HANNIBAL Sanksi Pelanggaran Pasal 44: Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 Tentang Hak Cipta 1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). HANNIBAL Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2001 THOMAS HARRIS eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. MR. Collection's mjbookmaker by: http://jowo.jw.lt HANNIBAL by Thomas Harris Copyright © 1987 by Jack Ryan Enterprises Ltd. All rights reserved. HANNIBAL Alih bahasa: Joko Raswono GM 402 01.313 Foto sampul oleh: Phil Bray Sampul dikerjakan oleh: Eduard Iwan Mangopang Hak cipta terjemahan Indonesia: PT Gramedia Pustaka Utama Jl. Palmerah Selatan 24 - 26 Jakarta 10270 Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI, Jakarta, Februari 2001 Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) HARRIS, Thomas Hannibal/Thomas Harris; alih bahasa, Joko Raswono—Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001. 432 hlm; 18 cm. Judul asli: Hannibal ISBN 979-686-313-8 I. Judul II. Raswono, Joko 813 Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta Isi di luar tanggung jawab percetakan WASHINGTON, D.C. I B ab 1 Begitu dahsyat yang terjadi, mestinya hari kemarin enggan berganti.... MOBIL Mustang Clarice Starling melaju menaiki landaian masuk yang menuju kantor BATF—Biro Alkohol, Tembakau, dan Senjata Api—di Massachusetts Avenue. Kantor Markas Besar yang disewa dari Pendeta Sun Myung Moon untuk alasan ekonomis. Pasukan penyerang menunggu dalam tiga kendaraan: paling depan, sebuah van butut untuk penyamaran, dan dua van hitam SWAT di belakangnya, sudah berawak dan sedang menunggu di garasi yang mirip gua. Starling mengeluarkan tas peralatan dari mobilnya dan lari menuju mobil paling depan, sebuah van putih kotor yang di sisi kanan-kirinya bertuliskan MARCELL'S CRAB HOUSE. Melalui pintu belakang van yang terbuka, empat pria memperhatikan kedatangan Starling. Wanita itu tampak semampai dalam pakaian kerja dan bergerak cepat mengangkut tas peralatan. Rambutnya berkilauan dalam cahaya temaram lampu neon. "Perempuan. Selalu terlambat," kata seorang perwira polisi D.C. Agen Khusus BATF John Brigham yang memegang komando. "Dia tidak terlambat. Aku baru menghubunginya setelah menerima informasi," kata Brigham. "Dia pasti datang terburu-buru dari Quantico. Hei, Starling, berikan tas itu." Starling ber-high five dengan Brigham. "Hei, John." Brigham bicara pada polisi rahasia yang kumuh di belakang kemudi, dan van itu melaju pergi bahkan sebelum pintu belakangnya tertutup, memasuki senja musim gugur yang nyaman. Clarice Starling, yang sudah veteran dalam bekerja di van pengawas, 7 merunduk di bawah lensa periskop di bagian belakang van, sedekat mungkin dengan blok es kering seberat tujuh puluh lima kilo yang digunakan sebagai AC bila mereka harus mengintai dengan mesin dimatikan. Van butut itu berbau keringat dan rasa takut yang tak pernah bisa lenyap sepenuhnya. Pada masanya van itu telah diberi banyak label. Tulisan yang kotor dan telah memudar di pintunya baru dipasang setengah jam lalu. Lubang-lubang peluru yang ditutup dengan Bond-O sudah lebih lama umurnya. Jendela-jendela belakang merupakan cerrnin satu arah yang telah dicat hitam. Starling dapat melihat van-van SWAT hitam besar mengikutinya. la berharap mereka semua tak perlu terkurung berjam-jam di dalam van ini. Para polisi pria memandanginya setiap kali ia berpaling ke jendela. Agen Khusus FBI Clarice Starling, tiga puluh dua tahun, selalu tampak sesuai usianya. Dan ia senantiasa tampak cantik, sekalipun dalam pakaian kerja. Brigham mengambil clipboard dari tempat duduk di depan. "Mengapa kau selalu ikut dalam operasi ini, Starling?" tanyanya sambil tersenyum. "Sebab kau selalu memintaku," jawab Starling. "Untuk ini aku memerlukanmu. Tapi kulihat kau sedang ditugasi di regu penyergap. Aku tidak pernah tanya-tanya, tapi seseorang di Buzzard's Point membencimu, kurasa. Kau harus bekerja denganku. Ini anak-anak buahku, Agen Marquez Burke dan John Hare. Dan ini Officer Bolton dari Kepolisian D.C." Tim penggerebekan gabungan yang terdiri atas BATF, tim-tim SWAT DEA, dan FBI merupakan produk paksaan demi pengetatan anggaran pada masa ketika bahkan Akademi FBI pun ditutup karena kekurangan dana. Burke dan Hare tampak seperti agen, sedangkan Bolton, polisi D.C. itu, tampak seperti j u r u sita. Ia berasia sekitar empat puluh lima tahun, terlalu gemuk dan tidak meyakinkan. Wali Kota Washington, karena ingin tampak tegas dalam soal narkotika, sesuai dengan keyakinannya sendiri mengenai narkoba, mendesak kepolisian D.C. untuk ambil bagian dalam setiap penggerebekan besar di Washington. Karena itulah Bolton ikut serta. "Hari ini gerombolan Drumgo sedang beraksi," kata Brigham. "Evelda Drumgo, aku sudah tahu itu," kata Starling tanpa gairah. Brigham mengangguk. "Dia sudah membuka pabrik 'es' di sebelah Pasar Ikan Feliciana di tepi sungai. Informan kita mengatakan dia sedang mengolah sejumlah kristal hari ini, dan dia sudah pesan tempat di Grand Cayman untuk malam ini. Kita tak bisa menunggu." 8 Kristal metamfetamin alias met yang di jalanan disebut "es", merupakan obat keras dan membuat orang kecanduan bukan kepalang. "Soal obat itu urusan DEA. Tapi kita memerlukan Evelda dalam kasus transportasi senjata-senjata Kelas Tiga antarnegara bagian. Surat perintah merinci beberapa senapan mesin ringan Berreta dan sejumlah MAC 10. Dan dia tahu di mana masih ada sejumlah senjata lain lagi. Aku ingin kau berkonsentrasi pada Evelda, Starling. Kau pernah menangani dia. Anak buahku akan membantumu." "Kita mendapatkan pekerjaan mudah," kata Officer Bolton dengan lega. "Kurasa lebih baik kau menceritakan tentang Evelda pada mereka, Starling," kata Brigham. Starling menunggu sementara van melintasi rel kereta api. "Evelda akan melawan kalian," kata Starling. "Dari luar, dia tidak tampak seperti itu—dia dulu seorang model—tapi dia akan melawan kalian. Dia janda Dijon Drumgo. Aku telah menahannya dua kali, memakai surat perintah RICO. Yang pertama kali bersama Dijon. "Terakhir kali dia membawa senjata sembilan mili dan tiga kotak peluru serta gas air mata Mace di tasnya, juga sebilah belati di balik BH-nya. Aku tidak tahu apa yang dibawanya sekarang. "Pada penahanan kedua, aku memintanya dengan sangat sopan untuk menyerah. Dan dia menurut. Kemudian dalam tahanan D.C. dia membunuh sesama napi bernama Marsha Valentine dengan gagang sendok. Jadi, kalian tidak tahu... wajahnya sukar dibaca. Dewan juri memutuskan itu tindakan bela diri. "Dia lolos dari tuntutan RICO yang pertama, dan yang berikutnya dia kalahkan dengan argumentasi. Beberapa tuduhan karena bersenjata dihapus karena dia punya anak-anak yang masih bayi, dan suaminya baru saja terbunuh di jalan samping Pleasant Avenue, mungkin oleh gerombolan Spliff. "Aku akan memintanya agar menyerah. Mudah-mudahan dia mau menurut—kita akan unjuk gigi di depannya! Tapi—dengarkan aku baikbaik— kalau kita harus menaklukkan Evelda Drumgo, aku menginginkan bantuan sungguh-sungguh. Tidak usah memikirkan melindungiku. Aku ingin kalian bertindak tegas terhadapnya. Rekan-rekan, jangan harap kalian akan menontonku bergulat dengan Evelda." Dulu Starling menaruh hormat pada pria-pria ini. Sekarang mereka tidak menyukai apa yang diucapkannya, namun ia tidak peduli. Sudah terlalu banyak yang dilihatnya. "Evelda Drumgo berkaitan dengan Trey-Eight Crip melalui Dijon," kata Brigham. "Menurut informan kita, Evelda memperoleh pengamanan dari Crip. Dan Crip ini adalah distributor di sepanjang pantai. Pengamanan itu terutama untuk melawan gerombolan Spliff. Aku tidak tahu apa yang 9 akan dilakukan Crip bila melihat kitalah yang menggerebek. Mereka tak akan melawan FBI bila mungkin." "Kalian mestinya tahu—Evelda positif mengidap HIV," kata Starling. "Dijon menjangkitinya melalui jarum suntik. Evelda mengetahuinya ketika berada dalam tahanan, dan dia langsung kalap. Pada hari itu dia membunuh Marsha Valentine dan dalam penjara dia melawan para penjaga. Bila dia tidak bersenjata dan melawan, kalian siap-siap saja mendapat semprotan dengan cairan apa pun yang dapat dia siramkan. Dia akan meludah dan menggigit, dia akan mengencingi dan buang kotoran di atas kalian kalau kalian mencoba menjinakkannya. Maka pakailah sarung tangan dan masker. Bila dia kalian masukkan ke dalam mobil patroli, hati-hati terhadap jarum di rambutnya saat kalian memegang kepalanya, dan amankan kakinya." Wajah Burke dan Hare menjadi kecut. Officer Bolton tampak tak senang. Dengan dagunya yang kemerahan ia menunjuk ke pistol utama Starling, sebuah Colt .45 yang telah lama digunakan, dengan sebuah pita tali skateboard di pegangannya, bertengger di atas sarung Yaqui di belakang pinggul. "Kau pergi ke mana-mana dengan benda itu selalu terkokang?" ia ingin tahu. "Terkokang dan terkunci setiap saat, sepanjang hari," jawab Starling. "Berbahaya," kata Bolton. "Datanglah ke lapangan tembak. Nanti kujelaskan padamu, Officer." Brigham menyela. "Bolton, aku melatih Starling ketika dia menjadi juara tembak antardinas tiga tahun berturut-turut. Jangan mengkhawatirkan senjatanya. Orang-orang dari Tim Penyelamat Sandera, the Velcro Cowboys... apa sebutan mereka untukmu setelah kau mengalahkan mereka, Starling? Annie Oakley?" "Poison Oakley," sahut Starling sambil memandang kosong ke luar jendela. Starling merasa tertekan dan kesepian di dalam van yang penuh dengan lelaki itu. Chaps, Brut, Old Spice, keringat, dan kulit. Ia merasa agak takut, dan perasaan takut itu mengganjal bagaikan sekeping uang logam di bawah lidah. Sebuah bayangan muncul dalam pikirannya: ayahnya yang berbau tembakau dan sabun kasar sedang mengupas jeruk dengan pisau saku. Bilah pisau itu menguliti jeruk tersebut dengan mantap. Dan ia membagi jeruk itu dengan Starling di dapur. Lampu belakang pickup ayahnya menghilang ketika ia pergi patroli malam, yang akhirnya menyebabkan kematiannya. Pakaian-pakaiannya di lemari. Kemeja untuk dansa. Beberapa barang indah di kamar Starling sendiri yang kini tak pernah dipakainya. Pakaian-pakaian pesta yang tergantung menyedihkan, seperti mainan di kamar loteng. "Sekitar sepuluh menit lagi," pengemudi memberitahu. Brigham memandang keluar melalui kaca depan dan melihat jamnya. 10 "Ini denahnya," ia berkata. Di tangannya ada sketsa kasar yang digambar tergesa-gesa dengan Magic Marker, berikut denah lantai yang agak buram, yang dikirim kepadanya melalui faks oleh Departemen Pekerjaan Umum. "Gedung pasar ikan letaknya sejajar dengan toko-toko dan gudang sepanjang tebing sungai. Ujung Parcell Street masuk ke dalam Riverside Avenue di alun-alun kecil di depan pasar ikan. "Lihat, bangunan pasar ikan itu membelakangi tepi sungai. Di belakang sana ada dok yang terbentang sepanjang belakang gedung, tepat di sini. Di sebelah pasar ikan di lantai dasar terletak lab Evelda. Pintu masuk ada di depan sini. Tepat di sebelah awning pasar ikan. Evelda menyuruh orang-orangnya berjaga di luar, sementara dia mengolah obatnya. Paling sedikit mereka tersebar tiga blok di sekitar situ. Pada operasi sebelumnya, mereka telah memberitahu dia pada waktunya, sehingga dia sempat melenyapkan bahannya. Maka... sebuah tim penggerebekan DEA dalam van ketiga akan masuk dari. sebuah perahu nelayan di sisi dok pada pukul 15.00. Kita bisa lebih mendekat daripada siapa pun dengan van ini, tepat di pintu masuknya, beberapa menit sebelum penggerebekan dimulai. Bila Evelda keluar dari depan, kita menangkapnya. Bila dia tetap di dalam, kita serang pintu di sisi jalan ini setelah mereka menyerang sisi satunya. Mobil van kedua bisa melindungi kita. Ada tujuh orang. Mereka masuk pukul 15.00, kecuali kalau kita menelepon mereka terlebih dahulu." "Kita apakan pintu itu?" tanya Starling. Burke menjawab. "Bila terdengar tenang, kita dobrak. Bila terdengar gedoran atau tembakan, 'Avon calling'." Burke menepuk senjatanya. Starling mengerti maksudnya. "Avon calling" adalah selongsong senapan magnum tiga inci yang diisi peluru berbubuk halus untuk meledakkan gembok tanpa melukai orang-orang di dalam. "Anak-anak Evelda... di mana mereka?" tanya Starling. "Informan kita melihat mereka dititipkan di tempat penitipan anak," kata Brigham. "Informan kita itu dekat dengan keluarga tersebut. Sedekat... yah, pokoknya sedekat yang dimungkinkan dengan seks yang aman." Radio Brigham berderik-derik pada alat pendengarnya, dan ia menengadah, mencari-cari bagian di langit yang bisa ia lihat dari jendela belakang. "Mungkin dia hanya sedang memantau keadaan lalu lintas," katanya melalui mikrofon pada lehernya. Pada sopirnya ia berkata, "Strike Two melihat helikopter berita sesaat yang lalu. Kau melihat sesuatu?" "Tidak." "Sebaiknya dia cuma mengawasi lalu lintas. Ayo kita siap-siap." Tujuh puluh lima kilo es kering tak akan bisa menyejukkan lima orang yang berada di bagian belakang van pada hari panas itu. Khususnya 11 bila mereka mengenakan berbagai alat pelindung tubuh. Ketika Bolton mengangkat tangannya, terbukti bahwa satu semprotan parfum tidak bisa menggantikan mandi bersih-bersih. Clarice Starling telah menjahitkan bantalan bahu dalam pakaian kerjanya, untuk menahan berat rompi Kevlar yang semoga saja antipeluru. Rompi itu diberi sebuah lempengan keramik di bagian depan dan belakang, hingga menambah beratnya. Pengalaman tragis telah memberi pelajaran tentang pentingnya lempengan di belakang itu. Memimpin serangan dengan tim beranggotakan orang-orang yang tidak dikenal dan dengan tingkat kemahiran berbedabeda, sungguh-sungguh merupakan suatu kegiatan berbahaya. Tembakan seorang teman dapat menghancurkan tulang punggung saat kau maju mendahului regu yang masih hijau dan ketakutan. Dua mil dari sungai, van ketiga menurunkan penumpang guna mengangkut tim DEA ke tempat pertemuan di perahu nelayan. Dan mobil van pelindung menurunkan orang-orangnya pada jarak yang tidak mencolok di belakang van penyamaran warna putih itu. Lingkungan di situ sudah kumuh. Sepertiga dari gedung-gedung itu penuh sesak oleh penghuni, dan rongsokan mobil-mobil terbakar teronggok di tepi jalan. Anak-anak muda luntang-lantung di sudut-sudut jalan di depan bar dan toko-toko kecil. Anak-anak bermain-main di seputar kasur terbakar di trotoar. Kalaupun satuan keamanan Evelda berada di luar, mereka berbaur dengan baik di antara para pejalan kaki di trotoar. Laki-laki duduk di mobil, berbincang-bincang di sekitar toko minuman keras dan di tempat parkir toko kelontong. Sebuah mobil Impala dengan kap terbuka, ditumpangi empat pemuda kulit hitam, memasuki lalu lintas yang tidak begitu padat dan meluncur di belakang van. Para penumpang itu melompat keluar dari mobil untuk beraksi bagi gadis-gadis yang mereka lewati. Dentum keras stereo mereka mendengung di pelat logam dalam van. Sambil mengawasi melalui cermin satu arah di jendela belakang, Starling dapat melihat bahwa anak-anak muda dalam mobil kap terbuka itu bukanlah ancaman bagi mereka. Kelompok Crip hampir selalu memakai sedan besar dan kokoh, atau station wagon yang sudah cukup tua untuk berbaur dengan lingkungan sekitar dan jendela-jendela belakangnya selalu terbuka. Berawak tiga atau kadang empat orang. Sebuah tim basket dalam mobil Buick bisa tampak menyeramkan bila pikiran selalu dipenuhi kecurigaan. Sementara menunggu di lampu lalu lintas, Brigham membuka tutup lensa periskop dan menepuk lutut Bolton. "Lihat sekeliling, apakah ada selebriti lokal di trotoar," kata Brigham. 12 Lensa objektif periskop itu tersembunyi di ventilator atas. Lensa itu hanya dapat melihat ke kanan dan ke kiri. Bolton memeriksa sepenuh putaran dan berhenti serta menyeka mata. "Terlalu goyang bila mobil sedang berjalan," katanya. Melalui radio, Brigham mencek tim di perahu. "Empat ratus meter ke hilir dan sedang mendekat," ia mengulanginya untuk awak mobil van. Van itu terhenti oleh lampu merah satu Wok dari Parcell Street, dan berhenti berhadapan dengan pasar selama waktu yang terasa sangat lama. Si pengemudi berpaling, seolah-olah memeriksa cermin spion sebelah kanan, dan berkata dari sudut mulutnya pada Brigham, "Kelihatannya tidak banyak orang membeli ikah. Ini dia." Lampu berganti hijau, dan pada pukul tiga kurang tiga menit siang— tepat tiga menit sebelum jam yang ditentukan—van penyamaran yang butut itu berhenti di depan Pasar Ikan Feliciana, di sebuah tempat strategis dekat belokan. Di belakang, mereka mendengar suara menderit ketika pengemudi memasang rem tangan. Brigham menyerahkan periskop pada Starling. "Periksalah." Starling menyapu bagian depan gedung dengan periskop. Meja-meja dan counter-counter ikan di atas es berkilauan di bawah awning kanvas di trotoar. Ikan-ikan laut dari pantai Carolina ditata rapi menurut kelompok di atas potongan-potongan es, kepiting-kepiting merayap di dalam kotakkotak terbuka, dan udang-udang barong merangkak satu di atas yang lain di sebuah tangki. Penjual ikan yang cerdik telah membasahi mata ikan yang besar-besar supaya tetap tampak segar sampai sore nanti, saat rombongan ibu rumah tangga kelahiran Karibia yang lihai-lihai datang untuk mengendus dan memelototi dagangannya. Sinar matahari memantulkan pelangi pada semburan air dari meja tempat membersihkan ikan di luar. Di situ seorang lelaki bertampang Latin dengan lengan besar sedang memenggal-menggal ikan hiu raksasa dengan tebasan-tebasan luwes pisau lengkungnya. Lalu ia menyiram ikan besar itu dengan semprotan yang ia pegangi. Air yang kemerah-merahan karena darah mengalir ke selokan, dan Starling dapat mendengarnya mengucur di bawah van. Starling melihat pengemudi berbicara dengan penjual ikan. Menanyakan sesuatu. Penjual ikan melihat jamnya. Ia angkat bahu, lalu menunjuk ke sebuah tempat makan siang. Si pengemudi mengamat-amati pasar sesaat. Ia menyulut rokok, lalu pergi menuju kafe. Sebuah radio bersuara nyaring di pasar sedang memperdengarkan La Macarena. Cukup keras untuk didengar Starling dalam van. Ia tak akan pernah tahan lagi mendengar lagu itu seumur hidupnya. Pintu yang sedang diintai berada di sebelah kanan. Sebuah pintu 13 logam berdaun ganda dengan dorongan keluar dari logam, serta satu anak tangga dari beton. Starling baru saja akan menyerahkan periskop ketika pintu dibuka. Seorang pria kulit putih bertubuh besar, dengan kemeja Hawaii dan bersandal, keluar. la memegangi sebuah kantong di depan dadanya. Tangan satunya ada di belakang kantong. Seorang pria kulit hitam yang kurus berotot mengikuti di belakangnya sambil membawa jas hujan. "Hati-hati," kata Starling. Evelda Drumgo keluar di belakang kedua pria itu. Lehernya yang panjang dan wajah cantiknya tampak di belakang bahu kedua orang tersebut. "Evelda keluar di belakang dua lelaki, tampaknya mereka berdua bersenjata," kata Starling. Starling tidak cukup cepat menyerahkan periskop, hingga Brigham menabraknya. Starling mengenakan helmnya. Brigham bicara melalui radio. "Strike One pada semua unit. Siaga. Siaga. Evelda keluar melalui sisi ini. Kita bergerak. "Ringkus mereka setenang mungkin," kata Brigham. la mengokang senjatanya. "Perahu akan tiba dalam tiga puluh detik. Mari kita laksanakan." Starling yang pertama-tama keluar. Rambut kepang Evelda bergoyang ketika ia berpaling kepada Starling. Starling sadar akan dua lelaki di samping Evelda, dengan senjata siap di tangan. Ia berseru, "Tiarap. Tiarap!" Evelda maju ke depan dari antara dua lelaki yang mengapitnya. Ia menggendong bayi di lehernya. "Tunggu. Tunggu. Aku tak ingin keributan," katanya pada kedua lelaki di sampingnya. "Tunggu. Tunggu." Ia maju ke depan. Sosok tegak berwibawa. Membopong bayinya tinggi-tinggi di depan, sejauh memungkinkan, sementara selimut bayinya terjuntai ke bawah. Beri dia kesempatan. Dengan gerakan cepat, Starling menyarungkan pistolnya. Ia membentangkan kedua lengannya, tangannya terbuka. "Evelda! Menyerahlah. Datanglah padaku." Di belakang Starling terdengar deru mobil V8 besar dan decit ban-ban. Starling tak dapat berputar. Lindungi aku. Evelda tidak menggubris Starling; ia berjalan ke arah Brigham, selimut bayinya menggeletar ketika senjata MAC 10 di baliknya meletus. Brigham tersungkur. Masker wajahnya berlumuran darah. Si lelaki kulit putih bertubuh besar menjatuhkan kantong yang dibawanya. Burke melihat pistol otomatisnya dan menembakkan bubuk timah dari peluru Avon senapannya. Ia mengokang, tapi tidak cukup cepat. Lelaki besar itu memberondongnya dengan peluru, terarah ke selangkangan Burke di bawah rompi, sambil berputar ke arah Starling ketika wanita 14 itu baru mengeluarkan senjata. Starling menembaknya dua kali di tengah kemeja Hawaii-nya sebelum orang itu dapat menembak. Terdengar tembakan di belakang Starling, dan lelaki kulit hitam kurus itu menjatuhkan jas hujannya yang menutupi senapan, sambil membungkuk masuk ke dalam gedung. Sementara itu, sebuah dorongan keras semacam bogem mentah menghantam punggung Starling, membuatnya sempoyongan dan megap-megap kehabisan napas. Starling berpaling dan melihat gerombolan penembak Crip melancarkan tembakan serentak dari jalan, dalam sebuah sedan Cadillac, jendela-jendelanya terbuka, dua penembak duduk bergaya Indian Cheyenne di jendela kiri-kanan sambil menembak dari atas, dan orang ketiga menembak dari tempat duduk belakang. Api dan asap keluar dari tiga moncong senjata api, peluru berdesingan di udara di sekitar Starling. Starling merunduk di antara dua mobil yang diparkir. la melihat Burke kejang-kejang di jalan. Brigham tergeletak diam. Helmnya mengeluarkan genangan darah. Hare dan Bolton menembak dari antara mobil-mobil di suatu tempat di seberang jalan. Dan di sana kaca-kaca mobil hancur berantakan dan bergemerencing di jalan; sebuah ban meletus saat dihantam senapan otomatis dari Cadillac. Starling, sambil menginjakkan satu kaki di selokan, muncul keluar untuk melihat. Dua penembak duduk di jendela sambil menembak melintasi atap mobil, pengemudinya menembakkan pistol dengan satu tangan yang bebas. Orang keempat di tempat duduk belakang dengan pintu terbuka sedang menarik Evelda dan bayinya. Evelda membawa kantong tadi. Mereka menembaki Hare dan Bolton di seberang jalan. Asap mengepul dari ban belakang Cadillac, dan mobil itu mulai meluncur. Starling berdiri dan berputar, menembak si pengemudi di sisi kepalanya. la menembak dua kali ke penembak yang duduk di jendela depan. Orang itu terjungkal. Starling menjatuhkan magasin peluru kosong dari pistol kaliber .45-nya dan, tanpa mengalihkan pandangan dari Cadillac, mengisinya dengan yang baru, bahkan sebelum magasin kosong tadi menyentuh tanah. Cadillac itu menabrak sederetan mobil di seberang jalan, dan akhirnya berhenti sepenuhnya. Kini Starling berjalan menuju Cadillac. Seorang penembak masih duduk di jendela belakang. Matanya jelalatan dan tangannya mendorongdorong atap mobil, dadanya terimpit di antara Cadillac dan sebuah mobil yang diparkir. Senjatanya telah terlepas dari atas atap. Dua tangan kosong muncul dari dekat jendela belakang. Seorang lelaki yang memakai bandana biru keluar dengan tangan terangkat. la lari. Starling tidak menggubrisnya. Terdengar tembakan dari sebelah kanan Starling. Penembaknya meluncur ke depan dengan wajah telungkup, mencoba merangkak ke bawah sebuah mobil. Baling-baling helikopter berdesing-desing di atas Starling. 15 Seseorang berteriak di dalam pasar ikan, "Tetap tiarap. Tetap tiarap." Orang-orang tiarap di bawah counter-counter dan air mengucur di meja pembersih ikan yang telah ditinggalkan. Starling maju menuju Cadillac. Ada gerakan di bagian belakang mobil. Mobil itu berguncang-guncang. Bayi di dalamnya menjerit-jerit. Terdengar tembakan dan jendela belakang mobil itu hancur berantakan. Starling mengangkat tangan dan berteriak tanpa berputar, "TAHAN. Jangan tembak. Awasi pintu. Di belakangku. Awasi pintu pasar ikan." "Evelda." Tampak gerakan di bagian belakang mobil. Dan bayi itu menjerit-jerit di dalamnya. "Evelda, keluarkan tanganmu lewat jendela mobil." Kini Evelda Drumgo keluar. Bayinya tetap menjerit-jerit. Lagu La Macarena berdentam-dentam pada pengeras suara di pasar ikan. Evelda keluar dan berjalan menuju Starling, kepalanya tertunduk, kedua lengannya mendekap si bayi. Burke kejang-kejang di jalan di antara mereka. Kini kejang-kejang itu semakin sedikit, karena ia sudah hampir kehabisan darah. La Macarena menyentak-nyentak bersama Burke. Seseorang merunduk dan cepat-cepat mendekatinya, berbaring di sebelahnya, berusaha menghentikan perdarahannya. Starling mengarahkan senjatanya ke tanah di depan Evelda. "Evelda, tunjukkan tanganmu. Ayolah, tunjukkan tanganmu padaku." Di balik selimut ada sebuah tonjolan. Evelda, dengan rambut dikepang dan matanya yang hitam, mendongakkan kepala dan memandang Starling. "Ternyata kau, Starling," katanya. "Evelda, jangan lakukan ini. Pikirkan bayimu." "Mari kita bertukar darah, brengsek." Selimut itu menggelepar. Udara bagai terempas. Starling menembak Evelda Drumgo pada bibir atas, dan belakang kepalanya pecah keluar. Starling, entah bagaimana, terduduk dengan rasa nyeri di sisi kepala. Dan ia megap-megap kehabisan napas. Evelda juga terduduk di jalan. Ia ambruk ke depan, di antara kedua kakinya. Darah bercucuran keluar dari mulutnya, melumuri si bayi yang tangisannya teredam oleh tubuh Evelda. Starling merangkak mendekati Evelda dan melepaskan sabuk gendongan bayi yang licin. Ia mengambil belati dari BH Evelda, membukanya tanpa melihat, dan memotong tali gendongan bayi itu. Bayi itu merah dan licin, sulit digendong oleh Starling. Starling, sambil menggendongnya, mengangkat mata dengan cemas. Ia dapat melihat air menyembur ke udara dari pasar ikan, dan ia lari ke sana sambil menggendong bayi yang berlumuran darah itu. Ia menyapu jatuh pisau-pisau dan isi perut ikan, lalu menempatkan si bayi di meja pemotongan ikan. Disemprotnya anak itu dengan air dari semprotan. 16 Anak kecil hitam itu tergeletak di meja pemotongan yang putih, di tengah-tengah pisau dan isi perut ikan, dengan kepala ikan hiu di sampingnya. la dicuci dari darah yang positif terjangkit HIV, sementara darah Starling sendiri mengucur di atasnya, menyatu dengan darah Evelda dalam arus yang sama, seasin lautan. Air menyembur, memantulkan pelangi semu Perjanjian Tuhan, panjipanji berkilauan atas karya palu-Nya yang buta. Tak ada lubang peluru pada anak manusia ini yang bisa dilihat Starling. Pengeras suara tetap mengumandangkan La Macarena. Lampu blitz berkeredap dan terus berkeredap, sampai Hare menyeret pergi si fotografer. 17 B ab 2 SEBUAH jalan buntu di permukiman kaum buruh di Arlington, Virginia, beberapa saat setelah tengah malam. Suatu malam yang gerah di musim gugur, setelah turun hujan. Udara bergerak berat di depan gelombang dingin. Di tengah bau tanah dan dedaunan yang basah, seekor jangkrik mengerik. Ia terdiam ketika sebuah getaran keras sampai kepadanya. Sebuah Mustang 5.0 liter menderum teredam dengan tabung pipa baja memasuki jalan buntu itu, diikuti oleh sebuah mobil marshal federal. Kedua mobil tersebut meluncur ke jalan masuk sebuah rumah dupleks yang rapi, lalu berhenti. Mustang tadi masih bergetar sedikit sementara mesinnya masih hidup. Ketika mesin berhenti, si jangkrik menunggu sesaat, lalu mulai mengerik lagi. Nyanyian terakhirnya sebelum salju datang. Nyanyian terakhir untuk selamanya. Seorang marshal federal berseragam keluar dari tempat duduk pengemudi mobil Mustang. Ia mengitari mobil untuk membukakan pintu penumpang bagi Clarice Starling. Starling keluar. Sebuah pita kepala warna putih mengikat perban di atas telinganya. Ada noda-noda Betadin warna jingga pada leher di atas pakaian bedah warna hijau yang ia kenakan. Ia membawa barang-barang pribadinya di sebuah kantong plastik beritsleting—isinya antara lain beberapa permen, kunci, kartu identitas sebagai Agen Khusus FBI, sebuah magasin peluru cepat muat berisi lima butir peluru, dan sebuah kaleng kecil gas air mata Mace. Selain itu, ia membawa sebuah ikat pinggang dan sarung pistol yang kosong. Sang marshal menyerahkan kunci-kunci mobil kepadanya. "Terima kasih, Bobby." 18 "Kau ingin aku dan Pharon masuk dan duduk sebentar menemanimu? Atau kupanggil Sandra? Dia masih menungguku. Akan kuajak dia kemari. Kau memerlukan teman...." "Tidak. Aku akan masuk sekarang. Sebentar lagi Ardelia pulang. Terima kasih, Bobby." Si marshal dan rekannya masuk ke dalam mobil yang sedang menunggu. Ketika ia melihat Starling telah aman masuk ke dalam rumah, mobil federal itu pergi. Ruang cuci pakaian di rumah Starling hangat dan berbau pelembut tekstil. Selang-selang mesin cuci dan pengering pakaian dijepit rapi dengan jepitan plastik. Starling meletakkan barang-barang pribadinya di atas mesin cuci. Kunci-kunci berdenting keras di atas tutupnya yang terbuat dari logam. Ia mengeluarkan sejumlah cucian dari mesin cuci dan memasukkannya ke dalam mesin pengering. Ia melepas celana kerjanya dan melemparnya ke dalam mesin cuci, beserta pakaian bedah hijau dan BH yang bernoda darah. Lalu ia menghidupkan mesin. Ia mengenakan kaus kaki serta celana dalam dan pistol khusus kaliber .38 dengan pelatuk terselubung di sarung yang dipasang pada mata kaki. Punggung dan tulang rusuknya menampakkan memar-memar baru dan sikunya tergores. Mata dan pipi kanannya bengkak. Mesin cuci mulai memanas dan mengaduk-aduk. Starling menyelimuti diri dengan handuk pantai yang lebar dan berjalan ke ruang duduk. Ia kembali dengan membawa gelas berisi Jack Daniel's. Ia duduk di keset karet di depan mesin cuci dan bersandar di situ dalam gelap, sementara mesin yang hangat itu berdegup-degup dan mengaduk-aduk. Ia duduk di lantai dengan wajah menengadah, terisak-isak sedikit sebelum akhirnya air mata mengalir. Air mata hangat yang membasahi pipi, mengalir di wajahnya. Ardelia Mapp diantar pulang oleh teman kencannya pada pukul satu kurang seperempat malam, sesudah suatu perjalanan bermobil yang panjang dari Cape May, dan Ardelia mengucapkan selamat malam di pintu. Ia sedang berada di kamar mandi ketika mendengar air mengalir ke dalam pipa-pipa saat mesin cuci berputar. Mapp pergi ke belakang rumah dan menyalakan lampu dapur yang ia gunakan bersama Starling. Ia dapat melihat ke dalam ruang cuci. Ia juga dapat melihat Starling duduk di lantai, kepalanya diperban. "Starling! Oh, Sayang." Ia cepat-cepat berlutut di samping Starling. "Ada apa?" "Aku tertembak di telinga, Ardelia. Mereka merawatku di Walter Reed. Jangan nyalakan lampu, oke?" "Oke. Akan kubuatkan sesuatu. Aku belum mendengar apa-apa. Kami memasang tape selama perjalanan dalam mobil. Ceritakanlah." 19 "John meninggal, Ardelia." "Bukan Johnny Brigham, kan!" Mapp dan Starling sama-sama naksir Brigham ketika Brigham menjadi instruktur tembak di Akademi FBI. Mereka mencoba melihat gambar tatonya melalui lengan kemejanya. Starling mengangguk dan menyeka mata dengan punggung tangan, seperti anak kecil. "Evelda Drumgo dan beberapa anggota gerombolan Crip. Evelda menembaknya, Mereka juga membunuh Burke. Marquez Burke dari BATF. Kami semua masuk bersama-sama. Evelda sudah diberitahu terlebih dahulu dan rombongan berita TV datang bersamaan waktu dengan kami. Evelda adalah urusanku. Dia tidak mau menyerah, Ardelia. Dia tidak mau menyerah dan dia menggendong bayi. Kami baku tembak. Dia mati." Mapp belum pernah melihat Starling menangis sebelum ini. "Ardelia, aku membunuh lima orang hari ini." Mapp duduk di lantai di sebelah Starling dan merangkul Starling. Berdua mereka bersandar pada mesin cuci yang sedang bekerja. "Bagaimana dengan bayi Evelda?" "Bayi itu kucuci dari lumuran darah. Tak ada luka pada kulitnya, sejauh yang dapat kulihat. Rumah sakit mengatakan secara fisik dia tak apa-apa. Dalam beberapa hari dia akan diserahkan pada ibu Evelda. Kau tahu ucapan terakhir Evelda padaku, Ardelia? Dia berkata, 'Ayo kita bertukar darah, brengsek.'" "Akan kubuatkan sesuatu," kata Mapp, "Apa?" kata Starling. 20 Bab 3 BERSAMA temaramnya subuh, datang koran dan siaran berita dini hari di televisi. Mapp datang membawa beberapa potong kue ketika mendengar Starling telah bangun, dan mereka menonton bersama. CNN dan saluran-saluran lain membeli film dari kamera helikopter WFUL-TV. Hasil tangkapan yang luar biasa, langsung dari atas. Starling menonton satu kali. la harus melihat bahwa Evelda menembak lebih dulu. la memandangi Mapp dan melihat kemarahan di wajahnya yang cokelat. Kemudian Starling lari untuk muntah. "Berat sekali melihatnya," kata Starling ketika kembali dengan kaki goyah dan wajah pucat. Seperti biasanya, Mapp bicara blak-blakan. "Pertanyaanmu adalah bagaimana perasaanku mengenai kau membunuh wanita kulit hitam yang menggendong bayi itu. Inilah jawabannya. Dia menembakmu lebih dulu. Aku ingin kau tetap hidup. Tapi, Starling, pikirkan tentang siapa yang membuat kebijakan gila ini di sini. Pikiran tolol macam apa yang menyebabkan kau dan Evelda Drumgo bertemu di tempat menyedihkan itu hingga kalian dapat memecahkan persoalan narkotika tersebut dengan senjata? Seberapa cerdaskah cara itu? Kuharap kau memikirkan, apakah kau masih mau menjadi alat mereka lagi." Mapp menuangkan teh. "Kau ingin aku menemanimu? Aku akan ambil cuti pribadi." "Terima kasih. Kau tak perlu melakukan itu. Telepon aku." Tabloid National Tattler, yang paling banyak diuntungkan dari booming tabloid di tahun 90-an, menerbitkan edisi ekstra yang, berdasarkan 21 standar mereka sendiri pun, cukup luar biasa. Pada pertengahan pagi, seseorang melemparkannya ke rumah. Ketika mendengar suara buk tersebut, Starling keluar dan menemukannya. la sudah siap menghadapi yang terburuk. Dan dugaannya benar. "MALAIKAT MAUT: CLARICE STARLING, MESIN PEMBUNUH FBI", merupakan judul utama National Tattler dengan huruf-huruf mencolok Railroad Gotik tujuh puluh dua poin. Tiga foto di halaman depan menunjukkan: Clarice Starling dalam pakaian kerja sedang menembakkan pistol kaliber .45 dalam suatu pertandingan. Evelda Drumgo membungkuk di atas bayinya di jalan, kepalanya miring, otaknya terhambur keluar. Lalu foto Starling meletakkan seorang bayi cokelat di meja putih pemotongan ikan, di tengah pisau-pisau dan isi perut ikan serta kepala hiu. Tulisan di bawah foto berbunyi, "Agen Khusus FBI Clarice Starling, pembantai pembunuh berantai Jame Gumb, menambahkan paling sedikit lima catatan lagi pada senjatanya. Seorang ibu dengan bayinya, beserta dua perwira polisi, termasuk korban yang tewas setelah penggerebekan obat terlarang yang berantakan." Kisah utama meliputi karier Evelda Drumgo dan Dijon Drumgo di bidang narkotika, dan munculnya gerombolan Crip di daerah Washington D.C. yang tercabik-cabik bentrokan. Secara singkat diungkapkan karier militer Officer John Brigham yang tewas dan tanda-tanda kehormatan yang pernah diperolehnya. Clarice Starling dibahas penuh dalam kisah lanjutan di bawah sebuah foto Starling yang diambil tanpa sepengetahuan yang bersangkutan, saat ia berada di sebuah restoran, mengenakan gaun berleher rendah dan wajah berseri-seri. Clarice Starling, Agen Khusus FBI, menikmati lima belas menit ketenaran ketika ia menembak mati pembunuh berantai Jame Gumb—"Buffalo Bill"—di ruang bawah tanahnya tujuh tahun silam. Kini ia mungkin akan menghadapi tuntutan departemen dan pertanggungjawaban sipil dalam kematian seorang ibu pada hari Kamis di Washington, yang didakwa membuat amfetamin secara ilegal (Lihat berita utama di hlm. 1) "Mungkin ini akan menjadi akhir kariernya," kata suatu sumber di Biro Alkohol, Tembakau, dan Senjata Api, yang merupakan "saudara" FBI. "Kami tidak tahu kejadiannya secara rinci, tapi John Brigham seharusnya sekarang masih hidup. FBI sama sekali tidak menginginkan hal seperti ini terjadi, sesudah peristiwa Ruby Ridge, " kata sumber yang menolak identitasnya diketahui itu. Karier Clarice Starling yang penuh warna dimulai segera setelah ia menjadi siswa di Akademi FBI. Ia lulus dengan cum laude dari Universitas Virginia dalam psikologi dan kriminologi, dan pernah ditugasi mewawancarai Dr. Hannibal Lecter yang sinting dan berbahaya, yang 22 oleh koran ini dijuluki "Hannibal the Cannibal", dan menerima informasi penting darinya dalam melacak Jame Gumb serta membebaskan sanderanya, Catherine Martin, putri mantan senator dari Tennessee. Clarice Starling adalah juara tembak pistol antardinas selama tiga tahun berturut-turut sebelum ia menarik diri dari kejuaraan tersebut. Ironisnya, Officer Brigham yang tewas di sisinya adalah instruktur senjata api di Quantico ketika Starling dilatih di sana, dan menjadi pelatih Starling dalam kejuaraan. Seorang juru bicara FBI mengatakan bahwa Agen Starling akan dibebastugaskan dari lapangan dengan digaji, selama belum ada hasil penyelidikan intern FBI. Pemeriksaan akan dilangsungkan dalam minggu ini di depan Dinas Pertanggungjawaban Profesional, yaitu investigasi menakutkan dari FBI sendiri. Para kerabat almarhumah Evelda Drumgo mengatakan mereka akan mencari ganti rugi sipil dari pemerintah Amerika dan dari Starling pribadi, dengan gugatan kematian yang melanggar undang-undang. Putra Drumgo yang berusia tiga bulan, yang tampak dalam foto digendong ibunya dalam baku tembak, tidak cedera. Pengacara Telford Higgins yang membela keluarga Drumgo dalam berbagai proses pidana, menyebutkan bahwa senjata Agen Khusus Starling, yaitu sebuah pistol semiotomatis Colt kaliber .45 yang dimodifikasi, tidak diizinkan digunakan dalam penegakan hukum di kota Washington. "Itu merupakan alat berbahaya dan mematikan yang tidak sesuai digunakan dalam penegakan hukum, " kata Higgins. "Penggunaannya membahayakan kehidupan manusia secara serampangan," demikian kata pengacara pembela yang terkenal itu. Tabloid Tattler telah membeli nomor telepon rumah Clarice Starling dari salah seorang informan dan berkali-kali meneleponnya, hingga Starling mengangkat telepon itu dari sangkutan, dan ia menggunakan ponsel FBI untuk berhubungan dengan kantornya. Starling tidak merasa terlalu kesakitan di bagian telinga dan sisi wajahnya yang membengkak, selama ia tidak menyentuh perbannya. Setidaknya ia tidak merasakan denyut-denyut nyeri. Dua butir Tylenol membuatnya bertahan. Ia tidak memerlukan Percocet yang telah diresepkan dokter. Ia bersandar terkantuk-kantuk pada papan kepala ranjangnya. Koran Washington Post meluncur dari selimut ke lantai. Di tangannya terdapat sisa-sisa mesiu, dan air mata mengering kaku di pipinya. 23 Bab 4 Anda jatuh cinta pada Biro, tapi Biro tidak jatuh cinta pada Anda. —SEBUAH PETUAH DALAM KONSELING PERPISAHAN DENGAN FBI PADA jam sedini ini, ruang olahraga dalam gedung J. Edgar Hoover hampir lengang. Dua pria setengah baya berlari-lari pelan dalam putaran di lintasan dalam gedung. Dentang alat timbangan di sudut yang jauh dan teriakanteriakan serta dampak permainan tenis menggema di ruangan besar. Suara-suara dua pelari itu tidak terdengar. Jack Crawford sedang larilari dengan Direktur FBI, Tunberry, atas permintaan sang direktur. Mereka telah lari sejauh dua mil dan mulai terengah-engah. "Blaylock di BATF harus berkelit akan pindah ke Waco. Itu tak akan terjadi sekarang ini. Tapi dia sudah 'habis' dan dia tahu itu," kata Direktur. "Mestinya dia sekalian saja memberitahu Pendeta Moon bahwa dia akan mengosongkan tempatnya." Fakta bahwa BATF menyewa ruangan kantor di Washington dari Pendeta Sun Myung Moon merupakan hal yang menggelikan bagi FBI. "Dan Farriday pindah ke Ruby Ridge," lanjut Direktur. "Tidak mungkin," kata Crawford. la pernah berdinas di New York bersama Farriday pada tahun 1970-an, ketika rakyat mengepung kantor cabang FBI di Third Avenue dan 69th Street. "Farriday orang baik. Dia tidak menyusun aturan-aturan ikatan kerja." "Sudah kukatakan padanya kemarin pagi." "Dia pergi tenang-tenang?" tanya Crawford. "Kita katakan saja dia masih memperoleh uang pensiunnya. Masa yang berbahaya, Jack." Kedua pria itu berlari-lari dengan kepala mendongak. Langkah mereka sedikit dipercepat. Dari sudut matanya, Crawford melihat sang direktur tengah mengamati dirinya. 24 "Berapa umurmu, Jack, lima puluh enam?" "Betul." "Satu tahun lagi wajib pensiun. Banyak orang keluar pada usia empat puluh delapan, lima puluh, ketika mereka masih dapat memperoleh pekerjaan. Kau tak pernah menghendaki itu. Kau ingin tetap sibuk setelah kematian Bella." Ketika Crawford tidak menjawab selama setengah putaran, tahulah sang direktur bahwa ia sudah salah bicara. "Aku tidak bermaksud menganggap enteng hal itu, Jack. Kemarin Doreen berkata betapa..." "Masih ada hal-hal yang harus dilakukan di Quantico. Kami ingin menyederhanakan VICAP—Program Penangkapan Kriminal Rudapaksa di Web, sehingga setiap polisi bisa menggunakannya. Kau sudah melihatnya dalam anggaran." "Apa kau pernah menginginkan menjadi direktur, Jack?" "Rasanya itu bukan jenis pekerjaan yang cocok buatku." "Memang bukan, Jack. Kau bukan politikus. Kau tak akan pernah menjadi direktur. Kau tak akan pernah menjadi seorang Eisenhower, atau Omar Bradley." Direktur memberi isyarat pada Crawford untuk berhenti, dan mereka berdua berdiri terengah-engah di sisi lintasan. "Tapi kau bisa saja menjadi seorang Patton, Jack. Kau dapat memimpin mereka melewati berbagai hambatan dan membuat mereka mencintaimu. Itu sebuah karunia yang tidak kumiliki. Aku harus mendorong-dorong mereka." Tunberry memandang sekelilingnya sekilas, lalu menyambar handuknya dari bangku dan menyelimutkannya di seputar bahu, seperti toga seorang hakim yang hendak menjaruhkan hukuman garitung. Matanya berbinar-binar. Ada orang yang harus melampiaskan kemarahan untuk bisa tegar, pikir Crawford saat melihat mulut Tunberry bergerak-gerak. "Dalam kasus mendiang Mrs. Drumgo dengan MAC 10 dan laboratorium met-nya, tertembak mati saat sedang menggendong bayinya: Pengawas Kehakiman menghendaki korban daging. Daging segar. Yang masih hidup. Demikian pula media. DEA harus melemparkan daging. BATF juga. Dan kita pun demikian. Tapi dalam kasus kita, mereka mungkin puas diberi unggas. Menurut Krendler, kita mungkin bisa memberikan Clarice Starling dan mereka tak akan mengganggu gugat kita lagi. Aku setuju dengannya. BATF dan DEA mendapat hukuman karena merencanakan penggerebekan. Starling yang menarik picu." "Terhadap penembak polisi yang lebih dulu menembak Starling." "Ingat foto-foto itu, Jack. Kau tidak paham, ya? Publik tidak melihat Evelda Drumgo menembak John Brigham. Mereka tidak melihat Evelda menembak Starling lebih dulu. Kau tidak melihatnya kalau kau tidak tahu apa yang sedang kaulihat. Dua ratus juta orang, sepersepuluhnya memberikan suara, melihat Evelda Drumgo duduk di jalan dengan sikap 25 melindungi bayinya, dengan otak berhamburan keluar. Jangan katakan, Jack—aku tahu kau berpikir untuk sementara Starling akan berada di bawah perlindunganmu. Tapi Starling berlidah tajam, Jack, dan dia mengambil langkah awal yang salah dengan orang-orang tertentu..." "Krendler memang pengecut." "Dengarkan aku dan jangan bilang apa-apa hingga aku selesai. Bagaimanapun, karier Starling tidak akan pernah maju. Dia akan memperoleh pemberhentian administratif tanpa prasangka, surat-suratnya tak akan lebih buruk daripada hukuman sementara dan wajib lapor. Dia akan bisa memperoleh pekerjaan. Jack, kau telah banyak berjasa di FBI, dalam Ilmu Perilaku. Banyak orang berpendapat kalau kau sedikit lebih mengutamakan kepentinganmu sendiri, kedudukanmu akan lebih tinggi daripada sekadar kepala seksi. Kau berhak menerima lebih daripada itu. Aku orang pertama yang akan mengatakan itu. Jack, kau akan pensiun sebagai wakil direktur. Aku berani janjikan itu." "Maksudmu kalau aku mau melepaskan hal ini?" "Dalam keadaan normal, Jack. Damai di seluruh kerajaan. Itulah yang akan terjadi. Jack, pandanglah aku." "Ya, Direktur Tunberry?" "Aku tidak meminta. Aku memberi perintah langsung padamu. Jauhi perkara ini. Jangan sia-siakan kesempatan ini, Jack. Kadang-kadang orang hanya perlu memalingkan wajah. Aku pernah melakukannya. Dengar, ini memang berat. Percayalah, aku tahu bagaimana perasaanmu." "Bagaimana perasaanku? Aku merasa perlu mandi," kata Crawford. 26 B a b 5 STARLING bisa mengurus rumah dengan efisien, tapi tidak rapi. Bagian rumah yang ditinggalinya bersih dan ia dapat menemukan barangbarangnya dengan mudah, tapi barang-barang itu cenderung menumpuk— cucian bersih yang belum dipilah-pilah, majalah-majalah yang jumlahnya lebih banyak daripada tempat yang tersedia. Ia ahli menyetrika pakaian pada saat-saat terakhir, dan ia tak pernah bersolek, maka ia dapat merapikan diri dengan cepat. Jika menginginkan ketertiban, ia pergi melewati dapur yang ia gunakan bersama Ardelia, menuju bagian rumah tempat Ardelia tinggal. Jika Ardelia ada, ia dapat memanfaatkan nasihatnya yang selalu berguna, walau kadang-kadang ucapan Ardelia lebih tajam daripada yang diinginkan Starling. Jika Ardelia tidak ada, mereka sudah sepakat bahwa Starling boleh duduk di kediaman Ardelia yang rapi itu untuk berpikir, asalkan ia tidak meninggalkan apa pun. Maka hari ini ia duduk di situ. Ardelia adalah jenis orang yang selalu meninggalkan kesan kehadirannya di kediamannya, entah ia sendiri ada di situ atau tidak. Starling duduk memandangi polis asuransi nenek Ardelia, yang digantung di tembok dengan bingkai buatan sendiri, tepat sebagaimana polis itu telah bergantung di rumah pertanian sewaan sang nenek, dan di ruang apartemen proyek keluarga Mapp selama Ardelia masih kanakkanak. Nenek Ardelia menjual sayur-mayur dan bunga dari kebun dan menabung penghasilannya untuk membayar premi asuransi itu. Dan ia mampu mendapatkan pinjaman dengan agunan polis yang telah dibayar tersebut guna membantu Ardelia menyelesaikan kuliahnya. Ada juga potret wanita kecil itu, tanpa senyuman sedikit pun, mengenakan baju 27 berkerah putih yang kaku oleh kanji. Matanya yang hitam berbinar memancarkan kebijaksanaan di bawah tepi topi jeraminya. Ardelia merasakan betul latar belakang keluarganya, dan dari situ ia menemukan kekuatan setiap harinya. Kini Starling mencoba meraba-raba latar belakangnya sendiri, untuk menemukan jati dirinya. Lutheran Home di Bozeman telah memberinya makanan dan pakaian dan model perilaku yang pantas. Tapi apa yang ia perlukan sekarang harus ia konsultasikan kepada latar belakang keturunannya. Apa yang kaumiliki jika kau berasal dari latar belakang kulit putih yang miskin? Apalagi dari suatu tempat di mana periode Rekonstruksi baru berakhir pada tahun 1950-an? Bila kau berasal dari kalangan yang di kampus-kampus disebut sebagai cracker dan redneck, atau—dengan nada merendahkan—kerah biru, atau orang-orang, kulit putih miskin dari Pegunungan Appalachia? Bila bahkan kaum ningrat dari Selatan yang sama sekali tidak menghargai pekerjaan fisik menyebut kalanganmu sebagai peckerwood—maka dari tradisi macam apa kau menemukan kebanggaanmu? Bahwa kalian telah menghajar mereka saat pertama kali di Bull Run? Bahwa kakek buyutmu telah berprestasi baik di Vicksburg, bahwa ada sebuah sudut di Shiloh yang tetap bernama Yazoo City? Memang suatu kehormatan besar dan jauh lebih berarti bila kau bisa berhasil dengan apa yang diwariskan, bila kau dapat menghasilkan sesuatu dari sebidang tanah empat puluh ekar dan seekor bagal berlumpur. Tapi kau harus mampu melihatnya sendiri. Takkan ada seorang pun yang mau mengatakannya kepadamu. Starling telah berhasil dalam pelatihan FBI karena ia tidak memiliki latar belakang sebagai pendukungnya. Ia berhasil bertahan dalam hidupnya, yang sebagian besar ia lewatkan di berbagai institusi, dengan cara menaruh hormat serta kerja keras dan disiplin mengikuti segala peraturan. Ia selalu maju, memperoleh beasiswa, menjadi bintang dalam tim. Kegagalannya untuk menapak lebih jauh di FBI setelah permulaan yang gemilang merupakan pengalaman baru yang menyakitkan baginya. Ia memukul-mukul langit-langit kaca, seperti seekor lebah di dalam botol. Ia memperoleh empat hari untuk berkabung bagi John Brigham yang tewas tertembak di depan matanya. Lama berselang John Brigham pernah menanyakan sesuatu padanya, dan Starling berkata tidak. Kemudian Brigham bertanya dengan tulus, apakah mereka bisa berteman, dan Starling menjawab ya, dengan tulus pula. Starling harus berdamai dengan dirinya sendiri mengenai fakta bahwa ia telah membunuh lima orang di Pasar Ikan Feliciana. Lagi-lagi terlintas dalam benaknya seorang anggota Crip yang terjepit dadanya di antara dua mobil, dengan tangan mencakari atap mobil, sementara senjatanya tergelincir ke bawah. Suatu kali, untuk melegakan diri, ia menengok bayi Evelda di rumah 28 sakit. Ibu Evelda ada di sana sambil menggendong cucunya, sedang siap-siap membawanya pulang. la mengenali Starling dari foto di koran. la menyerahkan bayi itu kepada perawat, dan sebelum Starling menyadari apa yang hendak dilakukannya, wanita itu menampar wajah Starling keras-keras di sisi yang diperban. Starling tidak membalas, tapi menelikung wanita tua itu pada jendela ruang bersalin dan mengunci pergelangan tangannya, sampai wanita itu tidak meronta-ronta lagi, wajahnya menjadi tak keruan dilihat melalui kaca kotor penuh busa dan ludah. Darah mengucur di leher Starling, dan rasa sakit membuatnya pening. Telinganya dijahit lagi di ruang gawat darurat, dan ia menolak mengajukan tuntutan. Seorang pembantu di ruang gawat darurat memberikan informasi kepada tabloid Tattler dan menerima imbalan tiga ratus dolar. Starling harus pergi keluar dua kali lagi—untuk mengurus acara pemakaman bagi John Brigham dan menghadiri upacara tersebut di Arlington National Cemetery. Kerabat Brigham hanya sedikit dan jauhjauh, dan dalam permohonan tertulisnya yang terakhir ia menyebutkan Starling untuk mengurusnya. Luka-luka pada wajahnya membuat peti matinya harus ditutup, tapi Starling telah mengurus penampilan Brigham sedapat mungkin. Brigham dibaringkan dalam seragam Marinir biru-biru yang sempurna, disertai Bintang Perak serta pita-pita kehormatannya yang lain. Setelah upacara, komandan Brigham menyerahkan sebuah kotak kepada Starling, berisi senjata pribadi Brigham, lencana, dan beberapa barang dari mejanya yang selalu berantakan, termasuk sebuah burung-burungan lucu penunjuk cuaca yang minum dari gelas. Lima hari lagi Starling akan menghadapi pemeriksaan yang dapat menghancurkannya. Telepon kerjanya bungkam. Hanya ada satu pesan dari Jack Crawford, dan sudah tidak ada lagi Brigham yang bisa diajak bicara. Starling menelepon walinya di Asosiasi Agen FBI. Nasihatnya adalah agar tidak mengenakan anting-anting panjang dan sepatu terbuka selama pemeriksaan. Setiap hari televisi dan koran-koran memanfaatkan kisah kematian Evelda Drumgo dan mengeksploitasinya. Di sini, di bagian tempat tinggal Ardelia Mapp yang rapi, Starling mencoba berpikir. Yang menggerogoti dirimu adalah godaan untuk sependapat dengan para pengecammu, guna memperoleh persetujuan mereka. Terdengar suara yang mengganggu. Starling berusaha mengingat-ingat setepatnya kata-kata yang ia ucapkan ketika berada dalam van penyamaran. Apakah ia telah bicara lebih dari yang diperlukan? Terdengar suara yang mengganggu. Brigham telah menyuruhnya memberi brifing pada yang lain-lain 29 tentang Evelda. Apakah ia telah menunjukkan sikap bermusuhan, mengucapkan cercaan... Terdengar suara yang mengganggu. Ia kembali tersadar dan menyadari bahwa suara yang didengarnya itu adalah bel bagian rumahnya di sebelah. Mungkin seorang wartawan. Atau surat panggilan ke pengadilan. Ia menyibakkan tirai depan Ardelia dan mengintip, melihat tukang pos kembali ke truknya. Ia membuka pintu dan mendekati tukang pos itu, menandatangani pos kilat tersebut sambil memunggungi mobil pers di seberang jalan dengan kamera berlensa tele. Amplop itu berwarna lembayung muda, dengan kertas halus berserat samar. Dalam keadaan bingung seperti ini pun, surat itu mengingatkannya akan sesuatu. Setelah kembali ke dalam rumah, tak lagi dapat ditonton orang, ia melihat alamatnya. Tulisan tangannya bagus, seperti tercetak pada lempengan tembaga. Mengatasi dengung rasa takut yang terus-menerus terdengar dalam benaknya, Starling mendadak teringat sesuatu. Ia merasa kulit perutnya merinding, seakan-akan ia telah meneteskan sesuatu yang dingin di bagian depan tubuhnya. Starling memegang amplop itu pada sudut-sudutnya dan membawanya ke dapur. Dari dompet ia mengambil sarung tangan putih yang selalu tersedia untuk menangani barang bukti. Ia menekan amplop itu pada permukaan meja dapur yang keras dan meraba-raba seluruhnya dengan hati-hati. Walau bahan amplop itu tebal, ia akan bisa merasakan kalau di dalamnya ada sekeping baterai jam yang siap menembakkan C-4. Ia tahu seharusnya ia memeriksanya di bawah fluoroskop. Jika ia membukanya, mungkin ia akan mendapat kesulitan. Kesulitan. Betul. Masa bodoh. Ia mengiris lipatan amplop itu dengan pisau dapur dan mengambil selembar kertas mengilap yang halus. Bahkan sebelum melihat tanda tangan penulisnya, ia langsung tahu siapa yang menyurati dirinya. Dear Clarice, Dengan antusias aku mengikuti proses dipermalukannya dirimu di depan publik. Nasibku sendiri tidak begitu kuhiraukan, kecuali ketidaknyamanan karena dipenjara, tapi kau mungkin kurang bisa memahaminya. Selama diskusi-diskusi kita di ruang bawah tanah dulu, jelaslah bagiku bahwa ayahmu, penjaga malam yang sudah almarhum itu, mempunyai pengaruh besar dalam sistem nilaimu. Kurasa yang paling kaunikmati dari keberhasilanmu menghabisi karier Jame Gumb sebagai perancang busana adalah karena kau dapat membayangkan ayahmulah yang melakukannya. Sekarang hubunganmu dengan FBI sudah rusak. Apa kau sering 30 membayangkan ayahmu mendahuluimu di sana, menjadi kepala seksi, atau bahkan lebih baik lagi daripada Jack Crawford: menjadi seorang WAKIL DIREKTUR, sambil mengamati kemajuanmu dengan bangga? Dan sekarang apakah kau membayangkan dia merasa malu dan hancur karena aibmu? Karena kegagalanmu? Akhir menyedihkan dari sebuah karier yang sangat menjanjikan? Apakah kau melihat dirimu sendiri mengerjakan tugas-tugas kasar yang terpaksa dilakukan ibumu setelah para pencandu itu menewaskan AYAHMU? Hmmmm? Apakah kegagalanmu mempunyai pengaruh atas diri mereka? Apakah orang-orang selamanya akan mempercayai hal-hal yang tidak benar, bahwa orangtuamu adalah orang-orang kulit putih miskin yang tinggal di trailer rongsokan? Katakan sejujurnya padaku, Agen Khusus Starling. Pikirkan sejenak sebelum kita melanjutkannya. Kini akan kutunjukkan kualitas yang kaumiliki, yang akan menolongmu: Kau tidak dibuat buta oleh air mata, kau punya keberanian untuk terus membaca. Ada sebuah latihan yang mungkin berguna. Aku ingin kau melakukannya secara fisik denganku: Kau punya wajan hitam dari besi? Kau seorang gadis gunung dari Selatan. Tak bisa kubayangkan kau tidak memilikinya. Letakkan wajan itu di meja dapur. Dan nyalakan lampu-lampu di atas. Dari neneknya, Ardelia mewarisi sebuah wajan dan kerap kali menggunakannya. Wajan itu mempunyai permukaan hitam seperti kaca dan tak pernah tersentuh sabun. Starling meletakkannya di depannya, di meja. Lihatlah ke dalam wajan, Clarice. Membungkuklah di atasnya dan lihatlah ke dalamnya. Seandainya wajan itu milik ibumu, dan itu mungkin saja, maka di antara molekul-molekulnya akan tersimpan vibrasi dari segala percakapan yang pernah terjadi dalam kehadirannya. Segala komunikasi, segala rasa kesal karena hal-hal sepele, pengakuan-pengakuan mematikan, penyampaian musibah yang apa adanya, dan segala gerutuan serta puisi cinta. Duduklah di depan meja, Clarice. Lihat ke dalam wajan. Bila dirawat baik, wajan itu akan mengilap seperti danau yang hitam, bukan? Rasanya seperti memandang ke dalam sumur. Pantulanpantulanmu yang rinci tidak terdapat di dasarnya, tapi wajahmu tampak samar-samar, bukan? Dengan lampu di belakangmu, wajahmu yang tampak hitam, dengan korona di kepalamu, seakan-akan rambutmu sedang terbakar. Kita ini hasil bentukan karbon, Clarice. Kau, wajan itu, dan ayahmu yang telah terkubur di tanah, dingin seperti wajan itu 31 sendiri. Semuanya masih ada di sana. Dengarkanlah. Bagaimana suara mereka yang sebenarnya, dan kehidupan mereka—orangtuamu yang miskin. Kenang-kenangan yang konkret, bukan imaji yang membusungkan dadamu. Mengapa ayahmu tidak menjadi wakil sheriff, berhubungan erat dengan orang-orang di gedung pengadilan? Mengapa ibumu membersihkan motel-motel guna menghidupi dirimu, walaupun dia gagal merawatmu sepenuhnya hingga kau dewasa? Apa kenanganmu yang paling hidup dari dapur? Bukan dari rumah sakit, tapi dapur. Ibuku mencuci noda darah dari topi ayahku. Apa kenangan yang paling kauingat di dapur? Ayahku sedang mengupas jeruk dengan pisau saku tua yang ujungnya sudah patah, lalu ia memberikan potongan-potongan jeruk itu pada kami. Ayahmu, Clarice, adalah seorang penjaga malam. Ibumu seorang pelayan pembersih kamar. Apakah karier federal yang besar merupakan harapanmu atau harapan mereka? Seberapa jauh ayahmu bersedia berkompromi mengikuti birokrasi yang bobrok? Seberapa jauh dia bersedia menjilat? Apakah selama hidupmu kau pernah melihatnya berlaku seperti budak atau penjilat? Apakah para penyeliamu telah mencontohkan nilai-nilai apa pun, Clarice? Bagaimana dengan orangtuamu? Apakah mereka telah mencontohkan nilai apa pun? Bila demikian, apakah nilai-nilai itu sama? Pandanglah wajan besi yang jujur itu dan katakan padaku. Apakah kau telah mengecewakan keluargamu yang telah tiada? Apakah mereka menginginkan kau menjilat? Bagaimana pandangan mereka mengenai keteguhan hati? Kau bisa sekuat yang kaukehendaki. Kau seorang pejuang, Clarice. Musuh sudah mati. Si bayi selamat. Kau seorang pejuang. Unsur-unsur yang paling stabil, Clarice, muncul di tengah tabel periodik, berada di antara besi dan perak. Antara besi dan perak. Kurasa itulah bandingan yang cocok untukmu. Hannibal Lecter 32 P.S. Kau masih berutang beberapa informasi, ingat. Apa kau masih suka terjaga mendengar domba-domba mengembik? Pasanglah sebuah iklan pada salah satu hari Minggu, dalam kolom iklan pribadi di edisi nasional Times, International Herald-Tribune, dan dalam China Mail. Alamatkan kepada A.A. Aaron, supaya dimasukkan sebagai yang pertama, dan tanda tanganilah dengan nama Hannah. Selama membaca, Starling serasa mendengar kata-kata itu diucapkan dengan suara yang sama yang telah mengejek dan menikam jantungnya, mengorek kehidupannya dan membuatnya tersadar di dalam rumah sakit jiwa berpenjagaan paling ketat itu, ketika ia harus menukarkan ringkasan hidupnya kepada Hannibal Lecter sebagai imbalan pengetahuan Lecter yang sangat penting mengenai Buffalo Bill. Nada dingin dari suara yang jarang digunakan itu masih menggema dalam mimpi-mimpinya. Ada sarang labah-labah baru di sudut langit-langit dapur. Starling memandanginya sementara pikirannya berkecamuk. Gembira dan sesal. Sesal dan gembira. Gembira karena mendapat pertolongan. Gembira karena melihat jalan untuk penyembuhan. Gembira dan sesal karena dinas pengiriman pos-kembali dari Dr. Lecter di Los Angeles pasti menggunakan jasa murahan—mereka menggunakan alat pengecap biaya prangko kali ini. Jack Crawford pasti sangat senang dengan surat itu. Demikian pula para pejabat pos dan laboratorium. 33 Bab 6 KAMAR tempat Mason tinggal bersuasana tenang, tapi mempunyai denyut lembut tersendiri. Desis dan desah respirator yang memberinya napas. Ruang itu gelap, satu-satunya cahaya yang ada terpancar dari akuarium besar di mana seekor belut eksotik melingkar-lingkar membuat angka delapan yang tak habis-habisnya. Bayangannya terpantul bergerak seperti pita di dalam kamar. Rambut Mason yang dikepang tergeletak dalam gulungan tebal di atas selongsong alat pernapasan yang menutupi dadanya, di ranjang yang ditinggikan. Ada sebuah alat yang terdiri atas pipa-pipa seperti panpipe tergantung di depannya. Lidah Mason yang panjang menjulur di antara gigi-giginya. la melingkarkan lidahnya di seputar ujung pipa akhir dan mengembus bersamaan dengan denyut berikutnya dari alat pernapasan itu. Dengan segera sebuah suara menjawab dari pengeras suara pada dinding. "Ya, Sir." "Tattler." Huruf t pertama hilang. Tapi suaranya dalam dan berdengung. Suara seorang penyiar. "Halaman pertama mengatakan..." "Jangan bacakan itu padaku. Pasanglah pada monitor di anjungan." Huruf p, d, dan m tak bisa diucapkan oleh Mason. Layar lebar sebuah monitor yang terpasang di anjungan berderikderik. Cahayanya yang biru kehijau-hijauan menjadi merah muda ketika kop koran Tattler yang merah itu muncul. "MALAIKAT MAUT: CLARICE STARLING, MESIN PEMBUNUH FBI," Mason membaca sepanjang tiga napas lambat dari respirator. la dapat membuat close-up foto-foto yang ada. 34 Hanya satu lengannya yang keluar dari balik seprai. Tangan di lengan itu bisa digerakkan sedikit. Tangan itu bergerak seperti seekor kepiting pucat, lebih karena gerakan jemarinya daripada karena kekuatan lengannya yang sudah tidak berfungsi. Karena Mason tak bisa banyak memalingkan kepala untuk melihat, jari telunjuk dan jari tengahnya meraba-raba seperti antena, sementara ibu jari dan jari manis serta kelingkingnya mendorong tangan tersebut. Tangan itu menemukan remote control. Kini ia dapat memperbesar dan membalik halaman. Mason membaca dengan lambat. Goggle yang ia kenakan di matanya yang hanya satu mendesis lirih dua kali tiap menit, sementara menyemprotkan cairan pada bola mata yang tidak berpelupuk, sehingga kerap kali membuat lensa berkabut. Ia memerlukan waktu dua puluh menit untuk membaca artikel pokok dan kelanjutannya. "Pasang sinar X," katanya setelah selesai membaca. Selang sesaat. Lembaran lebar film sinar X memerlukan meja kecil supaya tampak jelas pada monitor. Tampak sebuah tangan manusia yang sudah cacat. Pada gambar lain tampak tampilan yang menunjukkan tangan dan seluruh lengan. Sebuah penunjuk pada sinar X menunjukkan retak lama pada tulang humerus, di tengah-tengah antara siku dan bahu. Mason memandanginya berlama-lama. Akhirnya ia berkata, "Pasanglah suratnya." Tulisan tangan yang bagus, seperti tercetak, muncul di layar. Tulisannya diperbesar dalam ukuran luar biasa. Mason membaca, Dear Clarice, dengan antusias aku mengikuti proses dipermalukannya dirimu di depan publik.... Irama suara itu membangkitkan di dalam dirinya berbagai pikiran lama yang membuat ia serasa berpusar, begitu pula tempat tidurnya, kamarnya, merobek bekas-bekas luka dari mimpi-mimpinya yang tak terutarakan, memacu jantungnya mendahului pernapasan. Mesin itu merasakan gejolak di dalam dirinya dan memenuhi paru-parunya dengan lebih cepat lagi. Ia membaca itu semua dengan temponya yang menyakitkan, membaca melalui mesin yang bergerak itu, seperti membaca di atas pelana kuda. Mason tak dapat memejamkan matanya, tapi setelah ia selesai membaca, pikirannya lepas dari mata, guna berpikir sejenak. Mesin pernapasan itu melambat. Kemudian Mason mengembus pada pipanya. "Ya, Sir." "Hubungi anggota Kongres, Vellmore. Berikan padaku headphone, dan matikan speakerphone." "Clarice Starling," katanya pada diri sendiri dalam embusan napas berikut yang diberikan mesin itu. Nama itu tidak mengandung bunyi plosif, dan ia bisa mengucapkannya dengan baik. Tak ada suara yang hilang. Sementara menunggu telepon, ia terkantuk-kantuk sesaat. Bayangan belut itu merayap di atas seprai, juga di atas wajah dan rambutnya yang terkepang melingkar. 35