Perkampungan HANTU Oleh : Hiu Khu mjbookmaker by: http://jowo.jw.lt Bag 5 Dan begitulah, secara tidak jelas apa sebabnya dari orang hidup ia telah berubah menjadi ‘orang mati’, secara tidak jelas duduknya perkara ia pun mendapatkan sebuah rumah. Dia masih punya kaki, tapi tempat mana pun tidak dapat didatangi. Tahu-tahu dia sudah tertidur dan mulai bermimpi, mimpi dirinya terbungkus oleh sehelai daun besar yang dingin, lalu melihat seekor anjing betina budukan sedang menggerogoti tulangnya, sampai suara menggerogotnya terdengar dengan jelas. Dan segera dapat dilihatnya di dalam rumahnya benar-benar ada seorang sedang menggerogoti tulang. Tapi bukan tulangnya, melainkan tulang ayam. Yang duduk sambil menggerogoti tulang ayam itu juga bukan anjing betina melainkan satu orang. Begitu Siau-hong mendusin, segera orang itupun merasa waswas, serupa kewaspadaan seekor binatang buas. Orang itu berpaling dan menatap Liok Siau-hong, sorot matanya penuh rasa permusuhan. Namun mulutnya tetap menggerogoti tulang ayam. Siau-hong tidak pernah merlihat orang berminat sebesar ini terhadap tulang ayam, juga tidak pernah melihat orang sekurus ini. Pada hakikatnya daging pada tubuh orang ini pasti lebih banyak daripada daging tulang ayam yang digerogotinya itu. Namun pakaiannya justru sangat perlente, sama sekali tiada tanda-tanda seorang miskin yang perlu menggerogoti tulang ayam. Hanya pengemis yang mau menggerogoti tulang ayam. Siau-hong coba menegur, “He, apakah kau sakit?” “Kau sendiri sakit!” semprot orang itu hingga tulang ayam yang berada dalam mulut tersembur keluar memenuhi lantai, terunjuk barisan giginya yang putih, ia menatap Siau-hong dengan benci. “Kau kira aku sakit apa? Sakit lapar?” damprat pula orang itu. “Masa engkau tidak lapar?” tanya Siau-hong. “Kenapa aku lapar? setiap hari aku makan tiga kali, belum lagi ditambah jajan sekian kali.” “Apa yang kau makan?” “Nasi, mi, daging, ikan, sayur, apa yang dapat kumakan sudah kumakan.” “Dan apa yang kau makan hari ini? “Pagi tadi kumakan bubur ayam yang sedap. Siang tadi kumakan masakan ala utara, ada Ang-sio-ti-te (kaki babi), ada bebek Peking, ada kuah tahu masak kepala ikan, ada udang goreng kailan, ada burung dara goreng dan banyak lagi.” Siau Hong tertawa. “Kau tidak percaya?” orang itu mendelik. “Aku cuma heran,” kata Siau-hong, “seorang yang mengaku biasa makan serba enak, mengapa perlu menyusup ke rumah orang untuk menggerogoti tulang ayam.” “Sebab aku suka,” kala orang itu. Siau-hong tcrtawa pula, “Asalkan kau suka, selanjutnya jika di tempatku ada tulang ayam, setiap saat kusambut kedatanganmu dengan senang hati.” Tapi sorot mata orang itu berbalik menampilkan rasa curiga, tanyanya, “Kau sambut kedatanganku dengan senang hati? Sebab apa?” “Sebab untuk pertama kalinya aku punya rumah, sebab engkau tamu pertama rumahku, sebab aku suka berkawan.” Tapi orang itu tambah beringas dan berteriak, “Aku bukan kawanmu.” “Sekarang mungkin bukan, selanjutnya tentu.” Meski orang itu masih menatapnya dengan tajam, tapi sikapnya mulai tenang. Siapa pun harus mengakui bahwa biasanya Liok Siau-hong sangat pintar bergaul, semua sahabatnya juga sangat suka padanya. Baik sahabat lelaki maupun kawan perempuan. Siau-hong sudah bangun dan berduduk, tiba-tiba ia berkata pula dengan menyesal, “Sayang di sini tidak ada arak lagi, kalau tidak, tentu kuminum dua cawan bersamamu.” Sorot mata orang itu seketika mencorong terang, “Kalau tidak ada arak lagi, kenapa tidak kau cari keluar?” “Belum ada setengah hari kudatang kemari, tempat ini belum hapal bagiku,” tutur Siau-hong. ‘Tapi dapat kujamin, tidak sampai tiga hari, apapun yang ingin kau minum pasti dapat kusuguhkan.” Kembali orang itu menatapnya sekian lama, akhirnya meng-heia napas, segala rasa was-was juga lantas mengendor, ucapnya, “Aku adalah Yu-hun (arwah gentayangan), bisa jadi setiap saat kumasuk ke sini dan benar-benar tidak menjadi soal bagimu?” “Tidak, pasti tidak,” jawab Siau-hong. Persahabatan memang tidak menjadi soal baginya. Sering pada tengah malam buta dia menyeret teman dari kolong selimutnya untuk diajak minum arak. Dan temannya tidak pernah memusingkan tindakannya itu. Sebab semua teman tahu bilamana orang lain tengah malam buta mencari dia, sama sekali dia udak marah, sebaliknya kegirangan setengah mati. Sementara itu han sudah mulai gelap, angin malam membawa kumandang suara genta. “Itulah genta tanda makan malam.” kala orang yang mengaku sebagai Yu-hun atau arwah gentayangan itu. Siau-hong tidak paham, maka Yu-hun memberi penjelasan pula, “Genta tanda makan malam artinya semua orang harus berkumpul dan makan bersama di ruangan pendopo.” “Setiap orang harus hadir?” tanya Siau-hong. “Ya,” Yu-hun mengagguk. “Setiap hari begitu?” “Tidak, setiap bulan paling-paling cuma empat-lima kali.” “Dalam waktu bagaimana?” “Ce-it Cap-go (tanggal satu bulan lima belas) dan hari besi, atau kalau kedatangan orang ternama.” Lalu dia mengamat-amati Liok Siau-hong dari atas ke bawah dan sebaliknya, kemudian berucap pula, “Kau pasti juga orang ternama, apakah engkau Liok Siau-hong yang beralis empat itu?” Siau-hong menyengir, “Tapi sayang Liok Siau-hong sekali ini bukan Liok Siau-hong yang dulu itu.” Yu-hun hendak bicara pula, tapi urung, mendadak ia berhari kit dan berkata, “Segera akan datang orang membawamu ke ruangan makan, aku harus pergi, sebaiknya jangan kau katakan kepada orans lain tentang kedatanganku ke sini.” Siau-hong tidak bertanya apa sebabnya. Maklum, bilamana orang lain minta tolong kepadanya, jika dia menyanggupi, selamanya ia tidak pernah tanya sebab musababnya. Justru lantaran inilah maka pantas dia mempunyai banyak sahabat. Agaknya Yu-hun juga sangat puas terhadap hal ini, tiba-tiba ia mendesis pula, “Setiba di ruangan makan nanti, mereka pasti akan memberi hajar adat padamu.” “Oo?!” Siau-hong melengak. “Kau tahu, orang di sini sedikitnya ada separohnya orang gila, satu-satunya hobi mereka adalah memperlakukan orang lain dengan sadis,” tutur Yu hun. “Mereka suka melihat orang tersiksa, malahan ada enam tujuh orang di antaranya terlebih gila lagi.” “Siapa siapa saja?” tanya Siau-hong. “Seorang bernama Koan keh-po (nenek pengurus rumah tangga), seorang lagi disebut Tayciang-kun (panglima besar), seorang dipanggil Piauko (kakak misan), seorang bernama Kaucu (si kait). Hanya sempat nama empat orang disebutnya lalu ia melayang pergi. Padahal jendela rumah sangat kecil, tapi sekali tangannya menahan ambang jendela, segera orangnya menerobos keluar. Tampaknya bukan cuma Ginkangnya tinggi, dia juga mahir Sok-kut-kang atau ilmu menyusutkan tulang. Kedua macam kungfu itu adalah kungfu andalan Sukong Ti-seng? Apakah orang ini ada hubungan dengan Sukong Ti-seng.