng gunung putri. Apalagi setelah mengalami suatu kejadian yang membuatku amat merasa betapa masih dangkalnya ilmu yang kumiliki. [yan...!] suara lek Muhsin memanggilku, ketika ku utak atik internet, melihat pesan di emailku. [ada apa lek?] [nanti sore temani aku ke Kalitidu Bojonegoro ya?] [mau apa lek ? Mau nyambangi saudara apa?] [ah biasa ada orang minta tolong, keluarganya ada yang kesurupan] aku mantuk aja. Dan selepas Ashar, aku dan lek Muhsin pun pergi ke Bojonegoro. Perjalanan ke Kalitidu dari rumahku hanya memakan waktu dua jam setengah, yaitu dari rumahku, naik angkot, kemudian gantis Bus jurusan ke Bojonegoro, trus naik mobil ke Kalitidu ini kalau lewat utara, sebenarnya melewati selatan lebih dekat, yaitu dari rumahku ke Cepu, Bato'an lalu nyebrang sampai deh, cuma akan makan waktu lebih lama, karena dari rumahku ke Cepu jarang ada kendaraan, mungkin seharian menunggu belum tentu ada kendaraan. Jadi untuk lebih gampang nya harus lewat Bojonegoro, walau jalannya muter, tapi kendaraan slalu ada. Sampai di rumah yang kami tuju, hari sudah sore tapi matahari masih enggan ke peraduan, suasana amat sepi, kami mengucap salam, berulang kali, baru muncul seorang lelaki setengah tua. Peci kain bundar bermotif kotak-kotak kain sarung ada bertengger di kepalanya. Wajah lelaki itu sedikit murung. Namun ketika berhadapan dengan lek wuhsin dia langsung tersenyum. [oh lek muhsin, mari-mari, silahkan dienak-enakkan dulu] setelah menerima kami berdua dengan ramah maka lelaki itu pergi ke dalam, menyuruh istrinya mengambilkan minuman, dan makanan ala kadarnya. Setelah itu kedua suami istri itu pun mengobrol dengan kami, saat berkenalan denganku lelaki itu bernama pak soleh. Dan istrinya bernama hamidah, karena istrinya adalah orang sedesaku maka mengenal lek muhsin, kemudian tau lek muhsin biasa menyembuhkan orang yang kerasukan jin, jadi lek muhsin di panggil. [awal-awalnya gimana to di, kok si marjuki itu bisa berpenyakit seperti itu?] pak soleh pun bercerita: [benar ki kamu mau mesantren?] tanya pak soleh suatu malam kepada marjuki yang sedang makan. [bener pake, aku sudah jenuh di rumah terus, tak ada perkembangan.] jawab marjuki sambil mengunyah nasi di mulutnya. [mondok itu berat lho, kalau kamu mbangkong di rumah bapakmu ini tak ngapa-ngapain kamu, tapi kalau kamu mbangkong tak mau subuhan, bisa di pecuti sama Kyainya, kalau kamu melanggar peraturan pondok kamu akan di beri hukuman, apa kamu siap? Tirakat di pondok?] [pokoknya aku siap pake] [lalu kamu mau mesantren di mana?] [bagaimana kalau di Tegal rejo, Magelang, pake?] [di mana saja tak masalah kalau memang kamu siap] Marjuki adalah anak tunggalnya pak soleh, sifatnya ceria dan rajin bekerja, kadang membantu orang tuanya disawah, kadang juga bekerja di tempat orang lain, pekerjaan apa saja, Marjuki siap melakukan asalkan halal, umur masduki telah menginjak sembilan belas tahun, akhir-akhir ini marjuki merasa kesepian, sebab teman-temannya yang se-lama ini menemaninya nyangkrok telah pergi semua, mencari pengalaman hidup, ada yang mesantren ada juga yang pergi merantau ke jakarta, ada yang ke malaysia, bahkan ada yang ke Saudi Arabia, Marjuki bingung mau kemana, tapi setelah berpikir. Maka Marjuki memutuskan mesantren saja, maka dia pun berceri ta pada ibunya supaya keinginannya di sampaikan pada Ayahnya. Dan terjadilah dialog malam itu, sekarang dia telah pergi ke magelang. Setahun di pesantren, Marjuki pulang keadaannya telah berubah, dulu dia periang dan giat bekerja, kini sering kelihatan diam dan amat malas, bahkan dia suka pergi menyepi di kuburan-kuburan, dan melakukan puasa yang aneh-aneh, bahkan kamarnya di cat warna hitam. Pak soleh melihat hal yang seperti itu, mau menegur, tapi takut Marjuki marah, karena tak jarang karena kesalahan sedikit saja, Marjuki marah membanting piring. Ternyata Marjuki, telah terseret mempelajari ilmu sesat, yang berhubungan dengan Nyai Roro Kidul. Telah beberapa hari, Marjuki tak keluar kamar, tidak makan, tidak melakukan aktifitas apa-apa, dari dalam kamarnya bau menyan jawa. Tiap malam menyengat hidung ibunya Sangat kawatir, maka setelah ada lima harian di kamar ibunya mengetuk pintu, memintanya untuk makan karena takut terjadi apa-apa yang menimpa anak semata wayangnya. Setelah lama mengetuk, terdengarlah lenguhan dari kamar, dan pintu terbuka. Terkejutlah perempuan itu, melihat Marjuki yang tak seperti anaknya. mata Marjuki semerah darah, di lingkar matanya warna hitam angker, hidungnya mendengus-ndengus, dari mulutnya keluar air liur yang membanjir. [hmmm, siapa kau perempuan tua? Mengganggu saja.] suara Marjuki, berat mendirikan bulu roma. Sangar! [nak ayo makan, nanti kamu sakit...]suara Ibu Marjuki, di antara rasa takut melihat keadaan anaknya. [Jebleng, jebleng...apa sudah kau sediakan darah ayam dan darah kambing?] [udah ibu masakkan sambal terong kesukaanmu] [sialan, memang aku apa? Di masakkan suambel terong mati saja kau...]tiba-tiba tangan Marjuki bergerak cepat menyambar leher ibunya dan mencekiknya. Untung ibunya masih sempat teriak, sehingga teriakan itu di dengar pak Soleh yang sedang membersihkan rumput di depan rumah, yang segera berhambur ke dalam rumah, melihat istrinya dicekik anaknya, sampai kelihatan matanya mau keluar, maka pak Soleh segera memukul tangan anaknya itu sehingga cekikan lepas. melihat ada yang memukul tangannya Marjuki pun mengalihkan serangan ke leher pak Soleh, dengan mudahnya dia menangkap leher pak Soleh dan mencekiknya, tubuh pak Soleh sampai terangkat dari tanah. Dia mencoba melepaskan dengan segala daya, tapi tangan Marjuki yang kerasukan itu teramat kuat sehingga pak Soleh hanya menendang-nendangkan kakinya, nyawanya benar-benar telah di ujung tanduk, sementara istrinya yang tadi dilepas oleh Marjuki, ngos-ngosan di tanah, melihat suaminya dalam keadaan sekarat, segera mengambil kursi kayu, dan mengemplangkan ke kepala Marjuki sekuatnya. Sampai kursi kayu patah-patah. Dan untung cekikannya di lepaskan, sehingga pak Solehpun menggelosor jatuh di tanah. Aneh Marjuki sama sekali tidak berdarah, malah tertawa bergelak-gelak, lalu mengamuk menghantam meja kursi sampai semuanya hancur. Lalu dia berlari keluar rumah mengamuk di jalan, segera gemparlah semua tetangga, orang yang lewat segera lari ketakutan, lalu Marjuki meloncat ke atas genteng. Melempar-lemparkan genteng pada orang yang lewat di jalan. Ibu Marjuki menangis melihat keadaan anaknya seperti itu. Para orang pintar telah di datangkan untuk membu-juk Marjuki turun dari genteng, tapi malah di sambitin pake genteng, dia hanya mau turun kalau di beri minum darah ayam dan kambing. Sudah dua hari Marjuki ada di atas genteng, dia mau turun kalau ada darah ayam dan kambing di sediakan, dan setelah minum darah itu maka dia meloncat lagi ke atas rumah, dan menyambitin orang yang lewat. Kelakuan Marjuki yang menyambiti orang yang lewat dengan genteng rumahnya ini benar-benar membuat panas hati, maka para pemuda kampung pun bermusyaw-arah untuk menangkap Marjuki, dan nantinya akan di pasung, setelah di pancing dengan darah, Marjuki pun turun, ketika sedang menikmati darah yang di kasih obat bius itu, para pemuda pun bergerak meringkusnya, yang mau meringkusnya dari belakang ada tiga orang itu kecele, walau Marjuki tak melihat kebelakang, tapi dengan mudahnya dia menjatuhkan diri dan berguling sehingga yang menubruknya dari belakang hanya menangkap angin. Pemuda dan orang desa pun melakukan pengepungan, dari kiri kanan, depan belakang, dengan susah payah tuju orang dapat memegang tangan kaki, namun semua dapat di sentak lepas, dan banyak yang terpental di lemparkan oleh Marjuki yang kerasukan, yang memang tenaganya berlipat-lipat, kembali tujuh orang berusaha mendekap memiting kaki tangan Marjuki, namun kali ini para penduduk tak mau usaha mereka sia-sia, maka segera berbagai macam tambang di jeratkan ke tubuh Marjuki. Rupanya saat itu obat bius yang di campurkan darah pun mulai bekerja. Kelihatan sebentar-sebentar, Marjuki melengut ngantuk siut, lalu meronta lagi, begitu berulang kali, dan orang-orang tak mau kecolongan tetap mendekapnya erat, sampai akhirnya Marjuki terbius. Perjuangan yang melelahkan, Marjuki kelihatan tergolek di pelataran rumah pak Soleh, semua orang yang meringkusnya semua mandi keringat, bahkan ada yang luka ber-darah dan salah urat. Orang-orang yang tidak ikut meringkus Marjuki, telah membuatkan pasung dari kayu sebesar sedekapan manusia, Marjuki pun di pasung. Tangannya masih di rantai, para dukun paranolmal, di datangkan para Kyai di mintai tolong, untuk membantu penyembuhan, sawah lima petak pun telah terjual sebagai biaya pengobatan, tapi kesembuhan tak kunjung datang. Sampai hampir setahun Marjuki di pasung. Tapi penyakit gilanya makin parah saja. Kami berdua di ajak melihat keadaan Marjuki, ternyata pemuda itu di letakkan di ruangan terpisah di belakang rumah dalam satu ruangan Berdinding gedek , pintu di buka dan bau busuk segera menampar hidung, bangunan berukuran lima meter persegi itu gelap, karena tak ada jendela juga tak ada penerangan, penerangan hanya dari lampu ublik yang di bawa pak Soleh, nampak lapat lapat seorang pemuda dewasa tengah duduk terpasung, wajahnya mengerikan, matanya yang hitam keatas, tapi yang putih mencorong merah menatap kami, wajah pemuda itu tak bisa di bilang bersih lagi, wajahnya menghitam penuh daki, rambutnya awut-awutan kribo panjang, bagian atas tubuh tak berpakaian dan nampak bekas darah ayam dan kambing yang mengering menempel di tubuhnya. Orang yang melihat keadaan Marjuki, pasti akan ngeri sekaligus iba, siapakah orangnya yang mempunyai cita-cita menjadi orang gila. Karena penerangan yang tak memadai, maka oleh pak Soleh kami di minta mengobatinya besok hari saja, malam ini kami menginap, beristirahat. [yan bagaimana menurutmu, gila kerasukannya Marjuki?]tanya paman Muhsin, ketika kami berdua telah rebahan dalam kamar. [ya gilanya karena mempelajari ilmu, tanpa dasar yang kuat, tarekat misalkan, juga karena mempelajari ilmu tanpa guru pembimbing, sungguh berbahaya sekali, karena belajar ilmu tanpa guru, maka gurunya adalah syaitan, bagaimana menurut lek muh sendiri?] tanyaku balik. [apa yang kamu katakan, tepat sekali, tapi terus terang aku ragu akan bisa menyembuhkannya...]nampak lek muhsin mengerutkan keningnya. [yah sebelum kita mencoba, kenapa harus ragu lek? Itu sama saja dengan kita kalah satu langkah, kita hanya berusaha, kesembuhan hanyalah di tangan Tuhan semata, jangan sampai kita tertindih oleh keharusan, seakan akan sembuh dan sakit itu kuasa kita, hidup dan mati kuasa kita, kita hanya berusaha saja...] dan kami pun tidur tanpa beban. Esoknya, kami berdua di antar pak Soleh ke tempat Marjuki di pasung, jam di tanganku baru menunjukkan jam tuju seperempat, matahari yang kuning keemasan memantulkan sinarnya yang hangat, terasa hangat di tubuh yang baru mandi, membayangkan hal yang seperti itu, betapa damai dunia, seakan di dunia ini tak ada kejadian yang seperti di alami Marjuki. Setelah masuk ke tempat Marjuki, uh jijik sekali, rupanya bau yang menyengat di malam itu, adalah baunya kotoran dan kencingnya Marjuki, juga bau bangkai tikus dan binatang -binatang lain yang di makan mentah-mentah oleh Marjuki. Oh sungguh menggidikkan bulu roma. Rupanya di tempat pemasungan, telah berjejal-jejal orang desa yang ingin menonton, tua muda, prawan, janda, remaja, jejaka duda, semua pada datang menonton, sampai kebun belakang rumah pak Soleh bener-bener lebek, ah kyak ada tontonan dangdutan aja, atau bioskop misbar,gerimis bubar, orang-orang itu ada yang mengintip dari gedek, ada yang berdesakan di pintu masuk, dan ada yang dari luar pagar saja, rupanya pengobatan Marjuki, tanpa di siarkan dengan mikropon keliling kampung, telah terdengar dari telinga ke telinga. Lek Muhsin mulai mengobati, sementara aku mempersiapkan yang di perlukannya. lek Muhsin memang sudah profesional, segala macam cara mengobati orang kesurupan dia kuasai. Dari yang model kejawen, ilmu tao, ilmu tenaga dalam, dan ilmu rukyah. Lek Muhsin mulai mengobati dengan ilmu tao, bajunya di ganti jubah kuning, dan ada simbol tao di punggungnya, semua mata menatap tegang ketika dia beraksi, dengan uang logam cina kuno yang dengan cepat di bentuk pedang, dan tangan kirinya memegang pedang dari kayu setigi, tubuh lek muhsin mulai berloncatan kesana kemari, membuat jurus mengelilingi Marjuki, tiba tiba Marjuki yang sedari tadi diam, menatap kosong, serentak ramai,[ayo ....ayo menari.,bang roma menarinya kurang seru, kenapa tak pakai gitar...?] semua yang ada di situ kotan ketawa, karena memang lek muhsin adalah penggemar Roma irama, jadi biasalah kalau dari potongan rambut, jenggot dia upayakan mirip dengan Roma. Tapi lek muhsin ini tak terlalu, malah ada tetanggaku yang mirip sekali, namanya joni, Sangking ngidolain banget sama Roma, bukan hanya rambut dan jenggotnya yang dibuat mirip Roma tapi juga suaranya, pernah kulihat joni lagi naik sepeda, ee ada lagunya Roma di putar kenceng-kenceng, maka si joni turun dari sepeda, lalu sepedanya di sandarkan di pohon, ia nyamperin ke rumah yang lagi muter lagu, bang numpang joged ya? Kata si joni, tanpa nunggu jawaban si joni langsung joged, sampai lagu selesai, dan setelah lagu selesai, dia pun permisi, tak lupa mengucapkan terima kasih, dengak dialek Roma. Karena dengan jurus tao tidak ada perubahan apa-apa lek muhsin pun segera menguba pengobatan dengan tenaga dalam dan ilmu kejawen, tapi juga tak menghasilkan apa-apa, malah Marjuki bilang katanya permainan sandiwara lek Muhsin unuk menghiburnya teramat membosankan, Marjuki minta di ganti lakon yang lain saja, dan di sambut ketawa oleh penonton yang menyaksikan, karuan saja membuat lek Muhsin malu bukan kepalang. Dan keringatnya mengalir deras sampai lehernya basah, dan pakaiannya juga basah. Seperti orang yang habis nyangkul di sawah, aku memahami perasaan lek Muhsin. Kali ini lek Muhsin mengobati dengan rukyah, membaca ayat -ayat Alquran, ayat satu di gabungkan dengan ayat yang lain, tapi pengobatan rukyah ini rupanya juga tak begi-tu ada hasilnya, Marjuki malah siat-siut mengantuk, ayat-ayat Alquran itu seperti menina bobokannya, melihat gelagat yang tak baik ini, aku segera ikut membantu, selurut wirid yang biasa ku baca, kubaca dalam hati tiga kali, sambil menahan napas. Serasa hawa aneh mengalir bergeletaran dari pusarku, kusalurkan ke tanganku kuarahkan ketubuh Marjuki, kebayangkan tubuh jin yang ada di tubuh Marjuki terlingkupi dan berusaha ku sedot ke tanganku, tiba-tiba tubuh Masduki yang siat-siut ngantuk itu membuka matanya, liar dan krimpying..!!, kretekkriet..!!, Marjuki berdiri tegak, kayu yang dipakai memasungnya sebesar dekapan manusia itu berderak membalik. [hah siapa yang mencoba menarikku keluar dari tubuh ini hrrr..brr...bedebah, belom tau siapa aku?!] [Aku iki panglimane Nyai Roro kidul, ayo sopo pengen adu ilmu...huahaha...] aku grogi juga mendengar yang masuk keubuh Marjuki adalah anak buah ratu pantai selatan, keringatku pun mulai keluar, aku segera meminta tikar kepada pak soleh, sementara keadaan semakin menegangkan. Sementara lek Muhsin rupanya juga takut, dia mencengkeram lenganku.. [bagaimana ini yan? ] [tenang lek, aku akan berusaha...nanti bantu wirid Basmalah sebanyak-banyaknya...] kataku, sambil melihat wajah lek Muhsin yang ketakutan. Setelah pak soleh datang membawa tikar. Akupun menggelar tikar di tempat yang bersih, mengingat lawan yang berat, aku pun berinisiatif membaca fatihah kepada Nabi dan silsilah tarekat kodiriah nahsabandiah, sampai ke Kyaiku, Kyai Lentik. Sementara Marjuki masih ketawa sesumbar. Tiba-tiba salah seorang penonton, seorang setengah baya kesurupan, dan maju kedepan kearah Marjuki yang masih tertawa bergelak. Mendadak saja tertawa Marjuki berhenti, aku masih membaca wirid, dengan khusuk, tak urung suara orang yang kesurupan itu terdengar di telingaku. Suara itu suara Kyai. Aku pun membuka mata, nampak orang yang kesurupan itu petentang petenteng, di depan Marjuki yang tertunduk, takut-takut. [kau tau siapa aku?]suara Kyai berwibawa. [ampunkan saya, saya tau tuan Kyai Lentik...]suara Marjuki dengan nada takut. [lalu kalau kau tau siapa aku kenapa tak cepat keluar, apa aku sendiri yang akan mencabutmu, dan menjadikanmu debu..!!.]suara Kyai membentak. Tiba-tiba tubuh Marjuki lemas. Dan menggelosor ke tanah. Kyai yang ada di tubuh orang lain itu segera mengusap tubuh Marjuki yang segera sadar. Dan memanggil ayah ibunya. Sementara Kyai memdekatiku dan membisiki telingaku. [kalau mau kembali kepondok, kalau sakit biar sembuh dulu] lalu orang desa yang kerasukan itu sadar. lelaki yang sebelumnya di pinjam wadagnya oleh Kyai itu tak mengerti dengan apa yang terjadi, Hari itu Marjuki benar-benar telah sembuh, dan segera di mandikan, aku dan lek Muhsin pun mohon diri. Setelah mengalami pengalaman di Bojonegoro, aku pun memutuskan untuk kem-bali ke pesantren, setelah selang dua hari di rumah aku pun memutuskan kembali kepesantren. Maka aku mempersiapkan segala sesuatunya, karena besok siang aku pergi dengan Bus malam jurusan kampung rambutan. Tapi malam harinya tiba-tiba tubuhku terserang demam teramat tinggi, batuk, kepala pening, dada ampeg, perut seneb. Dan nafasku sesak sekali, sampai kalau aku menarik napas akan terdengar suara ngiik, ngiik, suaranya seperti sempritan atau sumur pompa. Yang jelas aku merasa ter-siksa dan seakan aku telah dekat kepada mati. Bahkan ketika aku bangun dan mau keluar kamar, tubuhku begitu saja terbanting kebelakang, dan tanganku yang mencoba menahani tertindih punggungku sendiri, dan salah urat, makin lengkaplah penderitaanku, Aku ingat kata-kata Kyai waktu di Bojonegoro, kalau aku sakit, keberangkatan ke pondok di tunda dulu. Rupanya Kyai memperingtkanku. Dan kini, aku tergeletak begitu saja. Tiada daya, Dokter di panggil untuk mengobatiku, aku di sun-tik dan di beri obat yang banyak sekali macamnya, tapi tak membuatku sembuh. Tanganku juga di bawa ke dukun pijat tapi, sama saja masih salah urat. Aku belum pernah mengalami penyakit separah ini, paling-paling biasanya pusing, atau sesak napas, karena terlalu banyak cat yang ku hirup, karena melukis air brush, yah cat yang partikelnya teramat kecil tetap saja masuk ke hidungku, dan melekat di rongga hidung dan rongga mulutku, sehingga kalau meludah akan serwarna dengan cat yang ku semprotkan, dan hidungku kaku karena terlalu banyak cat yang menempel. Tapi sekarang penyakit ini lain, kalau mau wudhu aja kakiku gemetaran, dan tangan harus berpegangan. Ketika ibuku menangis di sampingku,[bu jangan menangis....]kataku yang lemah tidur tak berdaya,[kalau Tuhan memang telah memanggilku, nanti tolong pada Hanni, pintakan maaf, aku tak bisa menikahinya..., katakan pada Diyah, supaya mencari lelaki yang lebih baik dariku....]aku nyerocos tak karuan menyebut semua bekas pacarku, yang telah ku kecewakan, seakan aku ini terlampau banyak dosa, telah menyia-nyiakan banyak wanita, tak mensyukuri atas ketampananku, tak mensyukuri kelebihan-kelebihan yang telah Tuhan berikan padaku. Kalau Dokter di panggil berkali-kali tapi tak ada perubahan pada penyakitku, semua makanan yang ku telan, ku muntahkan kembali, lalu siapa lagi yang ku harap kan mengobatiku. kalau orang lain sakit, begitu mudahnya aku memberi solusi, tapi ketika aku sendiri yang sakit, ah memang berat kalau kita mengalami sendiri, seperti teman yang sakit gigi, lalu kita melihat, ah sakit gigi gitu saja merengek-rengek, e,setelah kita yang sakit gigi, maka kita mengaduh lebih dari teman kita. Keadaanku makin kritis, aku sudah sering mengigau, mataku membalik, tinggal kelihatan putihnya saja, ibuku tiap hari menungguiku dengan sabar, mengompresku, tidur di sampingku, ku dengar Ayahku marah-marah, [ini karena sering bermain dengan jin, jadi dapat balasannya, mungkin anaknya jin yang ia tawan atau bunuh, telah membalasnya] Yah begitulah ayahku, selalu menyalahkanku, seakan aku berdiri salah, duduk juga salah, bahkan aku mungkin setahun ngomong dengan Ayahku bisa di hitung dengan jari, tapi memang harus begitu satu sisi ada yang selalu menyayangiku yaitu ibuku, juga ada yang selalu ada yang menyalahkanku yaitu Ayahku, jadi aku ada kendali kadang melaju, kadang juga berhenti, jadi tak manja. Walau ayahku selalu bersikap seperti itu, aku tetap mencintainya, karena tak ada ayah yang ingin anaknya sengsara, jadi maksud ayahku itu demi kebaikanku juga. malam telah larut, mungkin saat itu jam dua dini hari, aku mendengar ada suara memanggilku, menyuruhku bangun, dan kubuka mata, kulirik ibuku masih tidur miring di sebelahku. Ah lalu siapa yang tadi membangunkanku.?,aku mau memejamkan mata lagi, terdengar jelas di sampingku. [iyan,..bangun ngger...!] karena suara itu kudengar di samping kiriku, aku pun membuka mata, dan mencoba menengok orang itu dengan leher yang sakit, ngilu. Aku heran ada lelaki teramat tua duduk di sampingku, tersenyum, dan senyumnya terasa mendamaikanku. Wajah lelaki itu lembut seperti bayi, dan ada cahaya kuning tipis menyelimuti, sejuk di pandang seperti matahari mau tenggelam. Juga memancarkan wibawa yang menyilaukan, alis orang tua itu tebal melengkung indah, kedua matanya bening lembut memandangku, seakan-akan menembus sampai dasar hatiku. hidungnya mancung, seperti hidung orang-orang arab, kumis dan jenggotnya tebal memutih , namun terawat rapi, ikat kepalanya seperti gambar di wali-wali songo. Berwarna putih juga bajunya berwarna putih. [siapakah tuan?] tanyaku [apakah tuan yang akan mencabut nyawaku? Baiklah aku sudah siap ] lalu ku pejamkan mata dan melafadkan dua kalimat sahadah. [anak baik...,aku bukan malaikat yang akan mencabut nyawamu..., Alloh mencintai orang-orang yang bertaubat.] kata lelaki itu lemah lembut. [lalu siapakah tuan ini?] tanyaku, kembali membuka mata. [ngger, aku Abdul kadir...] Gemuruh rasa dadaku, takdim, takut, cinta, rindu, semua teraduk dalam dadaku, bagaimana tidak, manusia yang ku cintai ku kagumi akan amaliahnya, kuyakini akan karomahnya, selalu kukirimi fatihah, karena bersyukur atas ilmunya, sekarang ada di depanku, aku mencoba bangun tapi tak kuasa, tubuhku terlam-pau lemah. [sudah ngger..., tak usah bangun, kau sedang sakit, biar aku mencoba menyembuhkanmu,] tangan syaih di ulurkan ke atas tubuhku, aku seperti merasakan hawa damai tiada tara, ku dengar letupan kecil halus, dari dalam tubuhku, dan semua sakitku serasa hilang tak tau entah kemana, tubuhku nikmat, ringan, dan seketika aku bersujut mencium tangannya, menumpahkan cintaku, rinduku..., [sudah ngger, sebaiknya engkau jangan memberikan pertolongan di atas kemampuanmu, sempurnakanlah ilmumu, nanti nabi Isa alaihi salam akan mengajarkan ilmu pengobatan padamu, sebagaimana dia mengajarkan kepada Kyaimu.., aku pergi ngger ] terdengar suara salam, dan tangan yang ku pegang telah hilang, meninggalkan bau harum yang tiada tara. Aku segera menuju kamar mandi mengambil air wudhu dan menjalankan sholat dua rakaat, kemudian melakukan sujud syukur. Ibuku terbangun, melihatku sedang sholat, setelah aku selesai, ia bertanya. [lho udah sembuh to nang?] [Alhamdulillah sudah bu] [wah bau apa ini nang kok wangi sekali..? Kamu makai minyak apa nang, kok baunya harum?]kata ibu sambil hidungnya kembang kempis lucu. [jangan-jangan,ah tak mungkin, dulu aku juga mencium bau harum seperti ini waktu kakekmu meninggal, tapi kau kulihat sehat, seperti tak sakit lagi?] wajahnya kawatir. [ah ibu jangan berfikir yang aneh-aneh] Besoknya aku pun kembali ke pesantren, naik bus malam PAHALA KENCANA. Ibuku sebenarnya tak mengijin-kanku kembali dulu ke pesantren, tapi aku memaksa, karena rinduku kepada Kyai. Sekarang aku telah berada dalam bis yang melaju tak terlalu cepat, karena hujan mengguyur deras di setiap perjalanan. Penumpang dalam bus tak terlalu banyak mungkin sekitar dua belasan orang, karena bus ini nantinya mengambil penumpang di agen-agen penjualan tiket di setiap perjalanan, aku duduk di tengah sebelah kiri bus. Dan daripada melamun, aku selalu membaca wirid di setiap perjalananku. Bus melaju kadang oleng kanan kiri, ketika rodanya masuk ke jalan yang berlubang dan penuh genangan air hujan, sehingga air di kubangan muncrat menyiram para pejalan kaki atau pengendara motor, pasti terdengar jiancok!, atau jiamput!, sumpahan khas, ah mengapa tak subhanallah. Entahlah... Di daerah lasem bus berhenti di agen penjualan tiket, para penjual makanan segera masuk menyerbu, takut pembelinya kedahuluan penjual lain, kulihat pembeli tua melangkah pelan, menawarkan dagangan, ku lihat makanan kesukaanku, yaitu jagung muda yang di parut kemudian di uleg dengan bumbu di kasih telur lalu di goreng, di makan dengan cabe huh enak sekali, di daerahku makanan itu namanya pelas , [berapa nek,?] [tiga ribu nak] ku keluarkan uang tiga ribuan nenek itu menerimanya dengan jari gemetar[nenek sakit?]tanyaku. perempuan itu mengangguk. Ku keluarkan uang dua ratusan ribu, lalu ku jejalkan di telapak tangannya, mungkin uangku ini lebih berguna di tangan nenek ini daripada, di tanganku,ini adalah uang gajiku melukis di rumah makan. Lumayanlah dua minggu aku mendapat tiga jutaan. Nenek itu terkejut. Tapi aku segera berkata,[sudahlah nek, tak usah terima kasih, sekarang nenek tak usah kerja, nenek pulang, dan uang itu untuk membeli obat, sana nenek turun, terus pulang.] nenek itu menuruti kata-kataku kemudian dia turun, sampai di bawah kulihat dia melihat uang yang kuberikan. Lalu menatapku dari bawah dan air matanya berkaca-kaca. Kulihat dia mengangkat kedua tangannya berdoa. Sementara aku mulai menikmati apa yang kubeli. Beberapa penumpang naik, dan juga dua penumpang paSangan setengah tua, ku perkira-kan umurnya lima puluh tahunan, setelah mencari-cari nomer kursi ternyata yang lelaki duduknya di sebelahku, sementara yang perempuan di kursi dua kursi deretan sebelah kanan arah depan kursiku. Bus pun melaju, jam butut di tanganku telah menunjukkan pukul setengah lima sore. Tiba-tiba perempuan istri lelaki di sampingku, bangkit dari kursi dan berjalan ketempat aku duduk. [nak bisa enggak kita gantian tempat duduk, biar saya duduk di sebelah suami saya, dan anak duduk di kursi saya.] [oh nggak papa bu, silahkan...silahkan] kataku segera memberesi tas dan barangku. Untuk pindah tempat duduk. Aku segera pindah tempat duduk yang di tempati, perempuan tua itu. Oh rupanya di situ ada penumpangnya, seorang gadis berjilbab, cantik? Entah aku belum melihat wajahnya, aku mengucap permisi lalu duduk, menempatkan tasku, di tempat yang aman. Nah saat mengucap permisi itulah gadis itu menengokku dan mempersilahkanku, kulihat wajahnya terkejut melihatku, tapi aku duduk saja, Terus terang aku orangnya tertutup, walau ada gadis di sampingku cantiknya sundul langit, aku tak akan bertanya, juga tak akan mengganggu. Kecuali di tanya?., walau dalam hati dag-dig-dug, tak karuan, yah namanya tetap juga manusia, ketertarikan lelaki pada wanita, wajar saja, tapi aku bukan tipe lelaki yang petentang-petenteng membawa pedang asmara, lalu kalau ketemu gadis ayu, menusukkan pedang ke dadanya, dan memberikan serangan rayuan yang berbunga-bunga, ah aku hanya pemuda dingin, kadang aku sendiri merasa kedinginan. tapi mungkin karena rambutku panjang anting ada di telinga, jadi orang lebih mengira aku ini anak nakal. Untuk beberapa saat kami terdiam, sampai gadis itu bertanya padaku. [mau ke mana mas?] pertanyaan yang wajar, tak wajar kalau dia bertanya mau makan apa mas?, sebab ini dalam bus bukan dalam warung. [mau kejakarta.]jawabku juga wajar, kalau ku jawab ke surabaya, tentu aku makin jauh, sebab bis ini menuju ke barat. Kulihat gadis itu, ah pasti waktu mau bertanya padaku tadi dia berusaha mati-matian membasahi bibirnya. Sebab kulihat bibirnya basah sekali, seperti di kasih madu. Rasanya pasti....ah setan, menggoda saja. [mbak sendiri mau kemana?] tanyaku sambil melihat hidung mungilnya yang seperti cabe merah besar. [sama mau kejakarta...] [oo,kalau begitu bisa sama-sama dong....!] kataku, ah kenapa dialognya tak bermutu begini, tapi di teruskan juga. [boleh kenalan mas? Nama saya Rosalia..] cewek itu mengulurkan jemarinya yang lentik halus. Oh Tuhan maafkan aku, sebenarnya aku tak boleh menyentuh tangan nya, tapi kalau aku tak menyentuhnya, aku rugi nantinya. [iyan..,febrian.] [ah tak salah dugaanku, pasti emas...orangnya., bener-bener tak nyangka] tiba-tiba gadis ini girang bukan main, dan tanganku, di tariknya di tempel ke pipinya yang putih kemerahan., aku buru-buru menarik tanganku, takutnya di gigit. [ah mbak pasti salah orang]kataku takut, jangan-jangan maniak sex, wah kalau di perkosa, aku bisa tak perjaka lagi. [tak mungkin salah, aku begitu lama menyanjungmu, begitu merindumu, memujamu,tak akan pernah salah mengenali dirimu...] dia mengatakan bersemangat sampai air liurnya muncrat kemana-mana, apa mungkin dia ngiler ya ngelihat aku?. [dulu aku berpiki apakah engkau itu benar-benar nyata? Ternyata engkau benar-benar nyata] tangannya yang halus membelai pundakku. Ah sial aku jadi merinding, mengapa jadi serumit ini. [bener mbak ini salah orang, nanti mbak menyesal..!] [bagaimana aku akan salah orang, fotomu aja selalu ku bawa] katanya sambil membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah majalah, dan kliping tulisan dan fotoku. Aduh...aduh...rupanya ini penggemarku, yang begitu memujaku, memang dulu aku aktif menulis di berbagai majalah. Tapi itu sudah lama aku fakum, kenapa penggemarnya masih ada? Kulihat foto yang di tunjukkanku, dari pertama aku menulis di majalah jawa penyebar semangat, sampai majalah Anita, dan majalah Alkisah. Ah benar-benar deh aku tak nyangka akan ada yang mengidolakan aku. [benarkan ini mas ian...?] tanyanya, matanya yang seperti artis jeklin itu menyelidik. Dan aku mengangguk. Aku tak kuasa ketika lenganku tiba-tiba di rengkuh dalam pelukannya, [mas, aku telah mencoba menjadi gadis idamanmu aku yang sebelumnya tak berjilbab, sekarang telah berjilbab, lihatlah mas. Apakah aku kelihatan cantik, aku siap menjadi pacarmu bahkan istrimu] wah aku bertemu dengan penggemar yang tak bisa membedakan dunia fiksi dan dunia nyata, ah aku harus bisa lepas dan melepaskan dia dari dunia hayalnya. Ah semakin sulit aja. [mas em...aku boleh ya minta ciumnya...] wah semakin ngawur aja, kalau aku tinggalkan gadis ini, ah betapa tak bertanggung jawabnya aku atas cerita fiktif yang ku buat. Aku berusaha menenangkan diri. [eh gini ya dek rosa, soal cium itu nanti mudah dech. Waktu kita kan masih panjang, jadi baiknya kita ngobrol dulu, jadi pasangan kan harus mengenal lebih jauh calon pasangannya.?] kataku mencoba setenang mungkin. [dek ros, asli orang jakarta ya?] tanyaku mengalihkan pembicaraan, sambil mencari akal untuk keluar dari krisis multidimensi, ah di besar-besarkan aja. [iya mas, aku dari cipinang muara.]katanya kemudian menggelayut, merebahkan kepalanya di pundakku, ah bisa gawat nih, suara dadaku makin bergeladukan saja. [trus tadinya dek ros ini dari mana?,]tanyaku mencoba mengusir keingi-nan mengambil kesempat-an dalam kesempitan. [ih mas ian ini, kayak tak tau saja, kan dalam novel itu wanita pujaan mas, mondok di pesantren, jadi saya ya jelas dari pondok pesantren, dari nama pondok, desanya, kotanya dah aku cocokin semua, aku akan menjadi gadis yang mas ian inginkan] wah sudah sejauh itu? Waduh makin kacau aja. Ruwet....,ruwet...., walau bus ini keringat tak urung membasai punggungku. A.C dalam bus hanya mengeringkan keringat yang ada di wajahku. Tapi tak mengeringkan keringat di dalam bajuku. Sementara gadis di sampingku yang masih memeluk tangan kananku dan kepalanya rebah di pundakku, tertidur. Ah aku mungking tak bisa menyelesaikan masalah ini, biarlah aku berserah, pada penyelesaian Tuhan. Maka akupun membaca wirid dan mencoba tidur. Aku berharap setelah tidur gadis ini tak ada, atau masalah ini hanya mimpi saja, bagiku terlampau sulit untuk mencari jalan keluarnya. Aku benar-benar tak menyangka hanya karena cerita fiktif, bisa menimbulkan masalah sebegini peliknya. Setelah wirid dan hatiku tenang maka akupun tertidur. Malam mulai merambat, dan gadis di sampingku masih lelap dalam tidurnya, lagu Setasiun balapan mengalun dari speaker mendayu-mendayu, di susul lagu sri minggat, lagu jawa itu kadang membuatku sedikit tertawa, tapi aku segera memejamkan mata lagi. Ingin sedapat mungkin berlari dari kenyataan ini, sampai besok saja sampai aku terlepas dari gadis di sampingku ini. Ah kenapa begitu susahnya, dadaku terasa sesak akan himpitan, aku segera memenuhi illalloh.. .,ku ulang ulang untuk mencari pegangan atas kegelapan yang mulai membutakan mata hati, ya Alloh lindungi aku dari kenistaan nafsu, dan segala macam tipu dayanya. Aku telah tertidur lagi dengan lelap. Sampai kurasakan ada tangan menepuk pundak kiriku. Tepukan itu kurasakan keras, jadi tak mungkin aku bermimpi. Aku tengak tengok, semua penumpang tertidur, lalu siapa yang menepuk pundakku? Ku menengok ke kanan kiri ingin tau Bus ini sampai di mana, dan betapa terkejut nya aku ketika kulihat ke sebelah kiri Bus. Bus ini sedang membelok kekiri, dan di sebelah kiri ada warung tepi jalan yang kayu gentengnya menjorok ke jalan, sehingga kalau bus terus membelok tak di ragukan lagi kaca kirinya akan menghantam kayu warung itu. [stooop..!]aku menjerit sekencangnya. Sampai gadis di sampingku melonjak kaket bukan alang kepalang. Tapi rupanya supir bus tak memperdulikanku, mungkin mengira aku se-dang mengigau. Dan tak bisa di elakkan lagi. [duar,,kratakkkreek...tar..tar..!] suara kaca bus sebelah kiri pecah berhamburan. Jerit penumpang ramai, juga jerit mengaduh dari penumpang yang terkena pecahan kaca [Stoop!!! ]suara ku keraskan untuk mengalah-kan ribut suara panik penumpang, karena aku takut sopir bus akan memundurkan busnya, tapi kekawatiranku langsung terjawab, mungkin karena paniknya sopir, bus pun dimundurkan ke belakang [dar.,tarrk...kkrrk...!!]kembali terdengar, kaca bus yang tadi menghantam kayu pojok warung dan kayu yang masuk kedalam bus begitu saja menyapu kaca yang tersisa dan masih menempel karena scotlet bening melapisi kaca. Terdengar lagi jerit penumpang. Sekarang semua orang meminta bus berhenti. Para penumpang berebut turun, kulihat tiga kotak kaca bobol pecah tak karuan, banyak orang terluka wajahnya karena terkena pecahan kaca, termasuk suami istri yang sekarang menempati kursi yang tadinya kududuki, dan mereka berdua lukanya paling parah, sehingga harus di bawa kerumah sakit. Seandainya aku yang masih duduk di situ, apa jadinya aku? Tuhan mempunyai rencana tuk menyelamatkanku, aku tak membayangkan bagaimana seandainya aku ngotot tak mau pindah tempat duduk, walau aku mendapatkan cobaan gadis yang duduk disampingku. Ah mana gadis tadi? Aku tak melihatnya, ah kenapa aku harus mencarinya? Bukankah dari rumah awalnya juga berangkat sendiri-sendiri, aku membetulkan letak tas punggungku, ketika dua bus cadangan datang tuk menampung penumpang, aku segera masuk ke dalam satu bus, dan mencari kursi yang masih kosong, karena bus ini telah terisi penumpang. Bus yang ku tumpangi pun melaju lagi, para penumpang ramai membicarakan kecelakaan yang terjadi. Jam tangan bututku ku lirik, menunjukkan jam sepuluh seperempat. Aku menyandarkan tubuh di kursi dan menempatkan badan senyaman mungkin lalu biasa memulai wiridku. Ah rupanya kecelakaan tadi jawaban atas doaku agar aku selamat dari gadis yang mati-matian mengidolakanku. Entahlah? Aku pun tertidur, sampai bus berhenti di Rumah makan. Aku segera turun menyusul penumpang yang lain. Ku baca tulisan di rumah makan itu NIKKI Subang, kiranya telah sampai di subang. Aku segera mencari arah tulisan yang menunjukkan Musholla. Dan melakukan sholat jamak dan koshor. Selesai sholat, setidaknya hati tentram. Aku mengagumi mushola dan rumah makan ini begitu besar sekali. Tiba-tiba seseorang lelaki setengah baya menghampiriku, dan mengucap salam kepadaku, dan ku jawab salamnya. [Mas ian kan? ]tanyanya kepadaku, aku jelas kaget karena tak pernah merasa kenal dengan orang ini. Apa ini penggemarku lagi? Betapa susahnya kalau jadi orang terkenal macam artis. Kemana-mana tentu tak bebas. Aku mengiyakan. [ah sudah saya kira...]wajah lelaki itu sumringah, kemudian menyalamiku. [Bapak siapa? ]tanyaku masih tak mengenali. [Aku pak Dadang, yang sering ketempat kyai, mungkin mas ian tak mengenaliku, tamunya kyai kan banyak.] kata pak Dadang memperkenalkan diri. Lalu pak Dadang memanggil pelayan dan membisinya. Dan pelayan itu segera cepat berlalu, sebelumnya membungkuk, rupanya pak Dadang di kenal dan di hormati. [Mari kerumah mas,]kata pak Dadang yang membu-atku heran. [tapi saya ikut bus malem pak, apa rumah bapak ini dekat sini? ]tanyaku, takut di tinggal bus. [itu rumah bapak di belakang, kelihatan dari sini, mas ian singgah aja di sini, barang tiga empat hari, lagian kyai juga tiga hari lagi mau kesini, jadi nanti keBantennya bisa bareng.] [o .kyai mau kesini?] pak Dadang manggut [ya kalau begitu saya ngambil tas saya yang masih di bus, sekalian bilang kalau saya tak ikut melanjutkan perjalanan ] [ya sebaiknya begitu ] maka aku pun menuju bus yang di parkir mengambil tas dan bicara pada supir kalau turun di sini saja. Aku segera menemui pak Dadang yang masih berdiri di depan Mushola. Dan dia mengajakku kerumahnya, rumah besar mewah yang di domisili marmer dan kayu jati dipadukan sedemikian artistik. [mas ian tidur di kamar ini aja.] suara pak Dadang mengagetkanku. Karena aku sibuk menikmati arsitektur rumah yang dibuat demikian sederhana namun elegan, dengan lemari bifet tinggi menyentuh plafon. Dan lantai dari marmer yang mengkilap. Aku segera masuk kamar di dahului pak Dadang . Setelah menyuruhku mandi dulu, pak Dadang pun pergi. Aku segera mencopot baju untuk mandi, kamar ini luas, kurang lebih empat meter persegi, dua ranjang besar dalam kamar, dengan selimut yang tebal, salah satu dinding kamar tertutup lemari bifet yang besar, ada tivi dua puluh sembilan inc. Juga Dvd player Aiwa, A.C yang selalu menyala. Sehingga udara terasa dingin, aku segera memasuki kamar mandi yang ada dalam kamar, bak mandi untuk berendam telah penuh, dan di sampingnya terdapat minuman segar entah apa namanya, aku terlalu ndeso untuk menjelaskan semuanya. Tubuhku pun ku rendam air yang terasa hangat. Dan mencicipi minuman, kujilat-jilat dulu, takutnya memabukkan. Setelah mandi dan tubuh terasa segar, aku segera ganti pakaian, pintu kamar di ketuk, lengkap memakai pakaian ku buka pintu, seorang pemuda berpakaian seragam biru muda dengan krah baju warna kuning. "ini mas silahkan makan, sudah di siapkan.."katanya sambil membungkuk, aku hanya manggut dan keluar kamar, wah di depan kamarku di depan tivi di atas tikar yang terbentang, beraneka masakan telah terjajar rapi, "silahkan mas di nikmati, saya tinggal dulu..."katanya sambil segera berlalu. Aku yang di tinggal tingak-tinguk, melihat makanan sebanyak ini, bingung mau pilih yang mana. Nasi di bakul, sebelahnya ada sotong goreng tepung, pepes ikan laut, pepes jamur, sambel tomat, lodeh ikan pari, soto sapi, ayam goreng kering, sotong masak hitam, pecel lele, burung dara goreng renyah, hati sapi goreng kering. Ah masih banyak lagi, aku tak tau namanya, ada juga jengkol goreng, lalapan petai, terong ungu dan segala macam daun yang aku tak tau namanya. Aku pun mulai makan, ku cicipi satu-satu, toel sana sini, sampai piringku penuh, ketika aku lagi makan, pak Dadang muncul, "mas iyan, di kenyangkan lo makannya, jangan sungkan-sungkan, anggap rumah sendiri saja..."cuma berkata itu dia pun berlalu. seumur-umur baru kali ini aku makan sampai seramai ini, dengan berbagai macam masakan dan aneka warna lauk, pertama aku begitu bersemangat, karena kecendrungan nafsu, semua pengen aku embat, tapi setelah kupikir-pikir, ah rasanya tetap itu-itu saja, kenikmatan semu, sebatas tenggorokan, renyah, gurih, asin, pahit, manis, kecut, kenyal, alot, pedas...ah membosankan, ku ambil teh poci dan menuang ke cangkir kecil, menyruputnya pelan-pelan. Kuambil, hati sapi goreng dan melangkah keluar, ku ambil rokok Djisamsoe filter, dan kunyalakan, aku duduk di undakan emperan depan rumah pak Dadang, malam makin larut, tapi mobil yang mengunjungi rumah makan ini makin rame saja. Khususnya bus malem dari jakarta ke arah daerah, juga dari daerah ke arah jakarta.. Juga tak sedikit mobil-mobil pribadi. Akhirnya ku tau rumah makan ini adalah miliknya pak Dadang, nama Nikki adalah nama pendiri pertama rumah makan di daerah subang, sekarang setelah H.Nikki meninggal, maka rumah makan diteruskan oleh anak dan saudara-saudaranya termasuk pak Dadang. itu penjelasan dari pelayan yang melayaniku. Setelah rokok habis dua batang, aku pun kembali ke kamar dan berangkat tidur. menunggu kyai selama tiga hari, di rumah pak Dadang, membosankan juga, ketika kyai datang tiga hari kemudian, aku teramat bahagia, aku segera mencium tangannya, takzimku sebagai murid, seperti biasa, kyai tidur di pangkuanku, dan minta kupijit kepalanya, oh rasa cinta karena Alloh sungguh nikmatnya. Aku sangat tahu kyai sangat mencintaiku sebagaimana aku mencintainya karena Alloh. Bila kyai tiduran di pangkuanku maka sudah pasti, ia akan menanyakan tentang keadaan keluargaku, dan memperingatkan akan ada orang yang iri dengan keluargaku, akan terjadi begini begitu, dan tak lupa kyai menurunkan ilmu kepadaku. Aku kadang terharu akan cinta kyai kepadaku yang teramat besar, sampai kyai hafal betul orang yang ada di ruang lingkup kehidupanku, walau aku tak pernah menyebutkan nama-namanya, tapi kyai hapal satu-satu. sebegitu sayangnya kyai padaku, dimanapun aku bekerja, kyai pasti menjengukku, bahkan kadang menungguiku berhari-hari, karena tak ingin aku di dholimi oleh orang yang memakai jasaku. Pernah kyai mengatakan padaku, jika ada orang yang memusuhimu, maka akulah yang akan menjadi tameng hidupmu, maka jangan takut berdiri diatas kebenaran . "mas ian...!"kata kyai yang tiduran di pangkuanku, sementara beberapa tamu lelaki perempuan, mengitari kami, ada sekitar sembilan orang. "iya kyai..." "nanti mas iyan kembali kepondok dulu ya..! Sekalian mampir kerumah macan..."kata kyai sambil memegang tanganku mengarahkan supaya memijit arah diatas kedua mata. "macan adalah panggilan santri, yang seangkatanku, asalnya orang rusak, suka mabuk, teler, main perempuan, berantem, jadi raja gank, tapi kemudian ditobatkan, dan menjadi murid kyai, yang di tugaskan, untuk menyadarkan para pemabuk dan preman. Pengikutnya dari para orang-orang yang rusak di daerahnya sudah banyak, walau dalam keadaan tersembunyi. "ada apa kyai, kok saya harus ke tempat macan?" "nanti ajak dia nglakoni nggila, tapi dia tak akan mau, orang udah rusak seperti itu kok masih ada di sudut hatinya pengen di wah orang, ah macan...macan....!" "kalau kyai sudah tau dia tak mau ngedan, kenapa aku ke rumahnya macan kyai?..." "sudah nanti pokoknya kesana aja..! Masih punya uang gak?"tanya kyai, memang begitulah kyai, dimana-mana rasanya tak ada seorang kyai yang berdialog dengan murid santrinya sedetail itu, kyai tau uang di sakuku tinggal berapa, tapi dia masih bertanya, "masih kok kyai..." "ini untuk beli rokok, rokoknya gak punya kan?" kyai mengangsurkan uang duaratusan ribu, memang rokokku telah habis, aku ingat kalau di pondok, aku sama sekali tak punya uang dan rokok juga tak ada, tembakau dari uthis juga tak ada, maka kyai memanggilku, dan memberi rokok yang anehnya saat itu ku bayangkan, walau kadang aku membayangkan rokok yang aneh-aneh, misalkan roko Cigarilos. Maka kalau kyai memanggilku akan memberi rokok cerutu Cigarils. Pernah satu kali temanku menemukan bungkus rokok Djisamsoe yang dari plastik pak berwarna hitam, bukan dari kertas, dan kami membicarakan, bagaimana ya rasanya, tiba-tiba kyai memanggilku dan memberi rokok Djisamsoe dari plastik itu. aku segera menerima yang di berikan kyai, kenapa tak di tolak? Nah itulah unggah ungguhnya, tata kramanya, di perintah apa saja, atau di beri apa saja harus siap menerima, walau kadang tak masuk akal. Karena beda dengan kyai biasa, sambil masih tiduran di pangkuanku, kyai pun menanyakan keperluan tamu satu persatu, dan memberikan solusi. Setelah tamu semua telah pergi, kyai bangun dari pangkuanku. "apa yang di pesankan oleh Syaih Abdul qodir Al jilani....?"tanya kyai. Dan walau aku telah menyangka akan di tanya soal itu, aku kaget juga, tapi segera maklum kalau kyai tau. "anu kyai saya di suruh menyempurnakan ilmu, dan di minta segera baiat Toriqoh kodiriyah wanaksabandiyah."jawabku. "ya kalau begitu nanti sampai di pondok aku baiat." kata kyai menepuk pundakku."sekarang segera saja berangkat ke rumah macan...!" Aku segera mencium tangan kyai, dan melangkah pergi, karena tamu-tamu yang lain telah datang kedepan kyai. Kyai adalah pembaiat Toriqok kodiriyah wa naksabandiyah yang di serai baiat dari Abah Anom, sesepuh pesantren suryalaya, juga di serai baiat dari Abuya dari pesantren Syaih Nawawi tanahara, serang. Walau kyai tak mondok di kedua pesantren itu. Aku segera mengambil tasku yang masih dalam kamar, dan tak lupa pamitan kepada pak Dadang. Aku pun menyetop bus di depan rumah makan, jam menunjukkan jam sepuluh siang, panas serasa menyengat kepalaku, untung aku memakai tutup kepala kain coklat susu, yang terbuat dari beludru, seperti kain sajadah tebal, jadi kepalaku walaupun panas agak nyaman, rambut kuikat kebelakang dan ku masukkan baju. Setelah memilih bus akupun akhirnya mendapatkan bus yang jurusan terminal kampung rambutan. Jam tigasiang memasuki terminal kampung rambutan. Aku segera mencari ojek di belakang terminal dan setelah tawar menawar harga aku pun di antar ke daerah Ciracas, tempat tinggal Macan. Sebenarnya ada tiga orang murid kyai yang benar-benar seangkatanku yaitu aku sendiri, Macan, dan, Haqi. Haqi sendiri telah menjadi guru toriqoh di jawa timur, selain membuka pengisian badan, memagar rumah, mengobati orang sakit, dia juga sering di panggil untuk mengisi orang-orang pagarnusa. ojek menurunkanku di depan rumahnya macan, rumah yang sederhana, seorang perempuan cantik istrinya macan sedang mengasuh anaknya di depan rumah. Perempuan itu yang memang sangat mengenaliku langsung menyambutku dengan sapaan, karena dulu dia salah satu kekasihku, ah masa lalu. Dia bernama Ida raya. "ee Iyan...sendirian?"sapanya. "iya nh da...Macan ada?" "ada, tp msih tidur.., ayo masuk dulu..." Aku segera masuk dan duduk di sofa. Sementara Ida masuk ke dalam. Aku jadi ingat, saat itu di pesantren, aku dan macan adalah teman yang teramat akrab, kami ini seperti tumbu dan tutup, kemana ada aku, pasti ada Macan, mandi, masak, dan tidur pun selalu bareng. Kalau soal tidur Macan ini tak bisa pisah dariku, kami selalu tidur satu bantal, bukan apa-apa Majan sekalipun seorang jagoan tapi dia teramat penakut, takut pada hantu. Karena dulu para santri belum punya kobong sendiri, jadi masih tidur di tempat pembuangan jin, yang luasnya duapuluh meter persegi, walau tempat itu luas dan bangunan rapi tapi karena sudah di putuskan untuk tempat membuang jin yang di tangkap, jadi angker banget. yah ruangan pembuangan jin ini di diami oleh beribu-ribu jin, bahkan mungkin berjuta, aku sudah biasa, bahkan kalau lagi tubuh pegel, tak jarang aku minta di pijiti, karena di huni oleh banyak sekali jin, maka siang dan malam ruangan luas ini teramat dingin, seperti dalam kulkas saja, kalau siang pun walau di luar terasa panas, tapi udara di dalam teramat dingin, bahkan kalau tidur tak pakai selimut, maka tubuh terasa tak kuat, karena dinginnya. Malam itu Macan ndesel dengan selimut sarungnya dan masih memakai celana levis, karena memang teramat dinginnya, dia tidur denganku satu bantal, kalau kutinggal dia pasti akan ikut bangun, apalagi kemaren malam ada tamu yang pingsan karena melihat pocong, kuntilanak dan tengkorak, itu semakin membuat macan jerih sekali. "yan... Dah tdur belum...?" suara macan terdengar dari balik sarungnya, karena wajahnya di tutupi sarung, takut kalau melihat hal-hal yang menyeramkan. Padahal Macan ini orangnya tinggi besar, wajahnya seram, pipi berlubang-lubang bekas jerawat batu, alisnya tebal, hidung mbengol, bibir tebal, mata mencorong merah, dan tubuh dempal berotot, kalau ngomong suaranya berat. "ada apa?" tanyaku yang memang belum tidur, aku terbiasa memutar tasbih sambil tiduran, melanjutkan wirid-wiridku. "aku ini sebenarnya mau menikah..."memang saat itu Ida belum menjadi istri macan. Tapi sudah bekas pacarku. "kamu, mau nikah?..apa aku tak salah dengar can...?" "bener, aku tak bohong..." "wah kamu jelek gitu, kok laku ya..." "ini perjodohan orang tua, sama orang tua, jadi aku sendiri belum melihat ceweknya..." "wah kalau belum ngelihat ceweknya, jangan mau can..!" "ya kalau melihat ceweknya di foto sh udah ian, tapi menatap langsung yang belum..." "oo gitu, kamu bawa photonya can?, kalau bawa, coba aku lihat cakep enggak." "kalau ceweknya jelas cantik" "mana fotonya? Coba lihat?!" aku penasaran. Masih menutup wajah dengan sarung, Macan kedesal-kedesel mengeluarkan dompet membukanya dan mengeluarkan foto, lalu menyerahkan padaku, dari balik sarungnya. Aku menerima foto itu dan melihat, mengarahkan foto itu ke cahaya lampu listrik yang membias ke arahku. "bagaimana ian, cantik khan?"suara Macan dari bawah sarungnya. "entar dulu, aku seperti kenal dengan foto ini......, wah tak salah lagi, ini Ida rayya..!" kataku spontan. "lho kamu kok kenal ian?" Macan sudah membuka wajahnya dari tutup sarung. "benar khan ...?" "iya emang bener itu namanya..,tapi kok kamu bisa tau namanya.?" "dia dulu pacarku can..." "pacarmu ian, wah celaka aku" "cilaka bagaimana?" "udah kamu apakan aja ian, jangan-jangan udah tak prawan...?" "ya tak aku apa-apakan, emangnya ku apakan?, tak prawan gimana? Emangnya aku sebejad itu?!" "ya siapa tau...!" "wah kamu tega amat can, berpikiran begitu padaku," "tapi sudah kamu cium,?" "cuma sedikit..." "awas nanti kalau ternyata telah tak perawan, kita tuntaskan dengan golok..." "kita lihat aja nanti..." Begitulah, akhirnya Macan menikah dengan Idaraya, dan sampai sekarang, hubungan dia dan aku melebihi dari seorang saudara sekandung. Kulihat Macan keluar dari kamar, lalu menghampiriku, di wajahnya masih mengurat cap bantal tidur, lalu dia menyalamiku, "dah dari tadi ian?" "baru aja datang...aku dipesan kyai tuk nemuimu..." "kamu baru dari banten?" "enggak aku dari rumah, aku ketemu kyai di subang," "di pesan apa sama kyai?" "di suruh ngajak kamu ngedan..." "byuuh, giak sanggup aku, ngedan, kalau mau jadi orang gila, kamu aja sendiri, aku..kekkekekikik, apa kata anakku kalau aku menjadi orang gila, kalau kamu ngajak aku mukulin orang, ayo sekarang juga berangkat, tapi kalau ngajak aku jadi orang gila, aku angkat tangan, aku punya istri, punya anak, la kamu..?" Aku tak kaget kalau Macan tak mau, karena kyai telah mengatakan sebelumnya. "yah kalau kamu tak mau ya udah...."kataku melemah. "terus terang ian, kalau amalan-amalan lain, aku sanggup menjalani, tapi kalau amalan ngedan, byuuh, aku tak sianggup ian, aku tak sanggup orang mengatakan wah si Macan yang hebat itu sekarang uedan, keberatan ilmu, apa tak malu aku nantinya, lagian menurutku apa gunanya ngedan itu?" "ee kamu ini bagaimana sih can, waliyulloh syaih Abdul qodir aljailani, melakukan, kok kamu menyangsikan gimana kamu?" "bukan menyangsikan begitu, aku ini kan bekas orang bujad, tentu tak semengerti kamu." "baiklah memang kyai sendiri tak pernah menjelaskan akan manfaatnya, tapi setelah aku membaca kitab manakibnya syaih Abdulqodir, aku dapat menarik kesimpulan, bahwa laku ngedan itu di lakukan untuk membersihkan hati." "membersihkan hati yang bagaimana ian..aku ndak mudeng sama sekali." "dalam hati manusia, cenderung mempunyai sifat sombong, iri, dengki, membanggakan diri, dianggap unggul, pengen di anggap gagah, di mulyakan manusia lain, dianggap kaya, dianggap berilmu dan dianggap-dianggap yang lain, ah apa untungnya di anggap tak ada kan? Juga dalam hati manusia itu selalu ada perasaan mencela orang lain, perlawanan dari sifat ingin di anggap, hati manusia juga tak ingin di cela, dan sifat-sifat itu semua mengotori hati, sehingga hati tertutup olei cahaya ilmu Alloh taala, maka jika manusia sadar, harus berusaha menghilangkan segala macam penutup hati itu, nah jalan yang mencakup pembersihan menyeluruh, adalah dengan cara menjadi gila.." "jelaskanlah lebih detail lagi ian, biar aku ngerti..."inilah yang ku suka dari Macan, biarpun dia tak mengerti ilmu agama, tapi, dia selalu bersemangat kalau di ajak ngomong masalah ilmu. "yah dalam diri orang gila apa sih yang perlu di sombongkan, di banggakan, diiri di dengki, dipuja, tak ada orang yang melihat orang gila, lalu bilang orang gila itu hebat, kebanyakan orang pasti di cemooh, nah saat di hina itulah, kita menempatkan hati, menguatkankannya, membuat hilang perasaan pengen di anggap Wah dan hebat, yang tiada guna sama sekali, dipuja sampai ujung tenggorokan saja, kamu lihat para pemimpin negara kita, di depan di hormati, tapi di belakang dihujad, apa enaknya hidup palsu seperti itu. Apalagi tidak di mulyakan tapi pengen di anggap mulya, bukankah itu palsu diatas palsu. Maka dalam nggila itu, kalau kita sudah mampu menghilangkan dari hati segala macam sifat, yang menurut manusia itu muliya, tapi teramat tercela itu, langkah selanjutnya, belajar memasrahkan diri pada takdir Alloh, atas tubuh kita, memasrahkan sepasrah pasrahnya. "kita berusaha sepasrah mungkin, pasrah atas rizqi, pasrah atas nasib, menerima apapun dari Alloh tiada menolak, kalau sudah dalam tanggungan Alloh hati akan senang, tak ada beban, tak ada susah, tak ada kekawatiran, sekalipun saat itu nyawa di cabut, karena semua adalah kehendaknya, kalau sudah begitu pikiran akan tenang, dan hati lapang, karena ilmu Alloh yang masuk ke dalam hati, tak ada penghalang lagi...ketentraman dan kedamaian haqiqi. Sesungguhnya para waliALLAH itu tiada rasa takut, dan tiada susah." Kataku mengakhiri pembicaraan sambil menyruput kopi dan menyalakan rokok djisamsoe filter. "walaupun begitu aku belum berani menjalankan ian, kelihatannya berat sekali" kata macan sambil ikut menyalakan rokok djisamsoe kretek. Aku hanya menginap semalam di rumah Macan, malam itu aku dan dia duduk di samping rumah di bawah pohon nangka. Di mana ada meja memanjang dan dua kursi kayu panjang, suasana sangat sepi. Kami nikmati secangkir kopi dan ketela goreng. Macan mengeluarkan hpnya, "ian pernah gak kamu memotret hantu?" tanya Macan. "motret hantu can, emang bisa...?"tanyaku balik heran. "aku kemaren motret diri sendiri ian, tapi ada bayangan orang tua di belakangku, coba lihat ini..?"Macan mengangsurkan hpnya ke depanku setelah membuka galerinya. Kulihat wajah Macan, dan memang ada bayangan orang tua, seperti asap tapi jelas. "wah kok bisa begitu ya?" kataku"berarti bener bisa di potret hantu itu." "coba ian kamu yang ilmunya lebih tinggi, kamu tarik hantu yang ada di sekitar sini, biar aku potret..."idenya. "apa bisa...?"tanyaku ragu. "ya namanya juga nyoba, ya belum tau..."katanya sambil tertawa. Aku mulai mempersiapkan diri, sambil duduk di kursi tubuh ku tegakkan, kutarik nafas panjang, kusimpan di perut, wirid yang biasanya kubaca puluhan ribu, ku baca tiga kali-tiga kali tanpa napas, terasa tenaga yang di pusarku bangkit, terasa dingin, mengalir seperti ribuan semut berjalan, juga kurasakan aliran tenaga di bawah dadaku sebelah kanan terasa panas, mengalir kearah pertengahan dadaku, bertemu dengan tenaga dingin sehingga terasa ada pusaran, kusalurkan ke arah tanganku, kedua tenaga itu berpencar yang dingin kearah tangan kanan, dan yang panas kearah tangan kiri. Ku rasakan tangan kananku dingin seakan mengeluarkan uap dingin, lalu tangan kananku kuangkat, aku rasakan setiap mengarahkan kearah tertentu, ada getaran halus, seperti getaran kalau tubuh sedang merinding, atau terasa seperti jutaan semut, atau terasa tapak tangan menebal, setelah yakin, aku konsentrasikan, tapak tanganku seakan menyedot sesuatu, menahan dengan tapak kiriku. Tiba-tiba angin keras menerpa kami dari segala penjuru, sampai baju yang ku kenakan dan yang di kenakan Macan berkibaran, dan beberapa daun nangka berguguran, hampir menimpa kami. "ini can...kamu photo di depan, sudah berkumpul..." Macan segera menjepretkan ngawur saja ke depanku, beberapa kali. "sudah-sudah cukup...!" katanya karena takut dan memang aku sendiri teramat merinding, Ku hempaskan tanganku ke depan. Kembali angin bertiup tapi kali ini seperti meninggalkan kami. Aku mengusap keringat yang membasahi pelipisku, kemudian menyeruput kopi yang tinggal sedikit, karena tenggorokanku terasa kering. Ku ambil sebatang djisamsu filter dan menyalakan. "gimana can berhasil,?"tanyaku yang melihat dia memutar-mutar galeri. "wah menakjubkan sekali, tak akan percaya kalau tidak mengalami sendiri." dia menunjukkan gambar yang di perolehnya, memang kulihat gambar-gambar yang menyeramkan, kulihat ada enam gambar dalam satu pemotretan. Dan di ulang-ulang pemotretan gambar itu sama, tapi susunannya yang berubah-ubah. Enam gambar menyeramkan, satu adalah kakek yang juga ada di belakang Macan, wajahnya teramat tua, karena kerutan-kerutannya, kumis dan jenggotnya memanjang sampai kedada dan berwarna putih, juga alisnya memanjang sampai ke pipi, matanya merah mencorong marah. Kedua adalah lelaki dengan wajah separuh rusah, hingga sebagian wajahnya hanya tengkorak saja, matanya tinggal satu dan mulutnya terlihat sebagian. Ketiga adalah perempuan dengan rambut panjang, di sekitar matanya menghitam dan wajahnya pucat, serta dari, sela-sela bibirnya ada taring mencuat. Keempat wajah tengkorak yang telah remuk, dan wajahnya tak terbentuk lagi, mata telah tak ada, sehingga tempat mata hanya lubang hitam saja, Kelima, lelaki berkerudung hitam dan wajahnya hitam semuanya hidung dan matanya hanya kelihatan seperti bayangan. Keenam siluet merah membentuk wajah, tapi tak begitu jelas, karena bentuk siluet cahaya. Yang terus bergerak. "wah ngeri juga ya can....!" "makanya aku takut, dan tak mau bertemu yang seperti ini." Kami masih menikmati malam yang sepi, di atas bulan seujung kuku tergantung, "ian, kamu sering dapat benda pusaka enggak?" tanya macan di antara pembicaraan kami. "benda pusaka? maksudmu keris dan sejenisnya?" "iya, pernah gak?" Aku jadi ingat satu kali aku di minta seseorang tuk membersihkan rumah dari gangguan mahluk halus di daerah pekalongan, didesa pring langu, rumah itu besar dan tua, dan di beli dengan harga murah, karena angker. Aku masuk kerumah itu, ku rasakan hawa wingit memang terasa kuat, rumah ini teramat tua terdiri dari tiga joglo, jadi teramat besar, lebar semua ada empatratus meter. Pemilik rumah menyuruh dua orang menemaniku, bernama lutfi, pemudanya tinggi, bertubuh sedang, dan zamrosi pemuda kurus, Aku pun membuat air isian tuk membersihkan rumah, air isian selesai ku buat, kedua orang itu pun kuminta menyiramkannya ke seantero rumah, setelah air selesai di siramkan ke seluruh rumah, maka aku menunggu reaksi, waktu itu aku duduk di depan rumah dengan kedua orang tersebut, ngobrol kesana kemari tak juntrung, membicarakan apa saja, namanya juga anak muda, apalagi di depan rumah adalah jalan raya besar, yang menghubungkang kota pekalongan dan daerah kedungwuni, maka jalan kalau sore teramat ramai, orang lalu lalang tiada henti. Kalau anak muda nongkrong apa lagi yang di lihat. Kalau tak cewek-cewek yang lewat. Kami slalu membanding-bandingkan kalau ada cewek lewat, ini cakep gak, berapa nilainya... Yah begitulah sehingga kami bertiga makin akrab. tiba-tiba lagi enak-enaknya ngobrol, ada gadis cakep di bonceng motor oleh temennya, siuut begitu saja gadis itu terlempar dari atas motor dan jatuh di depan kami, terang kami terlongo kaget, kami bertiga segera menghampiri, juga orang-orang datang mengerubuti, dan gadis itu di gotong ke pelataran rumah dalam keadaan pingsan. Orang-orang pun sibuk menolong, ada yang mengipasi, ada yang menciprati air, ada juga yang mengolesi minyak angin, tapi gadis cantik itu tak sadar juga, orang-orang pada ribut, membicarakan asal muasal terjadinya jatuh dari motor itu, dan semua membuat penilaian sendiri-sendiri, jadi malah membuat keadaan makin ribut, sementara sudah setengah jam, tapi gadis itu masih belum sadar juga. Lutfi menoel pundakku, "mas ian mbok ya di tolong, kasihan kan..." katanya Aku baru sadar, kenapa dari tadi berdiri . Ikut-ikutan menonton saja, aku segera menyeruak di antara orang-orang yang berkerumun. Lutfi berteriak-teriak menyuruh orang minggir, sehingga memudahkanku sampai ke dekat gadis itu, yang tidur di ubin, dengan wajah pucat lesi. Aku segera berjongkok, tanganku segera ku tempel ke kepala gadis itu. Ku salurkan tenaga yang mengalir dari pusarku, semua orang yang asalnya ramai, diam sepi. Tak sampai dua menit kutempelkan tapak tanganku di kepala gadis itu, tubuhnya pun bergerak-gerak sadar. Maka suara ribut orang-orang terdengar lagi, aku segera menyuruh lutfi mengambilkan segelas air, setelah di ambilkan, air itupun ku tiup dan kusuruh meminum gadis itu, yang segera segar kembali, lalu di bonceng lagi oleh motor temannya. Orang-orang pun bubar, dan aku masuk rumah di temani lutfi dan zamrosi. Setelah sholat magrib, karena nganggur aku dan kedua temanku, duduk lagi di depan rumah, suasana di luar teramat ramai, memang jalan raya ponolawen kedungwuni ini ramai sekali, beraneka macam orang jualan di sepanjang jalan, dari tenda lamongan, martabak, bakso, kentaki, mie ayam, sampai penjual ikan hias, dan yang paling banyak adalah penjual tenda lesehan khas pekalongan, yaitu sego megono, karena setiap jarak lima meteran ada penjual sego megono, itu ada sampai sepanjang 10 kiloan, bisa di bayangkan betapa ramainya. Dan semua ada pengunjungnya karena memang yang harganya murah, yaitu cuma Rp 1000, Sungguh kota yang ramai, motor bersliweran, mobil juga tak ada habisnya, di depan rumah yang aku bersihkan dan ku pagar ini, jalan raya sangat lurus, dan aspal sangat halus. Selagi aku duduk dengan lutfi, zamrosi datang membawa tahu aci, dan sambal petis, juga teh, kami pun makan sambil melihat orang yang lalu lalang. Apalagi ini adalah bulan Agustus, sudah menjadi tradisi di daerah Pekalongan tiap bulan Agustus, ada acara makan gratis satu bulan penuh. Setiap malam di adakan di setiap gang bergiliran. Juga ada lomba-lomba yang langsung mendapatkan hadiah di tempat. Seperti melempar paku pada lingkaran, dilingkaran itu ada tulisannya, kalau melempar tepat pada tulisan itu maka akan mendapatkan langsung apa yang di tulis, kalau tulisannya itu jam dinding, maka akan mendapat jam dinding, paku? Tinggal minta kepada panitia. Juga ada memasukkan gelang pada botol dengan di lempar, dan masih ada permainan yang lain. Jadi jalanan sangat ramai, kalau ada makan gratis seperti ini, tukang bakso, mie pangsit, dan tukang jualan dorong, tak usah takut tak laku, karena para penjual itu malah semua dagangannya telah di borong oleh rumah yang memanggilnya untuk melayani orang yang mau makan. Gratis. Orang-orang berdatangan, tapi karena kami menangani dengan sigap, jadi kemacetan yang di timbulkan tidak berlarut-larut, kami beriga segera nyangkruk lagi, namun tak lama kami nyangkruk kembali terjadi kecelakaan lagi. June 20, 2008, 17:47 | febrian | Judul : SANG KYAI | Bagian 146 Saat kami sedang enak-enakan duduk ngobrol, tiba-tiba sroook..! Braak..praak.! Sebuah sepeda motor tanpa ada sebab yang jelas tergelincir, terbanting-banting di aspal, pengendaranya terseret sampai enam meter. Aku, lutfi dan zamrosi segera berlarian kearah kecelakaan itu, lutfi menuntun motor ketepi jalan dan aku memapah pengendara yang babak bundas itu, sementara zamrosi memberi isyarat pada kendaraan yang mau lewat. Kebetulan ada becak lewat, aku pun menyetopnya, dan memintanya membawa pengendara motor yang kecelakaan ke rumah sakit, sementara motornya yang sudah tak karuan ku titipkan di bengkel sebelah. kali ini seorang pengendara sepeda yang sedang menyeberang di hantam motor roda belakangnya, sehingga lelaki pengendara sepeda itu terlempar, sementara pengendara motor juga jatuh menyluruk, keadaan teramat ribut dan memacetkan jalan, yang memang ramai. Kali ini aku tak ikut menolong, karena tempat kecelakaan telah di kerubuti orang, dan yang mengalami kecelakaan telah di tolong orang. Lutfi, yang sebelumnya ikut membantu lancarnya lalu lintas, telah duduk lagi di sampingku. "wah apa biasanya di sini sering terjadi kecelakaan seperti ini, lut?" tanyaku. "ah kyaknya tidak tuh, tapi yang lebih tau zamrosi, dia kan, asli orang sini, kalau aku dari pekalongan kota, jadi kurang tau persis." Zamrosi yang kuminta membelikan rokok baru saja kembali, "benar Zam di sini sering terjadi kecelakaan? Seperti hari ini,?" "setahuku tak pernah tuh mas, ya hanya hari ini, aku juga heran, kenapa hari ini banyak terjadi kecelakaan? Ada apa ya?"kata zamrosi. "mana aku tau zam..." kataku yang memang tak menguasai ilmu teropong. "tadi juga ada anak kecil umur tuju tahunan jatuh mas, waktu di gandeng ibunya, tiba-tiba saja tubuhnya terbanting jatuh menghantam bekas tebangan pohon itu, dan giginya tanggal."kata Lutfi sembari menunjuk bekas pohon yang di tebang, cuma setinggi mata kaki. "ada apa ya..?"tanyaku sendiri. "apa mungkin karena rumah ini mas bersihkan, lalu setannya lari ke jalan terus ngamuk?"kata lutfi. "tak taulah...." "iya mas bisa jadi begitu.."tambah zamrosi Malam makin larut, jam telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, aku masuk rumah untuk melakukan sholat isya, sekaligus melakukan pemagaran secara wirid. Saat aku melakukan wirid, kedua temanku itu di belakangku sedang ngobrol besenak-besenik, karena tak mau mengganggu wiridku, Mereka berdua ngobrol sambil ngerokok, tiba-tiba terdengar ledakan dalam tembok Duar..! Suaranya di tembok bagian kananku. "hei apa itu yang meledak?"tanya zamrosi, "ia ya kok ada ledakan dalam dinding, suaranya seperti bohlamp,"jawab Lutfi. Aku tetap khusuk dalam wirid, dan tak memperdulikan kedua temanku yang mulai memeriksa. Dan mereka kembali duduk karena tak menemukan apa-apa. "aneh wong ada ledakan tapi, tak tau apa yang meledak"kata lutfi dengan nada heran. "apa mungkin kita yang salah dengar?" kata Zamrosi. "ah tak mungkin, wong terdengar jelas" yakin lutfi. Kembali mereka pun ngobrol, sampai yang ku dengar dengkur kedua temanku itu, karena jam telah menunjukkan jam satu lebih. aku masih meneruskan wiridku, Sampai terdengar penjaga memukul tiang listrik dua kali, pertanda pukul dua malam, kurasakan desiran angin dingin mengitari tubuhku. Aku tenang penuh konsentrasi, terdengar suara, kreeet..! Kontan aku membuka mata karena suara itu, memandang ternit asal dari suara, kulihat ternit melengkut, seperti terinjak kaki yang besar, aku kaget...tapi terus melanjutkan wirid, Dan krek...nyut...krek nyut... Ternit memantul-mantul seperti di buat nyot-nyotan kaki yang besar, mengingat ternit yang kuat, nampaknya tak mungkin kucing atau tikus. Tapi aku tak bergeming dan terus melanjutkan wirid sampai selesai. Ternit mental-mentul itu terjadi hanya sampai setengah jam, kemudian berhenti. Jam tiga aku baru menyelesaikan wirid, kemudian ikut tidur di dekat kedua temanku. Paginya setelah sholat subuh aku tidur lagi, karena mata yang masih mengantuk, jam sembilan aku baru bangun, setelah memakan sarapan yang di sediakan, aku menghampiri Zamrosi, yang tengah menyapu halaman, "lutfi kemana Zam?" "pulang dulu mas...ada apa mas..?." "aku mau naik keatas ternit.." "wah mau ngapain mas, kok repot..." "mau melihat ada apa di atas ternit," Tanpa menunggu jawaban zamrosi, aku segera mencari jalan naik ke ternit. Dan ku temukan di atas dapur, untung ada planggangan di sana-sini, sehingga memudahkanku naik ke atas. Untung aku ingat membawa senter, sehingga kalau terlalu gelap bisa ku lihat, aku juga membuka genteng, sehingga penerangan masuk, dan dalam ternit tak terlalu gelap, aku menyusuri kayu sampai kearah di atas tempatku semalam melakukan wirid, dan itu melewati satu ruangan, kubuka genteng lagi, sehingga penerangan masuk, dan suasana terang, kulihat kayu penahan ternit kuat, ku injak dengan kakiku tepat di mana semalam kayu ini melengkung, sembari berpegangan pada usuk takut jatuh, tapi aku merasa aneh, memang tanpa pegangan sekalipun kayu ini kuat menopang tubuhku, bagaimana semalam bisa melengkung-lengkung tak karuan, tiba-tiba mataku melihat dua benda menggeletak, aku segera memungut benda itu ternyata sebuah batu akik sebesar jempol tangan tanpa emban dan sebuah keris kecil, dan warangkanya, keris itu cuma sebesar jari kelingking anak kecil, tapi bentuknya amat antik sekali, walau bentuknya teramat kecil tapi sangat antik sekali, warangkanya terbaluk kain rapi, tapi sudah sangat usang dan kuno, ketika ku tarik lolos keris itu dengan kedua jariku, ah betapa mungilnya tapi teramat indah, karena keris itu di hiasi ukiran teramat detail, aku tak sanggup membayangkan bagaimana mungkin, seseorang mengukir dalam keris kecil ini sedemikian detailnya. Tapi aku bukan orang yang suka keris dan batu akik, walau banyak beredar cerita tentang batu dan keris yang mempunyai kesaktian. Aku hanya orang yang tak punya pikiran neko-neko, bagiku mengamalkan agama sebaik mungkin, hidup tenang, istri sholehah, anak-anak yang sholeh-sholehah, serta keluarga selamat, sejahtera. Walau aku percaya keampuhan keris, karena jin yang menghuninya. Tapi aku lebih percaya Alloh penolongku. Aku pun turun dari internit. "kamu mau keris zam? "tanyaku setelah turun. "keris? Untuk apa mas?" tanyanya dengan pandangan heran. "ini aku dapat keris dari atas, ya kalau kamu mau?" "wah kalau saya ini kalau ada di kasih duwit aja, jangan keris, saya ini orang susah mas, butuhnya duwit..." "ya udah kalau tak mau..." "coba lihat kerisnya mana mas?" Keris segera ku keluarkan, dan dilihatnya, setelah di jinggleng dan di teliti, keris di berikan lagi padaku. "wah aku gak ngerti sama sekali tentang keris mas, tapi kok kecil sekali ya, kayak mainan anak-anak aja." "tapi kalau mas ian mau, aku punya teman yang sukanya mengoleksi keris, dia pasti mau di kasih keris," "nanti malem suruh aja datang kesini." "tapi dia preman stasiun mas, gimana?" "ya nggak papa, suruh aja datang, siapa namanya?" "namanya Gimo mas...baik nanti aku hubungi" Siang itu aku mengisi batu untuk ku tanam ke empat penjuru rumah, sebagai pagar gaib. Malamnya Gimo datang, setelah berkenalan denganku, aku mengajaknya duduk di teras, membicarakan keris yang aku temukan. Gimo orangnya tinggi besar, dempal, dan berotot, sangat suka mempelajari ilmu kesaktian, dan suka mengumpulkan wesi aji dan batu akik. "bener nh kang sampean mau ngasih saya keris?"tanyanya setelah duduk di sampingku. Dan lutfi juga Zamrosi ikut nimbrung ngobrol. "ia mas gimo, mas ian ini, mendapatkan keris tadi siang,"sela Zamrosi. "dapat dari mana to mas?" lutfi yang belum tau bertanya. "dapat dari internit.."kata Zamrosi, mendahuluiku menjawab. "kamu ini mbok ya diam dulu to zam, biar mas iyan cerita,"kata lutfi. "iya zamrosi benar, aku mendapatkannya di ternit," "wah bagaimana itu bisa tau kang? Ah pasti sampean ini orang sakti."kata Gimo sumringah. "ya kebetulan saja..." "ah tak mungkin kebetulan, wong tadi pagi tiba-tiba aja pengen naik ke ternit, kan aneh?"kata Zamrosi nyerocos. "gimana to gak sakti mas Gimo?.. Mas ian ini kan kesini untuk memagar rumah ini, diminta bos yang punya rumah ini,"kata lutfi, menjelaskan. "wah semuda ini, masih bocah..!,"kata Gimo. "tapi nyatanya begitu..." "sudah-sudah, nh mas Gimo keris dan batu akiknya, silahkan di terima...-"kataku sembari mengeluarkan kedua benda, dan menyerahkan pada Gimo, dia menerima dengan gemetar. "wah kecil amat kerisnya?" kata lutfi, yang memang baru melihat keris ini. "wah ini keris dan batu tak bisa di pisahkan kang, dan keris ini ampuh sekali."kata gimo setelah mengamat-amati sebentar. Saat kami tengah asyiknya ngobrol, tiba-tiba "Duaar!!, bruakkk..!!" suara ledakan tabrakan motor dengan motor, kulihat sekilar, sebuah motor Gl pro, menyalip kekanan mendahului kendaraan lain, tak taunya ada mobil angkot di depan, maka motor itu membanting kekiri, untuk menghindari mobil angkot, dan ternyata di samping angkot ada motor lain yang juga mau mendahului angkot, maka tak terelakkan lagi kecelakaan pun terjadi, kedua pengendara sampai terpental dan terbanting di aspal. Pengendara Gl pro langsung tewas di tempat. Keadaan menjadi ribut sekali, jalanan macet total, karena kecelakaan tepat di tengah jalan, tubuh pengendara Gl pro, tergeletak, dan darah meleleh kemana-mana, mungkin kepalanya pecah. Orang-orang membludak, karena memang masih berlangsung kegiatan agustusan, makan gratis. Ku lihat Gimo tangkas juga, dia segera menggotong pengendara Glpro, di masukkan ke pikup dan di suruh membawa kerumah sakit, sementara pengendara karisma musuh Glpro tak apa-apa, walau luka lecet-lecet, tapi kedua motor hancur sana-sini pecahan onderdil, dan kaca lampu berserakan di sana sini. Ah ini benar-benar tak beres, tak bisa di biarkan, aku segera masuk, mengambil air wudhu, kemudian duduk dalam kamar, menyatukan rasa dan cipta, membaca semua wirid dalam hitungan tiga-tiga, kemudian membaca doa hijab, yang di ajarkan kyai kepadaku. Mengalir kekuatan dari pusarku, kemudin tersalur ketanganku. Kubayangkan aku mengitari jalan depan rumah lalu menangkap semua lelembut, jin, siluman, mengikatnya jadi satu kemudian kubuang ke belakang rumah dalam keadaan terikat. Aku bernapas lega, dan mengusag keringat yang keluar mbrendol-mbrendol sebesar jagung dari pori-pori tanganku, keringat bahkan menetes-netes dari ujung hidungku, juga mengalir dari pori-pori kepalaku, mengalir keleherku, dan punggungku sampai lengket, basah oleh keringat. aku segera beranjak keluar, tak lupa mengambil keempat batu yang tadi siang kuisi, dan di luar keadaan sudah sepi, Lutfi dan Zamrosi masih duduk, ngobrol ditemani beberapa tetangga toko sekitar, aku mengambil mereka berdua, lalu kuajak menanam dua batu di pojok belakang rumah, dan dua batu di pojok depan rumah. Malam itu aku tak tidur terlalu malam, mengingat wiridku telah selesai. Esok paginya, setelah subuh aku mengajak kedua temanku itu jalan-jalan, sekalian mencari sarapan bubur kacang hijau, di tengah perjalanan kami bertemu Gimo, sedang menggenjot sepedanya, "mau kemana kang gimo? " sapaku. Dia langsung berhenti. "ee...kang ian, kebetulan sekali kang, aku mau ketempat kang ian, mau mengembalikan keris dan akik pemberian kang ian semalem."katanya, sembari menuntun sepedanya di sampingku. "lho emangnya kenapa? Bukankah kang Gimo ini pengoleksi benda antik...?"tanyaku heran. "wah cilaka kang.."katanya masgul. "cilaka bagaimana to?"tanyaku. "kang Gimo mbok sampean ceritakan yang jelas." Zamrosi menyela. Pemuda kekar yang penuh tato di tubuhnya itu menarik napas dalam lalu mulai bercerita. Semalam setelah terjadi kecelakaan Gimo mencariku, dan menanyakan kepada kedua temanku tentang keberadaanku, tapi oleh kedua temanku aku di lihat dalam keadaan wirid, jadi Gimo pun pamit pulang, dia mengendarai sepeda pancalnya pulang, karena memang rumahnya di daerah pekalongan utara. Saat sedang bersepeda itu dia melewati gerombolan pemuda yang nongkrong di gang sambil ketawa-ketawa, aneh Gimo marah dan menghampiri pemuda yang ada enam orang itu. "hei, mengetawakanku!" bentaknya. "tidak kang, kami ketawa sendiri." jawab seorang pemuda yang duduk paling pinggir, menatap heran pada Gimo. Gimo maju memegang kerah baju pemuda itu, melihat gelagat yang kurang baik, kelima teman pemuda yang di pegang kerah bajunya oleh Gimo segera menyerang dengan bogem mentah bertubi-tubi. Yang kesemuanya dapat di tangkis dan di elakkan oleh Gimo, kini Gimo yang mengamuk, keenam pemuda itu di hajar semua sampai nyungsep, tak ada yang bangun lagi, padahal biasanya untuk mengalahkan satu dua orang Gimo tak kan bisa mengalahkan dengan semudah itu. Tapi ini ada enam orang, dengan mudahnya dapat ia robohkan tak sampai sepuluh menit. Dia juga heran kekuatannya juga dia rasakan berlipat-lipat. Pasti ini karena keris dan batu akik yang di bawanya. Gimo pun melanjutkan perjalanan pulang, meninggalkan keenam pemuda yang terkapar. lalu dia sampai di rumah, mengedor-gedor pintu, Gimo cuma hidup di rumah bertiga ibunya, adiknya lelaki, yang bernama Munsorif dan dia sendiri. Gimo masih menggedor pintu, tapi pintu tak kunjung di bukakan, darahnya mulai naik keubun-ubun, maka dia menggedor sampai keras. "ia sebentar...!"terdengar suara ibunya. Dia makin tak sabar. Setelah pintu di buka, ia membentak ibunya. "buka pintu lama banget, apa perlu pintu ini aku jebol.?" "wah jangan begitu to, ibu kan harus jalan dulu..."kata ibunya lembut. "buka kan gak perlu ibu, munsorif mana? Pasti sudah ngorok!!" kata Gimo membentak. "dia lagi sholat ngger..., jadi ibu yang harus buka." "ah sholat aja di urusi, hidup tak berbakti, masak ibu di suruh membuka pintu.!!" "sudah lah ngger, ibu senang kok membukakan pintu untukmu, ndak usah marah-marah, tapi kamu harus sabar, ibu ini sudah tua, jadi jalannya pelan." "ada apa to kang?, mbok ya sudah, jangan marah-marah, tak enak di dengar tetangga,"suara seorang pemuda yang tak lain adalah Munsorif, pemuda ini sungguh jauh sekali dengan Gimo yang srampangan ugal-ugalan, pemuda ini lembut, wajahnya bersih, dan bercahaya karena air wudhu, maklum Munshorif orangnya selalu daimul wudhu, yaitu melanggengkan wudhu, jadi kalau batal wudhunya dia wudhu lagi, sehingga wajahnya, mengeluarkan pancaran cahaya alami, penuh kelembutan, di tambah baju koko yang di pakainya, berwarna putih kebiruan, dan peci putih yang bertengger di kepalanya, melihat adiknya keluar, Gimo makin meluap marahnya, "bangsat sok alim, mau menceramaiku...!?"katanya dengan mata berapi-api. "ya enggak kan, cuma kang Gimo jangan ribut, kan di dengar tetangga, malu..." munsorif suaranya di pelankan. "berani kau melarangku...rasakan ini!!" tiba-tiba Gimo menyerang mengayun bogemnya kewajah adiknya. Sebuah pukulan menderu kearah kepala Munsorif, pemuda ini pernah juga hidup di pesantren, dan belajar sedikit ilmu silat, melihat kakaknya menyerang kearah wajahnya dia melemaskan tubuh ke belakang dan mundur satu langkah, sehingga pukulan Gimo menerpa tempat kosong, dan itu membuat Gimo yang merajai stasiun marah, merasa di tantang dan di lecehkan, maka dia makin membabi buta menyerang adiknya, sementara ibu Duriah, ibunya kedua pemuda itu, menjerit-jerit, melihat kedua anaknya berantem, "aduh lub...jangan berantem to lub, kalian ini saudara luuub...aduh piyo to iki yo kok kebangeten..." kata perempuan tua itu, menangis. Tapi Gimo memang sudah mata gelap, dia terus memburu munsorif dengan serangan-serangan mematikan, sementara adiknya itu hanya mengelak dan menangkis serangan. Satu kali Gimo melakukan tendangan sapuan kearah perut, dan munshorip menekuk perutnya kebelakang, sehingga serangan lewat tiga centi dari perutnya, tapi Gimo menyusul dengan pukulan tangan kiri menyamping kearah wajah munsorif, pemuda itu mengengoskan kepalanya, sehingga pipi nya selamat dari kemplangan. Tapi ternyata itu hanya serangan tipuan, ketika terdengar tangan kanan Gimo menghantam pipi kiri munsorif, prok!! Pemuda itupun terjengkang. darah keluar dari hidung, telinga dan mulut munsorif, sebentar dia berkejedan dan diam, ibu Duriah pun menghambur. "munsorif...! Nak jangan mati nak..nak munsorif anakku...hu..huu..Gimo, kenapa kau bunuh adikmu..!?, tak puas-puasnya kau menyusahkan aku...huuk.." Ibu Duriah yang tak kuat menahan goncangan batinnya itupun pingsan. Sementara gimo, tiba-tiba tersadar...ah apa yang ku lakukan, suara hatinya...benarkah aku membunuh adikku..oh..! Dia menghampiri munsorif, dan meraba urat leher dan denyut nadinya...dan dia lega ternyata adiknya itu cuma pingsan saja. Lalu Gimo yang merasa telah sadar dari pengaruh gaib keris dan batu akik dalam sakunya segera mengangkat ibunya ke amben. Juga mengangkat tubuh munsorif ke amben yang lain. Tetangga Gimo tak ada yang datang, karena sudah jadi adat, Pemuda bengal ini bikin ribut, tetangganya tak berani ikut campur, bisa-bisa malah kena sasaran. Jadi kalau ada ribut-ribut di rumah Gimo, mereka lebih memilih menutup pintu rapat-rapat. Ah mungkin nanti Gimo kalau mati, berangkat kekuburan sendiri. Setelah membaringkan kedua orang itu Gimo keluar rumah, lalu mengayuh sepedanya ke arah pertigaan ponolawen, jam telah menunjukkan jam setengah dua, biasanya masih ada tukang becak yang narik malam hari, dan prasangkanya tak meleset, ada beberapa tukang becak yang masih berjejer. Gimo langsung membawa salah seorang tukang becak ke rumahnya., sampai di rumah dia menaikkan adiknya ke atas becak, dan mengantarnya sampai kerumah sakit. Menyerahkan perawatan kepada dokter jaga, lalu pulang lagi, sampai di rumah, Ibu Duriah, ibunya Gimo telah sadar dan sedang menangis sesenggukan, melihat Gimo datang, ibunya langsung menghambur. "ayo lub, mayat adikmu kamu buang kemana lub...kok kebangeten kuwe to lub.huhuuu.." "sudahlah bu... Munsorif tak mati, sekarang dia di rumah sakit..., kalau ibu mau kesana ayo saya antar..."kata Gimo. "itu becaknya masih ku suruh nunggu di luar." Gimo pun membawa ibunya naik becak, dan mengantarkan kerumah sakit, menunggui Munsorip. Gimo lelah dia tiduran di atas bangku panjang di depan kamar tempat merawat adiknya, dia berpikir, satu malam, berapa tangan yang jadi korban tangannya, ah ini pasti karena keris dan batu akik yang semalem di terimanya, ah dia harus mengembalikan kedua benda itu, maka ketika setelah subuh itulah dia bertemu denganku. Memang aku sendiri merasakan perbawa yang jahad, pada kedua benda ini, Ketika memegang keris dan batu akik itu, seakan-akan dada terasa tersumbat, suntuk, sumpeg, dan berbagai perasaan yang seakan ingin marah. Setelah pulang, aku segera masuk kamar, dan kedua benda itu ku taruh di depanku lalu kututup bantal, aku mulai wirid, membaca fatehah kepada nabi, dan membaca fatihah kepada ketiga hadam surat ihlas, membaca wirid tiga kali, menyalami kepada hadam yang mendiami kedua benda tersebut, dan "demi kekuasaan Alloh yang mutlak, kembalilah kalian keasal kalian, dengan izin Alloh.. Allohu akbar," lalu ketepuk bantal, dan kubuka, kedua benda itu telah tak ada, dan itulah pengalamanku pertama kali aku mendapatkan wesi aji, dan batu akik, setelah kejadian itu, telah tak terhitung aku di datangi, khadam-khadam, keris, batu akik, dan aneka macam pusaka, minta di rawat. tapi aku tak pernah mau menerima. Akan aku ceritakan sedikit pengalamanku tentang aku di datangi khadam pusaka. Waktu itu aku sedang mencari udara segar, dan sedikit hiburan, aku memutuskan pergi ke nglirip, yaitu tempat wisata air terjun, di daerah jojogan Singgahan. Tuban, sampai di nglirip setelah membeli makanan kecil dan minuman ringan aku naik ke atas bukit kecil, yang ada pemakamannya. Aku duduk di tepi jurang, sambil makan kacang dan menikmati pemandangan, Sungguh pemandangan yang elok, jauh di bawah sana persawahan terhampar seperti permadani beludru., rumah-rumah kecil yang cuma terlihat gentengnya saja, betapa kecilnya kita di tangan kekuasaan ALLOH taala, pohon-pohon seperti gerumbul kecil saja, lalu kalau mata menghadap ketimur, nampak bukit kecil, dengan persawahan tumpanp sari, seperti anak tangga raksasa, suara lenguh sapi yang dibuat membajak oleh petani, seperti suara panggilan lugu alam desa. Jalan tikus para petani yang akan pergi kesawah, seperti ular kecil yang memanjang, Tepat di bawah kakiku, sekitar sepuluh meter, nampak jalan raya, mengitari bukit, dibawahnya lagi sungai yang mengalir terus sampai ke kampung-kampung dan sawah-sawah, menjadi tumpuan hidup para petani, satu meter ke bawah ada taman, tempat muda mudi, berpacaran, sambil menikmati alam, saling bercengkrama, atau menghayalkan masa depan. Lalu di bawah lagi ada penjual makanan kecil. Dan warung minuman juga jalan kampung menurun, nampak anak kecil dan beberapa perempuan memanggul kayu bakar, di punggung, berjalan. Menuruni jalan kampung. Di belakang warung, sebuah jurang menganga, dan tempat, air terjun tercurah, saat begini kemarau baru mulai, air di bwah kulihat berwarna hijau. Air yang jatuk dan percikannya tertiup angin, menjadi uap tersedot mentari, ketika cahaya mentari menyentuhnya, terciptalah bias pelangi, melengkung. Sungguh lukisan alam yang sempurna, Keindahan yang tumpang tindih, menjadikan mata orang menatap kagum, dan hati berperan, penilaian mengembalikan pada sang khalik bagi yang ada iman di dadanya, dan bagi orang yang kosong iman, menganggap ini kejadian biasa. Aku memutuskan ziarah sebentar ke syaih Abdul jabar. Makam orang yang ada di situ, yang menurut orang tuaku masih ada hubungan nasab kepadaku, dan sampai kepada jaka tingkir, mas karebet. Tapi aku mau berziarah saja, mengingat dia Ulama zaman dahulu, yang memperjuangkan islam, karena hari telah sore aku memutuskan untuk bermalam di mushola, sebelah pemakaman, di mana banyak juga para musafir yang bermalam. Usai sholat magrib dan isyak berjamaah, aku meneruskan membaca dzikir harianku, sampai malam kemudian tidur, Dalam mimpi aku merasa di temui oleh orang tua berikat kepala putih, dan wajahnya menatap lembut kepadaku, Kumis dan jenggotnya putih dan tak terlalu banyak, bajunya hitam legam dia berkata. "ngger..! Besok tunggulah warisan yang menjadi hakmu, di pertigaan Anjlog.." Cuma itu yang di ucapkan lalu dia menghilang. Aku terbangun, dan kulihat semua orang tertidur di sana-sini, aku pun melanjutkan tidur lagi. Paginya setelah sholat subuh, aku mandi di sungai, yang airnya teramat dingin, kabut yang turun, membuat pendek jarak pandang. Hanya sejauh dua meter. Embun di rumput pun terlihat amat tebal seperti permadani putih tipis terbentang, setelah mandi, dingin tak begitu terasa lagi menggigit tulang. Karena kabut yang turun teramat tebalnya pohon-pohon besar seperti bayangan raksasa. Tapi perempuan -perempuan desa kulihat keluar dari kabut, suara mereka bercanda seakan tak ada kesulitan hidup yang di hadapi, BBM yang harganya melambung, bahan-bahan pokok yang ikut melonjak naik, seakan bukan masalah bagi mereka, setiap wajah di hiasi keceriaan, padahal aku yakin para perempuan itu bukanlah orang-orang kaya. Mereka hanya orang yang teramat sederhana, masak dengan kayu bakar yang di ambil di hutan, yang mereka masak adalah padi yang mereka tanam dan mereka panen, lalu di bawa ke penggilingan, lauk mereka juga mereka tanam sendiri, jadi apa yang perlu di kawatirkan lagi, mungkin pergi naik mobil, belum tentu dua atau tiga tahun mereka naik mobil, jadi walau bensin oleh pemerintah di naikkan seliter satu juta. Juga tak mempengaruhi mereka, sebab naik mobil bagi para orang gunung ini adalah siksaan tersendiri, yaitu siksaan mabuk perjalanan. Mereka seperti punya negara sendiri, yang bernama Republik bersahaja. Hidup tak neko-neko, seadanya saja. Perempuan-perempuan itu menyapaku ketika lewat di depanku. "nderek punten gus...!" "manggo...ngatos-atos..." jawabku. Aku melangkah meninggalkan nglirip, dan segala keindahannya. Aku penasaran dengan mimpiku semalam, hanya bunga tidurkah, Pertigaan Anjlog sekitar dua kilo, jalan menurun, kalau di tempuh dengan sepeda mungkin tak sampai sepuluh menit tanpa di kayuh, karena jalanan menurun, malah berbahaya kalau tak punya rem. Aku tempuh jalan itu dengan jalan kaki, di samping hari masih pagi, dan kabut tebal sekali, jalan kaki tentu menyehatkan. Sampai di pertigaan anjlog, matahari telah meninggi, dan kabut tinggal tipis, menyisakan butiran air di pucuk daun dan rumput, bercahaya berkilauan seperti Manik-manik mutiara. Beberapa anak sekolah bergerombol menunggu bus, ada yang berseragam biru tua, berarti anak SMP, ada juga remaja berseragam abu-abu, berarti anak SMA, kalau ada SMA di sini ya sekolah Bukit tinggi, itu adalah nama sekolah lanjutan yang ada di bukit jadi di namakan Sekolah bukit tinggi, aku sebenarnya sekalian mau cari sarapan, tapi setiap warung pinggir jalan yang kutanya, selalu menjawab belum matang, kulihat juga ada gerobak bakso, ah bakso juga tak apa-apa kalau ada lontongnya, jadi kalau kepedesan ngrokok juga lebih enak, kulihat tukang bakso menata mangkok, aku dekati. "baksonya sudah ada bang?" tanyaku. "bentar lagi gus....,silahkan duduk dulu...!"katanya hormat "lontongnya ada bang...?" "oh ada-ada, banyak..." Aku masuk kedalam rumah-rumahan bambu, yang di buat serampangan dan seadanya, hanya untuk melindungi para pemesan bakso agar bisa menikmati bakso pesanannya dengan nyaman. Saos, kecap, sambal berjejer di depanku. "Nak mas..., anak ini kan yang namanya febrian..?" kudengar suara lembut di belakangku, aku menoleh, nampak orang tua yang kurus sedang, duduk di belakangku, aneh kenapa aku tak merasakan kedatangannya. Kakek ini ku taksir umurnya tujupuluh tahunan, badannya kurus namun tegap. Wajahnya penuh kerutan ketuaan tapi bersih, alis matanya sebagian memutih, ikat kepalanya bercorak lurik batik. Kumisnya dan jenggotnya sedikit, matanya teduh dan bersahabat. "kakek ini siapa, kok tau nama saya?"tanyaku heran. "itu tak penting nak mas, aku hanya mau menyerahkan warisan nak mas yang selama ini di titipkan pada saya..." kata kakek itu, "warisan apa kek...?" aku teringat dengan mimpiku tadi malam, kakek di depanku ini mengarahkan kedua tangannya kebalik baju di punggung, lalu mengeluarkan dua buah keris dari balik baju, keris di tunjukkan di depanku. Satu keris dan warangkanya panjang kurang lebih empat puluh cm, dan yang satu pendek kurang lebih tigapuluh cm. Lalu kakek misterius di depanku ini melolos keris yang panjang dari warangkanya, aku tak tau keris, tapi melihat bentuknya keris ini indah, ada ukiran di pangkal keris, berwarna seperti emas, keris ini berluk banyak. "ini namanya kyai sapto paningal," katanya sambil mengulurkan keris kepadaku. Kurasakan ada getaran aneh menjalari tanganku ketika menerima keris itu. Kemudian kakek itu mencabut keris yang kedua, "ini namanya kyai condong pamelang." katanya sambil mengulurkan keris kepadaku, Aku mengamat-amati kedua keris di depanku, sekedar menyenangkan pada kakek ini, tapi aku benar-benar buta dan tak tertarik dengan aneka macam wesi aji. Aku menyerahkan kedua keris itu kepadanya. "karena nak mas sudah ada di sini, maka keris ini kuserahkan padamu..."kata kakek ini, mengulurkan kedua tangannya terbuka ke hadapanku, dan kedua keris ada di atas tangan itu. "nanti dulu kek..."kataku, dengan isyarat tangan menahan. "kenapa nak mas?" "aku ini sama sekali tak tau, seluk beluk tentang keris, dan aku tak tau bagaimana merawatnya, ah alangkah baiknya kalau keris ini tetap di tangan kakek, mungkin akan lebih baik keris ini tetap di tangan kakek, aku takut kalau di tanganku akan rusak..."kataku berdalih dengan alasan setepat mungkin. "tapi nak mas, keris ini nak maslah pewarisnya..." "begini lo kek, aku ini punya keyakinan, bagiku Allohlah sebaik-baiknya dzat tempatku bergantung dan tempatku meminta menyelesaikan segala urusanku, aku tak mau menomer duakan Alloh karena mempunyai kedua keris ini.." Kakek tua itu manggut-manggut,"baiklah aku mengerti, tapi aku tak mau di salahkan oleh orang yang telah mempercayakan amanahnya kepadaku, maka sudilah nakmas menerima keris ini dan nanti menyerahkan padaku lagi...?" "oh aku mengerti kek, baiklah aku terima keris ini, dengan kelapangan hati..." kataku, sambil menerima kedua keris. Lalu ku lanjutkan berkata setelah keris ada di tanganku. "dan keris ini ku serahkan padamu untuk menjaga dan merawatnya..." Kataku sambil mengulurkan keris kepada kakek ini, sebagai tanda penyerahan. Kemudian kakek itu pun menerima lagi keris. Dan menempelkan ke jidatnya, "akan ku jaga dengan sebaik-baiknya." Setelah itupun kakek itu mohon diri. Aku menarik napas lega, tukan bakso mengulurkan bakso kedepan mejaku, matanya menatapku heran. "ada apa bang, kenapa menatapku begitu?". Tanyaku pada tukang bakso. "tak apa-apa gus.., saya hanya heran saja.." "heran kenapa?" "yah saya lihat dari tadi, agus ini ngomong sendiri, jadi saya mau memberikan bakso, saya urungkan, karena melihat agus ngomong sendiri". "maksud abang tadi saya ngomong sendiri, jadi abang tak lihat saya tadi ngomong sama kakek-kakek." "kakek-kakek yang mana to gus, wong dari tadi agus di sini sendirian..." Aku segera turun dari kursi, dan melihat kearah mana tadi, kakek itu pergi, maunya menunjukkan pada tukang bakso tentang kakek yang ku ajak ngomong, tapi walau jalan raya itu lurus, aku tak melihat bayangan kakek yang ngomong denganku. Ah pupus harapanku, aku dianggap gila dah. Cepat-cepat aku kembali ketempat duduk, menghabiskan bakso, dan dua lontong, lalu cepat-cepat beranjak pergi, dengan tatapan aneh dari penjual bakso. "aku sering can, mau di kasih segala macam wesi aji, batu akik, tapi selalu aku tolak, apa pula perlunya...?" kataku pada macan, "ah kamu ini gimana sh ian, kalau ada yang ngasih mbok ya diterima, kalau kamu tak mau biar aku yang mengkoleksinya, aku aja udah mengkoleksi banyak sekali," "wah hebat can..." "ayo aku tunjukkan.." katanya kemudian mendahuluiku berdiri dan masuk rumah, akupun mengikuti dari belakang. Kulihat ia menurunkan tiga dus sarimi dari atas lemari bifet. Dah uh banyak sekali, satu dus berisi aneka macam keris panjang penuh, satu dus berisi berbagai batu akik, setengah, dan satu dus berisi aneka macam keris kecil, berbagai bentuk dan macam. "dari mana semua barang begini can?" "ya ada yang ngasih, kadang juga ketemukan sendiri, macam-macamlah kejadiannya." "wah kamu ini mungkin cocoknya ngumpulin barang seperti ini," "yah semoga saja ini bermanfaat can,."kataku. "ian..., aku ini sebenarnya punya masalah..!"kata macan menatapku serius. "masalah apa ?" "gini ian, aku punya anak buah, dari anak-anak nakal yang aku insyafkan, dan aku membuatkan mereka warung tenda masakan lamongan, tapi aku menemui kendala, warung yang ku buka itu sepi pengunjung, nah kalau begitu, aku takut anak-anak muda itu patah arang, melihat warung sepi begini, mereka akan kembali menjadi pemabuk lagi, bagaimana menurutmu ian?". Aku merenung sejenak. "coba can, kamu bel mereka, sekarang ini warung sepi apa enggak?" "maksudmu..?" "iya kamu bel aja, tanyakan warungnya sepi apa enggak? Dan bilang nanti kalau warungnya rame, mereka suruh ngebel kemari, biar aku wirid sebentar." "aku segera duduk menghadap kiblat, berdoa pada Alloh supaya warung nya macan ramai pengunjung dan melakukan wirid, baru aku melakukan wirid setengah jam, hpnya macan berdering, dan terdengar olehku macan berbicara, aku tetap konsentrasi dengan wiridku. "sudah ramai ian, warungnya, katanya sampai antri, dan terpaksa di gelarkan tikar, karena tempat sudah tak muat." "syukur Alhamdulillah...semoga bermanfaat, dan bisa menjadikan keimanan mereka menjadi kuat." kataku mengakhiri wirid. malam itu aku tidur di sofa, karena memang rumah macan sempit, dan cuma ada satu kamar dan ruang tamu, jadi aku tidur di sofa ruang tamu. Pagi-pagi sekali setelah sholat subuh, aku mau pamit pada Macan. Dan ternyata Macan telah menungguku. "aku balik ke pesantren dulu ya can..."kataku sambil meletakkan tasku di dekat pintu. "nanti dulu ian...duduk dulu sini, Aku ada masalah serius nih.., nanti aja pulangnya setelah sarapan..." kata macan, dengan mimik muka serius. "ada masalah apa lagi can..?" "saudara perempuanku ada yang kena musibah..." "musibah apa? Apa kecelakaan..." "bukan, tapi sakit usus buntu, dan mau di operasi, wah bagaimana nih ibuku minta kiriman untuk biaya oprasi, tapi aku tak punya uang... Apa kamu punya uang ian..?" "wah aku juga tak punya, ini ada juga paling tiga ratus, dari kyai dua ratus, dan uangku sendiri seratus, nh pakailah..." kataku mengeluarkan dompet budukku, dan mengambil uang tiga ratusan ribu. Dan menyerahkan pada Macan. Kami terdiam sebentar, aku menyeruput kopi yang di sediakan Ida istri macan, lalu ku nyalakan rokok djisamsoe filter, tiba-tiba ada ide kuat terlintas di benakku. "ah kenapa kita tak coba obati sendiri can? Kita mintakan kesembuhan pada Allah, bagaimana?" Kataku seketika mendapatkan ide, karena aku pernah mendengar kyai mengatakan padaku, jika ilmu yang ku miliki dan ilmunya Macan di gabung, kekuatannya akan teramat dasyat, karena macan di beri ilmu yang bersifat dingin sebab, macan yang sifatnya gampang emosi, sementara aku di beri ilmu yang bersifat panas, karena sifatku yang lembek, macan aja sering mengolokku, kalau aku ini di tipu orang, maka yang nipu itu akan kesenengan sampai mati karena terlampau seneng. "ah kalau mengobati dari dekat biasa, tapi dari jauh itu apa bisa? Masak obat di transfer?" katanya ragu. "ee kamu lupa, selama ini kita mengobati, hanya dengan doa, doa kepada Alloh, dan Alloh itu kuasanya tak ada batas, kalau dia bisa menyembuhkan orang yang di dekat kita, tentu tak sulit bagi Alloh, menyembuhkan orang yang jauh dari kita, sebab, Alloh tak dibatasi jauh dan dekat kuasanya," "tapi caranya gimana ian, aku tak ngerti?" "wah kalau itu aku juga tak mengerti, selama ini, kita kan memang tak di ajar apa-apa sama kyai, tapi jangan takut aku ini kan tukang ngayal, moga-moga Alloh melimpahkan rahmatnya, dan memberikan kesembuhan yang mutlak." "lalu bagaimana ian?" "begini kamu telfon ortumu, saudarimu yang sakit siapa namanya?" "nafisah.." "si nafisah suruh duduk menghadap kiblat, dan disini aku menghadap kiblat kau mengahadapku, bayangkan saja nafisah di antara kita, kau arahkan tanganmu keperutnya dan aku ke punggungnya, salurkan tenagamu, selanjutnya serahkan padaku, bagaimana?" Macan mengangguk, lalu tanpa banyak cakap ia pun menelpon ibunya, dan menyarankan seperti yang ku katakan. sementara itu Nafisah yang di rawat di rumah sakit Aisiyah Bojonegoro, di minta duduk oleh ibunya menghadap kiblat, aku dan Macan juga duduk berhadap-hadapan, kami berdua berkonsentrasi membangkitkan kekuatan sirri yang ada di tubuh kami, Aku rasakan kekuatanku telah bangkit dan mengalir ketelapak tanganku, juga kurasakan ada angin dingin, menghembus lembut dari arah Macan kearahku, udara serasa bergumpal-gumpal, aku membayangkan tubuh nafisah ada di depanku, memang kekuatan anugrah Alloh yang tak terlihat ini begitu dasyad, aku pernah mencoba pada temanku Tarsan, saat itu pemuda yang jago manjat kelapa itu di depanku, kami sedang membicarakan tenaga yang ada di pusar, tapi pemuda itu tak percaya akan ada tenaga sehebat itu, lalu aku menyalurkan tenaga ke tangan dan mengaduk isi perutnya, padahal jaraknya denganku tiga meter, Tarsan muntahkan semua isi perutnya, lalu aku coba menulis namanya di udara dengan jariku, dan kupukul dengan tanganku, walau tanpa menyentuhnya dan Tarsan terpental, Aku memejamkan mata dan membayangkan tanganku mengambil penyakit usus buntu yang ada di perut Nafisah, sementara gadis itu yang tengah duduk, merasakan hawa dingin merasuk dari depan dan hawa panas merasuk dari belakan, lalu dia merasakan seperti ada ribuan semut memasuki tubuhnya, dan seperti mengambil sesuatu dari dalam tubuhnya. Nafisah merasakan seluruh tubuhnya seperti kesemutan, Aku dan Macan masih duduk, menyalurkan tenaga, "turunkan pelan-pelan can, tenaganya jangan di sentak..." kataku memberi aba-aba. Dan selesailah proses pengobatan kami. aku mengusap peluh di kening dan jidatku, begitu juga Macan. Ku sruput kopi yang penghabisan dan menyalakan rokok. "selanjutnya bagaimana ian?" tanya Macan. "ya nanti telpon lagi, minta di ronsen ulang, moga-moga aja pengobatan kita berhasil, sekarang aku tak pamit dulu..."kataku. Macan mengantarku dengan motornya, sampai ke terminal kampung rambutan. Aku berangkat, memilih Bus yang langsung menuju Labuhan. Aku mendapatkan tempat duduk, dan tidur setelah bus berangkat. Kondektur membangunkanku, meminta uang tiket. Ah aku kaget, pias, setelah ingat uangku yang tiga ratus sudah ku berikan Macan semua. Ah sial aku, sementara kondektur itu menungguku, aku bingung, dah merogoh-rogoh saku, dan serr..!, di sakuku ada uang tigaratus ribu, ah pastilah Macan yang memasukkan tanpa ku ketahui, Ah sudahlah yang penting aku punya uang tuk membayar bus, ku berikan uang seratus ribu kepada kondektur, dan setelah di berikan kembalian, aku tidur lagi sampai bus nyampai di pertigaan pandeglang, aku turun, ojek datang mengerubutiku, aku melihat mang sofyan, yang rumahnya, di kampung dekat pesantren, "ojek mang..?" Kataku ke arah mang sofyan. "ke rumah kyai ya jang..?." tanyanya. "iya mang., berapa?" tanyaku. "lima belas ribu jang..." "byuuh gak salah mang? Ini kan ojek bukan taksi..." "sekarang ini BBM dah naik jang, penumpang jarang.., jadi ya kenaikan berlipat, mau gak jang..." terpaksa aku menyetujui. Daripada ribet urusannya, padahal jarak antara pertigaan tugu dengan lereng gunung putri ini tak terlalu jauh, paling juga tiga kiloan, sebenarnya kalau jalan kaki lewat jalan kampung malah lebih cepat, tapi sudahlah, Motor ojek mang sofyan segera mengantarku, motor itu menggerung-nggerung, karena jalan aspal yang sudah rusak di sana -sini itu, lubang-lubangnya penuh dengan air bekas hujan semalam. Jalan yang ku lewati ini sebenarnya telah di perbaiki berkali-kali, tapi uang untuk perbaikan jalan kebanyakan di sunat sini, maka imbasnya jalanan hanya di perbaiki seadanya, jadi ya begini, baru beberapa hari kelihatan halus, jalanpun akan rusak lagi. akhirnya nyampai juga, baru saja ojek ku bayar, dan mang sofyan berlalu, hpku bunyi, segera ku angkat, suara Macan dengan nada bahagia. "ian syukur, adikku tak jadi di operasi, dah sembuh, dan sudah di ijinkan pulang, makasih ya ian..." "wah jangan berterimakasih padaku, kita kan cuma berusaha, kesembuhan ada di tangan Allah jua. Bersyukurlah padanya." "iya...iya...wah ceramah terus.." "eeh uangku, kamu masukkan sakuku, tanpa setahuku ya can?" tanyaku ketika ingat uangku ada di saku. "ah enggak, ini masih ku pegang, iya...iya .,nanti aku kembalikan, sekarang ku pinjam dulu.. Jangan kuatir.." nadanya serius, setahuku Macan orangnya tak suka main-main, kalau bilang a ya a kalau bilang b ya b. Lalu kenapa ada uang di sakuku.. Para santri segera menyambutku, dan bersalaman mesra, mereka-mereka seperti saudara-saudara kandungku "mas ian udah di tunggu kyai" kata Mujahidi,. Bibirnya masih seperti dulu, di kelotoki karena sari awan, sehingga kelihatan jontor sana-sini, wajahnya juga makin banyak lubangnya bekas jerawat batu di penceti, malah lebih kelihatan seperti kayu di makan rayap, yah biarlah itu kesenangannya sendiri. Aku segera berlalu, kulihat kyai berdiri di bawah pohon melinjo, aku segera menghampiri, dan bersalaman mengecup tangannya dengan takzim, "bagaimana, Macan tak mau?," tanya kyai. Sambil mengajakku duduk di kayu pohon sengon yang telah mengering, dan telah tumbuh jamur di sana-sini, jamur kecil-kecil berwarna kuning kemerahan. "dia tak mau kyai...." "ya sudah kalau tak mau, nanti kamu menjalani sendiri, kamu sanggup, menjalani laku gila?" "sanggup kyai.." jawabku mantap, "sekarang pun kalau kyai memintaku berangkat, aku akan berangkat kyai..." "tak usah buru-buru, mungkin sebulan lagi..., nanti setelah sholat ashar, kamu aku baiat, dan nanti malam mulai melatih ilmu rogo sukmo..." "bagaimana aku melatih ilmu itu kyai?, sedang aku tak punya..." tanyaku meragu. "ilmu itu telah ada dalam dirimu, hanya kau tak tau nanti kalau ingin melepas sukma baca ini..." kyai membisiki telingaku. "wah cuma dua lafat itu kyai.."tanyaku heran. "iya cuma itu, dan bayangkan tempat yang akan kau tuju..." kata kyai. "apakah ada pantangannya kyai?" "tidak, tidak ada pantangan, tapi hati-hatilah, karena bila merogo sukmo, kau akan melihat aneka macam mahluq Alloh, dan kalau bertemu jin fasik, pasti akan berantem, kalau kau merasa tak mampu lebih baik menghindar, dan jika kau butuh sesuatu di alam sukma, bayangkan saja dengan hayalmu..." "terima kasih kyai, saya mau istirahat dulu..." setelah berpamitan aku pun menuju, ruang pembuangan jin, yang luas. Untuk tidur siang sebentar, dan aku agak masuk angin, maka aku akan meminta pijit pada jin. Pintu gerbang besi bercat hijau kubuka, suara menderit khas besi yang tak pakai oli terdengar. Dan udara dingin menusuk kontan kurasakan, nyeess! Lebih dingin dari AC karena udara dalam rumah pembuangan jin ini tak berjalan. rumah ini walau tak pernah di masuki orang, tapi tampak bersih keramiknya. Cat temboknya banyak yang mengelupas, dulu cat ini aku juga yang mengecatkan, dengan motif whoss, yaitu kain di sobek-sobek seperti kain pita, setelah segenggaman tangan lalu di ikat, nah ujung kain itulah yang di buat menjadi motif, di celupkan ke cat dan di kecrok-kecrokkan ke tembok. Untuk hasil yang sempurna, cat tembok putih di campur cat pigmen sebagai pewarna. Dan binder sebagai pengikat, maka setelah kering warna akan menyatu, jadi orang melihat seperti kertas wallpaper yang di tempelkan. Warna tembok ku motif warna bunga lavender, dan di tembok laen ku motif bunga tulip. Aku segera mencari tempat untuk tiduran, aku dekati tiang besar, ku cium bau wangi menusuk, aku tak jadi, karena mengira pastilah jin wanita, nanti bisa-bisa tak tidur, malah main cinta. aku memilih di ruang sebelah, ruang ini luasnya delapan kali lima meter, cukup luas, aku menggeletak di pinggir tembok. Ku eratkan jaketku, untuk mengurangi hawa dingin. Jam tangan ku lihat pukul sebelas siang. Ku rasakan ada jin yang mendekatiku, dari arah kananku, karena pipiku menebal, ku ucapkan salam dalam hati, dan kukatakan aku ingin di pijat, walau aku belum bisa melihat mereka karena rendahnya ilmuku, tapi aku bisa merasakan kehadiran mereka. Kurasakan tanganku ada yang memegang dan memijid-mijid, juga kepalaku, lalu kakiku juga ada yang memijid, rupanya dua jin yang memijidiku, aku mulai keenakan dan mengantuk, sebelum tidur aku minta di bangunkan jam dua, akupun tertidur. Aku terbangun, ketika kurasakan ada yang menggelitik kakiku, kubuka mata dan kulihat jam menunjukkan jam dua lebih satu menit. Aku pun bangun dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Lalu beranjak pergi. Mengambil sabun yang biasa kuselipkan di bawah para-para, kemudian pergi ke sungai, "gak makan dulu mas? Nasinya ada di dapur..."kata jauhari dan kholil, ketika berpapasan denganku. "ah nanti aja.., " aku segera berjalan di jalan berbatu yang menuju sungai, dan melompat ke pematang sawah, setelah melewati dua kotak sawah aku pun sudah sampai di tempat anak-anak pada mandi, masih ada tarsan dan majid masih sibuk mandi, aku pun bepgegas mandi, setelah mengganti sarung dengan celana pendek khusus mandi, aku pun mencebur, "awas mas, banyak lintah...!" suara Tarzan memperingatkan, tapi terlambat, karena ada kurasakan sesuatu menempel di dekat mata kakiku, aku segera keluar dari air dan naik keatas batu bundar pipih, sebesar kerbau yang di tempati Tarzan mencuci. "wah ketampel lintah nh..." kataku melihat binatang hitam ada garis coklat, yang tak lain lintah . "biar mas tak ambilnya mas..." kata Tarzan Kemudian tanpa jijik, membetot lintah dari kakiku. "untuk apa zan?" "biasa mas, untuk memperbesar..." "jangan terlalu besar, nanti tak ada wanita yang mau menikah denganmu lo..." setelah mandi aku cepat-cepat kembali ke kamar, dan sholat dhuhur, melakukan dzikir setelah sholat, dan pergi kedapur, ternyata teman-teman masak urap, yaitu sambal kelapa, karena paling mudah, kelapa tinggal manjat, lalapan daun pepaya dan daun kopi muda, sedap juga. Setelah makan terdengar adzan sayup-sayup sampai dari masjid yang teramat jauh. Aku bergegas mengambil air wudhu dan sholat ashar, setelah dzikir aku pun menghadap kyai, untuk di baiat. Teman-temanku semuanya telah berkumpul. Aku pun di minta duduk menghadap kyai, tangan di jabat dan menerima ijab, dan kobul, seperti dalam pernikahan. Cuma isinya bukan tentang nikah, tapi siap sedianya diri menjalankan syariat islam secara kaffah, dan bersedia, menjauhkan diri dari segala macam perbuatan dosa. Baiat pun selesai, dan kami mendengarkan petuah-petuah kyai, dari bagaimana baiat di lakukan oleh Rosululloh, dan di jelaskan untung ruginya. Hari makin sore, para santri melakukan tugasnya masing-masing, aku memilih memasak. Menggoreng jengkol dan membuat sambel tomat, wah sedap sekali. Malam itu setelah isyak aku di suruh kyai latihan ilmu rogo sukmo dalam kamar. Pintu kamar ku kunci, deg-degan juga aku, karena aku belum tau akan bagaimana nantinya. Ku duduk membaca Alfatehah tiga kali, Annas tiga kali, Alfalaq tiga kali, ayat kursi tiga kali, lalu kutiupkan tangan dan ku usapkan ke seluruh tubuh. Kemudian aku tiduran, memejamkan mata dan membaca doa yang tadi siang di ajarkan kyai, tak lupa membaca basmalah tiga kali tanpa napas. Leess!! Aku seperti begitu saja tertidur, tau-tau aku telah di atas tubuhku sendiri. Melayang di udara, sementara jasad kasarku tergeletak dalam kamar. Aku segera keluar kamar menembus dinding, bersalto di udara, terbang kesana kemari, hinggap di pucuk pohon kelapa, lalu terbang lagi, sungguh terasa bebas dan nyaman, aku menghampiri majlis dzikir, masih melayang-layang, kulihat semua santri selain diriku tengan konsentrasi dengan wirid masing-masing, sementara kulihat kyai juga tengah duduh memangku bantal tidur, dan tangan kanannya tak henti memutar tasbih, kyai menatapku dan tersenyum, lalu mengangguk, Itu sudah cukup sebagai isyarat bagiku, akupun melesat pergi, membumbung tinggi ke angkasa yang gelap, dan hanya di terangi oleh beberapa bintang yang nampak. sebenarnya tujuanku adalah desaku sendiri di kawasan kabupaten Tuban, karena aku selama ini teramat heran, dengan sebuah sekolah madrasah, yang angker sekali, aku ingin menyelidiki ada apa sebenarnya di sekolah itu. Madrasah itu awalnya di sebelah rumahku, tapi karena di sebelah rumahku terkena rencana perluasan masjid, maka madrasah itu di pindah ke lahan kosong, untuk membangun madrasah itu tentulah di butuhkan tanah urukan untuk menyamaratakan tanah, dan tanah untuk batur itu di ambil dari tanah sekitar, maka terciptalah parit, hampir mengitari madrasah, kalau kemarau parit itu sama sekali tak ada airnya, sampai tanah dasar parit retak-retak, tapi kalau musim hujan datang, parit itu penuh air, dan anehnya, akan banyak ikan muncul di parit itu, dari ikan sepat, mujaer, lele, bandeng. Dan ikan-ikan yang lain, anehnya kalau ikan itu di ambil dan di makan, maka orang yang memakan akan keracunan. madrasah itu jauh dari rumah penduduk, rumah paling dekat adalah tujupuluh meteran, sehingga madrarah tak diberi penerangan listrik mengingat kalau malam madrasah tak di gunakan kegiatan apa-apa, tapi memang ada lampu bohlam dan dulu sudah terlanjur di pasang, tapi belum sempat di beri saluran kabel listrik, tapi sungguh aneh walau tanpa saluran kabel, kalau malam lampu di madrasah itu sering menyala sendiri. Keluarga yang tinggal paling dekat dengan madrasah itu adalah keluarga pak makrum, yaitu istrinya bu rah, anak perempuannya usia sebelas tahun, dan kedua anak laka-laki, yang satu berusia sembilan tahun, yang satu berusia dua tahun, keluarga pak makrum adalah pindahan dari desa lain. Tapi tak sampai setahun tinggal di situ, semua keluarganya meninggal satu persatu, dari si balita meninggal, di susul kakaknya, kakaknya lagi, kemudian istri pak makrum, dan terakhir pak makrum sendiri meninggal, selang satubulan, anehnya tanpa di dahului, sakit sama sekali. yang selamat adalah anak pak makrum yang telah menikah dan di bawa hidup di daerah suaminya. sekitar limapuluh meter di depan madrasah ada sebuah sumur pompa, di buat oleh santri, dan saat kemarau panjang, di sumur pompa ini tak perduli siang maupun malam sumur ini selalu di datangi orang untuk mengambil air, mengingat sumur lain kering, tapi sumur di depan madrasah ini tak pernah kering. Dan pasti di musim kemarau, akan ada cerita-cerita aneh, dari orang yang tunggang langgang saat mengambil air di malam hari, lalu melihat hantu, macem-macem ceritanya, ada yang melihat orang yang tinggi tiga meter, ada yang melihat pocong, ada yang melihat orang menggantung di pohon. Sukmaku melesat cepat, angin menggemuruh di telingaku, dan kibasan angin sampai melepas ikatan rambutku, sampai rambutku berkibaran. Kulihat kebawah, kerlip lampu beraneka warna, dan gedung-gedung menjulang, pasti ini jakarta, pikirku, karena kulihat dari angkasa, di sana-sini, lampu-lampu mobil berkelak-kelok, berderet-deret seperti sisik naga raksasa. Baru beberapa menit terbang aku telah sampai di jakarta. Ku membumbung tinggi, kadang menukik ke bawah. Ah betapa enaknya terbang, aku jadi ketagihan kulihat dari atas kerata api berjalan, aku menukik turun, dan terbang di samping kereta api, kulihat penumpang di dalamnya, lalu aku terbang diatas kereta dan hinggap di atasnya. Tapi segera terbang lagi, mendahului kereta api, dan lebih cepat sehingga rumah, pohon, jalan, desa, berkelebat cepat, hanya nampak bayangan berkeledepan. Sekejap saja aku telah sampai di sekolah madrasah yang ku tuju. Sebentar aku berdiri di udara depan madrasah. Perlahan aku masuk, keadaan sangat sepi. Aku kitari ruangan demi ruangan. ini mungkin jam sepuluh atau jam sebelas, karena aku tak bawa jam, jadi kurang tau waktu. Kulihat dua orang pemuda, kira-kira umur tigapuluhan, dua pemuda ini wajahnya kembar, kalau ku rasanya bukan dari golongan jin, tapi dari golongan arwah penasaran, wajahnya cukup ganteng cuma pucat seputih kapas, di kedua lingkar mata mereka ada lingkar hitam. Aku turun ke tanah, dan berjalan menghampiri mereka berdua. "siapa kalia??" tanyaku "hei kau bisa melihat kami?." jawab mereka hampir serempak. "kenapa tak bisa?" "berarti kau juga arwah penasaran seperti kami?.."tanya mereka balik. Dan perasangkaku tak salah. Bahwa mereka arwah penasaran. "oo jadi kalian yang selama ini membuat isu hantu, menakut-nakuti warga sini..?" "kami hanya butuh tempat, dan tak mau di ganggu, jadi kami takut-takuti warga..." "apakah kalian juga yang menewaskan seluruh keluarga pak makrum?". Tanyaku. "ah, apalah artinya hidup buat mereka...malah susah aja, miskin, dan kalau mati setidaknya membantu kami, agar orang takut tinggal di daerah ini.." kata salah satu arwah itu. "kalian keji sekali, melihat kalian jadi arwah penasaran,tentu kalian hidup selalu berbuat jahat, tapi setelah matipun masih melakukan kejahatan..." Aku jadi ingat kejadian waktu aku kecil teman sekolahku meninggal dengan mata mendelik dan lidah terjulur keluar ketika pulang dari sekolah. "apakah kalian juga yang membunuh muflida, gadis kecil yang berumur sepuluh tahun.?" tanyaku penasaran. "heh gadis itu, aku yang mencekiknya..., karena dia melihatku..."kata salah satu arwah, dengan senyum mengejek. "apakah kalian juga yang membuat anak bernama saeri, yang tulang kering kakinya patah, dan sekarang jadi anak pincang?" "aku yang memukul kakinya dengan kayu...hahaha.." kata arwah satunya. "sekarang juga kalian harus hengkang dari sini, minggat sejauh-jauhnya ....!" "e,e,e kau ini siapa? Berani melarang kami tinggal di sini, kami di sini sebelum kau lahir," "baiklah aku akan memaksa kalian," kataku melompat menerjang. Aku ingat kata kyai kalau di alam gaib supaya membayangkan yang kita inginkan, maka aku membayangkan tanganku membara, mengelurkan panas yang berlipat-lipat, lalu dengan tangan itu aku memukul mereka, mereka berdua kaget dan meloncat mundur, tapi tubuhku yang enteng bisa melayang segera memburu, dan satu pukulan mengenai salah satu dada arwah itu... Dia menjerit di seret kawannya mundur, karena dadanya telah berlubang, segenggaman tangan, dan mengeluarkan bau sangit terbakar. asap tipis mengepul dari luka yang terbakar itu, dan arwah itu mengaduh-aduh, sementara temannya segera memanggulnya. "tunggu besok disini kalau berani, guru kami akan menghajarmu..." katanya sambil melesat pergi , melompati jendela madrasah yang tinggi. Aku tak mengejar, aku juga melesat pergi, pulang kerumahku dan mau melihat jam dinding, ah ternyata baru jam dua belas kurang seperempat. Aku keluar lagi melayang keatas masjid, turun di ujung mustaka, berdiri melihat sekitar, depan masjid adalah jalan raya, dan tempat angker lagi adalah dekat jembatan, dimana waktu pembangunannya dulu, mengakibatkan banyak korban, entah korban jatuh dari menara bok, atau tertumbuk palu paku bumi. aku melesat ke arah jembatan yang berjarak dua ratus meter dari masjid, dan hanya tiga detik aku telah berdiri di atas jembatan, suasana sepi, tapi pandangan mataku menangkap sosok baju putih melayang malah di jauh sekali di pertigaan jurusan makam, tanpa pikir panjang aku melesat mengejar sampai di pertigaan aku turun dan clingak-clinguk, aku ingat di pertigaan ini sering terjadi kecelakaan, ada anak taman kanak-kanak yang di hantam mobil dan seketika meninggal di tempat. Juga ada seorang petani yang mau pergi kesawah di tabrak mobil dan terseret lima meter, walau tak sampai mati. keadaan masih sunyi, aku tak melihat bayangan putih tadi, kulihat gerobak tukang bakso yang memang biasa mangkal, orang-orang memanggilnya wakman, kulihat dia masih duduk di plester regol, sambil menghisap rokoknya, tiba-tiba ia membuang puntung rokoknya dan menginjaknya dengan sendalnya, lalu beranjak ke gerobak baksonya. "iiih mrinding...ada apa ini..?"keluhnya. Dan wakman mendorong gerobak baksonya berjalan, saat itulah aku melihat perempuan baju putih bertengger di atas gerobak bakso, "hei siapa kau...!?" bentakku. Perempuan itu kaget dan melayang pergi. Dengan suara ketawa yang menggidikkan bulu roma ,Aku pun segera mengejar, ah pasti ini kuntilanak... Dia melesat kearah rumah salah seorang pengasuh pesantren. Karena melayangnya pelan, akupun dengan mudah menyusul, dan menghadangnya. "huu....huuu..jangan tangkap aku...huu" dia menangis. "aku tak bermaksud menangkapmu, tapi aku hanya ingin tau kau ini siapa?" tanyaku dengan lembut. Dia menghentikan tangisnya, memandanku, aku di pandangnya begidik juga, perempuan ini sungguh menyeramkan sekali, jika aku bukan sukma mungkin aku telah lari pontang-panting. rambut perempuan ini awut-awutan, dan di sana -sini nggimbal lengket oleh tanah, sementara, wajahnya putih, tanpa darah, di sekitar matanya menghitam, dan matanya melotot keluar tanpa cahaya, pipi kanan kirinya berlubang, sehingga giginya terlihat, dan ada ulat-ulat yang keluar dari pipi...putih, kecil-kecil menggeliat.. "kau ini siapa nyai?"tanyaku lagi. "aku ini istri kamituwo gerot." katanya tanpa menggerakkan giginya, sehingga suaranya seperti suara yang teramat jauh, tapi jelas di telingaku. Aku mengingat-ingat nama kamituwo gerot, ingatanku pun tertuju pada sumur gerot, yaitu sumur yang di bangun sesepuh desa dulu, ada enam sumur penjuru desa, yang dibuat oleh pendiri desaku. Enam sumur juga di sebut sumur gede. Karena memang sumbernya teramat besar, dan menjadi tumpuan mengambil air bagi semua penduduk yang kekeringan, Dulu sumur-sumur itu selalu di adakan ngunduh sajen, yaitu acara nanggap wayang untuk mengucap terimakasih pada danyang penunggu desa, tapi setelah di sadarkan oleh kyai fatah dan kyai sidik maka acara-acara itu pun di hilangkan. kamituwo gerot, aku berpikir, Dan ada kamituwo ya adanya di kampung Degan, "sampean dari mana nyi? Dari kampung apa?..." "aku dari kampung Degan..." suaranya masih tetap terdengar dalam. "kok sampean klambrangan gak karu-karuan begini nyi? Boleh aku tau sebabnya?" Perempuan ini menjerit melengking kemudian dia menangis hahahuhu...ah perempuan..jadi hantu masih, juga cengeng. Aneh begitu saja kisah perempuan di depanku ini, terpampang runtut seperti melihat filem layar lebar, namanya juga alam gaib, jadi serba gaib, nyleneh dan tak masuk akal. Perempuan ini bernama Sunti. Seorang ledek dari daerah Tambak boyo, untuk mendapatkan penglaris maka dia mencari orang yang mumpuni dalam memasang susuk pengasihan, ada orang yang menyarankannya ketempat kamituwo gerot, maka pergilah Sunti ketempat kamituwo, yang umurnya lebih pantas jadi ayahnya, Sunti umur delapan belas tahun dan kamituwo umur empatpuluh lima tahun. Saat itu kamituwo adalah duda, yang istrinya minta cerai, karena tak tahan dengan kesenangan suaminya yang suka main perempuan. Memang ilmu kejawen kamituwo terkenal ampuh, dari ilmu kekebalan, aji kesantikan, sirep, gendam, pasang susuk pengasihan sampai aji pelet, sehingga jangankan perempuan yang masih perawan, yang sudah punya suamipun bisa di buat meninggalkan suaminya. melihat sunti yang cantik, menik menik, tentu saja kigerot langsung jatuh hati, maka ketika tau gadis itu meminta susuk pengasihan, maka ki gerot pun memberikan susuk yang terbaik, tapi juga memelet Sunti dengan ilmu pelet yang paling hebat. (maaf, sebenarnya ini tak pantas di ceritakan, tapi semoga menjadi pelajaran untuk tidak mendatangi aneka macam dukun dan paranormal.) Pelet yang di pakai ki gerot adalah kulit kemaluan wanita perawan yang meninggal di rebu wage, Jika ada perempuan meninggal di saat itu maka kigerot malamnya akan membongkar makamnya dan menguliti kemaluannya mayat, setelah itu, kemaluan tadi di keringkan, dan bila di butuhkan akan di cuil sedikit dan di campurkan dalam minuman, dengan mantra-mantra. malang nasib Sunti, dia meminum teh yang telah di campur ramuan pelet yang ganas itu, seketika gadis itu mabuk kepayang pada kigerot, dia seperti telah minum bergalon arak cinta, Maka ketika ki gerot menuntunnya kekamar dan mengajaknya berzina, Sunti tak kuasa menolaknya. Begitu juga ketika Sunti telah pulang kerumahnya dan kigerot melamarnya, maka Sunti pun ho-oh aja Setelah menjadi istri kigerot, Sunti masih menjadi penari ledek, karena di dukung oleh susuk ki gerot yang ampuh, Sunti pun menjadi ledek yang laris dengan bayaran tinggi, dan uangnya semua masik ke kantong ki gerot, membuatnya jadi orang terkaya di kampung Degan. Tapi sesuatu yang di lakukan di luar sunatulloh atau aturan hidup yang di atur oleh sang pencipta, maka adalah kerusakan. Alloh taala melarang sesuatu, bukan untuk kepentingannya, tapi untuk kehidupan tentram manusia, sebab sesuatu di larang itu karena bahayanya lebih besar dari manfaatnya. Seperti memasang susuk, karena Alloh melarangnya, maka itu adalah perbuatan yang membahayakan diri, dunia dan akhirat. Di samping tidak bersyukur atas anugrah Alloh, juga terlalu tak menerima kodrat yang telah Alloh berikan. Satu ketika, seperti biasa, Sunti di tambah lagi susuk intan di dagunya oleh kigerot. Awalnya tak apa-apa, tapi selang tiga hari dagu sumi membiru, dan Sunti kejang-kejang. Ki gerot pontang-panting, membawa sunti kerumah sakit, tapi pihak rumah sakit tak tau penyakitnya.. Sementara Sunti sudah berulang kali tak sadar, dan akhirnya Sunti meninggal dengan wajah lebam membiru. Hari itu juga Sunti di kuburkan, dengan sederhana. Namun esoknya semua orang kampung Degan, geger karena melihat makam sunti kosong. Dan mayatnya hilang tak tau kenapa. Awalnya yang tau adalah penggembala kambing yang biasa menggembala di area pemakaman. Ketika dia tau bahwa Kubur sunti di bongkar orang. Sebenarnya apakah yang terjadi? Malam itu setelah siang tadi Sunti di kuburkan, kira-kira jam satu dinihari, nampak pekuburan sunti bergerak-gerak, asap tipis bau daging terbakar menyeruak, tiba-tiba bleg..! Terdengar ledakan seperti petasan dalam tanah, dan terlemparlah tubuh sunti, seperti gedebok pisang tapi langsung melayang pergi. Sementara itu ketika jam menunjukkan jam tiga seperempat, seorang perempuan tua tergopoh-gopoh, berjalan melintasi jalan raya dekat pemakaman, orang biasa memanggilnya nyiyam, seorang dukun beranak yang mendapat panggilan di desa karanglor, dia harus melewati pekuburan Degan, ada rasa merinding di tengkuk nyiyam. perempuan umur enampuluh tahunan itu menguatkan hati, memang dia rasa malam ini terasa sunyi, suara jengkrik aja tak ada, atau suara katak setidaknya untuk menghiburnya. Hanya suaru burung hantu, kadang dari jauh terdengar satu, malam yang teramat mencekam, bulan di ataspun yang tinggal seujung kuku seperti di selimuti warna hitam, walau tak ada mendung, kabut tebal mulai turun, walau tak menahan jarak pandang, tapi bagi perempuan tua setangguh nyiyam, itu bukan apa-apa, walau sebagai manusia, rasa takut seperti menggelitik perasaannya. soal di goda hantu, perempuan tua ini pengalamannya sudah tak terhitung lagi, dari di tiup obornya terus, di lempar kekali, bahkan pernah di temukan warga di tengah-tengah pohon bambu, sehingga warga harus mengeluarkanmya dengan menebangi pohon bambu. keadaan teramat sunyi, hanya sandal jepit tipis, yang sebagian sudah berlubang karena gesekan, terdengar.srek-srek, seakan paling berisik sendiri, ah entah telah berapa tahun sandal ini menemani tugasnya. Melintasi malam, mengukur keihlasannya menolong perempuan yang akan melahirkan, yang kadang hanya di upah setandan pisang, atau cuma ucapan terimakasih saja. nyinyam mengetatkan selendangnya, ketika dia rasakan bulu kuduknya makin meremang, ah makam juga sudah terlewati, dan di depan adalah pos kampling, apa yang di takutkan, mungkin masih ada yang jaga..., tapi kenapa seluruh bulu di tubuhnya berdiri semua, nyiyam mempercepat langkahnya, apalagi di pos kamling jarak sepuluh meter dia melihat bayangan orang dari mata rabunnya. Bajunya putih dan sarungnya putih. nyiyam telah memutuskan, dia tak akan menyapa pada petugas ronda, dan kalau dia di sapa akan menjawab, dan kalau tak di sapa maka akan berlalu saja, tapi kenapa dia merasakan makin merinding saja. Tepat di depan bayangan yang ada di pos, "mau kemana nyi...?" suara perempuan, serrr...!semua bulu kuduknya berdiri tegak semua, kepalanya sampai terasa keribo, bukan suara perempuan yang membuatnya merinding, walau itu juga iya, tapi yang lebih membuatnya merinding adalah suara itu seperti suara dari alam lain, bukan alam ini, tapi alam kegelapan. "ss....ssa...s..siapa.,k..kau..?" nyiyam merasakan lidahnya seperti selembar triplex yang di emutnya, kaku tak bisa di gerakkan untuk mengeluarkan ucapan. perempuan di depannya ini menunduk, rambutnya gimbal, dan masih ada tanah menempel. Sebagian rambut menutupi wajahnya hingga tak terlihat. "hii...hik...hihihh...." terdengar suara tertawa yang teramat aneh, yang membuat kaki nyiyam gemetar. Bahkan kencing pun merembes dari jaritnya ketika bau bangkai menyengat terbawa angin, bau bangkai orang mati. walau bagaimana nenek tua ini masih berusaha tabah, untung ia ingat Alloh, setidaknya mengurangi, ketakutannya. "kau ini siapa nduk?, kembalilah ke tempatmu nduk...?"kata nyiyam yang mulai kuat menahan batinnya. "aku Sunti nyai..., aku tak di terima nyai...tolooong aku nyai...huhuu"suara perempuan itu mengguguk. "aku tak bisa berbuat apa-apa, aku ini orang bodo..."kata nyiyam kemudian dalam hati membaca ayat kursi berulang-ulang. "aduh nyai panas...panas... Aduuuuuh kau apakan aku nyai..?" perempuan itu menjerit dan tubuhnya seketika melayang keatas, dan melayang pergi sambil ketawa hahahihi. sejak malam itu, rumah ki gerot pun di ganggu dan di teror Sunti yang krambyangan, sampai karena sudah tak kuat, dukun yang anti ngaji itupun mengundang orang-orang untuk mengaji di rumahnya, sampai gangguan dari Sunti tiada lagi. "Maukah kau kau ku sempurnakan?" tanyaku pada sunti. "hihi....bocah bau kencur ...mau melawanku, hiiihii....!" Aku tanpa kata lagi jariku kuputar, seakan melingkarinya lalu kutulis bak di tengah, seketika. "hai apa yang kau lakukan padaku?" tanyanya, karena tubuhnya terkurung. Lalu kubaca basmalah tiga kali, tahan nafas, kullu saiin halikun illa wajhah. AllahuAllahu. Allahu akbar!!, tangan yang telah tersaluri tenaga dari pusarku ku hantamkan berbareng, dengan tapak tangan terbuka kearah sunti, dan hlukgh!!, terdengar ledakan kecil, dan sebuah asap mengepul, bersatu tersedok ke satu titik lalu lenyap. mungkin sudah jam tiga pagi, aku segera melesat, diatas desaku, melesat kucepatkan, aku ingin mencoba paling cepat les.. Kurasakan aku telah ada dalam tubuhku sendiri. Dan kulihat jam tanganku, jam tiga seperempat. Aku menata bantal dan tidur, ah pengalaman rogo sukmo pertamaku. Lumayan mengesankan. Ikuti kelanjutan kisahnya di http://jowo.jw.lt