"Seandainya kau tak pernah menyangka, mengapa bisa mempersiapkan cara yang begitu baik untuk menghadapinya ?" "Karena akupun seseorang yang jujur." "Kau jujur terhadap siapa?" "Terhadap diriku sendiri." Ang Nio-cu segera menghela napas pan­jang: "Mengapa kau tak pernah mengatakan kalau akupun sangat jujur ?" keluhnya. "Karena kau terhadap dirimu sendiri saja tidak jujur, apalagi terhadap orang lain" kata Cui-mia-hu dengan ketus, "kau sering kali menghianati diri sendiri, kau sendiri menjual dirimu sendiri." "Tapi aku belum pernah menghianati diri­mu, akupun tak pernah membohongi kau." "Karena kau tahu tiada orang yang bisa membohongi diriku" suara Cui-mia-hu masih tetap sedingin es. Tiba-tiba dia berpaling ke arah Ong Tiong, kemudian melanjutkan: "0leh karena itu aku selama berada di ha­dapanku pun seseorang yang amat jujur.” Ong Tiong tidak menunjukkan reaksi apa- apa.. "Kau bilang teman-temanmu sudah pergi semua, ternyata mereka memang tidak berada di sini" ujar Cui-mia-hu. Ong Tiong masih belum menunjukkan reaksi apa-apa. "Sekarang aku hanya ingin tahu, kau lebih setia kepada uang ataukah terhadap diriku?" kata Cui-mia-hu lebih jauh. "Itu mah tergantung keadaan." "Tergantung bagaimana ?" "Biasa aku selalu setia kepada uang, tapi sekarang terhadap dirimu . . . . . . . . " kata Ong Tiong hambar. "Bagus sekali, bawa kemari." "Apanya yang bawa kemari ?" "Apa yang kau miliki ?" Ong Tiong ragu-ragu sejenak, akhirnya dia bulatkan tekad, katanya: "Di bawah meja sana terdapat beberapa lembar ubin batu yang bisa di geser, di bawah lapisan batu itu terdapat sebuah gu­dang di bawah tanah. . . . . "Kau mengira aku tak dapat melihatnya?" seru Cui-mia-hu sambil tertawa dingin. "Kalau kau sudah melihatnya, mengapa tidak pergi mengambilnya ? Barang itu berada di situ." "Biar aku yang mengambilnya." seru Ang Nio-cu cepat. "Tidak, biar aku saja!" seru Cui-mia-hu. Badannya berkelebat lewat dan menda­hului Ang Nio-cu. Inilah untuk pertama kalinya dia berjalan di depan orang lain . . . . . merupakan tera­khir kalinya. Serentetan cahaya perak pelan-pelan me­luncur keluar dari balik ujung baju Ang Nio­cu dan tepat menghajar jalan darah Giok-seng hiat di atas benaknya. Serangan mematikan ini bukan saja tidak cepat, bahkan sangat lamban, tapi dia justru tak sanggup menghindarkan diri. Dia segera roboh terkapar ke atas tanah. Tidak melawan, juga tidak merasakan penderitaan apa-apa. Bahkan tiada suara apapun yang terpan­car keluar, seorang yang hidup tiba-tiba saja berubah menjadi sesosok mayat. Siapapun tak akan menyangka kalau dia akan mati dengan begitu gampangnya. Tentu saja dia sendiripun lebih-lebih tak menyangka, orang yang membunuh dirinya ternyata tak lain adalah Ang Nio cu. Suara tertawa merdu bagaikan suara ke­leningan kembali berkumandang memecah­kan keheningan. Ang Nio cu tertawa, ujarnya: "Kali ini tentunya kau mengerti bukan, mengapa aku tertawa tergelak-gelak ?" "Tidak mengerti.". "Tahukah kau apa yang kugunakan untuk membinasakan dirimu ?" Ong Tiong tidak menjawab. Ang Nio-cu segera tertawa, kembali ujarnya: "Tentunya kau tahu, darimanakah kupela­jari ilmu melepaskan duri pencabut nyawa itu?" Sesudah tertawa cekikikan, kembali sam­bungnya: "Barusan, dia telah mempergunakan ra­cunnya si ular bergaris merah untuk mem­bunuh si ular bergaris merah, maka sekarang akupun menggunakan duri penca­but nyawa untuk me­nusuk dia sampai mati, menghadapi kejadian yang begini menarik­nya ini, masa aku tak bo­leh tertawa senang?" "Aku hanya merasa heran, mengapa dia mengajarkan kepandaiannya itu kepada-mu?" "Karena dia sama sekali tidak mewaris­kannya semua rahasia kepandaiannya kepa-daku, dia tahu selamanya aku tak akan bisa mempergu­nakannya secara baik." "Kau memang tak bisa melebihi kece-patan­nya." "Yaa, selisihnya memang jauh sekali, oleh sebab itu walaupun aku mempelajarinya tapi tetap tak ada gunanya, hakekatnya tak mung­kin bisa dipergunakan untuk mengha­dapi orang lain. Duri pengejar nyawa masih tetap merupakan senjata khasnya." "Kalau toh tak berguna, mengapa kau mempelajarinya ?" "Bukannya sama sekali tak ada gunanya, cuma ada semacam kegunaan yang sebe­narnya amat fatal, yakni apabila kugunakan untuk menghadapi seseorang." "Siapa ?" "Dia sendiri !" "Kau tak bisa menggunakannya untuk menghadapi orang lain, tapi bisa dipakai untuk menghadapi dirinya?" tanya Ong Tiong dengan wajah keheranan. Ang Nio cu tertawa. "Di dunia ini memang banyak terdapat kejadian yang begitu anehnya . . . . . ." "Aku tidak mengerti !" Ang Nio-cu segera tertawa terkekeh- kekeh. "Hal-hal yang tidak kau pahami masih banyak sekali !" "O, ya ?" "Aku sengaja membiarkan kau berada bersama si ular bergaris merah, tujuannya tak lain adalah untuk kesempatan kepada kalian untuk berbincang-bincang." "Mula-mula kuucapkan dulu kata-kata yang dia paling tak senang diketahui orang lain kemudian baru menyingkir pergi, dalam keadaan yang gusarnya setengah mati itu, sudah pasti kau tak akan melepaskan ke­sempatan tersebut dengan begitu saja.” "Kau telah menduga kalau aku bakal menggunakan akal untuk menggerakkan hatinya dan menyuruh dia menghianati diri kalian ?" "Bukan berarti kau yang menggerakkan hatinya, adalah dia sendiri yang mempunyai maksud begitu, Cuma saja selama ini belum ada kesempatan baik untuk melakukannya.” "Ooooh . . . . . jadi kau sengaja memberi kesempatan kepadanya, kemudian baru memberi tahukan kepada Cui lotoa untuk bersiap-siap?" "Aku, juga tahu kalau Cui lotoa telah me­nemukan cara yang baik untuk menghadapi dirinya, asal dia berani turun tangan, maka sudah pasti dia akan mampus!" "Tepat sekali perhitunganmu itu." "Dalam hal ini, aku rasanya tak usah ter­lampau membanggakan diri" kata Ang Nio cu sambil tersenyum. Ong Tiong menghela napas panjang. "Aaai, akhirnya aku memahami juga per­soalan ini, masih ada yang lain ?" Ang Nio-cu mengerdipkan matanya ber­u­lang kali, lalu katanya: "Tahukah kau rahasia paling besar apakah yang dimiliki Cui lotoa. . . . . ?" "Telinganya tidak begitu tajam, hakekat­nya tak jauh berbeda dengan orang tuli." ''Tapi nada ucapanku sewaktu bercakap-cakap dengan tidak terlalu besar, dia toh bisa mendengarnya dengan jelas ?" "Itulah dikarenakan dia memperhatikan gerakan bibirmu, dengan melihat gerakan bibir tersebut, dia dapat mengetahui apa yang sedang kau ucapkan." "Aaaai . . . . hal ini benar-benar merupa­kan suatu rahasia yang sangat besar," kata Ong Tiong sambil menghela napas. "Kecuali aku seorang, tiada orang lain yang mengetahui rahasianya tersebut. Oleh ka­rena telinganya tidak tajam, maka dia selama­nya enggan berjalan di depan orang lain, dia kuatir orang lain akan menyergap­nya dari be­lakang." Setelah tertawa, kembali ujarnya: "Hal ini bukan disebabkan karena dia le­bih berhati-hati daripada orang lain, tapi di­se­babkan lantaran ia tak bisa mendengar suara desingan senjata rahasia, seandainya ada orang yang menyergapnya dari bela­kang, maka ia sama sekali tak mampu un­tuk menghindarkan diri." "Andaikata desingan angin serangan itu sangat tajam, tentu saja dia masih dapat mendengarnya, tapi bila ada orang yang menye­rangnya secara pelan-pelan, maka dia sudah pasti akan mampus." Ang Nio-cu segera tertawa. "Yaa, sedikitpun tak salah," katanya, "itulah sebabnya serangan yang kugunakan adalah dari pengejar nyawa ajarannya yang tak per­nah bisa kupelajari secara sempurna itu, dan kepandaian itu justru merupakan suatu kepan­daian yang tiada keduanya di dunia ini." "Apakah kaupun sudah memperhitungkan, begitu ia mendengar benda itu berada di­mana, maka dia tak akan tahan untuk memburu ke sana dan menengoknya lebih dulu ?" "Yaa, seandainya berada di depan orang lain, mungkin dia masih dapat menahan diri atau mempersiapkan diri dengan se­baik-baik­nya, tapi bila sedang berada ber­samaku, dia selalu akan lebih teledor dari­pada biasanya..." "Kenapa ?" "Sebab dia selalu mengira bahwa aku se­dang menggantungkan diri kepadanya, dia selalu menganggap bila dia sampai mat, maka akupun tak bisa hidup lagi.” Ong Tiong menghela napas. "Diapun menganggap tak ada orang yang bisa membohongi dirinya. . . . ." "Yaa, memang tiada orang yang bisa membohonginya, yang ada hanya dirinya membohongi diri sendiri." "Kau bilang dia pernah membohongi diri sendiri ?" Ang Nio cu tertawa genit: "Berapa orang lelakikah di dunia ini yang tidak gampang membanggakan diri sendiri ? Seandainya lelaki tidak terlalu gampang menjadi mabuk diri, perempuan manakah yang bisa menyusupkan diri dalam lingku­ngannya ?" Ong Tiong termenung, sampai beberapa saat lamanya, kemudian ujarnya dengan hambar: "Kau selalu memperhitungkan dengan te­pat, juga melihatnya secara tepat." "Tapi aku telah salah menilai dirimu." "O ya ?" "Aku mengira kau tak akan pernah bica­ra bohong" kata Ang Nio cu sambil tertawa, "tak disangka kau telah berbohong, bahkan pada hakekatnya bisa membohongi orang sampai mati tanpa mengganti nyawa !: "Kapan aku pernah berbohong ?" "Kau bilang barang itu berada di bawah kolong meja, bukankah kau sedang berbo­hong?" "Yaa, benar !" Ang Nio cu tertawa, kembali ujarnya: "Tapi cuma aku seorang yang tahu kalau kau sedang berbohong, sebab di dunia ini hanya aku seorang yang tahu dengan persis sesungguhnya benda tersebut disimpan di­mana." "Yaa, kau memang seharusnya tahu !" Ang Nio cu mengerling sekejap ke arah­nya dengan genit, lalu katanya lagi: "Berbicara terus terang saja, tadi sebetul­nya sudah kau duga atau tidak kalau barang itu sesungguhnya akulah yang mengambil pergi ?" "Aku tidak menyangka !" Setelah termenung beberapa saat lama­nya, kembali dia berkata: "Aku sama sekali tidak menyangka, aku­pun tidak tahu apa-apa, aku hanya menge­tahui satu hal." "Soal apa ?" "Menjadi orang tidak seharusnya terlam­pau gegabah, barang siapa menganggap tiada orang yang bisa membohongi dirinya, maka hal itu sama artinya dengan dirinya membohongi diri sendiri." Senyuman manis dari Ang Nio-cu seperti agak berubah, tak tahan dia lantas berseru: "Apa maksudmu ?" "Maksudnya, jika kau dapat mempersiap­kan sebuah jerat untuk menjerat orang lain, maka orang lainpun dapat mempersiapkan se­buah jerat untuk menjerat dirimu sendiri." Inipun merupakan suatu kesimpulan. Biasanya kesimpulan jarang sekali keliru. Yang keliru biasanya bukan suatu kesim­pulan. Hari sudah terang benderang. Perempuan tampak selalu lebih tua, lebih berkisut ditengah hari yang terang benderang. Dalam keadaan begini, Ang Nio-cu tak da­pat tertawa lagi. Jika seorang perempuan yang biasa ter­tawa mendadak tidak tertawa, seringkali diapun tampak lebih tua dan berkeriput. Oleh sebab itu, paras muka Ang Nio-cu pada saat itu hampir boleh dibilang sudah mendekati taraf "si nenek berbaju merah". Di bawah kolong meja tiada harta karun, satu peser uangpun tidak ada. Tapi di situ ada orangnya, dua orang ma­nusia. Sekalipun Ong Tiong tak dapat bergerak, namun kedua orang itu dapat bergerak. Yang seorang bisa bergerak cepat, yang seorang lagi agak lamban. Yang cepat adalah Yan Jit, yang lamban adalah Kwik Tay-lok. Manusia semacam Kwik Tay-lok tak nanti akan pergi jika te­mannya sedang menghadapi mara bahaya, sekalipun kau mengusirnya dengan cambu­kan, atau memalang­kan golok di atas teng­kuknya, dia juga tak akan angkat kaki.. Hingga sekarang, Ang Nio-cu baru me­nyadari bahwa dirinya benar-benar sudah masuk perangkap. Tapi bagaimana mungkin ia bisa terjatuh dalam perangkap. ? Dia sama sekali tidak tahu, bahkan pe­rangkap macam apakah itu, dia sendiripun ti­dak sempat melihatnya. Didalam ruangan rumah, selalu ada salah satu sudut yang remang-remang, di sudut semacam ini biasanya selalu tersedia kursi. Pelan-pelan Ang Nio cu berjalan ke sana dan pelan-pelan duduk di atas kursi. Tiada orang yang menghalangi kepergian­nya, sebab hal ini tak ada perlunya. Lewat beberapa saat kemudian, tiba-tiba Ang Nio-cu berkata: "Ong Tiong, aku tahu kau selalu merupa­kan seseorang yang amat adil dan bijak­sana." "Dia memang selalu begitu !" sela Kwik-Tay-lok. Bile Kwik Tay-lok hadir dalam suatu pertemuan, maka kesempatan berbicara bagi Ong Tiong tak pernah banyak. "Oleh karena itu, terhadap diriku pun dia harus bertindak amat bijaksana." "Bagaimana baru dianggap bijaksana ?" "Barusan, aku telah membeberkan semua perangkap yang kupersiapkan, sekarang kau harus membeberkannya pula !" Sasaran pembicaraannya masih tetap Ong Tiong, kecuali Ong Tiong, dia tak pernah memandang ke arah orang lain. Sepasang mata Yan Jit sedang melotot, Kwik Tay-lok pun terpaksa harus mem­bung­kam dalam seribu bahasa. Lewat lama sekali, Ong Tiong baru ber­kata: "Tadi, kau berbicara mulai dari mana ?" "Dari aku memberi kesempatan kepadamu untuk berbincang-bincang dengan si ular ber­garis merah." "Tahukah kau mengapa aku mengajaknya memperbincangkan persoalan semacam itu?" "Aku tidak tahu !" "Tapi paling tidak seharusnya kau tahu akan satu hal, barang itu toh bukan aku yang mengambil." "Aku tahu !" "Oleh karena itu aku harus mencari tahu, siapakah diantara kalian bertiga yang telah mengambil barang-barang tersebut ?" kata Ong Tiong. "Oooh.... jadi kau mengucapkan beberapa patah kata itu kepada si ular bergaris merah tujuannya tak lain adalah untuk menyelidiki dirinya . . . ?" "Benar, andaikata dia yang mengambil barang-barang itu, maka dia tak akan ber­buat demikian" "Dari mana kau bisa tahu kalau orang itu bukan si kelabang besar ?" "Seandainya dia yang mengambil, tak nanti si kelabang besar itu akan menyerem­pet bahaya . . . orang yang memiliki harta sebesar beberapa ribu laksa tahil perak, bia­sanya takut mati sekali, bahkan atap rumah yang terjatuhpun kuatir kalau bakal menim­pa atas kepala sendiri" Ang Nio-cu tertawa paksa, lalu berkata: "Kenapa tidak kau katakan saja dengan kata yang lebih sederhana? Harta lebih ber­har­ga dari emas ? Aku pasti mengerti jika kau bilang begitu " "Orang yang mengetahui tempat penyim­panan harta karun itu hanya lima orang, bila tiga orang lainnya tak tahu, itu berarti ting­gal kau dan Cui lotoa." "Tapi, kau toh belum bisa memastikan di antara aku dan Cui lotoa, sebenarnya siapa­kah yang sebenarnya telah melarikan harta kekayaan tersebut ?" "Waktu itu aku masih belum berani me­mastikan, tapi aku sudah mempunyai pegangan, cepat atau lambat orang itu su­dah pasti akan dapat kutemukan." "Kau benar-benar memiliki keyakinan tersebut ?" "Yaa, pertama, aku tahu si ular bergaris merah bukan tandingan dari Cui lotoa, andai­kata dia berani melakukan suatu tin­dakan, maka orang itu akan mampus." "Ternyata penglihatanmu memang tepat sekali !" "Kedua, aku tahu diantara kau dan Cui­-lotoa, sudah pasti ada satu orang diantara­nya yang bakal mati." "Kenapa ?" "Sebab entah siapa pun yang telah meng­ambil barang-barang tersebut, sudah pasti dia tak akan membiarkan orang yang lain tetap hidup segar bugar." "Kenapa ?" "Karena seandainya diantara kami berlima masih ada seorang saja yang masih hidup, maka pasti dia tak akan bisa menikmati harta kekayaan yang besar jumlahnya itu dengan tenang, seka­rang dari lima orang berarti tinggal satu orang, inilah suatu ke­sempatan yang sangat baik se­kali baginya." Ang Nio-cu menghela papas panjang, gumamnya: "Yaa, kesempatan semacam itu memang terlampau baik." "Dia sudah menunggu sangat lama, de­ngan susah payah baru dijumpainya kesem­patan se­perti ini, tentu saja dia tak akan melepaskan­nya begitu saja." "Seandainya berganti dengan kau, sama juga kesempatan baik itupun tak akan kau le­paskan." "Yaa, apalagi dulu dia telah melimpahkan semua tanggung jawab tersebut di atas tubuh­ku, sekarang setelah menemukan diriku kem­bali, cepat atau lambat rahasia­nya itu tentu akan terbongkar juga, sekali­pun dia tak ingin membunuh orang lain, orang lain juga pasti akan membunuhnya." "Sebenarnya aku memang tak ingin me­nyaksikan mereka berhasil menemukan dirimu, tapi . . . . . . . . " Dia tertawa, suara tertawanya kede­ngaran amat memedihkan hati, kemudian melanjutkan: "Tapi dalam hati kecilku, akupun berharap sekali bahwa mereka bisa menemukan kau, agar akupun bisa melihat selama beberapa tahun ini, kau telah berubah menjadi seperti apa? Baikkah penghidupanmu selama ini?" Akhirnya Kwik Tay-lok tidak tahan juga, mendadak ia menimbrung: "Penghidupannya selama ini sangat ba­gus, sekalipun agak miskin, namun penghi­dupannya masih tetap riang gembira." Pelan-pelan Ang Nio-cu mengangguk, gumamnya: "Kalian semua memang sahabat karibnya, kalian memang sahabat-sahabat yang lebih se­jati kalau dibandingkan dengan sahabat-saha­batnya dulu." Setelah termenung sampai lama sekali, dia baru melanjutkan: "Kalau hitung pulang pergi, tampaknya se­jak tadi kau sudah menghitung bahwa pada akhir­nya pasti tinggal satu orang saja, juga telah menghitung dengan tepat kalau dia sudah pasti orang yang telah mengambil harta kekayaan tersebut." "Tentu saja, sebab perhitungan semacam ini pada hakekatnya sama sederhananya dengan hitungan satu tambah satu sama dengan dua." "Apakah kau sudah memperhitungkan sampai di situ ketika akan datang memenuhi janji?" "Kalau tidak begitu, mana mungkin kami melepaskannya pergi dengan perasaan lega?" sela Kwik Tay-lok. Ang Nio-cu menghela napas panjang. "Aaaai . . . . . . . seharusnya akupun bisa berpikir sampai ke situ! Seharusnya aku bisa melihat kalau kalian bukanlah semacam teman yang diam-diam ngeleyor pergi ketika melihat sahabatnya terancam ba­haya." "Mereka memang bukan!" Ong Tiong mengangguk. "Tapi ada beberapa hal yang tidak ku­pa­hami." "Kau boleh bertanya!" "Kau masuk perangkap dan tertawan, apa kah tindakan inipun merupakan suatu kese­ngajaan?" "Aku cuma tahu kalau di tempat itu tak mungkin akan muncul sebuah kuburan se­cara tiba-tiba." "Jadi kau sengaja membiarkan dirimu tertawan? Apakah kau tidak kuatir bila kami bunuh dirimu pada saat itu juga?" "Takutnya sih tetap rada takut." "Tapi, mengapa kau tetap melakukan­nya?" "Sebab telah kuduga, kalian tak nanti akan membunuhku dengan begitu saja, kalian sudah pasti mempunyai tujuan lain." "Sudah dapat kau tebak apakah tujuan­nya?" "Sekalipun belum begitu pasti, tapi aku tahu asal kalian punya tujuan maka aku tak akan dibunuh pada detik itu juga." "Karena itu pula kau menyuruh mereka menantimu di sini ?" "Benar !" "Kau mempunyai keyakinan untuk me­mancing kami datang kemari ?" "Hanya ada sedikit, tidak terlampau ba­nyak." "Tapi kau tetap melakukannya juga ?" "Bila seseorang hanya mau melakukan pe­kerjaan yang meyakinkan saja, maka tak sepo­tong pekerjaanpun yang berhasil dia lakukan." "Sebab di dunia ini memang tiada peker­jaan yang meyakinkan." "Kau menyuruh mereka menyembunyikan diri di sini, apakah tidak kuatir kalau belum apa-­apa jejak mereka sudah kami ketahui?" "Kesempatan semacam itu tipis sekali." "Kenapa ?" "Hal ini harus dibagikan dalam beberapa macam keadaan." "Katakan!" "Keadaan yang pertama adalah tiga orang berada bersama ditempat ini . . . . ." "Ehmm . . . . . . !" "Waktu itu dari tiga orang tersebut, pa­ling tidak ada dua orang diantaranya yang me­ngira harta karun itu kusembunyikan diko­long meja, tentu saja mereka tak akan membiarkan orang lain turun tangan men­dahuluinya. Seka­lipun ada orang hendak menengoknya, sudah pasti ada orang yang lainnya mencegah per­buatannya itu. Maka dalam keadaan seperti ini, mereka sudah pasti akan sangat aman." "Bagaimana pula keadaan ke dua ?" "Waktu itu sudah tinggal dua orang, mi­salnya saja kau dan Cui lotoa." "Tak usah dimisalkan lagi, kenyataan memang tinggal kami berdua " "Waktu itu, sudah pasti kau tak akan membiarkan Cui lotoa hidup terus. Sekali­pun dia ingin pergi memeriksanya, kau pasti akan turun tangan lebih dahulu, maka dalam keadaan beginipun mereka juga aman dan tidak terancam." "Kemungkinan ketiga sudah tentu ketika tinggal aku seorang bukan ?" "Benar !" "Jalan darahmu yang tertotok itu masih tertotok bukan?" "Betul !" "Seandainya kutemukan kalau mereka ber­sembunyi di situ, bukankah akupun ma­sih sang­gup untuk menyumbat mati mereka didalam sana ?" "Tapi kau toh sudah tahu kalau harta ka­run itu tidak disembunyikan di situ, mana mungkin tempat tersebut akan kau periksa ? Pada hakekatnya kau menaruh perhatian saja tidak, maka dalam keadaan begini, merekapun sangat aman." "Benarkah segala sesuatunya telah kau perhitungkan dengan begitu cermat dan te­pat?" "Tidak !" Setelah tertawa, lanjutnya: "Manusia punya kemauan Thian punya kuasa, siapa pun tak akan dapat memper­hitungkan segala sesuatunya tanpa meleset barang sedikitpun jua . . . ." "Tapi kau toh tetap menyerempet baha­ya itu ?" "Yea, sebab itulah satu-satunya jalan yang kumiliki, satu-satunya serangan tera­khir yang bisa kulakukan." Ang Nio-cu menghela napas panjang, ka­tanya sambil tertawa getir: "Nyali kalian benar-benar terlampau be­sar" "Nyali kami tidak terlalu besar, rencana kami juga tidak seteliti dan secermat kalian, bahkan tenaga yang kami milikipun sangat lemah." "Kalau dibandingkan dengan kalian, dalam per­tarungan ini seharusnya kami berada dipihak yang kalah." "Tapi dalam kenyataannya kalian menang". "Hal ini disebabkan karena kami memiliki semacam benda yang tidak kalian miliki." "Kalian punya apa ?" "Hubungan persahabatan yang sejati !" "Walaupun wujudnya tak bisa dilihat, tak bisa diraba, tapi kekuatan besar yang dimili­kinya tak akan pernah kalian bayangkan selamanya. . . . “ Ang Nio-cu sedang mendengarkan. Dia tak bisa tidak harus mendengarkan, sebab ucapan semacam itu belum pernah dia dengar sebelumnya. "Kami beradu jiwa, berani menyerempet bahaya, karena kami tahu bahwa diri sendiri bukanlah berdiri seorang diri." Sorot matanya dialihkan ke wajah Yan Jit dan Kwik Tay-lok, kemudian melanjutkan: "Bila seseorang walau berada dalam ke­adaan seperti apapun, bila dia tahu kalau di­sampingnya berdiri sahabat yang sejati, yang bersedia hidup bersama, mati bersama dengan dirinya, maka dengan segera dia akan berubah menjadi lebih berani dan lebih percaya pada diri sendiri." Ang Nio-cu menundukkan kepalanya, dia seakan-akan berubah menjadi jauh lebih tua. "Sebenarnya akupun menginginkan keper­gian mereka" kata Ong Tiong kembali, "tapi mereka cuma mengucapkan sepatah kata, maka akupun mengurungkan niatku itu !" "Apa yang mereka katakan ?" tak tahan Ang Nio-cu segera bertanya. "Mereka hanya memberitahukan kepadaku: bila kami ingin hidup, kami harus hidup ber­sama dengan riang gembira, bila ingin mati, maka kami harus mati bersama dengan riang gembira, entah mati entah hidup, sesungguhnya bukan sesuatu yang luar biasa !" Ucapan semacam itupun belum pernah di dengar oleh Ang Nio-cu. Hampir saja dia tak mau mempercayai­nya. Tapi sekarang mau tak mau dia harus memper­cayainya juga. Dia telah menjumpai tiga orang yang berada di hadapannya . . . . Seorang manusia yang penuh luka di tubuhnya, sampai untuk berdiripun sudah payah. Seorang manusia yang kurus kecil dan le­mah yang kelaparan juga keletihan. Sekalipun Ong Tiong sendiripun sama saja. Kalau dibilang cuma mengandalkan keti­ga orang itu saja, maka si ular bergaris merah, Cui-mia-hu dan Ang Nio-cu bisa dibikin mati, peristiwa tersebut pada hakekatnya tak bisa di terima dengan akal sehat. Tapi kejadian yang tak bisa diterima de­ngan akal sehat itu justru telah berubah men­jadi suatu kenyataan sekarang. Apa yang sebenarnya mereka andalkan ? Ang Nio-cu mendadak dia merasakan da­rah di dalam dadanya mendidih, hampir saja air matanya jatuh ber­cucuran. Entah sudah berapa lama dia tak pernah melelehkan air mata, hampir saja lupa bagai­manakah rasanya melelehkan air mata. Yan Jit mengawasi terus wajahnya tanpa berkedip, lambat laun sorot matanya menunjukkan perasaan simpatik, tiba-tiba dia bertanya: "Apakah kau belum pernah punya te­man?" Ang Nio-cu menggeleng. "Sudah pasti bukan karena sahabat tidak menghendaki dirimu, adalah kau sendiri yang tidak menghendaki teman " Yan Jit menambahkan. "Tapi aku ........." "Jika kau menginginkan orang lain ber­sungguh hati kepadamu, hanya ada satu hal yang bisa kau gantikan kepadanya." "Meng . . . . menggantikannya dengan apa?" "Dengan ketulusan hati serta kesung­guhan hatimu sendiri." Kwik Tay lok tidak tahan segera menim­brung pula: "Diantara kalian bertiga, asal ada sedikit saja ketulusan serta kesungguhan hati, maka hari ini kalian masih bisa hidup senang dengan riang gembira." Sesat tak akan menangkan kelurusan. Keadilan pasti dapat merontokkan keke-rasan. Kekuatan yang terjalin karena persahaba­tan dan kesetiaan, sudah pasti dapat menang­kan pula kekuatan buas yang ter­himpun karena persekongkolan dan kedeng­kian. Keadilan dan persahabatan sudah pasti akan selalu tertanam didalam hati manusia, ting­gal manusia itu sendiri, dapatkah dia menggali serta memanfaatkannya. Kesemuanya itu bukan suatu perlambang, atau suatu ibarat, semuanya bukan. Jika kalian sudah mendengarkan kisah dari Kwik Tay-lok dan Ong Tiong, segera akan ka­lian ketahui bahwa kata-kata bukan suatu iba­rat atau perlambang saja. Sekali­pun kalian tidak mendengarkan juga tak menjadi soal. Sebab di dunia yang luas ini setiap saat di setiap tempat akan dijumpai manusia- manusia seperti Kwik Tay-lok dan Ong Tiong. Asal kau bersedia untuk mencarinya de­ngan hati yang tulus serta kemauan yang jujur, maka sudah pasti kau akan temukan juga teman se­macam mereka itu. Musim semi telah tiba, fajarpun belum la­ma menyingsing. Lim Tay-peng berbaring di bawah jendela, jendela itu terbuka lebar, ketika ada angin berhembus lewat maka lama-lama terendus bau harum semerbak yang dibawa datang dari ke­jauhan sana . Ditengah memegang sejilid buku, tapi matanya sedang mengamati daun-daun hi­jau yang mulai bersemi kembali di atas da­han pohon. Sudah cukup lama dia berbaring di situ. Luka yang dia derita tidak separah Kwik Tay-lok, racun yang mengeram di tubuhnya juga tidak sedalam Kwik Tay-lok. Tapi Kwik Tay-lok sudah dapat membeli arak di kota , sedang dia masih harus ber­baring di atas ranjang. Karena obat penawar datangnya terlalu lambat. . Racun sudah menyerang sampai didalam isi perutnya, merusak kondisi badannya. "Yaa, memang begitulah penghidupan manusia, adakalanya beruntung ada kalanya pula tidak beruntung. Tapi dia tidak menggerutu. Dia telah memahami apa arti dari kebe­r­untungan serta ketidak beruntungan terse­but. Walaupun dia sedang sakit namun justru karena itu dia dapat merasakan pula sua­sana yang santai dan sepi dari sakitnya itu. Apalagi masih ada perawatan dan perha­tian dari teman-temannya . . . .. Ia menghela napas dan memejamkan mata. Pintu pelan-pelan dibuka orang, seseorang muncul dengan langkah yang amat pelan. Dia adalah seorang perempuan yang ber­pakaian sederhana, tidak berbedak atau bergincu dan kelihatan bersih sekali. Di tangannya ia membawa sebuah baki, di atas baki tampak semangkuk bubur serta dua macam sayur. Tampaknya Lim Tay-peng sudah tertidur, la pelan-pelan masuk ke dalam, meletak­kan baki itu dengan berhati-hati di meja, seperti kuatir kalau membangunkan Lim Tay-peng, kemudian pelan-pelan pula mengundurkan diri dari situ. Tapi setelah berpikir sebentar, dia masuk kembali dan mengangkat baki itu kembali, karena dia takut bubur yang dingin tak baik untuk orang yang sedang sakit. Siapakah perempuan itu? Cara kerjanya sungguh amat teliti dan sangat berhati-hati. Lapisan salju mencair, sinar matahari yang menyoroti seantero jagad terasa makin hangat dan kering. . Ditengah halaman depan tampak tiga lem­bar kursi rotan dan seperangkat alat bermain catur. Ong Tiong dan Yan Jit sedang bermain. Kwik Tay lok duduk disampingnya sambil menonton, sebentar-sebentar ia nampak beran­jak sambil berjalan bolak-balik tanpa tujuan, sebentar pula melongok keluar dinding pagar dan mengawasi pegunungan nun jauh di depan sana . Pokoknya dia tak pernah bisa duduk tenang. Bila menginginkan dia duduk tenang di situ, sambil bermain catur, kecuali kalau kakinya di­penggal sampai kutung, bila suruh dia duduk dengan tenang menyaksikan orang lain bermain catur, maka hakekatnya seperti menggorok lehernya. Sekarang biji catur Ong Tiong yang ber­warna putih itu menyumbat mati jalan ke­luar biji catur hitam, Yan Jit sambil meni­mang-ni­mang biji caturnya sedang merasa pusing kepala, dia tak tahu bagaimana ha­rus bertindak untuk menolong permainan­nya. Ketika dilihatnya Kwik Tay-lok hanya ber­jalan hilir mudik tiada hentinya, dengan mata melotot Yan Jit segera menegur: "Hei, dapatkah kau duduk sebentar de­ngan tenang ?" "Tidak dapat !" "Kau ribut melulu ditempat ini, bikin pikiran orang merasa kacau saja, bagai­mana mungkin aku bisa bermain catur de­ngan te­nang ?' keluh Yan Jit dengan gemas. "Sepotong katapun tidak kuucapkan, ka­pan sih aku bikin ribut ?" "Memangnya caramu sekarang bukan lagi bikin ribut ?" "Sekalipun cara ini bikin ribut, mengapa Ong lotoa tidak menegur diriku ?" "Karena aku yang hampir menangkan permainan catur ini." ucap Ong Tiong ham­bar. "Sekarang permainan belum selesai, siapa menang siapa kalah masih belum pasti." seru Yan Jit. "Sudah pasti!" Kwik Tay-lok menimbrung. Kontan saja Yan Jit melotot. "Aaaah, kau ini tahu apa ?" Kwik Tay-lok tertawa. "Sekalipun aku tidak mengerti soal ber­main catur, tapi aku cukup mengerti orang yang kalah bermain selalu mempunyai pe­nyakit yang kelewat banyak." "Penyakit siapa yang banyak ?" "Kau ! Maka orang yang bakal kalah ber­main catur nanti juga kau...." "Tepat sekali !" sahut Ong Tong sambil tertawa. Senyuman yang baru saja menghiasi ujung bibirnya itu mendadak berubah men­jadi kaku. Seorang perempuan sedang berjalan me­nelusuri sebuah jalan kecil yang berlapiskan batu, di tangannya membawa sebuah baki yang berisikan tiga mangkuk teh panas. Ong Tiong segera melengos ke arah lain dan tak sudi memperhatikan dirinya. Mangkuk teh pertama disodorkan perem­puan berbaju hijau itu kepadanya, dengan lem­but dia berkata: "Inilah air teh Hiang-pian yang paling kau sukai baru saja dibikin . . . . " Ong Tiong berlagak tidak mendengar. "Bila kau ingin minum air teh Liong-cing akan kugantikan sepoci untukmu" ucap pe­rem­puan berbaju hijau itu lagi. Ong Tiong masih juga tidak menggubris. Maka perempuan berbaju hijau itupun meletakkan cawan teh tadi di hadapannya kemu­dian bertanya lagi: "Tengah hari nanti kau ingin makan apa ?" Tiba-tiba Ong Tong bangkit berdiri lalu berjalan menjauhi dirinya . . . . . Memperhatikan bayangan punggungnya yang menjauh, perempuan berbaju hijau itu termangu-mangu, dia seperti merasa amat mu­rung dan sedih sekali. Kwik Tay-lok tidak tega, dia lantas ber­seru: "Bikin pangsit paling enak, cuma terlalu repot !" Saat itulah si perempuan berbaju hijau itu baru berpaling dan ketawa paksa. "Aaah. . .. . tidak repot, tidak repot, se­dikitpun tidak repot." Setelah meletakkan mangkuk air teh, pe­lan-pelan dia membalikkan badan dan pe­lan-­pelan beranjak pergi, baru dua langkah dia sudah tak tahan untuk berpaling dan memper­hatikan lagi diri Ong Tiong. Ong Tiong tetap berdiri ditempat kejau­han, seakan-akan dia tidak merasakan ke­hadiran perempuan itu. Perempuan berbaju hijau itu menunduk­kan kepalanya dan pergi, meski dia merasa amat sedih, namun sama sekali tidak menunjukkan wajah menggerutu. Bagaimanapun sikap Ong Tiong terhadap dirinya, dia tetap halus, lembut dan pasrah. Apa pula yang sebenarnya sedang dia rencanakan. Kwik Tay-lok memperhatikan bayangan punggungnya sampai lenyap dibalik rumah, kemudian ia baru menghela napas panjang seraya bergumam: "Cepat benar perubahan dari orang ini!" "Ehmm !" Yan Jit mendesis. "Orang lain bilang, alam dunia bisa dirubah, watak manusia sukar dirubah, aku lihat ucapan tersebut kurang begitu cocok. Bukan­kah orang itu sama sekali telah terjadi peru­bahan besar ?' "Karena dia adalah seorang perempuan!" "Perempuan juga orang, bukankah per­kataan tersebut seringkali kau katakan ?" Yan Jit menghela napas panjang. "Bagaimana juga, perempuan selamanya berbeda dengan kaum lelaki . . . ." katanya, "Oooooooh . . . . . ?" "Demi seorang lelaki yang disukainya, seorang perempuan bisa merubah sama sekali dirinya. Sedangkan lelaki bila mencintai seorang perempuan, sekalipun bisa terjadi pe­rubahan, perubahan tersebut paling-paling ha­nya terjadi diluarannya saja." Kwik Tay-1ok berpikir sebenar, lalu ujarnya: "Ucapan itu kedengarannya sedikit masuk diakal." "Tentu saja masuk akal . . . . . . apa yang kukatakan memang selalu masuk di akal." Kwik Tay-lok segera tertawa. Yan Jit segera melotot besar, serunya: "Apakah yang kau tertawakan ? Kau ti­dak mengaku ?" "Aku mengaku, apapun yang kau katakan, aku tak pernah mengatakan tidak setuju." Inilah yang dinamakan benda yang satu lebih tinggi daripada benda yang lain, tahu hanya pantas mendampingi sayur. Kwik Tay-lok, lelaki yang tidak takut langit tidak takut bumi, tapi begitu melihat Yan Jit, dia benar-benar kehabisan akal. Saat itulah Ong Tiong telah berjalan balik dan duduk. Mukanya masih hijau membesi. Kwik Tay-lok segera berseru: "Orang lain toh bermaksud baik untuk memberi air teh untukmu, dapatkah kau ber­sikap lebih baik sedikit kepadanya ?" "Tidak dapat !" "Apakah kau benar-benar marah setiap kali bertemu dengannya ?"' "Hmm!" "Kenapa ?" "Hmm !” "Sekalipun dulu Ang Nio-cu tidak baik, tapi sekarang dia sudah bukan merupakan Ang Nio-cu lagi, apakah tidak kau lihat bahwa dia sama sekali telah berubah ?" "Benar !" sambung Yan Jit, 'sekarang orang yang bertemu dengannya, siapa pula yang bisa menduga dia adalah Ang Nio-cu yang suka menolong orang dalam kesusa­han ?" Yaa, memang tak akan ada yang me­nyangka. Dia begitu berhati-hati, begitu cermat, lembut dan penuh kasih sayang, siapa yang akan menyangka kalau perempuan baju hi­jau yang begitu sederhana tersebut tak lain adalah Ang Nio-cu ? "Bila ada yang bisa menduganya, aku rela merangkak satu lingkaran di atas tanah." seru Kwik Tay-lok. "Aku juga bersedia merangkak !" Yan Jit menambahkan. Ong, Tiong masih menarik muka dan ber­wajah kecut, ujarnya dingin: "Bila kalian ingin merangkak di tanah, urusan tersebut adalah urusan pribadimu sen­diri, aku tak mau tahu." "Tapi kau. . . " seru Yan Jit. "Hai, kau sudah mengaku kalah belum dalam permainan catur ini ?" tukas Ong Tiong. "Tentu saja tidak mengaku !" "Baik, kalau begitu tak usah banyak ber­bicara lagi, hayo cepat lanjutkan." Kwik Tay-lok menghela napas panjang, gumamnya: "Kulihat orang ini berpenyakit lebih besar daripada Yan Jit, kalau dia tidak kalah dalam permainan catur itu, urusan baru dibilang aneh sekali." Ternyata dalam permainan tersebut me­mang Ong Tiong yang menderita kekalahan. Sebenarnya dia sudah menutup buntu se­mua jalan lewat biji catur Yan Jit, tapi entah mengapa, ternyata dia telah dikalahkan se­cara tragis. Menyaksikan catur di hadapannya, Ong Tiong tertegun untuk beberapa saat lama­nya, tiba-tiba dia berseru : "Mari kita bermain satu babak lagi !" "Aaah . . . . . . tidak !" "Kau harus main, aku tidak puas kenapa aku kalah dalam permainan babak ini ?" "Sekalian bermain sepuluh kali lagi, kau tetap yang kalah." "Siapa yang bilang ?" "Aku yang bilang." sahut Kwik Tay-lok ce­pat, "karena bukan saja kau punya penya­kit, bahkan penyakit itu tidak kecil." Ong Tiong segera beranjak dan siap pergi. Kwik Tay-lok segera menarik tangannya sambil berteriak: "Setiap kali kami menyinggung soal ini, mengapa kau selalu berusaha untuk melari­kan diri ?" "Kenapa aku harus kabur ?" "Itu harap ditanyakan kepadamu sendiri" "Benar!" sambung Yan Jit, "bila sese­orang tak pernah melakukan kesalahan, entah apapun yang diucapkan orang lain, dia tak perlu untuk melarikan diri !" Ong Tiong melotot sekejap ke arahnya, tiba-tiba ia menjatuhkan diri keras-keras, serunya: "Baik, kalian kalau ingin berbicara, mari kita bicarakan sejelas-jelasnya, lihat saja nanti perbuatan salah apakah yang telah kulakukan. . .” "Aku ingin bertanya lebih dulu kepada­mu, siapa yang menahan dia di sini . . . . ?" "Aku tidak perduli siapakah orang itu, pokoknya bukan aku." "Tentu saja bukan kau, juga bukan aku, bukan juga Yan Jit." Tiada orang yang menahan Ang Nio-cu, adalah dia sendiri yang rela untuk tinggal di situ. Sebenarnya dia bisa saja pergi mening­galkan tempat itu. Seandainya berganti dengan orang lain, berada dalam keadaan seperti ini mungkin dia akan memaksanya untuk mengatakan dimana harta karun itu disimpan, kemudian besar ke­mungkinannya dia akan dibunuh. Tapi Kwik Tay-lok sekalian bukan manu­sia semacam itu. Mereka tak sudi membunuh seseorang yang sudah tidak memiliki kemampuan un­tuk memberikan perlawanan, mereka le­bih-lebih tak ingin membunuh seorang pe­rempuan. Terutama sekali membunuh seorang pe­rem­puan yang bukan saja tidak memiliki kemam­puan untuk melawan, diapun sudah menyesali perbuatan-perbuatannya dimasa lalu. Setiap orang dapat melihat bahwa Ang Nio cu sudah tersentuh hatinya, tersentuh oleh pe­rasaan persahabatan mereka yang tulus dan ber­sungguh-sungguh. Diapun mengerti peristiwa paling tragis dan paling menyiksa yang ada di dunia ini bu­kan tak punya uang, melainkan tak punya teman. Mendadak dia merasakan bahwa apa yang telah dilakukannya selama ini tak lebih ha­nya mendatangkan kesepian dan kesendi­rian yang tiada taranya . . . . . . Karena sekarang, dia sudah merupakan seorang perempuan yang telah berusia tiga puluh tahunan. Ia sudah dapat meresapi betapa tersiksa dan menakutkannya hidup seorang diri dan hidup kesepian. Diapun mengerti segenap harta kekayaan yang ada di dunia ini, tak nanti bisa meme­nuhi kekosongan pikiran dan perasaan dari seseorang. Teori semacam itu mungkin tak bisa dipa­hami oleh seorang gadis yang baru berusia de­lapan-sembilan belas tahunan, tapi cukup jelas bagi seorang perempuan macam dia. Itulah sebabnya Ang Nio-cu tidak pergi. "Kau pernah bilang, penghasilan yang berhasil kalian peroleh selama banyak tahun itu tak sedikit jumlahnya." demikian Kwik Tay­-lok berkata. "Ehmmm!" Ong Tiong mendehem. "Kalian juga pernah bilang, barang siapa memiliki kekayaan sebanyak itu, maka dia da­pat merasakan suatu kehidupan yang mewah dan menyenangkan bagaikan peng­hidupan dalam istana kaisar." "Hmmm ........." "Tapi dia lebih suka meninggalkan penghi­dupan yang serba mewah bagaikan kehi­dupan seorang kaisar, untuk tetap tinggal di sini mela­yani dirimu. Gilakah dia?" "Tentu saja dia belum gila, apalagi seka­lipun gila, juga tak bisa melakukan per­buatan semacam ini." sambung Yan Jit. "Oleh sebab itu sekalipun seorang yang bodoh juga seharusnya memahami maksud hatinya, seharusnya bersikap lebih baik kepadanya." Ang Nio-cu bukannya tak pernah pergi dari rumah itu. Dia pernah pergi selama lima-enam hari lamanya. Ketika balik kembali ke sana , dia hanya membawa sebuah bungkusan kecil. Didalam bungkusan tersebut hanya ada beberapa stel pakaian berwarna hijau dan beberapa macam benda lainnya. Itulah satu-satunya harta kekayaan yang masih tersisa. Bagaimana dengan lainnya? Ternyata harta karun yang berhasil di­perolehnya dengan pertaruhan nyawa itu telah didermakan untuk menolong para rakyat di sepanjang tepi sungai Huang-ho yang sedang tertimpa bencana alam. Tindakan yang diambilnya itu benar-benar di luar dugaan dan sukar dipercaya oleh sia­pa­pun. . Paras muka Ong Tiong masih berwarna membesi. Kembali Kwik Tay-lok berkata: "Apakah sekarang kau masih belum mau mempercayai dirinya?" "Bahkan secara khusus kami telah pergi menceritakan kabar tentang dirinya, apakah kau mengira kami sedang membantunya untuk, membohongi dirimu !" seru Yan Jit pula. "Apakah sekarang kau belum melihat apa sebabnya dia sampai berbuat kesemuanya itu?" "Yaa, tentu saja dia sedang menebus dosa, Tapi yang paling penting lagi adalah karena dia ingin membuatmu terharu, agar kau mau berpaling kembali kepadanya" "Seandainya ada orang bersikap demikian kepadaku, bagaimanapun besarnya kesa­lahan yang pernah 'dia lakukan di masa lalu, aku pasti akan memaafkan dirinya." Ong Tiong hanya membungkam, selama ini dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Lewat lama kemudian, dia baru mendo­ngakkan kepalanya seraya mendesis: "Sudah selesaikah pembicaraan kalian ?" "Semua yang harus diucapkan telah sele­sai kami katakan !" Kwik Tay-lok mengang­guk. "Bahkan perkataan yang tidak seharusnya kami katakanpun sudah kami katakan, sekarang tergantung pada dirimu sendiri, apa yang hendak kau lakukan." "Kalian menyuruh aku berbuat apa ? Ber­lutut dan memohon kepadanya agar mau kawin dengan diriku.?" "Itu mah tak perlu, cuma saja . . . . cuma saja . . . .' "Cuma saja sikapmu kepadanya tolong sedikitlah lebih baikan." lanjut Yan Jit. Ong Tiong memandang sekejap ke arah Kwik Tay-lok, kemudian memandang pula ke­arah Yan Jit, tiba-tiba dia menghela napas panjang sembari bergumam: "Kalian sangat baik, sangat baik . .” Belum selesai ucapan tersebut diutarakan, dia sudah bangkit berdiri dan berjalan pergi. Kali ini dia pergi dengan sangat lambat, tapi Kwik Tay-lok malahan tidak mencegah­nya, sebab Ong Tiong jarang sekali menghela napas panjang . . . . . SANG SURYA lambat laun makin me­ninggi dan meninggalkan bayangan tubuh yang memanjang di atas tanah. Punggungnya tampak sedikit membung­kuk, seolah-olah di atas pundaknya telah diberi beban yang berat sekali. Kwik Tay-lok serta Yan Jit belum pernah menyaksikan keadaannya semacam itu, men­dadak merekapun merasakan hati sendiri turut menjadi berat dan gundah. Entah berapa lama sudah lewat, menda­dak mereka mendengar suara langkah kaki yang sangat ringan berkumandang datang ketika mendongakkan kepala, tampak Ang Nio-cu sudah berdiri te­pat di hadapan mereka. Sambil tertawa paksa Kwik Tay-lok segera berkata: "Duduk, duduk, silahkan duduk !" Ang Nio-cu segera duduk, diangkatnya cawan teh yang diberikan kepada Ong Tiong tadi dan meneguknya setegukan, kemudian pelan-pelan meletakkannya kembali ke meja, se­telah itu, ujarnya: "Apa yang barusan kalian bicarakan, te­lah kudengar semua dengan sejelas-jelasnya." "Oooh......" Kecuali berkata "Oooh" Kwik Tay-lok tak tahu apa yang harus dibicarakan lagi ....... Dengan suara pelan kembali Ang Nio cu. "Aku merasa berterima kasih sekali atas kebaikan kalian terhadap diriku, akan tetapi...." Kwik Tay lok dan Yan Jit sedang menunggu dia berkata lebih lanjut: Lewat lama sekali, Ang Nio-cu baru melanjutkan: "Tapi hubunganku dengannya, tak nanti akan kalian pahami." Baik Kwik Tay-lok maupun Yan Jit, kedua- duanya tidak menunjukkan pendapat apa-apa. Tentu saja mereka tak bisa mengatakan kalau dirinya mengetahui jelas urusan orang lain, siapapun tak akan berkata demikian. Ang Nio-cu menundukkan kepalanya, ke­mudian meneruskan: "Dulu, sebenarnya . . . . . sebenarnya kami sangat baik sekali, yaa sangat balk sekali . . . " Suaranya kedengaran agak sesenggukan, setelah menghembuskan napas panjang, lanjutnya: "Kali ini aku tetap tinggal di sini, seperti juga apa yang kalian katakan, aku berharap dia bisa berubah pikiran dan melangsungkan penghidupan seperti dulu lagi. "Benarkah kau sangat merindukan kem­balinya penghidupan seperti sedia kala?" tak ta­han Kwik Tay lok bertanya. Ang Nio cu mengangguk, jawabnya de­ngan sedih: "Tapi sekarang aku baru tahu, kejadian yang sudah lewat telah lewat, seperti masa re­maja seseorang, setelah pergi dia tak akan kem­bali lagi untuk selamanya." Berbicara sampai di situ, tak tahan air matanya seperti hendak meleleh keluar. Tiba-tiba Kwik Tay-lokpun merasakan hati­nya menjadi kecut bercampur sedih, dia seperti hendak berbicara tak tahu apa yang musti diucapkan. Ditatapnya wajah Yan Jit , ia saksikan mata Yan Jit pun sudah berubah menjadi merah. Dulu, walaupun Ang Nio-cu pernah men­celakai mereka, menyergap mereka, tapi seka­rang mereka telah melupakannya, mereka hanya tahu bahwa Ang Nio-cu adalah seorang perem­puan bernasib malang yang selalu ingin berjalan kembali ke jalan yang benar. Dalam hati mereka hanya ada perasaan simpatik, tiada perasaan dendam ataupun sakit hati. Tiada orang lain yang begitu gampang melupakan dendam sakit hati orang lain seperti Kwik Tay-lok sekalian. Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Ang Nio-cu berhasil juga menahan lelehan air matanya, dengan suara pelan dia ber­kata: "Tapi seandainya kalian menganggap dia berhati keras seperti baja, maka anggapan kalian itu keliru besar. Semakin kasar dia bersikap begitu kepadaku, hal ini berarti pula dia tak bisa melupakan perasaan kita dimasa lalu." Tiba-tiba Yan Jit mengangguk. "Aku mengerti !" katanya. Dia benar-benar mengerti. Hubungan an­tara manusia dengan manusia kadangkala memang begitu sensitip. Semakin mendalam umat manusia saling mencelakai, kadang kala cinta kasih yang tertanam dihati mereka justru makin men­dalam. Dengan suara lembut Ang Nio-cu berkata lebih lanjut: "Bila dia bersikap baik, bersikap sungkan kepadaku justru hatiku malah merasa sedih se­kali." "Aku mengerti !" kata Yan Jit dengan lem­but. "Justru karena dahulu ia terlalu baik ke­padaku, terlalu bersungguh hati, maka dia baru merasa amat sakit hati karena meng­anggap aku sudah membuatnya sangat menderita itulah se­babnya dia merasa be­gitu mendendamnya ke­padaku." "Mana mungkin dia bisa membencimu ?" Ang Nio-cu tertawa sedih, ujarnya: "Semakin besar bencinya kepadaku, aku malahan semakin gembira, sebab andaikata dulu ia tidak sungguh-sungguh baik kepada-ku ?" Akhirnya Kwik Tay-lok manggut-manggut. "Aku mengerti” katanya. "Seperti misalnya kau mengorek muka se­seorang dengan pisau, semakin dalam kau menggoresnya muka codet yang membekas di­ atas wajah pasti semakin dalam pula bahkan mungkin tak akan pulih kembali seperti sedia kala." Setelah berhenti sebentar dengan sedih dia melanjutkan: "Bekas pisau yang berada dihati sese­orang pun sama saja, oleh karena itu aku tahu bahwa hubungan kami selamanya tak bisa pulih kembali seperti sedia kala, sema­kin secara di­paksakan kami dapat berkum­pul kembali, da­lam hati masing-masing pasti terdapat selapis penyekat yang memisahkan kami berdua." "Tapi.... paling tidak kalian toh masih bisa menjadi teman." "Teman . . . ?" Suara tertawanya makin mengenaskan, lanjutnya: "Siapapun itu orangnya, asal terdiri dari dua orang maka mereka kemungkinan besar dapat berteman, tapi bila dulunya mereka pernah saling mencinta, maka jangan harap mereka dapat menjadi teman lagi. Bukan­kah begitu?" Terpaksa Kwik Tay-lok hanya mengakui­nya. Mendadak Ang Nio-cu bangkit berdiri, lalu katanya lagi: "Tapi bagaimanapun juga, kalian adalah teman-temanku, selama hidup aku tak akan melupakan kalian." Sekarang Kwik Tay- lok baru melihat ka­lau di tangannya menenteng sebuah bung­kusan kecil, dengan wajah berubah serunya: "Kau hendak pergi ?" "Bila kupaksakan diri untuk tinggal di sini, bukan saja dia akan merasa sedih sekali, aku­pun akan sangat menderita, maka sete­lah kupikirkan kembali, maka kuputuskan lebih baik pergi saja." "Tapi, apakah kau .....kau sudah mempu­nyai rencana pergi ke mana ?" "Aku belum mempunyai rencana ." Tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara, dengan cepatnya dia menyambung lebih lanjut: "Tapi kau tak usah kuatir, bagi orang se­macam diriku ini masih banyak tempat yang bisa kukunjungi, oleh sebab itu demi aku, juga demi dia, lebih baik jangan mengha­langi kepergianku. Kwik Tay-lok memandang ke arah Yan Jit. Sedang Yan Jit sedang berdiri ter­mangu- mangu.. Ang Nio-cu memandang sekejap ke arah mereka, sinar matanya penuh memancarkan rasa kagum, ujarnya dengan lembut: "Seandainya kalian benar-benar meng-ang­gap diriku sebagai teman, kuharap kalian ber­sedia untuk mengingat-ingat per­kataan ini." "Katakanlah !" Ang Nio-cu memandang ke tempat kejau­han, kemudian pelan-pelan berkata: "Yang paling sulit di dunia ini bukan soal nama juga bukan soal harta kekayaan, tapi hubungan perasaan antara manusia dengan manu­sia. Bila kau berhasil mendapatkannya, maka harus kau sayangi hubungan tersebut dengan sebaik-baiknya, jangan sampai merugikan orang lain, jangan pula merugi­kan diri sendiri....." Suaranya makin lama semakin rendah, semakin lirih lanjutnya: 'Sebab hanya seseorang yang pernah mera­sakan kehilangan rasa cinta yang akan memahami betapa berharganya rasa cinta tersebut, dia baru bisa memahami kesepian serta penderitaan se­seorang yang kehila­ngan rasa cinta ....... Sepasang mata Yan Jit berubah menjadi merah, tiba-tiba dia berkata: "Bagaimana dengan kau ? Dulu, apakah kaupun melayaninya dengan cinta kasih yang setia ?" Ang Nio-cu termenung sampai lama sekali, kemudian baru ujarnya: "Aku sendiripun tak bisa mengatakannya secara jelas." "Dan sekarang ?" "Aku hanya tahu, sejak dia meninggalkan aku, setiap saat aku selalu teringat akan diri­nya, aku ..... sudah mencari banyak orang, tapi tak seorangpun yang bisa meng­gantikan kedudukannya dalam hatiku." Belum habis perkataan itu diucapkan, mendadak ia menutupi wajahnya dengan tangan sendiri lalu lari meninggalkan tempat itu. Kwik Tay-lok ingin maju ke depan untuk menghalanginya. Tapi Yan Jit segera mencegahnya, dia berkata dengan sedih: "Biarkan saja dia pergi !". "Biarkan dia pergi dengan begitu saja ?" "Yaa, kalau dibiarkan pergi mungkin ke­adaan lebih baik, jika tidak pergi mungkin ke­dua belah pihak malah akan merasa lebih men­derita dan tersiksa." "Aku kuatir dia bisa . . . . . bisa . . . " "Jangan kuatir, dia tak akan melakukan sesuatu perbuatan yang mengambil kepu­tusan pendek." "Darimana kau bisa tahu ?" "Sebab dia sudah tahu sekarang bahwa Ong lotoa menaruh perasaan serius kepadanya, hal ini sudah lebih dari cu­kup......" "Sudah lebih dari cukup?" "Paling tidak sudah cukup buat seorang perempuan untuk melanjutkan hidupnya." Sepasang matanya telah berkaca-kaca, de­ngan pelan katanya lebih lanjut: "Dalam kehidupan seorang perempuan, asal ada seorang lelaki yang benar-benar mencintai­nya, maka penghidupannya di dunia ini boleh dianggap sebagai suatu penghidupan yang tidak sia-sia." Kwik Tay-lok menatapnya lekat-lekat, lama, lama kemudian dia baru berkata: "Tampaknya kau cukup banyak mema­hami perasaan perempuan !" Yan Jit segera melengos ke arah lain dan mengalihkan sorot matanya memandang jauh ke depan sana . Langit biru, sang surya memancarkan ca­haya keemas-emasannya ke seluruh permu­kaan tanah. Di bawah cahaya sang surya yang indah, mendadak tampak serentetan cahaya api ber­warna merah tua meluncur ke tengah udara dan memancar ke empat penjuru. . Dengan kening berkerut Yan Jit segera bergumam: "Heran, dalam keadaan seperti ini, menga­pa ada yang bermain kembang api?" Ketika Yan Jit berpaling, maka terlihatlah Ong Tiong sedang berdiri di bawah wuwu­ngan rumah sambil memperhatikan kem­bang api itu. Ketika angin berhembus lewat, kembang api yang berwarna merah darah itupun segera menyebar ke empat penjuru. "Pokoknya kalau orang lagi gembira, se­tiap saat dia bisa melepaskan kembang api, se­dikitpun tak ada yang perlu diherankan." ucap Kwik Tay-lok cepat. Yan Jit seperti lagi termenung, kemudian gumamnya pula: "Apakah seperti juga seseorang yang se­tiap saat setiap waktu dapat menaikkan layang-layang ?" Kwik Tay-lok tidak mendengar dengan je­las, baru saja dia bermaksud hendak berta­nya apa yang dia katakan ....... Mendadak Ong Tiong telah menyerbu ke hadapan mereka sambil berseru: "Dimana dia ?" Yang dimaksudkan "dia" sudah barang tentu Ang Nio cu. "Dia sudah pergi." jawab Kwik Tay-lok, "Karena dia merasa bahwa kau . . . " "Kapan perginya ?" tukas Ong Tiong. "Barusan. . . . ." Baru mendengar kata itu, Ong Tiong su­dah melompat ke udara dan sekali berkele­bat melewati dinding pekarangan. Melihat itu, Kwik Tay-lok segera tertawa. "Ternyata dia masih begitu baik kepada-nya, sesungguhnya ia tak perlu pergi dari sini." Sambil menggelengkan kepalanya dan tertawa, lanjutnya: "Heran, mengapa perempuan selalu suka banyak curiga?" Paras muka Yan Jit sedikitpun tidak dihiasi senyuman, malah ujarnya dengan suara dalam : "Kau mengira kembang api itu cuma dipa­sang sebagai mainan ?" "Memangnya bukan ?" Yan Jit menghela napas panjang, sahut­nya: "Tampaknya kau benar-benar tidak mengerti urusan tentang segala permainan busuk yang ada di­dalam dunia persilatan." "Aku memang bukan seorang jago kawa­kan." "Seandainya kita hendak menghadapi se­seorang, kau berada di sini menunggu dia, se­dang aku berada di bawah bukit, jika kau su­dah memperoleh berita, dengan cara apakah kau memberi kabar kepadaku ?" "Tidak mungkin !" ''Tidak mungkin? Apa maksudmu?" "Maksudnya, keadaan semacam ini, tak mungkin bisa terjadi." "Kenapa ?" "Sebab bila kau berjaga-jaga di bawah bukit, maka aku pasti berada di bawah bukit juga " Dari balik mata Yan Jit segera terpancar keluar sinar mata yang amat lembut, tapi mu­kanya dengan membesi berseru: "Sekarang kita sedang berbicara serius, dapatkah kau berbicara agak serius sedikit?" "Dapat !" Setelah berpikir sebentar, dia baru melanjutkan: "Jarak dari atas gunung dengan bawah gunung tidak dekat, sekalipun aku berte­riak-teriak, belum tentu kau akan mende­ngarnya." "Pintar, pintar, kau memang benar-benar sangat pintar" kata Yan Jit dingin. Kwik Tay-lok tertawa lebar, setelah ber­pikir sebentar, dia baru berkata: "Aku toh bisa menyuruh orang untuk memberi kabar kepadamu." "Andaikata tiada orang lain ?" "Aku sendiri yang akan turun gunung." Yan Jit mendelik besar, sambil cemberut serunya: "Aku heran, sebetulnya isi benakmu itu apa? Rumput atau kayu ?" "Kecuali rumput dan kayu, aku masih memiliki akal muslihat yang bisa membang­kitkan kemarahanmu" kata Kwik Tay-lok sambil ter­tawa, "sebab aku selalu merasa, bila kau lagi marah maka tampangmu persis seperti seorang nona cilik yang berusia tu­juh-delapan belas tahunan." Ia tidak membiarkan Yan Jit buka su­ara, kembali ucapnya: "Padahal aku sudah memahami maksud­mu, kau menganggap kembang api itupun persis se­perti layang-layang, yakni tanda rahasia yang dipakai orang persilatan untuk menyampaikan kabar." Yan Jit masih melotot besar, lewat lama kemudian dia baru menghembuskan napas pan­jang. "Aaaai suatu ketika, aku benar-benar bakal mati karena mendongkol." Pada saat itulah tiba-tiba meluncur kem­bali kembang api dari bawah bukit sana . Dengan wajah berubah menjadi amat se­rius, Kwik Tay-lok berkata: "Menurut pendapatmu, ada jago persi­latan yang telah berkunjung kemari?" "Bahkan bukan cuma satu orang" Yan Jit menambahkan. "Kau menganggap mereka datang untuk menghadapi Ang Nio cu ?" "Aku tidak tahu, tapi Ong lotoa sudah pasti berpendapat demikian, sebab itu dia memburu ke sana ." Paras muka Kwik Tay-lok agak berubah, katanya kemudian: "Kalau memang begitu, apa pula yang se­dang kita tunggu di sini ?" "Aku masih harus merundingkan satu hal denganmu." "Soal apa ?" "Kali ini, dapatkah kau berdiam di sini saja, tak usah turut aku, biarkan aku pergi seorang diri......" Belum habis dia berkata, Kwik Tay-lok. sudah menggelengkan kepalanya berulang tali. "Tidak bisa !" "Bila kita pergi semua, siapa yang akan berada di sini menemani siau-Lim ?" seru Yan Jit dengan kening berkerut. Tentu saja mereka tak dapat meninggal­kan Lim Tay-peng seorang diri. Setelah memperoleh pelajaran yang cu­kup lumayan dimasa lalu, sekarang mereka selalu bertindak sangat berhati-hati, entah dalam menghadapi persoalan apapun. Kwik Tay-lok termenung sejenak, kemu­dian berkata: "Kali ini, dapatkah kau tinggal di sini, biar aku saja yang pergi ?" "Tidak bisa !" Yan Jit segera menggeleng­kan kepalanya berulang kali. "Kenapa ?" Tiba-tiba suara Yan Jit berubah menjadi lembut sekali, sahutnya: "Lukamu belum sembuh betul, apalagi kaupun orangnya nekad setengah mati, be­lum sampai lukanya sembuh, diam-diam sudah ngeloyor turun gunung minum arak....." "Siapa yang bilang aku ngeloyor pergi se­cara diam-diam. Memangnya sewaktu pu­lang aku tidak membawa arak ..........” "Perduli bagaimanapun juga, pokoknya sekarang kau masih belum boleh bertarung de­ngan orang lain.'' kata Yan Jit sambil menarik muka. "Siapa yang bilang?" "Aku yang bilang tidak puas." seru Yan Jit. "Aku... . . . aku. . . . " "Kalau kau tidak puas, bagaimana kalau berkelahi dulu denganku ?" Kwik Tay-lok segera merentangkan ta­ngannya sambil tertawa getir. "Siapa bilang aku tidak puas ? Aku puas­nya setengah mati." Sambil merentangkan kembali papan ca­tur gumamnya: "Cepatlah pergi, aku akan mencari siau-Lim untuk diajak bermain catur, kebe­tulan sekali permainan catur kencing an­jingnya masih agak seimbang dengan kepandaianku." Yan Jit memperhatikan dia berjalan lewat, sorot matanya kembali berubah menjadi lem­but sekali, selembut angin musim semi yang mencairkan lapisan salju. Sekarang adalah musim semi. Musim semi adalah musim yang paling in­dah untuk muda mudi. Musim semi bukan musimnya orang mem­bunuh orang. Musim semi lebih cocok untuk mende­ngarkan kicauan burung dan bisikan syahdu, bukan mendengar cerita jeritan ngeri yang memilukan hati. Tapi pada saat itulah mendengar suara jeritan ngeri. Suara jeritan seseorang yang hampir men­dekati ajalnya. Di ujung golok selamanya tak pernah ada musim semi. Ditengah genangan darah juga tidak ada. Seseorang tergeletak ditengah genangan darah, napasnya telah berhenti, jeritan ngeri menjelang saat kematiannya juga telah pu­tus. Golok masih digenggamnya erat-erat. Sebilah golok kepala setan yang amat ta­jam, buas dan berat. Sembilan orang dengan sembilan bilah golok. Sembilan orang manusia, sambil meng­genggam goloknya sedang mengerubuti Ang Nio-cu. Sembilan orang manusia baju hitam yang kekar, gesit dan bersinar mata buas . . . . seseorang diantaranya terkapar di atas genangan da­rah. Ang Nio-cu sedang memperhatikan mereka, wajahnya kembali menunjukkan senyuman genitnya yang khas, jari tangan­nya yang len­tik sedang menuding ke tengah genangan da­rah, lalu tegurnya sambil ter­tawa: "Dia adalah saudara ke berapa?" Tujuh orang itu menggertak giginya ken­cang, hanya seorang lelaki baju hitam yang paling kurus yang menjawab: "Lo-pat!" "Bagus sekali, orang pertama yang mam­pus duluan adalah lo-liok, kemudian loji, lo-kiu, lo sip, ditambah lo-pat . . . . aaaaaai, tiga belas jago golok besar, kini tinggal de­lapan orang " "Betul, tiga belas saudara kami sudah ada lima orang yang tewas ditangan kalian." Dari tenggorokannya segera berkuman­dang suara raungan seperti suara binatang, kemudian bentaknya: "Tapi delapan orangpun masih lebih dari cukup untuk mencincang tubuhmu sehingga hancur berkeping keping!" Ang Nio-cu segera tertawa, suara terta­wanya merdu bagaikan suara keleningan. Dari antara delapan orang itu, ada tiga orang diantaranya yang tanpa sadar mundur setengah langkah ke belakang. Kembali Ang Nio-cu tertawa merdu, kata­nya: "Perempuan cantik baru kelihatan keinda­hannya bila masih segar bugar, apakah ti­dak terlampau sayang bila perempuan se­cantik dan sesegar aku ini dicincang sehing­ga hancur berkeping-keping ?" Dengan biji matanya yang jeli dia mengerling sekejap ketiga orang yang mun­dur ketakutan itu, kemudian dengan genit katanya. "Tentunya kalian juga tahu apakah kegunaanku, kenapa tidak diberitahukan kepada saudara saudaramu? Kalian benar-benar egois .. kalau orang mati tak dapat berbicara, memangnya kalian juga tak bisa?" Paras muka ke tiga orang itu berubah he­bat, mendadak mereka ayunkan goloknya sam­bil menubruk ke depan. "Tahan!" tiba-tiba lelaki kurus itu menghardik. Jelas dia adalah pemimpin atau lotoa dari ketiga belas jago tersebut, begitu bentakan berkumandang, serentak ketiga orang itu meng­hentikan serangannya di tengah jalan. "Coba kalian lihat" kata Ang Nio-cu lagi sambil tertawa, "aku sudah tahu kalau Tio lo­toa kalian itu tak lega untuk membunuh diriku, walaupun dia bukan seorang lelaki yang menyayangi perempuan, tapi baik buruknya perempuan paling tidak masih di pahami oleh­nya" Tio lotoa menarik mukanya sambil men­dengus dingin. "Kau memang betul sekali, aku pun tak lega membunuhmu, sebab aku tak ingin membiarkan kau mampus terlampau cepat!" Ang Nio-cu memutar biji matanya dan tertawa makin genit, katanya dengan lem­but: "Kau menginginkan aku mati kapan, aku pun akan mati kapan, kau menginginkan aku mati dengan cara apa, akupun akan mati dengan cara apa, tahukah kau, per­soalan apapun aku ber­sedia melakukannya bagimu." "Bagus, bagus sekali !" Sebagaimana seorang lotoa, memang ti­dak seharusnya terlalu banyak berbicara. Karena semakin sedikit seseorang berbi­cara, kata-kata yang diucapkan baru se­makin berharga. Tio lotoa juga bukan seseorang yang suka banyak berbicara, apa yang diucapkan se­lalu berharga. "Kau telah membunuh lima orang saudara kami, kamipun akan membacok lima kali di atas tubuhmu, dengan begitu hutang piu­tang diantara kitapun dianggap impas." "Hanya lima bacokan ?" Ang Nio cu mengerdipkan matanya. "Ehmmm . . . ." "Kalian tak akan mengambil sekalian bu­nganya?" "Ehmmm ....” Ang Nio cu segera menghela napas pan­jang. "Aaaai . . . . kalau dibilang sesungguhnya tak bisa dibilang kurang adil, aku pun amat ingin meluluskannya, apalagi sekarang kalian sembilan orang menghadapi aku seorang, sekalipun aku tak ingin meluluskan pun juga tak bisa." "Jika kau sudah mengerti, itu lebih baik” "Walaupun aku telah memahaminya, sa­yang masih ada satu hal." "Soal apa ?" "Aku takut sakit !" Setelah memperhatikan golok ditangan mereka wajahnya segera menunjukkan perasaan patut dikasihani, katanya lebih lanjut: "Golok itu begitu besar, jika kena diba­cok, sudah pasti sakit sekali rasanya !" "Tidak sakit !" "Betul tidak sakit ?" "Paling tidak pada bacokan yang kedua tak akan terasa sakit lagi " Ang Nio-cu seperti tidak memahami uca­pan tersebut, kembali dia berseru menegas­kan: "Kau jamin?" "Yaaa, aku jamin !” "Asal kau bersedia menjamin, tentu saja akupun merasa lega, tapi akupun ada syarat" "Katakan !" "Bacokan yang pertama ini harus kau sendiri yang melakukannya " Dengan sepasang matanya yang jeli dia awasi Tio lotoa, kemudian melanjutkan: "Sebab aku tidak percaya kepada orang lain, aku hanya percaya kepada dirimu saja!" "Baik !" Pelan-pelan ia berjalan ke depan, lang­kahnya amat berat, hampir terdengar suara langkah kakinya yang menginjak di atas permukaan tanah. Golok itu masih dihadapkan ke bawah. Tangannya lebar tapi kurus, otot-otot hi­jau pada punggung telapak tangannya pada menongol keluar semua. Tampaknya dia mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya .... "Bacokan yang kedua pasti tak akan sa­kit!" Bila bacokan tersebut terayun ke bawah, siapapun tak akan merasakan kesakitan lagi ... tak mungkin akan merasakan suatu sik­saan atau penderitaan apapun. Ternyata Ang Nio-cu memejamkan mata­nya, malah sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya. "Marilah, hayo cepat !" demikian dia ber­seru. Cahaya golok berkelebat lewat, angin ba­cokan yang tajam serasa memekakkan telinga. Mendadak Ang Nio cu menerobos dari bawah cahaya golok itu, diantara kilatan si­nar terang, rambut yang hitam berterba­ngan kemana­-mana. Sebagian besar rambutnya telah terpapas putus dan tersebar di seluruh tempat. Tapi tangannya justru menyungging sikut Tio lotoa, sedangkan tangannya yang lain menekan di atas jalan darah di bawah iganya. Tak ada yang tahu jalan darah apakah itu tapi setiap orang tahu, jalan darah tersebut sudah pasti adalah jalan darah kematian. Paras muka setiap orang berubah hebat, keadaan mereka bagaikan seseorang yang perutnya kena ditendang keras-keras. Ang Nio-cu masih saja tertawa, semacam tertawa yang merenggut sukma ....... Sambil tertawa merdu katanya: "Sekarang tentunya kau mengerti bukan, mengapa aku menginginkan kau yang turun tangan, sebab sedari tadi aku sudah tahu kalau kau tak akan tega, aku tahu kalau kau sudah tertarik kepadaku." Tio lotoa tentu saja bukan merasa tak tega, tangannya juga tidak lemas tak bertenaga, bahkan bacokan itu dilakukan dengan kecepatan luar biasa dan kebuasan yang mengerikan. Cuma saja, ketika golok itu dibacokkan ke bawah, dia telah melupakan titik kelemahan di bawah goloknya berada di hadapan se­orang perempuan yang memejamkan mata sambil menanti saat kematiannya, siapapun pasti akan berubah menjadi teledor dan gegabah. Kembali dia memperoleh suatu pelajaran. "Bila kau ingin membunuh orang, maka setiap detik setiap saat kau harus berjaga pula orang lain datang membunuhmu." Tentu saja keadaan semacam ini bukanlah suatu keadaan yang terlampau menggem­birakan. "Bila kau hendak membunuh orang, maka persiapkan dulu suatu penghidupan sepan­jang masa yang penuh ketegangan." Tio lotoa menghela napas panjang, kata­nya kemudian: "Kau ingin apa ?" Ang Nio-cu tertawa. "Aku tak ingin apa-apa, aku hanya ingin mengajak kau untuk membicarakan suatu transaksi." "Transaksi apa ?" "Mempergunakan selembar nyawamu di­tukar dengan selembar nyawaku . . . . " "Bagaimana cara menukarnya ?" "Sederhana sekali." jawab Ang Nio-cu sambil tertawa, "bila aku mati, kaupun ja­ngan harap bisa hidup." "Bila aku telah mati ?" Ang Nio-cu segera tertawa manis. "Bila kau telah mati, tentu saja akupun tak bisa hidup lebih lanjut, tapi bagaimana mungkin aku akan membiarkan kau mati ?" Tio lotoa berpikir sebentar, lalu katanya: "Baik !" Siapapun tak dapat memahami apa arti­nya dari kata "baik"' itu, mereka hanya menyaksikan golok di tangannya mendadak dibacokkan ke bawah. Bacokan golok itu mengarah batok kepala sendiri. Ang Nio cu adalah seorang jago kawakan. Bila seorang jago kawakan memegangi ta­ngan seseorang, tentu saja dia telah mem­perhitungkan kalau golok yang berada di tangannya itu tak mungkin bisa melukai orang. Perhitungan dari Ang Nio-cu itu memang sangat tepat, cuma saja dia melupakan satu hal. Walaupun golok yang berada ditangan Tio Lo-toa tak bisa membacok ke arahnya, tapi masih bisa dibengkokkan untuk membacok diri sendiri. Dia hanya memikirkan untuk melindungi diri sendiri, tapi lupa untuk melindungi nya­wa orang lain. Dia mengira orang lain pun sama seperti dia, lebih mementingkan keselamatan diri sendiri dari pada keselamatan orang lain. Tapi dia lupa, kadangkala ada sementara orang yang demi cinta atau dendam kesu­mat seringkali melupakan keselamatan diri sendiri. Kekuatan yang timbul karena cinta atau dendam kesumat, seringkali jauh lebih besar dari pada segalanya. Sedemikian besarnya sehingga tak akan bisa dibayangkan perkataan apapun. Darah segar berhamburan kemana-mana. Cairan darah yang berwarna merah gelap diantara titik cahaya putih susu memancar ke luar ke empat penjuru, dan seperti hujan gerimis menodai wajah Ang Nio cu. Sepasang mata Ang Nio cu tertutup oleh cahaya darah.... Dia hanya menyaksikan sepasang mata Tio lotoa yang memancarkan rasa dendam, benci dan marah itu tiba-tiba melotot keluar seperti mata ikan, kemudian iapun tertutup sama sekali oleh cahaya da­rah. Seketika itu juga ia mendengar suara auman kaget, marah dan benci seakan-akan ada sekelompok binatang buas terjerumus ke dalam perangkap. Angin sambaran golok yang tajam ber­hamburan tiba dari empat arah delapan penjuru, bersama-sama membacok ke arah tubuhnya. Apa yang terpikirkan oleh seseorang saat kematiannya. Pertanyaan ini mungkin tak akan terja­wab oleh siapa saja. Karena dalam keadaan demikian, apa yang terbayang oleh setiap orang selalu berbeda. Yang dia pikirkan sekarang adalah Ong Tiong, teringat akan paras muka Ong Tiong yang dingin seperti es, juga teringat akan pe­rasaan Ong Tiong yang membara seperti api. Pada saat itulah, mendadak ia mendengar suara pekikan panjang yang sangat nyaring. Tiba-tiba sekulum senyuman tersungging di ujung bibirnya, dia seperti merasa, asal bisa mendengar pekikan tersebut, soal mati atau hidup sudah tidak menjadi persoalan lagi. Pekikan itu sangat nyaring, seperti seekor burung elang yang berpekik di angkasa dan menyambar ke bawah. Seluruh tubuh Ang Nio-cu telah tengge­lam ke bawah. Dia melompat bangun, berusaha meng-hin­dar dan memaksakan diri untuk mem-buka se­pasang matanya. Tapi, jangankan manusia, bahkan cahaya golokpun tidak nampak, dia hanya bisa melihat selapis cahaya darah yang berwarna merah. Dia melompat bangun lagi terasa kakinya menjadi dingin, sepertinya tidak terlalu sa­kit, akan tetapi kekuatan di atas paha itu tiba-tiba saja lenyap tak berbekas. Seketika itu juga badannya terjerumus ke bawah. Dia tahu, bila badannya terjerumus ke bawah, maka dia akan segera tenggelam ke kegelapan yang tiada taranya. Anehnya, dia sama sekali tidak merasa takut atau ngeri, hanya merasakan sema­cam kepedihan yang aneh dan sukar dilu­kiskan dengan kata-kata. Mendadak ia teringat kembali akan diri Ong Tiong. Mendadak ia merasa suatu perasaan yang sangat lega, ia merasa dirinya sudah ter­lepas dari segala-galanya, karena segala persoalan sudah tidak menjadi masalah baginya seka­rang. Diapun tenggelam dengan begitu saja, roboh terkapar di atas tanah, bahkan sepasang matanya pun enggan dipentang­kan. Andaikata ia menyaksikan keadaan yang dihadapinya sekarang, bukan cuma hatinya akan hancur lebur, mungkin ususnya akan putus dan nyalinya akan pecah. Cahaya golok yang berkilauan berkumpul menjadi satu titik dan membacok ke atas ba­dan Ang Nio-cu. Mendadak, seseorang membawa pekikan yang nyaring menerjang datang dari balik hutan, langsung menyerbu ke dalam ling­karan cahaya golok. Agaknya dia sudah lupa kalau dirinya adalah seorang manusia yang terdiri dari darah dan daging, juga lupa kalau golok itu bisa dipakai untuk membunuh orang. Dia menerjang masuk ke balik lingkaran cahaya golok dengan begitu saja. . . . . . . Diantara kelihatan cahaya golok, kembali tampak percikan darah berhamburan ke empat penjuru. kemudian, terdengar ada orang menjerit kaget: "Eng-tiong-ong . . . . . !" "Eng-tiong-ong belum mampus !". "Sekarang juga kita akan membuatnya mampus !" ada orang memaki dengan gusar. Tentu saja Ong Tiong tak akan mati, soal ini dia cukup mengerti. Tapi dia tahu, asal dia hidup tak akan ada orang bisa membunuh Ang Nio cu lagi di ha­dapannya. Dengan badannya sendiri ia telah mena­han golok pembunuh lawan yang sedang diayunkan ke bawah, menahan di hadapan Ang Nio-cu. Sekalipun golok itu tajam dan berat, na­mun dia tak mundur barang selangkahpun. Keberanian semacam ini bukan saja patut dihormati, lagi pula menakutkan, sangat mena­kutkan sekali. Ketika Yan Jit tiba di sana , tubuhnya te­lah bertambah dengan tujuh-delapan buah ba­cokan golok, dari setiap mulut lukanya itu darah sedang mengucur keluar dengan derasnya. Keberanian, siapapun kadangkala turut meluntur bersama mengalirnya darah dari badan. Tapi ia tidak ! Ketika Yan Jit menyaksikan keadaannya, itu, meski hati tidak hancur, usus tidak pu­tus, namun darah segar telah menerjang sampai di atas batok kepala, menerjang tenggorokan. Dalam detik itu, mendadak dia seperti melupakan pula akan mati hidup dirinya. Darimana datangnya keberanian. Ada kalanya lantaran kebanggaan, ada kalanya lantaran dendam kesumat, ada kalanya lantaran cinta. adakalanya lantaran teman. Entah dari manapun datangnya kebera­nian tersebut, semuanya pantas untuk di­hormati, pantas untuk dihargai ! Kwik Tay-lok juga telah datang. Entah karena apapun, entah betapa dalam keadaan apapun, dia tidak akan membiar­kan temannya pergi beradu jiwa, sedang dia sendiri bermain catur didalam rumah. Cuma sayang, ketika ia sampai ditempat tujuan, pertarungan berdarah telah bera­khir. Di atas tanah cuma menggeletak sembilan bilah golok. Ada yang menancap ditengah genangan darah, ada yang menancap di atas pohon, ada yang mata goloknya sudah melengkung, ada pula goloknya yang sudah patah. Ong Tiong sedang memeriksa mulut luka di atas paha Ang Nio-cu, dia seolah-olah su­dah melupakan luka yang berada di atas tubuh sendiri. Yan Jit hanya memperhatikan mereka de­ngan tenang, sinar matanya entah meman­carkan cahaya gembira, ataukah kesedihan. Pelan-pelan Kwik Tay-lok menghampiri­nya, kemudian berbisik: "Mana orangnya ?" "Orangnya?" Yan Jit turut bergumam. "Siapa yang kau tanyakan ?" "Siau-lim !" "Tentu saja aku tak akan membiarkan Siau-lim berada didalam rumah seorang diri." "Kau telah membawanya datang kemari?" Kwik Tay-lok mengangguk, sahutnya: "Itu dia, dia sedang duduk di atas pohon besar itu." Dari atas pohon besar itu, orang dapat menyaksikan semua gerak gerik ditempat ini dengan jelas, sebaliknya orang yang berada di sini tak dapat melihat ke sana . Bersembunyi bukan saja harus mempu­nyai tehnik yang jitu, juga harus pandai memanfaatkan keadaan yang berada dise­kitar sana . "Pada saat yang tepat, mencari tempat yang tepat!" itulah rnerupakan teori penting bagi ilmu "menyembunyikan diri". "Yang kutanyakan adalah orang-orang yang membawa golok itu" kata Kwik Tay-lok. "Mereka telah pergi semua." Kwik Tay-lok membungkukkan badannya dan memungut sebilah golok, menimangnya se­bentar, lalu katanya sambil tertawa: "Tak heran kalau mereka tinggalkan se­mua golok tersebut di sini, dengan mem­bawa golok seberat ini, memang larinya tak akan bisa ter­lampau cepat . . . ." "Betul, karena mereka sebetulnya me­mang tidak sering melarikan diri." "Kau kenal dengan mereka !" "Tidak kenal, tapi aku tahu tiga belas bilah golok sakti merupakan orang-orang yang termasyhur namanya baik di luar perba­tasan maupun didalam garis perbatasan." Perampok-perampok kenamaan ?" "Juga merupakan lelaki-lelaki keras yang tersohor." "Tapi laki-laki keras yang kabur kali ini. ." "Kau anggap mereka takut mampus ?" . "Kalau tidak takut mampus, kenapa ha­rus melarikan diri ?" Yan Jit memandang sekejap ke arah Ong Tiong, kemudian sahutnya: "Yang mereka takuti bukanlah kematian, melainkan semacam keberanian yang dimi­liki sementara orang sehingga mau tak mau menimbulkan perasaan ngeri didalam hati­nya.” Pelan-pelan dia melanjutkan: "Mungkin mereka sama sekali tidak takut melainkan terharu..... mereka juga orang, setiap orang kemungkinan besar akan dibi­kin terharu oleh orang lain." Kwik Tay-lok termenung beberapa saat lamanya, mendadak dia bertanya lagi: "Dari mana mereka bisa tahu kalau Ang Nio-cu berada di sini ?" "Berita tentang matinya Cui-mia-hu sekalian ditempat ini sudah diketahui ba­nyak jago persilatan." Mendengar itu Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang. "Aaai . . kabar berita yang tersiar dalam dunia persilatan betul-betul cepat sekali” "Ketajaman pendengaran dari orang per­silatan memang selalu mengagumkan, apalagi bagi orang yang mempunyai den­dam, seringkali ketajaman pendengaran mereka jauh melebihi siapapun. "Begitu dalamkah rasa dendam mereka terhadapnya ?" "Tiga belas bilah golok sakti dengan Cui-mia-hu sebetulnya boleh dibilang termasuk da­lam satu kelompok, tapi Ang Nio-cu telah menghianati mereka. Suatu ketika, sewaktu me­reka sedang dikepung orang, ternyata Ang Nio-cu . . . ." Maka Kwik Tay-lok menukas pembica­raannya yang belum selesai itu: "Soal anjing menggigit anjing semacam itu, segan aku untuk mendengarkannya." "Lantas. kau ingin mendengarkan soal apa?" Kwik Tay-lok memandang sekejap ke arah Ong Tiong dan Ang Nio-cu, sorot matanya lambat laun berubah lembut kembali, ka­tanya: "Sekarang, aku hanya ingin mendengar­kan sedikit kejadian yang dapat menimbul­kan kegembiraan dihati orang, seperti mi­salnya ...." Yan Jit turut memandang ke arahnya, sorot mata yang terpancar keluar lambat laun menjadi lembut, katanya: "Misalnya apa ?" 'Misalnya, berita tentang datangnya musim semi." "Kau tak usah menanyakan tentang berita datangnya musim semi lagi." kata Yan Jit. "Kenapa ?' "Sebab musim semi telah tiba." "Sudah tiba ? Dimana ? Kenapa aku tidak melihatnya ?" Yan Jit mengalihkan pandangan matanya ke arah Ong Tiong dan Ang Nio-cu, lalu sa­hutnya lembut: "Kau seharusnya sudah melihatnya, kare­na dia berada di sini." "Yaa, benar, mereka memang berada di sini." bisik Kwik Tay-lok makin lembut. Dia memandang ke arah Yan Jit. Tiba-tiba ia menemukan mata Yan Jit seakan-akan berubah bagaikan di musim semi. Manusia macam apakah yang dinamakan orang berpenyakit ? Pertanyaan ini mungkin seperti juga per­tanyaan lainnya, mempunyai penjelasan yang beraneka ragam. Ada yang menjelas­kan: Orang sakit adalah seseorang menderita suatu penyakit. Tentu saja penjelasan seperti ini bisa diterima dengan akal sehat, akan tetapi belum bisa dianggap sangat te­pat. Ada katanya, orang yang menderita suatu penyakit pun disebut orang sakit. Misalnya, orang yang terluka, atau orang yang keracunan, dapatkah kau anggap mereka sebagai orang yang menderita suatu penyakit ? Tentu saja tidak. Bulan ketiga, musim semi, rumput tum­buh amat subur, burung beterbangan de­ngan riang gembira. Salju telah mencair, seluruh permukaan bumi berubah menjadi hijau, di atas bukit­pun semuanya nampak hijau. Kwik Tay-lok sedang duduk di bawah rim­bunnya pohon sambil termangu-mangu . . . Ia betul-betul lagi termangu, karena ke­datangan Yan Jit pun tidak diperhatikan olehnya, Sebenarnya Yan Jit dapat mengejutkan­nya, sebetulnya ingin membuat pemuda itu terkejut. Tapi setelah menyaksikan keadaannya, Yan Jit menjadi tak tega untuk mengejutkan dirinya. Bagaimanakah tampangnya itu ?' Wajahnya kurus seperti kurang makan, letih seperti kurang tidur, lagi pula badannya lebih bertambah ceking. Yan Jit menghela napas panjang, pelan­-pelan menghampirinya, berjalan ke hada­pannya dan sekulum senyum segera meng­hiasi ujung bibirnya, ia bertanya: "Hei, kenapa kau duduk termangu ?" Kwik Tay-lok mendongakkan kepalanya, memandang wajahnya sampai lama, tiba-tiba ia berkata: "Tahukah kau, manusia macam apakah yang dinamakan orang sakit itu ?" "Tentu saja orang yang berpenyakit." Kwik Tay-lok menggelengkan kepalanya. "Tidak betul ?" tanya Yan Jit. "Paling tidak belum seluruhnya betul." "Apa yang harus kukatakan baru bisa di katakan benar keseluruhannya . . . . ?" Kwik Tay-lok berpikir sebentar, lalu sa­hutnya: "Dalam pandangan seorang bocah, asal seseorang yang berbaring di atas pembari­ngan dan tak bisa berkutik, orang itu dise­but sakit, padahal manusia macam begini belum tentu mengidap suatu penyakit." "Lagi pula kau bukan seorang bocah" sela Yan Jit. Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang. "Didalam pandanganku, orang sakit tak lebih hanyalah sejenis manusia yang luar biasa pandainya menghambur-hamburkan uang." "Apa maksudmu ?" "Itulah kata-kataku yang sesungguhnya." Ia memang berbicara sesungguhnya. Walaupun orang sakit tak bisa minum arak, tapi dia harus minum obat. Bukan cuma harus minum obat saja, lagi pula harus makan segala macam obat penambah tenaga, 'biasanya barang-barang semacam itu harganya lebih tinggi dari pada arak. Tentu saja Yan Jit juga tahu kalau ucap­an semacam itu adalah kata-kata yang sejujur­nya, sebab di sana sekarang ada tiga orang sedang menderita sakit. Luka yang diderita Lim Tay-peng belum lagi sembuh, sekarang bertambah lagi de­ngan Ang Nio-cu serta Ong Tiong. Sambil menarik muka, Yan Jit berseru: "Sekalipun perkataanmu adalah perkataan yang sejujurnya, tidak seharusnya kau ber­kata demikian." "Yaa, aku memang tidak seharusnya ber­kata demikian, tapi mau tak mau aku harus mengutarakannya juga!" kata Kwik Tay-lok "Kenapa ?" "Sebab sekarang, aku sudah hampir ber­ubah menjadi orang mati." "Orang mati ?” Kwik Tay-lok memperhatikan sekejap se­tumpuk barang di hadapannya, lalu berkata sambil tertawa getir: "Kalau keadaan begini dibiarkan berlang­sung terus, tak sampai dua hari lagi, sekali­pun aku tidak melompat ke dalam sungai juga tak dapat ..." Yang tertumpuk di hadapannya tak lain adalah tumpukan bon berhutang. Bon hutang artinya secarik kertas yang biasanya dipakai orang untuk menagih hu­tang. Kwik Tay lok mencabut selembar diantara bon-bon tersebut, kemudian membacakan­nya. "Yan-oh paling baik lima tahil, harga dua belas tahil perak." Dengan gemas dia membanting bon ter­sebut ke atas tanah, kemudian gumamnya sam­bil menghela napas panjang. "Tahu kalau sarang burungpun bisa dijual dengan harga semahal ini, lebih enakan kita jadi burung saja, dari pada didesak-desak orang terus untuk membayar hutang." Yan Jit segera tertawa. "Siapa bilang kalau kau bukan seekor bu­rung, kau memang seekor burung tolol." Helaan napas Kwik Tay-lok semakin me­manjang. "Aaaai . . . . aku percaya, sekalipun aku benar-benar adalah seekor burung tolol, juga tak akan mengurusi hutang-hutang ini." "Siapa yang suruh kau mengurusi hu­tang?" Kwik Tay-lok segera menuding ke hidung sendiri sambil menjawab: "Aku . . . . . . aku si burung tolol." Memang kenyataannya dia sendiri yang be­rebut untuk mengurusi hutang-hutang tersebut. Lim Tay-peng, Ang Nio-cu serta Ong Tiong sudah tak dapat berkutik tanpa dia dan Yan Jit berdua, pekerjaan yang harus mereka lakukan otomatis yuga bertambah banyak. Yan Jit kembali bertanya kepadanya: "Sebetulnya kau hendak mengurusi rumah atau mengurusi hutang ?" Tanpa berpikir panjang, Kwik Tay-lok se­gera menjawab: "Mengurusi hutang." Dalam anggapannya, mengurusi hutang jauh lebih gampang dan gembira dari pada me­ngurusi orang sakit, seperti memasak bubur, memasak obat dan lain sebagainya. Sekarang dia baru tahu kalau dirinya ke­liru, malah merupakan suatu kekeliruan yang amat besar. Sambil tertawa getir Kwik Tay-lok lantas berkata: "Sebenarnya aku mengira di dunia ini su­dah tiada persoalan lain yang jauh lebih gampang dari pada mengurusi hu­tang-hutang." "Ooooooohhh ........" "Karena dulu selama beberapa bulan, kita sama sekali tak pernah mengurusi soal hu­tang." "Sekalipun ada hutang, juga hutang yang tak jelas asal-usulnya." sambung Yan Jit sam­bit tertawa. "Yaa, betul, tepat sekali." Sesudah menghela napas panjang, sam­bungnya lebih jauh: "Waktu itu kita punya uang, makan agak baikan, minum agak baikan, kalau tak punya uang, seharian tidak makan tidak mi­num juga tidak menjadi soal " "Paling tidak, waktu itu kita bisa keluar bersama untuk mencari uang, atau mencari akal bersama untuk memperoleh uang." "Yaa, tapi sekarang keadaan berbeda." Pelan-pelan Yan Jit turut mengangguk, tanpa terasa dia turut menghela napas. "Yaa, sekarang keadaannya memang jauh berbeda." Orang sakit selain tak boleh kelaparan, le­bih-lebih tak boleh tak minum obat. Oleh sebab itu, entah mereka mempunyai uang atau tak punya uang, setiap hari sudah ada target pengeluaran tetap yang tak bisa dihindari lagi. Pengeluaran tersebut me­mang tidak kecil jumlahnya. Sebaliknya orang yang mengeluarkan ide untuk mencari uang, justru se­orangpun tak ada. Yan Jit repot untuk mengurusi orang­-orang yang sakit, sedangkan Kwik Tay-lok harus memeras otak untuk mengurusi hu­tang-hu­tangnya. "Aku hanya mengherankan sesuatu." kata Kwik Tay-lok sambil menghela napas pan­jang, "Soal apa ?" "Sekalipun aku belum bergerak dalam dunia persilatan, tapi seringkali mendengar cerita tentang orang-orang gagah didalam dunia per­silatan, tapi herannya belum per­nah kudengar kalau orang-orang itu pernah menjumpai kesu­litan uang ?" Sesudah tertawa getir lanjutnya: "Orang-orang itu sepertinya setiap saat bisa memperoleh uang yang banyak dan menghambur-hamburkan seenak hatinya sendiri, padahal mereka tidak bekerja apa-apa, memangnya uang itu bisa jatuh dari atas langit ?" Yan Jit berpikir sebentar, lalu sahutnya: "Di kemudian hari, bila ada orang yang menceritakan kisah kita, sudah barang tentu merekapun tak akan menceritakan kalau kita tak pernah murung karena kesulitan uang," "Kenapa ?" "Sebab si pengarang cerita biasanya me­ngira orang lain tak suka mendengarkan cerita semacam ini." "Tapi ini toh suatu kenyataan." "Sekalipun kejadian ini merupakan sua­tu kenyataan, tapi orang yang berani berbicara jujur di dunia ini tidak banyak jumlahnya." "Kenapa tak berani mengatakannya ? Apa yang mesti ditakuti?" "Takut kalau orang lain tidak mendengar­nya." "Memangnya orang-orang yang menga­rang cerita semuanya goblok? Apakah mereka tidak tahu kalau ada sementara orang lebih suka mendengarkan cerita yang menying­gung suatu kenyataan?" Sesudah berpikir sebentar, dia melanjut­kan: "Mungkin cerita yang berbau dongeng jauh lebih mantap kedengarannya daripada suatu kenyataan, tapi kenyataan sudah pasti akan lebih mengharukan hati orang, hanya ce­rita yang dapat mengharukan hati orang saja yang akan selalu berada dihati orang." Yan Jit segera tertawa, serunya: "Kata-katamu itu lebih baik disampaikan kepada si empunya cerita saja . . . ." "Kaupun enggan untuk mendengarkan­nya" "Betul." "Lantas apa yang ingin kau dengar: "Aku hanya ingin mendengar, sebetulnya sekarang kita sudah berhutang berapa ?" "Tidak banyak . . . . .'' sahut Kwik Tay­ -lok sambil menghela napas, panjang, "belum sampai selaksa tahil." Dalam pandangan sementara orang, se­lak­sa tahil perak memang tak bisa dianggap amat banyak, tapi buat pandangan Kwik Tay-lok yang sepeser uangpun tak punya, hutang tersebut sudah mencapai setinggi langit. Persoalannya sekarang sudah bukan bera­pa yang kau hutang, melainkan berapa yang kau miliki. "Apakah note hutang sebesar selaksa tahil perak ini harus dibayar semua secepatnya?" tanya Yan Jit. " Para penagih hutang sudah mendesakku sampai menceburkan diri ke sungai, ba­yangkan sendiri hutang itu musti dibayar secepatnya atau tidak ?" "Lantas, beberapa yang masih kita punyai sekarang ?" Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang. "Tidak banyak, kalau ditambah tiga mata uang lagi, maka sudah cukup menjadi satu tahil perak" Yan Jit mulai tertegun. Satu tahil perak bila dibandingkan dengan selaksa tahil perak, maka terasa besar sekali se­lisihnya, sebab kekurangannya ber­arti mencapai sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan tahil perak. Nota hutang semacam ini sudah pasti tak akan dilepaskan oleh para penagihnya. Maka Yan Jit hanya bisa berdiri tertegun. Setelah tertegun beberapa saat lamanya, dia baru menghela napas panjang, katanya: "Sekarang aku. . . . aku baru dapat mema­hami apa artinya kemiskinan." "Sampai sekarangkah kau baru mengerti?" Yan Jit mengangguk. "Karena dulu, meski kita tak punya uang, kitapun tak pernah berhutang kepada orang lain, maka saat itu kita masih belum bisa di­anggap benar-benar miskin." "Aaaai. . . . . sekarang aku hanya berha­rap jangan berhutang kepada orang lain, aku lebih suka merangkak selama tiga hari tiga malam dari pada harus berhutang kepada orang." "Sayang, sekalipun kau merangkak se­lama tiga tahunpun, tak akan muncul se­laksa tahil perak di hadapanmu." "Tak perlu selaksa tahil perak, asal ada sembilan ribu sembilan ratus tahil perakpun sudah cukup." "Persoalannya sekarang, dari mana kau bisa dapatkan ke sembilan ribu sembilan ratus tahil perak tersebut ?" "Aku tak punya akal." Kwik Tay-lok ter­tawa getir. "Aku juga tak punya." "Kenapa kita tak bisa menjadi perampok?" "Karena kita bukan perampok." "Manusia macam apakah baru bisa men­jadi perampok ?" "Manusia yang bukan termasuk seorang manusia." "Dapatkah kita mencuri yang kaya untuk menolong fakir miskin ?" "Tidak dapat !" "Mengapa tidak dapat? Mencuri yang kaya untuk menolong fakir miskin toh bukan per­buatan seorang perampok, kalau akan dianggap sebagai perampok maka peram­pok macam itu disebut perampok budiman, seorang enghiong." "Kau hendak mencuri barang milik siapa?" "Tentu saja para saudagar yang berhati licik, pembesar korup yang memeras rakyat." "Setelah mendapat hasil curian, harta itu akan kau bagikan kepada siapa saja?" "Tentu saja untuk menolong kebutuhan kita yang mendesak, menolong kita sebagai fakir miskin." "Itu bukan enghiong namanya, tapi anjing beruang !" Sesudah berhenti sebentar, dia melanjut­kan: "Justru karena di dunia ini banyak terda­pat manusia yang mempunyai cara berpikir macam anjing beruang, maka jadinya ba­nyak se­kali perampok dan pencoleng yang meraja lela di dalam dunia ini." Mungkin kebanyakan orang yang menjadi perampok atau pencoleng, mulai berkarir de­ngan cara menipu diri sendiri, lagaknya saja untuk menolong orang, padahal di dalam kenyataannya kantung sendiri yang ditolong paling dulu. Kwik Tay-lok berpikir sejenak, lalu tertawa getir. "Lantas kalau menurut pembicaraanmu itu tampaknya kita hanya bisa menempuh de­ngan sebuah jalan saja." "Jalan yang bagaimana ?" "Tidak membayar hutang !' "Tahukah kau manusia macam apakah baru tak mau membayar hutangnya . . . ." Tentu saja Kwik Tay-lok tahu dengan pasti, maka dia menghela napas panjang. "Tentu saja manusia yang tak tahu malu!" sahutnya lirih. "Dapatkah kau menunggak hutang dan ti­dak membayarnya ?" "Tidak dapat !" Apalagi sekalipun dia tak ingin memba­yar hutang juga tak mungkin dilaksanakan. Luka yang diderita Ong Tiong, Ang Nio-­cu serta Lim Tay-peng belum sembuh seratus persen, mereka masih membutuhkan obat untuk diminum, masih membutuhkan obat penambah darah, obat kuat penambah tenaga serta bahan makanan untuk melan­jutkan hidupnya. Betul kali ini kau bisa menunggak hutang itu dan tak mau membayarnya, tapi bagai­mana selanjutnya ? Siapa lagi yang bersedia memberi hutang kepadamu kemudian hari ? Kalau sampai demikian, lantas bagaimana dengan Ong Tiong, Ang Nio-cu serta Lim Tay-­peng yang belum sembuh dari lukanya? Betul- betul suatu masalah yang pelik. KEMBALI Kwik Tay-lok menghela napas panjang katanya: "Kalau begitu, bukankah kita betul-betul sudah menemui jalan buntu ?" "Siapa bilang kalau kita sudah menemui jalan buntu ? Jalan itu kegunaannya untuk membawa orang keluar dari kesulitan, asal kau punya tekad yang besar, asal kau bersedia me­lakukannya sudah pasti akan kau jumpai jalan­an tersebut.” "Aku mengerti akan teori tersebut, lagi pula pernah pula kukatakan kepada orang lain, tapi sekarang . . . "Sekarang, apakah kepada dirimu sendiri­pun kau tidak percaya?" "Sekarang aku hanya mempercayai satu hal." "Soal apa ?" "Seandainya kita tidak membayar hutang tersebut pada hari ini, maka mulai hari ini juga kita tak bisa makan." Memang banyak terdapat teori bagus di dunia ini. . Cuma sayangnya, bagaimanapun baiknya teori tersebut, tak akan bisa memperoleh uang sebesar sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan tahil perak. Bahkan setahil perakpun tidak laku. Kalau tadi cuma seorang yang tertegun, maka sekarang berubah menjadi dua orang. Kalau sampai ada dua orang yang terte­gun, maka keadaannya pasti jauh lebih men­derita dari pada hanya seorang saja. Pada hakekatnya Kwik Tay-lok sudah tak kuasa menahan diri, dia bangkit berdiri dan berputar-putar sampai tujuh-delapan belas kaki, mendadak teriaknya: "Aku jadi teringat akan sepatah kata !" "Sepatah kata yang mana?" tanya Yan Jin sambil mengerling sekejap ke arahnya. "Sepatah kata yang amat berguna." "Apa gunanya ?" "Paling tidak bisa dipakai untuk meno­long keadaan yang amat mendesak ini." "Kalau memang begitu, aku bersedia un­tuk mendengarnya." "Sahabat mempunyai kegunaan sebagai pelancar harta, tentunya kau pernah mendengar tentang perkataan ini bukan ?” "Maksudmu, kau hendak mencari orang lain untuk meminjam uang?" "Bukan mencari orang lain, tapi mencari teman." "Di dunia ini hanya ada semacam manusia yang paling sedikit berteman, tahukah kau manusia semacam apakah itu ?" "Manusia macam apa ?" "Yakni orang yang ingin mencari teman untuk meminjam uang." "Akupun tak akan pergi mencari teman yang terlalu banyak, aku hanya akan pergi mencari seorang saja." "Menanti kau berhasil menemukan te­manmu itu dan mengemukakan maksudmu untuk meminjam uang, mungkin kau akan segera me­nemukan bahwa seorang teman­pun sesungguh­nya tidak kau miliki." "Tapi seperti teman macam kita ........” "Kalau teman semacam kita ini, pada hakekatnya tak usah kau buka suara, ia su­dah tahu sendiri." "Maka kau lantas beranggapan bahwa di dunia ini tiada seorang temanpun yang ada, jika kau sudah membuka mulut untuk memin­jam uang ?" "Yaa, seorangpun tak ada." "Tapi aku justru kenal seseorang." "Siapa ?" "Swan Bwe-thong !" Yan Jit segera menarik muka, sepatah katapun tak diucapkan. "Aku toh bukan menyuruh kau yang buka suara, aku boleh pergi sendiri, toh bagai­mana pun juga aku pernah membantunya." kata Kwik Tay-lok lebih lanjut. Tiba-tiba Yan Jit tertawa dingin. "Di dunia inipun hanya ada sejenis manu­sia yang bisa mencari orang perempuan untuk meminjam uang." "Kau maksudkan manusia macam apa ?" "Orang bodoh !" sahut Yan Jit dingin, "hanya seorang bodoh yang akan percaya bila ada seorang perempuan bersedia meminjamkan selaksa tahil perak kepada-nya." "Akupun tahu kalau jalan pikiran seorang perempuan jauh lebih sempit ketimbang se­orang lelaki, tapi dalam pandangannya, se­laksa tahil perak seharusnya bukan suatu jumlah yang sangat besar." "Yaa, memang bukan termasuk jumlah yang luar biasa, cuma paling banter selaksa tahil perak belaka" "Tapi dia toh bukan seorang yang sempit jalan pikirannya." "Sesupel-supelnya seorang perempuan, tak nanti dia akan meminjamkan uangnya kepada orang lelaki." "Kenapa ?" "Sebab jalan pemikiran orang perempuan berbeda." "Bagaimana bedanya ?" "Mereka selalu beranggapan hanya lelaki tak becus saja yang bersedia membuka mulut untuk meminjam uang kepada orang perempuan! Sedangkan perempuan yang bersedia meminjamkan uang kepada lelaki juga sama-sama tak becusnya" Kwik Tay-lok tertegun beberapa saat la­manya, tiba-tiba ia tertawa dan berkata: Padahal bagaimanakah jalan pemikiran seorang perempuan, hanya kaum wanita saja yang tahu, kau toh bukan seorang wanita.” "Tentu saja aku bukan" sahut Yan Jit sambil menarik muka. Kwik Tay-lok segera tertawa. "Oleh karena itu kaupun tidak tahu, maka akupun masih tetap akan mencobanya." "Seandainya kau sampai kebentur pada batunya ?" Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang. "Sekalipun bakal terbentur batunya, yang terbentur paling-paling cuma batu, daripada terbentur besi atau paku kan , mendingan cuma batu." Tiba-tiba dia tertawa, lalu gumamnya: "Seandainya di dunia ini terdapat paku emas atau paku perak, aku mah bersedia untuk membenturnya beberapa kali." Mendadak mencorong sinar tajam dari balik mata Yan Jit, sambil melompat bangun teriak keras-keras: "Aaaah. : .. . akhirnya dia mengucapkan juga sepatah kata yang ada gunanya . . . .!" Sikap rekannya ini malah membuat Kwik Tay-lok tertegun, serunya kemudian agak ter­gagap: "Apa yang telah kukatakan. Apa gunanya?" "Bukan saja ucapanmu sangat berguna, lagi pula benar-benar ada nilainya." Kwik Tay-lok semakin dibuat tak habis mengerti. Tiba-tiba Yan Jit mengambil tujuh delapan biji batu dari atas tanah, lalu katanya lagi: "Tahukah kau bagaimana dengan ilmu menyambit senjata rahasia yang kumiliki ?" Kwik Tay-lok menggeleng. "Tidak tahu, kau toh belum pernah meng­gunakan senjata rahasia untuk menghadapi aku." "Bila kuhadapi kau dengan senjata raha­sia, sanggupkah kau untuk menerimanya?" "Belum tentu." "Kau ingin mencobanya ?" "Tidak ingin." "Tidak inginpun harus ingin, pokoknya kau harus mencobanya." Tiba-tiba, batu yang berada di tangannya itu disambit kearah Kwik Tay-lok dengan ge­rakan Boan-thian-hoa-yu (bunga hujan meme­nuhi langit ). Dari sekian banyak ilmu melepaskan sen­jata rahasia, terdapat semacam cara yang dina­makan Boan-thian-hoa yu, hampir setiap orang dalam dunia persilatan tahu akan hal ini dan pernah mendengar tentang persoalan ini ... Tapi orang yang benar-benar pernah me­nyaksikan kepandaian semacam itu, tidak ba­nyak jumlahnya, tentu saja orang yang bisa mempergunakan kepandaian semacam itu, jauh lebih sedikit lagi. Sekarang, Kwik Tay-lok telah dapat me­li­hatnya. Bukan saja Yan Jit bisa menggunakan ke­pandaian tersebut, lagi pula penggunaannya sangat indah. Tujuh delapan biji batu bagaikan hujan badai bersama-sama dilontarkan ke tubuh Kwik Tay-lok. Dengan cepat Kwik Tay-lok membalikkan badan, menggeser langkah dan menghindari tiga biji batu yang menyambar datang, lalu menggeliatkan tangannya menangkap tiga em­pat biji lainnya, tapi masih ada satu dua biji yang menghajar di atas tubuhnya, membuat pemuda itu menjerit kesakitan. Sambil mendelik kearah Yan Jit, segera teriaknya keras-keras: "Hei, apa maksudmu yang sesungguh­nya?" "Sebetulnya tiada maksud lain." Jawab Yan Jit sambil tertawa, "aku tak lebih hanya berharap agar kau bisa mencari untung berapa ribu tahil perak dan membawanya pulang." "Mendapatkannya dengan cara apa ?" sekali lagi Kwik Tay-lok bertanya dengan wajah tertegun. "Menggunakan tanganmu !" Setelah tertawa, lanjutnya: "Tanganmu sudah cukup cekatan, tidak banyak orang yang sanggup menerima em­pat batang senjata rahasiaku, asal berlatih bebera­pa kali lagi, untuk mencari untung berapa ribu tahil perak sudah lebih gampang daripada membalikkan telapak tangan sendiri." Kwik Tay-lok memperhatikan tangan sendiri, makin dilihat dia merasa semakin tercengang. Ia tak bisa melihat dengan mengandalkan apakah sepasang tangannya itu bisa men­dapat untung berapa ribu tahil perak . . . . seandainya tangan ini hendak dipakai untuk mengalahkan berapa ribu tahil perak, maka hal ini bisa dilakukannya dengan gampang, sekali bagaikan membalikkan telapak ta­ngan sendiri saja. Hanya didalam sekali lemparan gundu saja dia bisa mengalahkan berapa ribu tahil perak. Sementara itu, Yan Jit telah mengambil batu lagi dari atas tanah. Tak tahan Kwik Tay-lok segera bertanya: "Sebenarnya kau menyuruh aku melaku­kan apa ? Melempar dadu untuk membo­hongi uang orang ?" "Kalau hanya melempar dadu, memang­nya kau bisa membohongi uang siapa ? Kau sudah pasti akan menjadi raja diraja dari kekalahan." "Kecuali melempar dadu, masih ada cara apa lagi yang lebih cepat ?" "Cara untuk kalah lebih cepat memang ti­dak ada, kali ini aku minta kau pergi untuk menang !" "Aaaah . . . . . seorang raja diraja dari kekalahan mana mungkin bisa merajai ke­menangan?" "Asal kau sanggup untuk menyambut senjata rahasiaku sekaligus, maka aku tanggung kau pasti akan memperoleh ke­menangan" "Seandainya aku kalah? Apa yang harus kupakai untuk menebus kekalahan itu ?" Yan Jit segera menghela napas panjang. "Aaaaai. . . jika kali ini kau masih kalah, mungkin selembar jiwamu pun akan turut di­ gadaikan" "Tampaknya aku cuma mempunyai selem­bar nyawa saja yang bisa digadaikan . . . " kata Kwik Tay-lok sambil tertawa getir. "Itulah sebabnya, kau harus mencari akal untuk menyambut semua senjata rahasia ini, bila tanganmu tak sanggup untuk menerimanya semua, gunakan mulutmu untuk menggigit ....." untuk menyambut senjata rahasia yang dipancarkan menggunakan ilmu Boan thian-hoa yu, memang bukan merupakan suatu pekerjaan yang sangat gampang. Kwik Tay-lok sudah tiga kali menyambut­nya, alhasil tujuh tempat di atas tubuhnya kena terhajar, betul tidak terlalu berat, na­mun cu­kup membuat tulang belulangnya lamat-lamat terasa sakit. Kali ini Yan Jit tidak menaruh belas kasi­han barang sedikitpun jua, kembali dia me­ngambil batu untuk melancarkan serangan. Kwik Tay-lok hanya bisa memandang ke­semuanya itu dengan wajah tertegun........ Sampai sekarang, dia masih belum mengerti dengan pasti, obat koyo apakah yang sebenarnya sedang dijual Yan Jit, se­andainya berganti orang lain, mungkin se­dari tadi dia sudah tak mau melakukannya. Tapi dia percaya kepada Yan Jit. Dia percaya sekalipun semua orang yang berada di dunia ini berniat untuk memper­main­kan dirinya, sudah pasti Yan Jit tak akan membantu orang lain. Batu yang berada dalam halaman itu tidak banyak, walaupun Yan Jit membawa setum­puk juga masih belum cukup, maka dia lari ke sudut tembok pekarangan sana untuk mengumpulkan kembali. Sedang Kwik Tay-lok meraba bahunya yang linu dan sakit itu sambil tak tahan meng­hela napas panjang. Seandainya dia harus menyambut begitu ba­nyak senjata rahasia, ia benar-benar merasa tak yakin lagi . Angin berhembus lewat membawa harum­nya bunga, bunga Tho di depan sana telah mu­lai mekar. Kwik Tay-lok mendongakkan kepalanya, mendadak ia melihat Ong Tiong duduk di depan jendela sambil menggapai ke arahnya. Menanti Yan Jit telah mengumpulkan batu dan berjalan kembali, dia telah menghampiri Ong Tiong, dua orang itu seorang didalam jen­dela, seorang lagi di luar jendela, mereka ber­dua menuding kesana kemari sambil berbicara tiada hentinya entah ada saja yang sedang di bicarakan. Terpaksa Yan Jit harus menunggu. Sudah setengah harian lamanya ia menunggu, ketika Kwik Tay lok muncul kembali sambil bergendong tangan, wajah­nya kelihatan seperti merasa bangga sekali. Ong Tiong masih duduk di depan jendela sambil mengawasi ke arah mereka, wajah­nya juga dihiasi senyuman, sekulum yang amat misterius sekali. Tak tahan lagi Yan Jit segera bertanya: "Sebetulnya permainan setan apakah yang kalian berdua lakukan . . . ?' "Siapa yang kau maksudkan sebagai ber­dua?" tanya Kwik Tay-lok sambil mengerdip­kan matanya. "Kau dan Ong Tiong" "Ooooh ....kau maksudkan Ong Tiong? Dia hanya memberitahukan kepadaku agar disam­paikan kepadamu bahwa malam ini dia ingin makan tulang bay-kut masak lo­bak" Setiap orang dapat melihat kalau ia se­dang berbohong. Bila Kwik Tay-lok sedang berbohong, maka di atas wajahnya seakan-akan mema­sang merek. Yan Jit segera mendelik sekejap ke arah­nya, lalu berkata dengan dingin: "Orang yang berbohong hati-hati dengan giginya, takut kalau sampai kena disambit rontok orang lain." "Silahkan dicoba," kata Kwik Tay-lok sam­bil tertawa cekikikan. "Baik !" Kali ini, bukan saja batu yang diperguna­kan jauh lebih banyak, lagi pula tenaga yang dipergunakan juga jauh lebih besar. Dengan tenaga yang lebih besar, otomatis batu yang meluncur datangpun jauh lebih cepat dan tajam. Kwik Tay-lok segera memutar badannya, tahu-tahu dalam genggamannya telah ber­tambah dengan dua macam benda yang memancarkan sinar keperak-perakan, ben­tuknya persis seperti jala kecil yang dipakai anak kecil untuk me­nangkap kecubong. Belasan biji batu yang meluncur datang dengan cepatnya itu, bagaikan kecubong saja, hampir semuanya kena disambar ma­suk ke dalam jala tersebut. Yang terlepas dari sambaran jaring itu paling banter cuma dua tiga biji, itupun bisa dihindari Kwik Tay-lok dengan gampang. Kali ini Yan Jit membelalakkan matanya lebar-lebar, dengan setengah melotot se­runya: "Permainan apakah itu?" Kwik Tay-lok tertawa cekikikan. "Coba kau lihat permainan macam apakah ini? Kagum tidak?" "Apakah Ong lotoa yang barusan menga­jarkan kepadamu?" "Sekalipun dia yang mengajarkan kepadaku, hanya orang pintar seperti aku pula yang dapat menguasainya dengan ce­pat," sahut Kwik Tay-lok dengan bangga Yan Jit segera mencibirkan bibirnya. "Sedari kapan sih kau menjadi pintar?" "Sebetulnya aku memang tak boleh, asal ada permainan bagus, sebentar saja aku telah bisa menguasainya." "Bawa kemari !" seru Yan Jit sambil me­ngulurkan tangannya ke muka. "Tidak boleh!" cepat-cepat menyembunyi­kan tangannya ke belakang. "Kenapa tidak boleh?" "Sebab Ong lotoa bilang, rahasia langit tak boleh bocor." "Baik, kalau begitu cobalah sekali lagi" Kali ini senjata rahasia itu dilepaskan de­ngan kecepatan yang lebih hebat dan anca­man yang lebih mengerikan. Belasan buah batu kecil seakan-akan be­rubah menjadi hidup semua, seperti tumbuh sayapnya dan punya mata, justru ancaman­nya mengarah bagian yang paling lemah di tubuh Kwik Tay-lok. Siapa tahu dua lembar jaring yang berada ditangan Kwik Tay-lok seakan-akan sudah me­nunggu di situ. Belasan buah batu itu sudah termakan semua ke dalam jaring, malah yang terlepas hanya ada sebiji saja. Sambil tertawa terbahak-bahak Kwik Tay-­lok segera berseru: "Sekarang, tentunya kau sudah menga­gumi diriku bukan ?" Yan Jit melotot besar, tapi akhirnya dia tersenyum juga. "Kelihatannya kau memang tidak bodoh!" Kwik Tay lok semakin bangga lagi, kata­nya: "Terus terang saja, ilmu menyambut sen­jata rahasia memang tak pernah kupelajari se­cara baik dulunya, hal ini dikarenakan .... dikarenakan apa? Coba kau terka ?" "Aku tak bisa menerkanya." "Karena tanganku sesungguhnya jauh le­bih cepat, mataku juga jauh lebih tajam daripada orang lain, maka hakekatnya tak perlu di latih lagi . . . . . . !" "Maka kaupun baru terkena pagutan ke­la­bang besar itu," sambut Yan Jit dengan hambar. Ternyata paras muka Kwik Tay-lok sedi­kitpun tidak menjadi merah, malahan ujarnya sambil tertawa: "Kalau kejadian itu sih tidak masuk hi­tu­ngan, sekarang cobalah sekali lagi !" Seraya memutar biji matanya dia berkata lagi sambil tertawa: "Konon setiap jagoan yang berada di­dalam dunia persilatan selalu mempunyai julukan yang mentereng, maka sekarang akupun ingin mencari sebuah julukan yang cocok untuk kugunakan." "Apakah julukanmu itu ?" "Jian pit-ji-lay, Kui-im cu-mo put-cok, Kuay-jiu-tay-ciu-hiap (Ji-lay bertangan seribu, bayangan setan yang tak teraba, pendekar pemabuk bertangan kilat)!" Yan Jit tak dapat menahan diri dan segera tertawa tergelak, katanya kemudian: "Aku juga mempunyai suatu julukan yang rasanya jauh lebih tepat untuk kau guna­kan." "Coba katakan." "Pun-jiu-pun-ciok, Cin-liau-boan-tee-pa, Sut-ong-ci-ong-toa-po-nio (Otak bebal ta­ngan lamban, merangkak setelah mabuk, burung do­gol si raja di raja kekalahan), coba kau kata­kan, cocok tidak julukan ini untuk kau gunakan ?" Pintu gerbang bangunan rumah itu menghadap ke selatan, sepasang gelang pintunya memancarkan cahaya keemas-emasan di bawah sorot cahaya matahari. Baru saja masuk ke dalam lorong terse­but, Kwik Tay-lok sudah menyaksikan sepasang ge­lang pintu itu. Lewat lama kemudian, sepasang matanya masih menatap pintu itu tak berkedip, seakan-akan selama hidup belum pernah menyaksikan gelang pintu. Dalam kenyataannya, sepanjang hidupnya dia memang jarang sekali mendapat ke­sempatan untuk menyaksikan kejadian aneh semacam itu. Setiap bangunan rumah pasti ada pintu gerbangnya, di atas pintu gerbang pasti ada ge­lang pintunya. Hal itu sedikitpun tidak aneh atau meng­herankan. Yang mengherankan adalah gelang pintu rumah ini ternyata ini terbuat dari emas murni. Ketika Kwik Tay-lok sedang memperhati­kan gelang pintu itu, Yan Jit sedang meman­dang ke arahnya. Belakang ini, di atas tubuh mereka berdua seakan-akan terdapat seutas tali yang te­lah membelenggu mereka menjadi satu, dimana Kwik Tay-lok berada, di situ Yan Jit turut hadir. Lewat lama kemudian, Kwik Tay-lok baru menghela napas sambil bergumam: "Orang ini, pasti orang kaya mendadak" "Orang kaya mendadak ?" "Yaa, hanya orang kaya mendadak baru akan melakukan perbuatan semacam ini" "Perbuatan macam apa?" "Perbuatan yang hakekatnya bisa membi­kin gigi orang pada copot saking gelinya" "Kau keliru" "Bagian mana yang keliru?" "Keluarga ini bukan saja tidak kaya men­dadak, bahkan dia masih termasuk salah satu dari beberapa keluarga persilatan kena­maan yang berada dalam dunia persi­latan" Meskipun membuat gelang pintu dari emas merupakan suatu perbuatan yang tak biasa dan menggelikan, tapi perbuatannya ini tak pernah menimbulkan perasaan geli dihati orang" "Tapi aku merasa geli sekali.' "Hal ini dikarenakan kau belum tahu sia­pakah dia." "Aku tahu." "Kau benar-benar tahu ?" "Dia adalah seorang manusia, seorang manusia yang penuh dengan perak bau, kekayaan yang melimpah dan kuatir orang lain tak tahu kalau dia adalah seorang kaya. Manusia macam ini bukan saja aku tak ingin kenal dengannya akupun tak ingin berteman dengannya. Apapun yang dilaku­kan orang ini, sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan diriku." Yan Jit segera tertawa. "Cuma sayang orang semacam itu justru sekarang ada sedikit hubungannya dengan di­rimu." "Tentunya kau bukan menyuruh aku un­tuk datang merampas gelang pintunya bu­kan?"' kata Kwik Tay-lok sambil memandang ke arahnya. Yan Jit tertawa. "Itu sih tidak, kita masih belum sampai semiskin itu." Kwik Tay-lok segera menghembuskan na­pas lega. "Kalau begitu, setelah kau suruh aku me­nempuh perjalanan setengah harian lebih dan sampai kemari, apa tujuannya hanya untuk melihat gelang pintu ini?" "Juga bukan !" Kwik Tay-lok kelihatan merasa agak ku­atir, ditatapnya Yan Jit sekejap kemudian: "Aku tahu kau pasti tidak mempunyai suatu ide bagus, maka selama ini tak per­nah mau berbicara terus terang kepadaku." "Jangan kuatir." sahut Yan Jit sambil ter­tawa, "paling tidak, aku tak akan menjual kau kepada orang lain, aku masih merasa berat hati untuk melakukannya." Setelah menjawab perkataan tersebut, wajahnya kelihatan berubah agak memerah. Kwik Tay-lok kelihatan makin bertambah kuatir, kembali katanya: "Jika seseorang tidak melakukan sesuatu perbuatan yang melanggar suara hati sendiri, kenapa mukanya berubah menjadi merah?" "Muka siapa yang menjadi merah ?" “Kau" Yan Jit segera berpaling ke arah lain, ke­mudian katanya: "Aku lihat matamu betul-betul sudah melamur!" Tiba-tiba Kwik Tay-lok memutar biji ma­tanya, lalu berkata: "Aku mengerti sekarang" "Kau mengerti soal apa?" "Sudah pasti ada seorang perawan tua yang tidak laku kawin ingin mencari jodoh, maka kau menggunakan siasat lelaki tam­pan untuk makankan aku kepadanya" Mendengar perkataan itu, tak tahan lagi Yan Jit tertawa cekikikan. "Apakah kau merasa dirimu sangat tam­pan? "Sekalipun tidak terlalu tampan, paling ti­dak aku adalah type lelaki yang disukai seti­ap orang perempuan" Yan Jit menghela napas panjang, katanya: "Kau betul-betul tak tahu diri, tampang macam begitupun dikatakan sebagai tam­pang yang menarik." Kwik Taylok juga menghela napas pan­jang. "Sayang kau bukan perempuan, kalau ti­dak, sudah pasti kau akan tertarik kepadaku!" Paras muka Yan Jit kelihatan agak memerah lagi tapi sengaja dia menarik muka sambil berseru: "Andaikata aku adalah seorang perempu­an, sekarang juga aku sudah menendangmu hingga tercebur ke dalam pecomberan !" "Perduli apapun yang kau katakan, po­koknya kali ini aku tak mau termakan oleh perangkapmu." "Siapa yang menipumu ?" "Nona perawan tua itu pasti jelek dan ku­koay, siapa tahu mukanya penuh dengan burik, maka dia baru tak laku kawin, sekali­pun ada mas kawin delapan ratus laksa tahil perak juga jangan harap menyuruhku kawin dengan­nya. Yan Jit mengerling sekejap ke arahnya, kemudian berkata dengan suara dingin: “Seandainya dia masih muda dan cakap?" "Itu mah bisa dirundingkan lagi," sahut Kwik Tay-lok sambil tertawa, "siapa suruh kalian adalah sobat-sobatku ? Demi saha­bat, perbuatan apapun bersedia kulakukan." "Sekarang aku hanya ingin kau melaku­kan sesuatu, entah bersediakah kau untuk melaku­kannya?'° "Coba katakan." "Aku hanya berharap kau suka menuju ke depan pecomberan sana dan bercermin, kemudian belilah tahu yang sudah mem­busuk dan hantamkan ke atas kepalamu biar mampus." Lorong itu sangat lebar, mendadak mun­cul sebuah kereta kuda besar yang ditarik empat ekor kuda, dengan cepatnya kereta itu menyerbu masuk ke dalam lorong terse­but. Walaupun lorong itu sangat lebar, tapi se­andainya Kwik Tay-lok dan Yan Jit tidak menghindar dengan cepat, tak urung mereka akan tertumbuk juga. Sambil melotot ke arah kereta yang sudah menyambar lewat itu, Kwik Tay-lok berseru dengan gemas: "Jalanan ini toh bukan miliknya seorang, atas dasar apa dia berani mengambil tinda­kan yang semena-mena ?" "Hanya mengandalkan satu hal." "Hal yang mana ?" "Cukup mengandalkan kalau lorong ini adalah miliknya seorang". Kwik Tay-lok menjadi tertegun, sekarang dia baru menemukan kalau lorong tersebut memang cuma ada dia sekeluarga. Kereta itu sudah berhenti di depan pintu gerbang, pintu yang semula sunyi senyap kini sudah bermunculan belasan orang de­ngan langkah cepat, malah ada berapa orang diantaranya dengan menggunakan kecepatan yang luar biasa menahan larinya kuda sementara beberapa orang lainnya mendorong kereta itu naik ke atas tangga, dan mendorongnya masuk ke dalam gedung. Dari balik jendela seperti kelihatan ada orang melongok ke luar jendela kereta dan memandang Kwik Tay-lok sekejap. Kwik Tay-lok tidak melihat jelas paras muka orang itu, dia hanya merasa bahwa matanya jauh lebih tajam daripada mata orang biasa. "Tampaknya Kim Toa-say telah kembali." "Siapa Kim Toay-say tersebut ?" "Dialah orang yang kau katakan sebagai orang kaya mendadak itu." "Nah, itulah dia, coba kau lihat, tidak salah bukan perkataanku tadi ?" Setelah tertawa dingin kembali katanya: "Kim Toa-say, hemmm. Cukup didengar dari namanya saja semestinya sudah dapat di­ketahui manusia macam apakah dirinya itu." "Orang yang punya uang belum tentu se­muanya orang jahat." "Tapi atas datar apa dia menyebut diri­nya sebagai Toa-say (jendral).....?" "Pertama karena dia memang mempunyai kewibawaan sebagai seorang jendral, kedua karena orang lain suka memanggilnya seba­gai Toa-say" "Tampaknya kau seperti merasa kagum sekali kepadanya?" "Dapatkah aku mengaguminya?" "Dapat, tentu saja dapat . . . . . tapi. bo­lehkah aku tidak mengaguminya . . . . . . ?" "Tidak dapat." "Mengapa tidak dapat ?" "Bukankah kau selalu mengagumi dirimu sendiri ?" "Hehhmm . . . . . heehhmm . . . . . " "Maka kaupun seharusnya mengagumi dia, sebab dia persis seperti dirimu, juga gagah, sosial dan sangat Tay-lok ( lapang dada mak­sudnya ) . . . . " "Ehmm . . . , ehmm. . . “ "Apa artinya ehmm . . . ehmm . . . . ?" "Ehmm ehmm artinya aku tidak percaya,"' `Bila kau telah bertemu dengannya, kau pasti akan percaya dengan sendirinya.” "Aku tak akan menjumpai dirinya." "Tapi kau harus pergi menjumpainya.". "Kenapa ?" "Sebab bila kita kau tidak pergi menjum­painya, maka kau terpaksa harus berhada­pan dengan tampang-tampang si penagih hutang itu" Ya, di dunia ini ada tampang manusia macam apa lagi yang tak lebih sedap dilihat daripada tampang seorang penagih hutang? Begitu teringat orang-orang itu, sepasang alis mata Kwik Tay-lok segera berkenyit, katanya tergagap: "Apakah kau .. .. . kau suruh meminjam uang kepada seseorang yang sama sekali tidak kukenal ?” "Aku tahu kulit mukamu masih belum se­tebal kulit badak" "Lantas kau suruh aku pergi ke sana un­tuk berbuat apa ?" Yan Jit termenung sebentar, lalu ber­tanya: "Didalam dunia persilatan terdapat banyak sekali orang aneh, misalkan saja ayah dari Swan Bwe-thong tersebut." "Kau maksudkan locianpwe yang bernama Sik-sin (dewa batu) itu ?" Yan Jit mengang­guk. "Tahukah kau, dari mana datangnya nama Sik-sin tersebut ?" "Karena dia hanya menggunakan senjata tajam terbuat dari batu, lagi pula bisa mem­per­gunakannya secara sangat baik-baik." "Tepat sekali jawabanmu itu !" Setelah berhenti sebentar, kembalikan dia melanjutkan: "Tapi senjata batu sebetulnya merupakan senjata yang paling kuno, sebab pada waktu itu orang masih belum mengerti cara meng­gu­nakan besi, sekarang saja senjata tajam apapun ada, tapi dia justru lebih suka menggunakan senjata batu yang berat dan tak leluasa digunakan, coba katakanlah dia adalah seorang manusia aneh ?" "Benar. Cuma . . . . apa pula bedanya dengan Kim Toa-say ?" "Kim Toa-say pun sama seperti dia, ia juga seorang manusia aneh, senjata yang dipergunakan juga sangat aneh." "Senjata apa yang dia pergunakan?" "Dia hanya menggunakan senjata yang terbuat dari emas, lagi pula semuanya ter­buat dari emas murni." Kwik Tay-lok mengerdipkan matanya be­rulang kali, agaknya sudah mulai mema­hami maksudnya. Terdengar Yan Jit berkata lebih jauh: "Senjata tajam yang paling diandalkan olehnya adalah Kim-kiong-sin-tan (gendewa emas peluru sakti), secara beruntun dia bisa melepaskan dua puluh satu biji peluru, jarang sekali ada orang dalam dunia persi­latan yang sanggup menghindari serangan­nya itu." "Apakah pelurunya tersebut dari emas?" "Yaa, emas murni." "Oooh, jadi kau suruh aku bertarung me­lawannya, menyambut serangan peluru emasnya dan kemudian membawanya pu­lang untuk membayar hutang?" Yan Jit tertawa. "Konon peluru emas yang dipergunakan, olehnya setiap butirnya paling tidak menca­pai beberapa tahil beratnya, lagi pula seka­ligus dua puluh satu biji, asal kau dapat menerima tiga empat biji saja, kau tak usah kuatir bertemu dengan tampang-tampang si penagih hutang lagi." "Aku tak mau melakukannya, perbuatan semacam ini aku tak mau melakukannya !" "Kenapa ?" "Tidak kenapa-napa, pokoknya tidak mau yaa tidak mau." Yan Jit memutar biji matanya berulang kali, kemudian sambil tertawa hambar kata­nya: "Oooohh . . . . . aku mengerti sekarang, rupanya kau takut . . . ." "Aku takut apa ?" Kwik Tay-lok segera berteriak keras. "Tentu saja kau tidak takut kepadanya, kau tak-lebih hanya takut menjadi gemuk." “Takut menjadi gemuk ?" seru Kwik Tay-lok tertegun. "Sekalipun emas lebih lunak daripada besi, tapi jika sebutir peluru emas yang lima-enam tahil beratnya sampai bersarang dibadan, toh akan menimbulkan sakit juga." "Hmm !" "Setelah sakit badan pasti akan menjadi bengkak, kalau sudah membengkak, kalau sudah pasti jelek sekali tampangnya." Kembali dia tertawa hambar, kemudian melanjutkan: "Oleh sebab itu, kendatipun kau tak mau pergi, aku juga-tak akan menyalahkan dirimu, seandainya kau gemuk secara men­dadak, siapa kalau orang lain mengira kau telah makan obat penggemuk babi ?" KwikTay-lok melotot sekejap ke arahnya, lalu sambil menarik muka, dia berseru: "Lucu, lucu, betul-betul lucunya sete­ngah mati." "Bila seseorang mendadak menjadi gemuk itu baru lucu namanya." Sekali lagi Kwik Tay-lok melotot sekejap ke arahnya, lalu tanpa banyak berbicara lagi dia membalikkan badan dan berlalu. "Hei, mau kemana kau ?" tegur Yan Jit. "Belakangan ini aku sangat kelaparan sampai badanku terlampau kurus, aku me­mang sedang mencari akal bagaimana cara­nya untuk menggemukkan sedikit badanku." Yan Jit tersenyum. "Apakah kau akan menyerbu ke dalam dengan begitu saja, lantas mencari orang dan menantangnya untuk berkelahi ?" "Cara apa pula yang bisa kugunakan un­tuk berkelahi dengan orang ? Apakah kau me­nyuruh aku berlutut dan memohon kepadanya?" Kembali Yan Jit tertawa. "Sekalipun kau sungguh-sungguh berlutut dan memohon kepadanya, belum tentu dia mau turun tangan." Katanya. "Oooh . . . . . ?" "Dua puluh satu biji peluru emas mem­punyai suatu nilai yang cukup besar, dia toh belum edan, kenapa harus menggunakan peluru-peluru emasnya untuk sembarangan memukul orang? Lagi pula, seandainya sampai memukul mati orang, toh bukan suatu kejadian yang bagus" Hampir berteriak Kwik Tay lok saking penasarannya, segera serunya keras-keras: "Barusan, kau yang memaksaku untuk pergi, sekarang kau pula yang menghalangi aku pergi, sebetulnya permainan setan apakah yang sedang kau rencanakan?" "Aku bukannya menyuruh kau jangan pergi, cuma untuk mencari Kim Toa-say serta menantangnya bertarung, kau musti menggunakan akal." "Akal apa ?'' "Coba bayangkan sendiri, manusia macam apa saja yang bisa memaksa Kim Toa say untuk turun tangan ?" "Aku tak bisa melihatnya, juga ogah untuk memikirkannya." "Hanya ada dua macam manusia !" Yan Jit menerangkan. "Dua macam yang mana ?' "Macam yang pertama tentu saja musuh besarnya, andai kata musuh besarnya datang mencari gara-gara, tentu saja dia akan segera turun tangan, cuma sayang .. . kau sama sekali tiada ikatan dendam atau sakit hati dengannya" Dia menghela napas panjang, seakan- akan menganggap kejadian itu se­bagai suatu keja­dian yang amat menyesal­kan. "Apakah hendak kau menyuruh aku un­tuk merampas bininya lebih dulu, agar mengi­kat tali permusuhan dengannya seru Kwik Tay­lok sambil menarik muka. Yan Jit segera tertawa cikikikan. Konon bininya mama gembrot seperti babi, ­jelek lagi tampangnya malah kata orang galaknya bagaikan harimau betina, seandainya kau benar-benar melarikannya, siapa tahu Kim Toa­-say malahan . akan sangat berterima kasih kepadamu' "Hmm, hmm, lucu. . . benar-benar sangat lucu." "Untung saja selain cara itu, masih ada sebuah cara lagi." "Hmmmm !" "Setiap orang persilatan paling enggan untuk takluk ataupun menunjukkan kele­mahannya kepada orang lain, maka dari itu, seandainya ada orang yang datang ke rumahnya secara terang-terangan dan menantangnya untuk beradu kepandaian, maka ia tak akan mampu untuk menampik lagi." Tiba-tiba ia merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah kartu nama ber­warna merah, kemudian katanya lagi sambil tertawa: "Tapi, orang itu tentu saja harus punya nama yang besar dan mentereng juga, mi­salnya seperti julukanmu Pun-jiu-pun-ciok Cui-liau-­hoan-tee-pa Sut-ong-ciong Toa-po- nio (Otak bebal tangan lamban, merangkak setelah mabuk, burung dogol si raja di raja kekalahan ) betul bukan ?" Kartu nama yang berwarna merah jambu itu sungguh indah dan anggun bentuknya. Di atas kartu nama itu tercantumkan be­berapa huruf yang mentereng berbunyi: "Jian-pit-ji-lay, Kui-im-cu-mo-put-cok, Kuoy-jiu-tay-cui-hiap (Jilay bertangan seribu, bayangan setan tak teraba, pende-kar pemabuk bertangan kilat) Kwik Tay-lok." Pengurus gedung keluarga Kim sudah ber­usia lanjut, mukanya licik sekali, setelah me­nerima kartu nama itu, dibacanya seke­jap lebih dulu, wajahnya sedikitpun tidak nampak ter­kejut, dengan hambar dia ber­tanya ?". "Dimanakah Kwik Tayhiap itu sekarang?" "Disini !" jawab Kwik Tay-lok cepat. Pengurus gedung keluarga Kim itu baru mendongakkan kepalanya dan memandang se­kejap ke arahnya, kemudian sambil ter­tawa kering berseru: "Oaah. rupanya kau adalah Kwik Tayhiap, maaf, maaf !" "Hmm !" Dengan senyum tak senyum, pengurus itu memandang lagi ke arahnya, kemudian ber­kata lebih jauh: "Kwik tayhiap, apakah kau datang kemari untuk mengajak loya kami beradu senjata ra­hasia ?" "Dari mana kau bisa tahu ?" Suara tertawa pengurus itu persis seperti seekor rase tua, katanya lagi sambil tersenyum: "Tiap bulan pasti ada beberapa orang tay­hiap yang datang kemari, bila aku tak dapat menebak maksud kedatanganmu, baru aneh namanya." "Kalau memang sudah tahu akan maksud tujuanku, kenapa tidak lekas-lekas masuk un­tuk memberi laporan ?" seru Kwik Tay-lok lagi sambil menarik muka. Pengurus itu memperhatikan tamunya dari atas sampai ke bawah beberapa kali, kemudian baru katanya: "Tampaknya hari ini Kwik tayhiap belum mabuk ?" "Sekalipun namanya pendekar pemabuk, toh bukan berarti setiap hari harus mabuk, seru Kwik Tay-lok dingin. "Kalau begitu, kuanjurkan kepada Kwik tayhiap lebih baik cepat-cepat pulang saja." "Kenapa. . . . ?" Suara tertawa pengurus gedung keluarga Kim itu semakin menggemaskan hati, sa­hutnya hambar: "Sebab tayhiap yang datang kemari sung­guh sudah terlampau banyak, loya kami bi­lang, asal bertemu dengan tayhiap kepala-nya lantas pusing, maka ia telah berpesan kepadaku, manusia macam apapun tak akan dijumpai, bahkan cucu kura-kura atau pencolengpun boleh masuk ke dalam, tapi asal tayhiap . heeehhh . . . . heeehhh . . . . heeehhh . . . . dia sih tak sudi untuk menjumpai lagi." Kartu nama itu telah terjatuh kembali ke tangan Yan Jit. Dengan wajah membesi karena gemas, Kwik Tay-lok mengomel: "Semuanya ini adalah gara-gara ide ba­gusmu itu, selama hidup belum pernah aku mendapat malu seperti hari ini, terutama sekali menghadapi rase tua tersebut, lagak­nya saja seakan-akan menganggap aku ini pencoleng atau pembohong besar, terutama senyum tak senyum yang menggemaskan itu, sungguh bikin hati mendongkolnya setengah mati." "Mengapa kau tidak memberi dua tam­paran yang keras kepadanya ?" tanya Yan Jit sambil mengerdipkan matanya. "Sebab aku memang sebenarnya seorang pencoleng, aku mempunyai tujuan yang tak benar, orang tidak menggaplok aku saja su­dah terhitung sungkan, mana aku bisa menggaplok orang ?" Yan Jit segera tertawa. Tentu saja senyumannya jauh lebih manis dan sedap dipandang daripada senyum tak se­nyum dari pengurus keluarga Kim itu. Menyaksikan senyumannya, kobaran api amarah Kwik Tay-lok segera menjadi mereda. Kata Yan Jit sambil tertawa: "Rupanya kulit mukamu tidak terlampau tebal, kalau dibandingkan dengan dinding tem­bok yaa lebih tipis sedikit" Kwik Tay-lok menghela napas panjang katanya sambil tertawa getir. "Oleh sebab itu sekarang, aku hanya pergi dari sini, makin cepat semakin baik. Tapi Yan Jit segera menarik tangannya sembari berseru: "Kenapa kau mesti terburu napsu ? Aku masih mempunyai sebuah jalan lain." Kwik Tay-lok seperti terperanjat mende­ngar perkataan itu, dengan wajah meringis dia berseru: "Dapatkah kau tak usah mencari akal lain?" "Tidak dapat !" Kwik Tay-lok segera menutup telinganya dengan kedua belah tangannya. "Dapatkah aku tidak mendengarkan?" kembali serunya. "Tidak dapat !" Dia menarik tangan Kwik Tay-lok dan melepaskannya dari atas telinga, kemudian sambil tertawa cekikikan katanya lagi: "Idemu yang tidak terlalu baik saja sudah hampir menjual segenap harga diriku, apa lagi ide bagusmu, aku bisa habis." "Betulkah kau menganggap perbuatan semacam ini adalah suatu perbuatan yang memalukan ?" Kwik Tay-lok cuma menghela napas. Kembali Yan Jit berkata : “Aku ingin bertanya kepadamu, ketika si kelabang besar menyambitmu dengan sen­jata rahasia, andaikata kau sanggup untuk menerima nya, mungkinkah kau akan mengembalikannya lagi kepadanya ?" "Aku belum gila, mengapa harus kukem­balikan kepadanya? Apakah ingin menyuruh dia menghajar tubuhku lagi ?" "Nah, kalau begitu benar sudah." "Benar bagaimana ?" "Bila seseorang suka menggunakan emas sebagai senjata rahasianya, asal dia senang, siapa yang akan mengurusnya, betul bu­kan?" "Betul !" "Bila dia menggunakan senjata rahasia untuk menghajar kita, asal kita mampu un­tuk menyambut senjata rahasia, hal ini merupakan kepandaian kita sendiri, betul bukan?" "Betul !" "Bila seseorang mencari uang dengan mengandalkan kepandaiannya sendiri, maka hal ini bukan merupakan suatu perbuatan yang memalukan, betul bukan ?" "Betul !" "Sampai sekarang, sudah ada berapa hal yang kau katakan sebagai sesuatu yang benar?" "Tiga !" "Lantas, apa pula yang hendak kau kata­kan lagi kepadaku tentang soal ini?" '°Tidak ada lagi !" "Masih inginkah kau untuk mendengar­kan pendapatku yang lain ?" Sekali lagi Kwik Tay-lok menghela napas panjang, sahutnya sambil tertawa getir: "Bukan cuma ingin saja, pada hakekatnya inginku setengah mati . . . kau tahu apa arti­nya setengah mati ?' Padahal dia juga tahu, menunggak hutang padahal tak punya uang untuk membayar­nya adalah suatu perbuatan yang sangat memalukan sekali. Tapi Kwik Tay-lok mau tak mau harus pergi berhutang dan berhutang terus, meski tunggakan hutangnya makin menumpuk. Sebenarnya dia adalah seorang yang amat menjaga gengsi, tapi mengapa ia sampai mela­kukan perbuatan semacam ini ?" Tentu saja demi sahabat. Siapa saja, bila dalam hidupnya bisa berteman dengan seorang sahabat yang bersedia berkorban baginya, maka sekalipun sampai mati, diapun tak merasa penasaran. Kwik Tay lok bukan seorang yang suka memaki orang, juga tidak terlalu pandai mema­ki orang, tapi begitu ia mulai mencaci maki, suaranya menjadi keras sekali seperti geledek. Dia berdiri di depan pintu gerbang ke­luarga Kim sambil mencaci maki orang, bahkan Yan Jit yang berada di luar lorong­pun dapat mendengarkan suara makiannya dengan jelas. Dimulut gang ada sebuah pohon pek-yang besar, di bawah pohon terdapat sebuah gundukan tanah yang tinggi. Yan Jit duduk di atas gundukan tanah itu sambil mendengarkan Kwik Tay-lok memaki orang, mukanya menunjukkan suatu mimik wajah yang puas, seakan-akan sedang menikmati se­orang penyanyi sedang me­ngalunkan lagu yang merdu. Sebab yang menjadi sasaran makian Kwik Tay-lok bukan dia. Yang dicaci maki Kwik Tay-lok adalah Kim Toa-say. "Orang she Kim. sudah terang kau se­orang manusia, mengapa selalu menyem­bunyikan diri dalam rumah macam cucu kura-kura? Apa yang kau takuti, apakah hidupmu sudah hancur karena dijotos orang makanya kamu tidak berani keluar untuk bertemu orang ?" Makin didengar Yan Jit semakin bangga, sebab semua kata-kata makian itu adalah ajaran­nya dia kepada Kwik Tay-lok. "Kalau toh Kim Toa-say enggan bertemu denganmu, berdiri saja di depan pintu rumah­nya dan memaki dia sampai keluar rumah." Cara semacam ini dinamakan taktik me­maki, sebenarnya suatu taktik bertempur yang kuno sekali lagi pula biasanya manjur sekali. Bila ada dua pasukan sedang berhadapan asal salah satu pihak bertahan dan tidak keluar maka pihak yang lain pasti akan mengirim orang untuk mencaci maki, me­maki sampai lawannya tidak tahan dan ke­luar dari benteng untuk menerima tanta­ngan mereka. Konon Cu-kat Liang atau Khong Beng per­nah menggunakan taktik seperti ini untuk mencaci maki Cho Cho. Sebenarnya Kwik Tay-lok enggan berbuat demikian, tapi sepatah; kata dari Yan Jit te­lah menggerakkan hatinya. "Bahkan Cu-kat Liang yang begitu terso­hor namanya pun menggunakan siasat tersebut, mengapa kau tak mau mengguna­kannya?" Kalau toh sebagai sebuah taktik untuk bertarung, itu berarti cara itu halal dan bu­kan sesuatu yang tak boleh dicoba, maka Kwik Tay lok pun pergi mencaci maki, lagi pula makian-­makiannya mantap dan tepat. Asal Kim Toa-say dapat mendengar maki­an itu, kalau dia tak sampai keluar dari rumahnya, itu baru aneh namanya. Kejadian aneh tiap tahun selalu ada. Suara makian Kwik Tay lok begitu keras­nya, sampai semua orang yang berada di sekeliling tempat itu dapat mendengarnya semua. Tapi dari balik pintu terbang keluarga Kim justru sama sekali tak ada sesuatu gerakan apapun, bahkan reaksimu tak ada. Jangan-jangan Kim Toa-say adalah se­orang yang tuli ? Belum lagi orang yang dimaki menampak­kan diri, Kwik Tay-lok sendiri malah dibikin habis kesabarannya lebih dahulu. Semua kata makian yang diajarkan Yan Jit kepadanya telah diulangi sampai beberapa kali, orang lain belum jemu mendengarnya, dia sudah jemu memakinya lebih dulu, dia ingin mencari beberapa patah kata lain yang lebih sedap untuk melanjutkan makiannya, apa mau dikata justru tiada kata-kata yang tepat yang teringat olehnya. Pada saat itulah, si pengurus rumah gedung Kim telah menampakkan diri dari balik pintu, di tangannya masih menggotong sebuah kursi. Sebuah kursi yang nyaman sekali tam­paknya. Rase tua itu membawa kursi tadi keha­da­pan Kwik Tay-lok, meletakkannya ke lantai dan wajahnya tetap menunjukkan sikap senyum tak senyumnya yang khas, sedikit­pun tidak nampak menjadi marah atau mendongkol. Kwik Tay-lok agak tertegun sejenak, ke­mudian tak tahan tegurnya dengan nada ter­cengang: "Hei, mau apa kau ?" Sambil tertawa terkekeh-kekeh sahut pe­ngurus tua itu: "Kursi ini adalah suruhan khusus dari loya kami untukmu !" "Sebetulnya ia sudah mendengar caci ma­kiku atau tidak ?" "Sekalipun loya kami sudah banyak umur namun sepasang telinganya belum tuli." "Dia suruh kau menghantar kursi ini untuk apa ?" "Dia kuatir Kwik Tayhiap kecapaian kalau memaki sambil berdiri, maka dipersilahkan kepada Kwik tayhiap untuk memaki sambil duduk, malah pesannya, jika Kwik Tayhiap merasa haus nanti, mau minta air teh atau arak silahkan di utarakan, aku akan segera menghantarnya buat Kwik tayhiap." Sesudah tertawa, dia melanjutkan: "Walaupun tayhiap yang datang kemari sangat banyak, tapi belum ada seorang manusia pun yang bisa memaki lebih bagus dan lebih seru dari pada makian-makian Kwik tayhiap, oleh sebab itu loya kami ber­harap agar Kwik-­tayhiap bisa memaki lebih lama lagi, kalau kau bisa memaki lebih keras pula, hal ini alangkah baiknya." Kwik Tay-lok memperhatikan kursi itu sambil termangu-mangu, setengah harian kemudian, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia membalikkan badan dan berlalu dari situ. Suara si pengurus tua itu masih kede­ngaran bersama dari belakang diiringi gelak tertawa yang keras: "Apakah kwik tayhiap hendak pergi? Tidak dihantar, tidak dihantar, bila lain kali ada waktu, silahkan Kwik tayhiap datang setiap waktu, di sini selalu ada air teh juga ada arak, khusus sebagai obat penyembuh sakit tenggo­rokan." Hampir meledak dada Kwik Tay-lok sa­king mendongkolnya. Sambil memandang ke arahnya, Yan Jit menggelengkan kepalanya berulang kali katanya: "Aku menyuruh kau pergi membuat orang gemas, kau sendiri malah menjadi gemas se­tengah mati, apakah gunanya?" "Bila kau menyaksikan tampang dari rase tua itu, aneh bila kau tak sampai mampus karena kegusaran," seru Kwik Tay-lok de­ngan gemas. "Apapun yang dia katakan, kau harus menganggapnya sebagai kentut, dengan begitu bukankah kau tak akan menjadi kheki ?" "Kau keliru, dia yang telah menganggap setiap perkataanku sebagai kentut bau !" "Ia benar-benar memakimu sedang ber­ken­tut?" seru Yan Jit sambil mengerdipkan matanya. "Walaupun tidak ia katakan, tapi tam­pangnya lebih jauh menggemaskan dari pada mengatakannya keluar !" "Dan kau ternyata tidak tahu, tak tahupun harus ditahan." "Kenapa ?" "Karena akupun memangnya lagi ber­kentut. Yan Jit segera tertawa. Tentu saja tertawanya jauh lebih sedap di pandang daripada senyuman pengurus tua itu, cuma saja sudah tidak sebagus dahulu lagi. "Kwik Tay-lok menatap wajahnya, lalu sambi menarik muka berkata: "Sebetulnya kau masih mempunyai berapa banyak idea lagi ? Lebih baik sekali­gus kau katakan semuanya." "Kau masih ingin mendengarkan ?" "Dengarkan sampai mampus lebih bagus lagi, mati satu berkurang satu . . . . . . ." Tiba-tiba Yan Jit terus menghela napas, katanya sambil tertawa getir: "Cuma sayang aku sudah tak punya idea lagi.” "Aaah, masa manusia yang mempunyai bakat bagus semacam kaupun berubah menjadi tak punya ide lagi ?" kata Kwik Tay-lok dengan suara dingin. Yan Jit menghela napas panjang. "Aaai . . . . . . . kau bilang pengurus tua itu seorang rase tua, menurut pendapatku, justru Kim Toa say lah baru benar-benar seorang rase tua." "Bukankah kau selalu bilang dia seorang yang supel, mana terbuka lagi orangnya?" ejek Kwik Tay-lok dingin. "Seandainya dia sampai benar-benar bertarung melawanmu, bila tak berhasil mengenai badanmu, berarti dia bakal rugi beberapa ratus tahil emas, seandainya kalau sampai melukai dirimu, diapun harus mem­beri beberapa ratus tahil perak sebagai ong­kos pengobatanmu." Setelah menghela napas panjang, katanya lebih jauh: "Aku lihat, belakangan ini Kim Toa-say tentu sudah tertipu berulang kali, maka lama-­kelamaan ia menjadi semakin berpe­ngalaman, oleh sebab itu sudah barang tentu dia tak akan sudi tertipu lagi." "Yaa, dia memang tidak tertipu, tapi aku yang tertipu." Yan Jit segera tersenyum. "Padahal kau pun tak bisa dikatakan ter­tipu, bagaimanapun juga kau toh sudah berha­sil memaki seseorang habis-habisan." "Dapatkah aku memaki orang sekali lagi?" "Siapa yang hendak kau maki kali ini ?" "Kau ?" Tiba-tiba dari kejauhan sana muncul se­ekor kuda yang dilarikan kencang-kencang. Waktu itu, Kwik Tay-lok sudah sedemi­kian khekinya sampai persoalan apapun segan diurusi, diapun enggan untuk berpaling walau pun memandang sekejappun. Yan Jit yang berada di hadapannya me­nunduk rendah-rendah, seakan-akan segan di­ketahui penunggang kuda itu. Siapa tahu justru penunggang kuda itu bermata tajam. Baru saja kuda itu menerjang masuk ke dalam lorong, tiba-tiba binatang itu mering­kik panjang sambil mengangkat kaki depan­nya ke atas. Hebat sekali kepandaian menunggang kuda yang dimiliki orang itu, sambil menarik tali les kuda, ia berjumpalitan dan melayang turun te­pat di hadapan Kwik Tay-lok, baju­nya lebih merah dari bunga bwe, merahnya amat menyo­lok mata. Swan Bwe-thong. Bwe Ji-lam. Kwik Tay lok segera merasakan matanya mencorong sinar terang, serunya tertahan: "Hei kau, kenapa kau sampai di sini?" "Aku lagi ingin bertanya kepada kalian, kenapa kamu berdua datang ke sini?" sahut Bwe Ji-lam sambil tertawa. "Kau bisa datang, mengapa kami tak bisa datang?" sela Yan Jit. "Mau apa kalian datang ke sini ? Kenapa kamu berdiri tertegun saja di sini ?" "Kami sedang menunggu kau." "Darimana kau bisa tahu kalau aku akan kemari ?" "Aku bisa meramal" Bwe Ji-lam tertawa cekikikan, sambil me­mukulnya pelan, katanya sambil tertawa cekikikan: "Aaah, kau ini, tak sepotong katapun yang akan kupercayai, karena kau adalah........" Mendadak Yan Jit mendekap mulutnya, agak memerah paras mukanya itu, lalu ber­seru dengan gelisah: "Bila kau berani bicara sembarangan, li­hatlah, akan kurobek mulutmu itu !" Kwik Tay-lok yang menyaksikan dengan tersebut menjadi tertegun. Sudah terang Yan Jit telah menolak pi­nangan dari Swan Bwe-thong, sepantasnya kalau Swan Bwe-thong membencinya sete­ngah mati. Tapi .. ... kenapa dia orang tampak begitu mesrah setelah saling jumpa muka ? Bwe Ji-lam tampak-sedang memutar biji matanya, sebentar memandang ke arahnya, se­bentar memandang pula ke arah Yan Jit, lalu sambil menutup bibirnya dan tertawa dia ber­kata: "Baik, aku tidak akan bicara, tapi akupun tak akan mendengarkan perkataanmu, uca­pan siau-Kwik, pasti akan lebih jauh lebih dipercaya daripada perkataanmu." Dengan cepat dia bertanya lagi: "Siau-kwik, aku ingin bertanya kepadamu ada urusan apa kalian datang kemari ?" Kwik Tay lok mendehem berulang kali, kemudian sambil tertawa paksa sahutnya: "Kami tidak berbuat apa-apa, cuma saja ......... cuma datang bermain saja, bermain ke tempat ini kan tidak melanggar hukum bukan?" Bwee Ji-lam memandang sekejap ke arah Yan Jit, kemudian sambil tertawa katanya: “Dengarlah, walaupun Siau Kwik juga lagi mengibul, tapi cara membawakan kata­katanya tidak sewajar dan seleluasa dirimu!" Ia menjotos lagi badan Yan Jit pelan, ke­mudian melanjutkan: "Padahal, sekalipun tidak kalian katakan aku juga tahu ada urusan apa kalian datang kemari." "Oooh . . . . " Bwe Ji-lam kembali memutar biji matanya ke sana ke mari, lalu katanya sambil ter­tawa: "Belakangan ini, sudah pasti kalian menderita kekalahan lagi, maka kamu ber­dua ber­niat datang ke rumah Kim toa-siok untuk mendapatkan beberapa puluh biji pe­luru emas untuk membayar hutang, bukan­kah begitu?" Kwik Tay lok memandang ke arahnya, lalu berdiri tertegun.. Kalau dilihat kemampuan budak tersebut, agaknya kecuali mencari suami, pekerjaan apa pun yang lain sangat dikuasai olehnya. Senyuman Bwe Ji-lam masih menghiasi di ujung bibirnya, tapi dia menghela napas pan­jang, katanya: "Cuma sayang kedatangan kalian kali ini mungkin cuma sia-sia belaka . . . . " "Kenapa?" tak tahan Kwik Tay- lok segera bertanya. "BILA USIA seseorang semakin menanjak tua, seringkali jalan pikirannya menjadi bertambah sempit, tahun ini Kim toa-siok telah berusia lima puluh tahunan lebih, maka dari itu . . . ." "Maka dari itu kenapa?" "Sekarang dia sudah menemukan bahwa mempermainkan berkantung-kantung pe­luru emas­nya didalam rumah, ternyata jauh lebih me­nyenangkan daripada mempergu­nakannya untuk menimpuk orang" "Tadi kau menyebutnya sebagai paman Kim ?" tiba-tiba Yan Jit menyela dari sam­ping. Bwe Ji-lam mengangguk. "Kalau begitu Kim toa-say adalah paman-mu?" seru Yan Jit lebih jauh. "Bukan paman sungguhan, cuma sedari kecil kami memang sudah terbiasa me­manggilnya, sebagai toa-siok." "Kalau begitu sejak kecil kau telah me­ngenali dirinya ?" Bwe Ji-lam segera tertawa. "Selagi masih berada dalam perut ibuku pun, aku sudah seringkali bermain kemari." Yan Jit memandang ke arah Kwik Tay-lok, seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi kemudian diurungkan. "Hei, sebetulnya apa tujuan kalian? Betul tidak dugaanku tadi?" kembali Bwe Ji-lam menegur. "Tidak betul !" "Aaai . . . . kalau begitu, usul baikku pun tak perlu kukatakan lagi !" Kwik Tay-lok berusaha untuk menahan diri, tapi akhirnya toh tidak tahan juga, tanpa terasa dia berseru: "Usul apa ?" "Kalau toh kedatangan kalian bukan lan­taran soal itu, sekalipun telah kukatakan juga percuma saja." "Seandainya kedatangan kami memang lantaran soal itu ?" "Kalau memang begitu, mungkin saja aku bisa mencarikan akal bagus untuk kalian, atau paling tidak memberi bantuan kepada kalian." "Kalau memang begitu, akupun dapat memberitahukan kepadamu, dugaanmu memang tepat sekali, pada hakekatnya kau memang tak lebih adalah seorang Cu-kat Liang hidup." Bwe Ji-lam segera tertawa cekikikan. "Aku tahu, memang kau lebih jujur dari pada dirinya." "Tapi mana akal bagusmu ? Bagaimana­pun juga harus kau katakan kepada kami." Sambil bergendong tangan, pelan-pelan Bwe Ji-lam berjalan hilir mudik di tempat itu, lagaknya saja seakan-akan menganggap dirinya memang benar-benar seorang Cu-kat Liang "Aku memang sudah tahu kalau kau tak pernah jujur selamanya." tegur Yan Jit pula dingin. Bwe Ji-lam tertawa. “Terserah apapun yang hendak kau kata­kan, semuanya tak berguna, kalau aku tak mau berbicara, tetap tak akan berbicara." "Lantas apa yang kau inginkan sebelum berbicara ?" "Harus ada syaratnya." "Apa syaratnya ?" Bwe Ji-lam mengerdipkan matanya, lalu menjawab: "Bila barangnya sudah didapatkan, maka kau musti membagi separuh bagian untuk­ku, paling tidak ucapan semacam ini se­pantasnya kalau kalian katakan." "Aaah . . . . rupanya kau ingin hitam makan hitam" ser­u Kwik Tay-lok sambil tertawa tergelak. "Padahal hatiku tidak terlalu hitam, aku pun tidak ingin kebagian setengahnya. asal ada tiga banding tujuh pun aku sudah merasa cu­kup" "Bila akalmu tidak manjur ?" "Manjur atau tidak, bisa kita buktikan dengan segera !" "Waaah . . . . . tampaknya kau harus ber­ganti pekerjaan saja, aku lebih cocok seba­gai seorang penjual jamu" seru Kwik Tay-lok sambil tertawa. Yang penting jamu yang kujual sekarang mau kalian beli atau tidak ?" "Tidak ingin membelipun terpaksa harus membeli" "Aku tidak ingin menjualpun terpaksa harus menjual kepada kalian" sambung Bwe Ji-­lam sambil tertawa. Dinding pekarangan sangat tinggi. Bwe Ji-lam membawa Yan Jit dan Kwik Tay lok masuk ke dalam lorong gelap di be­lakang gedung. Tentu saja lorong ini jauh lebih sempit, di ujung sana pun terdapat sebuah pintu ger­bang hitam yang sempit. "Di sinikah letaknya pintu belakang ke­luarga Kim ?" tanya Yan Jit kemudian. Bwe Ji-lam mengangguk. "Yaa, di balik dinding pekarangan sana merupakan kebun belakang keluarga Kim, bila musim semi telah tiba seringkali Kim-toa-siok akan pindah dari ruang depan menuju ke kebun belakang." Kwik Tay lok hanya mendengarkannya de­ngan seksama. "Sekarang aku akan melompat masuk le­wat dinding pekarangan itu, tapi kau harus mengejar diriku dengan kencang." kata Bwe Ji-lam kemudian. "Kemudian ?" "Kemudian aku akan mencari Kim toa-siok dan memberitahukan kepadanya kau meng­goda dan mempermainkan aku, suruh dia untuk membalaskan sakit hatiku ?" "Kemudian ?" "Kim toa-siok selalu menyayangi aku, bila ia melihat kau datang mengejar, sudah pasti peluru emasnya akan dibidikkan kepadamu." "Kemudian ?" "Tak ada kemudian lagi, asal kau mampu menerima berondongan peluru emasnya, maka dengan cepat kau akan menjadi se­orang kaya baru". "Kalau tak mampu untuk menerimanya?" Bwe Ji-lam segera tertawa. "Kemungkinan besar kau akan berubah menjadi seorang mati !" "Orang mati ?" Bwe Ji-lam manggut-manggut. "Bila dia tahu kalau kau mau sedang me­nganiaya aku, sudah barang tentu sera­ngannya terhadap dirimu pun tidak akan sungkan­-sungkan." "Bagaimana dengan kau ?" "Aku ? Tentu saja aku hanya bisa me­nyaksikan dari samping." "Bila aku kaya, kau datang minta bagian, bila aku mati, tentunya kau juga akan membelikan sebuah peti mati untukku bu­kan ?" "Itu mah tak perlu aku yang mesti mem­belikan, baik buruk Kim toa-siok pasti akan membelikan sebuah peti mati berkayu tipis untuk temanmu beristirahat." "Oleh sebab itu, entah bagaimanapun juga kau tak akan merasakan ruginya sama sekali." "Tentu saja tidak ada." Jawab Bwe Ji-lam sambil tertawa, "kalau tidak, kenapa aku ha­rus mencarikan akal bagimu ?" Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang, gumamnya: "Memang suatu akal yang sangat bagus, tak kusangka kau bisa mendapatkan akal sebagus ini." "Pada dasarnya orang perempuan me­mang enggan melakukan suatu transaksi yang merugikan." "Perempuan, aaai .....perempuan." "Sebetulnya kau bersedia untuk melaku­kannya atau tidak ?" "Tidak mau melakukan pun terpaksa di­la­kukan." "Tapi ingat, kalau kau mati, jangan salah kan diriku." "Bila aku bisa mati benar-benar, untuk berterima kasih kepadamu saja tak sempat, masa akan marah kepadamu ?" "Berterima kasih kepadaku ?" "Orang mati tak usah menyaksikan tam­pang-tampang tengik dari para penagih hu­tang juga tak usah mendengarkan celoteh kaum pe­rempuan, bukankah hal ini, jauh lebih enakan daripada hidup terus ?" "Sungguh ?" "Tidak, cuma bohong-bohongan ?" Belum Kwik Tay-lok merasakan hidupnya tersiksa. Dia selalu hidup dengan riang gembira. Entah berada dalam keadaan seperti apa­pun, dia dapat menemukan arti atau makna dari perbuatan yang dilakukannya, entah apapun yang sedang dilakukan, ia selalu melakukannya dengan ber­sungguh-sungguh, oleh sebab itu dia selalu merasa amat gembira. Seandainya dia benar-benar sampai teri­ngat untuk mati, maka kendatipun orang yang ada di dunia ini belum mati semua, sisanya su­dah pasti tinggal beberapa orang saja. Bila dinding pekarangan rumah orang bi­asa, satu kaki empat depa pun sudah diang­gap terlalu tinggi, maka tembok pekarangan rumah ini paling tidak mencapai dua kaki delapan depa. Bwe Ji-lam mendongakkan kepalanya memperhatikan sebentar keadaan di sekeli­ling tem­pat itu, lalu katanya: "Sanggupkah kau untuk merangkak naik ke atas dinding pekarangan itu?" "Yaa mungkin saja" "Mungkin bagaimana ?" "Mungkin saja aku sampai di atas, mung­kin juga tidak, karena walaupun aku punya keberanian namun tidak memiliki keyaki­nan" "Didalam ilmu meringankan tubuh, tak pernah tercantum kata berani dan yakin" "Tapi kata-kata itu ada didalam kamus­ku!" Ucapnya memang bukan mengibul. Walau apapun yang sedang dilakukan Kwik Tay-lok, maka modalnya yang teru­tama adalah "keberanian". Bwe Ji-lam memperhatikannya, kemudian menghela napas panjang. "Aku hanya berharap, kepalamu jangan sampai tertumbuk bocor" Sekalipun kepalaku sampai bocor. aku tetap akan naik ke atas" "Baik", kata Bwe Ji-lam kemudian sam­bil tertawa, "aku akan naik duluan, setelah memberi tanda nanti, kau harus menyusul dari belakang, mengerti?" "Kau yakin bisa naik ke atas ?" "Tidak !" Tapi setelah tertawa, sambungnya: "Sekalipun aku tidak yakin, juga tidak memiliki keberanian, tapi aku punya akal." "Apa akalmu ?" Tiba-tiba ia melompat naik ke atas bahu Kwik Tay-lok, kemudian dari atas bahu pe­muda itu, dia melompat naik lagi ke atas dinding pekarangan rumah. Sekali lagi Kwik Tay-lok menghela napas gumamnya: "Cara yang dipergunakan kaum perem­puan, mengapa selalu merugikan kaum le­laki? Heran, sungguh amat mengherankan." "Itulah dikarenakan kebanyakan orang lelaki terlalu bodoh" kata Yan Jit hambar. "Memangnya kau sendiri bukan lelaki?", Yan Jit tertawa. "Aku adalah seorang lelaki, tapi aku tidak bodoh." Sementara itu, Bwe Ji-lam sudah mengga­pe ke arahnya dari atas dinding pekarangan. Kwik Tay-lok siap melompat ke atas, tiba-­tiba ia berhenti dan berpaling ke arah Yan Jit. "Apa lagi yang kau nantikan ?" Yan Jit segera menegur. "Kepergianku kali ini, mungkin juga bisa berakibat kematian bagiku, maka . . . . . ." "Maka kenapa ?" "Maka, sekarang kau harus memberitahu­kan rahasia tersebut kepadaku. . . . . . . !" "Tidak bisa." "Kenapa tidak bisa ?" "Sebab kau dasarnya memang bodoh" "Dalam hal mana aku bodoh ?" "Karena kali ini kau tidak bakal mati" "Kau yakin ?" "Aaai . . . . kalau dibilang kau bodoh, ternyata kau memang benar-benar bodoh" kata Yan Jit sambil menghela napas pan­jang. Setelah menatap wajah Kwik Tay-lok, tiba-tiba sorot matanya berubah menjadi sangat lembut katanya pelan. "Seandainya aku tidak miskin, masa aku tega membiarkan kau pergi seorang diri ?" "Kau sungguh amat bodoh !" Bwe Ji-lam memandang wajah Kwik Tay lok dan menggelengkan kepalanya berulang kali: "Kau betul-betul bodohnya setengah mati!" ia melanjutkan. "Atas dasar apakah kau menuduhku bodoh?" seru Kwik Tay-lok dengan mata melotot. "Semua hal bodoh, kenapa kau tak bisa berubah menjadi sedikit lebih pandai ?" "Bolehkah aku tidak pintar ? Bolehkah aku bodoh sedikit ?" "Tentu saja boleh !" Ditepuknya bahu Kwik Tay-lok pelan, ke­mudian katanya lebih lanjut sambil tersenyum: "Sebab ada banyak orang perempuan yang suka lelaki yang agak bodoh, maka teruskan saja kebodohanmu itu." "Apakah kau adalah salah satu diantara sekian banyak gadis-gadis itu . . . . . ?" "Aku tidak dan lagi aku tak berani." jawab Bwe Ji-lam sambil tertawa mengikik. Seraya berkata dia melirik sekejap Yan Jit yang berada di bawah dinding situ, lalu sam­bil tertawa cekikikan berkelebat ke muka seperti se ekor burung walet. Tentu saja dia tak bisa terbang, tapi gera­kan tubuhnya memang lebih indah dan menawan daripada seekor burung walet. Kwik Tay-Iok berdiri di ujung tembok sambil termangu, agaknya ia sudah dibikin terpesona oleh keindahan orang. Sambil menggigit bibirnya dan mendepak­kan kaki ke tanah, Yan Jit kembali berseru: "Telur busuk, kenapa kau tidak segera melakukan pengejaran ?" Kwik Tay-lok memperhatikannya, seakan-­akan telah menemukan sesuatu, tapi seakan­-akan pula tidak berhasil menyaksi­kan sesuatu, dia seperti mau berbicara tapi seperti juga ti­dak akan berbicara apa. "Kau tak usah kuatir, aku pasti dapat menyusulnya, aku tak bakal salah mengejar orang." Yan Jit berdiri di dinding pekarangan, agaknya diapun dibikin agak terperana. Mungkin bukan terperana, melainkan dibi­kin mabuk kepayang. Sepasang matanya yang jeli tampak ber­tambah sipit dan mengecil, mukanya berubah menjadi merah membara karena jengah, bukan­kah ini semua pertanda dari seseorang yang lagi dibuat mabuk kepayang. . Tapi mengapa dia mabuk kepayang ? Sampai akhirnya, dia baru bertanya: "Kau akan menunggu aku atau tidak ?" "Telur busuk, tentu saja aku akan menunggumu." Katanya. "Berapa lama ?" "Berapa lama pun akan kutunggu." Waktu itulah Kwik Tay-lok baru tertawa, Apa yang membuatnya menjadi mabuk kepayang. Tiada orang yang bisa menjawab, mung­kin selain orang yang bersangkutan tak nanti orang lain bisa memberikan jawaban yang tepat. Kim Toa-say. Bila seseorang menamakan dirinya seba­gai Toa-say, maka entah dia benar-benar se­orang jendral atau bukan, paling tidak tam­pang maupun dandanannya pasti mirip Toa-say. Kim Toa-say memang memiliki gaya dan dandanan yang luar biasa sekali . . . . Dia sangat tinggi, jauh lebih tinggi dari pada kebanyakan orang yang ada di dunia ini. Bukan cuma tinggi, badannya pun besar, kekar dan sangat berotot. Orang yang berperawakan tinggi besar, selalu mendatangkan suatu kewibawaan yang besar dan menggetarkan perasaan orang. Kendatipun usianya telah mencapai lima puluh tahunan, namun berdiri di sana , tam­pak punggungnya tegak lurus seperti pena, sinar matanya tajam bagaikan sembilu, walaupun jenggotnya tidak terlampau pan­jang, namun amat lebat dan hitam. Pakaian yang dikenakan sudah barang tentu sebuah pakaian yang amat serasi dengan potongan badannya, bahan dari ba­han yang mahal, sekalipun kau tidak tahu Kim Toa-say paling tidak juga tahu kalau dia bukan seorang prajurit tanpa nama. Dalam sekilas pandangan saja, Kwik Tay-lok sudah tahu kalau dia adalah Kim Toa-say. Sewaktu Bwe Ji-lam kabur ke situ, ia se­dang berdiri di bawah pohon Tho di depan rumah serta menikmati bunga-bunga tho yang baru mekar, sementara mulutnya membawakan sebait syair. Tampaknya sang Jendral ini adalah se­orang yang cukup tahu akan arti seni. Begitu bertemu dengannya, dalam kelo­pak mata Bwe Ji-lam seakan akan sudah mengem­beng air mata, hampir saja ia menubruk ke dalam rangkulannya sambil entah apa saja yang dikatakan. Kwik Tay lok tidak mendengar apa yang dikatakan, tapi menyaksikan hawa amarah yang menghiasi wajah Kim Toa-say, lalu terdengar orang itu membentak keras: "Diakah orangnya ?" Bwe Ji-lam mengangguk tiada hentinya, sementara air matanya jatuh bercucuran membasahi wajahnya. Kwik Tay-lok yang menyaksikan semua kejadian tersebut menjadi geli bercampur kagum, pikirnya: "Aaai . . . . . tidak kusangka semua pe­rempuan yang ada di dunia ini berbakat se­mua untuk bermain sandiwara." Sementara itu wajah Kim Toa-say telah diliputi hawa amarah yang makin meluap, sambil melotot ke arah Kwik Tay-lok, ben­taknya: "Kau ingin kabur ?" "Aku sama sekali tidak kabur, bukankah aku masih berdiri di sini dengan baik-baik ?" "Bagus, bagus . . . . . kau amat bagus !" Agaknya ia tak mampu berkata-kata lagi saking gusarnya. "Kali ini ucapanmu sangat tepat, sebetul­nya aku memang baik-baik sekali," jawab Kwik Tay-lok. Kim Toa-say meraung keras. "Betul-betul menggemaskan hati lohu!” "Kalau gemas, lebih baik mampus saja !" Sepasang mata Kim Toa-say berubah menjadi merah mengerikan, seakan-akan tiap saat ia bisa jatuh pingsan karena men­dongkolnya. Untung saja Bwe Ji-lam telah datang te­pat pada waktunya untuk memayang dirinya. Entah sedari kapan, dia sudah mengeluar­kan sebuah gendewa raksasa berwarna kuning emas serta kantung kulit menjangan yang kelihatannya berat sekali. Begitu menerima busur raksasa itu, selu­ruh tubuh Kim Toa-say seakan-kan segera berubah, berubah menjadi segar berseman­gat, berubah menjadi keren dan seperti le­bih muda kembali. Sebenarnya Kwik Tay-lok ingin membuat­nya menjadi kheki, tapi sekarang ia tak be­rani gegabah lagi. Bila seorang jago kenamaan telah mem­bawa senjata andalannya, maka andaikata kau berani gegabah, sudah pasti jiwanya akan me­layangnya . . . . . Tiba-tiba terdengar Kim Toa-say memben­tak keras: "Kena !" Bersamaan dengan menggemanya suara ben­takan itu seluruh angkasa penuh dengan cahaya keemas-emasan yang tinggi di ang­kasa, bagai­kan hujan badai saja berbareng ke tubuh Kwik Tay-lok. Ternyata bidikan sakti dari Kim Toa-say memang bukan suatu ancaman yang bisa di anggap sebagai barang mainan. Untung saja Kwik Tay-lok telah mempu­nyai persiapan yang cukup matang . . . . Sekalipun bidikan dari peluru-peluru sakti Kim Toa say dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, namun diapun sanggup untuk menyambutnya dengan tak kalah cepatnya. Seandainya dari langit ada emas yang jatuh, maka setiap orang pasti akan me­nyambut­nya dengan cepat, apalagi dia pada dasarnya memang mempunyai kepandaian sesungguhnya. Bwe Ji-lam yang menonton dari samping tiba-tiba berteriak keras: "Babi yang tamak dan rakus itu perlu di jagal lebih dahulu !" Entah Kwik Tay-lok tidak mendengar, atau tidak mengerti teriakan tersebut, ia tidak menggubris. Kedua belah sakunya sudah penuh de­ngan peluru, begitu peluru tadi disambut dengan jaring kemudian dimasukkan ke dalam saku. Secara beruntun Kim Toa say telah mem­bidikkan dua puluh satu biji peluru, setiap kali sudah melepaskan bidikan, ia selalu berhenti untuk menghembuskan napas, inilah kesempatan yang baik bagi anak muda itu un­tuk masukkan peluru emas tersebut dari jaring ke dalam saku. Bagaimanapun besarnya kantung, tak akan seperti napsu serakah orang yang tak pernah habis, akhirnya toh kantung itu pe­nuh juga. Ketika Kwik Tay-lok pergi dari sana , saku­nya sudah penuh dengan peluru emas. Menanti kantung itu sudah penuh, ia baru manfaatkan kesempatan dikala Kim Toa-say sedang mengatur napas untuk kabur. Tentu saja dia ingin meninggalkan tempat itu dengan kecepatan paling tinggi, tapi en­tah mengapa ternyata gerakan tubuhnya tidak bisa secepat tadi lagi. Untung saja perawakan tubuh Kim Toa-say terlampau besar, usianya juga su­dah lanjut, seka­lipun melakukan penge­jaran, belum tentu bi­sa menyusulnya. Sewaktu melompat turun tadi, Kwik Tay-lok masih ingat di sudut dinding pekarangan itu terdengar sebuah sumur. Ternyata daya ingatannya cukup baik, dan rupanya belum dibikin silau oleh gemerlap­nya cahaya emas, maka dengan cepat ia berhasil menemukan sumur tersebut. Tentu saja Yan Jit masih menunggu ke­datangannya di luar sana . "Tak ada selanjutnya, asal kau dapat menyambut serangan peluru beruntunnya, maka dengan cepat kau akan berubah menjadi seorang kaya baru." Setelah menjadi orang kaya, berarti tak usah melihat tampang dari para penagih hutang lagi. Kwik Tay-lok meraba isi kantungnya yang penuh berisi peluru emas, tak tahan lagi dia tersenyum sendiri, diawasinya ujung dinding pekarangan, kemudian setelah mundur dua langkah untuk mengambil ancang-ancang, dia lantas merentangkan lengannya dan melompat sekuat tenaga ke atas dengan jurus Yan­cu-cuan ini (burung walet menem­busi awan). Tadi, dia melompat naik ke atas dinding pekarangan tersebut dengan gerakan terse­but, sekarang tentu saja dia mempunyai ke­yakinan. Siapa tahu, keadaan yang dihadapinya sekarang jauh berbeda. Tenaga lompatan yang dipergunakannya sekali ini jauh lebih besar dari pada tadi, namun sewaktu hampir mencapai puncak dinding, ke­tika berada enam tujuh depa dari tempat se­mula, mendadak kepalanya ham­pir saja menumbuk di atas dinding tersebut, hampir saja kepalanya berlubang. Walaupun tak sampai berlubang, namun akibatnya ia jatuh terlentang ke atas tanah. "Apa yang telah terjadi ?" Masa ilmu meringankan tubuhnya secara tiba-tiba menjadi mundur sejauh ini ? Sambil memegangi kepalanya Kwik Tay-lok merasa kejadian ini sedikit agak aneh, ia be­nar-benar tidak habis mengerti. Kau tidak habis mengerti, berarti dia ha­rus mencoba lagi. Tapi hasil tetap sama saja, bukan cuma kepalanya saja yang hampir berlubang, badannya turut jatuh terlentang ke atas tanah. Mendadak ia merasa bahwa sewaktu me­lompat naik tadi, pada pinggangnya seakan­-akan terdapat sepasang tangan yang menariknya ke bawah. Tentu saja di atas pinggangnya itu tiada tangan, yang ada hanyalah peluru emas. Akhirnya Kwik Tay-lok menjadi paham sendiri, apa gerangan yang sebenarnya te­lah terjadi. Seandainya tiap butir peluru emas, itu ibaratnya mencapai empat tahil, itu berarti empat puluh biji peluru emas mempunyai berat mencapai sepuluh kati lebih. Siapa saja itu orangnya, bila didalam sa­kunya tahu-tahu diberi beban seberat dua tiga puluh kati, sudah barang tentu ilmu meringan­kan tubuhnya akan jauh menga­lami kemunduran. Tadi, andaikata ia menerima dua kati lebih kurang dari jumlah yang diterimanya sekarang, mungkin sekarang ia sudah melompati dinding pekarangan itu dan bertemu dengan Yan Jit. Tapi itu pun tidak menjadi soal, toh pasti ada akal untuk mengatasinya . . . . . . . Di sudut dinding sana , rerumputan tum­buh amat lebat dan tinggi. "Seandainya kusembunyikan peluru emas itu ke balik semak, sudah pasti tak akan ada orang yang menduganya" Siapa yang akan mengira kalau ada orang bakal membuang emas ke balik semak ? Kwik Tay-lok kembali tertawa, dia segera melepaskan kedua buah kantung itu dan menyembunyikannya ke balik semak belu­kar. Setelah itu dia baru melompat naik ke atas dinding. Ia sangat mengagumi kemampuan sendiri. Ia merasa semua perbuatannya amat ba­gus, amat berakal dan amat berkekuatan. Andaikata berganti dengan orang lain, su­dah pasti dia akan putar otak di bawah dinding situ, malah siapa tahu sudah kena dikejar oleh Kim Toa-say. Kalau orang yang begitu berotak dan ber­pikiran semacam dia tak bisa kaya di kemu­dian hari, kejadian seperti ini baru aneh namanya. Betul juga, Yan Jit mash menunggunya di luar. Dalam waktu singkat Kwik Tay-lok telah mengisahkan semua pengalamannya itu kepada nya, kemudian tak tahan lagi dia berkata sambil tertawa: "Bukankah, kaupun amat mengagumiku?" "Sekarang masih terlampau awal untuk mengagumi dirimu." "Masih terlampau awal ?" "Sekarang, peluru emas itukan masih berada dirumah orang lain." "Aaah, soal itu mah gampang sekali . . ." seru Kwik Tay-lok sambil tertawa, "bukan­kah di atas pelana Swan Bwe thong juga terdapat segulung tali panjang. Yan Jit mengangguk, tadi iapun sempat melihatnya. "Sekarang, aku akan masuk lagi dan me­ngikat kedua kantung itu dengan tali, ke­mudian kau, menariknya dari luar dinding . . . . coba bayangkan gampang bukan" "Yaa, memang gampang !' Kwik Tay-lok segera tertawa, lanjutnya: "Asal kita punya otak, maka bagaimana­pun sulitnya suatu pekerjaan, niscaya akan berubah menjadi gampang dengan sendiri­nya." Tak tahan Yan Jit tertawa, katanya pula: "Karena itu, kau selalu mengagumi diri­mu sendiri ?' "Yaa, apa boleh buat, kalau aku tidak mengagumi diriku sendiri, siapa pula yang akan mengagumi diriku ?" Kuda Bwe Ji-lam di parkir di bawah pohon sana di atas pelananya memang tergantung sesuatu tali. Agak lama Kwik Tay-lok menunggu di luar dinding, setelah merasa bahwa dibalik da­lam sudah tiada bersuara lagi, ia baru melompat masuk ke dalam. Ternyata kedua buah kantong itu masih berada ditempat semula. Kwik Tay-lok merasa puas terhadap ke­te­patan dugaannya. Ia menyaksikan Yan Jit menarik kedua buah kantung itu dari luar dinding pekara­ngan, kemudian menariknya keluar. Kemudian iapun mendengar suara Yan Jit berbisik dari luar. "Aku telah menerimanya, hayo keluarlah dari sana " "Sekarang Kwik Tay-lok baru bisa meng­hembuskan napas lega, akhirnya sukses juga usahanya ter sayang kembali bagai­mana sikap para penagih hutang yang gela­gapan sewaktu melihat tumpukan emas se­banyak itu, hampir saja ia tertawa terge­lak-gelak. Maka dia lantas melompat ke atas dan dengan enteng dia telah berada di luar pekarangan. Waktu itu, Yan Jit telah berada di bawah pohon di luar lorong sana , berdiri disamping kuda sambil menantikan kedatangannya. Sewaktu ia sampai di situ, Swan Bwe-tong juga sedang munculkan diri lewat pintu de­pan. "Bagaimana dengan Kim Toa-say ?" tak tahan Kwik Tay-lok segera bertanya cepat. Sambil menutupi bibirnya menahan rasa geli, sahut Bwe Ji-lam "Hampir saja dia mati karena mendong­kol, sekarang telah kembali ke kamarnya untuk berbaring". "Sekarang kau sudah ngeloyor keluar, ti­dak kuatir jika ia sampai menaruh curiga?" "Tidak menjadi soal, selesai membagi harta, untuk kembali lagi ke sanapun masih sempat." Setelah tersenyum, lanjutnya: "Untung saja uangnya tak pernah diham­burkan sampai habis, sekalipun kita menda­pat sedikit bagiannya, aku rasa juga tak menjadi soal." Tiba-tiba saja Yan Jit berkata: "Bukankah kita telah berjanji, bagian yang kita peroleh akan dibagi menjadi tiga dan tujuh ?" "Benar !" Bwe Ji-lam mengangguk. "Baik, kau boleh mendapat tujuh bagian, kami hanya akan mengambil tiga bagian saja." Bwe Ji-lam tertegun. Kwik Tay lok juga hampir saja melompat bangun, teriaknya tertahan: "Apa? Kau akan membagikan tujuh bagian kepadanya ?" "Seandainya dia menginginkan semua­nyapun akan kuberikan !" "Kau .. ... apakah kau sudah kena dite­nung ? Atau kepalamu mungkin rada pu­sing?" "Yang lagi pusing adalah kau, bukan aku" Tiba-tiba ia melemparkan kedua buah kantung itu ke arah Kwik Tay-lok . . . . . Karena tidak menaruh perhatian, Kwik Tay-lok tidak berhasil untuk menerimanya, kan­tung berisi peluru itu segera terjatuh ke tanah. Yang berserakan bukan peluru dari emas, melainkan peluru dari besi semua .... Memandang peluru-peluru besi yang ber­warna hitam dan bergelindingan di atas tanah itu, Kwik Tay-lok berdiri tertegun, hampir saja biji matanya melompat keluar. "Coba katakan sekarang, siapa yang se­betulnya lagi pusing, kau atau aku ?" seru Yan Jit lagi sambil tertawa hambar. "Tapi aku . . .. . . jelas melihat kalau yang dibidikkan ke arahku adalah peluru emas" Yan Jit menghela napas panjang. "Aai . . . . . tampaknya orang ini selain pusing, matanya juga sudah kabur . . . ." Kwik Tay-lok tertegun beberapa saat la­manya, mendadak ia menuang isi kantung itu keluar, mendadak dijumpainyai ada se­butir peluru berwarna emas yang mengge­linding ke­luar. Hanya ada sebutir yang benar-benar me­rupakan peluru emas. Bwe Ji-lam memungutnya dan diperhati­kan sekejap, tiba-tiba ia berkata: "Coba kalian lihat, di atas peluru ini berukirkan beberapa huruf." "Apa yang tertulis di situ ?" Ketika Bwe Ji-lam membaca tulisan di atas peluru tersebut, mimik wajahnya keli­hatan agak aneh, sampai lama kemudian ia baru menghela napas seraya tertawa getir, katanya: "Lebih baik kau melihat sendiri saja." Di atas peluru emas itu tertera sebaris tu­lisan yang berbunyi . "Jika seseorang terlalu tamak, emas yang sudah ditanganpun akan berubah menjadi besi rongsok!" "Babi yang tamak dan rakus harus dijual lebih dahulu" Teringat akan ucapan dari Bwe -Ji-lam tersebut, kemudian membaca pula serang­kaian tulisan di atas peluru emas tersebut, mimik wa­jah Kwik Tay-lok ibaratnya orang yang baru saja makan empedu yang pahit. Yan Jit memperhatikan wajahnya, kemu­dian memperhatikan pula Bwe Ji-lam, sete­lah itu katanya sambil tertawa getir. "Sudah pasti Kim Toa-say telah mengeta­hui maksud kedatangan kita" "Ehmm !." "Dan lagi diapun tahu kalau kau sedang membantu untuk membohonginya!" "Ehmm!" "Tapi dia masih sengaja berlagak pilon, karena. .." "Karena pada dasarnya dia memang se­orang yang supel dan berjiwa besar . . . . . " sambung Bwe Ji-lam, "sekalipun dia tahu kalau kami menipunya, ia tak ambil perduli, cuma sayang . . . . ." Ia memandang sekejap ke arah Kwik Tay lok dan tidak berbicara lagi. Kwik Tay-lok justru yang menyambung ucapannya itu: "Cuma sayang aku terlampau tamak, se­akan-akan kalau kita hendak membawa ka­bur segenap peluru emas yang dimilikinya saja." "Tapi hal inipun tak bisa menyalahkan dirimu." "Kalau tidak menyalahkan aku harus me­nyalahkan siapa?" "Setiap orang tentu mempunyai titik ke­lemahan, entah siapapun itu orangnya, suatu ketika toh akan menjadi tamak juga." "Apalagi kau tamak bukan demi kepen­ti­ngan dirimu sendiri." lanjut Yan Jit, "kau berbuat demikian demi teman, mana mung­kin kau seorang bisa mempunyai hutang se­besar itu" Tiba-tiba Kwik Tay-lok tertawa, lalu ber­kata: "Padahal kalian tak perlu menghibur hatiku, sesungguhnya aku sama sekali tidak merasa sedih." "Oooooh . . ." "Walaupun emas-emas itu berubah men­jadi besi rongsokan, tapi kedatanganku kali ini bukannya sama sekali tak ada hasilnya." "Betul, paling tidak kau masih mempe­roleh sebutir peluru emas." sahut Bwe Ji-lam sambil tertawa paksa. "Yang kumaksudkan sebagai hasil bukan­lah peluru emas tersebut." "Lantas apa ?" "Sebuah pelajaran yang sangat baik." Ditatapnya tulisan di atas emas itu, ke­mudian pelan-pelan melanjutkan: "Bagiku, pelajaran yang berhasil kuraih ini paling tidak jauh lebih berharga daripada seluruh emas yang berada di dunia ini." Bwe Ji lam memandang ke arahnya, sam­pai lama kemudian ia baru tersenyum, ka­tanya. "Sekarang aku baru mengerti, kenapa ada orang yang begitu menyukai dirimu, ter­nyata kau memang seorang yang benar-benar menarik hati." "Sekarang kau baru tahu ?" "Ehmm. . . . " "Aku sudah tahu lama sekali." kata Kwik Tay-lok tertawa. Tiba-tiba Yan Jit menimbrung. . "Cuma sayang ada satu hal lain tidak kau ketahui." "Soal apa ?" "Didalam pandangan penagih-penagih hutang tersebut, yang paling menarik atas dirimu adalah dikala kau punya uang, bila kau tak punya uang untuk membayar hu­tang, tahukah kau apa yang hendak mereka lakukan terhadap dirimu ?" Senyuman Kwik Tay-lok segera lenyap tak membekas, sambil bermasam muka dia menggelengkan kepalanya berulang kali. "Tidak tahu !" katanya. Ia tahu, bagaimanapun baiknya suatu pe­lajaran, tak mungkin bisa dipakai untuk membayar hutang. Bwe Ji-lam mengerdipkan matanya, ke­mudian bertanya: "Banyakkah hutang kalian kepada orang lain ?" "Ehmmm . . ." "Hutang berapa ?" "Aaai sebetulnya tidak terlalu banyak." ujar Yan Jit sambil menghela napas. "cuma selaksa tahil perak." Bwe Ji-lam seperti menarik napas dingin, untuk beberapa saat lamanya ia berdiri terte­gun di situ, tiba-tiba katanya: "Aaah, Kim tao-siok pasti sedang menunggu aku, maaf, aku tak bisa berdiam terlalu lama lagi di sini, selamat tinggal." Belum selesai dia berkata, tubuhnya su­dah melompat naik ke atas kudanya. . . . . . Memperhatikan gadis itu melarikan kuda­nya meninggalkan tempat itu, tak tahan Kwik Tay-lok menghela napas panjang, gumamnya: "Mengapa orang lain pada melarikan diri terbirit-birit setelah mendengar kita punya hu­tang yang banyak ?" Yan Jit termenung dan berpikir sejenak, kemudian sahutnya: "Karena diapun ingin memberi suatu pe­lajaran yang sangat baik kepadamu . . .!" "Pelajaran apa ?" "Jika seseorang ingin hidup dengan be­bas merdeka dan riang gembira, lebih baik ka­lau jangan sampai berhutang kepada orang lain." Pelan-pelan Kwik Tay-lok mengangguk. "Yaa, bila seseorang menginginkan diri­nya disukai teman, lebih baik memang jangan berhutang" . Hal mana memang merupakan sebuah pe­lajaran yang sangat baik, yang berharga untuk diingat oleh setiap orang. Tapi bagaimana kalau kau berhutang demi teman ? Tiba-tiba Yan Jit berkata : "Aku lihat, lebih baik kau menyingkir dulu dan bermainlah selama beberapa hari di tempat lain !" "Kau suruh aku kabur?" seru Kwik Tay­-lok dengan mata melotot. "Kau toh sudah berjanji kepada orang lain untuk membayar semua hutangmu dalam dua hari ini? Mana boleh kau pulang dengan tangan hampa ?" "Kau kira aku bisa melakukan perbuatan yang begitu memalukan ?"' "Tapi kau telah menunggak hutang." "Menunggak hutang adalah satu persoa­lan, kabur adalah persoalan lain, jika hanya me­nunggak hutang, suatu ketika masih bisa dibayar, tapi kabur setelah menunggak hu­tang, maka dia tidak terhitung seseorang manusia lagi." Yan Jit memandang ke arahnya, kemudian tersenyum, katanya: "Kau memang seorang manusia !" "Lagi pula seorang yang menarik, cuma sayang rada miskin," sambung Kwik Tay-lok sambil tertawa pula. Keadaan dari perkampungan Hok-kui-san-­ceng masih seperti sedia kala, walau bagai­mana pun kau memandang, sedikitpun tidak mirip sebagai suatu perkampungan yang kaya dan terhormat. Tapi pagi ini, keadaannya rada sedikit berbeda. Di luar pintu gerbang perkampungan Hok-kui-san-ceng yang selamanya sepi dan lenggang tiba-tiba muncul beberapa ekor kuda. Selain itu tampak pula beberapa orang berbaju keren dan necis berdiri di bawah po­hon yang rindang di luar perkampungan itu. Ketika Yan Jit menyaksikan kehadiran mereka dari kejauhan, tanpa terasa ia menghela napas panjang. katanya sambil tertawa: "Tampaknya para penagih hutangmu telah pada menanti di luar sana !" "Ehmmm !" "Kau bermaksud hendak menghadapi mereka dengan cara apa ?" "Aku hanya mempunyai satu cara !" "Apa caramu itu?" "Berbicara dengan sejujurnya !" Sinar matahari yang baru terbit, menyi­nari raut wajahnya, muka itu tampak cerah dan jujur, seakan-akan sedang berkilat. Menyusul kemudian, ia berkata lebih lan­jut: "Aku bersiap sedia untuk memberitahu­kan kepada mereka dengan sejujurnya, walaupun sekarang aku tak punya uang untuk membayar namun di kemudian hari pasti akan berusaha untuk mengembalikan kepada mereka . . . . mungkin cara ini kurang baik, tapi aku sudah tidak berhasil menemukan cara yang lain lagi." Yan Jit memandang ke arahnya lalu ter­senyum. "Tentu saja kau tak akan menemukan cara yang lain, sebab sesungguhnya cara ter­sebut merupakan cara yang terbaik, di dunia ini tiada cara lain yang lebih baik dari­pada cara itu." Penagih hutangnya berjumlah enam orang. Ke enam orang penagih hutang itu ber­diri semua di luar halaman, menanti dengan tenang. Begitu melangkah keluar, Kwik Tay lok segera berseru dengan lantang, "Saudara se­kalian, maaf seribu kali maaf, sekarang meski aku belum punya uang untuk mengembalikan kepada kalian, tapi..." Perkataan itu belum sempat diselesaikan, tatkala seseorang menukas pembicaraannya itu. Seorang tauke she Chee segera berebut berkata: "Apakah Kwik toaya mengira kami untuk menagih hutang ?" "Memangnya bukan ?" seru Kwik Tay-lok tertegun. Cho tauke segera tertawa lebar. "Kami kuatir kalau barang kebutuhan ka­lian masih belum cukup, maka sengaja meng­hantarnya kemari untuk toaya pakai." "Tapi . . . . . . . tapi. . . . . . aku sudah banyak berhutang kepada kalian" seru Kwik Tay-lok tergagap. Seorang tauke she thio cepat-cepat menimbrung: "Hutang-hutang tersebut sudah dilunasi orang." "Yaa, hutang Toaya toh hanya suatu jum­lah yang kecil saja" sambung Tauke Chee sam­bil tertawa paksa, "sekalipun Kwik toaya seorang kekurangan uang, masa kami akan men­desakmu terus menerus ?" Kwik Tay-lok menjadi tertegun untuk be­berapa saat lamanya, kemudian tak tahan ia lantas bertanya: "Sebetulnya siapa yang telah melunasi hu­tang-hutangku itu ?" "Terus terang saja, kami sendiripun tak tahu siapa yang telah melunasi hutang hu­tang tersebut" sahut Thio tauke sambil ter­tawa. Kwik Tay-lok makin tercengang. "Masa kalian sendiripun tidak tahu ?" dia berseru: "Sewaktu aku bangun tidur pagi tadi, di atas meja di luar kamarku telah kebayar beberapa tumpuk uang perak .. . . ." "Beberapa tumpuk ? Masa uang perak juga dihitung dengan tumpukan?" tak tahan Kwik Tay-lok kembali berseru. "Sebab segel di atas uang perak itu ber­beda, ada yang berasal dari kota Ki-lam, ada pula yang berasal dari ibu kota , setum­puk demi setumpuk dipisahkan satu sama lainnya, tapi di bawah tumpukan uang perak itu keda­patan secarik kertas yang mene­rangkan kalau uang tersebut dipakai untuk membayar hutang­-hutang Kwik toaya." kata Chee tauke mene­rangkan. "Sudah tentu teman Kwik toaya mengeta­hui kalau belakangan ini Kwik toaya sedang kesulitan, maka sengaja mengirim uang kemari tapi kuatir Kwik toaya enggan menerimanya, oleh sebab itu sengaja dikirim ke toko kami ...... Thio tauke menambahkan. Sambil tertawa paksa Chee tauke kembali berkata : "Teman-teman Kwik toaya pasti adalah sahabat-sahabat persilatan yang setia ka­wan, walaupun kami berdagang kecil-kecilan, juga bukan orang yang terlalu kemaruk dengan harta." Sambil tertawa paksa pula Thio tauke meneruskan: "Oleh sebab itu, pagi-pagi sekali kami datang kemari." Tentu saja mereka datang pagi sekali. Setelah bertemu dengan jago-jago persi­latan yang ditengah malam buta bisa masuk ke rumah mereka dengan leluasa, mana mereka berani bertindak seenaknya sendiri " Apalagi masih ada uang dalam jumlah be­sar yang bisa didapatkan, Kwik Tay-lok tertegun beberapa saat lamanya, pada hakekatnya ia sudah dibikin pusing tujuh keliling dan tak tahu apa gerangan yang te­lah terjadi. "Berapa tumpuk uang yang telah kalian terima ?" tiba-tiba Yan Jit bertanya. "Semuanya tiga tumpuk, bukan saja cu­kup untuk melunasi hutang, malahan masih ada sisanya." jawab Chee tauke. "Oleh sebab itu semua keperluan Kwik toaya selama dua bulan mendatang, entah apa pun yang dilakukan. silahkan meme­sannya ke­pada toko kami ...." Thio tauke menambahkan. "Dan sekarang, kami tak berani meng­ganggu terlalu lama lagi, maaf kami ingin mohon diri lebih dahulu" Maka seorang demi seorang mereka menjura, kemudian mengundurkan diri dari situ. Setibanya di pintu luar, masih kedengaran suara helaan napas mereka diiringi suara bisik-bisik: "Sungguh tak kusangka, Kwik toaya ter­nyata mempunyai teman baik sebanyak itu. "Yaa, tentu saja hal ini, disebabkan Kwik toaya selalu berjiwa gagah dan cukup bijak­sana dalam menghadapi orang lain" "Yang penting didalam berteman adalah bersetia kawan kalau bisa mempunyai te­man seperti Kwik toaya, aku pasti akan merasa puas sekali." Menunggu semua orang telah pergi, Kwik Tay-lok baru menghembuskan napas pan­jang sambil bergumam: "Benarkah aku sangat bersetia kawan?" "Agaknya memang begitu," sahut Yan Jit sambil tersenyum, "kalau tidak, masa ada orang yang bersedia membayar semua hu­tangmu?" "Ternyata tidak semua orang kabur ter­birit-birit setelah mengetahui kalau kita punya hutang banyak." "Ya, rupanya memang tidak begitu." "Aaai . . . . . tapi, sebetulnya darimana­kah munculnya sahabat-sahabat yang amat setia kawan itu ?" kata Kwik Tay-lok sambil meng­hela napas panjang. . "Kau tak berhasil untuk menemukannya?" "Sampai pecah kepalaku juga tak akan kutemukan." "Kalau begitu, tak usah kau pikirkan lagi." "Kenapa ?" "Sebab perkataan orang-orang itu sangat cengli dan masuk diakal, untuk mencari te­man maka hakekatnya sama dengan suatu kesetiaan kawan dibayar dengan kesetiaan kawan, hari ini dia telah datang melunasi hutangmu, tentu saja dibandingkan dahulu kaupun pernah mela­kukan suatu perbuatan yang setia kawan ke­pada dirinya." Kwik Tay-lok segera tertawa getir. "Tapi aku masih saja tak berhasil mene­mukan siapa orangnya ?" "Banyak orang mempunyai kemungkinan tersebut, misalkan saja si semut merah, Lim hujin, Bwe Ji ka, masih ada lagi pencoleng-pencoleng yang pernah menipumu, andai­kata mereka tahu kalau kau sedang didesak oleh hutang sehingga siap sedia terjun ke sungai, besar kemungkinan secara diam-diam mereka akan melunasi hutang-hu­tangmu itu." Setelah terhenti sebentar, tiba-tiba sam­bungnya lebih jauh: "Bahkan Kim Toa-say maupun Swan Bwee thong juga ada kemungkinannya...." "Kenapa ?" Yan Jit tersenyum. "Sebab bukan saja kau adalah seorang sahabat yang sangat baik, dan lagi kau memang benar-benar seorang yang sangat menarik hati." Kwik Tay-lok segera te.rtawa. "Yaaa. . . mungkin saja memang benar- benar mereka " gumamnya seorang diri, "sungguh tidak kusangka kalau mereka masih bisa teringat akan diriku . . . ." Dibalik senyuman tersebut, terselip luap­an perasaan gembira dan terharunya yang amat sangat.. Yang membuatnya berterima kasih dan terharu bukannya mereka telah melunasi hutang-­hutangnya yang menumpuk setinggi bukit ........ ia terharu dan berterima kasih atas persahabatan mereka yang begitu ha­ngat dan meluap. Didalam dunia ini hanya ada persahabatan yang selalu utuh dan langgeng sepanjang masa, selama persahabatan tetap ada, maka ber­arti pula selamanya ada cahaya yang menyi­nari seluruh jagad. Coba lihatlah, saat itu sinar sang surya memancar ke empat penjuru dan menyinari se­luruh permukaan tanah, dimana-mana tampak cahaya keemasan yang bergemerla­pan, seakan-akan Thian secara khusus menyebarkan emas-­emas murninya dari langit untuk orang-orang, di dunia ini yang mengerti soal arti dari suatu persahabatan. Sesungguhnya dunia ini memang merupa­kan suatu dunia yang gemerlapan dengan emas, Hanya persoalannya sekarang adalah mengerti­kah kau untuk membedakan mana yang emas asli dan mana yang bukan serta benda apakah yang sesungguhnya meru­pakan suatu benda yang seharusnya dihar­gai dan disayangi. Yaa, bila tak mampu melakukan hal ter­sebut, maka apa pula arti dari kehidupan tersebut? Hidup tanpa suatu persahabatan, ibarat­nya hidup ditengah kuburan ! Ada semacam orang yang tampaknya me­mang sudah ditakdirkan untuk hidup lebih riang, lebih gembira dari pada orang lain, se­kalipun sedang menghadapi masalah yang bagaimanapun besarnya, diapun bisa setiap seat me­ngesampingkan masalah itu ke samping. Kwik Tay-lok adalah manusia semacam itu. Siapa yang telah melunasi hutan-hutang-nya ? Didalam pandangannya, persoalan- persoalan semacam itu pada hakekatnya sudah bu­kan merupakan suatu persoalan lagi. Maka begitu berbaring di atas ranjang, ia lantas tertidur nyenyak, tertidur sampai sore, sampai Ong Tiong masuk ke dalam kamarnya, ia baru mendusin. Gerak gerik Ong Tiong masih tidak begitu leluasa, maka setibanya didalam kamar, dia lantas mencari tempat yang paling enak untuk duduk. Sekalipun dulu sewaktu gerak-geriknya masih leluasa, entah ke manapun dia pergi, ia pun selalu mencari tempat yang paling enak dan nyaman untuk duduk. Entah dalam kamar siapapun, rasanya ja­rang ada tempat yang lebih nyaman dari­pada diatas ranjang. Maka Ong Tiong segera menitahkan Kwik Tay-lok untuk menarik kakinya, kemudian ia naik keranjang dan bersandar pada tepian­nya. Kwik Tay-lok segera melemparkan sebuah bantal untuk mengganjal punggung rekan-nya, setelah itu sambil mengucak matanya ia baru bertanya: "Sekarang sudah jam berapa?" "Aaah, masih pagi, jaraknya dengan saat untuk bersantap malam masih ada setengah jam lebih." Kwik Tay-lok kembali menghela napas, gumamnya: "Seharusnya kau mesti membiarkan aku untuk tidur barang setengah jam lagi." Ong Tiong pun menghela napas panjang. "Aku hanya merasa heran, kenapa kau bisa tidur senyenyak itu ?" "Kenapa aku tak dapat tidur ?" sahut Kwik Tay-lok seperti keheranan, sepasang mata­nya terbelalak lebar. "Andaikata kau bersedia menggunakan otakmu untuk berpikir, mungkin kau tak akan dapat tertidur lagi." "Apa yang perlu dipikirkan ?" "Tidak ada ?" "Agaknya tidak ada" sahut Kwik Tay­-lok sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. "Sudah tahukah kau, siapa yang telah melunasi hutang hutangmu itu . . . . ?" "Perduli siapa yang telah melunasi hu­tangku, yang penting hutang itu telah beres, kalau toh mereka enggan memperlihatkan asal usul­nya, kenapa pula aku harus memikirkannya terus menerus ?" "Dapatkah kau sedikit mempergunakan otakmu untuk berpikir ?" "Dapat, tentu saja dapat !" Kwik Tay-lok tertawa. Benar juga dia lantas berpikir sejenak. "Kemungkinan terbesar bagiku adalah Lim hujin !" Pengalaman mereka ketika berjumpa de­ngan Lim hujin tempo hari, pada akhirnya telah diceritakan pula kepada Ong Tiong. Maka Ong Tiongpun bertanya: "Yang kau maksudkan sebagai Lim hujin apakah Lim hujin yang pernah kau bicara­kan tempo hari itu ?" Kwik Tay-Iok mengangguk. "Setelah diketahui olehnya bahwa Lim Tay-peng berada di sini, tentu saja dia akan mengutus orangnya untuk setiap saat men­cari berita tentang kita, setelah mengetahui kalau kita punya hutang yang menumpuk, tentu saja dia akan mengirim orang untuk melunasinya. Setelah berhenti sejenak, sambungnya le­bih jauh: "Akan tetapi ia enggan membiarkan Lim Tay-peng mengetahui kalau dia berhasil menemuinya sampai ke situ, oleh sebab itu diapun berusaha untuk mengelabui kita." "Ehmm, suatu uraian yang masuk diakal." Kwik Tay-lok tertawa. "Tentu saja uraianku sangat masuk di akal!" "Sekalipun aku terhitung malas untuk memper­gunakan otakku, bukan berarti otakku jauh lebih bodoh dari pada orang lain." "Kecuali Lim hujin, siapakah orang ke2 yang kemungkinan besar telah melunasi hutang-hutangmu itu ?” "Delapan puluh persen adalah Swan Bwe- thong !" "Mengapa bisa dia?" Ketika kusaksikan ia segera minta diri dan berlalu dengan tergesa-gesa setelah men­dengar kalau kami punya hutang yang menum­puk, timbul perasaan heran didalam hatiku, sebab dia bukanlah seorang manusia macam begitu" "Oleh sebab itu, kau menganggap dia pasti telah kembali ke gedung keluarga Kim dan meminjam uang kepada Kim Toa-say. kemudian menyusul pula kemari serta me­lunasi hutang-­hutangmu ?" "Benar, karena dia sebenarnya suka de­ngan Yan Jit, tapi kuatir kalau Yan Jit menampik pemberiannya itu oleh sebab itulah se­ngaja dia membuat demikian." "Tapi, darimana dia bisa tahu kau telah berhutang kepada toko yang mana ?" "Itu mah gampang sekali untuk diketahui, tentunya kau sendiri juga tahu bukan, Swan Bwe-thong adalah seorang anak gadis yang amat cerdik sekali." Pelan-pelan Ong Tiong mengangguk lagi. "Emm ... . . inipun masuk diakal." "Coba kau lihat" seru Kwik Tay-lok sambil tertawa," persoalan tersebut bukankah amat sederhana sekali ? Dengan mudah dan tanpa bersusah payah, setiap saat aku ber­hasil mene­mukan dua orang diantaranya. "Tapi, jangan kau lupa masih ada orang yang ketiga." "Orang itu sudah pasti adalah . . . . ." Berbicara sampai di sini, tiba-tiba dia ber­henti dan tak sanggup untuk melanjutkan kembali kata-katanya. Sebetulnya banyak orang-orang sudah yang dipikirkan dan terasa ada kemungki­nannya, akan tetapi setelah dipikirkan lebih seksama, terasa olehnya bahwa orang-orang itu kecil sekali kemungkinannya. Terdengar Ong Tiong berkata: " Para pencoleng yang pernah menipumu itu meski tidak menganggap kau sebagai telur busuk yang bodoh, sekalipun dalam hati me­reka merasa amat berterima kasih kepadamu, mustahil mereka memiliki begitu banyak uang untuk melunasi hutang- hu­tangmu itu." "Orang-orang itu sedemikian miskinnya sampai celanapun tak punya, kalau bukan be­gitu, masa aku akan berbelas kasihan kepada mereka ?" ORANG itupun mustahil adalah Bwe Ji-ka, perutnya telah kau tonjok keras-keras, tidak balas menjotos perutmu sudah terhitung amat sungkan sekali." Kwik Tay-lok tertawa getir. "Itulah sebabnya, meskipun aku kena di­desak sampai mampus oleh para penagih hutang tersebut, tak nanti dia akan mele­lehkan setitik air matapun untuk diriku." "Melelehkan air mata selain lebih leluasa juga lebih gampang untuk dilakukan dari­pada melunasi hutang orang." "Itulah sebabnya, orang ketiga sudah pasti bukan dirinya." kata Kwik Tay-lok ke­mudian. "Bukan saja tak mungkin adalah dirinya juga tak mungkin orang lain." "Kenapa ?" "Sebab orang lain meski tahu kalau kau berada disini, belum tentu mereka tahu kalau kau sedang didesak hutang yang menumpuk." "Andaikata ada orang, mendengar kalau kita telah melangsungkan pertarungan me­lawan Cui-mia-hu dan Cap-sah-toa-to ditempat ini, tahu kalau orang kita ada yang terluka, mungkin tidak mereka akan mem­buru ke sini ?" "Mau apa datang kemari ?" "Mungkin datang kemari untuk menonton keramaian, mungkin datang untuk mem­bantu kita, membalas budi kepada kita." "Membalas budi ?" "Misalnya saja si semut merah, si semut putih, mungkin saja mereka akan datang kemari untuk membalas budi kepada kita karena ti­dak membinasakan diri mereka." Akhirnya Ong Tiong mengangguk juga. "Ehmm, memang masuk diakal !" kata­nya. "Kalau toh memang masuk diakal, bukan­kah sekarang menjadi tiada persoalan lagi?" "Persoalan yang sesungguhnya justru berada di sini." Wajahnya keren, serius dan kelihatan berat sekali. Tak tahan Kwik Tay-lok segera bertanya: "Persoalan yang sesungguhnya? Persoalan apakah itu?" "Kalau toh ada kemungkinan orang datang kemari untuk melihat keramaian, membalas budi itu berarti ada kemungkinan juga orang datang kemari untuk membuat kesulitan atau mencari balas kepada kita." "Mencari balas " "Kau menganggap kita telah melepaskan budi kepada kawanan semut tersebut karena kita tidak membunuhnya, siapa tahu kalau me­reka justru telah menganggap kita sebagai musuh besar? Kau hanya memba­yangkan keti­ka kita melepaskan dirinya pergi, kenapa tidak kau bayangkan waktu kita menghajar mereka sampai kocar-kacir tak karuan ? Kwik Tay-lok menjadi tertegun. "Apalagi Cui-mia-hu dan tiga belas golok besar bukannya tidak mempunyai teman-teman yang cukup setia kawan" ujar Ong Tiong lebih jauh, "bila mereka tahu kalau rekan-rekannya telah dipecundangi di sini, kemungkinan besar dia akan menyusul ke­mari dan membalas dendam terhadap diri kita" Kwik Tay lok segera menghela napas panjang. "Ucapan itu memang masuk diakal" kata­nya. "Walaupun kau belum pernah berkecim­pungan didalam dunia persilatan, namun berbeda dengan kita, entah siapa saja orangnya yang sedang berkecimpungan dalam dunia per­silatan, maka sengaja atau tidak sudah pasti kita pernah membuat salah, terhadap orang-orang itu mengetahui jejak kita, besar ke­mungkinannya mereka­pun akan berbondong-bondong datang ke­mari untuk membuat per­hitungan dengan kita." Sekali lagi Kwik Tay-lok menghela napas, katanya sambil tertawa getir: "Aaaai . . . . tampaknya, otakku belum bisa dianggap sebagai otak yang terlalu cer­dik." "Tapi orang-orang semacam itu masih belum bisa dianggap sebagai suatu masalah yang besar." "Masih belum bisa dianggap?" Kwik Tay­-lok menjadi amat terperanjat. "Masalah yang paling besar adalah dengan banyaknya orang yang mengetahui akan gerak gerik kita, berarti pula tanpa disadari kita sudah menjadi ternama." Setelah menghela napas panjang, lanjut­nya: "Bila seseorang telah menjadi termasyhur, besar atau kecil sudah pasti ada kesulitan yang berbondong-bondong berdatangan kemari." "Kesulitan apa ?" "Pelbagai kesulitan, kesulitan yang mung­kin tak pernah kau sangka sama sekali." "Coba katakanlah beberapa macam di antaranya ?" “Misalnya saja ada orang mendengar kalau ilmu silatmu sangat tinggi, maka dia datang untuk mengajakmu beradu kepan­daian, sekalipun kau enggan turun tangan, mereka pasti akan mempergunakan pelba­gai macam daya untuk memaksamu sampai kau bersedia untuk turun tangan." "Soal itu mah aku cukup mengerti." kata Kwik Tay-lok. "Kau mengerti !" Kwik Tay-lok menghela napas. "Keadaan tersebut persis seperti keadaan­ku sewaktu memaksa Kim Toa-say untuk turun tangan, cuma aku tidak menyangka kalau pem­balasannya bisa datang dengan sedemikian cepatnya." "Kecuali orang-orang yang datang men­carimu untuk menantang kau beradu kepandaian, pasti pula ada yang datang mencarimu untuk meminta bantuan, men­carimu untuk membantu mereka menyele­saikan persoalan, atau bahkan ada pula yang datang untuk meminta ongkos jalan, orang-orang semacam itu akan berdata­ngan kemari setiap saat, dan pada hakekatnya kau tak akan tahu kapan mereka mau datang." Setelah menghela napas panjang, lanjut­nya: "Bila seseorang telah ternama didalam dunia persilatan, jangan harap ia bisa mele­wati kehidupan sehari-harinya dengan tenang. Kwik Tay-lok turut menghela napas pan­jang, gumamnya: "Ternyata menjadi orang ternama pun bu­kan suatu peristiwa yang menggembirakan." "Mungkin. . . . hanya semacam manusia yang merasa ternama itu merupakan suatu keadaan yang menggembirakan' "Manusia macam apa ?" "Orang yang belum menjadi tenar !" Tiba-tiba dia menghela napas lagi, kemu­dian menyambung lebih jauh: "Padahal orang yang benar-benar akan menjumpai kesulitan mungkin bukan kau dan aku." "Kau maksudkan Yan Jit dan Lim Tay-peng ?" "Benar." "Kenapa kesulitan mereka jauh lebih ba­nyak dari pada kita ?" "Sebab mereka mempunyai rahasia yang tidak bisa diketahui orang lain." Tiba-tiba Kwik Tay-lok melompat bangun dari atas ranjang dan berseru dengan lan­tang. "Benar, Yan Jit memang mempunyai raha­sia yang sangat besar, dia selalu tidak bersedia untuk memberitahukan kepadaku" "Apakah sampai sekarangpun kau belum dapat menebaknya?" "Apakah kau telah berhasil menebaknya?' Tiba-tiba Ong Tiong tertawa, katanya: "Tampak bukan cuma otakmu saja kurang cerdas matapun juga . . . ." Mendadak ia membungkam, rupanya ada orang datang. Kwik Tay-lok segera mendengar ada suara orang berjalan masuk ke dalam halaman luar, tampaknya bukan hanya seorang saja. Pelan-pelan dia merosot turun dari atas ranjang, kemudian pelan-pelan berkata: "Apa yang kau katakan memang benar, ternyata ada orang yang telah datang berkunjung. Ong Tiong cuma tertawa getir. Karena dia sendiripun sama sekali tidak mengira kalau ada orang yang begitu cepat telah datang ke situ. Siapakah yang telah datang ? Mungkinkah mereka akan datang sambil membawa kesulitan. Yang datang semuanya berjumlah lima orang. Empat orang yang berada di belakang semuanya berperawakan tinggi kekar de­ngan pakaian yang amat perlente, tampak­nya sangat keren dan gagah sekali. Tapi bila dibandingkan dengan orang yang berada di depannya, maka ke empat orang itu pada hakekatnya telah berubah seperti empat ekor anak ayam. Padahal orang yang berjalan di depan itu tidak jauh lebih tinggi dari pada me­reka, tapi ia justru memiliki suatu kewibawaan yang sangat besar, kendatipun ia sedang ber­diri diantara selaksa orang, dalam sekilas pan­dangan kau masih tetap akan mengena­linya. Orang itu berperawakan tinggi besar dan berwajah gagah, begitu sampai di situ, pin­tupun tidak diketuk langsung masuk ke dalam halaman dengan langkah lebar, seakan-akan seorang panglima perang yang baru menang dalam me­dan laga dan kem­bali ke rumahnya sendiri. Sudah barang tentu Ong Tiong tahu ka­lau tempat itu bukan rumahnya, Kwik Tay-lok juga tahu. Sebenarnya ia sudah bersiap siap untuk menerjang keluar . . . . . andaikata, ada ke­su­litan muncul diambang pintu, dia selalu menerjang keluar paling duluan. Tapi kali ini, begitu melihat kemunculan orang tersebut, cepat-cepat ia menarik diri­nya kembali dan mundur ke belakang. "Kau kenal dengan orang itu?" Ong Tiong segera menegur dengan sepasang alis dan berkernyit. Kwik Tay-lok mengangguk. "Orang inikah yang bernama Kim Toa-say?" kembali Ong Tiong bertanya de­ngan lirih. "Kau juga kenal dengannya ?" "Tidak, aku tidak kenal." "Kau tidak kenal, dari mana kau bisa tahu kalau dia adalah Kim Toa-say . . . . ?" "Kalau orang ini bukan Kim Toa-say, lantas siapa pula yang bernama Kim Toa-say?" Kwik Tay-lok tertawa getir. "Benar, dia memang mempunyai tampang dan gaya sebagai seorang jendral besar." Kim Toa-say berdiri ditengah halaman, sambil bergendong tangan ia memperhati­kan sekejap sekeliling tempat itu, tiba-tiba katanya. "Halaman ini perlu disapu sampai bersih!" "Baik!" orang-orang yang mengikuti di belakangnya segera membungkukkan badan sambil mengiakan. "Bunga Gwat-ci dan Bo-tan yang tumbuh di situ perlu disirami air, rumput liar perlu di babat sampai bersih." "Beberapa buah kursi di bawah pohon sana harus diganti dengan tempat duduk baru, sekalian akar pepohonan di sekitar­nya" "Baik !" Ong Tiong yang menyaksikan kejadian itu dari dalam jendela, tiba-tiba bertanya: "Aku menjadi bingung sendiri, sebetul­nya rumah ini rumah siapa sih . . . . . ?" "Rumahmu !" Ong Tiong menghela napas panjang. "Aaaai . . . . ! Sebenarnya aku juga aku tahu kalau rumah ini rumahku, tapi sekarang aku sendiripun dibikin kebingu­ngan sendiri" Kwik Tay-lok menjadi tak tahan dan ter­tawa geli, tapi sesaat kemudian dengan kening berkerut katanya: "Heran, kenapa Yan Jit belum juga menampakkan diri ?" "Mungkin dia seperti juga dirimu, begitu melihat Kim Toa-say, perasaannya menjadi ke­der" "Kim Toa-say toh tidak dengannya, me­ngapa dia mesti merasa keder . . . . .?" Mencorong, sinar tajam dari balik mata Ong Tiong, tiba-tiba ia bertanya pelan: "Pernahkah kau memikirkan tentang satu persoalan ?" "Persoalan apa ?" "Cara Yan Jit melepaskan senjata rahasia boleh dibilang nomor wahid dan tentunya kepandaiannya untuk menerima senjata ra­hasia pun lumayan juga" "Yaa, sudah pasti lumayan sekali." "Lantas, kenapa ia tidak pergi mencari Kim Toa-say dan turun tangan sendiri? Kena­pa kau yang diminta untuk pergi menghadapi­nya ?" Kwik Tay-lok menjadi tertegun. "Soal ini. . . . . . soal ini belum pernah kupikirkan." "Kenapa tidak kau pikirkan !" Kwik Tay-Iok tertawa getir. "Karena . . . . . . karena. . . . . . asal dia su­ruh aku melakukan suatu perbuatan, maka aku merasa bahwa hal itu amat cengli dan semesti­nya kulakukan untuknya." Ong Tiong memandang wajahnya dan menggeleng, seakan-akan seorang kakak sedang memperhatikan adiknya. Seorang adik yang kena dibohongi orang setelah diberi gula-gula. Kwik Tay-lok berpikir sebentar, kemudian berkata lagi: "Jadi maksudmu, ia tak berani mencari Kim Toa-say sendiri karena ia takut Kim Toa say berhasil mengenali dirinya ?" "Menurut pendapatmu ?" Belum sempat Kwik Tay-lok mengucapkan sesuatu, tiba-tiba terdengar Kim Toa-say membentak dengan suara dalam: "Siapa yang sedang kasak-kusuk di dalam rumah ? Hayo cepat keluar !" Sekali lagi Ong Tiong memandang seke­jap ke arah Kwik Tay-lok, akhirnya pelan-pelan dia mendorong pintu dan keluar dari rua­ngan. Kalau toh Kwik Tay-lok enggan ber­gerak, terpaksa dia yang harus bergerak. Kim Toa-say mendelik ke arahnya bulat­-bulat, kemudian menegur: "Apa yang sedang kau kasak-kusukkan dibalik ruangan ?" "Aku tak perlu bersembunyi, kaupun tak usah mencampuri urusanku, mau berkasak-ku­suk atau tidak, itu urusanku pribadi !" "Siapakah kau ?" bentak Kim Toa-say. "Aku adalah tuan rumah tempat ini, aku senang duduk dimana, aku bisa duduk di­mana, suka membicarakan soal apa, akupun akan membicarakan soal apa."' Setelah tertawa, lanjutnya dengan ham­bar: "Bila seseorang sedang berada dirumah sendiri, sekalipun dia senang melepaskan celana untuk berkentutpun, orang lain tak akan men­campurinya . . . . . " Sebenarnya ia tidak terbiasa mengucap­kan kata-kata kasar seperti itu, sekarang dia seakan-akan sengaja hendak merobohkan kewi­bawaan dari Kim Toa-say. Siapa tahu Kim Toa say malahan tertawa, diawasinya pemuda itu dari atas sampai ke bawah beberapa, lalu katanya sambil ter­tawa: "Orang ini memang mirip orang she Ong!" "Aku bukan mirip orang she Ong, aku memang sesungguhnya she Ong !" "Tampaknya kaulah putera dari Ong-lotoa?" "Ong lotoa ?" "Ong lotoa adalah Ong Cian-sik, yaitu ba­pakmu !" Ong Tiong malah menjadi tertegun dibuatnya sehabis mendengar perkataan itu. Ong Cian-siak memang ayahnya, tentu saja dia mengetahui akan nama ayahnya. Tapi orang lain yang mengetahui nama Ong Cian-sik tersebut justru amat jarang. Sebagian besar orang hanya tahu kalau nama dari Ong lo-sianseng adalah Ong Ik-cay. Orang yang mengetahui nama Ong Cian­-sik tersebut, sudah barang tentu adalah sa­habat-sahabat karib Ong Cian-sik dimasa lalu. Sikap Ong Tiong pun segera berubah, berubah menjadi lebih sungkan, dengan nada menyelidik ia lantas bertanya: "Kau kenal dengan ayahku ?" Kim Toa-say tidak segera menjawab per­tanyaan itu, dengan langkah lebar ia masuk ke dalam ruangan. Pintu kamar Kwik Tay-lok berada dalam keadaan terbuka lebar. Dengan langkah tegap Kim Toa-say maju ke depan dan masuk ke dalam kamar, ke­mudian langsung duduk di hadapan Kwik Tay-lok. Terpaksa Kwik Tay-lok tertawa getir dan menyapa: "Baik-baikkah kau ?" "Ehmm, masih agak baikan, untung saja belum sampai dibikin mampus karena men­dongkol." Kwik Tay-lok mendehem berulang kali, kemudian tanyanya: "Kau sedang mencariku ?" "Mengapa aku harus datang mencarimu?" Kwik Tay-lok menjadi tertegun. "Kalau begitu, ada urusan apa Toa-say datang kemari ?" "Apakah aku tak boleh datang ?" "Boleh, tentu saja boleh," sahut Kwik Tay-lok cepat-cepat sambil tertawa. "Terus terang kuberitahukan kepadamu, sewaktu aku datang kemari, mungkin kau masih belum dilahirkan." seru Kim Toa-say ketus. Dalam perut orang ini, seakan-akan pe­nuh berisi mesiu yang setiap saat bisa meledak, Kwik Tay-lok tidak jeri kepadanya, cuma dia merasa agak rikuh dan keder saja. Bagaimanapun juga, tindakan yang dila­kukan oleh orang itu cukup mengagumkan, pelajaran yang diberikan pun tidak keliru. Setelah tidak memiliki cara lain yang lebih baik untuk menghadapinya, terpaksa Kwik Tay-lok harus angkat kaki. Siapa tahu sepasang mata Kim Toa-say justru setajam sembilu, baru saja kakinya ber­gerak, Kim Toa-say telah membentak keras: "Berhenti !" Terpaksa Kwik Tay-lok mush tertawa paksa, katanya : "Kalau toh kedatangan bukan untuk men­cariku, buat apa aku mesti tetap berada di sini?" "Aku hendak menanyai dirimu" Kwik Tay-lok menghela napas panjang. "Aaai. . . . baiklah kau boleh bertanya!" "Malam ini kalian makan apa?" Ternyata pertanyaan semacam itulah yang diajukan olehnya. Tak tahan Kwik Tay-lok tertawa geli, sa­hutnya. "Barusan aku mengendus bau Ang-sio- bak, mungkin kita akan makan daging babi masak rebung !" "Baik hidangkan segera, aku sudah lapar!" Sekali lagi Kwik Tay-lok merasa tertegun. Sekarang dia sendiripun turut menjadi bingung dan tidak habis mengerti sesung­guh­nya siapakah tuan rumah tempat itu. Terdengar Kim Toa-say membentak lagi: "Hei, aku suruh kau menghidangkan nasi, mengapa masih berdiri termangu-mangu disitu?" Kwik Tay-lok segera berpaling ke arah Ong Tiong. Ong Tiong berlagak tidak melihat apa-­apa, seakan-akan apapun tidak terdengar olehnya. Terpaksa Kwik Tay-lok harus menghela napas panjang seraya bergumam: "Ya, memang waktunya untuk bersantap aku sendiri pun merasa laparnya setengah mati". Hidangan telah dikeluarkan, memang tak salah, sayur utamanya hari itu adalah da­ging babi masak bung. Kim Toa-say juga tidak sungkan-sungkan begitu hidangan disajikan, ia lantas menem­pati kursi utama. Ong Tiong dan Kwik Tay-lok terpaksa ha­rus mendampinginya di kedua belah sam­ping. Baru saja Kim Toa-say mengangkat sum­pitnya, tiba-tiba ia bertanya lagi: "Mana lagi orang-orang lainnya ? Kenapa tidak turut datang untuk bersantap ?" " Ada dua orang lagi sakit, mereka hanya bisa minum bubur." "Bukankah masih ada yang tidak sakit ?" Tampaknya dia mengetahui semua per­soalan di situ dengan teramat jelasnya. Kwik Tay-lok menjadi sangsi sejenak, ke­mudian katanya sambil tertawa getir: "Agaknya berada di dapur." Yan Jit memang berada di dalam dapur. Ia tak mau keluar, karena terlalu dekil, maka enggan bertemu orang. Sekalipun ia berkata demikian, terpaksa Kwik Tay-lok hanya bisa mendengarkan saja, sebab bila ia bertanya lebih lanjut, Yan Jit segera akan mendelik. Bila Yan Jit sudah mendelik, Kwik Tay-lok segera merasakan badannya menjadi lemas tak bertenaga. Terdengar Kim Toa-say berseru kembali: "Dia kan bukan seorang koki, kenapa ha­rus bersembunyi didalam dapur . . . . .?" Kwik Tay-lok menghela napas panjang. "Baik, aku akan pergi memanggilnya" Siapa tahu, baru saja ia bangkit berdiri, Yan Jit dengan kepala tertunduk telah meng­hampirinya, rupanya ia sudah menya­dap pem­bicaraan tersebut dari belakang pintu. Kim Toa say memperhatikannya dari atas sampai ke bawah lalu serunya dengan lan­tang: "Duduk !" Ternyata Yan Jit benar-benar duduk de­ngan kepala tertunduk .. ...hari ini telah berubah menjadi alim sekali. "Baik, hayo makan !" seru Kim Toa-say lagi Dengan lahapnya dia bersantap lebih da­hulu, dalam waktu singkat semua hidangan di meja telah disapu sampai habis. Kwik Tay-lok sekalian hampir tiada ke­sempatan sama sekali untuk menggerakkan sumpitnya. . . Setelah semua hidangannya ludas, Kim Toa-say baru meletakkan sumpit dan me­ngawasi orang-orang yang berada di sana dengan sorot mata tajam. Mula-mula dia mengawasi Ong Tiong, ke­mudian memandang Kwik Tay-lok, setelah itu dari wajah Kwik Tay-lok dialihkan ke wajah Yan Jit. Tiba-tiba ia berseru : "Ketika kalian mencari gara-gara kepadaku, ide ini timbul dari benak siapa?" "Aku !" jawab Yan Jit dengan kepala ter­tunduk. . "Hmm, aku sudah tahu kalau kau." Yan Jit menundukkan kepalanya semakin rendah. Kim Toa-say segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Kwik Tay-lok, kemudian ujarnya: "Kau mampu menyambut lima bidikan peluru saktiku sekaligus, kepandaian macam begitu amat jarang bisa dijumpai dalam dunia persilatan." "Yaa, masih lumayan." tak tahan Kwik Tay-lok tertawa terbahak-bahak. "Siapa yang mengajarkan kepandaian tersebut kepadamu ?" "Aku !" "Hmm, aku sudah tahu kalau kau !" "Darimana kau bisa tahu?" tak tahan Ong Tiong bertanya. "Bukan saja aku tahu kalau kau yang mengajarkan kepadanya, juga tahu siapa yang telah mengajarkan kepadamu." "Oooh . . . . . ?" Tiba-tiba Kim Toa-say menarik wajahnya, kemudian berseru: "Ketika ayahmu mewariskan kepandaian tersebut kepadamu, apa yang dia katakan ke­padamu ?" "Apapun tidak ia katakan." "Apapun tidak ia katakan ?" "Yaa, karena kepandaian tersebut bukan dia orang tua yang mewariskan kepadaku." "Kau bohong !" hardik Kim Toa-say. Ong Tiong turut menarik muka, sahutnya dengan dingin: "Kau boleh mendengarkan aku membica­rakan berbagai persoalan, tapi tak akan pernah mendengar aku berbohong." Kim Toa-say menatapnya lekat-lekat, le­wat lama kemudian ia baru bertanya: "Kalau bukan ayahmu yang mengajarkan kepadamu ? Lantas siapa ?" "Aku sendiripun tidak tahu siapa." "Masa kau tidak tahu ?" "Tidak tahu yaa tidak tahu !" Kim Toa-say mulai menatapnya lekat-lekat lewat lama kemudian ia baru bangkit berdiri sembari berkata: "Ikuti aku keluar dari sini !" Dengan langkah lebar dia berjalan menu­ju keluar halaman, pelan-pelan Ong Tiong mengikuti di belakangnya hari ini, dia keli­hatan seperti berubah rada aneh. Kwik Tay-lok menghela napas panjang, diam-diam bisiknya: "Sekarang aku baru tahu, karena soal apakah Toa-say tersebut datang kemari" "Oooh ?" "Aku telah mematahkan serangan peluru berantainya, dia pasti merasa sangat tidak puas, maka dia ingin mencari orang yang mengajar­kan ilmu itu kepadaku untuk me­ngajaknya beradu kepandaian ! Sementara di bibirnya ia berkata demikian orang juga turut bangkit berdiri. "Mau apa kau ?" Yan Jit segera menegur. "Paha Ong lotoa masih belum sembuh, aku tak dapat menyaksikan dirinya. . . . ." "Lebih baik kau duduk saja dengan tenang tukas Yan Jit dengan suara dingin. "Kenapa ?" "Apakah kau tak bisa melihat bahwa Ong Tiong yang sedang dicari, bukan kau ?" "Tapi kaki Ong Tiong. . . . . . . ." "Yang digunakan untuk menyambut sera­ngan peluru itu toh bukan kakinya . . . .!" Cahaya dimalam hari itu cukup terang. Ketika Kim Toa-say menyaksikan Ong Tiong berjalan dekat, tiba-tiba dengan ke­ning berkerut tegurnya: "Kakimu. . . . . . . ?" "Aku jarang menggunakan kakiku untuk menerima senjata rahasia, aku masih mem­pu­nyai tangan," ujar Ong Tiong dingin. "Bagus !" Tiba-tiba dia menggerakkan tangannya, dengan cepat sebuah busur emas telah siap di atas tangan. Dengan suatu gerakan cepat Kim Toa say menarik busurnya dan menyerang . Dalam waktu singkat, seluruh angkasa telah dipenuhi oleh cahaya emas yang ber­kilauan. Siapapun tidak melihat jelas bagaimana caranya melancarkan serangan tersebut. Kwik Tay-lok diam-diam menarik napas dingin, katanya: "Serangannya kali ini mengapa jauh lebih cepat daripada serangannya tempo hari ?". "Mungkin dia tak ingin membelikan peti mati untukmu." sahut Yan Jit dengan ham­bar. "Kalau toh ia enggan menggunakan se­rangan mematikan untuk menghadapi diriku, kenapa menggunakan serangan yang mematikan untuk menghadapi Ong Tiong? Apakah dia mempunyai dendam dengan Ong Tiong?" Pertanyaan ini tak mampu dijawab, meski oleh Yan Jit pun. Walaupun ia telah melihat kalau keda­ta­ngan Kim Toa-say kali ini pasti mempunyai suatu tujuan, namun ia tak bisa menebak tu­juan apakah itu . . . . . . . ? Sementara Kwik Tay-lok sedang merasa kuatir buat keselamatan Ong Tiong, menda­dak cahaya emas yang memenuhi seluruh angkasa itu lenyap tak berbekas. Ong Tiong masih tetap berdiri tenang di tempat semula, tapi di tangannya meme­gang dua buah jaring yang sudah penuh berisikan peluru emas. Siapapun tidak melihat jelas cara apa yang dipergunakan olehnya, bahkan pada ha­kekatnya tidak terlihat jelas bagaimana cara nya dia turun tangan. Sekali lagi Kwik Tay lok menghela napas panjang, gumamnya: "Ternyata caranya melancarkan serangan tersebut jauh lebih hebat daripada diriku." "Kepandaian semacam itu tak mungkin bisa dilatih hanya didalam satu hari saja, apa yang kau andalkan sehingga ingin mempelajari seluruh kepandaian tersebut didalam satu hari saja ? Memangnya kau anggap bakatmu benar-benar hebat ?" "Bagaimanapun juga, teori serta rahasia dari kepandaian tersebut telah berhasil kupa­hami." "Itulah dikarenakan suhu yang memberi pelajaran tersebut cukup hebat . . . . !" . "Tentu saja suhunya hebat." kata Kwik Tay-lok sambil tertawa, "tapi muridnya pun terhitung cukup hebat, kalau tidak, bukan se­dari dulu-dulu sudah masuk liang kubur ?" Yan Jit menatapnya lekat-lekat, menda­dak diapun turut menghela napas panjang. "Aai . . . . . bila suatu ketika kau dapat merubah penyakit membualmu itu, maka aku . . .." "Kau mau apa . . . ? Apakah hendak memberitahukan rahasiamu itu kepadaku ?" Tiba-tiba Yan Jit tidak berbicara lagi. Mereka sudah bercakap-cakap belasan patah kata banyaknya, namun Kim Toa-say masih berdiri tegak di tengah halaman. Ong Tiong juga berdiri tidak berkutik. Kedua orang itu saling berhadapan mata, aku memandang dirimu dan kaupun me­mandang aku. Kembali beberapa waktu sudah lewat, tiba-tiba Kim Toa-say membanting busur emas itu ke atas tanah, kemudian berlalu dari situ dengan langkah lebar dan duduk kembali ke atas kursi. Yan Jit dan Kwik Tay-lok juga duduk di situ, duduk sambil memandang ke wajah­nya. Lewat lama kemudian, tiba-tiba Kim Toa-say baru berteriak keras: "Mana araknya ? Apakah kalian tak per­nah minum arak ?" Kwik Tay-lok segera tertawa. "Kadangkala minum, cuma jarang sekali, setiap hari paling banter hanya minum em­pat lima kali. Yang diminumpun tidak terlalu ba­nyak, setiap kali paling banter hanya mi­num tujuh delapan kati saja." Guci arak sudah tersedia di atas meja. Pagi ini, tentu saja ada orang yang datang mengirim arak, mereka tidak minum karena mereka masih belum terhitung benar-benar seorang setan arak. Sebelum mengetahui jelas maksud ke­datangan Kim Toa-say, siapapun enggan minum sampai mabuk. Tapi Kim Toa-say minum lebih dulu. Caranya minum arak juga bergaya se­orang jendral, sekali teguk semangkuk pe­nuh arak sudah diteguk sampai habis. Setelah dia mulai minum, Kwik Tay-lok tentu saja tak mau ketinggalan . . . . . . . Kalau dilihat dari gayanya sewaktu minum arak, tampaknya cepat atau lambat suatu ketika diapun akan dipanggil orang sebagai seorang jendral . . . . . ' Kim Toa-say mengawasinya sampai pe­muda itu menghabiskan tujuh delapan mangkuk arak. Tiba-tiba katanya sambil tertawa. "Kelihatannya sekaligus kau dapat mene­guk habis arak sebanyak tujuh delapan kati." "Memangnya kau anggap aku sedang membual?" seru Kwik Tay-lok sambil mengerling ke arahnya. "Kau memang tidak mirip seseorang yang jujur." "Aku mungkin tak mirip orang jujur, tapi sesungguhnya aku adalah seseorang yang jujur." "Bagaimana dengan teman-temanmu?" "Mereka jauh lebih jujur ketimbang aku." "Kau tak pernah mendengar mereka ber­bohong ?" "Selamanya tak pernah" Kim Toa-say mendelik sekejap ke arah­nya, tiba-tiba berpaling ke arah Ong Tiong sambil menegur: "Benarkah kepandaian tersebut bukan ajaran bapakmu ?" "Bukan !" "Siapa yang mengajarkan?" "Sudah kukatakan aku sendiripun tidak tahu." "Masa tidak tahu ?" "Dia belum memberitahukan soal ini kepadaku." "Tapi paling tidak kau toh pernah ber­jumpa muka dengan dirinya ?" "Juga tidak, karena sewaktu memberi pe­lajaran kepadaku, dia selalu memilih waktu malam dan lagi wajahnya selalu mengena­kan kain cadar hitam. . . . ." Berkilat sepasang mata Kin Toa-say, ka­tanya: "Maksudmu, ada seorang manusia berke­rudung yang misterius mencarimu setiap malam." "Bukan datang mencariku, tapi setiap malam dia selalu menantikan kedatanganku didalam hutan di pinggir kuburan sana ." "Sekalipun selagi hujan deras angin badai ia juga menunggu ?" "Kecuali beberapa hari menjelang tahun baru, sekalipun malam itu dinginnya mem­bekukan badan, dia tetap menantikan ke­datang­anku di situ." "Dia tidak kenal dirimu, kaupun tidak tahu siapakah dia, tapi setiap hari dia selalu menantikan dirimu, tujuannya tak lebih hanya ingin mewariskan kepandaian silatnya kepada­mu, bahkan dia sama sekali tidak mengharapkan balas jasa, bukan begitu ?'° "Benar !" Kim Toa say segera tertawa dingin. "Percayakah kau bahwa dikolong langit terdapat kejadian yang begini menguntung­kannya ?" "Seandainya orang lain menceritakannya kepadaku, mungkin aku tak akan percaya, tapi di dunia ini justru terdapat kejadian semacam itu, sekalipun aku tak mau per­cayapun tak bisa,"' Sekali lagi Kim Toa-say mendelik ke wa­jahnya lekat-lekat, lama kemudian ia baru berkata: "Pernahkah kau menguntil di belakang­nya? Untuk melihat ia berdiam di mana ?" "Aku pernah mencobanya, namun tidak berhasil." "Kalau toh setiap hari dia pasti datang, sudah pasti tempat tinggalnya tak akan ter­lalu jauh dari sana ." "Apakah disekitar tempat itu tiada rumah penduduk yang lain ?" "Tidak ada, di atas bukit hanya ada kami sekeluarga." "Kenapa, kalian bisa tinggal ditempat itu?" "Karena ayahku suka akan ketenangan." "Kalau toh di sekitar tempat itu tiada rumah penduduk lain, apakah orang berke­rudung itu merangkak keluar dari dalam peti mati?" "Mungkin saja dia berdiam di bawah bukit!" "Pernahkah kau pergi mencarinya ?" "Tentu saja pernah." "Tapi kau tidak berhasil menemukan se­seorang yang memiliki kepandaian silat seli­hai itu ?" "Jago lihay yang sesungguhnya memang tak pernah memamerkan kepandaian silat­nya di atas wajah!" "Orang yang berdiam di bawah bukitpun tidak banyak jumlahnya seandainya benar-benar terdapat seorang jago lihay seperti dia, paling tidak kau pasti akan mengetahui jejaknya, bukan begitu?" "Ehmm!" "Kau bilang setiap malam dia pasti da­tang untuk memberi pelajaran ilmu silat ke­padamu, berarti kalau siang hari tentu tidur, bila ada seseorang yang selalu tidur siang hari, apakah orang dalam kota kecil itu tak akan menaruh perhatian ? Bukankah be­gitu?" "Ehmm !" "Kalau memang demikian, mengapa kau tidak berhasil menemukannya ?" "Mungkin saja ia memang tidak berdiam didalam kota itu" "Kalau memang tidak berdiam di atas bu­kit, juga didalam kota , dia masih bisa ber­diam dimana ?" "Seorang jago lihay yang sesungguhnya berada ditempat manapun ia dapat tidur" "Sekalipun dia dapat tidur didalam gua, tapi bagaimana dengan makannya? Bagai­mana pun lihaynya seorang jago, toh dia butuh un­tuk makan ?" "Dia toh bisa saja masuk ke kota untuk bersantap ?" "Bila seseorang yang tiap hari selalu makan di luar, tapi tak ada orang yang tahu di­manakah dia berdiam, apakah hal ini tidak menarik perhatian orang ?" Ong Tiong segera melotot besar ke arah­nya, setengah harian kemudian dia baru ber­kata dengan dingin: "Tahukah kau sejak masuk ke dalam pintu gerbang sampai sekarang, seluruhnya kau sudah mengajukan berapa banyak perta­nyaan ?" "Apakah kau menganggap pertanyaan yang kuajukan terlampau banyak ?" "Aku cuma merasa heran, mengapa kau harus menanyakan persoalan-persoalan yang sesungguhnya sama sekali tiada hubungannya dengan dirimu !" Tiba-tiba Kim Toa-say tertawa, ia beru­bah menjadi lebih misterius, setelah sekaligus meneguk tiga mangkuk arak, pelan-pelan dia baru berkata: "Ingin tahukah kau siapa gerangan manu­sia berkerudung itu ?" "Tentu saja ingin sekali." "Kalau memang ingin, kenapa kau tidak menanyakannya?" "Karena sekalipun aku menanyakannya, belum tentu bisa menjawab pertanyaanku ini." Pelan-pelan Kim Toa-say mengangguk, katanya: "Benar, di dunia ini memang jarang ada orang yang mengetahui siapa gerangan diri­nya itu." "Kecuali dia sendiri, tak mungkin orang lain bisa mengetahuinya, bahkan seorang­pun tak ada." "Masih ada seorang." "Siapa ?" "Aku !" Ketika mendengar jawaban tersebut, ter­masuk Yan Jit pun turut menjadi tertegun. Setelah tertegun beberapa saat lamanya, Ong Tiong bertanya : "Tahukah kau kalau kejadian ini telah berlangsung lama sekali ?" "Aku tahu !" "Tapi kau tetap mengetahui siapakah orang itu ?" "Benar." "Kalau toh kau tak pernah bertemu de­ngannya, bahkan tidak mengetahui dengan pasti kapankah peristiwa itu terjadinya, darimana kau bisa tahu siapakah orang itu?" "Yaa, aku memang tahu dengan jelas." Ong Tiong segera tertawa dingin. "Percayakah kau kalau di dunia ini bisa terjadi kejadian semacam itu . . . . ?" "Aku tak ingin percayapun tak bisa." "Atas dasar apa kau berani mengucap­kannya dengan begitu saja ?" Kim Toa-say tidak menjawab pertanyaan itu, dia meneguk dulu tiga mangkuk arak, ke­mudian pelan-pelan baru bertanya: "Tahukah kau sekaligus aku bisa mem­bi­dikkan berapa banyak peluru emas . . . ?" "Dua puluh satu biji !" "Tahukah kau, diantara kedua puluh satu biji peluru yang kulepaskan itu, peluru no­mor berapa yang cepat dan peluru nomor berapa yang lambat, peluru nomor berapa merupakan gerak perputaran dan peluru nomor berapa saling berbenturan ?" "Aku tidak tahu." "Kalau hanya soal ini saja tidak kau ke­ta­hui, darimana kau bisa menahan serangan peluru berantaiku?" Sekali lagi Ong Tiong menjadi tertegun. "Aku menjadi tenar dengan peluru emas, hingga kini sudah hampir tiga puluh tahun lamanya" kata Kim Toa-say lebih jauh, "ti­dak banyak jago persilatan di dunia ini yang sanggup meng­hindarkan diri atau menang­kis seranganku tersebut, tapi secara mudah kau berhasil menga­tasinya" Setelah menghela napas, katanya lebih jauh: "Bukan saja kau mampu untuk meneri­manya, bahkan orang yang kau ajarkan pun mam­pu untuk menyambut serangan terse­but, pada hakekatnya kalian telah me­nganggap serangan peluruku itu bagaikan permainan anak kecil saja, andaikata kau yang menghadapi keadaan seperti ini, ti­dakkah kau merasa keheranan?" Kembali Ong Tiong tertegun beberapa sa­at lamanya, sesudah termenung sejenak, ia menyahut: "Mungkin cara yang dipergunakan kurang betul, maka ancamanmu menjadi punah tak berguna" Tiba-tiba Kim Toa-say menggebrak meja sambil berseru: "Tepat sekali, bukan saja caramu itu me­rupakan semacam cara yang paling tepat, juga terhitung sebuah cara yang paling jitu, cara semacam ini bukan hanya bisa me­ngatasi sera­ngan peluru berantaiku saja, bahkan boleh dibilang merupakan tandingan dari semua sera­ngan senjata rahasia yang ada dalam kolong langit dewasa ini. Ong Tiong hanya mendengarkan saja, karena dia sendiripun tidak tahu sampai di­mana­kah kelihaian dari ilmu kepandaiannya itu. Kim Toa-say menatapnya lekat-lekat, ke­mudian ia bertanya lagi: "Tahukah kau, berapa orang yang mampu menggunakan kepandaian semacam itu dalam dunia persilatan selama ini ?" Ong Tiong segera menggeleng. "Hanya ada seorang !" seru Kim Toa-say lebih jauh. Setelah menghela napas panjang, pelan­-pelan lanjutnya: "Sudah belasan tahun lamanya aku men­cari orang ini." "Mengapa kau . . . . kau mencari dirinya?" "Karena selama hidup bertarung dengan orang, baru kali itu saja aku dikalahkan se­cara mengenaskan di tangannya !" "Kau ingin membalas dendam ?" "Soal ini bukan terhitung suatu pemba­la­san dendam." "Lantas karena apa ?" "Ilmu sambitan peluru biasa dipatahkan orang, itu berarti terdapat kekurangan dalam permainanku itu, tapi aku sudah memikirkannya selama belasan tahun, akan tetapi tak pernah berhasil untuk menemu­kan titik kelemahanku itu." "Kalau dilihat dari kemampuannya untuk mematahkan serangan peluru emas beran­taimu, aku rasa dia pasti mengetahui dima­nakah ter­letak titik kelemahanmu itu." "Benar." "Kau menganggap orang berkerudung itu sudah pasti dia ?" "Seratus persen sudah pasti dia, tak mungkin ada orang yang kedua lagi, sedang kepandaianmu dalam menyambut serangan peluru berantaiku tadi, hampir boleh dibi­lang persis sama sekali dengan kepandaian itu." Sinar berharap dan perasaan gelisah segera memancar keluar dari balik mata Ong Tiong. Tapi Kwik Tay-lok jauh lebih gelisah lagi, dengan cepat dia berseru: "Kau telah berbicara pulang pergi, se­sungguhnya siapakah orang itu . . . ?" Kim Toa-say menatap wajah Ong Tong lekat-lekat, kemudian sepatah demi sepatah dia berkata: "Orang itu adalah Ong Cian-sik, yaitu ayahmu sendiri !" Sekalipun sewaktu Cui-mia-hu mengulur­kan tangannya dari dalam kuburan untuk me­nangkap dirinya, paras muka Ong Tiong tak sampai menunjukkan perasaan kaget dan tercengangnya seperti itu. Tapi Kwik Tay-lok justru jauh lebih terce­ngang daripada dirinya, kembali dia ber­seru: "Kau maksudkan orang berkerudung itu adalah ayahnya ?" "Tak bakal salah lagi." "Kau bilang ayahnya bukan mengajar ilmu silat kepadanya di rumah, sebaliknya de­ngan mengerudungkan wajahnya menunggu kedatangannya didalam hutan dekat kubu­ran ?" "Benar." Kwik Tay-lok ingin tertawa, namun tak ada suara yang keluar, akhirnya sambil menghela napas dia berkata: "Percayakah kau kalau di dunia ini ter­da­pat kejadian aneh seperti itu . . . . . ?" "Peristiwa semacam ini tak bisa terhitung sebagai sesuatu kejadian yang aneh, Belum bisa dianggap aneh ?" "Semua persoalan yang masih bisa dije­laskan dengan kata-kata tak bisa dianggap seba­gai suatu kejadian yang aneh." "Bagaimana alasannya ?" "Sebenarnya akupun tidak habis mengerti." kata Kim Toa-say hambar, "tapi setelah ku­saksikan tempat tinggalnya ini, aku menjadi teringat akan hal ini, apalagi menyaksikan teman-temanmu itu, membuat aku makin ter­pikirkan lebih jauh" "Kalau begitu, coba kau terangkan ala­sanmu yang pertama." "Ketika Ong Cian-sik masih muda dulu, ia masih mempunyai sebuah nama lain yaitu Ong Hui-lui, artinya sekalipun sambaran petir yang datang dari langitpun ia masih sanggup untuk menaklukkannya." Setelah meneguk habis secawan arak, dia berkata lebih jauh: "Sekalipun nama tersebut agak terlalu se­sumbar, tapi pada usia dua puluh tiga tahun dia telah dianggap sebagai jago lihay nomor wahid dari dunia persilatan yang sanggup menghadapi ancaman senjata rahasia macam apa pun juga, kendatipun julukan itu terlampau takabur, akan tetapi orang lain tak berani berkata apa-apa." Semua orang mendengarkan cerita itu dengan seksama, bahkan Kwik Tay-lok sendiripun tidak turut menimbrung. Kembali Kim Toa-say melanjutkan: "Menanti usianya sudah agak menanjak, tenaganya makin matang, diapun merubah na­manya menjadi Ong Cian-sik, pada waktu itu dia sudah jarang sekali melakukan perja­lanan didalam dunia persilatan, lewat dua tahun kemudian, tiba-tiba ia lenyap dari kera­maian dunia persilatan." Sampai di situ, Kwik Tay lok baru tak tahan untuk menimbrung: "Mungkin hal ini disebabkan karena ia su­dah jemu dengan kehidupan dunia persila­tan yang penuh dengan bunuh membunuh itu, maka ia mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari keramaian dunia. Kejadian sema­cam ini banyak terjadi di dunia sedari dulu, rasanya hal mana bukan suatu kejadian yang aneh." Kim Toa-say menggelengkan kepalanya berulang kali. "Hal mana bukan merupakan alasannya yang terutama" katanya. "Ooooh. . . . . . ." "Yang terutama adalah dia telah mengikat tali permusuhan dengan seorang musuh be­sar yang lihay sekali, dia tahu kalau kepan­daiannya masih bukan tandingan orang, maka diambil keputusan untuk mengundur­kan diri dari keramaian dunia dan hidup ter­pencil." "Siapakah musuh besarnya itu ?" tiba-tiba Ong Tiong bertanya. "Justru karena dia enggan untuk mem­beritahukan siapa nama musuh besarnya itu kepadamu, maka dia baru tidak bersedia untuk mengajarkan ilmu silat kepadamu se­cara terang-terangan." "Kenapa ?" "Sebab bila kau tahu akan masa lalunya, cepat atau lambat pasti akan mengetahui soal permusuhannya itu, jika kau tahu sia­pakah musuh besarnya itu, sebagai pemuda yang berda­rah panas, tak bisa disangkal lagi kau pasti akan pergi mencarinya untuk membuat perhi­tungan." Setelah menghela napas panjang, lanjut­nya. "Tapi berbicara sesungguhnya, musuh be­sarnya memang menakutkan sekali, bukan saja kau tak akan sanggup untuk mengha­dapi­nya, mungkin tiada seorang manusia­pun dalam dunia persilatan dewasa ini yang sanggup me­nyambut lima puluh jurus se­rangannya." Paras muka Ong Tiong sama sekali tidak berperasaan, katanya: "Aku hanya ingin tahu siapakah sebenar nya orang itu ?" "Tahu pada saat inipun percuma." "Kenapa ?" "Karena kendatipun dia sudah tiada tan­dingannya di dunia ini, akan tetapi masih be­lum mampu untuk menghadapi beberapa hal." "Soal apa saja ?" "Tua, sakit dan mati !" "Ia sudah mati ?" paras muka Ong Tiong agak berubah. Kim Toa-say segera menghela napas panjang. "Aaai . . . . dari dulu sampai sekarang, ada jago gagah darimanakah di dunia ini yang bisa menghindarkan diri dari hal terse­but." "Tapi ia sebelumnya......" "Setelah orangnya mati, namanya juga turut terkubur sepanjang masa didalam tanah" tukas Kim Toa-say dengan cepat, "buat apa kau mesti menanyakan lagi akan persoalan ini!" ia tidak membiarkan Ong Tiong buka su­ara dengan cepatnya me­nyambung lebih jauh, "Semenjak sampai di tempat ini, orang yang bernama Ong Hui-liu pun praktis seperti orang mati, maka sekali­pun berada di depan putranya sendiri, dia tak akan membicarakan soal ilmu silat" "Ini merupakan alasan yang pertama" kata Kwik Tay-lok. "Kalau dilihat dari sahabatmu dari jenis yang begini, bisa diduga kalau dikala masih kecilnya dulu Ong Tiong sudah pasti adalah seorang anak yang sangat nakal" Walaupun Kwik Tay-lok tidak berbicara apa-apa, namun mimik wajahnya telah me­wakili Ong Tiong untuk mengakui akan ke­benaran dari ucapan tersebut. "Bocah yang nakal biasanya selalu me­nimbulkan bencana atau kesulitan buat orang tuanya," kata Kim Toa-say lebih lan­jut, "Ong Cian-sik kuatir putranya bakal menderita ke­rugian, diapun tak tega untuk tidak mengajarkan kepandaian silat pelin­dung badan kepada­nya.” Ia tertawa sejenak, kemudian melanjut­kan: "Tapi bila menginginkan seorang anak yang nakal untuk baik-baik berlatih ilmu si­lat dirumah, hakekatnya perbuatan ini jauh lebih sulit daripada menjinakkan seekor kuda liar, maka dari itu Ong Cian-sik lantas memperaga­kan cara seperti itu, selain dapat merahasiakan indentitasnya di hadapan orang, diapun dapat merangsang gairah Ong Tiong untuk belajar silat . . . . . . biasanya anak-anak semakin terangsang gairahnya apabila menghadap hal-hal yang di anggap­nya aneh dan misterius." "Jangankan anak-anak, sekalipun orang dewasa juga sama saja," sambung Kwik Tay­-lok sambil tertawa. Ditengah kegelapan malam yang buta, dalam hutan di tepi kuburan, berhadapan dengan seorang -jago lihay dunia persilatan yang ber­kerudung . . . . . ." Peristiwa yang begini rahasia dan mis­te­riusnya ini, mungkin seorang kakekpun akan turut terangsang gairah belajar silat serta rasa ingin tahunya. "Sekarang, tentunya kau sudah mengerti bukan akan persoalan ini?" kata Kim Toa-say kemudian. "Masih ada satu hal yang tidak kupa­hami," kata Kwik Tay-lok. "Oooh . . . ?" "Darimana kau bisa tahu akan maksud hati dari empek Ong ?" "Sebab akupun seorang manusia yang pernah menjadi ayah." Setelah menghela napas panjang, lanjut­nya: "Kasih sayang dan penderitaan seorang ayah terhadap putranya, hanya orang yang menjadi ayah saja yang dapat merasakan­nya." Tiba-tiba Ong Tiong bangkit berdiri, ke­mudian menerjang keluar dari tempat itu. Apakah dia ingin mencari suatu tempat yang tak ada orangnya dan menangis tersedu-sedu ? Yan Jit memang sudah menundukkan kepalanya sedari tadi, sekarang Kwik Tay-lok ikut menundukkan pula kepalanya. "Orang yang menjadi anak, kenapa tak dapat memahami perasaan kasih sayang serta pengharapan dari ayahnya setelah keadaan terlambat dan dikala menyesalpun percuma ?" Kim Toa-say memperhatikan mereka lekat-­lekat, mendadak sambil mengangkat cawan arak­ dia berseru: "Apakah kalian tak pernah minum arak?" Di dunia ini memang terdapat banyak sekali kejadian aneh dan misterius yang tam­paknya sukar untuk dijelaskan selama­nya. Padahal bagaimanapun misterius dan peli­knya suatu persoalan, sudah pasti ada jawa­bannya, seperti pula di bawah tanah pasti ada sumber air dan emas, di duniapun pasti ada keadilan dan kebenaran, diantara hubungan manusiapun pasti terdapat persa­habatan dan kehangatan. Sekalipun kau tak bisa melihatnya, tak bisa mendengarnya dan tak bisa menemu­kan­nya, tak akan kau sangkal kehadiran mereka di dunia ini ! Asal kau mau untuk mempercayai­nya, suatu ketika kau pasti akan berhasil un­tuk menjumpainya. "Adakah manusia di dunia ini yang tak pernah mabuk?" Jawab yang paling tepat dari pertanyaan ini adalah: " Ada !" Orang yang tak pernah minum arak ada­lah orang yang tak pernah mabuk. . Asal kau minum, kau akan mabuk, bila kau minum terus tiada hentinya, tak bisa disangkal lagi kau pasti akan mabuk, itulah se­babnya Kwik Tay-lok juga menjadi ma­buk. Kepala Kim Toa-say kelihatan seperti ber­goyang-goyang terus tiada hentinya. Mendadak ia merasakan kalau Kim Toa­-say sedikitpun tidak mirip seorang Toa-say, mendadak ia merasa dirinya barulah se­orang jendral yang sesungguhnya, lagi pula jendral besar diantara jendral-jendral lain­nya ........ Kim Toa-say juga lagi memandang ke arah­nya, tiba-tiba ia menegur sambil ter­tawa: "Kenapa sih kepalamu bergoyang terus tiada hentinya ?" Kwik Tay-lok segera tertawa ter­bahak-bahak. "Haahhh . . . haahh . . . heran amat kau ini, sudah jelas kepalamu sendiri yang se­dang bergoyang tiada hentinya, masih menuduh ke­pala orang yang sedang ber­goyang " "Siapakah orang yang kau maksudkan ?" "Yang dimaksudkan orang adalah aku." "Kalau sudah jelas dirimu, mengapa pula kau katakan orang ?" Kwik Tay-lok berpikir sebentar, kemudian menghela napas panjang, katanya: "Tahukah kau apakah yang menjadi pe­nyakitmu terbesar ?" Kim Toa-say turut berpikir sebentar, ke­mudian balik bertanya: "Apakah aku minum arak terlalu banyak?" "Bukan minum arak terlalu banyak, adalah pertanyaanmu yang terlalu banyak, sehingga membuat orang hampir saja tak tahan." Mendengar itu, Kim Toa-say segera ter­tawa terbahak-bahak HAAAHHH . . . . haaahhh . . . . . haaahhh . . . . bagus, aku tak akan bertanya, aku bi­lang tak akan bertanya tak akan berta­nya . . . . tapi, bolehkah kuajukan pertanyaan yang paling akhir ?" "Tanyalah !" "Tahukah kau, apa sebabnya aku sampai datang kemari sekarang?" Kwik Tay-lok berpikir sebentar kemudian tertawa tergelak: "Aku lihat kau ini benar-benar sangat aneh, masa mau apa dirinya datang kemari­pun tidak diketahui oleh dirinya sendiri dan sebaliknya malah di tanyakan kepadaku, aku toh bukan ular dalam perutmu, mana aku bisa tahu ?" Kim To-say seakan-akan tidak mendengar sama sekali terhadap apa yang dikatakan­nya itu, sinar matanya tertuju pada mang­kok kosong yang berada di tangannya, se­dang mukanya menunjukkan mimik wajah seperti setiap saat su­dah siap akan menangis saja. Lewat lama kemudian, pelan-pelan dia baru berkata: "Selama berada di rumah aku telah me­latih ilmu peluru berantaiku selama belasan ta­hun, dalam anggapanku kepandaian tersebut pasti bisa kugunakan untuk menghadapi Ong Hu-lui, siapa tahu jangan­kan orangnya, hanya anaknya saja tak mampu kuhadapi, aku . . . .. aku.. . . . ." Mendadak dia melompat bangun, seolah­-olah juga ingin turut menerjang keluar, men­cari tempat yang tak ada orangnya dan me­nangis tersedu-sedu . . .. . .. "Tunggu sebentar !" tiba-tiba Kwik Tay-­lok berpekik keras. "Apa lagi yang harus kutunggu ?" seru Kim Toa-say dengan mata melotot besar. "Apa kah harus menunggu sampai kehila­ngan, muka untuk kesekian kalinya?" Sambil menuding ke arah peluru emas yang berada di dalam mangkuk di atas meja, Kwik Tay-lok berseru: "Kalau kau ingin pergi, maka lebih baik bawa serta barang-barangmu itu . . . " Isi mangkuk tersebut sebenarnya adalah Ang-sio-bak, tapi sekarang dia telah mem­per­gunakannya sebagai tempat peluru emasnya. "Mengapa aku harus membawanya pergi?" seru Kim Toa say. "Bukankah barang barang tersebut milik­mu ?” "Siapa bilang milikku ? Kenapa tidak kau tanyakan kepada benda benda tersebut, apakah dia she Kim ?" Kwik Tay-lok menjadi tertegun. Tiba-tiba Kim Toa-say tertawa tergelak lagi, katanya lebih jauh: "Benda-benda itu bukan Ang-sio-bak, juga bukan bakso, mau dimakan tak bisa, mau di gigit tak kuat, siapa yang menyukai benda semacam ini, dialah si cucu kura-kura ?" "Apakah selanjutnya kau tak akan meng­gunakan peluru berantai lagi untuk mengha­dapi orang ?" "Siapa yang memakai peluru berantai di kemudian hari, siapa pula cucu kura-kura !" Setelah tertawa tergelak, dengan sempo­yongan dia menerjang keluar dari situ, ketika tiba di depan pintu, mendadak dia berpaling sambil berseru lagi: "Tahukah kau, apa sebabnya dahulu aku suka menggunakan peluru emas untuk menghajar orang ?" "Tidak tahu." "Karena emas adalah benda yang paling disukai setiap orang, bila menggunakan emas untuk memukul orang, orang lain pasti ingin menyambutnya untuk dilihat, dengan demikian mereka akan lupa untuk menghindarkan diri, untuk menyambut benda itu sudah barang tentu akan jauh le­bih sulit daripada untuk menghindarinya, apalagi emas dapat membuat pandangan mata orang menjadi silau, oleh sebab itu barang siapa menggunakan emas sebagai senjata rahasianya, dia akan memperoleh keuntungan yang cukup besar didalam hal ini." "Sekarang, mengapa kau tak akan mem­pergunakannya lagi ?" Kim Toay-say berpikir sebentar, kemudi­an sahutnya: "Sebab siapa ingin mencari keuntungan, dia akan rugi, sedang rugilah baru merupa­kan suatu keberuntungan." "Tampaknya kau belum lagi mabuk, uca­panmu masih terdengar jelas sekali." kata Kwik Tay-lok sambil tertawa. Kontan saja Kim Toa-say melotot besar. "Tentu saja aku belum mabuk, siapa bi­lang aku sudah mabuk, siapa pula si cucu kura-kura." Akhirnya Kim Toa-say telah pergi. Dia memang tampak sedikitpun tidak ma­buk, cuma mabuknya sudah mencapai dela­pan sembilan bagian saja. Bagaimana dengan Kwik Tay-lok ! Dia sedang mengawasi peluru emas di mangkuk dengan tertegun, lama kemudian dia baru menghela napas sambil bergumam: "Benda-benda yang berada di dunia ini memang aneh sekali, dikala kau sedang membutuhkannya, dia tak mau datang, na­mun dikala kau sudah tidak membutuhkan­nya, ia justru datang setumpuk, bayangkan saja tobat tidak ?" Seandainya kau berdiam di suatu tempat yang terpencil. Seandainya ditengah malam buta ada orang datang mengetuk pintumu dan ber­kata dengan sungkan: "Aku lelah haus, dan lagi sudah jauh dari tempat penginapan, aku ingin menginap sema­lam saja di sini dan minta air minum." Maka asal kau masih terhitung manusia, tentu kau akan berkata: "Silahkan masuk !. Kwik Tay-lok juga terhitung seorang manusia. Biasanya dia memang periang, suka mene­rima tamu, apalagi bila sedang minum arak, maka keriangannya sepuluh kali lipat lebih besar dari pada dihari-hari biasa. Sekarang dia sedang minum arak, tidak sedikit arak yang sedang diteguknya. Tak lama setelah Kim Toa-say pergi, dia mendengar ada orang mengetuk pintu, maka diapun berebut keluar untuk membu­kakan pintu. Orang yang mengetuk pintu itu sedang berkata kepadanya dengan amat sopan: "Aku lelah lagi haus dan lagi jauh dari rumah penginapan, bolehkah aku menginap semalam di sini dan minta air seteguk ?" Semestinya Kwik Lay-lok akan mengucap­kan: "Silahkan masuk". Tapi justru kedua patah kata tersebut tak sanggup diutarakan keluar. Setelah berjumpa dengan orang itu, teng­gorokannya seakan-akan tersumbat secara tiba-tiba, pada hakekatnya tak sepatah katapun yang sanggup diucapkan. Orang yang datang, mengetuk pinta adalah seorang manusia berbaju hitam...... Orang itu memakai baju serba hitam, celana hitam sepatu hitam, wajahnya juga ditutup dengan secarik kain berwarna hitam, hanya sepasang matanya yang kelihatan bersinar terang, di belakang tubuhnya juga tersoren sebilah pedang panjang. Sebilah pedang panjang yang mencapai lima depa lebih. Di depan pintu tiada cahaya lentera. Dengan tenangnya orang itu berdiri di sana seakan-akan ciptaan dari kegelapan saja. Begitu berjumpa dengan orang itu, penga­ruh arak di tubuh Kwik Tay-lok segera menjadi terang tiga bagian. Apalagi setelah menyaksikan pedang yang tersoren di punggung orang itu, pengaruh arak nya semakin hilang. Hampir saja dia tak tahan untuk menjerit tertahan. "Lamkiong Cho!" Sesungguhnya macam apakah manusia yank bernama Lamkiong Cho tersebut, ia sama sekali belum pernah melihatnya. Tapi orang ini sudah pasti bukan penya­ruan dari Bwee Ji-ka. Walaupun dandanannya bahkan sampai pedang yang digembolnya persis seperti dan­danan Bwee Ji-ka ketika sedang muncul­kan diri bersama si tongkat di depan warung makannya Moay lo-Kong tempo hari. Akan tetapi Kwik Tay-lok tahu dengan pasti bahwa orang ini bukan Bwee Ji-ka. Hal ini bukannya dikarenakan dia lebih tinggi sedikit atau lebih kurus sedikit dari­pada Bwee Ji-ka . . . . . . sebetulnya karena apa, Kwik Tay-lok sendiripun merasa tidak begitu jelas. Ketika Bwee Ji-ka mengenakan baju ber­warna hitam tersebut, seakan-akan mem­bawa semacam hawa pembunuhan yang mengerikan dan mendirikan bulu roma orang. Sebaliknya orang ini tidak memilikinya. Dia tidak memiliki hawa pembunuhan, juga tidak memiliki hawa kehidupan, bahkan hawa apapun tidak dimilikinya, sepertinya kendatipun kau tendang tubuhnya, dia tak akan memperlihatkan reaksi apa-apa. Tapi Kwik Tay-lok berani menjamin, entah siapa saja itu orangnya tak akan berani me­nyentuh seujung jari tangannyapun. Biji matanya hitam dan jeli, tiada perbe­daan khusus bila dibandingkan dengan orang­-orang yang belajar ilmu silat pada umumnya. Tapi entah apa sebabnya asal dia meman­dangmu sekejap maka kau akan segera merasakan sekujur badannya menjadi tak sedap. Waktu itu dia sedang memperhatikan Kwik Tay-lok. Kwik Tay-lokpun segera merasakan seku­jur badannya menjadi tak sedap, seperti orang yang baru mendusin dari pengaruh araknya setelah mabuk kepayang sehari semalam lamanya, peluh dingin membasahi telapak tangannya kepala seperti pusing tujuh keliling sehingga kalau bisa dia ingin memenggalnya dengan pi­sau. Orang berbaju hitam itu sedang meman­dang ke arahnya, jelas masih menantikan jawabannya, jelas masih menantikan jawa­bannya. Kwik Tay-lok sendiri seakan-akan sudah menjawab pertanyaan itu. Orang berbaju hitam itu tidak berkata apa-apa lagi, mendadak dia kembalikan badan dan pelan-pelan berjalan. Langkah kakinya persis seperti pula orang yang lain, hanya saja dia berjalan dengan luar biasa lambannya, setiap maju melang­kah, dia selalu memperhatikan ujung kaki­nya lebih dahulu, seakan-akan kuatir kalau langkah kakinya menginjak ditempat yang kosong dan terjungkal ke dalam percobaan, tapi lagaknya mirip pula seseorang yang ta­kut menginjak mati seekor semut. Kalau dilihat dari caranya berjalan, mung­kin sampai besok sorepun tak nanti bisa menuruni bukit tersebut. Tiba-tiba Kwik Tay-lok tak kuat menahan diri lagi, dia lantas berseru lantang: "Tunggu sebentar !" "Tak usah di tunggu lagi" jawab orang berbaju hitam itu tanpa berpaling lagi. "Kenapa ?" "Kalau toh tempat ini kurang leluasa, aku pun tak berani memaksanya lebih lanjut." Selesai mengucapkan perkataan itu, dia tak lebih baru berjalan dua langkah saja. Sambil tertawa Kwik Tay-lok lantas ber­kata. "Siapa bilang kalau tempat ini kurang le­luasa ? Delapan ratus li disekitar tempat ini tak akan ada tempat yang suka menerima tamu seperti tempat ini, silahkan masuk, silahkan masuk !" Orang berbaju hitam itu masih ragu-ragu, lewat lama kemudian pelan-pelan dia baru berpaling. Kwik Tay-lok kembali menunggu cukup lama, setelah itu dia baru balik kembali ke depan pintu gerbang, katanya: "Kau menyuruh aku masuk ke dalam?" Diapun berbicara dengan suara yang sa­ngat lamban, penggunaan kata-katapun amat sedikit, kalau orang lain harus mem­butuhkan sepuluh patah kata untuk menye­lesaikan serangkai perkataan, maka dia paling banter hanya menggunakan enam tujuh patah kata saja. "Betul, silahkan masuk " kata Kwik Tay lok. "Tidak menyesal ?" Kwik Tay-lok segera tertawa: "Mengapa aku harus menyesal? jangan­kan kau hanya menginap semalam saja di sini, se­kalipun ingin berdiam selama tiga atau lima bulanpun, kami tetap akan me­nyambutmu de­ngan segala senang hati." Kembali keriangan dan kehangatannya muncul kembali di wajah pemuda ini. "Terima kasih." Akhirnya dia masuk ke dalam halaman dengan langkah pelan, sorot matanya hanya memperhatikan jalanan yang terbentang di ha­dapannya, tempat yang lain hampir tidak diperhatikannya sama sekali. Yan Jit dan Ong Tiong sedang mengawasi gang itu dari balik jendela, mimik wajah kedua orang inipun sama-sama memperli­hatkan rasa kaget bercampur tercengang. Orang berbaju hitam itu berjalan mene­lusuri serambi panjang dan berhenti. "Silahkan masuk untuk minum arak barang dua cawan!"' kata Kwik Tay-lok sambil tertawa. "Tidak !" "Kau tak pernah minum arak?" "Kadangkala minum." "Kapan baru minum?" "Sehabis membunuh orang." Kwik Tay-lok menjadi tertegun, segera gumamnya: "Kalau begitu, lebih baik kau tak usah mi­num arak saja." Kemudian dia sendiripun merasa geli se­kali setelah membayangkan kembali perka­taan­nya itu. Kwik sianseng ternyata menganjurkan orang jangan minum arak, baru pertama kali ini dia berbuat demikian. Orang berbaju hitam itu berdiri didalam serambi dan tidak bergerak lagi. "Dibagian belakang sana terdapat kamar tamu, kalau memang tak ingin minum arak, silahkan masuk de dalam." kata Kwik Tay-lok. "Tidak usah." "Tidak usah ?" seru Kwik Tay-lok lagi agak tertegun, "tak usah apa maksudmu ?" "'Tak usah menuju ke kamar tamu." "Masa kau ingin tidur di sini ?" "Benar !" Agaknya dia merasa segan untuk menga­jak Kwik Tay-lok berbicara lagi, pelan-pelan dia memejamkan matanya dan bersandar di atas sebuah tiang di depan ruang serambi. Tak tahan Kwik Tay-bok berseru lagi: "Kalau memang kau ingin tidur di sini, ke­napa tidak berbaring di lantai .. . .. . ?" "Tidak usah." "Tidak usah berbaring ?" "Benar." "Apakah kau ... . . kau hendak tidur sam­bil berdiri?" "Benar." Kwik Tay-lok tak bisa berbicara lagi, kalau dilihat dari perubahan mimik wajahnya itu maka seakan-akan dia sedang menyaksikan seekor kuda yang pandai berbicara . . . . . . "Kuda tak bisa berbicara !" "Tapi hanya kuda yang tidur berdiri." "Apakah dia seekor kuda ?" "Bukan." "Menurut pendapatmu siapakah orang itu." "Lamkiong Cho !" Yan Jit manggut-manggut, baru pertama kali ini dia menyetujui dengan pendapat dari Kwik Tay-lok. Orang berbaju hitam itu bersandar di atas tiang penyanggah ditengah serambi, dia seakan-akan betul-betul sudah tertidur, tubuhnya seakan-akan pula tonggak kayu penyanggah tersebut, mana lurus, tegak, dingin, kaku, tanpa reaksi dan tanpa perasaan. Kwik Tay-Iok menghela napas, katanya: "Andaikata orang ini bukan Lamkiong Cho, di dunia ini mungkin tiada orang lain lagi yang dinamakan Lamkiong Cho." Tiba-tiba Ong Tiong berkata: "Entah dia itu kuda juga boleh, Lamkiong Cho juga boleh, kedua-duanya tiada sangkut paut apapun dengan kita." " Ada !" kata Kwik Tay-lok. "Hubungan apa?" "Manusia seperti Lamkiong Cho, tak mungkin dia akan kemari, jika tanpa suatu tujuan." "Kenapa dia tak boleh kemari?" "Kenapa pula dia harus kemari ?" "Setiap macam manusia, bila malam su­dah tiba, ia pasti akan mencari tempat un­tuk tidur.'' "Jadi kau menganggap dia datang untuk tidur ?" "Sekarangpun dia sedang tidur." "Tidur macam begini bisa dilakukannya ditempat manapun juga, mengapa ia justru da­tang kemari dan tidur di sini ?" "Terlepas apakah tujuan kedatangannya, tapi yang jelas pada saat ini ia sedang tidur, maka dari itu . . . ." "Maka dari itu kenapa ?'' "Maka dari itu kitapun harus pergi tidur." Inilah keputusan yang diambilnya. Maka dari itu diapun pergi tidur. Bila Ong Tiong sudah mengatakan akan pergi tidur, maka apapun yang kau suruh dia lakukan, tak mungkin akan dia lakukan dengan begitu saja . . . . . . Namun Kwik Tay-lok masih berdiri di de­pan jendela dan mengawasi orang baju hi­tam. "Mengapa kau tidak pergi tidur ?" Yan Jit segera menegur. "Aku ingin tahu, apakah dia benar-benar bisa tidur, bisa tidur berapa lama ?" Sambil menggigit bibir Yan Jit berseru: "Tapi kamar ini toh kamarku, aku hen­dak tidur." "tidur saja di situ, aku toh tak akan mem­bangunkan dirimu.” "Tidak bisa." "Kenapa tidak bisa ?" "Bila ada orang lain didalam kamarku, aku tidak bisa tidur." Kwik Tay-lok segera tertawa. "Bila kau mempunyai bini di kemudian hari, apakah kau juga akan mempersilahkan dirinya untuk tidur didalam kamar lain ?" Paras muka Yan Jit kelihatan agak memerah, dengan mata mendelik dia mem­bentak: "Dari mana kau bisa tahu kalau aku pasti akan mempunyai bini ?" "Sebab di dunia ini hanya terdapat dua macam manusia yang tak akan mempunyai bini." "Dua macam manusia apa saja ?" "Pertama adalah hwesio dan kedua ada­lah seorang banci yang laki tidak laki, perem­puan tidak perempuan, tentunya kau tidak termasuk kedua macam jenis manusia itu bukan?" Yan Jit kelihatan agak merah, lalu seru­nya: "Sekalipun aku akan mencari bini, juga tak akan mencari seorang lelaki busuk macam kau." Sebenarnya dia merasa agak marah, tapi entah mengapa, sebelum ucapan itu selesai di ucapkan, paras mukanya malah sudah berubah menjadi memerah lebih dulu. Mendadak Kwik Tay-lok menarik tangan­nya sambil berbisik: "Coba kau lihat, apakah yang berada di atas dinding itu ?" Baru saja Yan Jit akan melepaskan diri dari cekalannya, ia telah menyaksikan ada sebuah batok kepala yang menongol keluar dari balik dinding di seberang sana . Malam sudah semakin kelam. Iapun tidak sempat melihat jelas bagai­manakah tampang wajah orang itu, hanya terasa olehnya ada sepasang mata yang tajam dan bersinar terang sedang celingu­kan kesana kemari. Untung saja di dalam ruangan tak ada lampunya, maka orang itupun tidak sempat melihat mereka. Sesudah celingukan sekejap di sekeliling tempat itu, mendadak dia menarik kembali kepalanya. Kwik Tay-lok segera tertawa dingin bisik­nya: "Coba kau lihat, dugaanku tak salah bu­kan, selain orang ini tidak mengandung maksud baik, lagi pula bukan hanya dia seorang yang datang kemari." "Kau anggap dia datang lebih dulu ke tempat ini sebagai seorang mata-mata ?' "Sudah pasti begitu." Meskipun orang berbaju hitam itu masih berdiri di sana , namun tubuhnya sama sekali tak berkutik, namun Yan Jit pun tanpa terasa di bikin terpesona untuk mengawasi­nya. Belum juga ada suatu gerakan apapun. Semakin tiada suatu pergerakan, kadang­kala hal mana justru merupakan suatu an­caman yang mengerikan. Sekalipun Yan Jit benar-benar ingin tidur mungkin dia akan melupakan keinginannya itu sekarang. Entah berapa saat kemudian, mendadak terdengar Kwik Tay-lok bergumam seorang diri: "Heran, heran, sungguh mengherankan." "Apanya yang mengherankan ?" "Kenapa badanmu sama sekali tidak bau busuk ?" Sekarang Yan Jit baru merasa kalau dia berdiri begitu dekatnya dengan Kwik Tay­ -lok sehingga hampir saja bersandar didalam rangkulan Kwik Tay-lok. "Untung saja didalam kamar tiada cahaya lampu, sehingga tak terlihat bagaimanakah mimik wajahnya ketika itu. Dengan cepat dia mundur dua langkah, kemudian katanya sambil menggigit bibir: "Dapatkah aku tidak bau busuk ?" "Tidak dapat" "Kenapa ?" "Sebab aku tidak pernah melihat kau man­di, juga tak pernah menyaksikan kau berganti pakaian, semestinya badanmu baunya busuk setengah mati" "Takut?" "Kentut lebih busuk lagi baunya" serta Kwik Tay-lok sambil tertawa. Dengan gemas Yan Jit melotot sekejap ke arahnya, dia seperti ingin sekali menampar wa­jahnya, untung saja pada saat itu terlihat ada sesosok bayangan manusia yang berke-lebat lewat di luar dinding pekarangan de-ngan suatu gerakan yang enteng dan ce­pat. Tentu saja orang itu tidak bisa melayang sedemikian cepatnya, tapi kenyataannya dia sangat enteng, sekali melompat tiga kaki bisa dilampaui, sewaktu mencapai di atas tanah, juga tidak menimbulkan suara barang sedikitpun juga. Bukan saja badannya sangat enteng, dia­pun luar biasa kurus kecilnya, sehingga pada hakekatnya tidak jauh berbeda dengan perawa­kan tubuh seorang bocah. Namun di atas wajahnya telah tumbuh jenggot yang cukup panjang, bahkan hampir ber­satu dengan rambutnya yang awut- awutan tak karuan, sebagian besar wajah-nya tertutup semua sehingga hanya kelihatan sepasang matanya yang jauh lebih licik dari pada sepasang mata rase tua. Dia celingukan kembali di sekeliling tem­pat itu, akhirnya sorot mata tersebut ter­henti di atas wajah manusia berbaju hitam itu. Si orang berbaju hitam itu masih juga be­lum bergerak, sepasang matanya juga sama sekali tidak dipentangkan. Mendadak kakek ceking tadi menggerak­kan tangannya memberi tanda, dari luar din­ding pekarangan segera melayang masuk kembali tiga sosok bayangan manusia. Ketiga orang ini mempunyai perawakan badan yang tinggi besar, namun ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya tidak lemah, ketiga orang itu semuanya menge­nakan pakaian ringkas berwarna hitam ge­lap, ditangan masing-masingpun menggem­bol senjata tajam. Orang pertama menggunakan senjata Poan-koan-pit, orang kedua menggunakan pedang berbentuk busur, sedang orang ketiga menggunakan tombak berantai pan­jang, sebaliknya si kakek ceking itu meng­gunakan sepasang senjata gelang.. ke empat macam senjata itu merupakan senjata-senjata luar biasa yang tajam dan sukar untuk digunakan. Biasanya orang yang bisa menggunakan senjata rahasia aneh semacam itu pasti memiliki ilmu silat yang luar biasa.. Namun orang berbaju hitam itu masih berdiri tak berkutik di situ, bahkan sedikit reaksi pun tak ada. Sikap ke empat orang itu menjadi tegang sekali, sepasang matanya mengawasi tubuh orang berbaju hitam itu tanpa berkedip, kemudian selangkah demi selangkah dia maju men­dekatinya, jelas setiap saat mereka mungkin akan melancarkan sera­ngan mematikan yang akan merenggut se­lembar jiwanya. Kwik Tay-lok memandang sekejap ke arah Yan Jit, katanya: "Ternyata mereka tidak berasal dari satu aliran yang sama" Yan Jit segera manggut-manggut. Kedua orang itu sama-sama tak berkutik ditempat persembunyiannya, sementara dalam hatinya mempunyai tekad yang sama, mereka ingin tahu bagaimana cara­nya ke empat orang pencoleng tersebut menghadapi si orang ber­baju hitam yang misterius tersebut. Siapa tahu pada saat itulah pintu gerbang dibuka orang. Sebetulnya Kwik Tay-lok masih ingat de­ngan jelas kalau pintu gerbang itu sudah dikunci dari dalam, sekarang entah apa se­babnya ter­nyata bisa membuka sendiri tanpa menimbul­kan sedikit suarapun. Seseorang yang menggunakan jubah pan­jang berwarna hijau, sambil menggoyang­kan kipasnya sambil berjalan masuk ke dalam. Ia mengenakan baju yang amat mewah dan perlente, sikapnya amat santai, sikap­nya persis seperti seorang kongcu yang gemar pelesiran. Akan tetapi, ketika Kwik Tay-lok mem­per­hatikan raut wajahnya itu, dia menjadi ter­peranjat sekali. Pada hakekatnya raut wajah kongcu tersebut bukan raut wajah seorang manusia, bah­kan topeng setan yang berada dalam kuil kaum Lhama di wilayah Tibet pun tak akan menakutkan seperti wajah orang ini. Sebab raut wajah tersebut benar-benar merupakan selembar wajah yang hidup, lagi pula muka itu sama sekali tidak ber­perasaan. Semacam raut wajah yang membikin orang menjadi terkesiap dan ngeri setelah melihatnya apalagi berada di tengah kegela­pan malam se­perti sekarang ini. Andaikata Kwik Tay-lok tidak menyaksi­kan dengan mata kepala sendiri, ia tak akan percaya kalau di dunia ini terdapat seorang manusia yang memiliki raut wajah sedemikian buruk dan menakutkannya. Sampai detik itu, ternyata ke tempat orang manusia bersenjata aneh itu masih belum mera­sakan kehadiran seorang manu­sia lagi ditempat itu. Langkah kaki dari orang berbaju hijau itu enteng sekali sehingga seakan-akan tidak me­nempel di atas permukaan tanah, dengan enteng sekali dia melayang ke belakang punggung orang yang bersenjata poan-koan-pit itu, lalu menja­wil bahu orang itu dengan kipasnya. Seperti seekor kelinci yang kena di panah, dengan terperanjat orang itu melejit ke udara karena kaget, kemudian berjumpali­tan beberapa kali dan melayang turun disamping kakek ce­king tersebut. Sekarang mereka baru tahu kalau ada seorang manusia berbaju hijau telah muncul di tempat itu, rasa kaget bercampur ngeri dengan cepat menghiasi raut wajah mereka. Kwik Tay-lok dan Yan Jit kembali saling berpandangan mata. "Ternyata orang-orang itu bukan berasal dari satu aliran yang sama" Orang-orang itu seperti lagi memerankan suatu sandiwara bisu saja, tiada seorang ma­nusiapun yang bersuara, tapi segala se­suatunya berlangsung amat misterius dan merangsang perasaan. Orang berbaju hijau itu masih menggo­yangkan kipasnya, sedang sikap yang amat santai. Sedang ke empat orang manusia bersen­jata aneh itu kelihatan semakin menegang, senjata tajam yang mereka pegangpun di­genggam semakin kencang. Tiba-tiba orang berbaju hijau itu menggu­nakan kipasnya kemudian ke arah mereka lalu, menuding pula keluar pintu. Artinya mereka dipersilahkan untuk me­ninggalkan tempat itu. Ke empat orang manusia yang bersenjata aneh itu saling berpandangan sekejap, kakek itu menggertak bibirnya lalu meng­gelengkan kepalanya, sedangkan gelangnya dipakai untuk menuding ke arah gedung tersebut, lalu menuding pula ke arah diri sendiri. Artinya: "Tempat ini merupakan wilayah operasi kami, kami tak akan keluar dari sini." Tiba-tiba manusia berbaju hijau itu ter­tawa. Siapa saja tak mungkin akan bisa me­nyaksikan senyuman semacam ini. . Siapa saja yang menyaksikan senyuman semacam itu, maka bulu kuduknya pasti berdiri semua. Ke empat orang bersenjata aneh itu mulai menggerakkan langkah kakinya dan berdiri menjadi satu, peluh dingin membasahi se­luruh tubuh mereka ....... Sekali lagi orang berbaju hijau itu menuding ke arah senjata mereka seakan- akan sedang berkata: "Lebih baik kalian maju bersama saja !" Ke empat orang itu saling berpandangan sekali lagi seperti telah bersiap sedia untuk turun tangan, tapi pada saat itulah si orang berbaju hijau itu tahu-tahu sudah berada di hadapan mereka. Dengan mempergunakan kipasnya dia mengetuk kepala orang yang bersenjata tombak berantai itu dengan pelan. Ketukan tersebut kelihatannya tidak ter­lalu keras. Akan tetapi orang itu segera roboh terka­par di atas tanah dengan tubuh yang lemas sekali, sebuah batok kepalanya yang besar dan keras kini sudah hancur berantakan, darah dan isi benak berhamburan kema­na-mana tampak mengerikan sekali dalam kegelapan malam yang mencekam. Ketika orang itu roboh terkapar, si orang yang bersenjata pedang berbentuk busur telah melepaskan sebuah tusukan kilat ke arah dada orang berbaju hijau itu. Serangan pedangnya itu enteng, gesit, licin, buas dan cepat. Tapi sayang orang berbaju hijau itu ber­gerak jauh lebih cepat lagi. Tahu-tahu tangannya digerakkan ke de­pan, kemudian terdengar "Kreek !" dan se­lanjutnya terdengar suara "Kreek !" sekali lagi. "Triiing . ! Pedang berbentuk busur itu su­dah patah dan terjatuh ke tanah, sedangkan tulang pergelangan tangannya juga kena diremuk sehingga tinggal selapis kulit saja. Sebenarnya dia masih berdiri tegak ditempat itu, akan tetapi setelah menyaksi­kan keadaan dari tangannya itu, mendadak ia jatuh tak sadarkan diri. Semua kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata. Dalam pada itu kedua orang itu lainnya sudah dibikin ketakutan setengah mati se­hingga paras mukanya berubah menjadi pu­cat pias se­perti mayat, sepasang kaki menggigil keras tiada hentinya. Untung saja kakek itu masih sanggup untuk menahan diri, mendadak dia mem­bung­kukkan badannya di hadapan orang berbaju hijau itu, kemudian menuding ke luar pintu de­ngan senjata gelangnya. Siapapun dapat melihat kalau dia sudah menyerah kalah dan bersiap-siap untuk mening­galkan tempat itu. Orang berbaju hijau itu segera tertawa, kemudian manggut-manggut berulang kali. Kedua orang itu segera menggotong ma­yat kedua orang rekannya dan buru-buru keluar dari situ dengan langkah lebar. Siapa tahu, baru saja mereka tiba di luar pintu, orang berbaju hijau itu sudah berkele­bat ke depan dan tahu-tahu telah tiba di luar pintu. Apa yang kemudian terjadi di luar pintu tidak sempat dilihat oleh Kwik Tay-lok, dia hanya mendengar dua kali jeritan ngeri yang menyayat hati bergema memecahkan keheningan. Menyusul kemudian ada dua macam benda yang di lempar masuk dari luar pintu, itulah sepasang senjata poan-koan-pit serta sepasang senjata gelang baja. Tapi senjata poan-koan-pit tersebut telah patah menjadi empat bagian, sedangkan gelang baja itupun sudah melengkung tak karuan bentuknya, sehingga sama sekali tidak berbentuk gelang lagi. Kwik Tay-Iok segera menghembuskan na­pas dingin, ia lantas berpaling memandang Yan Jit. Yan Jit sendiripun menunjukkan perasaan kaget bercampur ngeri yang amat tebal. Bukan saja orang berbaju hijau itu memiliki ilmu silat yang luar biasa lihaynya, diapun seorang gembong iblis berhati sesat yang buas keji dan tidak berperi-kemanu­siaan. Yang paling menakutkan adalah caranya membunuh orang, pada hakekatnya seperti orang lagi memotong sayur saja. Setiap orang yang sempat menyaksikan caranya membunuh orang, tak ingin me­ngucurkan keringat dinginpun tak bisa. Tapi orang berbaju hitam itu masih tetap berdiri tak berkutik ditempat semula, sekali­pun pembunuhan kejam sedang berlang­sung di depan matanya, namun sama sekali tiada reaksi apa­pun darinya. Seakan-akan kendatipun semua orang yang ada di dunia ini mati semua pun, dia tak akan memperlihatkan reaksi apapun. Sementara itu, si orang berbaju hijau itu sudah berjalan masuk kembali ke dalam halaman dalam dengan langkah yang santai, kipasnya digoyangkan pelan-pelan, sikapnya yang begitu tenang seakan akan tak pernah terjadi sesuatu apapun di sana . Bila orang yang bisa melihat kalau baru­san saja dia habis membunuh empat orang se­kaligus maka hal ini merupakan suatu keja­dian yang aneh sekali. Dengan sengaja tak sengaja dia melirik sekejap ke arah daun jendela dimana Kwik Tay-lok sekalian berada, namun langkahnya masih dilanjutkan langsung menuju ke ha­dapan orang berbaju hitam itu. Di depan beranda terdapat beberapa sap undak-undakan batu. Ia naik sampai undak-undakan tingkat ke dua, lalu berhenti dan mengawasi orang berba­ju hitam itu tanpa berkedip. Mendadak Kwik Tay-lok menyaksikan orang berbaju hitam itu entah sedari kapan telah membuka sepasang matanya, waktu itu diapun sedang mengawasi wajahnya: Kedua orang itupun saling berpandangan tanpa berkedip, tampaknya memang agak aneh dan menggelikan. Akan tetapi Kwik Tay-lok sama sekali ti­dak merasa geli, malahan telapak tangan­nya sudah basah oleh keringat. Bukan telapak tangan saja, bahkan seku­jur badannya telah bermandikan keringat di­ngin. Kembali lewat beberapa saat lamanya mendadak orang berbaju hijau itu berkata: Barusan si burung jahat Khong Tong te­lah membawa saudara-saudaranya berkunjung kemari" Inilah untuk pertama kalinya dia berbi­cara, ternyata bukan saja sikapnya amat santai dan romantis, nada suaranya juga kedengaran enak didengar. . . . . . . Asal tidak memperhatikan raut wajahnya, tapi hanya mendengar suaranya dan melihat gayanya, dia benar-benar seorang kongcu yang amat menarik hati. "Hm !"orang berbaju hitam itu mende­ngus. "Aku kuatir mereka telah mengganggu impianmu yang indah, maka dari itu telah ku usir orang-orang itu." "Hmm !" "Apakah kau sudah tahu kalau mereka akan datang kemari, maka sengaja menda­hului­nya untuk menunggu kedatangan mereka di sini '?" "Mereka masih belum pantas !" "Benar, orang-orang itu memang belum pantas untuk menyuruhmu turun tangan sen­diri, tapi siapa yang sedang kau nantikan ?" "Kui kongcu !" Orang berbaju hijau itu segera tertawa. "Aaah . . . . tak kusangka kau begitu me­mandang tinggi diriku, hal ini benar-benar merupakan suatu kebanggaan bagi kami." Ternyata orang ini bernama Kongcu setan. Kwik Tay-lok merasa nama tersebut me­mang cocok sekali dengan kenyataannya. Tapi siapa pula orang berbaju hitam ini? Apakah dia adalah Lamkiong Cho ? Kenapa dia harus menantikan kedatangan Kui-kongcu tersebut di tempat ini ? Terdengar si Kongcu setan berkata lagi: "Kalau toh kau bisa menantikan kedata­nganku di sini, apakah kau sudah mengeta­hui pula maksud kedatanganku ?" "Hm !" "Dulu kita pernah saling bersua, kedua belah pihak selalu teramat sungkan." "Kau memang sungkan." "Benar, aku tentu saja bersikap sungkan kepadamu." kata kongcu setan sambil ter­tawa. "tapi kau justru pernah memberi kesulitan bagiku." "Hmm !" "Kali ini aku berharap kita bisa berjumpa dengan sungkan dan berpisah lagi dengan sungkan." "Hmm !" "Aku hanya ingin mengajukan beberapa buah pertanyaan saja kepada tuan rumah di sini, kemudian segera pergi." "Tidak boleh !" "Hanya menanyakan dua patah kata ?” "Tidak boleh ?" Ternyata sikap Kui kongcu masih juga amat sungkan, katanya kemudian sambil tersenyum: "Kenapa tidak boleh, apakah kau adalah sahabatnya tuan rumah gedung ini ?" "Bukan." "'Tentu saja bukan." seru Kui-kongcu sambil tertawa, "kau seperti juga aku, sela­manya tak pernah mempunyai teman." "Hmm !" "'Kalau toh mereka bukan temanmu, ke­napa kau harus mencampuri urusan ini ?" "Sebab aku telah mengurusinya !" Mencorong sinar tajam dari balik mata Kui kongcu, serunya kembali: "'Apakah kaupun mempunyai tujuan yang sama dengan diriku.” "Hmm !” "Uang milik Cui-mia-hu apakah berada di sini atau tidak masih merupakan suatu tanda tanya besar, mengapa belum apa-apa kita harus ribut lebih dahulu ?" "Enyah kau dari sini !" "'Aku tak akan enyah dari sini." Kui kongcu masih juga tertawa. "Kalau tidak enyah berarti mampus !" "Siapa hidup siapa mati masih suatu tanda tanya besar, kenapa pula kau mesti turun tangan ?" Tampaknya dia sama sekali tidak mempu­nyai kobaran api amarah dalam hatinya, selalu bersikap acuh tak acuh dan seenak-nya sendiri. Entah siapa pun yang memandang sikap­nya itu, tak akan dijumpai sikap seorang yang siap melancarkan serangan. Tapi Kwik Tay-lok serta Yan Jit yang berada di balik jendela sebelah sana men­dadak berseru hampir bersama: "Coba lihat, orang itu hendak turun ta­ngan." Betul juga, belum habis perkataan itu diu­capkan, Kui-kongcu benar-benar telah me­lancarkan serangan. Tapi pada saat yang bersamaan pula, orang berbaju hitam itu sudah mengangkat tangannya dan menggenggam gagang pedang di atas bahunya. Kedua belah tangannya yang terangkat ke atas menyebabkan pertahanan tubuh bagian depannya menjadi sama sekali terbuka le­bar, seperti sebuah kota benteng tanpa penjagaan yang siap menantikan serbuan pasukan musuh. Senjata kipas milik Kui kongcu itu sebe­narnya menggunakan jurus Poan-koan-pit un­tuk menotok jalan darah Hian-ki-hiat di atas dada lawan, tapi pada saat itulah men­dadak kipas tersebut direntangkan, kemu­dian dengan menggeser ke samping, lang­sung menusuk teng­gorokan dari arah bawah perut. Perubahan semacam itu tampaknya saja seperti tiada sesuatu keistimewaan apapun, padahal diantara gerakan tersebut justru terjadi perubahan yang drastis sekali, selain arah sasaran, jurus serangan mengalami perubahan besar, malah senjata kipas yang digunakanpun seakan-akan telah berubah menjadi sejenis senjata yang lain. Tindakan tersebut membuat serangan yang semula berupa totokan menjadi suatu sapuan kilat, serangan yang mengarah suatu tempatpun berubah menjadi suatu sapuan. Sedemikian sem­purna dan luar bia­sanya perubahan itu membuat pihak lawan sama sekali tidak menduga­nya. Waktu itu si orang berbaju hitam itu ma­sih bersandar di atas tonggak penyanggah, tempat itu pada dasarnya merupakan suatu sudut mati yang tak mungkin bisa dipakai untuk berkelit. Apalagi sepasang tangannya terangkat ke atas semua sehingga pertahanan bagian de­pannya sama sekali terbuka, asal orang yang mengerti akan ilmu silat, sudah pasti tak akan memilih posisi seperti itu, apalagi memilih gaya pertahanan semacam itu. Pedangnya enam depa panjangnya, dalam keadaan demikian mustahil ia sanggup un­tuk mencabut keseluruhannya. Bagi orang lain, mungkin hal mana sulit untuk dilakukan sebagaimana mestinya. Namun orang berbaju hitam itu benar-benar memiliki kelebihan yang luar biasa. Bila seseorang sampai memilih suatu posisi yang begitu jelek serta suatu gaya serangan yang begitu jelek untuk bertarung melawan orang, bila ia bukan seorang manusia tolol, itu berarti dia mempunyai suatu cara istimewa untuk menghadapinya. Sewaktu kipas Kui kongcu menyambar ke depan, tiba-tiba orang berbaju hitam itu me­mutar badannya dengan merubah posisi­nya berhadapan dengan tonggak penyang­gah, seakan­-akan dia hendak berpelukan dengan tonggak tersebut. Walaupun serangan pertama yang amat dahsyat tersebut berhasil dihindari, tapi sekarang justru punggungnya malah sama sekali terbuka. Cara semacam ini boleh dibilang luar bia­sa bodohnya. Jangankan orang lain, bahkan Kui kongcu sendiripun dibikin tertegun oleh sikap musuh­nya itu. Sejak terjun ke arena dunia persilatan sampai sekarang, paling tidak sudah dua tiga ratus kali dia bertarung melawan orang, tentu saja diantara kawanan jago yang per­nah diha­dapinya terdiri dari beraneka ragam manusia, ada yang lihay, ada pula yang ti­dak lihay. Tapi manusia bodoh semacam itu, boleh dibilang baru dijumpai untuk pertama kali­nya. Siapa tahu, pada saat itulah mendadak orang berbaju hitam itu mendorong tonggak kayu itu sekuat tenaga, sepasang kakinya pun bersamaan waktunya di jejakkan ke atas tong­gak kayu, bagian perutnya ditarik ke belakang sementara pinggulnya menonjol ke belakang. Secepat sambaran kilat orang itu menyu­sup ke belakang, seluruh badannya tiba-tiba terpatah menjadi dua bagian sehingga bagian kaki dan tangannya menjadi me­nempel satu sama lainnya. Pada saat itulah cahaya pedang berkele­bat lewat. Sebilah pedang yang enam depa panjang­nya itu tahu-tahu sudah diloloskan dari dalam sarungnya. Cara meloloskan pedang semacam itu bu­kan cuma aneh saja, bahkan terasa luar bia­sa sekali. Ketika Kui kongcu berputar badan siap melancarkan sergapan, mendadak ia me­nemukan ujung pedang lawan telah tertuju­kan di atas dadanya. Sekujur badan orang berbaju hitam itu hampir semuanya berada di belakang pedang itu, bahkan setitik tempat kosong­pun tidak ditemukan.. Suatu cara yang terbodoh secara tiba-tiba saja berubah menjadi suatu cara yang jitu dan mematikan. Secara tiba-tiba pula Kui Kongcu mene­mukan bahwa ia sama sekali tidak memiliki kesempatan lagi untuk melancarkan sera­ngan balasan. Terpaksa dia harus mundur, badannya berkelebat dan mundur ke belakang tonggak kayu itu. Tonggak kayu itu berbentuk bulat, sedang pedang si orang berbaju hitam itu amat pan­jang, tak mungkin ia akan mengitari tonggak kayu tersebut untuk mengejar diri­nya. Asal dia menempelkan badannya di bela­kang tonggak kayu itu, maka tak mungkin pe­dang si orang berbaju hitam itu dapat menusuk tubuhnya. Dengan demikian diapun bisa menunggu kesempatan kedua untuk melancarkan se­rangan yang mematikan Itulah taktik mencari kemenangan dite­ngah kekalahan, suatu taktik mencari hidup di tengah kematian, biasanya taktik sema­cam itu luar biasa sekali hasilnya. Kui Kongcu menempelkan badannya di atas tonggak kayu sambil menunggu orang berbaju hitam itu memutar ke hadapannya. Akan tetapi orang berbaju hitam yang berada di ujung tonggak lain sama sekali tidak memberikan reaksi apapun juga. Apakah dia pun sedang menunggu ke­sempatan ? Diam-diam Kui kongcu menghembuskan napas lega, ia tidak takut menunggu, tidak ta­kut mengulur waktu, pokoknya sekarang dia sudah berada pada posisi yang tak ter­kalahkan. Bila orang berbaju hitam itu ingin melan­carkan serangan, maka dia harus memutar satu lingkaran besar, sedangkan ia sendiri asal menempel di atas tonggak kayu dengan membuat suatu geseran kecil saja maka serangan akan bisa dihindari. Lagi pula dalam penggunaan tenaga., selisih diantara mereka hampir mencapai tiga em­pat kali lipat. Maka tak akan menunggu terlampau lama lagi, kekuatan tubuh orang berbaju hitam itu pasti akan bertambah lemah, itu berarti kesempatan baginya telah tiba. Perhitungan tersebut sudah dia susun dengan rapi dan sangat jelas, maka dari itu dia pun merasa lega sekali. Mendadak ia mendengar suara ketukan pelan di belakang tonggak kayu itu, seperti ada burung sedang mematuk dahan kayu. Ia sama sekali tidak memperhatikannya dengan serius. . . Tapi, pada saat itulah mendadak dia me­rasakan punggungnya menjadi dingin sekali. Menanti dia merasakan keadaan yang ti­dak menguntungkan, tahu-tahu sebuah benda yang keras, dingin, dan kaku telah menembusi punggungnya. Menyusul kemudian dia menyaksikan ada semacam benda yang menembusi ke luar dari depan dadanya. Itulah ujung pedang yang bersinar hitam. Darah segar meleleh keluar dari ujung pedang tersebut dan membasahi seluruh permukaan tanah. Bila secara tiba-tiba kau menyaksikan ada sebuah ujung pedang menembus keluar dari dadamu, bagaimanakah perasaanmu ketika itu? Perasaan tersebut jarang sekali ada yang bisa ikut merasakannya. Ketika menyaksikan ujung pedang terse­but, mimik wajah Kui kongcu seakan-akan menjadi kaget bercampur tercengang, tapi seperti pula sedang menyaksikan suatu ke­jadian yang sangat aneh dan menarik hati. Dengan termangu-mangu ditatapnya benda itu tak berkedip, kemudian secara tiba-­tiba wajahnya berubah menjadi kaku, mengejang keras dan diliputi perasaan ngeri, mulutnya terbuka lebar seperti hen­dak berteriak dengan sepenuh tenaga. Namun tiada suara yang bisa keluar lagi, secara tiba-tiba sekujur badannya menjadi dingin dan kaku. Hampir seluruhnya menjadi beku. Dilihat dari kejauhan sana , seperti lagi termenung sambil mengawasi ujung pedang yang menembusi dadanya. Darah kental masih meleleh keluar tiada hentinya dari ujung pedang tersebut. Menetesnya makin lambat, makin lama semakin lambat. Orangnya masih tetap mempertahankan posisi semula semacam posisi yang tak da­pat dilukiskan keseraman serta kengerian-nya. Yan Jit melengos ke arah lain, ia tak tega untuk memandangnya lebih jauh. Kwik Tay-lok sendiri, walaupun sepasang matanya terbelalak lebar-lebar, padahal dia sen­diripun tidak menyaksikan apa-apa. Adegan seram yang terjadi barusan telah membuatnya menjadi tertegun dan seperti kehilangan sukma. Dengan jelas sekali dia menyaksikan orang berbaju hitam itu menghimpun tena­ganya lalu menusuk tonggak kayu itu de­ngan pedangnya. Diapun menyaksikan dengan amat jelas, ujung pedang itu menembusi tonggak kayu dan tiba-tiba tembus sampai di depan dada Kui kongcu. Ia benar-benar tidak percaya kalau apa yang disaksikannya itu merupakan suatu kenyataan. Kedengarannya mungkin susah untuk dipercaya, tapi bila kau menyaksikannya de­ngan mata kepala sendiri, maka hal mana jus­tru sukar untuk dipercayai. Pedang apakah itu? Dan ilmu pedang apa pula yang dipergunakannya ? Kwik Tay-lok menghela napas panjang, Menanti matanya dapat melihat benda lagi, ia saksikan entah sedari kapan orang berbaju hi­tam itu telah mencabut keluar pedangnya. Tapi tubuh Kui kongcu masih berada di ujung pedangnya. Waktu itu orang berbaju hitam tersebut sedang menggunakan ujung pedangnya untuk menahan mayat Kui kongcu dan pe­lan-pelan berjalan keluar dari sana . Seorang manusia berbaju hitam yang ti­dak terlihat raut wajahnya menggembol sebi­lah pedang yang panjangnya enam depa. Mata pedang tersebut bersinar hitam dan membawa sesosok mayat manusia berbaju hijau yang telah menjadi kaku. Udara malam amat bersih, suasana dalam ruangan amat hening. Seandainya apa yang tertera di depan mata hanya suatu lukisan belaka, maka siapa saja yang menyaksikan lukisan terse­but sudah pasti akan merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri. Apalagi semua peristiwa tersebut bukan hanya suatu lukisan belaka. Tiba-tiba Kwik Tay-lok merasa kedinginan, ia ingin mencari sebuah mantel untuk menutupi badannya. Dia hanya berharap apa yang terjadi pada malam ini tak lebih hanya suatu impian bu­ruk belaka. Sekarang, ia telah mendusin dari impian tersebut. Orang berbaju hitam itu telah pergi, di dalam halaman tiada seorang manusiapun. Masih tetap didalam halaman yang sama dan malam yang sama pula. Kwik Tay-lok menghela napas panjang, gumamnya: "Bila orang-orang yang datang berkun­jung sekarang bisa mengetahui apa yang baru terjadi ditempat ini, aku akan memujinya se­tinggi langit . . . ." Tiba-tiba Ong Tiong bertanya: "Apa sih yang telah terjadi di sini ?" "Masa kau tidak tahu ?" "Tidak tahu." "Apakah tadi tak pernah terjadi sesuatu peristiwa ditempat ini . . . .?" "Tidak ada." Kwik Tay-lok segera tertawa, serunya: "Benar, apa yang sudah lewat biarkan le­wat, memang tak ada bedanya antara apa yang telah terjadi dan apa yang belum ter­jadi" "Tepat sekali jawabanmu itu." "Oleh karena itu, lebih baik kau tak usah banyak memikirkannya, banyak memikir-kannya malah justru akan menda­tangkan banyak kesulitan buat diri sendiri" "Lagi-lagi jawabanmu tepat sekali"' "Kali ini tidak benar!" tiba-tiba Yan Jit menyela. "Karena bagaimanapun kau berusaha un­tuk tidak memikirkan persoalan itu, dalam hatimu pasti akan terjadi rasa masgul" "Kemasgulan apa?" Yan Jit menghela napas panjang. "Aaaai . . . . . sekarang aku belum dapat melihatnya, juga belum bisa menemukan, oleh karena itu baru tahu kalau hal ini sudah pasti merupakan suatu kemasgulan yang teramat besar. Tiba-tiba mereka serentak menutup mulutnya rapat-rapat. Karena pada waktu itu, si orang berbaju hitam itu sudah masuk kembali ke dalam halaman, menaiki undak undakan batu dan berdiri kembali di depan tonggak kayu. Pedang yang berada dipunggungnya telah di sorenkan kembali. Tak tahan Kwik Tay-lok segera berseru: "Aku akan pergi bertanya kepadanya !" Tidak menanti orang lain buka suara, dia telah melompat keluar dari jendela dan menerjang ke muka. .' Orang berbaju hitam itu sudah bersandar kembali di atas tonggak kayu, memejamkan matanya seperti telah tertidur kembali. Sengaja Kwik Tay-Iok mendehem keras, mendehem sedemikian kerasnya sehingga tenggorokan tersebut benar-benar terasa agak gatal. Saat itulah si orang berbaju hitam itu baru membuka matanya dan memandang ke arahnya dengan pandangan dingin. "Tampaknya kau harus cepat-cepat pergi mencari seorang tabib untuk menyembuh­kan batukmu itu" katanya dingin. Kwik Tay-lok tertawa paksa, katanya: "Aku tak usah mencari tabib, sebab aku sendiripun mempunyai obat yang paling mu­jarab untuk menyembuhkan penyakit ba­tuk." "Oooh. . . . . . . . ' BESAR kecil dan penyakit apapun yang ku idap biasanya akan sembuh kembali bila su­dah minum arak." "Ooooh. . . . . ." "Sekarang, apakah kau juga minum arak barang dua cawan?" "Tidak!" "Kenapa? Bukankah barusan kau telah. . . telah membunuh orang ?" "Siapa bilang aku telah membunuh orang?" Kwik Tay-lok menjadi tertegun. "Kau tidak membunuh ?" "Tidak!" "Tapi barusan kau telah membunuh.” "Dia bukan orang !" "Dia bukan orang? Lantas manusia macam apakah baru bisa dianggap sebagai orang?" Kwik Tay-lok semakin tercengang. "Orang yang ada di dunia ini jarang sekali." Kembali Kwik Tay-lok tertawa. "Bagaimana dengan aku ? Apakah akupun bisa dianggap sebagai orang ?" "Kau menyuruh aku membunuhmu ?" Berkilat sepasang mata Kwik Tay-lok. "Bila kau tidak membunuhku, bagaimana mungkin bisa mendapatkan harta kekayaan dari Cui-mia-hu ?" "Ditempat ini tiada harta karunnya, di sini tak ada apa-apanya !" "Kau tahu ?" "Lantas mengapa kan datang kemari ?" "Aku hanya ingin menumpang semalam saja?" "Apakah kau bertujuan untuk membunuh manusia yang kau anggap bukan manusia itu?" "Bukan karena soal ini!" "Kalau begitu kau membunuhnya demi kami? "Juga bukan!" Lantas karena apa?" Tiba-tiba ini orang berbaju hitam itu me­nukas dengan ketus: "Aku ingin tidur, bila aku sedang tidur, aku paling tak suka diganggu orang." Betul juga, pelan-pelan dia memejamkan matanya dan tidak berbicara lagi. Kwik Tay-lok memandang wajahnya, lalu memandang pedang di atas bahunya, tiba-tiba saja ia merasa bahwa dirinya amat beruntung. Keesokan harinya, orang berbaju hitam itu benar-benar sudah lenyap tak berbekas. Dia tidak meninggalkan apa-apa, juga ti­dak membawa apa-apa, yang tertinggal hanya sebuah lubang di atas tonggak kayu. Kwik Tay-lok memperhatikan lubang di atas tonggak kayu tersebut, kemudian kata­nya sambil tertawa: "Tahukah kau apa yang sedang kupikir­kan?" Yan Jit menggeleng. "Aku merasa diriku benar-benar mujur seru pemuda itu. "Mujur? Kenapa?" "Sebab orang berbaju hitam yang kujum­pai tempo hari bukan orang ini." Yan Jit termenung sebentar, kemudian katanya: "Tapi kali ini kau toh telah berjumpa de­ngannya." "Kali ini akupun tidak lagi sial, dia bu­kan tidak menaruh niat jahat kepada kita, ma­lah kedatangannya seperti sengaja hendak mem­bantu kita" "Apakah dia adalah temanmu ?” "Bukan !" "Anakmu ?" Kwik Tay-lok segera tertawa lebar. "Bila aku mempunyai seorang anak sema­cam ini, sekalipun belum edan, paling tidak juga sudah hampir." "Kau anggap dia benar-benar datang ke­mari karena tanpa sengaja, kemudian sete­lah membantu kita maka tanpa menimbul­kan suara atau mengucapkan sepatah kata­pun lantas pergi meninggalkan tempat ini, bukan saja tidak menghendaki ucapan rasa terima kasih kita, bahkan arak yang kita suguhkanpun tidak di minumnya barang setegukanpun." Sambil menggeleng dan tertawa dingin tiada hentinya, ia melanjutkan lebih jauh: "Kau anggap didalam dunia ini benar-benar terdapat orang yang begitu baiknya se­hingga bersedia membantu kita tanpa mengha­rapkan balas jasa apa pun dari kita ?" "Maksudmu, dia datang kemari dan ber­buat segala sesuatunya itu karena ia masih mempunyai tujuan lain "Benar !" "Tapi apakah tujuannya itu ? Apakah kau bisa menerangkannya kepada diriku ?° "Aku juga tak tahu' "Oleh karena kau tidak tahu, maka kau baru beranggapan bahwa dia pasti akan mem­bawa banyak kesulitan untuk kita ?" "Benar !" "Menurut pendapatmu, kapankah kesuli­tan-kesulitan tersebut baru akan berdata­ngan ?" Yan Jit segera mengalihkan sinar mata­nya, memandang ke tempat kejauhan sana , lalu sa­hutnya: "Justru karena kau tidak tahu kesulitan tersebut akan datang dalam bentuk apa dan kapan baru akan terjadi, maka hal itu justru merupakan kesulitan dan kerepotan yang sesung­guhnya, kalau tidak, bukankah kita tak perlu berkuatir secemas ini ?" Tiada sesuatu persoalan yang "pasti" dalam dunia ini. Pada suatu persoalan yang sama, bila kau memandang dari sudut pandangan yang ber­beda, kadangkala akan timbul kesimpu­lan yang berbeda pula. Bila anda seorang pesiar yang tersesat di tengah gunung suatu malam, kemudian ia da­tang mengetuk pintu dan memohon untuk me­numpang semalam saja, asal kau mem­punyai ra­sa belas kasihan, "sudah pasti" kau akan menerimanya. Tapi seandainya yang datang adalah se­orang manusia baju hitam yang berkeru­dung, apakah kau akan menerimanya, hal ini masih merupakan tanda tanya besar. Sekalipun kau akan menerimanya, sudah `pasti" kau akan menaruh perasaan was-was kepadanya, sedikit banyak juga akan berjaga terhadap segala kemungkinan yang tak diinginkan. Tapi, bila orang berbaju hitam itu baru saja menyumbangkan tenaganya bagi ke­penting­anmu semalam, maka akan berbe­dalah keadaannya pada waktu itu? Dengan berbedanya keadaan otomatis cara kerjanyapun akan mengalami banyak perubahan. Hanya tujuannya saja yang tak berbeda. Ada sementara orang, walaupun apa saja dia lakukan, bagaimana cara melakukannya, dia pasti mempunyai suatu tujuan tertentu. Bagaimana pula dengan Kwik Tay-lok sekalian? Mereka adalah orang yang dengan mudah melupakan dendam sakit hati orang lain, tapi sukar untuk melupakan budi kebaikan yang diterimanya dari orang lain. Asal kau telah melakukan kebaikan bagi mereka, maka walau berbeda dalam keadaan bagaimanapun juga, mereka pasti akan berusaha keras untuk membalas jasa baikmu itu. Asal persoalan telah mereka janjikan, ma­ka walau berada dalam keadaan bagaima­napun juga, mereka pasti akan berusaha untuk melaksanakan secara baik. Sekalipun kepala pecah, badan bakal han­cur, mereka tetap akan melakukannya. Mereka pasti tak akan mencari alasan lain untuk mengesampingkan kewajiban terse­but, apalagi menebalkan muka untuk mengingkari­nya. Walaupun persoalan macam apapun yang dihadapinya, mereka sudah pasti tak akan menghindarkan diri. Tengah malam telah tiba, kembali ada yang datang mengetuk pintu. Suara ketukan itu amat cepat dan gencar. Orang pertama yang mendengar suara ke­tukan pintu itu mungkin Yan Jit, mungkin Ong Tiong, tapi orang yang pertama tama menyahut sambil membukakan pintu sudah pasti Kwik Tay-lok. Ternyata yang datang masih saja si manusia baju hitam yang misterius itu. Dia masih berdiri juga di situ bagaikan se­sosok sukma gentayangan, pelan-pelan kata­nya: "Aku tersesat di jalanan dan tak ada tem­pat berdiam, apakah aku boleh menumpang se­malam saja ?" Kwik Tay-lok segera tertawa. "Boleh, tentu saja boleh, jangankan baru semalam, sekalipun ingin berdiam selama seta­hun juga tak menjadi soal" "Benar-benar tak menjadi soal?" "Sama sekali tak menjadi soal, entah kau benar-benar tersesat atau tidak, setiap ka­li kau ingin datang, setiap saat pula kami akan menyambut kedatangan dengan hati gembira" "Walaupun kau bersikap demikian, tapi yang lain. . . .” "Yang lain pun begitu juga" tukas Kwik Tay-lok cepat, °setelah kau datang kemari, berarti kau adalah tamu kami semua" "Tamu macam apa?" "Bagi kami, hanya ada semacam tamu." "Tapi tuan rumah beraneka ragam ba­nyaknya. " “Oya ?” " Ada semacam tuan rumah yang suka me­ngusir tamunya setiap saat." Kwik Tay-lok segera tertawa. "Jangan kuatir, ditempat ini pasti tak akan kau jumpai tuan rumah semacam itu, asal kau sudah memasuki pintu gerbang bang­unan rumah ini, kecuali kau bersedia untuk keluar sendiri, kalau tidak jangan harap ada orang lain yang akan menyuruhmu pergi dari sini." Tiba-tiba orang berbaju hitam itu meng­hela napas panjang. "Aaai . . . . . . . tampaknya aku benar-benar tidak salah mengetuk pintu," gumamnya. Pelan-pelan dia berjalan masuk ke dalam melewati halaman dan naik ke atas serambi. Gayanya sewaktu berjalan sama sekali ti­dak berubah, wajahnya juga tidak berubah, tapi paling tidak ada satu hal yang telah berubah . . . . lebih banyak perkataan yang ia utarakan. Dalam waktu singkat, ia sudah dua tiga kali lipat berbicara lebih banyak daripada tuan rumah sendiri. Walaupun malam sudah semakin kelam, namun masih ada cahaya lampu memancar keluar dari balik dua, tiga buah ruangan kamar. Agaknya Lim Tay-peng sedang membaca buku. Bagaimana dengan Yan Jit ? Apa yang sedang ia lakukan dalam kamarnya, tak pernah diketahui orang lain, sebab dia selalu suka menutup pintu dan jendelanya rapat-rapat. Orang berbaju hitam itu memandang se­kejap cahaya lampu yang memancar keluar dari balik jendela, tiba-tiba dia berkata: "Apakah sahabatmu tinggal di depan sana ?" Kwik Tay-lok manggut-manggut, sahutnya sambil tertawa: "Aku tinggal di kamar yang paling bela­kang, letaknya paling dekat dengan tempat untuk bersantap." Kamar yang paling belakang itu bukan cuma lampunya belum dipadamkan, pintu ka­marpun berada dalam keadaan terbuka lebar. Orang berbaju hitam itu berjalan masuk ke dalam, lalu berdiri di depan pintu, sampai lama sekali ia baru berkata: " Ada semacam persoalan, walaupun tidak diucapkan kepadamu, tentunya kau sudah tahu bukan." "Persoalan yang mana ?" "Tiada orang yang benar-benar dapat ti­dur dalam posisi berdiri." Kwik Tay-lok segera tertawa. "Jangankan berdiri, untuk tidur sambil dudukpun sukarnya bukan kepalang." Sa­hutnya. Menengok dari celah-celah pintu, dapat diketahui dalam ruangan itu terdapat se­buah pembaringan yang amat besar. Memandang pembaringan tersebut, tiba-­tiba orang berbaju hitam itu menghela na­pas panjang lagi, gumamnya: "Tapi ada sementara persoalan yang mungkin belum kau ketahui." "Oya ?" "Sudah pasti kau tak akan tahu, sudah lama sekali aku belum pernah tidur pem­baringan sebesar ini, dan belum pernah aku ti­dur nyenyak barang satu malam saja." Kwik Tay-lok segera tertawa. "Tentang soal ini aku memang benar-benar tidak tahu, tapi aku tahu akan suatu persoalan yang lain," katanya. "Oya ?" "Aku tahu, malam ini kau pasti dapat ti­dur di atas pembaringan tersebut, lagi pula bisa tidur dengan aman tenteram semalam sun­tuk." "Sungguh ?" mendadak orang berbaju hi­tam itu berpaling. "Tentu saja sungguh." "Kau memperbolehkan aku untuk tidur te­rus sampai fajar menyingsing besok pagi ?" Kwik Tay-lok tersenyum. "Sekalipun hendak tidur sampai tengah hari juga tak menjadi soal, kujamin pasti tak akan ada orang yang akan datang meng­ganggu tidurmu itu . . . ." Orang berbaju hitam itu memandang ke ­arahnya, mencorong sinar tajam dari balik ma­tanya, mendadak ia menjura dalam-dalam, lalu tanpa banyak berbicara lagi dia berjalan maju dengan langkah lebar, bahkan segera menutup pintu kamar. Kemudian lampu lentera yang menerangi dalam ruangan itu pun dipadamkan pula. Lama sekali setelah cahaya lentera itu di­padamkan, pelan-pelan Kwik Tay-lok baru membalikkan badannya dan duduk di atas undak-undakan batu di luar pintu ruangan sana . Dalam perkampungan Hok-kui-san-ceng ini bukannya sudah tak ada kamar kosong yang lain atau pembaringan kosong lainnya lagi. Tapi ia justru akan duduk di sana , seakan-akan telah bersiap sedia untuk menjagakan ketenangan orang berbaju hitam itu sema­laman suntuk. Malam sudah kelam, udara terasa dingin, undak-undakan batu itu turut menjadi di­ngin. Tapi dia tak ambil perduli, sebab hatinya penuh dengan kehangatan. Suara langkah kaki manusia yang lembut berkumandang dari balik serambi sana , se­seo­rang pelan-pelan berjalan mendekat. Ia tidak berpaling, sebab dia sudah tahu siapakah orang itu. Yang datang sudah pasti adalah Yan Jit. Ia mengenakan sebuah jubah panjang yang mencapai tanah, diapun turut duduk di­ atas undak-undakan batu itu. Bintang bertaburan diangkasa cahaya yang redup seakan-akan bersinar terang, se­akan-akan juga membawa dua titik muti­ara yang mempertemukan Gou-long dan Ci-li. Diangkasa terdapat bintang yang lebih te­rang daripada mereka, namun tiada yang lebih indah daripada mereka. Sebab mereka tiada yang tanpa perasaan seperti bintang yang lain. Sebab mereka dewa, bukan malaikat, mereka seperti manusia, pernah merasakan dan cinta kasih. Walaupun kesusahan yang mereka alami amat banyak, walaupun jaraknya amat jauh namun cinta kasih mereka tetap terjalin sepan­jang masa. Tiba-tiba Yan Jit menghela panjang, lalu berkata: "Sekarang, tentunya kau sudah tahu bu­kan?" "Tahu apa?" "Kesulitan . . . . kemarin malam kau ma­sih tak habis mengerti, sekarang kesulitan itu telah datang kembali." Kwik Tay-lok segera tertawa lebar. "Memberikan pembaringan sendiri untuk ditiduri tamu semalaman suntuk bukanlah suatu hal yang termasuk kesulitan." "Apakah persoalan ini termasuk suatu ke­sulitan atau tidak, tergantung pula pada ma­cam apakah tamumu itu." "Dia adalah seorang manusia macam apa?" "Seorang yang mempunyai kesulitan, lagi pula tak sedikit kesulitan yang dimilikinya." "Oya ?" "Justru karena dia sudah tahu kalau diri­nya mempunyai banyak kesulitan, maka ia baru menyembunyikan diri ditempat ini." "Oya ?" "Justru karena pada malam ini dia hendak menyembunyikan diri di sini, maka kemarin malam ia baru membantu kita untuk mela­kukan semua perbuatan tersebut, seakan-akan orang yang hendak menyewa kamar, kemarin ia datang untuk memberi uang mukanya lebih dulu." "Kau tak usah berlagak bodoh, padahal teori semacam ini sudah kau ketahui pula." "Apa yang kuketahui ?" "Kau tahu malam ini pasti ada orang yang hendak datang mencarinya, maka kau baru berjaga-jaga di sini, kau bersiap sedia untuk membantunya menahan serangan tersebut." Kwik Tay-lok termenung beberapa saat lamanya, setelah itu dia baru berkata pelan: "Semalam, ketika ada orang datang ke­mari untuk mencari kesulitan buat kita, siapa yang telah menghadapinya ?" "Dia !" "Maka seandainya pada malam ini benar-benar ada orang yang akan datang mencari gara-gara dengannya, kenapa bukan kita juga yang mewakilinya untuk menahan ke­sulitan tersebut ?" "Itu mah tergantung pada kesulitan macam apakah yang bakal kita hadapi . . ." "Perduli kesulitan macam apapun toh se­muanya sama saja, setelah kita menerima uang muka, sudah sewajarnya bila rumah itu kita sewakan kepadanya." Yan Jit termenung lagi beberapa saat la­manya, kemudian dia baru berkata: "Menurut pendapatmu, bagaimanakah ilmu silatnya, apabila dibandingkan dengan kepandaian silatmu ?" "Agaknya seperti jauh lebih hebat dari pada diriku." "Sekarang, diantara sekian banyak orang yang berada di sini, hanya kita berdua saja yang bisa turun tangan, kesulitan yang tak sanggup dia hadapi mana mungkin bisa kita hadapi ?!" "Paling tidak kita toh dapat mencobanya." Arti daripada "mencoba" baginya berarti ia sudah bersiap-siap untuk beradu jiwa. "Seandainya dia adalah seorang penya­mun, atau seorang pembunuh kejam yang berhati buas, apakah kau juga, akan mem­bantunya untuk menghadapi kesulitan tersebut" "Soal itu, mah merupakan dua persoalan yang berbeda." "Dua persoalan yang berbeda bagaimana maksudmu ?" "Mengapa orang lain datang mencarinya adalah satu persoalan, sedangkan apa se­babnya aku membantunya, untuk mengha­dapi kesulitan tersebut adalah persoalan yang lain pula." "Apa sih tujuanmu yang sebenarnya ?" "Oleh karena pada malam ini dia adalah tamuku, karena aku telah meluluskan per­min­taannya, maka aku akan membiarkan ia tidur dengan nyenyak semalam suntuk." "Urusan lain kau tak akan mengurusinya?" Bagai manapun juga, pokoknya urusan ini saja yang akan ku urusi pada malam ini." Yan Jit segera mendelik ke arahnya, ke­mudian sambil menggigit bibirnya kencang-­kencang dia berseru: "Kau ..... kau sebenarnya kau ini manusia macam apa?" "Aku adalah manusia macam begini, se­harusnya sudah kau ketahui hal ini semen­jak dulu" Sekali lagi Yan Jin melotot besar ke arah­nya, mendadak sambil mendepak-depakkan kakinya ke tanah dia beranjak dan pergi meninggalkan tempat tersebut. Tapi baru dua langkah ia telah berhenti melepaskan jubah panjang yang dikenakan itu dan menyelimutkan ke atas tubuhnya. Sambil tertawa Kwik Tay-lok segera ber­kata: "Bila kau takut aku kedinginan, lebih baik lagi jika kau carikan sebotol arak untuk­ku" Yan Jit menggigit bibirnya menahan diri kemudian berseru dengan gemas: "Aku takut kau kedinginan? Aku hanya kuatir jika kau tidak mampus karena kedi­nginan." Jubah itu mana lebar juga besar, entah milik siapa. Dalam kamar Yan Jit yang selalu tertutup rapat itu, seakan-akan selalu dapat bermun­culan barang-barang yang beraneka ragam. Dulu, setiap beberapa waktu dia pasti akan melenyapkan dirinya selama beberapa hari tapi penyakit tersebut belakangan ini tampaknya sudah banyak berubah, namun Kwik Tay­-lok selalu merasakan adanya ke­misteriusan di jarak dari Yan Jit, dia merasa orang itu selalu menjaga suatu jarak ter­tentu dengan setiap orang. Padahal untuk sahabat karib seperti me­reka ini, jarak semacam itu seharusnya tak boleh dibiarkan ada. Jubah itu sudah kuno, lagi pula sangat kotor, dimana-mana penuh dengan tam­balan cuma anehnya sedikitpun tidak bau. Hal inipun merupakan salah satu hal yang selalu diherankan oleh Kwik Tay-lok. Yan Jit seperti tak pernah mandi, walau hanya sekalipun, tapi anehnya, ia sama sekali tidak bau. Dan lagi walaupun badannya kotor lagi dekil, namun kamarnya selalu diatur dengan rapi dan bersih. Kwik Tay-lok segera mengambil kepu­tu­san, besok dia pasti akan mengajukan per­ta­nyaan kepadanya: "Sebenarnya kau ini adalah manusia se­perti apa ?" Sekarang, cahaya lentera didalam kamar Yan Jit telah padam, tapi Kwik Tay lok tahu, sudah pasti dia tak akan benar-benar pergi tidur. Kwik Tay-lok merapatkan jubahnya de­ngan tubuhnya, dalam hatinya segera tim­bul suatu perasaan yang amat hangat, se­bab diapun tahu, bagaimanapun ketusnya setiap perkataan dari Yan Jit, tapi asal uru­san itu menyangkut dirinya, Yan Jit pasti menaruh perhatian khusus kepadanya, dia pasti merasa amat menguatir­kan kese­lamatannya. Malam semakin hening, angin berhembus lewat menggoyangkan bubungan di sisi ha­laman sana . Kwik Tay-lok ingin sekali pergi mencari sedikit arak untuk diminum, tapi pada saat itu­lah mendadak ia mendengar serentetan suara irama musik yang sangat aneh berkumandang datang. Suara irama musik itu mengalun tiba se­perti mengambang, pada mulanya suara itu se­akan-akan berasal dari sebelah timur, mendadak beralih pula ke sebelah barat. Menyusul kemudian dari empat arah de­la­pan penjuru seakan-akan bermunculan suara irama musik yang sangat aneh itu. "Aaaah, sudah datang, orang yang hendak mencari juga gara-gara telah datang....." Kwik Tay-lok merasa seluruh badannya menjadi panas, bahkan denyutan jantung turut berubah menjadi dua tiga kali lipat le­bih cepat daripada keadaan biasa. Manusia macam apakah yang bakal datang? Tentu saja ia tak dapat menduganya. Tapi ia tahu dengan pasti bahwa orang itu pasti seorang yang lihay sekali, kalau tidak mengapa orang berbaju hitam itu bisa demikian ketakutannya sehingga menyem­bunyikan diri. Semakin lihay orang yang akan menam­pakkan diri itu, semakin merangsang pula ma­salahnya. Kwik Tay lok membelalakkan sepa­sang matanya lebar-lebar, jubah yang dikenakanpun tanpa terasa turut terlepas. Tiba-tiba. . . . "Blaaammm . . . . . ." Pintu gerbang diterjang orang sampai ambrol. Dua orang suku asing bercambang lebar, berambut keriting, bermata hijau dan berhidung betet tiba-tiba menampakkan diri di depan pintu, badannya yang sete­ngah telanjang penuh bertato, kakinya telanjang dan di atas telinga sebelah kirinya tergantung sebuah anting-anting emas yang amat besar. Ditangan mereka membawa sebuah per­madani berwarna merah yang segera disu­sun dari arah pintu depan sampai ke dalam halaman, kemudian sambil berjumpalitan di udara mereka mengundurkan diri dari situ. Selama ini mereka tidak memandang ke arah Kwik Tay lok, mengerlingpun tidak, seakan-akan dalam halaman tersebut sama sekali tiada orang lain. Walaupun Kwik Tay-lok sudah dibikin amat gembira sehing­ga keringatpun turut bercucuran, namun ia tetap berusaha untuk menahan diri. Sebab dia tahu, pertunjukan menarik pasti masih berada di belakang. Walaupun kemunculan dari dua orang suku asing itu amat tiba-tiba dan serba miste­rius, namun kedua orang itu tak lebih cuma budak-budak belian belaka, sang pe­megang peranan sudah pasti belum lagi menampilkan diri. Betul juga, dari luar pintu segera mun­cul dua orang manusia lain yang berjalan ma­suk. Dua orang itupun merupakan perempuan asing yang berdandan aneh sekali, rambut­nya yang berwarna hitam dibuat tujuh dela­pan puluh buah kuncir kecil, timur segum­pal, barat segumpal, mengikuti bergemanya irama musik, bergoyang kesana kemari tiada hentinya. Kedua orang gadis itu membawa keran­jang besar yang penuh dengan bunga, waktu itu mereka sedang menggerakkan lengannya dan menebarkan berkuntum-kuntum bunga aneka warna itu di atas per­madani berwarna me­rah itu. Kedua orang gadis asing itu berwajah amat cantik, di bawah gaunnya yang pendek kelihatan sepasang kakinya yang putih ber­sih. Di atas kakinya itu mengenakan sesusun gelang emas, mengikuti gerak tarian yang mereka bawakan, berbunyi "ting tang ting tang" tiada hentinya . . . . Sepasang mata Kwik Tay-lok terbelalak semakin besar lagi. Sayang mereka tak pernah mengerling barang sekejappun ke arah pemuda itu, se­lesai menaburkan bunga, merekapun melejit ke udara, berjumpalitan beberapa kali dan mengundur­kan diri. "Tampak peristiwa ini selain makin lama merangsang, lagi pula makin lama makin me­narik hati." Persoalan apapun juga, bila diantaranya hadir gadis cantik yang turut ambil bagian, selamanya memang merangsang dan menawan hati. Apalagi kalau gadis cantik yang turut mengambil bagian makin lama semakin banyak saja jumlahnya. Empat orang gadis bergaun panjang, ber­sanggul tinggi dan berdandan seperti gadis keraton, muncul di situ membawa empat buah lentera yang antik dan indah. Ke empat orang gadis itu rata-rata ber­wajah cantik jelita bagaikan bidadari dari kah­yangan, baru saja mereka menghentikan lang­kahnya, dua orang lelaki suku asing yang berkaki panjang dan bertato di tubuhnya telah melangkah masuk ke dalam halaman dengan menggotong sebuah tandu beralas tidur. Di atas tandu beralas tidur itu berbaring seorang perempuan anggun berbaju merah, di ­tangannya membawa sebuah pipa tem­bakau yang terbuat dari perak, waktu itu ia sedang menyedot asap tembakau dalam-dalam, kemu­dian menyemburkan asapnya yang tebal ke udara, wajahnya segera tertutup dibalik asap yang tebal itu. Di tangannya mengempit sebuah toya ber­kepala naga yang panjang sekali, disamping tandu tampak seorang gadis ce­bol yang sedang memijit-kakinya. Diam-diam Kwik Tay-lok menghela napas panjang. Walaupun ia tak sempat melihat jelas mu­ka perempuan anggun berbaju merah itu, na­mun kalau dilihat dari toya berkepala naga ser­ta si gadis cebol yang sedang memijit kakinya, siapapun akan menduga kalau usianya pasti telah lanjut. Inilah satunya hal yang amat tidak ber­ke­nan di hatinya. Kini persoalan telah berkembang menjadi begini, semuanya terjadi dalam keadaan yang menarik hati, seandainya si pemegang peranan utama juga seorang gadis yang cantik jelita, bukankah hal ini akan menjadi sempurna . . . . ? Untung saja Kwik Tay-lok selalu pandai menghibur diri, pikirnya: "Bagaimanapun juga, nenek tua ini pasti­lah seorang pemegang peranan utama yang luar biasa, cukup dilihat dari gayanya, mungkin ti­dak banyak orang yang dapat memandanginya" Oleh karena itu, masalah tersebut masih tetap menarik hatinya. . Sedangkan mengenai siapakah nenek tua ini? Kenapa dapat mengikat tali permusuhan dengan orang berbaju hitam itu? Sesungguhnya berapa dalamkah dendam kesumat itu ? Apakah Kwik Tay-lok dapat menahannya ? Agaknya beberapa hal itu tak pernah ia memikirkan. Setelah semua persoalan merupakan tang­gung jawabnya, sekalipun tak sanggup ditahan juga harus ditahan, lantas apa gunanya mesti dipikirkan lagi ? Oleh sebab itu ia tetap menahan sabar, menunggu terus, bila orang lain tidak mem­bu­ka suara, diapun tidak akan membuka suara. Lewat lama kemudian, mendadak perem­puan anggun berbaju merah itu menyem­burkan segulung asap tebal dari mulutnya, gulungan asap itu persis menyembur di atas wajah Kwik Tay-lok. Benar-benar asap yang amat tebal. Walaupun Kwik Tay-lok minum arak, ia ti­dak menghisap tembakau, kontan saja ia di­buat sesak napas sampai hampir saja air mata­nya jatuh bercucuran, hampir saja dia hendak mencaci maki. Tapi, bila seseorang dapat menyemburkan asap tembakaunya selurus ini dan sejauh ini, lebih baik jika kau bersikap lebih sung­kan lagi kepadanya. Belum lagi asap tebal itu membuyar, ter­dengar seseorang telah berkata. "Siapakah kau? Kenapa ditengah malam buta begini duduk seorang diri di sini?" Suara itu nyaring lagi lembut, kede­ngarannya bukan suara seorang nenek, tapi juga tidak terhitung merdu, nadanya buas, galak seperti seorang opas yang sedang memeriksa seorang pencuri. Kwik Tay-lok menghela napas panjang, lalu tertawa getir. "Agaknya rumah ini adalah rumahku, bu­kan rumahmu, kalau aku suka duduk dirumah sendiri, apa salahnya dengan dirimu ?" Belum habis ia berkata, kembali ada sem­buran asap tebal yang menyambar wajah­nya. Semburan kali ini lebih tebal, membuat Kwik Tay-lok menjadi terbatuk-batuk, lagi pula wajahnya terasa bagaikan ditusuk-tusuk dengan jarum tajam . . . . Kedengaran orang itu berkata lagi: "Aku bertanya sepatah kata kepadamu, kau harus menjawab dengan sepatah kata juga, lebih baik jangan mencoba untuk ber­main se­tan, mengerti ?" Kwik Tay-lok meraba wajahnya dan ter­tawa getir. “Tampaknya, sekalipun aku tidak mengerti juga tak bisa." "Lamkiong Cho ada dimana ? Cepat suruh dia menggelinding keluar !" bentak nyonya anggun berbaju merah itu lagi dengan suara keras. Ternyata orang berbaju hitam itu betul-betul adalah Lamkiong Cho. Sekali lagi Kwik Tay-lok menghela napas panjang. "Maaf seribu kali maaf, aku tak dapat menyuruh dia menggelinding keluar." "Kenapa ?" "Pertama, sebab dia bukan bola, tak mungkin bisa menggelinding, kedua karena ia sudah tertidur, siapapun tak akan bisa membangun­kan dirinya, sebab bila ingin berbuat demikian maka terlebih dahulu dia harus melakukan suatu hal." "Melakukan apa!" "Robohkan aku lebih dahulu." "Huuuh, itu mah gampang!" seru nyonya anggun berbaju merah itu sambil tertawa dingin. Belum habis perkataan itu diucapkan, mendadak sesosok bayangan manusia telah melayang keluar dari balik kabut tebal, ca­haya tajam berkilauan dan tahu-tahu sudah mengan­cam tenggorokan Kwi Tay lok. Gerakan yang dilakukan orang itu cepat sekali, untung saja reaksi yang dilakukan Kwik Tay-lok juga tidak terhitung lambat. Tapi, baru saja dia menghindarkan diri dari serangan yang pertama, serangan kedua telah meluncur datang kemari, bahkan serangan yang satu jauh lebih cepat dan lebih ganas daripada serangan selanjut­nya. Menanti Kwik Tay-lok sudah menghindar­kan diri dari serangan yang ke empat, dia baru melihat jelas kalau orang yang melan­carkan serangan itu ternyata si gadis cebol yang memijit kaki nyonya itu tadi. Jangan dilihat badannya cuma tiga depa dan pedang yang dipakai cuma satu depa enam tujuh inci, namun ilmu pedang yang dipergunakannya sangat ganas dan lihaynya bukan kepalang, kepandaian silatnya boleh dibilang me­rupakan jago kelas satu dalam dunia persilatan. Sayang sekali badannya benar-benar ter­lampau kecil dan pedangnya juga terlampau pendek. Mendadak Kwik Tay-lok menyambar ju­bah panjangnya itu kemudian melemparkannya ke depan. Jubah itu mana panjang juga besar, se­perti selapis awan hitam yang menyambar tiba-tiba saja, bila orang sekecil itu dapat meloloskan diri dari ancaman semacam ini, sesungguhnya hal mana bukan terhitung sesuatu yang gampang. Gadis itu menjerit keras, lalu serunya dengan gemas: "Orang dewasa menganiaya anak kecil, tak tahu malu, tak tahu malu !" Selesai berkata, dia telah mengundurkan diri kembali ke tempat semula.... Kwik Tay-lok segera tertawa getir, ujar­nya: "Lebih baik tak punya malu daripada tak punya nyawa." "Heeehhh . . . heeehhh . . . heeehhh . . . kau berani mencampuri urusanku, tampak­nya sudah bosan hidup? seru nyonya ang­gun berbaju merah itu sambil tertawa di­ngin. . Ditengah suara tertawa dinginnya yang tak sedap didengar, dua orang lelaki suku asing bercambang dan berambut keriting itu sudah munculkan diri di depan mata, mereka berdua kelihatan bagaikan dua buah pagoda besi yang tampaknya mengerikan sekali. Kembali Kwik Tay-lok menghela napas panjang, gumamnya: "Yang kecil betul-betul terlampau kecil, yang besar benar-benar kelewat besar, ba­gai mana baiknya kini ?" Tidak menunggu kedua orang itu turun tangan, tiba-tiba tubuhnya menerjang maju ke depan, lalu seperti seekor ikan leihi, tahu-tahu melejit ke samping dan menyusup ke depan tandu tersebut. "Lebih baik kau saja yang tidak terlalu be­sar juga tidak terlalu kecil." katanya sam­bil tertawa, "coba kalau kau tidak kelewat tua, persis sekali bila dijodohkan kepadaku." "Apakah kau bilang aku terlampau tua?" ucap nyonya anggun berbaju merah itu sambil tertawa dingin. Waktu itu, asap tebal yang menyelimuti depan wajahnya telah semakin membuyar, ak­hirnya Kwik Tay-lok dapat melihat paras mukanya. Tak tahan ia lantas menjerit kaget, bagai­kan bertemu dengan setan saja, selangkah demi selangkah dia mundur ke belakang. Mimpipun ia tak menyangka akan ber­jumpa dengan raut wajah seperti ini. Selembar wajah yang cantik, mana muda lagi, meski ditutupi oleh selapis bedak yang tebal dan berusaha untuk berdandan seba­gai orang dewasa, namun tak dapat menutupi sifat kekanak-kanakan yang ter­pancar di atas wajahnya, seperti seorang nenek yang tak akan dapat menutupi keri­put di atas wajahnya walaupun sudah menggunakan bedak yang bagaimana tebal­nya. Ternyata "si nenek" yang lagaknya sok, mana menghisap tembakau, suruh orang memi­jit kakinya lagi itu tak lain adalah seorang nona cilik yang baru berusia enam-tujuh belas tahunan. Kwik Tay-lok betul-betul merasa terkejut sekali. Sementara itu, nona berbaju merah itu sudah melompat bangun dari atas tandunya, lalu dengan sepasang matanya yang melotot besar mendelik ke arahnya. Selangkah demi selangkah anak muda itu turut mundur ke belakang. Nona berbaju merah itupun selangkah demi selangkah mendesak maju ke depan, di­ tangannya masih memegang tongkat berkepala naga itu. Nona cilik itu sebenarnya masih muda, cantik lagi, mengapa ia justru suka berdan­dan sebagai seorang nenek ? Sepintas lalu dapat dilihat kalau usianya paling banter baru enam-tujuh belas tahu­nan. Mengapa ia bisa memiliki tenaga dalam sedemikian sempurna, bahkan seorang dayang ciliknya pun memiliki ilmu pedang yang begitu tingginya ? Tentu saja dua orang lelaki suku asing itupun tak mungkin adalah seorang ma­nusia yang gampang di­hadapi. Apa yang diandalkan nona cilik ini untuk mengendalikan orang-orang tersebut ? Mengapa ia dapat mengikat tali perrnusu­han dengan Lamkiong Cho yang sudah ter­mas­yhur namanya sejak dua puluh tahun berselang? Dengan nama besar, serta ilmu pedang yang dimiliki Lamkiong Cho, mengapa ia bisa begitu ketakutan menghadapi si nona cilik itu? Kwik Tay-lok benar-benar tidak habis mengerti, tapi sekarang diapun tak punya waktu untuk memikirkan persoalan itu. Meskipun sepasang mata nona berbaju merah itu indah, ketika mendelik ternyata jauh lebih mirip daripada seekor harimau yang siap menerkam mangsanya. "Aku tahu tidak?" tegurnya dingin. "Tidak tahu, sama sekali tidak tahu." "Apakah kau ingin mengawini aku?" "Tii . .... tidak ingin" Jawaban tersebut memang jujur, siapa yang tahan untuk mengawini seorang gadis semacam ini walaupun dia bagaimana can­tiknya. "Kau masih menginginkan selembar nya­wamu tidak?" kembali gadis berbaju merah itu mendesak. "Masih menginginkan." "Kalau masih menginginkan nyawamu, cepat suruhlah Lamkiong Cho menggelinding ke luar." " Ada urusan apa kau menyuruhnya meng­gelinding keluar?" "Aku menginginkan selembar jiwanya!" "Apakah kau bertekad akan membunuh­nya pada malam ini juga?" "Benar" "Kenapa?" "Sebab sudah kukatakan kepadanya, bila sebelum fajar menyingsing nanti aku dapat membunuhnya, maka akan kuampuni se­lembar jiwanya." "Jika ucapanmu harus dipegang teguh, apakah perkataan orang lain tak bisa dima­suk­kan hitungan pula?" "Apa yang telah kau diucapkan?" "Aku telah berjanji kepadanya, malam ini dia dapat tidur dengan nyenyak sampai be­sok pagi oleh sebab itu ........." "Oleh sebab itu kenapa?" "Oleh sebab itu bila ingin membunuhnya maka kau harus membunuh diriku lebih da­hulu!" "Kau adalah temannya?" "Bukan" "Tahukah kau berapa perbuatan jahat yang dia lakukan?" "Aku tidak tahu" "Tapi kau bersikeras hendak beradu jiwa deminya?" "Benar." Nona berbaju merah itu segera tertawa dingin. "Hmmm . . kau anggap aku tak berani membunuh orang?" Kwik Tay-lok ikut tertawa paksa, sahut­nya: "Kau memang tampaknya belum pernah membunuh orang." "Hmm, sejak berusia sembilan tahun aku telah mulai membunuh orang." kata nona ber­baju merah itu dingin, "setiap bulan pa­ling tidak membunuh seorang, coba hitung­lah sendiri sudah berapa banyak orang yang telah ku bunuh?" "Agaknya seperti sudah ada tujuh delapan puluh orang lebih." ucap Kwik Tay-lok sam­bil menghembuskan napas dingin. "Oleh sebab itu, sekalipun bertambah dengan kau seorangpun, bagiku tak menjadi soal." Kwik Tay-lok menghela napas panjang, sebelum ia sempat menjawab, mendadak terdengar seseorang telah menimbrung dengan suara yang dingin: "Bila kau hendak membunuhnya, lebih baik bunuhlah aku terlebih dahulu . . . ." Suara itu bukan suaranya Yan Jit, melain­kan Lim Tay-peng. Malam amat hening, entah sedari kapan Lim Tay-peng telah munculkan diri dari ka­marnya, paras pemuda itu kelihatan masih pu­cat pias seperti mayat. "Siapa kau ?" bentak nona berbaju merah itu dengan sepasang mata melotot besar. "Kau tak usah mengurusi siapakah aku, kalau toh sudah tujuh delapan puluh orang yang telah kau bunuh, bertambah aku se­orang toh tak menjadi soal . . . . ." Gadis berbaju marsh itu segera tertawa dingin. "Tidak kusangka kalau di sini terdapat banyak sekali orang yang tidak takut mati." se­runya. "Yaa, memang tidak sedikit" "Kalau memang begitu, baiklah kupenuhi keinginanmu itu!" Sambil membalikkan badannya, tongkat berkepala naga yang berada di tangannya itu menusuk ke dalam Lim Tay-peng dengan jurus Hu-hoa-hud-liu (memisah bunga me­nyam­bar pohon liu). Yang dipergunakan untuk menyerang ter­nyata adalah gerakan jurus ilmu pedang. Bukan saja merupakan ilmu pedang, lagi pula merupakan semacam ilmu pedang yang pa­ling enteng. Tongkat yang begitu panjang dan begitu berat, dalam permainan sepasang tangan­nya yang kecil dan putih itu ternyata berubah seakan-akan sedikitpun tidak berat. Kwik Tay-lok segera membentak keras: "Penyakitmu belum sembuh, biar aku saja yang menghadapinya!" Tapi sayang sekalipun dia ingin turun ta­ngan menggantikan Lim Tay-peng, namun keadaan sudah terlambat, Gadis berbaju merah sudah melancarkan tujuh buah serangan berantai ke arah Lim Tay peng, semua serangan dilancarkan de­ngan kecepatan bagaikan sambaran kilat, mana gerakan­nya enteng, arahnya juga tak menentu. Seluruh tubuh Lim Tay-peng segera ter­kurung dibalik ilmu lapisan pedang lawan yang amat dahsyat itu. Tampaknya kondisi badannya belum pu­lih kembali seperti sedia kala, maka ia tak punya kekuatan untuk melancarkan sera­ngan balasan. Namun, ilmu pedang si nona berbaju merah yang demikian ketat dan dahsyatnya itu justru tak sanggup untuk menempel di tubuh­nya, bahkan menjawil ujung bajunya pun tak dapat. Mendadak terdengar suara pekikan nya­ring berkumandang memecahkan keheni­ngan, tongkat panjang sembilan depa sudah menan­cap di atas tanah, sementara gadis berbaju merah itu bagaikan baling-baling cepatnya berputar di ujung tongkat itu dan menggulung ke tubuh Lim Tay peng dengan hebatnya. Dengan tindakannya ini, ternyata ia telah mempergunakan tongkat tersebut sebagai pangkal dari kekuatannya, sedangkan tubuhnya di gunakan sebagai senjata, ju­rus-jurus serangan­nya dilancarkan dengan penuh perubahan yang aneh dan sakti, se­muanya jauh di luar dugaan. Lim Tay-peng bergerak ke sana ke mari dengan lincahnya, secara beruntun ia sudah mundur sejauh sembilan langkah lebih. Mendadak gadis berbaju merah itu ber­pekik nyaring, tubuhnya melejit ke tengah udara tongkatnya masih menancap di tanah, tapi di ­tangannya telah bertambah dengan sebilah pe­dang pendek yang memancarkan sinar tajam. Pedang itu sebenarnya memang disem­bunyikan di dalam tongkat tersebut, begitu berada di tangan, tubuh dan pedangnya segera melebur menjadi satu, kemudian orang berikut pedangnya secepat kilat me­nyambar ke tubuh Lim Tay-­peng. Serangannya kali ini dilakukan amat ga­nas, lihay dan berbahaya sekali...... Keringat dingin telah jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuh Kwik Tay lok, bila dia yang menghadapi ancaman semacam itu, maka harapannya itu untuk meloloskan diri tidaklah besar. Tapi Lim Tay-peng seakan-akan sudah hapal sekali macam perubahan dari jurus sera­ngannya itu. Walaupun pedang nona itu menyambar-nyambar dengan lihaynya, namun setiap kali tiba di hadapan Lim Tay-peng, tiba-tiba tubuh anak muda itu sudah berputar ke samping un­tuk menghindar. Suatu ketika, mendadak Lim Tay-peng melejit ke depan lalu mencabut tongkat yang menancap di atas tanah itu. Si nona berbaju merah itu segera berpe­kik nyaring, badannya melejit ke udara, ke­mudian setelah berjumpalitan di udara, dia mem­balikkan pedangnya sambil melepaskan tusukan. Lim Tay-peng sama sekali tidak berpa­ling, toyanya diputar sedemikian rupa menyong­song datangnya ancaman itu. "Cringgg . . . . !" letusan bunga api ber­hamburan, ternyata pedang pendek itu su­dah terbenam sama sekali didalam tongkat tersebut. Nona berbaju merah segera melejit kem­bali ke udara, badannya berjumpalitan ber­ulang kali, kemudian baru melayang turun ke atas tanah dan tepat di depan tandunya itu. Dengan pandangan tertegun dan melongo dia awasi wajah Lim Tay-peng tanpa berke­dip. Kwik Tay-lok juga memandang kesemua­nya itu dengan pandangan tertegun. 53 Dia seakan-akan berubah menjadi amat emosi, bahkan kaki dan tangannya turut ge­metar keras. Lim Tay-peng ragu-ragu sebentar, akhir­nya pelan-pelan dia membalikkan badannya sambil bertanya: "Kau ingin bagaimana?" "Aku . . . . aku . . . . aku hanya ingin mengajukan satu pertanyaan saja." "Kalau begitu, tanya saja !" Nona berbaju merah itu mengepal sepa­sang tangannya kencang-kencang, lalu ber­kata: "Kau adalah. . . . . . !" "Benar!" tukas Lim Tay peng tiba-tiba. Nona berbaju merah itu segera mende­pak-depakkan kakinya ke atas tanah, ke­mudian serunya: "Baik, kalau begitu aku ingin bertanya lagi, kenapa kau kabur pada waktu itu?" "Aku senang." Nona berbaju merah itu mengepal tinju­nya semakin kencang, bibirnya turut memu­cat sa­king emosinya, dengan gemetar dia berseru: "Bagian mana dari tubuhku yang tidak mencocoki hatimu ? Kenapa kau harus mem­buat maluku ?" "Aku yang tak pantas mendapatkan kau, yang mendapat malu juga aku, bukan kau." tukas Lim Tay-peng ketus. "Kini, kau telah kutemukan kembali, apa yang hendak kau lakukan sekarang ?" "Aku tak akan berbuat apa-apa." "Kau tidak bersedia untuk pulang ke rumah ?" "Kecuali kau membunuhku, dan menggo­tong mayatku pulang, kalau tidak, jangan harap" Sepasang mata nona berbaju merah itu menjadi merah padam, bibirnya berdarah karena digigit terlalu keras, serunya dengan gemas: "Baik, kau tak usah kuatir, aku tak akan menyuruh orang untuk memaksamu pulang, tapi suatu hari, aku akan menyuruhmu ber­lutut di depanku sambil memohon kepadaku, ingat saja pokoknya ada suatu hari seperti itu...." Ucapannya terakhir menjadi sesenggukan, ia seperti sudah lupa kalau kedatangan un­tuk mencari Lamkiong Cho, mendadak setelah men­depak-depakkan kakinya di tanah, ia melejit ke udara dan melayang keluar dari halaman tersebut. Semua pengikutnya juga turut pergi dari sana , sekejap mata kemudian bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan mata. Yang tertinggal hanya permadani ber­warna merah penuh bertaburkan bunga in­dah. Malam semakin kelam, cahaya lentera semakin redup, dalam kegelapan sulit untuk me­nyaksikan bagaimanakah perubahan mimik wa­jah Lim Tay-peng. Ada sementara persoalan memang tak le­luasa untuk ditanyakan, lebih-lebih tak perlu untuk ditanyakan. Lewat lama kemudian, Lim Tay-peng baru berpaling dan tertawa paksa kepada Kwik Tay lok, kemudian bisiknya: "Terima kasih." "Seharusnya akulah yang berterima kasih kepadamu, mengapa malah kau yang berterima kasih kepadaku?" "Sebab kau tidak bertanya kepadaku sia­pakah dia, juga tidak bertanya kepadaku mengapa bisa kenal dengannya." Kwik Tay-lok segera tertawa. "Bila kau bersedia untuk mengatakannya, sekalipun tidak kutanyakan kau juga akan berkata sendiri, sebaliknya bila kau tak bersedia untuk mengatakannya, mengapa pula aku mesti banyak bertanya?" Lim Tay-peng menghela napas panjang. " Ada sementara persoalan memang paling baik kalau tidak dibicarakan lagi . . . . . " bisiknya. Pelan-pelan dia membalikkan badannya dan berjalan kembali ke dalam kamarnya. Memandang bayangan punggungnya yang kurus kering itu, timbul perasaan menyesal dalam hati kecil Kwik Tay-lok. Ia tidak bertanya, karena ia telah mendu­ga siapakah gadis berbaju merah itu, apa yang dia ketahui, sesungguhnya jauh lebih banyak daripada apa yang diduga Lim Tay-peng. Ada sementara persoalan, sesungguhnya dialah yang mengelabuhi Lim Tay-peng, bu­kan Lim Tay-peng yang mengelabuhinya. Misalnya saja dengan peristiwa yang di­a­laminya bersama Yan Jit tempo hari, dimana mereka telah berjumpa dengan ibunya Lim Tay peng, sampai sekarang Lim Tay-peng masih belum tahu apa-apa. Walaupun mereka berbuat demikian de­ngan maksud baik, namun dalam hati kecil Kwik Tay-lok selalu merasa seperti ada se­suatu yang mengganjal dan amat tak enak rasanya. Selama ini, belum pernah dia merahasia­kan sesuatu apapun di hadapan temannya, walau disebabkan oleh alasan apapun juga. Angin berhembus lewat, menghamburkan hancuran bunga yang berserakan di atas tanah. Kemudian dia mendengar suara dari Yan Jit: "Sekarang, tentu kau sudah tahu bukan, siapa gerangan gadis berbaju merah itu?" tanyanya. Kwik Tay-lok mengangguk. Tentu saja ia dapat menduga kalau nona itu adalah calon istrinya Lim Tay-peng. Jus­tru karena Lim Tay-peng enggan mendapat­kan se­orang istri macam begini, maka ia baru kabur dari rumahnya. Yan Jit menghela napas panjang, ujarnya: "Sampai sekarang, aku baru mengerti je­las, apa sebabnya dia kabur dari rumahnya" Kwik Tay-lok tertawa getir. "Aku saja tak tahan menghadapi gadis semacam itu, apalagi Siau-lim . .?" katanya. "Oooooh . . . . rupanya kaupun tak tahan juga menghadapi gadis macam begitu . . ?" "Tentu saja !" "Cantikkah wajahnya ?" "Sekalipun cantik, apa gunanya ? Syarat utama bagi seorang lelaki untuk mencintai seorang gadis bukan atas dasar selembar wajahnya belaka." "Lalu syarat-syarat apa pula yang men­jadi dasar bagi seorang lelaki untuk memilih perempuan ?" tanya Yan Jit sambil menger­dipkan matanya berulang kali. "Harus dinilai dulu apakah dia halus ber­budi, lemah lembut dan pintar, lalu dinilai juga apakah dia pandai melayani suaminya. Kalau tidak, sekalipun wajahnya cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, apa pula gunanya ?" Yan Jit mengerling sekejap ke arahnya, lalu berkata: "Bagaimana dengan kau ? Kalau kau menyukai seorang gadis macam apa ?" Kwik Tay-lok segera tertawa. "Gadis yang kucintai sama sekali berbeda dengan pilihan lelaki lain " katanya. "Oya ?" "Bila ada seorang gadis benar-benar bisa memahami diriku, menaruh perhatian kepadaku, sekalipun tampangnya sedikit rada jelek, atau sedikit rada galak, aku ma­sih tetap akan men­cintainya dengan sepe­nuh hati" Yan Jit tertawa manis, dengan kepala ter­tunduk dia berjalan lewat sisinya dan menuju ke depan pot bunga di sudut pekarangan sana . Udara yang dingin, seakan-akan berubah menjadi lebih hangat. Bunga mawar di ujung dinding sana se­dang mekar dengan indahnya, dengan lem­but ia mem­belai bunga tersebut, sampai lama kemudian ia baru berpaling kembali. Tiba-tiba dia menyaksikan Kwik Tay-lok masih mengawasinya dengan sorot mata tak berkedip. Keningnya segera berkerut, lalu serunya: "Aku toh bukan perempuan, apanya yang bagus dilihat ? Kenapa kau menatapku terus menerus ?" "Aku . .. . . . aku merasa caranya berjalan pada hari ini sedikit agak berbeda dengan ke­adaan dihari-hari biasa" "Bagaimana bedanya ?" "Caramu melangkah hari ini seperti isti­mewa bagusnya, bahkan jauh lebih indah dari pada lenggangnya seorang anak gadis" Paras muka Yan Jit seperti berubah agak memerah, tapi sengaja dia menarik muka, lalu berkata dengan dingin: "Belakangan ini aku lihat kau seperti ba­nyak mengalami perubahan." "Oya ?" "Aku lihat kau seperti mengidap suatu penyakit yang sangat aneh sekali, sebab kau selalu melakukan tingkah laku yang membi­ngungkan pikiran orang saja, ucapan juga selalu membingungkan pikiran orang, agaknya aku harus mencarikan seorang tabib untuk memeriksakan keadaanmu itu." Kwik Tay-lok menjadi tertegun, sorot ma­tanya segera memancarkan kemurungan dan perasaan takut, seperti ia merasa diri­nya telah kejangkitan suatu penyakit me-nular. Sambil tertawa, kembali Yan Jit berkata: "Tapi kau tak usah kuatir, sebab sedikit atau banyak, setiap manusia pasti pernah ke­jangkitan penyakit semacam itu." "Oya ?" "Tahukah kau, penyakit siapa yang pa­ling besar?" "Tidak." "Nona Giok itulah orang yang paling besar kejangkitan penyakit aneh." "Nona Giok yang mana?" "Nona Giok adalah gadis yang barusan datang kemari itu, dia she Giok bernama Giok Ling-long" "Giok Ling long?" "Dulu, apakah kau belum pernah mende-ngar namanya?" "Belum." Yan Jit menghela napas panjang dan se-gera menggelengkan kepalanya berulang kali. TAMPAKNYA pengetahuanmu benar-benar amat cetek, sedikit keterangan tentang soal ini tidak dimiliki" "Aku juga tahu kalau penyakitnya tidak kecil, tapi mengapa aku harus pernah mendengar tentang dirinya?" "Sebab sejak berumur sembilan tahun, dia sudah merupakan orang yang ternama di dalam dunia persilatan" "Umur sembilan kau maksudkan berumur sembilan?" Yan Jit mengangguk. "Dia berasal dari suatu keluarga persilatan kenamaan, lagi pula semenjak kecil sudah termasyhur sebagai seorang bocah perem­puan ajaib. Konon ketika umurnya belum mencapai dua tahun, dia sudah mulai bela­jar ilmu pe­dang, umur lima tahun telah ber­hasil mempelajari ilmu pedang Hui-hong-hu-liu-kiam (ilmu pedang angin puyuh menggoyang-kan pohon Liu) yang terdiri dari empat puluh sembilan jurus dan merupakan ilmu pedang yang paling sulit untuk dipelajari itu." "Dia bilang sejak berumur sembilan tahun telah membunuh orang, kedengarannya apa yang dia ucapkan itu bukan cuma bualan be­laka ?" "Yaa, memang bukan hanya bualan bela­ka, bukan saja ia benar-benar telah mem­bunuh orang sejak berumur sembilan tahun, bahkan orang yang dibunuhpun merupakan seorang jago pedang yang amat ternama dalam dunia persilatan pada waktu itu." "Sejak saat itu, apakah setiap bulan dia tentu membunuh orang ?" "Yaa, benar, diapun tidak membual." Kwik Tay-lok tak tahan untuk tertawa ter­gelak. "Aaah, masa di dunia ini terdapat begitu banyak orang yang menghantarkan diri un­tuk menerima kematian di tangannya?" "Bukan orang lain yang datang menghan­tarkan diri, adalah dia sendiri yang pergi mencari mereka." "Pergi kemana untuk mencarinya ?" "Kemanapun dia pergi, asal dia dengar di suatu tempat terdapat seorang yang telah melakukan perbuatan yang pantas dibunuh, maka dia segera berangkat kesana untuk membuat perhitungan dengan orang terse­but." "Apakah setiap kali turun tangan, dia se­lalu berhasil merobohkan musuhnya . . . .?" tanya Kwik Tay-lok lagi. "Sampai dimanakah kelihaian ilmu silat yang dimilikinya, aku rasa kau telah mem­buk­tikannya sendiri barusan, apalagi dia di­bantu oleh dua orang lelaki suku asing dan dua orang perempuan suku asing yang se­muanya merupa­kan jago-jago kelas satu dalam dunia persila­tan, malah ke empat orang dayang pembawa lenterapun konon berilmu silat amat tinggi, ba­yangkan saja andaikata dia telah mendatangi rumah se­seorang, apakah masih ada orang yang da­pat meloloskan diri dari cengkeraman maut­nya ?" "Apakah tak ada orang yang mengurusi­nya. . . ." "Ayahnya telah meninggal dunia cukup lama, sedangkan ibunya merupakan seorang ha­rimau betina yang paling sukar dilayani dalam dunia persilatan dewasa ini, rasa sayangnya terhadap putri tunggalnya ini boleh dibilang me­lebihi apapun jua, apa saja yang dia inginkan segera dipenuhi dengan segera, sekalipun orang lain berani mengu­siknya, belum tentu berani mengusik ibunya." Setelah menghela napas panjang, kembali dia melanjutkan: "Apalagi orang yang dibunuhnya memang merupakan orang-orang yang pantas di bunuh, maka orang-orang dunia persilatan dari angkat­an tua bukan saja tak seorang­pun yang mene­gurnya malahan mereka memuji dirinya setinggi langit" "Maka dari itu, penyakit yang diidapnya juga makin lama semakin besar?" sambung Kwik Tay-lok. "Itulah sebabnya pada usia yang ke tiga empat belas tahunan, ia sudah merupakan ma­nusia yang paling besar lagaknya dalam dunia persilatan, juga merupakan gadis yang berilmu paling tinggi .... orang yang dibunuhnya makin lama semakin banyak, ilmu silat yang dimilikinya juga secara otomatis makin lama semakin tinggi" "Justru karena begitu, maka sam­pai-sampai manusia macam Lamkiong Cho pun tahu, bila ia sudah mulai datang men­cari gara-gara maka jalan terbaik adalah menyembunyikan diri dan jangan sampai menjumpai dirinya . . . ?" "Tepat sekali jawabanmu itu." "Tentunya Lamkiong Cho juga tahu kalau dia mempunyai hubungan yang akrab de­ngan siau-Lim, maka dia baru kabur ke tempat kita ini untuk menyembunyikan diri?" "Kembali jawabanmu tepat sekali." "Tapi jika Lamkiong Cho, bukan seseorang yang seharusnya pantas dibunuh, diapun tak akan datang untuk mencarinya ?' "'Benar, dahulu ia tak pernah salah men­cari orang." Kwik Tay-lok menghela napas panjang, katanya sambil tertawa getir: "Oleh sebab itu yang salah, bukanlah dia melainkan aku." "Kau juga tidak salah," jawab Yan Jit. Dengan lembut dia melanjutkan: " Ada budi harus dibalas, ucapan seorang lelaki harus dipegang teguh, itulah prinsip dari seorang pria sejati. oleh sebab itu apa yang kau lakukan itu tepat sekali, tak se­orangpun yang akan menyalahkan dirimu." "Tapi ada seorang yang akan menyalah­kan diriku." "Siapa ?" "Aku sendiri." Fajar sudah hampir menyingsing. Sambil mengenakan jubah panjang itu, Kwik Tay-lok masih duduk seorang diri di sana , memandang fajar di ufuk timur pe­lan-pelan terbit, mendengarkan kokokan ayam dikejau­han sana . Kemudian diapun mendengar suara pintu kamar yang dibuka orang. Ia tidak berpaling, wajahnya pun tidak menunjukkan perubahan apa-apa. Suara langkah kaki manusia yang enteng, pelan berkumandang datang, ketika tiba di belakang tubuhnya, ia berhenti. Ia masih belum juga berpaling, hanya tanyanya dengan hambar: "Nyenyakkah tidurmu. . . .” Orang berbaju hitam itu berdiri tepat di belakang tubuhnya, mengawasi tengkuknya dan menyahut: "Selama sepuluh tahun belakangan ini, belum pernah aku tidur senyenyak dan sete­nang malam ini." "Kenapa ?" "Sebab belum pernah kujumpai seorang manusia seperti kau, menjagakan pintu kamarku semalam suntuk." Kwik Tay-lok segera tertawa. "Apakah kau tak dapat tidur bila tiada orang yang menjagakan pintu kamarmu ?" "Sekalipun ada orang yang menjaga pintu kamarku, juga belum tentu aku bisa tidur." "Mengapa ?' "Sebab aku tak pernah mempercayai sia­papun." "Tapi kau tampaknya seperti amat mem­percayai diriku." Tiba-tiba orang berbaju hitam tertawa. "Agaknya kaupun seperti amat memper­cayai diriku ?" katanya. "Dari mana kau bisa berpendapat demikian?" "Sebab kecuali kau, belum pernah ada orang yang membiarkan aku berdiri di bela­kang tubuhnya." ujar orang berbaju hitam itu pelan. "Oya ?" "Aku bukanlah seorang Kuncu, aku se­ringkali membunuh orang dari belakang punggungnya." Pelan-pelan Kwik Tay-lok mengangguk. "Yaa, membunuh orang dari belakang memang merupakan sebuah cara yang pa­ling se­derhana dan gampang" "Apalagi jika orang itu sedang mengang­guk" "Kenapa harus sewaktu mengangguk ?" "Di belakang tengkuk setiap orang pasti terdapat suatu bagian yang paling ideal un­tuk umpan golok, asal kau berhasil mene­mukan tempat itu dan membacoknya, nis­caya batok kepala korbanmu akan terkena, teori ini pasti akan dipahami oleh para al­gojo yang berpenga­laman" Sekali lagi Kwik Tay-lok mang­gut-manggut. "Ehmm, teori ini memang bagus, teori ini memang sangat bagus" Kembali orang berbaju hitam itu terme­nung beberapa saat lamanya, kemudian pelan-pelan ia baru bertanya lagi: "Apakah selama ini tidak tidur ?" "Bila aku sudah tertidur, apakah kau da­pat tidur?" 'Kembali orang berbaju hitam itu tertawa. Suara tertawanya tajam, lengking lagi pula pendek, seakan-akan mata pisau yang sedang diasah. Mendadak ia berjalan kehadapan Kwik Tay-lok. "Mengapa kau membiarkan aku berdiri di belakangmu ?" anak muda itu segera mene­gur. "Sebab aku tak ingin menerima panci­ng­anmu." "Pancingan ?" "Bila aku berdiri di belakangmu dan me­nyaksikan kau menganggukkan kepalamu, ta­nganku akan terasa menjadi gatal sekali." "Apakah kau akan membunuh orang se­tiap kali tanganmu terasa menjadi gatal ?" "Hanya satu kali tidak." "Kapan ?" "Barusan." Selesai mengucapkan perkataan itu, men­dadak tanpa berpaling lagi ia pergi mening­galkan tempat itu dengan langkah lebar. Kwik Tay-lok memandang bayangan tubuhnya, hingga dia berjalan ke luar dari pintu gerbang, kemudian secara tiba-tiba berseru: "Tunggu sebentar !" "Perkataan apa lagi yang hendak kau bi­carakan ? Apa yang seharusnya diucapkan toh telah habis kau utarakan semua." "Aku hanya ingin mengajukan satu per­tanyaan lagi kepadamu." "Tanyalah !" Pelan-pelan Kwik Tay-lok bangkit berdiri lalu sepatah demi sepatah dia menegur: "Benarkah kau adanya Lamkiong Cho?" Orang berbaju hitam itu tidak menjawab juga tidak berpaling, tapi Kwik Tay-lok dapat melihat kulit di atas bahunya seakan-akan menjadi kaku secara tiba-tiba. Anginpun serasa ikut berhenti secara tiba-tiba, mendadak suasana dalam halaman itu berubah menjadi hening, sepi, tak kede­ngaran sedikit suarapun. Lewat lama sekali, Kwik Tay-Iok baru ber­kata: "Bila kau tidak bersedia untuk berbicara manggutkan saja kepalamu, tapi kau tak usah kuatir, aku tidak mempunyai pengala­man untuk memenggal batok kepala orang, juga tak akan membunuh orang dari bela­kang tubuh orang lain." Belum juga ada suara, tak kedengaran ada jawaban. Kembali lewat lama sekali, orang berbaju hitam itu, baru berkata : "Sepuluh tahun bela­kangan ini, kau adalah orang ke tujuh yang mengajukan pertanyaan semacam itu kepadaku." "Apakah enam orang sebelumnya telah tewas semua ?" "Benar." "Apakah mereka mati karena mengajukan pertanyaan itu ?" "Setiap orang, yang berani mengajukan pertanyaan seperti ini, dia harus membayar pertanyaan itu dengan suatu pengorbanan yang amat besar, oleh karena itu, pertim­bangkanlah baik-baik sebelum kau ajukan pertanyaan ter­sebut . . . . !" Kwik Tay-lok menghela napas panjang. "Aai . . . . sebenarnya aku memang ingin mempertimbangkannya lebih dahulu, sa-yang sekali, aku telah mengajukan per­tanyaan itu sekarang." Mendadak orang berbaju hitam itu mem­balikkan tubuhnya, lalu dengan sorot mata setajam sembilu mengawasinya tak berke­dip, bentaknya dengan suara keras: "Andaikata aku adalah Lamkiong Cho mau apa kau ?" "Semalam aku telah mengabulkan per­mintaanmu, asal kau telah melangkah ma­suk ke dalam pintu gerbang rumah ini, maka kau adalah tamuku, aku tak akan mencelakaimu, aku pun tak akan mengu­sirmu." kata Kwik Tay lok. "Dan sekarang ?" "Sekarang, perkataanku itupun masih te­tap berlaku, aku hanya ingin menahanmu be­berapa saat lagi." "Menunggu sampai kapan ?" "Tinggal di sini sampai kau menyadari bahwa apa yang telah kau lakukan dimasa lalu adalah perbuatan yang tidak benar, tinggal di sini sampai kau merasa malu, menyesal dan berto­bat, nah saat itulah kau baru boleh pergi me­ninggalkan tempat ini." Kelopak mata orang berbaju hitam itu se-akan-akan sedang berkerut kencang, tiba- tiba dia membentak lagi: "Bila aku tak bersedia untuk mengabulkan permintaanmu itu, pula akibatnya ?" "Ooooh . .. . . itu mah sederhana sekali" jawab Kwik Tay-lok sambil tertawa lebar. Pelan-pelan dia berjalan mendekatinya, kemudian sambil tersenyum dia berkata: "Bukan di belakang tengkukku terdapat suatu bagian yang paling gampang untuk di penggal ?" "Setiap orang tentu memilikinya.." "Bila kau dapat menemukan bagian terse­but di atas tengkukku, silahkan kau penggal dahulu batok kepalaku sebelum pergi me­ninggalkan tempat ini.." Orang yang berbaju hitam itu segera ter­tawa dingin, jengeknya: "Bagiku mah tak usah dicari lagi" "Oooh, jadi sendiri kau telah berhasil me­nemukannya?" "Tapi aku tidak turun tangan karena aku hendak membalas budi kebaikanmu sema­lam, tapi sekarang . ." Mendadak tubuhnya melesat mundur ke belakang dan meluncur keluar dengan kece­patan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya. Kwik Tay-lok ikut melesat pula ke depan. Berada ditengah udara, orang berbaju hi­tam itu telah meloloskan pedangnya, sebilah pe­dang panjang tujuh depa yang meman­carkan cahaya gemerlapan. Mendadak.... "Criiiing !" di atas pedang yang gemerla­pan itu telah bertambah dengan sebuah sarung pedang. Sarung pedang itu diambil keluar dari bawah jubah panjang dari Kwik Tay-lok. Orang berbaju hitam itu segera melompat mundur ke belakang, tapi dia turut menge­jar ke depan, begitu orang berbaju hitam itu melolos­kan pedangnya maka diapun mengeluarkan sa­rung pedang dari bawah jubahnya, kemudian ditusukkan ke depan persis menyongsong datangnya tusukan dari musuhnya. Panjang pedang tujuh depa, sarung pedang itu hanya tiga depa tujuh inci persis. Tapi, begitu pedang si orang berbaju hi­tam itu kena disarungkan kembali, kontan saja ia tak sanggup mengembangkan per­mainan pe­dangnya lebih jauh . . . . . . . Tubuhnya masih mundur terus ke bela­kang, sebab ia sudah tiada cara lain untuk mengha­dapi situasi semacam itu selain mundur . . .. . . . Sepasang tangan Kwik Tay-lok mencekal sarung itu erat-erat dan mendorongnya ke muka kuat-­kuat, bila ia tidak melepaskan pedangnya, maka hanya mundur terus mengikuti gerakan doro­ngan tersebut. Sebaliknya jika dia melepaskan pedang-nya, berarti gagang pedang sendiri akan menghajar di atas dadanya. Tubuhnya mundur terus ke belakang, dia berusaha untuk berganti arah sedikit ke sam­ping kemudian mendorong ke depan, sayang hal itu tak mungkin lagi, maka pada saat ini ia telah terjepit, gerak-geriknya su­dah tidak be­bas lagi. Bila kwik Tay-lok mendesaknya maju se depa, terpaksa dia harus mundur sedepa pula. "Blaaaamm. . . . . . !" tubuhnya telah ter­dorong sehingga menumbuk di atas dinding pekarangan. Kwik Tay-lok masih menggenggam sarung pedang itu dengan sepasang tangannya, kemudian menekan tubuh musuhnya itu keras-keras di atas dinding. Dalam keadaan begini, ia sudah tak mungkin mundur lagi, pedangnya juga tak mungkin dilepaskan lagi, asal dia lepas ta­ngan, gagang pedang itu akan segera menghantam dadanya keras-keras. Situasi ketika itu begitu luar biasanya se­hingga bila tidak disaksikan dengan mata ke­pala sendiri, belum tentu orang akan mempercayainya . . . . Kwik Tay-lok segera tertawa, tegurnya: "Keadaan seperti ini tentunya tak pernah kau sangka bukan ?" "Kepandaian silat macam apaan ini ?" seru orang berbaju hitam itu sambil menggigit bibirnya menahan diri. "Tindakan semacam ini sama sekali tak bisa dianggap sebagai suatu kepandaian" jawab Kwik Tay-lok tertawa, sebab kecuali dipa­kai untuk menghadapi dirimu, cara sema­cam ini sama sekali tak ada manfaatnya apa-apa." Dia seperti kuatir kau orang berbaju hi­tam itu tidak mengerti, maka sambungnya lebih jauh . "Sebab di dunia ini, kecuali kau seorang, tiada orang lain yang akan mencabut pedang­nya dengan cara seperti ini." "Jadi kau secara khusus menciptakan cara tersebut untuk digunakan menghadapi diriku?" seru orang berbaju hitam itu de­ngan suara yang dingin seperti es. "Benar sekali." Padahal kau memang berniat untuk me­nahan diriku di tempat ini ?" "Sesungguhnya tinggal di sinipun tak ada yang jelek, paling tidak setiap hari kau da­pat tidur dengan hati yang tenteram" sam­bung Kwik Tay-lok sambil tertawa. "Hmmm. .... .. .. . !" "Asal kau bersedia untuk tinggal di sini, aku segera akan lepas tangan dan mem­berikan kebebasan untukmu." "Hmmm . . . . !" "Hmmm itu apa artinya ?" Orang berbaju hitam itu tertawa dingin. "Sekarang, sekalipun aku tak dapat mem­bunuhmu, tapi kaupun tak bisa berbuat apa-apa terhadap diriku, asal kau mengendorkan tanganmu, aku masih mampu untuk meng­gerakkan pedangku guna membunuh kau." "Ehmmm . . . . memang keadaan sema­cam itu bisa saja terjadi setiap saat. ." Kwik Tay-lok manggut-manggut. "Oleh sebab itu jangan harap kau bisa mengancamku dengan cara seperti ini, sekalipun aku bersedia mengabulkan per­mintaanmu itu, hal mana juga akan kulaku­kan setelah kau le­pas tangan nanti." Kwik Tay-lok memandangnya beberapa saat, mendadak ia berkata sambil tertawa: "Baik, boleh saja aku mempercayai dirimu untuk kali ini saja, asalkan saja kau...." Belum habis perkataan itu diucapkan, dan belum lagi dia lepas tangan, mendadak ia saksi kan ada semacam benda yang menerobos keluar dari dada orang berbaju hitam itu. Itulah sebilah ujung pedang yang tajam. Di ujung pedang itu masih ada darah yang menetes keluar. Ketika orang berbaju hitam itu meman­dang ujung pedang yang menembusi dadanya, sorot mata yang terpancar keluar persis seperti sorot mata yang diperlihatkan Kui kongcu menjelang kematiannya. Kwik Tay-lok menjadi tertegun menyaksi­kan kejadian itu. Terdengar orang berbaju hitam itu mem­perdengarkan suara “Grook” yang aneh sekali dari tenggorokannya, dia seakan-akan hendak mengucapkan sesuatu, namun su­dah tak sanggup diutarakan lagi. Tiba-tiba Kwik Tay-lok membentuk keras, dia melejit ke tengah udara dan melompat ke­luar dari dinding pekarangan tersebut. Betul juga, pedang itu ditusuk masuk dari balik dinding pekarangan sebelah luar, pedang tersebut menembusi dinding dan menembusi dada orang berbaju hitam itu, hingga kini ga­gang pedang itu masih berada di luar dinding. Tapi hanya ada gagang pedangnya bela­ka, tak nampak sesosok bayangan manusia­pun. Angin berhembus lewat, rumput di atas tanah perbukitan itu bergoyang kesana ke­mari, namun tak nampak sesosok bayangan manusiapun. Di atas gagang pedang itu terdapat seca­rik kain putih, kain itu sedang berkibar pula terhembus angin. Kwik Tay-lok ingin mencabut keluar pe­dang tersebut, tapi segera menemukan tuli­san yang tertera di atas kain putih itu. Ketika diambil kain tadi, maka terbaca­lah tulisan itu berbunyi demikian: "Mati untuk yang mencatut nama ! tertanda : Lamkiong Cho." Noda darah di ujung pedang itu telah mengering, orang berbaju hitam itu seakan-akan sedang menundukkan kepalanya memperhati­kan ujung pedang yang me­nembusi dadanya, seperti juga sedang ter­menung. Keadaannya itu seperti keadaan Kui kongcu setelah menemui ajalnya tertembus pedang. Yan Jit, Ong Tiong, Lim Tay-peng masih berdiri di serambi jauh di belakang sana , berdiri sambil mengawasi jenasahnya. Ia datang secara tiba-tiba, kini mati se­cara tiba-tiba pula. Tapi yang lebih aneh lagi adalah ternya­ta ia bukan Lamkiong Cho. Kwik Tay-lok berdiri disampingnya, mem­perhatikan ujung pedang yang menembusi da­danya, seakan-akan sedang termenung pula. Pelan-pelan Yan Jit menghampirinya, lalu menegur: "Hei, apa yang sedang kau pikirkan ?" Kwik Tay-lok menghela napas panjang, katanya: "Aku sedang berpikir, kalau toh dia bu­kan Lamkiong Cho, mengapa harus menerima semua hangus dari Lamkiong Cho ?" "Hangus apa maksudmu ?" "Bila ia bukan Lamkiong Cho yang sebe­narnya, Giok Ling-long tak akan membunuh ­dan ia tak usah menyembunyikan diri ditempat ini, sekarang, tentu saja diapun tak usah mati di sini ?" "Apakah kau sedang merasa sedih atas kematiannya ?'' "Ya, sedikit." "Tapi aku justru merasa sedih, untuk Lamkiong Cho." "Mengapa ?" "Dengan mencatut nama Lamkiong Cho, entah berapa banyak orang yang telah dibunuhnya dalam dunia persilatan, entah berapa ba­nyak kejahatan pula yang telah dia kerjakan?, mungkin Lamkiong Cho sendiri sama sekali tidak tahu menahu akan hal ini, kau seharusnya berkata bahwa Lam­kiong Cho lah yang telah menerima akibat­nya dari ulah orang ini, bukan dia yang mendapat hangus dari Lamkiong Cho." Kwik Tay-lok termenung dan berpikir se­bentar, akhirnya dia manggut-manggut, sa­hutnya setelah menghela napas panjang: "Tapi, bagaimanapun juga dia toh masih terhitung juga tamu kita, aku tak ingin melihat tamuku mati di dalam halaman rumah kita." "Oleh sebab itu kau masih bersedih hati bagi kematiannya ?" "Yaa, sedikit." "Bila kau lepas tangan tadi, entah pada saat ini masih akan bersedih hati untuknya atau tidak ?" "Bila aku lepas tangan tadi, apakah dia berkesempatan itu untuk membunuhku ?" "Kau anggap dia tak dapat berbuat demikian" Kwik Tay-lok menghela napas panjang, katanya: "Bagaimanapun kau berbicara, aku tetap merasa bahwa manusia tetap manusia, sedikit banyak manusia itu masih mempu­nyai rasa perikemanusiaan, walaupun kau tak melihatnya, atau dapat merabanya, tapi mau tak mau harus kau akui akan keha­dirannya, kalau tidak, apalah artinya hidup sebagai manusia ?" Yan Jit menatapnya lekat-lekat, menda­dak diapun turut menghela napas panjang, ka­tanya dengan lembut: "Padahal akupun berharap sekali agar pandanganmu itu jauh lebih tepat daripada pandanganku. . .” Kwik Tay-lok mendongakkan kepalanya memandang awan yang melayang jauh diangkasa sana , lama sekali dia termenung, lalu berkata lagi secara tiba-tiba: "Sekarang, akupun berharap bisa menge­tahui akan satu hal." "Kau berharap apa ?" 'Aku hanya berharap, suatu ketika aku dapat bertemu dengan Lamkiong Cho yang sesungguhnya, melihat bagaimanakah ben­tuk wajah orang itu . . . ." Dengan mata mencorongkan sinar tajam, pelan-pelan dia melanjutkan: "Aku rasa, ia pasti jauh lebih misterius, jauh lebih menakutkan daripada orang- orang yang pernah kujumpai sebe­lumnya." Tapi apakah di dunia ini benar-benar ter­dapat seorang manusia yang bernama Lam­kiong Cho ? Siapapun tidak tahu, siapapun tak pernah melihatnya. Sampai sekarang ada atau tidaknya Lam­kiong Cho si manusia misterius itu dalam du­nia masih tetap merupakan suatu tanda tanya besar, suatu teka-teki besar yang hingga kini belum terpecahkan . . . . . Yaa, siapa yang tahu dia itu ada atau ti­dak? Tiada seorang manusiapun yang tahu akan kabar berita Lamkiong Cho, seperti juga tak ada orang yang tahu ke mana per­ginya musim semi. Tapi, musim semi akan datang kembali, sebaliknya Lamkiong Cho sama sekali tiada beritanya. Sekarang, musim sudah hampir berlalu. Walaupun aneka bunga dalam halaman telah mekar dengan indahnya, namun ba­gaimanapun indahnya bunga, tak akan bisa menahan musim semi itu untuk berlangsung lebih lama. Lambat laun udara mulai menjadi panas. Sekalipun luka yang diderita Ong Tiong telah sembuh, namun orangnya berubah makin malas, sepanjang hari dia hanya berbaring saja, hampir sama sekali tak ber­gerak. Kecuali ketika mereka mengubur jenasah orang berbaju hitam tempo hari .... Waktu itu, walaupun sudah mendekati Ceng-beng, namun tiada hujan yang turun sepanjang hari. Udara cerah dan sangat baik, pulang dari kuburan, seperti biasanya Ong Tiong berja­lan dipaling belakang. . Ang Nio-cu tidak datang. Walaupun luka yang dideritanya telah hampir sembuh, namun sepanjang hari dia mengurung diri dalam kamarnya . . . . . sekarang bukan Ong Tiong yang menghin­darinya, justru agak­nya dialah yang beru­saha menghindari Ong Tiong. Hati perempuan memang selamanya su­kar diraba ke arah mana tujuannya . . . . Ini masih tak aneh, yang aneh adalah be­lakangan ini Kwik Tay-lok juga seakan-akan selalu menghindari Yan Jit. Yan Jit dan Lim Tay-peng berjalan di muka, sedang dia dan Ong Tiong mengikuti di belakang dengan kemalas-malasan. Ditengah jalan, Ong Tiong mencari sebuah tempat yang rindang dan duduk, kemu­dian menggeliat dan menguap berulang kali. Maka diapun turut duduk, menggeliat dan menguap berulang kali. Ong Tiong segera tertawa, sambil me­mandang wajahnya, ia berkata sambil tersenyum: "Belakangan ini tampaknya kaupun berubah menjadi lebih malas daripada diriku?" "Siapa yang membuat peraturan kalau hanya kau seorang yang boleh menjadi malas ? Dapatkah aku lebih malas sedikit dari pada dirimu ?" "Tidak dapat." "Kenapa tidak dapat?" "Sebab belakangan ini kau seharusnya le­bih bersemangat daripada siapapun juga." "Mengapa?" "Masih ingatkah kau dengan ucapan Yan Jit yang disampaikan kepadamu tempo hari?" "Tidak ingat, tidak ingat lagi, mengapa aku harus mengingat selalu perkataannya ?" Seakan-akan baru saja menelan tiga butir obat peledak, kata-katanya membara seper-ti bahan peledak yang setiap saat bakal meledak. Ong Tiong sama sekali tidak menggubris akan hal itu, sambil tersenyum kembali dia berkata: "Dia bilang, diantara kita berempat, sebe­narnya ia mengira kepandaian silatmu pa­ling rendah." "Kalian semua mempunyai guru yang baik sedang aku tidak, tentu saja kepandaianku lebih rendah." "Tapi, semenjak kau bertarung melawan orang berbaju hitam itu, dia baru menemu­kan kalaupun ilmu silat yang kami miliki jauh lebih hebat daripada kepandaianmu, namun bila sungguh-sungguh sampai terjadi pertarungan, mungkin semuanya bukan tandinganmu." "Apa yang dia katakan, mungkin dia sendiripun tak akan mempercayainya . .. . ." ucap Kwik Tay lok dingin. "Tapi aku percaya seratus persen, sebab pandanganku pun sama persis seperti pan­da­ngannya itu." "Oya. . ." "Sekalipun ilmu silatmu tak bisa menandingi kami, namun bila sedang ber­tarung mela­wan orang, kau bisa mengha­dapinya menurut situasi yang ada di depan, menaklukkan musuh terlebih dahulu dan menguasahi posisi strategis, jika di umpa­makan dengan kata-kata kuno, maka kau adalah seorang manusia yang pintar dan berbakat bagus untuk melatih ilmu silat, oleh sebab itu . . . ." "Oleh sebab itu kita harus bertarung un­tuk mencobanya bukan ?" Katanya semakin meledak-ledak, seperti ada tiga ton bahan peledak yang tertanam dalam perutnya. Namun Ong Tiong masih juga tidak am­bil perduli, katanya lebih jauh sambil terse-nyum: "0leh sebab itu kau harus menggantikan semangatmu dan melatih kepandaian silat yang kau miliki semakin giat, bila dapat me­nemukan guru yang baik, mungkin saja di kemu­dian hari akan menjadi seorang tokoh silat disegani dalam dunia persilatan" Tiba-tiba Kwik Tay-lok menghela napas panjang katanya: "Sekarang aku tak ingin mencari guru yang paling baik, aku hanya ingin mencari seorang lebih yang baik" "Mengapa?" Kwik Tay-lok menggigit kuku jari tangan­nya keras-keras, lalu jawabnya lirih: "Sebab . . . sebab aku punya penyakit" "Kau punya penyakit? Penyakit apa? Ta-nya Ong Tiong dangan wajah agak berubah: "Semacam penyakit yang aneh sekali" "Tampaknya kau tak pernah membicara­kan soal-soal ini denganku?" "Sebab. . . . sebab aku . . . . . aku tak dapat mengatakannya" Wajah pemuda ini memang tampak sa­ngat menderita sekali, sama sekali tidak mirip orang yang sedang bergurau. Ternyata Ong Tiong juga tidak bertanya lebih lanjut. Sebab dia tahu, semakin cepat dia me­ngajukan pertanyaan, semakin enggan Kwik Tay-lok membicarakannya. Begitu ia tidak bertanya, ternyata Kwik Tay-lok malah mendesak terus, kembali dia bertanya: "Apakah kau tidak merasakan bahwa be­lakangan ini aku telah berubah sama sekali?" Ong Tiong berkerut kening lalu terme­nung beberapa saat lamanya, setelah itu dia baru mengangguk. "Ehmm, agaknya memang sedikit beru-bah." "Aaai. . . . hal itu disebabkan aku ber­pe­nyakit" kata Kwik Tay-lok sambil menghela napas panjang. Dengan nada menyelidik Ong Tiong berta­nya lagi: "Tahukah kau dimana terletak penyakit yang kau derita itu" "Disini !" kata Kwik Tay-lok sambil me­nuding ke hati sendiri. "Oooh . . . . kalau begitu kau terkena penyakit hati ?" seru Ong Tiong sambil berkerut kening. Mimik wajah Kwik Tay lok semakin menunjukkan penderitaan yang lebih meng-hebat. "Penyakit hatipun terdiri dari beraneka macam, menurut apa yang kuketahui, yang paling hebat adalah penyakit rindu . . . . apakah kau terkena penyakit rindu ?" Kwik Tay-lok tidak menjawab, dia hanya menghela napas berulang kali. Sambil ter­tawa kembali Ong Tiong berkata: "Penyakit rindu bukan suatu penyakit yang memalukan, mengapa kau enggan untuk mengutarakannya ? Siapa tahu aku masih bisa membantumu untuk menjadi mak comblang?" Sekuat tenaga Kwik Tay-lok menggigit bi­birnya kencang-kencang, lewat sekian lama kemudian tiba-tiba ia cengkeram bahu Ong Tiong dan berseru keras: "Benarkah kau adalah teman baikku?" "Tentu saja, benar" "Sebagai sahabat karib, apakah harus saling menutup rahasia . . . . .?" "Aku mempunyai suatu rahasia, sudah la­ma rahasia ini ku simpan didalam hati, tapi bi­la tidak ku utarakan lagi, bisa jadi aku akan menjadi gila, tapi . . . . tapi bila ku utarakan keluar, aku pun takut kau mentertawakan diriku" "Kau . . . . kau . . . jangan-jangan kau kena penyakit sypilis?" bisik Ong Tiang ragu­-ragu. "Tidak !" Ong Tiong segara menghembuskan napas lega, ujarnya: "Asal tidak kena penyakit Sypilis saja, tak menjadi soal, katakan saja berterus terang, aku tak akan mentertawakan dirimu" Kembali Kwik Tay-lok ragu-ragu setengah harian lamanya, setelah itu dengan wajah yang murung dia berkata: "Penyakit rindu pun tidak terdiri dari se­macam saja, justru yang ku alami adalah suatu macam penyakit yang paling memalu­kan" "Kenapa memalukan sekali ? Perempuan suka lelaki, lelaki suka perempuan, hal ini su­dah lumrah dan semua orang juga me­ngalaminya, sekalipun gagal didalam bercinta juga bukan suatu kejadian yang terlalu memalukan. . . .” "Tapi . . . . tapi penyakit rindu yang ku alami ini bukan terhadap kaum perempuan" Ong Tiong tertegun, sampai lama kemu­dian dia baru bertanya lagi dengan nada menyelidik: "Apakah kau jatuh hati kepada seorang lelaki ?" Kwik Tay-lok manggut-manggut, wajah­nya meringis seperti setiap saat akan menangis: Agaknya Ong Tiong juga merasa takut sekali, sengaja dia merendahkan suaranya sambil berbisik: "Bukan aku bukan ?" Kwik Tay-lok memandang wajahnya lekat-lekat, dia tak tahu ingin menangis ataukah ingin tertawa, terpaksa sambil menarik wa­jahnya ia menjawab cepat: "Penyakitku belum sampai separah ini." Agaknya Ong Tiong segera menghembus­kan napas lega, katanya kemudian sambil tertawa: "Asal bukan aku, itu mah tak menjadi soal." Mendadak dia merendahkan lagi suaranya sambil bertanya: "Apakah Siau-lim ?" "Sudah bertemu setan tampaknya kau ini" Ong Tiong kembali berkerut kening dan berpikir beberapa saat lamanya, tapi tak lama kemudian katanya sambil tertawa: "Aaaah . . . . mengerti aku sekarang, bu­kankah kau mencintai Yan Jit ....?" Kali ini Kwik Tay-lok tidak berbicara lagi, ia membungkam dalam seribu bahasa. Dengan senyuman dikulum kembali Ong Tiong berkata: "Padahal sudah lama aku mengetahui akan hal ini, kau selalu suka berkumpul de­ngannya." Sambil bermuram durja Kwik Tay-lok ber­kata lagi: "Dulu aku masih belum merasakan se­suatu yang tak beres, aku masih mengira hal mana mungkin disebabkan kami adalah sahabat karib tapi kemudian . . . . kemu­dian. . . ." "Kemudian bagaimana?" tanya Ong Tiong sambil mengerdipkan matanya berulang kali. "Kemudian.... kemudian aku merasakan sesuatu yang tak beres." "Dimana ketidak beresannya ?" "Aku tak dapat menerangkan dimanakah letak ketidak beresan tersebut, pokoknya asal aku berada bersamanya, perasaanku akan menjadi lain daripada yang lain." "Bagaimana lain daripada yang lain itu?" Tampaknya ia betul-betul hendak me­ngorek semua persoalan sampai sejelas-je­lasnya sama sekali, tak mau mengendor dengan begitu saja. "Lain daripada yang lain, yaa lain dari pada yang lain, pokoknya . . . . . pokoknya tidak sama seperti keadaan biasa." Sekalipun sudah dikatakan namun ke­nyataannya sama juga seperti tidak berkata apa-apa. Tampaknya Ong Tiong seperti mau mele­dak rasa gelinya, tapi untung saja ia masih dapat menahan diri, ujarnya kemudian de­ngan wajah serius: "Padahal kejadian seperti inipun bukan termasuk suatu kejadian yang memalukan." "Tidak memalukan ?" teriak Kwik Tay­-lok, "kalau lelaki semacam aku ternyata me­nyu­kai lelaki juga, apa namanya ? itu namanya Homoseks, mengerti ? Apakah Homoseks tidak memalukan . . . . . . . ." "Toh di dunia ini bukan kau seorang yang mengidap penyakit seperti ini ? Bahkan sang Kaisar pun, ada kalanya merasakan juga tubuh lelaki, apa salahnya kalau rakyatpun mengikuti jejaknya ? Aku lihat, lebih baik lanjutkan saja hubunganmu dengannya ...." Kwik Tay-lok segera mencak-mencak se­perti orang yang kebakaran jenggot, dengan mata melotot teriaknya amat gusar: "Ternyata kau bukan sahabatku, aku telah salah menilai dirimu." Sambil membalikkan badannya ia siap berlalu dari situ. Tapi Ong Tiong segera menariknya kem­bali seraya berkata: "Eeeh .... jangan marah dulu, jangan marah dulu, aku tak lebih hanya ingin men­coba dirimu saja, sesungguhnya akupun su­dah me­lihatnya bahwa Yan Jit manusia tersebut sedikit kurang beres" "Bagaimana kurang beresnya? tanya Kwik Tay-lok tertegun. Ong Tiong harus bersusah payah mena­han diri agar jangan sampai meledak rasa gelinya, sambil menarik muka dia berkata: "Apakah kau tidak melihat orang ini rada sedikit berhawa sesat.” "Hawa sesat ? Hawa sesat apa?" "Walaupun kita sudah sekian lama men­jadi sahabat karib, namun dia selalu was­pada terhadap maling saja, bila mendadak tidur, ia selalu menutup semua pintu, semua jendela yang ada rapat-rapat, bukan begi­tu?" "Betul !" "Setiap kali dia keluar rumah, kepergian­nya selalu dilakukan secara diam-diam, seakan-akan kuatir bila kita akan mengun­tilnya, begitu. . . . . ?" "Betul." "Dia selalu tak pernah mandi, tapi tubuhnya tak pernah berbau busuk, walau­pun pakaian yang dikenakan dekil dan pe­nuh berlubang, namun kamarnya jauh lebih bersih daripada kamar siapapun . . . . coba kau bilang, berdasar­kan beberapa masalah ini bukankah dia tampak amat sesat rasanya . . . . ?" Paras muka Kwik Tay-Iok segera berubah menjadi pucat pias, dengan agak ragu-ragu katanya: "Maksudmu, apakah dia . . . ." "Aku tidak berkata apa-apa, juga tidak mengatakan kalau dia adalah anggota Mo-kau" Mendadak dia berbatuk-batuk keras, se­bab kalau tidak dibatukkan lagi, bisa jadi suara tertawanya akan meledak-ledak. Paras muka Kwik Tay-lok berubah sema­kin pucat pias lagi, bibirnya menjadi geme­tar keras, terdengar ia bergumam tiada hentinya: "Orang Mo-kau . ... orang Mo-kau ?" Ong Tiong harus berbatuk sekian lama sebelum akhirnya berhasil meredakan rasa geli dalam hatinya, kembali dia berkata. "Aku hanya pernah mendengar orang ber­cerita, katanya dalam Mo-kau terdapat be­berapa pasang suami istri yang sangat aneh." "Bagaimana anehnya ?" "Beberapa pasang suami istri itu, sang suami adalah laki-laki, sang istripun laki-laki." Bagaikan terkena bidikan panah yang te­lak mengenai ulu hatinya, Kwik Tay-Iok se­gera melompat bangun dari atas tanahnya, ke­mudian sambil memegang bahu Ong Tiong kencang-kencang, pintanya dengan wajah hampir menangis: "Kau. . . . . . kau harus. . . membantu­ku . . . . . . kau . . . . . . kau ha­rus membantuku." "Bagaimana membantunya ?" "Kau harus membantuku untuk bercek­cok hebat dengan diriku." "Bercekcok ? Bagaimana cekcoknya " "Terserah bagaimanapun cekcoknya, pokoknya aku minta kita bercekcok hebat, semakin hebat semakin baik." "Kenapa harus bercekcok ?" "Sebab setelah bercekcok aku bisa kabur lari sini untuk mengambil langkah seribu !" Paras muka Ong Tiang agak berubah, tam­paknya dia merasa gurauannya sudah terlampau berlebihan, maka setelah lewat sesaat lamanya dia baru berkata sambil tertawa paksa: "Sesungguhnya kau tak perlu pergi, sebab sebenarnya dia. . . . . . ." Dia seperti hendak mengungkapkan raha­sia tersebut, tapi Kwik Tay-lok segera men­ukas kata katanya: "Padahal akupun bukan benar-benar akan minggat, aku hanya akan meninggalkan tempat ini untuk sementara waktu saja" "Kemudian?" "Kemudian akan menunggunya di bawah bukit sana , asal dia sudah pergi maka se­cara diam-diam aku akan menguntilnya, akan ku­lihat dia pergi kemana dan berjumpa dengan siapa saja" Setelah menghela napas panjang, ia me­lanjutkan: "Bagaimanapun juga, aku harus menyeli­diki dirinya sampai jelas, aku ingin tahu se­benarnya ia mempunyai rahasia apa?" Ong Tiong termenung sebentar, kemudian katanya: "Mengapa kau tidak menunggu saja di rumah?" "Sebab bila aku akan menguntilnya de­ngan begitu saja, niscaya jejakku akan diketa­hui olehnya" "Apakah kau hendak merubah wajahmu setibanya di bawah bukit sana ?" "Kau mengerti ilmu menyaru muka ?" "Tidak, tapi aku mempunyai cara sendiri." Sambil miringkan kepalanya Ong Tiong mempertimbangkan hal tersebut beberapa saat lamanya, kemudian pelan-pelan ia ber­kata: "Kalau toh kau telah bertekad untuk ber­buat demikian, baiklah kau lakukan saja, cu­ma . . . ." "Cuma bagaimana ?" "Bila kita hendak bercekcok, maka cekcok itu harus dilangsungkan seperti yang se­sungguhnya, kalau tidak, tentu dia tak akan percaya." "Betul." "Oleh karena itu kita harus menunggu ke­sempatan, kita tak boleh bercekcok tanpa se­bab musabab yang kuat." "Tapi, kita harus menunggu sampai ka­pan?" Ong Tiong segera tertawa, katanya: "Walaupun aku tidak terlalu suka bercek­cok dengan orang, namun bukan suatu peker­jaan yang sulit untuk mencari kesem­patan guna bercekcok." "Kenapa ?" "Sebab kau memang seringkali mengu­capkan kata-kata yang tak bisa diterima oleh manusia biasa." Kwik Tay-lok turut tertawa, katanya: "Bila Yan Jit berada di sini, sekarang juga aku dapat bercekcok dengan dirimu." "Kini, aku hanya menguatirkan satu per­soalan." "Apa yang kau kuatirkan ?" "Aku hanya kuatir bila ia membantumu untuk bercekcok denganku, kemudian seha­bis bercekcok pergi bersamamu." Kwik Tay-lok mengerdipkan matanya berulang kali, katanya kemudian: "Kau tak usah menguatirkan tentang per­soalan ini." "Oya ?" "Kalau toh aku dapat bercekcok dengan dirimu, apakah tidak bisa bercekcok pula de­ngan dirinya?" "Tentu saja dapat" jawab Ong Tiong sam­bil tertawa, "ada kalanya, perkataanmu bisa menggemaskan orang sekota, siapapun yang bercekcok denganmu, aku pasti tak akan me­rasa keheranan" Belum habis berkata dari Kwik Tay-lok itu, mendadak terdengar jeritan kaget berku­mandang dari balik hutan di sebelah depan sana . Seorang gadis sedang berteriak-teriak de­ngan suara yang lantang: "Tolong . . . . tolong. . . . ." Bila seorang lelaki mendengar seorang gadis meneriakkan kata "tolong", kebanya­kan mereka segera akan memburu ke tem­pat keja­dian dan memberikan pertolongan­nya. Sekalipun ia tidak berniat sung­guh-sungguh untuk memberi pertolongan, paling tidak juga akan mendekatinya me­ngetahui apa gerangan yang telah terjadi. Dalam kehidupan seorang pria, sedikit banyak ia tentu akan mengkhayalkan untuk menjadi seorang pahlawan yang menolong ga­dis cantik, hanya sayangnya kesempatan itu jarang terjadi. Kini, kesempatan itu sudah tiba, sudah barang tentu Kwik Tay-lok takkan melepas­kannya dengan begitu saja. Tidak menanti Ong Tiong melakukan suatu gerakan, Kwik Tay-lok telah melompat bangun dan me­nyerbu ke arah mana berasalnya suara teri­akan tersebut . . . . . Sayang dia seakan-akan datang terlambat selangkah. Baru saja dia melompat bangun, tampaklah sesosok bayangan manusia telah menerjang masuk ke dalam hutan. Gadis yang meneriakkan minta tolong, kebanyakan tak akan berparas jelek, tapi gadis secantik orang yang berteriak minta tolong sekarang, tidak banyak jumlahnya. Gadis itu tidak begitu tua, paling banter usianya baru tujuh delapan belas tahunan, rambutnya dikepang dua dan kelihatan lin­cah serta polos . . . . . . . . Di tangannya membawa sebuah keranjang bunga, wajah yang berbentuk kwaci telah be­rubah menjadi pucat pias seperti mayat, ia se­dang berlarian mengitari sebuah pohon. Seorang lelaki berkumis yang bertubuh kekar, dengan membawa senyuman me­nyeringai mengejarnya dari belakang. Ia tidak mengejar terlalu cepat, sebab ia tahu gadis itu sudah merupakan hidangan lezat di depan mata, jangan harap dara tersebut dapat meloloskan diri lagi dari cengkeramannya. Tentu saja mimpipun ia tak menyangka kalau dari tengah jalan bisa muncul seorang Thia Kau-kim. Untung saja Thia Kau-kim yang muncul­kan diri tak lebih hanya seorang pemuda yang masih ingusan paling banter umurnya sebaya dengan nona tersebut. Maka sebelum Lim Tay-peng buka suara, ia telah membentak lebih dahulu dengan suara menggelegar: "Kau si anakan kelinci, siapa yang suruh kau datang kemari? Bila sampai menggagal­kan urusan baik locu, hati-hati kupenggal ba­tok kepala anjingmu itu." "Urusan baik apa ?" tegur Lim Tay-peng dengan wajah dingin. "Apa yang hendak locu lakukan, memang nya kau si bangsat cilik tak dapat melihat­nya sendiri ?" Sementara itu si nona telah menyembu­nyikan diri di belakang Lim Tay-peng, de­ngan napas tersengkal-sengkal dan suara gemetar katanya: "Dia bukan orang baik, dia . . . . dia hen­dak menganiaya aku." "Tak usah kuatir," ucap Lim Tay-peng hambar, "sekarang, tak ada orang yang berani menganiaya dirimu lagi." "Hmmm . . . . anak monyet, tampaknya kau hendak mencampuri urusanku? bentak lelaki itu dengan gusar.” "Agaknya memang begitu !" Dengan gusar lelaki itu membentak keras, bagaikan harimau lapar yang siap mener­kam domba, dengan garangnya ia terjang diri Lim Tay-peng. Sayang sekali musuh yang dihadapinya Lim Tay-peng telah berhasil menghajarnya sam­pai menggelinding ke tanah, kemudian diten­dangnya tubuh lelaki itu seperti lagi menyepak anjing saja. Kejut dan gusar lelaki itu dibuatnya, kon­tan saja dia mencaci maki kalang kabut, tam­paknya ia sedang bersiap-siap untuk merang­kak bangun dan menerkam lagi de­ngan garang. Siapa tahu seseorang. telah menceng­keram bajunya dari belakang, kemudian mengangkat tubuhnya ke udara. Bukan saja orang itu mempunyai tenaga yang besar, perawakan tubuhnya juga tidak lebih pendek daripada dirinya sekalipun hanya dicengkeram dengan tangan sebelah, ternyata ia tak sanggup untuk memberikan perla­wanan lagi . .. ..... Kedatangan Kwik Tay-lok tepat pada waktunya, sambil mencengkeram orang itu menuju ke depan Lim Tay-peng, katanya sambil tersenyum: "Menurut pendapatmu, bagaimana kita harus memberi pelajaran kepada bangsat ini?" ia membentak. "Lebih baik kita menanyakan pendapat dari nona ini saja," kata Lim Tay-peng ce­pat-­cepat. Waktu itu, belum hilang rasa kaget si nona, tubuhnya malah masih gemetar keras. Kwik Tay-lok segera menghampiri nona itu, kemudian setelah mengerdipkan mata­nya ia berkata: "Orang ini berani menganiaya dirimu, ba­gaimana kalau kita jagal dia, kemudian diberikan kepada anjing ?" Nona cilik itu menjerit kaget, hampir saja ia jatuh pingsan, tubuhnya segera roboh ke dalam pelukan Lim Tay-peng. Kwik Tay lok tertawa terbahak-bahak: "Haaahh . . . . . . haaahhh . . . . . haaahhh jangan takut nona manis," aku hanya ber­gurau saja, "manusia busuk macam dia ja­ngan toh manusia, anjing liarpun enggan mengendus badannya yang busuk itu." Kemudian sambil mengulapkan tangan­nya: "Enyah kau dari sini, lebih cepat lebih baik, lebih jauh lebih baik, jangan sampai kena kami bekuk lagi !" Sekalipun tak usah diperingatkan, lelaki itu sudah melarikan diri terbirit-birit, diam-diam ­ia menyumpahi orang tua sendiri, kenapa dilahirkan dengan dua kaki saja. Sepeninggal lelaki tadi, si nona kecil itu baru menghembuskan napas lega, dengan wajah merah karena jengah ia bangkit ber­diri, lalu sambil menjura katanya: "Terima kasih atas bantuan siangkong, kalau tidak . . . . . kalau tidak. . .. ." Matanya kembali menjadi merah, kata-kata selanjutnya tak sanggup dilanjut­kan lagi, seakan-akan kalau bisa dia ingin memeluk sepasang kaki Lim Tay-peng dan menyatakan be­tapa meluapnya rasa terima kasih yang berkobar didalam dadanya. Paras muka Lim Tay peng juga berubah menjadi merah padam. Melihat itu, Kwik Tay lok segera berseru sambil tertawa: "Yang menolong kau toh bukan cuma kongcu ini seorang, aku juga turut ambil ba­gian, mengapa kau tidak berterima kasih ke­padaku?" Paras muka nona cilik itu berubah se­ma­kin merah padam ia semakin tak tahu apa yang harus dilakukan. Untung saja. Yan Jit datang tepat pada waktunya, sambil melotot ke arah Kwik Tay-lok tegurnya: "Orang sudah menderita, kau hendak me­nganiaya dirinya lagi . . . ." Ia segera menarik bangun nona cilik itu, kemudian katanya lagi: "Orang inipun tadi punya penyakit, kau tak usah menggubris dirinya. . . .” "Te . . . terima kasih." nona cilik itu menundukkan kepalanya semakin rendah. "Kau seorang anak dara, mengapa men­datangi tempat yang tak ada orangnya seperti tempat ini ?" Nona cilik itu menundukkan kepalanya semakin rendah, sahutnya agak tergagap: "Aku adalah seorang penjual bunga, ia bilang di suatu tempat ada orang yang hen­dak memborong semua bunga yang kumiliki, maka . . . . . . maka akupun men­gikutinya datang ke mari." . "Yan Jit menghela napas panjang, katanya kemudian: "Lelaki di dunia ini lebih banyak yang ja­hat daripada yang baik, lain kali kau mesti bersikap lebih berhati-hati lagi." Mendadak Lim Tay-peng bertanya: "Berapa sih harganya sekeranjang bunga?" "Tiga . . . . . . tiga. . . . . . . ." "Baik, kuberi kau tiga tahil perak, kubo­rong semua sekeranjang bungamu itu." Nona menjual bunga itu mendongakkan kepalanya menatap wajahnya, dibalik sinar ma­tanya yang lembut terpencar rasa terima kasih yang meluap. Dengan wajah merah padam karena je­ngah, buru-buru Lim Tay-peng melengos ke arah lain, seakan-akan ia tak berani berta­tapan mata dengan dara tersebut. Kwik Tay-lok memandang sekejap ke arah Lim Tay-peng, lalu memandang pula ke arah si dara penjual bunga itu, tiba-tiba ia ber­tanya: "Nona cilik, siapa namamu ?" Dara penjual bunga itu seperti merasa ta­kut sekali, begitu ia membuka suara, nona itu mundur dua langkah dengan ketakutan. "Apakah kau tinggal di bawah bukit sana ? Apakah barusan pindah ke mari? Dulu me­ngapa aku tak pernah melihat dirimu ?" tanya Kwik Tay-lok lebih lanjut. Dengan wajah merah padam jengah, dara penjual bunga itu menundukkan kepalanya rendah-rendah, sambil menggigit bibir, ia mem­bungkam diri dalam seribu bahasa. "Hei, kenapa hanya membungkam saja ? Apakah kau mendadak menjadi bisu ?" Kwik Tay-lok tertawa terkekeh. Dara penjual bunga itu seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat itu kemu­dian diurungkan, tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya dan berlalu dari sana . Tampak sepasang kepalanya bergoyang-goyang di belakang punggungnya, setelah berlari agak jauh, tiba-tiba ia berpaling dan menger­ling sekejap ke arah Lim Tay-peng, kemudian mengambil keluar semua bunga dari keranjangnya dan diletakkan di atas tanah. "Bunga ini semuanya untukmu" dia ber­kata. BELUM lagi ucapannya selesai diucap¬kan, wajahnya semakin memerah, larinya se¬makin cepat, seakan akan takut kalau sam¬pai dikejar orang. "Kecil amat nyali nona cilik ini," kata Kwik Tay lok kemudian sambil tertawa. "Melihat tampangmu yang buas dan seram, gadis yang bernyali besarpun akan ketakutan juga dibuatnya," sela Yan Jit di¬ngin. "Aku toh tak lebih hanya bertanya bebe¬rapa patah kata kepadanya, apa salahnya kalau bertanya melulu?" ''Apa pula urusannya nama orang, tinggal dimana dengan urusanmu? Kenapa kau mesti banyak bertanya?" "Aku toh bukan bertanya untuk diriku sendiri," jawab Kwik Tay lok tertawa. "Lantas kau bertanya untuk siapa?" Kwik Tay lok menunjuk ke arah Lim Tay peng dengan ujung bibirnya, lalu berkata sambil tertawa: "Apakah kau belum melihat bagaimana¬kah tampang dari kongcu kita yang romantic itu?" Lim Tay peng seakan akan tidak mende¬ngar apa yang dia katakan, sepasang mata¬nya masih menatap ke arah mana bayangan tubuh nona cilik itu melenyapkan diri, ia tampak seperti agak terpesona dibuatnya. Musim semi belum pergi jauh, angin yang berhembus di pagi hari itu masih membawa udara yang segar. Kwik Tay lok membuka pintu dan mena¬rik napas panjang panjang, angin sejukpun segera berhembus lewat menerpa tubuhnya. Setiap hari pasti dia lah yang bangun pa¬ling awal, sebab dia merasa bertiduran di atas ranjang dalam udara segar seperti itu hanyalah suatu pekerjaan yang mengham¬bur hamburkan waktu. Tapi hari ini, ketika ia membuka pintu dan melangkah keluar halaman, tiba tiba dijum¬painya Lim Tay peng sudah berdiri ditengah halaman. Ia sedang berdiri termangu mangu di te¬ngah halaman. Kwik Tay lok segera mendehem pelan, tapi ia tidak mendengar, Kwik Tay lok me¬ngetuk tiang pagar, diapun tidak mende¬ngar. Sepasang matanya hanya menatap bunga mawar di sudut halaman saja, entah apa yang sedang dipikirkan ? Pelan pelan Kwik Tay lok berjalan meng-hampirinya, kemudian secara tiba tiba berseru keras: "Selamat pagi ?" Akhirnya Lim Tay peng mendengar juga, tapi iapun tampak seperti amat terperanjat, ketika berpaling dan melihat orang itu adalah Kwik Tay lok , ia baru tertawa paksa. "Selamat pagi !" sahutnya Kwik Tay lok menatap wajahnya lekat lekat, kemudian berkata: "Kalau kulihat matamu yang merah, tam¬paknya semalam tidak nyenyak tidurmu?" “Ehhmmmmmm .........” "Tampaknya kau seperti mempunyai ra¬hasia hati, sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan ?" "Aku sedang berpikir . . . . . agaknya musim semi telah berlalu." "Yaa betul, musim semi telah berlalu, agaknya baru kemarin berlalunya" sahut Kwik Tay lok sambil manggut manggut. "Baru kemarin berlalunya ?" Kwik Tay lok segera tersenyum. "Masa kau tidak tahu ?" serunya, "ketika si nona cilik lari pergi kemarin, musim semi telah lari pula mengikutinya" Kontan saja paras muka Lim Tay peng berubah menjadi merah padam. Sengaja Kwik Tay lok menghela napas panjang, gumamnya: "Heran, kemana perginya musim semi ? Siapa yang tahu .....? Bila ada orang yang tahu ke mana perginya musim semi, apa salahnya kalau dicari kembali ?" "Dapatkah kau kurangi beberapa patah katamu yang tak beraturan itu?" pinta Lim Tay peng dengan paras muka merah padam. Kembali Kwik Tay lok tertawa. "Masa aku telah salah berbicara? Apakah kau tak ingin menahan musim semi itu be¬berapa waktu lamanya?" "Aku . . . . . " Mendadak ia membungkam, sebab pada saat itulah tiba tiba berkumandang suara nya¬nyian dari kejauhan sana : "Nona cilik bangun di pagi hari. Membawa keranjang bunga, menuju ke pekan. Mele¬wati jalan besar, menelusuri lorong kecil. Bunga, bunga, teriaknya. Meski bunga in¬dah, meski bunga harum. Bagaimana bila tak ada yang beli, Menenteng keranjang, berkantung kosong. Pulang bertemu ayah dan bunda. Nyanyian itu manis, indah dan agak ber¬nada pedih, bukan cuma Lim Tay peng yang dibikin terperana, Kwik Tay lok pun ikut terpesona dibuatnya. Lewat lama kemudian ia batu menghela napas panjang, gumamnya: "Tampaknya musim semi belum pergi jauh, buktinya sekarang ia telah balik kem¬bali." Tiba tiba di dorongnya Lim Tay peng ke teras, kemudian ujarnya sambil tertawa: "Kenapa belum beranjak keluar? Buat apa berdiri termangu mangu saja di situ?" "Keluar mau apa?" tanya Lim Tay peng dengan wajah memerah karena amat je¬ngah. Kwik Tay lok segera mengerdipkan mata nya berulang kali: "Kemarin, orang toh sudah menghadiah¬kan begitu banyak bunga untukmu, paling ti¬dak hari ini kau harus merasakan terima kasih itu." Lim Tay peng masih ragu ragu, tapi akhirnya di bawah dorongan Kwik Tay lok , ia keluar juga dari pintu. Kabut telah buyar, sang sur¬ya memancarkan cahayanya menerangi seluruh jagad. Seorang nona cilik yang membawa ke¬ranjang bunga sedang pelan-pelan berjalan mendekat, cahaya matahari telah memancarkan sinarnya menerangi seluruh angkasa. Ketika ia mendongakkan kepalanya dan tiba-tiba melihat wajah Lim Tay-peng, sinar matahari seakan-akan memancar semua di atas wajahnya. Mungkin juga masih ada separuhnya menyinari wajah Lim Tay-peng. Kwik Tay lok memandang sekejap ke arahnya lalu memandang pula ke arah nona cilik itu, diam diam ia mengundurkan diri dari situ, menutup pintu dan membiarkan mereka tetap berada di luar pintu. Hembusan angin musim semi yang lem¬but, seakan akan kerlingan mata sang kekasih. Kwik Tay lok tersenyum, ia merasa girang sekali, sambil bergendong tangan pelan-pe¬lan ia berjalan mundar mandir ditengah ha¬laman. Sebenarnya ia tidak bermaksud mencari Yan Jit, tapi mendongakkan kepalanya, tiba-¬tiba dijumpainya ia telah berada di depan kamarnya Yan Jit. Cahaya musim semi begitu indah, me¬ngapa tidak membiarkan teman yang lain¬pun ikut merasakannya? Akhirnya Kwik Tay lok mengulurkan ta¬ngan dan pelan pelan mengetuk pintu. Tiada jawaban dari dalam ruangan. Ia mengetuk lebih keras lagi, namun be¬lum juga ada suara sahutnya. Masa tidur Yan Jit bagaikan mayat saja? Kwik Tay-lok segera berteriak keras keras: "Hei, matahari sudah berada ditengah kepala kita, masa kau belum juga bangun?" Suasana dibalik pintu masih tetap hening, tak ada suara barang sedikitpun juga. Tiba tiba dari belakang tubuhnya kede¬ngaran suara orang berbicara, itulah suara Ong Tiong. "Dia tidak ada di halaman belakang, juga tidak berada di dapur" demikian ucapnya. Paras muka Kwik Tay lok agak berubah, tak tahan lagi ia segera mendorong pintu keras-keras. Pintu itu memang tidak dikunci, begitu di¬dorong pintupun terbuka lebar ...... Tapi bersama dengan terbukanya pintu, cahaya musim semi di halaman tadipun seakan¬-akan turut terdorong keluar. Dalam kamar itu tak ada orang. Pembaringan masih teratur rapi, seperti bersih dan licin, jelas semalam tidak diguna-kan, kecuali itu di sana nampak barang apapun jua. Bukan saja Yan Jit tak ada dalam kamar segala sesuatu benda miliknya juga ikut lenyap tak berbekas. Kwik Tay lok berdiri tertegun di sana , kaki dan tangannya segera berubah menjadi di¬ngin seperti es. Ong Tiong mengerutkan pula dahinya. lalu bergumam: "Tampaknya dia sudah pergi sejak kema¬rin malam!" "Ehem . . . ." "Kali ini, mengapa dia pergi dengan mem¬bawa serta segenap benda miliknya? Kena¬pa ia pergi tanpa pamit atau meninggalkan pesan barang sepatah katapun juga ?" Tiba-tiba Kwik Tay lok membalikkan badannya dan mencengkeram bahu Ong Tiong kencang-kencang, serunya: "Semalam, kau tidak mengatakan apa-apa kepadanya bukan ?" "Menurut pendapatmu apa yang kuberita¬hukan kepadanya ?" "Maksudku semua perkataan yang ku¬u¬capkan kepadamu itu!" "Kau anggap aku adalah manusia macam apa ?" "Kau benar benar tidak mengucapkan apa-¬apa" Ong Tiong menghela napas panjang, lan¬jutnya: "Sekarang, kitapun tak usah cekcok lagi, kalau tidak, cukup dengan perkataan itupun aku bisa mengajakmu cekcok hebat." Kwik Tay lok tertegun beberapa saat la¬manya, kemudian dia menghela napas pan¬jang dan pelan pelan melepaskan cengke¬ramannya. Sambil tertawa paksa Ong Tiong berkata lagi: "Padahal kau tak usah cemas, dulu ia per¬nah kabur selama banyak waktu, tapi ke¬mudian bukankah dia telah balik kembali?" Kwik Tay lok segera menggelengkan ke¬palanya berulang kali, katanya sambil ter¬tawa getir: "Bukankah barusan kau juga berkata, kali ini berbeda?" "Tapi dia sama sekali tak punya alasan untuk pergi tanpa pamit." . Kwik Tay lok menundukkan kepalanya rendah-rendah, katanya kemudian: "Mungkin .... mungkin dia seperti aku juga merasa gelagat semakin tidak beres maka . . . . . maka dia merasa lebih baik angkat kaki dari sini . . . :" "Padahal kalian seharusnya tidak melaku¬kan suatu kesalahan apa apa," ucap Ong Tiong agak sangsi. "Masih belum?" kata Kwik Tay Iok sambil tertawa getir. "Padahal dia . . . . dia . . . ." "Dia kenapa ?" Ong Tiong memandangnya dengan ragu, lewat beberapa saat kemudian tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya berulang kali. . "Aahhh, tidak apa-apa . . . ." Tidak menanti ucapan tersebut diselesai¬kan, ia telah membalikkan badan dan ber¬lalu dari sana . "Kau hendak ke mana?" tegur Kwik Tay lok. "Mencari barang secawan arak." Sesungguhnya Ong Tiong juga merupakan seseorang yang tak dapat menyimpan raha¬sia dalam hatinya, dia hanya merasa, ada sementara persoalan yang lebih baik jangan dibicarakan saja. Karena ia merasa, ada sementara per¬soalan lebih baik tidak diketahui oleh Kwik Tay-lok, sebab bila ia mengetahui terlalu banyak, hal mana justru akan mendatang¬kan kemurungan baginya. Sayang dia tak tahu kalau hal itu sama saja mendatangkan kemurungan baginya. Sekarang musim semi baru benar benar te¬lah pergi jauh. Ke mana perginya musim semi? Tak per¬nah ada orang yang tahu. "Nona cilik bangun di pagi hari. . . Membawa keranjang bunga, menuju ke pekan. Melewati jalan besar, menelurusi lorong kecil ...... Nyanyian yang merdu itu hampir dapat di dengar setiap hari bila fajar baru menying¬sing. Asal mendengar suara nyanyian tersebut, Lim Tay peng segera merasa musim seminya telah tiba. Tapi, musim semi bagi Kwik Tay lok tak pernah kembali lagi. Yan Jit seakan akan pergi bersama berla¬lunya angin sepoi, pergi untuk tak kembali lagi, tiada kabar beritanya, tidak nampak pula bayangan tubuhnya. "Dia telah kemana ? Mengapa sepatah katapun tidak ditinggalkan ?" Kwik Tay lok bertekat hendak menemu¬kan alasannya. Maka diapun berangkat meninggalkan tempat itu. Sebelum pergi, dia hanya meninggalkan sepatah kata: "Sebelum menemukan dirinya, aku tak akan pulang kembali !" Gelak tertawa dalam perkampungan Hok¬-kui san ceng semakin berkurang, walaupun udara makin hari semakin panas, namun dalam perasaan Ong Tiong, tempat itu hari bertambah hari semakin dingin. Tiada kabar berita dari Kwik Tay lok, tiada kabar berita dari Yan Jit, juga tiada kabar berita dari musim semi. Yang ada hanya suara nyanyian merdu yang tiap fajar dapat terdengar dengan indahnya. Selain itu, satu¬satunya yang membuat hati orang menjadi gi¬rang dan lega adalah makin sembuhnya luka yang diderita Ang Nio cu. Suatu hari, dia dan Lim Tay-peng mene¬mani Ong Tiong berdiri di bawah wuwungan rumah. Langit sebenarnya bersih dan cerah, tapi secara tiba tiba awan hitam menyelimuti seluruh angkasa. Menyusul kemudian, petir menyambar¬-nyambar dan geledek menggelegar mem¬belah angkasa, hujan turun dengan deras¬nya. Air hujan turun membasahi seluruh jagad, bunga di sudut halaman sana berguguran tertimpa air, entah mengalir sampai kesana. Memandang air hujan yang membasahi atap rumah, tiba-tiba Ong Tiong menghela napas panjang, gumamnya: "Musim semi benar benar telah pergi . . . . aaaai, entah sampai kapan ia akan kembali lagi ?" Ang Nio cu segera menghibur dengan suara lembut: "Walaupun sekarang ia telah pergi, tapi dengan cepatnya dia pasti akan kembali lagi." "Benar," sambung Lim Tay peng, "bagai¬manapun jauhnya musim semi itu berlalu, suatu ketika dia pasti akan kembali lagi." "Pasti ?" "Ya, pasti." Lim Tay peng mengangguk. Ong Tiong menatap wajahnya pelan-pelan memandangnya lama sekali, kemudian ia menggelengkan kepalanya dam menghela napas panjang, untuk beberapa saat lama¬nya menjadi hening. Tiada orang yang ber¬bicara lagi, tiada orang yang memecahkan keheningan di sana . Yang terdengar hanya suara hujan yang membasahi jagad. Petir menyambar-nyam¬bar, geledek membelah bumi, hujan turun dengan amat derasnya. Seluruh tubuh Kwik Tay lok telah basah kuyup tertimpa air hu¬jan, akhir¬nya ia mendusin. Ketika ia mendusin, baru diketahui kalau tubuhnya sedang berbaring di sudut dinding rumah di atas tanah berlumpur, sedang mengenai apa sebabnya ia bisa tertidur di sini, berapa lama ia telah berada di situ, pemuda itu sama sekali tidak tahu. Dia masih ingat, semalam dia mengikuti saudara saudara dari kota timur bermain judi di rumah perjudian milik lotoa di kota barat, berjudi sampai ludes seluruh uang milik bandar. Kemudian lotoa dari kota timur pun me¬nyelenggarakan pesta kemenangan dirumah pe¬lacuran milik Siau Tang kwe, dua tiga puluh orang saudara secara bergilir meng¬hormatinya dengan secawan arak. Bahkan di hadapan orang banyak, lotoa dari kota timur telah menepuk dada sambil menyatakan asal dia dapat menghajar re¬muk perkumpulan di kota barat itu, untuk selanjut¬nya daerah sebelah barat kota itu akan menjadi miliknya, kemudian kedua orang itupun agaknya menyembah di depan meja sembahyang dan mengangkat sau¬dara. Kejadian selanjutnya sudah tidak diingat lagi olehnya dengan jelas, agaknya Siau mi tho adik perempuan Siau tang kwe membimbingnya pulang, baru saja akan melepaskan sepatunya dan melepaskan pakaiannya, tiba tiba ia menolak, kemudian dia hendak pergi, pergi mencari Yan Jit. Siau mi tho ingin menariknya, mala¬han perempuan itu kena ditampar olehnya. Kemudian diapun menemukan dirinya berbaring di sana , diantara kejadian terakhir sam¬pai apa yang dialaminya sekarang, sama sekali sudah tidak teringat lagi. Atau tegasnya saja, selama setengah bu¬lan lebih ini, dia sendiripun tidak jelas peng¬hi¬dupan macam apakah yang dialaminya. Sebenarnya dia keluar rumah hendak mencari Yan Jit, tapi dunia begini luas, dia harus pergi kemana untuk menemukannya ? Maka diapun tinggal di situ setibanya di kota ini, setiap hari kerjanya hanya mabuk-mabukan, berjudi, main perempuan. . . . . Suatu hari setelah mabuk hebat, ia telah bentrok dengan lotoa dari kota timur, tapi akibat dari pertarungan itu, ternyata mereka malah menjadi bersahabat. Waktu itu lotoa dari kota timur sedang ditekan terus oleh perkumpulan di kota barat sehingga tak dapat bernapas, Kwik Tay lok segera menepuk dada sambil mem¬beri jaminan bahwa ia sanggup membalas¬kan dendam. Maka diapun bergaul dengan saudara dari kota timur, setiap hari kerjanya hanya mi¬num arak, berjudi, berkelahi, mencari pe¬rempuan, tiap hari berteriak sambil tertawa tergelak, kehidupannya tiap hari dilewatkan dengan riang gembira. Tapi mengapa setiap kali setelah mabuk, ia selalu pergi seorang diri, bila sadar kem¬bali keesokan harinya, kalau bukan terka¬par ditengah jalan, tentu berbaring dalam pe¬comberan. Bila seseorang ingin menyiksa orang lain, mungkin hal ini agak susah, tapi bila ingin menyiksa diri, hal mana gampangnya bukan kepa¬lang. Apakah ia memang sengaja sedang me¬nyiksa diri ? Hujan yang turun hari ini deras sekali, ketika air hujan menimpa di atas tubuhnya, terasa bagaikan ditimpuk oleh batu. Kwik Tay lok meronta dan berusaha ke¬ras untuk bangun berdiri, kepalanya terasa sa¬kit sekali bagaikan mau merekah, lidahnya kaku bagaikan sudah tumbuh cendawannya. Penghidupan semacam ini benarkah suatu penghidupan yang berarti . . . . ? Ia enggan untuk memikirkannya. Persoa¬lan apapun enggan dia pikirkan, paling baik lagi bila segera ada arak dan minum lagi, pa¬ling baik lagi bila setiap hari tak pernah ada saat yang sadar. Sambil menengadah dia membuka mulut¬nya menghirup air hujan, walaupun air hu¬jan banyak dan rapat, berapa banyakkah yang da¬pat masuk ke dalam mulutnya ? Bukankah banyak kejadian di dunia inipun sama halnya dengan kejadian tersebut ? Sesuatu yang dengan jelas dapat dipero¬leh, justru kenyataannya tak bisa didapat. Kau ingin marah, menderita, menumbukkan kepala sendiri ke atas dinding, tapi apalah artinya penyiksaan terhadap diri sendiri ? Kwik Tay lok berusaha membusungkan dadanya, dalam dadanya, ulu hatinya seakan¬-akan terdapat jarum yang sedang menembusi¬nya. Persoalan yang jelas tak ingin dipikirkan¬ mengapa justru selalu muncul didalam benaknya? Petir menyambar membelah angkasa, ke¬mudian terdengarlah suara gemuruh yang menggelegar. Sambil menggigit bibir dia berjalan de¬ngan langkah lebar, belum lagi dua langkah, tiba tiba ia menyaksikan sebuah pintu kecil di hadapannya sana dibuka orang. Seorang dayang cilik berbaju hijau ber¬diri di depan pintu sambil membawa sebuah pa¬yung, ia sedang memandang ke arahnya sambil tertawa, ketika tertawa, tampak sepasang lesung pipinya yang dalam. Bila ada seorang nona cilik yang begitu manis tertawa kepadamu, bagaimana pun juga, setiap lelaki pasti akan manfaatkan kesempatan ini untuk mendekatinya. Tapi sekarang Kwik Tay lok sudah tidak mempunyai gairah untuk berbuat demikian, gairahnya sekarang boleh dibilang sudah han¬cur musnah tak karuan tujuannya lagi. Siapa tahu nona cilik itu segera maju menyongsong kedatangannya, kemudian sambil tertawa manis katanya: "Aku bernama Sim Sim!" Belum lagi orang lain berbicara, kata per¬tama yang diucapkan ternyata adalah mem¬perkenalkan nama sendiri, kejadian seperti ini jarang sekali dijumpai. Kwik Tay lok memandangnya beberapa kejap, kemudian pelan pelan mengangguk. "Sim sim, bagus . . . . bagus sekali na¬mamu," katanya. Tidak sampai habis ucapan tersebut di¬u¬tarakan, dia hendak melanjutkan kembali perjalanannya. Siapa tahu Sim sim lama sekali tidak bermaksud untuk melepaskan dirinya de¬ngan be¬gitu saja, kembali ujarnya sambil tertawa: "Aku kenal dengan dirimu!" Sekarang Kwik Tay lok baru merasa agak keheranan, sambil membalikkan badannya dia menegur: "Kau kenal dengan aku?" "Bukankah kau adalah toa sauya dari ke¬luarga Kwik?" ucap Sim sim sambil menge¬dipkan matanya. Kwik Tay lok bertambah heran lagi, tak tahan dia lantas bertanya: "Dulu kau pernah berjumpa denganku di mana?" "Belum pernah" "Lantas darimana kau bisa kenal diriku?" Sim sim segera tertawa. "Asal kau tanyakan persoalan ini kepada siocia kami, maka segala sesuatunya akan men¬jadi terang" "Siapa pula nona kalian?" "Setelah bertemu dengannya nanti, kau akan segera tahu" "Sekarang dia berada dimana?" Sim sim segera tertawa. "Ikuti saja aku, segala persoalan kau akan mengetahui dengan sendirinya . . . . ." Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan berjalan masuk lewat pintu kecil itu, kemudian sambil berpaling kembali dan menggape ke arah Kwik Tay lok, katanya: "Marilah !" Kwik Tay lok tidak berkata apa-apa lagi, dengan langkah lebar dia segera berjalan ma¬suk ke dalam, kini rasa ingin tahunya telah terpancing keluar, sekalipun kau suruh dia ti¬dak masukpun, belum tentu permin¬taanmu itu akan dikabulkan. Dibalik pintu terdapat sebuah halaman kecil, bunga aneka warna yang ditimpa air hujan tampak amat mengenaskan sekali. Di bawah atap rumah tergantung tiga buah sangkar burung, si burung nuri sedang ber¬kicau dengan merdunya, seakan akan sedang menegur majikannya yang tidak terlalu memperhatikan dirinya, sebaliknya membawa orang lain masuk ke dalam rumah. Sim sim berjalan melewati serambi ru-mah, kemudian dengan jari tangannya yang kecil dia menyentil sangkar itu pelan, serunya de¬ngan mata mendelik: "Setan cilik, ribut amat kau, hari ini siocia ada tamu, bila kalian ribu lagi, jangan salahkan kalau dia tak akan menggubris kalian lagi." Kemudian sambil berpaling ke arah Kwik Tay lok, ujarnya lebih lanjut sambil tertawa: "Coba kau lihat, belum lagi kau masuk, mereka telah cemburu lebih dulu .........” Terpaksa Kwik Tay lok ikut tertawa. Sekarang, selain rasa ingin tahunya yang berkobar, ia mempunyai pula suatu perasaan aneh yang sukar dilukiskan de¬ngan kata kata, seakan akan suatu perasaan manis yang mem¬pesonakan hati. Tapi apa gerangan yang telah terjadi? Ia masih berada dalam keadaan tanda tanya besar, sedikit bayanganpun tak dapat meraba: "Jangan jangan aku ketimpa rejeki ?" Cuma, walaupun dayangnya cakep, bukan berarti nonanya pasti cantik jelita. Bila nona¬nya jelek bagai kuntilanak, lantas ba¬gaimana ? Di atas pintu terdapat sebuah tirai bambu yang tipis, tentu saja tirai tersebut baru di¬ganti setelah musim panas tiba. Tak seorang manusiapun yang berada di¬balik pintu, Sim sim menyingkap tirai itu dan berkata sambil tersenyum: "Silahkan duduk didalam, aku akan sege¬ra mengundang kedatangan siocia kami." Dibalik tirai bambu sana adalah sebuah ruang tamu yang mungil tapi indah, di atas lantai tampak permadani indah dari Persia . Melihat keindahan permadani tersebut, tanpa terasa Kwik Tay lok membersihkan lum¬pur pada alas sepatunya lebih dulu se¬belum melangkah masuk ke dalam. "Tuan rumah semacam ini, mengapa me¬ngundang kedatangan seorang tamu macam diriku ?" Tentu saja hal ini disebabkan ada mak¬sud-maksud tertentu. Tapi apakah maksud maksud tertentunya itu? Kwik Tay lok memperhatikan diri sendiri dari atas sampai ke bawah, lima tahil perakpun tak laku rasanya . . . . . . . Sambil tertawa getir akhirnya dia mencari sebuah kursi yang paling nyaman dan paling bersih untuk duduk. Di atas meja terdapat poci teh, air tehnya baru saja dibuat. Di atas beberapa buah piring kecil terdapat makanan kecil teman milik teh. Kwik Tay lok memenuhi secawan air teh dan sambil minum sambil makan hidangan kecil yang tersedia, seakan akan dia adalah tamu lama dari tempat itu, sama sekali tak perlu sungkan sungkan. Kemudian, iapun mendengar suara "Ting tang, ting tang" yang nyaring, Sim sim telah muncul kembali sambil membimbing nona-nya. Kwik Tay lok hanya mendongakkan kepa-lanya memandang sekejap, sepasang matanya segera terbelalak lebar. Kwik sianseng bukan seorang bocah muda yang belum pernah bertemu perempuan, tapi gadis secantik itu betul-betul amat jarang di jumpai dalam dunia saat ini. Yaa, kalau bukan perempuan secantik itu, mana pantas berdiam ditempat semegah ini? Dalam mulut Kwik Tay lok masih meng¬gigit sepotong kueh, ia lupa menelannya dan lupa menariknya keluar, sehingga tam¬pang wa¬jahnya itu kelihatan lucu sekali. Entah sedari kapan, nona itupun telah duduk, tepat duduk di hadapan mukanya, selembar wajahnya yang cantik kelihatan bersemu merah, entah bedak entah malu, sepasang biji matanya yang jeli sedang memandang ke arahnya dengan sorot mata yang lembut. Kwik Tay lok mulai merasa duduknya menjadi tak tenang, dia ingin buka suara un¬tuk berbicara, siapa tahu karena kurang ber¬hati hati, makanan yang ada di mulutnya me¬nyumbat tenggorokan . . . . . . . Sim sim segera tertawa cekikikan karena geli, begitu tertawanya dimulai, ia tertawa terpingkal-pingkal tiada hentinya sampai harus memegangi perutnya yang sakit. Si nona itu segera melotot ke arahnya, seolah-olah menegurnya mengapa harus tertawa, namun dia sendiripun tak tahan turut tertawa terpingkal-pingkal. Kwik Tay lok memandang mereka berdua dengan termangu, tapi secara tiba-tiba dia ikut tertawa pula. Suara tertawanya jauh lebih keras dari¬pada siapapun juga, asal kau mendengar suara ter¬tawa itu, maka akan kau rasakan sesungguhnya kalau dialah Kwik Tay lok yang sebetulnya. Bagaimana seriusnya suasana, bagaima¬napun rikuhnya keadaan, asal Kwik Tay lok sudah tertawa, maka suasananya segera akan mengendor kembali ..... Si nona yang tersipu ke malu maluan itu akhirnya buka suara juga, suaranya amat lembut dan ha¬lus, selembut wajahnya: "Walaupun tempat ini tak bagus, tapi setelah Kwik toaya sampai di sini, rasanya kau pun tak perlu sungkan-sungkan lagi....." katanya. "Menurut pendapatmu, apakah aku mirip orang yang sungkan-sungkan?" tukas Kwik Tay lok sambil tertawa. "Tidak mirip!" nona itu tersenyum. Sim sim juga tertawa, tambahnya: "Air teh itu baru saja nona pesan dari bukit Bu oh san di propinsi Im-lam, silahkan Kwik toaya meneguk beberapa cawan, agar pe¬ngaruh arak tubuhnya toaya pun bisa berkurang" "Air tehnya sih lumayan, tapi kaulah yang keliru" "Dimana letak kesalahanku ?" tanya Sim sim tertegun. "Bagaimanapun baiknya mutu air teh, tak ada yang bisa dipakai untuk menghilangkan pengaruh arak." "Lantas apa yang bisa dipakai untuk menghilangkan pengaruh arak?" " Arak !" "Kalau minum arak lagi, bukankah kau akan bertambah mabuk ?" seru Sim sim sambil tertawa. "Lagi lagi kau keliru, hanya arak yang da¬pat dipakai untuk menghilangkan pengaruh arak, itulah yang dinamakan Huan bun ciu (arak pengembali pengaruh sukma)." "Sungguh ?" seru Sim sim sambil menger¬dipkan matanya berulang kali. "Cara ini telah kupelajari selama puluh¬an tahun lamanya, aku rasa tak bakal salah lagi." Si nona turut tertawa katanya: "Kalau memang begitu, mengapa tidak kau siapkan arak untuk Kwik Toaya . . ?" Arak telah dihidangkan, araknya arak wangi. Tentu saja sayur yang dihidangkan¬pun merupakan sayur yang lezat dan me¬wah. Kwik Tay lok mulai minum dengan lahap¬nya, ia benar-benar menganggap nona itu seperti teman lamanya saja. Ternyata si nona pun bisa meneguk dua cawan arak, sepasang pipinya telah memerah karena pengaruh arak, tapi hal mana justru menambah kecantikan wajah¬nya. Kwik Tay lok memperhatikannya, dengan sorot mata yang tajam, bahkan sampai arakpun lupa untuk diteguk. Si nona cepat-cepat menundukkan kepalanya kemudian berbisik dengan lirih: "Kwik toaya, silahkan meneguk tiga ca¬wan lagi, aku akan menemanimu meneguk se¬cawan lagi." Tiga cawan arak dalam waktu singkat te¬lah masuk ke perut, tiba tiba Kwik Tay lok berkata: " Ada beberapa persoalan ingin kuberi¬kan kepadamu." "Katakan." "Pertama, aku tidak bernama Kwik Toaya, teman temanku menyebut diriku sebagai Siau¬-Kwik tapi lambat laun aku makin menua, maka sekarang aku telah menjadi lo kwik (kwik tua)!" " Ada sementara orang yang selamanya seperti tak pernah menjadi tua," ucap si nona sambil tersenyum. " Ada pula sementara orang yang selama¬nya tak bisa menjadi toaya." Setelah meneguk dua cawan arak, ia baru melanjutkan: "Aku tak lebih hanya seorang yang mis¬kin, tak punya apa-apa, lagi pula dekil dan bau, sebaliknya kau adalah nona yang ang¬gun, lagi pula tidak kenal dengan diriku, mengapa kau mengundang diriku untuk mi¬num arak bersama?" Si nona mengerlingkan matanya yang jeli, lalu menjawab: "Kita sama-sama orang perantauan, bila berjodoh, mengapa harus berkenalan lebih dulu?" "Nona kami she Sui bernama Loan kim, sekarang kalian telah saling mengenal bu¬kan," timbrung Sim sim dari samping. "Sui Loan kim, suatu nama yang amat bagus, pantas untuk menghabiskan tiga cawan arak" Kwik Tay lok bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak. "Terima kasih" sahut Sui Loan kim sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah. Kwik Tay lok meneguk habis isi cawan¬nya, lalu menatapnya lekat lekat, lewat lama kemudian ia baru berkata lagi : "Ususku berbentuk lurus, apa yang hen¬dak kuucapkan tak pernah kusimpan dida¬lam hati, aku harap kau suka memaklumi¬nya." "Aku telah melihatnya, kau memang se¬orang lelaki sejati yang polos, dan jujur." "Kalau begitu aku ingin bertanya kepadamu, apakah ada orang yang telah menganiaya dirimu, sehingga kau berharap aku bisa melampiaskan rasa mangkelmu ?" 'Nona kami tak pernah keluar rumah, mana mungkin ada orang yang menganiaya di¬rinya ?" Sela Sim sim. "Apakah kau telah menjumpai suatu ma¬salah yang pelik sehingga meminta ban¬tuanku untuk pergi menyelesaikannya ?" "Juga tidak." "Kini aku telah datang, akupun telah mi¬num arak kalian, persoalan apapun asal kalian mengutarakannya, aku pasti akan berusaha keras untuk melaksanakan dengan sebaik baiknya" "Asal kau mempunyai maksud sebaik itu, akupun sudah merasa puas sekali . . . . ." kata Sui Loan kim lembut: "Kau benar benar tiada persoalan hendak memohon bantuanku?" seru Kwik Tay lok kemudian dengan mata melotot. "Benar benar tak ada!" "Lantas apa sebabnya kau bersikap begitu baik terhadap seorang telur busuk rudin yang kotor mana bau lagi ini?" Sui Loan kim mendongakkan kepalanya memandang pemuda itu, sorot matanya amat lembut dan halus. . Berapa orangkah yang tak akan terke¬sima oleh tatapan matanya yang begitu lembut dan mempesona hati ? Sim sim memandang ke arah Kwik Tay lok, lalu memandang nonanya, tiba tiba ujarnya sambil tertawa: " Ada sepatah kata entah Kwik toaya per¬nah mendengarnya atau tidak .....?" "Katakanlah!" "Kaisar orang gagah, gadis cantikpun menyukai lelaki sejati!" Paras muka Sui Loan kim semakin merah, karena jengah, serunya dengan merdu: "Setan cilik, berani mengaco belo lagi, jangan salahkan kalau kurobek bibirmu itu," "Akupun seorang manusia yang berusus lurus, apa yang berada dalam hatiku tak pernah kurahasiakan terus." ucap Sim sim tertawa. Dengan wajah memerah Sui Loan kim bangkit berdiri, seakan-akan siap mencubit¬nya. Sambil tertawa cekikikan Sim sim lari ke luar dari ruangan, ketika sampai di luar sana , ia tak lupa untuk menutupkan pintu untuk mereka. Sui Loan kim berdiri di situ dengan kepala tertunduk, tak tahan lagi ia melirik beberapa kejap ke arah Kwik Tay lok. Kwik Tay lok masih menatapnya lekat¬-lekat. Paras muka gadis itu semakin memerah, merah seperti matahari senja yang hampir tenggelam dibalik bukit. Mabuk, dalam keadaan seperti ini dan suasana seperti ini, orang yang tidak mabuk¬pun akan menjadi mabuk. Tiba tiba Kwik Tay lok menggenggam ta¬ngan Sui Loan kim erat erat. Tangannya dingin seperti es, tapi wajah¬nya panas menyengat bagaikan bara api. Kwik Tay lok baru akan menariknya, be¬lum lagi ditarik ia sudah menjatuhkan diri ke dalam pelukannya. Musim panas ada di luar jendela, tapi sua¬sana hangat menyelimuti dalam ruangan. Suasana nyaman begitu tebal menyelimuti ruangan, sehingga sukar rasanya untuk di¬cair¬kan. Walaupun ada sementara orang tidak sa¬ling mengenal, tapi asal berjumpa ibaratnya besi sembrani yang bertemu besi, dengan ce¬pat mereka akan menempel satu sama lainnya. Sui Loan kim menempel lekat lekat di atas tubuh Kwik Tay lok, kulit tubuhnya ha¬lus, lembut, putih dan hangat. Pinggangnya begitu ramping sehingga sekali rangkul dapat mencapai seluruhnya. Sambil merangkul pinggangnya Kwik Tay lok menghela napas panjang, tiba tiba gumamnya: "Aku tidak mengerti, aku benar benar ti¬dak mengerti" " Ada sementara persoalan memang sukar dijelaskan, sukar dipahami orang lain" sahut Sui Loan kim lembut. "Dahulu kau tak pernah bersua denganku, juga tak tahu manusia macam apakah diriku ini, mengapa kau bersikap demikian kepa-daku" "Walaupun aku belum pernah bersua de¬nganmu, tapi sudah lama kuketahui manu¬sia macam apakah dirimu itu." "Oooh. . . . . .?" Sui Loan kim menempelkan tubuhnya makin rapat di atas badannya, kemudian melanjutkan: "Beberapa hari terakhir ini, setiap orang dalam kota ini telah tahu kalau dari tempat jauh sana telah datang seorang hohan yang tidak takut langit tidak takut bumi." "Hohan ?" Kwik Tay lok tertawa getir, "kau tahu, apa artinya sebenarnya dari Ho¬han?" "Aku siap mendengarkan penjelasanmu." "Kadangkala Hohan artinya seorang ge¬landangan yang tak punya pekerjaan dan tiap hari kerjanya hanya berkelahi dan bersenang¬-senang." Sui Loan kim segera tersenyum. "Aku tak ambil perduli, serunya, "bagiku, pokoknya hohan tetap Hohan. ." Kwik Tay lok segera tertawa lebar, dibelainya pinggang yang ramping itu de¬ngan le¬mah lembut, kemudian bisiknya sambil tertawa: "Kau benar benar seorang perempuan yang aneh" "Itulah sebabnya aku menyukai lelaki aneh semacam kau !" Belum habis perkataan itu diutarakan, pipinya sudah menjadi merah padam lebih dulu. Kwik Tay lok menatapnya lekat-lekat, kemudian berkata: "Dulu, aku tak pernah menyangka bakal bertemu dengan seorang perempuan seperti kau lebih-lebih tak kusangka kalau bisa berada bersama samamu !" Paras muka Sui Loan kim berubah sema¬kin merah, bisiknya lembut: "Asal kau bersedia, akupun bersedia me¬nemanimu sepanjang masa . . . .” Kembali Kwik Tay lok menatapnya lama sekali, mendadak ia menghela napas pan¬jang, sambil membalikkan tubuhnya ia membelalak¬kan matanya lebar-lebar dan menatap atap ru¬mah dengan termangu. "Kau sedang menghela napas ?" tegur Sui Loan kim. "Tidak." "Kau sedang memikirkan rahasia hatimu?" "Juga tidak." Sui Loan kim turut membalikkan tubuh¬nya dan menindih di atas dadanya, kemu¬dian sambil membelai wajahnya dengan lembut, ia berkata halus: "Aku hanya ingin bertanya kepadamu, bersediakah kau berada bersamaku sepan¬jang masa ?" Kwik Tay lok termenung, termenung sampai lama sekali, lalu sepatah demi sepatah sa¬hutnya : "Tidak bersedia !" Tangan Sui Loan kim yang lembut tiba-tiba menjadi kaku, serunya perlahan: "Kau tidak bersedia ?" "Bukannya tidak bersedia, tapi tak dapat." "Tak dapat ? Mengapa tak dapat ?" Pelan pelan Kwik Tay lok menggelengkan kepalanya. "Apa maksudmu menggelengkan kepala ? Tidak suka kepadaku?" seru Sui Loan kim lagi. Kwik Tay lok segera menghela napas panjang, katanya: "Bila ada lelaki yang tidak menyukai perempuan cantik semacam kau, su¬dah pasti orang itu berpenyakit, tapi. . ." "Tapi apa?" Kwik Tay lok tertawa getir. "Tapi sayang aku memang berpenyakit !" sahutnya. Sui Loan kim menatapnya, dibalik sorot matanya yang jeli penuh pancaran sinar kaget dan tercengang. "Aku adalah seorang lelaki, sudah lama tak pernah mendekati perempuan, sedang kau adalah seorang perempuan yang sangat cantik lagi pula sangat baik kepadaku, tem¬pat ini hangat dan syahdu, mana ada arak, ada hidangan lezat, ada perempuan cantik yang menemani, dalam keadaan seperti ini siapa bilang hatiku tidak tertarik ? Oleh se¬bab itu . . . ." "Oleh sebab itu kau menghendaki aku ?" kata Sui Loan kim sambil menggigit bibir. Kwik Tay lok menghela napas panjang: "Tapi diantara kita tak pernah terlintas perasaan cinta yang sesungguhnya." ia ber¬kata aku . . . . aku. . . .” "Kenapa kau ? Apakah dalam hatimu hanya memikirkan orang lain?" tanya Sui Loan-kim. Kwik Tay lok manggut manggut. "Kau benar benar mempunyai perasaan cinta kepadanya ?" gadis itu kembali berta¬nya. Kwik Tay lok manggut manggut, menda¬dak ia menggelengkan kepalanya pula. "Hei, sebenarnya kau sungguh sungguh mempunyai perasaan kepadanya atau ti¬dak?" seru sang nona. Kembali Kwik Tay lok menghela napas panjang. "Aku sendiripun tak tahu perasaan ma¬cam apakah itu, aku benar benar tidak tahu." katanya. "Setiap kali aku tak berjumpa de¬ngannya, tiap saat tiap detik aku selalu memba¬yangkan dirinya. Meski kau cantik, lemah lembut dan penuh gairah hidup, walaupun aku juga sangat menyukaimu, tapi hatiku, rasanya tak mungkin bisa diisi oleh siapapun selain dia seorang ....." "Oleh sebab itu kau masih akan pergi mencarinya ?" sambung Sui Loan kim cepat. "Ya, harus mencari sampai ketemu." "Oleh karena itu kau hendak pergi ?" Kwik Tay lok memejamkan matanya dan manggut manggut. Sui Loan kim menatapnya lekat lekat, tiada perasaan menggerutu, tiada perasaan benci atau penasaran, malah sebaliknya ia seperti merasa terharu oleh ketulusan cinta pemuda itu. Lewat lama kemudian ia baru menghela napas panjang, katanya dengan sedih. "Bila di dunia ini terdapat seorang pria yang dapat bersikap baik kepadaku macam kau, aku . . . . sekalipun aku harus mati juga rela rasanya . . " "Cepat lambat kau pasti akan menemukan orang semacam itu" hibur Kwik Tay lok dengan lembut. Tapi Sui Loan kim segera menggelengkan kepalanya berulang kali. "Aaai.. . tak akan kutemukan selamanya!" "Mengapa?" Sui Loam kim termenung pula beberapa saat lamanya, mendadak ia berkata lagi: "Kau seorang yang amat baik, belum per¬nah kujumpai orang sebaik kau, oleh sebab itu akupun bersedia untuk berbicara terus terang dengan dirimu" Kwik Tay lok tidak memberi komentar apa apa, dia hanya mendengarkan saja. "Tahukah kau perempuan macam apakah diriku?" ujur Sui Loan kim lagi. "Kau she Sui bernama Sui Loan kim, se¬orang nona yang anggun dan kaya raya, lagi pula cantik jelita bak bidadari dari kahya¬ngan dan lemah lembut amat mempesona hati. " "Kau keliru besar, aku bukan seorang nona anggun yang kaya raya, aku tak lebih hanya seorang. . . . hanya seorang . . . . ." Ia menggigit bibirnya kencang-kencang, lalu menghela napas panjang, lanjutnya: "Aku tak lebih hanya seorang pelacur." "Seorang pelacur?" hampir saja Kwik Tay-lok melompat bangun dari atas pembari¬ngan, teriaknya keras keras, "tidak mung¬kin, kau ti¬dak mungkin seorang pelacur !" Sui Loan kim tertawa pedih, katanya: "Aku memang seorang perempuan peng-hi¬bur. Bukan saja begitu, lagi pula aku adalah seorang pelacur kenamaan yang paling mahal harganya di kota ini, kalau bu¬kan pangeran muda atau anak hartawan, jangan harap bisa menjadi tamuku." Kwik Tay lok menjadi tertegun, tertegun sampai lama sekali, kemudian gumamnya: "Tapi aku bukan seorang pangeran, bukan pula anak hartawan yang kaya raya, lagi pula sepeser uangpun tidak punya." Tiba-tiba Sui Loan kim melompat bangun, membuka rak dari toaletnya dan mengambil ke luar sebutir mutiara kemudian ia berka¬ta: "Walaupun kau tidak memiliki uang se¬pe¬serpun namun sudah ada orang yang mem¬bayarkan ongkos tersebut bagimu." "Siapa ?" Kwik Tay lok terkejut. "Mungkin dia adalah seorang temanmu." "Apakah dia adalah lotoa dari kota timur?" "Ia masih belum pantas untuk berkunjung ke rumahku." kata Sui Loan kim hambar. "Lantas siapa orang itu ?" "Seorang yang belum pernah kujumpai sebelumnya." "Macam apakah orang itu ?" "Seorang yang berwajah bopeng !" "Berwajah bopeng ?" seru Kwik Tay lok dengan wajah tertegun, "diantara te¬man temanku tak seorangpun yang berwa¬jah bopeng." "Tapi mutiara ini benar benar diberikan kepadaku untuk membayar ongkos ongkos-mu." Saking terkejutnya Kwik Tay lok sampai tak sanggup mengucapkan sepatah kata¬pun. "Ia suruh aku baik baik melayani dirimu, apa saja yang kau minta harus kuberikan kepa¬damu." kata Sui Loan kim lagi. "Oleh sebab itu, kau .... ..." Tidak membiarkan dia berkata lebih jauh kembali Sui Loan kim menukas: "Tapi diapun telah menduga, kemungki¬nan besar kau enggan untuk tinggal di sini." "Oooohh......" "Menanti kau enggan untuk tinggal di sini dia baru menyuruh aku memberitahukan satu hal kepadamu !" "Soal apa ?" "Suatu persoalan yang aneh sekali." Setelah berhenti sebentar, pelan-pelan dia melanjutkan: "Beberapa bulan berselang, mendadak di tempat ini kedatangan seorang tamu yang aneh sekali, seperti kau, ia memakai baju yang ko¬tor dan penuh berlubang, sebenar¬nya aku ingin mengusirnya pergi?" "Kemudian ?" "Tapi begitu masuk kemari, dia lantas meletakkan seratus tahil emas di atas meja." "Maka kaupun mengijinkan dia untuk tinggal di sini ?" Pancaran sinar mata murung dan sedih memancar keluar dari balik sorot mata Sui Loan kim, katanya hambar: "Aku memang seorang perempuan yang melakukan pekerjaan seperti ini, bagiku hanya emas yang kukenal, orangnya tidak." "Aku mengerti," kata Kwik Tay lok sambil menghela napas, "tapi . . . . . . . . . . . , tapi kau tidak mirip perempuan semacam itu." Mendadak Sui Loan kim mengalihkan so¬rot matanya ke arah lain, seakan-akan tak ingin menyaksikan mimik wajah dari Kwik Tay lok lagi. Lewat lama kemudian pelan-pelan dia baru melanjutkan: "Sebenarnya di dunia ini memang banyak terdapat anak orang kaya yang gemar me¬nyaru seperti tampang tersebut, tujuannya hanya ingin mencari kesenangan belaka, kejadian semacam itu bukan suatu yang aneh lagi . . ." "Lantas bagaimana anehnya ?" "Anehnya walaupun sudah mengeluarkan uang sebesar seratus tahil emas, ternyata ia sama sekali tidak menyentuhku, ia tak lebih hanya mandi di sini kemudian mengganti dengan sebuah pakaianku dan pergi." "Mengganti bajunya dengan bajumu. . . ." Sui Loan kim manggut-manggut. "Sebenarnya dia itu laki atau perem¬puan?" seru Kwik Tay lok lebih lanjut. "Ketika datang, sebenarnya dia adalah seorang laki-laki, tapi setelah mengenakan bajuku, pada hakekatnya dia jauh lebih cantik dari¬pada diriku sendiri" Setelah tertawa getir, dia melanjutkan: "Terus terang saja, walaupun aku pernah menyaksikan bermacam macam manusia aneh, bahkan ada diantaranya yang suka menyuruh aku mencambuknya dengan pecut, atau meng¬injak tubuhnya dengan kaki, namun manusia semacam itu benar benar belum pernah kujum¬pai, malah sampai akhirnya aku tak dapat membeda¬kan sebenarnya dia itu seorang laki-laki ataukah seorang perempuan." Sekali lagi Kwik Tay lok tertegun, namun sinar matanya tiba-tiba menjadi terang. Agaknya secara lamat-lamat dia telah menduga siapa gerangan orang yang di¬maksudkan. "Semua persoalan itu baru kubicarakan sampai sekarang, sebab si bopeng itu beru¬lang kali memberi pesan kepadaku agar ti¬dak menceritakan kejadian ini bila kau bersedia menetap di sini ....." "Tahukah kau siapakah nama dari manu¬sia aneh tersebut?" tanya Kwik Tay-lok ke¬mudian. Agaknya dia merasa tegang sekali sehing¬ga tangannya sampai turut gemetar keras. "Dia sama sekali tidak menyebutkan na¬manya, dia hanya memberitahu kepadaku bahwa dia she Yan, Yan dari tulisan Yan cu (burung walet)" Mendadak Kwik Tay lok melompat bangun kemudian mencengkeram bahunya ken¬cang ken¬cang , serunya keras-keras. "Tahukan kau sekarang dia berada di¬mana?" "Tidak!" Kwik Tay lok mundur dua langkah ke be¬lakang, agaknya untuk berdiripun sudah tak mampu, akhirnya dia jatuh terduduk ke atas pembaringan. "Tapi belakangan ini, dia telah datang ke mari sekali lagi." kata Sui Loan kim. Bagaikan terkena anak panah, sekali lagi Kwik Tay lok bangkit berdiri, teriaknya keras-keras: "Belakangan ini ? Kapan maksudmu ?" "Belasan hari berselang." Setelah berhenti sejenak dia melanjutkan lebih jauh: "Ketika datang kemari kali ini, tampang¬nya kelihatan seperti diliputi banyak persoa¬l¬an, dia minum arak banyak sekali ditempat ini tapi keesokan harinya dia telah pergi lagi setelah mengenakan sebuah pakaian milikku." Sikap Kwik Tay lok semakin tegang, seru nya lagi: "Tahukah kau dia telah pergi ke mana ?" "Tidak !" Tampaknya Kwik Tay lok segera akan roboh kembali ke atas lantai . . . . . untung saja Sui Loan kim. menyambung kem¬bali kata katanya dengan cepat. "Tapi ketika sedang mabuk, dia telah mengucapkan banyak sekali persoalan, ka¬tanya setelah kembali ke rumah kali ini, dia tak bisa keluar rumah lagi untuk selamanya, akupun selamanya tak akan bertemu lagi dengannya." "Apakah kau . . . kau tidak bertanya kepadanya, dia tinggal dimana?" Sui Loan kim tertawa, sahutnya: "Sebenarnya akupun hanya bertanya sekenanya saja, sama sekali tak kusangka ternyata dia telah memberitahukannya kepadaku." Dari balik sorot mata Kwik Tay lok sege¬ra terpancar keluar pengharapan yang amat tebal, cepat cepat serunya "Tapi dia telah memberitahukan kepada mu bukan ?" Sui Loan kim manggut manggut. "Dia bilang dia berdiam di kota Ki lam¬-hu, malah katanya pemandangan alam dari te¬laga Tay beng ou amat indah, bahkan te¬laga See ou pun kalah indahnya, dia suruh aku berpesiar kesana bila ada kesempatan." Tiba tiba Kwik Tay lok roboh kembali, seakan akan orang yang telah beberapa hari be¬berapa malam melakukan perjalanan jauh de¬ngan susah payah tapi akhirnya tujuan tersebut dapat dicapai. Sekalipun dia roboh kembali, namun hati¬nya merasa girang dan amat berbahagia. Sui Loan kim memandang ke arahnya, de¬ngan sorot mata kasihan dan sayang, katanya pelan: "Diakah yang kau cari ?" Kwik Tay lok segera manggut. "Tahukah dia kalau kau sangat mencintai dirinya ?" kembali perempuan itu bertanya. Kwik Tay lok manggut manggut, tapi ke¬mudian kembali menggelengkan kepalanya be¬rulang kali, hati perempuan siapa yang tahu ? Sekali lagi Sui Loan kim menghela napas panjang, katanya dengan sedih: "Kenapa dia pergi meninggalkan dirimu ? Coba kalau aku, sekalipun diusir dengan menggunakan cambuk¬pun belum tentu aku akan pergi." "Dia bukan kau .. ... . diapun seorang yang sangat aneh," gumam Kwik Tay lok, "selama ini, aku sendiripun belum dapat memahami perasaannya . .. .... .." "Dia bukan aku, maka dia baru pergi.', ucap Sui Loan kim dengan nada yang sedih, "hanya perempuan semacam aku inilah baru akan mengerti bahwa di dunia ini tidak terda¬pat benda lain yang jauh lebih berhar¬ga dari pada cinta yang tutus dan murni." Setelah menghela napas, kembali dia melanjutkan: "Bila seorang perempuan tidak mengerti bagaimana caranya menyayangi cinta yang murni, maka dia pasti akan menyesal sepan¬jang masa." Sekali lagi Kwik Tay lok termenung be¬berapa saat lamanya, mendadak dia berta¬nya: "Menurut penglihatanmu sebenarnya dia itu seorang perempuan atau bukan ?" "Masa sampai saat inipun kau masih be¬lum tahu." Sambil membaringkan diri di atas pemba¬ringan, Kwik Tay lok menghembuskan napas panjang gumamnya: "Untung saja sekarang aku baru tahu akan suatu hal." "Soal apa ?" Sambil tersenyum pelan-pelan Kwik Tay-lok menjawab: "Aku ternyata tidak berpenyakit, aku sama sekali tidak berpenyakit, aku tidak le¬bih hanya seorang buta belaka."' Senja telah menjelang tiba. Sang surya di sore hari itu masih meman¬carkan sinarnya menembusi jendela, me¬nyoroti pakaian yang baru saja dikenakan Kwik Tay lok, dia seakan-akan seperti berubah menjadi seorang yang lain, berubah menjadi lebih keren, lebih gagah dan lebih sadar. Memandang wajahnya yang tampan, sambil menggigit bibir Sui Loan kim ber¬kata: "Sekarang juga kau akan berangkatnya?" Kwik Tay lok segera tertawa. "Terus terang saja, pada hakekatnya aku ingin punya sayap dan segera terbang ke¬sana" Sui Loan kim menundukkan kepalanya, kembali sorot matanya memancarkan rasa sedih dan murung. Kwik Tay lak menatap wajahnya, lambat laun senyumnya menjadi makin hambar, sorot matanya pun memancarkan perasaan kasihan, iba, tak tahan dia menepuk bahu¬nya sambil berkata dengan lembut: "Kau seorang anak perempuan yang sa¬ngat baik, suatu hari kelak . . . . ." "Suatu hari kelak akupun pasti akan me¬nemukan seorang lelaki macam dirimu bu¬kan?" tukas Sui Loan kim sambil tertawa pedih. "Tepat sekali jawabanmu." jawab Kwik Tay lok sambil tertawa paksa. Sui Loan kim juga tertawa paksa, kata¬nya: "Bila telah bersua dengan nona Yan nanti, jangan lupa sampaikan salamku kepadanya" "Aku pasti akan mengingatnya selalu." "Beritahu kepadanya, bila kemudian hari ada kesempatan, aku pasti akan pergi ke telaga Tay beng ou untuk menengok kalian." "Siapa tahu kami akan datang menengok dirimu lebih dulu." seru Kwik Tay lok sambil tertawa. Sekalipun dia sedang tertawa, tapi entah mengapa hatinya terasa amat pedih. Ia benar-benar merasa tak tega untuk tinggal di sana lebih jauh, dia tak tega me¬nyaksikan sepasang matanya itu, mendadak dia ber¬paling dan memandang sorot mata-hari sore di ¬luar jendela, gumamnya: "Sekarang langit belum menjadi gelap, aku masih sempat untuk melanjutkan per¬jalanan." BETUL," sahut Sui Loan kim sam¬bil menundukkan kepala. "lebih baik kau ce¬pat cepat berangkat, siapa tahu diapun se¬dang menantikan kedatanganmu . . . . . ?" Kwik Tay lok menatapnya lekat lekat, seakan-akan hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat tersebut diurungkan. Diapun berlalu dari sana dengan begitu saja. Kalau tidak pergi, dia bisa apa ? Jauh lebih baik kalau cepat cepat meninggalkan tempat itu. Mendadak Sui Loan kim berseru: "Tunggu sebentar !" Pelan-pelan Kwik Tay lok membalikan badannya. "Kau. . . . . " Sui Loan kim tidak membiarkan dia me¬nyelesaikan perkataannya itu, dari dalam saku¬nya dia mengeluarkan sebuah kocek yang terbuat dari kain merah dan dia diang¬surkan kepadanya. "Kuberikan benda ini untukmu" katanya lembut, "harap kau sampaikan kepada nona Yan, katakan . . . . . . katakan kalau benda ini merupakan hadiahku untuk perkawinan kalian." "Benda apakah ini ?" Dia menerimanya dan dilihat, dan perta¬nyaan tersebutpun tidak dilanjutkan lebih jauh. la dapat merasakan mutiara dalam kocek yang bulat dan bersinar terang itu. Sui Loan kim telah membalikkan badannya memandang matahari keluar jendela, katanya kemudian dengan hambar: "Sekarang, kau sudah boleh pergi dari sini." Kwik Tay lok memegang kocek itu ken¬cang, apakah hatinya seperti juga mutiara dalam kocek itu, telah berada didalam genggamannya. . . . . ." Ia tidak berpaling lagi. Pemuda itupun tidak berkata sepatah katapun. Ada sementara perkataan memang tidak seharusnya diutarakan secara terus terang. Sama sama orang perantauan, sekalipun bersua mengapa harus saling berkenalan ? Atau mungkin hanya orang yang sama sama perantauan saja yang dapat memahami perasaan tersebut dan suasana seperti itu ? Walaupun suasana seperti itu terasa me¬ngenaskan dan memedihkan hati, namun berapa banyak keindahan yang sebenarnya tercakup didalamnya ? Menelusuri tepi telaga, pelan-pelan Kwik Tay-lok berjalan ke depan, bagaikan gelan¬dangan saja, dia berjalan kesana kemari tanpa sua¬tu tujuan tertentu. Setelah mendengar kabar tentang Yan Jit, dia ingin bisa cepat cepat terbang ke kota Ki¬lam, seakan akan asal tiba di kota terse¬but, Yan Jit akan segera ditemukan. Setelah tiba di kota Ki lam, ia baru tahu kalau jalan pikirannya terlalu kekanak kanak¬an. Kota Ki-lam hu tak kecil seperti dalam ba¬yangannya, paling tidak ada beribu-ribu buah keluarga yang tinggal di sana dengan jumlah penduduk mencapai beberapa ribu laksa jiwa. Untuk mencari Yan Jit ditempat sebesar ini dan orang sebanyak itu, hakekatnya keadaan tersebut ibaratnya mencari jarum di dasar samudra. Terpaksa tiap hari dia hanya lun¬tang lantung kesana kemari tanpa tujuan, dia hanya berharap suatu ketika nasibnya bisa mujur dan berjumpa dengan Yan Jit. Tapi, dia sendiripun tahu, harapan terse¬but meski terlalu tipis, tapi dari sekian hara¬pan yang tipis, harapan inilah yang rasanya paling bisa diandalkan. Sekarang, sampai beberapa banyak jum¬lah pepohonan di tepi telagapun hampir bisa disebutkan olehnya di luar kepala. Di bawah pohon liu di depan sana , ber¬sandar sebuah perahu kecil, nona cilik pen¬dayung perahu itu sudah ia kenal cukup lama, dari kejauhan sana ia telah memberi-kan sekulum senyuman kepadanya, senyu¬man yang cerah bagaikan sinar sang surya. Demi memperoleh sekulum senyuman yang manis ini, mau tak mau Kwik Tay lok harus membeli beberapa buah biji teratai¬nya. Biji teratai rasanya getir, persis seperti perasaan Kwik Tay lok saat itu. Kalau orang lain dengan uang dua rence hanya bisa mendapat enam biji, maka Kwik Tay lok bisa memperoleh tujuh delapan biji. Si nona cilik yang menggunakan topi le¬bar dan bertelanjang kaki itu seakan akan menaruh maksud tertentu terhadap Kwik Tay lok, asal pemuda itu datang ia pasti memberi dua biji lebih banyak, bahkan ka¬dang kala mem¬berikan pula sebatang ubi manis untuknya. Bila kejadian ini berlangsung dimasa lalu besar kemungkinan Kwik Tay lok sudah naik ke atas perahunya, mendayung perahu itu ke ¬tengah telaga dan menciumi pipinya yang mungil serta meraba kakinya yang putih dan halus itu...... Tapi sekarang, Kwik Tay-lok betul-betul tidak mempunyai gairah untuk berbuat demikian. Sudah cukup banyak kemurungan dan persoalan yang membebani benaknya. karena itu, setelah menerima biji teratai ia telah bersiap-siap untuk pergi, siapa tahu nona cilik kembali menggape ke arahnya sambil berbisik lirih: "Kemarilah, aku hendak berbicara sesuatu denganmu." Kwik Tay lok benar-benar tak ingin men¬cari kesulitan lagi bagi diri sendiri, tapi dia pun tak tega untuk menampik maksud baik si nona cilik tersebut. Diam diam ia menghela napas panjang dan siap sedia menunjukkan tampang se¬orang engkoh besar, bila nona cilik itu ber¬maksud untuk mengajaknya mengadakan pertemuan, dia pasti akan baik-baik mem¬beri pelajaran kepadanya dan memberitahu¬kan kepadanya kalau lelaki yang ada di dunia ini tak ada yang baik. Un¬tung saja bertemu dengannya, kalau tidak nis¬caya dia akan tertipu. Berpikir sampai di situ, merasa dirinya ba¬gaikan seorang Nabi yang suci. Sayang Thian justru tidak memberi ke¬sempatan semacam itu kepadanya, tidak membiarkan dia menjadi seorang Nabi yang suci. Sambil menginjak perahu si nona, dia se¬ngaja menarik wajahnya sambil menegur: " Ada perkataan apakah yang hendak kau sampaikan padaku?" Mencorong sinar tajam dari balik mata si nona kecil itu, bisiknya dengan suara lirih: "Apakah kau adalah seorang pembesar be¬sar yang sedang menyamar untuk me¬nyaksikan kehidupan anak kecil?" Kwik Tay lok tertegun, beberapa saat ke¬mudian ia tertawa geli karena tak tahan, sahutnya: "Dari kepala sampai ke kaki, bagian ma¬nakah dari tubuhku yang mirip tampang seorang pembesar?" "Jadi bukan?" "Bukan saja tidak, bahkan bila bertemu dengan pembesar badanku lantas menjadi ge¬metar" ucap Kwik Tay lok sambil tertawa. Nona itu tampak lebih gembira dan ber¬semangat, sambil merendahkan suaranya kem¬bali ia berkata: "Kalau begitu, kau pastilah seorang perampok ulung." "Juga bukan," sahut Kwik Tay lok sambil tertawa getir. "untuk modal menjadi se¬orang perampok saja aku tak punya." "Kau benar benar bukan?" nona itu me¬lotot semakin besar. "Mengapa, aku mesti membohongimu?" Nona cilik itu menghela napas panjang, jelas merasa kecewa sekali, sehingga untuk mengucapkan sepatah katapun menjadi enggan. Ternyata ia tertarik kepada Kwik Tay lok tak lain karena mengira Kwik Tay lok adalah seorang perampok. Dalam pandangan kaum dara, perampok adakalanya mendatangkan suatu daya tarik yang sangat besar. Sekarang Kwik Tay lok baru tahu, rupa¬nya nona cilik ini bukan sungguh sungguh ada minat dengannya. Dengan demikian maka diapun tak usah kuatir menemui banyak kesulitan lagi, malah seharusnya mereka bergembira. Tapi entah mengapa, dia malahan justru merasa agak kecewa, juga tidak terima, ti¬dak tahan segera tanyanya: "Dari hal manakah kau mengatakan aku mirip seorang perampok ?" Sikap nona cilik itu menjadi dingin dan sangat hambar, sahutnya ogah ogahan: "Sebab selama dua hari belakangan ini, aku selalu menyaksikan ada seseorang menguntil di belakangmu" "Oooh . . . . macam apakah orang itu ?" "Adakalanya orang itu menyaru sebagai penjual makanan, ada kalanya menyaru se¬ba¬gai pengemis, tapi dia mau menyaru menjadi apapun jangan harap bisa menge¬labui diriku." "Mengapa ?" Nona cilik itu segera menunjukkan sikap¬nya yang amat bangga sekali, sahutnya sambil tertawa: "Sebab dalam sekilas pandangan saja aku dapat mengenali tampang wajahnya itu." "Apakah wajahnya mempunyai suatu ciri atau keistimewaan yang berbeda dengan orang lain ?" Nona cilik itu manggut manggut. "Ya, dia adalah seorang lelaki bermuka bopeng." Hampir saja Kwik Tay lok hendak melom¬pat ke udara saking kagetnya, bahkan darah yang mengalir didalam tubuhnyapun turut me¬ngalir dengan lebih cepat. Nona cilik itu memandang ke arahnya, kemudian dengan sinar mata penuh pengharapan katanya: "Apakah dia memang lagi menguntilmu? Apakah kau kenal dengan dirinya . . . . . ?" Kwik Tay lok segera mengedipkan mata¬nya beberapa kali, kemudian sambil sengaja merendahkan suaranya ia berbisik: "Aku boleh saja berkata jujur kepadamu, tapi kau tak boleh memberitahukannya kepada orang lain." "Aku bersumpah tak akan berkata kepada orang lain." ucap nona cilik itu dengan ce¬pat, "Kalau tidak, biar di kemudian hari aku¬pun menjadi seorang perempuan berwajah bopeng." "Baik, aku akan memberitahukan kepada¬mu," bisik Kwik Tay lok. "lelaki bopeng itu adalah seorang opas kenamaan, dia me¬mang benar-benar sedang menguntil diriku." Nona cilik itu kembali bergairah, serunya dengan wajah berseri: "Mengapa dia . . . dia menguntilmu ?" "Sebab aku memang seorang perampok ulung." bisik Kwik Tay lok lirih. "orang lain menyebutku sebagai perampok yang ter¬bang di angkasa, baru saja kulakukan tujuh puluh delapan macam kasus perampokan di ibukota, itu¬lah sebabnya aku kabur kemari untuk menghindarkan diri." Saking gembiranya sekujur badan nona itu gemetar keras, sambil menggigit bibir seru nya: "Apakah kau . . . . . kau juga seorang Jay hoa cat (Penjahat pemetik bunga ?" Tak tahan Kwik Tay lok segera tertawa geli, sambil mengedipkan matanya berulang kali, ia balik bertanya: "Menurut dugaanmu, aku mirip tidak ?" Paras muka nona cilik itu segera berubah menjadi merah padam seperti kepiting re¬bus, sambil menggigit bibir katanya: "Sekalipun kau seorang Jay hoa cat, aku juga tidak takut, aku tidak takut diperkosa." Sepasang kakinya seperti menjadi lemas sehingga untuk berdiripun tak sanggup, ham¬pir saja dia akan tercebur ke dalam air telaga bila Kwik Tay lok tidak cepat cepat menyam¬bar tubuhnya. Kwik Tay lok segera tertawa terba¬hak bahak, sambil meraba pipinya yang putih dan halus itu katanya: "Kau tak usah kuatir, sekalipun aku hen¬dak mencarimu, hal inipun baru akan kulaku¬kan dua tiga tahun lagi, bila kau su¬dah lebih menanjak dewasa, sekarang kau tak lebih hanya . . . . aku . . . aku seorang bocah cilik belaka, haaahh . . . haaah . . . . . haaaahh . . . . ." Diiringi gelak tertawa yang amat keras, ia lantas melangkah pergi meninggalkan tem¬pat itu dengan langkah lebar. Nona cilik itu memandang ke arahnya dengan wajah tertegun, sampai lama sekali ia ber diri termangu mangu . . . . . Entah disengaja atau tidak, tangannya pelan pelan meraba dada sendiri yang ma¬sih da¬tar bagaikan lapangan itu, tanpa terasa wajahnya berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus. Dia hanya bisa berdiri melongo saja me¬nyaksikan pemuda itu berlalu dari sana , makin lama semakin menjauh dan akhirnya lenyap di ujung tikungan jalan sana . Diam diam Kwik Tay-lok tertawa geli di dalam hati, ia tahu malam nanti nona cilik itu pasti tak dapat tidur nyenyak. Ia sama sekali tidak bermaksud untuk mencelakainya, Ia tak lebih hanya ingin menambah bumbu atau kejadian aneka warna lainnya dalam kehidupan si nona cilik itu, agar se¬telah menikah dan mempunyai anak besok, da¬lam hatinya masih mempun¬yai kesan lama yang setiap kali bila teringat maka jantungnya kembali akan terasa ber¬debar. Berapa banyaknya gadis di dunia ini yang dapat bertemu dengan mata kepala sendiri dengan seorang Jay hoa cat. Angin berhembus lewat menggoyangkan pohon liu, mengakibatkan buih dan gelom¬bang kecil di batas permukaan telaga. Kwik Tay lok masih berjalan ke depan de¬ngan langkah yang amat lamban, sambil mengunyah biji teratai, ia membawakan se¬buah lagu bersenandung. Setelah melalui suatu jarak perjalanan yang cukup jauh, secara tiba-tiba ia baru berpaling. Dengan cepat ia menemukan seorang pe¬ngemis yang membawa sebuah mangkuk gumpil, lagi pula wajahnya betul-betul bopeng. Begitu ia berpaling, si bopeng itu segera menyembunyikan diri di belakang pohon. Taktik penguntilan yang dimiliki orang bermuka bopeng itu tidak terhitung sangat lihay. andaikata sikap Kwik Tay lok dalam dua hari belakangan ini acuh tak acuh dan pikirannya memikirkan yang bukan-bukan, seharusnya hal mana sudah dirasakan olehnya. Benarkah manusia bermuka bopeng ini adalah orang bopeng yang dimaksudkan oleh Sui Loan kim itu ? Seperti tidak disengaja saja Kwik Tay lok membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ke arah manusia berwajah bopeng itu, pelan sekali langkahnya . . . . Ia berniat melompat ke depan dan menang¬kapnya jika sudah berada dekat dengan orang itu. Siapa tahu manusia bopeng itu cukup waspada, dengan cepat dia membalikkan badan dan melarikan diri. Tatkala Kwik Tay lok mempercepat lang¬kahnya, ternyata dia kabur semakin cepat lagi. Ditengah hari bolong seperti ini, apalagi begitu banyak orang kurang leluasa baginya untuk mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya guna melakukan pengejaran tersebut. Terpaksa Kwik Tay lok harus memperbe¬sar langkahnya mengejar dari belakang. Sebenarnya dia yang menguntil Kwik Tay lok, tapi sekarang justru sebaliknya Kwik Tay lok yang menguntil di belakang¬nya. Ketika si nona cilik di atas perahu melihat mereka saling kejar mengejar dengan lang¬kah cepat, dengan wajah terkejut dan ke¬heranan ia memandangi mereka berdua tanpa berkedip. Ia benar benar tidak habis mengerti, ke¬napa bukan si opas yang menangkap pe¬nyamun sebaliknya penyamun yang menge-jar sang opas? Baginya, persoalan yang ada di dunia ini masih banyak persoalan yang tak dipahami oleh¬nya, maka dia selalu merasa amat ke¬sal. Menanti usianya sudah meningkat dan le¬bih banyak persoalan yang dipahami oleh-nya, ia baru mengerti ternyata lebih enak dulu se¬waktu belum tahu urusan dari¬pada sekarang. Permulaan musim panas merupakan saat yang paling ideal untuk berpesiar di tepi te¬laga. Tempat yang banyak pelancongnya biasa¬nya pasti banyak pula pengemis . . . . sebab biasanya orang yang sedang berpesiar lebih bermurah hati, terutama bila disampingnya didampingi seorang gadis yang cantik jelita. Oleh sebab itu di sekeliling tempat itu banyak terdapat pengemis, di timur ada penge¬mis, di barat ada pengemis, bahkan di sela sela manusia yang berpesiarpun ba¬nyak pengemis. Orang bermuka bopeng itu menerobos ke sana kemari diantara kerumunan orang banyak, beberapa kali hampir saja Kwik Tay lok ketinggalan sampai jauh sekali. Untung saja Kwik Tay lok mempunyai na¬sib yang cukup mujur, setiap kali bila ke¬adaan sudah mencapai pada saat yang kri¬tis, dia selalu secara kebetulan dapat me¬nemukan wajah yang bopeng itu. Orang dengan wajah yang istimewa bia¬sanya memang lebih gampang dikuntil dari¬pada tidak. Sampai akhirnya, orang bermuka bopeng itu merasa ia makin terdesak hebat sehing¬ga akhirnya mengambil keputusan untuk meninggalkan wilayah telaga sana menuju ke tempat yang makin sedikit orangnya. Agaknya dia ingin memancing Kwik Tay lok menuju ke tempat sepi, kemudian baik baik memberi pelajar¬an kepadanya. Kwik Tay lok sama sekali tidak gentar, bukan saja tak ambil perduli, malahan dia mengejar semakin getol lagi. Dia memang berniat untuk mencari suatu tempat yang tiada orangnya untuk menang¬kap orang itu dan ditanyai sampai jelas apakah dia kenal dengan Yan Jit, serta apakah dia tahu tentang jejak Yan Jit. Dari si tongkat, Kwik Tay lok memang te¬lah mempelajari beberapa kepandaian yang memaksa orang untuk berbicara jujur. Sebenarnya dia mengira dengan cepat orang bermuka bopeng itu akan berhasil disusulnya. Siapa tahu bukan saja orang berwajah bopeng itu dapat berlari cepat, kekuatan tubuhnya juga bagus sekali, seakan akan dia tidak pernah merasa lelah, malah sema¬kin lama larinya semakin cepat. Kwik Tay lok merasa mulai tak tahan lagi, apalagi kehidupannya selama beberapa hari belakangan ini amat memeras kekuatannya dia merasa bagaikan orang yang telah lanjut usianya. Tak tahan dia lantas berteriak keras: "Hei, jangan lari, aku sama sekali tidak bermaksud untuk mencari kesulitanmu, aku hanya ingin menanyakan beberapa persoa¬lan saja" Sebenarnya si bopeng itu tidak lari secara sungguhan, namun setelah mendengar per¬kata¬an itu, dia malahan lari semakin cepat lagi. Pengemis memang biasa lari di jalan kare¬na dikejar orang atau dikejar anjing, se¬hingga peristiwa semacam itu sesungguhnya bukan suatu kejadian yang aneh. Tapi seorang yang memakai pakaian yang perlente ternyata berlarian di jalanan gara gara mengejar seorang pengemis, adegan semacam ini terasa aneh sekali. Dia tahu sudah ada orang yang mulai memperhatikan dirinya, malah diantaranya seperti terdapat dua orang opas. Mereka memang sesungguhnya bertugas untuk memeriksa dan menjaga keamanan di situ, diantaranya tampak sedang melangkah maju siap menghalangi Kwik Tay lok untuk ditanya. Asal jalan pergi Kwik Tay lok terhadang maka si bopeng itu pasti akan melenyapkan diri. Padahal orang itu adalah satu satunya ti¬tik terang yang dijumpainya, ia tak dapat melepaskannya dengan begitu saja. Sepasang biji matanya segera diputar, tiba-tiba terlintas satu ingatan dalam benaknya, sambil menuding ke arah si bopeng yang berlarian di depan, teriaknya keras keras: "Pengemis itu adalah seorang pencuri, siapa yang dapat membantuku untuk mem¬be¬kuknya, kuberi hadiah dua puluh tahil perak." Teriakannya yang terakhir itu sungguh manjur sekali, tidak menunggu ucapan sele¬sai diutarakan, dua orang opas itu telah memba¬likkan badan dan mengejar si bo-peng tersebut. Malah banyak pula diantara para pelan¬cong yang turut berteriak teriak sambil mela¬kukan pengejaran. Tampak si bopeng itu amat gelisah, men¬dadak ia melompat ke udara melewati atas kepala lima enam orang dan melompat naik ke ¬atas wuwungan rumah di depan sana . Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sempurna sekali, boleh dibilang merupakan ja¬go kelas satu di dunia persilatan. Peristiwa ini semakin menggemparkan suasana, teriakan-teriakan berkumandang dari sana sini. "Tampaknya orang ini selain seorang pen¬curi, diapun seorang perampok ulung, ja¬ngan biarkan ia kabur .... tangkap sampai dapat tangkap sampai dapat !" Walaupun yang berteriak banyak, namun yang bisa menyusul ke atas atap rumah tak seorangpun. Dua orang opas itupun hanya bisa berdiri di bawah rumah sambil mengawasi dengan ge¬lisah. Bagaimanapun ilmu meringankan tubuh memang tak dapat dipelajari oleh setiap orang, apalagi ilmu meringankan tubuh seperti apa yang dimiliki si bopeng, diantara sepuluh laksa orang paling banter hanya ada satu dua orang saja yang memilikinya. Untung saja Kwik Tay lok adalah satu di¬antara dua orang yang menguasahi kepan¬dai¬an itu. Dia telah melompat naik ke atas atap rumah, sambil melanjutkan pengejarannya de¬ngan suara lantang dia berseru: "Aku adalah seorang petugas keamanan dari ibu kota yang khusus datang kemari un¬tuk membekuk penjahat ini, harap eng¬hiong hohan yang ada di tempat ini sudi membantu usahaku ini." Diapun tahu bagaimanapun gagah se¬orang enghiong hohan yang berada di sana , mustahil sudi mencampuri urusan yang ti¬dak diketahui ujung pangkalnya ini. la berteriak demikian tak lebih hanya ingin membuat pikiran dan perasaan orang ber¬muka bopeng ini semakin kalut. Sebab dia benar-benar tidak memiliki ke¬yakinan untuk bisa menyusul si bopeng itu, betul ilmu meringankan tubuh yang dimiliki¬nya luar biasa, namun kesempatan untuk melatihnya tidak banyak, baik soal taktik maupun soal pengalaman, dia masih kalah setingkat dibanding¬kan dengan manusia bermuka bopeng itu. Betul juga, oleh teriakan-teriakan yang lantang itu, manusia bermuka bopeng tersebut makin bingung dan cemas. Bagaimanapun juga, berlarian di atas atap rumah orang di bawah sinar matahari yang cerah merupakan suatu kejadian yang amat menyo¬lok, maka akhirnya kembali ia dipak¬sa melom¬pat turun ke bawah. Dibawa sana terbentang sebuah lorong yang tidak terhitung luas, dalam lorong itu paling banter hanya terdapat enam tujuh keluarga. Ketika Kwik Tay lok mengejar sampai di situ, kebetulan sekali ia menyaksikan ada se¬sosok bayangan manusia yang menyeli¬nap ma¬suk ke dalam pintu gerbang sebuah gedung rumah. Pintu gerbang gedung itu dibuka le¬bar lebar. Tidak banyak rumah rakyat pada jaman itu dalam keadaan terbuka lebar sepanjang hari. Tampaknya gedung itu memang mem¬punyai hubungan yang erat dengan manusia berwajah bopeng itu, atau si bopeng itu mungkin memang berdiam.... Kwik Tay lok sama sekali tidak ambil per¬duli akan hal tersebut, dengan cepat dia turut menyerbu masuk ke dalam. Di halaman rumah tiada orang, tapi ruang tamu di depan sana terdengar ada orang sedang berkata sambil tertawa: "Tak heran kalau orang lain selalu ber¬kata, diantara sepuluh orang manusia bopeng sembilan diantaranya berwatak aneh kau betul-betul seorang siluman yang aneh" Kwik Tay lok merasa girang sekali setelah mendengar perkataan itu, dengan cepat dia memburu ke depan sambil berpikir: "Kali ini kau tak bakal bisa kabur lagi. . ." Siapa tahu dalam ruang tamu itu tidak terdapat seorang manusia bopengpun, yang ada hanya seorang lelaki dan seorang pe¬rem¬puan yang tampaknya merupakan se¬orang su¬ami isteri, yang perempuan putih dan gemuk, wajahnya cantik, sebaliknya yang lelaki bermuka kuning, pinggangnya¬pun tidak lurus. Bila seorang lelaki jelek bisa mendapat¬kan seorang isteri yang cantik, ada kalanya hal itu bukan terhitung suatu kemujuran. Ketika secara tiba tiba menyaksikan ada seorang lelaki asing menyerbu masuk ke dalam ruangan mereka, suami isteri berdua itu keli¬hatannya amat terperanjat. Tampaknya sang suami bernyali jauh lebih kecil daripada nyali istrinya, karena ketakut¬an hampir saja dia terjatuh ke atas tubuh istrinya, dengan tergagap dia berseru: "Si .. .. ..siapa kau? Mau. . . . mau apa kau datang kemari ?" "Aku datang untuk mencari orang" jawab Kwik Tay lok. "Sii . . . . siapa yang kau cari?" "Aku mencari si bopeng, dimanakah si bopeng yang barusan kau sebutkan itu?" Sepasang biji mata si istri yang jeli, se¬menjak tadi memang sudah mengerling terus ke arahnya, mendadak ia bangkit ber¬diri, kemudian sahutnya dengan cepat: "Akulah si bopeng yang ia maksudkan tadi, apakah kau datang untuk mencari diriku?" Betul juga, di ujung hidungnya memang terdapat beberapa titik burik yang berwarna putih. Kwik Tay lok menjadi tertegun. Sang istri masih mengerling ke arahnya dengan ekor matanya yang jeli, kemudian dengan senyum tak senyum dia berkata lagi: "Apakah kau datang mencari diriku karena mengagumi namaku? Sayang kau sudah datang terlambat, kini aku telah menikah dengan orang dan tidak menerima tamu lagi." Bukan saja Kwik Tay lok dibuat tertegun, bahkan sedikit dibuat menangis tak bisa tertawapun sungkan. Padahal seharusnya hal ini sudah dapat diketahuinya sedari tadi, mana ada perem¬puan dari keluarga baik baik yang memper¬hatikan lelaki lain dengan cara semacam ini? Yang menjadi suami segera unjuk gigi, sambil melompat ke depan teriaknya keras keras. "Sudah kau dengar belum? Sekarang ia sudah menjadi biniku, siapapun jangan ha¬rap bisa mengusiknya lagi. Hmm, kenapa kau tidak segera enyah dari sini ?" Ternyata Kwik Tay lok harus tertawa ge¬tir, tapi tak tahan kembali dia bertanya: "Apakah tiada orang lain yang masuk ke mari tadi ?" Sekali lagi sang isteri mengerling sekejap ke arahnya dan berkata sambil tertawa: "Sekalipun di kota ini masih terdapat se¬tan segagah seperti kau, juga tak ada yang bernyali besar seperti kau. Siapa yang be¬rani mendatangi rumah orang lain untuk mencari bini orang ?" Ternyata ia telah menuduh Kwik Tay lok sebagai manusia yang berusaha untuk meram¬pas isteri orang. Yang menjadi suaminya bertambah naik darah, sambil menuding hidung Kwik Tay lok teriaknya keras keras: "Kenapa belum juga keluar dari sini?" Apalagi yang sedang kau rencanakan ditempat ini? Hati hati kalau kepalanku menghancurkan batok kepalamu." Mendengar perkataan tersebut, Kwik Tay lok segera tertawa geli. Tangannya kelihatan seperti cakar ayam, untuk membunuh lalatpun belum tentu bisa, ternyata dia ingin memukul orang. Kwik Tay lok segera menepuk bahunya dan berkata sambil tertawa. "Jangan kuatir, tiada orang yang ba¬kal merampas dirimu, tapi tubuhmu sendiri juga bukan didapat dari mencuri, lebih baik ja¬galah diri baik-baik, dalam melakukan peker¬jaan apapun lebih baik jangan terlalu memeras tenaga." Ia tidak membiarkan orang itu buka suara lagi, sambil membalikkan badan pemuda itu segera beranjak pergi. Padahal dia sendiripun tahu kelak peker¬jaan ini sedikit agak kurang cocok untuk di utarakan sebab dihari biasa dia tak mengu¬tara¬kan perkataan semacam itu. Tapi, bila dalam hati sendiripun sedang mangkel, kadangkala timbul pula ingatan untuk membuat orang lainpun turut menjadi sengsara. Dengan jelas ia menyaksikan si bopeng itu masuk kesana, mengapa secara tiba tiba bisa lenyap tak berbekas? Apakah begitu ma¬suk ke rumah dia lantas menerobos ma¬suk ke dalam tanah ? Tentu saja sepasang suami istri ini telah bersekongkol dengan si bopeng, mereka sengaja bermain sandiwara untuk mengoceh dirinya. Sayang walaupun ia mengetahui hal itu dengan jelas, namun tak dapat membong¬karnya dengan begitu saja, apalagi berada di rumah orang lain disiang hari bolong seperti ini, ba¬gaimana juga dia yang rugi sendiri. Bila mengharuskan memaksa orang lain untuk mengajaknya melakukan penggeleda¬han dalam rumah, rasanya ini tak mungkin bisa dia lakukan. Apakah si bopeng itu pasti telah meng¬gunakan kesempatan tersebut untuk melari¬kan diri, sekalipun dicari belum tentu bisa mene¬mukannya. Pikir punya pikir Kwik Tay lok merasa makin lama hatinya makin risau dan pusing. "Coba kalau berganti Ong Tiong, tak nanti si bopeng itu bisa kabur dari cengkeraman¬nya pada hari ini" Ia bertekad akan mencari tempat dulu untuk bersantap sampai kenyang guna meng¬hibur hati sendiri, kemudian setelah malam menjelang tiba nanti baru akan me¬lakukan pe¬nyelidikan disekitar tempat itu hingga persoalan menjadi tuntas. Mata hari sudah hampir tenggelam dibalik gunung, sekalipun minum arak mulai sekarang rasanya juga tak bisa dianggap terlampau awal. Rumah makan terbesar di kota itu di se¬but Hwee peng lo, bebek panggang dan ikan leihi masak saos buatan mereka meru¬pakan hidangan yang paling termasyhur, apalagi untuk teman minum arak. Kwik Tay lok mencari sebuah meja dekat jendela dan memesan semeja sayur . . . . . Sebelum berangkat tempo hari, lotoa dari kota timur telah memberi sejumlah ongkos ja¬lan yang terhitung cukup besar jumlah¬nya. Memang orang gagah dari dunia persi¬latan se¬lamanya setia kawan, royal terhadap teman. Biasanya bila ada beberapa cawan arak sudah masuk ke perut, perasaan Kwik Tay lok akan mulai cerah kembali. Tapi dua hari belakangan ini, arak yang masuk ke dalam perutnya merasa getir, lagi pula gampang memabukkan. Apalagi bila malam masih ada urusan, ia tak berani minum banyak, sebaliknya mem¬per¬banyak makan sayur. Makin jelek perasaannya makin banyak yang dimakan, mungkin bila Yan Jit belum ju¬ga ditemukan, bisa jadi dia akan menjadi ge¬muk seperti seekor babi. Setelah matahari turun gunung, tamu da¬lam rumah makan makin banyak. Pelbagai ragam manusia berduyun-duyun menda¬tangi rumah makan itu, diantaranya terda¬pat pula para pe¬rantara rumah pelacuran yang menjajakan dagangannya kepada para tamu. Maka dari balik penyekat disamping ru¬ang¬an utama rumah makan itupun berku¬mandang suara tetabuhan, suara nyanyian merdu, suara gurauan, suara cawan saling beradu diiringi teriakan girang, gelak ter¬tawa nyaring, ramai sekali suasananya. Namun bagi Kwik Tay lok, dia seolah olah duduk dalam dunia yang lain, walaupun perbuatan semacam itu sesungguhnya me¬rupakan perbuatan yang paling menarik perhatiannya, tapi sekarang, kesemuanya itu terasa sama se¬kali tak ada artinya lagi. Tanpa Yan Jit di sini, ibarat sayur tanpa garam, sama sekali hambar rasanya. Ia menghela napas dan pelan pelan me¬menuhi cawan arak sendiri, mendadak ia saksi¬kan ada lima enam orang nona cilik yang can¬tik cantik sedang mengerumuni seorang lelaki berbaju perlente yang naik ke atas loteng sambil tertawa terbahak bahak. Jangankan pelayan rumah makan itu, bahkan Kwik Tay lok sendiripun dapat men¬duga kalau lelaki perlente yang besar lagak¬nya ini pastilah seorang yang royal dan kaya raya. Tak tahan ia memandangnya beberapa kejap lebih lama, tapi begitu memandang orang itu, hampir saja teko arak yang berada di ta¬ngannya terjatuh ke tanah. Ternyata tamu perlente yang kaya raya itu adalah seorang berwajah bopeng, mala¬han dia tak lain adalah yang dijumpainya sebagai peminta minta di tepi telaga tadi. Sore tadi masih seorang peminta minta, malamnya telah menjadi seorang cukong, perubahan ini benar-benar sangat menyolok sekali. Tapi, bagaimanapun ia berubah sendiri, sekalipun ia berubah menjadi abu, dalam seki¬las pandangan saja Kwik Tay lok dapat mengenalinya kembali . . . . Ya, siapa yang suruh mukanya terdapat begitu banyak bopeng yang menyolok. Kwik Tay lok hanya memandang dua ke¬jap lalu segera melengos untuk memandang papan nama di luar jendela sana . Kali ini dia bertekad untuk menahan diri dan tidak mela¬kukan segala sesuatu tindakan secara gegabah. Sekarang, bila dia menghampirinya, mencengkeram si bopeng itu dan bertanya apa se¬babnya dia menghadiahkan mutiara kepada Sui Loan kim, kemudian bertanya apakah ia tahu akan jejak Yan Jit, orang lain pasti akan menyangka dia adalah seorang yang sinting. Tentu saja si bopeng itu dapat menjawab tidak tahu, bahkan bisa jadi akan mencuci tangannya bersih bersih. Kini si bopeng sudah masuk ke ruang utama. Nona-nona kecil yang datang bersama¬nyapun jelas bukan gadis dari keluarga baik, be¬lum lama mereka duduk, dari balik ruang sana sudah bergema panggilan-panggilan yang mesrah dan mendirikan bulu roma. Anehnya, justru di dunia ini seolah-olah terdapat banyak sekali lelaki yang suka akan panggilan-panggilan seperti itu. Berbicara terus terang, sesungguhnya Kwik Tay lok juga senang sekali dengan gaya kehidupan seperti itu, tapi entah me¬ngapa, bulu kuduknya pada bangun berdiri setelah mendengar perkataan itu kini. Seseorang apakah akan terjadi perubahan lantaran cinta, kunci salahnya bukan terle¬tak pada dia itu laki-laki, atau perempuan, sebaliknya lantaran tulus atau tidakkah cinta mereka, dalam atau tidak cinta mereka ber¬dua. Suasana di atas loteng rumah makan itu ramai sekali. Kembali Kwik Tay lok memesan sepoci arak, menambah beberapa macam sayur dan menyiapkan diri untuk melangsungkan per¬tarungan jarak panjang, sekalipun si bopeng akan berada di situ sampai pagi, diapun akan menunggu sampai pagi pula. Siapa tahu, dengan cepat si bopeng telah berjalan keluar dalam keadaan mabuk he¬bat, dibimbing oleh seorang gadis berusia tujuh delapan belas tahunan, ia bertanya kepada, sang pelayan dimana tempat untuk cuci tangan.... Ternyata ia terlalu banyak minum arak, sekarang lagi mencari sebuah jalan keluar. Kwik Tay lok masih tetap bersabar untuk menyaksikan dia turun lagi dari loteng, na¬mun setelah di tunggu tunggu setengah harian lamanya belum nampak juga ia naik lagi ke atas loteng. "Jangan-jangan dia telah mengetahui kalau aku berada di sini, maka mengguna¬kan alasan hendak membuang air kecil, ia telah melolos¬kan diri dari sini?" Akhirnya Kwik Tay lok tak kuasa mena¬han diri lagi, ia bersiap untuk melakukan pengejaran. Tapi pada saat itulah, mendadak ekor matanya menangkap seseorang sedang berjalan di seberang jalan sana dengan kepala tertunduk, ternyata dia adalah si bopeng. Betul juga, rupanya dia hendak meman¬faatkan kesempatan baik itu untuk melari¬kan diri. Kwik Tay lok menjadi sangat gelisah, tanpa berpikir panjang lagi, ia melompat keluar lewat daun jendela, Para tamu yang berada dalam ruangan rumah makan itu menjadi gempar, mereka me¬ngira ada orang hendak bunuh diri de¬ngan menceburkan diri dari atas loteng. Si bopeng itu berpaling dan mengerling se kejap ke arahnya, kemudian tubuhnya me¬nyelinap ke depan dan tiba tiba menerobos masuk ke dalam sebuah warung penjual ba¬han makan¬an yang berada di depan sana . Di depan pintu warung tadi tertumpuk berkarung-karung gandum, berkeranjang keranjang beras serta bahan makanan lainnya, selain itu tampak juga seorang bo¬cah nakal yang masih ingusan bermain "Cian cu" di depan pintu wa¬rung. Menanti Kwik Tay lok menyusul kesana, bayangan tubuh dari si bopeng itu sudah lenyap tak berbekas. Waktu itu para pelayan warung dan sang kasir sedang bermain catur dengan asyik¬nya. Kalau dilihat dari sikap mereka yang be¬gitu santai, mustahil orang orang itu me¬nyaksi¬kan ada orang yang baru saja mema¬suki wa¬rung mereka. Jangan kedua orang inipun telah berse¬kongkol dengan si bopeng dan sengaja ber¬main sandiwara untuk diperlihatkan kepada Kwik Tay lok ? Tapi kali ini Kwik Tay lok lebih waspada lagi, ia sama sekali tidak masuk untuk ber¬tanya kepada orang itu, sebaliknya bersem¬bunyi di samping warung dan menggape ke arah bocah yang masih ingusan itu. Sambil mengeluarkan beberapa biji mata uang, katanya sambil tertawa: "Aku ingin bertanya kepadamu, asal kau bersedia menjawab dengan jujur, uang ini ku¬berikan semua kepadamu untuk membeli gula-gula." Bocah cilik itu dengan tangan sebelah memegang mainan, tangan lain menyeka ingus, sepasang matanya memperhatikan uang ditangan pemuda itu tanpa berkedip. Baik itu orang dewasa maupun anak kecil tidak ada berapa orang yang tidak menyukai uang' "Sudah kau dengar dengan jelas ?" ucap Kwik Tay lok, "asal kau bersedia untuk bi¬cara dengan jujur, maka uang ini menjadi milikmu semua." Dengan cepat bocah itu menganggukkan kepalanya berulang kali. "Aku selalu berbicara dengan jujur" kata¬nya, "Ayah memberitahukan kepadaku, bila anak kecil suka berbohong, nanti lidahnya akan menjadi busuk dan bau." Kwik Tay lok segera menepuk nepuk kepalanya sambil tertawa, sahutnya dengan cepat: "Betul, anak yang berterus terang barulah anak baik. Apakah warung penjual bahan makanan ini adalah milikmu ?" Bocah itu segera mengangguk: "Betul, kami menyimpan beras yang sa¬ngat banyak, sekalipun dimakan selama seratus tahun pun tak akan habis." "Bukankah di rumahmu juga terdapat se¬orang bopeng ?" Bocah itu mengerdipkan matanya beru¬lang kali seperti merasa amat keheranan, lalu seru¬nya . "Dari mana kau bisa tahu ?" Kwik Tay lok segera tertawa, untuk mem¬bohongi seorang bocah yang jujur tampak¬nya memang bukan suatu pekerjaan yang sulit. Tapi menyuruh seorang dewasa membo¬hongi seorang anak, bagaimanapun juga merupakan suatu perbuatan yang memalu¬kan. Oleh karena itu dia merasa amat rikuh sendiri, maka setelah menyerahkan uang tadi ke tangan si bocah, dia baru berkata sambil tertawa: "Aku belum pernah menyaksikan seorang yang berwajah bopeng, bersediakah kau untuk mengajakku pergi untuk menjumpai¬nya ?" Bocah itupun tertawa, katanya: "Tentu saja dapat, belum lama berselang dia masuk ke mari, tak lama kemudian dia pasti akan keluar." "Ia pasti akan keluar ?" Bocah itu manggut manggut, sambil me¬mutar biji matanya tiba tiba ia tertawa, kata¬nya: "Sekarang dia sudah keluar." Tangannya memegang uang itu kencang¬-kencang, sebaliknya melemparkan mainan-nya ke tanah, setelah itu ia maju ke depan dan menarik tangan seorang bopeng yang baru ke luar dari ruangan. Dia tak lebih hanya seorang bocah beru¬sia tujuh delapan tahun yang bermuka bopeng. Sekali lagi Kwik Tay lok tertegun, tam¬paknya ia dibuat menangis tak bisa terta¬wapun tak dapat. Bocah itu tertawa amat girang, katanya: "Dia bernama Siau sam cu, yang masih terhitung adikku, sejak kecil mukanya sudah bo¬peng, dalam keluarga kami hanya terda¬pat seorang manusia bermuka bopeng saja." Kwik Tay lok menjadi tertegun, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun dia mem¬balikkan badan dan berlalu dari sana . Terdengar bocah itu sedang berbisik sam¬bil tertawa: "Siau sam cu, bila setiap orang yang ingin menyaksikan wajahmu pada memberi uang kepadaku, dengan segera kita akan menjadi kaya, lain kali kaupun tak usah kuatir tidak mem¬peroleh istri yang cantik lagi, asal kita sudah mempunyai banyak uang, sekalipun mukamu bopeng juga sama saja ada orang yang akan mengawini dirimu ?" Kwik Tay lok merasa yaa mendongkol yaa geli, sekalipun ingin tertawa namun tiada suara yang bisa keluar dari dalam mulutnya. Dia tahu, bocah bocah itu pasti telah menganggap sebagai telur busuk yang pa¬ling tolol. Sebab jalan pikirannya tidak selisih jauh bila dibandingkan dengan jalan pikiran bo¬cah itu. Ketika dia berpaling, tampaknya si pela¬yan dari rumah makan Hwee peng koan tersebut dengan senyum tak senyum se¬dang memperhatikan dirinya. "Rekening Kek koan tadi adalah tiga tahil enam hun, bisa itik panggang yang belum habis dimakan boleh dibungkus dan dibawa pulang," katanya cepat. Sudah barang tentu, sikap seorang pela¬yan rumah makan terhadap tamu yang ka¬bur lewat jendela tak mungkin akan baik. Waktu itu, Kwik Tay lok sama sekali su¬dah tak punya kemarahan lagi, sambil me¬nye¬rahkan uang tersebut kepadanya, tiba tiba ia bertanya lagi: "Kenalkah kau dengan si manusia bermu¬ka bopeng yang besar lagaknya itu....?" Setelah pelayan itu menerima uangnya dan menimang-nimang sebentar, sambil tertawa segera sahutnya: "Walaupun hamba tidak kenal dengan si bopeng itu, tapi beberapa orang nona yang menemaninya hamba kenal, sekarang juga hamba bisa pesankan orang-orang itu untuk menghibur toaya" "Aku hendak mencari si bopeng itu, apakah sebelum ini kau belum pernah meli¬hatnya!" Pelayan itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali, jelas dia merasa sangat ke¬heranan. "Jangan-jangan orang ini mengidap pe¬nyakit aneh." demikian pikirnya. "Nona cakep dia tidak mau, sebaliknya si bopeng yang dicari." Waktu itu, Kwik Tay lok sama sekali su¬dah tak bersemangat lagi untuk banyak berbi¬cara dengannya, dia tahu sekalipun mencari keterangan dari nona nona penghi¬bur itupun belum tentu ia dapat mempero¬leh keterangan yang diinginkan. Tampaknya si manusia bopeng itu benar-benar adalah seorang manusia aneh. Sudah jelas dia sedang berusaha untuk menghindarkan diri dari Kwik Tay lok, tapi justru dia selalu munculkan diri pula di ha¬dapan Kwik Tay lok, kalau dibilang ia bukan sengaja berbuat demikian, mungkinkah di dunia ini benar benar terdapat kejadian yang begini kebetulan ? Bukti menunjukkan bahwa pemilik toko penjual bahan makan dengan suami isteri berdua tadi mempunyai hubungan yang erat de¬ngan dirinya, dari sini dapat diketahui bahwa ia sudah cukup lama tinggal dalam kota ini. Tapi herannya, mengapa orang lain tak pernah berjumpa dengan dirinya ? Tanpa sebab tanpa musabab dia telah membayar sebutir mutiara kepada Sui Loan kim demi Kwik Tay lok, sudah barang tentu mus¬tahil kalau dia sama sekali tidak mempunyai tujuan tertentu. Tapi apakah tujuannya yang sesungguh¬nya? Kenapa dia harus melakukan perbua¬tan-¬perbuatan yang mencengangkan? Sekalipun kau menghancurkan kepala Kwik Tay lok, belum tentu ia bisa menemu¬kan sebab musababnya. . Hampir saja ia putus asa dan bermaksud untuk melepaskan perhatiannya terhadap orang ini. Siapa tahu, pada saat itulah si nona cilik yang memayang si bopeng turun dari loteng tadi telah membalikkan badannya dan ber¬jalan menghampiri Kwik Tay lok, lalu de¬ngan genit melemparkan beberapa kerlingan mata ke arahnya. Pelayan rumah makan memandang seke¬jap ke arahnya, kemudian memandang pula ke arah Kwik Tay lok, setelah itu dia mem¬buat muka setan dan segera kabur dari sana . Orang yang melakukan pekerjaan sema¬cam ini memang jarang yang tak tahu diri, mereka selalu pandai melihat gelagat serta menyesuai¬kan diri. Dalam pada itu, si nona cilik itu telah berjalan ke hadapan Kwik Tay lok, ke¬mudian setelah tertawa manis kata¬nya: "Aku pikir, kau pastilah toa sauya dari keluarga Kwik bukan ?" Kwik Tay lok manggut-manggut, sambil meman¬dang ke arahnya dengan mata me¬lotot, dia berseru : "Apakah si bopeng itu yang memberitahukan namaku kepadamu ?" Nona cilik itupun segera manggut-mang¬gut, sahutnya sambil tersenyum: "Aku bernama Bwe Lan, tinggal dalam rumah pelacuran Liu cun wan, di kemudian hari masih berharap Kwik sauya suka mem¬perhatikan diriku." "Asal kau bisa membantuku untuk mene¬mukan si bopeng tersebut, setiap hari aku akan berkunjung ke kamarku." "Sungguh?" seru Bwe Lan sambil menger¬dipkan matanya. "Hanya telur busuk anak kura-kura saja yang tidak memegang teguh perkataannya." Kembali Bwe Lan tertawa, tertawanya semakin manis. "Aku datang mencari Kwik sauya, karena si toaya bopeng memang ada pesan yang me¬nyuruhku untuk menyampaikan kepada sauya" "Apa yang dia katakan ?" "Ia bilang kentongan ketiga malam nanti dia akan menantikan kedatanganmu di kui Liong ong bio di sebelah timur telaga Tay beng ou, dia bilang pula . . ." "Dia masih bilang apa lagi ?" tanya Kwik Tay lok dengan cemas. Setelah ragu-ragu sejenak, akhirnya Bwe Lan berkata: "Ia masih bilang, bila kau tak punya ke¬beranian untuk pergi kesanapun tak jadi soal" Tiba-tiba ia tersenyum, sahutnya: "Sekarang Kwik sauya sudah dapat me¬nemukan dirinya, tapi ingat apa yang Kwik sauya katakan harus dipegang teguh . . . . kalau seorang lelaki menjadi telur busuk, oh, pasti tak sedap rasanya." Akhirnya perempuan yang berdandan se¬bagai siluman cilik itu telah pergi mening-gal¬kan tempat itu. Sebelum pergi dia tak lupa meninggalkan alamat rumah pelacuran Liu cun kwan kepada Kwik Tay lok. Sekarang Kwik Tay lok baru sadar, lagi-lagi dia telah salah berbicara . . . . . kenapa ia tak dapat menahan diri beberapa waktu lagi, menunggu siluman itu menyampaikan pesan dulu dari si bopeng ? Kenapa dia selalu mendatangkan pelbagai kesulitan bagi diri sendiri tanpa disadari sama sekali ? Tapi si orang bermuka bopeng itu jauh le¬bih membingungkan lagi.. Sudah jelas dia sedang berusaha untuk menghindari Kwik Tay lok, tapi sekarang ia justru mengajak Kwik Tay lok untuk ber-temu. Apakah hal inipun merupakan suatu ren¬cana busuk untuk menjebaknya? Apakah dia telah mempersiapkan jebakan disekitar kuil Liong ong bio dan menunggu Kwik Tay lok masuk jebakan? Walaupun dia seperti banyak mengetahui persoalan tentang Kwik Tay lok, namun se¬belum itu Kwik Tay lok hampir tak pernah bertemu dengan orang ini, sudah barang tentu diantara merekapun tak bisa dibilang ada dendam atau budi. Ia telah membuang banyak pikiran, ba¬nyak tenaga dan menghamburkan begitu banyak uang sebenarnya apakah maksud serta tujuannya? Sambil menghela napas panjang, Kwik Tay lok bergumam: "Diantara sepuluh orang manusia bermu¬ka bopeng, sembilan diantaranya berwatak aneh, tampaknya ucapan ini sedikitpun tak salah" Kuil raja naga. Tampaknya, di setiap tempat yang ada airnya pasti terdapat sebuah kuil raja naga. Liong ong bio memang seperti kuil dewa tanah, ibaratnya telinga bagi orang tuli, hanya suatu tempat tujuan belaka, di sana tiada tempat untuk pasang hio, juga tiada tosu atau hwesio. Demikian pula dengan Liong ong bio. Kwik Tay lok datang dengan menunggang kereta keledai, sebab dia tidak kenal jalan, lagi pula ingin mengirit tenaga sehingga bisa memiliki kekuatan yang tangguh untuk meng¬hadapi si orang bermuka bopeng itu. Si kakek kusir kereta adalah seorang ka¬kek yang rambutnya telah beruban semua. Sebenarnya Kwik Tay lok tidak ingin naik kereta, apa mau dikata setelah malam tiba kereta yang lain enggan mendatangi kuil Liong ong bio yang letaknya terpencil. Jalannya menuju ke tempat itu memang bukan suatu jalanan yang baik untuk dile¬wati apalagi bila malam tiba, tiada lampu yang me¬nerangi tempat itu, keadaan gelap gulita dan sangat mengerikan. Kakek si kusir kereta itu mengantuk se¬panjang jalan, tiba di sana mendadak ia menarik tali les keledainya dan berkata seraya berpaling. "Bila berjalan lebih ke depan, kau akan tiba di kuil Liong ong bio, lebih baik berja¬lanlah sendiri kesana." Tak tahan Kwik Tay lok segera bertanya: "Kenapa kau tidak mengantar aku sampai ke depan pintu ?" Tiba tiba kakek bungkuk itu tertawa: "Sebab aku masih ingin hidup barang dua tahun lagi." Malam amat hening, senyumannya itu ke¬lihatan agak menyeramkan bagi orang yang memandangnya. Dengan kening berkerut Kwik Tay lok segera menegur: "Memangnya setelah kau mengantar aku sampai di sini, maka aku tak bisa hidup le¬bih lanjut?" Kakek bungkuk itu tertawa semakin mis¬terius, katanya hambar: "Setiap orang yang tiba di sini malam ini mungkin akan sulit untuk pulang dalam keadaan hidup, kuanjurkan kepadamu lebih baik jangan kesana . . . . ." "Setiap orang boleh berkunjung ke kuil liong ong bio, kenapa aku tak boleh ke¬sana?" "Sebab malam ini jauh berbeda dengan malam malam sebelumnya." jawab kakek bungkuk itu sambil tertawa seram. "Bagaimana bedanya?" Tiba tiba kakek bungkuk itu tidak berbi¬cara lagi, sepasang matanya dengan melo¬tot besar sedang memandang ke belakang punggung Kwik Tay lok, seakan akan ia melihat ada se¬tan yang muncul secara tiba tiba. Tanpa terasa Kwik Tay lok merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri, tidak tahan diapun turut berpaling ke belakang. Malam itu sangat hening dan tak tampak seorang manusiapun, pohon liu yang ber¬goyang terhembus angin, dalam kegelapan malam mirip sesosok iblis yang sedang me¬mentangkan cakarnya. Sekalipun demikian, bukan berarti baya¬ngan itu benar benar mirip dengan iblis yang mementangkan cakar, sehingga tidak banyak yang dibuat ketakutan. Kwik Tay lok segera tertawa geli, kata¬nya: "Kau boleh menghantar aku ke situ de¬ngan hati tenang, asal kau mati, aku .......” Mendadak ia menghentikan ucapannya secara tiba tiba. Sebab ketika dia memalingkan kepalanya, ternyata si kakek bungkuk itu sudah lenyap tak berbekas. Dikejauhan sanapun hanya kegelapan yang nampak, bukan saja tidak nampak ba¬yangan manusia, sekalipun benar-benar ada setan juga sama saja tak terlihat. Kenapa kakek bungkuk itu lenyap secara tiba tiba? Apakah dia telah dilarikan oleh setan bengis yang bersembunyi di balik ke¬gelapan? Segulung angin berhembus lewat, tak tahan Kwik Tay lok bergidik dan bersin berulang kali gumamnya kemudian: "Baik, kau tak mau pergi, biar aku sendiri yang menjalankan kereta ini ke sana ." Bila seseorang berada dalam kegelapan seorang diri, sekalipun hanya mendengar perka¬taan sendiri, paling tidak nyalinya akan lebih besar sedikit. Dia melompat naik ke atas tempat duduk kusir, mengambil cambuk dan melarikan kele¬dai itu. Siapa tahu seakan-akan ke em¬pat buah kaki keledai itu sudah memantek di atas tanah saja, sampai matipun ia tak mau maju barang selangkahpun jua. Apakah keledai itu sudah menduga firasat jelek, yang menunjukkan ka¬lau di depan sana benar-benar terdapat iblis buas yang siap menerkam mangsanya. Ditempat seperti ini, dalam suasana seperti ini, jangankan setan bengis bisa makan orang, orangpun bisa makan orang. Padahal Kwik Tay lok adalah orang asing yang tak punya sanak keluarga di sana , sekali pun dilahap orang sampai habispun tiada tempat untuk mengadukan peristiwa itu, malah jenasahpun entah dikubur dima¬na. Bila orang lain yang harus menghadapi keadaan seperti ini, cara yang terbaik adalah membalikkan badan dan mengambil langkah seribu, kalau bukan mencari tempat untuk minum barang dua cawan arak ten¬tulah mencari pem¬baringan dan tidur yang nyenyak. Sayang sekali, justru Kwik Tay lok memiliki watak seperti keledai, bila kau menginginkan dia mundur maka dia justru maju ke depan. Sekalipun di depan sana terdapat sarang naga gua harimau, diapun akan mencoba untuk menembusinya. "Kalau toh kau enggan berjalan ke muka, aku juga punya kaki, memangnya aku tak bisa berjalan sendiri ?" Dengan cepat dia melompat turun dari atas kereta dan maju ke muka dengan lang¬kah lebar. "Benarkah kuil Liong ong bio terletak di depan sana ?" Pertanyaan itu masih merupakan sebuah tanda tanya besar, ia tidak tahu juga tidak melihat bayangan rumah. Di depan sana hanya tanah luas kosong tiada sesuatu yang terlihat, bila orang hen¬dak melakukan pertemuan, sudah pasti mereka tak akan melakukannya ditempat seperti ini. Kecuali dia memang memiliki rencana busuk yang takut diketahui orang lain. Sambil membungkukkan dada dan ter¬tawa dingin Kwik Tay lok maju ke depan, tiba-tiba ia mendengar serentetan suara yang sedang mengeluh sedih. Baru saja dia membalikkan kepalanya, tampak keledai itu sedang meringkik keras, seakan-akan bertemu dengan setan saja, entah sejak kapan dia telah membalikkan tubuhnya dan kabur menuju ke arah dimana ia datang tadi. Kwik Tay lok segera tertawa dingin, gumamnya: "Aku toh bukan keledai, kau bisa mem¬buatnya takut, bukan berarti kau bisa mem¬buat akupun menjadi takut." Tapi, menunggu dan berpaling, toh hati¬nya dibuat terperanjat juga. Dari balik kegelapan sana , entah sejak kapan telah bertambah dengan sebuah len¬tera di tambah bayangan sesosok manusia. Ternyata lentera itu berwarna hijau, caha¬ya lampu yang berwarna hijau menyoroti tubuh dan kaki orang itu namun tidak ber¬hasil me¬nyoroti wajahnya. Di atas kepalanya mengenakan sebuah topi lebar yang besar dan luas, topi itu dike¬nakan rendah rendah sehingga hampir saja menutupi seluruh wajahnya. Tapi sekarang, Kwik Tay lok sudah meli¬hat kalau orang itu bukan si orang berwajah bopeng. Sebab orang ini hanya punya sebuah kaki ........ kaki kirinya terpapas kutung sebatas lutut dan diganti dengan sebuah kaki kayu. Walaupun demikian, ketika datang tadi ternyata sama sekali tidak menimbulkan suara apa-apa. Dia berdiri dikejauhan sana , tangan yang satu memegang lentera sedangkan tangan yang lain membawa sebuah tongkat ber¬warna hitam, entah terbuat dari kayu atau¬kah terbuat dari besi. Walaupun dia hanya mempunyai sebuah kaki, tapi berdiri di situ dengan tenang dan tegap bagaikan sebuah bukit Thay san. Ditengah malam buta yang sepi dan tiada sesosok bayangan manusiapun, tiba tiba mun¬cul seorang manusia seperti itu, siapa¬pun pasti akan merasa terkejut sekali sete¬lah melihatnya. Tapi bukan saja Kwik Tay lok dapat me¬nenangkan hatinya dengan cepat, malahan dia bisa manggut manggut pula ke arah orang itu sambil tersenyum lebar. Asal orang lain belum sempat mencelakai kepada siapapun, dia akan tetap bersikap bersahabat. Ternyata si orang berkaki tunggal itupun manggut manggut kepadanya. Kwik Tay lok segera memperkenalkan diri, katanya: "Aku she Kwik bernama Kwik Tay lok, Tay yang berarti besar, lok yang berarti jalan ar¬tinya si orang she Kwik yang berjalan besar" "Aku toh tak ingin mengetahui siapa na¬mamu" ucap si orang berkaki tunggal di¬ngin. Kwik Tay lok segera tertawa. "Tapi kita dapat bersua muka ditempat seperti ini, berarti kita masih mempunyai jodoh" ucapnya. "Darimana kau bisa tahu kalau aku bertemu denganmu hanya karena kebetulan saja?" "Memangnya bukan?" "'BUKAN !" "Memangnya kau khusus datang kemari untuk mencari aku?" "Benar." " Ada urusan apa mencari aku ?" "Suruh kau pulang." "Pulang ? Pulang ke mana?" "Dari mana kau datang, kesana pula kau pergi !" Kwik Tay lok segera mengerdipkan mata¬nya berulang kali, katanya: "Apakah kau tidak menginginkan aku pergi ke kuil Liong ong bio ?" "Benar !" "Kenapa ?" "Sebab tempat itu bukan tempat yang baik, barang siapa berani kesana pasti akan tertimpa bencana." Kwik Tay lok segera tertawa. "Terima kasih banyak atas petunjukmu, cuma saja kita tak pernah saling kenal, kena¬pa kau menaruh perhatian yang begitu serius kepadaku ?" "Jadi kau bersikap keras hendak pergi ?" "Benar !" "Baik, robohkan aku lebih dulu, kemudi¬an melangkahlah dari atas badanku ....." Kwik Tay lok menghela napas panjang setelah mendengar perkataan itu, serunya kemudian "Oh ..... rupanya kau memang sengaja mencari aku untuk diajak berkelahi ....." Orang berkaki tunggal itu tidak berbica¬ra lagi, mendadak dia mengayunkan tangan¬nya, lampu lentera yang berada di tangan¬nya itu segera meluncur ke tengah udara dan persis menancap di atas sebatang po¬hon itu yang berada di tepi jalan. Kwik Tay lok segera berseru tertahan, katanya: "Benar-benar suatu kepandaian yang sa¬ngat lihay, dengan mengandalkan kepan¬daian tersebut, belum tentu aku dapat me¬ngalahkan dirimu" "Bila kau ingin kembali sekarang, masih belum terlambat." Kembali Kwik Tay lok tertawa, katanya: "Justru karena aku belum tentu bisa me¬robohkan kau maka aku baru akan menghajar¬mu, bila aku sudah mempunyai keyakinan untuk menang, apa menariknya suatu pertaru¬ngan ?" Pelan pelan orang berkaki tunggal itu me¬ngangguk, katanya: "Baik, kau memang punya keberanian, aku tak pernah in membunuh orang yang mempunyai keberanian, paling banter cuma sepasang kaki¬nya saja yang akan ku peng¬gal." "Akupun paling banter hanya bisa me¬ngutungi sebuah kakimu saja, karena kau hanya memiliki sebuah kaki belaka" jawab Kwik Tay¬-lok sambil tertawa. Sebenarnya dia bukan seorang yang menyindir orang, sebetulnya dia tak ingin me¬ngucapkan kata-kata yang mencemooh orang lain. Tapi sekarang ia telah menemu¬kan si bopeng, si bungkuk dan si orang ber¬kaki tunggal ini sebetulnya merupakan suatu komplotan yang telah mempersiapkan jebakan untuk me¬mancingnya masuk pe¬rangkap. Sekarang dia sudah hampir terjatuh, tapi perangkap apakah itu, hingga kini masih belum diketahui. Dalam pertarungan ini, musuh berada da¬lam kegelapan sedang ia berada ditempat yang terang, musuh lebih banyak jumlahnya dari pada ia seorang, bagaimanapun juga, sebenar¬nya hal yang mana merupakan se¬suatu yang sama sekali tak adil. Kesempatan buat Kwik Tay lok memang tidak banyak, sekalipun ia sengaja mengu¬cap¬kan beberapa kata untuk mencemooh dan membangkitkan kemarahan lawan hal tersebut se¬benarnya patut dimaafkan. Paling tidak ia telah memaafkan dirinya sendiri. Betul juga orang berkaki tunggal itu menjadi naik pitam, sambil membentak keras tongkat pendek di tangannya diayun¬kan ke tubuh Kwik Tay lok dengan mem¬bawa desingan angin tajam. Tongkat pendek itu paling banter tiga ¬em¬pat depa panjangnya, jaraknya dengan Kwik Tay lok pun paling banter hanya dua tiga kaki. Tapi begitu tangannya diayunkan, tahu-tahu tongkat pendek itu telah tiba di hada¬pan Kwik Tay lok. Serangan toyanya itu benar benar dilaku¬kan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat. Waktu itu Kwik Tay-lok sama sekali tak bersenjata, pada hakekatnya tak mungkin baginya untuk menangkis atau menahan serangan tersebut, terpaksa ia berkelit ke samping. Tapi orang berkaki tunggal itu telah me¬lancarkan serangkaian serangan berantai yang bertubi tubi, jurus yang satu lebih ce¬pat dari yang lain, sekalipun Kwik Tay lok tidak melihat asal dari ilmu toyanya itu, na¬mun dia tahu ilmu toya yang dipergunakan oleh musuhnya ini pasti mempunyai asal usul yang besar. Diantara sekian banyak jago lihay dalam dunia persilatan, hanya dua macam orang yang menggunakan toya pendek, pertama adalah pengemis sedangkan yang lain adalah hwesio. Kalau pengemis kebanyakan tergabung dalam perkumpulan Kay pang, toya pendek yang mereka pergunakan biasanya dinama¬kan toya Ta kau pang, konon nama ini mu¬lanya berasal dari seorang pangcu she Cia, tapi bagaimana¬kah cerita yang sebenarnya, mungkin tiada seorang yang pernah mela¬kukan penyelidikan secara serius. Itulah sebabnya ilmu toya yang mereka pergunakan disebut ilmu Ta kau pang hoat atau ilmu toya penggebuk anjing, selain he¬bat perubahannya juga rumit jurus se¬rangannya, ti¬dak banyak orang di dunia ini yang benar-benar bisa mempelajari ilmu toya seperti ini.. Jurus serangan yang digunakan orang berkaki tunggal itu bersifat keras dan ganas, di¬antara perubahan jurusnya tidak terdapat per¬ubahan yang terlalu bagus. Betul Kwik Tay lok kurang berpengalam¬an dalam dunia persilatan, namun soal ilmu Ta kau pang hoat sedikit banyak pernah juga mendengar orang lain membicarakannya. Sekarang, ia telah melihat bahwa ilmu toya yang dipergunakan orang berkaki tunggal itu bukan ilmu Ta kau pang hoat, kalau toh bukan ilmu Ta kau pang hoat, berarti pula dia bukan anggota Kay pang. Kwik Tay lok memutar biji matanya beru¬lang kali, tiba-tiba ujarnya sambil tertawa: "Aku sudah tahu siapakah dirimu, kau jangan harap bisa mengelabuhi diriku." Mendadak permainan toya pendek orang berkaki tunggal itu makin melamban, se¬mentara kulit badannya seakan-akan berubah menjadi kaku. Kenapa dia nampak terkejut setelah men¬dengar ucapan itu? Apakah dia sendiripun mempunyai suatu rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain? Atau kuatir bila diketahui jejaknya oleh orang lain . . . . . .? Begitu gerakan tangan dari orang berkaki tunggal itu melambat, gerak serangan dari Kwik Tay lok menjadi bertambah cepat. Sepasang kepalannya dilancarkan men-deru-deru bagaikan deruan angin ken¬cang, dia me¬nerobos ke dalam titik kele¬mahan orang itu membuat permainan toya¬nya sama sekali tak dapat dikembangkan lagi. Pertarungan antara jago jago lihay ibarat nya dua orang ahli catur yang sedang berha¬dapan, asal selangkah membuat ke¬salahan bisa jadi seluruh permainannya akan buyar. Tiba-tiba saja Kwik Tay lok melancarkan tiga buah serangan berantai yang ditujukan ke dada dan lambung orang berkaki tunggal itu, namun menanti orang berkaki tunggal itu menangkis jurus serangannya, tiba tiba dia berganti gerakan dengan mengayunkan tangannya menghantam topi lebar yang dikenakan orang berkaki tunggal itu. Bila dia ingin menghantam kepala orang berkaki tunggal itu, sudah barang tentu hal mana sukar untuk dilakukan. Tapi topi anyaman bambu itu lebar dan besar, apalagi dikala pertarungan sedang ber¬langsung, siapapun tak akan berpikir untuk melindungi topi lebar yang dikena¬kannya itu. Begitu topi lebar tersebut terjatuh, maka tampaklah selembar wajah orang berkaki tunggal itu, dia berwajah pucat dengan kepala yang gundul bersih, di atas kening¬nya terdapat dua belas buah bekas tusukan dupa yang menandakan dirinya sebagai seorang pendeta. Dengan cepat Kwik Tay lok berjumpalit¬an dan mundur sejauh tujuh depa lebih, kemu¬dian serunya dengan suara lantang: "Dugaanku ternyata tidak meleset, kau memang benar-benar seorang hwesio gun¬dul !" Paras muka orang berkaki tunggal itu berubah makin mengenaskan, tiba-tiba ia mendepakkan kakinya berulang kali, toya pendeknya segera melesat ke depan dan menghantam lampu len¬tera yang berada di atas ranting pohon liu itu. Seketika itu juga suasana di sekeliling tempat itu berubah menjadi gelap gulita. Bayangan tubuh orang berkaki tunggal itu berkelebat lewat, tahu tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan sana . Kwik Tay lok yang menyaksikan kejadian itu menjadi agak keheranan, pikirnya: "Heran, menjadi seorang pendeta toh bu¬kan suatu perbuatan yang takut diketahui orang lain, sekalipun diketahui orang juga bukan suatu hal yang luar biasa, mengapa ia justru tampak kaget bercampur gugup, bahkan jauh lebih te¬gang daripada buronan yang berhasil dikenali kembali oleh opas ?" Kwik Tay lok benar benar tidak habis mengerti. Tapi sekarang kesulitan yang dihadapinya sudah cukup banyak, tentu saja ia sudah tidak mempunyai kesempatan dan hasrat untuk me¬mikirkan persoalan orang lain lagi. Sesudah tiada orang yang menghalangi jalan perginya, maka diapun melanjutkan perjalanannya ke depan. Jalan, jalan terus ke depan, mendadak ia saksikan di depan sana terdapat suatu tem¬pat yang memancarkan cahaya lentera. Di bawah sorotan cahaya lentera, tampak¬lah sebuah kuil yang amat kecil sekali ben¬tuknya. Ia sampai juga akhirnya di kuil Liong ong bio. Walaupun sudah sampai di kuil Liong ong bio, tapi siapakah yang memasang lampu dalam kuil itu? Kenapa secara tiba tiba ia menyulut be¬gitu banyak lampu dalam ruang kuil itu ? Si kakek bungkuk, si hwesio berkaki tung¬gal ditambah si manusia muka bopeng, bu¬kan saja cara kerja ketiga orang ini amat misterius, asal-usulnya juga sukar ditebak. Kalau dilihat ilmu silat yang mereka mi¬liki, sudah pasti orang itu merupakan jago kelas satu di dunia persilatan. Tapi justru ia belum pernah mendengar tentang mereka, seakan akan ke tiga orang itu sama sekali tak punya nama. Dalam kuil itu di sulut tujuh buah lentera, namun tak nampak sesosok bayangan manusia¬pun. Kalau toh orang itu menyulut lampu, kalau toh meminta Kwik Tay lok mencarinya kesana, kenapa ia sendiri pergi meninggal¬kan tempat itu .. . . . Kwik Tay lok celingukan kesana kemari seperti seorang pelancong saja, santai sekali gerak geriknya. Padahal rasa tegang yang menyelimuti hatinya benar benar tak terlukiskan dengan kata. Manusia, bermuka bopeng itu dapat ber¬buat demikian kepadanya, sudah barang tentu bukan lantaran cuma bermain main saja. Siapapun tak akan membuang banyak pikiran dan menghamburkan banyak uang hanya bermaksud untuk bergurau saja. Sekarang Kwik Tay lok tinggal menunggu dia menampakkan diri dan menyebutkan asal usul¬nya dan mengutarakan maksud serta tujuannya. Sudah pasti detik-detik itu merupakan saat yang paling berbahaya dan paling mengerikan. Siapa tahu kalau pada saat itulah meru¬pakan detik-detik yang akan menentukan mati hidup Kwik Tay Lok? Menanti memang merupakan suatu keja¬dian yang paling menyiksa, apalagi ia tidak tahu apa yang sedang dinantikan olehnya. Baru saja Kwik Tay lok menghela napas panjang, lentera di atas meja telah padam. Padahal di sana tak ada angin, tapi anehnya kenapa lentera yang sedang bersi¬nar terang bisa padam dengan sendirinya ? Kwik ¬Tay lok mengerutkan dahinya rapat-rapat dan berjalan menghampirinya untuk memeriksa de¬ngan seksama, dengan cepat ia menemukan kalau sebab padamnya len¬tera itu tak lain karena minyak dalam len¬tera itu telah mengering.. Walaupun lentera itu padam sendiri, tapi di bawah meja seakan-akan ada semacam benda yang sedang bergerak tiada hentinya dan gemetar tiada hentinya, Kwik Tay lok segera mundur tiga langkah ke belakang, kemudian, dengan suara dalam, bentaknya. "Siapa di situ ?" Tiada jawaban, namun benda yang ada di bawah meja itu gemetar semakin keras, se¬hingga tirai di belakang meja pun turut ber¬gelom¬bang keras. Tiba-tiba Kwik Tay lok menerjang ke muka dan menyingkap kain tirai tersebut. Tapi dengan cepat ia menjadi tertegun. Ditempat yang begini gelap, ditempat sepi dan terpencil seperti ini. . . . . ternyata di bawah meja sembahyang yang sudah kuno dari kuil Liong ong bio yang misterius, ter¬dapat seorang nona yang berusia enam atau tujuh belas tahun yang cantik jelita. Gara gara untuk sampai di situ, entah berapa banyak manusia aneh dan kejadian aneh yang telah dijumpai Kwik Tay lok, bahkan hampir saja dia pertaruhkan selem¬bar jiwanya. Andaikata di bawah meja itu tersembunyi suatu jebakan yang bagaimanapun bahaya dan mengerikannya, dia pasti tak akan merasa ke¬heranan. Tapi, mimpipun dia tak mengira kalau orang yang dijumpainya ternyata adalah seo¬rang nona cilik. Nona itu tampak begitu kecil dan ramping, begitu mengenaskan, pakaian yang dike¬na¬kan amat tipis dan minim. Sekujur tubuhnya gemetar keras, entah karena kedinginan atau karena ketakutan. Menyaksikan kemunculan Kwik Tay lok dia gemetar makin keras lagi, sepasang tangan nya melindungi dada sendiri dan menyusut¬kan tubuhnya menjadi satu, sepasang ma¬tanya yang jeli memancarkan sinar kaget, takut dan mohon kasihan, dengan susah payah dia mengucapkan beberapa patah kata: "Kumohon kepadamu, ampunilah aku...?" Kwik Tay lok masih berdiri tertegun di sana , entah lewat berapa lama kemudian dia baru bisa berbicara lagi. "Siapa kau? Kenapa datang ke tempat ini?" Nona cilik itu pucat pias seperti mayat karena ketakutan, katanya dengan suara geme¬tar: "Kumohon kepadamu. . . .. . ampunilah aku . . ." Jelas nona itu dibikin ketakutan setengah mati sehingga sukmapun serasa melayang meninggalkan raganya, kecuali dua kata tadi, dia sudah tak dapat mengucapkan kata kata lain. Kwik Tay lok menghela napas panjang: "'kau tak usah memohon kepadaku, aku bukan datang kemari bukan untuk mencela¬kai dirimu." Nona cilik itu segera melotot ke arahnya, lewat lama kemudian pelan pelan dia baru sa¬dar kembali, ujarnya: "Apakah kau . . . kau bukan orang itu?" "Siapa maksudmu ?" "Orang yang membelenggu aku di sini ?" "Tentu saja bukan." jawab Kwik Tay lok sambil tertawa getir. "Masa siapa yang mem¬belenggu dirimu ditempat inipun tidak kau ketahui ?" "Aku. . aku sama sekali tidak meli¬hat wajahnya." sahut nona kecil itu sambil menggigit bibir. "Lantas, bagaimana kau bisa sampai di sini?" Sepasang mata nona kecil itu berubah menjadi merah, seakan akan tiap saat ke¬mungkinan besar akan menangis. Buru-buru Kwik Tay lok berkata lagi: "Aku toh sudah bilang, tak nanti akan ku usik dirimu, maka sekarang kaupun tidak usah takut lagi, ada persoalan, dibicarakan pelan pelan juga tak menjadi soal." Kalau dia tidak berusaha untuk menghibur masih mendingan, begitu ucapan tersebut diutarakan, kontan saja nona cilik itu menutup wajahnya dan menangis tersedu sedu. Kwik Tay lok menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bila ingin membuat nona cilik yang beru¬sia enam atau tujuh belas tahun menangis tersedu sedu, setiap apapun bisa melaku¬kannya dengan segera. Tapi bila menyuruh dia jangan menangis, maka hal ini hanya bisa dilakukan oleh lelaki yang berpengalaman saja. Dalam bidang ini, pengalaman dari Kwik Tay lok tidak termasuk matang. Oleh sebab itu dia hanya bisa mengawasi¬nya dari samping dengan wajah ter¬mangu ma¬ngu. Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya nona itu menghentikan juga isak tangisnya. Kwik Tay lok segera menghembuskan na¬pas lega, katanya dengan suara yang lem¬but: "Masa kau sendiripun tak tahu bagaimana ceritanya sehingga kau bisa sampai di sini?" Nona cilik itu mash menutupi wajahnya rapat rapat, katanya kemudian dengan lirih: "Aku telah tertidur nyenyak, ketika men¬dusin, secara tiba-tiba tahu tahu aku telah berada di sini !" “Setelah kau sadar kembali, apakah di tempat ini tiada orang lain ?" "Bukan saja tak ada orang, bahkan setitik cahaya lenterapun tak ada . . . . ." "Jadi kau yang telah memasang semua lampu di sini ?" "Tempat ini mana gelap, dinginnya sete¬ngah mati, aku benar benar sangat takut, un¬tung saja di atas meja kutemukan batu api...." Di atas meja dekat lentera, memang benar-benar terdapat batu api. "Oleh karena itu, kaupun menyulut se¬mua lampu yang berada di sini?" tanya Kwik Tay lok. Nona cilik itu manggut manggut. Akhirnya Kwik Tay lok berhasil juga me¬mahami akan satu hal, tapi tak tahan dia bertanya lagi: "Tadi, di sini kan tak ada seorang manusia pun, kenapa kau tidak menggunakan ke¬sempatan itu untuk melarikan diri?" Sebenarnya aku memang ingin melarikan diri, tapi baru melangkah keluar dari pintu kulihat suasana di luar sana gelap dan di¬ngin, aku. . aku. . . selangkah pun aku tak berani melangkah keluar !" Sampai kini, tubuhnya masih gemetar ke¬ras, namun ucapannya toh bisa juga dide¬ngar dengan jelas. Seorang gadis pingitan yang belum per¬nah keluar rumah, tiba tiba menemukan tubuhnya berada dalam sebuah kuil bobrok setelah sadar dari tidurnya, belum menjadi gila pun karena ketakutan sudah termasuk suatu kejadian yang aneh. Kwik Tay lok memperhatikan wajahnya dengan sorot mata yang penuh kasih sayang. Walaupun tangannya masih menutupi wajahnya, namun matanya sedang diam diam mengintip wajah Kwik Tay lok lewat celah celah jari tangannya. Tampaknya Kwik Tay lok tidak mirip de¬ngan tampang seorang manusia yang jahat ...... bukan cuma tidak mirip, dia memang bukan. Sebenarnya dia ingin membimbing gadis itu bangun dari kolong meja, tapi baru saja tangannya dijulurkan, dengan cepat dia te¬lah menariknya kembali. Sekalipun wajahnya tampak lemah lembut namun kematangan tubuhnya ternyata cu¬kup menggiurkan hati orang. Pakaian yang dikenakan sebenarnya me¬mang amat minim sekali hingga tampaknya mengenaskan. Apalagi tangannya digunakan untuk me¬nutupi wajah sendiri, sudah barang tentu dia tak dapat menutupi bagian tubuh lainnya lagi. Cahaya lampu masih bersinar dengan amat jelas. Bukan saja Kwik Tay lok tak berani me¬ngulurkan tangannya, memandang sekejap ke arahnyapun tak berani Pada saat itulah, lentera yang lain tiba-tiba menjadi padam. Lentera yang ketiga padam lebih cepat lagi, agaknya minyak yang ada dalam len¬tera tersebut sudah habis semua. Dalam waktu singkat, tujuh buah lentera sudah padam semua. Nona cilik itu menjerit kaget, kemudian menubruk ke dalam pelukan Kwik Tay lok. Dalam kegelapan, tiba tiba si nona cantik yang berbaju minim itu menubruk ke dalam pelukan Kwik Tay lok, kejadian ini segera membuat deburan jantungnya dua kali lipat lebih cepat. Dengan cepat dia memperingatkan kepada diri sendiri: "Kau adalah manusia, bukan binatang, jangan sekali kau memancing dalam air ke¬ruh, jangan sekali kali kau lakukan perbua¬tan itu . . . .” "Bukan cuma tak boleh dilakukan, untuk dipikirkan saja tak boleh, kalau tidak bukan saja kau akan malu terhadap diri sendiri, juga malu terhadap Yan Jit!" Dalam hatinya dia berusaha keras untuk memperingatkan diri sendiri, sambil selalu pula mengendalikan diri, tapi banyak bagian tubuh seorang manusia yang tak mungkin bisa diken¬dalikan semua dengan sebaik-ba¬iknya. Salah satu diantaranya adalah hidung. Bau harum gadis perawan yang aneh dan khas serta bau harum rambut yang terhem¬bus lewat, mengikuti dengusan napasnya menerobos masuk ke dalam hatinya. Ini ditambah pula dengan tubuh yang lembut, halus dan hangat yang berada dalam pelukannya apa lagi di ruangan yang gelap gu¬lita seperti itu, betul-betul men¬datangkan su¬atu perasaan yang aneh sekali. Jangan manfaatkan kesempatan di kamar gelap, ucapan ini kedengarannya memang amat sederhana, namun dalam kenyataan¬nya hanya orang yang pernah mengalami keadaan seperti itu saja yang mengetahui bahwa keadaan terse¬but sebetulnya tidak mudah. Kwik Tay lok bukan seorang nabi, bukan seorang dewa, kalau dibilang dia sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan ini boleh dibilang bohong. Tapi ada suatu ada kekuatan yang jauh lebih besar lagi yang membuat dia mampu untuk mengendalikan diri. Kekuatan tersebut bukan ajaran agama adat atau kesopanan, juga bukan lain lainnya, melainkan rasa cintanya yang tebal dan mendalam terhadap Yan-Jit. . Dia sama sekali tidak mendorong tubuh nona cilik itu. Dia tidak tega berbuat demikian. Nona cilik itu melingkar didalam pelukan¬nya, seperti seekor burung dara yang baru saja mendapat kekagetan yang hebat, ke¬mudi¬an menemukan suatu tempat yang aman. Dengan halus Kwik Tay lok merangkul ba¬hunya, lalu berkata dengan suara lembut: "Kau tak usah takut, mari ku antar kau pulang ke rumah." "Sungguh ?" "Tentu saja sungguh, bahkan sekarang juga aku mau mengantar kau pulang." "Tapi . . . . ditengah malam buta begini kau datang kemari sudah pasti ada urusan penting yang hendak dikerjakan, mana bo¬leh kau kesampingkan persoalanmu dan malahan hendak mengantarku pulang!" Diam-diam Kwik Tay lok menghela napas panjang. Bukan suatu yang gampang baginya un¬tuk mencapai tempat tersebut, bila ia disu¬ruh berlalu dengan begitu saja, sebetulnya dia merasa sangat tidak rela. Siapa tahu kalau si orang bermuka bopeng itu akan datang, setiap waktu, siapa tahu ka¬lau setiap saat dia bakal memperoleh kabar berita dari Yan Jit. Tapi sekarang, tampaknya dia sudah tidak mempunyai pilihan lain lagi. Ditepuknya bahu nona cilik itu, kemudian ujarnya: "Sekarang fajar sudah hampir menying¬sing bila orang tuamu mengetahui kalau kau lenyap, hati mereka sudah pasti akan sa¬ngat cemas. Bila orang lain tahu kalau se¬malaman kau ti¬dak pulang, entah berapa banyak kata iseng yang bakal mereka lon¬tarkan, sekarang usiamu masih kecil, mung¬kin belum kau ketahui sam¬pai dimanakah mengerikannya kata kata iseng tersebut, tapi aku tahu dengan jelas." Kata kata iseng macam begitu selain da¬pat merusak nama baik seseorang, bahkan akan menghancurkan pula seluruh kehi¬dupannya. Berpikir sampai di sini, Kwik Tay lok se¬makin bulatkan tekadnya, dengan cepat dia berseru: "Oleh sebab itu, sekarang juga aku harus menghantarkanmu pulang ke rumah . . . ." Mendadak nona cilik itu memeluknya erat-erat, sampai lewat lama kemudian, dia baru berbisik lembut: "Kau sungguh baik sekali, belum pernah kujumpai orang sebaik dirimu itu !" "Rumahku berada didalam gang kecil di depan sana , belok ke kanan rumah ketiga, di depan pintu yang tumbuh pohon liunya itu." Gang itu amat tenang dan sepi. .. Sinar terang baru saja muncul di ufuk se¬belah timur dan menyinari embun yang berada di atas ubin hijau. Kwik Tay lok berbisik lembut: "Mereka pasti belum tahu kalau kau telah lenyap, dapatkah kau menyusup masuk ke dalam sepengetahuan mereka ?" Nona cilik itu manggut manggut. "Aku bisa masuk lewat pintu belakang, kamarku beradu di sebelah sana . . . . ." katanya. "Lebih baik kau tidur di kamar lain saja, lebih baik lagi jika mencari seorang pem¬bantu setengah umur untuk menemani kau tidur." Setelah berpikir sebentar, dia menambah¬kan: "Dua malam berikutnya bisa saja aku me¬nengokmu dari sekitar tempat ini, siapa tahu akupun bisa membantumu untuk me¬nyelidiki siapa gerangan orang yang telah melarikan di¬rimu itu." Sinar mata hari fajar yang memancar dari ufuk timur, sudah menyinari butiran keri¬ngat-keringat di atas wajahnya, butiran keringat itu berkilat seperti butiran mutiara. Di atas wajahnyapun seakan akan tampak cahaya berkilauan. Nona cilik itu mendongakkan kepalanya memperhatikan wajahnya, tiba tiba ia ber¬kata: "Kenapa kau tidak bertanya siapa nama¬ku? Apakah kau sudah tak akan datang lagi untuk menengok diriku?" Kwik Tay lok tertawa paksa, sahutnya dengan lembut: "Aku hanya seorang gelandangan, lagi pula seorang yang sangat berbahaya, bila kau sampai melakukan hubungan denganku, sudah pasti banyak orang yang akan mem¬bicarakan kita berdua." "Aku tidak takut" seru nona cilik itu cepat. "Tapi aku takut." "Apa yang ditakuti?" seru si nona sambil mengedipkan matanya berulang kali. Kwik Tay lok tidak menjawab, kembali dia menepuk bahunya sembari berkata: "Selanjutnya kau bakal tahu apa yang se¬sungguhnya kutakuti, sekarang cepat-ce¬patlah kembali ke kamarmu dan tidur baik-baik, pa¬ling baik lagi bila kau dapat melupa¬kan keja¬dian yang kau alami pada hari ini." Nona cilik itu menundukkan kepalanya rendah-rendah, lewat lama kemudian dia baru berkata lembut: "Setelah keluar dari gang ini, paling baik kalau kau berbelok ke kanan saja." "Mengapa !" Nona cilik itu tidak menjawab pertanyaan¬nya, mendadak ia mendongakkan kepalanya dan berkata sambil tersenyum. "Kau benar-benar seorang yang baik, orang baik selamanya tak pernah kesepian." Fajar telah menyingsing. Fajar dipermu¬laan musim panas terasa amat segar, tapi ke¬tika angin berhembus lewat, maka terasa hawa dingin yang mencekam: Tapi perasaan Kwik Tay lok terasa hangat dan nyaman. Sebab dia tahu bahwa dirinya sama sekali tidak merugikan orang lain, ti¬dak merugikan sahabat-sahabat yang baik kepadanya, juga tidak merugikan diri sendiri. Siapapun itu orangnya, bila ia dapat ber¬buat demikian pula, maka hal tersebut boleh dibilang tidak gampang. Dia mendongakkan kepalanya sambil me¬lemaskan pinggang, kemudian menghem¬buskan napas panjang. "Hari ini benar benar hari yang panjang" Setiap kejadian yang dialaminya hari ini, hampir boleh dibilang semuanya merupakan peristiwa yang sama sekali di luar dugaan. Si manusia bermuka bopeng yang miste¬rius si kakek bungkuk yang tiba tiba lenyap dibalik kegelapan, si hwesio berkaki tunggal yang berilmu tinggi dan mempunyai asal usul yang misterius, serta si nona kecil yang menyenangkan tapi mengenaskan itu. Kehadiran serta kemunculan orang orang itu, boleh dibilang semuanya jauh di luar dugaannya. Diapun telah mengalami banyak mara ba¬haya, menerima banyak kemangkelan dan rasa mendongkol, namun tak setitik berita¬pun ten¬tang Yan Jit yang berhasil diperolehnya. Namun dia sudah mendapatkan suatu ha¬sil yang lumayan. Sekalipun dia tidak mengharapkan balas jasa dari orang lain terhadap perbuatannya yang telah dilakukannya, namun hatinya terasa begitu hangat dan gembira. Orang baik selamanya tak akan kesepian, orang yang berbuat kebajikan akan selalu memperoleh rejeki. "Setelah keluar dari gang ini, lebih baik kau belok ke kanan." Kwik Tay lok tidak mengerti kenapa dia diminta untuk berbuat demikian, tapi dia toh belok juga ke sebelah kanan. Dengan cepat dia menemukan sebuah ke¬jadian yang aneh sekali. Fajar telah menyingsing. Kabut pagi baru saja menguap dan me¬nyelimuti sebuah jalanan yang berbatu. Jalan itu amat sempit. Kwik Tay Iok berjalan maju menuju ke lorong itu dan belok ke kanan, dengan cepat ia mene¬mukan sebuah gedung yang terasa amat dikenal olehnya. Artinya dia pernah berkunjung ke gedung itu. Tapi dalam kota tersebut hampir boleh di¬bilang tidak seorang manusiapun yang dike¬nal, apalagi gedung rumah kediaman yang pernah dikenal olehnya. . Tapi, dengan cepat ia menjadi teringat kembali, rupanya gedung itu tak lain adalah gedung yang diterobosinya ketika sedang me¬ngejar si manusia muka bopeng pagi tadi. Sekarang, didalam gedung itu sudah tidak nampak cahaya lentera lagi. Sang suami yang kurus berwajah kuning itu apakah sedang melakukan pekerjaan yang membuatnya menjadi kurus dan ber¬wajah ke¬kuning kuningan itu? Sebenarnya Kwik Tay lok memang ber¬niat untuk melakukan penggeledahan dalam gedung itu bila malam telah tiba dan men¬coba untuk memeriksa apakah si bopeng akan mun¬cul di situ. Tapi sekarang niat tersebut harus di¬u¬rungkan. Dia maju lagi ke depan, kemudian berbe¬lok kesana. Jalanan dalam lorong itu beralaskan batu hijau yang diatur sangat rapi, kelihatannya jauh lebih bersih dan rapi daripada gang gang yang lainnya. Sekarang fajar te¬lah menyingsing, ternyata dalam gang tersebut masih ada be¬berapa buah lampu yang dipasang. Ketika ia membaca tulisan yang berada diantara dua buah lentera, sepasang mata¬nya segera bersinar terang. "Liu hiang wan." Ternyata tempat tinggal nona Bwe Lan letaknya juga berada didalam lorong terse¬but. Cuma sayang saat ini bukan saat yang paling tepat untuk mencari kesenangan, mungkin saja lengan nona Bwe Lan yang halus masih menjadi alas kepala orang lain. Sekalipun Kwik Tay lok adalah seorang lelaki yang suka ber¬main perempuan, tentu saja dia enggan meru¬sak suasana kegem¬biraan orang lain dalam keadaan seperti ini. Tapi dalam hati kecilnya seakan akan te¬lah timbul suatu perasaan yang istimewa, seakan akan seorang penyair yang tiba-tiba tertarik oleh sepatah kata dalam syairnya. Dia berjalan lebih cepat lagi, lalu berbe¬lok pula ke sebelah kanan. Tempat itu berada di tepi jalan raya, sete¬lah menelusuri jalanan itu sejauh beberapa pu¬luh langkah, dia telah tiba di toko penjual ba¬han makanan tersebut, juga menyaksikan papan nama Hwee peng to yang berada di sebe¬rang jalannya. Di tepi jalan terdapat beberapa buah bangku yang terbuat dari batu, Kwik Tay lok duduk diatasnya dan termenung. Seandainya tempat tinggal dari nona kecil itu disebut sebagai deretan pertama. Kemudian tempat tinggal sepasang suami istri itu dianggap deretan yang kedua. Deretan rumah dari sarang pelacuran Liu-¬hiang wan disebut deretan ke tiga. Selanjutnya warung penjual bahan maka¬nan itu sudah pasti merupakan deretan ke empat. Ke empat deret rumah itu sudah pasti semuanya mempunyai hubungan yang erat dengan si manusia bermuka bopeng itu. Seandainya si manusia yang bermuka bopeng itu tidak menyuruhnya ke kuil Liong ong bio, mana mungkin bisa berjumpa dengan nona cilik itu? Peristiwa ini sebetulnya hanya satu kebe¬tulan? Ataukah memang sengaja diatur demikian? Kenapa nona cilik itu meminta kepadanya lebih baik belok ke kanan setelah keluar dari gang tersebut? Mungkin karena dia mengetahui suatu ra¬hasia yang tidak leluasa untuk diutarakan maka dia baru memberi petunjuk kepadanya? Benarkah ia sengaja bersembunyi di bawah meja, sengaja berbuat sesuatu agar jejak di ketahui oleh Kwik Tay lok? Apakah semua ini peristiwa ini merupakan suatu rencana yang sengaja diatur oleh si bopeng . . . . . . . . Dia berbuat kesemuanya itu Sebetulnya karena dapat dan apa pula tujuan¬nya? Kwik Tay lok segera bangkit berdiri dan sekali lagi berjalan menelusuri semua jalanan yang baru saja dilewatinya. Ternyata ke empat baris rumah itu tak le¬bih membentuk suatu posisi segi empat. Di jalanan kota manapun juga, rumah yang berada pada deretan depan pasti akan saling menempel dan bertolak belakang dengan deretan rumah yang ada di bela¬kangnya. Tapi kenyataannya sekarang, deretan ru¬mah pertama dengan rumah deretan ketiga sa¬ma sekali tidak saling bersinggungan, malahan diantara kedua deret bangunan itu terdapat suatu jarak yang cukup lebar. Demikian pula keadaannya dengan dere¬tan rumah kedua dengan ke empat, dianta¬ranya terdapat suatu jarak yang amat lebar. Atau dengan perkataan lain, dite¬ngah tengah lingkaran rumah yang dikelili¬ngi ke empat deret rumah itu pasti terdapat sebuah tanah kosong yang cukup luas. Mendadak Kwik Tay lok merasakan jan¬tungnya berdebar amat keras. "Ke empat deret rumah itu sengaja diba¬ngun macam ini, apakah dibalik kesemua¬nya itu tidak terdapat sesuatu alasan yang terten¬tu ?" Untuk memperoleh jawaban, hanya ada satu macam cara yang bisa dilakukan. Kwik Tay lok segera melejit ke udara dan melayang naik ke atas atap rumah toko penjual bahan makanan itu. . Bagian depan gedung penjual bahan makanan itu merupakan toko, di belakang¬nya ter¬dapat sebuah halaman. Di kedua belah sisi halaman merupakan deretan kamar, agaknya tempat tidur pemilik to¬ko itu, sedang dibagian belakang adalah gu¬dang tempat menimbun barang. Ke belakang lagi sana , sebenarnya tidak seharusnya ada rumah lainnya, sebab menurut keadaan pada umumnya, tempat itu merupakan bagian dari bangunan rumah pendeta lain. Kini Kwik Tay lok sudah berada di atas rumah bangunan terakhir dari toko penjual bahan makanan itu, benar juga, dia segera menemukan ditengah tengah antara ke em¬pat deret bangunan rumah yang berbentuk segi empat itu, betul-betul masih terdapat gedung lain. Ke empat deret bangunan rumah yang berada di empat penjurunya seakan-akan merupakan dinding pekarangan yang di em¬pat pen¬juru serta mengelilingi gedung tadi, itulah se¬babnya gedung itu tidak mempu¬nyai jalan lewat juga tidak memiliki pintu gerbang. Dikolong langit, mana ada orang yang membangun rumahnya dalam keadaan seperti ini ? Bila gedung ditengah tersebut dilewati maka kita akan sampai ditempat tinggal sepa¬sang suami istri itu, yakni ba¬ngunan rumah yang berada pada deretan kedua. Bilamana tidak diperhatikan dengan sek¬sama, siapapun akan mengira kalau rumah tersebut berhubungan langsung dengan rumah lain, sekalipun ada orang yang ber¬jalan malam lewat di sana , merekapun tak akan menemukan keanehan dari rumah ini. Tapi sekarang, Kwik Tay lok telah mene¬mukannya. Jangan jangan pemilik rumah itu adalah si burik? Untuk membangun rumahnya ditempat semacam ini, tentu saja banyak tenaga yang di butuhkan dan banyak uang yang dihamburkan, tapi apakah tujuannya ? Jangan-jangan dia seperti juga si hwesio berkaki tunggal, mempunyai rahasia yang tak boleh diketahui orang lain ? Ataukah karena dia lagi menghindarkan diri dari pengejaran mu¬suh musuhnya yang tang¬guh, maka terpaksa ia membangun sebuah rumah yang tersembunyi sekali letaknya. ." Gedung itu memang terletak paling tersembunyi, belum pernah ia jumpai ba¬ngunan yang tersembunyi seperti ini, akan tetapi . . . . .mengapa pula mereka biarkan Kwik Tay lok menemukan rahasia ini tanpa sengaja? Kalau ia tidak membocorkan sendiri jejak¬nya, sudah pasti Kwik Tay lok tak akan me¬nemukan tempat ini. Berpikir pulang pergi, Kwik Tay lok me¬rasa makin dipikir persoalan ini bukan saja semakin aneh dan penuh kemisteriusan, lagi pula ruwet sekali ...... Hanya ada satu cara saja untuk mengeta¬hui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Yakni melompat turun ke bawah. Diantara gudang bahan makanan dan gu¬dang tersebut dipisahkan oleh sebuah din¬ding pekarangan yang tinggi, dibalik pekarangan terdapat sebuah kebun bunga yang sempit dan memanjang. Sekarang bunga bunga mekar, akan te¬tapi di fajar itu menyiarkan bau harum yang semerbak. Setelah melewati kebun sempit yang me¬manjang, sampailah dia di sebuah serambi yang panjang, cahaya sang surya di fajar itu menyo¬roti lantai rumah yang bersih tanpa debu. Suasana di sekeliling tempat itu amat sepi, tak kedengaran sedikit suarapun. Bahkan angin pun tak dapat berhembus sampai ke situ. Semua kemurungan, budi dendam, ke¬gembiraan, kesedihan, kemarahan dalam alam dunia seakan-akan sama sekali terpisah dari tempat itu. Hanya manusia yang berperasaan tenang bagaikan air saja yang dapat berdiam di sini, baru pantas untuk mendiami tempat ini. Manusia burik itu bukan manusia sema¬cam itu, jangan jangan Kwik Tay lok salah melihat? Salah berpikir ? Hampir saja dia tak tahan untuk mundur kembali dari sana . Tapi pada saat itulah, dia menyaksikan seseorang berjalan keluar dari ujung seram¬bi itu. Dia adalah seorang gadis yang cantik je¬lita, mengenakan baju berwarna putih, tidak memakai bedak, kakinya hanya berkaos putih tanpa sepatu, seakan akan kuatir kalau langkah kakinya akan mengganggu keheningan ditempat itu. Dia membawa sebuah bokor porselen dan berjalan menelusuri serambi panjang itu tanpa menimbulkan sedikit suarapun. Seandainya ia tidak berpaling secara tiba-tiba dan mengerling sekejap ke arah Kwik Tay lok, hampir saja Kwik Tay lok tidak menge¬nalinya kembali. Ternyata gadis yang halus, berdandan se¬derhana dan lemah lembut ini tak lain Adalah nona Bwee Lan yang dijumpainya dengan dandanan seperti siluman beberapa waktu berselang. Dia hanya berpaling dan memandang se¬kejap ke arahnya, walaupun dengan jelas menjumpai kehadiran Kwik Tay lok di sana , tapi seakan-akan pula tidak melihatnya, kembali kepalanya tertunduk, pula dengan tenangnya melanjutkan perjalanan ke de¬pan. Hampir saja Kwik Tay lok berteriak hen¬dak memanggilnya. Tapi untung saja hal ini segera diurung¬kan, sebab ia tak berani berteriak teriak di tempat ini, kuatir kalau sampai mengganggu kete¬nangan di sana . Dia hanya berdiri tertegun di situ sambil mengawasi tak berkedip. Bwee Lan telah mendorong sebuah pintu dan berjalan masuk, ia tidak berbicara atau¬pun menimbulkan suara apa apa. Gedung itu masih tetap sepi, tidak kede¬ngaran suara, tiada pula sesuatu gerakan apa-apa. Tempat ini sudah jelas merupakan tempat terlarang yang tidak memperkenankan orang lain untuk memasukinya, dengan je¬las Kwik Tay lok berdiri tegak di sana , tapi justru tak ada orang yang memperdulikan¬nya, seakan akan di tempat ia sedang ber¬diri itu tiada kehadiran dirinya, atau seakan-akan dirinya bukan dianggap sebagai manu¬sia. Sesungguhnya siapakah yang berdiam dalam gedung itu ? Apa pula maksud dan tujuan mereka terhadap dirinya ? Kwik Tay lok termangu mangu untuk be¬berapa saat lamanya, mendadak ia maju ke depan lalu menelusuri serambi tersebut dengan langkah lebar. Perduli manusia kek, setan kek yang menghuni dalam gedung itu, pokoknya dia harus memeriksanya sendiri. Tapi baru selangkah dia maju, cepat cepat kakinya ditarik kembali. Ia telah melihat lum¬pur di atas kakinya. Permukaan lantai pada serambi ruangan itu bersih dan berkilat seperti cermin, bila ha¬rus diinjak dengan kaki berlumpur seperti itu bukan saja ia merasa tak tega, bahkan merasa agak rikuh. Cepat cepat sepatunya yang penuh lum¬pur itu dilepas, kaos kakinya masih bersih, meski agak bau, ia tidak memperdulikan persoalan-persoalan semacam itu. Maka diapun melanjutkan perjalanan ke depan, mendorong pintu ruangan tersebut. Ternyata ruangan itu kosong melompong apapun tak ada di sana , tiada pembaringan, tiada meja kursi, tiada perabotan yang lain, juga tak ada debu barang sedikitpun. Di atas tanah tampak rumput kering yang amat tebal, di atas rumput kering itu diberi se¬buah seprai berwarna putih, seorang se¬dang berbaring di sana . Ruang itu penuh dengan bau obat, rupa¬nya orang itu sudah mendapat penyakit yang parah.. Kwik Tay lok sama sekali tidak melihat paras mukanya, sebab nampak seorang gadis berbaju putih yang berambut panjang sedang berlutut di sisinya dan pelan-pelan menyeduh obat ditangan Bwee Lan dan menyuapi orang itu. Kwik Tay lok juga tak berhasil melihat wajah gadis itu, sebab dia berada dalam posisi membelakanginya. Hanya Bwee Lan yang sedang berdiri menghadap ke arahnya, bahkan walaupun dengan jelas ia menyaksikan pemuda itu mendorong pintu dan berjalan masuk, tapi mimik wa¬jahnya justru tidak menampilkan perubahan apa apa, seolah olah dia tidak menganggap dirinya sebagai manusia hidup. Kwik Tay lok merasakan jantungnya ber¬debar keras, kalau boleh dia ingin menyerbu ke dalam, menarik rambutnya dan bertanya ke¬padanya apakah matanya berada di atas kepala? Tapi suasana dalam gedung itu benar benar teramat hening, sedemikian heningnya seperti berada di kuil yang suci saja membuat orang tak berani sembara¬ngan bertingkah di sana . Hampir saja Kwik Tay lok tidak tahan un¬tuk mengundurkan diri kembali dari sana . Orang yang hendak dicarinya tidak berada di sana apalagi suasana semacam itu paling mendatangkan perasaan tak enak baginya. Siapa tahu, pada saat itulah si nona ber¬baju putih yang berambut panjang itu telah berseru dengan suara dalam: "Cepat masuk, tutup pintu rapat rapat, jangan biarkan angin berhembus ke dalam." Kalau didengar dari nada ucapan tersebut seakan akan ia sudah tahu akan kehadiran Kwik Tay lok sebagai keluarganya sendiri, dia pun seakan akan telah menganggap Kwik Tay-lok sebagai keluarganya sendiri. Hampir saja Kwik Tay lok merasakan jantungnya berhenti berdetak.. Bagaimana tidak? Sudah jelas suara itu adalah suara dari Yan Jit. Tak ada orang yang bisa membayangkan betapa besarnya keinginan pemuda itu un¬tuk memandang wajahnya. Mungkinkah gadis berbaju putih berambut panjang yang berada di hadapannya sekarang adalah Yan Jit? Pintu telah ditutup rapat rapat. Tapi Kwik Tay lok masih berdiri mema¬tung di sana , matanya terbelalak le¬bar lebar, ia sedang mengawasi gadis ber¬baju putih itu tan¬pa berkedip. Apa yang bisa dilihat olehnya hanya ba¬yangan punggungnya. Bayangan punggungnya langsing dan ku¬rus, rambutnya hitam pekat dan terurai di sepanjang bahunya. Kwik Tay lok menggenggam tangannya kencang kencang, mulutnya terasa menge-ring, jantungnya melompat lompat seperti akan me¬lompat keluar dari rongga dadanya. Dia ingin sekali menerjang ke depan, menarik bahunya agar dia memalingkan kepalanya. Namun ia tak dapat berbuat apa-apa, dia hanya bisa berdiri mematung di situ. Sebab dia tak berani, tak berani meng¬ganggu ketenangan tempat itu, tak berani menodai kesucian tempat tersebut, lebih-lebih lagi tak berani mengusik dia. Akhirnya si sakit itu telah menghabiskan obat dalam mangkuk dan berbaring kembali. Sekarang Kwik Tay lok sudah dapat me¬nyaksikan rambutnya yang telah memutih itu, namun belum sempat menyaksikan raut wa¬jahnya. Dia masih berlutut di sisinya, pelan-pelan meletakkan mangkuk ke tanah, menarikkan selimut dan menutupi badannya, jelas terli¬hat betapa kasih sayang dan hormatnya gadis tersebut terhadap si sakit. Seandainya Kwik Tay lok tidak melihat kalau rambutnya telah memutih semua, su¬dah pasti dia akan merasa cemburu sekali. Siapakah kakek itu ? Mengapa gadis itu begitu sayang dan penuh perhatian kepadanya? Terdengar kakek itu terbatuk batuk, setelah itu tiba tiba bertanya: "Apakah dia telah datang ?" Gadis berbaju putih itu manggut manggut. "Suruh dia kemari" kata kakek itu lagi. Walaupun suaranya parau dan lemah akan tetapi membawa kewibawaan yang besar sekali, membuat orang terasa tak berani mem¬bantahnya. Pelan-pelan akhirnya gadis berbaju putih itu berpaling juga. Akhirnya Kwik Tay lok dapat melihat raut wajahnya. Pada detik itu juga, dia merasa semua benda yang berada didalam jagad ini seakan akan telah terhenti dan musnah. Pada detik itu juga, dia merasa di alam semesta yang lebar ini seolah olah hanya ter¬dapat mereka berdua, dua pasang mata. "Yan Jit . . . . Yan Jit . . . ." Kwik Tay lok berpekik dalam hatinya, se¬mentara air matanya jatuh bercucuran de¬ngan amat derasnya. Teriakan itu tanpa suara, tapi gadis itu seakan akan dapat mendengarnya dan hanya dia pula yang dapat mendengarnya. Butiran air mata telah membasahi pula sepasang mata dara itu. Setelah melalui suatu penderitaan yang berat, akhirnya ia berhasil menemukan kembali gadis itu. Dalam keadaan demikian, bagaimana mungkin air matanya tidak bercucuran ? Darimana kau bisa tahu air mata kesedihan? Ataukah air mata kegembiraan ? , Tapi akhirnya dia menahan lelehan air matanya. Kecuali gadis itu, dia tak ingin orang lain turut menyaksikan air matanya bercucuran. Tapi ia tak tahan untuk tidak melihat wa¬jahnya lagi. Wajah gadis itu sudah bukan wajah yang tiga bagian membawa kelincahan, serta tiga bagian membawa kebinalan lagi. Raut wajahnya sekarang hanya tinggal pancaran rasa cinta yang sejati. Wajahnya sekarang sudah bukan wajah yang meski kotor namun gagah, segar dan pe¬nuh dengan kegembiraan lagi. Wajahnya sekarang adalah wajah yang pucat, lesu dan begitu cantiknya hingga mem¬buat hati orang hancur luluh. Jelas dia sendiripun telah mengalami ba¬nyak percobaan, banyak siksaan dan penderitaan. Satu satunya yang tidak berubah adalah sepasang matanya. Sepasang matanya masih nampak begitu jeli, begitu keras dan teguh. Tapi, apa sebabnya ia menundukkan ke¬pala ? Apakah air matanya sudah tak tahan untuk meleleh keluar? Kakek itu kembali berbatuk batuk pelan. Akhirnya ia menyeka air matanya secara diam diam, mengangkat kepalanya dan meng¬gape ke arah Kwik Tay lok. "Kau kemarilah !" dia berbisik. Sepasang mata Kwik Tay lok masih me¬natap wajahnya tak berkedip, seakan akan kena di hipnotis saja, selangkah demi se¬langkah dia berjalan maju ke depan. Untuk kesekian kalinya gadis itu menun¬dukkan kepalanya, pipinya seakan akan berubah menjadi merah padam, masih seperti orang yang sedang mabuk oleh arak. Dulu, paras mukanya seringkali berubah pula menjadi merah padam, tapi Kwik Tay lok belum pernah menaruh perhatian ke sana . Ada kalanya paras muka lelaki pun dapat berubah menjadi merah padam.... Sekarang Kwik Tay lok baru sadar, ia membenci kepada diri sendiri, dia ingin menampar pipi sendiri sebanyak delapan sembilan puluh kali. Dia benar benar tidak habis mengerti, mengapa dirinya begitu tolol, mengapa dia tak dapat melihat kalau dirinya adalah se¬orang perempuan. Tiba tiba kakek itu menghela napas dan berkata lagi. "Suruh dia lebih mendekat agar aku da¬pat melihat wajahnya dengan lebih jelas!" Kwik Tay lok tidak mendengar apa apa. Sekarang, kecuali memandang ke arah gadis itu dia sudah tidak mendengar apa apa lagi. Yan Jit menggigit bibirnya kencang-ken¬cang, kemudian berseru: "Sudah kau dengar belum perkataan dari ayahku?" Kwik Tay lok menjadi tertegun, kemudian serunya: "Dia. . . . dia orang tua adalah ayahmu?" Yan Jit mengangguk. Kwik Tay lok segera maju lebih mendekat, dia boleh saja tidak menghormati orang lain, boleh saja tidak menuruti perkataan orang lain, tapi ayah Yan Jit tentu saja merupakan suatu pe¬ngecualian. Kakek itu dapat melihatnya, diapun dapat melihat kakek itu. Lagi lagi ia menjadi tertegun. Di dunia ini terdapat banyak macam manusia, karena itu terdapat pula banyak ragam raut wajah. Ada yang berwajah lonjong, ada yang berwajah bundar, ada yang berwajah tam¬pan, ada yang berwajah jelek, ada yang berwajah cerah dan segar, ada pula yang berwajah cemberut seakan akan setiap orang di dunia ini hutang tiga laksa tahil perak kepadanya dan tidak bayar. Kwik Tay lok sudah pernah melihat banyak orang, juga lihat banyak ragam raut wajah manu¬sia. Tapi belum pernah dia menyaksikan raut wajah semacam ini. Atau lebih tegasnya lagi, wajah orang ini sudah tak dapat dibilang wajah manusia lagi, tapi lebih mirip sebagai sesosok teng¬korak hi¬dup. Di atas wajahnya yang persegi lonjong, kini tinggal kulit pembungkus tu¬lang belaka, seolah olah sama sekali tak berdarah daging lagi. Tapi dikedua belah sisi sebuah codet go¬lok yang memanjang, justru tumbuh daging yang merekah. Yang paling menakutkan justru adalah bekas bacokan goloknya itu. Dua buah bacokan golok tersebut mem¬bentuk tanda salib di atas wajahnya, yang di sebelah kiri mulai dari ujung mata melewati hi¬dung sampai ke bibirnya. Sedangkan yang di sebelah kanan dari jidat kanan memapas tulang hidung dan mencapai ke telinga. Oleh karena itu, dari lembaran wajah tersebut sukar sekali untuk menemukan bekas hidungnya lagi, yang tersisa hanya sebuah matanya saja. Sebuah mata yang setengah terpe¬jam. Bekas bacokan golok itu sudah merapat, entah bekas yang ditinggalkan berapa tahun berselang, namun daging yang merekah dikedua belah sisi bekas bacokan itu justru berwarna merah merekah. Codet yang berbentuk salib, menghiasi wajah yang kurus kering berwarna putih pu¬cat hal ini membuat tanda itu semakin me¬nyala, seperti lagi terbakar saja, bagaikan tanda dari setan iblis di neraka. Pada hakekatnya kakek itu seperti lagi hidup didalam neraka. Kwik Tay lok merasakan napasnya se-akan-akan hendak berhenti. Dia tak tega, dia tak berani memandang wajah itu lagi, tapi diapun tak dapat menghindarkan diri. Bahkan wajahnya tidak menunjukkan perasaan muak atau takut barang sedikitpun jua karena kakek ini adalah ayah kandung Yan Jit. Kakek itupun sedang memandang ke arahnya dengan mempergunakan matanya yang setengah terpejam itu, lewat lama ke¬mudian dia baru menegur dengan suara le¬mah: "Kaukah yang bernama Kwik Tay lok ?" "Benar." "Kau adalah sobat karib putriku?" "Benar" "Apakah kau merasa wajahku ini tak se¬dap dipandang, lagi pula sangat menakut¬kan?" Kwik Tay lok termenung dan berpikir be¬berapa saat lamanya, akhirnya diapun me¬ngang¬guk. "Benar !" Kakek itupun termenung beberapa saat lamanya, kemudian dari tenggorokannya, berkumandang suara mirip suara orang tertawa: "Tak heran kalau putriku mengatakan kalau kau ini adalah seorang yang jujur, tampaknya kau memang jujur." Kwik Tay lok mengerling sekejap ke arah Yan Jit, sedangkan Yan Jit masih menun¬dukkan kepalanya rendah rendah. Sebaliknya di atas wajah Bwee Lan justru terlintas sekulum senyuman. Kwik Tay lok turut menundukkan kepala-nya rendah rendah, lalu berkata: " Ada kalanya akupun tidak terlalu jujur!" Ucapan ini kembali merupakan suatu pe¬ngakuan yang jujur. Tiba-tiba dia merasa bahwa berbicara sejujurnya di hadapan kakek ini merupakan suatu cara yang paling baik. Benar juga, kakek itu segera manggut-manggut. "Betul orang yang tidak jujur jangan harap bisa di sini ... . orang yang terlampau jujurpun jangan harap bisa menemukan tempat ini." Tiba tiba dia menghela napas panjang, kemudian melanjutkan: "Kau bisa sampai di sini, boleh dibilang suatu perjuangan yang tidak mudah . . . . benar¬. . . . benar tidak mudah " Ucapan tersebut terasa amat menusuk pendengaran Kwik Tay lok, secara tiba tiba saja dia merasakan hatinya menjadi kecut. Mengapa Yan Jit harus memberikan ba¬nyak siksaan dan percobaan kepadanya ? Mengapa dia menghendaki agar dia men¬carinya dengan bersusah payah ? Walaupun kakek itu separuh memejamkan matanya, namun agaknya dia dapat meraba suara hatinya, tiba-tiba dia berkata: "Suruh mereka pun masuk kemari !" "Baik!" jawab Bwee Lan. Dengan langkah yang tenang dia berjalan ke depan, lalu membuka sebuah pintu yang lain. Di luar pintu telah berdiri tiga orang ma¬nusia, dengan langkahnya yang tenang mereka masuk ke dalam. Orang pertama adalah si Burik. Kali ini dia sudah berganti dengan satu stel jubah ber¬warna putih, begitu masuk ke dalam rua¬ngan dengan tangan terjulur ke bawah ia berdiri di ¬sudut ruangan, sikapnya nampak amat hormat dan takut, seperti seorang bu¬dak berjumpa dengan majikannya. Orang yang mengikuti di belakangnya tentu saja si bungkuk itu. Orang ketiga barulah si hwesio berkaki tunggal itu. Ketiga orang itu mengenakan jubah putih yang sama, sikap mereka terhadap kakek itupun amat menaruh hormat. Mereka bertiga sama sama menundukkan kepalanya, tak sekejap matapun mereka memandang ke arah Kwik Tay lok. "Aku rasa kalian pasti sudah kenal bu¬kan," kata kakek itu kemudian. K E T I G A orang itu bersama sama me¬ngangguk. Sebaliknya Kwik Tay lok tidak tahan se¬gera bertanya: "Walaupun mereka kenal aku, tapi aku ti¬dak kenal dengan mereka, siapakah orang orang itu ?" "orang muda jaman sekarang memang sudah tidak banyak yang kenal dengan mereka, tapi kau mungkin saja pernah mendengar ten¬tang nama mereka." "Oh . . . !" "Kau pernah bertarung melawan Lan Kun apakah belum dapat kau tebak sumber dari ilmu silatnya ?" "Lan Kun ?" "Lan Kun adalah nama premannya, sejak ia masuk ke dalam kuil Siaulimsi dan men¬jadi pendeta, orang lain hanya tahu kalau dia bernama Thi siong . . .” Ternyata hwesio berkaki tunggal ini adalah seorang anggauta Siaulimpay, tapi memang cuma ilmu toya Hong lui ciang mo ciang (ilmu toya angin geledek penakluk iblis) dari Siaulimpay yang bisa memiliki daya kekuatan yang begitu mengejutkan. Dengan paras muka agak berubah Kwik Tay lok segera berseru: "Jangan jangan dia adalah Kim lo han Thi-song taysu yang tempo hari pernah menyapu rata partai Seng sut hay dengan mengandalkan ilmu toya saktinya ?" "Betul, memang dia." sahut si kakek. Kwik Tay lok tak sanggup berkata apa-apa lagi. Kim lo han ini merupakan salah seorang manusia yang paling dikagumi olehnya se¬wak¬tu masih muda dulu, sejak dia berusia tujuh atau delapan tahun, nama ini sudah pernah di dengar olehnya, tapi kemudian ia dengar pen¬deta itu sudah kembali ke alam baka, sungguh tak disangka ternyata dia berdiam di sini. "Thian gwa yu siu toucu (Naga sakti dari luar angkasa, si bungkuk sakti), bukankah per¬nah kau dengar nama ini disebut orang?" ka¬ta si kakek kemudian. Untuk kesekian kalinya Kwik Tay lok tertegun. Ternyata si bungkuk ini adalah jago yang paling termasyhur dalam dunia persilatan karena ilmu meringankan tubuhnya yang amat lihay, tak heran kalau dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas dari pandangan mata. "Si bungkuk sakti dari luar angkasa dan Jian pian ban hua ci tong seng (Beribu pe¬rubahan berjuta pergantian, akal banyak bagaikan binatang) merupakan dua orang manusia yang mengangkat nama bersama." ucap kakek itu lagi. Dengan wajah terkejut Kwik Tay lok me¬mandang ke arah si burik, lalu serunya ter¬tahan: "Apakah dia adalah si akal banyak bagai¬kan binatang Wan toa sianseng ?" "0h . . . . rupanya kau juga tahu tentang dia." Kwik Tay lok berdiri tertegun di sana , sampai lama sekali ia tak sanggup mengu¬capkan sepatah katapun. Pada dua puluh tahun berselang, ketiga orang ini semuanya merupakan jago jago dunia persilatan kelas satu yang termasyhur dan disegani oleh setiap umat persilatan. Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, ketiga orang ini sudah mati se¬mua. Tak nyana ternyata mereka bertiga ber¬sembunyi di sini, bahkan tampaknya sudah menjadi pelayannya si kakek yang penyaki¬tan itu. Berpikir sampai di sini, tiba tiba saja Kwik Tay lok merasakan hatinya amat terperan¬jat. Kalau manusia manusia tersohor macam Kim lo han, Sin Toucu bersedia menjadi pelayan si kakek ini, bahkan bersikap begitu hormat, segan dan tunduk terhadapnya, lalu manusia macam apakah si kakek yang pe¬nyakitan itu sendiri ? Kwik Tay lok benar benar merasa tidak habis mengerti. Sekalipun hongtiang dari kuil Siauwlimsi yang lalu hidup kembali, belum tentu Kim lo han akan bersikap begitu hormat kepada-nya, sekalipun seorang pendekar be¬sar kenamaan di masa lalu hidup kembali, si bungkuk sakti dan si akal banyak seperti binatang belum tentu bersedia menjadi pe¬layannya. Tapi, siapakah kakek itu? Kekuatan apakah yang dimilikinya sehingga dapat membuat ke tiga orang ini begitu menaruh hormat kepadanya. "Hari ini mereka telah banyak memberi penderitaan dan percobaan kepadamu, apakah dalam hatimu masih merasa tidak puas terhadap mereka ?" tanya kakek itu kemudian. Kwik Tay lok ingin menggeleng, tapi tak menggeleng, sambil tertawa getir katanya: "Ya, ada sedikit !" "Apakah kau merasa sangat keheranan mengapa mereka sampai berbuat demikian?" "Yaa, ada sedikit ..... aaah, tidak, bukan cuma sedikit saja ....!" "Dengan bersusah payah dan menempuh perjuangan yang sangat besar, ada urusan apa kau datang kemari?" Kwik Tay lok agak tergagap, tapi ke¬mudian setelah mengerling sekejap ke arah Yan Jit, sahutnya: "Datang mencarinya !" "Mengapa kau datang mencarinya?" Perkataan yang diucapkan olehnya seakan-akan selalu berupa pertanyaan, bahkan perta¬nyaan tersebut amat mendesak orang, membuat orang lain sama sekali tak mampu untuk meng¬hindarkan diri. Kwik Tay lok menundukkan kepalanya rendah rendah, dia seperti merasa agak kuatir tapi tak tenang. Tapi saat itulah tiba tiba Yan Jit me¬ngangkat kepalanya dan menetap ke arah¬nya dengan menggunakan sepasang mata¬nya yang jeli dan bening bagaikan air itu. Kwik Tay lok segera merasakan timbulnya keberanian dan keteguhan dalam hati, dia segera mengangkat kepalanya dan men¬jawab de¬ngan suara lantang: "Karena aku suka kepadanya, aku ingin selalu berada didampinginya!" Sesungguhnya persoalan ini adalah suatu persoalan yang terus terang, dan sekarang dia mengutarakannya keluar dengan meng¬gunakan sikap yang berterus terang pula, hal ini memperhatikan akan kejujuran serta ketulusan hatinya. Suara dari kakek itu berubah menjadi makin serius, sepatah demi sepatah dia bertanya: "Apakah kau ingin mempersunting diri¬nya menjadi istrimu?" "Benar!" jawab Kwik Tay lok tanpa ber¬pikir panjang lagi. "Tak akan menyesal untuk selamanya?" "Ya, tak akan menyesal untuk selama¬nya." Mata si kakek yang setengah terpejam itu tiba-tiba melotot besar, dari balik mata tung¬galnya ini mencorong keluar sinar tajam yang menggidikkan hati. Belum pernah Kwik Tay lok menjumpai manusia semacam ini, belum pernah bertemu dengan manusia dengan mata yang begitu menakutkan, tapi dia tidak bermak¬sud untuk menghindarinya. Sebab dia tahu yang paling penting pada saat ini adalah dia berbicara dengan jujur dan sama sekali tidak mengandung maksud-maksud tertentu yang kuatir diketahui orang lain. . . . ." Kakek itu menatapnya lekat lekat, lalu membentak keras: "Tapi, tahukah kau siapakah diriku ini?" Kwik Tay lok segera menggelengkan ke¬palanya berulang kali, pertanyaan ini me¬mang sudah lama berada dalam benaknya, namun dia tak berani untuk mengutarakan¬nya keluar. "Coba kau lihat bekas bacokan pedang berbentuk salib di atas wajahku ini, masa kau masih belum tahu siapakah diriku ini?" kata si kakek. Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Kwik Tay lok, dia merasa terkejut se¬kali, hampir saja seluruh badannya melom¬pat ke udara saking kagetnya. Bekas bacokan pedang berbentuk salib, ilmu pedang sepuluh huruf yang menggila... Satu satunya manusia yang dapat melo¬loskan diri dari serangan Sip ci kiam yang meng¬gila itu hanya Lamkiong Cho. Jangan-jangan kakek yang sedang sakit parah ini tak lain adalah Lamkiong Cho yang asli ? Kwik Tay lok hanya merasakan kepalanya pusing tujuh keliling dan tidak tahu bagai¬mana mesti menjawab. Mimpipun dia tak menyangka kalau Lam¬kiong Cho, seorang manusia buas yang ter¬mas¬yhur dalam dunia persilatan karena ke¬busukan namanya, ternyata tak lain adalah ayah kan¬dung Yan Jit. Tak heran kalau Yan Jit dapat memasti¬kan kalau orang berbaju hitam itu pasti bukan Lamkiong Cho. Rupanya Yan Jit lah yang turun tangan menusuk ulu hati orang berbaju hitam itu lewat dinding belakang. Dia berbuat demikian jelas, karena dia merasa benci terhadap orang orang yang telah mencatut nama ayahnya, oleh karena itu dia tak segan untuk turun tangan mem¬bunuhnya, dia turun tangan karena ingin melindungi nama baik ayahnya. Tak heran pula dia enggan menyebutkan asal usul sendiri, dan sikapnya seakan-akan mempunyai banyak rahasia yang tak bisa di¬utarakan kepada orang lain. Selama diapun enggan memberi tahukan kepada Kwik Tay lok kalau dia adalah se¬orang anak gadis, sebab dia merasa malu terhadap asal usulnya sendiri, dia kuatir setelah Kwik Tay-lok mengetahui asal usul¬nya akan berubah sikapnya. Oleh karena itu dia selalu menunggu sam¬pai menjelang saat kematiannya baru bersedia untuk mengutarakan hal itu kepadanya, maka dia minggat dan selalu menghindar. Persoalan itu seakan akan merupakan suatu peristiwa yang sukar untuk dijelaskan, tapi sekarang, akhirnya toh ada jawabannya juga, Tapi Kwik Tay lok hampir saja tak da¬pat mempercayainya. Suasana dalam ruangan itu sangat he¬ning. Sorot mata setiap orang telah dialihkan ke wajah Kwik Tay lok, hanya Yan Jit seorang yang masih menundukkan kepalanya, dia seperti tak berani lagi memandang ke arah Kwik Tay lok. Dia kuatir dengan jawaban dari Kwik Tay lok, dia takut jawaban dari pemuda itu akan melukai hatinya. Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya pelan pelan kakek itu berkata lagi: "Sekarang, tentunya sudah tahu bukan, siapakah aku '?" "Benar." "Sekarang, bila kau masih ingin merubah keputusanmu, masih ada kesempatan yang cukup bagimu untuk mengutarakannya ke¬luar." "Sekarang sudah tak sempat lagi" "Mengapa ?" "Karena di dunia ini sudah tiada persoalan apapun yang dapat merubah perasaan cin¬taku kepadanya, bahkan aku sendiripun tak dapat." Jawaban tersebut diutarakan dengan be¬gitu tegas, begitu tulus dan jujur. Ketika ia membalikkan badan memandang ke arah Yan Jit, kebetulan Yan Jit juga se¬dang mengangkat kepalanya memandang ke arah wajahnya. Sorot matanya berkaca-kaca, tapi itulah airmata kegirangan, air mata terharu dan terima kasih. Bahkan sepasang mata Bwee Lan pun ikut berkaca kaca menyaksikan adegan tersebut. Kakek itu masih memandang wajah Kwik Tay lok dengan sorot matanya yang tajam itu, kemudian menanyakan sekali lagi: "Kau masih bersedia untuk mempersun¬ting dirinya untuk menjadi istrimu?" "Kau bersedia menjadi suaminya anak gadis Lamkiong Cho?" "Bersedia !" Tiba tiba sorot mata kakek itu bagaikan bekunya salju yang mulai mencair di musim semi, pelan pelan dia bergumam seorang diri: "Bagus, bagus sekali, ternyata kau me¬mang seorang anak baik, Yan ji benar¬-benar tidak salah memilih kau." Kemudian pelan pelan dia memejamkan kembali matanya, lalu sepatah demi sepatah katanya: "Sekarang aku dapat menyerahkan diri¬nya kepadamu dengan perasaan hati yang lega, sekarang dia sudah menjadi istrimu." Kwik Tay lok segera berpaling kembali ke arah Yan Jit, dan Yan Jit pun memandang ke arahnya, ketika sepasang mata mereka sa¬ling bertemu, semua pancaran rasa cinta segera dilampiaskan keluar semuanya . Pipi Yan Jit berubah menjadi merah, dia bahagia, dia senang dan dia merasa gem¬bira tak terlukiskan. Demikian pula dengan Kwik Tay lok, dia merasa amat bahagia, dia tahu perjuangan dan pengorbanannya selama ini tidak sia sia belaka, sebab dia berhasil menemukan gadis pujaannya bahkan berhasil memper¬sunting dianya menjadi istrinya. Kamar pengantin. Di dunia ini banyak terdapat kaum pe¬muda yang belum menikah mengkhayalkan malam pengantinnya, bagaimana suasana dalam kamar pengantin dan apa pula yang akan terjadi. Ada pula banyak kakek kakek yang mem¬bayangkan kembali kenangan masa lalunya mengenang kembali dan kehangatan dan kemesraan yang dialaminya didalam malam pengantin, malam yang penuh kebahagiaan itu. Khayalan dan kenangan memang selama¬nya indah menawan. Dalam kenyataan, suasana dalam kamar pengantin pada malam pertama setelah perka¬winan tidaklah sehangat dan semesra apa yang seringkali dikhayalkan orang, sua¬sanapun belum tentu selalu cerah dan indah seperti apa yang sering kali dilamunkan oleh kaum perjaka. Ada sementara orang yang sok pintar, seringkali suka mengibaratkan malam pe¬ngantin bagaikan sebuah kuburan, bahkan suara yang dari kamar pengantin ada kalanya dianggap bagaikan jeritan binatang yang hendak disem¬belih. Tentu saja kamar pengantin bukan kubu¬ran, bukan pula tempat penjagalan bina¬tang. Lalu, kamarnya macam apakah kamar pengantin itu ? Biasanya kamar pengantin adalah sebuah kamar yang tidak terlalu hangat, di sana sini penuh dengan warna merah dan hijau, di¬mana-¬mana penuh berbau minyak, ditam¬bah lagi bau arak yang ditinggalkan para tamu, bila dalam satu dua jam orang tidak mual bila berada da¬lam kamar terus, sudah pasti dia memiliki pe¬rut dan hidung yang sangat istimewa sekali. . Tentu saja didalam kamar pengantin ter¬dapat seorang lelaki dan seorang perem¬puan, kedua orang ini biasanya tidak begitu kenal, oleh karena itu tidak banyak pula yang mereka bicarakan. Oleh karena itu, meski suasana di luar sana hiruk pikuk dan ramai sekali, biasanya suasana didalam kamar pengantin amat sepi dan hening. Walaupun para tamu biasanya makan dan minum dengan sepuas puasnya, kuatir kalau modalnya tidak kembali tapi pengantin lelaki dan pengantin perempuan biasanya justru me¬rasa amat lapar. Sebenarnya malam pengantin adalah malam buat mereka berdua, tapi hari itu justru se¬akan akan dilewatkan orang lain dengan penuh kebahagiaan. Kain merah yang menutupi wajah Yan Jit sudah dilepas, dia sedang menundukkan kepalanya duduk di tepi pembaringan sambil menga¬wasi sepatunya yang berwarna merah pula. Kwik Tay lok jauh jauh duduk dikursi dekat sebuah meja, agaknya dia sedang ter¬mangu-mangu. Yan Jit tak berani memandang ke arah¬nya, dan diapun tak berani memandang ke arah Yan Jit. Seandainya minum sedikit arak, mungkin suasana akan lebih santai, sayangnya justru pada hari ini tak ada arak yang dihidangkan. Seakan akan asal pengantin lelaki minta arak untuk minum, segera akan muncul "orang yang berbaik hati" untuk mengha¬langinya dan merebut kembali cawan araknya. Sebenarnya mereka adalah sahabat yang sangat akrab, dihari hari biasa mereka se¬lalu berbicara tiada hentinya. Tapi setelah menjadi sahabat karib, mereka seakan-akan sudah bukan sahabat lagi. Ternyata kedua orang itu merasakan hu¬bungan mereka berdua berubah menjadi begitu jauh, begitu asing, dan rikuh. Oleh karena itu masing-masing pihak merasa agak jengah untuk mulai dengan suatu pembicaraan. Kwik Tay lok sendiripun semula mengira dirinya masih bisa menghadapi suasana tersebut dengan baik, tapi setelah masuk ke dalam kamar pengantin, tiba-tiba saja dia menemukan dirinya seakan akan berubah menjadi seorang manusia bodoh. Suasana semacam ini benar benar terasa sangat tidak terbiasa olehnya ..... Sebenarnya dia ingin berjalan ke depan sana , duduk disamping Yan Jit, tapi entah mengapa, sepasang kakinya justru terasa men¬jadi lemas, bahkan untuk berdiripun tak sang¬gup. Entah berapa lama Kwik Tay lok hanya merasa tengkuknya sudah mulai menjadi kaku ...... Tiba tiba Yan Jit berbisik lirih: "Aku mau tidur!" Ternyata begitu menyatakan akan tidur, dia lantas pergi tidur bahkan satu katapun tak sempat dilepas lagi, ia segera menja¬tuhkan diri ke atas pembaringan, menarik selimut dan menutupi tubuhnya rapat rapat. Dia tidur dengan muka menghadap ke dinding, badannya melengkung bagaikan seekor udang. Kwik Tay lok menggigit bibirnya kencang-kencang, setelah mengawasi istrinya bebe¬rapa saat, tiba tiba sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya, ia berkata: "Hari ini, mengapa kau tidak suruh aku keluar dari kamarmu?" Yan Jit tidak menggubris, dia seperti su¬dah tidur nyenyak. Sambil tertawa kembali Kwik Tay lok ber¬kata: "Bukankah kau mempunyai kebiasaan tak bisa tidur bila ada orang lain berada dalam kamarmu?" Sebenarnya Yan Jit masih tak ingin meng¬gubrisnya, tapi sekarang justru dia tak tahan, maka serunya: "Kurangilah perkataanmu, aku ingin tidur" Kwik Tay lok kembali mengerdipkan ma¬tanya beberapa kali, kemudian sambil ter¬tawa dia berkata lagi "Masa kau masih bisa tidur walaupun aku berada di sini ?" "Kau . . . . . kau bukan orang lain." bisik Yan Jit kemudian sambil menggigit bibirnya kencang kencang. "Kalau bukan orang lain, lantas siapa ?" Tiba tiba Yan Jit tertawa cekikikan, "Kau adalah si setan berkepala besar !" Tiba tiba Kwik Tay lok menghela napas panjang, kembali katanya: "Heran, heran, kenapa kau bisa kawin dengan seorang setan kepala besar seperti aku ?” Aku masih ingin, dahulu agaknya kau per¬nah bilang, sekalipun semua lelaki yang ada di dunia ini sudah pada mampuspun, kau tak akan ka¬win denganku." Tiba-tiba Yan Jit membalikkan badannya menyambar bantal, kemudian menimpuk ke arahnya keras-keras. Wajahnya telah berubah menjadi merah padam seperti buah masak yang baru saja di petik. Bantal itu melayang balik kembali, tapi kali ini balik disertai dengan tubuh Kwik Tay lok. Dengan wajah memerah Yan Jit segera berseru: "Kau . . . . . kau . . . . . mau apa kau ?" "Aku ingin menggigitmu !" Kain kelambu yang berwarna merah, en¬tah sedari kapan telah diturunkan ke bawah. Bila ada orang bersikeras mengatakan kalau suasana dalam kamar pengantin ba¬gaikan sebuah tempat penjagalan, maka tempat penjagalan tersebut sudah pasti tempat untuk menjagal nyamuk. Suara pembicaraan mereka berduapun sangat lirih seperti suara nyamuk. Kwik Tay-lok seperti sedang berbisik lirih: "Heran, heran, sungguh mengherankan." "Apanya yang mengherankan ?" "Mengapa tubuhmu sedikitpun tidak bau?" "Plak . . . . . !" terdengar suara orang se¬perti memukul nyamuk, makin memukul semakin pelan, makin memukul semakin pelan . . . . Fajar sudah menyingsing. Suasana di dalam pembaringan dibalik ke¬lambu baru saja menjadi tenang, lewat setengah harian, kemudian terdengar suara Kwik Tay-¬lok sedang bertanya dengan pe¬lan: "Tahukah kau, apa yang sedang kupikirkan sekarang ?" "Ehmm . . . ." Suaranya lebih lirih dari suara burung walet, siapapun tak tahu jelas apa yang se¬dang ia katakan. "Sekarang aku teringat sudah banyak per¬soalan yang aneh, tapi yang paling kuinginkan adalah daging yang di masak sampai merah dan empuk" "Yan Jit segera tertawa cekikikan. "Dapatkah kau mengatakan kalau kau se¬dang merindukan aku ?" katanya. "Tidak dapat." "Tidak dapat ?' "Ya, karena aku takut kau akan mene¬lanku bulat bulat." Setelah menghela napas panjang, gumam¬nya: "Isteri macam kau berhasil kudapatkan dengan tidak mudah, bila sampai tertelan bu¬kankah sukar untuk mencari gantinya ?" "Kalau sudah tak ada, bukankah kau bisa pergi mencari seorang lagi ?" "Mencari siapa ?" "Misalnya . . . . . Swan Bwee tong . . . ." "Tidak bisa." jawab Kwik Tay lok pelan. "Dia terlalu kecut, lagi pula yang dia sukai adalah kau." Setelah tertawa, lanjutnya: "Sekarang aku baru tahu, hari itu kau ti¬dak mau dengan dia, kenapa dia tidak men¬jadi marah. Waktu itu kau pasti memberita¬hu¬kan kepadanya bahwa kaupun seperti dia, seo¬rang perempuan." "Bila aku seorang lelaki, aku pasti sudah mengawini dirinya.." "Mengapa kau selalu tak mau memberi¬ta¬hukan kepadaku kalau kau adalah seorang perempuan ?" "Siapa suruh kau seorang yang buta ? Orang lain saja dapat melihatnya, tapi justru hanya kau seorang yang tak pernah mengerti." "Apakah rahasia iri yang hendak kau beritahukan kepadaku ?" "Ehmm . . . . ." "Mengapa kau harus menunggu sampai aku hampir mau mati baru bersedia untuk memberitahukan kepadaku?" "Karena . . . . . karena aku takut kau ti¬dak maui aku . . .." Perkataannya itu belum habis diutarakan, mulutnya seakan akan disumbat oleh se¬suatu secara tiba tiba. Lewat lama kemudian, Yan Jit baru ber¬kata lagi dengan napas agak terse¬ngal sengal. "Kita kan sedang berbincang bincang se¬cara baik, kau tak boleh sembarangan berkutik" "Baik, tidak berkutik ya tidak berkutik. Tapi mengapa kau takut aku tak maui dirimu? Apakah kau tidak tahu, sekalipun mengguna¬kan semua perempuan yang ada di dunia ini untuk ditukar dengan kau se¬orang, akupun tak akan menukarnya." "Sungguh ?" "Tentu saja sungguh." "Andaikata ditukar dengan perempuan yang bernama Sui Loan kim ?" Kwik Tay lok segera menghela napas panjang: "Aaai . . . . . dia memang seorang anak perempuan yang sangat baik, dan lagi patut di kasihani, cuma sayang hatiku sudah diisi oleh kau seorang, tak mungkin lagi bagiku untuk menerima kehadiran orang lain dida¬lam hatiku" Yan Jit merintih lirih. Tiba tiba suasana dibalik kelambu kembali menjadi hening, seakan-akan mulut kedua orang itu kembali tersumbat oleh sesuatu. Setelah lewat cukup lama, Kwik Tay lok menghela napas panjang, katanya lagi: "Aku tahu, kau sengaja berbuat demikian karena ingin mencoba diriku, kau ingin tahu apakah aku setia kepadamu atau tidak." Yan Jit menggigit bibirnya kencang kencang, kemudian berkata: "Bila kau bersedia untuk tinggal di sana maka selama hidup jangan harap kau dapat berjumpa lagi dengan aku." "Tapi, setelah aku sampai di sini, menga¬pa kau masih tidak membiarkan aku datang men¬jumpaimu ?" "Karena masih ada orang lain yang ingin mencoba pula dirimu, ingin mengetahui apakah kau cukup pintar, cukup bernyali, ingin me¬ngetahui apakah hatimu cukup baik, pantaskah untuk menjadi menantunya ayahku." "Oleh karena itu, kalian ingin melihat apakah aku cukup pintar untuk menemukan rahasia rumah ini, apakah aku cukup ber¬nyali untuk mendatangi kuil Liong ong bio tersebut" "Sewaktu berada dalam kuil Liong ong¬-bio, bila kau berani mempunyai pikiran jahat terhadap adik misanku itu, atau enggan menghantar dia pulang kemari, sekalipun kau berhasil menemukan tempat ini, juga takkan berjumpa denganku." Kwik Tay lok menghela napas panjang, katanya: "Untung saja aku selain pintar, juga ber¬nyali dan orang baik baik . . . . ." Yan Jit tertawa, selanya: "Kalau tidak begitu, mana mungkin kau bisa memperistri seorang nona sebaik aku?" Kembali Kwik Tay-lok menghela napas panjang. "Hingga sekarang aku baru menemukan bahwa kita sesungguhnya adalah sepasang se¬joli yang paling cocok." "Sekarang kau baru mengetahuinya ?" "Benar" jawab Kwik Tay lok sambil ter¬tawa, "sebab sekarang aku baru menemu¬kan kulit muka kita berdua tampaknya me¬mang cukup tebal." Sekarang didalam kamar itu baru benar-benar terdapat kamar pengantin, bahkan jauh lebih indah, lebih mesra dan hangat dari apa yang di bayangkan semula. Mereka memang berhak untuk mempero¬leh kebahagiaan tersebut. Sebab perasaan Cinta mereka sudah mem¬peroleh pelbagai percobaan yang berat, mereka bisa mendapatkan kebahagiaan seperti hari ini, boleh dibilang hal mana diperolehnya secara tidak mudah. Berlian pun harus diasah lebih dulu sebe¬lum menjadi berkilat. Cinta dan persahabatan yang tidak per¬nah mengalami percobaan, ibaratnya bunga yang terbuat dari kertas, selain tidak segar dan tidak menyiarkan bau harum, selama¬nya juga tak akan memberikan buah. Buah sudah mulai matang di atas pohon, meski musim semi sudah lewat, namun musim panen sudah hampir tiba. Yan Jit duduk di bawah pohon, melepas¬kan topi dari kepalanya dan dipakai sebagai kipas, kemudian gumamnya” "Panas benar udara hari ini, Ong lotoa su¬dah pasti semakin malas untuk bergerak." Kwik Tay lok mengalihkan sorot matanya ke tempat kejauhan, kemudian berguman pula: "Entah bagaimana dengan Siau lim ? Apa saja yang dilakukan ?" "Kau tak usah kuatir, mereka pasti tak akan kesepian, terutama dengan Siau lim." "Mengapa ?" Yan Jit segera tertawa. "Apakah kau lupa dengan si nona kecil penjual bunga itu ?" serunya cepat. Kwik Tay lok turut tertawa, ia segera mendengar suara nyanyian merdu berku¬man¬dang diangkasa. "Nona kecil bangun pagi. Membawa keranjang bunga menuju ke pekan. Melewati jalan raya, menembusi lorong sempit. Bunga, bunga, dia berseru. . . . . . Tentu saja nyanyian itu bukan berasal dari si nona kecil penjual bunga, yang membawa nyanyian itu sekarang adalah Yan Jit. Sambil menggoyangkan topinya untuk menyejukkan badan, dia mengalunkan suaranya yang merdu, membuat para peja¬lan kaki sama-sama berpaling dan meman¬dang ke arahnya dengan mata melotot be¬sar. Sambil tertawa Kwik Tay lok segera ber¬seru: "Hei, jangan lupa pakaian apa yang sekarang kau kenakan?" Sekarang, dia menggunakan pakaian lela¬ki tapi suara nyanyiannya justru merdu merayu bagaikan burung nuri yang sedang berkicau. "Tak menjadi soal jawab Yan Jit sambil tertawa, "sekalipun aku tidak menyanyi, orang lain jugs dapat melihat kalau aku adalah se¬orang perempuan, sebab bila se¬orang perempuan ingin merayu seorang le¬laki, hal ini bukanlah suatu pekerjaan yang terlalu gampang". "Bagaimana dengan kau dulu?" "Dulu berbeda" "Bagaimana bedanya?" "Dulu aku lebih dekil . . . . dekil sekali, semua orang selalu beranggapan bahwa perem¬puan selalu lebih bersih daripada le¬laki" "Padahal?" Yan Jit segera melotot sekejap ke arah nya lalu sahutnya: "Padahal perempuan yang kenyataannya lebih bersih daripada orang lelaki ..." Jalan ini adalah jalanan menuju ke per¬kampungan Hok kui san ceng. Mereka sama sekali tidak melupakan te¬man teman mereka, mereka pun ingin membagikan kebahagiaan mereka kepada teman temannya. "Seandainya Ong lotoa dan Siau lim tahu kalau kita .... kita sudah menikah menjadi suami istri, sudah pasti dia akan merasa gembira sekali, Entah Siau lim akan merasa cemburu atau tidak?" Seusai mengucapkan perkataan itu, dia mulai lari sedang Yan Jit mengejar dari be¬lakangnya. Mereka tidak menunggang kereta, juga ti¬dak naik kuda, sepanjang perjalanan mereka, hanya tertawa, lari, saling menge¬jar dan bergurau bagaikan dua orang anak kecil saja. Kegembiraan memang membuat orang da¬pat membuat orang menjadi lebih awet muda dan segar selalu. Bila sudah lelah berlari, mereka duduk dia bawah pohon yang rindang dan membeli sebiji kueh untuk menangsal perut yang la¬par. Sekalipun kueh keras itu tawar, dan tak enak, namun dalam mulut mereka akan terasa manis dan nikmat. Ternyata Kwik Tay lok sudah beberapa hari tidak minum arak, kecuali sehari men¬jelang keberangkatan mereka, Lamkiong Co telah menyediakan perjamuan perpisahan untuk puteri menantunya, bukan saja dia sendiri minum se¬tengah cawan, bahkan mengharuskan semua orang minum sampai puas, maka mereka semua¬pun mabuk he¬bat. Sambil tertawa Yan Jit berkata: "Walaupun sekarang ayahku, sudah tak dapat minum arak lagi, akan tetapi dia pa¬ling suka melihat orang lain minum arak." "Dahulu takaran minum araknya pasti lu¬mayan sekali." kata Kwik Tay lok sambil tertawa. "Bukan cuma lumayan lagi, sepuluh orang Kwik Tay lok belum tentu bisa melawan dia seorang." "Haaaah." "Apa artinya hah ?" "Hah, artinya bukan saja aku tidak puas lagi pula akupun tidak percaya dengan per¬kataanmu itu." "Sayang saat ini dia sudah tua, lagi pula luka lamanya kambuh kembali, sudah ba¬nyak tahun dia hanya berbaring belaka tanpa bergerak, kalau tidak dia pasti akan melolohmu sampai kau bergulingan di atas tanah sambil muntah muntah." Menyinggung kembali soal penyakit yang diderita ayahnya, tanpa terasa rasa sedih dan murung menyelimuti kembali wajahnya. Kwik Tay lok juga menghela napas pan¬jang, katanya : "Dia memang seorang manusia yang luar biasa, aku tidak menyangka kalau dia dapat ¬mengijinkan kepada kita untuk pergi."' "Mengapa ?" "Sebab. . . . sebab dia benar benar me¬rasa terlampau kesepian, bila berganti orang lain, dia pasti akan menyuruh kita berdua untuk menemaninya. "Tapi dia berbeda, dia selalu tak ingin menyaksikan orang lain menderita karena dia, bagaimanapun juga, dia lebih suka merasakan sendiri penderitaan dan siksaan tersebut daripada membiarkan orang lain¬pun ikut merasakan." Sepasang matanya memancarkan kembali cahaya berkilauan, jelas dia merasa bangga karena mempunyai seorang ayah seperti ini. Kwik Tay lok menghela napas, katanya lagi: "Berbicara terus terang, aku sendiripun sama sekali tidak mengira kalau dia adalah seorang manusia seperti ini ?" "Dulu kau mengira dia adalah seorang manusia macam apa ?" Kwik Tay lok agak sangsi, tapi ujarnya kemudian agak tergagap: "Kau tahu, berita yang tersiar dalam dunia persilatan selalu melukiskan dia sebagai seorang manusia yang menakutkan." "Dan sekarang ?" Untuk kesekian kalinya Kwik Tay lok menghela napas panjang. "Aaai. .. ! Sekarang aku baru tahu, berita berita yang tersiar dalam dunia per¬silatan itulah baru benar-benar menakutkan. Ternyata dia sanggup untuk menahan derita selama banyak tahun, hanya cukup berbi¬cara dari hal ini saja, orang lain sudah tak mungkin bisa menandinginya lagi....." "Mungkin hal ini dikarenakan dia sudah tak sanggup untuk tidak bersabar dan menerima segala sesuatunya belaka," kata Yan Jit sedih. "Untung saja dia masih mempunyai te¬man, aku dapat menyaksikan kesetiaan serta persa¬habatan dari si Bungkuk sakti sekalian, mereka selalu berusaha untuk membuat gembira hatinya." Yan Jit termenung untuk beberapa saat lamanya, tiba tiba dia berkata: "Kau tahu, dulu mereka ingin berbuat ba¬gaimana untuk menghadapinya ?" Kwik Tay lok menggeleng. "Dahulu merekapun selalu berusaha untuk membunuhnya" kata Yan Jit, "tapi kemu¬dian, setelah melangsungkan beberapa kali perta¬rungan sengit antara hidup dan mati, mereka baru menjumpai bahwa dia tidak seperti apa yang tersiar dalam dunia persi¬latan, akhirnya mereka dibuat terharu oleh perangainya yang gagah, itulah sebabnya dari musuh mereka menjadi bersahabat." Kemudian ia tertawa, tertawanya agak pedih, juga agak bangga, lanjutnya: "Demi dia, bahkan Kim Lo han bersedia untuk menghianati Siau lim pay, bersedia men¬jadi seorang murid murtad yang tak mungkin bisa diampuni oleh perguruannya." "Bahkan manusia justru memiliki pera-saan hati yang agung, maka mereka berbeda dengan hewan." "Perasaan semacam ini biasanya hanya akan muncul bila ada seseorang berada dalam kesulitan atau ancaman jiwa, hanya perasaan yang muncul dalam keadaan se¬macam inilah merupakan ungkapan perasaan yang sangat ....." Apa yang mereka ucapan memang benar. Seseorang hanya bisa memperhatikan ke¬agungan jiwanya bila berada dalam kesuli¬tan atau ancaman jiwa. Lamkiong Cho memang berhasil mendapat uluran tangan persahabatan dari Sin Toucu sekalian, tapi beberapa besarkah pengor¬banan yang dibayar untuk itu ? Mung¬kin orang lain tak pernah akan membayangkan. Seandainya didalam keadaan yang kritis, ia rela berkorban demi menyelamatkan jiwa orang lain, dari mana orang lain bisa tahu ka¬lau wataknya sangat agung ? Darimana pula mereka dapat bersedia untuk mengor¬bankan segala galanya ?" Dibalik kesemuanya ini tentu saja masih terdapat cerita lain yang penuh dengan suka duka serta keadaan keadaan yang menye¬dihkan. Dan cerita inipun tak perlu disinggung kembali. Senja sudah menjelang tiba. Walaupun matahari telah tenggelam di langit barat, namun jalanan yang beralas batu masih terasa panas dan menyengat badan. Di bawah pohon yang rindang di depan sana , berdiri seorang perempuan kurus yang berpakaian kumal menggandeng se¬orang anak di tangan kiri dan menggendong anak yang lain dipunggungnya. Dia berdiri di situ dengan kepala tertun¬duk dan tangan sebelah dijulurkan ke muka, dia sedang meminta minta kepada setiap orang yang melewati tempat itu. Kwik Tay lok segera berjalan mendekat dan memberikan beberapa potong hancuran uang perak ke tangannya. Selama dia punya uang, tak pernah ia menyia nyiakan setiap pengemis yang di¬jumpai¬nya, sekalipun uangnya masih sisa berapa keping uang perak saja, pemuda itu selalu memberikan kepada orang lain tanpa mempertimbangkan lagi. Yan Jit sedang memandang ke arahnya, dibalik sorot matanya yang lembut terpan¬car perasaan kagum dan memuji. Jelas dia merasa bangga karena memiliki seorang suami yang besar sekali jiwa sosial¬nya. Perempuan pengemis itu segera berke¬mak-kemik mengucapkan kata-kata terima-kasih, baru saja ia akan masukkan uangnya ke saku, tanpa sengaja dia mengangkat kepalanya dan memandang sekejap ke arah Kwik Tay lok. Tiba tiba paras mukanya yang pucat pias itu mengalami perubahan yang sangat he¬bat, berubah menjadi menakutkan sekali. Sepasang matanya yang cerah dan sama sekali tak bersinar itu telah melotot keluar bagaikan mata ikan, seakan akan ada sebi¬lah pisau yang secara tiba tiba dihujamkan ke ulu hatinya. Sebenarnya Kwik Tay lok sedang ter¬senyum, tapi lambat laun senyumannya itu membeku, wajahnya juga menunjukkan perasaan terkejut bercampur terkesiap, se¬runya tertahan. "Aaah, kau?" Perempuan pengemis itu segera menutupi wajahnya dengan sepasang tangannya, lalu je¬ritnya keras keras "Kau pergi dari sini, aku tidak kenal de¬nganmu," Dari perasaan kaget, wajah Kwik Tay-lok berubah menjadi iba dan penuh rasa kasi¬han, setelah menghela napas panjang kata¬nya: "Mengapa kau dapat berubah menjadi be¬gini rupa ?" "Itu urusanku, dengan kau sama sekali tak ada sangkut pautnya." Walaupun perempuan itu berusaha untuk mengendalikan perasaan sendiri, toh seku¬jur tubuhnya gemetar juga bagaikan cahaya lilin yang terhembus angin kencang. Pelan-pelan Kwik Tay -lok mengalihkan sorot matanya ke wajah dua orang bocah yang ingusan dan perkembangan badannya tidak baik itu, kemudian bertanya lagi de¬ngan sedih: "Mereka adalah hasil hubunganmu de¬ngannya? Dimana orangnya sekarang?" Sekujur badan perempuan itu gemetar keras, akhirnya dia tak kuasa menahan diri dan menangis tersedu-sedu, sambil menutupi wajahnya sambil terisak ia men¬jawab: "Dia telah membohongi aku, membohongi harta bendaku, kemudian kabur lagi dengan perempuan lain, yang dia tinggalkan kepadaku hanyalah dua orang bocah ini, mengapa nasibku begini buruk . . . . . . mengapa?" Tiada orang yang memberi jawaban ke¬padanya, sebab hanya dia sendiri yang mengetahui jawabannya. Penderitaan dan tragedi yang menimpa dirinya sekarang, bukankah merupakan aki¬bat dari perbuatan yang dia lakukan sendiri? Kwik Tay lok menghela napas panjang, dia sendiripun tak tahu apa yang mesti di¬utarakan. Pelan pelan Yan Jit berjalan lagi ke de¬pan, menghampirinya dan menggenggam ta¬ngannya, dia ingin memberi dukungan kepadanya, bahwa dalam menghadapi per¬soalan macam apapun, ia selalu berada di pihaknya dan dia tetap mempercayainya. Yaa, apa yang bisa diberikan oleh se¬orang perempuan kepada suaminya hanyalah du¬kungan moril, rasa percaya serta simpatik¬nya, sebab hanya hal-hal semacam itulah akan memberikan dukungan moril yang be¬sar bagi si suami untuk menentukan lang¬kah langkah berikutnya. Kwik Tay lok ragu sejenak, kemudian bertanya: "Kau sudah tahu siapakah dia ?" Yan Jit manggut manggut. Terhadap lelaki yang dicintainya, kaum wanita seakan akan memiliki indera ke enam yang amat tajam. Ia sudah mengetahui bahwa antara perem¬puan pengemis itu dengan suaminya pasti mempunyai suatu hubungan yang luar biasa, apalagi setelah mendengar pembi¬caraan mereka, kera¬guannya seketika hilang lenyap tak berbekas. Sudah dapat dipastikan sekarang, perem¬puan ini tak lain adalah perempuan yang da¬hulu telah menipu Kwik Tay lok dan me¬ninggalkan dirinya dengan begitu saja itu. Kwik Tay lok menghela napas panjang, kembali ia berkata: "Aku benar benar tidak menyangka akan berjumpa dengan kau di sini, lebih tak kuduga kalau dia akan berubah menjadi be¬gini rupa." "Kalau toh dia adalah temanmu sudah se¬harusnya kau membantunya dengan sepe¬nuh tenaga" kata Yan Jit lembut. Mendadak perempuan itu berhenti mena¬ngis, mengangkat kepalanya dan melotot ke¬ arahnya. "Siapakah kau ?" tegurnya. Sorot mata Yan Jit masih tetap lembut dan tenang, sahutnya: "Aku adalah istrinya." Pelbagai perubahan segera berkecamuk di atas wajahnya, mendadak perempuan itu melotot ke arah Kwik Tay lok dan berseru dengan nada tercengang: "Kau sudah menikah ?" "Benar" Perempuan itu memandang ke arahnya, kemudian memandang pula ke arah Yan Jit, tiba-tiba saja sorot matanya memancarkan semacam rasa cemburu dan dengki yang amat tebal. Mendadak ia mencengkeram baju Kwik Tay lok, kemudian teriaknya keras keras: "Bukankah kau berjanji akan mengawini aku? Mengapa kau kawin dengan orang lain?" Kwik Tay lok sama sekali tidak bergerak, wajahnya pucat pias seperti kertas, dalam ke¬adaan ini dia benar benar tak tahu ba¬gaimana harus menghadapinya. Yan Jit mengenggam tangannya kencang-¬kencang, lalu sambil mengawasi perempuan itu dia berkata: "Engkaulah yang meninggalkan dia lebih dulu, bukan dia tidak maui dirimu, apa yang telah terjadi dimasa lalu, tentunya kau ma¬sih mengingatnya dengan jelas bukan?" Sorot mata perempuan itu memancarkan cahaya penuh kebencian, sama menyeringai seram katanya lagi: "Apa yang kuingat? Aku hanya ingat dia pernah memberi tahukan kepadaku, selama hidup dia hanya mencintaiku seorang, ke¬cuali aku, dia tak akan mengawini perem¬puan lain" Kemudian sambil memperlihatkan wajah ingin menangis, dia berteriak semakin keras: "Tapi dia telah membohongi aku, mem¬bo¬hongi aku perempuan yang bernasib malang coba, kalian berikan pertimbangan kepadaku.". Banyak orang telah berkerumun, sebagian besar diantara mereka melotot ke arah Kwik Tay lok dengan pandangan menghina dan pe¬nuh rasa muak dan benci. Paras muka Kwik Tay lok yang memucat kini berubah lagi menjadi merah padam bu¬tiran keringat sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran dengan derasnya. Tapi paras muka Yan Jit masih tetap te¬nang seperti sedia kala, pelan-pelan dia berkata: "Dia sama sekali tidak membohongi diri¬mu, dia pun tak pernah membohongi dirimu, cuma sayang kau sudah bukan orang yang da¬hulu lagi, aku rasa kau pasti memahami per¬kataanku ini." Perempuan itu semakin menggila, sambil mencak mencak seperti orang gila dia berte¬riak keras: "Aku tidak memahami apa apa, aku tak ingin hidup . . . . . . . sekalipun harus mati, aku akan mati bersama dengan lelaki yang berhati keji ini....." Seraya berkata dia lantas membenturkan kepalanya ke atas perut Kwik Tay lok, kemu¬dian sambil menjatuhkan diri ke tanah, dia ber¬guling guling ke atas tanah. Menghadapi perempuan yang pandai mem¬bulak-balikkan keadaan, cara apapun memang tak bisa dipergunakan lagi. Dalam keadaan begini, pada hakekatnya Kwik Tay lok tidak tahu bagaimana harus bertindak, dia hanya ingin kalau bisa menerobos ke dalam tanah dan menyem¬bunyikan diri. Yan Jit tenang, setelah termenung seben¬tar, tiba tiba dia merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan seuntai kalung, kemu¬dian sambil disodorkan ke hadapan perem¬puan itu, katanya: "Kau kenal, benda apakah ini?" Perempuan itu melototkan matanya be¬sar-besar, setelah tertegun beberapa saat lamanya dia baru berteriak keras: "Tentu saja aku kenal, benda ini sebenar¬nya adalah milikku." "Oleh karena itu sekarang kukembalikan kepadamu, aku hanya berharap kau mengerti untuk menyimpan rantai emas tersebut, dia rela dimaki, diejek dan dicemooh teman, bahkan ia rela menderita dan menyiksa diri, apa sebabnya ia sampai begitu, tentunya kau bisa membayangkan sendiri bukan. . .?" Ketika melihat rantai emas itu, sorot mata si perempuan yang semula kebencian, kini berubah menjadi malu dan menyesal. "Bagaimana juga, dia adalah manusia." Sebagai seorang manusia, sedikit banyak dia tentu mempunyai sifat kemanusiaan. "Dengan seuntai rantai emas tersebut, kau bisa memakainya sebagai modal untuk berda¬gang kecil kecilan, baik baiklah me¬rawat anak anakmu," kata Yan Jit, "di ke¬mudian hari kau masih bisa bertemu dengan lelaki baik, asal kau tidak lagi menipu orang lain, orang lainpun tak akan menipu dirimu lagi." Sekujur badan perempuan itu mulai ge¬metar keras, membalikkan badannya me¬mandang anak anaknya. Anak anak itu berdiri dengan wajah kaget bercampur ketakutan, bibirnya sudah ingin menangis, tapi saking takutnya untuk menangis pun mereka tak berani. Dengan suara lembut kembali Yan Jit ber¬kata: "Jangan kau lupakan, dirimu sudah men¬jadi seorang ibu, sudah sepantasnya kalau memikirkan tentang kebutuhan anak anakmu, di ¬kemudian hari merekapun akan tumbuh menjadi dewasa, kau seharus¬nya memberi kesempatan kepada mereka agar merasa bahwa mereka masih memiliki seorang ibu yang gagah dan patut dibang¬gakan." Sekujur badan perempuan itu gemetar semakin keras, mendadak ia mendekap di atas tanah sambil menangis tersedu sedu. "Thian . . . . . . . oh, Thian, mengapa kau membiarkan aku bertemu lagi dengannya, mengapa?" Pertanyaan inipun tiada orang yang bisa membantunya untuk memberi jawaban, se¬bab hanya dia sendirilah yang mengetahui jawabannya. Benih macam apakah yang kau tanam, maka buah apa pula yang bakal kau petik. Bila kau menanam batu, maka selama hidup jangan berharap bisa tumbuh sekun¬tum bunga yang indah. Senja telah menjelang tiba. Matahari sore memancarkan sinar yang lembut dan hangat. Pelan-pelan Kwik Tay lok berjalan mene¬lusuri jalan raya, jelas perasaan maupun pikirannya sama-sama tercekam dalam sua¬sana yang amat berat. Yan Jit tidak berbicara, diapun tidak me¬ngusik dirinya. Ia tahu, bila seseorang membutuhkan suatu ketika untuk berada dalam ketena¬ngan inilah saat yang harus dipahami oleh seorang perempuan sebagai istri yang tahu diri. Entah beberapa lama sudah lewat, Kwik Tay lok baru berkata dengan suara yang dalam: "Kapan sih kau menebus kembali rantai emas tersebut? Mengapa kau tidak menga¬takannya kepadaku?" "Sebab aku sama sekali tidak menebus¬nya keluar" jawab Yan Jit sambil tertawa. "Tidak kau tebus?" "Yaa rantai emas yang kuberikan kepadanya tadi, sesungguhnya bukan rantai milikmu itu." "Bukan?" Kwik Tay lok semakin tertegun. Kembali Yan Jit tersenyum. "Yaa, rantai emas itu adalah pemberian dari enci Bwee Lan, sebagai hadiah perkawi¬n¬an kita." "Kalau memang begitu, mengapa kau ke¬luarkan rantai emas itu, mengapa kau harus berbuat demikian?" "Karena akupun seorang perempuan, ba¬gaimanapun juga aku jauh lebih memahami watak perempuan daripada dirimu" "Kalau begitu, setelah ia saksikan rantai emas tersebut, maka ia baru akan teringat akan kebaikan dulu kepadanya, maka ia baru bersedia melepaskan aku?" "Rantai emas itu sepintas lalu memang mirip satu sama lainnya, bahkan kau sendiri¬pun tak dapat membedakan, apalagi dia," sahut Yan Jit sambil tertawa lagi. Ia tertawa riang. Sebab rantai emas itu hanya merupakan suatu perlambang belaka, melambangkan ke¬jadian yang sudah lampau. Sekarang, kalau toh mereka tak bisa membedakan lagi keaslian rantai emas tersebut, jelas semua perasaan cinta mau¬pun benci yang pernah berlangsung dulu, kini turut dilupakan pula. Bagaimanapun besarnya jiwa seorang perempuan, dia pasti enggan membiarkan suami¬nya memikirkan kenangan masa lalunya. "Tapi ketika ia melihat diriku tadi, sudah seharusnya dia membayangkan bahwa da¬hulu ....." "Ia berbuat demikian kepadamu bukan lantaran kejadian dulu, melainkan karena dengki dan cemburu" tukas Yan Jit. "Dengki dan cemburu?" "Bukan cemburu kepadamu, melainkan kepadaku, melihat kehidupannya yang sengsara kemudian melihat pula keadaan kita berdua sekarang, ia semakin menyesal terhadap apa yang telah dilakukan dimasa lalu" Setelah menghela napas panjang lanjut¬nya: "Bila seorang sedang merasa menyesal, seringkali dia menaruh perasaan benci yang tak dipahaminya kepada orang lain, seakan akan ia merasa kalau bisa setiap orang di dunia ini sama sama merasakan penderitaan seperti apa yang dialaminya" "Oleh karena itu diapun ingin merusak hubungan kita?" kata Kwik Tay lok sambil menghela napas. "Tapi setelah ia melihat rantai emas tersebut, mengapa pula secara tiba tiba berubah pikiran ?" "Karena rantai emas itu berbeda dengan dirimu." Setelah tersenyum manis, ia melanjutkan: "Bukan saja rantai emas jauh lebih menarik daripada dirimu, lagi pula ia tahu kalau dirinya sudah pasti akan dapat mem¬perolehnya kembali." "Apakah hal ini dikarenakan rantai emas tersebut sudah berada di tangannya kem¬bali?" "Tepat sekali perkataanmu itu" Di dunia ini memang hanya perempuan baru bisa memahami perasaan seorang pe¬rempuan. Perempuan selalu hanya percaya dengan benda yang telah berada di tangannya, sekali¬pun dia tahu dengan jelas masih ada seratus untai rantai emas lagi yang bisa diambil, dia¬pun tak akan menukar apa yang telah diperolehnya itu dengan benda yang lain. Selain itu, juga tiada berapa orang pe¬rempuan yang bersedia menghadiahkan rantai emas miliknya untuk kekasih dari bekas pujaan hatinya. Hanya perempuan paling cerdik saja yang akan berbuat demikian. Dia hanya mempergunakan seuntai rantai emas untuk mendapatkan rasa percaya dan teri¬ma kasih suaminya, serta kebahagiaan hidup bagi dirinya sendiri. KWIK TAY-LOK mengawasi istrinya lekat-lekat, tanpa terasa ia menggenggam ta­ngan istrinya erat-erat dan berkata de­ngan suara lembut: "Terima-kasih banyak atas bantuanmu." "Berterima kasih kepadaku?" Yan Jit me-ngerdipkan matanya dan tertawa. "Atau mung­kin kau berterima kasih kepada rantai emasku situ ?" Kwik Tay-lok menggelengkan kepalanya berulang kali. "Tentunya kau tahu aku berterima-kasih kepada siapa" Yan Jit memang mengetahui akan hal itu.. Tentu saja yang membuatnya berterima kasih, bukan rantai emasnya saja, melain­kan pengertian serta penyesuaiannya terha­dap keadaan. Apa yang diberikan itu, sesungguhnya jauh lebih berharga daripada rantai emas di­tambah dengan benda berharga lainnya sekali pun. Seorang isteri yang bisa memberikan pe­ngertian dan penyesuaian terhadap suaminya, hal itu akan merupakan kebaha­giaan serta kekayaan yang paling besar bagi seorang lelaki. Dan hanya seorang lelaki yang paling ba­hagia hidupnya baru bisa mendapatkan keada­an seperti ini. Tapi benarkah dalam dunia yang begini luas ini benar-benar terdapat seorang yang bernasib begitu mujur ? Benarkah di dunia ini terdapat lelaki yang benar-benar menemui kebahagiaan hidup­nya? Mungkin saja ada, tapi paling tidak be­lum pernah kujumpai seseorang semacam ini. Tentu saja aku pernah melihat orang yang hidup bahagia, tapi kebahagiaan mereka ber­hasil diraih dengan kecerdasan, keuletan, keberanian serta tekad yang besar. Kebahagiaan ibaratnya sebiji kue, harus dicampur dengan rata, harus di panggang, harus dibumbui sebelum akhirnya menjadi hidangan yang amat lezat. Tak mungkin bukan, kueh itu secara tiba-tiba jatuh dari atas langit dengan begitu saja. Orang yang berbahagia ibaratnya seorang pengantin, perempuan, entah kemanapun kau pergi, orang pasti akan memandangnya beberapa kejap. Entah bagaimanapun sederhana dan bia­sanya seseorang, bila menjadi seorang pe­ngantin perempuan, secara tiba-tiba saja dia seperti berubah menjadi istimewa sekali. Ong Tiong, Lim Tay-peng dan Ang Nio­cu berdiri berjajar sambil mengawasi Yan Jit, dari kepala memandang sampai ke kaki, kemudian dari kaki memandang lagi sampai ke atas kepala. Paras muka Yan Jit telah berubah men­jadi merah padam bagaikan kepiting rebus, tak tahan lagi dia menundukkan kepalanya ren­dah-rendah. "Kalian toh bukannya tidak kenal dengan aku, mau apa mengawasi diriku terus- menerus?" tegurnya kemudian. "Sebab kau tampak tiga ratus enam puluh kali lipat lebih cantik daripada dulu." jawab Ang Nio-cu sambil tersenyum. Paras muka Yan Jit berubah semakin merah. "Tapi aku masih tetap aku, sedikitpun tiada perubahan apa-apa." katanya cepat. "Kau berubah " kata Ong Tiong pula. "Dimana letak perubahan itu ?" "Dulu kau adalah sahabat kami," kata Lim Tay-peng cepat. "tapi sekarang kau telah menjadi ensoku, dulu kau adalah Yan Jit, se­karang kau telah berubah menjadi nyonya Kwik. Bukankah perubahan ini cukup ba­nyak?" Yan Jit menggigit bibirnya kencang-ken­cang, kemudian katanya: "Aku masih tetap Yan Jit seperti dulu, aku mash tetap merupakan sahabat kalian." Ang Nio-cu segera tertawa cekikikan. "Tetapi Yan Jit yang sekarang ini paling ti­dak jauh lebih bersih daripada dulu." seru Ang Nio cu sambil tertawa cekikikan. "Jawaban yang amat tepat," tak tahan Kwik Tay-lok ikut menimbrung. "sekarang, tiap hari dia mesti mandi." Baru saja dia menyelesaikan kata-kata-nya, Ang Nio-cu sudah tertawa terpingkal- pingkal. Dengan gemas Yan Jit melotot sekejap ke arahnya, lalu dengan wajah memerah seru­nya: "Hei, bisakah kau kurangi beberapa pa­tah katamu ? Toh tak ada orang yang me­ng­anggap dirimu sebagai seorang yang bisu !" Sambil tertawa terpingkal Ang Nio cu segera menimbrung kembali: "Kalau bisa mengurangi kata-katanya, dia bukan Kwik Tay-lok namanya . . ." Kwik Tay-lok mendehem beberapa kali, kemudian sambil membusungkan dada ka­tanya: "Padahal sekarangpun aku turut berubah, mengapa kalian tidak memperhatikan aku ?" Dengan kening berkerut Ong Tiong ber­seru: "Bagian manamu sih yang berubah? Me­ngapa aku tak dapat melihatnya ?" "Masa aku tidak berubah menjadi lebih bagus dan menarik ?" Ong Tiong memperhatikannya dari atas hingga ke bawah, kemudian menggelengkan ke­palanya berulang kali. "Aku tidak dapat menemukannya peru­ba­han itu." "Paling tidak aku toh jauh lebih bersih dari pada dulu" seru Kwik Tay-lok cepat. Ang Nio-cu kembali tak dapat menahan rasa gelinya, dia tertawa terpingkal-pingkal. "Apakah sekarang, kaupun tiap hari mandi?" "Tentu saja, aku. . . . ." Kali ini belum habis ucapan tersebut di­u­tarakan, Ang Nio-cu sudah terbungkuk-bung­kuk karena terpingkal kegelian. Buru-buru Yan Jit menukas, serunya de­ngan suara lantang: "Agaknya ditempat ini seperti kekurangan seseorang . . . . . . . . . !" "Siapa ?" Lim Tay- peng cepat berseru. Sambil mengerdipkan matanya dan ter­tawa, Yan Jit menjawab: "Tentu saja si nona kecil yang pagi-pagi bangun, membawa bunga menuju ke pekan." "Tentu saja orang itu tak akan keting­galan" kata Ang Nio-cu sambil tertawa. "Tapi mana orangnya ?" "Lagi ke pekan, tapi kali ini tidak mem­bawa keranjang berisi bunga, melainkan keran­jang berisi sayur . . .. . . karena Lim toa-sau kita secara tiba-tiba ingin makan tahu masak sawi hijau yang segar." Tak tahan Yan Jit tertawa cekikikan, ke­mudian sambil menghela napas katanya: "Sungguh tak kusangka begitu muda usianya, namun ia sudah begitu pandai bermesrahan dan menyayangi kekasihnya." Kemudian setelah mengerlingkan sekejap ke arah Lim Tay-peng, katanya lebih lanjut: "Keadaan itu bagaikan orang yang me­mang ditakdirkan bernasib mujur saja, benar bukan ?" Paras muka Lim Tay-peng turut berubah menjadi merah padam, tiba-tiba teriaknya ke­ras-keras: "Bisakah kalian mengurangi, kata-kata semacam itu ? Akukantak akan mengang­gap kalian sebagai orang bisu" "Tidak bisa" sahut Kwik Tay lok, "kalau mereka bisa mengurangi beberapa patah kata saja, maka bukan perempuan nama­nya" "Tepat sekali jawaban itu" sahut Ong Tiong . .. . Senja telah menyelimuti seluruh angkasa. Diantara hembusan angin yang sepoi-se­poi, lamat-lamat terdengar suara nyanyian merdu berkumandang datang dari kejauhansana. "Nona kecil, bangun pagi. Membawa keranjang bunga pergi ke pekan" Yan Jit dan Ang Nio-cu segera saling ber­pandangan sekejap, kemudian tak tahan katanya sambil tertawa: "Si nona kecil telah kembali dari pekan" "Yaa, sudah pasti dalam keranjang bu­nganya berisi penuh dengan tahu dan sawi hijau", sambung Ang Nio-cu sambil tertawa. "Bukan cuma tahu dan sawi hijau saja, masih ada pula arak" terdengar suara merdu lain menyambung sambil tertawa. Si nona kecil itu benar-benar telah kem­bali, ditangan kirinya membawa keranjang bambu, ditangan kanannya membawa se­buah guci arak, ia berdiri tegak di depan pintu rumah. Sekarang, dia seperti tidak merasa malu lagi seperti dulu, cuma paras mukanya ma­sih dihiasi warna semu merah. "Arak!Arak!" Ong Tiong segera berseru. "Tentu saja arak kegirangan" jawab si nona cilik sambil tersenyum, "ketika berada di bawah bukit tadi, kusaksikan mereka ber­dua amat mesrah, maka aku pun tahu harus mem­beli arak kegirangan sebagai persia­pan." "Arakkegirangan siapa ?" tanya Yan Jit sambil mengerdipkan matanya, "arak kegi­ra­ngan kami ? Ataukah kalian ?" Nona cilik itu segera mendesis lirih, ke­mudian dengan wajah merah padam dia lari masuk ke ruang belakang. Yan Jit dan Ang Nio-cu yang menyaksi­kan kejadian itu segera tertawa terpingkal­-ping­kal kegelian. Tiba-tiba Lim Tay-peng menghela papas panjang, gumamnya: "Aku benar-benar tidak habis mengerti, mengapa kalian selalu suka menggoda orang jujur ?" "Karena orang jujur makin lama semakin sedikit, kalau tidak menggoda sekarang, di ke­mudian hari pasti tak ada kesempatan lagi." Inilah kesimpulannya. Kalau perkawinan tanpa arak, ibaratnya dalam sayur tidak diberi garam. Tentu saja perkataan ini hanya diucapkan oleh orang pin­tar, cuma sayang dia lupa melanjutkan kata-­kata berikutnya. Bila dalam perut sudah ada arak, kepala bisa menjadi pusing. Keesokan harinya, ketika bangun tidur, Kwik Tay-lok merasakan kepalanya pusing tujuh keliling. Tentu saja dia sudah bukan orang per­tama yang bangun lebih dulu . . . belum lama berselang dia baru menemukan kalau tidurpun ada kalanya tidak bisa dianggap sebagai hal yang membuang-buang waktu. Ketika ia bangun tidur, Lim Tay-peng dan si nona kecil itu sudah berada dalam ha­la­man entah apa saja yang dibicarakan. Tapi yang pasti, entah perkataan apapun yang mereka katakan, kedua orang itu tentu akan merasa tertarik dan gembira. Walaupun musim semi sudah lewat, bu­nga-bunga di musim panas pun sudah mulai mekar kembali. Mereka berdiri di depan kerumunan bunga, sang surya yang baru terbit meman­carkan sinarnya menerangi wajah mereka yang bahagia dan gembira. Keadaan merekapun bagaikan matahari yang baru terbit, penuh dengan pancaran sinar kehidupan serta harapan. Memandang ke arah mereka berdua, Kwik Tay-lok merasakan kepalanya yang sedang pening seolah-olah telah membaik. Pelan-pelan Yan Jit berjalan ke sisinya bersandar di tubuhnya, tangan yang satu mem­permainkan rambut sendiri, sementara tangan yang lain merangkul lengannya, pancaran sinar gembira dan kebahagiaan terpancar keluar dari balik matanya. Seluruh jagad serasa menjadi tenang dan penuh kedamaian, kehidupan seperti ini benar-benar pantas untuk diresapi. Lewat lama kemudian, Yan Jit baru ber­kata pelan: "Apa yang sedang kau pikirkan?" "Aku sedang memikirkan dua orang yang lain." "Siapa ? Ong Tiong dan ......" Kwik Tay-lok manggut-manggut dan menghela napas. "Aku sedang berpikir, entah sampai ka­pankah mereka baru dapat bermesrahan seper­ti itu", katanya. Yan Jit memperhatikan suaminya lekat­-lekat, lama kemudian ia baru berkata de­ngan lembut : "Tahukah kau mengapa aku menyukai dirimu ?" Kwik Tay-lok tidak berbicara, dia sedang menunggu dan mendengarkan dengan sek­sama. la suka mendengarkan perkataannya. Dengan lembut Yan Jit berkata: "Karena dikala kau sendiri sedang berba­hagia, kau masih memikirkan pula keba­hagiaan temanmu, karena kapan saja dan dimana saja, kau tak pernah bisa melupa­kan temanmu." "Kau keliru," ucap Kwik Tay-lok sambil mengerdipkan matanya. "Adakalanya aku­pun bisa melupakan mereka," "Kapan ?" "Kemarin malam. . . . ." bisik pemuda itu. Belum habis ucapan tersebut diutarakan, paras muka Yan Jit telah berubah menjadi merah padam, ia segera menyambar ta­ngannya dan menggigit dengan gemas. Tiba-tiba terdengar Lim Tay-pang berseru sambil tertawa: "Sungguh tak kusangka Kwik toa-so kita pandai pula menggigit orang. . . ?" Entah sejak kapan mereka berdua telah membalikkan, badannya dan sedang me­mandang ke arah mereka berdua sambil tersenyum. Kwik Tay-lok turut tertawa, katanya: "Kalau soal ini kau takkan memahami, le­laki yang belum pernah digigit perempuan, pada hakekatnya tak bisa dianggap sebagai seorang lelaki sungguhan." "Waah. . . . . teori dari negara mana itu ?" "Negaraku sendiri, tapi siapa tahu kalau dengan cepat kaupun akan tiba pula di situ?" Selembar wajah si nona kecil itu segera berubah menjadi merah padam, katanya sambil menundukkan kepala: "Aku akan pergi menyiapkan sarapan ...." "Yaa, kalau menyiapkan sarapan, harap yang banyakan sedikit, dengan begitu mulut kami baru bisa tersumbat." sera Kwik Tay-lok sambil tertawa terbahak-bahak. Sekarang adalah waktunya untuk sara­pan. Di bawah langit nan biru, tampak asap putih membubung tinggi ke angkasa . . . . . Sambil mendongakkan kepalanya Kwik Tay-lok bergumam: "Heran, mengapa tempat ini secara tiba-tiba menjadi ramai sekali? Apakah ada banyak penduduk yang pindah ke sekitar tempat ini" "Tidak ada." jawab Lim Tay peng. Kwik Tay-lok memandang lagi ke arah asap putih yang membumbung tinggi di atas puncak bukit itu, kemudian katanya lagi: "Jika tak ada penduduk, dari mana da­tangnya asap putih ?" Lim Tay-peng berpaling dan memandang sekejap, kemudian wajahnya diliputi pula oleh perasaan kaget bercampur keheranan. "Jika ada penduduk di situ, sudah pasti kemarin malam sudah pindah kesana.. . .." "Kemarin belum ada ?" Lim Tay-peng mengamati tempat berasal­nya asap putih itu, kemudian sahutnya: "Kemarin sore aku masih berjalan-jalan disekitar tempat itu, sebuah rumahpun tidak ada.." Yan Jit termenung pula beberapa saat la­manya, kemudian katanya: "Sekalipun kemarin malam ada orang pin­dah kesana, toh tidak mungkin secara tiba-tiba ada begitu banyak orang yang pin­dah kesa­na." "Yaa, apa lagi di sekitar tempat ini me­mang tiada tempat untuk ditinggali orang." "Tapi aku rasa di alam terbukapun orang bisa memasang api." "Tapi mengapa secara tiba-tiba ada begitu banyak orang yang datang ke situ untuk membuat api ? Apakah mereka sudah iseng dan tak ada pekerjaan lagi ?" Terdengar seseorang berkata dengan perlahan: "Kalau kalian hanya menduga saja dari sini, sampai tahun depanpun tak akan ada ha­sil yang bisa diperoleh, mengapa kalian tidak pergi sendiri kesana dan melihat apa yang sebenarnya telah terjadi ?" Ong Tiong berjalan keluar dari balik pintu dengan langkah lebar, wajahnya masih tidak menunjukkan perubahan apa-apa. Kwik Tay-lok yang pertama-tama me­nyongsong kedatangannya, dengan cepat ia bertanya: "Kau sudah keluar dan memeriksa sendiri" "Ehmm." "Darimana datangnya asap itu ?" "Dari api." "Siapa yang melepaskan api?" "Manusia !" "Manusia macam apa ?" "Manusia yang mempunyai sepasang kaki" Kwik Tay-Iok segera menghela napas panjang, katanya sambil tertawa getir: "Tampaknya bila aku bertanya terus de­ngan cara begini, sampai tahun depanpun tak akan menghasilkan apa-apa, lebih baik aku pergi melakukan pemeriksaan sendiri." "Haa, kau memang seharusnya pergi melihat-lihat sendiri.." Bagian belakang dari perkampungan Hok-kui-san-ceng adalah sebuah tanah perbuki­tan, pada hakekatnya tiada jalan tembus, tapi di ­atas bukit dibagian depan, hanya dalam waktu semalam suntuk saja telah didirikan dela­pan buah tenda besar. Bentuk tenda-tenda itu istimewa sekali, ada beberapa bagian mirip dengan tenda orangMongoliasewaktu mengembala ter­nak, tapi mirip pula tenda-tenda dari pasu­kan tentara. Di depan tiap tenda terdapat seonggokan api unggun. Di atas api tampak seekor kambing ge­muk yang sedang di panggang, sebagai alat sunduk­nya adalah sebatang besi yang dapat diputar pelan-pelan. Seorang lelaki bertelanjang dada sedang memoleskan bumbu yang telah tersedia di atas badan kambing itu, gerak-geriknya amat lem­but tapi seksama, seolah-olah seorang ibu sedang memandikan bayinya. Bau harum yang tersiar dari daging pang­gang itu pada hakekatnya jauh lebih harum daripada harumnya bunga. Di atas meja sarapan juga tersedia daging kambing. Baru saja mereka berkeliling ditempat luaran, sekarang seharusnya merasa amat lapar. Tapi kecuali KwikTay-lok, orang lain seakan-akan tidak mempunyai napsu lagi untuk bersantap. Dalam hati mereka semua mengetahui dengan jelas, tentu saja tenda-tenda itu bu­kan tak mungkin didirikan tanpa alasan. Kalau dilihat dari kemampuan orang-orang itu untuk mendirikan delapan buah ten­da sebesar itu dalam semalam saja, da­pat ditarik kesimpulan kalau di dunia ini tiada persoalan yang tak mungkin bisa mereka kerja­kan. Akhirnya Yan Jit menghela napas panjang, katanya: "Aaai .... tampaknya lagi-lagi ada kesu­li­tan yang datang !" "Yaa, bahkan kesulitan yang datang kali ini cukup besar" sambung Ang Nio-cu de­ngan wajah murung. "Entah siapa yang membawa datangnya kesulitan kali ini?" "Yang pasti bukan aku" Kwik Tay-lok segera menjawab. "Sebab aku tak berani mendatangkan ke­sulitan sebesar ini" Setelah berhenti sebentar, katanya lebih jauh sambil tertawa: "Aku selalu hanya mencari kesulitan- ke­sulitan yang kecil saja, kesulitan besar tak pernah ada" "Darimana kau bisa tahu kalau kesulitan yang datang kali ini besar atau kecil?" seru Yan Jit. "Bila bukan disebabkan suatu persoalan yang sangat besar, siapa yang kesudian mendirikan delapan buah tenda besar di de­pan pintu rumah orang ....." "Tapi hingga saat ini, kita belum melihat datangnya kesulitan apa-apa !" "Kau tak dapat melihatnya ?" "Orang lain toh hanya mendirikan bebera­pa buah tenda saja di tanah kosong depan ru­mah kita, yang di panggang pun daging kam­bing mereka sendiri, selama tidak me­ngusik kita, apakah hal ini dinamakan suatu kesulitan buat kita?" "Jadi kau anggap tak akan ada kesulitan apa-apa ?" "Ehmmm!" Yan Jit mengangguk. "Tadi, siapa yang mengatakan kalau ada kesulitan yang datang ?" "Aku ?" "Mengapa pula secara tiba-tiba kau me­rubah jalan pemikiranmu itu ?" Yan Jit segera tersenyum. "Sebab tempat ini amat menyesakkan na­pas, aku ingin mengajak kau untuk bergu­rau saja." "Jika aku mengatakan tak akan ada ke­su­litan ?" "Akupun mengatakan ada." Kwik Tay-lok menghela napas panjang, setelah tertawa getir katanya: "Agaknya sekalipun aku tak ingin berbe­da pendapat denganmu pun tak mungkin bisa." "Tepat sekali jawabanmu itu" Yan Jit ter­tawa. Bila seorang perempuan ingin menggang­gu suaminya, maka dalam setiap detik dia akan menemukan delapan ribu kali kesem­patan yang baik. Tapi mengganggu pun ada kalanya bukan suatu perbuatan yang salah, paling tidak bisa ­mengendorkan ketegangan syaraf orang lain. Oleh karena itu, ucapan mereka tadi se­gera menimbulkan gelak tertawa orang lain. "Benar" kata Ang Nio-cu kemudian sam­bil tertawa, "bagaimanapun juga, paling tidak orang toh belum datang mencari kita, sekarang buat apa kita mesti menyusahkan diri sendiri?" Sayang sekali, sekarang mereka tak usah pergi mencari lagi, karena kesulitan sudah memasuki pintu gerbang rumah mereka. Tampak seseorang pelan-pelan berjalan masuk ke dalam rumah. Orang itu berperawakan tinggi, lagi kurus, pakaian yang dikenakan adalah sebuah jubah panjang yang berwarna istimewa sekali, yakni berwarna hijau pucat. Paras mukanya sesuram pakaian yang di kenakan olehnya, sorot matanya redup seperti tak bersinar, lebih mirip dengan sepasang lu­bang hitam yang tak nampak dasarnya, bahkan mana biji matanya dan mata bola matanya su­kar dibedakan, ter­nyata dia adalah seorang buta. Namun langkah kakinya enteng sekali, se akan-akan di atas kakinya tumbuh sepasang mata, tak mungkin dia akan terpeleset atau terbentur batu, dia pun tak akan terjatuh ke ­dalam selokan. Sambil bergendong tangan pelan-pelan dia berjalan masuk ke dalam, walaupun wajahnya suram dan menyeramkan, namun sikapnya amat ringan dan santai. Kwik Tay-lok yang pertama-tama tak kua­sa menahan diri, segera tegurnya dengan lan­tang: "Apakah kalian datang mencari orang? Siapa yang dicari ?" Orang berbaju hijau itu seakan-akan tidak mendengar sama sekali suara teguran tersebut. Dengan kening berkerut Kwik Tay-lok segera berkata lagi: "Waaah . . . . . . jangan-jangan selain buta, orang inipun seorang yang tuli ?" Di ujung dinding pekarangansanaadalah kebun bunga, aneka bunga sedang mekar de­ngan indahnya. Orang berbaju hijau itu berjalan mema­suki kebun bunga itu, kemudian berjalan kem­bali lagi, setelah itu dia menarik napas dalam­-dalam. Walaupun dia tak dapat menikmati kein­dahan bunga dengan menggunakan sepa-sang matanya, namun dia masih dapat memperguna­kan hidungnya untuk mengen­dus bau harum­nya bunga. Mungkin dia dapat meresapi keindahan disana, sebaliknya orang yang punya mata jus­tru tak dapat meresapinya. Dengan menelusuri jalan kecil di kebun bunga itu, dia berjalan bolak balik dua kali, tak sepatah katapun yang diucapkan, ke­mudian pelan-elan berjalan keluar lagi dari situ. Sambil menghembuskan napas lega Kwik Tay-lok lantas berkata: "Tampaknya orang itu sama sekali tidak bermaksud untuk mencari gara-gara dengan kita, dia tak lebih hanya datang kemari un­tuk me­ngendus bau harumnya bunga." "Darimana dia bisa tahu kalau di sini ada bunga ?" tanya Yan Jit kemudian dengan cepat. "Tentu saja hidungnya jauh lebih tajam dari pada hidung kita." "Tapi, dia datang dari mana?" Kwik Tay-lok segera tertawa. "Aku toh tidak kenal dia, darimana aku bisa tahu ?" sahutnya. "Aku tahu!" tiba-tiba Ong Tiong menyela. "Kau tahu?" Kembali Ong Tiong manggut-manggut. "Menurut pendapatmu dia datang dari mana ?" "Dari dalam tenda" "Darimana kau bisa tahu ?" Paras muka Ong Tiong sepertinya berubah menjadi berat dan serius, pelan-pelan sa­hutnya: "Karena orang lain kini tak mungkin bisa sampai ditempat ini lagi, sedangkan kita pun tak mungkin bisa pergi ke tempat lain" "Mengapa?" "Sebab semua jalan tembus yang berada di sini telah ditutup mati oleh ke delapan buah tenda tersebut" Paras muka Kwik Tay-lok agak berubah, serunya kemudian: "Maksudmu tujuan mereka mendirikan ke delapan buah tenda tersebut di luar adalah tidak membiarkan orang lain mendatangi tempat ini, dan tidak membiarkan orang-orang yang berada di sini keluar?" Ong Tiong tidak berbicara lagi, sepasang matanya mengawasi kebun bunga di luar dengan mata tak berkedip, paras mukanya berubah makin berat dan serius. Tak tahan Kwik Tay-lok juga ikut berpa­ling dan memandang sekejap ke arah ke­bun, mendadak paras mukanya turut berubah hebat. Bunga yang sebenarnya sedang mekar dengan indahnya itu, dalam waktu singkat telah berubah menjadi layu semua. Putik bunga yang berwarna merah kini berubah menjadi hitam pekat, ketika angin berhembus lewat, putik itu satu demi satu berguguran ke atas tanah. "Hei, apa yang terjadi?" Kwik Tay-lok menjerit tertahan. "Apakah orang tadi telah melepaskan racun ?" "Hmm !" Ong Tiong hanya mendengus. "Masa orang ini adalah seekor ular be­racun, asal tempat yang telah dilalui olehnya, maka bunga dan rumput akan menjadi layu ?" "Mungkin dibandingkan dengan ular be­racunpun dia lebih beracun lagi . . . . ." "Betul !" kata Yan Jit. "Sebenarnya aku mengira si ular merah yang tanpa lubang­pun bisa menerobos masuk sudah merupa­kan tokoh paling lihay didalam mempergu­nakan racun, tapi kalau dibandingkan de­ngan orang ini, agak nya dia masih selisih banyak sekali." "Selisih berapa banyak ?" tanya Kwik Tay-lok. Pertanyaan itu bukan ditujukan kepada Yan Jit, melainkan kepada Ang Nio-cu. Dengan cepat Ang Nio cu menghela na­pas panjang, ujarnya: "Bila si ular merah ingin melepaskan racun dia masih membutuhkan bantuan benda lain, racun itu mesti dicampurkan ke dalam air, arak atau makanan, mungkin juga di atas senjata ta­jam atau senjata ra­hasia, sebaliknya orang ini bisa melepaskan racun tanpa berwujud, seakan-akan melalui pernapasanpun dia sanggup untuk meracuni orang sampai mati . ... . ." Kwik Tay-lok tidak bertanya lagi. Kalau Ang Nio-cu pun mengatakan kalau cara orang ini melepaskan racun jauh lebih hebat dari si ular merah, hal ini berarti per­soalan tersebut tak bisa diragukan lagi. Persoalannya sekarang adalah siapakah orang ini ? Mengapa dia datang ke situ un­tuk meracuni bunga mereka? Pertanyaan pertama belum sempat terja­wab, pertanyaan kedua telah muncul kem­bali. "Dari luar pintu kembali nampak ada se­seorang berjalan masuk ke dalam halaman. Orang itu pendek dan gemuk, dia menge­nakan pakaian berwarna merah menyala, mukanya yang bulat bercahaya merah, seperti juga warna merah pakaian yang di­pakainya. Diapun sedang bergendong tangan sambil berjalan mondar mandir kesana kemari, kalau dilihat gerak-geriknya, ia nampak amat santai. Kali ini tak ada orang yang bertanya lagi apa maksud kedatangannya, tapi semua orang membelalakkan matanya lebar-lebar dan mengawasinya tanpa berkedip. Bagaimanapun juga semua bunga yang berada didalam halaman telah mati diracuni, me­reka ingin tahu, permainan apa lagi yang hen­dak dilakukan oleh orang ini. Orang berbaju merah itupun seakan-akan tak pernah melihat ke arah mereka, dia berjalan mengitari halaman itu satu ling­karan, ke­mudian berlalu pula darisana, bu­kan saja tak mengucapkan sepatah katapun, melakukan permainan apapun tidak pula dilakukan. Tapi di atas tanah telah bertambah de­ngan bekas telapak kaki sebanyak satu ling­karan, setiap bekas telapak kaki itu tertera dalam-da­lam di atas tanah, seakan-akan diukir dengan pisau. Sambil menghela napas Kwik Tay-lok ber­paling dan memandang sekejap ke arah Yan Jit, kemudian tanyanya: "Aku lebih suka diinjak-injak oleh gajah daripada diinjak satu kali oleh orang ini, ba­gaimana dengan kau ?" "Kalau aku kedua-duanya tak mau." Tak tahan Kwik Tay-lok segera tertawa. "Tampaknya kau memang jauh lebih cer­dik daripada aku." serunya. Dia tertawa tidak terlalu lama, karena pada saat itulah dari luar pintu kembali muncul seseorang. Yang datang kali ini adalah seorang manusia berbaju putih, seluruh badannya menge­nakan pakaian berwarna putih salju, paras mukanya juga dingin bagaikan salju. Kalau orang lain selalu berjalan masuk dengan langkah yang pelan, berbeda de­ngan orang ini. Tubuhnya enteng bagaikan hembusan angin, ketika segulung angin berhembus le­wat, tahu-tahu orangnya sudah muncul di­dalam ha­laman. Pada saat itulah, mendadak dari luar pintu berkelebat lewat serentetan cahaya pedang berwarna hijau, begitu membubung ke ang­kasa dan menyambar ranting pohon, tahu-tahu ca­haya tadi lenyap kembali tak berbekas. Seketika itu juga, semua dedaunan yang berada di atas pohon jatuh berguguran ba­gai­kan bunga salju. Orang berbaju putih itu mendongakkan kepalanya memandang sekejap ke angkasa, ke­mudian ujung bajunya digetarkan dan mengga­pe ke arah atas. Daun yang berguguran memenuhi ang­kasa itu seketika lenyap tak berbekas. Berbareng itu juga, orangnya juga turut lenyap tak berbekas, seakan-akan terbawa oleh hembusan angin saja. Pada saat itulah dari luar pintu kembali terdengar seseorang berseru dengan suara dalam: "Ong Tiong, Ong-cengcu apakah berada di sini?" Di bawah pohon Pek-yang lebih kurang dua kaki di depansana, berdiri seorang kakek berambut putih yang memakai baju coklat, di tangannya menggenggam sebuah kartu undangan besar dan sedang menga­wasi mereka dengan sorot mata tajam. Mereka berenam berdiri berjajar di depan pintu, seakan-akan secara khusus berjalan ke­luar agar terlihat lawan. Sorot mata kakek berbaju coklat itu per­lahan-lahan bergerak memandangi wajah mereka satu persatu, kemudian baru ujarnya dengan suara dalam: "Siapakah yang bernama Ong cengcu "" "Aku !" sahut Ong Tiong. "Di sini ada selembarsuratundangan yang khusus mengundang Ong-cengcu. . . " "Adaorang mengundangku untuk ber­santap ?" "Benar !" "Kapan ?" "Malam ini !" "Dimana ?" "Di sini !" "Ooo, itu mah tak usah repot-repot." "Benar, memang tak usah repot-repot, asal Ong cengcu keluar pintu maka akan tiba di tempat tujuan." "Siapakah tuan rumahnya?"\' "Malam nanti tuan rumah pasti akan me­nantikan kedatanganmu, sampai waktunya Ong cengcu akan mengetahuinya sendiri." "Kalau memang begitu, buat apa secara khusus mengirimkan kartu undangan ini ?" "Tata krama tak boleh dilupakan, undang­an toh masih penting artinya, maka silahkan Ong cengcu untuk menerimanya." Dia lantas mengangkat tangannya, kartu undangan yang berada di tangannyapun pelan-­pelan melayang ke hadapan Ong Tiong, kartu itu melayang dengan mantap dan pelan, seolah-­olah di bawahnya ada tangan tak berwujud yang menyunggingnya. Kembali Ong Tiong tertawa, katanya hambar: "Oooh. . . . . . rupanya secara khusus kau datang mengirimkan kartu undangan ini dengan tujuan untuk memamerkan ilmu khi­kang yang sangat hebat ini. . . ?" "Ong cengcu jangan mentertawakan" kata si kakek berbaju coklat itu dengan suara dingin. Ong Tiong juga menarik wajahnya sambil berseru: "Barusan masih ada beberapa orang lagi, juga telah mendemontrasikan ilmu silat yang bagus sekali, apakah kau kenal dengan mereka?" "Kenal" "Siapakah mereka ?"\' "Mengapa Ong cengcu mesti bertanya ke­pada siapa ?" "Bukan bertanya kepadamu, lantas harus bertanya kepada siapa ?" Tiba-tiba kakek berbaju coklat itupun tertawa, sorot matanya seperti sengaja tak sengaja melirik sekejap ke arah Lim Tay­-peng. Kwik Tay-lok sendiripun tanpa terasa memandang sekejap ke arah Lim Tay-peng, seka­rang dia baru menjumpai kalau, paras muka Lim Tay-peng pucat pias seperti ma­yat, keadaan­nya tak jauh berbeda seperti keadaan Ong Tiong ketika menyaksikan layang-layang tempo hari. "Mungkin orang-orang itu sengaja datang untuk mencari Lim Tay-peng . . . . . . . . .?" Kakek berbaju coklat itu telah pergi. Ketika dia pergi, Ong Tiong tidak menghalangi, juga tidak bertanya lagi. Setiap orang dapat melihat sekarang, ke­datangan orang-orang tak dikenal pada hari ini jelas ada hubungannya dengan Lim Tay-peng. Tapi tiada orang yang bertanya kepada-nya, bahkan semua orang berusaha untuk meng­hindarkan diri untuk menyulit­kan dirinya ........ Bahkan Kwik Tay-lok sengaja bertanya kepada Ong Tong: "Kau bilang kepandaian yang didemons­trasikan olehnya tadi adalah ilmu Khikang, ilmu macam apakah itu ?" "Khikang yaa Khikang, Khikang hanya ada semacam ?" "Hanya ada semacam." "Mengapa hanya ada semacam ?" "Karena Li- ji-ang sudah merupakan arak paling baik, lagi kalau setiap macam barang hanya ada semacam saja." "Kalau toh kau sudah memahami teori ini, mengapa masih bertanya lagi kepadaku ?" Kwik Tay-lok memutar biji matanya, ke­mudian menjawab: "Menurut pendapatku, yang paling mena­kutkan masih terhitung serangan pedang tadi, pada hakekatnya kemampuannya mirip dengan cerita dongeng yang mengatakan bahwa dengan pedang terbang bisa memo­tong kepala orang yang berada di suatu tempat sejauh seribu li." "Aaah, masih selisih jauh sekali !" "Kau pernah melihat ilmu pedang ter­bang?" "Belum pernah." "Lantas darimana kau bisa tahu kalau selisihnya banyak sekali ?" "Pokoknya aku tahu." Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang, ujarnya sambil tertawa getir. "Mengapa secara tiba-tiba kau berubah menjadi orang yang tak pakai aturan ?" "Kapan kau pernah menyaksikan aku memakai aturan ?" "Jarang sekali" Tentu saja apa yang mereka bicarakan hanya kata-kata kosong yang sama sekali tak ada gunanya, sebab tujuan dari pembi­caraan tersebut tak lain hanyalah ingin membuat pikiran Lim Tay-peng lebih santai dan ringan. Namun wajah Lim Tay-peng masih tetap pucat pias seperti mayat, bahkan sepasang tangannya digenggam menjadi satu dengan wajah tegang, seorang diri ia berjalan ber­putar-putar didalam halaman, mendadak ia berhenti lalu teriaknya keras-keras: "Aku mengetahui siapa mereka." Tiada orang yang memberi komentar, tapi setiap orang mendengarkan dengan sek­sama. Lim Tay-peng memandang sekejap ke arah bekas telapak kaki di atas tanah, ke­mudian berkata: "Orang ini bernama Jiang Liong, dia adalah seorang manusia paling hebat ilmu gwakang nya diantara delapan naga dari luar angkasa" "Delapan naga dari luar angkasa !" Ong Tiong mengerutkan kening. "Apakah tiga orang yang menampakkan diri tadi adalah orang-orang dari Thian-gwat-pat-liong (de­lapan naga dari angkasa) ?" "Betul." "Apakah kau maksudkan Thian-liong-pat-ciang (delapan panglima naga langit) di bawah pimpinan Lok-sang-liong- ong (raja naga dari daratan) ?" "Thian-gwa-pat-liong hanya ada sejenis." "Dari mana kau bisa tahu ?" Ong Tiong memandang sekejap ke arah Kwik Tay-lok, kedua orang itu segera ter­tawa tergelak. "Inilah yang dinamakan satu pukulan di­balas dengan satu pukulan, bahkan cepat be­nar datangnya pembalasan ini." seru Kwik Tay-lok. Sebaliknya dari balik mata Lim Tay-peng memancarkan sinar kepedihan, ia meng­genggam tangannya kencang-kencang, ke­mudian berjalan bolak-balik lagi beberapa saat, mendadak ia berhenti lalu berteriak dengan suara yang amat keras: "Merekapun tahu siapakah aku !" "Kalau soal itu mah tak usah mereka memberitahukan lagi kepadaku, aku juga tahu." seru Kwik Tay-lok sambil tak tahan tertawa lagi. Lim Tay-peng menatapnya lekat-lekat, sorot matanya seperti nampak aneh sekali, seru­nya cepat: "Kau benar-benar tahu ?" "Tentu saja " "Siapakah aku ?" Sebenarnya pertanyaan ini merupakan sebuah pertanyaan yang sederhana sekali, tetapi Kwik Tay-lok justru dibikin tertegun sampai tak mampu menjawab. Tiba-tiba Lim Tay-peng menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan penderi­taan yang lebih hebat, pelan-pelan katanya: "Tiada orang yang mengetahui siapakah aku, bahkan aku sendiripun tak ingin tahu." "Mengapa ?" tak tahan Kwik Tay-lok ber tanya: Lim Tay-peng memandang tangan sendiri yang menggenggam kencang itu, kemudian jawabnya: "Karena aku adalah putra kandung dari Lok-sang-liong-ong si raja naga di atas da­ratan tersebut." Begitu ucapan tersebut diutarakan, bahkan Ong Tiong pun ikut memperlihatkan rasa kaget dan tercengang yang luar biasa. Kwik Tay-lok ikut tertegun, rasa kaget­nya bagaikan ketika ia mendengar Yan Jit adalah puteri dari Lamkiong Cho. Ang Nio-cu tertawa paksa, lalu katanya: "Ayahmu menjagoi seluruh kolong langit, pengaruhnya meluas sampai dimana-mana, siapakah orang persilatan yang tidak menaruh hormat kepadanya . . . . ?" "Aku !" tukas Lim Tay-peng secara tiba-tiba dengan suara keras bagaikan geledek. "Kau?" Ang Nio-cu tertegun. Lim Tay-peng menggigit bibirnya ken­cang-kencang, katanya lebih lanjut: "Aku hanya berharap tidak mempunyai seorang ayah semacam dia !" "Sekalipun kau merasa tidak puas dengan ikatan perkawinan yang dilakukan olehnya, tidak seharusnya . . . ." "Bukan dia yang meminangkan bagiku." tukas Lim Tay-peng dengan secara tiba-tiba. "Bukan ?" Kwik Tay-lok tertegun. . Sepasang mata Lim Tay-peng berkaca-kaca, dengan kepala tertunduk ujarnya pe­lan. "Ketika aku berusialimatahun, ia telah meninggalkan kami, sejak itu aku tak per­nah bersua lagi dengannya." "Jadi kau . . . . . kau selalu mengikuti ibumu? Lim Tay-peng mengangguk, air matanya telah jatuh berlinang membasahi pipinya. Kwik Tay-lok tak bisa bertanya lagi, diapun tak perlu untuk bertanya lagi. Ia memandang sekejap ke arah Yan Jit, kedua arang itu merasa segala sesuatunya menjadi jelas, lelaki seperti Lok-sang-liong-ong memang bukan suatu kejadian yang aneh bila ia sampai mening­galkan seorang perempuan. Tapi jika perempuan yang ditinggalkan adalah ibunya sendiri, sedikit banyak yang menjadi anaknya akan timbul pula suatu pe­rasaan yang tak sedap. Setiap orang merasa simpatik terhadap Lim Tay-peng, namun perasaan tersebut tak berani diungkapkan keluar, rasa simpatik dan kasihan ada kalanya hanya akan melu­kai perasaan saja. Sekarang, satu-satunya orang yang dapat menghibur Lim Tay-peng hanyalah si nona ke­cil itu. Semua orang ingin memberi tanda kepadanya, agar tetap tinggal disaname­nemani Lim Tay-peng, tapi secara tiba-tiba mereka menjumpai paras muka nona kecil itupun tidak jauh berbeda dengan keadaan dari Lim Tay­-peng. Paras mukanya juga pucat pias menakut­kan, kepalanya tertunduk rendah-rendah, bibirnya digigit kencang, bahkan bibirnya kelihatan pecah-pecah karena digigit ter­lampau keras. Mungkinkah si nona kecil yang polos dan berhati baik inipun mempunyai suatu raha­sia yang tak boleh diketahui orang ? Tiba-tiba Lim Tay-peng bergumam se­orang diri: "Kali ini, dia datang kemari tentu ingin memaksa aku pulang . . . . . karena kuatir aku kabur, maka semua jalan lewat ditutup rapat" "Apa yang hendak kau lakukan?" tidak tahan Kwik Tay-lok bertanya. Lim Tay-peng menggenggam sepasang ke­palannya kencang-kencang, kemudian menjawab: "Aku bertekad tak akan pulang bersama­nya, sejak dia meninggalkan kami dulu, aku sudah tak mempunyai ayah lagi." Ia menyeka air matanya dan mendongak­kan kepala, wajahnya memperlihatkan ke­bulatan tekadnya, setelah memandang se­kejap ke ­arah Ong Tiong sekalian, sepatah demi sepatah dia berkata: "Entah bagaimanapun juga, persoalan ini tiada hubungannya dengan kalian, oleh karena itu, malam nanti kalianpun tak usah pergi menjumpainya, aku . . . . ." "Kau juga tak usah pergi." tiba-tiba no­na cilik itu berseru. Lim Tay-peng tertegun, ia tertegun sam­pai lama sekali, kemudian baru tak tahan bertanya: "Mengapa akupun tak usah pergi ?" "Karena yang mereka cari juga bukan kau." "Kalau bukan aku lantas siapa ?" "Aku !" Begitu ucapan tersebut diutarakan, semua orang merasa semakin terperanjat lagi. Lok-sang liong-ong yang menjagoi sean­tero jagad, mengapa secara khusus datang kesana untuk mencari seorang nona cilik penjual bunga ? Siapa yang akan memper­cayai perkataannya ini ? Tapi, melihat paras muka nona cilik itu, mau tak mau semua orang harus memper­cayai­nya juga. Dia seakan-akan sudah berubah menjadi orang lain, tidak malu-malu kucing lagi, so­rot matanya tertuju ke depan mengawasi Lim Tay peng tanpa berkedip. "Tahukah kau, siapakah aku ?" Sebenarnya pertanyaan inipun mudah untuk dijawab, tapi Lim Tay-peng justru dibuat tertegun oleh pertanyaan itu. . Si nona cilik memandang sekejap ke arahnya, sekulum senyuman sedih segera tersungging di ujung bibirnya, pelan-pelan dia melanjutkan: "Tiada orang yang tahu siapakah aku, bahkan aku sendiripun tak ingin tahu......" Perkataan inipun serupa dengan yang baru saja dikatakan Lim Tay peng, tapi sekarang dia telah mengulanginya kembali, seharusnya semua orang merasa geli. Tapi setelah menyaksikan paras mukanya sekarang, siapapun merasa tak sanggup untuk tertawa geli. Seandainya tiada Yan Jit di situ, hampir saja Kwik Tay-lok akan maju untuk meng­genggam tangannya dan bertanya mengapa ia begitu sedih, merasa begitu susah. Dia masih muda, kehidupannya begitu panjang, persoalan apakah yang tak dapat dise­lesaikan olehnya? Lim Tay-peng telah maju ke depan dan menggenggam tangannya erat-erat, lalu dengan lembut berkata: "Perduli siapakah dirimu yang sebenar­nya., hal itu bukan masalah bagiku, sebab aku hanya tahu kau adalah kau." Nona cilik itu membiarkan tangannya yang dingin digenggam olehnya, setelah itu katanya: "Aku tahu apa yang kau ucapkan adalah kata-kata sejujurnya, cuma saja . . . . . kau se­pantasnya bertanya dulu dengan jelas, siapa­kah aku ini yang sebenarnya." Lim Tay-peng tertawa paksa. "Baiklah," ia berkata. "aku ingin berta­nya kepadamu, sebenarnya siapakah kau !" Nona cilik itu segera memejamkan mata­nya rapat-rapat, kemudian menjawab pelan: "Aku adalah calon istrimu, bakal menantu ibumu, tapi ayahmu adalah musuh besarku" Tiba-tiba Lim Tay-peng merasakan seku­jur badannya dingin, kaku, tangannya yang menggenggam tangan nona itupun pe­lan-pelan dilepaskan, terjulai lemas. Perasaannya ikut tenggelam, seakan-akan tenggelam ke kolam dingin yang menusuk badan, ia merasa perasaannya amat kalut. Giok Ling-long ! Ternyata gadis itu adalah Giok Ling-long Tak ada orang yang percaya kalau hal ini merupakan suatu kenyataan, tak ada orang yang sudi mempercayainya. Nona cilik, yang lemah lembut dan ber­budi luhur ini ternyata adalah si iblis perem­puan yang binal, angkuh, buas dan kejam. Sorot mata semua orang bersama-sama ditujukan ke atas wajahnya. Ia menundukkan kepalanya rendah- rendah, rambutnya kusut, hatinya serasa hancur lebur tak karuan. Tiba-tiba muncul perasaan iba dalam hati Kwik Tay-lok, sambil menghela napas dan ter­tawa getir, katanya: "Kau adalah menantu pilihan ibunya, tapi merupakan musuh besar dari ayahnya, mana mungkin di dunia ini terdapat hubu­ngan yang begitu kacau balau tak karuan ? Kau . . . . . kau sudah pasti sedang bergu­rau." Tentu saja diapun tahu kalau hal ini bukan gurauan belaka, tapi dia lebih rela untuk mempercayai kalau hal ini bukan sesuatu yang benar-benar telah terjadi. Tertawa Giok Ling-long semakin menge­naskan, katanya lagi dengan wajah sedih: "Aku memahami maksud baikmu, sayang banyak persoalan di dunia ini justru demi-kian keadaannya." "Aku masih tetap tidak percaya." Giok Ling long menundukkan kepalanya rendah-rendah, kemudian katanya: "Dendam kesumat antara Lok sang liong ong dengan keluarga Giok kami telah ber­langsung banyak tahun, dua puluh tahun berselang dia pernah bersumpah, akan menyaksikan orang terakhir dari keluarga Giok punah dari muka bumi." "Aaah, kalau begitu ayahmu telah . . " Kwik Tay-lok tak berani melanjutkan per­tanyaannya, karena seandainya ayah Giok Ling long benar-benar telah tewas ditangan Lok sang liong ong, maka dendam kesumat karena pembunuhan terhadap ayahnya ini tidak mungkin bisa diselesaikan oleh orang lain. Giok Ling long segera menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya dengan cepat: "Ayahku tidak mati di tangannya." Sorot matanya kembali memancarkan si­nar kebencian dan rasa dendam, sambung­nya lebih jauh dengan suara dingin: "Sebab sekalipun dia mempunyai kepan­daian yang luar biasa, mustahil ia dapat mem­bunuh seseorang yang telah mati." Kwik Tay-lok menghembuskan napas lega, tapi tak tahan serunya lagi dengan kening berkerut: "Ibumu ....." "Ibuku bukan she Giok, dia she Wi." "She Wi ? Apakah kakak beradik dengan Lim-hujin ?" Giok Ling-long segera mengangguk: "Justru karena hubungan ini, maka dia baru melepaskan ibuku, tapi dia sama sekali tak tahu kalau pada waktu itu dalam rahim ibuku sudah terdapat aku, aku masih tetap she Giok !" Kwik Tay-lok segera menghela napas panjang. "Aaai . . . di kemudian hari tentunya dia sudah tahu kalau ada manusia semacam kau, bukan ?" "Untuk menyembunyikan diri darinya, kalau dia berada di utara, maka aku tak akan pergi ke ­utara, jika dia di selatan, aku­pun tak akan pergi ke selatan, nama besar­nya jauh lebih termasyhur daripada aku, maka bila aku berusaha menghindarkan diri dari kejarannya, hal ini lebih mudah kulaku­kan." . Sambil tertawa getir Kwik Tay-lok bergu­mam: "Aku sudah lama berkata, bila seseorang terlalu tenar, hal itupun bukan merupakan se­suatu perbuatan yang terlalu baik." "Tapi juga tidak terlalu jelek." "Sebenarnya keliru bila ibumu membiar­kan kau turut menjadi tenar di dalam dunia persilatan, andaikata kau benar-benar hanya seorang nona kecil yang biasa dan tiada se­suatu yang aneh, mungkin selama hidup dia tak akan berhasil rnenemukan dirimu." "Kalau aku harus hidup dalam keadaan seperti ini, maka apa bedanya dengan ke­matian ?" sahutnya keras-keras menahan emosi. "Banyak sekali manusia di dunia ini yang hidup dalam keadaan dan suasana seperti ini, toh mereka dapat hidup dengan senang dan baik." "Tapi keluarga Giok kami tak pernah ter­dapat manusia semacam ini, nama besar kelu­arga Giok juga tak boleh punah dengan begitu saja di tanganku . . . . ." "Dimanakah ibumu sekarang ?" "Tahun berselang telah meninggal dunia" sahut Giok Ling-long dengan wajah murung. Setelah berhenti sejenak, katanya lebih lanjut sambil menggigit bibirnya ken­cang-ken­cang. "Sesaat sebelum meninggal, dia masih kuatir kalau Lok-sang-liong-ong tak akan me­lepaskan aku, maka sengaja dia datang mencari adik perempuannya." "Jadi dia yang pergi mencari Lim hujin?" Giok Ling- long mengangguk. "Dia berharap Lim-hujin dapat mengha-puskan permusuhan diantara kami dua keluarga, sayang sekali Lim-hujin sendiripun tidak mampu berbuat apa-apa, maka. . . ." "Maka dia baru menjodohkan kau kepada putra tunggalnya, agar dengan ikatan perka­winan ini maka permusuhan antara dua keluarga dapat diakhiri." "Aku tahu begitulah maksudnya." Kwik Tay-lok segera melirik sekejap ke arah Lim Tay-peng dengan ekor matanya, kemudian setelah menghela napas panjang kata­nya: "Sayang sekali putranya justru tak dapat memahami maksud baik dari ibunya . . ." "Ya, generasi yang muda memang musta­hil bisa memahami maksud baik angkatan tua­nya, begitu pula dengan diriku, sebenar­nya akupun enggan untuk menjadi menan­tunya keluarga Lim mereka." Dia tak berani memandang langsung ke arah Lim Tay-peng, tapi ujung matanya, toh tanpa terasa mengerling juga ke arah pe­muda itu. Sekujur badan Lim Tay peng segera merasa dingin dan kaku bagaikan dicebur­kan ke dalam salju, tiba-tiba serunya: "Kalau memang begitu, mengapa kau datang kemari untuk mencari aku? Menga­pa?" Suara tertawa Giok Ling long semakin sedih dan rawan, dan hanya dengan hati yang pilu: "Masa kau tidak mengerti ?" "Tentu saja aku tidak mengerti" Giok Ling long menggigit bibirnya ken­cang-kencang untuk menahan agar air ma­tanya jangan meleleh keluar, kemudian tan­yanya lagi : "Kau benar-benar tidak mengerti?" "Tidak mengerti !" Sekujur badan Giok Ling long gemetar keras jeritnya kemudian: "Baik, kuberitahukan kepadamu, aku ber­buat demikian karena aku pernah berkata kepadamu, suatu hari kau pasti akan memohon kepadaku agar mau kawin de­nganmu." Lim Tay-peng segera merasakan dadanya seperti dihantam orang keras-keras, untuk berdiri tegakpun tak sanggup. Giok Ling long sendiripun hampir roboh ke tanah. Entah berapa saat kemudian, Lim Tay-peng baru berseru lagi sambil menggertak gigi: "Aku mengerti sekarang . . . . aku sudah mengerti." Ia tidak mengatakan apa-apa lagi, men­dadak membalikkan badan dan masuk ke dalam kamar sendiri. "Blaaam !" pintu ditutup keras-keras. Giok Ling long tidak memanggilnya, juga tidak memandang ke arahnya, tapi air ma­tanya telah jatuh bercucuran . . . . . MENGAPA sebelum angin badai dan hujan deras akan menjelang tiba, suasana selalu diliputi oleh keheningan yang mencekam? Udara amat bersih, suasana amat cerah. Tiada badai, tiada hujan deras. Hujan badai hanya ada didalam hati ma­nusia. Hanya bencana yang timbul akibat hujan badai semacam inilah baru merupakan keadaan yang benar-benar menakutkan. Sedemikian heningnya suasana di serambi itu hingga suara dengusan napas Ong Tiong yang berada dalam kamarpun dapat terde­ngar jelas. Dengan napasnya amat berat, agaknya ia sudah tertidur pulas. Orang yang bisa tidur dalam suasana semacam ini memang benar-benar merupakan seorang manusia yang punya ke­pandaian. Kwik Tay-lok dan Yan Jit entah telah pergi kemana, gerak gerik pengantin baru me­mang selalu tampak agak misterius dan pe­nuh diliputi kerahasiaan di hadapan orang lain. Hanya Ang Nio-cu yang menemani Giok Ling-long, dua orang yang kesepian dengan dua hati yang hancur lebur. Dengan termangu-mangu Giok Ling-liong, memandang ke tempat kejauhansana, dikejauhan situ tak ada apa-apa, matanya juga tidak berhasil menyaksikan apa-apa. Seluruh tubuhnya seakan-akan telah be­rubah menjadi kosong melompong. Tiba-tiba Ang Nio-cu menghela napas panjang, kemudian katanya: "Aku tahu, tadi kau telah berbohong." "Berbohong?" Giok Ling-long agak kehe­ranan. "Kali ini kau datang lagi mencarinya bukan lantaran hendak membalas dendam, kaupun bukan berbuat demikian demi memaksanya untuk berlutut dan memohon kepadamu." "Aku bukan ?" "Dulu, mungkin saja kau enggan menjadi menantunya keluarga Lim, tapi sekarang kau bersedia menjadi istrinya Lim Tay-peng, aku dapat menyaksikan kesemuanya itu." Setelah menghela napas panjang, lanjut­nya: "Tapi aku benar-benar merasa tidak ha­bis mengerti, mengapa kau tidak bersedia memberitahukan kepadanya?" Giok Ling-long menggigit bibirnya ken­cang-kencang, kemudian sahutnya cepat: "Kalau toh kau saja dapat melihatnya, dia pasti dapat melihatnya pula . . . . ." "Aaai . . . . . kau masih belum dapat me­mahami perasaan orang lelaki," kata Ang Nio cu sambil menghela napas. "terutama sekali lelaki macam dia, walaupun ia nam­paknya le­mah-lembut, sesungguhnya ber­hati keras melebihi siapapun." "Ooh . . . . ." "Tapi orang yang berhati keras, sering­kali merupakan pula orang yang paling lemah, asal orang lain melukai dirinya sedikit saja, maka hatinya akan hancur luluh." "Kau menganggap aku telah melukai hati­nya .. ?" "Kau tidak seharusnya berkata demikian kepadanya, sepantasnya jika kau katakan apa adanya, utarakan pula rasa cintamu kepadanya, agar dia tahu kalau kau ber­sungguh-sungguh, dengan begitu dia baru akan bersungguh-sungguh pula menghadapi dirimu." Giok Ling-long tertawa rawan. "Aku cukup memahami ucapanmu itu, se­benarnya akupun ingin berbuat demikian, tapi . . . ." Ia menundukkan kepalanya rendah- ren­dah, rendah sekali, kemudian menyambung dengan suara lirih: "Sekarang, entah apapun yang harus ku­lakukan, kesemuanya sudah terlalu lam­bat.." Ang Nio-cu menatap ke arahnya, dari balik sorot matanya terpancar perasaan kasihan, sim­patik dan iba, seakan dari tubuh si nona yang keras kepala ini, dia menyaksikan pula baya­ngan tubuh dari diri­nya sendiri. Benar, sekarang segala sesuatunya me­mang sudah terlampau lambat. Kesempatan baik hanya tersedia dalam waktu singkat, bila kesempatan tersebut telah disia-siakan maka selamanya tak akan datang kembali. Ang Nio-cu tertawa paksa, lalu katanya: "Mungkin sekarang masih belum terlam­bat, mungkin juga kau harus menggunakan sedikit tindakan untuk menghadapinya. Mengha­dapi seorang lelaki, ada kalanya memang perlu menggunakan suatu tindakan yang tegas, asal ia bersedia mengawinimu, maka kau adalah me­nantunya keluarga Lim, dan aku rasa Lok-sang-liong-ong juga tak akan. . . . . ." Tiba-tiba Giok Ling-long mengangkat kepalanya dan menukas kata-katanya yang belum selesai itu: "Kau tak usah banyak berbicara lagi, aku sudah mempunyai perhitunganku sendiri, entah bagaimanapun juga, Lok-sang-liong- ong toh tetap seorang manusia, mengapa aku harus merasa takut kepadanya?" Walaupun wajahnya masih diliputi rasa sedih dan pilu, akan tetapi sorot matanya telah memancarkan kekerasan hati serta keangkuhannya menghadapi kenyataan. Dia sesungguhnya adalah seorang perem­puan keras hati yang enggan tunduk kepada siapapun. Ang Nio-cu menundukkan kepalanya ren­dah-rendah, dia tahu dirinya memang tak perlu untuk berkata lebih jauh, dia pun tak dapat berkata lebih lanjut. Tiba-tiba Giok Ling Long menggenggam tangannya erat-erat, lalu ujarnya dengan suara lembut: "Entah apapun yang kau katakan, aku masih tetap merasa berterima kasih sekali atas maksud baikmu itu."' "Akupun tahu." "Tapi ada satu hal yang tidak akan kau pahami." "Katakanlah." Giok Ling Long memandang sekejap ke arah jendela kamar Ong Tiong, kemudian pelan-pelan bertanya: "Kau memang seorang yang pandai sekali menyelami perasaan orang lain, tapi me­ngapa justru seperti tak dapat menyelami perasaan­nya." Ang Nio-cu tertawa, diapun tertawa ra­wan, lewat lama kemudian baru menghela napas sedih: "Mungkin hal ini disebabkan dia memang bukan manusia, kalau tidak, mengapa dalam keadaan beginipun dia dapat terti­dur?" "Benarkah Ong Tiong sudah tertidur ?" Mengapa secara tiba-tiba tidak terdengar lagi suara dengusan napas yang muncul dari dalam kamarnya? Lok-sang-liong-ong bersandar di atas pembaringan berlapiskan kulit harimau, dia sedang menatap Ong Tiong lekat-lekat, seakan-akan ingin membuat dua buah lubang besar di atas wajahnya. Bahkan Ong Tiong sendiripun merasa wajahnya seakan-akan telah muncul dua buah lubang besar. Belum pernah ia saksikan sepasang mata manusia yang begitu tajam, ia pun belum pernah menjumpai seorang manusia seperti ini. Lok sang liong ong yang berada dalam bayangannya, bukanlah seorang manusia seperti ini. Lantas, Lok sang liong ong seharusnya manusia macam apa? Tentu saja tinggi besar, amat berwibawa, amat gagah, keren, bermuka merah ber­jenggot panjang, berhidung besar dan ber­mulut lebar, mungkin rambutnya sudah berubah semua, tapi pinggangnya sudah pasti masih tegap dan lurus, seakan-akan malaikat yang berada dalam lukisan. Suara pembicaraannya pasti amat keras seperti genta yang dibunyikan bertalu-talu, bisa menggetarkan hati dan memekikkan telinga, bila dia sedang gusar maka lebih baik berusa­halah untuk menyingkir dari ha­dapannya sejauh mungkin. Bahkan Ong Tiong telah bersiap untuk mendengarkan suara pekikannya yang pe­nuh dengan nada amarah itu. Tapi apa yang diduga olehnya ternyata sama sekali keliru besar. Begitu berjumpa dengan Lok-sang-liong­-ong, dia segera tahu, entah siapa saja yang ingin membangkitkan amarahnya, jelas hal itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, Hanya manusia yang jarang marah baru terhitung benar-benar menakutkan. Paras mukanya pucat pias seperti mayat, rambutnya amat jarang, jenggotnya juga tidak panjang, rambut serta jenggotnya di sisir dan diatur amat rapi, sepasang tangan­nya juga di rawat amat baik, membuat orang sukar percaya kalau sepasang tangan itu pernah digunakan untuk membunuh manusia. Pakaian yang dikenakan amat sederhana, karena dia tahu sudah tak perlu untuk mempergunakan pakaian yang mewah lagi, diapun tak perlu mengenakan barang-barang berharga untuk memamerkan kedudukan serta kekayaannya. Sewaktu Ong Tiong datang, ia tidak ber­diri untuk menyambut. Entah siapapun yang datang, dia tak mungkin akan bangkit ber­diri. Sekalipun demikian, siapapun tak akan menyalahkan ketidak hormatannya itu. Sebab dia hanya mempunyai sebelah kaki. Tokoh silat yangmalangmelintang dalam kolong langit dan tiada tandingannya di dunia ini ternyata hanya memiliki sebuah kaki yang cacad, kenyataan ini sungguh berada di luar dugaan siapapun. Dalam tenda yang sangat besar, suasana sepi dan hening, kecuali mereka berdua, ti­dak dijumpai orang ketiga. Ong Tiong sudah masuk cukup lama, tapi dia hanya mengucapkan empat patah kata saja: "Aku adalah Ong Tiong !" Tapi Lok-sang-liong-ong justru tak me­ngucapkan sepatah katapun, bila berganti orang lain, dia pasti akan mengira orang itu tidak mendengar apa yang diucapkan. Tapi Ong Tiong tidak berpendapat demi-kian. Ong Tiong tahu, dia pasti sedang menyu­sun suatu rencana sebelum berbicara. Adasemacam orang yang selamanya enggan mengucapkan perkataan yang salah, walau hanya sepatah katapun, jelas dia adalah manusia macam itu. Anehnya, manusia semacam ini justru seringkali mengucapkan selaksa kata ke­liru... Ong Tiong masih menunggu, menunggu sambil berdiri. Akhirnya Lok-sang-liong ong menggerak kain tangannya menunjuk ke sebuah bangku berkulit serigala di hadapannya seraya berkata: "Duduk !" Ong Tiong segera duduk. Kembali Lok-sang-liong-ong menuding se­buah cawan emas yang terletak di atas meja, llu katanya lagi: "Arak!" Ong Tiong menggeleng. "Kau hanya minum arak dengan teman?" mencorong sinar tajam dari balik mata Lok­-sang-liong ong. "Adakalanya juga terkecuali." "Kapan ?" "Bila aku bermaksud untuk menyelesai­kan suatu persoalan dengan orang lain. Tapi aku tidak bermaksud berbuat demikian kepadamu." "Mengapa ?" "Sebab aku pernah berbuat demikian ter­hadap orang yang pantas kuhormati." Lok-sang-liong-ong menatapnya lekat-le­kat, lewat lama kemudian ia baru berseru sam­bil tertawa: "Kedatanganmu terlampau awal." "Aku memang bukan datang untuk mi­num arak." Lok-sang-liong-ong pelan-pelan me­ng-angguk, katanya: "Tentu saja kau bukan.." Dia mengambil cawan kembali yang berada di hadapannya dan pelan-pelan mi­num seteguk, kemudian dengan sorot mata setajam sembilu ia menatap wajah Ong Tiong lekat-lekat. "Kau sedang memperhatikan kakiku?" serunya. "Yaa, benar." "Kau tentu merasa heran bukan, siapa yang telah membacok kakiku ?" "Benar." "Inginkah kau untuk mengetahuinya ?' "Tidak ingin." "Mengapa ?" "Sebab entah siapakah orangnya, sudah pasti saat ini orangnya sudah mati . . . . ." Tiba-tiba Lok-sang-liong-ong tertawa. "Tampaknya kau bukan seorang manusia yang suka banyak bicara." "Ya, aku memang bukan." "Aku suka dengan orang yang jarang ber­bicara, sebab orang yang jarang berbicara bi­asanya apa yang dikatakan lebih dapat dipercaya . . ." "Biasanya memang demikian." "Bagus, sekarang kau boleh mengutara­kan secara berterus terang, apa maksud ke­da­tanganmu saat ini ?" Tidak menunggu Ong Tiong buka suara, dengan dingin dia melanjutkan kembali: "Paling baik kalau diutarakan hanya de­ngan sepatah kata saja." "Kau tak boleh membunuh Giok Ling­-long!" "Mengapa tidak boleh?" Lok-sang-liong ong menarik muka. "Jika kau masih menginginkan Lim Tay-peng hidup, maka kau tak boleh membunuh Giok Ling-long." "Maksudmu bila kubunuh Giok Ling-long, maka Lam Tay-peng akan mati lantaran dia?" "Kau tidak percaya ?" "Kau percaya ?" "Bila aku tidak percaya, aku tak datang kemari." "Kau percaya di dunia ini terdapat orang lain yang bersedia mati demi orang lain ?" "Bukan saja ada, lagi pula banyak sekali." "Katakan dua orang diantaranya." "Lim Tay-peng, aku !" Tiba-tiba Lok-sang-liong-ong tertawa le­bar. "Kau tidak percaya ?" seru Ong Tiong. "Dan kau percaya ?" "Kalau memang begitu, bagaimana kalau kita bertaruh ?" . "Bertaruh apa ?" "Menggunakan selembar nyawaku untuk dipertaruhkan dengan selembar nyawa Giok Ling-long." "Bagaimana caranya bertaruh ?" "Andaikata Lim Tay-peng tidak bersedia mati demi Giok Ling-long, setiap saat kau boleh membunuh aku." "Kalau sebaliknya ?" "Kau boleh segera angkat kaki dari sini, maka menang atau kalah, kau tak akan men­derita kerugian apa-apa." "Tidak menderita kerugian apa-apa?" seru Lok-sang-liong-ong sambil tertawa dingin. "Orang yang bisa berpikir demikian, sudah pasti mempunyai dua buah kaki." "Sekalipun ada orang memenggal sebuah kakiku, aku hanya akan pergi mencari orang­nya, tak akan pergi mencari puteri­nya." Sorot mata Lok-sang-liong-ong berubah semakin tajam lagi, lama sekali ia menatap wajahnya tanpa berkedip, kemudian pelan-pelan baru berkata: "Dapatkah kau buktikan kalau Lim Tay-peng bersedia mati baginya ?” "Aku tak dapat, tapi kau dapat." Pelan-pelan dia melanjutkan: "Tapi aku percaya, dengan cepat dia pasti akan datang pula ke tempat ini" Benar juga, ada orang yang datang ke situ, tapi yang datang bukan Lim Tay-peng, melainkan Ang Nio-cu, Kwik Tay-lok dan Yan Jit. Sewaktu mereka masuk ke dalam, Ong Tiong sudah tidak berada didalam tenda lagi. Melihat mimik wajahnya itu, jelas mereka pun terkejut seperti apa yang dialami Ong Tiong tadi . . . . Siapapun tidak menduga ka­lau Lok-sang- liong-ong adalah manusia sema­cam ini. Tujuan dari kedatangan mereka kesana seperti juga Ong Tiong, karena terhadap teman merekapun menaruh suatu perasaan yang erat dan rasa percaya yang kuat. Kepercayaan memang suatu hal yang sa­ngat aneh, seakan-akan tak pernah akan membuat orang kecewa . . . . . demikian pula persahabatan. Lim Tay-peng memang tidak membuat mereka merasa kecewa. Sambil bersandar di atas pembaringannya yang berlapiskan kulit harimau, Lok-sang-liong long mengawasi Lim Tay-peng. Dia adalah putra kandungnya, putra tung­galnya, sudah hampirlimabelas tahun dia tak pernah berjumpa dengannya. Tapi ketika ia memandang ke arahnya, ti­dak jauh berbeda sikapnya seperti ketika berjumpa dengan Ong Tiong. Setelah lewat lama kemudian, dia baru mengulurkan tangannya sambil menuding ke­ arah bangku berlapiskan kulit serigala yang ba­rusan ditempati Ong Tiong itu. "Duduk !" Tapi Lim Tay-peng tidak duduk. Tubuhnya sudah menjadi kaku, wajahnya turut menjadi kaku, hanya sepasang mata­nya saja yang berkaca-kaca. Sekarang dia telah berhadapan dengan ayah kandungnya, ayah kandung yang be­lum pernah dijumpai selamalimabelas ta­hun lama­nya. Airmatanya tidak dibiarkan meleleh. Ke­luarpun sudah terhitung suatu yang tidak mudah. Paras muka Lok-sang-liong-ong masih tetap kaku tanpa emosi, namun di bawah kelopak matanya tiba-tiba muncul beberapa buah ke­rutan, akhirnya dia menghela napas panjang. "Aai . . . . . kau sudah menginjak menjadi dewasa, tampaknya kau sudah mempunyai pen­dapatmu sendiri." Bibir Lim Tay-peng masih tertutup rapat-rapat tanpa mengucapkan sepatah katapun jua. "Bila kau enggan berbicara, mengapa ha­rus datang kemari ?" kembali Lok-sang- liong­-ong menegur. Lim Tay-peng termenung lagi beberapa saat lamanya, kemudian pelan-pelan baru ber­kata: "Aku tahu, selamanya kau enggan mendengarkan kata-kata yang tak ada gunanya." "Benar." "Apakah kau bertekad hendak membunuh habis semua anggauta keluarga Giok yang ada di dunia ini ?" "Benar." "Sekarang keluarga Giok tinggal seorang" "Benar." Lim Tay peng menggenggam tangannya kencang-kencang, kemudian sepatah demi sepatah katanya: "Bila kau membunuhnya, akupun pasti akan membunuh seorang anggauta keluarga Lim." "Kau hendak membunuh siapa ?" seru Lok sang liong ong sambil menarik muka. "Diriku sendiri !" Lok sang liong ong menatapnya tajam-tajam, kerutan pada ujung matanya nampak semakin dalam. Dia adalah putra kandungnya, darah da­gingnya, darah yang mengalir didalam tubuh pemuda itu sama seperti darah yang mengalir dalam tubuhnya, ia sama keras kepalanya, sama angkuhnya. Siapapun tak dapat merubah kenyataan ini, termasuk dirinya sendiri. Lok-sang-liong-ong menghela napas pan­jang, kemudian katanya: "Kau harus tahu apa yang telah diucap­kan keluarga Lim, selamanya tak akan berubah lagi." "Aku tahu, itulah sebabnya aku baru ber­kata demikian." Tiba-tiba dia melanjutkan: "Aku juga tahu kalau antara dia dengan kau sama sekali tiada ikatan dendam, bahkan berjumpapun tak pernah." "Apa hubungan perempuan itu dengan­mu? Mengapa kau menginginkan dia tetap hidup ?" "Karena selama dia masih hidup, aku baru dapat hidup." "Sudah sedemikian dalamkah cinta kasih kalian?" Lim Tay-peng menggigit bibirnya ken­cang-kencang. "Sebenarnya akupun tidak tahu . . . . ." "Sejak kapan kau baru tahu ?" tukas Lok sang-liong-ong cepat. "Sejak kau hendak membunuhnya.... benarkah kau akan merasa gembira bila ia te­lah kau bunuh ?" Lok-sang-liong-ong tidak bicara apa-apa lagi, dia membungkam dalam seribu baha­sa. "Kau sendiripun tak dapat memutuskan­nya bukan ?" jengek Lim Tay-peng. "Tapi aku berani menjamin, bila kau telah mem­bunuhnya, maka penderitaan yang bakal kau alami justru akan jauh lebih berat dari­pada sewaktu kau belum membunuhnya." "Kau benar-benar bersedia untuk mati baginya?" seru Lok-sang-liong-ong sambil menarik muka. "Mati bukan sesuatu yang gampang, tapi juga bukan sesuatu pekerjaan yang terlalu menyulitkan." "Bagaimana dengan dia ? Apakah diapun bersedia melakukan hal yang sama ?" Lim Tay-peng tak sanggup menjawab, dia segera terbungkam dalam seribu bahasa. "Kaupun tak dapat memastikan bukan ?" seru Lok-sang-liong-ong kemudian. "Mungkin hal ini dikarenakan keluarga mereka tiada bermaksud untuk membunuh­ku, tidak membawa dendam kesumat dari dua generasi yang lalu ke dalam generasi kami berikut­nya." kata Lim Tay-peng pelan. Mencorong sinar tajam dari balik mata Lok-sang-liong-ong, tiba-tiba katanya: "Baik kululuskan permintaanmu itu, tapi akupun mempunyai syarat." "Apa syaratmu ?" "Bila diapun bersedia mengorbankan diri bagimu, hal ini membuktikan kalau hubu­ngan cinta kasih kalian memang benar-benar sudah mendalam, maka aku­pun akan melepaskan dirinya." "Kalau tidak?" "Kalau tidak kaupun harus mengerti, pada hakekatnya dia tak pantas untuk kau bela dengan mempertaruhkan selembar jiwamu!" Lim Tay-peng menggenggam tangannya kencang-kencang, kemudian katanya: "Apakah kau mengajak aku bertaruh? Menggunakan selembar jiwanya sebagai barang taruhan ?" "Paling tidak taruhan ini cukup adil, karena entah menang atau kalah dia sendirilah yang menentukan hal ini." "Dari mana kau bisa tahu kalau hal ini adil?" "Kujamin kau pasti dapat melihatnya, tapi kaupun harus mengabulkan sebuah per­mintaanku pula." Lim Tay-peng tidak berkata apa-apa, dia hanya mendengarkan belaka. "Sebelum menang kalah ditentukan, kau tak boleh mencampuri urusan ini . . . . siapa pun tak boleh mencampuri hal ini." Dengan sorot mata setajam sembilu, se­patah demi sepatah kata dia melanjutkan: "Kalau tidak, maka kalianlah yang akan dianggap sebagai pihak yang kalah dalam pertaruhan ini !" Dibalik tenda tampak sebuah tirai yang amat tebal, suasana amat gelap sehingga dari luar orang tak dapat melihat keadaan yang berlangsung di dalam. Tapi orang yang berada di balik tirai tersebut justru dapat melihat semua keja­dian yang berlangsung di depan mata. Ong Tiong, Ang Nio-cu, Kwik Tay-lok dan Yan Jit berada di sana semua, juga men­dengar setiap patah kata dan setiap ucapan yang diutarakan Lim Tay-peng. Mereka merasa amat terhibur, karena Lim Tay-peng tidak membuat mereka merasa kecewa. Tapi bagaimana dengan Giok Ling-long ? Sekarang, bukan hanya selembar nyawa sendiri saja yang berada di tangannya, bahkan selembar nyawa Lim Tay-peng pun berada pula di tangannya . . . . . . Tapi hal inipun merupakan keputusan yang diambil sendiri oleh Lim Tay-peng, je­las dia sudah menaruh perasaan percaya terhadap gadis itu. Mungkinkah gadis itu akan membuatnya kecewa ? Mereka dengar Lok-sang-liong-ong se­dang, bertanya lagi: "Tahukah kau, dulu dia adalah seorang perempuan macam apa ?" Jawaban dari Lim Tay-peng ternyata se­derhana sekali: "Itu mah sudah kejadian lampau, sekali­pun aku mengetahuinya, sekarang juga te­lah lupa. " "Ia menggunakan cara apa sih hingga membuat kau begitu percaya kepadanya?" "Dia telah mempergunakan banyak cara, tapi yang paling manjur hanya satu." "Cara apa ?" "la telah berbicara sejujurnya." Kemudian sepatah demi sepatah dia melanjutkan: "Sebenarnya dia tak perlu menyatakan kepadaku, juga tak ada orang yang memak-sa­nya, tapi dia telah berbicara seju­jurnya." Entah mengapa, setelah mendengar per­kataan itu, tiba-tiba Ang Nio-cu menunduk­kan kepalanya rendah-rendah. Kemudian Lim Tay-peng juga berjalan masuk ke dalam, memandang ke arah mereka, sorot matanya segera memancar­kan perasaan berterima-kasih. Teman-temannya juga tidak membuatnya menjadi kecewa. Delapan orang berdiri tenang di depan tenda, sedemikian tenangnya ibarat delapan buah patung. Mereka adalah Thian-liong-pat-ciang di bawah pimpinan Lok-sang-liong-ong, salah seorang saja diantara mereka sudah cukup untuk menggetarkan suatu daerah. Tapi sorot mata Giok Ling-long justru seakan akan tidak melihat kehadiran mereka. Pakaian yang dikenakan masih tetap baju berwarna hijau yang dipakainya sebagai se­orang penjual bunga, sambil mengangkat kepala, dia berjalan melalui orang-orang itu dan masuk ke dalam tenda. Wajahnya masih amat tenang, tapi sorot matanya memancarkan kebulatan tekadnya. Kemudian diapun melihat Lok-sang-liong ong. Lok-sang-liong-ong tidak mempersilakan dia duduk, tapi sewaktu memandang ke arah­nya, sorot mata itu justru tajam bagai­kan pi­sau. Giok Ling-long juga tidak menunggu dia buka suara, dengan suara lantang segera serunya: "Kau tahu siapakah aku ?" Lok sang liong ong mengangguk. "Aku adalah keturunan terakhir dari ke­luarga Giok." ujar gadis itu. "Asal kau dapat membunuhku, maka apa yang kau cita-cita­kan akan terpenuhi pula." Lok sang liong ong termenung lama sekali kemudian pelan-pelan baru berkata: "Hal itu bukan merupakan cita-citaku" "Bukan ?" "Yaa, apa yang kau katakan, tak lebih hanya merupakan sepatah kata yang pernah kuucapkan saja." kata Lok sang liong ong dengan suara hambar. "Setiap patah kata yang kau ucapkan te­lah terpenuhi semua ?" "Hanya satu hal yang belum sempat aku lakukan" "Mungkin saat ini kau akan berhasil de­ngan cepat." "Mungkin ?" "Mungkin artinya belum tentu !" "Masa kau berani bertarung melawan diriku ?" Giok Ling-long segera tertawa dingin. "Mengapa tidak berani ? Apakah kau ang­gap dirimu sudah paling luar biasa sendiri" Tidak memberi kesempatan kepada Lok­-sang-liong-ong buka suara, dengan cepat dia menyambung lebih jauh "Bila hidup sebagai seorang manusia, dan tak mengurusi anak istri saja tak sanggup, sekalipun luar biasa juga ada ba­tas-batasnya." Ternyata Lok-sang-liong-ong tidak men­jadi gusar oleh perkataan itu, katanya de­ngan hambar: "Mereka toh bisa merawat diri sendiri." "Itu urusan mereka, bagaimana dengan kau ?" Giok ling-long tertawa dingin. "Apa­kah kau telah melaksanakan tugasmu de­ngan sebaik-baiknya?. Bila setiap orang yang menjadi ayah dan suami menirukan cara seperti kau, mungkin semua perem­puan dan kanak-kanak sudah mati gemas." Akhirnya wajah Lok-sang-liong-ong beru-bah menjadi berat juga, sambil menarik muka katanya: "Apakah kau datang kemari hanya untuk mengucapkan perkataan seperti itu ?" "Aku hanya memperingatkan kepadamu saja, bahwa kau masih mempunyai seorang isteri dan seorang anak, lebih baik kau ja­ngan sampai melupakan mereka, karena merekapun tidak pernah melupakan dirimu." "Sekarang kau telah memperingatkan diriku." kata Lok-sang-liong-ong dingin. Giok Ling-long menghembuskan napas panjang, katanya: "Benar, apa yang harus kukatakan me­mang sudah habis kusampaikan semua....." Tiba-tiba ia membusungkan dada dan me­rangkap tangannya menjura, serunya ke­mudian: "Silakan !" Walaupun dengan jelas dia tahu kalau se­dang berhadapan muka dengan Lok-sang- liong-ong yang tiada tandingannya di kolong langit, walaupun tahu kalau di luar tenda masih ada Thian-liong-pat-ciang yang menggetarkan du­nia persilatan, tapi ia sama sekali tidak me­nunjukkan perasaan takut barang sedikitpun. Walaupun tubuhnya ramping dan le­mah-lembut, namun kebulatan tekad serta keberaniannya benar-benar mengagumkan, apalagi sewaktu menjura sambil membu­sungkan dada sekarang, lamat-lamat ia memperlihatkan tekad­nya untuk melawan kekuatan Lok-sang-liong ong. Tiba-tiba Lok sang liong ong tertawa, ke­mudian tanyanya: "Tahun ini kau sudah berumur berapa ?" Walaupun Giok Ling long tidak memahami apa sebabnya dia bertanya demikian, toh ia menjawab juga: "Tujuh belas." "Sejak berusia berapa tahun kau belajar silat ?” "Empat tahun." Sambil tertawa dingin Lok sang liong segera berseru: "Kau tidak lebih baru melatih diri selama tiga belas tahun, masih berani bertarung melawan diriku ?" Giok Ling-long juga tertawa dingin. "Sekalipun aku baru berlatih silat selama satu hari, aku akan tetap datang kemari untuk beradu kepandaian denganmu, seka­lipun berbi­cara soal ilmu silat keluarga Giok masih belum dapat menandingi dirimu, kami bukan manusia berjiwatempe!" Tiba-tiba Lok-sang liong-ong mendongak­kan kepalanya dan tertawa bergelak. "Haaah. . . . . haaaah . . . . . haaaah . . . . bagus sekali, kau memang bersemangat, kau memang bernyali !" Ditengah gelak tertawanya yang amat nyaring, tiba-tiba tubuhnya melambung dari atas pembaringan, seakan-akan dari bawah tubuh­nya terdapat sepasang tangan tak berwujud yang menyungging . Tanpa terasa Giok Ling Long mundur se­tengah ke belakang. Ia kenal jurus serangan ini mirip sekali dengan jurus Kian liong-sang-thian (naga sakti mengapung ke angkasa) dari ilmu Thian-liong-­pat-si yang pernah didengarnya. Tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau di dunia ini benar-benar terdapat manu­sia yang memiliki ilmu meringankan tubuh se­sempurna ini. Siapa tahu meski berada ditengah udara ternyata Lok-sang-liong-ong masih sanggup untuk bersuara, katanya dengan suara dalam: "Hati-hati dengan jalan darah Cing-tong-hiat di sebelah kiri dan kanan tubuhmu." Jalan darah Cing-tong-hiat terletak di bawah iga bagian bawah, bilamana kena tertotok maka sepasang lengannya akan lumpuh dan tak bisa digunakan lagi. Tapi bila kau tidak mengangkat kedua belah tanganmu maka sulit buat orang lain untuk menotok kedua buah jalan darah itu. Sambil tertawa dingin Giok Ling long se­gera berpikir: "Sekalipun aku bukan tandinganmu, tapi bila kau ingin menotok kedua buah jalan da­rah Cing leng hiat ku, hal ini masih bukan suatu pekerjaan yang terlalu gampang.” Dia bertekad, walau berada dalam keadaan apapun, dia tak akan mengangkat kedua belah tangannya. Dengan kedudukan Lok sang liong ong setelah dia mengatakan hendak menotok jalan darah Cing leng hiat nya, tentu saja bukan tempat lain yang akan diserangnya lagi. Pada saat itulah tubuh Lok sang liong ong secara tiba-tiba menyambar ke hadapannya, segulung angin pukulan yang amat keras menggetarkan ujung bajunya.. Dia membalikkan badannya, baru saja hendak menggunakan kesempatan itu untuk memunahkan tenaga yang menggulung tiba itu, mendadak........ "Plookk, Plookk !" kedua buah jalan da­rah Cing-keng-hiat di atas bahunya tahu-tahu sudah kena terhajar telak sehingga kedua belah tangannya tak sanggup diangkat lagi. Ketika memandang lagi ke arah Lok sang liong ong, tampak orang itu sudah berbaring kembali di atas pembaringannya dengan si­kap yang amat santai, siapapun tak akan melihat kalau dia baru saja melancarkan serangan dahsyat. Saking gelisahnya paras muka Giok Ling long sampai berubah menjadi merah padam, teriaknya keras-keras: "Jalan darah yang kau totok adalah jalan darah ceng keng hiat, bukan jalan darah cing leng hiat!" "Tak usah kau peringatkan, jalan darah cian-keng hiat dan jalan darah cing-leng-hiat masih bisa kubedakan dengan jelas." "Hmmm, tak kusangka ucapan seorang dewasa ternyata tak bisa dipercaya dengan begitu saja." "Kapan aku bilang kalau jalan darah cing leng hiat mu akan kutotok ?" "Tadi kau jelas berkata demikian." "Aku toh hanya suruh kau memperhati­kannya saja, bila sedang bertarung melawan orang, setiap jalan darah yang terdapat di atas tubuhmu harus diperhatikan semua." Setelah berhenti sejenak, dengan suara hambar dia melanjutkan: "Apalagi dalam soal ilmu silat, yang men­jadi pangkal utama adalah caranya menghadapi lawan, kecerdasan maupun ke­sigapannya merupakan pokok utama yang harus diperhatikan, karena susah menotok jalan darah cing leng hiat di tubuhmu tentu saja aku harus menotok jalan darah cian keng-hiat mu, toh kedua-duanya sama saja kegunaannya yakni membuat le­nganmu menjadi lumpuh, buat apa aku mesti ber­susah payah mengancam jalan darah yang susah dicapai ? Bila teori semacam inipun tidak kau pahami, sekalipun harus berlatih seratus tiga puluh tahun lagipun kau tak akan pernah berhasil menjadi seorang jago yang tangguh." Caranya berbicara, bagaikan seorang guru sedang mengajari muridnya, seperti juga seorang ayah sedang memberi pelajaran kepada anaknya. Saking gusarnya paras muka Giok Ling­-long yang memerah kini berubah menjadi pucat pias, sambil menggigit bibir serunya: "Baik, bunuhlah aku" "Kau merasa tidak puas ?" "Sampai matipun tidak puas." "Baik !" Begitu ucapan tersebut diutarakan, "Sreet!" entah benda apa yang disambit ke arahnya, tahu-tahu jalan darah sin-bong- hiat di tubuhnya su­dah kena diha­jar. Begitu serangan tersebut menghajar di atas jalan darah tersebut, Giok Ling long segera merasakan tenaganya pulih kembali dan sepa­sang lengannya dapat bergerak bebas. Menotok jalan darah lewat udara kosong merupakan suatu kepandaian silat yang su­dah langka dalam dunia persilatan, sungguh tak di­sangka Lok-sang-liong ong pandai pula mem­pergunakan kepandaian tersebut. Giok Ling-long menggertak giginya ken­cang-kencang, sekalipun dia tahu kalau kepan­daian silatnya masih bukan tandingan lawan, tapi dia telah bersiap sedia untuk melakukan perlawanan mati-matian. Siapa tahu belum lagi tubuhnya melam­bung ke udara dan jurus serangan dilancar­kan, mendadak terasa ada segulung tenaga serangan berkelebat lewat, tahu-tahu jalan darah cing-leng hiat di kiri kanan tubuhnya menjadi kaku, kembali tubuhnya melayang jatuh ke tanah dan sepasang lengannya tak sanggup diangkat kembali. Sedangkan Lok-sang liong ong masih tetap berbaring di atas pembaringannya dengan sikap yang amat santai, seakan dia tak pernah bergeser dari posisinya. Paras muka Giok Ling long berubah men­jadi pucat keabu-abuan. Sekalipun di tinggi hati, sekarang juga su­dah tahu jika Lok sang liong ong ingin me­renggut selembar jiwanya, maka hal ini bisa di lakukan dengan suatu cara yang gam­pang sekali. Kepandaian silat yang dimiliki dan pernah menggetarkan hati orang banyak itu berada di hadapan Lok sang liong ong ibaratnya telur bertemu dengan batu, kesempatan untuk melancarkan serangan pun tidak di­miliki lagi .... Lok-sang liong-ong memandang sekejap ke arahnya, kemudian tegurnya dengan suara hambar: "Sekarang, kau sudah takluk belum ?" "Sudah !" jawab Giok Ling-long sambil menarik napas panjang-panjang, kemudian setelah tertawa dingin, dengan cepat sam­bungnya lebih jauh: "Tapi aku hanya takluk kepada ilmu silat­mu, bukan kepada orangnya...." "Ooooh......" "Sekalipun ilmu silatmu sudah tiada tandingannya di dunia ini, tapi kau justru berjiwa sempit dan berpikiran picik, sekali­pun kau berhasil memusnahkan semua ang­gota keluarga Giok, tak akan ada orang lain yang bisa tunduk kepadamu." "Nona cilik, tajam benar selembar mulut­mu ?" seru Lok sang liong ong sambil menarik muka. "Begitu berani kau bersikap kurang ajar di hadapanku." Giok Ling long, tertawa dingin. "Mengapa aku tidak berani? Untuk mati saja aku tidak takut, apa lagi yang musti aku takuti ?" Berkilat sepasang mata Lok-sang liong­-ong setelah mendengar perkataan itu gumam­nya: "Benar, bila seseorang sudah tahu kalau dirinya pasti akan mati, perbuatan apa lagi yang tak berani dilakukan ? Perkataan apa lagi yang tak berani diucapkan ?" Tiba-tiba sekulum senyuman aneh ter­sungging kembali di ujung bibirnya, dia melanjutkan: "Tapi bagaimana bila aku bersedia tidak membunuh kau ?" "Apa .....apa kau bilang ?" Giok Ling-long tertegun. "Bukan saja aku tak akan membunuh dirimu, lagi pula tak akan mengganggu seujung rambutmu, budi dendam antara kita dua ke­luarga pun akan kuhapuskan mulai detik ini." "Sung . . . . sungguh ?" "Tak pernah perkataan yang telah aku ucapkan kupungkiri kembali." Tiba-tiba Giok Ling long merasakan selu­ruh badannya menjadi lemas, hampir saja berdiripun tak sanggup lagi. Tadi, ketika harus berhadapan dengan musuh tangguh yang belum pernah dijum­pai selama ini, meski tahu bakal mati, na­mun hatinya sama sekali tidak merasa gen­tar. Tapi sekarang, setelah orang lain me­nyanggupi untuk tidak membunuhnya, sepasang kakinya malah terasa lemas, hingga sekarang dia baru menyadari, kalau dia sebenarnya belum ingin mati. Bila seseorang sudah tahu kalau dirinya masih sanggup untuk hidup lebih lanjut, siapa pula yang masih ingin mati? Sorot mata Lok sang long ong yang tajam seakan-akan telah berhasil menembusi hati­nya, pelan-pelan dia melanjutkan: "Asal kaupun bersedia meluluskan sebuah permintaanku, sekarang juga aku akan mele­paskan dirimu dan tak akan mencari dirimu lagi." "Apa permintaanmu itu ?" tak tahan Giok Ling-long bertanya. "Asal mulai sekarang kau jangan me­nyinggung kembali soal perkawinanmu de­ngan pu­traku dan mulai sekarang tak akan berjumpa lagi dengan dirinya . .” Paras muka Giok Ling-long segera ber­ubah hebat, serunya dengan suara gemetar: "Kau . . . . . kau menyuruh aku mulai se­karang tak akan berjumpa lagi dengannya?" "Ya, mulai sekarang kau harus mengang­gap di dunia ini tak pernah ada seorang manu­sia seperti itu, anggap saja kau belum pernah berjumpa dengannya, maka kau tetap bisa hi­dup terus dengan amat tente­ram.." Setelah tertawa, kembali lanjutnya: "Lelaki yang ada di dunia ini banyak sekali jumlahnya, siapa tahu dengan cepat kau akan bisa melupakan dirinya." Paras muka Giok Ling long pucat pias, tubuhnya kembali gemetar keras, serunya: "Bila aku tidak mengabulkan permintaan­mu ?" "Mengapa tidak? Setelah mati, bukankah kau tetap tak akan bisa berjumpa dengan dirinya ?" Pelan-pelan Giok Ling-long menggeleng­kan kepalanya berulang kali, gumamnya: "Tidak sama . . . . . jelas tidak sama." "Bagaimana tidak samanya ?" "Kau tak akan mengerti!" kata Giok Ling-long sambil tertawa sedih. "Manusia macam kau tak akan pernah pa­ham untuk selamanya.." Walaupun tertawanya sangat rawan, na­mun sorot matanya memancarkan sinar ke­baha­giaan yang amat misterius. Sebab dia telah jatuh cinta. Perasaan semacam ini tak mungkin bisa digantikan dengan keadaan macam apapun, juga tak akan bisa dilarikan oleh siapapun. Entah cintanya itu manis atau getir, paling tidak ia jauh lebih berbahagia daripada orang yang belum pernah merasakan cinta. Lok sang-liong-ong memandang mimik wajahnya, agak berubah juga paras muka sendiri, mendadak dari dalam sebuah poci kemala dia menuang secawan arak berwar­na hijau, lalu katanya dengan suara ham­bar: "Bila kau benar-benar tidak bersedia mi­numlah arak itu, mulai sekarang kau tak akan merasakan kesulitan apa-apa." Giok Ling-long menatap arak beracun itu lekat-lekat, kemudian sepatah demi sepatah katanya: "Aku hanya dapat meluluskan sebuah permintaanmu." "Permintaan apa ?" Sorot mata Giok Liong long ditujukan ke tempat kejauhan, lalu sepatah demi sepatah katanya: "Aku tak akan melupakan dia, juga tak mungkin melupakan dia, entah aku dalam keadaan hidup atau mati, dalam hatiku se­lalu hanya ada dia seorang, entah bagaima­napun lihaynya kau, jangan harap bisa merampas dia dari dalam hatiku." Tiba-tiba ia menerjang maju ke depan dan meneguk habis arak beracun dalam cawan itu. Kemudian diapun segera roboh terjeng­kang ke atas tanah. Tapi sekulum senyuman bahagia, senyu­m­an yang misterius tersungging di ujung bibirnya. Karena dia tahu, mulai sekarang entah ada di langit atau di bumi, tak ada orang yang bisa memaksanya untuk melupakan dirinya lagi .... Agaknya Lok-sang-liong-ong tertegun. Ternyata di dunia ini terdapat juga manu­sia semacam ini, perasaan semacam ini memang selamanya tak akan bisa dipahami olehnya. Lim Tay-peng telah menyerbu maju ke muka, menubruk di atas badan Giok Ling-long. Lok sang liong ong tak tega untuk me­mandang lagi ke arahnya, dia tak berani memandang lagi ke arahnya. Entah berapa saat kemudian, Lim Tay-peng baru bangkit berdiri, wajahnya pucat tanpa darah, sepasang matanya merah membara, sambil melotot ke arahnya dia berseru: "Kau telah meluluskan permintaanku, kau berjanji kepadaku . . . . ." Lok sang liong ong hanya menghela napas panjang, agaknya diapun tak tahu apa yang harus diucapkan. "Kau telah meluluskan permintaanku." seru Lim Tay peng. "Semuanya akan kau lakukan dengan adil, tapi sekarang . . . . ." "Ah tahu hal ini bukan sesuatu yang adil." tukas Lok sang liong -ong. "Tapi di dunia ini banyak terdapat persoalan-persoalan yang tidak adil, jika seseorang ingin hidup lebih lanjut, dia sudah seharusnya belajar untuk menahan diri terhadap kejadian semacam ini." "Aku tak akan bisa mempelajarinya, sela­manya tak akan bisa mempelajarinya secara baik ... . ." Mimik wajahnya mendadak berubah pula menjadi misterius dan sangat aneh, seku­lum senyuman seperti apa yang telah diper­lihatkan Giok Ling-long tadi tersungging pula di ujung bibirnya, pelan-pelan dia ber­kata: "Aku tahu di dunia ini tak pernah ada orang yang bisa menyuruh dia melupakan aku, juga tak akan ada orang yang bisa menyuruh aku melupakan dirinya . . . .." Berbicara sampai di sini, mimik wajahnya berubah aneh sekali. Kwik Tay lok yang menyaksikan kejadian tersebut, merasakan air matanya jatuh ber­cucuran tanpa terasa. Ia dapat memahami manusia seperti ini, diapun dapat memahami perasaan seperti ini. Dia tahu Lim Tay-peng juga tak ingin hidup, tak tahan dia ingin melompat keluar dari tempat persembunyiannya dan mener­jang ke muka. Tapi entah apa sebabnya, ternyata Ong Tiong mencegah perbuatannya itu seraya ber­seru dengan suara dalam: "Tunggu sebentar !" "Sekarang, apalagi yang harus kita tunggu?" "Asal kau tunggu sebentar lagi, segala se­suatunya akan menjadi jelas . . . . . . ." jawab Ong Tiong sambil mencorong sinar terang dari balik sinar matanya. Tapi pada saat itulah Lim Tay-peng telah menyambar arak beracun ini di meja dan meneguknya sampai habis. "Akupun telah meluluskan permintaanmu, bila kau membunuhnya, maka akupun akan membunuh seorang anggauta keluarga Lim." Dia telah menghabisi nyawa sendiri. Ketika badannya roboh ke tanah, ia roboh disamping tubuh Giok Ling-long. Ujung bibir mereka berdua sama-sama tersungging sekulum senyuman, senyuman yang aneh dan penuh kebahagiaan. Sepasang mata Kwik Tay-lok telah ber­ubah menjadi merah, dia ingin menceng­keram tubuh Ong Tiong sambil bertanya mengapa ia disuruh menunggu. Tapi pada saat itulah tiba-tiba ia mende­ngar suara seseorang yang amat menawan ber­gema memecahkan keheningan: "Kau kalah !" Tiba-tiba seseorang munculkan diri dari balik tenda, tubuhnya tinggi semampai dan cantik jelita, ternyata dia adalah Wi hujin ibu kandung Lim Tay-peng. Sekulum senyuman malah tersungging di ujung bibirnya. Kwik Tay-lok lagi-lagi dibikin tertegun. Menyaksikan putranya tewas di hadapan matanya, mengapa dia malah masih bisa ter­tawa ? Mimik wajah Lok-sang-liong-ong juga is­timewa sekali, entah gembira atau mende­rita bangga atau kecewa ? Lewat lama kemudian pelan-pelan ia baru mengangguk, sahutnya setelah menghela napas panjang: "Benar, aku kalah !" "Sekarang, tentunya kau sudah mengerti bukan ? Bukan seperti manusia macam kau hanya hidup untuk kepentingan diri sendiri, se­karang kau juga harus tahu, banyak per­soalan di dunia ini yang sesungguhnya jauh lebih penting daripada nyawa sendiri." Lok-sang liong-ong menundukkan kepala-nya lalu tertawa: "Untung saja aku mengetahui hal ini be­lum terlalu lambat." "Belum terlalu lambat?" Wi hujin mena­tapnya lekat-lekat, suaranya jauh lebih lem­but. Lok-sang liong ong mengangkat kepala-nya dan memandangnya pula, kemu­dian menyahut: "Yaa, belum terlambat !" Dibalik sorot mata mereka berdua sama-sama terpancar keluar semacam perasaan yang sangat aneh, tiba-tiba saja mereka saling berpandangan sekejap.. Kesalah pahaman dan perselisihan yang berlangsung banyak tahun diantara mereka berdua, seakan-akan telah punah tak ber­bekas dalam sekulum senyuman mereka itu. Sesungguhnya mereka adalah orang yang sudah membekas dihati dan tak akan terlu­pakan, persoalan apakah yang tak dapat dimaaf­kan olehnya, dan persoalan apa pula yang tak bisa dipahami olehnya ? Tapi putranya . . . . . . ? Lok-sang-liong-ong masih menatapnya lekat-lekat, kemudian sambil tersenyum katanya: "Mereka telah meneguk secawan arak paling getir dalam sepanjang hidup mereka, sekarang berilah arak yang manis untuk mereka berdua." "Yaa, semua orang sudah sepantasnya ikut mencicipi pula arak yang manis itu. . ." ujar Wi hujin lembut. Tiba-tiba ia berpaling kearah Kwik Tay­-lok sekalian yang berada dibalik tirai, kemudian sambil tertawa katanya "Sekarang, tentunya kalian sudah me­ngetahui bukan, apa yang sebenarnya telah ter­jadi, mengapa tidak segera munculkan diri untuk meneguk pula secawan arak ma­nis ?" Kwik Tay-lok masih tidak mengerti, tapi Yan Jit telah memahaminya. "Orang pertama yang bertaruh dengan Lok-sang-liong-ong bukan Ong lotoa, melain­kan Wi hujin." Yan Jit menerangkan. "Demi kebahagiaan hidup putranya, dia memang seharusnya pergi mencari Lok-sang-­liong-ong untuk menantangnya bertaruh." sambung Ong Tiong. "Tampak caranya bertaruh seperti juga cara kita semua, dia tahu di dunia ini terda­pat banyak orang yang dapat mengorban­kan diri demi orang lain, oleh karena itu dia menang" Dia memandang ke arah Kwik Tay-lok, sorot matanya memancarkan kelembutan yang amat sangat. Kwik Tay-lok menggenggam tangannya pelan, lalu berkata lembut: "Benar, orang yang bisa memahami teori ini, selamanya dia tak akan pernah mende­rita kekalahan." "Arakyang diberikan Lok-sang-liong-ong kepada mereka, sudah pasti bukan arak bera­cun." kata Ong Tiong pula. Tentu saja bukan. Karena Lim Tay-peng dan Giok Ling-­long telah bangkit berdiri sekarang, mereka se­dang berpelukan dengan mesra. Sekarang, tiada orang di dunia ini yang sanggup memisahkan mereka lagi, karena mereka mempunyai keberanian untuk me­neguk arak yang paling getir dalam hidup mereka itu. Arakgetir, bukan arak beracun. Tahukah kau di dunia ini terdapat sema­cam arak yang misterius, yang bisa mem­buat kau menghindarkan diri sebentar dari dunia ini, kemudian bangkit dan hidup kem­bali? Tahukah kau di dunia ini sebenarnya ter­dapat banyak kejadian yang aneh yang khusus ditujukan untuk mereka yang saling mencintai dengan hati yang tulus ? Kwik Tay-lok membalikkan badannya ber­paling ke arah Ong Tiong, kemudian ujarnya: "Tadi kau menahan aku untuk keluar dari tempat persembunyiannya, apakah kau su­dah tahu kalau arak itu bukan arak beracun?" "Aku tidak tahu. . . . . . . tapi aku tahu, tiada seorang ayah yang tega untuk meracuni putra sendiri, aku percaya asal dia adalah manusia, sudah pasti dia memiliki sifat manusia" "Kau mempercayainya ?" "Benar !" Kwik Tay lok segera menghela napas panjang. "Aaaai . . . . tak heran kalau kaupun tak pernah menderita kalah." Dibalik tirai tinggal Ang Nio-cu dan Ong Tiong. Sambil menundukkan kepalanya Ang Nio-cu berkata: "Mereka sedang menantimu di luar, me­ngapa kau tidak keluar ?" "Dan kau ?" "Aku . . . . . aku merasa tidak pantas un­tuk berada bersama mereka." "Mengapa ?" Sepasang mata Ang Nio cu berkaca-kaca, katanya dengan kepala tertunduk rendah-rendah: "Karena akupun seperti Lok sang liong ong, tak pernah kuketahui kalau cinta yang sejati bukan bisa didapat dengan suatu tin­dakan, bila kau ingin memperoleh cinta suci orang lain, hanya dengan cinta murnimu saja yang bisa mendapatkannya, tak mung­kin ada cara yang kedua lagi." "Tapi sekarang kau sudah tahu bukan?" Ang Nio cu manggut-manggut. "Sekarang bisa tahu pun belum terhitung terlambat" kata Ong Tiong kemudian. Tiba-tiba Ang Nio cu mengangkat kepala-nya memandang wajahnya, dengan sorot mata memancarkan pengharapan ka­tanya: "Apakah sekarang belum terlalu lambat?" Ong Tiong juga memandang ke arahnya, tapi suaranya telah berubah menjadi halus dan lembut: "Belum terlambat, asal kau benar-benar memahami teori ini, selamanya tak pernah akan terlambat." Digenggamnya tangan perempuan, itu, lalu ujarnya lagi dengan lembut: "Oleh karena itu kitapun harus ikut ber­sama mereka untuk meneguk secawan arak manis, arak getir yang kita minum pun su­dah terlalu banyak." Arakitu manis, selain manis juga harum. Hanya orang yang tahan menghadapi per­cobaan, tahan menghadapi pelbagai rinta­ngan saja yang pantas merasakan arak ini. Dan hanya mereka pula yang berhak mencicipinya. Sambil memegang cawan emasnya, Lok-sang-liong-ong memandang sekejap ke arah putranya dan menantunya, lalu berkata: "Aku telah menyiksa kalian, maka aku harus membayar kerugian, apa saja yang kalian kehendaki pasti akan kuberi." "Kami tidak menghendaki apa-apa." jawab Lim Tay-peng. "Mengapa tidak mau ?" "Sebab yang kami inginkan tak mungkin bisa diberi oleh orang lain, termasuk juga dirimu sendiri." "Akupun tak dapat memberikan kepada kalian? Lantas siapa yang dapat ?" Mencorong sinar terang dari balik mata Lim Tay-peng, sahutnya pelan. "Hanya kami sendiri yang dapat memberi­kan apa yang kami inginkan." "Sebenarnya apa yang kalian inginkan ?" "Apa yang kami inginkan, sekarang telah kami dapatkan." Dia menggenggam tangan istrinya dengan penuh kebahagiaan dan kepuasan. Karena yang mereka inginkan adalah ke­bebasan, kasih sayang dan kegembiraan. Dan kini semua telah mereka dapatkan. Kesemuanya itu tak mungkin bisa diper­oleh dari orang lain, juga tiada orang yang dapat memberikan kepada mereka. . Bila kaupun ingin kebebasan, cinta kasih dan kegembiraan, maka carilah dengan ketekadanmu, kepercayaan pada diri sendiri serta rasa cinta, sebab kecuali itu tak mungkin ada cara lain yang bisa mendapat­kannya. Ya, tak mungkin ada. Justru karena mereka memahami teori ini maka mereka baru memperolehnya. Maka mereka baru mendapatkan kebaha­giaan untuk selamanya. Siapa bilang seorang enghiong itu kese­pian? Bukankah enghiong-enghiong kita selalu riang gembira dan berbahagia dalam kehi­dupannya ?. Dengan begitu, berakhir pula cerita "PENDEKAR RIANG" ini sampai di sini, se­moga pembaca sekalian dapat menarik ba­nyak pelajaran dari pengalaman Kwik Tay lok sekalian dalam kehidupannya. - TAMAT -