Paranormal Cinta 2 Oleh : Febrian, Tuban siang itu pulang sekolah terpaksa naik len. Motor kawasaki yang ku pake ke semarang pulang pergi, cempreng semua, karena mesinnya harus di servis, tadi pagi telah ku titipkan ke servis langganan JMC DM3 club. Ku melangkah cepat, kearah perhentian len. Cewek-cewek yang nyapa di jalan ku jawab dengan lambaian, aku ingin cepat, ah ini gara-gara mendatangi jumpa fant majalah remaja di semarang, memang aku aktif nulis di majalah itu, tapi honornya dikit dan datangnya lambat, kalau ada undangan, harus datang dengan biaya sendiri, memang repot kalau cuma jadi penulis ketengan, bukan kelas teri lagi, tapi kelas rebon, Njagain uang terima kasih dari jadi Paranolmal cinta, ah malah-malah, paling dapat rokok sebungkus, itu aja rokok sukun merah , uampun dah, atau kadang di traktir makan bakso, untung aku anggap ini permainan aja, jadi tak mikir, ah kalau ingat tadi Novianto memberi hadiah padaku, orang yang ihlas pun akan marah, tapi aku ini untungnya bukan orang yang ihlas, tapi orang yang tak mikir. "Biba... makasih ya atas sarannya," tiba-tiba, Novianto lari memelukku, "buah lepasin dong nto.., nanti dikira kita ini gay..." "ah bener ba, aku ngucapin makasih banget, memang saranmu cos pleng buanget..!." nadanya sumringah. "apa kataku kan..!" "iya emang ba, aku jadi ngidolain kamu..., eh ba aku juga beliin oleh-oleh buat kamu" "oleh-oleh apaan?"tanyaku tak perduli, karena pikiranku menerawang, tengah menulis satu puisi untuk satu majalah remaja terbitan ibukota. "kecap...!" "keeeecap..?, kecap apaan?" jidatku mengerut. "kecap ya kecap, masak nggak tau kecap?" "ya taulah kecap, tapi kecap apa mereknya?!" "kan dari Tuban itu kan terkenal kecap laron, jadi kubelikan kecap laron". "oh gitu..! Trus sekarang mana?"tanyaku masih tak perduli, karena tanganku sibuk menulis. "sudah di pakai ibu memasak," aku menatapnya,"maaf ba, ibu mau bikin nasi goreng, kecapnya abis, jadi kecap yang mau ke berikan padamu, ku kasihkan ibu." "oo..gitu, ya udah..."kataku masih tak peduli. "masih ada lagi ba..." "apa..?" "legen sama kacang..." "iya sekarang mana?" "udah habis..." "kamu ini gimana sh!, udah habis ya jangan di omongin, sampai aku udah terlanjur ngebayangin makan kacang," "maaf ba, semalem aku tak bisa tidur, karena mikirin cewek itu terus, juga pengen ngemil, tanpa sadar, kacang yang mau kukasihkan padamu pun ku makan. Dan tiap haus ku minum legen yang juga akan ku berikan padamu, tau-tau dah habis, tapi aku masih menyisakan yang besar-besar untukmu." Novianto mengulurkan tapak tangannya dan dua kacang kulit kering tak berdaya, ada di situ, langsung aja kusambar. Dan ku kemah-kemah kacang kulit itu sekulitnya sekalian, karena teramat dongkol, itulah penghargaan bagi, paranormal cinta. Aku memasuki mobil yang ngantri menunggu penumpang. Di dalam sudah ada dua cewek, duduk berdempetan. Satu dewik, saudara sepupuku. Orangnya manis mungkin seperti semangka masak, apalagi kalau ketawa, giginya kecil-kecil seperti biji semangka. Satu lagi Nabila, orangnya cantik dan manis, wajahnya seperti bintang filem india, bibir tipis, hidung mancung sekali, entah kalau aku menatap hidungnya, aku selalu membayangkan hidungnya itu di ciumkan kepipiku, nancep dan tak bisa di cabut lagi, matanya juga agak lebar berbinar, pernah juga aku mengharap Nabila ini jadi salah satu pacarku, tapi aku sudah terlanjur membuat batasan hanya punya dua puluh cewek saja, dan sekarang cewekku udah dua puluh, ngapelinnya aja udah membuat pusing, salah satu di putusin juga gak mau. Ya di terima aja... Jadi tak ada tempat lagi untuk Nabila. "lho Nabila ini kan arah rumahnya beda, kenapa naik mobil ini..?"tanyaku tak sengaja terpikir. Dewik mencolek Nabila "ayo ngomong sana..." "aku mau maen kerumah Dewik."katanya malu. "ih...katanya tadi mau ngomong sama Biba, tapi orangnya udah disini kok malah malu..."dewik mencela. "ngomong apa sih bil..?, kalau mau ngomong, katakan aja, soal pacar ya? Omongin aja, kamu kan udah tau aku orangnya terbuka," Nabila membuka tasnya dan mengeluarkan amplop bergambar bunga-bunga dan berbau harum. Dan menyerahkannya padaku, kubuka amplop, bau harum menyebar. Mobil yang ku tumpangi pun mulai jalan, penumpangnya hanya kami bertiga, memang di jaman ini harga BBM naik tarip angkutan pun naik, sehingga jarang orang bepergian, kalau tak benar-benar puenting. Ku baca surat, isinya surat seseorang kepada Nabila, yang mengharapkan gadis ini menjadi pacarnya dan gaya tulisan yang di pakai persis gaya tulisanku tapi tanda tangannya bukan tanda tanganku, aku tak tau tanda tangan siapa, karena tanpa nama. Ku tutup surat dan ku masukkan lagi dalam amplop. "iya aku mau..."kata Nabila "apa!?"tanyaku tak dengar karena berisik mobil. "iya Nabila mau jadi pacarmu..." Dewik menyela. Nadanya agak sinis. "apa wik...?"sebenarnya aku bukan bertanya karena tak jelas akan suara dewik, tapi aku mempertanyakan, kenapa Nabila mau jadi pacarku, sementara surat ini bukan aku yang membuat, jadi aku mau jelas persoalannya. "iya..,kan dalam surat itu kamu ingin Nabila jadi pacarmu, nah sekarang dia sudah mau..!,aku ini heran sama kamu ba..kamu ini sudah punya cewek segudang, sudah tak bisa di hitung jari, ee kok masih mengharapkan Nabila, ya jelas Nabila yang mencintai kamu, tak bisa menolakmu, aku sebagai teman dekatnya, jelas aku tak mau dia nanti sakit, hatinya tercacah karena kamu tinggalkan, kalau punya pacar mbok ya satu, apa semuanya nanti akan kamu jadikan istri kan enggak!,..."Dewik marah berapi-api. "eh tunggu dulu...tunggu dulu...ini bukan aku yang membuat." "bukan kamu gimana, itu kan sudah jelas tulisan kamu.."Dewik ngotot, Nabila mengerutkan kening menatapku. Aku segera membuka amplop lagi dan mengeluarkan surat. "lihat ini, tanda tangan yang tertera bukan tanda tanganku, kalian juga pasti tau semua bentuk tanda tanganku.?" kedua gadis itu melongok kesurat yang ku buka dan mata mereka mengikuti arah telunjukku. "lalu bikinan siapa...?"tanya Dewik. "ya mana ku tau?"aku mengangkat kedua pundak. Mobil telah sampai di depan rumahku dan aku turun. "selidiki ya ba...!"kata Dewik. Aku manggut dan melambaikan tangan. Baru aku masuk halaman rumah, kulihat motor grand astrea milik samsul, teman sekelasku di halaman rumahku, dan orangnya yang masih nongkrong di atas jok, masih dengan seragam sekolah. "hei sul...! Tumben main? Yok masuk dulu...."kataku sambil melepas sepatu dan masuk rumah dulu, lalu mempersilahkan Samsul duduk di kursi. Setelah ganti baju dan cuci tangan dan wajah di wastafel aku menemuinya. "ada apa Sul..., tak biasanya, kalau main biasanya kamu kesini malam, ini kok pulang dari sekolah langsung kesini?" Samsul masih senyam-senyum, tak menjawab tanyaku, jari-jarinya di satukan, dan di tekuk ke belakang seperti orang melepas kepenatan. "masalah cewek ya?, si Artika?". "kamu tau aja," "ya taulah...., urusan pacar di seantero sekolah daerah kita, siapa yang tak sampai ke telingaku.?" "kamu naksir abis kan, ama dia..?" "he-eh...!" "dah kamu ungkapin ke dia?"tanyaku. "sudah..." "kapan?" "seminggu yang lalu, lewat surat," "trus dah dapet balasan?" "ya udah tapi, dia naksir kamu..." Aku ketawa ngakak. "kenapa kamu ketawa?, suka kalau temen di tolak, gagal..!"katanya agak jengkel. Aku ketawa lagi. "bukan aku mentertawakan kegagalanmu, tapi yang ku tertawakan dia naksir aku, bukannya kamu, padahal kamu yang empot-empotan naksir dia, bukannya lucu...lucunya aku ini kan tak ada bedanya sama kamu, trus kenapa yang di taksir kok aku.., ngomong ama dia aja belum pernah..karena dia adik kelas kita," "tapi mau bagaimana lagi, kenyataanya gitu, malah Artika, sama saudara misannya silusi, berantem, memperebutkan kamu, mereka berjanji, siapa yang lebih dulu mendapatkanmu, akan mendapatkan taruhan yang mereka sepakati, gimana? apa tak lebih gila lagi?"kata samsul bersemangat. "wah-wah makin ngaco aja, masak aku di pake persaingan dan perlombaan gitu... Wah kalau taruhannya kecil terhina dong aku? Jangan-jangan taruhannya cuma permen karet....ckikik wah sama sekali tak berharga aku ini..." "eh jangan salah, taruhannya motor mio..dari dealer." "wah terlalu gede, wah bisa di musuhin orang aku nanti, apalagi kalau ketahuan polisi, bisa keborgol aku..., ini tak bisa di biarkan., eh kamu kok tau banyak dari mana sul..!?, jangan-jangan kamu ngarang, kali aja akal-akalanmu aja..." "akal-akalan gimana?,aku ini semalem kerumah Artika, mau menanyakan, dan terus terang aku tak suka kalau dia menyukai kamu Ba...!" "terus...?" "ya itu, malah dia cerita kalau tak hanya menyukai kamu tapi juga bersaing dengan lina, yang tak dapat menggaetmu, harus membelikan mio.." "tapi aku belum percaya kalau belum mendengar dengan telinga sendiri...eh silina tuh orangnya yang mana sh..?" "wadaw kamu ini gimana sh ba? Masak udah di cintai cewek mati-matian, malah belum tau orangnya?, dia emang bukan dari SMA kita, tapi sekolah di SMA laen, tapi sering kok lewat sekolah kita, ceweknya putih, tinggi, rambut hitam lurus, panjang, dan cantik." "pengen juga ke rumah Artika..., sebab denger cerita kamu medok banget,"kataku sambil mempersilahkan Samsul meminum kelapa muda yang di campur sprite, yang telah di suguhkan pembantuku, aku juga meminum, kemudian mengambil rokok djarum super dan ku nyalakan. "nah...nah kamu akhirnya mau juga kan menggaet Artika..."kata samsul curiga. "ah Sul, kamu jangan salah menilai gitu, aku ini tak serakus itu, setiap liat daun muda asal lalap aja," "nanti kita pergi berdua aja, daripada aku kamu curigai, lagian aku belum tau rumahnya, nyasar kekuburan, malah-malah di embat ama kuntilanak" "trus apa rencanamu..?" "sementara biar aku mempelajari keadaan, tapi aku janji, nanti Artika akan jadi milikmu..." "wah meyakinkan sekali, bener nh?" "eh walau aku ini tukang buat janji, tapi pasti ku tepati, juga kalau entar malem mau ke rumah Artika. Aku di jemput." "ah iya, kawasaki ninjamu mana ba?, dari tadi aku tak melihat batang hidungnya." "lagi aku servis, sekalian aku ganti motif air brushnya." "lho kan motif Matrix evolution kan udah bagus, kenapa di ganti?" "yah bosen..." Malam itu, selepas isyak, aku dan Samsul pergi ke rumah Artika. Sampai di rumahnya kami mengucap salam, yang keluar Ibunya, setelah menyanya kdperluan kami, dan kami jawab kami mau bertemu Artika, maka Ibu itu pun masuk ke dalam, tak lupa sebelumnya menyilahkan kami berdua duduk. Sebentar kemudian Artika keluar, namun sampai di pintu ruang tamu dia menjerit ketika menatapku, tangannya di tutupkan kemulut, lalu lari lagi ke dalam. Tak sampai sepuluh menit, dia telah keluar lagi dengan dandanan rapi. "ah kenapa tak bilang-bilang mas biba mau ke sini...." suaranya manja, kalau melihat gelagatnya memang gadis ini cinta mati kepadaku. "yah mau bilang sama siapa?, kalau bilang ke kamu, kalau udah sampai sini aja." "eh entar dulu ya ..." katanya, berdiri lalu lari keluar, sebentar kemudian telah datang membawa tiga mangkok bakso, lalu keluar lagi membawa es kelapa muda, lalu keluar lagi, pokoknya ribut amat, wira-wiri, sampai mataku melihatnya aja lelah. "udah ah capek.., ayo duduk makan."kataku ketika melihatnya mau keluar lagi, padahal di meja sudah penuh berbagai makanan. "wah aku kemaren kesini, makanan tak sebanyak ini?"kata samsul. "eh bisa aja..."kata Artika. "ah ayo makan, baksonya keburu dingin.." kataku menyelani. "kami pun makan, dan tiap kali gadis ini mencuri pandang padaku, karena jengkel pandanganku di curi-curi terus, terpaksa aku menatapnya lekat-lekat, sehingga tiap dia melirikku, tertangkap basah olehku, dan wajahnya kontan memerah malu, tapi tetep aja di ulangi. Memang kalau di pandang Artika cantik juga, rambutnya subur bergelombang, sampai teramat suburnya rambut, di pelipisnya juga tumbuh rambut, dan jidatnya sempit karena banyaknya rambut, alisnya tebal, matanya agak belok besar, berkilat menambah kecantikan, hidungnya biasa, pipinya montok, bibir indah ranum ada belahannya di atas bibir ada kumis halus, menambah manis, dan janggutnya lancip. Kami selesai makan bakso, aku menyalakan rokok djarum super. " Tik..., menurut cerita Samsul, kamu lagi tak rukun ama saudara misanmu, gara-gara aku, apa itu benar?" Gadis itu menatap samsul lalu kearahku dan menjawab. "he-eh.."katanya sambil manggut. "jadi aku kamu jadikan perebutan.., seperti barang saja..." "bukan begitu mas,, kamis memang sejak kecil selalu bersaing, dalam mendapatkan sesuatu, dan lusi ketika ku tanya apakah mengenal mas Hubbah, eh dia juga menagatakan mengenal, jadi aku panas ati, lalu ku tantang dia siapa yang kalah bersaing untuk mendapatkan mas, maka harus membelikan motor, dan dia setuju, maka kami pun bersaing, kan tak salah, terus terang aku mengidolakan mas Hubbah, seorang cowok yang selalu bisa memberi solusi cinta, dan di puja oleb cewek-cewek." "apa kamu tau, aku ini lelaki yang banyak pacar?" "ya tau lah, maka betapa bangganya bisa jadi salah satu pacar mas bba..." "wah-wah dunia ini sudah ngacao.."tiba-tiba samsul menyela. Aku juga tersenyum. "eh bisa panggilkan saudari misan kamu, siapa namanya? Lusi apa lina?"tanyaku. "lina..."jawab Artika sambil beranjak melangkah. Sekitar sepuluh menit gadis itu telah kembali, dan bersama gadis yang sesuai gambaran samsul. "kamu namanya lina?" tanyaku kepadanya setelah dia duduk. Dia manggut. "kamu kenal sama aku?" "ya tau lah, Hubbah, paranormal cinta kan? Siapa sih yang tak kenal, di sekolahku kamu jadi bahan omongan...huh seru..!," "jadi kamu mau berlomba dengan Artika untuk dapat menggaet aku?" "he-eh siapa takut...." "misalkan kamu yang menang apa kamu tak nyesal jadi pacarku..?" "eh harus aku yang dapat.!" tiba-tiba, Artika menyela. "mana bisa harus aku, hba dah ngomong khan?!" lina menyela ngotot. Dan mereka berdua saling ngotot. "sudah...sudah., tak ada yang dapat!"bentakku "kalian berdua tak menghargai perasaanku, yang ada hanya motor mio di kepala kalian..! kami terdiam. Lalu lagi-lagi kedua gadis ini saling menyalahkan, "sudah..., aku tak mau kalian perebutkan...sebaiknya kalau mau bersaing, kenapa tak bersaing dalam kebaikan aja, misalkan dalam ilmu?" Keduanya terdiam, "dan alangkah baiknya kalau kalian berdua hidup rukun, tanpa mesti bersaing, kalau memang persaingan kalian tanpa ada manfaatnya, dan kalian tak bisa menerima efek persaingan, yang ada timbulnya permusuhan". Kemudian aku meminta dua gadis itu saling memaafkan, dan lina pun pamit pulang. "mas ba..! Jangan marah ya..."suara Artika merajuk. "enggak, aku tak marah..." "tapi benar lho aku ini mengidolakan mas ba... Semua puisi yang mas ba tulis pasti ku koleksi, juga tulisan yang mas ba buat aku selalu ikuti perkembangannya dan ku tiru, bentar ya..." Artika masuk ke dalam, dan keluar lagi, membawa buku tebal catatan hariannya, memberikannya padaku, aku pun membukanya, di dalam banyak sekali kliping majalah, semua karyaku, sampai aku sendiri telah lupa dengan karya itu, juga foto-foto yang di muat di majalah terpampang di situ. "hei...ini tulisan mu tik..?" "iya mas, mirip ya sama tulisan mas ba?" "wah aku seperti pernah ngelihat tulisan ini, mirip sekali..., oh ya di suratnya Nabila..."aku ingat dan kaget. "oh suratnyanya mbak Nabila, aku yang bikin mas" "kamu yang bikin gimana.? Kamu kan cewek masak nyurati cewek..?" "wah tak ada harapan ini.." Samsul yang sejak tadi diam, tiba-tiba menyela. "bukan begitu, ceritanya gini, minggu yang lalu, dina, teman sekelasku ngomong di minta membuatkan surat cinta kakaknya yang bernama munir, tuk di kasihkan ama Mbak Nabila, lalu ku lihat dia bingung, iseng-iseng kubuatkan saja, maka jadilah, kok mas ba tau ? Di mintai pendapat sama mbak Nabila ya?" "di mintai pendapat gimana?, malah aku yang di tuduh nyurati, wah apa tak runyam, sampai aku di marahi Dewik habis-habisan." "wah ini gara-gara aku..." "kamu mau kan menjelaskan pada Nabila tik?" "untuk mas ba, besok akan ku jelaskan ke mbak Nabila, biar tak salah paham. "makasih tik..." "tak usah berterimakasih mas, aku merasa tersanjung bisa membantu." Kamipun pamit pulang. Dua masalah terselesaikan. setelah pulang aku membuatkan puisi kepada samsul, isinya berbunga-bunga, berlembar-lembar kertas hvs telah kupenui dengan puisi, seakan puisi itu kalau di bacakan pada pohon, pohon pun tumbang, kalau dibacakan pada laut, ombak pun tenang, kalau di bacakan pada angin, angin akan berhenti di pucuk pucuk daun, kalau di bacakan pada sungai yang mengalir, maka aliran air akan terbendung. Kusuruh samsul menyalinnya dalam suratnya. Dan memberikannya pada Artika. Dan tak berapa lama mereka pun jadian. Pacaran sampai menikah. Sekarang telah di karuniai tiga anak. Sampai di sini cerita yang kutulis di waktu senggang. Kata-katanya buru-buru karena di buru waktu. Tiada niat lain kecuali sebagai bacaan ringan saja semua fiktif belaka.