NAGA SAKTI SUNGAI KUNING (Huang Ho Sin-liong) Karya : Asmaraman S. Kho Ping Ho, Penerbit : CV. Gema Tahun 1992 Kontibutor :Syauqy_arr@yahoo.co.id disalin : bintang73/Harly (indozone.net) mjbookmaker by: http://jowo.jw.lt   ================================== ABC Amber LIT Converter v2.02 ==================================   JILID I   1. Dua buah kepala dan sakit hati   Laki-laki itu berusia kurang lebihlima puluh tahun. Tubuhnya tinggi besar dan berotot, kokoh kekar membayangkan kekuatan yang hebat. Kepalanya seperti kepala harimau, rambutnya masih hitam kaku agak awut-awutan tersembul dari kain pengikat kepalanya. Mukanya jantan dan galak. Alis tebal hitam melindungi sepasang mata yang lebar dan tajam, bahkan kadang-kadang mencorong penuh wibawa, hidungnya besar mancung dengan lengkungan menonjol di tengah, mulutnya tertutup kumis yang dibiarkan tumbuh liar, dan dagu yang membayangkan kekerasan itu dihiasi jenggot pendek yang agaknya dipotong secara kasar. Andaikata dia merawat muka itu baik-baik, mudah dilihat bahwa wajah itu kelihatan menyeramkan. Pakaiannya sederhana dari kain yang kasar dan tebal kuat, biar sederhana sekali namun cukup bersih seperti juga rambut, jenggot dan kumisnya yang tidak terawat itu nampak bersih dan sering dicuci.   Dia duduk diatas sebuah bangku menghadapi meja, sedang makan. Keadaan dalam pondok itupun amat sederhana, seperti keadaan pemiliknya. Sebuah pondok kayu yang kecil saja, tidak memeliki kamar, dengan dua jendela di depan belakang, dan dua pintu di depan belakang pula. Di dalam pondok terbuka begitu saja dan agaknya dia tidur, makan dan melakukan segalanya di satu ruangan itu saja. Ruangan itu hanya diisi meja dan sebuah bangku, ada pula dipan kayu di sudut yang lain. Membayangkan kemiskinan, bukan sekedar kesederhanaan.   Di dalam pondok kayu beratap daun kering itu hanya mempunyai sebuah hiasan, atau mungkin juga tidak dimaksudkan, sebagai hiasan. Di dekat dipan terdapat sebuah rak senjta dan nampak beberapa macam senjata disitu. Tombak, golok, ruyung yang kesemuanya mempunyai ukuran besar dan berat.   Di tengah-tengah pondok, kini persis didepan mukanya ketika dia duduk menghadapi meja tergantung sebuah benda yang akan membuat orang lain bergidik ngeri. Benda itu sebuah kepala ! Kepala yang mongering, akan tetapi masih lengkap. Agaknya kepala itu direndam semacam obat yang membuat kepala itu tidak menjadi busuk. Masih dapat dilihat jelas bentuk muka itu. Sebuah muka laki-laki yang masih muda, tidak lebih dari tahun usianya, tentu saja pucat seperti muka mayat, dengan mata terbuka tanpa sinar sama sekali, seperti mata boneka. Mulutnya juga agak terbuka menyeringai seperti orang ketakutan atau kesakitan. Kepala itu tergantung pada rambutnya yang hitam panjang seperti rambut wanita dan tentu saja amat mengerikan. Setiap ada angin bersilir masuk, kepala itu bergoyang-goyang seperti menengok ke kanan kiri, mencari sesuatu.   Sunyi saja di dalam pondok itu. Pria itu makan tanpa mengeluarkan bunyi. Melihat keadaan tubuhnya dan kesederhanaannya, sungguh mengherankan melihat cara dia makan. Biasanya, orang yang hidupnya sederhana dan kasar seperti itu, kalau makan mengeluarkan bunyi, seperti mengecap-ngecap makanan dalam mulut, menggerak-gerakkan sumpit di pinggiran mangkok. Akan tetapi, orang ini makan seperti seorang terpelajar, orang yang biasa dengan aturan dan tatasusila. Mulutnya mengunyah makanan dengan bibir hampir terkatup, juga sepasang sumpitnya digerakkan dengan hati-hati sehingga tidak menimbulkan bunyi. Diatas meja itu terdapat dua piring masakan sayur dan daging, sederhana saja karena dimasaknya sendiri dan semangkok besar nasi.   Akan tetapi diatas meja dekat mangkok nasi itu terdapat sebuah botol besar dan kalau orang melihat botol besar ini, tentu dia akan menjadi terkejut, ngeri dan seram. Botol itu berisi anggur merah yang merendam sebuah ……. Kepala pula. Sebuah kepala seorang wanita. Masih nampak uth seolah-olah masih hidup. Kulit mukanya yang putih bersih, sebagian leher yang mulus, rambut yang halus hitam panjang itu sebagian berada di luar botol. Mata kepala wanita itupun terbuka, mulutnya sedikit terbuka memperlihatkan deretan gigi yang putih seperti mutiara. Namun bibir yang indah bentuknya itu tidak merah lagi, melainkan membiru, mengerikan !   Pria itu mengambil botol dengan tangan kiri, menuangkan anggur dari botol dengan hati-hati ke dalam sebuah cawan, sambil memandang muka kepala wanita itu, meletakkan kembali botol besar dengan muka itu menghadap padanya, dan dia pun tersenyum. Makin jelas nampak ketampanan wajah setengah tua itu ketika dia tersenyum. Lalu diminumnya anggur dalam cawan itu, matanya ki ni tetap memandang wajah kepala wanita dalam botol besar.   Ditaruhnya cawan kosong itu ke atas meja kembali. Dia sudah selesai makan dan kini duduk termenung, memandang wajah dalam botol, lalu terdengar dia bicara lirih seperti kepada diri sendiri, akan tetapi jelas ditujukan kepada wajah dalam botol itu.   “Hui Cu, pagi ini kau nampak semakin cantik saja ! Ah, engkau mengingatkan aku akan malam pengantin kita …… ah, betapa mesranya, betapa hangatnya, betapa manisnya ……” Dia memejamkan mata sebentar, lalu membukanya kembali dan memandang wajah kepala wanita itu, jari tangannya bergerak mengelus rambut yang terjurai keluar dari botol dengan gerakan tangan mesra.   “Ketika itu engkau berusia delapan belas tahun, dan aku dua puluh lima tahun. Kita saling bersumpah untuk saling mencinta sampai mati dan kita saling curahkan cinta kita. Betapa mesranya, Hui Cu. Kemudian setiap malam, ya… hampir setiap malam, kita bermalam pengantin seperti itu. Aku semakin mencintaimu, aku tergila-gila kepadamu . akan tetapi ….. baru setahun, engkau mulai berubah ……”   Tiba-tiba dia menyambar sepasang sumpit didepannya, tubuhnya tak bergerak dan matanya setengah terpejam. Dia memusatkan perhatiannya kepada pendengarannya karena telinganya yang terlatih menangkap suara yang tidak wajar. Lalu dia bersikap biasa kembali, hanya saja tangan kanannya masih memegangi sepasang sumpit. Dan dia sudah melanjutkan “pembicaraannya” kepada wajah wanita dalam botol.   “Dan ketika dia datang ……” Dia menengok kearah kepala yang tergantung ke tengah ruangan dan yang kini kebetulan berputar menghadap padanya dan agaknya menyeringai lebih lebar dari biasanya, “…….dia si mulut manis, si perayu besar, sahabatku yang tadinya amat kusayang, sahabat yang ternyata berkhianat dan palsu, engkau pun jatuh! Ternyata engkau lebih menyukai sikap yang bermanis muka, rayuan-rayuan sikap gombal daripada sikapku yang selalu terbuka dan jujur. Bahkan, ketika aku mencoba kalian, sengaja aku berpamit pergi untuk suatu keperluan, kalin sudah berani mengkhianatiku, berzina didalam kamar kita, diatas ranjang pengantin kita. Aku menahan kemarahan, menantang Kun Tian keluar, untuk bertanding sebagai dua orang laki-laki, memperebutkan engkau ….”   Tiba-tiba nampak sinar kecil berkelebat kearah pria itu. Dengan sikap tenang sekali, pria itu menggerakkan tangan kanannya dan dilain saat sepasang sumpit itu telah menangkap atau menjepit sebatang senjata piauw beronce merah yang ujungnya menghitam dan berbau amis, tanda bahwa piauw itu beracun.   Seperti tidak pernah terjadi sesuatu, pria itu kini melanjutkan kata-katanya yang ditujukan kepada wajah kepala wanita dalam botol.   “Engkau menjadi saksi perkelahian kita yang adil. Aku berhasil merobohkannya, akan tetapi betapa sakitnya hatiku melihat engkau menubruk mayatnya dan menangisinya. Engkau terang-terangan lebih memberatkan dia daripada aku, suamimu yang sah. Hal ini tak dapat kutahan lagi, Hui Cu. Aku memenggal lehermu, juga leher Kun Tian. Aku terlalu cinta padamu, biarlah kepalamu selamanya dekat dengan aku, biarlah setiap hari aku minum anggur yang merendam kepalamu, dan biarlah kepala dia melihatnya dan merasa iri. Ha-ha-ha!” tiba-tiba saja pria itu tertawa bergelak, seperti orang mabuk dan kini dia memandang kepada muka kepala laki-laki yang tergantung di tengah ruangan. Akan tetapi, kalau mulutnya terbuka lebar tertawa bergelak, sepasang mata pria itu basah oleh air mata. Dia menaangis sambil tertawa, tanpa terisak. Sungguh dapat dibayangkan betapa besar penderitaan batin pria ini, yang belum dapat melupakan peristiwa yang terjadi lebih dari dua puluh tahun yang lalu.   Dan agaknya, bukan dia saja yang tidak melupakan peristiwa itu. Pihak lawannya, yang kepalanya kini tergantung ditengah ruangan pondoknya, agaknya juga tidak melupakannya.   Orang yang bernama Coa Kun Tian itu adalah putera ketua perkumpulan Hek-Houw-pang (Perkumpulan Harimau Hitam), sebuah perkumpulan yang amat terkenal disepanjang lembah Sungai Kuning. Putera ketua Hek-houw-pangini adalah seorang pemuda berilmu tinggi yang tampan dan gagah menjadi kebanggan perkumpulan Hek-houw-pang yang memang terdiri dari orang-orang gagah. Hanya saying sekali, ketampanan wajah dan kegagahan Coa Kun Tian ini dinodai oleh wataknya yang mata keranjang dan hidung belang. Dia mudah jatuh kalau berhadapan dengan wanita cantik, dan sekali tertarik, dia suka mata gelap dan berusaha merayu sedapatnya untuk merayu wanita itu, tidak peduli wanita itu sudah ada yang punya ataukah belum. Dan biasanya, karena dia gagah dan tampan, pandai merayu, maka jarang ada rayuan-rayuannya yang gagal. Jarang ada wanita yang mampu menolak rayuannya. Demikian pula Phang Hui Cu, isteri pria tinggi besar yang berada di pondok itu, ia jatuh menghadapi rayuan dan ketampanan Coa Kun Tian sehingga dengan penuh gairah melayani hasrat laki-laki itu dan mereka berzina didalam rumah dan kamar suami Hui Cu.   Setelah Coa Kun Tian tewas, gegerlah perkumpulan Hek-Houw-pang. Apalagi setelah mendengar bahwa putera ketua itu tewas di tangan Liu Bhok Ki, seorang pendekar yang menjadi sahabat baik Coa Kun Tian, bahkan menjadi orang yang dihormati oleh Hek-houw-pang !  Hek-houw-pang yang dipimpin ketuanya, tidak tinggal diam saja. Coa Liong, ketua Hek-houw-pang tidak membiarkan puteranya terbunuh tanpa dibalas. Dia lalu mencari Liu Bhok Ki, pendekar yang tadinya menjadi sahabatnya dan sahabat puteranya. Terjadi perkelahian mati-matian dan akhirnya, para anak buah Hek-houw-pang terpaksa membawa pulang jenazah ketua mereka dengan hati penuh duka.   Liu Bhok Ki sendiri hancur hatinya semenjak peristiwa yang menimpa keluarganyaa. Hatinya remuk, kebahaagiaan hidupnya lenyap dan dia hidup seperti seorang setengah gila, mengasingkan diri di Kui-san (Bukit Setan) yang berada di Lembah Sungai Huang-ho yang paling sunyi. Disini dia mendirikan pondok tinggal di situ bersama dua buah kepala. Yang sebuah adalah kepala Coa Kun Tian dan setelah direndamnya dengan ramuan yang membuat kepala itu tak dapat membusuk, bahkan kini mongering seperti kayu, dan digantungny di tengah pondok. Yang kedua adalah kepala isterinya Phang Hui Cu yang cantik jelita, yang direndamnya dalam anggur di botol besar dan kedua kepala inilah yang selalu menemaninya di dalam pondok sunyi itu.   Selama dua puluh tahun lebih ini, pihak Hek-Houw-pang tidak pernah diam untuk berusaha membalas dendam. Sudah puluhan kali, bahkan hampir setiap tahun ada saja dari pihak Hek-Houw-pang yang mencari Liu Bhok Ki untuk membalas dendam. Namun, selama ini belum pernah ada yang berhasil. Bahkan sebaliknya, ada saja pihak Hek-Houw-pang yang roboh dan tewas. Oleh karena itu, dendam Hek-Houw-pang terhadap Liu Bhok Ki menjadi semakin berlarut, semakin mendalam. Hal ini sebenarnya membuat Liu Bhok Ki merasa sedih juga. Akan tetapi apa hendak dikata, keadaan sudah seperti itu. Dia tidak mungkin mundur kembali, dan dia selalu siap membela diri kalau tiba serangan dari pihak Hek-Houw-pang.   Bahkan pada pagi hari itu, selagi dia makan, datang serangan gelap dalam bentuk sebatang piauw yang dapat ditangkapnya dengan sepasang sumpitnya. Cara menghadapi serangan gelap senjata piauw beracun itu saja sudah menunjukkan betapa lihaynya pria setengah tua tinggi besar ini. Memang sejak kecil dia suka mempelajari ilmu silat dan namanya pernah besar sebagai seorang pendekar yang selalu menentang para penjahat di sepanjang sungai Huang-ho. Akan tetapi, semenjak peristiwa menyedihkan itu, dimana dia terpaksa membunuh isteri tercinta dan sahabatnya terbaik, namanya lenyap dari dunia kangouw dan dia mengasingkan diri di pondok itu. Hanya kadang-kadang saja dia pergi ke dusun terdekat untuk membeli kebutuhan sehari-hari, ditukar dengan hasil dia bercocok tanam atau mencari ikan di sungai Huang-ho yang berada di dekat pondoknya.   Peristiwa itu sungguh menghancurkan kehidupannya. Dia seolah-olah telah mati, dan selalu terancam bahaya oleh pihak Hek-Houw-pang. Maklum bahwa para musuhnya itu takkan pernha berhenti berusaha untuk membalas dendam, diapun tidak tinggal diam dan setiap hari, kalau tidak bekerja, Liu Bhok Ki melatih diri, memperdalam ilmu-ilmunya, bahkan dengan bakat dan kecerdikannya, dia telah menciptakan beberapa macam ilmu silat yang hebat. Kini, dalam usia kurang lebih lima puluh tahun, dia memiliki ilmu kepandaian yng hebat, dan jarang ada orang yang akan mampu menandinginya.   Kini Liu Bhok Ki sudah tidak “berbicara” lagi dengan wajah kepala wanita di dalam botol, melainkan duduk termenung memandangi piauw yang tadi ditangkap sepasang sumpitnya dan kini dia letakkan diatas meja didepannya..   Sebatang piauw yang bentuknya segi tiga dan diujung belakangnya dihiasi ronce-ronce merah. Piauw ini kecil dan ringan sekali, akan tetapi runcing dan mengandung racun yang amat berbahaya, hal ini dapat dikenalnya dari baunya yang amis seperti bau ular. Dan melihat bentuk piauw yang kecil ringan itu, apalagi melihat hiasan ronce merah, Liu Bhok Ki dapat menduga bahwa yang mempergunakannya patutnya seorang wanita. Sepasang alisnya berkerut. Selama dua puluh tahun lebih ini, belum pernah Hek-Houw-pang mengirim seorang murid wanita untuk mencoba membunuhnya. Rasa gatal pada tangan kanannya membuat dia tiba-tiba seperti orang terkejut dan cepat dia memeriksa tangan kanannya, matanya terbelalak melihat betapa ada tanda menghitam pada dua jarinya, di permukaan telunjuk dari jari tengah.   “Ahhh ……” serunya perlahan dan cepat mengambil sebuah buntalan yang tergantung pada rak senjata.   “Sungguh tolol, memandang rendah lawan!” gumamnya sambil membuka buntalan dan dia mengeluarkan sebuah bungkusan kuning.   Dibukanya bungkusan itu dan ditaburkan sedikit bubukan merah pada noda hitam di kedua permukaan jari tangan, digosok-gosoknya dan noda itupun lenyap, rasa gatalnya lenyap.   Bubuk merah itu adalah obat manjur sekali untuk melawan racun. Kiranya, penyerang dengan piauw tadi agaknya sengaja melontarkan piauw secara perlahan saja agar dia dengan mudah dapat menangkapnya dengan tangan atau sumpit. Dan biarpun ditangkap dengan sumpit, namun agaknya ada bubuk atau hawa beracun dari piauw itu yang mengenai jari tangannya seolah-olah racun itu mampu menjalar melalui sumpit, mengenai dua jari tangan yang kalau tidak cepat diobati akan berbahaya sekali baginya, dapat membuatnya mati konyol!   Kini tahulah dia bahwa pelempar piauw itu merupakan seorang lawan tangguh yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan !   Pada saat itu, muncullah belasan orang di depan pintu pondok. Mereka itu rata-rata berusia empat puluh tahun, mengiringkan seorang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh tahun. Pemuda ini berwajah tampan dan begitu melihat wajah pemuda itu, Liu Bhok Ki merasa jantungnya berdebar tegang..   Wajah itu! Persis wajah pria yang telah menggoda dan menggauli isterinya. Persis wajah Coa Kun Tian yang kepalanya kini tergantung di tengah ruangan pondok. Pemuda itu kini berdiri memandang kepada kepala kering yang tergantung itu, kepala yang bergoyang dan berputar. Ketika kepala itu menghadap keluar kepadanya, tiba-tiba pemuda itu menjatuhkan diri berlutut.   “Ayah ……!” Dan diapun sambil berlutut memberi hormat delapan kali kearah kepala yang tergantung itu. Sejak tadi Liu Bhok Ki sudah bangkit berdiri dan dia memandang bengong kepada pemuda itu. Putera Coa Kun Tian ? rasanya tidak mungkin! Bukankah Kun Tian ketika menzinai isterinya dahulu itu belum menikah? Dia tahu benar akan hal ini karena dia bersahabat karib dengan Kun Tian dan dia mengenal betul keluarga ketua Hek-Houw-pang.   Bagaimana kini muncul seorang pemuda yang menyebut ayah kepada mendiang Coa Kun Tian? Akan tetapi, kalau bukan puteranya, lalu siapa dan mengapa mengaku anak? Dan wajah itu! Dia tidak akan meragukan bahwa itu adalah wajah Kun Tian, dan patut dipercaya bahwa pemuda ini memang putera bekas sahabat yang dibunuhnya itu.   Setelah memberi hormat kepada kepala yang terayun-ayun itu, si pemuda yang tampan berpakaian seba putih itu bangkit berdiri memandang kepada Liu Bhok Ki dengan sinar mata penuh kemarahan dan dendam. Pandang mata seperti ini sudah biasa dirasakan oleh Bhok Ki dari para anggota Hek-Houw-pang, maka diapun balas memandang dengan sikap tenang saja.   Pemuda itu melangkah mundur, dan para anggota Hek-Houw-pang yang berada dibelakangnya juga ikut mundur. Sambil melangkah mundur tanpa melepaskan pandang matanya dari laki-laki setengah tua di dalam pondok itu, si pemuda lalu berkata, suaranya halus walaupun mengandung kemarahan yang ditahannya.   “Liu Bhok Ki, keluarlah dan mari kita selesaikan perhitungan yang telah terpendam lama sekali ini!”   Liu Bhok Ki melangkah maju, mulutnya tersenyum dan ketika dia berada diluar pondok, di udara terbuka, dia lalu tertawa bergelak. Tubuhnya terguncang-guncang dan wajahnya dilempar ke belakang, menengadah, seolah-olah dia tertawa kepada langit diatas. “Ha-ha-ha!” Lalu dia menunduk dan manatap pemuda didepannya itu penuh perhatian.   “orang muda, engkau telah mengenal namaku, akan tetapi aku belum mengenalmu. Biasanya, tidak pernah aku menanyakan nama orang-orang Hek-Houw-pang yang datang dengan maksud membunuh aku. Entah sudah berapa banyak, mungkin lebih dari enam puluh orang Hek-Houw-pang yang tewas dalam usaha mereka membunuhku. Akan tetapi engkau lain. Sikapmu menarik hatiku, terutama ketika engkau tadi berlutut dan menyebut ayah kepada Coa Kun Tian. Benarkah engkau putera Kun Tian dan siapa namamu?”   Sikap pemuda itu tenang dan cukup gagah, nampak ketabahan luar biasa pada sinar matanya.   “Namaku Coa Siang Lee dan memang mendiang Coa Kun Tian adalah ayah kandungku. Sebagai putera kandungnya, tentu engkau cukup maklum apa yang menjadi maksud kunjunganku ini. Bersiaplah untuk mengadu nyawa denganku, Liu Bhok Ki!”   Liu Bhok Ki memandang ragu dan penuh selidik. Biarpun wajah pemuda pakaian putih itu memang serupa dengan mendiang Kun Tian, akan tetap bagaimana mungkin Kun Tian yang masih belum menikah itu kini tiba-tiba mempunyai anak?   “Hemmmm, ketahuilah bahwa Kun Tian tadinya adalah sahabat karibku dan aku tahu benar bahwa dia belum pernah menikah. Bagaimana kini tiba-tiba saja muncul engkau yang mengaku sebagai puteranya?”   Mendengar ucapan ini, wajah yang tampan itu berubah merah, dan tiga belas orang anggota Hek-Houw-pang, yang dapat dikenal dengan lukisan harimau hitam kecil di dada sebelah kiri baju mereka, saling pandang dan merekapun kelihatan rikuh. Memang, pemuda bernama Coa Siang Lee ini adalah keturunan aseli dari Coa Kun Tian, putera kandung yang kinimenjadi jago mereka yang diharapkan, akan mampu menandingi dan merobohkan musuh besar mereka. Akan tetapi kelahiran Coa Siang Lee ini tidak sah, karena ibunya mengandung sebagai hasil hubungan gelap dengan mendiang Coa Kun Tian. Setelah Kun Tian meninggal barulah diketahui bahwa gadis yang digaulinya itu telah mengandung!   “Liu Bhok Ki, aku datang bukan untuk menceritakan riwayatku kepadamu. Bagaimana duduknya perkara aku menjadi putera ayahku, bukan urusanmu. Cukup kau ketahui bahwa aku adalah putera kandungnya dan aku datang untuk menuntut balas atas kematian ayahku di tanganmu!”   Liu Bhok ki menarik napas panjang. Dia tidak pernah merasa gembira, setiap kali diserbu orang-orang Hek-Houw-pang. Dia melayani mereka hanya karena terpaksa, untuk membela diri dank arena mereka itu selalu menyerangnya mati-matian maka tidak dapat dihindarkan lagi setiap kali jatuh korban diantara mereka.   Apalagi kini yang maju adalah putera kandung Coa Kun Tian. Sebetulnya, dia dahulu amat saying kepada shabatnya itu. Bahkan sekarangpun, setiap kali memandang wajah kepala sahabatnya itu, timbul rasa saying, akan tetapi perasaan itu selalu diusirnya dengan membayangkan kembali perbuatan sahabatnya itu dengan isterinya yang membuat hatinya menjadi panas kembali. Tentu saja dia tidak membenci putera Kun Tian yang wajahnya tampan mirip sekali ayahnya itu.   “Coa Siang Lee, tahukah engkau mengapa ayahmu sampai tewas di tanganku?” tanyanya, dan para anggota Hek-Houw-pang mendengar betapa dalam suara itu terdapat keraguan, agaknya si jago tua yang menggiriskan itu merasa gentar menghadapi jago muda mereka yang kelihatan amat tabah dan gagah itu.   “Aku tidak perduli! Yang jelas, engkau telah membunuh ayahku, bahkan telah berbuat sedemikian keji dan kejam, menyiksa dan mempermainkan kepala ayahku seperti itu. Sungguh perbuatan yang terkutuk! Pendeknya, aku datang untuk menuntut balas kepadamu, sebagai amal bakti kepada ayah kandungku! Aku akan membunuhmu dan membawa pulang kepala ayahku itu untuk dimakamkan dengan baik dan terhormat.”   Liu Bhok Ki kembali menarik napas panjang sehingga mengherankan para anggota Hek-Houw-pang. Mereka pernah beberapa kali ikut menyerbu musuh besar itu dalam belum pernah mereka melihat Liu Bhok Ki meragu seperti sekarang ini.   “Orang muda, kalau engkau hendak berbakti kepada ayahmu, semestinya engkau bukan datang kesini dan ingin membunuhku. Seharusnya engkau membuat jasa-jasa baik, melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk menbus dosa-dosa ayahmu itu agar hukumannya lebih ringan di neraka sana.”   Pemuda itu mengerutkan alisnya dan kini suaranya meninggi, tanda bahwa dia marah sekali.   “Liu Bhok Ki, tidak perlu engkau menasehati aku dan memburuk-burukkan ayahku! Tengok dirimu sendiri! Aku sudah tahu bahwa engkau membunuh ayahku karena ayahku bermain cinta dengan isterimu. Bukankah begitu? Kalau benar demikian, engkaulah yang tidak tahu malu! Seharusnya engkau tahu bahwa kalau isterimu suka kepada pria lain, itu berarti bahwa ia tidak cinta lagi kepadamu, bahwa pria yang dipilihnya itu lebih baik daripadamu! Mendiang ayahku tidak memperkosa dan kalau dia tidak dilayani dengan senang hati oleh isterimu tentu tidak akan terjadi hubungan itu! Sepatutnya engkau bercermin diri dan kalau benar laki-laki, harus tahu diri ditolak isteri sendiri yang memilih pria lain! Huh, sungguh tak tahu malu!”   Wajah Liu Bhok Ki berubah merah sekali, lalu pucat dan merah kembali.   Ucapan pemuda itu sungguh merupakan mata pedang yang tajam meruncing menusuk perasaan hatinya. Dia melihat kebenarannya, akan tetapi juga menjadi marah karena pemuda itu menghinanya.   Memang sesungguhnya, apa gunanya dia dulu menjadi seperti gila karena cemburu? Cinta antara pria dan wanita tidak mungkin hanya bertepuk sebelah tangan. Kalau isterinya sudah tidak cinta kepadanya, dengan bukti bahwa ia menyerahkan diri kepada pria lain, tidak ada gunanya walaupun dipaksa juga.   Akan tetapi, bantah suara dikepalanya. Mereka telah menghinaku, menodai nama dan kehormatanku! Sudah sepatutnya mereka dibunuh, dihukum, bahkan hukuman yang dia berikan masih kurang memadai, masih kurang berat dibandingkan dengan penghinaan yang dia derita.   “Coa Siang Lee, sudah menjadi hakmu untuk membela ayahmu walaupun dalam pembelaanmu itu engkau seperti buta tidak melihat kejahatan ayahmu yang menghancurkan ketentraman rumah tanggaku, menghancurkan kebahagiaan hidupku, mendatangkan aib dan penghinaan kepadaku. Akan tetapi aku pun berhak mempertahankan kehormtanku di waktu itu dan sekarang akupun berhak untuk membela diri kalau ada yang mengncam keselamatan diriku. Nah, sekarang engkau mau apa.”   Pertanyaan ini mengandung tantangan. Kedua tangan pemuda itu bergerak dan nampak dua sinar terang berkelebat ketika dia mencabut Siang-kiam (Sepasang pedang) yang tadi tergantung di punggungnya. Dia menyilangkan kedua pedang di depan dada, matanya mencorong memandang kearah Liu Bhok Ki.   “Liu Bhok Ki, bersiaplah engkau untuk mati di ujung pedangku!” bentak pemuda itu dan tiba-tiba saja pedangnya mencuat berubah menjadi sinar terang menusuk kea rah dada pria setengah tua itu.   Liu bhok ki bersikap tenang saja. Dengan gerakan mantap dia mengelak ke bukan belakang melainkan kesamping bahkan memajukan kakinya dan tangan kirinya menampar dari samping kearah kepala lawan.   Ketika CoaSiang Lee merasa betapa ada angina pukulan yang amat kuat mendahului tangan lawan, cepat dia menggerakkan pedang kedua di tangan kanan untuk menangkis dan sekalian membabat lengan lawan.   Liu Bhok Ki menarik kembali tangannya dan kini kakinya menendang dengan tendangan kilat kedepan. Tendangan ini mengandung tenaga sakti yang amat kuat dan diapun terpaksa meloncat ke belakang sambil memutar kedua pedang melindungi dirinya. Liu Bhok Ki tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk menyusun serangan baru. Dia cepat melangkah maju dan menyusulkan serangan bertubi-tubi dengan kedua tangan dan kakinya.       ================================== ABC Amber LIT Converter v2.02 ================================== Dia menyilangkan kedua pedang di depan dada, matanya mencorong memandang kea rah Liu Bhok Ki Pemuda itu semakin kaget dan diapun mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak kesana-sini dan kadang-kadang menggunakan kedua pedangnya untuk membendung banajir serangan lawan itu. Dia terdesak hebat. Melihat betapa jago muda mereka terdesak walaupun mempergunakan sepasang pedang sedangkan Liu Bhok Ki bertangan kosong, tiga belas orang anggota Hek-Houw-pang tingkat tinggi itu lalu menyerbu dan mengepung Liu Bhok Ki. Itulah Cap-sha-tin (Barisan Tiga Belas) yang diciptakan oleh perguruan Hek-Houw-pang dan dilatih selama setahun ini untuk dipergunakan menghadapi Liu Bhok Ki. Tadinya, mereka mengharapkan Sian Lee akan mampu menandingi musuh besar itu.. 2. Dendam Hek-Houw-pang Coa Siang Lee memang putera kandung mendiang Coa Kun Tian. Kun Tian ketika masih hidup terkenal sebagai seorang laki-laki perayu wanita. Banyak sudah korban berjatuhan akibat rayuannya. Akan tetapi hanya ada seorang gadis yang mengandung akibat perbuatannya itu dan kemudian lahirlah Coa Siang Lee. Gadis itu menghadap ketua Hek-Houw-pang setelah mendengar akan kematian Coa Kun Tian, membawa anak laki-laki itu. Coa Siong, pangcu (ketua) Hek-Houw-pang menerima cucunya yang tidak sah itu dan Coa Siang Lee lalu digembleng, bukan hanya oleh kakeknya, bahkan oleh kakeknya dikirim kepada beberapa sahabat, tokoh-toh kangouw yang lihai, untuk memperdalam ilmu silatnya. Kini, dalam usia dua puluh dua tahun lebih, Siang Lee pulang dan telah memiliki tingkat kepandaian yang melebihi tingkat kakeknya sendiri. Dia memang sejak kecil sudah mendengar kisah kematian ayahnya. Maka dia lalu dijadikan jago Hek-Houw-pang dan diharapkan akan dapat membalas dendam kepada musuh besar itu.   Cap-sha-tin dari Hek-Houw-pang segera maju setelah melihat kenyataan betapa Siang Lee terdesak oleh Liu Bhok Kid an kini barisan itu mengepung pria tinggi besar yang gagah perkasa itu dan pedang mereka menyerang secara bertubi-tubi dan teratur sekali. Setiap kali Liu Bhok Ki mengelak dari suatu sambaran pedang, sudah ada pedang lain yang menyambutnya dengan tusukan atau bacokan. Semua bergerak secara otomatis dan kemana pun dia mengelak, selalu disambut serangan pedang lain. Dan setiap kali dia hendak membalas, sudah ada dua tiga batang pedang lain menyerangnya dari kanan kiri dan belakang, membuat dia sama sekali tidak sempat untuk balas menyerang lawan!   Tiba-tiba, tiga belas buah mulut mengeluarkan suara melengking panjang, sambung menyambung dan karena mereka itu mengerahkan khi-kang, maka tenaga yang tergabung ini menjadi kuat sekali, disusul gerakan pedang mereka menyerang secara berbareng dari semua jurusan! Liu Bhok Ki terkejut.   Harus diakuinya bahwa Cap-sha-tin ini hebat dan berbahaya. Dia cepat mengenjot tubuh keatas untuk menghindarkan diri dari serangan tiga belas batang pedang itu. Akan tetapi dua sinar terang meluncur dan menyerangnya selagi tubuhnya masih meloncat keatas.   Itulah sepasang pedang di tangan Siang Lee yang kini membantu Cap-sha-tin. Pemuda itu meloncat dan tubuhnya meluncur seperti terbang saja, didahului dua batang pedangnya yang lihay.   “Ahhh ….!” Liu Bhok Ki terkejut dan mengeluarkan bentakan ini, tangannya diputar untuk menangkis sinar pedang. Lengannya menangkis pedang. Namun sebatang pedang yang menyeleweng pundak kiri Liu Bhok Ki sehingga bajunya terobek dan kulitnya terluka mengeluarkan darah!   Liu Bhok Ki berjungkir balik dan tubuhnya dapat turun diluar kepungan Cap-sha-tin ! kini barisan itu sudah berlari-larian mengepungnya lagi, dari jarak agak jauh, sedangkan Siang Lee yang paling lihay diantara mereka, kini berada di bagian kepala seolah-olah barisan itu membentuk seekor ular yang melingkari tempat itu dengan Liu Bhok Ki di tengah, dan Coa Siang Lee memimpin atau menjadi kepala ular.   Liu Bhok Ki berdiri tegak, kedua kakinya dipentang lebar, tubuhnya tidak bergerak, hanya matanya yang melirik kke kanan kiri pemperhatikan gerakan barisan itu.   Perlahan-lahan diaa melolos sabuknya ketika barisan yang mengepung sambil berlari mengitarinya itu mempersempit lingkaran. Melihat ini, seorang diantara murid-muridHek-Houw-pang mengeluarkan isarat kawan-kawannya, terutama kepada Siang Lee agar berhati-hati karena dia tahu betapa lihainya Liu Bhok Ki dengan senjata sabuk kain tebal yang kelihatan sederhana itu.   Pernah Liu Bhok Ki dikeroyok puluhan orang murid Hek-Houw-pang yang kesemuanya bersenjata pedang tau golok, namun sabuk itu membuat para pengeroyok tidak berdaya, bahkan banyak diantara mereka yang mengalami luka-luka berat, dan ada pula yang tewas.   Siang Lee adalah seorang pemuda yang sudah tinggi ilmu silatnya. Mendengar suara isarat ini, dia pun berhati-hati. Dia tidak berani memandang ringan kepada lawan ini, karena tadi, ketika berkelahi satu lawan satu, dia sudah merasakan kehebatan ilmu silat Liu Bhok Ki. Kini diapun mengerti mengapa banyak sekali murid dan anak buah Hek-Houw-pang tewas ditangan musuh besar ini.   Dan memang sesungguhnya Liu Bhok Ki amat berbahaya kalau sudah mempergunakan sabuknya sebagai senjata. Dia seorang ahli senjata apapun, dan permainan pedangnya juga hebat. Akan tetapi, untuk menghadapi pengeroyokan  banyak lawan yang menggunakan pedang, senjata sabuk kain tebal itu sungguh amat tepat. Kain itu bersifat lemas shingga tepat sekali untuk menghadapi senjata pedang atau golok yang keras dan sabuk itu dapat dipergunakan dari jarak dekat maupun jauh karena dapat diulur panjang. Ditangan ahli seperti Liu Bhok Ki, kain yang lemas itu dapat pula dibuat kaku, dapat berubah lemas kembali, untuk melibat dan membelit senjata lawan tanpa merusak sabuk.   Liu Bhok Ki maklum bahwa pemuda itu lihai, dan Cap-sha-tin juga berbahaya sekali. Maka dia pun tidak menunggu dan membiarkan dirinya didesak, begitu pengepungan itu mengetat dan di berhadapan dengan mereka yang melingkarainya dalam jarak dua meter, dia menggerakkan sabuknya dan mengamuk!   Sabuk itu lenyap bentuknya dan nampak hanya gulungan sinar hitam yang panjang, menyambar-nyambar seperti seekor naga hitam yang bemain diantara awan di angkasa.   Barisan itu berusaha membendung gerakan sinar bergulung-gulung itu dengan meningkatkan kerjasama mereka. Namun, belasan pedang itu tetap saja tidak mampu membendung daya serang dari sabuk panjang di tangan Liu Bhok Ki.   Terdengar bunyi berdesing-desing dan angina menyambar bagaikan angina puyuh, disusul teriakan-teriakan para anggota Hek-Houw-pang. Betapun mereka itu mempertahankan diri dan saling Bantu, tetap saja mereka dilanda oleh gulungan sinar hitam seperti naga mengamuk itu dan susunan barisan mereka pun cerai berai dan kacau balau.   Liu Bhok Ki menambah Sin-kang pada gerakan sabuknya dan terdengar teriakan susul-menyusul diikuti robohnya para pengeroyok seorang demi seorang. Para anggota Hek-Houw-pang masih melawan terus sekuat tenaga, dipelopori oleh Coa Siang Lee yang memaninkan siang-kiamnya dengan cepat dan kuat.   Namun, mereka itu bagaikan semut-semut yang mengeroyok seekor jangkerik. Tubuh mereka berpelantingan, dan akhirnya yang masih dapat bertahan hanyalah Coa Siang Lee seorang. Pemuda ini masih memainkan sepasang pedangnya melakukan perlawanan mati-matian, sedangkan tiga belas orang anggota Hek-Houw-pang itu telah tewas semua.   Tentu saja Coa Siang Lee tidak tahu bahwa andaikata Liu Bhok Ki menghendaki, diapun tentu sudah roboh dan tewas. Ada sesuatu yang aneh terjadi di dalam perasaan hati pendekar tinggi besar yang sedang mengamuk itu. Melihat betapa Coa Siang Lee demikian mirip wajahnya dengan Coa Kun Tian dan melihat keberanian pemuda itu, besarnya semangatnya untuk membalas dendam atas kematian ayahnya, timbul suatu perasaan saying dan iba kepada pemuda itu. Kalau sampai saat itu CoaSiang Lee masih belum roboh, bahkan terluka, hal itu adalah karena perasaan ini yang mengganjal di hati Liu Bhok Ki.   Gerakan gulungan sinar sabuknya tadi menggulung Cap-sha-tin. Seluruh daya serangnya ditujukan untuk merobohkan tiga belas murid Hek-Houw-pang itu, sedangkan terhadap Coa Siang Lee, dia hanya menangkis dan membendung serangan sepasang pedang itu.   Kini terjadi perkelahian yang seru namun berat sebelah antara Liu Bhok Kid an Coa Siang Lee. Seru karena pemuda itu dengan nekad masih terus menyerang mati-matian, namun semua serangannya gagal dan kemanapun sianr sepasang pedangnya menyambar, selalu bertemu dengan ujung sabuk dan terpental kembali. Perkelahian itu terjadi mati-matian diantara tiga belas sosok mayat yang berserakan.   “Coa Siang Lee, sudahlah. Tiada gunanya engkau nekat. Engkau masih muda, saying kalau mati konyol. Apakah engku tidak mau menghentikan permusuhan gila ini? Pulanglah dan engkau boleh …. Membawa kepala ayahmu.”   Sungguh luar biasa sekali mendengar ucapan Liu Bhok Ki ini. Biasanya dia amat keras hati dank eras kepala, ingin “menyiksa” kepala orang yang menzinai isterinya itu selama dia masih hidup. Akan tetapi kini dia yang jelas menguasai pemuda itu dengan mudah akan mampu merobohkannya, mendadak menawarkan perdamaian dan membolehkan pemuda itu membawa pergi kepala ayahnya.   “Liu Bhok Ki, tak usah banyak cakap hari ini engkau atau aku yang mati!” Coa Siang Lee mendesak dengan sepasang pedangnya.   Pemuda ini memang lihai dan ilmu sepsang pedang itu pun berbahaya sekali. Sekarang, setelah tidak ada murid Hek-Houw-pang yang membantu, dia bahkan dapat mencurahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya dan terasalah oleh Liu Bhok Ki bahwa pemuda ini memang cukup tangguh.   Diapun memutar sabuknya dan kini terjadilah perkelahian yang lebih hebat lagi., karena Liu Bhok Ki tentu saja tidak menjadi korban sepasang pedang yangganas itu dan dia mulai membalas dengan serangan-serangannya. Biarpun dia mampu mendesak pemuda itu, namun pendekar tinggi besar ini maklum bahwa tidak mau menerima usulnya berdamai itu membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga.   Pada sat itu terdengar bentakan nyaring, “Liu Bhok Ki memang seorang laki-laki pengecut dan jahat!” dan begitu bentakan itu terhenti, terdengar suara berdesing-desing dan ada tiga sinar kecil berkelebat menyambar kearah tubuh Liu Bhok Ki.   Itulah tiga batang senjata rahasia piauw beronce merah yang mengandung racun.   Liu Bhok Ki mengeluarkan bentakan nyaring dan sabuknya diputar melindungi tubuhnya. Tiga batang piauw itu terpukul dan terlempar jauh, dan Liu Bhok Ki meloncat jauh kebelakang.   “tahan senjata!” bentaknya dan suaranya mengandung kekuatan khikang yang demikian hebatnya sehingga Coa Siang Lee dan orang yang baru muncul itu berhenti dan memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kebencian.   Ketika dia memandang gadis yang baru saja muncul dan yang menyerangnya dengan senjata rahasia piauw itu, hampir Liu Bhok Ki mengeluarkan teriakan kaget. Dia melihat wajah isterinya yang telah tiada.   Gadis itu mirip sekali dengan isterinya. Muka yang bulat telur dengan kulit muka putih kemerahan, rambut yang hitam halus dan panjang, mata yang bersinar-sinar seperti sepasang bintang kejora, mulut yang bibirnya merah basah dan menantang itu.   “Kau ….. kau siapakah ………..?” akhirnya dia dapat mengeluarkan suara yang agak bergetar.   “Sebetulnya, tidak pantas seorang macam engkau mengenal namaku, Liu Bhok Ki!” kata gadis itu dan Liu Bhok Ki terbelalak heran.   Suaranya juga persis suara isterinya.   ”Akan tetapi agar engakau tidak mati penasaran, ketahuilah bahwa namaku Sim lan Ci, dan aku datang untuk membunuhmu!”   “Tapi ……… tapi ……….” Suara pendekaryang biasanya tenang dan tabah itu masih gagap karena jantungnya masih terguncang hebat melihat seolah-olah isterinya hidup kembali.   Apalagi kini gadis itu berdiri didekat Coa Siang Lee, seolah-olah dia melihat isterinya berdiri berdampingan dengan Coa Kun Tian, bersama-sama hendak menghadapinya dan membunuhnya.   Kepala Kun Tian itu masih tergantung disana, dan botl besar itupun masih diatas meja!   “Mengapa engkau hendak membunuhku, dan engkau ini …….. puteri siapakah …..?” Bergidik dia membayangkan bahwa gadis itu, seperti juga Siang Lee yang mengaku sebagai putera Kun Tian, akan mengaku pula sebagai puteri Hui Cu, isterinya.   Akan tetapi tidak, gadis itu tidak mengaku demikian, dan memang hal itu tidak mungkin. Isterinya masih perawan ketika menikah dengan dia, dan isterinya mati dalam usia masih muda, tidak mungkin meninggalkan keturunan, seperti halnya Kun Tian.   “Buka telingamu baik-baik, Liu Bhok Ki. Aku hendak membunuhmu untuk menuntut balas atas kematian bibiku Phang Hui Cu, yang bukan saja kau bunuh secara keji, akan tetapi juga kepalanya kaunasukkan dalam botol besar dank au rendam dalam anggur, kau jadikan minuman. Sungguh hal itu tidak dapat kubiarkan begitu saja!”   Liu Bhok Ki mengerutkan alisnya. Dia teringat bahwa isterinya, Phang Hui Cu mempunyai seorang kakak perempuan yang bernama Phang Bi Cu dan menurut cerita isterinya, kakak perempuan itu sejak kecil sekali diculik orang dan tidak pernah ada kabar ceritanya. Apakah gadis itu puteri Phang Bi Cu? Kalau kakak perempuan isterinya itu wajahnya mirip dengan isterinya memang bukan tak mungkin wajah sang keponakan serupa benar dengan wajah bibinya.   “Kau …… puteri dari ….. Phang Bi Cu …..?” tanyanya, masih ragu dan masih terpengaruh wajah gadis yang sama benar dengan wajah isterinya itu.   Gadis itu tersenyum mengejek, “Agaknya engkau masih belum kehilangan ingatanmu! Benar sekali, aku puteri tunggalnya. Aku mendengar akan apa yang kau lakukan terhadap mendiang bibi Phang Hui Cu, maka aku datang untuk mencabut nyawamu dan untuk minta kepala bibi agar dapat kumakamkan dengan baik.”   “Tidak!” Tiba-tiba kekerasan hati Liu Bhok Ki datang kembali begitu dia teringat akan perbuatan isterinya dan Coa Kun Tian. Dua orang muda didepannya ini, yang mirip sekali dengan isterinya dan kekasih gelap isterinya, mengingat akan dia dan semua yang terjadi dua puluh tahun lebih itu, dan mendatangkan pula kemarahan dan kekerasan hatinya.   “Mereka berdua itu patut dihuku selama aku masih hidup. Mereka telah menghancurkan kehidupanku, menghancurkan kebahagianku!”   “Kalau begitu mampuslah!” teriakan ini disusul berkelebatnya sinar hitam yang selain cepat dan dasyat, juga membawa bau amis tanda bahwa pedang itu, yang berwarna hitam, seperti senjata rahasia piauw tadi, mengandung racun yang berbahaya. Pedang itu membuat gerakan memutar, berkelebat dan tiba-tiba menusuk kearah muka Liu Bhok Kid an begitu pendekar ini mengelak ke kiri, pedang yang luput menusuk muka itupun berkelebat mengejar ke kiri dan membacok kearah leher.   Cepat sekali gerakan gadis yang berpakaian serba hitam itu, dan bau amis dari pedangnya membuat lawan merasa muak dan pusing. Namun, Liu Bhok Ki yang maklum akan berbahayanya pedang hitam itu, cepat mengerahkan sin-kangnya untuk menahan serangan bau amis, dan begitu melihat pedang membacok, diapun menggerakkan ujung sabuk di tangan kiri untuk menangkis dan melibat agar dia dapat merampas pedang itu.   Akan tetapi, gadis itu ternyata lihai sekali karena begitu pedangnya ditempel sabuk sebelum sabuk itu melibat, ia sudah menarik kembali pedangnya, memutar tubuh, dan kini pedangnya membuat gerakan panjang menyapu kearah kedua kaki lawan.   “Hmmmmm!” Liu Bhok Ki meloncat keatas dan dari atas, ujung sabuknya menyambar kearah kepala gadis itu. Gadis bernama Sim Lan Ci pun dapat mengelak dengan gerakan yang cepat dan pada saat itu Coa Siang Lee sudah menerjang kedepan dan menyerang dengan Siang-kiam di kedua tangannya.    Kini Liu Bhok Ki dikeroyok dua dan terasalah oleh pendekar ini betapa sepasang muda ini memang memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Tingkat kepandaian gadis itu bahkan tidak kalah dibandingkan dengan tingkat kepandaian putera Coa Kun Tian itu, dan terutama pedang gadis itu dan pukulan tangan kirinya, sungguh berbahaya bukan main. Tahulah Liu Bhok Ki bahwa Lan Ci ini selain memiliki senjata-senjata beraun, juga mahir menggunakan pukulan beracun.   Perkelahian itu terjadi lebih seru dibandingkan dengan ketika Liu Bhok Ki dikeroyok oleh Cap-sha-tin tadi. Karena kedua orang muda itu sama-sama menggunakan pedang, dan tempat perkelahian menjadi luas dengan hanya adanya mereka berdua yang mengeroyok, mereka dapat bersilat dengan leluasa, mengerahkan semua tenaga dan kepandaian.   Beberapa kali Liu Bhok Ki mencoba untuk merampas pedang kedua orang muda itu, namun selalu gagal. Kiranya selain memiliki tenaga sin-kang yang cukup kuat, kedua orang muda itu pun cerdik sekali dan tidak pernah terlambat untuk menarik kembali pedang mereka sebelum terlibat. Sebetulnya, kalau dibuat ukuran, tingkat kepandaian kedua orang muda itu masih belum mampu menandingi tingkat kepandaian Liu Bhok Ki yang sudah matang, apalagi karena selama ini, biarpun mengasingkan diri, Liu Bhok Ki tak pernah lalai untuk melatih diri, bahkan memperdalam ilmu silatnya. Namun kedua orang muda itu silatnya hebat, dan terutama sekali hawa beracun yang keluar dari pedang dan tamparan tangan kiri Lan Ci amat berbahaya. Dan lebih daripada itu, entah bagaimana setiap kali sabuknya mendesak kearah Lan Ci, melihat wajah yang mirip sekali dengan wajah mendiang isterinya itu, hati Liu Bhok Ki menjadi lemas dan dia merasa tidak tega untuk melukai atau membunuh gadis itu.   Inilah yang membuat dia lengah bahkan lemah pertahanannya dan pada suatu saat, ketika kembali dia terpesona oleh wajah gadis itu, Lan Cid an Siang Lee mengeluarkan pekik yang melengking panjang hampir berbareng. Sepasang pedang siang lee membuat serangan kilat yang luar biasa cepatnya dan pada saat Liu Bhok Ki meloncat kebelakang, dia sudah menusukkan pedangnya dari samping.   Liu bhok Ki menangkis dengan sabuknya, namun dia terlambat sehingga pedang itu meleset dan masih menancap di pundak kirinya, kurang lebih satu dim dalamnya.   “Uhhh…..!” Liu Bhok Ki mendengus dan tiba-tiba dia mengeluarkan suara kerengan hebat, tubuhnya mencelat keatas dan dari atas, tubuhnya itu bagaikan seekor burung rajawali menyambar, meluncur kebawah dan kedua ujung sabuknya menyambar-nyambar kearah kepala kedua orang lawannya.   Siang Lee dan lan Ci terkejut bukan main. Mereka tidak tahu bahwa ilmu Hui-tiauw Sin-kun (Silat Sakti Rajawali Terbang), sebuah ilmu yang baru diciptakan oleh Liu Bhok Ki di tempat pengasingannya.   Hebat sekali gerakan loncatan ini, bagaikan seekor burung rajawali terbang, cepat namun juga mengandung kekuatan yang amat dasyat. Kalau dia tidak memegang senjata sabuk, serangan itu dilanjutkan cengan cengkeraman kedua tangan ke bawah, karena dia memegang senjata ampuhnya itu, dia menggunakan sabuk untuk menyerang kebawah dan tentu saja serangan ini lebih cepat daripada kalau menggunakan kedua tangan, karena sabuk itu lebih panjang.   Dua orang muda itu sama sekali tidak menduga bahwa lawan yang sudah tertusuk pedang itu akan mampu berbuat seperti itu.   Mereka terkejut dan karenanya terlambat menghindarkan diri. Kedua ujung sabuk itu menotok pundak dan mereka berdua roboh tak sadarkan diri.   Melihat kedua orang lawannya yang tangguh itu roboh pingsan, Liu Bhok Ki yang sudah turun keatas tanah, berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang lebar. Napasnya agak memburu dan dia memejamkan kedua matanya, merasa betapa kenyerian yang amat hebt menusuk-nusuk dari pundak kedalam tubuh, bahkan menjalar ke seluruh tubuhnya.   Maklumlah dia bahwa dia tertusuk oleh pedang yang mengandung racun amat jahatnya. Terhuyung-huyung dia memasuki pondoknya, membuka buntalan simpanan obat dan segera minum tiga pel kuning, lalu menempelkan obat yang berwarna merah kepada luka di pundaknya setelah itu merobek bajunya bagian pundak.   Dia mengimpun hawa murni untuk mengusir hawa beracun dari lukanya, namun betapa kagetnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa racun itu memang hebat luar biasa dan tidak dapat disembuhkannya dengan obat dan pengerahan tenaga sakti. Dia hanya mampu menahan rasa nyeri dan menghentikan racun itu menjalar lebih lanjut ke hantungnya, namun dia tidak berhasil mengeluarkan racun itu dari tubuhnya.   Ini berarti bahwa ia terancam bahaya maut, kalau saja dia tidak menemukan obat penawarnya. Maka, diapun cepat berlari keluar lagi.   Dua orang muda itu masih rebah tidak pingsan lagi, akan tetapi belum mampu bergerak karena pengaruh totokan yang lihai dari ujung sabuk di tangan Liu Bhok Ki.   Melihat pria setengah tua tinggi besar itu sama sekali tidak memperlihatkan ketakutan, bahkan memandang kepadanya dengan mata melotoot penuh kemarahan dan kebencian.   “Sim Lan Ci,” katanya kepada gadis itu   “Engkau tahu bahwa sekali menggerakkan tangan, nyawamu akan melayang menyusul nyawa bibimu. Akan tetapi aku tidak membunuhmu, bahkan aku suka membebaskanmu dan membiarkan engkau membawa pergi kepala bibimu. Akan tetapi, engkau harus menebusnya dengan obat penawar racun pedangmu.”   Biarpun kaki tangannya tidak mampu bergerak, Lan Ci masih dapat bicara walaupun lirih. Namun bicara dengan penuh semangat dan sepasang matanya memancarkan kebencian.   “Aku sudah kalah, mau bunuh bunuhlah, siapa takut mampus. Engkau pun akan mampus karena racun pedangku dan kita sama-sama menghadap arwah bibi Hui Cu.”   Liu Bhok Ki adalah seorang yang cerdik. Dia mengenal gadis yang berhati keras, maka membujuk takkan ada manfatnya. Maka dia lalu memancing untuk mengetahui macam racun yang dideritanya.   “Hemmmmm, engkau anak kecil yang sombong. Kaukira akan mudah membunuh aku begitu saja. Sudah puluhan kali aku terkena racun, akan tetapi selalu dapat kusembuhkan. Racun piauw darimu tadi pun dapat kuhilangkan pengaruhnya. Racun pedangmu ini pun tentu akan dapat kuobti sampai sembuh dalam waktu dekat.”   Pancingnya mengena. Gadis itu tersenyum mengejek.   “Boleh kaucoba Obat penawar racun pedang Cui-mo Hek Kiam (Pedang hitam Pengejar Iblis) ini hanya ada pada ibuku. Kau tahu siapa ibuku? Ia berjuluk ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa racun).”   Mendengar julukan ini diam-diam Liu Bhok Ki terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa enci (kakak perempuan) dari mendiang isterinya itu, yang dikabarkan lenyap diculik orang ketika masih kecil, adalah datuk sesat berjuluk Ban-tok mo-li itu.   Tentu saja dia pernah mendengar nama itu, yang terkenal sebagai seorang ahli racun yang amat berbahaya dan jahat.   Akan tetapi dia tetap bersikap tenang, bahkan tersenyum mengejek :   “Hemmmm, biar racun itu datang dari ban-to Mo-li atau siapapun saja, sudah pasti akan dapat kusembuhkan. Tak mungkin ada racun yang tidak ada obat penawarnya di dunia ini.”   Sim Lan Ci masih terlalu muda untuk dapat menduga bahwa sikap lawannya itu adalah untuk memancing keterangan tentang racun itu. Ia menjadi penasaran dan berkata.   “Engkau akan mampus, takkan mungkin sembuh. Obat penawarnya hanya ditangan ibuku. Kecuali kalau engkau dapat menemukan raja-mustika di kepala naga …..”   Sim lan Ci bukan berbohong atau sekedar mengulang dongeng kuno yang mengatakan bahwa mustika di kepala naga merupakan obat paling mujarab di dunia, dapat menawarkan segala macam racun, bahkan dapat memperkuat tubuh. Memang ia pernah mendengr dari ibunya itu bahwa satu diantara obat yang akan mampu mengobati luka bercun karena pedang Cui-mo Hek-kiam. Ia sengaja mengatakan ini, bukan berbohong, melainkan untuk mengejek karena tidak akan mungkin Liu Bhok Ki bisa mendapatkan mustika di kepala naga.   “Engkau bohong.”   “Huh, Perlu apa aku bohong? Engkau akan mampus dan kalau engkau hendak membunuhku, silakan! Kau kira dengan Sin-kang akan dapat mengusir racun dari pedangku? Tidak mungkin. Paling-paling dengan obat dan sin-kang engkau hanya akan dapat mengurangi rasa nyeri, akan tetapi racun itu tetap akan mengeram dalam tubuhmu. Memang dapat kauperlambat menjalarnya ke Jantung, akan tetapi lambat laun, akan sampai juga. Melihat betapa pedangku sudah melukai pundakmu tidak berapa jauh dari jantung, dalam waktu paling lama tiga bulan engaku tentu akan mati dalam keadaan yang sangat menderita.”   Liu Bhok Ki menjadi terkejut sekali mendengar ini. Memang cocok apa yang dikatakan gadis itu, berarti ia tidak berbohong. Dia menjadi marah sekali tangannya diangkat keatas untuk menghantam kearah kepala gadis itu.   Gadis itu sama sekali tidak berkedip memandang kepadanya dengan mata yang tajam dan indah, mata isterinya. Tangannya tertahan dan dia menggeleng kepala keras-keras, lalu menoleh kea rah Coa Siang Lee yang sudah siuman akan tetapi tidak mampu bergerak. Dia mendapatkan gagasan yang luar biasa untuk melampiaskan hatinya.   “Tidak, aku tidak akan membunuhmu! Bahkan aku tidak akan membunuh dia. Biar kalian menggantikan Kun Tian dan Hui Cu untuk merasakan apa yang pernah kurasakan.”   Berkata demikian, dua kali tangannya bergerak dan dia sudah menepuk leher kedua orang muda itu yang seketika menjadi pingsan kembali.   oooOOooo     Siang Lee siuman daro pingsannya dan merasa betapa tubuhnya panas, bukan panas yang menganggu, melainkan panas yang hangat dan nyaman. Kepalanya agak pening, akan tetapi bukan kepeningan yang tidak enak, seperti peningnya orang mabuk! Telinganya seperti mendengar suara merdu. Dia membuka mata dan silau ketika matanya bertemu dengan sinar matahari yang masuk melalui jendela yang terbuka. Jendela ? dia merasa seperti dalam mimpi, akan tetapi mimpi yang indah sekali, yang membuat jantungnya berdenyut dan gairahnya memuncak.   Ketika dia mendengar suara disebelahnya, napas orang, dia cepat menengok kekanan dan disitu, dekat sekali dengan dia, dia melihat seorang gadis yang amat cantik jelita, tubuhnya mulus karena tubuh itu tidak tertutup apa-apa.   Gadis itu juga seperti orang bangun tidur, memandang kepadanya dengan heran, akan tetapi sepasang mata itu meredup dan sayu seperti mata orang mengantuk, dan mulut yang setengah terbuka itu membentuk senyum menantang, Siang Lee mendapat kenyataan bahwa bukan hanya wanita muda itu yang telanjang bulat, juga dia sendiri tidak berpakaian. Dan mereka berdua dalam keadaan tanpa pakaian, berada di dalam pondok yang jendelanya terbuka, dari mana sinar matahari masuk dengan indah dan hangatnya, dan mereka berdua rebah diatas sebuah pembaringan kayu yang kokoh kuat.   Keduanya saling pandang dan gairah berahi mereka memuncak, tak mungkin dapat ditahan lagi, dan tanpa bicara keduanya lalu saling rangkul, saling dekap dengan mesra dan panas. Tak ada kekuatan di dunia ini yang akan mampu mencegah apa yang terjadi diantara mereka.   Keduanya seperti dikuasai nfsu berahi yang berkobar, tak mampu mempergunakan akal budi lagi, ingatan mereka seperti terapung di atas samudera luas yang indah menghanyutkan, seperti terbang melayang diantara awan-awan dia nagkasa dan mereka pun hanyut, tidak dapat mempertahankan diri karena tidak ada lagi yang dapat diingatnya kecuali melaksanakan hasrat yang berkobar.   Mereka seperti dua orang kehausan di padang pasir, yang sudah hampir mati kehausan, lalu tiba-tiba mendapatkan air yang jernih dan sejuk. Mereka minum dan meneguk air sejuk itu tanpa mengenal puas, sampai akhirnya keduanya terhempas dan terengah-engah diatas pembaringan itu, lalu tertidur pulas seperti pingsan, tubuh penuh keringat.   Tak kurang dari tig jam Siang Lee dan Lan Ci tidur tertelentang, sebelah menyebelah, tanpa pakaian sama sekali, tidur nyenyak seperti pingsan. Mereka sama sekali tidak tahu betapa ada byangan orang masuk dan melemparkan pakaian mereka keatas pembaringan dekat tubuh mereka, lalu bayangan itu menghilang lagi.   Mereka terbangun hampir berbarengan. Siang Lee yang lebih dulu bangun dan mengeluh karena kini dia merasa kepalanya pening, kepeningan yang menyakitkan, dan tubuhnya terasa lelah sekali.   Keluhannya ini seperti menggugah Lan Cid an gadis ini pun terbangun. Seperti Siang Lee, ia pun merasa pening dan matanya berkunang. Akan tetapi, mereka dapat mengetahui kehadiran masing-masing, dan ketika membuka mata melihat betapa mereka telanjang bulat, bersama berada di dalam pondok diatas senbuah pembaringan, keduanya terkejut bukan main.   LAn Ci mengeluarkan jeritan tertahan, seperti kilat cepatnya menyambar pakaiannya yang ada didekatnya dan menutupi dada dan pahanya, matanya mengeluarkan kilat yang menyambar kearah Siang Lee yang juga berusaha menutupi perutnya dengan pakaiannya.   Keduanya saling pandang, terbelalak dan ketika Lan Ci melihat noda-noda merah diatas pembaringan, tahulah ia pa yang terjadi dengan dirinya. Ia mengeluarkan jerit tertahan, dan tangannya menyambar kedepan, kearah kepala Siang Lee yang juga terkejut dan terheran setengah mati, sudah dapat melempar tubuh ke bawah pembaringan sambil membawa pakaiannya dan dengan beberapa loncatan dia sudah keluar dari pondok itu.   Dengan tergesa-gesa dia mengenakan pakaiannya, memeras otak untuk mengingat apa yang telah terjadi dengannya dan dengan gadis itu.   Bagaimana mereka tahu-tahu berada di dalam pondok, diatas pembaringan dalam keadaan bugil dan telah terjadi hubungan diluar kesadaran mereka? Diapun samara-samar teringat betapa telah terjadi kemesraan antara dia dan Lan Ci, terjadi hubungan badan yang amat mesra dan semua kejadian itu seperti dalam mimpi saja.   “Wuuuuuutttttt……….” Kini Lan Ci meloncat keluar, dalam keadaan sudah berpakaian. Kedua pipinya basah air mata dan mukanya pucat, matanya mencorong ketika ia memandang kepada Siang Lee.   Lalu ia menuding pemuda itu dengan telunjuknya dan membentak.   “Jahanam, keparat engakau. Engkau ………. Engkau harus menebus dengan nyawamu!”   Akan tetapi Siang Lee sudah merenungkan peristiwa itu. dia memang terkejut dan batinya terguncang namun tidaklah sehebat guncangan batin yang diderita oleh Sim Lan Ci maka pemuda ini dapat lebih dahulu menenangkan batinya dan dapat merenungkan dan mengingat-ingat peristiwa yang telah terjadi itu.   “Nanti dulu, nona. Harap nona suka bersabar dulu sebelum menyerang aku, dan marilah kita bicara dengan kepala dingin. Percayalah, aku bersumpah bahwa aku tidak melakukan seperti apa yang kau sangka. Kita sama-sama berada dalam keadaan tidak sadar dan seperti dalam mimpi kita bersama melakukan hal itu, kita telah masuk perangkap musuh, Nona.”   Lan Ci mengerutkan alisnya dan menghapus air mata dengan punggung tangan kirinya.   “Apa ……….. apa maksudmu ……..?” tanyanya, heran dan samara-samar ia teringat akan “mimpi” itu, betapa pemuda itu sama sekali tidak memp[erkosanya, melainkan betapa keduanya melakukan hubungan dengan mesra, dengan suka rela.   “Harap kau suka bersikap tenang, Nona. Sekali lagi, percayalah bahwa aku tidak melakukan hal keji seperti yang kau sangka. Nah, mari kita ingat-ingat, kita berdua telah roboh tertotok oleh musuh besar kita, Liu Bhok Ki? Kita tidak berdaya dan aku sudah menduga bahwa kita tentu akan dibunuh, setidaknya aku aku akan dibunuh, seperti yang terjadi pada tiga belas orang suheng-suhengku. Kemudian, ketika jahanam itu mengetuk leherku aku tidak ingat apa-apa lagi. Dan tahu-tahu aku terbangun, aku merasa seperti dalam mimpi, di dalam pondok diatas pembaringan itu, dalam keadaan …….. tanpa pakaian ………. Dan kau ……..pun disana ………… dalam keadaan yang sama lalu kita ………… kita …….. ah, seperti dalam mimpi saja, nona. Kemudian, tadi aku terbangun, sadar dan kepalaku pening dan ………. Kudapati engaku lalu engkau menyerangku! Nah, aku berani bersumpah bahwa seperti itulah kejadiannya.”     ( Bersambung jilid II )   NAGA SAKTI SUNGAI KUNING (Huang Ho Sin-liong) Karya : Asmaraman S. Kho Ping Ho, Penerbit : CV. Gema Tahun 1992 Kontibutor :Syauqy_arr@yahoo.co.id By : bintang73 (indozone.net)   ================================== ABC Amber LIT Converter v2.02 ==================================   Jilid II   3. Pusaran Naga   Sim lan Ci, yang mukanya berubah merah sekali karena teringat betapa ia telah menyerahkan diri bulat-bulat dan dengan suka rela kepada pemuda ini, betapa ia dirangsang oleh gairah yang memuncak, kini juga mengingat-ingat dan ternyata bahwa apa yang dialaminya persis seperti yang diceritakan pemuda itu kepadanya. Sampai lama ia termenung, kemudian ia mengangguk.   “Aku ……. Aku ………….. percaya kepadamu.” Ia pun menjadi bersedih sekali karena ia telah kehilangan kehormatannya, kehilangan keperawanannya dan hal ini bagi seorang wanita gagah sperti ia, lebih hebat daripada kematian.   “Ah, si jahanam Liu Bhok Ki!” Siang Lee berseru sambil mengepal tinju dan menghadap kearah pondok itu.   “Jelaslah sekarang, ini adalah perbuatannya. Dia merobohkan kita, membuat kita pingsan dan dalam keadaan pingsan itu, dia agaknya membawa kita kedalam pondok, diatas dipan kayu itu, dan agaknya dia menanggalkan pakaian kita dan meminumkan obat perangsang yang membuat kita berdua lupa segala. Tidak salah lagi Nona, itulah yang terjadi!”   “Jahanam Liu Bhok Ki!” Sim Lan Ci memaki dan ia pun mengepal tinju, percaya penuh bahwa memang demikianlah tentu yang telah terjadi dengan mereka.”   “Dia atau kita yang mati!” Tiba-tiba Siang Lee berseru dan dia pun sudah meloncat ke dalam pondok untuk mencari musuhnya, diikuti oleh Lan Ci yang sudah marah sekali.   Akan tetapi, mereka tidak menemukan Liu Bhok Ki dalam pondok itu, bahkan kepala Coa Kun Tian yang tadinya tergantung di tengah ruangan, dan kepala Phang Hui Cu yang terendam anggur dalam botol, tidak terdapat disitu. Yang mereka temukan adalah pedang-pedang mereka yang berada diatas meja. Mereka segera mengambil pedang masing-masing akan tetapi untuk apa? Musuh mereka rsudah pergi.   Sim Lan Ci dengan pedang ditangan, berdiri didepan pembaringan dan menilhat noda merah tanda hilangnya kehormatannya sebagai seorang gadis, membuat ia tidak dapat menahan dirinya lagi dan menangislah Lan Ci sesunggukan. Melihat keadaan gadis itu, Siang Lee berdiri bengong. Dia merasa kasihan, dan dia pun harus mengakui bahwa ia amat tertarik kepada gadis itu, apalagi membayangkan apa yang telah terjadi diantara mereka, membayangkan kemesraan sikap gadis itu, kemanisan dan kehangatannya. Dia merasa suka dan takkan malu untuk mengaku bahwa dia telah jatuh cinta seperti yang belum pernah dialaminya.   “Nona ………… maaf ……….. mengapa engkau ………… menangis?” katanya lirih sambil menghampiri. Tangannya digerakkan, ingin rasanya untuk menyentuh, untuk memeluk dan menghibur hati gadis yang sedang berduka itu, namun dia tidak berani.   Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba Lan Ci membalikkan tubuh menghadapinya dengan air mata mengalir sepanjang kedua pipinya. “Mengapa? Engkau bisa Tanya mengapa? Aaahhh, bagimu seorang pria, peristiwa itu agaknya tidak berbekas apa-apa. Akan tetapi bagi aku dunia rasanya hancur. Aku telah ternoda, aku tertimpa aib, aku kehilangan kehormatan …….. dan engkau masih bertanya mengapa? Uhu-hu-huuuuh………”   Siang Lee memandang bingung dan merasa semakin iba kepada gadis yang kini menangis tersedu-sedu sambil menutupi muka dengan kedua tangan itu. gadis itu gagah perkasa, berilmu tinggi akan tetapi sekarang menangis seperti anak kecil.   “Nona, dengarlah baik-baik. Aku Coa Siang Lee, cucu ketua Hek-houw-pang sejak kecil sudah mendapat didikan agar menjadi orang gagah yang bertanggungjawab. Biarpun apa yang terjadi diantara kita tadi bukan merupakan perbuatanku yang kusengaja atau kusadari, biarpun hal itu terjadi karena kita berdua terjebak perangkap musuh, namun Coa Siang Lee bukan orang yang tidak bertanggungjawab.   Aku mempertanggungjawabkan perbuatanku, nona. Dan kalau sekiranya engkau setuju…….. aku ……… aku ingin mengambilmu sebagai isteriku. Nah, dengan demikian, aib itu akan lenyap dari dirimu, Nona.”   Mendengar ucapan ini, lan Ci menurunkan kedua tangannya dan untuk sesaat melihat wajah pemuda itu dengan jelas, ia mengusap kedua matanya. Berapa kali, mengeringkan air matanya. Ia ingin melihat apakah ucapan itu keluar dari hati sanubari pemuda yang tampan dan gagah!   Biarpun hal itu belum cukup untuk membuat ia jatuh cinta, akan tetapi setelah apa yang terjadi antara mereka tadi, tidak ada jalan lain yang lebih baik daripada kalau mereka menjadi suami isteri yang sah! Iapun samara-samar teringat akan kemesraan diantara mereka tadi, dan wajahnya kembali menjadi semakin merah.   “Kau ………….. kau ingin menjadi suamiku hanya karena kasihan dan ingin menghindakan aku dari aib? Kalau begitu, perjodohan antara kita hanya seperti permainan sandiwara saja?” tanyanya mengambil jalan lain untuk menjenguk isi hati pemuda itu.   “Ah, tidak, nona. Terus terang saja aku telah amat tertarik dan kagum kepadamu sejak kemunculanmu tadi, dan ……. Setelah apa yang terjadi antara kita dan diluar kesadaran kita, aku ……….. aku suka dan aku cinta kepadamu. Tentu saja kalau tidak terjadi peristiwa itu, aku tidak akan berani begitu lancing mengakui hal itu.”   Wajah lan Ci semakin merah dan jantungnya berdegup karena girang. Bukan saja ia akan mendapat jalan keluar untuk terhindar dari aib, akan tetapi juga ia mendapatkan seorang calon suami yang mencintainya.   “Be……..benarkah ……….. kata-katamu itu…..?” katanya, suaranya agak gemetar dan ia menundukkan muka, tidak berani menentang pandang mata pemuda itu.   Terdorong oleh perasaan hatinya, Siang Lee melangkah maju mendekati, kemudian dengan hati-hati dia menyentuh pundak gadis itu. tidak ada penolakan dan dilain saat dia telah merangkul dan memeluk tubuh gadis itu, mendekap kepala gadis itu, kedadanya. “Perlukah aku bersumpah?” bisiknya.   Lan Ci tidak menjawab melainkan menekan mukanya pada dada pemuda itu sambil membayangkan kemesraan tadi dan hatinya terasa girang bukan main.   “Aku, aku percaya kepadamu. Tapi ……… kita belum saling berkenalan……..”   Mendengar ucapan ini, Siang Lee tertawa dan Lan Ci juga tertawa. Keduanya tertawa gelid an rngkulan mereka menjadi semakin erat.   “Ha-ha, sungguh lucu sekali. Kita belum saling berkenalan, belum saling mengenal nama, akan tetapi sudah …….. sudah ………..”   “Sudah apa?” Lan Ci bertanya sambil mencubit.   “Sudah …… seperti suami isteri. Dewiku yang tercinta, perkenalkanlah, aku bernama Coa Siang Lee. Ayahku Coa Kun Tian dibunuh oleh Liu Bhok Ki, ketika aku masih berada dalam kandungan ibuku, dan ayahku adalah putera ketua Hek-Houw-pang. Kini ibuku dan kakekku di Hek-houw-pang yang berada di dusun Ta-bun-cung, di sebelah selatan kota Po-yang, di lembah sungai kuning. Usiaku dua puluh satu tahun. Nah, sekarang bagianmu, moi-moi.”   ================================== ABC Amber LIT Converter v2.02 ================================== Lan Ci Tidak menjawab melainkan menekan mukanya pada dada pemuda itu   Tanpa melepaskan mukanya yang bersandar pada dada pemuda itu, Lan Ci memperkenalkan diri.   “Namaku Sim lan Ci, usiaku delapan belas tahun. Ibuku seorang janda bernama Phang Bi Cu, didunia persilatan dikenal dengan julukan Ban-to Mo-li. Kami tinggal di Ceng-houw, di propinsi Shantung, aku datang untuk membunuh Liu Bhok Ki karena dia telah membunuh bibiku, adik ibuku yang bernama Phang Hui Cu, yang dahulu adalah isterinya.”   “Ah, maksudmu…………. Yang kepalanya berada dalam botol anggur itu?’ Tanya Siang Lee.   “Benar, dan bukankah yang tergantung di tengah itu kepala ayah kandungmu?” Tanya pula Lan Ci.   Siang Lee mengangguk. Keduanya diam. Mereka sanma-sama tahu bahwa kedua orang itu dibunuh karena telah berzina.   Tanpa melepaskan pelukannya, Siang Lee berkata, “Agaknya …….. Ayah kandungku itu dan bibimu …….. mereka saling mencinta.”   Lan Ci memepererat dekapannya. “Agaknya begitu. Dan kulihat muka ayahmu itu sama benar dengan wajahmu ……. Koko ……..!”   Disebut koko dengan suara demikian mesra, Siang Lee gembira bukan main. Dia memegang dagu dari muka yang bersandar pada dadanya itu, diangkatnya dan dia pun mencium mulut gadis itu, disambut oleh Lan Ci dengan mesra.   “Dan aku melihat bahwa bibimu itu persis wajahmu, sama cantik jelita dan manis.”   Lan Ci tersenyum. “Kalau begitu pantas kalau mereka itu saling jatuh cinta !”   Mereka berciuman lagi dan sambil bergandengan tangan, mereka lalu keluar dari dalam pondok.   “Lee-koko, sekarang marilah kau ikut bersama aku untuk menghadap ibuku, akan kuperkenalkan kepada ibu, sebagai calon mantunya.”   “Nanti dulu, Ci-moi. Karena tempatku lebih dekat, tidakkah sebaiknya kalau kita pergi menghadap ibuku dan kakekku lebih dulu? Akan kuperkenalkan engkau kepada mereka dan akan kuberitahukan mereka tentang keadaan kita, setelah itu, baru aku minta kakek dan ibuku mengajukan pinangan kepada ibumu secara resmi dan kita pergi menghadap ibumu.”   “Baiklah, koko. Dan setelah itu baru kita berdua pergi mencari musuh besar kita itu. kita berdua akan membunuhnya.”   “Benar, hanya melihat kelihaian Liu Bhok Ki, sebaiknya kalau kita minta bantuan orng-orang yang lebih pandai.”   “Aku akan mencoba membangkitkan kemarahan ibuku agar ia suka pergi menghadapi Liu Bhok Ki. Agaknya ibu akan mampu menandinginya dan mengalahkannya.”   Sambil bergandengan tangan, kedua orang muda itu meninggalkan pondok sunyi di lembah sungai Huang-ho itu. setelah membakarnya sebagai pelampiasan kemarahan mereka, dan Siang Lee menggali sebuah lubang besar dibantu oleh Lan Ci untuk mengubur jenazah tiga belas orang murid Hek-houw-pang.   Setelah mereka pergi, menjelang malam barulah Liu Bhok Ki keluar dari tempat sembunyinya. Dia tersenyum dan mengangguk-angguk gembira. Semua rencananya berjalan dengan baik sekali. Mereka berdua akan menjadi suami isteri. Bagus pikirnya. Dengan demikian, maka akan ada kesempatan baginya untuk membalas dendam secara memuaskan kelak. Dan dia pun tidak peduli melihat pondoknya dibakar orang dan dia pun pergi meninggalkan tempat itu, membawa buntalan yang terisi pakaian, juga dua buah kepala berada dalam buntalan itu.   Kepala Coa Kun Tian yang telah kering dan kepala Phang Hui Cu yang masih terendam anggur dalam botol besar!.     oooOOooo     Pada waktu itu, yang menguasai Tiongkok sebelah utara dan sebagian besar daerah tengah adalah Kerajaan Sui (581-681). Setelah zaman Sam Kok (221-265), Tiongkok dilanda perang saudara yang tiada henti-hentinya. Negara itu terpecah-belah. Setiap orang gubernur atau jenderal yang berkuasa di suatu daerah, membentuk wangsa-wangsa sendiri, mendirikan kerajaan-kerajaan kecil yang saling gempur, maka terjadilah perang saudara yang kacau balau, memperebutkan wilayah dan kekuasaan.   Keadan ini membuka kesempatan bagi bangsa-bangsa asing dari utara dan barat untuk menyerbu ke pedalaman Tiongkok. Mereka adalah bangsa Sui-nu, Turki, Tibet dan bangsa Toba. Masih banyak lagi bangsa-bangsa nomad yang kecil-kecil menyerbu masuk dan menduduki wilayah kecil-kecil.   Rakyatlah yang menjadi korban perebutan kekuasaan diantara para pembesar itu. kekacauan dan keadaan perang saudara seperti ini terjadi sampai berabad-abad lamanya sehingga catatan sejarah pun lenyap dalam kekacauan itu.   Pada tahun 581, seorang penguasa bernama Yang Cian berhasil mempersatukan para raja kecil yang saling berebut kekuasaan itu dan berdirilah wangsa baru, dinasti baru yang diberi nama dinasti atau kerajaan Sui. Mulailah Kaisar Yang Cian ini menyusun kekuatan dan berhasil mengamankan seluruh daerah dan rakyat mulai dapat hidup teratur dan tentram setelah selama beberapa generasi menderita terus-menerus sebagai akibat perang saudara yang tiada hentinya.   Kaisar Yang Cian adalah seorang kaisar yang bijaksana dan pendai. Dia menghapuskan beban rakyat berupa pajak-pajak yang tadinya secara semena-mena ditetapkan oleh penguasa setempat untuk menggendutkan perut sendiri, menggantikan dengan aturan pajak yang adil bahkan cukup ringan bagi rakyat.   Hokum Negara pun diadakan dan dijalankan dengan baik. Bahkan kaisar yang bijaksana ini mementingkan kebutuhan rakyat petani, maka dia pun memelopori usaha penggalian terusan-terusan yang menghubungkan Sungai Kuning (Huang-ho) dengan Sungai Yang-ce. Bukan hanya ini saja usaha Kaisar Yang Cian, bahkan dia pun memperkuat Negara dan mengembalikan kedaulatan Negara dengan menundukkan kembali daerah-daerah yang tadinya dirampas oleh bangsa-bangsa asing. Diantaranya, dia mengirim pasukan besar dan menundukkan kembali daerah Tongkin dan An-nam di selatan. Karena itu, sekali lagi Tiongkok menjadi sebuah Negara besar yang wilayahnya luas.   Kaisar Yang Cian meninggal dunia dalam tahun 604, dan pemerintahan dilanjutkan oleh puteranya yang bernama Yang Ti. Kaisar baru ini melanjutkan usaha yang dirintis ayahnya, bahkan lebih aktif lagi daipada ayahnya. Dia memperluas penggalian terusan-terusan anatara Huang-ho dan Yang-ce, bahkan diteruskan sampai ke Hang-couw. Bukan ini saja, bahkan dalam hal memperluas wilayah dan merebut kembali wilayah-wilayah di pinggiran yang tadinya dikuasai bangsa asing diapun amat aktif. Dia seringkalai memimpin sendiri pasukan-pasukan besar, memerangi bagsa Toba, Turki dan Mingol.   Kaisar Yang Ti terkenal sebagai seorang kaisar yang gagah perkasa dan mencintai rakyatnya. Dia berpendapat bahwa sebuah pemerintahan tiada bedanya dengan sebatang pohon. Kekuatan dasar pohon itu terletak pada akar-akarnya yang harus dengan kokoh kuat tertanam didalam tanah samapai dalam. Demikian pula dengan pemerintahan, kekuatannya terletak pada rakyat jelata. Pemerintah yang mencintai dan dicintai rakyat, yang mempunyai hubungan mendalam dengan rakyat, pastilah menjadi pemerintah yang kuat. Kekuatan ini yang akan menyuburkan pohon melalui akar-akarnya. Dan kalau pohonya subur, tentu ranting-rantingnya juga subur, dan akan menghasilkan bunga dan buah yang amat baik. Demikian pula, kalau pemerintahan kuat, kalau pemimpinnya yang tertinggi bijaksana dan dicinta rakyat, tentu akan muncul pejabat-pejabat yang bijaksana dan baik pula, dan pemerintahan itu akan menjadi sehat, subur dan menghasilkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat.   Saying bahwa kadang-kadang manusia lupa akan dirinya kalau sudah mabuk kekuasaan. Bukan hanya arak yang memabukkan, akan tetapi juga semua hal yang mendatangkan kesenangan dapat memabukkan seseorang. Harta, nama, kekuasaan dapat membuat orang menjadi mabuk dan lupa diri. Demikian pula halnya dengan Kaisar Yang Ti. Saking semangatnya, saking senangnya melihat kemajuan-kemajuan dan hasil-hasil yang diperolehnya, dia lupa diri dan mulailah terjadi tindakan yang berlebihan. Untuk membangun terusan-terusan yang merupakan pekerjaan besar, berat dan sukar, demi melihat segera tercapainya hasil baik, dia melakukn tekanan kepada bawahannya sehingga para bawahan itu pun mulai menekan kebawah lagi.   Akibatnya, banyak rakyat dipaksa bekerja berat untuk membangun pembangunan terusan. Semacam kerja paksa atau kerja rodi ! tentu saja hal ini tidak diketahui oleh kaisar yang selalu sibuk itu. dan mulailah terdapatgolongan yang tidak setuju, bahkan mulai membenci pemerintah, terutama di kalangan para pendekar yang selalu memperhatikan keadaan rakyat jelata.   Memang benar bahwa terusan itu dibangun demi kepentingan pertanian, akan tetapi caranya membangun itu yang tidak menyenangkan hati para pendekar karena banyak rakyat yang ditekan, bahkan banyak pula yang menjadi korban dan tewas dalam pembangunan yang amat besar itu.   Dan timbullaah semacam dongeng diantara rakyat bahwa tentu akan ada anak naga yang keluar dari sungai Kuning. Biasanya, kalau terjadi sesuatu yang besar, tentu akan muncul seekor anak naga di bagian sungai itu yang dinamakan Pusaran naga! Tempat itu merupakan sebuah kedung, bagian yang dalam dari sungai itu, di sebuah tikungan dan disitu terdapat pusaran yang amat kuat arusnya.   Para nelayan tidak ada yang berani melintasi arus pusaran ini apabila sedang pasang, dan dalam keadaan biasa pun nelayan selalu menjauhi pusaran yang berada di tengah-tengah sungai yang membelok itu.   Ada yang mendongengkan bahwa pusaran ini menembus sampai kelaut timur. Entah sudah berapa banyak perahu yang tiba-tiba diserang air berpusing itu dan lenyap bersama para penumpangnya, tersedot kedalam pusaran dan terus kebawah entah kemana. Dan ditempat itulah dikabarkan munculnya anak naga selama beberapa puluh tahun sekali, atau kalau ada terjadi hal-hal besar yang menggegerkan rakyat. Dan setiap kali tanda-tandanya, yaitu bahwa pusaran itu pasang dan sedang keras-kerasnya sehingga air berpusing keras di tempat itu.   Tentu saja ada sebab-sebab yang tidak diketahui rakyat mengapa terjadi pusingan air yang demikian kerasnya pada waktu-waktu tertentu pula. Mungkin sekali ada hubungannya dengan perubahan musim, dengan bergantinya musim hujan dengan musim kering, atau bergantinya musim dingin yang digantikan musim panas. Mungkin ada pula terjadi pergerakan di bawah tanh, tepat di bawah air berpusing di Sungai Kuning itu.   Yang jelas, berita bahwa pada tahun itu akan muncul anak naga, segera terdengar oleh dunia kang-ouw dan tentu saja orang-orang yang paling tertarik oleh berita ini adalah para tokoh dunia persilatan. Hanya orang-orang dunia persilatan yang memiliki ilmu silat yang tinggi, ilmu kepandaian yang hebat saja merasa tertarik dan berani mendatangi tempat itu. dan hanya orang-orang dunia persilatan saja yang berkepentingan dengan munculnya anak naga itu, untuk diperebutkan karena anak naga itu dianggap memiliki khasiat yang mukjijat bagi orang-orang dunia persilatan itu.   Bagi rakyat jelata, mendengar adanya berita tentang anak nagaa itu saja sudah mendatangkan rasa takut. Apalagi semua orang tahu belaka betapa berbahaya pusaran air di Sungai Kuning itu yang mereka sebut Pusaran Maut. Lebih lagi dengan berkumpulnya banyak tokoh dunia persilatan, tentu saja diantara mereka banyak pula tokoh kaum sesat disamping kaum pendekar, rakyat jelata semakin tidak berani mendekati. Biasanya, kalau terjadi pertemuan antara kedua pihak itu, ada atau tidak adanya anak naga, tentu akan terjadi perkelahian besar-besaran dan rakyat merasa lebih aman kalau menjauhi tempat seperti itu.   Memang mirip dongeng, akan tetapi nyata karena pada suatu hari, kedua tepi sungai besar itu nampak sibuk dengan banyak orang berdatangan dan hilir-mudik, lalu mereka semua itu menuju ketepi dimana terdapat pusaran air yang dihebohkan itu.   Besok malam adalah malam bulan purnama, sat dimana anak naga akan muncul, demikian menurut cerita dari mulut ke mulut dan turun temurun. Akan tetapi sehari sebelumnya, sudah banyak orang berkeliaran di sekitar tempat itu! dan bermacam-macam orang yang bermunculan disitu. Banyak diantara mereka yang kelihatan menyeramkan, baik mukanya maupun pakaiannya yang aneh-aneh dan nyentrik. Ada pula yang berpakaian pengemis, pendeta, ada yang berpakaian sastrawan. Akan tetapi, mudah diduga bahwa mereka ini bukanlah pendeta, pengemis atau sastrawan biasa, karena biasanya siapa yang berani datang ke tempat itu, sudah pasti orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi atau setidaknya yang merasa memiliki kelihaian.   Diantara para toh kang-ouw yang aneh-aneh yang nampak berkeliaran di tempat itu, terdapat seorang laki-laki setengah tua yang tinggi besar dan gagah perkasa, namun berpakaian sederhana sekali. Tidak seperti orang-orang lain, laki-laki tinggi besar ini sejak muncul hanya duduk saja di tepi sungai dan selain sebuah buntalan besar yang diturunkan dari punggung dan diletakkan diatas tanah di dekatnya, dia pun membawa dua buah papan tebal.   Dia duduk bersila dan matanya dipejamkan, kadang-kadang dibuka untuk memandang kearah sungai dimana mulai terdapat orang-orang berperahu, akan tetapi selalu menjaga agar perahu mereka tidak memasuki daerah pusaran yang amat berbahaya itu, yang berada di tengah Sungai.   Laki-laki itu bukan lain adalah Liu Bhok Ki. Seperti kita ketahui, dia terluka oleh pedang Cui-mo Hek-kiam ditangan Sim Lan Ci, dan racun pedang ini jahat bukan main. Pengobatan biasa ditambah pengerahan sinkangnya tidak mampu mengusir hawa racun yang mengeram di pundaknya, dan karena menurut ucapan Sim Lan Ci, selain obat penawar yang ada pada ibunya, Ban-tok Mo-li, juga mustika di kepala naga akan dapat menyembuhkannya, maka Liu Bhok Ki segera pergi ke Pusaran Maut untuk ikut memperebutkan anak naga.   Kebetulan sekali kemunculan anak naga yang diharap-harapkan itu akan terjadi, hanya beberapa hari setelah dia terluka dan tempat tinggalnya tidak begitu jauh dari Pusaran Maut itu, hanya perjalan tiga hari saja. Diapun mengharapkan bahwa berita tentang anak naga itu akan menarik pula wanita yang berjuluk Ban-tok Mo-li ke tempat itu.   Dengan demikian, maka ada dua kemungkinan baginya untuk menyembuhkan lukanya. Pertama, merebut anak naga kalau benar muncul, dan kedua mencari Ban-tok Mo-li dan minta obat penawarnya! Dia pun sudah siap dengan sebuah perahu kecil yang disewanya dari seorang nelayan, diikatnya di sebuah patok dan dia akan mempergunakannya kalau perlu.   Karena sudah dua puluh tahun lebih Liu Bhok Ki tidak pernah muncul di dunia kang-ouw, maka tidak ada orang yang mengetahuinya. Dia sendiri masih mengenal beberapa orang yang kebetulan lewat disitu, antaranya Kiu-bwe-houw (Harimau kor Sembilan) Gan Lok, seorang jagoan dari Tai-goan, aliran utara yang dulu pernah bentrok dengan dia hanya dengan susah payah dia dapat mengalahkannya.   Ada pula Kim-kauwpang Paouw In Tiang, ahli tongkat emas yang lihai ilmu tongkatnya, jagoan dari Luliang-san. Kedua orng ini usianya sekitar lima puluh dua sampai lima puluh lima tahun, tidak banyak selisihnya dengan usianya sendiri, namun karena sudah dua puluh tahun lebih tidak pernah bertemu, maka mereka itu agaknya sudah lupa padanya.   Dia dulu adalah seorang pemuda yang ganteng dan berpakaian rapi, tidak seperti sekarang, seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian sederhana, mendekati pakaian jembel. Diapun mengenal Tung-hai Cin-jin, seorang tosu perantau dari pantai timur yang bertubuh pendek kecil itu. Dia masih ingat betapa lihainya tosu ini yang sekarang sudah berusia tujuh puluh tahun dan masih nampak gesit dan sehat. Ada lagi seorang yang amat mudah dikenalnya. Orang ini berusia enam puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan pakaiannya pengemis. Akan tetapi Liu Bhok Ki tahu bahwa orang itu bukanlah jembel sembarangan, melainkan berjuluk Sin-Ciang Kai-ong (Raja Jembel Bertangan Sakti), seorang datuk dari Hok-kian yang lihai sekali ilmu tangan kosongnya. Masih banyak yang dapat dikenalnya di tempat itu dan diam-diam dia merasa ikut gembira. Akan ramai sekali nanti kalau benar-benar ada anak naga yang muncul di permukaan air yang berbahaya itu.   Tiba-tiba dia melihat serombongan orang yang alisnya berkerut. Sialan, pikirnya karena dari jauh dia sudah mengenal bahwa rombongan Hek-houw-pang. Dia mengenal gambar harimau hitam didada baju mereka. Dia tidak ingin terjadi keributan selagi dia mencurahkan seluruh perhatiannya pada kemunculan anak naga, maka diapun cepat memanggul buntalan dan papan, dibawanya ke perahu, melepaskan ikatan perahu dan tak lama kemudian diapun mendayung perahunya ke tengah, akan tetapi tentu saja diapun menjauhi daerah Pusaran Maut karena biarpun seorang yang berkepandaian tinggi, menghadapi pusaran maut di hanya akan menjadi permaian yang tidak ada artinya.   Liu Bhok Ki mencari tepi sungai yang sunyi untuk dipakai tempat melewatkan malam. Besok malam baru bulan purnama akan muncul dan kabarnya, anak naga itu akan muncul apabila bulan sedang purnama, tepat ditengah malam, dan kemunculannya pun hanya beberapa jam saja, lalu lenyap kembali kedalam pusaran maut.   Makin banyak orang berdatangan pada keesokan harinya. Liu Bhok Ki tetap menjauhkan diri dari keramaian. Dan jelas nampak betapa para tokoh kangouw yang brkeliaran di tempat itu, kini untuk mempersiapkan diri. Makin dekat malam bulan purnama itu, makin tegang suasananya. Menjelang senja, banyak sudah perahu-perahu berseliweran akan tetapi selalu menjauhi daerah pusaran maut. Menurut dongeng, anak naga itu akan keluar dai pusaran maut dan akan berenang keluar dari daerah pusaran air, bermain-main dan mencari ikan, setelah kenyang makan ikan, baru akan kembali ke Pusaran Maut.   Diantara perahu-perahu itu, terdapat dua buah perahu dan penumpang lain! Semua perahu ditumpangi oleh tokoh-tokoh kang-ouw, mereka yang sengaja mencoba peruntungan mereka, barangkali “Berjodoh” dengan anak naga yang diperebutkan. Setidaknya, mereka datang untuk melihat keadan dan bertemu dengan tokoh-tokoh besar dunia persilatan. Akan tetapi, dua buah perahu itu ditumpangi oleh dua keluarga dari dusun yang berlainan. Hanya kebetulan saja perahu mereka bertemu di dalam pelayaran dan mereka saling berkenalan lalu melanjutkan pelayaran bersama-sama dalam dua perahu agar lebih aman.   Sebuah diantaranya ditumpangi dari dusun Hon-cu. Si Kian berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun. Karena dia ditekan oleh pejabat daerahnya untuk ditarik sebagai pekerja paksa dan dikirim ke tempat pembangunan terusan sungai, dia nekat melarikan diri bersama isterinya dan seorang puteranya yang bernama Si Han Beng yang berusia dua belas tahun. Dia mendayung sendiri perahunya dibantu oleh Si Han Beng. Ayah dan anak ini tinggal di Lembah Sungai Juning, maka mereka tidak asing dengan pekerjaan mendayung perahu. Akan tetapi karena tempat tinggal mereka jauh dari Pusaran Maut, mereka tidak pernah mendengar tentang tempat berbahaya itu. dia terpaksa melarikan diri karena sudah mendengar betapa banyak orang dusun yang tadinya dibujuk untuk bekerja di terusan, tidak dapat kembali ke dusunnya, bahkan banyk yang kabarnya mati di tempat pekerjaan mereka.   Adapun keluarga kedua adalah keluarga Bu Hok Gi. Berbeda dengan si Kian, Bu Hok Gi seorang pejabat melarkan diri karena ditekan oleh atasannya, dipaksa untuk dapat mengumpulkan sedikitnya dua puluh lima orang laki-laki dari dusunnya dijadikan pekerja paksa dengan ancaman dia akan ditangkap dan dihukum kalau tidak berhasil mendapatkan jumlah itu. Bu Hok Gi teringat akan kakaknya seorang pejabat tinggi dan dia melarikan diri hendak mengunjungi kakaknya dan minta bantuan kakaknya agar dia terlepas dari ancaman atasannya.   Kedua keluarga ini, yang masih tinggal di satu daerah karena dusun mereka bertetangga, bertemu di dalam pelayaran ketika keduanya berhenti melewatkan malam di sebuah dusun tepi sungai. Setelah mereka salaing memperkenalkan diri dan tahu bahwa keduanya menjadi korban peraturan kerja paksa, kedua pihak merasa senasib dan mereka pun bersahabat. Keluarga Bu pergi melarikan diri karena takut atasan, sedangkan keluarga Si Takut kepada kepala dusun yang mengharuskan Si Kian menjadi pekerja paksa. Bu Hok Kian pergi bersama seorang isteri dan seorang anak perempuan yang bernama Bu Giok Cu dan berusia sepuluh tahun. Masih ada lagi seorang pembantu yang bertugas mengantar dan mendayung perahu. ‘ Demikianlah, pada sore hari itu, mereka tiba di daerah yang amat ramai diluar pusaran Maut. Tentu saja kedua keluarga ini merasa heran melihat keramaian di tempat itu, betapa banyak perahu berseliweran. Karena tidak ingin mencampuri urusan orang lain, dan mereka dua keluarga sedang melarikan diri sehingga takut kalau-kalau dikenal orang walaupun tempat itu jauh sekali dari dusun mereka dan mereka sudah melakukan pelayaran selama setengah bulan lebih, maka kedua keluarga itu bersepakat untuk meminggirkan perahu mereka ke tempat yang agak jauh.   Hari sudah mulai gelap dan mereka ingin melewatkan malam di tepi sungai yang sepi. Juga perbekalan makan mereka sudah menipis dan mereka ingin mencari bekal makan tambahan dengan membeli di pedusunan tepi sungai.   Bu Hok Gi dan Si Kian segera meninggalkan keluarga mereka setelah perahu mereka didaratkan dan mereka memesan kepada keluarga masing-masing agar berkumpul di tepi sungai yang sunyi itu dan jangan pergi kemana-mana, menanti sampai mereka berdua kembali. Mereka berdua berlalu pergi ke perkampungan di tepi sungai sebelah bawah yang menjadi pusat keramaian orang-orang yang berkumpul di tempat itu.   Ketika mereka tiba di perkampungan itu, mereka melihat ramai-ramai diantara perahu-perahu yang hilir mudik di bagian pinggir. Karena tertarik, mereka pun ikut meonton dan berdiri diantara banyak orang di tepi sungai. Cuacana masih belum gelap benar sehingga mereka pun dapat melihat apa yang sedang terjadi.   Seorang laki-laki setengah tua yang berperahu seorang diri, nampak dikejutkan dan dikurung oleh empat buah perahu yang masing-masing ditumpangi empat orang! Dan jelas nampak betapa enam belas orang itu mengancam pria setengah tua yang perahunya kini terkurung di tengah-tengah.   Belasan orang itu sudah mengeluarkan senjata dan perahu mereka bergerak semakin dekat. Ada gambar harimau kecil di baju enam belas orang itu, di bagian dada. Mereka adalah orang-orang Hek-houw-pang yang datang ke tempat itu karena tertarik pula akan berita kemungkinan munculnya anak naga di permukaan Pusaran Maut.   Tak mereka sangka, sebelum tengah malam bulan purnama tiba, mereka melihat musuh besar mereka, Liu Bhok Ki, berada disitu, naik perahu seorang diri! Tentu saja begitu melihat musuh besar ini, belasan orang itu pun segera mengepung dengan perahu mereka.   Diwajah mereka terbayang penuh kegeraman dan kebencian, dan mereka merasa gembira karena kini mengharapkan akan dapat membunuh musuh besar itu. kalau di daratan, beberapa kali usaha Hek-houw-pang gagal dan jatuh korban banyak diantara para murid Hek-houw-pang. Akan tetapi  kini mereka berada di permukaan sungai, diatas perahu dan mereka mengharapkan musuh besar itu tidak akan mampu meloloskan diri pembalasan mereka.   Tentu saja para tokoh kang-ouw, para tokoh dunia persilatan yang berada disitu tahu akan sikap orang-orang Hek-houw-pang itu yang mengepung laki-laki setengah tua yang tidak dikenal itu. mereka semua tertarik, merasa tegang dan maklum bahwa akan terjadi perkelahian yang menarik. Maka, perahu-perahu segera minggir dan nonton dari jauh, sedangkan orang-orang yang berada di daratan, segera berkumpul di tepi sungai untuk menonton pertunjukan yang amat menarik bagi mereka itu. tidak ada pertunjukan yang lebih menarik daripada perkelahian bagi orang-orang dunia persilatan itu.     4. Keluarnya “Anak Naga”   Liu Bhok Ki tentu saja tahu bahwa perahunya dikepung oleh empat buah perahu or-orang Hek-houw-pang, akan tetapi dia bersikap tenang saja, bahkan mendayung perahunya ke tengah, mendekati daerah pusaran maut. Makin dekat daerah itu, airpun mulai beriak dan terdengar suara angin besar. Dia mendayung dan duduk ditengah perahu, kelihatan tenang seolah-olah tidak ada bahaya mengancam. Buntalan besar berada diatas punggungnya.   Setelah empat buah perahu itu mengepung dalam jarak dekat, tiba-tiba Liu Bhok Ki bangkit berdiri diatas perahunya, berdiri tegak dan dayung itu masih berada ditangannya. Agaknya gerakan ini menjadi isyarat bagi enam belas anggota hek-houw-pang untuk bergerak menerjang setelah perahu mereka yang masih meluncur itu dekat benar dengan musuh. Akan tetapi, pada saat belasan orang itu melakukan gerakan menyerang dari empat penjuru, tiba-tiba tubuh Liu Bhok Ki meloncat keatas meninggalkan perahunya dan dia melompati kepala orang-orang dalam perahu di depannya dan urun di sebelah belakang mereka. Ternyata kedua kaki Liu Bhok Ki telah dipasangi papan yang ditalikan dengan betisnya, dan ketika tubuhnya turun keatas air, tubuh itu tidak tenggelam melainkan berdiri diartas kedua lembar papan it! Hal ini tidak nampak oleh para anggota Hek-houw-pang karena selain gerakan Liu Bhok Ki amat cepat juga cuaca sudah mulai gelap. Mereka terbelalak dan mulut mereka ternganga melihat betapa musuh besar itu dapat berjalan diatas air!   Akan tetapi, keheranan mereka berubah menjadi kekagetan dan kepanikan ketika tiba-tiba tubuh Liu Bhok Ki melayang diatas permukaan air kea rah mereka, dan pendekar ini sudah mengayun dayung di tangannya, menyerang mereka!   Repotlah belasan orang itu ketika diserang secara tiba-tiba. Mereka tidak mengira Liu Bhok Ki dapat “berjalan” diatas air dan serangan orang tinggi besar itu memang hebat sekali.   Biarpun anggota hek-houw-pang mencoba untuk menangkis dengan pedang dan golok mereka, tetap saja mereka terpukul atau terdorong dari atas perahu mereka, jatuh terlempar kedalam air! Dan karena sudah berada di daerah Pusaran air, maka tubuh mereka segera terseret oleh arus air yang dasyat.   Tubuh Liu Bhok Ki terus melayang dari perahu ke perahu dan dalam waktu sebentar saja, tubuh enam belas orang itu telah terpelanting semua ke dalam air dan mereka terbawa arus air kearah pusat pusaran. Enam belas orang itu mati-matian berenang untuk membebaskan diri dari arus, namun sia-sia belaka. Tubuh mereka terseret semakin cepat dan arus itu kuat sekali. Mereka berteriak-teriak, menjerit dan melolong, namun sia-sia belaka karena arus itu lebih kuat. Bukan hanya tubuh enam belas orang itu yang hanyut oleh arus air pusaran, juga empat perahu mereka mulai terseret!   Setelah melihat betapa semua lawannya terseret arus, Liu Bhok Ki meloncat kembali kedalam perahunya, menggunakan dayungnya dengan kekuatan sepenuhnya dan akhirnya dia berhasil membawa perahunya terbebas dari arus pusaran air dan menjauhkan diri dari tempat itu agar tidak menjadi pusat perhatian orang yang sejak tadi menonton dengan penuh kagum, bahkan mereka bertanya-tanya siapa adanya laki-laki setengah tua yang demikian lihaynya! Sukar dipercaya bahwa enam belas orang anggota Hek-houw-pang yang terkenal gagah perkasa itu akan menemui maut sedemikian cepatnya ketika mengeroyok orang itu!   Sementara itu, kalau orang-orang kang-ouw itu gembira nonton perkelahian tadi, Si Kian dan Bu Hok Gi saling pandang dengan muka pucat. Tak mereka sangka bahwa di tempat itu akan terjadi perkelahian dan pembunuhan demikian banyaknya orang, tanpa seorangpun menolong mereka yang hanyut tadi. Diam-diam mereka lalu meninggalkan pantai, menuju ke darat untuk mencari kebutuhan mereka akan bekal makanan.   Dua orang dari dusun yang masih berdebar-debar penuh ketegangan dari ketakutan itu, menuju ke sebuah kedai yang mulai memasang lampunya. Agak sunyi disitu karena sebagian besar orang masih berkumpul di tepi sungai.   Mereka tiba di depan kedai yang agaknya menjual makanan dan minuman itu, keduanya berhenti dan merasa ragu-ragu untuk masuk karena mereka melihat beberaapa orang berada di ruangan depan kedai itu.   Ada seorang wanita cantik duduk diatas bangku, mengipasi tubuhnya dengan sebuah kipas yang indah sekali. Wanita itu sukar ditaksir berapa usianya, mungkin sudah empat puluh tahun, akan tetapi mungkin pula baru tiga puluh tahun. Wajahnya cantik dan pesolek, pakaiannya indah pula, akan tetapi kecantikannya itu sama sekali tidak cerah, bahkan menyeramkan karena ada sikap yang dingin sekali, dingin dan angkuh. Hal ini nampak dari pandangan matanya yang acuh, dan mulutya tersenyum mengejek atau memandang rendah itu.   Dan pada saat itu, ia agaknya memandang rendah kepada lima orang laki-laki yang berdiri mengelilinginya dan agaknya lima orang laki-laki yang usianya antara tiga puluh sampai empat puluh tahun ini memang hendak iseng atau menggodanya! Lima orang laki-laki ini pun baru datang dari nonton perkelahian di sungai tadi.   “Ah, Enci ini datang bukan untuk nonton perkelahian,” kata orang kedua.   “Habis, mau apa?” kata yang ketiga   “Agaknya hendak mencari anak naga Sakti Sungai Huang-ho!” kata yang ke empat nadanya mengejek.   “Kalau tidak ada naga sakti, kamipun merupakan lima ekor naga yang cukup dasyat!” kata orang kelima dan mereka tertawa-tawa.   Wanita cantik itu memperlebar senyumnya, akan tetapi dari sepasang matanya muncul sinar mencorong bagaikan kilat menyambar.   “Kalian ini anak-anak anjing jelek pergilah. Sebelum mati konyol!” katanya   Suaranya lirih saja, namun mengandung ancaman yang sebenarnya amat mengerikan. Akan tetapi, lima orang itu bukanlah orang-orang biasa. Mereka memang berjuluk Lima naga Bukit Hijau. Nama Jeng-san Ng0-liong memang sudah terkenal sebagai jagoan-jagoan yang berkepandaian tinggi.   Sebetulnya, mereka bukanlah segolongan laki-laki rendah yang suka menggoda wanita, akan tetapi sekali ini mereka iseng karena melihat keadaan wanita itu yang juga luar biasa. Mereka sudah dapat menduga bahwa wanita ini bukan wanita sembarangan, dan memiliki kecantikan yang aneh, juga kemunculannya di situ seorang diri, maka hati mereka tertarik dan mereka mendekati untuk berkenalan dan sekedar iseng sambil menanti datangnya saat yang menegangkan dan mendebarkan hati itu.   Kini, wanita itu memaki mereka sebagai anak-anak anjing jelek dan mengusir mereka begitu saja! Hal ini membuat wajah mereka berubah merah dan seorang tertua diantara mereka, yang kepalanya botak sampai hampir gundul, membentak.   “Heh, perempuan tak tahu diri! Tahukah kau siapa kami? Kami adalah Jeng-San Ngo-liong dan kami menegurmu secara baik-baik. Bagaimana engkau berani mencaci dan menghina kami? Apakah nyawamu sudah rangkap lima?”   Wanita itu mempercepat kebutan kipasnya pada leher, seolah-olah ia semakin gerah.   “Sekali lagi bicara, engkau akan mampus!” katanya dan suaranya mengandung desis seperti desis ular.   Melihat sikap wanita itu, empat orang diantara Jeng-san Ngo-Liong agaknya menjadi gentar juga. Mereka adalah orang-orang dunia persilatan dan mereka tahu bahwa di dunia persilatan ada suatu hal yang harus mereka perhatikan, yaitu bahwa mereka harus berhati-hati, apabila berhadapan dengan orang yang kelihatannya lemah. Misalnya berhadapan dengan pendeta, sastrawan, pengemis dan wanita. Karena yang nampaknya lemah ini juteru amat berbahaya. Kalau mereka ini sudah berani berkeliaran di dunia kag-ouw, berarti bahwa mereka tentu sudah memiliki tingkat tinggi dalam ilmu silat.   “Sudahlah, mari kita pergi saja,” ajak empat orang itu kepada toa-suheng (sudara tertua) mereka.   Akan tetapi si Botak itu masih penasaran. Dia dihina di depan adik-adiknya, bahkan diluar kedai itu sudah berkumpul banyak orang yang ikut pula mendengar ketika dia diancam tadi. Sekali lagi bicara, dia akan mampus.   “Tidak!” dengusnya ketika empat saudaranya membujuknya untuk pergi. “Ia telah menghinaku! Wanita ini harus berlutut minta maaf, atau setidaknya ia harus mau memberi ciuman satu kali kepadaku, baru aku mau membebaskn dan memaafkannya!”   Wanita itu menghentikan gerakan kipasnya, dan kini ia tidak lagi melirik, melainkan memandang langsung kepada si botak, dan ia pun tersenyum. Wajahnya nampak lebih muda lagi, deretan gigi putih seperti mutiara nampak dan jilatan lidah jambon pada bibir merah mengisaratkan tantangan yang panas.   “Aku lebih suka mencium daripada minta maaf,” katanya dengan suara lembut, mulut tersenyum akan tetapi matanya mengeluarkan sinar dingin.   Empat orang sute itu menjadi bengong. Mereka tadinya sudah mengkuatrkan kalau-kalau wanita itu akan melakukan penyerangan kepada suheng mereka, tidak tahunya wanita itu malah menyatakan bersedia untuk mencium toa-suheng itu! tentu saja saling pandang dan menyeringai.   Si botak tersenyum bangga. Dia rasa menang dan mengira bahwa wanita cantik itu gentar menghadapinya, maka untuk menyombongkan kemenangannya diapun lalu menghampiri wanita itu.   “Marilah, manis, beri ciuman sekali kepadku dan engkau akan kami anggap sahabat baik!”   Wanita itu tidak menjawab, melainkan mengembangkan kedua lengannya dan bangkit, lalu melangkah maju menyambut pria botak itu. mereka saling rangkul dan didepan banyak orang yang nonton dengan gembira, ada yang cekikikan ada pula yang menahan ketawanya, wanita cantik itu lalu mencium mulut si botak dengan mulutnya. Ciuman itu mesra dan mengeluarkan bunyi, bahkan si pria botak merasa betapa wanita itu menjulurkan lidahnya, seperti lidah ular memasuki mulutnya. Akan tetapi, suara cekikikan dan ketawa para penonton seketika terhenti ketika wanita itu melepaskan rangkulanya dan melangkah mundur. Pria botak itu terhuyung sambil berkata lirih, “Aduh ….. aduh ……..”   Orang-orang yang berada disitu masih ragu-ragu akan arti keluhan mengaduh ini, karena suara keluhan ini berarti sakit akan tetapi orangpun mengaduh kalau merasakan nikmat! Akan tetapi, pria itu terhuyung lalu terpelanting roboh tertelentang dan semua orang terkejut melihat betapa pria botak itu telah mati dengan mata melotot dan muka menghitam, bahkan kedua bibirnya membengkak besar!   Kalau orang-orang lain terkejut dan ngeri, empat orang sute dari si botak menjadi terkejut dan marah bukan main melihat toa-suheng mereka tewas setelah berciuman dengan wanita itu. mereka sudah mencabut pedang dan kini mereka menyerbu wanita yang masih berdiri sambil tersenyum mengejek itu.   ================================== ABC Amber LIT Converter v2.02 ==================================   Pria botak itu nampak terhuyung sambil berkata lirih, “Aduh ………. Aduh ……..”   “Siluman betina mampuslah!” bentak mereka.   Akan tetapi, kini wanita cantik itu menyambut serbuan mereka dengan gerakan kedua lengannya yang cepat meluncur seprti dua batang anak panah terlepas dari busurnya, juga lengan itu seperti dua ekor ular. Tubuh wanita itu berkelebat diantara sambaran empat batang pedang dan terdengarlah teriakan-teriakan kesakitan disusul robohnya empat orang itu secara berturut-turut. Sukar diikuti dengan pandang mata dan sukar pula mengetahui mengapa empat orang itu roboh. Akan tetapi mereka roboh untuk tidak bangkit kembali, dengan muka berubah menghitam dan membengkak, dan ternyata mereka berempat itu sudah tewas semua!   Setelah membunuh lima orang itu, dengan tenang sekali wanita cantik ini melemparkan mata uang keatas meja, lalu meninggalkan kedai itu dengan langkah tenang, lenggangnya menarik sekali, membuat kedua pinggulnya menari-nari di balik celana sutera yang ketat.   Semua orang cepat minggir memberi jalan kepada wanita itu dan ketika ia lewat, terciumlah bau harum yang menyengat hidung, harum bercampur amis, seperti bau ular. Seorang diantara para penonton, seorang tokoh kang-ouw yang berpengalaman, berbisik kepada temannya.   “Ia adalah Ban-to Mo-li …….!” Nama ini terdengar oleh penonton lain dan mereka pun bergidik.   Siapa yang belum pernah mendengar Ban-to Mo-li? Andaikata belum pernah bertemu dengan orangnya, namanya tentu sudah pernah didengar karena nama ini terkenal di dunia kag-ouw. Ban-to Mo-li (Iblis Betina Selasa Racun) adalah seorang datuk sesat yang amat terkenal karena kelihaiannya, juga karena kekejamannya. Terbukti kekejamannya ketika dengan mudah saja ia memunuh Jeng-San Ngo-liong hanya karena ia digoda.   Si Kian dan Bu Hok Gi yang tadinya hendak membeli makanan di kedai itu dan menjadi penontin, tentu saja terkejut dan muka mereka pucat sekali.   Baru tadi mereka menyaksikan perkelahian diatas perahu-perahu itu dan melihat maut menyeret belasan orang, dan kini di depan mata mereka, demikian dekatnya, mereka melihat lima orang tewas dengan muka menghitam dan membengkak, mata melotot, dibunuh oleh seorang wanaita cantik! Tentu saja nyali mereka seperti terbang melayang dan tapa banyak cakap lagi keduanya meninggalkan tempat itu dengan muka pucat dan kedua kai gemetaran.   Mereka kembali ke tepi sungai dimana mereka meninggalkan keluarga mereka tadi tanpa membawa sedikitpun makanan karena mereka sudah ketakutan untuk tinggal lebih lama lagi di perkampungan itu.   “Kita harus cepat meninggalkan tempat ini, melanjutkan perjalan kita,” kata Bu Hok Gi yang masih ketakutan.   “Memang benar, Bu-toako,” kata Si Kian. “Akan tetapi kita harus berhati-hati. Sekarang, didepan sana masih banyaknya mereka sekali perahu berseliweran dan agaknya mereka adalah orang-orang jahat yang mudah membunuh orang. Sebaiknya kita menanti sampai malam menjadi sunyi, diam-diam kita melanjutkan perjalanan dan lolos dari daerah yang berbahaya ini.”   Bu Hok Gi membenarkan pendapat Si Kian dan mereka pun menanti sampai malam menjadi larut. Karena ayah mereka tidak membawa makanan, Si han Beng dan Bu Giok Cu, dua orang anak dua keluarga itu, segera mencoba untuk memancing ikan. Bu Giok Cu sejak tadi mengomel terus karena perutnya terasa lapar dan ayahnya yang sejak tadi dinanti-nanti, dtang tanpa membawa makanan. Dan lebih sial lagi, sejak tadi ia mengail, tidak ada ikan yang menyambar umpannya.   Bu Giok Cu yang baru berusia sepuluh tahun itu sudah memperlihatkan tanda yang jelas bahwa kelak ia akan menjadi seorang wanita yang cantik jelita. Akan tetapi, sebagai puteri tunggal seorang kepala dusun, ia amat manja. Biarpun manja, Giok Cu adalah seorang anak yang tidak malas dan cerdik, juga nakal. Berbeda dengan Giok Cu, Si han Beng lebih pendiam dan biarpun usianya baru dua belas tahun, Han Beng tidak kekanak-kanakan, bahkan seperti seorang yang sudah dewasa saja. Hal ini adalah karena sejak kecil dia hidup dalam keluarga yang tidak mampu, memaksanya sejak kecil ikut bekerja membantu ayahnya, baik mencari ikan sebagai nelayan atau bekerja di sawah lading sebagai petani.   Tubuhnya juga tinggi besar dan kuat karena sudah terbiasa bekerja berat sejak kecil. Wajahnya tampan, mewarisi wajah ibunya yang termasuk wanaita cantik walaupun orang dusun.   Suasana di daerah Pusaran Maut itu makin malam menjadi semakin sunyi. Agaknya, ketegangan terasa diantara para tokoh kang-ouw yang hendak memperebutkan anak nag. Ketegangan menanti munculnya anak naga, ditambah dengan ketegangan karena terjadinya perkelahian dan pembunuhan besar-besaran yang terjadi sore tadi, mencekam hati semua orang dan banyak diantara mereka yang kini bersiap-siap saja di tepi sungai.   Mereka percaya akan berita atau dongeng bahwa anak naga itu muncul pada tengah malam, maka mereka pada siap di tepi sungai dengan perahu mereka, menanti datangnya malam.   Bulan sudah muncul, bulan purnama yang membuat permukaan air sungai nampak keemasan. Malam telah larut biarpun tengah malam masih dua tiga jam lagi, sudah mulai ada perahu yang bersiliweran di luar daerah Pusaran maut. Menurut dongeng, anak naga akan muncul di tengah pusaran itu dan berenang keluar dari arus pusaran, karena anak naga itu ingin mencari ikan di air yang tenang. Ikan tidak terdapat di air yang terseret arus pusaran. Karena tidak dapat menentukan, di bagian mana dari luar pusaran yang akan didatangi oleh anak naga, maka perahu-perahu itu hanya berseliweran di sekitar daerah pusaran.   Bulan purnama sudah naik tinggi ketika nampak dua buah perahu di dayung perlahan-lahan dan dengan hati-hati sekali, dengan tenang meluncur di luar daerah pusaran berbahaya. Itu adalah perahu yang ditumpangi kega Si Kian dan Keluarga Bu Hok Gi. Perahu Si Kian didayung oleh Si Kian sendiri, dibantu oleh Han Beng, sedangkan perahu Bu Hok Gi didayung oleh seorang pembantunya dan oleh Bu Hok Gi sendiri.   Mereka mendayung perahu perlahan-lahan sambil mata mereka memandang kea rah beberapa buah perahu yang berseliweran di daerah itu dengan mata takut-takut.   Bulan purnama cukup terang sehingga para penumpang dua buah perahu ini dapat melihat betapa daerah ini dikelilingi oleh banyak sekali perahu. Akan tetapi perahu-perahu itu hanya diam saja, seperti menanti sesuatu, dan hanya sedikit yang berseliweran.   Tiba-tiba terdengar suara rebut dan banyak perahu yang tadinya diam itu bergerak semua. Hal ini mengejutkan dan menakutkan Si Kian dan Bu Hok Gi. Mereka menghentikan perahu mereka yang dibiarkan berhimpitan, takut kalau sampai ketahuan perahu-perahu lain dan terlibat dalam keributan itu. sejak tadi Bu Giok Cu masih enak-enakan memancing ikan, tidak peduli akan semua itu dan mencurahkan perhatiannya ke ujung tangkai pancingnya.   Keributan terjadi di dekat daerah pusaran ketika seorang diantara para tokoh kang-ouw melihat adanya benda yang mengeluarkan cahaya di permukaan air. Cahaya itu berkilau seperti beberapa ekor binatang laut kalau muncul di tengah malam dan mengeluarkan semacam sinar dari tubuhnya, seperti udang dan beberapa macam ikan lainnya.   Dan tokoh kang-ouw itu kemudian melihat jelas bahwa yang sedang berenang melawan arus air pusaran itu adalah eekor binatang seperti ular atau belut warnanya kehitaman, sebesar lengan orang dewasa dan panjangnya kurang lebih satu setengah meter.   “Anak ……… anak naga …………!” teriaknya di luar kesadarannya saking kaget, girang dan tegangnya. Kalau saja dia tidak panic, tentu dia diam saja agar jangan ada orang lain mendengarnya dan akan diam-diam berusaha menangkap binatang yang ditunggu-tunggu itu.   Dia mendayung perahunya, meluncur dekat binatang yang seperti ular itu. akan tetapi ketika dia menjulurkan tangan hendak menangkapnya, binatang itu mengelak dan berenang kembali ke pusaran. Tokoh kang-ouw itu mengejar dengan perahunya, tidak sadar bahwa binatang it uterus berenang ke tengah. Dia baru tahu ketika tiba-tiba perahunya terseret oleh arus yang amat kuat dan binatang itu lenyap. Dia terbelalak melihat perahunya meluncur cepat tanpa dapat dikuasainya lagi. Dia mencoba untuk mendayung sekuat tenaga, namun tetap saja tenaganya tidak mampu menahan kekuatan arus yang menyeret perahunya. Mulailah dia panic.   “Tolooooooooong …………..!” Tanpa malu-malu dia berteriak ketika perahunya terseret pusaran air, dibawa berpusing oleh pusaran air, makin lamaa makin cepat dan makin menyempit garis lingkarannya. Saking takutnya, diapun melompat dari perahunya, mencoba untuk berenang. Akan tetapi sia-sia sajaa, tubuhnya terseret dan beberapa kali terdengar dia menjerit minta tolong, juga perahunya, disedot oleh pusat pusaran air!   Akan tetapi teriakannya tentang anak naga tadi sudah menarik perhatian semua tokoh. Mereka ini sama sekali tidak peduli akan nasib orang yang tersedot pusaran air itu. perhatian mereka seluruhnya ditujukan kepada benda berkilau yang tadi berenang dan kemudian lenyap.   Tiba-tiba, dua buah perahu yang ditumpangi oleh delapan orang gagah, para anggota perkumpulan Jit-Seng-pang (Perkumpulan Tujuh Bintang) di Cin-an nampak sibuk. Dua orang diantara mereka mempergunakan jala yang bergagang bamboo panjang dan mereka agaknya telah berhasil menjala anak naga yang dihebohkan itu. di dalam jala mereka itu nampak benda panjang yang mengeluarkan sinar berkeliuan bergerak-gerak hendak lepas.   Melihat betapa delapan orng anggota Jit-seng-pang itu agaknya berhasil menangkap “Anak Naga”, banyak perahu meluncur mendekati mereka. Melihat ini, para anggota Jit-seng-pang siap dengan senjata mereka, dan kepala rombongan mereka berseru :   “Kami dari Jit-seng-pang dan ular naga kecil ini sudah kami tangkap. Kami yang berhak memilikinya, harap para sahabat yang gagah tidak mengganggu kami!”   Akan tetapi, nampak seorang laki-laki tinggi gemuk bermuka hitam meloncat dari perahunya, ketas perahu orang-orang Jit-seng-pang. Dua orang anggota Jit-seng-pang yang menyambutnya dengan bacokan golok, dibuat terjungkal dari perahunya oleh tendangan laki-laki gemuk itu dan sekali dia menyambar, jala itu telah dirampasnya. Dengan kecepatan luar biasa, dia sudah meloncat ke perahunya sendiri. Akan tetapi ketika dia hendak melarikan diri dengan perahunya, membawa jala yang membungkus ular berkilauan itu terdengar bentakan halus.   “Tinggalkan anak naga itu padaku dan sinar hitam meluncur cepat sekali kerah laki-laki gemuk bermuka hitam. Laki-laki yang amat lihai itu hendak menangkis, akan tetapi ternyata ada sianr kedua menyambar dan mengenai pundaknya. Dia roboh dalam perahunya, jala itu terlepas dari tangannya kedalam air. Laki-laki yang roboh di dalam perahunya itu tidak dapat bergerak lagi, mukanya berubah membiru dan dia tewa seketika terkena senjata rahasia jarum yang tadi dilepaskan oleh Bn-to Mo-li, wanita cantik yang tadi membunuh Ceng-san Ngo-liong di kedai!   Sebelum Ban-to Mo-li dapat menangkap ular dalam jala yang terlempar agak jauh dari perahunya, sebuah perahu lain meluncur dekat dan seorang laki-laki tinggi kurus menyambar jala itu dan dia cepat mengeluaarkan ular dari dalam jalan. Tiba-tiba dia memekik, ular itu telah mengigit pangkal lengannya dan begitu kena digigit, dia berkelonjotn dan ular itu melesat kedalam air dan menghilang!   Orang tinggi kurus itu hanya sebentar berkelonkotan karena dia sudah tewas dalam perahunya dengan tubuh membengkak seluruhnya, seperti balon yang ditiup. Ternyata racun gigitan ular atau anak naga itu tidak kalah hebatnya dibandingkan racun yang terkandung dalam jarum yang dilemparkan Ban-to Mo-li.   Keadaan menjadi makin kacau karena anak naga itu lenyap lagi. Perahu-perahu berseliweran dan semua mata mengamati air dan mencari-cari anak naga yang tadi terlepas dan menyelam. Karena semua orang tenggelam dalam perhatian mereka untuk mencari “anak naga” itu, keadaan menjadi sunyi sekali.   Perahu-perahu semua diam dan tak seorangpun mengeluarkan suara seolah-olah takut kalau ada suara gaduh, anak naga yang tadi sudah memeperlihatkan diri akan tetapi tidak berani muncul muncul kembali.   Dari ketegangan memuncak karena semua orang maklum bahwa untuk memperebutkan anak naga itu, para tokoh kang-ouw tidak segan-segan untuk merampas dan membunuh, seperti dilakukan oleh si Muka Hitam, kemudian Ban-to Mo-li.   Keadan yang sunyi itulah yang menyebabkan suara anak perempuan itu terdengar nya.   “Heiiiii! Umpan pancingku disambar ikan!” teriakan ini mengandung kegembiraan besar dan Bu Giok Cu yang sejak tadi memancing dan tidak pedulikan keadan sekitarnya, nampak bersusah payah menahan pancingnya sehingga tangkai pancingnya melengkung dan Giok Cu harus mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menahan diri.   “Wah, ikannya besar dan kuat sekali ………!” katanya dan di lain saat tubuhnya terjatuh kedalam air karena terbawa oleh tarikan ikan pada pancingnya yang amat kuat dan ia tidak mau melepaskan gagang pancingnya.   “Byuuuuurrrrr…….!”   Dua keluarga itu terkejut bukan main. Akan tetapi yang lebih dulu bergerak adalh si Han Beng. Melihat betapa kawan barunya itu terjatuh kedalam air, diapun tanpa membuang waktu lagi segera melepaskan dayung ditangannya dan melompat kedalam air. Sebagai seorang anak nelayan, Han Beng pandai berenang, demikian pula Giok Cu yang dusunnya terletak di tepi sungai.   “Iiiiihhh…….! Ular ………. Ular ………….” Giok Cu menjerit dan ia berenang menjauh. Akan tetapi ular yang ternyata menjadi korban pancingannya itu agaknya marah. Karena anak perempuan itu lupa melepas gagang pancingnya, maka ular itu pun terseret dan ular itu menggunakan tubuhnya yang panjang untuk membelit tubuh Giok Cu! Anak perempuan itu menjerit karena merasa jijik dan takut.   Pada saat itu, Han Beng sudah berenang dekat. Melihat anak perempuan itu dibelit ular yang besarnya selengan orang tua dan panjangnya satu setengah meter, membuat anak perempuan itu tidak dapat berenang lagi dan gelgapan, Han Beng lalu merasa kuatir dan menjadi nekat. Dia memegang leher ular itu menarik-narik lilitannya agar terlepas dari tubuh Giok Cu! Ular itu memang melepas lilitannya pada tubuh Giok Cu, akan tetapi kini dengan marah menggerakkan kepalanya dan mulutnya tahu-tahu sudah mengigit pundak Han Beng!     ( Bersambung ke jilid III) NAGA SAKTI SUNGAI KUNING (Huang Ho Sin-liong) Karya : Asmaraman S. Kho Ping Ho, Penerbit : CV. Gema Tahun 1992 Kontibutor :Syauqy_arr@yahoo.co.id By : bintang73 (indozone.net)   ================================== ABC Amber LIT Converter v2.02 ==================================   Jilid III   5. Siapa beruntung mendapat Mutiara Naga ?   Rasa nyeri yang amat hebat membuat tubuhnya seperti kejang dan panas dan juga seolah-olah ada ribuan semut berapi yang mengigit seluruh tubuhnya. Pundaknya terasa seperti dibakar. Han Beng Tiba-tiba menjadi marah sekali pada ular itu. kepala ular itu masih menempel di pundaknya dan tubuh ular itu mulai membelit dada dan lehernya.   Dia menjadi nekatdan dengan mengerahkan sepenuh tenaganya, dia menangkap tubuh ular itu, menariknya ke dekat tubuh  ular itu, menariknya kedekat mulutnya dan diapun menggigit tubuh ular itu dibagian leher.   Begitu dia mengigit dengan sekuat tenaga sehingga menembus kulit ular yang licin dan amis itu, dia merasakan sesuatu yang manis dan juga amis membasahi mulutnya. Itulah darah ualar! Diapun teringat bahwa ular itu masih menggigitnya, pundaknya nyeri bukan main, maka dalam kemarahannya, untuk membalas kepada ular itu, diapun menggigit semakin kuat dan menghisap darah ular itu, ditelannya sampai berteguk-teguk!   Aneh sekali, begitu dia menelan darah ular itu, hatinya merasa senang! Rasakan kamu, pikirnya. Kalau perlu, kita mati berbareng! Dia menghisap terus tanpa mengendurkan gigitannya sedikitpun juga.   Sementara itu, melihat kawannya digigit ular pada pundaknya dan tubuh ular itu membelit tubuh Han Beng, Giok Cu tidak tinggal diam. Ia tadi ditolong oleh Han Beng sehingga belitan ulr pada tubuhnya terlepas. Kini iapun tidak mau tinggal diam, dan ia pun meniru perbuatan Han Beng yang mengigit leher ualar.   Giok Cu tidak dapat membantu karena ia tidak memegang senjata, maka satu-satuny senjatanya hanyalah gigi dan iapun mengigit ekor ular itu sekuat tenaga! Dan seperti Han Beng, ia merasakan darah ular manis dan amis, akan tetapi ia tidak melepaskan gigitannya dan bahkan menghisap sehingga sedikit darah ular memasuki perutnya!   Tadinya, para tokoh kang-ouw mengerutkan alis dan marah melihat dan mendengar kegaduhan yang dibikin seorang anak perempuan, akan tetapi ketika mereka melihat bahwa yang kena pancing itu anak naga yang dijadikan rebutan, semua orang terkejut dan perahu-perahu itu meluncur datang. Karena banyaknya perahu, terjadi kekacauan dan ada perahu-perahu yang bertabrakan!   Hal ini membuat mereka agak lambat mendekati Han Beng dan Giok Cu yang bergulat dengan ular yang oleh para tokoh kang-ouw disebut anak naga itu.   Han Beng terus menggigit leher ular dan menghisap darah ular sekuatnya. Demikian pula Giok Cu yang juga menghisap darah ular yang dirasakan manis dan amis itu. akan tetapi karena anak perempuan itu menggigit baagian ekor ular atau “Anak Naga” itu, darahnya dihisapnya tidaklah sebanyak yang dihisap Han Beng.   Han beng yang tadinya merasa pundaknya yang digigit itu amat nyeri dan panas, bahkan tubuhnya seperti ditusuki ribuan jarum di dalam, kini merasa betapa ada hawa panas yang berputaran di seluruh tubuhnya dan rasa nyeri di pundak itu pun lenyap.   Kini terganti oleh hawa panas yang seolah-olah membakar tubuhnya didalam. Karena siksaan hawa panas itu di menjadi nekat dan menggigit semakin kuat. Kini gigitan ular pada pundaknya terlepas dan ular itu menjadi lemas gerakannya tidak sekuat tadi.   Pada saat itu, sebuah perahu sudah datang paling dekat dan seorang kakek tua berperut gendut dengan muka selalu berseri, mulut yang selalu menyeringai, telah menggerakkan tangannya dan di lain saat, kakek itu telah menyambar tengkuk Han Beng dan ditariknya anak itu naik ketas perahunya.   Han beng yang sudah berkunang matanya, pening kepalanya dan hawa panas seperti membakar seluruh isi perut dan kepala, seperti tidak sadar bahwa ia diangkat orang naik ke perahu. Dia masih terus menggigit leher ular dan menghisap daraahnya, dan ketika dia ditarik ketas perahu, ular itu pun ikut pula tertarik.   Dan di ujung ularitu, Giok Cu yang menggigit ekor dan menghisap darah, ikut pula tertarik! Anak perempuan ini pun mulai merasa pening dan tubuhnya terasa panas seperti dibakar.   Biarpun ia tidak sehebat Han Beng terasa oleh hawa panas karena darah ular yang dihisapnya tidak sebanyak yang dihisap Han Beng, namun ternyata hawa panas dalam tubuhnya hampir tak tertahankan dan anak perempuan ini pun dalam keadaan tidak begitu sadar ketika tubuhnya tertarik ke atas perahu kakek gendut.   Kakek gendut yang kepalanya bulat seperti bal itu terkekeh girang melihat anak naga yang masih menggeliat-geliat lemah.   “Ha-ha, anak naga terdapat olehku ha-ha!”   Dia menangkap tubuh ular itu dan terdengar dia berteriak kaget   “Wah, celaka! Anak naga ini hampir mati, darahnya hampir habis! Wah, kiranya kau hisap darahnya, anak setan!”   Kakek gendut berkepala bulat itu adalah seorang tokoh kong-ouw kenamaan bernama Ci Kai Liat, seorang bajak sungai yang terkenal lihai sekali dan ditakuti banyak orang. Biarpun mukanya selalu berseri dan mulutnya selalu menyeringai lebar, nampaknya seperti orang yang selalu riang dan ramah, namanya sesungguhnya dia memiliki watak yang amat kejam dan berdarah dingin.   Dia dapat membunuh atau menyiksa orang sambil tertawa-tawa, dan melihat penderitaan orang lain seperti sebuah hal yang amat menggembirakan dan lucu.   Ci Kiat Liat marah sekali melihat bahwa “Anak Ular” itu sudah hampir habis darahnya, dihisap oleh anak laki-laki dan anak perempuan itu, akan tetapi sebelum dia menentukan apa yang harus dilakukannya, tiba-tiba nampak bayangan hitam meluncur datang. Sebuah perahu yang didayung oleh Liu Bhok Ki sudah tiba dan kakek perkasa ini membentak dengan suaraa keren.   “Bajak Hina Ci Kai Liat, berikan anak naga itu kepadaku!”   Berkata demikian, Liu Bhok Ki meloncat keatas perahu bajak itu. ci Kai Hiat sudah mengenal pria perkasa itu, maka dia melepaskan ular yang sudah lemas dan masih digigit oleh Han Beng dan Giok Cu, lalu menyambut tubuh Liu Bhok Ki dengan hantaman dayungnya yang terbuat dari pada baja! Dihantamkan sekuat tenaga kearah kepala orang yang melompat ke perahu itu.   “Dukkkk!” Liu Bhok Ki menangkis dengan lengannya dank arena tubuhnya masih berada di udara, pertemuan tenaga itu membuat tubuhnya melayang kembali ke atas perahunya sendiri, sedangkan Ci Kai Hiat terjengkang di dalam perahunya karena hebatnya benturan lengan Liu Bhok Ki ketika menangkis dayungnya.   Dari kenyataan ini saja dapat diketahui bahwa dalam hal tenga sin-kang bajak ini bukanlah lawan Liu Bhok Ki yang lihai.   “Hayo, lepaskan anak naga ini!” Ci Kai Hiat membentak dan dia menendang tubuh Giok Cu. Anak perempuan yang sudah merasa pening ini terkena tendangan, gigitannya pada ekor ular terlepas dan ia pun terjatuh ke dalam air!   ================================== ABC Amber LIT Converter v2.02 ==================================   Pertemuan tenaga itu membuat tubuhnya melayang kembali keatas perahunya sendiri, sedang Ci kai Liat terjengkang di dalam perahunya   Melihat ini, han Beng marah sekali. Dia merasa bahwa darah ular itu telah habis dan ular itu agaknya sudah tidak mampu bergerak lagi. Akan tetapi dia tidak sudi menyerahkan ular kepada si Gendut yang dengan kejam menendang Giok Cu, maka dia segera melemparkan tubuh ular yang sudah lemas itu kearah perahu yang di tumpangi Liu Bhok Ki!   Orang gagah ini segera menangkap “anak naga” itu dan tanpa ragu-ragu lagi, dia lalu menggigit kepala naga sampai pecah, dan didalam kepala itu terdapat sebuah benda kuning, seperti kuning telur. Cepat benda ini dimasukkan ke dalam mulut dan ditelannya!   Tiba-tiba wajah Liu Bhok Ki menjadi pucat, kerut merut dan dia menggigit bibirnya. Terasa betapa perutnya seperti diremas-remas dari dalam, nyeri bukan main dan akhirnya, orang gagah perkasa itu roboh pingsan di dalam perahunya!   Sementara itu, Han beng sudah meloncat ke dalam air untuk menolong Giok Cu kalau-kalau anak perempuan itu terancam bahaya. Namun, dia merasa lega melihat Giok Cu berenang dan dalam keadaan selamat.   “Giok Cu ……!” Han Beng berseru   “Mari kita kembali ke perahu kita!”   “Han Beng, aku….. aku pening sekali……” Anak perempuan itu terengah-engah. Han beng juga merasa pening sekali, dan tubuhnya seperti sebuah balon yang penuh dengan hawa panas, seperti akan meledak setiap saat. Namun dia tidak mau menyatakan hal ini, melainkan menangkap lengan Giok Cu da menariknya.   “Hayo kita cari perahu kita……..”Akan tetapi, biarpun bulan purnama menerangi permukaan air, tetap saja sukar untuk mencari perahu keluarga mereka diantara banyak perahu berseliweran itu.   “Ha-ha, kau hendak pergi ke mana.’ Tiba-tiba ada suara terdengar di dekat mereka. Kiranya kakek gendut berkepala bulat tadi sudah berada di dekat mereka sambil menyeringai. “Anak naga tidakdapat, akan tetapi darah naga bisa kuperoleh dari tubuh kalian. Ha-ha-ha! Mari ikut dengan aku, ana-anak manis!” Orang itu adalah Ci Kai Liat. Setelah melihat betapa anak naga itu tadi terjatuh ke tangan Liu Bhok Ki, Ci Kai Liat merasa terkejut, menyesal dan penasaran. Namun, dia teringat betapa dua orang anak itu telah menghisap darah anak naga sampai hampir habis. Dengan demikian, darah kedua orang anak itu amat bermanfaat, mengandung darah naga! Demikian dia mendengar dongeng tentang naga. Maka, kini timbul niatnya untuk menangkap dua orang anak yang telah minum habis darah naga, dan dia akan mengambil darah kedua orang anak itu.   “Tidak, tidak sudi ikut denganmu” Han Beng membentak.   Anak ini memang memiliki ketabahan luar biasa disamping keuletan dan tahan uji. Tubuhnya seperti dibakar dari dalam, kepalanya pening berdenyut-denyut, namun, dia masih tabah menghadapi kakek gendut yang menyeringai menyeramkan itu. Bahkan,  ketika kakek itu mengulurkan tangan hendak menangkapnya, Han Beng mengelak dengan menyelam. Akan tetapi, dia tidak tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang bajak sungai yang tentu saja mempunyai keahlian di dalam air selain ilmu silat yang tinggi. Dia tidak mungkin dapat meloloskan diri hanya dengan menyelam terhadap pengejaran kakek ini. Tahu-tahu Han Beng sudah tertangkap lengannya dicengkeram kakek itu. Melihat Han Beng meronta-ronta hendak melepaskan diri dari pegangan kakek itu Giok Cu menjadi marah. Ia tidak rela melihat temannya ditangkap, maka anak perempuan yang pandai renang ini pun meluncur maju dan memukul tangan kanannya kea rah punggung kakek itu.   “Lepaskan dia! Lepaskan!”   “Dukkk!” Pukulan kepalan kecil ke arah punggung itu mengejutkan Ci Kai Liat karena terasa kuat dan menimbulkan nyeri pada punggungnya! Tak disangkanya anak perempuan kecil itu memiliki tenaga sebesar itu. Punggung seperti dipukul palu besi dengan keras. Untung dia memiliki kekebalan. Dia pun membalik dan menangkap pula lengan Giok Cu dan menyeret kedua orang anak itu dan membuat mereka lumpuh tak mampu bergerak lagi. Dengan mudah dia melemparkan tubuh kedua anak itu ke atas perahunya dan dia sendiri menyusul naik.   “Heh-heh-heh, mari ikut dengan aku, anak-anak manis!” katanya sambil mulai mendayung perahunya.   Han Beng yang tetotok tadi, seketika menjadi lumpuh kaki tangannya. Akan tetapi hanya sebentar saja karena hawa panas itu membuat tubuhnya pulih kembali dan dia mampu bergerak lagi. Dia bangkit duduk dan membentak.   “Kakek jahat! Mau apa engkau membawa kami berdua? Kami ingin kembali kepada keluarga kami”    “Ehhh……??!” Ci Kai Liat terkejut sekali melihat  Han Beng telah dapat Bergerak lagi. Bagaimana mungkin ini? Totokannya amat kuat. Dan dia melihat anak perempuan itu pun mulai menggerak-gerakkan kakinya! Dia pun teringat!   “Aha, kalian sudah menghabiskan darah naga, di tubuh kalian ada darah naga! Kalian harus ikut bersamaku!” dan lalu menubruk Han Beng dan sebelum pemuda itu mampu meronta, dia sudah menotoknya lagi dan dalam keadaan lumpuh sementara itu, Han Beng diikat kaaki tangannya. Juga Giok Cu diikat kaki tangannya oleh kakek gendut.   “Hem, bajak rendah, berikan kedua orang anak itu kepadaku!” tiba-tiba terdengar bentakan halus dan nampak sebuah perahu meluncur cepat sekali, tahu-tahu perahu itu sudah dekat dan penumpangnya hanya seorang wanita cantik yang berpakaian mewah, sikapnya dingin dan angkuh. Melihat wanita ini, wajah Ci kai Hiat berubah pucat. Tentu saja dia mengenal Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu.   “Ban-tok Mo-li, engkau carilah anak naga, aku tidak akan mencarinya lagi, aku …… aku suka kepada dua orang anak ini, hendak kuajak pulang, karena aku tidak mempunyai anak, tidak mempunyai murid. Harap jangan halangi aku, Mo-li ………” katanya dengan suara jelas mengandung rasa takut menghadapi wanita cantik itu.   “Berani engkau hendak membohongi aku?” wanita itu membentak.   Tiba-tiba tubuhnya seperti terbang melayang dan tahu-tahu ia sudah berada diatas perahu Ci Kai Liat yang menjadi semakin pucat. Bau harum yang aneh menyengat hidung dan Ci kai Liat yang biasanya merupakan seorang bajak yang amat kejam dan tidak mengenal takut, sekarang nampak menggigil.   Sungguh mengherankan sekali betapa seorang bajak yang diikuti banyak orang itu kini menggigil berhadapan dengan seorang wanita cantik.   “Hayo terangkan mengapa engkau hendak mengambil darah kedua orang bocah ini!” Ia mengacungkan jari telunjuknya yang berkuku panjang dan kini Ci Kai Liat bergidik.   “Maaf, Mo-li. Aku tidak ingin berbohong. Kedua orang anak ini …… entah bagaimana tadi dibelit dan digigit …….. anak naga! Dan kedua orang bocah ini juga menggigit, bahkan menghisap darah anak naga sampai kedalam tubuh mereka. Oleh karena itu ……….”   “Pergi kau! Dua orang anak ini untuk aku!” tiba-tiba kaki wanita itu bergerak.   Cepat sekali tendangannya itu dan tahu-tahu tubuh Ci Kai Liat yang gendut telah terlempar kedalam air!   “Byuuuur ………!” air muncrat dan Ci kai Liat menyelam, tidak berani muncul ke permukaan air sebelum jauh dari perahunya yang kini dirampas wanita itu berikut dua orang anak kecil. Dia menyumpah-nyumpah, namun tetap saja tidak berani berbuat sesuatu. Ci kai Liat sudah mengenal benar siapa adanya Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu, bahkan pernah dia hampir tewas di tangan iblis betina itu. maka kini, begitu bertemu dia seperti tikus bertemu seekor kucing.   Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu mendekati dua orang anak yang terikat itu, tidak tahu bahwa Ci kai Hiat yang penasaran, melampiaskan rasa penasarannya dengan mengabarkan tentang dua orang anak yang menghisap habis darah anak naga itu kepada para tokoh kang-ouw yang berputar-putar di sekitar tempat itu.   Kini semua tokoh sudah tahu belaka bahwa naka ulat telah hilang, darahnya telah disedot habis oleh dua orang anak kecil laki-laki dan perempuan yang kini tertawan oleh ban-tok Mo-li.   Ketika Ban-tok Mo-li meraba tubuh Han Beng dan Giok Cu, ia terkejut dan menarik kembali tangannya. Wajahnya berseri dan matanya berkilat. Tubuh dua orang anak kecil itu panas seperti api!   “Bagus,” katanya mengangguk-angguk “Kalian harus ikut denganku!” Ia pun mempergunakan dayung untuk mengerakkan perahu meninggalkan tempat itu.   Tiga buah perahu, masing-masing ditumpangi dua orang, menghadangnya. Mereka adalah enam orang tokoh kang-ouw yang juga mendengar berita yang disebar luaskan oleh Ci Kai Hiat, maka kini mereka menghadang perahu Ban-tok Mo-li dengan senjata terhunus. Dua orang memegang golok, dua orang lagi memegang pedang, dan dua orang yang lain memegang trisula. Wajah mereka garang dan agaknya enam orang itu walaupun bukan dari satu kelompok, karena jerih kalau harus menghadapi Ban-tok Mo-li sendiri saja, sudah sepakat untuk mengeroyok iblis betina ini.   “Hemmmm, kalian ini enam ekor tikus mau apa menghadang perahuku!” Ban-tok Mo-li berkata dengan suara dingin.   Seorang berkumis tebal yang memegang trisula, mewakili teman-temannya menjawab :   “Ban-to Mo-li, kami berenam mohon agar engaku suka menyerahkan seorang diantara dua orang anak itu kepada kami.”   Wanita cantik itu tersenyum. Senyuman yang membuat wajahnya manis sekali, akan tetapi juga penuh ejekan.   “Huh, enak saja berbicara. Tak seorangpun boleh menjamah dua orang anak yang menjadi milikku ini!”   “Aih, Mo-li, harap berlaku adil dan jangan tamak. Seorang pun lebih dari cukup untukmu. Berilah yang seorang kepadaku agar dapat kami bagi berenam.”   “Tikus-tikus busuk, pergilah dan jangan ganggu aku! Ataukah kalian sudah bosan hidup barangkali?”   Karena mengandalkan banyak teman, enam orang ini tidak mau menyingkir bahkan mendekatkan perahu mereka, dengan senjata terangkat dan sikap mengancam mereka menyerbu.   “Berikan seorang kepada kami atau kami terpaksa akan merampas keduanya!” bentak pula si kumis tebal.   “Kiranya kalian sudah bosan hidup!” bentak Ban-tok Mo-li dan tanpa memperdulikan enam orang dalam tiga perahu itu, ia mendayung terus ke depan. Sebuah perahu menghadang didepan, yang du buah lagi menyerang dari kanan kiri. Enam orang itudengan nekat, berlompatan dari perahu mereka keatas perahu Ban-to Mo-li sambil menggerakkan senjata masing-masing!   Namun, ban-tok Mo-li Phang Bi Cu dengan sikap tenang saja menyambut serbuan enam orang itu dengan kipas ditangan kiri mengebut-ngebut lehernya seperti orang kepanasan, sedangkan tangan kanan tetap mendayung perahu. Melihat enam orang itu berloncatan, tiba-tiba ia menggerakkan kipasnya kekiri kanan dan depan. Terdengar suara berciut bersama dengan menyambarnya sinar hitam ketiga penjuru dan lima orang yang sedang berloncatan menyerbu itu mengeluaran teriakan dan tubuh mereka runtuk keatas air yang bergelombang.   Seorang diantara mereka berhasil menghindarkan diri dari sambaran jarum yang keluar dari gagang kipas dengan memutar pedangnya, dan dia berhasil turun keatas perahu didepan Ban-tok Mo-li.   Melihat lima orang temannya tewas semua, dia menjadi marah dan mengangkat pedangnya lalu menerjang Ban-to Mo-li yang masih duduk dengan tenang. Wanita itu tersenyum, lalu meludah kearah orang yang menyerangnya dengan pedang. Air ludah meluncur keluar dari mulut yang manis itu, tepat mengenai muka si penyerang. Orang itu terkejut, lalu berteriak-teriak kesakitan sambil mencakari muka sendiri. Pedangnya terlempar dan dia pun roboh jatuh ke air sambil masih mencakari mukanya dan berteriak-teriak!   Han Beng dan Giok Cu yang dalam keadaan tertotok dan terbelunggu kaki tangan mereka itu menyaksikan ini semua dan keduanya terbelalak dengan muka pucat. Wanita cantik ini sungguh lihai bukan main, dalam sekejap mata lelaki yang berkepandaian tinggi. Han beng ngeri dan takut, akan tetapi juga kagum bukan main.   Kembali ada banyak perahu menghadang, bahkan kini mengepung. Tidak kurang dari lima belas buah perahu mengepung Perahu yang ditumpangi Ban-tok Mo-li, Han beng dan Giok Cu. Semua tokoh kini tahu belaka bahwa mereka tidak lagi memperbutkan anak naga, melainkan memperebutkan dua orang bucah yang kabarnya menghisap habis darah anak naga sehinggadua aorang bocah itu kini memiliki darah yang mengandung darah naga.   6. Perebutan Dua Orang bocah    Melihat betapa perahunya dihadang dan dikepung banyak orang, Ban-to Mo-li menjadi marah bukan main. Ia berhenti mendayung dan kini ia bangkit berdiri tegak di tengah perahunya, pedang telanjang di tangan kanan dan kipas di tangan kiri, sikapnya ganas dan penuh ancaman. Teriakan-teriakan banyak orang yang minta agar seorang diantara dua anak yang berada dalam perahunya diserahkan kepada mereka membuat Ban-to Mo-li mengerti bahwa mereka itu sudah tahu tentang dua orang bocah yang telah menghisap habis darah anak naga.   Tahulah ia bahwa ia harus mempertahankan anak itu mati-matian dan banyak bicara tidak ada gunanya lagi. Perebutan anak naga itu kini berubah menjadi perebutan dua orang anak ini.   “Kalian ini tikus-tikus yang sudah bosan hidup!” teriaknya dan kipasnya dikebutkan kedepan, kanan dan kiri berhamburan jarum-jarum beracun yang amat berbahaya.   Senjata-rahasia ini amat kecil, berwarna hitam pula dan ketika meluncur keluar dari ujung gagang kipasnya amatlah cepatnya. Dalam cuaca yang hanya diterangi sinar bulan purnama, pula dengan adanya kebisingan mereka, bagaimana mungkin dapat melihat atau mendengar datangnya jarum-jarum pembawa maut itu?   Segera terdengar teriakan-teriakan kesakitan disusul robohnya banyak orang yang terjungkal dari perahu mereka kedalam air. Tubuh mereka diseret air yang mulai deras arusnya karena mereka semakin dekat dengan tepi pusaran air sudah mulai bergolak.   Terjadilah perkelahian hebat diatas permukaan air itu ketika ban-tok Mo-li di keroyok. Perahunya dikepung dan wanita itu dengan pedang di tangan ditangan kanan, kipas di tangan kiri, berkelabat dan berloncatan dari perahu ke perahu. Hebat mukan main gerakan wanita ini. Pedangnya menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar mendahului tubuhnya yang berkelebat dan kemanaa pun tubuhnya melayang, tentu ada seorang dua orang yang terjungkal keluar dari perahunya.   Akan tetapi, tiba-tiba pengeroyokan terhadap Ban-tok Mo-li terhenti dan sisa orang yang mengeroyoknya, kini mendayung perahunya mengejar ke suatu jurusan. Ban-tok Mo-li memandang dan ia terkejut. Kiranya, perahunya yang ia tinggalkan ketika mengamuk dan berloncatan dari perahu yang satu ke perahu yang lain, perahunya yang ditumpangi dua orang bocah yang masih dalam keadan tertotok lumpuh dan terikat kaki tangannya, kini meluncur kedepan, didayung oleh dua orang bocah itu yang entah bagaimana telah dapat bergerak kembali dan tidak terikat kaki tangan mereka! Ia tidak tahu bahwa telah terjadi keanehan pada diri Han Beng dan Giok Cu.   Dua orang bocah ini telah menghisap darah ular yang aneh, yang membuat tubuh mereka panas seperti dibakar dan menimbulkan kekuatan dasyat sekali. Hal ini tadipun sudah nampak ketika dua orang anak itu tertotok oleh Ci kai Liat. Totokan itu buyar dengan sendirinya dilanda hawa pasas yang berputar-putar di seluruh tubuh mereka.   Ketika Ban-tok Mo-li tadi dikeroyok orang dan perahu itu ditinggalkan, Han Beng dan Giok Cu yang tersiksa oleh hawa panas, berusaha untuk menggerakkan kaki tangan mereka. Dan ………. Begitu Han Beng menggerakkan kaki tangannya, maka tali ikatan kaki tangan yang amat kuat itupun putus!   Dia melihat Giok Cu meronta dan mencoba melepaskan kaki tangannya, lalu dibantunya anak perempuan itu dan dengan mudah saja dia dapat membikin putus tali pengikat kaki tangan Giok Cu. Tali itu seolah-olah rambut bertemu api saja ketika tersentuholeh tangannya! Mereka merasa semakin tersiksa oleh hawa panas yang kini membuat mereka seperti hendak melayang-layang, kepala seperti membengkak dan akan meledak.   “Hayo kita lari ……..!” kata Han Beng dan dia pun mengambil dayung dalam perahu itu. Giok Cu mengambil dayung kedua dan mereka pun mendayung perahu untuk melarikan diri. Anehnya, begitu mereka mendayung, maka gerakan mereka mengandung tenaga yang amat kuat sehingga perahu meluncur cepat sekali.   Melihat betapa dua orang anak yang diperebutkan itu melarikan diri mereka yang mengeroyok Ban-tok Mo-li segera meninggalkan iblis betina itu dan melakukan pengejaran.   Ban-tok Mo-li mengeluarkan teriakan marah. Tubuhnya berkelebat dan dua orang penumpang perahu terlempar keluar. Ia lalu dengan cepatnya melakukan pengejaran pula.   Terjadilah kejar-kejaran yang hiruk-pikuk dan mengangkan. Perahu yang didayung oleh dua orang anak kecil itu ternyata dapat melaju dengan amat cepatnya sehingga membikin banyak orang menjadi heran dan juga bingung. Perahu itu menyelinap diantara perahu-perahu yang menghadang, mengepung dan mengejar dan sampai lama tidak dapat orang menangkap mereka. Akan tetapi, Han Beng dan Giok Cu jadi bingung karena mereka tidak dapat menemukan dua buah perahu keluarga mereka.   Mereka berputar-putar dan pandang mata mereka semakin berkunang, kepala semikin pening dan tubuh semakin panas. Tiba-tiba ada benda hitam menyambar dar atas dan tahu-tahu selembar jala hitam telah jatuh menimpa tubuh Han Beng dan Giok Cu. Dua orang anak ini terkejut, akan tetapi karena sudah pening, ketika jala itu menyelimuti mereka dan kemudian ditarik, mereka pun jatuh ke air, di dalam jala yang amt kuat itu.   Mereka meronta, namun tidak berdaya dan mereka terseret kedalam air oleh tiga orang yang memegangi tali dan ujung jala. Bagaikan tiga ekor ikan saja, tiga orang ini menyelam dan menyeret jala yang terisi dua orang anak itu.   Han beng dan Giok Cu gelagapan, namun karena mereka sudah biasa bermain di dalam air, mereka segera menahan napas dan membiarkan diri mereka diseret.   “Huang-ho Saam-ki (Tiga setan Huang-ho) telah menawan anak-anak itu!” terdengar teriakan dan keadaan kacau. Mereka semua mengejar siapa adanya Huang-ho Sam-kwi.   Mereka semua mengenal siapa adanya Huang-ho Sam-kwi, tiga orang tokoh sesat yang amat terkenal di sepanjang sungai Huang-ho. Ilmu silat tiga orang ini tidaklah amat tinggi, akan tetapi mereka memiliki ilmu di dalam air yang membuat semua orang merasa jerih kalau harus melawan mereka di air.   Mereka tiada ubahnya ikan-ikan saja. Dan kini mereka menawan dua orang bocah yang dijadikan rebutan itu dan membawa dua orang aanak-anak itu menyelam kedalam air.   Hal ini sungguh membuat tidak tahu kemana dua orang itu dibawa oleh tiga orang Huang-ho Sam-kwi. Perahu-perahu hilir mudik mencari-cari dan mengharapkan melihat tiga setan itu muncul di permukaan air membawa dua orang tawanannya agar mereka dapat menyerang dan merampas dua orang anak itu.   Betapun pandainya Huang-ho Sam-kwi bermain di air, mereka tetap saja manusia biasa dan bukan ikan. Mereka harus keluar untuk menghirup udara sgar dan tidak mungkin mereka bersembunyi terus di dalam air.   Mereka segera berenang di dalam air, menyeret dua orang tawanan mereka, menuju ke tepi sungai sebelah selatan. Sebagai tiga setan Huang-ho, mereka agaknya hafal akan keadaan sungai itu, bahkan ketika berada di dalam air, mereka dapat mengira-ngira ke tepi bagaian mana mereka dapat mendarat tanpa diketahui orang lain. Mereka memilih tepi yang sunyi, tepi yang merupakan bagian dari hutan lebat.   Akhirnya, Huang-ho sam-kwi mendarat di tepi yang landai dan yang bersambung dengan padang rumput di tepi jalan itu. mereka mendarat dan menyeret jala yang berisi Han Beng dan Giok Cu. Dua orang anak itu kini pingsan dengan perut agak kembung kemasukan air ketika mereka diseret di bawah permukaan air. Dua orang anak itu masih berada di dalam jala dan tidak bergerak seperti dua ekor ikan besar terjala.   Begitu tiga orang pria yang bertubuh tinggi kurus dan berpakaian serba hitam itu mendarat dan menyeret jala termuat dua orang bocah itu, tiba-tiba berkelebat bayangan dua orang dari kanan kiri.   “Serahkan seorang anak kepadaku!” bentak orang yang datang dari kiri. Dia adalah Kiu-bwe-houw Gan Lok yang bertubuh tinggi kurus dan di tangan kanannya nampak sebatang pecut berekor sembilan. Senjata inilah yang membuat dia dijuluki Kiu-bwe-houw (Harimau ekor sembilan) dan di dunia kang-ouw namanya cukup terkenal.   “Yang seorang lagi serahkan kepadaku!” bentak orang yang datang dari kanan dan dia ini adalah Kim-kauw-pang Pouw In Tiang, pendekar dari Luliangsan yang berperut gendut dan tubuhnya pendek itu. sebatang tongkat berada di tangannya dan dia bertolak pinggang dengan sikap angkuh.   Tiga orang Huang-ho Sam-kwi terkejut mereka memandang kepada dua orang itu. di bawah sinar bulan purnama mereka dapat mengenal kedua orang itu yang merupakan tokoh-tokoh persilatan yang tangguh. Orang pertama dari Huang-ho sam-kwi, yang dahinya terdapat beks luka memanjang, segera memberi hormat kepada mereka berdua.   “Harap Ji-wi Eng-hiong (kalian berdua orang gagah) tidak mengganggu kami. Dua ekor ikan ini adalah hasil jala kami dan menjadi hak kami.”   Kim-kauw-pang Pouw In Tiang menggoyangkan tongkatnya yang berselaput emas itu sambil tersenyum mengejek.   “Huang-ho Sam-kwi, kita semua tahu bahwa dua orang anak ini menjadi perebutan diantara kita semua. Siapa yang unggul ilmunya, dialah yang berhak mendapatkan mereka!”   Biarpun tiga orang setan Sungai Kuning itu maklum akan kelihaian dua orang ini, namun karena mereka sudah merasa berhasil mendapatkan dua orang abak itu, tentu saja mereka tidak menyerahkan korban itu begitu saja kepada orang lain. Mereka segera mencabut pedang masing-masing yang tergantung dipunggung, siap melakukan perlawanan.   Dua orang jagoan itu pun menggerakkan senjata masing-masing menyerbu kedepan, disambut oleh Huang-ho Sam-kwi dan terjadilah perkelahian mati-matian di tepi sungai yang sunyi itu.   Sementara itu, Han Beng lebih dulu siuman dari pingsannya. Dia merasa betapa tubuhnya masih panas terbakar dari dalam, akan tetapi perutnya kembung penuh air. Aneh sekali, ketika dia menggunakan tangan menekan perutnya ada hawa panas yang kuat mendesak perut itu dan Han Beng membuka mulutnya, memuntahkan air dari dalam perut seperti pancuran. Dan air itu pun panas, mengeluarkan uap! Akana tetapi sebentar saja perutnya mengempis dan tidak terasa kembung lagi.   Pada saat itu, Giok Cu juga mengeluh dan bergerak. Han Beng membantu anak perempuan itu melepaskan diri dari libatan tali jala dan ketika Giok Cu mengeluh tentang perutnya yang membesar kembung, Han Beng teringat akan keadaan dirinya.   “tekan perutmu itu dengan tangan agar airnya keluar lagi melalui mulutmu!” Giok Cu menurut dan menekan-nekan perutnya, akan tetapi tidak berhasil.   “Mari kubantu,” kata han Beng dan tanpa ragu-ragu diapun ikut menekan perut kembung anak perempuan itu dengan telapak tangannya. Dan seketika ada hawa panas yang kuat menekan perut dan mendesak keluar air dari perut kembung itu. giok Cu muntah-muntah dan air dari dalam perutnya memancur keluar. Air ini pun panas, namun tidak sepanas air yang keluar dari perut han Beng.   Biarpun kepala mereka masih pening dan tubuh panas sekali namun kedua orang anak ini masih dapat melihat betapa tiga orang yang menjala mereka dan menyeret mereka ke dalam air tadi kini berkelahi melawan dua orang laki-laki yang usianya sudah lima puluh tahun lebih.   Melihat betapa tiga orang yang tadi menangkap dia dan Giok Cu berkelahi melawan dua orang yang kelihatan gagah, Han Beng mengambil kesimpulan bahwa tentu dua orang gagah itu yang berusaha menolong dia dan Giok Cu. Dia memandang dengan hati kuatir, lalu memegang tangan Giok Cu dan berbisik “Giok Cu, mari kita cepat lari!”   Akan tetapi anak perempuan itu mengeluh.   “Aku ……… aku merasa panas sekali, Han Beng ………… rasanya mual dan hendak muntah …….. ah, perutku panas sekali ………!”   Memang terdapat perbedaan antara Han Beng dan Giok Cu sebagai akibat mereka menghisap darah ualar yang disebut anak naga oleh para tokoh kang-ouw tadi. Han Beng menghisap darah jauh lebih banyak dari Giok Cu dan andaikata dia tidak tergigit oleh ular itu tentu dia sudah tidak kuat bertahan dia sudah tewas. Akan tetapi, Han beng digigit ular pundaknya, dan racun ular itu menyerangnya. Perlu diketahui bahwa ular itu memang merupakan semacam ular yang langka, ular yang kalau malam mengeluarkan cahaya di bagian kepalanya dan di dalam kepalanya itu terdapat semacam benda yang dianggap mustika oleh para tokoh kang-ouw, benda yang amat langka dan juga ampuh. Akan tetapi, gigitan ular ini mengandung racun yang mematikan! Dan Han Beng tentu sudah sejak tadi tewas kalau saja dia tidak menghisap darah ular itu.   Darah itu yang sekaligus menjadi obat penawar racun, bahkan pencampuran dua benda beracun, yang satu melalui gigitan dan yang kedua melalui darah ular, mendatangkan kekuatan luar biasa di dalam tubuhnya. Namun, tetap saja Han Beng terancam maut karena racun yang memasuki tubuhnya itu sungguh amat ampuh. Adapun Giok Cu hanya menghisap darah ular, tidak tergigit. Namun darah ular itu pun memabukkan dan mengandung racun yang dasyat disamping mengandung kekuatan yang aneh pula. Seperti juga Han Beng, Giok Cu juga terancam maut dengan adanya darah ular dalam tubuhnya, darah yang dihisapnya dari ekor ular untuk menolong temannya tadi.   Perkelahian itu berjalan dengan seru. Sebetulnya, tingkat kepandaian Huang-ho Sam-kwi masih kalah dibandingkan dengan Kiu-bwe-houw Gan Lok ataupun Kim-kauw-pang Pouw In Tiang. Akan tetapi, kiranya kedua orang jagian itu tidak bekerjasama. Agaknya mereka berdua yang juga tadinya memperebutkan anak naga, kebetulan saja menghadang Huang-ho Sam-kwi di pantai sunyi itu secara berbareng.   Setelah terjadi perkelahian, mereka berdua maju sendiri-sendiri dan tidak saling Bantu. Hal ini menguntungkan Huang-ho Sam-kwi yang maju bertiga.   Seorang diantara mereka dapat membantu teman kanan kiri untuk mengeroyok dua orang lawan itu. bagaimanapun juga, permainan pecut ekor sembilan dari Kiu-bwe-houw dan permainan tongkat sakti dari Kim-kauw-pang memang hebat dan membuat tiga orang Huang-ho Sam-kwi itu kocar-kacir dan permainan pedang mereka menjadi kacau balau.   Melihat ini, orang pertama dari Huang-ho Sam-kwi merasa kuatir lalu berseru kepada adiknya yang ketiga.   “Cepat larikan dua orang bocah itu, kami akan menahan mereka!”   Orang ketiga dari Huang-ho Sam-kwi yang tinggi dan kurus sekali sampai seperti ikan layur, maklum akan maksud kakaknya. Satu-satunya jalan bagi mereka adalah melarikan diri lewat dalam air! Dan sebelum melarikan diri tentu saja lebih dulu dua orang anak itu harus disingkirkan agar jangan terjatuh ke tangan orang lain.   Kalau mereka bertiga melawan terus akhirnya akan roboh, dua orang anak dengan darah naga sakti itu tentu akan terampas, bahkan keselamatan nyawa mereka terancam. Maka dia lalu menubruk Han Beng dan Giok Cu. Kedua tangannya hendak mencengkeram dan menangkap dua orang anak itu untuk dibawa loncat kedalam air.   Han Beng dan Giok Cu mampu menghindarkan diri dan lengan kiri Han beng sudah tertangkap, juga lengan kanan Giok Cu. Keduanya meronta dan tiba-tiba Han-beng mengangkat tangan kiri, dikepalnya tangan itu dan memukul kearah perut orang termuda Huang-ho Sam-kwi.   “Desssss……….!”   Hebat bukan main akibat pukulan anak laki-laki berusaha dua belas tahunan itu. tubuh tinggi kurus itu terjungkang terbanting keatas tanah dan dia bergulingan mengaduh-aduh sambil memegangi perutnya.   ”Aduhhh ………… panas ………… panas ………. !” Dan dia pun berkelonjotan tak mampu mengeluh lagi! Tentu saja dua orang saudaranya terkejut. Melihat keadaan tidak menguntungkan itu, mereka lalu meloncat kebelakang, menyambar tubuh saudara yang terluka, lalu membawanya loncat ke dalam air, lalu menyelam lenyap.   Kiu-bwe-houw gan Lok dan Kim-kauw-pang Pouw In Tiang daling pandang dengan mata terbelalak. Mereka terkejut dan merasa heran sekali melihat peristiwa tadi. Seorang diantara Huang-ho Sam-kwi sekali pukul oleh bocah berusia dua belas tahun itu! bagaimana mungkin ini! Mereka berdua tahu benar betapa lihainya Huang-ho Sam-kwi, walaupun tingkat masing-masing anggota Tiga Setan Sungai Kuning masih kalah oleh mereka namun selisihnya hanya sedikit dan tidak sembarang orang akan mampu mengalahkan mereka.   Dan kini, sekali pukul saja anak itu dapat merobohkan seorang diantara mereka yang mengaduh-aduh mengatakan bahwa perut yang dipukul itu terasa panas! Mereka berdua adalah tokoh kang-ouw yang berpengalaman dan cerdik, maka mereka sudah dapat menduga bahwa tentu kehebatan bocah itu adalah akibat dari minum darah anak naga tadi! Makin gembira dan bersemangat hati mereka untuk dapat memiliki dua orang anak kecil itu dan mereka lalu menghampiri Han Beng dan Giok Cu.   Han Beng masih bergandeng tangan dengan Giok Cu dan kini dia berkata kepada dua orang gagah itu.   “Terima kasih atas pertolongan paman berdua. Sekarang orang-orang jahat itu telah tidak ada, kami hendak pergi mencari keluarga kami.” Dan dia hendak menarik lengan Giok Cu, diajak pergi dari situ, kedua anak itu berjalan terhuyung-huyung seperti mabuk.   “Nanti dulu, anak-anak baik ?” dua orang jagoan itu melompat menghadang di depan dua orang anak itu Kim-bwe-houw Gan Lok menyentuh lengan Han Beng dan Kim-kauw-pang Pouw In Tiang menyentuh lengan Giok Cu.   Keduanya mengeluarkan seruan kaget dan meloncat mundur karena ketika mereka menyentuh lengan kedua orang anak itu terasa amat panas seolah-olah mereka menyentuh besi membara! Diam-diam mereka merasa semakin gembira. Dua orang ini telah menjadi anak yang luar biasa!   “Anak baik, jangan dikira bahwa kalian terlepas dari orang-orang jahat. Ketahuilah, hampir semua orang di permukaan air sungai itu sedang mencari untuk menangkap kalian. Marilah kalian ikut bersama kami, dan kami akan mencarikan keluarga kalian,” kata Kiu-bwe-houw.   “Benar,” sambung Kim-kauw-pang. Jangan kalian pergi sendiri mencari mereka. Kalian sedang sakit, lihat, jalan darah pun terhuyung. Biarlah kami yang akan mengkabari keluarga kalian dengan berpencar.”   Giok Cu mengangguk dan ia melepaskan tangan Han Beng, menghampiri Kim-kauw-pang Pouw In Tiang dan hendak memegang tangan orang ini. Akan tetapi, Kim-kauw-pang mengelak.   “Jangan ………… jangan pegang tanganku. Tanganmu panas sekali. Kita berjalan berdampingan saja,” kata jagoan itu.   Akan tetapi, sebelum mereka pergi tiba-tiba bermunculan belasan orang di tempat itu. mereka berloncatan dan sudah mengepung tempat itu. terkejut sekali hati dua orang jagoan itu ketika mereka melihat bahwa belasan orang itu adalah orang-orang kang-ouw yang agaknya sudah dapat mencari mereka dan tiba di tempat ini, siap memperebutkan dua orang bocah yang sudah terjatuh ke tangan mereka. Ini pun hasil perbuatan Hiuang-ho Sam-Kwi!   Setelah mereka dikalahkan karena seorang diantara mereka terluka parah oleh pukulan Han Beng mereka melarikan diri dengan hati menyesal, kecewa dan penuh penasaran. Maka, mereka lalu memberitahukan kepada para tokoh kang-ouw yang masih berseliweran di atas perahu mereka bahwa dua orang bocah itu telah terjatuh ke tangan Kiu-bwe-houw dan Kim-kauw-pang yang berada di tepi sungai dalam hutan yang sunyi itu.   Mendengar keterangan ini tentu saja para tokoh kang-ouw berbondong-bondong pergi ke tempat itu dan sebelum dua orang jagoan itu sempat membawa dua orng bocah itu, para tokoh kang-ouw sudah berdatangan dan mengepung tempat itu.   “Kiu-bwe-houw perlahan dulu! Anak laki-laki itu harus diserahkan kepadaku!” kata seorang laki-laki tinggi besar muka hitam yang sudah memalangkan toyanya dengan sikap bengis.   “Kim-kauw-pang, anak perempuan itu bagianku!” kata pula seorang laki-laki tua yang berpakaian seperti sastrawan sambil melintangkan sepasang pedang di depan dadanya.   Juga banyak orang lain yang mengambil sikap mengancam dan siap untuk menyerang siapa saja demi memperebutkan dua orang anak yang mereka percaya mempunyai darah yang ajaib dan yang akan banyak sekali manfaatnya bagi mereka.   Tentu saja Kiu-bwe-houw dan Kim-kauw-pang yang tadi telah menguasai dua orang anak yang diperebutkan, andaikan orang makan daging sudah dipegang dan dibawa ke depan mulut, tinggal telan saja, tidak rela menyerahkan anak itu kepada siapapun juga. Mereka pun menggerakkan senjata dan tak dapat dicegah lagi terjadilaha perkelahian kacau-balau. Tidak ada kawan tertentu atau lawan tertentu.   Setiap orang lain menjadi musuh dan diserang karena mereka semua beranggapan bahwa siapa yang keluar menjadi pemenang tunggal dialah yang akan menguasai dua orang anak itu!   Suasana menjadi rebut dan ramai bukan main, seperti terjadi perang campuh saja dan beberapa orang sudah nampak roboh menjadi korban. Darah mulai mengalir dan nyawa melayang.   Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring sekali, suaranya membawa getaran yang terasa oleh semua orang.   “Haiiiiiii! Semua saudara, hentikan perkelahian gila ini ……….!”   Di dalam suara itu terkandung tenaga khi-kang yang amat kuat, dan semua orang merasa betapa jantung mereka tergetar hebat. Mereka terkejut dan otomatis semua orang menghentikan perkelahian dan menengok kearah orang yang mengeluarkan teriakan itu. mereka melihat seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, bertubuh tinggi besar dan gagah perkasa, dengan mata mencorong penuh wibawa, pakainnya sederhana sekali mendekati miskin, namun sikapnya anggun dan jelas bahwa dia bukan orang sembarangan. Akan tetapi, para tokoh kang-ouw itu tidak mengenalnya dan semua orang memandang heran.   “Siapakah engkau dan perlu apa menghentikan perkelahian kami?” Tanya Kiu-bwe-houw Gan Lok dengan suara heran.   “Tidak penting mengetahui siapa adanya aku,” jawab pria itu yang bukan lain adalah Liu Bhok Ki.   Seperti kita ketahui, orang gagah ini berhasil mendapatkan tubuh ular yang dijadikan perebutan sebagai anak naga itu, menggigit kepalanya dan menelan “mustika” yang terdapat di dalam kepala ular, lalu roboh pingsan di dalam perahunya. Karena dia pingsan, tidak ada orang lain yang tahu apa yang telah terjadi dan mengira bahwa anak naga itu lenyap setelah darahnya dihisap oleh dua orang anak itu. Lama juga Liu Bhok Ki jatuh pingsan. Setelah sadar, dia merasa girang sekali mendapat kenyataan bahwa luka akibat pedang di tangan Sim Lan Ci, luka oleh pedang Cui-mo Hek-kiam yang mengandung raun jahat itu ternyata telah bersih dari racun.   Tidak lagi ada tanda menghitam, dan tidak ada perasaan nyeri. Ternyata “mustika” naga itu benar-benar ampuh dan telah menyembuhkannya! Dia merasa bersukur sekali, akan tetapi juga kuatirkan nasib dua orang anak kecil yang tadi digigit oleh anak naga.   Dia lalu bangkit duduk mendayung perahunya sampai dia mendengar bahwa dua orang anak yang dikabarkan telah menghisap darah anak naga itu, kini terjatuh ke dalam tangan Kiu-bwe-houw dan Kim-kauw-pang di sebuah tepi sungai. Cepat diapun melakukan pengejaran kesana bersama-sama oraorang lain dan ketika para tokoh kang-ouw itu berkelahi untuk memperebutkan dua orang anak itu, dia lalu turun tangan dan berteriak menyuruh mereka semua berhenti berkelahi.   “Kalian semua tahu bahwa mereka bukanlah binatang seperti anak naga, bukan pula benda seperti mustika naga yang boleh dipakai perebutan begitu saja. Mereka adalah dua orng anak manusia, oleh karena itu sungguh tidak patut kalau kalian memperebutkan mereka dan hendak memaksa mereka dengan maksud buruk! Sebagian dar kalian adalah pendekar yang gagah, bagaimana mempunyai niat buruk untuk membunuh mereka dan mengambil darah mereka?”   Mendengarucapan ini, Han Beng dan Giok Cu terkejut bukan main. Kiranya mereka diperebutkan untuk dibunuh dan diambil darah mereka! Han Beng kini memandang kepada mereka semua dengan mata terbelalak dan muka yang panas itu kini menjadi marah sekali. Dia marah! Kemarahan luar biasa yang belum pernah dialami selama hidupnya. Kemarahan yang seolah terdorong oleh hawa panas di tubuh dan dalam perutnya itu.   Sementara itu, para tokoh pendekar merasa rikuh mendengar ucapan Liu Bhok Ki. Dua orng diantara para tokoh itu, segera melangkah maju mendekati Han Beng dan Giok Cu. Mereka tersenyum dan seorang diantara mereka berkata kepada Han Beng.   “Anak baik, memang seharusnya engkau diajak secara baik-baik. Marilah engkau ikut bersamaku. Kau akan hidup berkecukupan, minta apapun akan kubelikan dan kalu ingin belajar silat akan kuajari ilmu silat tinggi sehingga kelak engkau akan menjadi seorang gagah perkasa!”   “Dan engkau ikut dengan aku, anak manis. Kau akan kuanggap seperti anakku sendiri,” kata orang kedua kepada Giok Cu.   Han Beng sejak tadi sudah marah bukan main. Hawa panas di dalam tubuhnya seperti berpusing di dalam tubuhnya, membuat kepalanya semakin pening dan pandang matanya berkunang. Sepasang matanya mencorong seperti mata harimau dan wajahnya menjadi ganas sekali.   Kini melihat dua orang itu membujuk dia dan Giok Cu, teringat dia akan ucapan laki-laki gagah tadi bahwa mereka semua itu hendak membunuh dia dan Giok Cu dan mengambil darah mereka berdua. Teringat ini, kemarahannya berkobar dan dia pun menerjang maju, menghantam dengan tangan terbuka, beruntun kepada dua orang itu. Dua orang kang-ouw itu adalah orang-orang pandai, tentu saja tidak mempedulikan serangan Han Beng, seorang anak kecil berusia dua belas tahun.   “Desss! Dessss!! Dua tubuh orang itu terlempar sepeerti daun-daun kering tertiup angina, terhuyung kemudian roboh dan tidak bangkit kembali. Dari mulut, hidung, mata dan telinganya keluar darah dan jelas bahwa dua orang itu tidak dapat diselamatkan lagi!   Keadaan menjadi gempar!   Semua orang kini hendak menangkap Han Beng karena mereka semua semakin yakin bahwa anak itu benar- benar menjadi kuat berkat minum darah anak naga! Dan kini Han Beng mengamuk. Dia kini sudah seperti mabuk, terhuyung-huyung dan memejamkan mata, mulutnya mengeluarkan suara tidak karuan. Dia merasa betapa tubuhnya ringan dan seperti hendak terbang keatas, seluruh tubuh yang panas itu berdenyut-denyut tidak karuan, seolah-olah setiap saat dada, kepala dan perutnya akan meledak!   Dan setiap kali ada tangan menyentuhnya, dia menghantam. Juga telinganya dapat menangkap setiap gerakan orang, maka tanpa membuka matanya dia mengetahui bahwa ada orang mendekatinya dari belakang, depan kanan atau kiri dan setiap kali tanganya menghantam, tentu bertemu tubuh orang.   Dia tidak tahu betapa setiap pukulannya membuat seorang jagoan terlempar dan terbanting, ada yang tewas seketika, ada pula yang terluka parah atau ringan, tergantung dari tingkat kepandaian orang itu.   Nampaklah pemandangan yang luar biasa sekali, lucu dan aneh. Orang-orang yang terkenal sebagai orang-orang gagah di dunia persilatan, yang bertubuh tinggi besar, bersikap garang dan bertenaga besar, seperti mengeroyok seorang anak kecil dan anak itu mngamuk, memukul sana-sini tanpa gerakan silat sama sekali, melainkan gerakan ngawur dan memukul biasa saja terdorong kemarah. Seperti seorang anak yang nekat. Akan tetapi hebatnya, setiap kali pukulannya mengenai sasaran, yang dipukul tentu roboh terlempar dan terbanting keras, seperti ditumbuk oleh kekuatan yang amat dasyat!   Tentu saja org-orang itu tadinya tidak bermaksud mengeroyok, melainkan hendak menangkapnya, akan tetapi kini juga menyerang untuk merobohkan anak itu agar dapat mereka paksa dan mereka bawa pergi. Kembali han Beng menjadi perebutan.   Giok Cu adalah seorang anak perempuan yang lincah dan memang bagi anak perempuan tergolong berani dan nakal. Ia pun pening dan mabuk, akan tetapi ternyata ia memiliki perasan setiakawan yang tinggi.   Biarpun perasaan tubuhnya tidak karuan, begitu melihat Han Beng dikeroyok, iapun menjadi marah dan ia ikut pula memukul-mukul! Dan hebatnya, biarpun pukulannya tidak sekuat han Bng, namun pukulan tangannya mengandung hawa panas yang membuat orang yang terpukul cukup menderita nyeri dan kepanasan dan mereka pun terhuyung kebelakang. Akan tetapi, Giok Cu tidak sekuat han Beng karena sebuah tendangan membuat ia jatuh tersungkur. Akan tetapi begitu ada tangan hendak menangkap anak perempuan yang terjatuh itu, han Beng menerjang kedepan dan pukulan tangannya yang menampar mengenai pundak orang yang hendak menangkap Giok Cu.   “Auhhh ………. !” orang itu terjungkal dan berguling menjauh sambil mengaduh-aduh.   Han Beng mengamuk terus. Biarpun kepalanya pening, namun agaknya mengenai sasaran dan berhasil menghalau orang-orang yang hendak menangkap dia dan Giok Cu. Maka, anak itu kini bukan hanya membela diri, bahkan memukul siapa saja yang berani mendekat tanpa menanti untuk ditangkap lagi.   Dan akibatnya memang hebat. Orang-orang kang-ouw itu terheran-heran karena bocah ini memang memiliki tenaga yang dasyat sekali, selain kuat, juga gerakan kedua tangannya yang memukul dengan ngawur itu mengandung hawa panas yang luar biasa.   Beberapa orang yang mencoba untuk menangkis pukulan anak itu, ketika lengan mereka bertemu dengan lengan kecil Han Beng, mereka mengaduh dan terpelanting keras. Bahkan ada yang tulang lengannya patah, dan setidaknya mereka tentu merasa betapa lengan mereka itu nyeri dan panas seperti bertemu dengan besi panas!   Liu Bhok Ki yang tadinya muncul dan hendak melindungi dua orang bocah yang telah berjasa kepadanya karena anak laki-laki itu tadi melemparkan anak naga kepadanya, kini memandang dengan bengong.   Tidak mungkin bocah sekecil itu memiliki kepandaian tinggi. Apalagi melihat gerakan bocah itu ketika memukul, sama sekali tidak menggunakan gerakan ilmu silat. Namun, pukulannya amat ampuh! Bahkan ketika ada beberapa orang yang menyerang bocah itu dan dia melihat betapa pukulan tangan mereka itu mengenai tubuh anak yang mengamuk, pemukul itu menarik kembali tangannya dan seperti dibakar rasanya, dan anak yang terpukul sama sekali tidak bergoyang! Liu Bhok Ki juga amat cerdik.   ================================== ABC Amber LIT Converter v2.02 ================================== Liu Bhok Ki yang tadinya muncul dan hendak melindungi dua orang bocah yang telah berjasa kepadanya karena anak laki-laki itu yang tadi melemparkan anak naga kepadanya, kini memandang dengan bengong.   Tentu ini akibat darah anak naga, pikirnya. Kalau begitu memang anak-anak telah menghisap darah anak naga sampai habis. Ketika dia menerima tubuh anak naga itu, binatang ajaib itu sudah lemas dan kehilangan darah, bahkan ketika dia menggigit pecah kepala anak naga itu, hampir tidak ada darah keluar. Agaknya, setelah menghisap darah binatang ajaib itu, kedua anak itu, terutama anak laki-laki itu, memiliki tenaga yang bukan main dasyatnya!   Semua orang terkejut dan heran, apalagi kini mendengar han Beng mengeluh dan mengerang seperti kesakitan sambil terus menyerang ke kanan kiri secara kalang kabut. Memang terjadi keanehan pada tubuh Han Beng. Begitu ketika menggerakkan kaki tangan memukul dan menyerang, seperti ada tenaga dasyat dan panas menguasainya sepenuhnya, dan tenaga itu tidak mau berdiam lagi, terus berpusing di dalam tubuhnya sehingga dia pun tidak dapat lagi menghentikan gerakan kai tangannya!   Rasa nyeri makin menghebat terutama di dada dan bawah pusar, sedangkan kedua pasang kai tangannya setiap kali digerakkan mengeluarkan bunyi berkerotokan! Ini menandakan bahwa tenaga mukjijat itu, hawa sakti yang panas itu, muli menyusup kedalam tulang-tulangnya!   Orang-orang kang-ouw itu menjadi gentar setelah belasan orang roboh malang melintang oleh pukulan-pukulan Han Beng dan kini mereka mundur mengatr jarak menjauhkan diri.   Han Beng memukul-mukul terus sambil melangkah maju dan terhuyung-huyung, kedua matanya terpejam. Dari kedua tangan anak yang memukul-mukul secara ngawur itu keluar hawa pukulan yang mengeluarkan uap panas! Sementara itu, Giok Cu sudah terjatuh terduduk, tidak kuat menahan kepeningannya dan anak perempuan itu pun hanya menundukkan muka sambil memejamkan kedua matanya.   Sejak tadi Liu Bhok Ki memandang dengan penuh kagum dan heran melihat sepak terjang anak laki-laki itu. akan tetapi, kini dia menjadi kuatir sekali. Dilihatnya betapa wajah anak yang kerut-merut menahan nyeri itu makin lama berubah semakin merah sehingga kini kehitaman!   Celaka, pikirnya karena dia tahu bahwa anak itu ternyata keracunan hebat. Agaknya gogitan dan darah anak naga itu terlampau kuat dan menimbulkan racun yang amat dasyat yang menguasai tubuh anak itu akan kuat bertahan. Dan anak perempuan itu pun agaknya sudah hampir tidak kuat lagi, sudah duduk dengan lemas.   Liu Bho Ki sudah siap hendak meloncat ke depan ketika han Beng yang terus melangkah maju itu kini tiba didekat ban-to Mo-li Phang Bi Cu yang agaknya baru muncul.   Mendengar  ada langkah kaki ringan di sebelah kanannya, Han Beng lalu menyerang ke kanan, memukul dengan kepalan tangan kanannya. Pukulan itu mengeluarkan angina pukulan yang mengandung hawa panas sekali. Ban-to Mo-li meringkan tubuh mengelak dari sambaran hawa panas itu dan dari samping ia menampar kearah leher Han Beng.   “Plakkkk” tubuh Han Beng terpelanting dan anak itu pun tak mampu bangkit kembali.   Tamparan ban-tok Mo-li itu mengandung racun, dan memang disengajanya ia memukul anak itu terjatuh ke tangan orang lain, anak itu atau darahnya tidak dapat dipergunakan lagi karena mengandung racun maut! Sebaliknya, ia tentu saja akan mampu melenyapkan pengaruh racun dari tubuh anak itu karena ia memiliki obat penawarnya!   Han Beng yang tadinya sudah pening, kini mendadak merasa betapa tubuhnya lumpuh. Dia berusaha menggerakkan kaki tangannya, namun gagal dan dia membuka matanya, memandang kepada wanita cantik itu tanpa mampu bergerak lagi. Ada terjadi keanehan di dalam tubuhnya. Kalau tadinya, tubuh itu seperti menggembung rasanya, seolah-olah kemasukan angina panas dan akan meledak, kini perlahan-lahan hawa panas itu berkurang seolah-olah tubuhnya mulai mengempis dan hawa panas yang berputaran cepat sekali ditubuhnya itu kini mulai agak tenang, ketika dia membuka kedua matanya, pandangannya tidak berkunang dan tidak kelihatan berputaran lagi.   Rasa mual di perutnya juga hilang dan dia bahkan mulai merasakan suatu kenyamanan yang aneh, seolah-olah orang yang tadinya dipanggang terik matahari kini berteduh di bawah pohon yang rindang, dan menghirup hawa yang sejuk sekali. Akan tetapi, dia masih belum mampu menggerakkan kaki tangannya yang seperti lumpuh. Ada rasa dingin yang hebat masuk ke tubuhnya melalui leher dan agaknya hawa dingin inilah yang membuat rasa panas di tubuhnya bekurang. Dan memang sesungguhnya demikianlah. Telah terjadi sesuatu kebetulan yang berulang pada diri Han Beng. Anak ini mestinya sudah tewas oleh gigitan ular Sungai Huang-ho karena gigitan itu mengandung racun yang amat kuat.   Akan tetapi, hawa panas dasyat yang amat kuat itu yang membuat setiap pukulan Han Beng tidak dapat ditahan oleh seorang jagoan silat, juga mendatangkan bencana dan ancaman maut lain lagi.   Tubuhnya yang tidak terlatih itu, biarpun masih bersih, tidak kuat menahan kekuatan dasyat di dalamnya dan Han Beng terancam maut untuk kedua kalinya. Hal ini nampak ketika wajahnya berubah semakin merah lalu menghitam. Akan tetapi, pada saat itu “Kebetulan” sekali ban-to Mo-li diserangnya dan wanita iblis ini hendak menguasai dirinya dengan memberi tmparan beracun pada lehernya.   Sama sekali diluar dugaan Ban-to Mo-li sendiri bahwa racun dari kukunya yang amat kuat itu, yang mengandung hawa dingin, ternyata malah menyelamatkan nyawa Han Beng!   Racun dingin inilah yang mengurangi tekanan hawa panas di tubuh Han Beng sehingga keadaan dalam tubuh anak itu menjadi seimbang. Dan sebaliknya, racun dingin ini pun kehilangan daya serangnya yang berbahaya karena bertemu dengan hawa panas itu.   Memang racun bertemu racun yang bertentangan itu kehilangan daya serangnya yang mematikan, bahkan sebaliknya dapat menjadi obat yang amat ampuh!   Melihat han Beng roboh dan lemas, para tokoh kang-ouw menjadi girang dan mereka pun kini kembali berebut maju untuk dapat lebih dulu menangkap dan melarikan anak itu. ada pula sebagian yang lari untuk menubruk dan melarikan Giok Cu. Akan tetapi, Liu Bhok Ki sudah meloncat kedepan dan tangan kakinya bergerak cepat dan menyerang mereka yang hendak memperebutkan Han Beng. Empat orang terlempar ke belakang terkena tendangan kaki Liu Bhok Ki yang sudah marah sekali.         (bersambung jilid IV)